NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Danjo-hi 1: 30 No Teisō Gyakuten Sekai de mi o tei Shite On'nanoko-tachi o Mamottara ai ga Omoku nari Sugita Volume 1 Afterword + Short Story

Kata Penutup


Terima kasih banyak telah memilih untuk membaca karya ini, Danjo-hi 1:30 no Teisou Gyakuten Sekai de Mi wo Teishite Onnanoko wo Mamottara Ai ga Omoku Narisugita. Saya Ichimori Kazuki.

Tahun ini, saya sangat bersyukur diberikan kesempatan untuk menerbitkan novel kedua saya.

Apakah kalian juga sudah mengecek seri saya yang lain?

Nah, itu tadi iklan terang-terangan untuk buku dari penerbit yang berbeda, tapi mari kita kesampingkan dulu.

Karena latar belakang cerita ini adalah dunia dengan pembalikan peran gender, saya menulisnya dengan memasukkan banyak elemen khas interaksi pria dan wanita.

Protagonis yang keren, heroine yang keren... sebenarnya saya ingin bilang heroine yang lucu, sih.

Tapi karena mentalitas semua heroine di sini sama seperti laki-laki, saat menulisnya, terkadang visual di otak saya mengalami bug. Yah, hal-hal seperti itu juga yang sering saya bicarakan.

Dewasa ini, pembicaraan mengenai "apa itu laki-laki" dan "apa itu perempuan" sedang sangat ramai.

Sebagai penulis, saya malah berpikir, "Wah, ini bisa jadi bahan cerita yang bagus! Vehehe!" sambil memasang wajah licik dan menghangatkan diri di depan api unggun SNS setiap harinya.

Sekarang sudah musim semi, dan mungkin saat buku ini rilis di awal musim panas, suasananya sudah makin hangat, ya? Saya tidak mau membayangkan api unggun di awal musim panas. Berkemah, mungkin?

Yah, meski zaman sekarang ini cukup berat, dalam novel ini semua kesulitan tersebut bekerja sebaliknya.

Di dunia di mana kesulitan pria dan wanita tertukar, Tekt-kun—seorang manusia super sempurna yang pasti akan sangat populer di dunia mana pun—justru membakar otak para gadis di dunia pembalikan gender ini.

Saya harap kalian menikmati kekacauan para heroine yang cintanya menjadi terlalu berat ini.

Selanjutnya, izinkan saya menyampaikan ucapan terima kasih.

Kepada editor penanggung jawab, S-sama, terima kasih banyak atas bantuannya.

Berkat saran dari S-sama, saya merasa kita bisa menghadirkan sisi heroine (terutama Wiz) yang lebih... uhuk! Lebih lucu lagi di versi cetak ini. S-sama menginjak pedal gas lebih dalam dari saya, jadi terkadang saya merasa was-was. Benar-benar luar biasa.

Kepada ilustrator, Muto Kurihito-sensei, terima kasih banyak atas ilustrasi yang luar biasa.

Yang hebat dari Sensei bukan hanya karena gadis-gadisnya digambar dengan sangat lucu, tetapi Sensei juga bisa menggambar benda seperti Pile Bunker atau zirah batu milik Aigis dengan sangat keren. Apakah Sensei ini manusia super sempurna juga?

Wiz, Aigis, dan Sia, semuanya terlihat sangat lucu sampai saya mengerang saat pertama kali melihatnya.

Selain itu, saya sempat berpikir kapan ya bisa memperlihatkan variasi mekakure (mata tertutup poni) milik Wiz, dan saat pertama kali melihat variasi desain karakter XX-nya, saya benar-benar dibuat tercengang... (dan seterusnya).

Terakhir, kepada para pembaca sekalian. Berkat dukungan kalian, saya bisa kembali menerbitkan buku ke dunia ini.

Naskah untuk volume 2 pun sudah selesai dan mendapatkan respon yang baik, jadi tolong beli volume 1 ini, ya. Jadilah bahan bakar bagi penerbitan volume 2. Saya jamin kalian tidak akan menyesal.

Sampai jumpa lagi. Ini Ichimori. Bye-bye!


Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Misteri! Wanita Penyeru Ciuman Tidak Langsung

Ini terjadi beberapa hari setelah Sia mematahkan kutukan Tekt dan memenangkan pertarungan melawan Ketua Ksatria Bayangan.

"Eee—jadi, setelah melewati berbagai macam keributan, dan meski merasa ke depannya pun bakal ada keributan lagi…… yah, apa pun itu! Mari rayakan selesainya masalah ini dengan bersulang!"

"""Bersulang!"""

Tekt, Aigis, dan Wiz Delfia, yang berada di kelas yang sama dengan Tekt, berkumpul berempat untuk merayakan keberhasilan mereka meski banyak hal telah terjadi.

Tekt-lah yang mengusulkan acara ini. Bagi Sia, pesta selama ini hanyalah acara formal yang kaku, sehingga ia hampir tidak punya pengalaman berkumpul dengan teman-teman dalam jumlah kecil untuk bersenang-senang.

Karena itulah, hari itu sangat menyenangkan. Aigis, yang sempat bersitegang dengannya bak kucing dan anjing, ternyata cukup nyambung saat mereka bicara dari hati ke hati. Selain itu, menghabiskan waktu bersama Tekt pun sangat menyenangkan.

Satu-satunya kekhawatiran yang ada hanyalah terkait sahabat Tekt…… mungkin bisa dibilang begitu? Sia hampir tidak bisa akrab dengan Wiz Delfia.

Meski ada perbedaan status sosial, mereka adalah rekan satu angkatan di tempat yang sama. Terlebih lagi, Wiz adalah pewaris utama dari garis keturunan ternama di bidang pengetahuan, yaitu 'Doktor Sihir'. Sia sudah berusaha keras mengajak bicara, namun respons Wiz kurang begitu hangat.

Karena Wiz tampak menunjukkan sifat aslinya di depan Tekt dan Aigis, Sia merasa mungkin dirinya sedang diwaspadai. Hal itu membuatnya merasa kesepian.

Namun, Sia juga tidak naif sampai berpikir bisa langsung akrab hanya dengan satu pertemuan. Mungkin lain kali mereka akan terlibat satu sama lain, dan saat itulah mereka bisa mempererat hubungan.

Berpikir demikian, setelah pesta berakhir, Sia kembali ke restoran sendirian untuk mengambil barangnya yang tertinggal. Di sana—terdapat seorang gadis yang berjongkok di balik bayangan, sedang asyik mengisap sedotan.

Itu adalah Wiz.

"……Sedang apa, ya, Anda……?"

"!? "

Terdengar suara zuzok, Wiz menoleh ke arahnya. Di mulutnya terdapat segelas minuman dengan sedotan.

Restoran itu disewa menggunakan uang Sia, jadi petugas kebersihan baru akan masuk setelah semua orang benar-benar pergi.

Oleh karena itu, di tempat ini hanya ada Sia dan Wiz berdua.

Tidak ada bukti fisik. Tidak ada kepastian. Namun, sebagai sesama perempuan, Sia merasa yakin.

"……Itu, gelas dan sedotan milik Tekt, kan……"

"……Bukan."

Wiz berdiri, lalu meletakkan gelas itu ke meja dengan pelan. Tak...

Keheningan yang tajam menusuk keduanya. Suasananya terlalu canggung. Kenapa jadi begini?

Di tengah keheningan, Sia berdoa dalam hati, 'Oh Tuhan, kejahatan apa yang telah hamba perbuat?' Kenapa dia harus terjebak dalam situasi seperti ini dengan orang yang sebenarnya ingin ia ajak berteman?

Wiz menelan ludah, lalu membuka suara.

"Be-benar-benar bukan, kok."

"Tidak apa-apa, saya... saya tidak melihat apa pun..."

Sebagai bentuk niat baik, Sia menawarkan diri.

Sia adalah seorang realis. Jika dengan berpura-pura tidak tahu dunia bisa berjalan lancar, ia akan melakukannya. Namun, jika ia harus menunjuk langsung masalah yang ada di depan mata agar keadaan bergerak, ia akan melakukannya tanpa ampun. Dia adalah orang seperti itu.

Setelah keributan saat pelepasan kutukan, Sia mengakui kemampuan Wiz. Selama Wiz tidak membahayakan Tekt, tidak perlu ada tindakan eliminasi hanya karena perilaku mesum sesekali.

Namun, Wiz terus mendesak.

"Ti-tidak, anu, to-tolong dengarkan. Benar-benar, benar-benar bukan seperti itu."

"Sa-saya mengerti. Bukan, ya. Saya percaya. Saya percaya, kok."

"Bukan begitu! Sungguh! Sungguh bukan! Percayalah! Tolong percayalah!"

"Saya percaya! Saya bilang saya percaya! Tunggu, berhenti! Jangan menarik-narik saya! Saya kan sudah bilang percaya!"

Entah mengapa, meskipun tujuan mereka sama, Sia dan Wiz malah jadi saling rebut. Sia secara refleks mengerahkan tenaga, lalu mendorong Wiz hingga terhuyung.

"Kyaa!"

Wiz menabrak meja, gelasnya terjatuh. Sisa minuman yang ada di dalamnya menetes ke meja dan jatuh tepat di atas kepala Wiz yang tersungkur.

Wiz menangis sejadi-jadinya.

"Su-sudah berakhirrr...!"

Wiz mulai meraung-raung. Sia hanya bisa mematung dibuatnya.

"Ha-hanya karena dorongan sesaat saya melakukan ciuman tak langsung di sedotan Tekt-kun, lalu dilihat oleh Yang Mulia Putri, hidup saya sudah berakhirr! Tekt-kun pasti membenci saya, saya akan dikeluarkan dari sekolah, dan akhirnya dihukum pancung..."

"Tunggu! Tunggu sebentar! Saya tidak akan bilang siapa-siapa! Saya tidak akan mengatakannya! Benar, kan? Itu hanya dorongan sesaat, bukan? Ya, hal seperti itu pasti pernah dialami manusia!"

Sia berusaha keras menghibur Wiz.

Lalu, sambil sesenggukan, Wiz berkata.

"……Apakah Yang Mulia Putri juga, pernah mengalami hal seperti ini...?"

"Ugh."

Tuhan, Sia berdoa lagi. Mengapa Anda memberikan cobaan ini kepada hamba?

Namun, jika dia tidak mengatakan apa-apa sekarang, Wiz pasti akan menutup diri dari Sia. Itu akan menjadi penghalang saat mereka harus membantu Tekt nanti.

Jadi, dengan tekad bulat, Sia berkata dengan suara gemetar.

"……Di saat menjalankan tugas sebagai pengawal, saya pernah diam-diam mencium pipi Tekt yang sedang tidur karena kelelahan..."

"Apa yang telah Anda lakukan, Yang Mulia Putriiiiii!"

"Eeeehhhhh!?"

Situasi berbalik, kini Sia yang dicengkeram oleh Wiz dengan penuh amarah.

"Kenapa!? Kenapa begitu!? Sa-saya peduli padamu, dan saya bermaksud membawa rahasia memalukan itu sampai mati!"

"Itu! Dengan ini! Masalahnya beda, yaaaa! Cium di pipi Tekt-kun! Cium di pipi Tekt-kun..."

Wiz menatap Sia dengan wajah yang luar biasa menakutkan, seolah air mata darah akan mengalir keluar.

Lalu, kekuatan di tangan Wiz melemah, dan Sia terlepas. Wiz tampak lemas dan menelungkup di atas meja.

"……Saya tahu. Saya yang salah, kan."

"Sekarang apa lagi..."

"Saya adalah orang pertama yang akrab dengan Tekt-kun saat masuk akademi... tapi saya yang payah. Seandainya saya lebih berani, mungkin saya sudah bisa jadi kekasih Tekt-kun..."

"Tidak, saya rasa itu sulit. Tekt itu, kelihatannya saja begitu, tapi dia punya pertahanan yang cukup kuat."

Saat Sia menggelengkan kepala dengan ekspresi serius, Wiz berkata dengan nada serius.

"Tekt-kun itu bukannya punya pertahanan yang aneh ya? Kalau sedang lengah, dia bisa saja dengan mudah melepas baju, tapi kalau kita mencoba memperdalam hubungan, dia akan mengelak dengan mulus..."

"Saya mengerti. Dia terlihat lengah seolah mengajak kita, tapi saat kita melangkah maju, dia justru menghindar dengan cara yang aneh..."

"Padahal, Tekt-kun sendiri sering mendekat secara agresif. Kalau kita sedang kesulitan, dia sangat perhatian dan memberi semangat, tapi... tapi!"

"Saya paham! Tekt itu seolah-olah dia terbuka lebar seperti menunggu untuk diserang, tapi kalau kita berniat memperdalam hubungan secara wajar, dia justru menjaga jarak... Ah, sudahlah!"

"Iya, kan! Begitu, kan!"

Sia dan Wiz saling menjabat tangan dengan erat. Mereka saling mengangguk dengan tatapan mata yang penuh semangat.

"Yang Mulia Putri. Tadi saya minta maaf karena bersikap tidak ramah. Perbedaan status sosial memang masih terlalu besar, dan saya rasa saya hanya merasa takut."

"Itu hal yang wajar. Sebaliknya, mari kita rayakan fakta bahwa kita bisa saling mencurahkan isi hati seperti ini."

Sia dan Wiz saling melempar senyum. Kemudian, mereka berbisik pelan.

"Ngomong-ngomong soal itu, bagaimana dengan Tekt-kun?"

"Mungkin Tekt juga sedang memikirkan hal membosankan seperti perbedaan status sosial itu, jadi saya perlahan-lahan sedang menyusun strategi untuk menghancurkan pola pikir kolot tersebut."

"Oh~, hebat sekali Yang Mulia Putri~"



Previous Chapter | ToC

Post a Comment

Post a Comment

close