NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Munou to Iware Tsuzuketa Madoushi, Jitsu wa Sekai Saikyou Nanoni Yuuhei Sareteita node Jikaku Nashi V8 Chapter 1

 Penerjemah: Nels

Proffreader: Nels


Chapter 1

Usulan

Api yang garang menyembur seolah menghanguskan langit.


Gelombang panas yang membakar merayap di tanah, membakar habis rerumputan, dan menyerang seolah melilit kulit.


"...Aku sudah dengar rumornya, tapi inikah Gift langka milik Demon Lord Mahkota Pertama——"


Menghadapi pemandangan yang mengerikan itu, Ars bergumam pelan.


Tidak ada warna kepanikan dalam suaranya, matanya justru menyipit seolah menyiratkan kegembiraan.


"Inikah [Magma] itu... kekuatannya melebihi dugaanku."


Tatapannya kembali tertuju ke pusat api yang berkobar.


Yang berdiri di sana adalah salah satu dari 12 Supreme Mage Kings dan Mahkota Pertama.


Pria yang bertakhta di puncak Kota Sihir——Demon Lord Schlaht.


Sosoknya kurus kering bagaikan pohon mati, terlihat begitu rapuh seolah akan terbang tertiup angin kapan saja.


Namun, hawa yang menyelimuti tubuhnya sungguh dahsyat.


Mana dalam jumlah besar berputar pekat, keberadaannya yang penuh vitalitas memamerkan kekuatan yang muda, bertolak belakang dengan penampilannya yang tua.


"Hoh, melihat ini pun kau tak bergeming sedikit pun, ya..."


Sambil menyelimuti dirinya dengan api yang berkobar——tidak, dengan lahar, Schlaht bergumam kagum.


"Bukan sesuatu yang mengejutkan, kan. Bukannya ini cuma pertunjukan mencolok yang sekadar membuang-buang Mana saja?"


Banyak orang yang memamerkan kekuatan mereka dengan melepaskan Mana dalam jumlah besar.


Dengan memamerkan perbedaan Mana, lawan bisa sadar bahwa mereka tak bisa menang, dan kehilangan semangat bertarung.


Ditambah lagi, semakin ahli seseorang dalam mengendalikan Mana, semakin maksimal dia bisa mengeluarkan kekuatan Gift-nya.


Misalnya, [Flame] milik Karen bereaksi terhadap Mana-nya, dan terkadang menyelimutinya dengan api biru.


Gift yang mencolok itu bikin iri——Ars memandangi Schlaht sambil memikirkan hal itu.


Schlaht tampak tercengang sesaat, seolah tidak bisa memahami kata-kata Ars.


Dan saat berikutnya, tawa tumpah dari dalam tenggorokannya.


"Fuhahaha, ini menyenangkan. Bisa merasakan Mana-ku tapi hanya menilainya sampai tingkat itu... begitu ya, ini benar-benar merepotkan."


Sambil mengelus jenggotnya, dia tersenyum masam seolah sedang berpikir.


"Aku tidak terlalu paham, tapi bukankah sebaiknya kau tarik kembali Mana-mu itu sekarang?"


Jika pelepasan Mana dilanjutkan lebih dari ini, kerusakan di sekitarnya tidak akan biasa-biasa saja.


Tanah sudah ditelan api, dan taman yang tadinya beralaskan rerumputan sudah tak berbentuk lagi.


"Kau bukannya tidak tahu siapa pemilik istana ini, kan."


Tempat Ars dan yang lain berada adalah <Istana Kecantikan, Semprema>——markas Monster Spesial No. 6 "Ratu".


Dulunya, ini adalah taman yang dirawat dengan indah.


Tempat di mana bunga warna-warni bermekaran dan rumput hijau bergoyang tertiup angin.


Tempat itu kini hangus hitam, berubah menjadi pemandangan tragis yang hancur lebur.


Tidak sulit membayangkan emosi apa yang akan dirasakan pemiliknya jika melihat ini.


"Aku tahu. Meski begitu, aku harus memastikannya."


"Memastikan apa?"


"Kemampuanmu. Pria yang mengaku sebagai 'Essence of Magic, Mimir', aku tak bisa menahan diri untuk tidak mengujinya."


"...Apa ini ada hubungannya dengan Gift Original juga?"


Saat Ars bertanya demikian, bibir Schlaht membentuk lengkungan.


"Kalau kau paham, bicaranya jadi cepat. Bisakah kau meladeniku!"


Schlaht mengayunkan katananya ke atas, menyerang sekaligus.


Ars mundur setengah langkah, mencoba menghindar seolah membiarkan ujung pedang menyerempet hidungnya.


"Itu langkah buruk, Bocah!"


Seketika, katana Schlaht meledak.


Lahar berhamburan, menutupi wajah Ars dengan kekuatan dahsyat.


Angin ledakan mengamuk, bukan cuma setengah langkah, tubuh Ars terhempas jauh ke belakang.


Namun——.


Di tengah api yang berputar, Ars bangkit dengan tenang.


Menyaksikan sosok itu, mata Schlaht membelalak kaget.


"Menerima serangan itu, tapi masih bisa berdiri..."


Kata-kata Schlaht terputus.


Alasannya sederhana.


Tidak ada satu pun luka gores di wajah Ars.


"Apa... tidak terluka!?"


"Karena aku memasang 'Dinding Sihir, Unmut' secara refleks."


"...'Dinding Sihir, Unmut' seharusnya tidak seserbaguna itu. Kalau memang begitu, sihir pertahanan jadi tidak diperlukan lagi, kan."


"Memang benar katamu. Tapi, ‘Dinding Sihir, Unmut’ adalah pertahanan terbesar yang tidak butuh mantra, beda dengan sihir. Kalau bisa menguasainya, kau bisa meredam kekuatan serangan, bahkan memencarkannya."


"Kau bicara gampang... apa kau tahu berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk mencapai tahap itu?"


"Dua tahunan mungkin? Setidaknya setelah menguasai ‘Dinding Sihir, Unmut’, sisanya mudah kok."


"Tipe jenius yang tak sadar diri, ya... Yah, kalau tidak begitu, tidak mungkin kau bisa menahan serangan pertamaku tanpa luka."


Mengangguk seolah paham, Schlaht melepaskan kuda-kudanya.


Terpancing oleh itu, Ars juga memiringkan kepala dan menghentikan gerakannya.


——Seketika.


Bibir Schlaht terdistorsi dengan licik.


"Kupikir kau seorang ahli, tapi reaksimu sungguh amatir, ya."


"Apa maksudmu?"


"Akan kutunjukkan jawabannya——'Scorching Bullet'."


Sihir yang mantranya dibuang segera aktif.


Di sekitar Schlaht, bongkahan lahar tak terhitung jumlahnya melayang.


"Hanya karena lawan menghentikan gerakan, kau sampai melepaskan kewaspadaan. Benar-benar bodoh."


"Tapi, sihir tidak ada artinya kalau cuma aktif. Harus menunjukkan efeknya, kan."


Ars berkata dengan riang, lalu merapalkan nama sihirnya.


"'Noise, Ageloi'."


——Tidak terjadi apa-apa.


Namun, Schlaht menyadari keganjilan sesaat kemudian.


Bongkahan lahar yang melayang di sekitarnya menghilang satu per satu.


"...Apa ini?"


"'Noise, Ageloi' memiliki efek menyela mantra, mengacaukan sihir lawan, dan memusnahkannya."


"Padahal aku sudah membuang mantranya."


"Sihirnya memang aktif, tapi efeknya belum sepenuhnya dilepaskan. Itu masih berada di bawah pengaruhmu. Makanya, aku menyela di situ."


"Artinya?"


"——Nama sihir juga merupakan satu mantra yang sah, begitulah."


"Sulit dipercaya... tidak, justru karena itulah [Hearing], ya."


Schlaht menyunggingkan senyum senang.


"Coba tunjukkan kekuatan itu lebih banyak lagi padaku."


Katana Schlaht diayunkan ke bawah.


Bersamaan dengan suara udara yang terbelah, tanah meledak.


Ars melompat mundur seketika dan memasang kuda-kuda dengan belatinya.


Namun, saat berikutnya dia menyadari bilah pedang kembali mendekat.


Rentetan serangan yang dilancarkan tanpa ragu.


Lintasan pedang kuat yang hendak menebas segalanya itu mendekat seolah merampas jalan keluar.


"Lambat, Bocah."


Suara tua itu bergema.


Katana Schlaht di setiap serangannya berat, cepat, namun tanpa celah.


Sulit untuk mengatakan Ars unggul secara mutlak dalam fisik maupun kekuatan otot.


Schlaht memang terlihat tua, namun tubuhnya muda dan merupakan gumpalan otot.


Karena itu, bagi Ars, menerima serangannya secara telak sama saja dengan bunuh diri.


Ars menggunakan belati seolah menggelincirkannya, menangkis bilah pedang sambil mengintip celah serangan balik.


Namun, tidak ada celah dalam serangan Schlaht.


Dia bukan sekadar prajurit tua biasa. Itu adalah teknik pedang dari yang terkuat mutlak, yang telah lolos dari berbagai medan pembantaian.


"Hei, ada apa? Apa kau pikir bisa menahan seranganku dengan kemampuan segitu?"


Menanggapi provokasi Schlaht, Ars menyunggingkan senyum.


Setiap taktik dan manuver terasa menyenangkan.


Tidak bisa dihadapi dengan cara biasa. Satu kesalahan baca saja bisa memisahkan hidup dan mati.


Dia merasakan kegembiraan karena teringat kembali pada sensasi yang sudah lama tidak dirasakannya.


(Di sini aku harus menutup jarak...)


Menghindari serangan berikutnya dalam jarak setipis kertas, dia menendang tanah.


Melangkah masuk ke jangkauan katana, dia menyusup ke pertahanan Schlaht.


"Naif!"


Seketika, katana diputar balik, menebas menyapu seolah membaca gerakan Ars.


Tidak ada waktu untuk menghindar.


Ars menahannya dengan menjadikan belati sebagai perisai, namun guncangannya bergema seolah hendak meremukkan lengan.


"Hmm, belum patah, ya."


Schlaht menyipitkan mata dengan puas, melangkah maju untuk menghapus jarak yang terbuka.


Ars memperbaiki postur sambil berguling di tanah, lalu segera menggenggam kembali belatinya dengan pegangan terbalik.


"Ternyata, tidak mudah masuk ke pertahananmu, ya."


"Hoh? Dari cara bicaramu, terdengar seolah kau bisa menang di jarak andalanku?"


"Aku mengatakannya memang dengan niat begitu."


Saat dia menyatakan itu dengan senyum berani, mata Schlaht menyipit.


"Kalau begitu, mulai dari sini aku akan menggunakan sihir——!"


Saat Schlaht menghentakkan kaki ke tanah, suara gemuruh bergema.


Tanah meledak dan api membumbung tinggi mulai dari kakinya hingga ke tempat Ars berada.


"Hanguskan langit dan bumi, semburkan nadi darah merah tua. Tangisan pertama api menembangkan kehancuran, bumi yang membara mengundang akhir. Jadikan jiwaku sebagai inti, bukalah perjamuan abu dan api neraka."


Ars mencoba menyela mantra, namun seketika membuang pikiran itu.


Mana kuat yang ditempa dengan cermat, mantranya pun tanpa hambatan, tidak ada celah untuk menyela.


Meski menggunakan 'Noise, Ageloi' pun, sihirnya mungkin tidak akan bisa dihentikan.


Langsung menerapkan penanggulangan hanya dari satu kali intervensi, sungguh mengagumkan.


Memang pantas disebut Mahkota Pertama Demon Lord, Ars mempersembahkan pujian tulus dalam hatinya.


"Inferno Burst."


Di momen ledakan, arus deras magma membelah bumi, membakar habis sekitarnya.


Gelombang api neraka yang memancar dari seluruh tubuh Schlaht mewarnai langit menjadi merah.


"Kau tidak peduli kerusakan istana ya, bukannya ini terlalu berlebihan?"


Meski berkata demikian, Ars menunjukkan ekspresi tenang menghadapi magma panas yang mendekat.


"Dragon Roar, Fafnir."


Lingkaran sihir hijau raksasa muncul di depan Ars.


Yang muncul dari sana bersamaan dengan raungan adalah kepala naga raksasa.


Ia menghempaskan lahar yang mendekat, dan dengan momentum itu mendekati Schlaht.


Namun——dia justru melompat ke arah leher naga itu sendiri.


Terhadap tindakan yang bisa disebut bunuh diri itu, Ars menghentikan gerakannya sesaat.


"Melakukan gerakan yang tidak bisa diprediksi lawan. Itu adalah aturan besi pertarungan, kan."


Bersamaan dengan suara yang terdengar, yang terpantul di pandangan Ars adalah katana yang mendekat.


Satu kilatan tebasan horizontal Schlaht diayunkan untuk memenggal leher.


"Lambat!"


Seolah yakin akan kemenangan, Schlaht mengayunkan katananya dengan gagah.


Bilah pedang mendekati leher——tapi, meski begitu Ars tidak panik, hanya bergumam pelan.


"Sonic, Klangfarbe."


Saat nama sihir tanpa mantra itu bergema, bunga api yang dahsyat memercik.


"Apa!?"


Suara terkejut Schlaht bergema.


Sosok Ars tiba-tiba menghilang, dan bersamaan dengan itu, serangan tak terhitung jumlahnya menyerbu dari segala arah.


Schlaht berbalik menjadi pihak yang bertahan sepenuhnya.


"Fuhaha, dahsyat sekali. Tapi, yang ini sepertinya masih belum matang, ya. Serangannya terlalu monoton."


Dengan nada yang bahkan terasa santai, Schlaht menangkis serangan yang datang bertubi-tubi.


Bunga api menjadi kilatan sesaat, berhamburan di sekitar, lalu menghilang.


Setelah berkali-kali menyerang dan bertahan, yang pertama menghentikan gerakan adalah Ars.


Di ujung pandangannya, ujung belati yang patah menggelinding di tanah.


"...Masih belum cukup, ya. Karena terlalu membebaninya, jadi patah."


Schlaht juga menghentikan gerakannya.


Seharusnya, sekaranglah saatnya melancarkan serangan.


Tapi, seolah melupakan hal itu, dia juga menatap tempat yang sama dengan Ars.


"...Begitu rupanya. Ini sungguh dahsyat."


Dia mengelus jenggotnya seolah paham.


"Tak kusangka, ternyata belati perunggu. Kau tidak sedang meremehkanku, kan?"


"Ya, aku berniat meladenimu dengan serius. Belati perunggu itu cuma preferensiku saja."


"Cukup. Lagipula——sepertinya kita tidak bisa bertarung lebih dari ini."


Dari kejauhan, suara langkah kaki banyak orang bergema.


Mendengarnya, Schlaht diam-diam menyarungkan katananya.


Melirik hal itu, Ars membereskan belati yang patah.


Lalu, memungut ujung bilah yang jatuh di tanah.


"Diperbaiki... sepertinya mustahil. Bakal dimarahi Legi lagi."


Pasti tidak kuat menahan serangan Schlaht.


Itu adalah belati yang selama ini dia gunakan dengan hati-hati agar tidak patah.


Tapi dalam pertarungan kali ini, wajar saja karena lawannya adalah Mahkota Pertama Demon Lord, sepertinya dia kurang memiliki keleluasaan untuk memikirkan kondisi belatinya.


"Hmm... bisakah Anda jelaskan keadaan yang mengenaskan ini?"


Saat Ars menoleh ke arah suara, di sana berdiri Sebas.


Namun, tatapannya tidak tertuju pada Ars, melainkan pada Schlaht.


"Apa, jangan menatapku seolah aku pelakunya dong."


"Saya tidak mendengar kabar kunjungan Mahkota Pertama Demon Lord. Oleh karena itu, saya punya wewenang untuk menyingkirkan Anda yang menyusup tanpa izin, lho?"


"Hmm, maaf soal itu. Belakangan ini aku jadi sering lupa. Perasaanku aku sudah minta izin bertemu dengan Ratu."


Schlaht menjawab dengan nada pura-pura bodoh sambil menggaruk pipi.


"Demon Lord Schlaht, ini adalah istana saya sang Ratu. Apalagi, membuat taman favorit saya menjadi seperti ini... perbuatan kali ini sama sekali tidak bisa saya maafkan."


Demon Lord Lilith yang menyembunyikan wajah aslinya dengan tudung datang.


Di belakangnya ada sosok Yulia dan Elsa.


Karen dan Shion membelalakkan mata, mungkin kaget melihat sosok Schlaht.


"Wah, Ratu Hel-dono, sudah lama ya."


"Salam tidak perlu. Demon Lord Schlaht, ada pembelaan?"


"Tidak ada. Maaf ya. Aku merasa bersalah kok. Jadi, aku akan mengganti rugi."


Begitu berkata demikian, Schlaht mengambil sesuatu dari balik baju, menjentikkannya dengan jempol ke arah Demon Lord Lilith. Lilith menangkapnya dan memiringkan kepala dengan curiga.


"Itu permintaan maaf karena telah menghancurkan taman yang indah. Itu Cincin Penyimpanan. Isinya material dari Area Dalam."


Cincin Penyimpanan——cincin yang ditanami batu sihir 'Penyimpanan'.


Ini adalah Gift Keturunan, dan dikenal sebagai barang yang sangat mahal.


Memang ada yang mirip di Gift Standar, dan mereka yang memiliki kemampuan tipe ruang seperti [Compression], [Reduction], serta Gift langka [Space] juga bisa menggunakan sihir serupa.


Namun, alasan [Storage] tetap dihargai adalah karena berbeda dengan Gift lain, ini murni dikhususkan untuk penyimpanan. Asal bukan makhluk hidup, benda apa pun bisa disimpan.


"Beserta cincin yang diberi enchant 'Penyimpanan'-nya ya... ini benar-benar dermawan."


"Kalau aku tidak sampai melakukan itu, kau tidak akan memaafkanku, kan."


Di samping Schlaht yang berkata dengan santai, Demon Lord Lilith mendistorsi mulutnya dengan tampak tidak senang.


Dia mungkin tidak puas dengan Schlaht yang mencoba menyelesaikan masalah taman yang dibangun dalam waktu sangat lama dengan uang begitu saja. Namun, taman itu tidak akan kembali seperti semula. Jika ditanya bagaimana menyelesaikannya, tidak ada cara lain selain dengan material langka atau uang.


Karena keduanya sudah diserahkan, sulit untuk menuntut lebih dari ini. Tapi, dia juga tidak bisa membiarkannya begitu saja setelah berbuat sesuka hati.


"...Baiklah. Aku akan meredakan amarahku dengan ini. Tapi, aku akan mengajukan protes ke Asosiasi Sihir. Pihak kami juga punya gengsi, jadi tidak apa-apa, kan?"


Lawannya adalah Mahkota Pertama Demon Lord.


Bisa dibilang eksistensi yang bertakhta di puncak Asosiasi Sihir.


Karena itu, mustahil Asosiasi Sihir akan menghukum Schlaht.


Lagipula, Demon Lord Lilith sendiri tergabung dalam Asosiasi Sihir, jadi dia sangat paham mekanisme itu.


"Kalau ada barang yang kau inginkan, minta saja. Kalau aku yang bicara, Asosiasi Sihir juga tidak akan bilang tidak."


"Kalau begitu, mari akhiri pembicaraan ini. Jadi, kenapa Anda ada di sini?"


Saat Lilith bertanya, Schlaht menunjuk Ars tanpa ragu.


"Gift Original——aku datang untuk melihat pemiliknya."


Dan juga——sambil menyambung kata-katanya, Schlaht melanjutkan.


"Kalau ada 'Antitesis Buangan No. I', aku berniat menghabisinya. Aku berniat menyelesaikan urusan dengannya, tapi sayang sekali sepertinya semua berakhir lebih cepat dari dugaan."


"Apa Anda puas dengan itu?"


Saat Demon Lord Lilith bertanya, Schlaht kembali mengarahkan pandangannya pada Ars.


"Sangat memuaskan. Memang pantas disebut Gift Original——meski cuma sebentar, aku bisa merasakan serpihan kekuatan mengerikan itu."


"Sampai sebegitunya kah..."


"Ratu Hel, kau juga tahu, kan. Cerita tentang Gift Original."


Ada lima Gift Original.


'Taste', 'Sight', 'Touch', 'Smell', dan 'Hearing'.


Lima indra yang dimiliki siapa pun saat lahir.


Mereka yang dikaruniai indra tersebut sebagai Gift disebut sebagai pemilik Original.


Meski pemilik Gift langka, jika tidak tahu cara menggunakannya, mereka bisa dicap tidak kompeten.


Tapi, sebagian orang tahu.


Jika menguasai Gift itu, kekuatan dahsyat bisa dikerahkan.


Namun, dalam sejarah, hanya segelintir orang yang membangkitkan Gift Original.


Meski lima indra adalah kemampuan alami, tidak ada yang tahu cara melatihnya.


Terlebih lagi, keberadaan Gift Original hanya tercatat dalam literatur, tidak ada catatan sama sekali tentang cara penggunaannya.


Dan, pemilik yang terkonfirmasi dalam sejarah bisa dihitung jari.


Untuk 'Hearing', Ars adalah yang pertama.


"Dan, dikatakan bahwa hanya 'Magic Emperor' seorang yang mampu menggunakan kekuatan itu dengan benar."


Mendengar kata-kata itu, selain Demon Lord Lilith dan Sebas, ekspresi yang lain berubah.


Ars yang selesai mendengar cerita itu tetap tenang.


Karena dia pernah mendengar semua cerita itu. Dan, dia kembali memahami alasan kenapa Gift Original diistimewakan.


"Meski begitu, aku baru dengar kalau 'Magic Emperor' punya Gift yang mirip denganku."


"Karena tidak dipublikasikan. Yang dimilikinya adalah 'Sight'——katanya dia bisa mengingat semua sihir yang ditangkap matanya. Dan, dia mendaki hingga puncak penyihir sebagai 'Magic Emperor'."


Namun, semua orang tahu akhir ceritanya.


Dia memberontak melawan para Dewa, menantang perang penentuan, kalah, dan dikatakan kehilangan nyawanya.


"Kenapa kau sengaja menceritakan itu? Apa kau tidak berpikir sebaiknya dirahasiakan?"


"Sudah tidak ada gunanya menyembunyikannya. Karena lambat laun kau akan tahu."


Schlaht tertawa riang.


"Apa maksudmu?"


"Wajar kalau kau tidak paham. Tapi, sebagian orang tahu——bahwa hanya pemilik Gift Original yang bisa menemukan jalan menuju warisan 'Magic Emperor', Menara Babel Periode Pertama."


Sambil berkata begitu, Schlaht melanjutkan kata-katanya.


"Belakangan ini, banyak orang mencari warisan 'Magic Emperor' dan merambah ke 'Lost Land'. Dan tidak sedikit yang sampai ke Area Terdalam. Tapi——tidak ada seorang pun yang berhasil mencapai Menara Babel Periode Pertama."


Sambil menepuk pelan gagang katananya, kata-kata Schlaht tak berhenti.


"Di situ, sebuah rumor menyebar. Mungkinkah hanya mereka yang memiliki Gift Original seperti 'Magic Emperor' yang bisa sampai ke sana."


"Artinya, Anda datang untuk memberi peringatan?"


Demon Lord Lilith berkata, dan Demon Lord Schlaht mengangguk dalam.


"Umu. Bocah——kau sedang diawasi. Berhati-hatilah. Sampai di sini, nama si Bocah sudah terlalu tersebar luas."


Terhadap teguran itu, Ars merasa ada benarnya.


Atau lebih tepatnya, memang sangat beralasan.


Dia selalu mengaku sebagai 'Essence of Magic, Mimir' di setiap kesempatan, dan karena lawan yang dilawannya adalah para Demon Lord, rekam jejak pertarungannya mau tidak mau menjadi mencolok.


"Kalau lawan menyerang sih memang sesuai rencanaku, tapi bukan itu yang ingin kau katakan, kan?"


"Umu. Memang ada kalanya orang yang ingin menguji kemampuan sepertiku datang, tapi ke depannya bukan hanya orang seperti itu. Bajingan yang mengincar Gift-mu juga akan bertambah."


"Padahal belum pasti kalau Gift Original menuntun ke Menara Babel Periode Pertama, mereka rajin sekali ya."


"Kalau sudah berlalu seribu tahun, wajar jika mereka tidak sabar lagi. Dan, jika ada kemungkinan satu banding sepuluh ribu pun untuk menemukannya, mereka pasti akan mencoba apa pun."


"Benar juga, ada rumor bahwa warisan 'Magic Emperor' tersimpan utuh di Menara Babel Periode Pertama."


Yang menambahkan perkataan Demon Lord Schlaht adalah Demon Lord Lilith.


"Benar, makanya semua pihak menginginkannya."


"Apa kau juga sama?"


Saat Ars bertanya, Schlaht mengangkat bahu.


"Tentu saja aku tertarik, tapi aku tipe yang berpikir baru ada artinya kalau ditemukan dengan kekuatan sendiri. Lagipula, kalau aku lebih muda sedikit mungkin aku punya ambisi, tapi bagi orang tua yang hidupnya tak lama lagi, warisan Magic Emperor bukanlah objek yang terlalu menarik."


Sambil mengelus jenggotnya, Schlaht mengarahkan pandangan pada Demon Lord Lilith.


"Daripada itu, aku lebih tertarik pada Enam Monster Besar."


"Ara, berikutnya mau bertarung denganku?"


Demon Lord Lilith tersenyum dengan keberanian di bibirnya.


"Itu juga mungkin menyenangkan, tapi waktunya tidak tepat. Aku tidak bisa bertarung dalam situasi di mana ada orang yang senang kalau aku membunuhmu."


"Ara, kau percaya diri bisa menang melawanku ya."


"Tentu saja. Lagipula, yang ingin kulawan bukan cuma kau. Monster Spesial yang ada di Area Tinggi hanya No. 3 ‘White Wolf Fenrir' dan No. 6 'Ratu' alias kau."


Ujarnya, lalu Schlaht mengarahkan pandangan ke Ars.


"Apa kau tahu di mana Monster Spesial lainnya berada?"


"Kalau sebatas rumor sih... aku pernah dengar sisa empat lainnya ada di Area Dalam dan Area Terdalam."


"Umu. Tepat sekali. Tapi, yang No. 4 ada di tempat khusus. Aku ingin melawan semua Monster Spesial. Aku lebih tertarik pada itu daripada Menara Babel Periode Pertama."


"Kalau itu aku paham perasaanmu. Pasti ada sihir yang belum pernah kulihat, dan rasanya lebih menarik melawan Monster Spesial daripada menemukan Alat Sihir Kuno atau semacamnya."


"Fho, kau paham juga ternyata, umu umu."


Mungkin karena jawaban Ars memuaskan, Schlaht mengangguk berkali-kali dengan gembira.


"Aku menyukaimu. Kalau ada masalah, datanglah padaku. Kalau begitu, karena hal yang ingin kupastikan sudah kupastikan, aku pergi dulu."


Schlaht hendak pergi, mungkin karena sudah selesai mengatakan apa yang ingin dikatakannya.


"Mau pergi ke Area Dalam?"


"Tidak, tentu saja pulang ke Kota Sihir——inginnya sih bilang begitu, tapi aku meninggalkan anggota guild di Area Dalam. Jadi aku akan bergabung dengan mereka dulu, baru pulang santai. Sampai jumpa lagi, aku menantikan pertemuan kita berikutnya."


Schlaht hendak pergi, tapi segera menoleh kembali.


"Oh ya, Demon Lord Grimm ada di penginapan, lho. Dia juga buru-buru datang kali ini. Hasilnya memang 'Antitesis Buangan No. I' tidak ada sih... tapi pasti banyak yang ingin dibicarakan, kalau mau ketemu temui saja."


Schlaht mengangkat sudut bibirnya dengan riang.


"Dia jadi kuat, lho."


Sambil berkata dengan riang, Schlaht melirik Shion sekilas lalu pergi.


"Seperti biasa, orang yang muncul dan hilang misterius."


Lilith tersenyum masam.


"Ars, kamu tidak terluka, kan?"


Yulia mendekati Ars sambil mengaktifkan mode protektifnya seperti biasa.


Sambil memastikan tidak ada luka, dia menurunkan alisnya dengan cemas.


"Kau diincar orang aneh, ya."


"Memang penampilannya terlihat tegas, tapi ternyata lumayan ramah, ya."


"Jangan salah paham. Dia itu orang yang terus bertarung melawan orang kuat hanya demi membuktikan kekuatannya sendiri. Ramah apanya. Dia itu 'Anjing Gila', lho."


Lilith menghela napas dengan ekspresi seolah merasa repot.


"Apa kau pernah... bertarung dengan Schlaht?"


"Pertama kali sebagai Ratu Hel, kedua kalinya sebagai Demon Lord Lilith."


"Sepertinya... bukan menang, ya."


Ekspresi tidak puas Lilith yang memonyongkan bibir jelas bukan ekspresi pemenang.


"Ya, aku tidak menang. Tapi, aku juga tidak kalah, kok."


Lilith mengangkat bahu.


"Yang pertama sepertinya cuma uji kemampuan bagi Schlaht, jadi tidak ada penyelesaian. Tapi, yang kedua—aku memanfaatkan pengalaman itu sebagai Demon Lord Lilith untuk merebut takhta Demon Lord Schlaht, tapi sayangnya tidak bisa menang, dan berakhir seri."


Ars bingung bagaimana menilainya.


Lilith pasti tidak bisa banyak menggunakan kemampuan Gift-nya.


Karena pertarungan pertama dia melawan Schlaht sebagai Ratu Hel, sihir Lilith sudah diketahui. Karena itu, dalam pertarungan kedua, jika Demon Lord Lilith yang menyembunyikan identitasnya menggunakan sihir yang sama, dia akan dicurigai.


Melawan Lilith yang seperti itu, rasanya Schlaht juga tidak bertarung serius, dan Demon Lord Lilith pun pasti tidak bisa mengeluarkan kemampuan aslinya.


Makanya, meski mendengar detailnya, Ars berpikir pertarungan itu tidak terlalu bisa dijadikan referensi.


"Karena itu, untunglah hari ini aku bisa bertemu Mahkota Pertama."


Bukan berarti dia bertarung dengan kekuatan penuh.


Namun, dia bisa menangkap sedikit gambaran tentang seberapa hebat kemampuan Schlaht, pria yang disebut sebagai penyihir puncak dunia.


"Ngomong-ngomong, dia bilang Grimm juga ikut kembali bersamanya, ya."


Ars teringat percakapan dengan Schlaht barusan.


"Aku ingin dengar cerita soal Area Dalam, jadi aku mau pergi sebentar."


"Kalau begitu, aku ikut."


Shion yang sejak tadi diam mendekat untuk ikut serta.


"Kau boleh tinggal sama Yulia dan yang lain, lho."


"Tidak usah. Tadi aku baru tidur siang, jadi ini saat yang pas buat menggerakkan badan. Lagipula kalau membiarkan Ars pergi sendirian, kau pasti tidak bakal pulang-pulang."


Melihat Yulia berdiri di belakang Shion yang mengangkat bahu, mungkin dia habis dibilangi sesuatu oleh Yulia.


"Begitu ya... kalau begitu, ayo."


Meski merasa heran dengan Shion yang gemetar kecil, Ars membalikkan badan tanpa menyinggungnya.


"Tak apa kau biarkan dia pergi?"


Yulia yang melepas kepergian Ars dari <Istana Kecantikan, Semprema>——Lilith-lah yang menyapa gadis itu.


"Tidak ada alasan untuk mencegahnya juga——lagipula, pesta teh pasti membosankan buat Ars."


"Benar juga, dia bahkan menjelajahi istana tanpa meminum tehnya, ya."


Pesta teh bukan sekadar perkumpulan elegan biasa.


Di sana dituntut tata krama yang ketat, dan sedikit saja kekacauan dalam perilaku bisa membuat martabat seseorang diragukan. Mulai dari penggunaan pisau dan sendok, sudut saat membawa cangkir ke mulut, hingga pemilihan kata, semuanya harus merupakan gerakan yang terlatih.


Menyeruput minuman dengan berisik adalah hal yang tak pantas, apalagi berbicara sambil mengunyah makanan, itu sama sekali tidak bisa diterima.


Namun, mematuhi tata krama seperti itu bukanlah esensi dari pesta teh.


Itu juga merupakan mikrokosmos politik.


Di tempat bersosialisasi, strategi rahasia terkadang ditebarkan.


Racun yang diselipkan dalam teh di cangkir, konspirasi yang bersembunyi di balik senyuman, penghinaan tak langsung yang ditaburkan dalam percakapan santai.


Bangsawan adalah makhluk yang menajamkan indra penciuman mereka layaknya binatang buas meski berbalut keanggunan. Keraguan sesaat atau kesalahan kata bisa memisahkan nasib.


"Padahal khusus hari ini, tidak perlu mempedulikan tata krama, lho."


"Soalnya cuma makan kue sambil minum teh dan ngobrol santai, kan. Bagi Ars itu pasti terasa menyiksa. Apalagi kalau dituntut sedikit tata krama... dasar dia itu, pasti kabur, tuh."


Ars tidak peduli dengan tata krama.


Tidak—lebih tepatnya dia berusaha untuk tidak mempedulikannya.


Mungkin karena teringat bahwa dirinya adalah putra bangsawan, Ars cenderung tidak menyukai tempat yang terlihat berkelas seperti pesta teh.


"Ars tidak paham detail tata krama gara-gara dikurung. Katanya sih sempat diajari ibunya yang sudah meninggal sampai tahap tertentu, tapi..."


Sepertinya ibu Ars memberinya berbagai pengetahuan, tapi beliau meninggal dunia tanpa sempat mengajarkan semuanya.


"Sekarang setelah datang ke Kota Sihir, dia diajari oleh Elsa di <Villeut Sisters Lampfire>, sih."


"Begitu ya. Kalau begitu, kita lihat tata krama hasil usaha keras yang mengharukan itu lain kali saja, sekarang mari kita nikmati kelanjutannya."


Sambil berkata begitu, di arah pandangan Lilith, dua wanita sedang ribut.


"Elsa, kenapa kau menahanku? Aku juga berniat ikut Ars dan yang lain tahu?"


Karen yang bahunya dicengkeram dan dicegah berjalan memonyongkan bibir dengan tidak puas.


Terhadap Karen yang seperti itu, Elsa mengucapkan kata-kata dengan datar tanpa ekspresi seperti biasa.


"Padahal Anda membenci Demon Lord Grimm, apakah perlu repot-repot pergi?"


"Itu... anu lho... itu... a-aku khawatir sama Shion, kan."


Dia mengatakan hal yang terdengar masuk akal, tapi pandangannya mengarah ke tempat lain.


Benar-benar sikap tipikal orang yang merasa bersalah.


Melihat Karen yang seperti itu, Elsa menyipitkan mata dengan curiga.


"...Perhatian itu luar biasa, tapi Anda cuma tidak mau ikut pesta teh, kan."


Karena isi hatinya ditebak dengan mudah, Karen tersendat.


"H-habisnya, di saat begini Onee-sama maupun Elsa ketat banget soal tata krama."


"Justru karena cuma ada kesempatan saat-saat seperti ini, mau bagaimana lagi. Lagipula, Karen-sama adalah Lehrer yang memimpin guild."


"Kalau begitu Ars juga dong!"


"Ars-san tidak masalah. Karena saya yang mengajarinya."


"Ugh, tapi, Ars tidak ikut pesta teh, dan jelas-jelas dia kabur, kan. Harusnya dipastikan dengan benar dong. Jadi, aku pulang saja ya——"


"Saya tidak paham maksud Anda. Soal Ars-san akan saya pastikan di kemudian hari. Sekarang izinkan saya fokus pada Karen-sama."


Tengkuknya dicengkeram, Karen diseret pergi oleh Elsa.


Lilith mengarahkan pandangan pada Yulia dengan ekspresi tak habis pikir.


"Itu tidak apa-apa?"


"Sejak masih jadi Putri Raja, Karen sering membolos latihan, jadi Elsa mungkin menilai hari ini saat yang pas. Jadi, biarkan saja tidak apa-apa, kok."


Saat Yulia berkata demikian, Lilith menatap Karen dengan pandangan kasihan.


Sambil tersenyum masam pada Lilith, Yulia membuka mulut.


"Soal cerita yang tadi..."


Lilith memiringkan kepala melihat Yulia yang bicara dengan suara direndahkan.


"Soal tata krama?"


"Bukan, soal ibunya Ars."


"...Kalau tidak salah, rumah kelahiran Ars-san adalah keluarga Margrave di Kekaisaran Earth, ya."


"Ya. Beliau adalah orang yang terus melindungi Ars sampai akhir, saat dia dikurung karena dianggap menerima Gift tak berguna."


"Itu langka ya untuk ukuran bangsawan Kekaisaran Earth."


Kekaisaran Earth bertujuan merdeka dari <Great Forest>, dan para bangsawannya memegang kebijakan yang bisa disebut supremasi Gift. Gift yang tidak bisa digunakan dianggap tidak kompeten, dan jika hanya dikurung seperti Ars itu masih untung, karena ada rumor sebagian besar disingkirkan di belakang layar.


"Ya, mungkin saja beliau menyadari rahasia [Hearing]."


"...Kalau itu fakta, aneh juga ceritanya."


Jika dia tahu Gift [Hearing] adalah Gift Original, kenapa tidak memberitahu Margrave sang ayah. Jika dia memberitahunya, Ars pasti tidak akan dikurung.


Dia pasti masih tetap berada di Kekaisaran Earth sebagai penerus Margrave.


"Tapi, Yulia... kau ingin bilang kalau alasan ibu Ars terus melindunginya adalah karena beliau tahu kebenaran Gift-nya, kan. Tapi, apa dasarnya?"


"...Karena lingkungan tempat Ars dikurung itu terlalu ideal untuk Gift [Hearing]."


"Artinya, kau berpikir beliau sengaja membiarkannya dikurung agar Ars bisa menguasai kekuatan [Hearing] sepenuhnya?"


"...Aku melihat kemungkinannya tinggi. Makanya, kalau ada sisa informasi tentang ibu Ars, maukah kau memberitahuku?"


Lilith berbicara seolah dia sudah memegang bukti yang kuat.


Tapi itu wajar saja. Hingga baru-baru ini mereka berhadapan sebagai musuh. Tidak mungkin dia tidak menyelidiki identitas lawan.


Apalagi masa lalu Yulia pun bukan pengecualian. Dan, lebih dari segalanya——Lilith sangat tertarik pada Ars.


Tidak mengherankan jika dia telah menyelidiki tentang Ars lebih dalam dan lebih teliti daripada siapa pun.


"Sepertinya ibu Ars-san dulunya adalah putri dari keluarga Viscount di Kekaisaran Earth. Tapi, hampir bersamaan dengan pernikahannya ke keluarga Margrave, keluarga Viscount itu dibubarkan, lho."


"...Alasannya?"


"Aku tidak tahu sampai sedetail itu, tapi sepertinya mereka adalah klan yang mewarisi Gift Keturunan khusus——[Appraisal]."


"Begitu ya. Mungkin Margrave menginginkan pernikahan dengannya karena mengincar kekuatan itu."


Itu bukan cerita langka di Kekaisaran Earth.


Keluarga yang saling menjalin hubungan demi mencari kekuatan Gift dalam darah bukanlah hal yang terbatas pada Kekaisaran saja, melainkan hal lumrah yang terlihat di banyak negara di mana bakat bernama Gift berkuasa.


"Ya, tapi——bayi yang lahir tidak mewarisi Gift Keturunan dari kedua pihak, dan hanya memiliki [Hearing], kekuatan yang cuma telinganya sedikit bagus."


Tidak sulit membayangkan kekecewaan yang dirasakan Margrave saat itu.


Dia menganggap Gift putranya sebagai aib klan, tidak mempublikasikan apa kekuatannya sama sekali, dan menyingkirkannya dalam bentuk pengurungan.


Seolah menyembunyikan keberadaan putranya dari dunia——dia memanipulasi informasi agar suara tangisan pertamanya bahkan tidak sampai ke ibu kota.


Seandainya saat itu Margrave mengumumkan kelahiran Ars, namanya akan sampai ke jajaran petinggi Kekaisaran, dan mungkin akan muncul orang yang bisa melihat kekuatan Original di dalam Gift [Hearing] yang sekilas tampak biasa itu.


"Setelah itu seperti yang kau tahu. Setelah istri pertamanya meninggal, Margrave segera menikah lagi, dan akhirnya lahirlah adik laki-laki. Anak itu kabarnya memiliki Gift Keturunan [Barrier]."


"Tipe Putih, ya... Gift yang sepertinya bakal diinginkan Elf."


"Ya, faktanya seperti yang kau katakan, Yulia, setelah itu adik laki-laki dan ibunya meninggalkan wilayah Margrave dan pindah ke <Great Forest>, lho?"


Yulia tidak melewatkan maksud tersembunyi dalam tatapan Lilith.


Dia pasti ingin bilang, "Kau kan Saint, masa tidak tahu?".


"Sayang sekali... tapi itu baru pertama kali aku dengar."


Ini——pasti ulah Verg. Yulia yakin akan hal itu.


Sebab, meski memiliki Gift Tipe Putih, seharusnya tidak ada perlunya membawa paksa bangsawan tinggi Kekaisaran Earth, apalagi penerus keluarga, ke <Great Forest>.


Lagipula, Verg sendiri sudah memiliki Gift [Kekkai] yang dianggap sebagai versi superior dari [Barrier].


Ditambah lagi jika ibunya juga ikut dibawa, tujuannya jelas.


Itu bisa digunakan sebagai sandera dalam negosiasi dengan Ars——hanya sebatas rencana itu.


Meski begitu, bagi Verg mungkin itu hanyalah bahan transaksi yang sepele.


Kalau berguna ya syukur, kalau tidak ya sudah. Mungkin dia hanya melihat nilai setingkat itu.


Namun, tetap saja——itu adalah fakta yang tidak bisa diabaikan oleh Yulia.


"Mengenai masalah itu, biar aku yang selidiki."


Entah istri dan anak Margrave kehilangan nyawa atau tidak——bagi Yulia, itu tidak penting. Ars juga bukan tipe orang yang menaruh hati pada adik yang wajahnya saja tidak pernah dilihat, atau pada ibu tiri yang tidak sedarah. Kasih sayang tidak pernah ada sejak awal, kesedihan maupun kemarahan seharusnya tidak akan lahir dalam dirinya.


Justru karena itulah, yang tak bisa dimaafkan Yulia adalah——kedangkalan Verg yang menyeret keluar masa lalu yang telah dikubur Ars dengan tangannya sendiri, untuk dijadikan alat negosiasi.


Asal ada nilai manfaatnya, tidak peduli seberapa kotor hubungannya. Bahkan ikatan darah pun baginya hanyalah salah satu bahan transaksi.


Sifat yang memungut sesuatu yang sudah dibuang dan menyodorkannya seolah-olah itu penting——bagi Yulia, itu tampak sangat buruk, konyol, dan lebih dari segalanya, hina.


"Daripada itu——yang kupikirkan adalah Mahkota Pertama Demon Lord. Kalau dia sudah bergerak, kemungkinan besar Demon Lord lain juga akan mulai bergerak secara berantai. Sekarang justru pergerakan mereka yang lebih mengkhawatirkan."


"Kalau Asosiasi Sihir, dengan pengaruhku, aku bisa menekannya sampai batas tertentu... tapi itu pun paling banter hanya sampai 24 Council Keryukeion. Kalau soal para Demon Lord, urusannya jadi sulit, lho."


"Apa tidak bisa mengeluarkan Misi Wajib lagi kepada para Demon Lord?"


Memang Lilith bilang sulit, tapi Yulia tidak lupa.


Dulu dia pernah sekali memancing para Demon Lord keluar dari Kota Sihir——ke "Lost Land" untuk mengulur waktu. Setelah itu barulah dia menghadapi pertempuran penentuan melawan Yulia dengan persiapan matang.


Namun, jawaban Lilith kepada Yulia adalah tidak. Dia menggelengkan kepala dan menjelaskan alasannya.


"Kalau pakai cara yang sama lagi, kali ini bakal muncul suara-suara yang mencurigaiku——itu bukan taktik yang bisa dipakai berkali-kali."


"...Mau bagaimana lagi, kali ini terpaksa menyerah ya. Apa boleh buat."


Yulia menghela napas pelan.


Tapi dalam helaan napas itu, tidak tersirat penyesalan maupun ketidaksabaran.


Dia memejamkan mata sesaat, lalu segera mengangkat wajah seolah memutus keraguan, menatap lurus ke depan.


Melihat sosok itu, Lilith menyunggingkan senyum tertarik di sudut bibirnya.


"Ara... kau merencanakan sesuatu lagi, ya?"


"Tidak, cuma——aku baru sadar kalau ini adalah hal yang sudah kutahu sejak awal."


Suara Yulia tenang dan tanpa keraguan.


"Semakin Ars beraksi, wajar kalau namanya semakin menyebar luas di masyarakat. Justru karena itulah, aku sudah melakukan berbagai persiapan untuk mengantisipasinya. Aku hanya kembali memahami bahwa tidak ada alasan untuk panik sekarang."


"Alasan kau mendekatiku juga itu, kan."


"Ya, benar. Yah, pergerakan para Demon Lord yang tidak bisa diprediksi memang menakutkan, tapi dengan adanya kamu, cukup bagiku untuk yakin bahwa 24 Council Keryukeion tidak akan bertindak semena-mena."


"Bagian itu boleh serahkan padaku. Tapi, kalau sudah menyangkut negara lain, bakal lebih sulit lagi, lho. Kamu sendiri, bagaimana kemajuan penguasaan <Great Forest>?"


"Tinggal Dewan Tetua saja sih..."


Di <Great Forest> terdapat tiga faksi utama.


Berkat strategi yang dilancarkan Yulia, ketiga kekuatan yaitu Faksi Holy Knight, Dewan Tetua, dan Faksi Priestess berada dalam kekacauan.


Mengenai Faksi Priestess, sudah berhasil dikuasai.


Faksi Holy Knight juga perlahan mulai berada di bawah kendali yang berpusat pada Verg, dan penguasaan secara formal sudah selesai.


Namun, sebagian kekuatan yang menolak mengikuti keinginan Yulia——Third Apostle membelot, sehingga persatuan faksi mulai retak.


Dan yang tersisa adalah Dewan Tetua.


Mengenai ini, kemajuan penguasaannya lebih lambat dari perkiraan.


Meski begitu, karena dua faksi lainnya sudah ditekan, mereka pun tidak bisa melakukan pergerakan besar.


Tidak ada kekuatan tersisa untuk melancarkan perlawanan terbuka, bisa dibilang kondisinya mendekati jalan buntu.


Faksi Holy Knight perlahan berkumpul di bawah Verg, dan Faksi Priestess juga telah memegang posisi untuk menggerakkan organisasi di bawah nama simbolis Saint.


Namun——Yulia sama sekali tidak menaruh kepercayaan pada para Elf.


Hubungan dengan mereka hanyalah karena kepentingan sesaat yang kebetulan sejalan.


Jika ada tujuan yang sama, mereka bekerja sama.


Namun, mengharapkan ilusi seperti ketulusan atau kesetiaan dari sana adalah pemikiran yang terlalu bodoh dan rapuh.


Karena itulah, Yulia menantang Lilith bertarung.


Itu bukan demi balas dendam, bukan pula demi kehormatan.


——Demi mendapatkan kekuatan tempur pasti yang tidak akan berkhianat, tidak akan direbut, dan hanya bergerak sesuai kehendaknya sendiri.


Kekuatan untuk dirinya sendiri, yang dibangun sepenuhnya dengan tangannya sendiri.


Itulah yang dia inginkan.


Walaupun tekad itu akhirnya sia-sia karena gangguan 'Antitesis Buangan No. I'——ironisnya, jika dilihat dari hasilnya saja, bisa dibilang situasi justru mereda dengan lancar.


Buktinya, sekarang dia bisa berbicara dengan Ratu Hel——Demon Lord Lilith, dan minum teh bersama dengan tenang seperti ini.


"Hati-hatilah. Mengetahui prosesnya selama ini, kau terlalu memaksakan segalanya dengan agak kasar, lho. Kau pasti sudah memancing dendam yang tidak perlu."


"Inginnya sih bilang 'aku akan hati-hati', tapi aku sudah dibenci banyak orang, sih."


Yang pertama disebut pastilah——para Holy Knight termasuk Third Apostle.


Berdasarkan informasi dari Verg, mereka menaruh kebencian mendalam terhadap Yulia yang telah membunuh First Apostle Wahed.


Alasannya pun bukan sekadar masuk akal, melainkan bisa dibilang wajar.


Sebab Third Apostle adalah anak kandung First Apostle Wahed.


Orang tua direbut, dan musuhnya masih hidup——meski lawan menyandang nama Saint sekalipun, mustahil bisa memaafkannya.


"Di pihak kami sudah menangkap informasi bahwa Third Apostle ada di Kekaisaran Earth——apakah di pihakmu sudah mengetahuinya dengan benar?"


"Ya, laporan rutin dari Tenth Apostle Ashiora Verg selalu datang, jadi aku tahu soal itu. Jika ada pergerakan, aku berniat menanganinya dengan tepat... jangan-jangan, kau khawatir dengan pemusatan kekuatan tempur di <Great Forest>?"


"Ara, kalau begitu ceritanya cepat. Sebenarnya, ada yang mencurigakan dari pergerakan Kekaisaran Earth belakangan ini——dan itu waktunya bertepatan persis dengan saat Third Apostle dilindungi oleh Kekaisaran. Ada laporan bahwa <Great Forest> yang mewaspadai hal itu mulai memanggil kembali kekuatan tempur dari seluruh dunia."


"Yang menjadi pusat pergerakan itu tampaknya adalah Dewan Tetua. Kenapa baru sekarang pergerakan seperti itu dimulai secara mendadak, pihak kami juga sedang dalam proses penyelidikan..."


"Kalau begitu, akan kusampaikan informasi terbaru dari sini. Mereka secara resmi berkata, 'Selama keamanan Helheim belum terjamin, kami tidak bisa memanggil kembali saudara kami'. Tapi di balik itu, sebenarnya mereka mengumpulkan kekuatan tempur dari berbagai daerah secara diam-diam. Sebaiknya anggap saja Kekaisaran Earth akan melancarkan sesuatu——atau mungkin sudah melancarkannya."


"...Sepertinya nanti aku harus memastikannya secara detail."


Sambil berkata begitu, dalam benak Yulia terlintas percakapan dengan Verg beberapa hari lalu.


Tidak ada laporan sama sekali darinya mengenai pergerakan semacam ini.


Bisa saja dianggap dia sengaja menyembunyikan informasi——tapi lebih dari itu, Yulia sangat mengenal sifatnya.


Verg sangat benci berbicara berdasarkan spekulasi atau informasi yang ambigu.


Kemungkinan besar dia masih dalam tahap pengumpulan informasi untuk mendapatkan kepastian.


Yulia menghela napas kecil, lalu melirik untuk menghubungi Elsa.


Saat mencari sosoknya——tampaknya dia masih di tengah perdebatan dengan Karen.


"Hei, Elsa. Aku sudah tidak akan kabur lagi kok, jadi bisakah lepaskan tanganmu dari leherku?"


"Tidak bisa. Anggap saja itu tanda betapa Karen-sama tidak bisa dipercaya."


Sambil tersenyum masam, Yulia sedikit menundukkan pandangan dan menempelkan telunjuk di dagu.


(Apakah ini——harus dianggap sebagai peluang bagus? Aku harus menilainya dengan hati-hati.)


Elf yang tersebar di seluruh dunia kini mulai berkumpul satu per satu di <Great Forest>——pergerakan itu mengganjal di hati Yulia.


Begitu kerusuhan terjadi, itu adalah kesempatan emas untuk menguasai setiap faksi.


Kekacauan dan pemusatan——di titik temu dua hal itulah peluang lahir.


Apakah bisa menusuk di situ. Itulah yang akan menjadi percabangan segalanya.


Namun, ada masalah.


Meski Yulia diangkat sebagai Saint, pada hakikatnya dia tetaplah manusia.


Dalam masyarakat Elf, sulit menerima ras luar berdiri di depan memimpin.


Karena itulah, dia sendiri tidak bisa tampil di depan.


Perlu meminta Elf yang memiliki hubungan aliansi, seperti Verg, untuk menjadi wakilnya.


Jika Yulia mencoba berdiri di puncak begitu saja——pasti akan memancing penolakan keras. Meski awalnya api itu kecil, lambat laun pasti akan membesar dan menyebar.


Demi saat itu, dia perlu menyamakan pendapat dengan Elsa sekali lagi.


Sambil memikirkan hal itu, Yulia menghela napas pelan.

Di "Helheim", fasilitas penginapan yang bisa ditinggali manusia terbatas.


Di kota yang dihuni banyak Iblis yang dulunya mengalami persekusi ini, bentrokan dengan manusia bukanlah hal langka, jadi demi menjamin keamanan kedua belah pihak, pada prinsipnya Iblis dan ras lain dilarang menginap di penginapan yang sama.


Saat ini, yang sedang ditatap Ars adalah——satu dari sedikit penginapan khusus manusia di Kota Sihir yang hanya ada tiga.


Ini juga penginapan tempat mereka sempat menginap sementara sebelumnya.


"Semua menginap di sini, ya."


"Memang ada penginapan yang lebih mewah, tapi karena masakan di sini nomor satu, otomatis jadi populer. Harganya juga terjangkau."


Sambil mendengarkan penjelasan Shion, Ars membuka pintu kantin yang menyatu dengan penginapan.


Seketika, suara yang akrab terdengar dari arah dalam.


"Ars, sebelah sini."


Saat mengarahkan pandangan ke arah suara, Grimm mengangkat satu tangan ringan, memberitahukan keberadaannya.


Di sekitarnya, terlihat sosok kakak beradik yang merupakan eksekutif, serta gadis yang bisa disebut rekannya——Kirisha.


Saat Ars dan Shion mendekat, Grimm menunjuk kursi kosong.


"Duduklah di situ."


Begitu Ars duduk di kursi, Grimm menyandarkan punggung ke sandaran kursi, sedikit mengangkat ujung bibirnya.


"Sudah lama, ya."


"Yahho~, Aru-chan, Shio-chan, lama tak jumpa ya~"


"Jangan bilang kemampuanmu jadi tumpul selama kita tidak bertemu, ya?"


"Itu kata-kataku. Lagipula——kenapa kau yang benci Iblis ada di tempat seperti ini?"


"Bukannya kau sudah dengar dari kakek tua itu?"


"Aku dengar ceritanya, tapi belum sampai ke alasannya."


"Kalau begitu biar kuberi tahu. Alasannya ada dua, tapi... mulai dari yang pertama dulu."


Berkata begitu, Grimm menegakkan jari telunjuk sambil menyunggingkan senyum penuh arti.


"Aku hanya ingin menyampaikan dengan benar kalau aku sudah menjadi kuat. Aku sudah latihan di tempat bernama Area Dalam."


"Artinya, kau datang untuk pamer kalau sudah pergi ke Area Dalam, begitu?"


"Yah, pamer itu cuma bonus. Tujuan utamanya lain. Ini yang kedua——aku datang untuk mendengar apa yang kau lakukan pada 'Antitesis Buangan No. I'. Makanya aku tidak langsung kembali ke Kota Sihir, tapi sengaja mampir ke sini."


"...Dia lolos. Kemampuanku masih kurang."


"Hmm, tapi intinya——kau mendesaknya sampai si brengsek itu harus kabur, kan?"


"...Yah, bisa dibilang begitu mungkin."


"Lalu——bagaimana 'Antitesis Buangan No. I'? Setelah melawannya, apa kau menikmatinya?"


"Kecuali fakta dia lolos, aku puas kok. Aku juga bisa melihat sihir baru."


"Hmph... baguslah kalau begitu. Bagiku, fakta dia kabur itu yang paling disayangkan."


Sambil berkata seolah meludah, Grimm berdecak lidah menyembunyikan kekesalannya dan menengadah ke langit-langit.


Melihat gestur itu, Ars sedikit menyipitkan mata.


Bagi dirinya yang pernah mendengar rumor sepotong-sepotong tentang masa lalu Grimm, tidak sulit menebak di mana letak akar kekesalannya.


"...Jadi benar ya, dia itu musuh bebuyutan Grimm?"


Karena Ars bertanya terlalu blak-blakan, Shion yang ada di sebelahnya menyemburkan makanan dari mulutnya dengan dahsyat.


Mungkin dia kaget dengan cara bicara yang terlalu lancang itu.


Omong-omong, tanpa disadari di depan Shion sudah berjejer gunungan makanan.


Ars yang sudah terbiasa memutuskan untuk mengabaikan hal itu dan tidak berkomentar apa-apa.


Di tengah situasi itu, Shion melirik ekspresi Grimm sekilas, lalu mendekatkan tubuh ke Ars dan berbisik.


"...Padahal kau tidak mendengarnya langsung dari Grimm, apa perlu menanyakan soal musuh bebuyutan atau bukan? Sengaja masuk ke ranah pribadi orang lain itu rasanya kurang pantas, lho."


"Tapi kalau tidak ditanya, pembicaraan tidak akan maju, kan? Sebaliknya, terlalu sungkan malah terasa tidak wajar buatku."


Ars menjawab datar tanpa mengubah nada suaranya.


Mendengar ucapan yang terlalu terus terang itu, Grimm tanpa sadar menggoyangkan bahu lalu tersenyum masam.


"Benar kata Ars. Malah rasanya lebih menjijikkan kalau merasa sungkan yang aneh-aneh. Kau juga, jangan sungkanlah."


"Benar itu~. Latar belakang Gri-chan kan terkenal. Apalagi soal takdir dengan 'Antitesis Buangan No. I', orang yang tinggal di Kota Sihir pasti pernah dengar setidaknya sekali, kan?"


Menyambung ucapan Grimm, Kirisha menyela dengan senyuman.


Sambil mengulurkan tangan ke hidangan penutup yang dipesan Shion, dia tampak tidak peduli——namun keceriaan itu faktanya juga meredakan suasana di tempat tersebut.


Sambil mengelus kasar kepala gadis itu, Grimm kembali membuka mulut.


"Memang benar kata Kirisha. 'Antitesis Buangan No. I' adalah orang yang merenggut keluargaku——guild tempatku lahir dan dibesarkan. Jujur saja, ada bagian dariku yang merasa lega saat mendengar Ars belum mengalahkannya. Tapi... meski begitu, aku tidak akan melarangmu untuk menyentuhnya. Soalnya 'Antitesis Buangan' itu eksistensi yang harus dibunuh selagi bisa dibunuh."


Tidak ada nada bercanda dalam kata-kata yang ditenun dari mulut pria yang telah melawan banyak Iblis hingga dijuluki "Oni" itu. Di sana bersemayam kemarahan dan kesedihan terhadap masa lalu, serta tekad tenang dari seorang pria yang telah melampaui semua itu.


"Makanya, siapa cepat dia dapat. Siapa pun yang bisa membunuhnya, bunuh saja. Aku tidak akan komplain kalau didahului——kalau saat itu tiba, artinya kemampuanku cuma segitu saja."


Mendengar kata-kata itu, Ars menghela napas kecil dalam hati.


Sebab dia sedang berpikir bagaimana cara membujuknya jika Grimm menolak menyerahkannya.


Kali ini karena ketidakmatangan Ars sendiri, 'Antitesis Buangan No. I' berhasil lolos.


Tapi lain kali beda. Bagi Ars pun, dia berniat menghabisi keberadaan yang telah melukai Karen dan Elsa itu——begitu menemukannya. Tidak ada niat sedikit pun untuk memaafkannya.


"...Daripada itu. Terbelenggu dendam sampai melewatkan hal yang penting, itu jauh lebih menakutkan, lho. Aku baru sadar hal sejelas itu baru-baru ini——terutama setelah pergi ke Area Dalam."


Baru saja mengira dia bicara dengan nada bijak yang langka, Grimm tiba-tiba mengangkat sudut bibir, menyunggingkan senyum menggoda. Melihat itu, Kirisha menutup mulut menahan tawa dengan mata seperti anak kecil yang baru memikirkan kejahilan.


"Duh~, Gri-chan ini sangat tidak jujur. Padahal sadarnya gara-gara bertarung sama Aru-chan——mphhh!?"


Kata-kata Kirisha tidak terucap sampai akhir.


Sebab saat berikutnya, Grimm mengangkat sudut matanya dan mencengkeram pipi gadis itu kuat-kuat tanpa kata.


"Jangan bicara yang tidak-tidak woi."


"A-apa yang kau lakukan, padahal fakta...!"


Melihat interaksi berisik dua orang itu dimulai seperti biasa, Ars memutuskan untuk mengalihkan topik pembicaraan dengan halus.


"Jadi... Grimm, setelah ini kau mau apa?"


"Hah? Tujuanku sudah tercapai. Langsung kembali ke Kota Sihir. Tidak ada alasan buat berlama-lama di tempat yang bikin mual begini."


Grimm yang akhirnya melepaskan pipi Kirisha berkata seolah meludah.


"Begitu ya. Kalau begitu, kalau kita bertemu lagi di Kota Sihir, mohon bantuannya ya."


"Ya, mohon bantuannya juga. ...Yah, meski begitu Ars akan mengalami neraka setelah pulang nanti sih."


"...Aku? Bukan Grimm?"


Ars memiringkan kepala kecil. Dia tidak punya gambaran tentang apa yang dimaksud.


Begitu kembali ke Kota Sihir, membantu di <Villeut Sisters Lampfire> ataupun berburu di "Lost Land"——seharusnya keseharian damai yang tak berubah seperti sebelumnya menanti.


"Para Demon Lord yang meninggalkan Kota Sihir mulai kembali dari Misi Wajib. Schlaht——si kakek tua itu, kau sudah bertemu dengannya, kan?"


"Ya, aku kaget karena tiba-tiba diserang. Sepertinya dia puas, tapi dia menghilang sambil tertawa."


"Kalau begitu kau disukai. Kakek tua itu selalu menguji orang yang baru pertama ditemuinya. Aku sudah dengar kalau dia tertarik padamu sejak dulu... jangan-jangan, kau berbuat ulah yang mencolok, ya?"


"Sampai Ratu Hel marah. Tamannya jadi hancur berantakan, dan sebagai permintaan maaf dia memberikan material Area Dalam. Dia terlihat sangat terbiasa melakukan itu."


"Demon Lord itu pada dasarnya memang begitu. Mereka memancing keributan cuma karena penasaran. Kalau sudah puas, ada yang minta maaf asal-asalan lalu pulang seperti Schlaht, ada juga orang bodoh yang malah memprovokasi lalu pergi. Termasuk aku, isinya cuma orang-orang egois dan semaunya sendiri. Itulah yang namanya Demon Lord."


"Hee~... Gri-chan, ternyata kau sadar diri ya."


"Tentu saja. Ada sebelas orang lain yang seperti aku, tahu? Kesadaran diri pasti muncul secara alami."


Itu adalah daya persuasi yang tak terbantahkan.


12 Supreme Mage Kings——eksistensi yang disebut Demon Lord, pada umumnya tidak masuk akal, plin-plan, dan yang merepotkan adalah semuanya kuat.


Jika ada yang tidak mereka sukai, mereka bisa memicu perang, dan tidak jarang menekan negara lain menggunakan posisi mereka sebagai tameng.


Jika ada yang diinginkan, mereka akan merebutnya dengan cara apa pun.


Karena itu, bukan hanya negara tetangga, bahkan penduduk Kota Sihir pun, meski menaruh hormat dan rasa takut pada Demon Lord, mereka kompak berkata bahwa Demon Lord adalah eksistensi merepotkan yang tidak ingin mereka urusi.


"Yah, orang-orang macam itu sekarang sedang berkumpul di Kota Sihir. Masuk akal kalau mereka mengincar Ars... berhati-hatilah."


"Itu... sepertinya menyenangkan."


"Kalau ada masalah, limpahkan saja semuanya ke si kakek tua. Meski ditakuti sebagai Mahkota Pertama Demon Lord, Schlaht itu ujung-ujungnya suka mengurusi orang lain."


"Kalau aku tak sanggup menanganinya, aku akan lakukan itu."


"Lalu, kalau sudah kembali ke Kota Sihir, datanglah saat kau senggang. Aku ingin bicara."


"Ada apa?"


"Akan kuberitahu informasi soal Demon Lord lain dan Area Dalam. Tidak ada ruginya untuk tahu."


"Baiklah. Kalau begitu... aku mau kembali ke <Istana Kecantikan, Semprema>."


Saat Ars bangkit dari kursi, Shion yang ada di sebelahnya pun segera berdiri.


Hawa keberadaannya sempat menipis karena dia fokus makan, dan tanpa disadari di hadapannya telah terbangun gunungan piring.


"...Demon Lord Grimm, terima kasih makanannya. Aku menghargainya."


Shion mengatakannya dengan datar tanpa intonasi, menunduk sedikit, lalu saat berikutnya tanpa memberi celah bagi Grimm untuk membalas, dia menarik lengan Ars dengan kuat menuju pintu keluar kantin.


Sesaat setelah tatapan curiga yang diarahkan ke punggung mereka berdua terlepas, teriakan Grimm bergema di dalam kantin.


"Hah!? Oi... apa-apaan ini!? Perempuan itu, makan sebanyak apa sih! Apa aku harus bayar semuanya!?"


"Gri-chan... Kirisha, sudah kenyang."


"Kau juga makan!? Jangan bercanda, bayar sendiri sana!"


"Tidak bisa. Kirisha tidak bawa uang."


"B-brengsek...!"


Suara ribut yang terdengar dari belakang pun berhenti seketika bersamaan dengan tertutupnya pintu kantin.


"...Tadi dia bilang macam-macam, tapi bukannya yang paling tidak tahu malu itu Shion?"


Saat Ars menunjukkannya dengan setengah tak habis pikir, Shion hanya memasang wajah polos dengan senyum yang tampak senang.

Tanah selatan yang diselimuti iklim hangat——di sana terbentang kerajaan raksasa dengan kehijauan luas yang disebut <Great Forest>.


Cahaya matahari membelai bumi dengan lembut, udara mengandung aroma samar pepohonan yang manis, menenangkan hati siapa pun yang berkunjung.


Tanah ini adalah Sacred Area yang hanya ditinggali oleh para Elf.


Ras lain hanya diizinkan masuk jika terpilih, sebuah tempat penuh misteri yang berlanjut sejak zaman dahulu kala.


Negeri yang dikelilingi hutan itu mengukir waktu bersama pepohonan, seolah alam itu sendiri sedang bernapas.


Pemandangan kotanya juga menyatu dengan alam, bangunan didirikan seolah bersandar pada batang pohon besar, dedaunan menjadi atap, dan tanaman merambat mewarnai dinding. Desain yang dirancang agar niat manusia tidak melawan alam itu membuat hutan tampak seolah makhluk hidup yang menerima para penghuninya.


Di utara, menjulang istana kapur yang dikelola oleh Faksi Holy Knight.


Strukturnya yang rapi mewujudkan kewibawaan dan kebanggaan, terukir keyakinan mereka yang menguasai pertempuran.


Di barat, terbentang istana yang diperintah oleh Dewan Tetua, ruang yang dibangun mengelilingi pohon kuno itu juga merupakan kristalisasi dari kebijaksanaan dan sejarah.


Dan——yang terletak di timur adalah "Kuil Suci" yang berada di bawah yurisdiksi Faksi Priestess.


Penampilannya menyatu dengan hutan, namun jelas memancarkan aura sebagai wilayah suci.


Atap hijau kebiruan melukiskan kurva indah layaknya tumpukan dedaunan, tanaman merambat yang menjuntai darinya bergoyang tertiup angin seolah melambangkan alam yang agung.


Begitu melewati gerbang besar yang terbuat dari jalinan akar alami, dunia yang berbeda terhampar di sana.


Cahaya, angin, dan aroma beredar dalam diam, ruang doa terbentang luas.


Bagian dalam kuil begitu hening dan agung hingga tak terlukiskan dengan kata-kata.


Cahaya lembut yang masuk dari celah dedaunan pohon tinggi di langit-langit menjatuhkan bayangan yang bergoyang di lantai batu yang terukir lambang suci.


Dindingnya menggunakan marmer, lumut dan bunga mekar berdampingan, dipenuhi keheningan yang seolah menyerap suara langkah kaki.


Dan, lebih jauh di dalam kuil.


Di tempat yang dipasangi Kekkai berlapis-lapis itu, bersemayam wilayah paling suci——"Mata Air Kehidupan". Mata air itu terus memancar dengan tenang, tanpa henti menghasilkan air suci yang jernih.


Tersisa legenda bahwa air suci mulai memancar setelah Priestess di masa lalu memanjatkan doa kepada Dewa di mata air ini, dan hingga kini dipercaya memiliki kekuatan untuk menyembuhkan luka, menyucikan kekotoran, dan membersihkan hati.


Di belakang mata air, sebuah pohon besar menancapkan akarnya.


Seolah bersandar pada batangnya, tempat doa didirikan, dan para Miko dari Faksi Priestess——mereka yang disebut sebagai pelayan Dewa terpilih, memanjatkan doa dengan tenang setiap harinya.


Angin membawa bisikan seperti ayat suci bersama suara gesekan dedaunan, dan aroma tanaman herbal perlahan memenuhi ruang——itu adalah wilayah suci yang tak terjangkau tangan siapa pun, bisa disebut sebagai jantung hutan.


Di "Mata Air Kehidupan" yang dipenuhi air suci itu——di permukaan air yang hening, seorang wanita sedang mengapung. Yang membalut tubuhnya adalah jubah sutra yang begitu tipis dan halus hingga menembus cahaya.


Dengan riak permukaan air yang menerima dan memantulkan cahaya, sosok itu tampak begitu agung hingga membuat orang melupakan dunia fana, bahkan tampak seolah roh yang turun dari surga.


Dialah otoritas tertinggi di kuil suci ini——sosok yang disebut "Holy Priestess".


Tubuh proporsional yang seolah keluar dari lukisan, wajah yang berwibawa namun memiliki kelembutan layaknya peri, penampilannya itu membuat siapa pun yang melihatnya kehilangan kata-kata.


Tak lama kemudian, dia mulai berenang dengan tenang sambil menyebarkan riak kecil di permukaan air.


Lengan putihnya membelah air tanpa suara, dan setiap kali rambutnya melayang mulus di dalam air suci, seluruh mata air itu bergelombang seolah berdenyut mengikuti gerakannya.


Lalu, seolah membiarkan dirinya terbawa arus tenang, dia sampai di tepi mata air.


Saat ujung jarinya yang basah perlahan menyentuh tepian batu, udara yang hidup di wilayah suci itu bergetar samar.


Begitu dia memecah permukaan air dan keluar ke dunia luar, para Miko di sekitarnya menghentikan doa, mengambil kain besar yang telah disiapkan, dan dengan cepat berjalan menghampiri "Priestess".


Sosok yang muncul dari air suci yang dingin itu, sambil bermandikan cahaya matahari yang masuk ke kuil, tampak begitu ilahi bagaikan penjelmaan Dewa.


"Yang Mulia. Para Tetua sepertinya sering bertemu dengan petinggi Kekaisaran Earth."


Salah seorang Miko menyapa dengan hormat. Dua orang lainnya tetap diam, terus menyeka kulit basah itu dengan kain secara hati-hati.


"Begitu... biarkan saja mereka sesukanya."


"Apakah tidak apa-apa?"


Menanggapi pertanyaan itu, "Priestess" menyisir rambutnya ke belakang seolah menepis air, lalu tersenyum tipis.


"Itu hanya provokasi. Entah mereka sedang menjajaki reaksi kita, atau mungkin ada sesuatu——yang mencurigakan."


<Great Forest> ini adalah wilayah suci yang terus dijaga para Elf sejak zaman dahulu.


Bagi ras lain untuk tinggal di tanah ini, diperlukan seleksi dan izin yang ketat, jadi sosok yang keluar masuk pasti akan mencolok mata.


Fakta itu seharusnya sangat dipahami oleh Dewan Tetua.


Artinya——mereka memamerkannya karena ada tujuan tertentu.


Jelas sekali itu adalah pergerakan yang sengaja dilakukan untuk menarik perhatian faksi musuh.


Dalam beberapa tahun terakhir, Kekaisaran Earth jelas berusaha menjaga jarak dari <Great Forest>.


Kekaisaran yang membesarkan negara dengan meminjam kekuatan <Great Forest>, kini melupakan budi itu dan mencari kemerdekaan serta kemandirian.


Faksi Holy Knight pernah menyuarakan bahwa mereka harus memberi pelajaran tentang siapa yang lebih tinggi, namun Dewan Tetua bersikeras pada penanganan lunak dengan alasan hubungan upeti dan seremonial yang telah berlangsung selama ini, menunjukkan sikap melindungi Kekaisaran Earth.


Dan, Faksi Priestess——tidak melupakan masa lalu di mana Saint pernah ditawan oleh Kekaisaran, dan meski posisinya cenderung bermusuhan, mereka berani mempertahankan posisi netral.


"Jika Dewan Tetua dibiarkan, bukankah kelak akan menjadi sumber masalah yang merepotkan...?"


"Tidak masalah. Biarkan saja. Mereka memihak Kekaisaran Earth karena hal itu menguntungkan bagi mereka——dan juga bagi <Great Forest>."


Memang benar, Dewan Tetua memiliki hubungan erat dengan Kekaisaran. Tapi, hubungan itu diizinkan justru karena sejalan dengan kepentingan <Great Forest> secara keseluruhan, berbeda dengan pengkhianatan biasa.


Seberapa pun mereka memberi kemudahan pada Kekaisaran, Dewan Tetua tidak mungkin mengkhianati <Great Forest>.


Elf itu——pada akhirnya, tetaplah Elf.


Memandang rendah ras lain, menjadikan keangkuhan sebagai esensi diri, dan tidak akan pernah mau menerima konsep kesetaraan secara tulus.


Bagi mereka, Kekaisaran Earth hanyalah mitra transaksi dan objek untuk dimanfaatkan.


Meski meminjamkan kekuasaan yang besar, mereka tidak akan pernah melakukan hal yang merugikan <Great Forest>.


Keangkuhan dan keyakinan Dewan Tetua, ironisnya juga menjadi perisai yang melindungi wilayah suci ini.


"Hanya saja, kita harus menghindari situasi di mana Kekaisaran Earth menjegal kita. Apakah kita sudah mengetahui pergerakan Kekaisaran Earth?"


"Belakangan ini Kekaisaran Earth sepertinya terobsesi dengan 'Lost Land'. Kabarnya mereka mencari cara untuk melaju dengan aman di Area Terdalam."


"Hee... itu benar-benar tindakan bodoh yang setara dengan mimpi di siang bolong. Meski begitu——"


"Priestess" menengadah pelan ke langit, memejamkan mata, dan menyelam tenang ke dalam lautan pikiran.


Para Miko memakaikan jubah ke tubuh putihnya dalam diam.


Setiap kali selembar kain sutra jatuh ke kulitnya, udara di wilayah suci bergetar samar.


Tak lama kemudian, bibirnya terbuka dengan murni, dan suara sejuk mengalir bagaikan mata air.


"——Incarannya, mungkin adalah Kekaisaran Bawah Tanah... Dwarf."


"Dwarf... kah? Ras tertutup yang hidup bagai pertapa itu?"


Menanggapi pertanyaan Miko, Priestess tersenyum kecil.


"Karena menjaga jarak dengan dunia atas, mereka cenderung dipandang negatif... tapi mereka secara mengejutkan cerdas dan berhati-hati, lho. Kekaisaran Bawah Tanah itu luas. Itu bisa disebut dunia lain——yang dibangun selama beberapa generasi oleh para Dwarf yang terusir dari permukaan. Dan, apa yang ada di sana?"


"Lorong Labirin... kah?"


"Benar. Jalan menuju 'Lost Land' yang hanya diketahui oleh mereka. Tapi, dikatakan bahwa yang memahami detailnya hanyalah Keluarga Kekaisaran Dwarf."


Kelompok lorong layaknya labirin yang membentang di bawah tanah——itu adalah kristalisasi darah dan keringat para Dwarf yang berlanjut sejak masa lampau.


Mereka bertahan dari diskriminasi dan persekusi, menjaga kebanggaan dengan hidup di bawah tanah.


Namun, sebagai reaksinya, ketidakpercayaan terhadap ras lain sangat kuat, dan hingga kini negara yang memiliki hubungan terbuka dengan mereka sangat terbatas.


"Kekaisaran Earth, kemungkinan... memasukkan invasi ke Kekaisaran Bawah Tanah dalam rencana mereka. Sifat memaksa mereka belakangan ini sudah keterlaluan."


Kekaisaran Earth——negara manusia yang dulunya tumbuh berkat perlindungan dan dukungan <Great Forest>.


Namun, kini mereka terlalu percaya diri dengan kekuatan sendiri, mengusung supremasi manusia, dan bahkan hendak membuang hubungan dengan Elf.


Dengan Kekaisaran seperti itu, mustahil bisa membangun hubungan setara dengan Dwarf yang menjadikan kebanggaan sebagai prinsip.


Mereka pasti menganggap Kekaisaran Bawah Tanah hanya sebagai sumber daya.


Terdorong oleh hasrat, demi merebut sesuatu yang tidur di bawah tanah, mereka menyebarkan benih perang secara diam-diam——begitulah pandangan "Priestess".


Namun, Miko menyangkal pemikiran Priestess tersebut.


"Hal itu... menurut laporan dari informan dalam, sepertinya mereka berniat menjalin hubungan pernikahan dengan Keluarga Kekaisaran Dwarf."


"Untuk ukuran Kekaisaran Earth, itu metode yang cukup lunak, ya. Apa yang sebenarnya mereka pikirkan memang membuat penasaran, tapi sejak awal aku tidak yakin para Dwarf akan menerima tawaran semacam itu dengan patuh."


Priestess menggumamkan itu, lalu menggelengkan kepala kecil seolah sedang berpikir.


"Tidak, jika Kekaisaran Earth berani mengambil langkah seperti itu, pasti ada kejadian yang membuat mereka berubah pikiran... mungkinkah telah terjadi kudeta politik?"


"Mohon maaf. Informasi mengenai Kekaisaran Bawah Tanah sangat dikontrol, dan saat ini kami masih terus mengumpulkan informasi."


Menanggapi laporan tenang dari Miko, Priestess merespons dengan melambaikan tangan ringan seolah berkata 'jangan dipikirkan'.


"Sekarang belum perlu diselidiki. Lagipula, semuanya kelak akan terungkap. Daripada itu——apa yang sedang dilakukan Saint sekarang?"


"Sesuai rencana, saat ini sedang dalam tahap membuatnya berpikir bahwa dia telah menguasai Faksi Priestess."


Mendengar perkataan yang ambigu itu, Priestess sedikit mengerutkan alis.


"Artinya, belum sampai tahap mendapatkan kepercayaannya... begitu, kan?"


"Ya. Karena Miko Ketiga, Elsa, telah tunduk sepenuhnya kepada Yulia, rencana kita terpaksa harus ditinjau ulang. Saat ini kami menjaga jarak agar tidak memberikan informasi yang tidak perlu, namun..."


Merasakan keraguan bercampur dalam nada suara Miko yang berbicara sambil memilah kata, Priestess menyunggingkan senyum sinis.


"Tidak apa-apa. Bicaralah dengan jujur. Lagipula karena terlambat bertindak, akhirnya dia malah bekerja sama dengan Tenth Apostle Ashiora Verg dari Faksi Holy Knight, kan?"


"Y-ya. Mohon maaf... saya benar-benar tidak menyangka Saint itu telah mendapatkan kekuatan hingga mampu membunuh First Apostle Wahed."


"Fufufu... apa harus dibilang, hebat sekali pemilik Gift [Light], ya."


"Ini bukan bahan tertawaan. Meskipun usianya sudah tua, First Apostle Wahed tak diragukan lagi adalah salah satu yang terkuat di antara Holy Knight aktif. Jika dia berhasil membunuhnya, kelak dia mungkin akan——mengayunkan taringnya kepada Anda juga, Yang Mulia. Dibandingkan Saint terdahulu pun, dia terlalu agresif."


"Tidak apa-apa. Anak itu tahu batasannya sendiri. Lagipula keberhasilannya membunuh First Apostle Wahed adalah hasil dari tumpukan berbagai kebetulan dan keberuntungan... jika disuruh melakukannya sekali lagi, dia tidak akan bisa."


"Meski begitu kita tidak boleh lengah. Benar dugaan saya, ras manusia adalah——makhluk barbar yang memiliki hasrat tanpa dasar. Mengapa Saint di generasi ini dipilih dari manusia, bukan Elf... apa sebenarnya yang dipikirkan para Dewa?"


Saat Miko Pertama mengeluh sambil menghela napas, Priestess segera membalas dengan nada menegur.


"Jaga mulutmu dari keraguan terhadap para Dewa. Itu sama saja dengan mengkritik Kehendak Langit itu sendiri."


Berhenti sejenak di situ, Priestess melanjutkan kata-katanya sambil memejamkan mata dengan tenang.


"...Lagipula, aku samar-samar bisa menebak alasan mengapa Saint generasi ini adalah manusia."


"Itu... apa maksud sebenarnya?"


Miko Pertama bertanya tanpa sadar, namun Priestess hanya menyunggingkan senyum penuh arti dan tidak mengucapkan jawaban intinya.


Dan, yang diucapkannya sebagai gantinya adalah topik yang sama sekali berbeda.


"Untuk sementara, bekerjasamalah sejauh tidak dicurigai oleh Saint. Jangan terlalu dalam, jangan terlalu mencari kepercayaan, jangan terlalu menipu——secara samar saja, ya."


"Baik, saya mengerti."


Kepada Miko yang mengangguk singkat, Priestess bergumam pelan sambil mengarahkan pandangan ke luar jendela.


"Omong-omong... negara bernama Kekaisaran Earth itu tidak punya integritas, ya."


Kekaisaran Earth saat ini mengirim tentara ke negara lain dan membuka beberapa garis depan sekaligus.


Bahkan negara yang dulunya sekutu pun tak luput, kini keadaannya sedang diinjak-injak oleh sepatu bot militer Kekaisaran Earth.


"Perasaan itu, bukannya aku tidak mengerti, sih..."


Dahulu kala, ada sebuah Kekaisaran Besar yang menguasai hampir separuh benua.


Asal-usulnya dapat ditelusuri kembali ke zaman di mana 'Magic Emperor' yang dulu disebut Sacred Emperor Zeus dan Gereja Hukum Suci bekerja sama membangun negara.


Saat itu, gereja membanggakan otoritas mutlak, dan rakyat mengikuti bimbingan mereka tanpa meragukan negara.


Namun, tatanan yang kokoh itu tidak bertahan lama.


Dengan diasingkannya Sacred Emperor Zeus dari gereja, Kekaisaran Besar pun menempuh jalan perpecahan.


Dan kini——Kaisar saat ini yang mendambakan kejayaan yang hilang, berusaha menaklukkan negara-negara tetangga dengan kekuatan militer demi mengembalikan wibawa Kekaisaran Besar di masa lalu.


Hasrat manusia tidak terbatas, dan obsesi dapat dengan mudah melampaui akal sehat.


Seolah-olah tubuh mereka terus dibakar oleh rasa haus yang tak pernah terpuaskan, mereka melanjutkan pawai tanpa akhir bernama invasi.


"Fufu... sepertinya aku tidak akan bosan untuk sementara waktu."


Bibir Priestess membentuk lengkungan senyum yang menyiratkan semacam kegembiraan.


"Selain itu, sepertinya akan ada pergerakan dari Asosiasi Sihir dalam waktu dekat. Para Demon Lord kembali satu demi satu."


Saat Priestess memberitahukan hal itu, para Miko saling pandang dan ekspresi mereka mendung.


"Yang Mulia. Maaf atas kelancangan saya, namun menimbang pergerakan Asosiasi Sihir, menurut pendapat bodoh saya, membiarkan Kekaisaran Earth semakin menjadi-jadi adalah berbahaya."


"Ara, kenapa?"


"Karena kekuatan tempur mulai berkumpul di Gereja Hukum Suci. Dewan Tetua jelas sedang memperluas kekuasaan dengan cepat, dan tak salah lagi ada perjanjian rahasia dengan Kekaisaran Earth di baliknya. Terpicu oleh pergerakan itu, Faksi Holy Knight juga memanggil kembali kekuatan tempur yang tersebar di seluruh dunia."


Miko Pertama berhenti sejenak, lalu melanjutkan kata-katanya lagi.


"Jika konflik kedua kubu menajam, kemungkinan pecahnya perselisihan internal tidak bisa disangkal. Dan, situasi di mana Asosiasi Sihir bergerak memanfaatkan kekacauan itu——adalah satu-satunya hal yang harus dihindari."


"Artinya, kau ingin menghindari terseret dalam taktik Kekaisaran Earth dan berurusan dengan Kota Sihir, kan. Tapi, kekhawatiran itu tidak perlu."


"Mengapa Anda bisa menyatakan demikian?"


"Para Demon Lord kembali ke Kota Sihir hanya karena telah menyelesaikan Misi Wajib——cuma itu ceritanya. Mereka yang kelelahan itu tidak punya sisa tenaga untuk bergerak keluar sekarang. Kalaupun mereka menunjukkan pergerakan menanggapi kekacauan <Great Forest>, itu hanya akan terbatas pada segelintir orang, skala beberapa orang saja."


"Tapi, bukankah segelintir orang itu sudah cukup menjadi ancaman?"


"Itu kalau Mahkota Pertama atau Mahkota Kedua yang bergerak. Kalaupun mereka bergerak, paling banter hanya sebatas gangguan. Tidak ada Demon Lord yang berniat berkonfrontasi serius dengan Gereja Hukum Suci sekarang."


"...Saya mengerti pemikiran Yang Mulia."


Melihat Miko Pertama yang mengangguk dengan wajah yang sama sekali tidak terlihat yakin padahal mengaku mengerti, Priestess tersenyum masam.


"Apakah aku harus menjelaskannya dengan lebih rinci? Sebenarnya, jangankan perlu khawatir, situasi ini justru mungkin menguntungkan bagi kita, lho. Perebutan kekuasaan internal dalam Asosiasi Sihir pasti akan semakin memanas mulai sekarang. Jika itu terjadi, mereka tidak akan punya waktu luang untuk mencampuri urusan kita... saat waktunya tiba, kita tinggal melakukan intervensi dan mengacaukan mereka."


"Yang Mulia, apakah Anda sudah mendapatkan informasi semacam itu...?"


Ditatap dengan pandangan yang sedikit menyiratkan kekesalan, Priestess mengangkat bahu dengan ekspresi seolah merasa bersalah.


"Aku minta maaf karena merahasiakannya, tapi jangan merajuk begitu. Langkah yang bisa kita ambil masih banyak, dan lagipula masih terlalu dini untuk terburu-buru. Sekarang adalah waktunya untuk mengamati situasi dengan tenang."


"...Jika Yang Mulia berkata demikian."


Apakah akhirnya dia merasa yakin, Miko Pertama hendak menutup mulutnya, namun seolah teringat sesuatu, dia segera mengarahkan pandangannya kembali.


"...Mengenai Miko Ketiga, Elsa, apa yang akan Anda lakukan?"


"Anak yang sejak awal tidak bisa membaur dengan suasana hutan kuno itu, aku tidak yakin dia akan memihak idealisme kita sekarang."


Di masyarakat Elf, sungguh menyedihkan bahwa kebiasaan lama yang memisahkan cahaya dan bayangan telah mengakar kuat.


Sebagian orang yang menganggap Gift Tipe Putih sebagai yang tertinggi——terutama di kalangan bangsawan kuno, cenderung memperlakukan mereka yang lahir dengan Gift selain itu sebagai keberadaan yang tidak sempurna dan memperlakukan mereka dengan dingin.


Ketidakberuntungan Elsa bermula justru karena dia lahir di keluarga terpandang dari yang terpandang, salah satu dari Tiga Bangsawan Besar yang berlanjut sejak masa penciptaan <Great Forest>. Di tengah klan yang memuja Gift Tipe Putih, yang dianugerahkan langit kepadanya adalah Gift [Ice]——kekuatan Tipe Biru.


Dan, keberadaan sang kakak, Verg, yang lahir membawa Gift Tipe Putih yang cemerlang yaitu [Kekkai], selalu membebani Elsa, dan sosoknya yang dibandingkan dalam setiap kesempatan adalah pemandangan umum bagi semua orang. Dalam tatapan itu, terkadang mungkin terselip rasa kasihan.


Jika saja dia lahir di klan tanpa nama, Elsa pasti bisa diterima apa adanya, dan hidup merasakan angin yang lebih bebas.


Sebab di masa sekarang, meskipun mayoritas Elf memuja kekuatan Tipe Putih, kepicikan yang merendahkan kekuatan tipe lain tanpa alasan sudah mulai menjadi hal di masa lalu.


Namun, hanya atmosfer eksklusif menyerupai elitisme yang dipegang teguh oleh Tiga Bangsawan Besar dan para pengikutnya sajalah yang mengendap bagaikan ampas, tetap tertinggal dari arus zaman.


Karena itulah, demi memisahkan Elsa yang hatinya mulai tergerogoti oleh rasa terkekang di <Great Forest> dari pengaruh orang tuanya untuk sementara waktu, Priestess memindahkan keberadaannya ke sisi Yulia.


Namun, hasilnya sungguh ironis.


Afirmasi dan perlindungan menyeluruh yang mungkin tidak didapatkannya di <Great Forest>, mencengkeram kuat hati Elsa yang haus, dan membuatnya sangat mengagumi keberadaan bernama Yulia.


Sejak saat itu, Elsa tidak pernah lagi menginjakkan kaki di tanah hutan kampung halamannya.


"...Apakah Anda akan menurunkan Elsa dari takhta Miko Ketiga?"


"Itu tindakan yang terlalu terburu-buru. Mencari masalah dengan Saint saat ini bukanlah langkah yang bijak, kan. Jika Faksi Holy Knight sampai menjadi musuh, situasi hanya akan menjadi lebih merepotkan daripada sekarang. Karena itu, biarkan saja dia sesukanya sekarang. Saat waktunya tiba nanti, biarkan dia sendiri yang memilih."


"Saya mengerti. Kalau begitu, kita pertahankan status quo, begitu kan?"


"Ya. Karena Yulia masih harus menjalankan perannya sebagai Saint. Demi itu juga, membiarkannya bebas adalah yang terbaik. Jangan ragu memberikan tenaga dalam situasi di mana kita bisa bekerja sama... namun, berhati-hatilah dengan sikapmu agar niat kita yang sebenarnya tidak tercium."


"Baik, saya mengerti."


"Selain itu, di bawahnya juga ada 'Essence of Magic, Mimir' Ars. Keberadaannya pun harus kita manfaatkan semaksimal mungkin."


Seolah menurunkan beban berat, Priestess menghela napas panjang.


"Memangnya berkat siapa Yulia bisa bergabung dengan Ars."


Priestess mengarahkan jari rampingnya ke cahaya sore yang masuk dari jendela.


Dari celah jari-jari itu, terlihat debu berkilauan yang menari-nari.


"Segalanya berada di atas telapak tanganku. Tujuan kita hanya satu——Area Terdalam, Menara Babel Periode Pertama."


Karena kekuatan tekad yang terkandung dalam kata-kata itu, ketegangan menjalari para Miko yang menunggu di sekitarnya, dan mereka semua mengangguk dengan tegas secara serempak.


"Kunci untuk membuka jalan menuju menara itu dipegang oleh Yulia dan Ars. Untuk itu, kerja sama dengan mereka sangatlah mutlak. Dibandingkan hal tersebut, apa pun ras Saint itu, atau bagaimana pun kualifikasi Miko, itu hanyalah masalah sepele."


"Sesuai kehendak Yang Mulia."


Priestess memandang berkeliling dengan puas pada para Miko yang berlutut menunjukkan ketundukan, menyipitkan mata dan kembali berkata.


"Faksi Holy Knight berencana mengangkat Ars sebagai 'Magic Emperor' baru, menguasai Asosiasi Sihir, dan pada akhirnya memasukkan <Great Forest> ke dalam kendali mereka. Itu bagus, biarkan saja mereka bergerak sesukanya untuk sementara waktu."


Di permukaan, Faksi Priestess juga harus berpura-pura mengikuti arus tersebut.


Meskipun tujuan akhirnya berbeda, perjalanan untuk saat ini sama.


"Ah... sungguh, ke depannya jadi semakin dinantikan, ya."


Priestess menikmati situasi saat ini dari lubuk hatinya.


Dia tersenyum tenang seolah sedang mengamati bidak-bidak di papan permainan yang bergerak sesuai rencana.

Kota Naga——nama itu mengingatkan pada simbol kekuatan yang kasar namun penuh keagungan.


Namun, bertolak belakang dengan kesan kaku yang ditunjukkan namanya, kota ini tidak hanya tertutupi debu tanah dan bangunan batu yang kasar.


Begitu melangkahkan kaki ke jalan utama, di sana terdapat vitalitas yang mengalahkan kebisingan, serta cita rasa sederhana namun berkelas yang hidup di dalamnya.


Menghadap ke jalan besar yang menjadi pusat keramaian itu, sebuah toko bernama <Badger's Nest> berdiri dengan keunikan yang mencolok. Sebuah toko senjata dengan nama yang terdengar agak kurang keren, yang tidak cocok dengan lokasi yang mentereng.


Namun, bertentangan dengan nama tokonya yang aneh, tampilan tokonya dipenuhi dengan kesan berkelas dan keterbukaan.


Sebagian besar dinding yang menghadap ke jalan terbuat dari kaca utuh yang dipoles mengkilap, mau tidak mau menarik pandangan orang-orang yang lalu lalang.


Di dalam toko yang terlihat dari balik kaca, tercium suasana tenang layaknya penjahit kelas atas atau toko perhiasan, dipenuhi udara yang hening.


Baju zirah berupa gumpalan besi kasar atau pedang yang hanya mementingkan fungsi asal bisa dipakai seperti yang sering ditemui di toko senjata sudut jalan, tidak ada di sana.


Barang-barang yang dipajang semuanya adalah mahakarya dengan desain rumit, yang meski memaksimalkan fungsionalitas, juga dimaksudkan untuk selaras dengan estetika pemiliknya.


Chainmail ringan yang dirajut dari rantai perak memiliki kelenturan layaknya bulu namun menyimpan daya pertahanan tinggi, dan belati berhiaskan batu bulan memancarkan kilauan yang menembus hati bersamaan dengan ujung bilahnya.


Pedang lengkung dengan keindahan lekukan yang dipadu ukiran logam halus, layaknya kerajinan kuno, telah mencapai ranah seni alih-alih sekadar senjata.


Secara keseluruhan, barang-barang itu membawa nuansa yang dirasa pantas bagi para petualang wanita atau ksatria yang memiliki keteguhan hati di balik kelembutannya.


Cahaya lembut yang menyinari bagian dalam toko membelai permukaan perlengkapan itu dengan lembut, semuanya memancarkan kilauan tenang layaknya karya seni yang sama sekali tak mengenal memori bentrokan pedang.


Meski menghadap jalan yang tak pernah sepi dari gelombang manusia, udara di dalam toko begitu tenang seolah dunia lain, dan orang-orang yang melangkah masuk pun hanyalah mereka yang memiliki mata jeli untuk menilai barang yang benar-benar berharga dengan mata kepala sendiri.


Hampir tidak ada sosok pria kasar, yang ada di sana hanyalah sosok para wanita yang menegakkan punggung dengan anggun, meneliti senjata dengan tatapan tajam, dengan postur yang menyiratkan kekuatan hati yang tenang.


Jika berjalan melewati para wanita itu dan menuju ke bagian dalam, dua orang yang menopang <Badger's Nest>——Manajer Toko Legi dan Shigi akan menampakkan diri.


"Hei, Shigi-chan, Onee-chan agak khawatir nih. Coba pikirkan lagi deh?"


"Duh, Onee-chan lagi? Kemarin malam kan kita sudah bahas habis-habisan."


"Benar kata Legi-sama. Shigi-sama, tidak bisakah Anda mempertimbangkannya kembali?"


Yang menengahi pertengkaran kakak beradik itu adalah Eksekutif Guild Blowbadger, Acacia.


"Acacia, kau juga? Aku cuma pulang ke rumah orang tua kok. Tidak ada bahaya apa-apa, kalian berdua terlalu khawatir."


Sebenarnya, permintaan untuk pulang dari rumah orang tua di Kekaisaran Bawah Tanah sudah beberapa kali sampai ke Legi dan Shigi.


Sebelumnya sempat ada kejadian di mana Shigi sampai histeris di depan Ars dan yang lain, tapi kali ini Shigi yang akhirnya mencapai batas kesabaran, membulatkan tekad untuk pergi ke rumah orang tuanya dan bernegosiasi langsung dengan sang ayah.


"Tapi Shigi-sama, sebenarnya tidak perlu pulang, kan?"


"Yah, memang sih. Mereka pasti lebih ingin Onee-chan yang pulang daripada aku, tapi justru karena itulah, bukan Onee-chan yang pergi tapi aku."


Legi dan Shigi kabur dari Kekaisaran Bawah Tanah sambil membawa perselisihan dengan keluarga.


"Tapi kan, kalau sampai dikirimi beginian, jelas tidak bisa diabaikan. Aku juga ingin melampiaskan kekesalan selama ini, lagipula kalau Onee-chan tidak pulang, tidak ada masalah apa-apa."


Berkata begitu, Shigi mengibas-ngibaskan sepucuk surat dengan ujung jarinya.


Dalam surat yang datang dari rumah itu, terlampir surat kontrak untuk memutus hubungan dengan keluarga secara resmi. Dokumen untuk melepaskan hak waris dan memutus segala hubungan——bisa dibilang deklarasi pemutusan hubungan.


Namun, karena tanda tangan kedua belah pihak diperlukan, dia harus pergi langsung ke rumah.


"Tidak mungkin aku melewatkan kesempatan emas ini. Frekuensi kakek pelayan muncul juga makin sering, aku mulai merasa dia menyebalkan."


"Jelas saya tidak bisa membiarkan Anda pergi sendirian. Setidaknya bawalah beberapa 'Schuler' sebagai pengawal."


"Sudah kubilang, cuma pulang ke rumah kok pakai pengawal, berlebihan ah. Lagipula sepertinya ada beberapa orang penjemput yang datang, mereka saja sudah cukup."


"Apa mereka bisa dipercaya?"


"Yah, penanggung jawabnya si kakek pelayan itu, dia orang yang melihat aku dan Onee-chan sejak kecil. Aku tidak merasa orang seperti itu bakal mencelakai kita sekarang, jadi soal itu boleh dipercaya."


"Uuuh... pada dasarnya, Onee-chan tidak ingin kamu pergi ke Kekaisaran Bawah Tanah sih..."


"Makanya, asalkan Onee-chan tidak pulang, tidak apa-apa. Kalau cuma aku, mereka juga bakal hilang minat dan jadi diam. Lagipula aku berniat langsung balik begitu kontrak ditandatangani, jadi benar-benar tidak usah khawatir!"


Berkata begitu, Shigi tersenyum manis lalu mengalihkan pandangan ke Acacia.


"Acacia, titip toko ya. Onee-chan kan bakal mengurung diri di bengkel, dan dia payah dalam melayani tamu selain kenalan."


"O-Onee-chan tidak payah kok! Cuma agak pemalu saja, tapi bisa melayani tamu dengan benar!"


"Iya iya, Onee-chan hebat hebat. Jadi Acacia, tolong ya."


Sambil menenangkan Legi yang menggembungkan pipi dengan asal-asalan, Shigi kembali menekankan.


"Saya mengerti. Hati-hati di jalan. Sepertinya mereka juga sudah tiba, dan membujuk lebih jauh pun sepertinya percuma."


Saat Acacia melirik pintu masuk toko, terlihat beberapa Dwarf sedang berkumpul.


"Tapi, jika ada apa-apa segera hubungi saya. Saya akan segera mengumpulkan para 'Schuler' dan menuju Kekaisaran Bawah Tanah!"


"Iya iya, bikin gerah saja. Kalian berdua, sudah cukup, menyingkirlah."


Sambil menyingkirkan Legi dan Acacia yang memeluknya, Shigi melangkah ringan menuju pintu. Saat pintu dibuka lebar, di sana ada sosok kakek Dwarf yang familier.


"Nona Shigi, apakah persiapannya sudah selesai?"


Suara itu, juga kelembutan di matanya, benar-benar seperti kakek yang menyambut cucunya.


Para Dwarf yang menunggu di belakangnya pun menunduk kecil tanpa suara.


"Ya, aku berniat segera kembali kok."


"Baiklah. Jika ada yang dibutuhkan, mari kita beli di sana."


Dengan ekspresi seolah tak habis pikir dengan kebebasan Shigi yang seperti biasa, namun juga tampak agak senang, si kakek pelayan tersenyum masam dengan lembut.


"Kalau begitu, Onee-chan, Acacia, titip toko ya."


Meninggalkan kata-kata itu, Shigi melangkah keluar dengan ringan seolah hendak pergi belanja, tanpa menoleh ke belakang.


Para Dwarf-lah yang justru tercengang sesaat oleh perpisahan yang terlalu santai itu. Dengan terburu-buru, mereka berlari kecil mengejar punggung Shigi.


Yang berdiri mematung di depan toko, menatap punggung sang adik lekat-lekat adalah Legi.


"...Benar-benar tidak apa-apa membiarkannya pergi sendirian? Bahkan sekarang pun, saya masih bisa mengumpulkan Schuler untuk menjadi pengawal, lho?"


Menanggapi pertanyaan Acacia, Legi menggelengkan kepala kecil.


"Kekaisaran Bawah Tanah sangat membatasi masuknya ras lain... hanya mereka yang dapat izin yang boleh masuk. Kalau memaksa ikut, pasti bakal ditangkap."


Sambil bergumam begitu, mata Legi terus mencari sosok adiknya yang sudah tidak terlihat karena berbaur dengan kerumunan di kejauhan.


"Lagipula, ada kakek pelayan bersamanya... mungkin, bakal baik-baik saja."


Bahkan setelah sosok Shigi benar-benar menghilang dari jalan, untuk beberapa saat, Legi tidak mengalihkan pandangan dari arah tersebut, hanya berdiri diam dalam keheningan.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close