Kata Penutup
Terima
kasih banyak telah memilih untuk membaca karya ini, Danjo-hi 1:30 no Teisou
Gyakuten Sekai de Mi wo Teishite Onnanoko wo Mamottara Ai ga Omoku Narisugita.
Saya Ichimori Kazuki.
Tahun
ini, saya sangat bersyukur diberikan kesempatan untuk menerbitkan novel kedua
saya.
Apakah
kalian juga sudah mengecek seri saya yang lain?
Nah, itu
tadi iklan terang-terangan untuk buku dari penerbit yang berbeda, tapi mari
kita kesampingkan dulu.
Karena
latar belakang cerita ini adalah dunia dengan pembalikan peran gender, saya
menulisnya dengan memasukkan banyak elemen khas interaksi pria dan wanita.
Protagonis
yang keren, heroine yang keren... sebenarnya saya ingin bilang heroine yang
lucu, sih.
Tapi karena
mentalitas semua heroine di sini sama seperti laki-laki, saat menulisnya,
terkadang visual di otak saya mengalami bug. Yah, hal-hal seperti itu juga yang sering saya
bicarakan.
Dewasa ini,
pembicaraan mengenai "apa itu laki-laki" dan "apa itu
perempuan" sedang sangat ramai.
Sebagai penulis,
saya malah berpikir, "Wah, ini bisa jadi bahan cerita yang bagus! Vehehe!"
sambil memasang wajah licik dan menghangatkan diri di depan api unggun SNS
setiap harinya.
Sekarang sudah
musim semi, dan mungkin saat buku ini rilis di awal musim panas, suasananya
sudah makin hangat, ya? Saya tidak mau membayangkan api unggun di awal musim
panas. Berkemah, mungkin?
Yah, meski zaman
sekarang ini cukup berat, dalam novel ini semua kesulitan tersebut bekerja
sebaliknya.
Di dunia di mana
kesulitan pria dan wanita tertukar, Tekt-kun—seorang manusia super sempurna
yang pasti akan sangat populer di dunia mana pun—justru membakar otak para
gadis di dunia pembalikan gender ini.
Saya harap kalian
menikmati kekacauan para heroine yang cintanya menjadi terlalu berat ini.
Selanjutnya,
izinkan saya menyampaikan ucapan terima kasih.
Kepada editor penanggung jawab, S-sama, terima kasih banyak
atas bantuannya.
Berkat saran dari
S-sama, saya merasa kita bisa menghadirkan sisi heroine (terutama Wiz) yang
lebih... uhuk! Lebih lucu lagi di versi cetak ini. S-sama menginjak pedal gas
lebih dalam dari saya, jadi terkadang saya merasa was-was. Benar-benar luar
biasa.
Kepada
ilustrator, Muto Kurihito-sensei, terima kasih banyak atas ilustrasi yang luar
biasa.
Yang hebat dari
Sensei bukan hanya karena gadis-gadisnya digambar dengan sangat lucu, tetapi
Sensei juga bisa menggambar benda seperti Pile Bunker atau zirah batu
milik Aigis dengan sangat keren. Apakah Sensei ini manusia super sempurna juga?
Wiz, Aigis, dan
Sia, semuanya terlihat sangat lucu sampai saya mengerang saat pertama kali
melihatnya.
Selain itu, saya
sempat berpikir kapan ya bisa memperlihatkan variasi mekakure (mata
tertutup poni) milik Wiz, dan saat pertama kali melihat variasi desain karakter
XX-nya, saya benar-benar dibuat tercengang... (dan seterusnya).
Terakhir, kepada
para pembaca sekalian. Berkat dukungan kalian, saya bisa kembali menerbitkan
buku ke dunia ini.
Naskah untuk
volume 2 pun sudah selesai dan mendapatkan respon yang baik, jadi tolong beli
volume 1 ini, ya. Jadilah bahan bakar bagi penerbitan volume 2. Saya jamin
kalian tidak akan menyesal.
Sampai jumpa
lagi. Ini Ichimori. Bye-bye!
Bonus E-book:
Cerita Pendek Tambahan
Misteri! Wanita Penyeru Ciuman Tidak Langsung
Ini
terjadi beberapa hari setelah Sia mematahkan kutukan Tekt dan memenangkan
pertarungan melawan Ketua Ksatria Bayangan.
"Eee—jadi,
setelah melewati berbagai macam keributan, dan meski merasa ke depannya pun
bakal ada keributan lagi…… yah,
apa pun itu! Mari rayakan selesainya masalah ini dengan bersulang!"
"""Bersulang!"""
Tekt, Aigis, dan
Wiz Delfia, yang berada di kelas yang sama dengan Tekt, berkumpul berempat
untuk merayakan keberhasilan mereka meski banyak hal telah terjadi.
Tekt-lah
yang mengusulkan acara ini. Bagi Sia, pesta selama ini hanyalah acara formal
yang kaku, sehingga ia hampir tidak punya pengalaman berkumpul dengan
teman-teman dalam jumlah kecil untuk bersenang-senang.
Karena itulah,
hari itu sangat menyenangkan. Aigis, yang sempat bersitegang dengannya bak
kucing dan anjing, ternyata cukup nyambung saat mereka bicara dari hati ke
hati. Selain itu, menghabiskan waktu bersama Tekt pun sangat menyenangkan.
Satu-satunya
kekhawatiran yang ada hanyalah terkait sahabat Tekt…… mungkin bisa dibilang
begitu? Sia hampir tidak bisa akrab dengan Wiz Delfia.
Meski ada
perbedaan status sosial, mereka adalah rekan satu angkatan di tempat yang sama.
Terlebih lagi, Wiz adalah pewaris utama dari garis keturunan ternama di bidang
pengetahuan, yaitu 'Doktor Sihir'. Sia sudah berusaha keras mengajak bicara,
namun respons Wiz kurang begitu hangat.
Karena Wiz tampak
menunjukkan sifat aslinya di depan Tekt dan Aigis, Sia merasa mungkin dirinya
sedang diwaspadai. Hal itu membuatnya merasa kesepian.
Namun, Sia juga
tidak naif sampai berpikir bisa langsung akrab hanya dengan satu pertemuan.
Mungkin lain kali mereka akan terlibat satu sama lain, dan saat itulah mereka
bisa mempererat hubungan.
Berpikir
demikian, setelah pesta berakhir, Sia kembali ke restoran sendirian untuk
mengambil barangnya yang tertinggal. Di sana—terdapat seorang gadis yang
berjongkok di balik bayangan, sedang asyik mengisap sedotan.
Itu adalah Wiz.
"……Sedang apa, ya, Anda……?"
"!? "
Terdengar suara zuzok, Wiz menoleh ke arahnya. Di
mulutnya terdapat segelas minuman dengan sedotan.
Restoran itu disewa menggunakan uang Sia, jadi petugas
kebersihan baru akan masuk setelah semua orang benar-benar pergi.
Oleh karena itu,
di tempat ini hanya ada Sia dan Wiz berdua.
Tidak ada
bukti fisik. Tidak ada kepastian. Namun, sebagai sesama perempuan, Sia merasa yakin.
"……Itu,
gelas dan sedotan milik Tekt, kan……"
"……Bukan."
Wiz
berdiri, lalu meletakkan gelas itu ke meja dengan pelan. Tak...
Keheningan
yang tajam menusuk keduanya. Suasananya terlalu canggung. Kenapa jadi begini?
Di tengah
keheningan, Sia berdoa dalam hati, 'Oh Tuhan, kejahatan apa yang telah hamba
perbuat?' Kenapa dia harus terjebak dalam situasi seperti ini dengan orang yang
sebenarnya ingin ia ajak berteman?
Wiz menelan
ludah, lalu membuka suara.
"Be-benar-benar
bukan, kok."
"Tidak
apa-apa, saya... saya tidak melihat apa pun..."
Sebagai
bentuk niat baik, Sia menawarkan diri.
Sia
adalah seorang realis. Jika dengan berpura-pura tidak tahu dunia bisa berjalan
lancar, ia akan melakukannya. Namun, jika ia harus menunjuk langsung masalah
yang ada di depan mata agar keadaan bergerak, ia akan melakukannya tanpa ampun.
Dia adalah orang seperti itu.
Setelah keributan
saat pelepasan kutukan, Sia mengakui kemampuan Wiz. Selama Wiz tidak
membahayakan Tekt, tidak perlu ada tindakan eliminasi hanya karena perilaku
mesum sesekali.
Namun,
Wiz terus mendesak.
"Ti-tidak,
anu, to-tolong dengarkan. Benar-benar, benar-benar bukan seperti itu."
"Sa-saya
mengerti. Bukan, ya. Saya percaya. Saya percaya, kok."
"Bukan
begitu! Sungguh! Sungguh bukan! Percayalah! Tolong percayalah!"
"Saya percaya! Saya bilang saya percaya! Tunggu,
berhenti! Jangan menarik-narik saya! Saya kan sudah bilang percaya!"
Entah mengapa, meskipun tujuan mereka sama, Sia dan Wiz
malah jadi saling rebut. Sia secara refleks mengerahkan tenaga, lalu mendorong
Wiz hingga terhuyung.
"Kyaa!"
Wiz menabrak meja, gelasnya terjatuh. Sisa minuman yang ada
di dalamnya menetes ke meja dan jatuh tepat di atas kepala Wiz yang tersungkur.
Wiz menangis sejadi-jadinya.
"Su-sudah berakhirrr...!"
Wiz mulai meraung-raung. Sia hanya bisa mematung dibuatnya.
"Ha-hanya karena dorongan sesaat saya melakukan ciuman
tak langsung di sedotan Tekt-kun, lalu dilihat oleh Yang Mulia Putri, hidup
saya sudah berakhirr! Tekt-kun pasti membenci saya, saya akan dikeluarkan dari
sekolah, dan akhirnya dihukum pancung..."
"Tunggu! Tunggu sebentar! Saya tidak akan bilang
siapa-siapa! Saya tidak akan
mengatakannya! Benar, kan? Itu
hanya dorongan sesaat, bukan? Ya, hal seperti itu pasti pernah dialami
manusia!"
Sia berusaha
keras menghibur Wiz.
Lalu,
sambil sesenggukan, Wiz berkata.
"……Apakah
Yang Mulia Putri juga, pernah mengalami hal seperti ini...?"
"Ugh."
Tuhan, Sia berdoa lagi. Mengapa Anda
memberikan cobaan ini kepada hamba?
Namun,
jika dia tidak mengatakan apa-apa sekarang, Wiz pasti akan menutup diri dari
Sia. Itu akan menjadi
penghalang saat mereka harus membantu Tekt nanti.
Jadi,
dengan tekad bulat, Sia berkata dengan suara gemetar.
"……Di
saat menjalankan tugas sebagai pengawal, saya pernah diam-diam mencium pipi
Tekt yang sedang tidur karena kelelahan..."
"Apa yang
telah Anda lakukan, Yang Mulia Putriiiiii!"
"Eeeehhhhh!?"
Situasi berbalik,
kini Sia yang dicengkeram oleh Wiz dengan penuh amarah.
"Kenapa!?
Kenapa begitu!? Sa-saya peduli padamu, dan saya bermaksud membawa rahasia
memalukan itu sampai mati!"
"Itu! Dengan
ini! Masalahnya beda, yaaaa! Cium di pipi Tekt-kun! Cium di pipi
Tekt-kun..."
Wiz menatap Sia
dengan wajah yang luar biasa menakutkan, seolah air mata darah akan mengalir
keluar.
Lalu, kekuatan di
tangan Wiz melemah, dan Sia terlepas. Wiz tampak lemas dan menelungkup di atas
meja.
"……Saya
tahu. Saya yang salah, kan."
"Sekarang
apa lagi..."
"Saya adalah
orang pertama yang akrab dengan Tekt-kun saat masuk akademi... tapi saya yang
payah. Seandainya saya lebih berani, mungkin saya sudah bisa jadi kekasih
Tekt-kun..."
"Tidak, saya
rasa itu sulit. Tekt itu, kelihatannya saja begitu, tapi dia punya pertahanan
yang cukup kuat."
Saat Sia
menggelengkan kepala dengan ekspresi serius, Wiz berkata dengan nada serius.
"Tekt-kun
itu bukannya punya pertahanan yang aneh ya? Kalau sedang lengah, dia bisa saja
dengan mudah melepas baju, tapi kalau kita mencoba memperdalam hubungan, dia
akan mengelak dengan mulus..."
"Saya
mengerti. Dia terlihat lengah seolah mengajak kita, tapi saat kita melangkah
maju, dia justru menghindar dengan cara yang aneh..."
"Padahal,
Tekt-kun sendiri sering mendekat secara agresif. Kalau kita sedang kesulitan, dia sangat perhatian
dan memberi semangat, tapi... tapi!"
"Saya paham!
Tekt itu seolah-olah dia terbuka lebar seperti menunggu untuk diserang, tapi
kalau kita berniat memperdalam hubungan secara wajar, dia justru menjaga
jarak... Ah,
sudahlah!"
"Iya,
kan! Begitu, kan!"
Sia dan
Wiz saling menjabat tangan dengan erat. Mereka saling mengangguk dengan tatapan
mata yang penuh semangat.
"Yang
Mulia Putri. Tadi saya minta maaf karena bersikap tidak ramah. Perbedaan status
sosial memang masih terlalu besar, dan saya rasa saya hanya merasa takut."
"Itu
hal yang wajar. Sebaliknya,
mari kita rayakan fakta bahwa kita bisa saling mencurahkan isi hati seperti
ini."
Sia dan Wiz
saling melempar senyum. Kemudian, mereka berbisik pelan.
"Ngomong-ngomong
soal itu, bagaimana dengan Tekt-kun?"
"Mungkin
Tekt juga sedang memikirkan hal membosankan seperti perbedaan status sosial
itu, jadi saya perlahan-lahan sedang menyusun strategi untuk menghancurkan pola
pikir kolot tersebut."
"Oh~, hebat
sekali Yang Mulia Putri~"



Post a Comment