NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi V2 Chapter 2

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 2

Pertemuan Kembali setelah Sembilan Tahun

"Kalau begitu, nanti aku hubungi lagi ya."


"Sip. Hati-hati di jalan."


"Kalian berdua juga ya!"


Saat matahari mulai terbenam, aku dan Aoi-san yang sudah kembali ke lingkungan rumah kami sedang melepas kepergian Eiji dan Izumi di halte bus.


Setelah itu, entah bagaimana ceritanya kami benar-benar bermain sampai waktu operasional berakhir pukul 17.00, dan baru sampai di halte terdekat sekitar pukul 18.00 lewat. Matahari sudah mulai condong, tapi karena ini musim panas, langit masih terasa cukup terang.


"Kita juga pulang, yuk?"


"Iya. Ayo."


Setelah sosok mereka berdua tidak terlihat lagi, kami pun meninggalkan halte.


Jarak ke rumah tidak terlalu jauh, tapi karena area ini berlawanan arah dengan sekolah maupun tempat kerja paruh waktu Aoi-san, tempat ini agak jauh dari jangkauan aktivitas harian kami biasanya. Jalan yang sedang kami lalui sekarang pun adalah jalan yang jarang sekali kami lewati jika tidak ada keperluan seperti hari ini.


"Benar-benar lelah ya habis main. Badanku rasanya agak pegal."


"Aku juga. Sepertinya hari ini bakal tidur nyenyak."


"Karena bakal repot kalau harus masak makan malam setelah sampai rumah, bagaimana kalau kita makan dulu sebelum pulang? Mumpung masih agak sore. Jadi nanti sampai rumah tinggal mandi, dan kalau mau langsung tidur pun bisa kapan saja."


"Boleh. Ayo lakukan itu."


"Aoi-san, ada makanan yang sedang ingin kamu makan?"


"Hmm, apa ya..."


Saat aku mengeluarkan ponsel untuk mencari apakah ada restoran bagus di sekitar sini, tepat saat itu pesan dari Izumi masuk. Belum sempat aku berpikir ada apa, bunyi notifikasi bergema berturut-turut lebih dari sepuluh kali.


Aku sempat berpikir ini pasti kejahilan, tapi saat aku membuka aplikasi pesan...


"L-loh... ini!?"


Yang terpampang di layar bukanlah pesan teks, melainkan gambar.


Ternyata, yang dikirim oleh Izumi adalah foto-foto Aoi-san dalam balutan baju renang. Ada foto Aoi-san sendirian, foto berdua dengan Izumi, tentu saja ada foto bersamaku juga, bahkan ada foto yang diambil sembunyi-sembunyi yang sudutnya cukup berani.


Sepertinya dia sudah selesai mengirim semua foto, karena terakhir ada satu pesan teks yang masuk.


『Pakai ini untuk "lauk" hari ini ya ♪』


Gak usah sok perhatian juga kali! Tapi terima kasih. Aku memang sudah percaya padamu, Izumi!


Aduh... aku ingin cepat-cepat pulang, mengurung diri di kamar, masuk ke bawah selimut, dan memelototi foto-foto ini baik-baik.


Foto ini akan kujaga seumur hidup. Tidak, bukan cuma seumur hidup. Aku akan menjadikannya harta karun keluarga Akamori selama ratusan tahun ke depan, diwariskan turun-temurun tanpa memutus garis keturunannya.


Tepat saat aku sedang mengikrarkan sumpah konyol karena saking terharunya...


"Akira-kun, ada apa... eh?"


Karena lupa kalau Aoi-san ada di sampingku saat aku sedang menengadah ke langit, tiba-tiba saja dia mengintip ke arah ponselku.


Gawat——pikirku. Ingin menyembunyikan ponsel pun sudah terlambat.


"Ini... foto hari ini?"


"Bukan! Ini Izumi yang asal kirim sendiri, bukannya aku yang minta——!"


Terdengar sangat mirip alasan klasik, tapi aku tidak berbohong. Hanya saja, karena ada niat terselubung di baliknya, sepertinya membuktikan kesucian diriku akan sangat sulit.


"Akan langsung kuhapus kok!"


Karena sudah ketahuan oleh orangnya langsung, tidak mungkin aku menyimpannya diam-diam.


Di luar aku berpura-pura tenang seolah ingin berkata, 'Si Izumi itu, berani-beraninya mengambil foto sembunyi-sembunyi, bikin repot saja ya', padahal di dalam hati aku sudah menangis seperti bendungan jebol saat hendak menghapusnya.


Tiba-tiba, Aoi-san memegang tanganku.


"T-tidak apa-apa... bukankah sebaiknya tidak usah dihapus saja?"


"Eh...? Boleh?"


Meski berkata begitu, wajah Aoi-san merah padam dan matanya melirik ke sana kemari. Bagaimana pun aku melihatnya, dia terlihat sangat malu...


"Tapi Aoi-san, kupikir kamu pasti malu kalau foto-foto seperti ini tetap disimpan."


"Malu sih. Malu, tapi... ini kenang-kenangan, kan?"


Tiba-tiba, aku teringat apa yang kami bicarakan saat menuju kolam renang tadi pagi.


Eiji bilang ingin membuat kenangan denganku karena ini musim panas terakhir masa SMA yang dihabiskan bersama. Izumi dan Aoi-san pun berkata ingin membuat kenangan, bukan sekadar mencari rumah nenek.


"Tidak usah dihapus, berikan juga padaku."


"Aoi-san, kamu mau fotomu sendiri?"


"Bukan itu... aku mau foto yang ada kita berdua, Akira-kun."


Aoi-san menunduk dengan wajah yang saking merahnya sampai seolah-olah ada uap keluar dari kepalanya.


"O-oh, begitu ya. Oke, akan segera kukirim!"


Aku buru-buru menyimpan fotonya dan meneruskannya ke ponsel Aoi-san.


"Ini sepertinya sudah semua."


"Iya. Terima kasih. Akan kujaga baik-baik."


Meskipun malu, Aoi-san memasang senyum yang tampak puas.


Aduh, melihat Aoi-san yang tersipu malu membuatku ikut-ikutan malu sampai tidak sanggup menatapnya langsung. Wajahku saat ini pasti sangat merah, tapi tolong anggap saja ini karena pantulan cahaya matahari terbenam.


"Kalau begitu, jadi kita mau makan malam apa!"


"I-iya benar juga. Mau makan apa ya."


Tepat saat aku mencoba mengembalikan pembicaraan dengan nada tinggi untuk mengusir rasa malu, tiba-tiba Aoi-san menghentikan langkahnya dan melihat sekeliling.


"Ada apa?"


"Iya. Apartemen tempat tinggalku dulu, ada di dekat sini."


"Eh? Benarkah?"


Tanpa sadar kami berjalan sambil teralihkan pembicaraan, dan tahu-tahu kami sudah sampai di area pemukiman yang tenang.


Di antara deretan rumah pribadi yang relatif baru, terlihat juga beberapa bangunan apartemen atau rumah susun.


Seperti yang Eiji ingatkan padaku di hari upacara penutupan, aku dan Aoi-san berasal dari TK yang sama. Jika kami bersekolah di TK yang sama, aku sudah menduga rumah kami pasti tidak berjauhan, tapi ternyata jaraknya lebih dekat dari yang kubayangkan.


"Padahal baru dua bulan berlalu, tapi rasanya sudah lama sekali ya..."


Aoi-san bergumam pelan sambil terus melihat ke sekeliling.


Melihat sosoknya, aku teringat kembali saat pertama kali aku bertemu Aoi-san. Sebagai orang yang mengetahui situasi Aoi-san kala itu, tidak sulit bagiku untuk membayangkan perasaan apa yang berkecamuk di dalam dirinya saat memandang pemandangan ini. Perasaan itu pasti jauh dari kata positif.


Mata Aoi-san tampak diselimuti sedikit mendung kesedihan.


"Mumpung sudah di sini, mau mampir sebentar?"


Saat aku bertanya begitu, Aoi-san menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak usah. Rumahku yang sekarang adalah rumah Akira-kun."


"Begitu ya..."


Melihat Aoi-san yang tersenyum saat mengatakannya, aku pun merenung. Banyak hal telah terjadi pada Aoi-san, dan banyak pula yang telah terjadi di antara kami. Namun, bagiku, melihatnya bisa tersenyum seperti sekarang saja sudah cukup. Mungkin tidak perlu sengaja menoleh ke masa lalu yang menyedihkan. 


Jika pun suatu saat nanti ada waktu di mana kami harus menoleh meskipun tidak mau, aku yakin itu bukan sekarang. Mungkin nanti, saat waktu telah menyembuhkannya, atau saat hatinya sudah benar-benar siap.


"Untuk makan malam, Aoi-san ingin makan apa?"


"Hmm. Mari kita lihat, anu—"


Tepat saat aku bertanya kembali.


"......Aoi?"


Bersamaan dengan suara langkah kaki, sebuah suara yang tidak kukenal memanggil nama Aoi-san. Mendengar nada bicara yang tidak biasa, aku menoleh dan mendapati sosok seorang pria yang asing bagiku. Penampilannya sekitar umur empat puluh tahun. Mengenakan setelan jas, dia tampak seperti pria kantoran yang kompeten. 


Pria itu menatap Aoi-san dengan tatapan yang bisa diartikan sebagai rasa terkejut sekaligus ragu.


...Karena dia tahu namanya, apakah dia kenalan Aoi-san?


Baru saja aku berpikir bahwa dia terlihat jauh lebih tua untuk ukuran seorang kenalan.


"......Ayah?"


"Eh—?"


Kata-kata yang tak terduga itu melesat melewati telingaku.


Pria ini... ayahnya Aoi-san?


"Ternyata benar Aoi! Syukurlah...... Ayah mencarimu. Kamu sudah besar ya......"


Berbanding terbalik dengan sang ayah yang memasang wajah lega, wajah Aoi-san justru tampak diselimuti kebingungan.


"Kenapa Ayah...... ada di sini?"


"Ibumu menghubungiku."


"Ibu?"


"Iya. Dia memintaku untuk mengambil hak asuhmu."


"Eh......?"


Mendengar perkataan ayahnya, wajah Aoi-san tampak berkerut seolah-olah ada retakan yang muncul di sana. Ini pertama kalinya aku melihat Aoi-san memasang ekspresi yang begitu pedih.


"Saat Ayah datang ke alamat yang diberikan, pemilik apartemen bilang kamu sudah pindah. Selama sebulan ini, Ayah selalu menyisihkan waktu untuk mencarimu di sekitar sini...... Ayah senang bisa bertemu denganmu."


Perkembangan yang terlalu tiba-tiba ini membuatku harus berusaha keras hanya untuk memahami situasi.


Hanya saja, entah mengapa...... hatiku merasa gelisah dan tidak tenang.


"Tidak enak bicara sambil berdiri, ayo kita masuk ke kafe dekat sini dan bicara pelan-pelan. Pemuda di sampingmu ini...... teman sekolah, ya? Maaf, tapi aku ingin bicara berdua saja dengan Aoi. Permisi ya."


Tepat saat sang ayah hendak membawa Aoi-san pergi.


"......Aoi-san?"


Tiba-tiba Aoi-san memegang tanganku dan menggenggamnya dengan erat. Tangannya yang sedikit gemetar itu bukanlah sekadar imajinasiku.


"Akira-kun juga...... ikutlah bersamaku."


"Aku juga?"


Aku tidak menyangka Aoi-san akan mengatakan hal seperti itu. Melihat matanya yang seolah memohon, tidak ada alasan bagiku untuk menolak.


"Izinkan saya ikut bersama kalian."


"Kamu juga ikut?"


Aku berdiri di depan Aoi-san, menghadap ayahnya seolah sedang melindunginya. Sang ayah menatapku dengan ekspresi yang bisa dibilang antara terkejut dan bingung.


"Saya tahu semua situasi Aoi-san. Apa yang telah terjadi padanya selama ini, dan kehidupan seperti apa yang dia jalani selama dua bulan terakhir. Kurasa ada beberapa hal yang juga bisa saya sampaikan."


Setelah menunjukkan sikap seolah sedang berpikir sejenak.


"......Baiklah. Kalau begitu, mari kita bicara bertiga."


Hingga saat ini, akal sehatku belum benar-benar bisa mengejar kejadian yang mendadak ini. Meski begitu, aku tidak bisa membiarkan Aoi-san yang jelas-jelas sedang terguncang begitu saja.



Setelah itu, kami melangkah menuju sebuah kafe demi mencari tempat untuk bicara dengan tenang.


Karena sudah sore, bagian dalam kafe tampak sepi, dan pelayan mempersilakan kami duduk di kursi mana pun yang kami suka. Mungkin karena ini pembicaraan yang sensitif, sang ayah mengarahkan kami ke kursi untuk empat orang yang berada di paling pojok, menghindari pelanggan lain. Aku dan Aoi-san duduk bersisihan, sementara sang ayah duduk tepat di depan Aoi-san.


Setelah minuman yang dipesan tiba, sang ayah membuka pembicaraan setelah keheningan singkat.


"Sudah sembilan tahun ya kita tidak bertemu seperti ini...... Apa kabarmu baik?"


"Iya......"


"Begitu. Syukurlah kalau begitu."


Udara kecanggungan yang nyata menyelimuti mereka berdua. Jika ini adalah pertemuan kembali setelah sembilan tahun, mungkin hal itu wajar saja terjadi.


"......Padahal kita sudah lama tidak bertemu, hebat ya Ayah bisa mengenaliku."


"Iya. Itu karena Ibumu sesekali mengirimkan foto."


"Begitu ya......"


Aoi-san terus menunduk, tidak mencoba untuk membalas tatapan ayahnya.


Setidaknya, suasananya sama sekali tidak terlihat seperti reuni orang tua dan anak yang mengharukan.


"Ayah tahu Ayah muncul tiba-tiba dan mengejutkanmu. Pertama-tama, izinkan Ayah menjelaskan."


Setelah menyelesaikan basa-basi yang terasa hambar, sang ayah mulai bicara perlahan sambil menatap gelas di tangannya.


"Sekitar satu bulan yang lalu, pertengahan Juni——Ibumu mengirim pesan memintaku untuk mengambil hak asuhmu. Begitu mendengar Aoi tinggal sendirian, Ayah bergegas mendatangi apartemen yang diberitahukan, tapi Aoi tidak ada di sana. Saat Ayah menghubungi pemilik apartemen, dia bilang kamu sudah pindah beberapa waktu sebelumnya karena menunggak uang sewa."


Sekitar pertengahan Juni...... berarti sekitar dua minggu setelah aku mulai tinggal bersama Aoi-san.


Secara kronologis, tidak ada kejanggalan dalam ceritanya. Memang benar dia mencari Aoi setelah dihubungi oleh ibunya.


Aku sudah tahu, tapi mengetahui betapa bejatnya perilaku ibunya membuat kemarahanku meluap kembali. Membiarkan putrinya bekerja paruh waktu demi rumah tangga, lalu dia sendiri pergi dengan laki-laki lain, dan akhirnya melemparkan tanggung jawab kepada mantan suaminya. Mungkin ada orang yang berpikir bahwa setidaknya si ibu masih cukup baik karena tidak menelantarkannya begitu saja, tapi itu salah. Ini adalah pernyataan sikap dari ibunya bahwa Aoi-san sudah tidak dibutuhkan lagi. Dengan kata lain, ini berarti pemutusan hubungan total dengan putrinya. Aku sama sekali tidak merasa dia menghubungi suaminya karena mengkhawatirkan keselamatan Aoi.


"Karena jejaknya tidak ditemukan, aku menghubungi ibunya berharap setidaknya tahu SMA mana yang dimasuki Aoi, tapi tidak ada jawaban. Selama ini dia hanya menghubungi secara sepihak, dan hampir tidak pernah membalas hubunganku, jadi aku tidak terlalu berharap... Itulah sebabnya, aku selalu menyisihkan waktu untuk mencari di sekitar sini."


Menyisihkan waktu, ya...


Melihat setelan jasnya, sepertinya hari ini pun dia mencari setelah pulang kerja.


"Meski memakan waktu, Ayah senang akhirnya bisa bertemu..."


Sang ayah memasang ekspresi lega, sama seperti saat pertama kali bertemu tadi. Namun, Aoi-san tetap menunduk dengan ekspresi kaku.


"Ngomong-ngomong... apa hubunganmu dengan Aoi?"


Sang ayah mungkin merasa canggung karena Aoi-san terus terdiam, lalu dia mengalihkan pandangannya padaku. 


Sejujurnya, aku bingung harus menjawab apa. Sejak tadi Aoi-san hanya diam menunduk, bahkan tidak mencoba menatap ayahnya. Melihat sosoknya, jelas sekali dia terguncang, dan kurasa dia tidak dalam kondisi yang bisa bicara dengan tenang.


Oleh karena itu, kupikir lebih baik aku yang menjelaskan situasinya.


"Maaf saya terlambat memperkenalkan diri. Saya teman sekelas Aoi-san, nama saya Akamori Akira."


"Akira-kun, ya. Tadi kamu bilang tahu tentang situasi Aoi..."


Aku mengangguk, lalu segera mengutarakan fakta yang harus disampaikan.


"Berbicara jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi, Aoi-san saat ini tinggal bersama saya di rumah saya."


"Tinggal bersama?"


Kepada sang ayah yang tampak terkejut, aku mulai menjelaskan kronologinya secara berurutan. Tentang pertemuanku dengan Aoi-san di hari hujan pada awal Juni. Tentang aku yang mengetahui situasinya dan mengusulkan agar dia tinggal bersamaku sampai aku pindah sekolah nanti. Keluargaku sudah pindah lebih dulu karena mutasi kerja Ayah, jadi sekarang kami tinggal berdua. Fakta bahwa orang tuaku juga mengetahui hal ini, dan meski tinggal berdua sebagai lawan jenis, tidak ada hal senonoh yang terjadi sama sekali.


"Jadi begitu ceritanya..."


Setelah penjelasan berakhir, sang ayah mengangguk sambil sedikit mengernyitkan dahi. Meskipun orang tuaku sudah mengizinkan dan tidak terjadi apa-apa, orang tua mana pun yang waras pasti tidak akan merasa tenang mengetahui putri kandungnya tinggal berdua dengan laki-laki. Aku sudah bersiap akan dimarahi atau diprotes, tapi...


"Terima kasih sudah melindungi Aoi."


"...Hah?"


Sang ayah menundukkan kepalanya dalam-dalam. Pemandangan yang kulihat terlalu tak terduga hingga muncul tanda tanya di kepalaku.


"Kalau Akira-kun tidak bersama Aoi, pasti sekarang dia sudah dalam kesulitan besar. Mungkin dia bahkan tidak bisa lanjut sekolah. Sebagai ayahnya, izinkan aku berterima kasih. Jika ada kesempatan, aku ingin menyapa orang tuamu secara resmi."


"............"


Mungkin bagi seorang ayah, menundukkan kepala demi putrinya adalah hal yang benar. Bisa berterima kasih dengan tulus kepada teman yang mengulurkan tangan di saat putrinya dalam krisis—bukankah dia ayah yang luar biasa? Mungkin semua orang yang melihat pemandangan ini akan berkata demikian.


Namun, jawaban yang terasa seperti "jawaban teladan" ini justru memicu keraguanku. Seorang laki-laki yang baru pertama kali ditemuinya, yang asal-usulnya tidak jelas, tinggal berdua dengan putri kandungnya. Meskipun aku bilang tidak ada hal senonoh, tidak ada orang tua yang akan percaya begitu saja. 


Jika dia sangat menyayangi putrinya, wajar saja jika dia curiga atau marah, tapi dia tidak melakukannya. Sedikit pun, aku tidak bisa melihat ayah ini dengan pandangan positif.


"Aku sudah merepotkan Akira-kun, tapi tenang saja. Mulai sekarang, aku yang akan mengurus Aoi."


"Eh...?"


Aoi-san mengeluarkan suara terkejut lebih cepat dariku. Kata-kata yang menyusul seolah semakin menyudutkan Aoi-san.


"Aoi, maukah kamu tinggal bersama kami mulai sekarang?"


"Kami...?"


Bukan denganku, tapi dengan kami—. Makna kata itu segera dijelaskan oleh ayahnya.


"Sebenarnya, setelah berpisah dengan ibumu, Ayah menikah lagi."


Aku melihat kepalan tangan Aoi-san mengeras di bawah meja.


"Ayah punya putra berusia lima tahun, dan sekarang kami bertiga tinggal di prefektur tetangga. Ayah sudah menceritakan tentang Aoi kepada mereka berdua, dan mereka setuju jika kita tinggal bersama, jadi jangan khawatir. Sebagai tebusan atas penderitaanmu selama ini, mulai sekarang Ayah akan bertanggung jawab untuk mendukungmu."


Fakta mengejutkan terungkap begitu saja.


Aku bisa merasakan guncangan emosi dari Aoi-san yang duduk di sampingku. Seorang ayah yang menelantarkannya selama sembilan tahun tiba-tiba muncul, sudah menikah lagi, dan bahkan punya anak laki-laki—yang berarti adik tiri Aoi-san. Siapa pun pasti akan terguncang mendengarnya. Rasanya mustahil bisa merasa senang dengan reuni ini. Tidak, sejak awal aku tidak merasa Aoi-san senang bertemu kembali dengan ayahnya.


"Beri aku waktu... untuk berpikir..."


Setelah beberapa saat, Aoi-san akhirnya mengeluarkan sepatah kata.


"Baiklah. Ayah mengerti kalau kamu tidak bisa langsung memutuskan setelah mendengar tawaran mendadak ini. Tidak perlu terburu-buru, pikirkanlah pelan-pelan. Tapi, bisakah Ayah mendapatkan jawabannya selama liburan musim panas ini? Jika ingin tinggal bersama, lebih cepat lebih baik. Ada prosedur pindah sekolah dan pindah rumah juga, kan."


Pindah rumah dan pindah sekolah—.


Benar... ayahnya bilang dia tinggal di prefektur lain. Jika tinggal bersama ayahnya, Aoi-san harus meninggalkan kota ini.


"Iya. Aku mengerti..."


Setelah itu, mereka berdua saling bertukar kabar singkat mengenai situasi masing-masing, lalu saling bertukar kontak. Sang ayah juga bertukar kontak denganku sambil berkata, "Tolong hubungi aku jika terjadi sesuatu pada Aoi," sebelum akhirnya meninggalkan kafe.


Di luar, matahari sudah benar-benar tenggelam dan sekeliling telah diselimuti kegelapan.


Meskipun ini musim panas dan seharusnya terik, entah mengapa... aku merasakan hawa dingin yang aneh, lebih dari biasanya.



Sesampainya di rumah, kami hanya menyantap makan malam yang sederhana. Tadi kami memang berencana makan di luar, tapi tepat setelah reuni dengan ayahnya, kami tidak sedang dalam suasana hati untuk menikmati makan di restoran, jadi kami langsung pulang dan begitulah keadaannya sekarang.


Aku membiarkan Aoi-san mandi duluan, sementara aku mencuci piring sambil merenung.


"Ayah, ya..."


Kesan yang kulihat adalah dia seperti pegawai kantoran biasa. Penampilannya rapi, pembawaannya tenang, dan sekilas dia tidak terlihat seperti orang jahat.


Meski begitu, aku tetap tidak bisa memiliki kesan yang baik terhadap ayah Aoi-san. Jika aku mengesampingkan emosi pribadiku, munculnya sang ayah seharusnya adalah hal yang bagus. Masalah yang dihadapi Aoi-san bisa terselesaikan, dan memiliki pilihan lain selain mengandalkan neneknya adalah hal yang patut diterima secara positif.


Aku tahu itu. Namun tetap saja, aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia baru datang menjemput karena diminta oleh sang ibu.


Setelah menelantarkannya selama sembilan tahun, dan selama waktu itu dia mendapatkan kebahagiaannya sendiri... jika ibunya tidak meminta, mungkin sampai sekarang dia akan tetap membiarkan Aoi-san begitu saja, hidup bahagia tanpa kekurangan bersama keluarga barunya. Baik atau buruk, anaklah yang selalu menjadi korban yang terombang-ambing oleh kepentingan orang tua.


Aku tidak bisa menahan rasa kasihan yang mendalam pada Aoi-san. Tentu saja, perceraian orang tuanya adalah urusan keluarga Aoi-san, dan mungkin ada alasan yang tidak kuketahui. Mungkin ada alasan khusus yang membuat mereka terpaksa memilih perceraian.


Tapi apakah aku ini terlalu berpikiran sempit karena tetap menyimpan rasa muak?


Entahlah... sekalipun ada logika atau alasan di baliknya, ada bagian dari diriku yang tidak ingin menerimanya.


"Terima kasih atas mandinya."


Saat aku selesai mencuci piring, Aoi-san kembali ke ruang tamu.


"Sisanya biar aku yang kerjakan, Akira-kun mandi saja."


"Terima kasih. Semuanya sudah kucuci, tinggal dilap dan dikembalikan ke rak saja."


"Iya. Aku mengerti."


Menyerahkan sisanya padanya, aku mengambil baju ganti dan menuju kamar mandi. Setelah melepas pakaian dan masuk ke kamar mandi, aku keramas dan menyabuni badan seperti biasa, lalu berendam di bak mandi.


"Fuu..."


Ada pepatah yang bilang bahwa mandi adalah mencuci hati. Tanpa sadar aku mendesah, seolah-olah pikiran buruk ikut hanyut bersama kotoran di tubuh.


Akhirnya, dengan kepala yang sedikit lebih tenang, aku mencoba berpikir. Terlepas dari kesanku terhadap ayahnya, yang memutuskan langkah selanjutnya adalah Aoi-san.


Aku yang orang luar tidak punya hak untuk mencampuri, dan yang harus diprioritaskan adalah perasaan Aoi-san. Jika tinggal bersama ayahnya adalah yang terbaik untuknya, dan dia memang menginginkan itu, maka tidak apa-apa.


Jika Aoi-san bisa bahagia, rasa muak dalam diriku hanyalah hal sepele.


"...Tapi aku tidak bisa mendiamkan ini hanya karena merasa canggung, kan?"


Pentingnya berdialog adalah hal yang sering diajarkan Eiji padaku selama semester pertama.


Pada dasarnya, manusia tidak bisa saling memahami sepenuhnya. Mustahil untuk saling mengerti tanpa mengutarakan apa yang dipikirkan lewat kata-kata. Itulah sebabnya, demi memahami perasaan satu sama lain, komunikasi tidak boleh terputus. Bahkan antar keluarga saja sulit untuk saling memahami, apalagi antar orang lain yang berbeda lawan jenis.


Kasus kali ini pun sama. Aku punya firasat jika masalah ini diabaikan sekarang, semuanya akan terlambat.


"Baiklah...!"


Setelah tubuhku cukup hangat, aku memantapkan hati dan keluar dari kamar mandi. Setelah mengeringkan rambut dan kembali ke ruang tamu, Aoi-san sedang duduk di sofa.


Aoi-san tidak menyadari kehadiranku; pandangannya tertuju ke televisi, tapi fokusnya tidak ada di sana. Dia menatap kosong ke udara, seolah sedang melarikan diri dari kenyataan.


"Terima kasih sudah membereskan piringnya."


"Ah, iya."


Saat aku menyapa, dia akhirnya menyadari keberadaanku dan tersenyum seolah baru teringat untuk melakukannya. Reaksi itu saja sudah cukup bagiku untuk memahami apa yang ada di dalam hatinya.


"Aku mau minum teh gandum, Aoi-san mau juga?"


"Iya. Terima kasih."


Aku menuangkan teh gandum ke dalam dua gelas, lalu duduk di samping Aoi-san dan menyerahkan salah satu gelas padanya.


“”.....””


Atmosfer yang berat ini bukanlah sekadar imajinasiku.


"Terima kasih sudah ikut menemaniku bicara dengan Ayah tadi."


Aoi-san lah yang memulai pembicaraan.


"Aku sama sekali tidak keberatan. Lagipula, kupikir lebih baik aku ada di sana untuk menjelaskan situasinya."


"Iya. Jika aku sendirian, aku tidak tahu harus bicara apa."


"Wajar saja, kalian sudah tidak bertemu selama sembilan tahun."


"Iya..."


Aoi-san menundukkan pandangannya, rambut panjangnya jatuh tergerai dari bahunya. Wajahnya tersembunyi oleh rambut, sehingga aku tidak bisa melihat ekspresi seperti apa yang sedang dia tunjukkan.


"Orang tuaku... bercerai saat aku kelas satu SD."


Kemudian, Aoi-san mulai menceritakan masa lalunya perlahan. Itu terdengar seperti sebuah monolog untuk menumpahkan perasaan yang selama ini dia pendam.


"Waktu aku kecil, mereka adalah orang tua yang rukun. Tapi, sekitar waktu aku masuk TK, hubungan mereka mulai memburuk... dan tanpa kusadari, mereka jadi sering bertengkar. Aku sangat sedih melihat mereka seperti itu. Aku tidak tahu bagaimana cara membuat mereka berdamai, dan kurasa hatiku yang masih kecil saat itu sangat menderita."


Itulah saat pertama kali kita bertemu. Penyebab Aoi-san selalu terlihat kesepian sendirian kala itu pastilah karena ketidakharmonisan orang tuanya.


"Aku berpikir kalau aku jadi anak baik, orang tuaku akan berbaikan. Jadi aku berusaha tidak manja, selalu tersenyum di depan mereka, dan menurut... tapi tetap tidak berhasil."


Mendengar itu, entah kenapa aku merasa mulai mengerti. Alasan Aoi-san sulit mengutarakan perasaannya, merasa enggan bergantung pada orang lain, dan tidak pernah memaksakan kehendak... semuanya berakar dari lingkungan keluarganya saat masih kecil.


Pengalaman masa kecil itu terus membuntutinya seperti kutukan dan membentuk sosok Aoi-san yang sekarang.


"Saat aku masuk SD, semuanya sudah terlambat... Suatu hari tiba-tiba Ayah tidak pulang lagi dan itu yang terakhir. Jadi, alih-alih merasa senang bisa bertemu, rasa terkejut jauh lebih besar..."


Bagi Aoi-san, pertemuan kembali dengan ayahnya mungkin terasa seperti membangkitkan trauma lama. Sebuah guncangan seperti dipaksa menghadapi sesuatu yang selama ini ingin ia hindari. Perasaan saat itu bukanlah sesuatu yang bisa dibayangkan oleh orang lain.


"Karena masih kecil, aku tidak tahu alasan mereka bercerai, dan setelah itu pun Ibu tidak pernah menceritakannya. Kalau saja aku diberi tahu, mungkin perasaan ini akan sedikit berbeda..."


Setelah selesai bercerita, Aoi-san menarik napas dalam berkali-kali, berusaha menenangkan perasaannya. Rasanya menyesakkan karena aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mendengarkan.


"Terima kasih sudah mau mendengarkan. Aku hanya... ingin ada seseorang yang mendengar ini."


"Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu mau bercerita."


Sebelumnya pun ada kesempatan di mana Aoi-san menceritakan tentang keluarganya. Namun, baru kali ini dia bercerita hingga sedalam ini. Beban ini terlalu berat untuk dipikul sendiri oleh seorang gadis SMA.


"Apa rencanamu selanjutnya?"


"Entahlah... bagaimana ya." 


Aoi-san tersenyum pahit. 


"Menurut Akira-kun, sebaiknya bagaimana?"


"Aku..."


Aoi-san menatapku lekat-lekat. Aku sulit mengukur makna di balik tatapan matanya itu.


"Aku akan menghargai apa pun pilihanmu."


Bagiku, aku bermaksud untuk mengutamakan perasaan Aoi-san.Namun jawaban ini, jika dipikirkan kembali nanti, adalah sebuah kesalahan.


"Kupikir ada banyak hal yang menjadi pertimbanganmu. Tapi yang terpenting adalah apa yang ingin kamu lakukan. Kurasa jawabannya tidak akan keluar sekarang, tapi aku akan membantumu memberi saran, jadi mari kita pikirkan pelan-pelan."


Kalimat yang kuucapkan demi memikirkan Aoi-san itu sebenarnya hanyalah cara untuk mengaburkan perasaanku sendiri.


Andai saja aku lebih jujur mengutarakan perasaanku saat itu, apakah hasilnya akan berbeda? Tapi saat itu, aku sendiri pun belum memahami perasaanku.


"Benar juga. Aku akan memikirkannya sebentar."


"Iya. Kalau ada apa-apa, aku siap jadi teman diskusi."


"Ehm. Terima kasih."


Menyebalkan—karena yang namanya penyesalan memang tidak pernah datang di awal.


Sejak malam itu, Aoi-san tidak pernah lagi menyinggung soal ayahnya.



Hari terakhir di bulan Juli, sore hari sebelum keberangkatan menuju vila milik keluarga Eiji—


Saat aku sedang menyedot debu di kamar lantai dua, tiba-tiba aku merasa mendengar suara bel pintu berbunyi.


"Hm? Perasaanku saja?"


Aku mematikan penyedot debu dan memfokuskan pendengaran ke lantai bawah. Ternyata bukan perasaanku, bel pintu berbunyi lagi seolah mendesak. Bunyi ting-tong yang bertubi-tubi itu seakan menyuruhku untuk segera membukakan pintu.


"Iya, iya, sabar sebentar, jangan ditekan terus."


Aku menghentikan kegiatan bersih-bersih dan menurunkan tangga menuju pintu depan.


Begitu pintu kubuka, wajah yang sangat kukenal langsung muncul di depan mata.


"Lama."


Di sana berdiri adik perempuanku, Hiyori, yang mengeluh dengan ekspresi datar seperti biasanya.


Hiyori jarang menunjukkan emosinya, dan dia memang lebih sering memasang wajah seperti ini. Sekilas dia tampak dingin atau tak acuh, jadi penampilannya sering disalahpahami. Padahal kenyataannya, dia punya perasaan yang dalam, sampai-sampai rela mengorbankan libur musim panasnya demi Aoi-san. Mungkin karena sifatnya yang cuek dan kedewasaan mentalnya yang tidak biasa, dia punya sedikit teman. Tapi bagi teman yang memahaminya, dia adalah tipe yang sangat disukai—tipe gadis yang menjalin hubungan secara sempit namun mendalam.


Karena usia kami hanya terpaut satu tahun, hubungan kami sangat setara layaknya saudara kembar.


"Maaf ya. Tadi aku sedang membersihkan kamar yang akan kamu pakai."


Entah kenapa aku merasa deja vu dengan percakapan ini.


Benar juga. Dulu saat Hiyori memergokiku tinggal bersama Aoi-san, kami juga bercakap-cakap seperti ini.


Waktu itu Hiyori pulang mendadak, dan karena aku panik menyembunyikan Aoi-san di lemari, aku terlambat membukakan pintu. Begitu pintu dibuka, kata pertama yang keluar adalah "Lama" dengan nada datar. Situasi yang persis sama ini terasa sangat khas Hiyori dan membuatku ingin tersenyum.


"Kenapa? Kamu senyum-senyum sendiri."


"Bukan apa-apa."


"O-o. Aku pulang."


"Ya. Selamat datang kembali."


Mungkin karena berjalan di bawah terik matahari, ada keringat di dahinya, tapi ekspresi dinginnya tetap tidak berubah.


Sudah satu bulan kami tidak bertemu, dan melihat sosok Hiyori yang tidak berubah ini memberiku rasa tenang yang aneh.Apakah aku merasa begini karena belakangan ini hatiku sedang tidak tenang?


"Masuklah dulu."


Aku membawakan koper perjalanannya dan menuju ruang tamu.


"Di luar panas, kan? Mau minum yang dingin?"


"Ehm. Mau."


Hiyori sedang mendinginkan diri di bawah AC sambil mengibas-ngibaskan kerah bajunya.


Saat aku menuangkan teh gandum dingin dan memberikannya, dia langsung meminumnya sampai habis—tampaknya dia sangat haus—lalu menyodorkan gelas kosong itu padaku tanpa kata. Sepertinya itu kode bahwa dia ingin tambah satu gelas lagi. 


Sambil menerima gelas dan menuangkannya kembali, aku bertanya pada Hiyori.


"Kira-kira begitu ya. Tadinya kupikir kamu bakal pulang lebih awal."


"Niatnya memang begitu, tapi ada hal yang ingin kuselesaikan dulu."


"Hal yang ingin kuselesaikan?"


"PR liburan musim panas. Karena sepertinya sebagian besar waktu liburan akan habis untuk mencari rumah nenek Aoi-san, kupikir lebih baik aku menyelesaikannya di bulan Juli."


"......Sudah selesai semua?"


"Iya."


Serius nih? Aku sama sekali tidak terpikir soal itu. Malah, aku benar-benar lupa kalau ada yang namanya PR.


Kalau dipikir-pikir, Hiyori dari dulu memang tipe yang terencana dan bisa membereskan segala sesuatu dengan rapi. Tidak terbatas pada PR liburan saja, dalam hal apa pun dia sangat efisien dan cekatan. Sebaliknya, aku tidak bisa dibilang tipe yang terencana. Aku lebih sering bergerak berdasarkan insting atau mengikuti arus situasi.


Padahal kakak-beradik, tapi sifat kami bertolak belakang. Tapi bukan berarti kami tidak mirip sebagai saudara; Hiyori hanya mewarisi sifat teliti Ayah, sementara aku mewarisi sifat santai Ibu. Kami sendiri tidak mirip satu sama lain, tapi masing-masing mirip dengan orang tua kami—bukankah itu malah terasa sangat "keluarga"?


Terlepas dari itu, PR ya... untuk sekarang, aku akan berpura-pura tidak mengingatnya.


"Aoi-san mana?"


"Dia kerja paruh waktu dari pagi. Katanya dia mau bekerja sebanyak mungkin sekarang, soalnya nanti dia bakal izin libur sekitar dua minggu buat mencari neneknya. Harusnya sebentar lagi dia pulang."


"Begitu. Dia masih kelihatan kesulitan ya."


"Ya begitulah. Katanya dia ingin menabung demi masa depan."


Saat aku menjawab begitu, Hiyori menghela napas pelan.


"Ada apa?"


"Waktu aku bilang 'kelihatan kesulitan', itu maksudnya buat kamu, Akira."


"Aku? Kenapa?"


"Begitu melihat wajahmu, aku langsung tahu. Kamu pasti masih memendam kecemasan, kan?"


"............"


Tepat sasaran sampai aku tidak bisa membalas.


"Hiyori, kamu tajam sekali seperti biasa..."


"Memangnya sudah berapa tahun aku jadi adikmu, hah?"


Melihat Hiyori yang jarang menunjukkan emosi kini sedikit mengangkat sudut bibirnya, sepertinya dia sedang bermaksud pamer. Kalau rahasia terbongkar semudah ini, aku pasrah saja meski dia bersikap sombong. Sekali lagi, aku benar-benar sadar kalau aku tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Hiyori.


"Cerita saja. Lagipula ini pembicaraan yang sulit diungkapkan kalau ada Aoi-san, kan?"


"Iya..."


Atas desakan Hiyori, aku duduk di sofa dan mulai menceritakan kejadian beberapa hari lalu.


Tentang ayah Aoi-san yang muncul di hadapan kami saat pulang dari kolam renang. Katanya ayahnya mencari Aoi karena diminta oleh ibunya untuk mengambil hak asuh, lalu ayahnya mengajak Aoi tinggal bersama. Ayahnya juga sudah menikah lagi dan tinggal dengan keluarga barunya. Jawaban diminta diberikan selama liburan musim panas ini, dan jika mereka tinggal bersama, itu berarti Aoi harus pindah rumah dan pindah sekolah. Aoi-san bilang akan memikirkannya, tapi setelah itu kami belum membicarakannya lagi.


"Aku tahu ini bukan tawaran buruk buat Aoi-san. Kalau ternyata neneknya tidak ketemu, tinggal bersama ayahnya bisa jadi solusi untuk masalahnya. Tapi..."


"Wajahmu bilang kalau kamu tidak setuju."


Hiyori sudah menyadarinya bahkan sebelum aku mengucapkannya.


"Iya... ada bagian dari diriku yang tidak bisa menerima ini."


"Apa alasannya?"


"Sejujurnya, aku tidak bisa sepenuhnya percaya pada ayah yang menelantarkan putrinya selama sembilan tahun."


"Begitu ya."


Aku mengungkapkan perasaanku dengan jujur. Hiyori menyesap gelasnya, lalu berkata:


"Bukankah itu tidak apa-apa?"


"Eh...?"


Jawabannya di luar dugaan.


"Selama kita tidak tahu ayah Aoi-san itu orang yang seperti apa, wajar saja kalau kamu tidak percaya. Tidak menutup kemungkinan juga kalau dia memang orang jahat. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Aoi-san, tapi kurasa bukan hal buruk kalau kamu bersikap waspada terhadap ayahnya."


"Begitukah?"


"Meskipun ayah kandung, kalau tidak bertemu selama sembilan tahun, pasti banyak hal yang Aoi-san tidak ketahui. Memang Aoi-san yang memutuskan, tapi penting bagimu untuk tetap mengawasinya dengan baik."


Mendengar itu, ada bagian dari diriku yang merasa lega. Karena sebelumnya aku sempat berpikir apakah tidak sopan jika aku langsung waspada pada ayahnya, atau apakah aku ini jahat karena merasa muak padahal belum mengenalnya.


Tapi benar juga ya... selama belum tahu dia orang seperti apa, wajar saja kalau tidak bisa percaya begitu saja.


"Cuma, boleh saja berpikir dia mungkin orang jahat, tapi jangan langsung mencap dia jahat dan menolaknya secara buta. Ada kemungkinan juga dia sebenarnya orang baik kalau kamu sudah mengenalnya lebih dalam."


"Benar juga... Terima kasih. Aku akan berhati-hati."


Berkat Hiyori, perasaanku terasa sedikit lebih ringan. Benar-benar deh, terkadang aku lupa kalau dia ini masih kelas 3 SMP.


"Hanya itu?"


"Eh? Apanya yang hanya itu?"


"Alasan kamu tidak setuju, pasti ada yang lain, kan?"


"Tidak, kurasa... cuma itu."


Mendengar jawabanku, Hiyori menghela napas sedikit kesal.


"Akira, kamu selalu memprioritaskan Aoi-san. Itu bagus, dan itu hal yang luar biasa, tapi jangan cuma memikirkan dia terus. Kamu juga harus melihat perasaanmu sendiri."


"Perasaanku sendiri ya..."


Apakah memang ada alasan lain di dalam diriku yang membuatku tidak setuju? Aku mencoba berpikir, tapi memang perasaan sendirilah yang paling sulit dimengerti.


"Masalah ini, apakah Izumi atau Eiji-kun sudah tahu?"


"Tidak, aku belum cerita, dan kurasa Aoi-san juga belum."


"Kalau begitu, mungkin lebih baik kita melihat situasi dulu sebelum bicara dengan mereka berdua. Kurasa Aoi-san juga punya pertimbangan sendiri makanya dia diam, jadi sebaiknya kita biarkan dia tenang dulu untuk sementara waktu."


"Benar juga."


Tepat saat pembicaraan kami selesai.


"Aku pulang."


Tiba-tiba suara Aoi-san terdengar dari pintu depan. Aoi-san yang baru pulang melangkah dengan tergesa-gesa menuju ruang tamu.


"Hiyori-chan. Selamat datang kembali."


Sepertinya dia menyadari Hiyori sudah pulang setelah melihat sepatunya di depan.


Menyambut pertemuan kembali setelah sekian lama, Aoi-san menyapa Hiyori dengan senyuman lebar.


"Aku pulang. Selamat datang kembali juga, Aoi-san."


"Iya. Aku pulang."


Kalau dipikir-pikir lagi, pertemuan pertama mereka berdua adalah yang terburuk. Rahasia bahwa aku tinggal bersama Aoi-san terbongkar, dan Aoi-san harus menghabiskan waktu yang terasa seperti penyiksaan bagi orang pemalu sepertinya, karena Hiyori terus mencecar hubungan kami seperti sedang diinterogasi.


Sejak saat itu, mereka berdua bertukar kontak dan sepertinya sering berkomunikasi. Aoi-san bahkan bilang akhir-akhir ini mereka membuat grup pesan bertiga bersama Izumi dan berteman akrab. Terlepas dari apa yang mereka bicarakan, hubungan yang baik itu adalah hal yang bagus.


Begitulah pikirku, tapi...


"Langsung saja ya, bagaimana perkembangan hubungan kalian berdua setelah itu?"


“"Eh?"”


Mendengar desakan tiba-tiba dari Hiyori, aku dan Aoi-san spontan tersentak.


Aku tidak menyangka itu akan menjadi kalimat pertama dalam percakapan kami bertiga.


"A-apa maksudmu dengan perkembangan hubungan?"


Sebenarnya tidak perlu bertanya pun aku sudah tahu, tapi aku mencoba pura-pura bodoh siapa tahu bisa mengalihkan pembicaraan. Namun, trik picik seperti itu mana mungkin mempan pada Hiyori.


"Sudah satu bulan berlalu, tidak mungkin kan kalian bilang tidak ada kemajuan apa-apa padahal laki-laki dan perempuan muda tinggal satu rumah?"


Ya. Memang benar dugaanku...


Rasanya seperti dipaksa mengulang kelanjutan dari kejadian satu bulan yang lalu.


"Bukan begitu, kan sudah kubilang sebelumnya kalau aku dan Aoi-san tidak punya hubungan semacam itu——"


Hiyori benar-benar mengabaikan penjelasanku dan malah menyudutkan Aoi-san.


"Aoi-san, bisa bicara sebentar...?"


"E-eh, anu..."


Aoi-san mundur selangkah karena tertekan oleh aura Hiyori. Seolah tidak membiarkannya lolos, Hiyori ikut maju selangkah, terus memojokkan Aoi-san yang mundur sampai ke dinding. Hiyori meletakkan kedua tangannya di dinding, mengunci posisi Aoi-san sepenuhnya.


"Padahal kami sudah membantu, apa maksudnya tidak ada kemajuan apa-apa?"


"Uu... ma-maafkan aku."


Eh, tunggu sebentar. Tadi ada bagian percakapan yang tidak bisa kubiarkan lewat begitu saja.


"Apa maksudnya 'kami sudah membantu'? Kenapa Aoi-san juga minta maaf dengan patuh begitu? Apa yang kalian bicarakan?"


Saat aku bertanya karena bingung, Aoi-san mulai membuang muka ke arah lain dengan ekspresi canggung. Hiyori mengalihkan tekanan yang tadinya ke arah Aoi-san kepadaku, mengabaikan pertanyaanku lalu berkata:


"Akira, kamu tinggal serumah dengan orang secantik ini tapi tidak berani menyentuhnya? Kamu tidak berpikir itu malah tidak sopan bagi lawan bicaramu? Makanya kamu masih perjaka. Kamu mau tetap jadi perjaka seumur hidup kalau begini terus?"


"Gak usah sok tahu deh!"


Rasanya menyebalkan punya adik perempuan yang mengkhawatirkan keperjakaan kakaknya dengan wajah serius. Lagipula, punya adik yang terlalu terbuka soal hal-hal sensitif begini bikin aku repot, jadi tolong hentikan.


"Pokoknya, ini harus didiskusikan lebih lanjut dengan Izumi."


"...Iya."


Aoi-san tampak menyerah dan pasrah.


Akhirnya, aku tidak diberi tahu apa yang mereka bantu dan apa yang mereka rencanakan untuk diskusikan...


Paling-paling situasinya adalah Hiyori dan Izumi bersekongkol untuk menjodohkanku dengan Aoi-san, dan Aoi-san kebingungan karena tidak enak untuk menolak. Aku ingin mereka berhenti karena kasihan pada Aoi-san. Sayangnya, keinginan itu sia-sia karena cecaran Hiyori terus berlanjut sampai makan malam selesai.


Malam itu, aku dan Aoi-san mulai menyiapkan perlengkapan untuk besok dengan bantuan Hiyori. Kami berencana menginap di vila keluarga Eiji selama dua minggu sampai libur Obon berakhir. 


Sebenarnya keinginan terdalamku adalah menetap di sana sampai rumah neneknya ketemu, tapi aku tidak bisa egois karena di paruh kedua liburan musim panas ada jadwal kegiatan sukarelawan sekolah selama beberapa hari.


Meski begitu, sambil memastikan persiapan matang untuk segala kemungkinan, aku melihat sosok mereka berdua yang sedang memasukkan baju ganti ke dalam koper sambil berbincang seru.


——Tergantung pada hasil musim panas ini, masa depan Aoi-san akan ditentukan.


Urusan ayahnya memang menjadi bahan kekhawatiran, tapi selama rumah neneknya ditemukan, tidak akan ada masalah. Aku merasa bahwa bukan hanya masalah Aoi-san dan kecemasan akan masa depannya, tapi perasaan tak kasat mata yang membuat dadaku gelisah ini pun pasti akan terselesaikan jika rumah neneknya ditemukan. Pokoknya, aku akan melakukan apa yang aku bisa.


Sambil melakukan persiapan dengan tekad tersebut, malam pun perlahan semakin larut.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close