NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kaji Daiko no Arubaito o Hajimetara Gakuen Ichi no Bishojo no Kazoku ni Kiniira re Chaimashita V3 Chapter 1

 Penerjemah: Ramdhian

Proffreader: Ramdhian


Chapter 1

Ceramah Shizuku

Di waktu yang masih dini sebelum panas musim panas mengamuk.


Di dapur kediaman Ootsuki pagi-pagi buta, Haruto berdiri sebelahan dengan neneknya menyiapkan sarapan.


“Nenek, isian sup misonya mau tahu atau bawang bombai?”


“Seingat Nenek, tanggal kedaluwarsa tahunya sudah dekat.”


“Kalau begitu hari ini sup miso tahu dan wakame saja, ya.”


Sambil bilang begitu, Haruto memasukkan wakame kering ke dalam kaldu yang sudah disisihkan sejak kemarin.


“Nek, hari ini aku mau pergi ke dojo.”


“Baiklah. Makan siangnya bagaimana?”


“Hari ini aku makan di luar saja.”


Haruto menjawab sambil memeriksa tingkat kematangan salmon bakar.


“Ngomong-ngomong Haruto, bagaimana hubunganmu dengan Ayaka-san?”


Mendengar ucapan neneknya, Haruto menghentikan tangannya yang sedang menata salmon bakar ke piring.


“Ah, lancar kok.”


“Begitu ya, begitu ya. Syukurlah kalau begitu.”


Neneknya tersenyum senang hingga kerutan di wajahnya semakin dalam. Melihat senyuman itu, perasaan rumit yang merupakan campuran antara kebahagiaan dan rasa bersalah menyebar di dada Haruto.


“...Dia benar-benar orang yang luar biasa, sampai-sampai rasanya terlalu sayang untuk orang sepertiku.”


Haruto kembali menggerakkan tangannya untuk menyiapkan sarapan.


“Kamu harus menjaga Ayaka-san dengan baik, ya?”


“Iya... aku tahu.”


Saat mengangguk, bayangan Ayaka yang diterangi senko hanabi muncul dengan jelas di benak Haruto.


Di dalam hatinya, sudah pasti ada keinginan untuk menjaga gadis itu dengan baik. Namun, itu bukanlah hal yang sepatutnya dilakukan pacar palsu. Itu adalah tugas pacar sungguhan.


Di sebelah nenek yang bergembira karena cucunya mendapatkan pacar yang begitu luar biasa, Haruto melamun sendirian.



Haruto yang libur kerja sambilan, segera menuju dojo karate setelah sarapan. Di sana, ia berlatih dengan sepenuh hati tanpa memedulikan hal lain.


Selama berkonsentrasi ia tidak perlu memikirkan hal-hal yang tidak perlu, karena itu ia berlatih sekuat tenaga.


“Ada apa, Haruto? Tumben hari ini semangat banget.”


Ishigura, lawan sparringnya, menyapa Haruto saat jam istirahat.


“Tidak, aku cuma ingin mengusir berbagai pikiran yang mengganggu saja.”


“Memangnya kau biksu yang lagi bertapa?”


Setelah bilang begitu, Ishigura tertawa terbahak-bahak.


Ishigura yang satu tahun lebih tua adalah sosok kakak yang bisa diandalkan bagi Haruto. Sekaligus, rival yang telah saling mengasah kemampuan bersamanya di Dojo Doujima ini sejak kecil.


“Kalau sparring sekuat tenaga dengan Kazu-senpai, aku bisa jadi sangat fokus dan itu menyenangkan.”


“Ooh, kau bisa ngomonf manis juga rupanya. Kalau begitu, ayo satu ronde lagi.”


Ishigura menyeringai dengan wajah sangarnya.


Ishigura memiliki aura seolah-olah akan mengeluarkan belati dari balik bajunya. Namun, Haruto tahu bahwa bertolak belakang dengan penampilannya, isi hati pemuda itu sangat lembut.


“Siap, mohon bimbingannya.”


Haruto memusatkan semangatnya dan kembali melanjutkan sparring dengan Ishigura.


Setelah itu pun Haruto terus berlatih dengan tekun, dan tanpa sadar waktu makan siang pun tiba.


Haruto yang selesai latihan karate dan hendak pergi ke ruang ganti untuk berganti ke pakaian biasa, memanggil Shizuku yang kebetulan lewat di dekatnya.


“Shizuku, ada waktu sebentar?”


“Ada apa, Haru-senpai? Lamaran? Boleh, kita nikah yuk.”


“Makan siang hari ini, sudah mutusin mau makan apa?”


Haruto mengabaikan lelucon Shizuku yang asal jawab seperti biasa, dan menanyakan makan siangnya.


“Belum, tidak ada yang khusus. Di kulkas ada natto dan pisang, jadi rencananya aku mau menaruhnya di atas roti tawar untuk makan siang.”


“...Kombinasi yang sangat unik, ya. Emangnya natto dan pisang itu cocok?”


“Haru-senpai juga mau? Mau makan siang bareng?”


“Nanti aku suapi ‘aaam’, loh?” lanjut Shizuku dengan wajah datar.


“Nggak, aku nolak. Bukan itu maksudku, kalau kau nggak keberatan, boleh aku traktir makan siang hari ini?”


“Hm? Kenapa tiba-tiba menyatakan cinta? Aku sih siap selalu.”


“Bukan, aku cuma mengajak makan siang, tahu?”


Dalam percakapan lempar-tangkap kata, Shizuku terkadang melempar bola iblis yang dahsyat. Haruto hanya bisa tersenyum kecut menghadapinya.


“Waktu aku sakit, kau merawatku, ‘kan? Aku ingin berterima kasih untuk itu.”


“Aah, kalau soal itu tidak usah dipikirkan. Aku melakukannya karena aku mau.”


“Begitu, ya... mulutnya sih ngomong gitu, tapi kau langsung cari restoran tuh.”


Meskipun mulutnya melontarkan kata-kata penolakan sopan, tangan Shizuku dengan cepat mulai mencari restoran untuk makan siang lewat ponselnya.


Jempolnya menggeser layar dengan cepat wush-wush, sambil bergumam, “Rating di situs ini bisa dipercaya nggak, ya...”, ia mencari kandidat restoran makan siang dengan antusias.


“Pilih tempat yang bisa didatangi anak SMA, oke?”


Saat Haruto tersenyum melihat tingkah Shizuku yang seperti biasanya, Ishigura yang sudah berganti ke pakaian biasa mendatangi mereka berdua.


“Ooh, kalian berdua lagi bermesraan?”


“Aku dan Haru-senpai selalu lovey-dovey. Kazu-senpai itu pengganggu.”


Shizuku mengangkat pandangan dari ponselnya, dan dengan wajah datar ia bicara sambil sedikit menempelkan tubuhnya ke arah Haruto. Haruto mengabaikan ucapan gadis itu dan mengajak Ishigura juga.


“Aku berniat mentraktirnya makan siang sebagai ucapan terima kasih karena sudah merawatku tempo hari. Kazu-senpai mau ikut?”


“Ah, aku skip dulu, deh.”


Ishigura menolak ajakan Haruto dengan melambaikan satu tangan.


“Ada rencana lain?”


“Kazu-senpai itu pengganggu.”


“Siang ini rencananya aku mau bikin kue.”


Jika dilihat dari luar, Ishigura memiliki wajah yang sangat sangar. Namun, bertolak belakang dengan penampilannya, hobinya adalah membuat kue. Terlebih lagi, kemampuannya cukup tinggi, dan tart cokelat buah yang pernah dicicipi Haruto sebelumnya kelezatannya bisa menyaingi toko kue.


“Hee, hari ini mau bikin apa?”


“Kazu-senpai itu pengganggu.”


Mendengar Haruto bertanya karena penasaran, Ishigura menjawab dengan sedikit senang.


“Tempo hari aku beli mentega yang lumayan bagus. Rencananya aku mau coba bikin financier.”


“Financier ya, boleh tuh.”


“Latihan besok harap bawa oleh-oleh itu. Terus Kazu-senpai itu pengganggu.”


“Hei Shizuku. Setelah puas mengataiku pengganggu, sekarang kau minta dibawakan kue? Nyalimu besar juga, ya.”


Shizuku yang dengan rajin menyisipkan kata ‘pengganggu’ dalam percakapan Haruto dan Ishigura, matanya berbinar meski wajahnya datar saat mendengar kata financier.


Melihat itu, pelipis Ishigura sedikit berkedut-kedut.


“Kazu-senpai hebaaat, kereeen, cakeeep, tampang kriminal. Oke, karena sudah kupuji, besok tolong bawa oleh-olehnya, ya.”


“Ngomongnya asal banget, woy! Lagian tampang kriminal itu bukan pujian!!”


Mendengar ucapan Shizuku yang sangat tidak niat itu, Ishigura menyuarakan protesnya. Menanggapi itu, Shizuku malah membalas, “Kazu-senpai manja banget, ya?”.


“Hadeeh, kau ini benar-benar punya kepribadian yang ‘unik’ ya.”


“Ah, nggak juga, biasa aja kok.”


“Aku nggak lagi muji, tahu! Hah... ya udah, pokoknya gitu. Kalian berdua aja yang pergi makan siang. Aku pulang. Dah.”


Ishigura yang tampak sedikit lelah meladeni Shizuku, melambaikan tangan dan pergi meninggalkan dojo.


Sambil memandangi punggungnya, Shizuku membocorkan isi hatinya dengan ekspresi minim.


“Kazu-senpai itu mau sampai sejauh apa sih memperlebar gap kepribadiannya baru bisa puas?”


“Yah, Kazu-senpai itu benar-benar perwujudan nyata dari pepatah ‘jangan menilai orang dari penampilannya’, sih.”


Tubuh besar yang tingginya hampir dua meter, alis tipis dan tatapan mata tajam, rambut pendek dengan ukiran tiga garis di samping, serta satu bekas luka yang memanjang dari pelipis hingga mulut.


Kalau bicara penampilan saja, dia benar-benar tampak seperti kriminal.


Tapi isinya adalah pemuda berhati lembut yang hobi bikin kue dan sangat mencintai anak-anak serta binatang kecil.


“Besok, dia bakal bawa oleh-olehnya nggak, ya?”


“Pasti bawa kok. Sambil ngomel-ngomel macam-macam. Dia emang kayak gitu orangnya.”


“Besok, Haru-senpai datang?”


“Sayang banget kalau ngelewatin financier buatan Kazu-senpai.”


Haruto pun menantikan financier buatan Ishigura.


Besok ada jadwal kerja sambilan asisten rumah tangga di kediaman Toujou. Dan, ada rencana berlatih pacaran dengan Ayaka, tapi itu jadwalnya lewat tengah hari.


Karena jadwal pagi kosong, Haruto memutuskan untuk mampir ke dojo dan menyicipi financier yang enak.


Mendengar ucapannya, Shizuku mengangguk puas “Umm umm”, lalu dengan cepat memperlihatkan ponselnya pada Haruto.


“Haru-senpai. Aku mau makan siang di sini.”


“Hm, oke.”


Haruto mengangguk pada usulan Shizuku, lalu menuju ruang ganti untuk berganti ke pakaian biasa.



“Bau yang khas ini. Inilah esensi sejati dari Iekei Ramen.”


Shizuku mendekatkan wajahnya ke mangkuk yang diantarkan pelayan, dan menghirup aroma ramen yang dipesannya.


“Bau ini, kalau sudah terbiasa bisa bikin ketagihan, ya.”


“Setuju. Bau yang awalnya terasa busuk ini, semakin sering dihirup, jadi makin candu.”


Shizuku mengangguk setuju pada pendapat Haruto.


Sebagai ucapan terima kasih karena telah merawatnya, makan siang yang diusulkan Shizuku adalah ramen.


Baru-baru ini, ada sebuah kedai Iekei Ramen yang baru buka di dekat Dojo Doujima. Sepertinya dia penasaran dengan kedai itu.


“Di sini selalu antre. Tapi kalau antre sendirian itu ngebosenin, jadi ajakan Haru-senpai pas banget waktunya.”


“Yah, kejam juga sih kalau harus antre sendirian di tengah panas begini.”


Sambil bertukar obrolan seperti itu, Haruto menyendok kuah dengan sendok bebek dan menyuapkannya ke mulut.


“Ooh, enak.”


Dari kuah kental yang menyebar di lidah, terasa gurihnya kaldu tulang babi yang pekat dan kekayaan rasa kecap asin yang dalam. Bersamaan dengan itu, aroma lemak ayam berlari melewati rongga hidungnya, diikuti oleh aroma khas Iekei yang menyebar perlahan.


Di dekat Dojo Doujima ada satu lagi kedai Iekei Ramen lain. Kedai itu sudah buka sejak lama dan rasanya luar biasa enak, jadi Haruto, Ishigura, dan Shizuku sering makan di sana setelah latihan.


Kelezatan ramen dari kedai yang baru buka ini mungkin setara dengan kedai langganan mereka itu.


Saat Haruto berpikir demikian, di sebelahnya Shizuku juga menyeruput mi satu suap lalu mengangguk.


“Kuah kental dan mi tebal yang mengenyangkan. Ini... lulus.”


Meski masih tanpa ekspresi, suara Shizuku terdengar sangat serius saat mengatakannya.


Di sebelah gadis yang memancarkan aura bak maestro yang sedang memberi komentar di acara masak itu, Haruto juga memasang ekspresi serius yang sama.


“Jajaran bumbu di mejanya juga luar biasa, ada keripik bawang putih. Kedai ini benar-benar paham selera.”


“Cuka ramen juga jadi poin plus.”


“Benar.”


Keduanya melipat tangan dan saling mengangguk setuju.


Beberapa menit kemudian, Haruto dan Shizuku terus menyeruput ramen dalam diam. Saat sudah memakan sekitar delapan puluh persen, tiba-tiba Shizuku berbicara pada Haruto seolah teringat sesuatu.


“Ngomong-ngomong, Haru-senpai.”


“Hm?”


“Sebelumnya juga aku sudah tanya... Haru-senpai, suka sama seseorang, ya?”


“Eh!?”


Mendengar pertanyaan mendadak itu, Haruto menghentikan gerakan sumpitnya yang masih menjepit nori yang sengaja ia sisakan untuk terakhir.


“Ada apa sih Shizuku, kok tiba-tiba...”


“Habisnya, waktu itu Senpai cerita ke Kazu-senpai, ‘kan. Tentang jarak yang tepat dengan gadis yang hubungannya lumayan dekat dan semacamnya.”


“Aah... itu, kau dengar ya.”


Dulu, saat didesak Ayaka untuk latihan pacaran, perasaannya jadi tak karuan, dan ia berniat mengonsultasikan hal itu pada Ishigura, tapi rupanya percakapan itu terdengar oleh Shizuku. Meskipun terdengar, sebenarnya tidak banyak yang berhasil ia ceritakan.


“Jadi, bagaimana? Suka sama seseorang?”


“Nggak, yah... entahlah...”


Haruto menyadari perasaannya sendiri terhadap Ayaka. Ia menyadarinya, tapi hatinya belum siap untuk mengucapkan dan mengakuinya secara lisan.


Namun, mendengar jawab tidak jelas Haruto, Shizuku menghela napas kecil seolah heran.


“Bilang ‘entahlah’ itu, sama saja dengan bilang kalau suka sama seseorang, tahu?”


“...Kenapa kau bisa menyimpulkan begitu. Kau nggak tahu, ‘kan, soal itu.”


“Aku tahu.”


Shizuku menyimpulkan dengan tegas sambil menatap lurus ke mata Haruto.


“Aku sudah memperhatikan Senpai sejak kecil, jadi sudah tentu aku tahu.”


Kata-katanya yang diucapkan tanpa perubahan emosi seperti biasa itu, entah kenapa memiliki daya persuasif yang aneh, sehingga Haruto tidak bisa menyangkalnya.


“...Apa aku semudah itu ditebak?”


“Tidak, aku spesial karena sudah kenal lama.”


Shizuku bilang begitu sambil mendengus bangga “Fufun”.


“Jadi, siapa pujaan hati Haru-senpai itu?”


Shizuku tampaknya sudah yakin kalau Haruto menyukai seseorang, dan melanjutkan pembicaraan dengan premis itu.


Melihatnya seperti itu, Haruto pun menyerah dan buka mulut.


“...Cewek sekelas, selama liburan musim panas kami jadi punya sedikit hubungan. Dan, yah...”


“Hoho. Jadi kucing garong yang merebut Haru-senpai dariku adalah cewek sekelas Senpai, ya.”


Melihat Shizuku yang meletakkan tangan di dagu, Haruto tersenyum kecut, “Kucing garong apaan dah.”


“Ngomong-ngomong. Di kelas Haru-senpai, ada Toujou-senpai yang terkenal itu, ‘kan?”


“Hhk... a-aah. Benar juga, iya.”


Mendengar nama ‘Toujou’ dari mulut Shizuku, Haruto tanpa sadar bereaksi kaget. Reaksi sekecil itu tak luput dari pengamatan Shizuku, yang langsung menatap Haruto dengan mata menyipit curiga.


“Orang yang Haru-senpai sukai, jangan-jangan...”


“........Aku berhak untuk diam.”


Tak tahan dengan tatapan Shizuku, Haruto memalingkan wajah dan bergumam pelan.


Melihat reaksinya, Shizuku kembali menghela napas sambil berkata.


“Sudah kubilang. Itu sama saja dengan membenarkan, tahu, Haru-senpai?”


“Ugh...”


“Tapi, kenapa harus Toujou-senpai yang itu sih... Apa Haru-senpai juga bakal jadi bagian dari tumpukan mayat para pejuang yang hancur setelah menyatakan cinta? Kasihan banget. Tenang saja, Senpai yang hancur gara-gara ditolak nanti biar aku yang sembuhin. Kalau mau basahin dadaku dengan air mata juga nggak apa-apa, loh?”


Idol sekolah, Toujou Ayaka, tidak pernah mengangguk pada pernyataan cinta siapa pun.


Itu adalah cerita yang sangat terkenal di kalangan siswa sekolah Haruto. Karena itu, sangat wajar jika Shizuku mengasihani dan mencoba menghibur Haruto dengan asumsi dia akan hancur lebur.


“Lagian Toujou-senpai itu tidak tertarik dengan urusan asmara, ‘kan? Di kalangan siswi kelas satu juga ada rumor kayak gitu, loh?”


Namun, Haruto yang sebenarnya mulai berhubungan lewat layanan asisten rumah tangga, merasa ‘jangan-jangan ada harapan?’, sehingga ia secara refleks menyangkal ucapan Shizuku.


“Toujou-san bukannya tak tertarik dengan asmara, kok. Kurasa.”


Orang yang tidak tertarik dengan asmara, tidak mungkin mengusulkan latihan jadi pacar, atau meminta peran pacar dengan nada bicara sok jago.


Melihat Haruto yang langsung menyangkal ucapannya, Shizuku menatapnya dengan tatapan menyelidik.


“Haru-senpai, ada sesuatu dengan Toujou-senpai, ya? Lagian, kok bisa ada hubungan selama liburan musim panas? Ah, jangan-jangan ada hubungannya dengan kerja sambilan jangka pendek? Iya ‘kan, Haru-senpai?”


Mendengar Shizuku yang mencecarnya bertubi-tubi, Haruto berpikir kalau ia mencoba mengelak dengan aneh-aneh malah akan memperumit masalah. Ia pun mengangkat kedua tangan tanda “aku menyerah” dan menceritakan sedikit tentang hubungannya dengan Ayaka pada Shizuku.


Shizuku yang mendengarkan cerita Haruto dalam diam, menggumamkan satu kata pelan setelah cerita itu selesai.


“...Dasar payah.”


“Eh? Kau bilang apa?”


Kata yang digumamkan Shizuku terlalu pelan hingga Haruto tidak bisa mendengarnya.


Shizuku pun mulai bicara dengan nada sedikit marah kepada Haruto yang bertanya ulang. Entah cuma perasaan Haruto saja, mata gadis yang biasanya datar itu tampak sedikit menukik tajam.


“Haru-senpai terlalu tidak mengerti hati perempuan. Meskipun cuma pura-pura, statusnya tetap pacar, ‘kan? Mana mungkin orang mau ngelakuin itu kalau nggak suka? Apalagi, latihan jadi pacar? Itu Toujou-senpai lagi berusaha biar Haru-senpai nengok dia.”


“Yare-yare,” Shizuku menggelengkan kepala sambil menghela napas panjang-panjang untuk ketiga kalinya hari ini.


“Kasihan banget Toujou-senpai. Harus berhadapan sama Haru-senpai yang nggak peka, bebal, dan keras kepala kayak batu ini.”


“Oi oi, aku nggak separah itu, ‘kan?”


“Parah banget malah. Lagian, kenapa Senpai bohong ke Nenek? Itu bukan Haru-senpai banget.”


Setelah bilang begitu, Shizuku memonyongkan bibir dan bergumam seolah sedang merajuk, “Padahal kalau cuma kekasih bohongan, aku juga mau melakukannya.”


“Maaf. Waktu itu aku benar-benar panik, rasanya nggak waras, waktu berpikir Nenek bakal meninggal, pandanganku jadi gelap gulita dan...”


Melihat Haruto yang bicara dengan lemah, ekspresi Shizuku sedikit melembut dan kembali ke wajah datarnya yang biasa.


“Yah, aku rasa aku paham seberapa berartinya Nenek bagi Haru-senpai.”


Shizuku menyeruput habis sisa mi yang ada di mangkuknya, lalu menangkupkan tangan, “Terima kasih atas hidangannya.” Kemudian, sambil mengembalikan mangkuk kosong ke meja konter, ia menoleh ke arah Haruto dan berkata, “Izinkan aku mengatakan satu hal.”


“Perempuan itu, nggak bakal bilang ‘aku suka kamu’ sama orang yang nggak dia anggap apa-apa, tahu?”


Setelah bilang begitu, Shizuku berkata, “Kalau begitu, karena aku sudah selesai makan, aku tunggu di luar duluan,” lalu bangkit dari kursi dan keluar dari kedai.


Haruto buru-buru menghabiskan sisa ramennya untuk menyusul gadis itu. Namun, saat itu ia menyadari sesuatu.


“Nggak bakal bilang suka sama orang yang nggak dia anggap apa-apa... kalau Shizuku?”


Setiap kali Haruto bicara padanya, Shizuku selalu melontarkan candaan seperti ‘Ayo pacaran’ atau ‘Ayo menikah’. Kalau itu bagaimana?


Sejenak, Haruto menghentikan gerakannya sambil melamun, tapi teringat Shizuku sedang menunggu di luar, dan kembali menyeruput ramennya.


Yah, kalau Shizuku sih emang udah kayak gitu dari dulu... dia itu agak spesial.


Haruto menyimpulkan demikian di benaknya, menangkupkan tangan setelah ramennya habis sambil bilang “Terima kasih atas hidangannya”, lalu meninggalkan kedai.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close