Namaku Lloyd de Saloum, pangeran ketujuh Kerajaan Saloum.
Aku adalah bocah sebelas tahun yang sangat terobsesi
dengan sihir.
Di kehidupan sebelumnya, aku hanyalah seorang penyihir
miskin yang tak punya nama. Suatu hari, aku menjadi target bangsawan dan
dijatuhi hukuman mati berkedok duel.
Saat itulah, aku terpesona melihat sihir tingkat tinggi
untuk pertama kalinya. Namun, serangan itu menghantamku telak hingga aku
kehilangan nyawa, dan saat tersadar, aku sudah bereinkarnasi ke dalam tubuh
ini.
Tubuh ini diberkati bakat yang luar biasa. Aku punya
perpustakaan istana yang koleksinya terbaik di benua, tanah yang luas,
alat-alat sihir langka, hingga kekayaan yang tak akan habis tujuh turunan.
Terlebih lagi, sebagai pangeran ketujuh yang sama sekali
tidak punya urusan dengan takhta, aku dibebaskan hidup sesukaku. Alhasil, kini
aku menikmati kehidupan sihir yang sangat santai dan bebas.
Potensi sihir itu tidak terbatas.
Demi menguasai semuanya, belakangan ini aku pergi ke
berbagai tempat seperti Alam Dewa, negeri monster, hingga World Tree
demi memuaskan rasa hausku akan sihir.
Aku yakin, masih banyak sihir yang belum kuketahui
tertidur di luar sana. Nah, selanjutnya aku harus pergi ke mana dan melakukan
apa, ya?
Di saat hatiku sedang berdebar penuh ekspektasi
seperti sekarang ini...
Eh? Tunggu sebentar, sepertinya ada sesuatu yang
kulupakan...?
"Beal belum pulang juga, ya."
Connie,
pelayan berambut hijau, bergumam pelan.
Bea... l...? Connie menatapku dengan tatapan ngeri saat
melihatku memiringkan kepala keheranan.
"Uwah...
Masa lupa sih?"
"Itu loh, Raja Iblis! Lloyd-sama!"
"Padahal kalian sudah bersama dalam waktu yang cukup
lama, kan!"
Grim, sang iblis yang bersemayam di telapak tanganku, dan
malaikat Jiriel langsung melancarkan protes keras.
Oh! Benar juga, aku ingat sekarang.
ーRaja Iblis Beal. Sesuai namanya, dia adalah raja dari
Dunia Iblis. Kami saling mengenal setelah melalui berbagai kejadian, dan dia
adalah sosok luar biasa yang kekuatannya setara denganku.
Karena dia merupakan entitas mana, selama di sini dia
menggunakan tubuh Connie sebagai wadah untuk tinggal. Namun, dia sering sekali
mengajakku bertarung, yang sejujurnya agak sedikit merepotkan.
Setidaknya, aku berharap dia menggunakan sedikit
kreativitas dalam sihirnya daripada hanya mengandalkan otot... Yah, meski
menjinakkan gorila bertenaga monster itu dengan rumus sihir juga memberiku
banyak pelajaran, sih.
Apa pun itu, tidak diragukan lagi bahwa dia adalah salah
satu lawan terkuat yang pernah kuhadapi.
"Kalau tidak salah, dia sedang pulang kampung,
ya."
"Katanya dia mengkhawatirkan kondisi Dunia
Iblis."
"Soalnya dia memang sudah disegel dalam waktu yang
sangat lama, sih."
Benar, benar, kira-kira seperti itu.
Karena ditinggal selama ratusan tahun, pasti banyak
masalah yang terjadi di sana. Meski bagiku, kembali sekarang rasanya sudah agak
terlambat.
Aku juga ingin pergi saat itu, tapi kebetulan aku sedang
ada urusan jadi tidak bisa ikut. Sejak saat itu, dia sama sekali tidak
menampakkan batang hidungnya... Apa dia masih hidup, ya?
"JANGAN MEMBUNUHKU SEMBARANGAN, WOIIII!"
Prak!
Ruang di sekitarku retak, diikuti teriakan yang menggema.
Sosok yang baru saja menjadi topik pembicaraan muncul
dari celah dimensi. Siapa lagi kalau bukan Beal.
Wujud mananya tampak seperti gumpalan api hitam pekat,
namun siluetnya tetap menyerupai Connie.
Makhluk mana memang bisa mengubah wujud sesuka hati, tapi
biasanya mereka menetap pada satu bentuk dasar. Baginya, bentuk ini mungkin
yang paling nyaman.
Meski begitu, aku ingin dia berhenti muncul tiba-tiba
karena itu sangat mengejutkan.
"Hmph, itu karena kalian membicarakan
kejelekanku."
"Tidak sopan sekali. Aku tidak bicara jelek
tentangmu, kok."
"Nggak, Tuan tadi beneran ngomong gitu,
lho..."
"Sangat jelas membicarakan kejelekannya, ya..."
Kali ini Grim dan Jiriel yang kompak menyudutkanku.
...Yah, mungkin aku memang mengatakannya sedikit. Hanya
sedikit sekali.
"Sudahlah, lupakan. Lebih dari itu, Lloyd! Tugas Yang
Mulia akhirnya selesai! Hari
ini Yang Mulia datang untuk memberitahumu soal itu!"
"Tugas
apa?"
"Penaklukan
Dunia Iblis."
...Mendengar
itu, aku tidak merasa terkesan sama sekali.
Melihatku
yang masih menunggu penjelasan, Beal melanjutkan bicaranya.
"Dulu,
saat memimpin pasukan iblis menyerang dunia manusia, Yang Mulia kehabisan
tenaga dan jatuh ke dalam tidur yang panjang. Selama itu, Dunia Iblis
benar-benar terabaikan. Yang Mulia selalu berpikir harus segera kembali. Namun
Lloyd, keberadaanmu sebagai rival yang luar biasa membuat Yang Mulia sempat
terlena. ...Ehem! Intinya, setelah kembali ke sana, kondisinya jauh lebih parah
dari dugaan. Para Archduke yang dulunya bawahan Yang Mulia saling berperang
satu sama lain. Saking hebatnya pertempuran mereka, wilayah Dunia Iblis sampai
terpecah-pecah secara fisik. Terpaksa, Yang Mulia mendatangi mereka satu per
satu, mengancam, membujuk, dan terkadang menunjukkan perbedaan kekuatan... demi
menghentikan pertikaian itu. Dan sekarang! Akhirnya Yang Mulia berhasil
menyatukan seluruh Dunia Iblis kembali! Fuha-hahahaha! Luar biasa sekali Yang
Mulia ini! Kekuatan sebagai Raja Iblis sedikit pun tidak berkarat! Ayo Lloyd,
puji dan agungkanlah Yang Mulia!"
"...Ah, maaf. Aku ketiduran."
Aku terbangun karena tawa keras Beal.
Soalnya, dia terlalu banyak merangkai kata-kata yang
tidak membuatku tertarik, jadi aku mengantuk... Semua orang di sana langsung
jatuh terjungkal. Maaf, maaf.
"Benar-benar mirip dirimu, ya. ...Begitulah, Yang
Mulia berniat mengadakan pesta perayaan kemenangan. Karena Yang Mulia merasa
berutang banyak padamu, Yang Mulia datang untuk mengundangmu sebagai bentuk
terima kasih. Tentu saja kamu akan datang, kan?"
"Hmm..."
Tentu saja aku tertarik. Tertarik, sih, tapi... beberapa
hari ke depan aku punya banyak agenda yang merepotkan.
Dua hari lagi akan ada Festival Pendirian Negara, jadi
aku harus membantu persiapannya.
Katanya aku harus berpidato, lalu kakak-kakakku juga akan
pulang, jadi aku harus menyambut mereka.
Karena itulah aku harus menghadiri banyak pesta formal.
Alasan aku mengantuk tadi juga karena itu. .
..Aku tidak bohong, lho.
Jadi, rasanya tidak harus sekarang juga, kan. Jujur
saja, aku lebih suka pergi setelah suasananya agak tenang...
"Tentu saja, ada sihir aneh yang sangat kamu sukai,
lho. Sihir yang benar-benar istimewa."
"Undanganmu kuterima dengan senang hati."
Aku langsung berbalik arah dan menjawab seketika.
Mendengar kata memikat seperti "sihir
aneh", tidak mungkin aku menolaknya.
"Yang Mulia sudah menduga kamu akan bilang
begitu. ...Hanya saja, benda ini adalah misteri bahkan bagi kami. Yang Mulia
tidak tahu apakah kamu bisa memecahkannya atau tidak..."
"Hou... Kalau begitu, sepertinya aku bisa
berharap banyak."
Kata-kata seperti itu bagaikan hadiah bagiku.
Jika itu sihir yang sampai dibilang misterius, aku harus
ikut meski harus memohon sekalipun.
Hehehe, aku jadi bersemangat. Beal pintar juga ya
membuatku berekspektasi tinggi.
“Yah, kurasa dia tidak bermaksud membuatmu berekspektasi tinggi
begitu...”
“Yah,
tapi bagi Lloyd-sama, kata-kata itu tidak punya makna lain selain itu...”
Sambil mengabaikan wajah lelah Grim dan Jiriel, aku sudah
mulai membayangkan sihir yang belum pernah kulihat sebelumnya.
◇
"Kalau
begitu, Yang Mulia akan membangun Teleportation Circle di ruangan ini. Begitu
waktunya tiba, semua peserta di sini akan dipindahkan secara otomatis. Waktunya
tepat tengah malam nanti, jadi pastikan kalian berpakaian formal..."
"Ah, tunggu sebentar."
Aku menyela perkataannya dan berujar.
"Jangan malam hari. Bisa buat jadi siang saja?"
Kalau tengah malam pukul dua belas, itu sudah waktunya
aku tidur nyenyak.
Karena ini melibatkan sihir, aku ingin menghadapinya
dengan kondisi fisik terbaik. Makanya, siang hari lebih baik.
Siang memang ada urusan, tapi... kalau aku
menyelesaikannya secepat mungkin di pagi hari, harusnya aku punya waktu luang.
"Kamu... ini pesta Dunia Iblis, tahu? Waktu
aktivitas kami pada dasarnya adalah malam hari. Kamu mau kami melakukannya di
tengah hari bolong? Tidak pernah ada sejarahnya...!"
"Bukankah bagus? Jadi lebih sehat."
Mengadakan pesta di tengah malam itu benar-benar
tidak sehat.
Grim dan yang lainnya juga sudah terbiasa hidup di
sini, jadi mereka tidur pulas saat malam hari.
"Benar-benar
bocah yang egois... Padahal Yang Mulia harus menyiapkan tempat, makanan, belum
lagi urusan tamu lainnya... Ah, sudahlah. Memikirkan hal itu saat berhadapan
denganmu adalah sebuah kesalahan."
Sambil
berkomat-kamit, Beal akhirnya mengangguk dengan enggan.
Wah,
syukurlah. Meski awalnya kupikir bakal ditolak, memang tidak ada salahnya
mencoba bertanya.
"Mengubah
waktu pesta kepada seorang Raja Iblis, Tuan benar-benar semaunya sendiri
seperti biasa, ya."
"Padahal pesta di dunia manusia pun tidak bisa
diubah semudah itu... Dalam artian tertentu, Tuan memang luar biasa,
Lloyd-sama."
Grim dan Jiriel juga tampak lelah menghadapiku... tapi
mau bagaimana lagi.
Selama ini berhubungan dengan sihir, aku tidak akan
memberikan kompromi sedikit pun.
"...Baiklah. Kalau begitu kita ubah ke besok jam
dua belas siang. Sekali-kali Yang Mulia harus bersikap egois layaknya Raja
Iblis dengan memaksakan kehendak pada yang lain. Metode transportasinya tetap
sama seperti yang kukatakan tadi. Sisanya..."
"Tinggal berpakaian formal dan berada di ruangan
ini, kan?"
"Umu. Kalau begitu, nantikan saja."
Setelah mengatakan itu, Beal menghilang.
Bagaimana pun juga, aku sangat menantikannya. Duh, tidak sabar menunggu hari esok.
◇
"He~h,
sepertinya seru ya. Pesta di Dunia Iblis!"
Ren,
pelayan berambut ungu, mendengarkan ceritaku dengan wajah riang.
"Iya, Beal mengundangku. Karena ini kesempatan
langka, aku berniat pergi."
"Enaknya~. Pasti seru!"
Melihat Ren yang tampak agak iri, aku mengangguk dan
bertanya padanya.
"Kamu mau ikut juga?"
"...Boleh?"
"Iya, lagipula aku selalu meninggalkanmu untuk
menjaga rumah. Sekali-kali ayo pergi bersama."
Aku memang selalu menyuruhnya menjaga rumah. Kalau
terus-terusan begitu, kasihan juga kan.
Lagipula Ren adalah ahli obat-obatan dan racun,
membawanya mungkin akan berguna untuk sesuatu nanti.
"Tentu saja Connie juga ikut, kan."
"...Boleh?"
"Tentu saja."
Connie juga seorang jenius dalam pembuatan Magic Item.
Dari sudut pandangnya yang unik, dia bisa memberikan pendekatan yang luar biasa
terhadap sihir.
Tidak ada alasan bagiku untuk tidak mengajaknya.
"Ooh, Lloyd-sama memanjakan Ren-tan dan Connie-tan...
Betapa baik hatinya beliau."
"Nggak, paling dia cuma berniat memanfaatkan mereka
untuk analisis sihir..."
Grim dan Jiriel menggumamkan sesuatu. Aku
tahu mereka pasti sedang memikirkan hal yang tidak sopan.
"Yeeay! Pakai baju apa ya~ ♪"
"Aku tidak punya baju yang modis, jadi Ren-chan,
pinjamkan aku baju, ya."
"Tentu saja! Tubuh Connie seukuran denganku, aku
akan meminjamkan yang imut!"
"Terima kasih. Aku senang."
Saat mereka berdua sedang asyik ribut kegirangan,
tiba-tiba mereka tersadar.
"Ah,
tapi bagaimana cara mengelabui Sylpha-san?"
"Benar
juga. Biasanya kami menggunakan boneka untuk mengakalinya,
tapi..."
Benar, masalahnya adalah atasan mereka, Sylpha.
Sebagai pelayan pribadiku sekaligus guru pembimbing,
serta ahli pedang aliran Langris, instingnya terhadapku sangatlah tajam.
Kalau
aku menaruh pengganti yang asal-asalan, dia pasti akan langsung menyadarinya.
...Yah, awalnya kupikir begitu, tapi selama ini entah kenapa selalu berhasil.
"Dulu kita pernah memasukkan Tuan ke dalam boneka
kayu dan menyuruhnya meniru Tuan, ya. Saat itu aku deg-degan setengah mati
karena takut ketahuan."
"Kami juga berjuang mati-matian mendukung boneka
Lloyd yang sifatnya agak beda itu. Benar-benar serasa nyawa di ujung
tanduk."
Meski begitu, alasan kenapa selama ini berhasil
mengelabuhinya adalah berkat kerja sama semua orang.
Boneka yang bisa kubuat sendiri memang punya batasannya.
...Tapi sebenarnya.
"Sebenarnya, aku berniat membuat boneka mana yang
bisa meniru kemampuan dan kepribadianku secara sempurna."
"JANGAN LAKUKAN ITU!!!"
Semuanya berteriak bersamaan dengan suara yang hampir
menyerupai jeritan.
Eh? Apa aku akan melakukan sesuatu yang aneh?
"Tolong, JANGAN PERNAH lakukan itu! Kalau itu
terjadi, dunia bisa kiamat!"
"Benar, Lloyd-sama sendirian saja sudah berbahaya,
menambah satu lagi yang sepertinya adalah ide yang sangat buruk."
"Aku akan tinggal di sini! Jadi Lloyd buat saja
boneka seperti biasanya! Aku mohon!"
"Lloyd, jangan pikirkan hal-hal aneh.
Tolonglah."
Are~? Rasanya aku baru saja dikatakan sesuatu yang sangat
kejam.
Tidak ada satu pun yang memihakku. Sedihnya.
"Cih, baiklah. Aku tidak akan melakukannya.
Puas?"
"Lagipula, apa Tuan sudah lupa soal masalah besar
saat Tuan membuat salinan diri sendiri waktu itu?"
"Lloyd-sama terus mengulangi kekacauan yang lebih
parah setiap harinya, jadi memori itu pasti sudah terhapus dari
kepalanya."
Kh, karena ucapan mereka tidak salah, aku tidak bisa
membantah dengan kuat.
Kenyataannya, saking banyaknya kekacauan yang kubuat di
masa lalu, memang benar aku tidak bisa mengingat semuanya.
"Lalu akhirnya bagaimana?"
"Sudahlah. Kami tetap tinggal di sini saja. Sayang
sekali sih."
"Aku juga tidak keberatan. Meski agak kecewa."
Yah, sepertinya Ren dan Connie memang paling pas tetap
tinggal di rumah seperti biasanya. Meski sayang sekali.
Saat aku berpikir begitu, aku menyadari Grim dan Jiriel
sedang tersenyum licik.
"Hehehe...
Mengenai hal itu, sebenarnya kami punya solusinya."
"Ya,
kami selalu berpikir bagaimana cara menyelesaikan masalah Lloyd-sama setiap
saat. Dan akhirnya kami berhasil menciptakan formula baru!"
"Hou,
coba tunjukkan padaku."
Formula baru yang mereka ciptakan bersama?
Itu menarik. Aku harus melihatnya dengan mata kepalaku
sendiri.
"Siap! Ayo, Malaikat Sialan! Jangan sampai meleset!
Uoooooh!"
"Itu kalimatku! Jangan sampai gagal, Iblis Bodoh!
Haaaaah!"
Mana mereka berdua mulai menyebar ke seluruh ruangan.
Setelah beberapa saat, Ren dan Connie yang melihat
sekeliling ruangan bergumam dengan ragu.
"Eeto...
Apa ada yang berubah? Memang sih ada rasa janggal di ruangan ini, tapi..."
"Kami
tidak terlalu paham soal sihir, jadi tidak begitu mengerti."
"Hah,
hah... Aku membuat ruang dimensi, seperti yang dilakukan Tuan Beal."
"Fuu,
fuu... Saat orang luar masuk ke dalam, mereka akan melihat proyeksi diri kami
yang biasanya."
"Daripada dijelaskan pakai kata-kata, lebih cepat
kalau kalian lihat sendiri."
"Nah, silakan keluar dulu, lalu coba masuk lagi ke
dalam."
Sesuai perintah, aku keluar dari kamar lalu masuk
kembali.
Dan di sana, aku, Ren, dan Connie sedang berada di
dalam kamar.
"Hebat... ini ada kami di dalam!"
"Mengejutkan. Apalagi bisa disentuh dan diajak
bicara."
"Ya, luar biasa. Kalian mereproduksi seluruh isi
ruangan beserta kami di dalamnya, ya."
Ruang dimensi yang diciptakan iblis tingkat tinggi.
Itu adalah teknik yang menciptakan kembali ruang yang
sama dengan dunia nyata di dalam sebuah ruangan.
Biasanya untuk menghemat energi, pembuat dimensi
hanya menggunakan bentuk geografis yang sudah ada, tapi mereka justru
mencurahkan tenaga untuk reproduksinya, sampai-sampai aku pun tidak merasa ada
yang aneh dengan Ren dan yang lain di dalam sana.
Sepertinya mereka juga mencampurkan sihir tipe ilusi. Ada
sugesti kuat yang tertanam di dalamnya.
Kecuali yang masuk adalah penyihir yang sangat hebat,
mereka pasti akan tertipu.
"Yah, bagi kami ukuran ruangan ini sudah batas
maksimal sih."
"Dengan ini, kita bisa mengelabui Sylpha-tan dan
yang lainnya."
"Ya, ini sangat bagus. Kerja bagus, kalian
berdua."
Dengan kualitas seperti ini, mungkin saja bisa menipu
Sylpha sepenuhnya.
Biayanya lebih rendah daripada membuat klon, dan jauh
lebih pasti. Benar-benar kerja yang bagus.
"Hehe, terima kasih banyak!"
"Jiriel ini benar-benar terharu!"
Entah kenapa mereka malah sangat berterima kasih padaku,
padahal aku yang terbantu di sini.
Bagaimana pun juga, sepertinya besok akan baik-baik saja.
◇
Keesokan harinya, aku sibuk berlari ke sana kemari demi
menyelesaikan semua pekerjaanku sejak pagi buta.
"Sylpha, ajari aku berlatih pedang."
"A-apa...
Lloyd-sama meminta hal itu sendiri... Sylpha, Sylpha sangat bahagia...!"
Ini
semua hanya supaya aku tidak dipanggil nanti, sih... tapi karena tidak perlu
dikatakan, aku diam saja.
Setelah
menyelesaikan latihan dengan Sylpha yang sedang terharu dalam sekejap, kali ini
aku pergi ke tempat Albert.
"Kak
Albert, apa ada yang bisa kubantu untuk persiapan Festival Pendirian
Negara?"
"...!
Lloyd menawarkan diri sendiri untuk membantu... Fufu, apa kamu mulai tertarik
untuk mengincar takhta? Aku juga tidak boleh kalah kalau begitu."
Albert
menggumamkan sesuatu.
Apa tidak ada kerjaan? Kalau tidak ada, aku ingin pulang.
"Kalau begitu, bisakah kamu membantuku mengerjakan
ini, ini, dan ini?"
"Baik!"
Ternyata ada banyak ya, pikirku sambil mengomel dalam
hati, tapi aku berhasil menyelesaikan tugas dari Albert dan segera menyantap
makan siang lebih awal.
"Kalau begitu, selamat makan."
"Lloyd-sama. Kalau makan secepat itu, nanti Tuan
bisa tersedak, lho."
Meski dia bilang begitu, jam dua belas siang adalah waktu
teleportasinya.
Aku tidak punya waktu untuk bersantai.
Sambil diperingatkan oleh Sylpha, aku menghabiskan
makananku secepat kilat lalu kembali ke kamar.
"...Fuu,
nyaris saja."
Bagus,
bagus. Semua urusan hari ini sudah kuselesaikan, jadi harusnya tidak ada yang
akan mencariku sampai malam nanti.
Hehehe,
aku bisa menikmati sihir Dunia Iblis... sekalian pestanya dengan tenang.
"Wah, aku menantikan pestanya."
"Iya, terima kasih gaun imutnya."
Ren dan Connie sudah berdandan cantik dan siap berangkat.
Omong-omong, aku juga dipaksa Grim dan yang lain memakai sesuatu yang mirip
setelan jas.
Padahal menurutku pakai baju biasa saja sudah cukup.
Pokoknya, tinggal satu menit lagi. Sambil menunggu dengan berdebar, tiba-tiba,
"Lloyd-sama~!"
"Oi, aku datang main nih~!"
Tiba-tiba, suara Sylpha terdengar dari luar kamar.
Bahkan ada Tao juga...?
Kenapa bisa jadi begini? Ini gawat sekali.
"G-gimana ini! Sylpha-san dan yang lain
datang!?"
"Kalau mereka masuk sekarang, apa yang akan terjadi?
Grim, Jiriel?"
"Cih, tenang saja. Formula sihirnya sudah terpasang,
jadi wujud asli kita tidak akan terlihat!"
"Ya, saat pintu dibuka, itu akan menjadi pemicu bagi
mereka untuk masuk ke kondisi hipnotis. Mereka akan segera menyerah dan
pulang."
Begitu ya, kalau begitu aman... harusnya begitu, tapi
entah kenapa perasaanku tidak enak.
"Heh, kucing betina di sana! Jangan masuk ke kamar
Lloyd-sama sembarangan."
"Berisik, pelayan. Bukan urusanmu tahu! Oii, aku
masuk ya~"
Sylpha dan Tao mulai berdebat. Perasaan burukku pun
semakin menjadi-jadi.
"Tentu saja ini urusanku. Justru kamulah orang luar
di sini, cepat pergi sana sekarang juga."
"Sudah saatnya kamu berhenti mengganggu hubungan
mendalam antara aku dan Lloyd!"
"Mendalam apanya? Mungkin maksudmu memuakkan."
"A-apa!? Kamu nantang, ya!? Ayo kita selesaikan hari
ini juga!"
Mereka berdua saling membalas ejekan, dan itu memicu
suara keributan yang hebat.
Suara itu semakin lama semakin keras, dan kemudianー
BRAKK! Mereka menghancurkan pintu dan
merangsek masuk. Di saat yang sama, cahaya menyilaukan menyelimuti sekitar.
"Ah, gawat..."
Dan kami pun terteleportasi ke Dunia Iblis.
◇
Duar!
Dar!
Duar-dar-dar!
Kembang api warna-warni meledak indah di langit yang
temaram. Di sekeliling, orang-orang berpakaian formal tampak asyik mengobrol
sambil menikmati minuman dan makanan.
Kami muncul tepat di tengah-tengah keramaian itu.
Sepertinya ini adalah balkon kastil Raja Iblis.
Di depan mataku, sosok yang mirip Connie tapi
berpakaian priaーyaitu Beal, berdiri di sana.
"Selamat datang, Lloyd, dan juga kawan-kawannya.
Aku, Raja Iblis Beal, menyambutー"
"Waaa!"
Aku buru-buru membungkam mulut Beal, lalu berbicara
dengan suara pelan.
"A-apa yang kamu lakukan, Lloyd!?"
"...Tamu tak diundang bertambah. Meski di luar
rencanaku."
Aku menunjuk ke arah Sylpha dan Tao yang sedang melongo
di belakang.
Saat teleportasi terjadi, mereka berdua masuk ke ruangan
sehingga ikut terbawa.
Karena pemicu sihirnya adalah membuka pintu, kalau mereka
masuk dengan cara menghancurkan pintu, sihir hipnotisnya jadi tidak berfungsi.
Uuh, sial sekali.
"Jadi tolong bantu aku mengelabui mereka dengan cara
yang pas."
"Cara
yang pas apanya... itu benar-benar asal-asalan tahu..."
"Nanti
aku jelaskan detailnya lewat Telepathy, ya. Tolong!"
Aku
melambaikan tangan lalu kembali ke arah mereka semua.
Aku harus menjelaskan ini pada Sylpha dan Tao yang tidak
tahu apa-apa.
"Ini... sebenarnya apa yang terjadi?"
"Kupikir tadi aku masuk ke kamar Lloyd, tapi
tiba-tiba pindah ke tempat aneh begini. Jelaskan ada apa sebenarnya."
"Eeto, itu... sebenarnya tempat ini adalah negara
yang pernah kubantu dulu. Hari ini sepertinya hari perayaan, jadi mereka
mengundang kita semua. ...Iya
kan, Beal?"
"U!
U-umu... Negaraku dulu pernah diselamatkan oleh Lloyd. Hari ini
adalah Festival Peringatan Penyatuan Negara, jadi kami mengundang Lloyd beserta
rekan-rekannya. Begitu kan, Lloyd?"
Melihat percakapan kami yang kaku, Sylpha dan Tao saling
bertukar pandang, tapi...
"Begitu ya, kalau itu Lloyd-sama, menyelamatkan satu
atau dua negara bukanlah hal yang aneh. Seperti yang diharapkan dari
Lloyd-sama."
"He~h, orang-orang di sini berpakaian aneh semua ya.
Tapi pestanya cukup mewah. Apa ada cowok ganteng, ya? Aku jadi
menantikannya."
...Sepertinya mereka percaya. Syukurlah.
Mereka berdua tidak punya mana, jadi tidak akan menyadari
hawa keberadaan iblis.
Saat aku menghela napas lega, Beal mengangguk.
"Tapi tidak baik jika tamu berpakaian seadanya
begitu. Biarkan dua orang ini menyiapkan pakaian yang pantas
untuk pesta."
Beal menjentikkan jarinya, lalu para pelayan iblis
berbaris rapi dan membawa pergi Sylpha serta Tao.
"Mu... apa boleh buat. Kalau begitu Lloyd-sama,
mohon tunggu sebentar."
"Fufun ♪ Aku akan pakai baju yang imut, jadi tunggu
sebentar ya~"
Setelah mengantar kepergian mereka berdua, aku langsung
berbalik ke arah Beal untuk menuju topik utama.
"Nah, kalau begitu cepat tunjukkan sihir langka itu
padaku."
"...Yare-yare, langsung ke intinya ya seperti
biasa... Baiklah. Sudah kuduga kamu akan bilang begitu. Ikutlah denganku."
"Kami akan bersenang-senang di pesta dulu
ya."
"Kalau ada yang menarik nanti aku laporkan. Aku juga
akan menjaga Sylpha-san dan yang lainnya."
Seperti yang diharapkan dari mereka berdua, mereka
mengerti apa yang ingin kukatakan.
Setelah menyerahkan sisanya pada Ren dan Connie, aku
mengikuti Beal.
Dari balkon, kami masuk ke dalam kastil lalu berjalan
menuju ruang bawah tanah.
"Wah, ternyata kastil Raja Iblis seperti ini ya.
Baru pertama kali lihat."
"Ternyata cukup bersih, atau lebih tepatnya tidak
beda jauh dengan istana biasa."
"Tentu saja. Memangnya apa yang kalian bayangkan,
hah?"
"Yah... maaf saja, kupikir atmosfernya bakal gelap
atau... menjijikkan?"
"Kupikir bakal ada tengkorak berserakan, atau penuh
dengan Miasma, kastil yang diselimuti kegelapan..."
Beal memegangi kepalanya mendengar ucapan Grim dan Jiriel.
Yah, Dunia Iblis sepertinya berada di daratan yang sama
dengan dunia manusia, jadi cuacanya tidak akan seaneh itu.
Lagipula selama entitas mana berwujud manusia tinggal di
sini, pada akhirnya desain bangunannya akan mirip-mirip juga. Makanannya tadi
juga terasa enak, kok.
Meskipun begitu, bagiku sihir yang dibicarakan tadi jauh
lebih menarik.
Sihir macam apa itu sebenarnya?
Beal benar-benar membuatku berharap banyak.
Aku terus berjalan dengan penuh ekspektasi.
Melewati singgasana, menuruni tangga, menuruni tangga
spiral lebih dalam lagi... dan akhirnya kami sampai di sebuah padang pasir yang
diselimuti pasir yang indah.
Di gurun yang luas itu, terdapat banyak bongkahan
batu yang ditumpuk membentuk kerucut, dan semakin jauh ke dalam, ukurannya
semakin besar seperti gunung.
"Saat penyatuan Dunia Iblis, kastil ini sempat
diserang hebat saat Yang Mulia sedang pergi. Saat itu, lantai dasar kastil ini
jebol. Saat puing-puingnya disingkirkan, ditemukan sebuah
tangga, dan saat kami turun, ruang dimensi ini terbuka. Sepertinya ini adalah
tempat peristirahatan para iblis masa lalu, nama-nama Raja Iblis terdahulu dan
iblis terkenal terukir di mana-mana. Mungkin ini semacam Great Catacomb."
Fumu, makam para bangsawan dan raja Dunia Iblis, ya.
Memang tidak aneh kalau ada tempat seperti itu di bawah
kastil Raja Iblis.
"Hasil investigasi menunjukkan bahwa salah satu
makam menyimpan sihir misterius. ...Itu dia."
Bongkahan kerucut paling besar yang ditunjuk Beal
memancarkan mana yang jauh lebih unik daripada yang lain.
Bahkan orang yang bukan aku pun pasti akan
merasakannya... Tentu saja, dibandingkan makam lain yang hanya tumpukan batu
biasa, yang satu ini memiliki formula sihir yang terukir di setiap butir
batunya.
Bisa dibilang ini adalah sebuah altar. Alasan tempat ini
dibangun di sini mungkin untuk menyerap suplai mana dari makam-makam di
sekitarnya. Soalnya, altar ini terlihat jauh lebih baru dibandingkan yang lain.
"Strukturnya menggunakan makam para iblis yang punya
kapasitas mana besar untuk mengolah mana dalam jumlah masif. Sekarang
sepertinya tidak aktif, tapi dalam kondisi begini pun dia memancarkan aura
tekanan yang dingin. Entah formula sihir apa yang tersegel di dalamnya..."
"Yang Mulia sudah menyuruh para peneliti
menyelidikinya, tapi mereka tidak menemukan hasil apa pun. Sejujurnya, Yang
Mulia sudah angkat tangan."
"Yah, kaum iblis memang payah soal formula sihir,
sih. Tapi kalau diserahkan pada Lloyd-sama, pasti akan beres."
"Benar, dengan perangkat sihir sehebat ini, pasti
ada sesuatu yang luar biasa tertidur di sana. Lloyd-sama juga sudah mulai
bersemangat, kan?"
"Iya, ini sangat bagus. Luar
biasa...!"
Tanpa sadar aku tersenyum lebar.
Kupikir tidak ada seorang pun dari kaum iblis yang
bisa menggunakan formula sihir yang mendetail, tapi melihat adanya altar
seperti ini, aku harus mengubah pemikiranku.
Dulu, apakah ada manusia yang menyeberang ke tempat ini?
Atau mungkin entitas lain? Apa pun itu, aku harus menyelidikinya dulu. Hehehe.
"Lloyd-sama sampai tertarik sejauh ini..."
"Apa mungkin frekuensi gelombangnya cocok dengan
si pembuat altar ini...?"
Kalau menyangkut sihir, aku akan terjun ke sana demi
rasa ingin tahu, tapi jarang ada yang membuatku sepenasaran ini.
Mungkin aku akan cocok minum bersama orang yang
membuat ini. Meski aku belum pernah minum alkohol, sih.
Pokoknya saat masuk ke dalam, ternyata isinya cukup
simpel... tidak ada apa-apa.
Setelah menyusuri lorong yang dikelilingi batu, aku
sampai di sebuah ruang pemakaman di ujung jalan.
Di tengah ruangan batu itu, terdapat sebuah peti mati
yang juga terbuat dari batu.
"Apa ada mayat di dalam peti itu?"
"Iblis akan terurai jadi debu saat mati. Ini hanya
simbolis."
"Lagipula di Dunia Iblis, makam itu sendiri gunanya
untuk memamerkan wibawa para bangsawan."
"Fumu... kalau begitu, kenapa mereka meletakkan
altar sebesar ini di bawah tanah begini...?"
Itu pertanyaan yang masuk akal.
Karena aku belum memeriksanya secara detail, aku belum
tahu sihir apa yang terpasang, tapi altar biasanya tidak memiliki alasan untuk
disembunyikan.
Pada dasarnya, sihir besar yang dilepaskan melalui altar
adalah sihir penghancur tingkat tinggi yang tak tertandingi.
Justru altar sering kali dipamerkan sebagai simbol
kekuatan, seperti di tempat upacara kenegaraan untuk menunjukkan kekuatan pada
negara lain.
Namun, jika alasan altar ini justru disembunyikan... itu
karena sihirnya terlalu berbahaya untuk diketahui orang lain, atau memang tidak
ada gunanya dipamerkan... atau mungkin, hanya ditujukan untuk disampaikan
kepada seseorang yang spesifik...?
"Yah, sudahlah. Aku akan tahu setelah
menyelidikinya. Kalau begitu, aku akan mengurung diri di sini
sebentar. Titip yang lain, ya."
"Eh, Lloyd-sama!? Gimana sama pestanya!?"
"Apa Tuan tidak ingin melihat Sylpha-tan dan Tao-tan
memakai gaun!?"
Nggak
juga... Lagipula, itu kan cuma keinginan Jiriel saja.
"Aku akan mengirim boneka pengganti ke sana, jadi
sudah cukup kan?"
"Jadi intinya kami harus mengurus sisanya,
ya..."
"Kalau aku sih, selama bisa melihat Sylpha-tan dan
Tao-tan memakai gaun, aku tidak keberatan..."
"Kalau begitu, aku serahkan pada kalian."
Festival Pendirian Negara Saloum akan dimulai besok pagi.
Tentu saja aku tidak boleh absen dari acara itu.
Waktu yang kumiliki untuk meninggalkan kastil sangat
terbatas. Aku tidak punya waktu untuk memikirkan hal-hal kecil.
"Jadi,
tolong ya!"
"Baiklah..."
"UOOOOOH!
GAUN SYLPHA-TAN DAN TAO-TAN!!!"
Grim dan Jiriel masuk ke dalam bonekaku lalu kembali ke
lokasi pesta.
Pada akhirnya, boneka pengganti memang yang paling stabil
untuk diandalkan.
"Nah, sekarang waktunya untuk mulai memecahkan
kodenya!"
Dengan semangat penuh, aku melepaskan pakaian formalku
lalu duduk bersila di sana.
◇
Waktu berlalu dengan cepat, dan sepertinya pesta sudah
berakhir.
Tentu saja, aku tidak menampakkan diri ke sana sama
sekali.
Menurut Jiriel, penampilan Sylpha dan yang lainnya dalam
balutan gaun benar-benar luar biasa, tapi tidak perlu dikatakan lagi bahwa itu
sama sekali tidak penting bagiku.
"Haaa...
Pesta dan gaun yang luar biasa... Jiriel ini sampai kehilangan kata-kata karena
bahagia...!"
"Cepat pergi saja sana ke langit, Malaikat Sialan!
...Lalu, gimana hasil pemecahan kodenya? Lloyd-sama."
"Ah, sudah beres."
Meskipun formula sihirnya sangat unik dan menggunakan
metode kuno yang terasa familier, memecahkannya tidaklah sesulit yang
kubayangkan. Aku bisa membacanya dengan lancar.
Meski begitu, itu adalah formula yang sangat masif.
Butuh waktu cukup lama untuk sampai ke jawaban yang
benar... tapi tetap saja, tidak sampai setengah hari.
Alasan utamanya adalah karena aku bisa merasakan perasaan
sang pembuatnya.
Keinginan untuk mewariskan kekuatan ini pada generasi
mendatang. Keinginan agar kekuatan ini digunakan dengan benar.
Dia mempertaruhkan segalanya untuk itu... Saat aku
mengurai perasaan tersebut, secara alami itu terhubung dengan pemecahan
kodenya.
Wah, aku benar-benar merasa cocok dengannya. Sekali
saja, aku ingin mengobrol langsung dengannya.
"Yang Mulia senang kalau kamu puas. Omong-omong
Lloyd, formula sihir yang kamu pecahkan itu, bisakah kamu memberikannya pada Yang
Mulia juga?"
"Ya, lagipula asalnya memang dari kastilmu. Aku juga
ingin sekali melakukannya, tapi... sihir ini lumayan 'berat', lho. Apa
kapasitas Beal sanggup menerimanya?"
Sihir yang diwariskan melalui altar sebesar ini memiliki
volume formula yang tidak bisa dibandingkan dengan sihir skala besar biasa.
Bahkan aku pun harus memahami strukturnya terlebih dahulu, membagi dan menyederhanakannya berkali-kali agar menjadi ringkas, tapi itu pun tetap tidak cukup sehingga aku harus menuliskan sisanya ke dalam buku pelengkap formula eksternal yang kusebut 'Skor', dan meski sudah begitu, output-nya masih belum cukup sehingga hanya bisa diaktifkan kurang dari sepuluh persen dari efek aslinya.
Seberapa pun
hebatnya seorang Raja Iblis, kurasa mustahil baginya untuk menguasai sihir ini
secara instan hanya dengan tubuh polos itu... Namun, Beal justru tersenyum
menantang.
"Huh, kau pikir Yang Mulia ini siapa? Yang Mulia
adalah penguasa seluruh kaum iblis, Raja Dunia Iblis, Beal! Tidak ada hal yang
mustahil bagi Yang Mulia! Fuhahahahahaha!"
Dia tertawa terbahak-bahak, tapi aku justru merasa cemas.
Yah, karena dia sudah sesumbar begitu, lebih baik aku
mencobanya saja.
Aku menyalin formula sihir yang terukir di seluruh
tubuhku, lalu mengumpulkannya di telapak tangan.
Formula yang tadinya samar mulai membentuk wujud dan
berputar-putar. Ukurannya terus membesar hingga seukuran telapak tangan.
"Hmph, jumlah formulanya lumayan juga, tapi
kalau cuma segini sih bisa Yang Mulia telan dengan mudah. Kamu meremehkan Yang
Mulia, ya. Kukuku."
"Oho, meyakinkan sekali. Kalau begitu aku akan
mengekstraknya lebih banyak lagi."
Bola formula itu terus, dan terus bertambah padat
serta membesar.
Awalnya hanya berukuran beberapa meter, lalu
membengkak jadi puluhan meter, hingga ratusan meter.
"O-oi, oi... u-ukurannya lumayan besar juga
ya..."
"Ini baru sekitar sepuluh persen. Aku akan
memadatkannya lebih banyak lagi."
"Se-sepu...!? Tunggu, itu sih sudah
keterlaluan—"
Wung!
Bola formula itu mendadak menjadi jauh lebih raksasa dan
sangat pekat.
Wujud bola yang tadinya samar kini berubah menjadi hitam
pekat saking bertumpuk-tumpuknya formula sihir di sana.
Hmm, ini jadi gila juga ya. Hanya dengan jumlah informasi
sebanyak ini saja, iblis kelas menengah pasti sudah lenyap terhapus.
Yah, kalau Beal harusnya tidak apa-apa. Kan dia Raja
Iblis.
"Nah, aku kirim ya—"
"NUWAAAAAAAAAAAAAA!"
Aku mentransfer bola hitam pekat itu.
Di saat yang sama, terdengar suara letupan keras, Bajjiii!
Dari balik kepulan asap putih, Beal muncul, lalu...
ambruk.
"......Eh? Beal? Oiii?"
Aku mencoba memanggilnya, tapi tidak ada reaksi.
Matanya tampak memutih, apa dia baik-baik saja ya?
"Bukan nggak apa-apa lagi, ini mah gawat, Tuan!
Memasukkan informasi sebanyak itu ibarat menuangkan air berliter-liter ke dalam
satu botol kecil! Sudah pasti meledak!"
"Apalagi Tuan menekannya sekaligus. Meski dia Raja
Iblis, mustahil dia bisa menahannya. Bisa tetap hidup saja sudah merupakan
keajaiban... tapi tetap saja..."
Grim dan Jiriel berkata begitu, tapi kan Beal sendiri
yang bilang dia baik-baik saja, makanya aku pikir tidak masalah.
Aku harap mereka berhenti menyalahkanku untuk segala hal
yang terjadi.
"Yah, Beal-danna juga salah sendiri karena terlalu
sombong, sih..."
"Karena sudah sesumbar, dia pasti tidak bisa menarik
kata-katanya..."
Keduanya
menatap Beal dengan penuh iba.
Sepertinya
dia tidak akan bangun untuk sementara waktu.
Yah,
urusanku sudah selesai, jadi kutinggalkan saja tidak apa-apa, kan?
Toh aku
cuma memasukkan formula sihir terlalu banyak sampai dia 'hang', nanti juga
bakal kembali normal sendiri.
"Kalau
begitu, ayo pulang."
"Tuan
sedingin biasanya ya..."
"Yah,
itu memang gaya Lloyd-sama, sih."
Mau
bagaimana lagi.
Hari
sudah hampir malam dan besok Festival Pendirian Negara akan dimulai. Kalau aku
menghilang terlalu lama, Sylpha dan yang lainnya bisa curiga.
Lagipula entitas mana itu sangat kuat, dan Beal adalah
Raja Iblis, dia tidak akan mati semudah itu. Mungkin.
"Pokoknya
kita pulang."
"Siap,
Tuan. ...Tapi ngomong-ngomong, sihir macam apa itu sebenarnya?"
"Bisa
membuat Raja Iblis pingsan hanya dengan jumlah formulanya saja, kami
benar-benar ingin melihatnya."
"Hmm, aku ingin sekali menunjukkannya, tapi sekarang
aku tidak punya waktu, jadi lain kali saja ya."
Ini adalah sihir dengan jumlah formula yang sangat masif.
Mustahil mengaktifkannya tanpa kondisi yang sempurna.
Bahkan aku pun tidak bisa sembarangan menggunakannya
tanpa bantuan Altar Digardia.
"Begitu ya, benar juga."
"Kalau begitu, kami akan menantikannya nanti."
"Ah, bagaimana kalau aku berikan formulanya langsung
ke kalian—"
"DENGAN SEGALA HORMAT KAMI TOLAK!!!"
Ditolak mentah-mentah. Padahal aku cuma bercanda.
◇
"Aah, seru sekali!"
Ren meregangkan tubuhnya dengan ekspresi sangat puas.
Connie yang biasanya tanpa ekspresi juga terlihat sangat
menikmati pesta itu, wajahnya tampak berseri-seri.
"Aku juga sangat menikmatinya. Sesekali begini boleh
juga ya."
"Beraninya kamu bersikap angkuh padahal cuma
menumpang di atas pencapaian Lloyd-sama. Sadar dirilah, Kucing Betina."
Seperti biasa, percikan api muncul di antara Tao dan
Sylpha. Padahal dalam suasana begini, tidak perlu bertengkar juga tidak
apa-apa, kan.
Omong-omong, mereka berdua sudah berganti ke pakaian
biasa. Akhirnya aku tidak sempat melihat mereka memakai gaun sampai akhir. Yah,
tidak penting juga sih.
"Aah, aku ingin melihatnya sekali lagi. Kalau bisa
saat momen ganti bajunya juga..."
"Ayo, Lloyd-sama. Abaikan saja malaikat mesum ini
dan mari kita pulang."
"Apa katamu!? Dasar Iblis Sialan yang tidak mengerti
estetika keindahan!!!"
Di sisi sini pun pertempuran dimulai.
Katanya semakin sering bertengkar semakin akrab, tapi
karena ini berisik, aku harap mereka tidak melakukannya tepat di sampingku.
"Ahahaha...
Ngomong-ngomong, begitu pulang langsung Festival Pendirian Negara ya. Pesta
terus-menerus, apa tidak apa-apa bersenang-senang begini?"
"Kita
kan sudah bekerja keras biasanya, jadi begini saja harusnya boleh kan?"
Ren dan yang lainnya masih terbawa suasana.
Bagiku ini cuma merepotkan, tapi... yah, bagaimanapun aku
harus segera kembali.
Kabarnya kakak-kakakku yang biasanya tidak ada di Saloum
juga akan pulang, akan gawat kalau aku menghilang di saat seperti ini.
Aku mengaktifkan Teleportation, dan kami pun
kembali ke Saloum.
◇
"......Eh?"
Seseorang mengeluarkan suara keheranan.
Wajar saja. Karena yang terbentang di depan mata kami
bukanlah Saloum, melainkan 'tanah tandus yang kosong'.
"......Ini benar Saloum, kan? Mustahil Lloyd-sama
melakukan kesalahan koordinat saat teleportasi."
"Ya, tidak salah lagi. Dilihat dari pemandangan
jauh, udara, dan aroma tanahnya, ini memang Saloum..."
Grim dan Jiriel memiringkan kepala keheranan.
Tentu saja aku juga. Mustahil aku salah menentukan lokasi
teleportasi.
Meski begitu, kenyataan bahwa Kerajaan Saloum tidak ada
di sini adalah hal yang sulit diterima oleh semua orang.
"Po-pokoknya ayo kita periksa sekitar sini dengan
teliti! Mungkin cuma perasaan kita saja! Iya, kan!?"
"Kalau dilihat baik-baik, ini bukan sekadar tanah
tandus. Ada bekas tanah yang terkeruk. Ledakan? Kalau begitu,
apa di sana titik asalnya?"
Di tempat yang ditunjuk Connie, tanahnya terkeruk
lebih dalam dibanding tempat lain, menyerupai bekas ledakan raksasa.
"Kalau dilihat teliti, ada mangkuk yang terkubur
di dalam pasir."
"Di sini ada pecahan perapian... ada juga meja dan
kursi."
"Ma-masaka, apa tempat ini benar-benar
Saloum...?"
Saat wajah semua orang mulai memucat, aku menemukan
sesuatu yang menentukan.
"......Sepertinya memang benar."
Aku berujar sambil menatap tumpukan pasir di depan.
Dari bagian gundukan yang terkikis angin, terlihat
sebuah logam berwarna merah.
Saat aku meniupnya dengan sihir, yang muncul dari
sana adalahーDewa Pelindung Merah Saloum, Digardia.
Di dalam tumpukan pasir itu juga tersisa puing-puing
bengkel perawatan. Dengan kata lain, ini adalah bukti mutlak bahwa tempat
ini adalah Saloum.
"Tidak
mungkin...... benarkah itu......?"
"Ta-tapi baru saja ada banyak orang yang tinggal
di sini......? Hanya dalam setengah hari, semuanya jadi begini......"
"Bohong......
bohong bohong bohong...... ini bohong, kan!? Hal seperti ini......!"
"Saloum
yang luas itu lenyap dalam sekejap......? Sebenarnya kenapa......?"
Sylpha
dan yang lainnya jatuh terduduk.
Semuanya menunjukkan ekspresi putus asa, tidak sanggup
menerima kenyataan.
Tentu saja aku juga sedikit terguncang, tapi apa pun itu,
aku harus menganalisisnya terlebih dahulu.
"Sepertinya telah terjadi serangan. Seseorang
menunggu celah saat aku tidak ada...? Atau, ada kemungkinan sesuatu telah
dipasang sebelumnya, ya..."
Tapi kalau memang begitu, kapan mereka memasangnya...?
Sesuatu yang bisa memicu ledakan sebesar ini, mustahil aku tidak menyadarinya.
Saat aku sedang berpikir keras, aku menyadari Grim dan Jiriel
sedang menatapku tajam.
"......Hm? Ada apa, kalian berdua?"
"LLOYD-SAMA!"
Grim yang tangannya gemetar karena emosi mendadak
mencengkeram kerah bajuku.
"Kenapa Tuan bisa setenang itu!? Memang Lloyd-sama
itu orangnya agak aneh, tapi Tuan bukan orang yang bakal pasang muka datar saat
keluarganya mati, kan!?"
"Benar sekali! Negaramu lenyap, lho! Orang-orang
yang tinggal di sini, tempatmu tumbuh besar, bahkan keluargamu, semuanya
hilang! Kenapa Tuan bisa se-tenang itu, ini aneh sekali!"
Keduanya meluapkan emosi sambil menyalahkanku.
Fumu, benar juga. Aku mengerti perasaan mereka.
"Maaf ya."
"Ti-tidak... bukannya ini salah Lloyd-sama,
tapi..."
"Kami juga minta maaf karena telah kehilangan
ketenangan..."
Mendengar kata-kataku, keduanya tampak kembali tenang dan
meminta maaf dengan wajah lesu.
"Tapi, secara realistis, apa yang harus kita
lakukan?"
"Semanusia super apa pun Lloyd-sama, Tuan tidak
mungkin bisa membatalkan kehancuran ini, kan?"
"Nggak, sebenarnya bisa kok."
"SERIUSAAAAN!?"
"BOHONG KANNNN!?"
Keduanya berteriak sangat kencang, mungkin rekor terkeras
selama ini.
Sylpha dan yang lainnya bisa dengar, lho. ...Yah, tapi
sekarang itu pun 'tidak masalah' lagi.
"Sylpha! Semuanya, ke sini sebentar."
"Baik......"
Setelah semua berkumpul, aku mulai memberikan penjelasan.
Mulai dari mana ya... yah, mungkin aku harus mengatakan
ini dulu.
Setelah bimbang sejenak, aku berdehem pelan.
"Sebenarnya... selama ini aku menyembunyikannya,
tapi aku ini cukup kuat."
Suasana mendadak hening.
Mereka menatapku dengan wajah yang seolah berkata,
"Baru ngomong sekarang?"
......Eh? Padahal bagiku ini adalah pengakuan sekali
seumur hidup. Tidak ada yang terkejut, tuh.
"......Hei Grim, apa kekuatanku sudah
ketahuan?"
"Kurasa sudah ketahuan banget sejak lama, sih...
yah, meski kekuatan sejati Lloyd-sama tetap nggak masuk akal buat kami
bayangkan..."
"Lloyd-sama mungkin berniat menyembunyikannya, tapi
bagi orang biasa, Tuan sudah jauh melampaui level sekadar penyuka
sihir..."
Ah, begitu ya... padahal kupikir aku sudah
menyembunyikannya dengan baik, ternyata tidak ya. Agak syok juga.
"Yah, sudahlah. Pokoknya aku bisa menggunakan
berbagai macam sihir. Masalah
ini juga bisa diselesaikan. ...Singkatnya, aku bisa menggunakan sihir untuk
memutar balik waktu."
"EEEEEEEEEEEEH!?"
Semua
orang di sana berteriak kaget.
Bahkan
Ren dan Grim yang harusnya sudah tahu kekuatanku ikut kaget. Apa-apaan sih.
Bukannya kalian bilang sudah tahu kekuatanku?
"Semanusia
super apa pun Lloyd-sama, kami nggak nyangka Tuan bisa sampai sejauh
itu..."
"HAH!
Jangan-jangan, sihir yang Tuan dapatkan di kastil Raja Iblis itu adalah sihir
pembalik waktu?"
"Tepat
sekali."
Aku
telah mewarisi sihir yang tersegel di altar bawah tanah kastil Raja Iblis, dan
itu adalah sihir Time Reversal.
Dengan
ini, aku bisa kembali ke waktu sebelum Saloum hancur dan mencari penyebabnya.
Dan aku juga pasti bisa menghentikan kehancurannya.
Karena ini adalah formula yang membutuhkan mana dalam jumlah masif, awalnya aku
tidak akan bisa mengaktifkannya tanpa Altar Digardia, tapi untungnya
benda itu selamat. Alasan aku bisa tetap tenang juga karena hal ini. Umu, umu.
"Jadi tenang saja. Aku pasti akan
menyelesaikannya."
Di saat semuanya masih terpana mendengar ucapanku, Sylpha
maju selangkah dan membungkuk hormat.
"Terima kasih banyak, Lloyd-sama."
"? Kenapa berterima kasih?"
Sebagai pangeran Saloum, sudah sewajarnya aku
mengembalikan negaraku.
Aku melakukannya demi diriku sendiri, jadi tidak ada
alasan bagi Sylpha untuk berterima kasih.
Namun, seolah sudah paham akan hal itu, Sylpha
melanjutkan bicaranya.
"Tuan menjelaskan semuanya kepada kami, kan? Padahal
Tuan tidak perlu melakukannya. Artinya, Tuan ingin meringankan kecemasan kami.
Saya sangat bahagia atas perhatian itu."
Kenyataannya, saat aku menggunakan sihir Time Reversal,
ingatan Sylpha dan yang lainnya akan terhapus.
Kembali ke masa lalu (setidaknya dengan sihir ini)
berarti sang pengguna akan dianggap tidak pernah ada di garis waktu asal ini
sejak awal.
Jadi, ingatan Sylpha tentangku tidak akan tersisa. Meski
begitu... jika Saloum hancur dan aku juga menghilang begitu saja, aku terpikir
betapa sedihnya perasaan Sylpha dan yang lainnya... Karena itulah aku tidak
bisa begitu saja pergi tanpa menjelaskan. Meskipun aku akan terhapus dari
ingatan mereka.
"UOOOOOH! Lloyd-sama... aku, aku sekarang
benar-benar terharu! Nggak nyangka Tuan sampai memikirkan perasaan kami semacam
itu...! Sepertinya aku sedikit salah paham tentang Lloyd-sama selama ini!"
"Makanya sudah kubilang, Iblis Bodoh. Beliau ini
meskipun terlihat begini sebenarnya sangat baik hati! Benar-benar perhatian
yang luar biasa. Jiriel ini sampai tidak bisa melihat karena air mata...!"
Grim dan Jiriel berkata sambil menangis.
Mereka itu sebenarnya menganggapku apa, sih. ...Yah, aku
sendiri juga aneh, sih.
Padahal tinggal pakai saja juga beres.
"Lloyd-sama, saya Sylpha... tidak, kami semua yang
ada di sini, meski dengan kekuatan kecil, selalu ingin berguna bagi Lloyd-sama
meski harus mempertaruhkan nyawa. Saat Tuan kembali ke masa lalu nanti,
pastikan Tuan memanggil kami. Kami pasti akan berguna bagi Tuan."
"Benar sekali!"
Tak mau kalah, Tao merangsek maju.
"Serahkan saja pada Tao-chan ini! Biar kuberi tahu
ya, aku akan seribu kali lipat lebih berguna daripada pelayan ini!"
"A-aku juga! Meski mungkin tidak banyak yang bisa
kulakukan..."
"Aku juga, jangan sungkan katakan apa pun
padaku."
"Iya, tentu saja."
Kemampuan Sylpha, Tao, Ren, dan Connie tidak perlu
diragukan lagi, dan tidak ada alasan bagiku untuk tidak mengandalkan mereka.
Mencari petunjuk kehancuran sendirian pasti akan
melelahkan.
Sejak awal, aku memang berniat menggunakan segala sumber
daya yang ada, termasuk mereka.
"Kalau begitu, aku pergi dulu."
"Selamat berjuang, Lloyd-sama."
"Hati-hati ya~!"
Semua orang meneriakiku saat aku masuk ke dalam Digardia.
"Harus selamat ya!"
"Yah, kalau Lloyd sih pasti bakal baik-baik
saja."
Umu, umu. Semuanya mengangguk dan tawa pun pecah.
...Setidaknya, perasaan mereka semua sudah sedikit lega,
jadi aku tenang sekarang.
Tadi wajah mereka semua suram sekali, sih. Yah, bagaimana
pun juga, dengan ini aku bisa menggunakan Time Reversal tanpa beban.
"Sekali lagiーAktivasi Formula, dimulai."
Aku membuka 'Skor', dan mulai mengurai formula sihir yang
tadinya terkompres beku.
Formula itu meresap ke dalam interior Digardia
dalam sekejap dan mulai mencair.
"...Ugh, berat juga ya."
Pantas saja jumlah informasi formula ini bisa membuat
Beal pingsan.
Rasanya seperti ada beban berat yang menekan perutku.
Hanya dengan proses pencairannya saja, keringat sudah mulai bercucuran.
Jika sebagian besar beban ini tidak ditanggung oleh Digardia,
mustahil aku bisa menggunakan sihir ini sendirian.
Benar-benar... ada penyihir luar biasa yang bisa
mewariskan formula gila semacam ini. Dunia ini memang luas.
Bagaimanapun, aktivasi formula akhirnya selesai.
Aku mengumpulkan formula raksasa ini menjadi satu ikatan
di sekelilingku.
"■■■■■■■■■■■......"
Kecepatan pemrosesan formula ini hanya bisa diimbangi
dengan pelafalan mantra berantai. Aku berusaha menyatukannya dan membangunnya
menjadi sebuah sihirー
"G-gila, kepadatan formula macam apa ini! Saking
padatnya, sampai terlihat nyata secara fisik! Tuan mengukir hal seperti ini di
dalam diri Tuan...? Aku sudah tahu Tuan itu hebat, tapi Tuan benar-benar
monster...!"
"Digardia sampai menjerit karena jumlah
informasinya terlalu banyak! Dan lagi Lloyd-sama, kenapa Tuan mandi keringat
begitu tapi malah terlihat sangat senang sihhhh!?"
Tentu saja aku senang.
Hampir semua sihir di dunia ini sudah pernah kucoba, tapi
aku belum pernah melihat yang sehebat ini.
Selain efeknya, selera artistik, pengetahuan, dan jumlah
mana yang digunakan untuk mewujudkannya benar-benar membuatku tidak bisa
berhenti tersenyum hanya dengan menelusurinya saja.
Formula ini sangat kompleks dan masif, tidak akan pernah
bisa digunakan tanpa keahlian yang sangat tinggi.
Mana mungkin aku tidak senang saat menangani formula
dengan tingkat kesulitan super tinggi seperti ini.
Formula yang tadinya berputar di sekelilingku mulai
menyatu, menjadi pilar cahaya yang menembus langitー
"Time Reversal, aktifkan......!"
Di saat yang sama, Vwoom! Ruang di sekitarku
terdistorsi dengan hebat.
◇
Pandanganku menjadi gelap dan indra perasaku
menghilang.
Atas, bawah, kiri, kanan, aku tidak tahu sedang
menghadap ke mana, bahkan tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu.
...Jadi begini rasanya memutar balik waktu. Sensasi
yang cukup menarik.
Setelah menikmati sensasi melayang itu sesaat,
pandanganku mulai memutihー
"Nn..."
Aku bergumam pelan sambil membuka mata.
Di depanku ada Ren dan Connie.
Mereka menatapku dengan wajah cemas.
"...Lloyd, kamu tidak apa-apa?"
"Tiba-tiba pingsan begitu, kami kaget
tahu."
"...Ah, aku cuma melamun sebentar. Sekarang
situasinya bagaimana?"
Keduanya
saling bertukar pandang dengan wajah yang semakin cemas.
"Sekarang itu... kita baru saja mendapatkan undangan
pesta dari Beal."
"Kamu benar tidak apa-apa? Sebaiknya kita tolak saja
ya?"
Begitu ya. Tepat sebelum pesta dimulai. Berarti sekitar
tiga puluh jam yang lalu.
Kalau bisa sih aku ingin kembali lebih jauh lagi, tapi
untuk saat ini sepertinya ini batas kemampuanku.
Yah, intinya aku akan mulai menyelidikinya dari sini.
"Benar juga. Kalau begitu aku tolak saja. ...Halo,
Beal? Maaf, tapi pesta yang tadi kusetujui, aku batalkan ya."
"HAAAAAAAAHHH!? Apa-apaan kamu ini! Semuanya sudah
mulai bersiap... ah, hei, jangan dimatikanー!"
Klik. Aku langsung mematikan Telepathy.
Karena sihir yang kuinginkan sudah kudapat, tidak ada
alasan lagi bagiku untuk pergi ke Dunia Iblis. Aku punya banyak urusan yang
harus dilakukan mulai sekarang.
"Uwaa... jahatnya... padahal Beal pasti sudah sangat
menantikannya, kasihan..."
"Yah, meskipun kami yang bilang sebaiknya ditolak
saja, sih..."
"Maaf ya, tapi ada hal lain yang harus kukerjakan.
Aku butuh bantuan kalian berdua."
Mendengar ucapanku, wajah mereka berdua langsung berubah
serius.
"Kalau Lloyd sampai bilang begitu, pasti serius
ya. Kami akan melakukan apa pun yang kami bisa!"
"Aku juga, tentu saja. Tapi, sampai Lloyd-kun
menolak undangan soal sihir, apa telah terjadi sesuatu yang gawat?"
"Yah, begitulah."
Hm, omong-omong aku tidak melihat Grim dan Jiriel.
Baru saja aku bertanya-tanya, tiba-tiba dari kedua
tanganku keluar gumpalan lendir. Uwah, menjijikkan.
"Gueeeegh... kepalaku pusing..."
"Ra-rasanya... mual sekali..."
Yare-yare, sepertinya mereka berhasil ikut denganku
dengan selamat.
Perpindahan dengan Time Reversal memang mencakup
benda yang menempel pada tubuh seperti pakaian, dan sepertinya Grim serta Jiriel
juga dianggap sebagai bagian dari diriku.
Awalnya ini cuma tebakan nekat, tapi untungnya aku tidak
perlu repot-repot menjelaskan semuanya pada mereka dari awal.
◇
"Saloum akan hancur besok setelah tengah hari...?
Seperti yang diharapkan dari Lloyd-sama, sampai bisa mengetahui hal seperti
itu."
"Se-sejujurnya aku sulit percaya, tapi... kalau
Lloyd yang bilang, pasti bakal kejadian. Tentu saja aku akan membantu!"
Setelah aku menjelaskan situasinya pada Sylpha dan Tao,
mereka langsung setuju untuk membantu.
Di masa depan mereka memang bilang "Pasti akan
membantuku", tapi aku tidak menyangka akan semudah ini.
Ini sangat membantu karena aku tidak perlu banyak bicara.
"Tuan tidak perlu repot-repot menjelaskan banyak
hal tentang diri Tuan, ya."
"Artinya, rahasia Lloyd-sama sudah benar-benar
terbongkar."
Soal itu memang membuatku pusing... tapi bagaimanapun,
menghentikan lenyapnya Saloum adalah hal yang paling utama sekarang.
Mustahil bagiku mencari penyebabnya sendirian di kastil
Saloum yang sangat luas ini, jadi bantuan mereka sangatlah diperlukan.
"Bagaimana kalau kita keluarkan pengumuman ke
seluruh kastil saja?"
"Jangan... itu bisa memicu kepanikan massal di
tengah kota. Alasan yang sama juga berlaku kenapa kita tidak bisa menggunakan
prajurit kastil."
"Benar juga, kalau pengumuman itu dikeluarkan,
jalanan pasti akan penuh sesak oleh orang-orang yang melarikan diri. Bukannya
menyelidiki, malah jadi kacau nanti."
"Yah, kalau memang sudah tidak bisa ditangani lagi,
itu bisa jadi pilihan terakhir."
Paling tidak, jika nyawa penduduk bisa diselamatkan,
pembangunan kembali negara bukanlah hal yang mustahil.
Mungkin waktu satu hari tidak cukup untuk evakuasi
total... tapi dalam kondisi terburuk, aku bisa menggunakan sihir untuk
mengaturnya.
"Pokoknya, untuk sekarang kita cari sesuatu yang
mencurigakan."
"......Meski Tuan bilang begitu."
"Sesuatu yang mencurigakan itu... apa?"
"Mencari tanpa petunjuk apa pun itu sulit, ya."
Sylpha dan yang lainnya tampak kebingungan. Di tengah
suasana itu, terdengar suara tawa yang penuh percaya diri.
"Fufuffu~"
Tao menunjukkan senyum penuh percaya diri.
"Sekarang giliranku beraksi! Pencarian hawa
keberadaan dengan Qi Detection milikku bisa mencakup area yang sangat
luas. Ditambah lagi dengan Mind's Eye yang sudah kupelajari, aku tidak
akan melewatkan apa pun!"
Dug! Tao membusungkan dadanya dengan
bangga.
Memang benar Qi Detection milik Tao memiliki
jangkauan yang luas dan akurasi tinggi untuk mencari sesuatu... tapi apakah dia
bisa menemukan sesuatu yang bahkan kami sendiri tidak tahu wujudnya?
"Yah, bagaimanapun kita tidak akan tahu kalau tidak
dicoba. Tolong ya, Tao."
"Serahkan padaku! Suu... haaaaa...!"
Sambil menarik napas dalam, Tao menggerakkan kedua
lengannya membentuk busur dengan perlahan.
Udara di sekitar mulai mengalir, menyatu dengan Qi
yang dia kumpulkan, lalu menyebar seperti tetesan air yang jatuh ke permukaan
kolamー
Ooh, teknik Qi yang luar biasa. Kemampuannya
sudah meningkat jauh dibanding sebelumnya.
Ini sudah melampaui sekadar Qi Detection,
rasanya seolah tangan tak kasat mata dari Qi miliknya sedang menyentuh
setiap orang dan benda di seluruh Saloum.
Melihat hal itu, Sylpha pun mengeluarkan napas kagum.
"Fumu, lumayan juga ya."
"Bukan cuma lumayan! Dengan ini pasti bisa ketemu,
kan!?"
"Kalau begitu sih bagus..."
Saat semua orang menahan napas, Tao perlahan membuka
mulutnya.
"Ngomong-ngomong Lloyd... benda itu bentuknya
seperti apa, ya?"
Mendengar itu, semuanya langsung terjungkal.
Kan di awal aku sudah bilang masalahnya itu... yah,
memang benar sih, kalau tidak tahu apa yang dicari, mustahil bisa menemukannya.
"Yah, maaf banget ya... Tapi aku tidak menemukan
sesuatu yang mencurigakan. Misalnya bom raksasa atau benda-benda berbahaya
semacam itu, pokoknya tidak ada," ujar Tao.
"Mengetahui hal itu saja sudah cukup, kok."
Artinya, penyebabnya adalah sesuatu yang biasa ada di
sana setiap hari.
Setidaknya jangkauan target sudah menyempit. Walaupun
kalau tidak dikerucutkan lagi, aku tidak akan bisa berbuat apa-apa...
"Ah, lalu satu lagi..."
Tao meletakkan jari telunjuk di bibirnya seolah baru
mengingat sesuatu, lalu melanjutkan.
"Baru saja, ada seseorang yang mengunjungi
istana."
"Hal itu sama sekali tidak aneh, kan? Ada banyak
orang yang datang berkunjung ke istana setiap harinya," sahut Sylpha.
"Tidak, orang itu... entah kenapa aku merasakan Qi
yang mirip dengan Lloyd darinya. Makanya aku jadi sedikit penasaran."
Qi yang mirip denganku? Apa maksudnya?
Belum sempat aku bertanya-tanya, pintu ruangan pun
terbuka.
"Sudah lama ya, Adikku Lloyd."
Muncul seorang wanita dengan suara tumit sepatu bot yang
bergema, katsun.
Rambut hitamnya yang berkilau sehitam sayap gagak terurai
lurus, menutupi mata hitam yang sering kali menunduk di balik bulu mata yang
lentik.
Jubah hitam pekatnya tampak menyatu dengan warna rambut
dan matanya, melambai dengan anggun.
"Kak Celia..."
"Senang melihatmu sehat-sehat saja, Adikku!
Fuhahhahhahhahaa!"
Wanita yang langsung tertawa terbahak-bahak begitu muncul
itu bernama Celia Di Saloum, Putri Ketiga Kerajaan Saloum.
Singkatnya, dia adalah kakak perempuanku.
Sama seperti kakak-kakakku yang lain, biasanya dia berada
di luar istana, dan aku pun baru bertemu dengannya lagi setelah beberapa tahun.
"Lalu Sylpha, dan ada wajah-wajah asing lainnya di
sini? Baiklah, akan kuizinkan kalian bergabung ke Meja Bundarku bersama Lloyd!
Wahai para ksatria terpilih, persembahkan pedang kalian padaku! Dengan bilah
itu, mari kita cabik tirai malam bulan purnama! Fuha! Fuha!
Fuhahhahhahhahaa!"
Semua orang di sana mematung mendengar tawa Celia.
"Si-siapa wanita ini...? Pakaiannya serba hitam,
cara tertawanya aneh, dan yang paling penting, kata-katanya tidak masuk
akal...? Kakak-kakak Lloyd-sama memang banyak yang aneh... maksudku, unik, tapi
yang satu ini level bahayanya sudah beda sejak awal..." gumam Grim.
"Mungkinkah
ini yang disebut penyakit Chuunibyou? Salah satu gangguan yang menyerang
remaja, di mana mereka terlalu yakin kalau dirinya adalah orang spesial
sampai-sampai ucapan dan tindakannya jadi aneh. Nama lainnya adalah 'gejolak
masa muda'. Tapi terlepas dari itu, aku sama sekali tidak keberatan dengan tipe
kakak cantik berambut hitam panjang ini!" seru Jiriel.
"Abaikan
saja si bodoh ini seperti biasa... Tapi, ini cukup langka. Lloyd-sama
ternyata mengingat salah satu kakak kandungnya sendiri," komentar Sylpha.
Aku ingin membalas, "Memangnya kalian pikir aku ini
apa?", tapi aku sadar kalau memang pernah ada kejadian semacam itu.
Ya, begitulah... kalau sudah lama tidak bertemu, hal
seperti itu bisa saja terjadi, kan? Umu, umu.
"Yah, Kak Celia ini sedikit spesial, sih."
"Maksud Tuan?" tanya Grim.
"Sebenarnya,
dia itu adalah seorang Saint."
"Ooh!
Saint! Pantas saja aku merasa ada aura yang
agung darinya!" seru Jiriel.
"Aura
agung apanya, yang ada malah aura mencurigakan... Memangnya Saint itu
apa?" tanya Grim.
"Saint
adalah wanita yang sejak lahir memiliki bakat luar biasa dalam Holy Magic
dan direkrut oleh Tahta Suci. Kabarnya mereka biasanya berkeliling dunia untuk
menyembuhkan penyakit dan luka."
Secara
tugas memang mirip dengan suster di gereja, tapi mereka adalah versi tugas luar
dan levelnya jauh lebih tinggi.
Karena
sifat pekerjaannya, mereka sering pergi ke luar kota—ke tempat-tempat yang
sangat berbahaya—sehingga mereka memiliki kemampuan tempur yang cukup untuk
melindungi diri sendiri.
"Tugas
mereka adalah pergi ke daerah yang tidak memiliki gereja atau tempat yang belum
terjamah manusia, lalu memberikan bantuan agar masyarakat di sana memberikan
keyakinannya pada Tahta Suci. Namun yang paling menonjol adalah kekuatan unik
mereka. Melalui kontrak dengan malaikat tingkat tinggi, mereka bisa menggunakan
'Mukjizat' yang jelas berbeda dari Holy Magic biasa. Benar-benar mirip
seperti Holy King."
Holy
King, pria yang mewakili Tahta Suci dan terikat kontrak dengan Tuhan.
Aku
pernah berurusan dengannya di beberapa tempat, dan dia punya kemampuan tempur
yang bisa menandingi Raja Iblis.
Kemampuannya
luas dan dia adalah tipe lawan yang sulit kukalahkan jika bertarung secara
serius.
...Yah,
karena dia mengaku sebagai pasifis dan punya kepribadian yang santai, kurasa
tidak akan pernah ada pertarungan di antara kami... Tapi kalau dipikir-pikir,
dia juga sering keluyuran ke mana-mana. Mungkin dia juga melakukan pekerjaan
yang serupa.
"Begitu
ya... Jadi dia menggunakan kekuatan misterius seperti Holy King. Itu memang
luar biasa," kata Grim.
"Kalau
dibandingkan dengan dia, level Kak Celia masih terpaut satu atau dua tingkat di
bawahnya. Lagipula kemampuan Kak Celia bukan tipe bertarung, jadi kurasa Grim masih
jauh lebih kuat darinya."
Terlepas
dari itu, dialah orang yang memicu ketertarikanku pada Holy Magic. Dulu Celia
sering menunjukkan berbagai 'Mukjizat' padaku.
Kekuatannya
begitu misterius sampai aku yang saat itu pun tidak bisa memahaminya. Tentu
saja aku jadi sangat terobsesi.
Aku
ingat pernah memohon dengan polosnya berkali-kali agar dia membiarkanku mencoba
menguraikan kekuatannya... Yah, karena itulah aku mengingat Celia dengan sangat
baik.
"Kalau begitu aku mengerti sekarang. Tuan sampai
masuk gereja dan belajar Holy Magic demi mengetahui rahasia Mukjizat
itu, ya," ujar Grim.
"Kekuatan yang bahkan memikat Lloyd-sama... Seperti
apa sebenarnya Mukjizat yang bisa dilakukan Celia-tan?" tanya Jiriel.
"Ah, itu..."
"Huh, Lloyd. Apa kau juga akhirnya menyadari
kenikmatan saat berhadapan dengan kegelapan dalam kesendirian?"
Saat aku sedang asyik mengobrol dengan Grim dan yang
lain, Celia mendekatkan wajahnya padaku.
...Maksudnya apa? Aku masih tidak paham apa yang dia
bicarakan.
"Sepertinya dia bertanya, 'Apakah kamu sedang bicara
sendiri?'," sahut Jiriel.
"Kau cepat sekali mengerti ya, Jiriel."
"Aku bisa memahami pikiran gadis cantik mana pun
yang sesuai seleraku," jawab Jiriel sambil berpose keren.
Kalau dipikir-pikir, kepribadian Jiriel dan Celia agak
mirip. Mungkin ini yang namanya jodoh tak lari ke mana.
Atau mungkin karena itulah dia bisa terhubung dengan
dunia langit.
"Ah, tunggu sebentar. Kalau Kak Celia pulang,
bukankah itu berarti 'kekuatan itu' bisa digunakan...?"
Dengan kekuatan itu, aku mungkin bisa menemukan penyebab
hancurnya Saloum.
Saat aku sedang berpikir, Celia menatap kami semua dengan
tatapan yang sangat serius.
"Harap tenang. Alasanku kembali ke Saloum ini bukan
tanpa sebab. Ada
alasan yang sangat penting. ...Dengarkan baik-baik."
Setelah memberi jeda yang cukup dramatis, dia
melanjutkan.
"—Satu hari lagi, Saloum akan hancur."
"Ah, iya."
Semua orang menjawab dengan wajah datar.
Habisnya, aku baru saja membicarakan hal itu tadi.
Mungkin karena terkejut dengan reaksi kami yang dingin, Celia
langsung meninggikan suaranya dengan panik.
"Eh... a-aku tidak sedang bercanda, tahu!?
Memang biasanya cara bicaraku sedikit aneh, tapi ini benar-benar serius!
Semuanya, semuanya akan hancur berkeping-keping! Kalian paham tidak!?"
"Kami paham, kok. Makanya
kita semua sedang mencoba melakukan sesuatu, kan?"
"Y-yah...
memang begitu, sih... Tapi, eeéh... biasanya, apa orang akan langsung percaya
kata-kata seperti itu? Bagus sih kalau kalian jujur, tapi kalau sampai begini
aku jadi agak khawatir... Ah! Apa itu artinya kalian sangat
memercayaiku? Makanya kalian langsung percaya? ...Kalau begitu, betapa baiknya
kalian! Lloyd sudah sangat menempel padaku sejak kecil, dan ternyata sampai
sekarang dia masih memercayaiku sedalam ini... Ahh, kalau saja bukan karena
tugas sebagai Saint, aku ingin tetap di sini selamanya!"
Setelah bergumam sendiri seperti itu, dia kembali ke gaya
bicaranya yang biasa.
"...Fuhahhahhahha! Semangat kalian yang langsung
memercayaiku itu patut dipuji! Itulah Meja Bundarku yang sebenarnya! Kalau
begitu, mari kita selamatkan tanah air kita bersama dengan kekuatan kita!"
Celia kembali bersemangat sendirian. Orang ini memang
seleranya agak berlebihan sih.
Di saat yang lain sedang kebingungan, Sylpha melangkah
maju.
"Anda menyadari krisis Saloum melalui kekuatan
Anda... yaitu 'Ramalan', bukan, Celia-sama?"
"...Ah, kau sudah tahu ya, Putri Pedang Perak.
Pantas saja kau tidak terkejut."
Benar, kekuatan Celia adalah meramal masa depan.
Saat aku masih kecil, dia sering meramal hal-hal sepele
seperti kapan seseorang akan jatuh atau kapan angin akan bertiup,
menunjukkannya padaku seolah itu adalah trik sulap biasa.
Aku menyadari kalau itu adalah ramalan sejak tahap awal,
tapi aku tetap tidak bisa memahami bagaimana cara kerjanya.
Aku pura-pura tidak tahu dan menyuruhnya melakukannya
berkali-kali, tapi tetap saja aku tidak paham.
Meskipun begitu, Celia yang dulu hanya bisa melihat
beberapa detik ke depan. Sekarang sepertinya dia sudah bisa melihat hingga
beberapa hari ke depan.
Itulah sebabnya dia pulang di saat-saat terakhir. Celia
berdehem pelan dan melanjutkan penjelasannya.
"Sekitar tiga hari yang lalu, aku melihat
ramalan tentang hancurnya Saloum dan langsung bergegas pulang. Waktunya kemungkinan besok
sore... Kegelapan hitam akan menyelimuti seluruh area dengan istana sebagai
pusatnya... Ini bukan kiasan, tapi benar-benar nyata."
Oho,
jadi penyebab kehancurannya adalah istana ya.
Dengan ini saja, lokasinya sudah sangat menyempit.
Cahaya harapan mulai terpancar dari wajah semua orang.
"Tapi kenapa lapornya ke Lloyd? Bukankah sebaiknya
lapor ke Albert-sama atau yang lainnya?" tanya Tao.
"Tentu saja, aku sudah mengatakannya. Tapi Kakak
Albert menyuruhku untuk meminta banLloyd-sama. ...Huh, sepertinya kau
mendapatkan kepercayaan yang sangat dalam ya. Memang pantas menjadi Meja
Bundarku. Aku jadi bangga padamu. Fuhahhahhahha!"
"E-eto... haha..."
Yah, Albert pasti sedang sibuk, sih.
Kalau dia menyebarkan ramalan Celia apa adanya, kepanikan
tidak akan terhindarkan.
Apalagi besok adalah Festival Pendirian Negara, ada
banyak sekali hal yang harus dikerjakan.
Dalam situasi seperti itu, dia mungkin berpikir lebih
baik menyerahkan semuanya pada pangeran ketujuh sepertiku. Rasanya itu lebih ke
arah penilaian logis daripada sekadar kepercayaan.
"Seperti yang diharapkan dari Albert-sama. Keputusan
yang bijaksana," sahut Sylpha.
"Yah, menyerahkannya pada Lloyd adalah pilihan yang
bagus. Karena ada aku juga di sini," tambah Tao.
Sylpha dan yang lainnya mengangguk setuju... tapi tetap
saja penilaian mereka terhadapku agak aneh.
Meskipun begitu, karena ini adalah masalah besar, aku
tidak boleh gagal... Yah, biarkan saja semua pujiannya nanti kuberikan pada Celia.
Untungnya Celia adalah seorang Saint, semua orang pasti akan maklum
kalau masalah ini selesai berkat kekuatan misteriusnya. Umu, umu.
"Ayo, wahai Meja Bundarku! Mari kita temukan
penyebab kehancuran ini bersama-sama! Kita tidak punya waktu untuk bersantai
meski cuma sedik—nyat!?"
Terdengar suara garit. Sepertinya Celia tidak
sengaja menggigit lidahnya sendiri dengan keras sampai dia berjongkok
kesakitan.
Aah, itu karena cara bicaranya yang aneh. ...Apa dia
tidak apa-apa ya? Yah, semoga saja.
Kami memutuskan untuk pura-pura tidak melihat kejadian
itu dan mulai bergerak untuk mencari penyebabnya.



Post a Comment