NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kaji Daiko no Arubaito o Hajimetara Gakuen Ichi no Bishojo no Kazoku ni Kiniira re Chaimashita V2 Chapter 4

 Penerjemah: Ramdhian

Proffreader: Ramdhian


Chapter 4

Kebohongan dan Perasaan Sejati

Di salah satu ruangan rumah sakit umum, Haruto duduk berhadapan dengan seorang dokter berjas putih.


“Ini sengatan panas.”


“...Hah, sengatan panas, ya.”


Mendengar hasil diagnosis itu, Haruto menghela napas dengan perasaan sedikit lega.


“Beberapa hari ini cuacanya memang panas sekali.”


“Anu... apa ada masalah lain?”


“Untuk saat ini tidak ada yang khusus. Kesadarannya juga sudah pulih, jadi saya rasa beliau baik-baik saja. Namun, karena nenek Anda sudah lanjut usia, sebagai langkah pencegahan, sebaiknya beliau dirawat inap seharian besok.”


“Baik, mohon bantuannya.”


Setelah itu, Haruto menerima berbagai penjelasan, lalu membungkuk hormat kepada dokter dan keluar dari ruang konsultasi. Ia pun bergegas menuju kamar rawat tempat neneknya berada.


“Nek, Nenek nggak apa-apa?”


Haruto menyapa sambil duduk di kursi bulat di samping ranjang tempat neneknya berbaring. Neneknya menatap ke arah Haruto dengan ekspresi penuh rasa bersalah.


“Maaf ya, Haruto. Nenek membuatmu cemas.”


“Benar tuh, Nek. Kukira jantungku akan berhenti berdetak.”


“Maafkan Nenek, ya.”


Setelah mengantar Ayaka pulang dan kembali ke rumah, Haruto menemukan neneknya tergeletak di dapur dan dengan panik memanggil ambulans. Di dalam mobil ambulans yang melaju kencang, Haruto terus menggenggam tangan neneknya sambil mati-matian mendoakan keselamatannya, dengan rasa cemas yang nyaris meremukkannya.


“Keluargaku tinggal Nenek seorang.”


Saat mengucapkan itu, mata Haruto bergetar karena kecemasan.


Menyadari perasaan cucunya, neneknya menggenggam tangan Haruto dengan lembut.


“Tidak apa-apa, Nenek masih sehat, kok.”


“Benarkah?”


“Tentu saja. Nenek belum akan membiarkan Haruto sendirian.”


“Ung...”


Mendengar ucapan neneknya, Haruto menunjukkan campuran ekspresi senang dan sedih.


“Kenapa wajahmu begitu?”


Nenek tertawa hingga kerutan di wajahnya semakin dalam.


“Kalau Nenek membiarkan Haruto sendirian sekarang, nanti Nenek bakal dimarahi ayah dan ibumu, juga kakekmu di alam sana.”


Neneknya meletakkan tangan satunya lagi di atas tangan Haruto yang sedang digenggamnya, lalu menepuk-nepuknya dengan lembut sambil melanjutkan.


“Lagipula, dulu Haruto pernah bilang, ‘kan? Kalau kamu akan memperkenalkan pacar manismu itu. Sebelum melihat gadis itu, Nenek tak akan bisa mati dengan tenang.”


“Nenek...”


Kata-kata Haruto yang bercampur candaan di awal liburan musim panas lalu. Melihat sosok nenek yang menanti dan mempercayai kata-kata itu dengan penuh harap, hati Haruto terguncang hebat.


Bagi Haruto yang kehilangan orang tuanya saat masih kecil dan kehilangan kakeknya saat masuk SMP, neneknya adalah satu-satunya keluarga yang tersisa. Ia ingin membuat neneknya tenang.


Ia ingin membahagiakannya.


Ia ingin menjawab harapannya.


Keinginan kuat Haruto itu membuat mulutnya terbuka perlahan, dan merangkai kata-kata dengan sendirinya.


“Sebenarnya... aku... sudah punya pacar, loh.”


Karena terlalu memikirkan neneknya, kebohongan pun terlontar dari mulutnya.


“Hari ini juga, sebenarnya aku pergi... kencan dengan pacarku itu.”


Kebohongan Haruto tak bisa lagi dihentikan.


Namun, sang nenek sama sekali tidak curiga kalau cucunya sedang berbohong, dan wajahnya langsung berseri-seri.


“Wah! Begitu rupanya! Jangan-jangan, dia gadis yang waktu itu pergi nonton film bersamamu?”


“Eh? ...A-Aah, iya. Benar... itu dia. Gadis itu orangnya.”


“Begitu, ya! Begitu, ya! Lalu? Pacar Haruto itu anaknya seperti apa?”


Neneknya bertanya dengan penuh antusias, dan sesosok gadis pun muncul di benak Haruto.


“Emm... dia gadis yang sangat manis. Sungguh, rasanya terlalu berlebihan untukku. Rambutnya panjang dan berkilau warna rami kalau terkena sinar matahari. Senyumnya juga sangat menawan, sifatnya agak polos-polos unik, tapi dia gadis penyayang yang sangat peduli pada adiknya dan...”


Gadis yang muncul di benak Haruto.


Itu adalah Toujou Ayaka.


Haruto menjadikan Ayaka sebagai model dan memberi tahu neneknya bahwa gadis itu pacarnya. Sang nenek menelan mentah-mentah ucapan Haruto dan tersenyum lebar.


“Begitu rupanya, kamu menemukan gadis yang luar biasa, ya.”


Melihat nenek yang berkata dengan gembira dari lubuk hatinya, Haruto yang telah berbohong merasakan sesak di dadanya. Namun, pada saat yang sama, ia juga merasa lega melihat wajah bahagia neneknya.


“Dia benar-benar gadis yang sangat mempesona.”


Kata-kata itu bukanlah kebohongan.


Bagi Haruto saat ini, Toujou Ayaka adalah gadis yang manis dan sangat mempesona. Justru karena itulah, ia merasa bersalah karena secara sepihak menjadikannya pacar fiktif dalam cerita kepada neneknya.


Nenek yang tidak mengetahui isi hati cucunya berkata dengan lembut sambil tersenyum.


“Kamu benar-benar mendapatkan pacar yang baik, ya.”


“Y-Ya...”


“Haruto benar-benar jatuh hati, ya, pada pacarmu itu dari lubuk hati yang terdalam.”


“Eh!?”


Mendengar ucapan nenek yang penuh perasaan itu, Haruto tanpa sadar berseru kaget.


Melihat reaksi Haruto, neneknya tersenyum manis.


“Melihat wajah Haruto saja, Nenek sudah tahu betapa sukanya kamu pada gadis itu.”


“Y-Ya tentu saja... jelas suka, ‘kan? Namanya juga pacaran.”


Tatapan neneknya seolah bisa melihat menembus segalanya. Tak tahan, Haruto pun memalingkan wajah dan menggaruk pipinya sambil menjawab dengan nada agak ketus.


Melihat reaksi Haruto, neneknya terkikik.


“Benar juga. Kalau begitu, akan Nenek nantikan saat di mana bisa bertemu dengan pacar manismu itu.”


“Ah, itu... karena kami baru jadian, tunggu sebentar lagi ya, nanti aku kenalkan pada Nenek.”


Haruto menjawab dengan mata yang sedikit berkeliaran, sementara neneknya mengangguk tanpa memudarkan senyumannya.


“Iya, iya, Akan Nenek tunggu dengan sabar.”


“I-itu tidak penting! Mulai sekarang hari-hari panas masih akan berlanjut, dan aku akan repot kalau Nenek kena sengatan panas lagi, jadi akan kuturunkan suhu AC-nya lebih sedikit.”


Haruto mengalihkan pembicaraan dengan paksa dan terus berbicara dengan cepat.


“Katanya sekarang sengatan panas di dalam ruangan juga makin banyak. Walaupun AC dinyalakan, panas dari kompor di dapur bisa terperangkap dan menyebabkan sengatan panas. Jadi, Nenek juga harus hati-hati, ya.”


“Iya, iya, Nenek paham. Mulai sekarang Nenek akan lebih hati-hati.”


“Janji, ya? Nenek kan sudah tidak muda lagi. Kali ini penanganannya cepat jadi tidak berakibat fatal, tapi dokter bilang kalau terlambat ditangani, sengatan panas pun bisa mengancam nyawa.”


Kali ini, penyebab neneknya terkena sengatan panas adalah kompor dapur.


Kalah oleh panas itu, nenek terkena sengatan panas dan pingsan. Setelah pingsan, api kompor mati otomatis berkat fitur pengaman, tapi jika seandainya apinya tetap menyala, sekarang rumah Haruto mungkin sudah kebakaran. Jika itu terjadi, neneknya tidak akan berbaring di rumah sakit seperti sekarang.


Membayangkan hal itu, tubuh Haruto gemetar ketakutan.


Sekarang neneknya selamat. Haruto memutuskan untuk bersyukur atas hal itu saja.


Haruto menepis pikiran-pikiran buruk itu dan bangkit dari kursi.


“Kalau begitu, Nek. Jam besuk sudah habis, jadi aku pulang dulu, ya?”


“Iya, Haruto juga hati-hati di jalan.”


“Ya, Nenek juga istirahat yang tenang hari ini dan besok. Dah, aku pulang.”


Haruto melambaikan tangan pada neneknya dan meninggalkan kamar rawat.


Haruto keluar dari pintu keluar di luar jam operasional rumah sakit, dan mulai berjalan pulang di tengah malam yang lembap dan gerah.


Di bawah langit yang sudah gelap gulita, ia mengingat kembali percakapannya dengan neneknya tadi.


“Hah~ gawat...”


Haruto menghela napas panjang.


“Kenapa aku berbohong seperti itu...”


Saat itu, karena terlalu memikirkan neneknya, ia kehilangan sedikit ketenangannya.


Namun, jika dipikirkan kembali dengan kepala dingin sambil berjalan di jalan malam, kebohongan yang ia lontarkan cukup parah.


“Apalagi, aku seenaknya menjadikan Toujou-san sebagai pacarku...”


Bukan hanya berbohong pada neneknya, ia juga menjadikan Ayaka sebagai model pacarnya secara sepihak.


“Besok aku harus ngomong jujur sama Nenek.”


Apapun itu, berbohong itu tidak baik.


Apalagi kebohongannya mungkin bisa menyusahkan Ayaka. Sebaiknya ia segera mengaku pada neneknya kalau itu bohong. Selain itu, mungkin ia juga harus meminta maaf pada Ayaka.


Meski berpikir demikian, Haruto merasa cemas memikirkan reaksi apa yang akan ia terima jika menceritakan hal ini pada Ayaka.


“Apa dia bakal bilang aku menjijikkan... yah, itu karma, sih...”


Walaupun mulutnya berkata begitu, membayangkan dirinya benar-benar dibenci gadis itu membuat dadanya terasa sesak lebih dari yang ia duga.


Haruto teringat kata-kata yang diucapkan neneknya tadi.


‘Haruto benar-benar jatuh hati, ya, pada pacarmu itu dari lubuk hati yang terdalam.’


Saat neneknya bilang begitu, Haruto merasa wajahnya memanas karena malu, tapi di saat yang sama, ia merasa ada sesuatu yang pas di hatinya.


“Aku... jatuh hati pada Toujou-san, ya...”


Haruto bergumam pelan.


“Aku tidak ingin... dibenci.”


Di benak Haruto yang bergumam demikian, terlintas satu pemikiran sesaat.


Yaitu, membuat kebohongan itu jadi kenyataan.


Jika dia menembak Ayaka dan mereka berpacaran, dia bisa dengan bangga memperkenalkannya kepada neneknya sebagai pacarnya.


Namun, Haruto menggelengkan kepala dan menepis pikiran itu.


Menyatakan cinta hanya untuk membenarkan kebohongannya sendiri, sebelum bicara soal laki-laki sejati atau bukan, itu adalah kelakuan manusia sampah. Pernyataan cinta seperti itu sangat tidak sopan terhadap Ayaka.


Pernyataan cinta haruslah dilakukan dengan tulus sepenuh hati, bukan dilakukan sambil memendam motif yang tidak murni.


Haruto yang memiliki prinsip demikian, bahkan merasa jijik pada dirinya sendiri karena sempat memikirkan hal tersebut.


“Kayaknya hari ini aku memang aneh...”


Di siang hari ia nyaris melakukan pelecehan seksual pada Ayaka, dan melontarkan kebohongan yang parah pada neneknya. Lalu, ia malah kepikiran untuk menutupi kebohongan itu.


“Apa aku kelelahan, ya...”


Begitu berpikir demikian, entah kenapa tubuhnya terasa berat dan kepalanya terasa pening serta sedikit sakit.


Hari ini terasa sangat panjang bagi Haruto. Sarapan bersama orang tua Ayaka di rumah keluarga Toujou terasa seperti kejadian di masa lampau yang jauh.


“Cepat pulang dan tidur, ah.”


Biasanya, selelah apa pun dia, Haruto tidak pernah absen belajar sebelum tidur, tapi hari ini dia sama sekali tidak ada minat untuk belajar.


Dengan langkah kaki yang sedikit sempoyongan, Haruto bergegas pulang.


“Hahaha, jangan-jangan aku ini kena penyakit cinta...”


Sambil tersenyum menertawakan diri sendiri, Haruto terus berjalan menuju rumah di tengah malam yang panas, sambil memijat pelipis dengan jempol untuk meredakan sakit kepalanya.


“Penyakit cinta apaan... ini sih penyakit beneran...”


Haruto yang hanya bangun setengah badan dari kasurnya, merasa lemas melihat angka yang ditunjukkan termometer.


38,7 derajat. Benar-benar demam.


“Hah...”


Haruto menghela napas panas dan kembali berbaring di kasur.


Meski sedang berbaring, ia diserang sensasi tubuh yang berguncang hebat, disertai sakit kepala dan mual.


“Gawat sih ini...”


Dengan lemas, Haruto mengulurkan tangan ke ponsel di samping bantalnya.


Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi lewat. Ia mengoperasikan ponsel sambil menahan sakit kepala.


“Untung hari ini libur kerja sambilan...”


Dalam kondisi begini, jangankan kerja jadi asisten rumah tangga, keluar rumah saja sepertinya tidak sanggup.


“Ah, tapi hari ini ada jadwal latihan di dojo... aku harus mengabari Kazu-senpai dan Shizuku...”


Meski diserang rasa lesu yang membuat mengoperasikan ponsel pun terasa berat, Haruto mengirim pesan kepada teman dojonya, Ishigura dan Shizuku.


(“Maaf. Aku kena flu. Hari ini tidak bisa ke dojo.”)


Ishigura dan Shizuku, teman dojo sejak kecil, tergabung dalam grup chatting bertiga bersama Haruto.


Sekitar sepuluh menit kemudian, bunyi notifikasi ponsel ting terdengar.


(“Kau nggak apa-apa?”)


Pesan pertama datang dari Ishigura. Segera setelahnya, pesan Shizuku juga masuk.


(“Haru-senpai kena flu, langka sekali.”)


(“Sudah lama nggak kena flu. Lumayan menyiksa rasanya.”)


(“Flu musim panas, ya. Kau lengah sih, Haruto.”)


(“Benar juga.”)


(“Mau kujenguk?”)


(“Tidak usah, cuma flu biasa kok, dibawa tidur juga sembuh. Tidak perlu sampai dijenguk.”)


(“Begitu, ya sudah, kalau benar-benar parah kabari saja. Biar kurawat nanti.”)


Membaca pesan Ishigura yang ketus tapi menyiratkan kebaikan, Haruto tersenyum kecil.


Ngomong-ngomong, Shizuku tidak merespons lagi sejak pesan pertamanya. Angka di samping tanda ‘dibaca’ sudah menjadi dua, jadi sepertinya dia melihat percakapan itu.


(“Terima kasih, Kazu-senpai.”)


(“Oke.”)


Tidak ada respons dari Shizuku, tapi Haruto menyudahi percakapan itu untuk sementara. Selanjutnya, ia mengirim pesan kepada sahabatnya, Tomoya.


(“Tomoya, kalau besok luang, aku punya permintaan sekali seumur hidup.”)


Beberapa menit setelah pesan itu terkirim, balasan dari Tomoya datang.


(“Oh? Apa tuh?”)


Pesannya disertai stiker beruang yang memiringkan kepala dengan tanda tanya di atasnya.


(“Sebenarnya sekarang nenekku pingsan karena sengatan panas dan dirawat di rumah sakit.”)


(“Nggak apa-apa tuh!?”)


(“Karena langsung dibawa ke RS jadi nggak masalah. Rencananya besok sudah boleh pulang.”)


(“Begitu, syukurlah. Terus? Kau mau minta apa?”)


(“Sebenarnya aku juga lagi kena flu. Kalau besok belum sembuh, bisa tolong gantiin aku buat jemput nenek pulang dari RS?”)


Haruto yang tidak memiliki kerabat yang bisa diandalkan meminta tolong pada sahabatnya, Tomoya. Tak lama kemudian, Tomoya menelepon.


Haruto mengetuk ikon telepon di layar ponsel untuk menjawab panggilan.


‘Kau ini, bilang “permintaan seumur hidup”, aku jadi waswas tahu.’


“Yah, menjemput nenek pulang dari RS itu sudah setingkat permintaan seumur hidup, ‘kan?”


‘Demi sahabat, bolak-balik rumah sakit berapa kali pun akan kujalani.’


“Kalau gitu ceritanya sih aku malah jadi khawatir nenekku keseringan masuk rumah sakit.”


Saat Haruto membalas begitu, terdengar suara tawa Tomoya dari seberang telepon.


‘Terus, flumu gimana? Aman?’


“Yah, karena sudah lama nggak kena jadi rasanya berat, tapi dibawa tidur juga sembuh.”


‘Oke, kalau begitu kasih tahu nama rumah sakit dan nomor kamar nenekmu. Jemputnya sekitar siang, ‘kan?’


“Iya, terima kasih ya.”


‘Santai!’


Haruto berterima kasih kepada Tomoya yang dengan senang hati menyanggupi penjemputan neneknya dari lubuk hati, lalu memberitahukan nama rumah sakit dan nomor kamarnya.


“Kalau begitu, aku mengandalkanmu. Nanti kubalas kebaikanmu.”


‘Sip! Aku menantikan balasan yang super duper wah!!’


Sambil merasa bersyukur atas sahabatnya yang bicara dengan gaya berlebihan itu, Haruto mengakhiri panggilan.


Jika flunya tidak sembuh sampai besok, dia harus menghubungi neneknya juga untuk memberitahu bahwa Tomoya yang akan menjemput menggantikannya. Tapi, untuk hari ini, dia akan menahan diri untuk tidak memberitahu neneknya kalau dia sakit, agar neneknya bisa istirahat dengan tenang.


Jika flu Haruto tidak sembuh sampai besok, akan muncul satu masalah lagi.


Yaitu masalah tidak bisa pergi bekerja sebagai asisten rumah tangga di keluarga Toujou.


Dia tidak tahu penyebab flunya. Apakah karena kelelahan akibat panas yang berhari-hari, atau karena stres mental ekstrem gara-gara neneknya pingsan.


Namun, jika Haruto memberitahu Ayaka bahwa dia sakit flu sekarang, gadis itu pasti akan berpikir penyebabnya karena dia memakai baju ganti Haruto setelah main air kemarin.


“Sudah ngasih baju ganti atas inisiatif sendiri, terus malah kena flu, payah banget sampai bikin malu...”


Haruto menunduk dan menutupi wajah dengan satu tangan.


Mengingat sifat lembut gadis itu, dia mungkin akan menyalahkan diri sendiri dan berpikir dialah penyebab Haruto sakit.


Tapi, absen kerja di keluarga Toujou tanpa kabar juga tidak sopan.


“Yah, kalau besok sembuh kan nggak masalah, sekarang nggak usah mikirin hal yang nggak perlu...”


Sambil bergumam begitu, Haruto melempar ponselnya ke samping bantal dan menjatuhkan diri ke kasur. Mungkin karena efek flu, dia sama sekali tidak nafsu makan, jadi dia memutuskan untuk memejamkan mata dan tidur.


Haruto terbangun kembali saat hari sudah lewat tengah hari.


Suara bel interkom yang bergema dari pintu depan membuatnya perlahan mengangkat kelopak mata yang terasa berat layaknya timah.


Apa hari ini ada paket?


Haruto berpikir begitu dengan kepala yang masih sakit parah.


Bangun dari kasur saja rasanya berat, dia sempat berpikir untuk pura-pura tidak ada di rumah. Namun, dia kalah oleh rasa tidak enak pada kurir pengantar, lalu perlahan bangkit dan turun dari kasur. Dengan langkah sempoyongan, dia akhirnya sampai di pintu depan, membuka kunci, dan membuka pintu.


Melihat sosok yang berdiri di balik pintu, Haruto terkejut.


“Eh? Shizuku, ada apa?”


Haruto yang mengira itu tukang pos atau kurir paket, sedikit membelalakkan mata melihat tamu yang tak terduga.


“Aku datang untuk menyergap Haru-senpai yang sedang lemah karena flu saat tidur.”


Seperti biasa, gadis itu melontarkan candaan dengan ekspresi datar, lalu menjulurkan kedua tangannya ke depan sambil berkata “Rawr~” dengan nada tidak niat.


“Ah, kau datang menjenguk, ya. Terima kasih, Shizuku.”


Haruto yang sudah terbiasa menghadapi Shizuku, dengan lihai mengabaikan candaannya.


“Haru-senpai, kelihatannya parah sekali. Panasnya berapa derajat?”


“Umm, waktu diukur tadi pagi 38,7.”


“Hoo~ kalau begitu harusnya tidur, dong. Balik ke kasur gih.”


Shizuku dengan santai masuk ke dalam rumah, mendorong punggung Haruto, dan menggiringnya kembali ke kamarnya.


Shizuku yang sudah mengenalnya sejak kecil sudah sering datang ke rumah Haruto, jadi tentu saja dia tahu di mana kamar Haruto.


Seolah didorong oleh Shizuku, Haruto kembali berbaring di kasur.


“Ngomong-ngomong, Nenek ke mana?”


Shizuku yang tahu kondisi keluarga Haruto memiringkan kepala karena neneknya tidak ada di rumah.


“Ah, itu, kemarin Nenek pingsan karena sengatan panas, sekarang lagi dirawat di rumah sakit.”


“Eh!? Serius? Beliau tidak apa-apa?”


Shizuku yang biasanya tanpa ekspresi bahkan menunjukkan wajah terkejut.


“Tidak apa-apa, rawat inap hari ini juga cuma buat jaga-jaga, besok juga sudah pulang.”


“Begitu ya, syukurlah.”


Shizuku mengelus dada lega, lalu tiba-tiba menatap wajah Haruto.


“Artinya, sekarang di rumah ini cuma ada Haru-senpai?”


“Yah, begitulah.”


“Dan, Senpai sedang kena flu parah.”


“Parah sih berlebihan, tapi ya begitulah.”


“Artinya, perlu perawatan dari Shizuku-sama ini, ya.”


Melihat Shizuku yang mengangguk-angguk sendiri sambil bergumam, Haruto menggelengkan kepala pelan sambil berbaring.


“Tidak perlu kok. Tidur juga sembuh.”


Mendengar Haruto menolak tawaran perawatannya dengan halus, Shizuku menatapnya datar.


“Haru-senpai, hari ini sudah makan sesuatu?”


“Eh? Ah... belum, belum makan apa-apa.”


Haruto yang badannya lemas dan tenggorokannya mulai sakit, tidak berminat makan apa pun sekarang.


“Lagi nggak nafsu makan, nanti kalau sudah agak enakan dan bisa makan, aku bikin sendiri.”


“Tidak boleh. Biarpun nggak nafsu makan, setidaknya harus makan sesuatu yang bergizi walau sedikit.”


Setelah berkata begitu, Shizuku berdiri dengan sigap.


“Aku buatkan bubur. Pinjam dapurnya, ya.”


“Nggak usah, aku bisa bikin sendiri.”


“Haru-senpai diam saja dan tidur sana.”


Shizuku menahan Haruto yang hendak bangun.


“Kalau tidak istirahat dengan benar, penyakitnya nggak bakal sembuh. Atau Senpai tidak puas dengan bubur buatanku?”


Ditatap dengan mata tajam Shizuku, Haruto menyerah dan batal bangun.


“Baiklah. Terima kasih, Shizuku.”


“Serahkan padaku. Haru-senpai diam saja dan nantikan Bubur Spesial Shizuku.”


Setelah itu, Shizuku pun keluar dari kamar Haruto.


Setelah itu, di tengah rasa lesu seolah gravitasi bumi meningkat tiga kali lipat, Haruto yang setengah tertidur melihat Shizuku kembali dengan membawa panci gerabah kecil di atas nampan.


“Maaf menunggu. Bubur Spesial Shizuku sudah jadi.”


Sambil berkata begitu, dia membuka tutup panci gerabah. Seketika, uap mengepul bersama aroma bubur yang lembut, menggelitik hidung Haruto.


“Bubur telur, ya? Kelihatannya enak.”


“Bisa makan sendiri? Mau aku suapi sambil bilang ‘aaah’? Mau disuapi ‘aaah’, ‘kan?”


“Tidak, kalau itu sih aku masih sanggup sendiri.”


Haruto menolak tawaran Shizuku sambil menerima bubur, dan menyendok bubur dengan sendok bebek yang disediakan, meniupnya pelan, lalu memasukkannya ke mulut.


Bubur dengan tingkat keasinan yang pas itu terasa lembut kental, bisa dimakan tanpa mengganggu tenggorokannya yang sakit. Begitu bubur hangat masuk ke lambung, barulah Haruto merasakan sedikit rasa lapar.


“Bubur ini, enak sekali. Terima kasih, ya.”


Saat Haruto memuji dan berterima kasih dari lubuk hati, Shizuku menunjukkan ekspresi sedikit bangga.


“Namanya juga Spesial Shizuku. Aku juga masukin obat perangsang sebagai bumbu rahasia.”


“Hee~ obat perangsang apa tuh?”


Karena suasana hatinya membaik berkat bubur yang enak, Haruto punya tenaga untuk meladeni candaan Shizuku.


“Aku memasukkan sekitar tiga tetes air liurku.”


“Bwff!? Kau ini ya!”


Haruto nyaris menyemburkan bubur yang ada di mulutnya, tapi berhasil menahannya di detik terakhir.


Melihat reaksinya, Shizuku memancarkan aura puas meski wajahnya tetap datar.


“Bohong, kok. Mana mungkin aku melakukan itu pada orang sakit.”


“...Beneran?”


“Benar. Atau Senpai justru ingin ada air liurku di dalamnya?”


“Tidak, makasih.”


“Muu, langsung dijawab begitu rasanya kesal juga, ya.”


Melihat Shizuku yang menggembungkan pipinya dengan terampil sambil tetap tanpa ekspresi, Haruto memasang wajah lelah.


“Memasukkan air liur ke masakan itu, jelas-jelas tidak wajar, ‘kan.”


“Biarpun air liur gadis cantik tetap tidak boleh?”


“Tidak boleh.”


“Haru-senpai kaku kayak biasa, ya.”


“Bukan, normal ini mah.”


Sambil melakukan percakapan yang terasa seperti biasa itu, Haruto menghabiskan bubur buatan Shizuku.


“Terima kasih makanannya, enak kok.”


“Sama-sama. Lumayan kenyang?”


“Ya, lumayan kenyang.”


“Begitu, syukurlah.”


Shizuku keluar kamar sebentar untuk membereskan panci gerabah yang kosong. Saat kembali, dia membawa gelas dan obat di tangannya.


“Nih Haru-senpai, minum ini lalu tidur.”


“Terima kasih, kebantu banget.”


Haruto menerima obat flu dari Shizuku dan menelannya dengan air.


“Fuuh.”


Ketika Haruto menghela napas lega karena perutnya sudah terisi, Shizuku bertanya padanya.


“Rasanya berat?”


“Ya, masih agak...”


“Butuh minum lagi?”


“Tidak, sekarang cukup.”


“Begitu ya.”


“Aah...”


“Mau kucium?”


“...Kok gitu?”


Mendengar ucapan tiba-tiba Shizuku, Haruto membuka kelopak matanya yang hampir tertutup lebar-lebar.


“Katanya flu bakal sembuh kalau ditularin ke orang lain, ‘kan? Jadi, strateginya adalah kalau kita ciuman, flunya pindah ke aku dan Haru-senpai jadi sembuh.”


“Belum tentu flunya pindah lewat ciuman, ‘kan?”


“Kalau begitu biar peluangnya naik, mau ciuman pakai lidah?”


Melihat Shizuku mengucapkan candaan itu dengan wajah serius, Haruto menatapnya dengan pandangan tak habis pikir.


“Bukan itu masalahnya.”


“Masalahnya bukan itu, ya?”


“Kalau Shizuku jadi ketularan flu cuma untuk menyembuhkan flu-ku, nggak ada artinya dong.”


Mendengar ucapan Haruto, Shizuku meletakkan tangan di dagu seolah berpikir keras, lalu mengangguk paham sendirian.


“Begitu ya, Haru-senpai sedang merayuku rupanya.”


“Bukan, kok jadi ngarah ke situ.”


Merasakan Haruto yang membalas dengan sedikit kelelahan, Shizuku sadar.


“Senpai, jangan bercanda terus, cepat tidur sana.”


“Justru kau yang harusnya bilang begitu ke dirimu sendiri.”


Setelah melontarkan celetukan lemah pada Shizuku, napas Haruto mulai kembali teratur.


Mungkin obat flunya sudah mulai bekerja. Warna wajah Haruto yang tertidur lelap terlihat sedikit lebih baik dibandingkan tadi.


“Memperlihatkan wajah tidur tanpa pertahanan begitu, aku benar-benar bakal menyergapmu loh, Haru-senpai?”


Shizuku melipat tangan di samping bantal Haruto yang sedang tidur pulas, lalu menopang wajah di atas tangannya sambil memandangi wajah tidur laki-laki itu.


“Rawr~”


Ekspresi Shizuku saat membisikkan itu, bukan ekspresi datar seperti biasanya, melainkan dihiasi senyuman yang lembut dan mengembang.



Sejak pagi aku terus merasa gelisah dan merana, menatap ponselku dengan tajam.


Hari ini seharusnya hari dimana Ootsuki-kun datang untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga. Tapi, dia baru saja mengirim pesan kalau dia sedang tidak enak badan.


Apakah aku harus pergi menjenguknya, atau jangan?


Kalau menuruti keinginan hati, aku ingin segera lari dari rumah dan pergi ke tempat Ootsuki-kun untuk merawatnya. Aku sangat khawatir dengan kondisi Ootsuki-kun sampai-sampai tidak bisa duduk tenang.


Tapi, saat membaca ulang chat dengan Ootsuki-kun tadi, aku jadi ragu apakah aku benar-benar boleh menjenguknya.


(“Maaf. Aku kurang enak badan, jadi izinkan aku libur kerja hari ini. Aku mohon maaf.”)


(“Kamu nggak apa-apa!? Flu? Demam?”)


(“Tidak apa-apa. Dibawa tidur juga bakal sembuh.”)


(“Sudah minum obat?”)


(“Belum, habis ini aku minum.”)


(“Kamu minum air yang cukup, ‘kan?”)


(“Aman kok.”)


(“Mau kujenguk?”)


(“Tidak usah, tidak parah kok, jadi tidak apa-apa.”)


(“Beneran?”)


(“Iya, terima kasih sudah mengkhawatirkanku.”)


(“Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku, ya.”)


(“Baik. Terima kasih.”)


(“Ya.”)


Aku membaca ulang chat dengan Ootsuki-kun yang sudah kubaca puluhan kali.


“Haaah~”


Lagi-lagi, helaan napas panjang keluar.


“Harusnya tadi aku bilang dengan tegas kalau aku pengin jenguk.”


Mengingat sifat Ootsuki-kun, kalau cuma tanya ‘Mau kujenguk?’, dia pasti bakal jawab ‘Tidak apa-apa’....


Aku menunduk lesu di atas kasurku, masih dengan penampilan bangun tidur.


Andai saja waktu itu aku tidak bertanya ‘Mau kujenguk?’, tapi langsung bilang dengan tegas ‘Aku mau menjenguk, tolong kirim alamatmu’....


Aku melirik kemeja Ootsuki-kun yang terlipat rapi di atas meja.


Dua hari yang lalu, saat aku memakai kemeja pinjaman darinya itu, aku diselimuti aroma yang berbeda dari biasanya, rasanya seakan sedang dipeluk oleh Ootsuki-kun dan itu membuatku sangat berdebar.


Ngomong-ngomong, waktu aku jatuh karena bertabrakan dengan seorang anak laki-laki, aku juga dipeluk Ootsuki-kun....


Mengingat kejadian itu saja masih membuat wajahku terasa panas. Tubuh Ootsuki-kun yang memelukku erat dan menempel padaku terasa kekar dan perkasa.


“Haaah...”


Aku menghela napas lagi.


Hari itu sangat menyenangkan. Karena itulah, rasa kesepian karena tak bisa menjumpai Ootsuki-kun hari ini terasa berlipat ganda. Apalagi, kemungkinan besar penyebab dia sakit gara-gara memberikan baju gantinya padaku. Dia pasti masuk angin karena terus memakai kemeja basah itu.


Rasa kesepian dan kecemasan akan kondisinya memenuhi hatiku, ditambah lagi dengan rasa bersalah.


Kalau aku kirim pesan ke Ootsuki-kun sekarang, nggak apa-apa, ‘kan?


Kalau kutanya ‘Aku boleh nggak tetap datang untuk jenguk?’, apakah itu akan mengganggu?


Tapi, Ootsuki-kun sakit gara-gara aku...’kan? Kalau begitu, justru tidak sopan, ‘kan, kalau aku tidak menjenguk?


“B-Benar juga. Ini salahku, jadi aku harus menjenguknya!”


Ini tanggung jawabku karena telah merebut baju gantinya. Justru seharusnya aku berada di posisi yang merawatnya terus-menerus!


Aku akan pergi menjenguk Ootsuki-kun! Setelah membulatkan tekad, aku bangun dari kasur, mencuci muka untuk menyemangati diri, berganti pakaian, lalu duduk bersimpuh di atas kasur dengan ponsel di hadapanku.


Aku mengembuskan napas kecil “Fuuuh~” untuk menenangkan hati, lalu mengetik pesan untuk dikirim ke Ootsuki-kun.


(“Boleh nggak kalau aku tetap datang untuk jenguk? Ootsuki-kun flu gara-gara aku, ‘kan?”)


Setelah membaca ulang kalimatnya beberapa kali, aku memantapkan hati dan mengirim pesan itu.


Tak lama kemudian, balasan darinya masuk.


(“Bukan salah Toujou-san, kok. Itu salahku karena tidak bisa jaga kondisi tubuh sendiri. Toujou-san tidak salah apa-apa.”)


Sesuai dugaan, Ootsuki-kun membalas dengan lembut dan tidak ingin menyusahkanku.


Agar tidak mengulangi kesalahan tadi, aku memikirkan isi pesanku baik-baik sebelum mengirimnya ke Ootsuki-kun.


(“Tapi, aku khawatir sama kondisi Ootsuki-kun. Kalau memang mengganggu, aku nggak bakal kesana, tapi kalau nggak ganggu, boleh nggak aku datang buat jenguk?”)


Berbeda dengan tadi, kali ini aku menyatakan keinginanku untuk menjenguk dengan jelas. Meskipun aku agak merasa tidak enak karena terkesan memaksa...


Setelah mengirim pesan, aku menunggu balasannya dengan deg-degan.


Kira-kira satu menit. Balasan dari Ootsuki-kun datang.


Setelah waktu tunggu yang terasa sangat lama, aku memeriksa isi balasan dari Ootsuki-kun.


(“Maaf. Kalau begitu, tolong ya. Akan kukirimkan alamat rumahku.”)


Setelah pesan itu, alamat rumah Ootsuki-kun pun dikirimkan.


Begitu melihatnya, aku langsung melesat keluar kamar menuju ruang tamu.


Karena aku menerobos ruang tamu dengan semangat tinggi, Mama yang sedang kerja remote di depan komputer memasang wajah kaget.


“Ada apa Ayaka? Kok buru-buru begitu.”


“Anu, Ma. Ootsuki-kun kena flu, dia minta izin libur kerja hari ini. Jadi, sekarang aku mau pergi menjenguknya.”


“Ara! Ootsuki-kun tidak apa-apa?”


Mama bertanya dengan ekspresi khawatir.


“Katanya sih flu biasa, tapi rencananya aku mau beliin buah-buahan sekalian sebagai buah tangan.”


Saat ini pun, mungkin Ootsuki-kun sedang mengerang karena demam. Memikirkan itu, aku jadi resah ingin cepat-cepat pergi ke tempatnya.


Seolah menyadari perasaanku, Mama tersenyum dan berkata.


“Baiklah. Sampaikan doa cepat sembuh ya untuk Ootsuki-kun.”


“Ung! Oke!”


Aku menjawab Mama sambil bergegas menuju pintu depan.


Sepertinya aku mendengar suara tawa Mama dari belakang, tapi sekarang bukan waktunya mempedulikan itu!


Setelah keluar rumah, aku menuju supermarket dengan setengah berlari. Aku harus beli buah-buahan untuk Ootsuki-kun!


Sesampainya di supermarket, aku segera memilih buah-buahan.


Ada pepatah yang bilang kalau apel memerah, dokter membiru, jadi apel wajib dibeli. Selain itu, apa beli persik juga, ya? Ah, anggur atau nanas mungkin boleh juga. Ootsuki-kun suka kiwi nggak, ya?


[TLN: Maksud pepatah ini adalah jika dengan mengonsumsi apel, orang sakit bisa jadi memerah (pulih), dokter pun akan jadi biru (sedih) gara-gara kehilangan pasien.]


Setelah membeli beberapa jenis buah, aku membayar di kasir dan memasukkannya ke dalam kantong.


Tiba-tiba, sebuah bawang bombai menggelinding ke kakiku.


“Hm? Bawang bombai??”


Sambil memiringkan kepala, aku memungut bawang bombai itu. Tak jauh dari situ, seorang nenek yang sedang memasukkan barang belanjaan berlari kecil ke arahku sambil menundukkan kepala.


“Maaf ya, jaringnya robek.”


Mendengar ucapan nenek itu, aku melihat ke sekeliling dan melihat beberapa bawang bombai berserakan di lantai.


“Waduh! Nenek tidak apa-apa?”


Aku memunguti bawang bombai yang berserakan di lantai dan menyerahkannya kepada nenek itu.


“Ara ara, terima kasih atas kebaikanmu, Nak.”


Nenek itu membungkuk sopan, lalu memasukkan bawang bombai ke dalam eco-bag.


Melihat tas belanja itu, aku memiringkan kepala.


Rasanya, aku pernah melihat tas belanja nenek ini di suatu tempat....


Tas belanja dengan kain warna pink pucat dan sulaman beruang yang sangat lucu.


Desainnya cukup unik, jadi kalau pernah lihat sekali rasanya tidak mungkin lupa....


Karena penasaran dengan tas belanja si nenek, aku menelusuri ingatanku, dan tiba-tiba sebuah adegan muncul di benakku. Itu adalah ingatan saat membeli minyak wijen diskonan bareng Ootsuki-kun tempo hari.


“Ah! Tas belanjanya Ootsuki-kun!”


Saat aku berkata begitu, nenek itu bereaksi, “Oya?”


“Jangan-jangan, kamu temannya Haruto?”


“Ah, anu, teman... anu, teman sekelas.”


Aku boleh bilang teman Ootsuki-kun, ‘kan? Tapi kami sudah nonton film dan ke Taman Hutan Satwa bareng, jadi boleh dibilang teman, ‘kan?


Melihatku yang bingung, nenek itu membungkuk dengan sangat sopan.


“Begitu, ya. Terima kasih selalu membantu cucu saya, Haruto. Saya neneknya Haruto.”


“Ah, tidak, tidak! Justru saya yang selalu dibantu! Nama saya Toujou Ayaka.”


Ternyata benar neneknya Ootsuki-kun!? Meskipun kaget, aku buru-buru menunduk dan memperkenalkan diri.


Saat menunduk, mataku sedikit silau terkena sinar matahari yang masuk dari jendela supermarket.


Ugh, silau....


Sambil menyipitkan mata karena silau, aku mengangkat wajah. Entah kenapa, neneknya Ootsuki-kun memasang wajah kaget, tapi juga terlihat sangat gembira.


“Anu, apa Ayaka-san baru-baru ini nonton film bareng Haruto?”


“Eh? Ah, iya. Kami pergi nonton.”


Begitu aku menjawab, wajah si nenek langsung merekah menjadi senyuman lebar laksana bunga yang bermekaran.


Wah, senyum neneknya Ootsuki-kun manis sekali!


Di saat aku merasa hangat melihat senyumannya, sebuah pernyataan mengejutkan meluncur ke telingaku.


“Mungkinkah, Ayaka-san ini sedang menjalin hubungan dengan Haruto?”


“Eh? Umm... iya.”


Ah... aku refleks jawab ‘iya’....


H-Hasratku! Perasaanku pada Ootsuki-kun bocor....


T-T-Tapi, dia sering datang ke rumahku sebagai asisten rumah tangga, jadi dalam artian hubungan pelanggan dan staf, kami memang ‘berhubungan’, jadi itu bukan kebohongan, ‘kan?


Saat aku sedang memikirkan alasan seperti itu di dalam kepala, neneknya Ootsuki-kun berkata dengan suara yang sangat riang dan gembira.


“Walah! Walah! Ternyata dugaanku benar!! Ciri-cirinya sama persis dengan yang diceritakan Haruto!”


“Eh? Ciri-ciri? Dengar dari Ootsuki-kun? Eh?”


“Haruto tuh, ya! Bisa-bisanya punya pacar semanis ini!”


“A-Anu... maaf. Sebenarnya saya... hm? Pacar??”


“Ah, maafkan Nenek ya, Nenek jadi kelewat bersemangat. Soalnya Nenek baru saja dengar dari Haruto kalau dia punya pacar, jadinya kelepasan.”


“Ah, begitu ya...... Eh!?”


A-A-Apa, apa maksudnya!?


Ootsuki-kun sudah punya pacar!?


Eh, yang bener... Ootsuki-kun punya pacar... berarti, aku... patah hati dong...?


Tiba-tiba, aku diserang rasa hampa yang luar biasa, seolah ada lubang besar yang menganga di hatiku, perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Dadaku sakit sampai-sampai berdiri pun rasanya susah.


Ootsuki-kun, sudah punya pacar... dan lagi, mirip denganku........ hm?


Hmm? Mirip dengan ciri-ciriku? ...Hmm??


“Terima kasih sudah menemani Haruto dua hari yang lalu.”


“Ah... iya... ya?”


Eh? Dua hari yang lalu?


Dua hari lalu itu waktu kami ke Taman Hutan Satwa, ‘kan? Ootsuki-kun terus bersamaku, ‘kan?


...Eh?? Maksudnya bagaimana? Eh? Jangan bilang... pacarnya Ootsuki-kun itu... aku? Eh? Eh!? Eeeehhh!!?


Melihatku panik, neneknya Ootsuki-kun kembali membungkuk sopan.


“Sekali lagi, terima kasih sudah selalu menjaga Haruto, ya.”


“A-Anu... saya juga, terima kasih, sudah dijaga?”


“Sungguh, cantik dan manis seperti boneka, ya.”


“A, ahaha...”


Neneknya Ootsuki-kun terus tersenyum gembira sejak tadi.


Aku pun ikut tertawa canggung.


...Tanpa sadar, aku sudah jadi pacarnya Ootsuki-kun?


H-Horeee~ cinta pertamaku terwujud~?


Ini... bolehkah aku senang gitu aja?


Maksudku, eh? Sebenarnya ada apa sih? Neneknya Ootsuki-kun tidak salah orang, ‘kan?


Tapi, kayaknya tidak salah orang, ya? ...Aku nggak paham!! Aku benar-benar nggak paham situasi ini!!


Maksudnya aku jadi pacarnya itu gimana!?


Hei!! Ootsuki-kun, gimana nih!!?


Kepalaku sekarang berada dalam kondisi paling panik sepanjang hidupku.


Dalam kondisi seperti itu, kami keluar dari supermarket dan berjalan beriringan menyusuri jalan sempit di area perumahan.


Saat aku bilang kalau aku baru saja mau pergi menjenguk Ootsuki-kun, nenek bilang, “Kalau begitu ayo pergi bersama. Nenek antar sampai rumah.”


Di bawah langit musim panas pagi yang cerah, nenek berjalan di sebelahku sambil terus tersenyum gembira.


Tertular olehnya, aku pun jadi ikut tersenyum, tapi dalam hati aku dilanda kepanikan terbesar dalam hidupku.


Kenapa neneknya Ootsuki-kun mengira aku pacarnya? Serius, kenapa?


Hal itu terus berputar-putar di kepalaku sejak tadi.


“A-Anu... Ootsuki-kun, bilang apa tentang saya?”


Dari pembicaraan nenek sejauh ini, sepertinya Ootsuki-kun yang bilang ke nenek kalau aku pacarnya, tapi....


Ootsuki-kun, menganggapku pacarnya?


Kalau begitu, bagaimana ini... aah, wajahku jadi nyengir sendiri.


Tapi, kok aneh? Nggak kayak Ootsuki-kun.


Memberitahu neneknya kalau aku pacarnya secara sepihak tanpa bilang apa-apa padaku. Mengingat sifatnya selama ini, itu agak aneh, ‘kan? Yah, meskipun itu sangat membahagiakan, sih.


Ketika aku sedang berpikir begitu, nenek dengan sangat senang menceritakan bagaimana Ootsuki-kun menggambarkan diriku.


“Haruto bilang kalau Ayaka-san itu sangat manis. Terutama senyumnya yang sangat menawan, dan juga seorang kakak yang baik dan sayang pada adiknya.”


Waaaaah!! Ma-Ma-Malu banget!!


Mukaku rasanya mau meledak!!


...T-Tapi begitu ya, Ootsuki-kun suka senyumku.... Begitu ya... ufufu.


“Fufufu...”


“Ayaka-san?”


“Ah, ti-tidak. Saya senang sekali Ootsuki-kun bilang begitu.”


G-Gawat.


Kalau lengah, otot wajahku jadi kendur dan senyum konyolku bakal tumpah ruah.


Aku tidak boleh terlihat konyol di depan neneknya Ootsuki-kun. Harus jaga wibawa!


Sambil sesekali mengobrol ringan dengan nenek, kami berjalan selama beberapa menit.


Akhirnya aku sampai di rumah Ootsuki-kun.


Dilihat dari luar, bangunannya terasa agak tua, tapi ini rumah satu lantai yang sangat umum.


Namun, di mataku, hanya karena ini rumah Ootsuki-kun, bangunan ini terlihat sangat istimewa.


“Silakan, ayo masuk.”


Nenek membuka pintu depan lebih dulu dan mengeluarkan sandal rumah.


“Ah, terima kasih. Permisi.”


Aku memasukkan kaki ke sandal dan naik ke lantai rumah Ootsuki-kun.


Ah, ada aroma Ootsuki-kun.


Aku menarik napas dalam-dalam pelan-pelan agar tidak ketahuan nenek.


“Kamar Haruto ada di atas, lewat sini.”


“Ah, iya. Permisi.”


Nenek memandu jalan mengantarku ke kamar Ootsuki-kun.


Aku mengikutinya naik tangga.


Setiap menaiki satu anak tangga, detak jantungku rasanya makin cepat.


Kombinasi antara akan masuk ke kamar Ootsuki-kun dan akan mendengar alasan kenapa Ootsuki-kun bilang aku pacarnya, membuat jantungku deg-degan tak karuan.



Haruto menghela napas panjang sambil berbaring sendirian di kasur.


“Hah, Nenek tidak apa-apa, ya?”


Pada akhirnya, flu Haruto tidak sembuh keesokan harinya, jadi dia minta tolong Tomoya untuk menjemput neneknya pulang dari rumah sakit.


Lalu, begitu neneknya pulang dan melihat cucunya terbaring sakit karena flu, beliau langsung pergi belanja untuk membuatkan makanan yang bergizi.


Haruto yang mengkhawatirkan kondisi neneknya yang baru keluar dari rumah sakit mencoba menahannya agar tetap di rumah, tapi dia dibungkam oleh argumen telak neneknya: ‘Jangan khawatirkan Nenek, khawatirkan dulu kondisimu sendiri’, sehingga dia tak bisa berkutik.


Sambil merasa lesu di sekujur tubuh akibat demam, dia menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong.


Setelah ini, Ayaka juga akan datang menjenguk.


Sepertinya Ayaka berpikir Haruto sakit gara-gara dirinya. Haruto merasa bersalah karena telah membuatnya berpikir demikian, tapi di saat yang sama, rasa senang juga membuncah di hatinya.


Namun, ada hal yang harus dia lakukan sebelum gadis itu datang menjenguk.


Yakni, soal kebohongan yang dia ucapkan dua hari yang lalu.


Dia harus menjelaskan dengan benar kepada neneknya soal kebohongan bahwa dia sudah punya pacar.


Kalau tidak, saat Ayaka datang ke rumah dan nenek melihatnya, neneknya pasti akan salah paham dan mengira Ayaka adalah pacar sungguhan. Kalau itu terjadi, dia akan sangat menyusahkan Ayaka.


Meskipun merasa merinding... bukan karena flu... melainkan karena harus mengungkapkan kebenaran pada neneknya, Haruto membulatkan tekad bahwa ini adalah konsekuensi dari perbuatannya sendiri.


Tiba-tiba terdengar suara dari pintu depan.


“Nenek sudah pulang, ya...”


Haruto merasa lega karena neneknya pulang dengan selamat tanpa masalah. Lalu, rasa tegang pun muncul.


Suara dari pintu depan berpindah ke lorong, dan tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki menaiki tangga.


“Hm? Kok langkah kakinya banyak? Apa Tomoya juga ikut? Ada suara orang ngobrol juga.”


Sahabatnya, Tomoya, seharusnya sudah langsung pulang setelah mengantar nenek karena ada urusan siang ini. Haruto berpikir dia harus benar-benar berterima kasih pada sahabatnya yang sudah membantu di tengah kesibukan itu.


Saat dia sedang memikirkan hal itu, pintu kamar Haruto diketuk dan terdengar suara neneknya.


“Haruto, boleh Nenek masuk?”


“Ya, boleh.”


Begitu Haruto menjawab, neneknya membuka pintu dan masuk.


Entah kenapa, sang nenek tampak jauh lebih gembira daripada sebelum pergi belanja. Haruto pun sedikit memiringkan kepala karena heran.


“Haruto, tadi Nenek kebetulan ketemu pacarmu di supermarket, loh.”


“...Eh? Pacar?”


“Dia membelikan banyak buah-buahan untuk jenguk Haruto. Benar-benar pacar yang baik, ya.”


“Eh? Menjenguk? Eh?”


Mendengar ucapan sang nenek, Haruto benar-benar terguncang.


Skenario terburuk yang muncul di benaknya menjadi kenyataan.


Di belakang neneknya, seorang gadis muncul dengan ragu-ragu.


“O-Ootsuki-kun. Umm... apa kabar?”


“...Ah, To-Toujou-san.”


Haruto merasakan darah di sekujur tubuhnya surut seketika.


“Haruto ini, ya, Nenek tidak menyangka kamu punya pacar semanis ini.”


“A-Aaah... tidak, anu, Nek, begini...”


Haruto panik dan ingin segera meluruskan kesalahpahaman neneknya.


Namun, dalam situasi serangan mendadak ini, pikirannya tidak bisa tersusun dengan baik, dan mulutnya tidak mau bergerak sesuai kehendaknya.


Di saat itu, Ayaka dengan sungkan menyodorkan kantong belanjaan yang dipegangnya.


“Ootsuki-kun, ini. Aku belikan buah-buahan, kira-kira bisa makan?”


“Eh? Ah, umm, maaf. Terima kasih sudah repot-repot.”


Haruto menoleh ke arah Ayaka, berpikir dia juga harus minta maaf padanya.


Korban utama dari kebohongan ini adalah Ayaka. Dia pasti merasa tidak nyaman.


Berpikir demikian, Haruto hendak membuka mulut, tapi sang nenek sudah lebih dulu bicara.


“Ayaka-san sudah belikan banyak buah buat Haruto, loh. Benar-benar pacar yang baik, ya.”


“U-Ung... ah, bukan, bukan begitu, itu...”


Haruto kembali menoleh ke arah neneknya untuk mencoba meluruskan kesalahpahaman. Tapi lagi-lagi, kata-kata tidak mau keluar dengan lancar.


Permintaan maaf pada Ayaka, dan penjelasan pada neneknya.


Karena memikirkan dua hal ini bersamaan, pikirannya jadi kacau.


Tanpa mempedulikan Haruto yang sedang kacau, sang nenek melihat buah di tangan Ayaka dan berkata.


“Sini, mumpung sudah dibelikan, biar Nenek kupaskan, ya.”


“Tidak, Nenek tak usah repot-repot, kalau boleh pinjam dapurnya biar saya saja yang lakukan.”


“Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Jangan sungkan. Mumpung Ayaka-san sudah datang, santai saja di sini.”


“Umm, kalau begitu, terima kasih banyak.”


Ayaka melirik Haruto sekilas, lalu menyerahkan kantong belanja berisi buah itu pada nenek.


Neneknya menerima buah itu dari Ayaka tanpa memudarkan senyumannya, lalu turun ke bawah untuk mengupasnya.


“............”


“............”


Ayaka tampak gelisah dan Haruto menunduk lesu.


Keheningan yang sangat canggung mengalir di ruangan yang kini hanya berisi mereka berdua.


“U-Umm, Ootsuki-kun? Itu, bagaimana flunya?”


“...Ya, sudah baikan.”


Haruto menjawab dengan suara lemah tak bertenaga.


“...A-Anu, ya. Itu... tadi, di supermarket aku kebetulan ketemu neneknya Ootsuki-kun, terus... umm, gimana bilangnya, ya... aku, itu... dibilang pa-pacar...”


“Mohon maaf sebesar-besarnya!”


Di tengah ucapan Ayaka, Haruto turun dari kasur dan bersujud dengan menempelkan kepalanya di lantai.


Kaget dengan tindakan mendadak Haruto, mata Ayaka terbelalak.


Masih dalam posisi bersujud, Haruto merangkai kata-kata permintaan maaf.


“Aku benar-benar minta maaf karena sudah berbohong seenaknya dan membuat Toujou-san merasa tidak nyaman! Aku tidak tahu bagaimana cara menebus kesalahan ini... Aku sendiri yang akan bilang pada Nenek kalau itu bohong, jadi Toujou-san...”


“Tung! Tunggu sebentar!!”


Ayaka memotong permintaan maaf Haruto di tengah jalan.


“Aku nggak marah kok, dan juga tidak merasa nggak nyaman. Cuma, aku penasaran alasannya... kenapa Ootsuki-kun berbohong kalau aku pacarmu.”


Ayaka bertanya dengan tatapan serius.


Haruto yang bertatapan dengannya, tiba-tiba menunduk dan memalingkan wajah.


“Itu...”


“Pasti ada alasannya, ‘kan? Soalnya Ootsuki-kun biasanya bukan orang yang suka bohong begitu.”


“............”


Ayaka dengan sabar terus menatap Haruto yang menunduk dan menutup mulut. Lalu, dengan suara pelan dan terbata-bata, Haruto mulai bercerita.



“Sebenarnya... orang tuaku meninggal karena kecelakaan lalu lintas saat aku masih kecil.”


“Eh!? B-Begitu, ya...”


Mendengar fakta tak terduga itu, aku refleks menutup mulut dengan kedua tangan.


Ootsuki-kun terus berbicara dengan suara lesu.


“Lalu, aku diambil dan dibesarkan oleh kakek-nenek dari pihak ibu, tapi saat mau masuk SMP Kakek juga meninggal... sekarang aku tinggal berdua saja dengan Nenek.”


Mendengar cerita Ootsuki-kun yang berbicara lesu sambil menunduk, aku didorong oleh hasrat ingin memeluknya seerat mungkin.


Aku tidak bisa membayangkannya.


Bagiku sekarang, keberadaan Papa dan Mama adalah hal yang normal, ada adikku Ryota, dan aku dikelilingi keluarga. Sedangkan Ootsuki-kun, keluarganya tinggal neneknya seorang....


Tiba-tiba aku teringat sesuatu.


Dulu saat aku dijahilin Mama dan mengeluh soal itu, Ootsuki-kun menceritakan betapa berharganya keberadaan seorang ibu dengan aura kesedihan.


Di depan Ootsuki-kun yang tidak punya orang tua, mungkin aku yang dulu sangatlah tidak peka....


Ootsuki-kun mengangkat pandangannya yang tadi menunduk, menatapku, dan melanjutkan ceritanya.


“Lalu, dua hari lalu Nenek pingsan karena sengatan panas.”


“Eeh!? T-Tidak apa-apa?”


“Ah, iya. Untung langsung dibawa ke rumah sakit, jadinya tidak fatal.”


“B-Begitu ya.”


Dua hari yang lalu memang panas banget, sih. Tapi tak kusangka waktu itu terjadi hal seperti itu.


“Tapi aku, aku sangat terguncang karena Nenek pingsan dan dibawa ke rumah sakit...”


Ucap Ootsuki-kun lemah.


Wajar sih, kalau satu-satunya keluarga yang tersisa pingsan, aku juga mungkin bakal panik.


“Begitu sampai di rumah sakit, kesadaran Nenek segera pulih, tapi dalam percakapan waktu itu, topiknya jadi membahas soal pacarku...”


Ootsuki-kun memutus kalimatnya sejenak dengan canggung, lalu mulai bicara lagi.


“Dari dulu Nenek memang sering tanya ‘belum punya pacar?’, dan biasanya aku tanggapi dengan asal lalu mengalihkan pembicaraan, tapi saat itu, itu... keinginanku untuk menenangkan Nenek jadi menguat...”


“Karena itu, aku... umm, dibilang pacar?”


“Iya, saat itu, sosok Toujou-san muncul di kepalaku, dan aku pun kelepasan...”


Ootsuki-kun masih berbicara dengan nada murung.


Meskipun aku merasa simpati dengan latar belakang dan keadaannya, tapi mendengar kata-kata barusan, perasaan bahagia juga tumbuh di hatiku.


Saat memikirkan soal pacar, yang muncul di kepala Ootsuki-kun adalah aku, itu artinya....


Di dalam kepalaku, kata-kata Ootsuki-kun diterjemahkan ke arah yang sangat menguntungkan.


Tapi, kalau dia tidak punya rasa suka sedikit pun, hal itu tidak mungkin terjadi, ‘kan?


Sambil mati-matian menahan sudut bibir yang ingin naik secara alami, aku mengangguk kecil seolah mengiyakan dugaanku sendiri. Berbanding terbalik denganku yang hatinya melonjak kegirangan sampai rasanya mau terbang, Ootsuki-kun terus meminta maaf dengan rasa bersalah yang mendalam.


“Aku benar-benar minta maaf. Meskipun demi menenangkan Nenek, aku sudah melakukan kebohongan yang paling rendah sebagai manusia, dan menyusahkan Toujou-san juga...”


Ootsuki-kun menciut lesu.


Melihat sosoknya itu, aku tanpa sadar merasa gemas.


Ootsuki-kun yang biasanya dewasa dan bisa diandalkan, sekarang sedang murung seperti Ryota yang dimarahi Papa dan Mama. Sosok itu, kesenjangannya terlalu jauh dengan dia yang biasanya, sampai-sampai aku ingin mendekap kepala Ootsuki-kun di dadaku, mengelusnya, dan bilang ‘Nggak apa-apa, kok’.


“Aku akan bilang dengan jujur ke Nenek kalau aku berbohong. Jadi...”


“Tunggu!!”


Aku memotong ucapan Ootsuki-kun dengan suara yang agak keras.


Bersamaan dengan itu, detak jantungku makin cepat dan dadaku terasa sesak karena gugup.


Sekarang setelah perasaan dan rasa suka Ootsuki-kun sedikit tersingkap, kalau aku memintanya, pasti... Ootsuki-kun akan menerimanya. Aku merasa begitu. Itu adalah hubungan yang sangat kudambakan sejak aku menyadari perasaanku padanya.


Rasanya hubungan itu sudah ada di depan mata.


Tapi....


Aku....


Justru karena sudah tahu perasaannya, aku jadi menginginkan lebih. Aku menginginkan perasaannya yang murni, tanpa rasa minder atau rasa bersalah.


Aku jadi serakah dalam cinta ini.


Karena itu....


Aku sengaja memalingkan mata dari ‘hubungan’ yang ada di depan mata, yang mungkin bisa kugenggam kalau kuulurkan tangan.


Lalu, perlahan membuka mulut.


Demi mendapatkan perasaan yang murni.


“...Boleh kok. Aku akan pura-pura jadi pacarmu. Di depan Nenek, aku bersedia jadi pacarnya Ootsuki-kun.”


Mendengar ucapanku, mulut Ootsuki-kun menganga kaget dan membeku.


Sosoknya yang seperti itu benar-benar tidak seperti dirinya yang biasa, tapi rasanya malah sangat menggemaskan, dan aku pun tertawa kecil.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close