Chapter 1
Perjalanan Wisata Sekolah
Alarm jam beker
berbunyi lebih awal dari biasanya.
Alasannya
sederhana saja. Hari ini, karyawisata dimulai. Karena kami harus naik bus sejak
pagi buta untuk menuju Bandara Haneda, waktu bangunnya pun jauh lebih awal dari
rutinitas harian. Aku berusaha mengangkat kelopak mata yang terasa berat ini,
lalu hendak mengganti pakaian dengan seragam… sampai aku sadar. Benar juga,
hari ini kami memakai pakaian bebas.
Aku menguap
lebar, membuat kesadaranku perlahan-lahan mulai terkumpul.
Malam tadi, aku
sudah menyiapkan segala perlengkapan untuk karyawisata.
Di atas tas
duffel yang berisi pakaian untuk empat hari tiga malam, terlipat rapi pakaian
bebas yang akan kupakai hari ini.
Aku memilih
kemeja lengan pendek, jaket hoodie tipis, dan celana jin. Aku memprioritaskan
kenyamanan agar mudah bergerak.
Sebenarnya, aku
sempat memasukkan jaket tebal ke dalam tas, tapi kurasa tidak akan terpakai.
Meski sudah akhir September, kudengar Okinawa masih sangat panas.
"Selamat
pagi, Natsuki."
Begitu
keluar kamar dan sampai di ruang tengah, Ibu sedang menyiapkan sarapan.
"Bu, tumben
bangun pagi sekali."
Ini
bahkan belum lewat jam lima. Saat kulihat ke luar jendela, itu adalah waktu di mana matahari baru saja
menampakkan diri.
"Hari ini
kan karyawisata? Persiapanmu sudah beres?"
Rupanya Ibu
mengkhawatirkanku.
"Tenang
saja, semuanya sudah kuselesaikan kemarin."
"Natsuki benar-benar sudah dewasa, ya. Padahal waktu
karyawisata SMP dulu, kamu baru menyiapkannya di saat-saat terakhir."
"Haha…"
Aku menanggapinya dengan tawa hambar.
Dulu saat SMP, motivasiku untuk karyawisata benar-benar nol,
sampai-sampai aku sempat galau apakah harus ikut atau tidak. Itu adalah acara
yang terlalu kejam bagi orang yang kesepian sepertiku. Teman sekelas yang
terpaksa memasukkanku ke dalam kelompok mereka pun terlihat canggung, yang
membuat hatiku terasa sakit. Pada
akhirnya, aku memutuskan untuk ikut karena tak kuasa membuang keinginan untuk
merasakan masa muda. Tapi, sama sekali tidak menyenangkan.
Hal seperti itu
hanya akan terasa menyenangkan jika dihabiskan bersama orang-orang berharga.
Tentu saja, tidak
akan ada artinya jika aku yang sendirian hanya sekadar berpartisipasi.
Karena ingin
mengubah masa muda yang seperti itu, aku terus berusaha keras.
Harusnya,
sekarang aku bisa menjadikan karyawisata ini sebagai momen masa muda yang
paling berkesan.
"Selamat
bersenang-senang, ya."
Ibu
terlihat sangat gembira.
Melihatku
menikmati kehidupan SMA, mungkin membuatnya merasa tenang.
"……Iya."
Aku tidak mungkin
bisa jujur pada Ibu tentang apa yang kurasakan saat ini.
Aku menyantap
roti panggang dan telur orak-arik buatan Ibu, lalu segera menyikat gigi.
Sebagai
jaga-jaga, saat aku mengecek isi tas duffel di depan pintu masuk,
"……Eh,
Kakak? Kenapa pakai baju bebas?"
Namika yang masih
penuh dengan bekas bantal di rambutnya menyapaku sambil mengucek mata.
"Hari ini
karyawisata."
"Ah, benar
juga. Tadi mulai hari ini, ya?"
Namika
menguap lebar sambil melambaikan tangan dengan malas.
"Selamat
jalan."
"Ya, aku
berangkat."
Padahal ini
adalah karyawisata yang sudah kutunggu-tunggu, tapi entah kenapa perasaanku
jauh lebih berat dari biasanya.
"Jangan
lupa ambil foto bareng Senior Hoshimiya, ya!"
Aku
pura-pura tidak mendengar ucapan Namika yang terasa biasa saja itu.
Aku
mendorong pintu depan seolah ingin melarikan diri, lalu sinar matahari langsung
menyambutku.
Berbanding
terbalik dengan perasaanku, langit biru tanpa awan membentang luas.
Angin
sejuk membelai pipiku. Suhu udara saat ini sangat nyaman, meski nanti pasti
akan semakin panas. Ini bukan waktu yang tepat untuk menyebutnya akhir musim
panas atau awal musim gugur. Hanya musim peralihan.
Sambil
menenteng tas yang terasa berat, aku melangkah menuju Stasiun Nishiyoshii.
Bisa
dibilang, perjalanan dari rumah ke sekolah hari ini adalah bagian yang paling
melelahkan. Keringat mulai membanjiri dahiku.
Wajar
saja, aku menggendong ransel yang biasa kupakai sekaligus menenteng tas duffel.
Setelah
berjuang, akhirnya aku berhasil naik kereta dan duduk di kursi.
Sambil
diguncang oleh laju kereta yang berderak, aku mulai tenggelam dalam lautan
pikiranku sendiri.
"---Sekarang
pun, kamu masih bisa kembali ke dunia yang benar."
Kata-kata dari
pria yang mengaku sebagai Dewa itu masih terus terngiang di kepalaku.
Dunia pertama,
atau dunia kedua?
Pada akhirnya,
aku tidak bisa memberikan jawaban saat itu juga. Karena itulah, dia memberiku
batas waktu.
Malam ketiga
karyawisata. Sepertinya itu adalah batas waktu terakhir untuk menunda
keputusan.
Artinya, dua hari
lagi dia akan muncul kembali di dalam mimpiku.
Sebelum saat itu
tiba, aku harus memutuskan dunia mana yang akan kupilih.
Bagi orang biasa
yang hanya terseret dalam fenomena Time Leap, ini adalah pilihan yang
terlalu berat.
Lagipula, kau
tahu kan?
Dunia mana pun
yang kupilih, dunia yang satunya lagi akan benar-benar lenyap.
Sejujurnya, jika
saja aku tidak berharap untuk mengulang masa mudaku, dunia ini tidak akan
pernah tercipta. Mungkin saja, berharap untuk mengulang masa lalu demi
menyesali masa muda adalah sebuah kesalahan sejak awal.
"Tindakan
yang kamu lakukan demi mendapatkan masa muda yang penuh warna, hanya membawa
kesengsaraan bagi orang lain."
---Aku tahu itu.
Karena aku
menulis ulang masa mudaku, takdir orang-orang berharga bagiku pun ikut
melenceng.
"Aku…… sudah tidak bisa memercayai Natsuki-kun yang
sekarang sama sekali."
"……Maafkan aku. Aku sendiri tidak tahu harus bicara
apa."
Kata-kata Hikari
dan Miori terlintas di benakku.
Karena aku yang
datang dari masa depan, mereka berdua menangis.
Padahal di dunia
pertama, hal seperti itu tidak pernah terjadi.
Pria yang mengaku
sebagai Dewa menyebut dunia pertama sebagai "dunia yang benar".
Kalau begitu,
apakah dunia kedua tempatku mengulang segalanya ini adalah "dunia yang
salah"?
"Setiap kali
kamu menjalani masa muda penuh warna, akan ada seseorang yang sengsara. Kalau
begitu, bukankah lebih baik menjalani masa muda yang kelabu, di mana hanya
dirimu sendiri yang sengsara, seperti di dunia pertama? Apa menurutmu begitu, Haibara
Natsuki?"
Aku merasa sudah
menjalani hidupku dengan sekuat tenaga sampai sejauh ini. Aku berusaha keras
untuk mengulang setiap harinya.
Memutuskan untuk
kembali ke dunia pertama sama saja dengan mengakui bahwa seluruh usahaku selama
ini tidak ada artinya.
……Sebenarnya, aku
tidak mau mengakui hal itu.
Namun, hasil dari
usahaku mengulang waktu justru menebar kesengsaraan bagi orang-orang yang
kusayangi.
Itu adalah fakta
mutlak, dan aku tidak bisa menyangkal julukan "dunia yang salah" itu.
……Tapi, jika aku
kembali ke dunia pertama, maka dunia kedua akan dianggap tidak pernah ada.
Apakah itu
benar-benar tidak apa-apa?
Sudah satu minggu
berlalu sejak hari itu.
Meskipun batas
waktu untuk memilih sudah semakin dekat, aku masih belum bisa memberikan
jawaban.
*
Di area
parkir sekolah, berderet bus yang terparkir.
Di
sekelilingnya, murid-murid satu angkatan sudah berkumpul dengan pakaian bebas.
Jumlahnya
baru sekitar setengah. Karena masih ada waktu sekitar tiga puluh menit sebelum
waktu berkumpul.
"Woi,
Natsuki! Sini!"
Tatsuya
melambai dengan heboh memanggilku. Suaranya tetap saja lantang.
"Selamat
pagi."
Aku menyapa
mereka semua.
Di sekeliling
Tatsuya, sudah ada Reita, Mei, dan Kijima yang berkumpul.
"Natsuki!
Akhirnya hari ini tiba!"
Mata Mei
berbinar-binar.
"Kamu sudah
bersemangat sejak pagi, ya."
"Apa
maksudmu! Ini karyawisata, tahu!?"
"Memangnya
kamu tipe orang yang menantikan karyawisata seperti itu?"
"Tentu saja!
Kalau aku yang dulu, mungkin aku bakal mikir, 'Cih, apaan sih karyawisata? Cuma
acara penyiksaan di mana aku cuma bisa melihat para normie pria dan
wanita bermesraan…',"
"Kamu dulu
sinis banget, ya," tukas Reita, tapi aku paham perasaannya.
"Tapi,
sekarang aku sudah punya teman dan pacar! Tidak ada alasan untuk tidak
menikmatinya!"
Mei mulai
bersenandung dengan ceria. Sepertinya dia hampir saja menari.
"Aku juga
menantikan karyawisata ini," sahut Reita setuju melihat keadaan Mei.
"Aku jarang
diajak pergi berlibur, jadi ini adalah kesempatan yang sangat berharga."
……Mengingat aku
tahu latar belakang keluarga Reita, topik ini terasa cukup sensitif.
"Ah, maaf.
Aku malah membuat suasana jadi aneh."
Reita berusaha
mengalihkan pembicaraan dengan panik.
Bagi dirinya
sendiri, mungkin dia hanya mengatakan sebuah fakta sederhana.
"Eh, coba
lihat deh. Pakaian bebas para gadis, bukannya imut banget ya?"
Kijima menatap
dengan wajah serius, mencuri pandang ke arah para gadis yang sedang mengobrol.
Sepertinya
dia bukan sekadar mengalihkan topik, tapi memang hanya memikirkan hal itu.
"Benar
juga."
Tatsuya
menimpali.
Aku pun
ikut mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Bukan
hanya para gadis, penampilan pakaian bebas semua orang terasa segar.
Selain
kelompok yang biasanya bergaul, kami jarang bertemu di hari libur.
Karena hari ini
adalah kali pertama aku melihat pakaian bebas mereka, semuanya terlihat sangat
baru.
"Mumpung
karyawisata, semua orang pasti niat banget, ya."
"Jelas lah,
mereka pasti milih pakaian terbaik dari koleksi yang mereka punya."
Aku setuju dengan
ucapan Reita. Aku pun salah satunya.
"Bukan cuma
baju, makeup dan tata rambut pun sudah dipersiapkan. Boleh juga,
ya?"
"Mungkin
mereka pikir selagi karyawisata, guru-guru bakal maklum, kali?"
Antusiasme semua
orang jauh lebih tinggi dari biasanya.
Bahkan Reita yang
biasanya terlihat keren, kini tampak sedikit melayang.
Wajar saja.
Karyawisata adalah acara masa muda terbesar dalam kehidupan SMA.
Aku pun sudah
sangat menantikannya. Bahkan
mungkin, aku yang paling bersemangat.
Namun sekarang,
entah kenapa aku merasa enggan. Sejujurnya, aku tidak sedang memikirkan hal itu.
Aku
berusaha bersikap wajar agar tidak terlihat suram secara terang-terangan, tapi
di mataku, segalanya masih tampak kelabu.
Padahal
satu minggu yang lalu, semuanya masih dihiasi dengan warna pelangi yang cerah.
"Semuanya,
halo~"
Saat aku
sedang tenggelam dalam lautan pikiran, seseorang menyapaku.
Itu
Kurahashi. Bersama Miori, Fujiwara, dan Funayama, dia bergabung ke lingkaran
kami.
Anggota
yang biasanya berkumpul di kelas pun sudah lengkap.
"Selamat
pagi. Semuanya, kalian terlihat lebih cantik dari biasanya, ya."
Ucap Reita dengan
santai. Aku kagum bagaimana dia bisa melontarkan kalimat seperti itu dengan
natural.
"Wah,
Shiratori-kun pintar banget mengambil hati, ya~"
Kurahashi
berkacak pinggang sambil mengedipkan sebelah mata. Dia sangat antusias.
"Kamu selalu
saja bilang hal yang sama ke siapa pun, ya……"
Di sisi lain,
Fujiwara tampak menatapnya dengan wajah lelah.
"Kejam
sekali. Aku cuma bilang begitu saat aku benar-benar memikirkannya, kok."
"Ya, ya,
terserah."
Senyum menawan
Reita pun tidak mempan pada Fujiwara.
Lagipula,
Fujiwara sudah punya kekasih tercinta. Meski sekarang kami sudah beda kelas.
"Mei-kun,
selamat pagi."
Funayama menyapa
Mei dengan senyum ramah.
"Selamat
pagi, Shizuki."
"……Tidak
ada komentar tentang pakaianku?"
Funayama
bertanya sambil menarik ujung roknya dengan sedikit malu.
"Eh?
Bukannya aku sudah sering melihatnya saat kita berkencan……"
"Mei-kun?"
Meski tersenyum,
aku bisa merasakan tekanan dari Funayama.
"I-indah
sekali! Sungguh!"
"……Yah,
kuberikan izin."
Mei dan Funayama
sedang asyik berbincang seperti pasangan pada umumnya.
Entah kenapa aku
merasa ada hubungan dominasi di sana, tapi mungkin itu hanya perasaanku saja.
"……"
"……"
Tiba-tiba mataku
bertemu dengan Miori.
Sejujurnya,
canggung.
Tapi
mengabaikannya pun terasa aneh, jadi aku menyapanya.
"……Selamat
pagi."
"……Iya,
selamat pagi."
Di antara
aku dan Miori, mengalir suasana yang aneh dan berat.
Sejak
hari itu, aku tidak bisa berbicara dengan baik padanya.
Kami
memang sering mengobrol saat bersama orang banyak, tapi kami tidak pernah
berduaan sama sekali.
"……Kemarin,
bisa tidur?"
"……Yah,
lumayan lah."
Karena itulah,
percakapan kami pun terasa kaku.
"Kok
suasananya jadi kelam gitu~?"
Melihat kondisi
kami, Kurahashi memiringkan kepala dengan bingung.
"E-eh,
benarkah?"
"Mungkin
cuma perasaanmu saja?"
Baik aku maupun
Miori, kami buru-buru mencari alasan.
"Haha……"
Aku sadar betul
tawa itu terdengar palsu.
---Hari
itu, aku benar-benar bodoh.
Bukan,
aku memang selalu bodoh, tapi aku melakukan kesalahan yang fatal.
Aku
membicarakan hal yang tidak perlu kepada Miori. Padahal tidak perlu menceritakan semuanya.
Aku seharusnya
tahu perasaan apa yang dimiliki Miori padaku.
Seharusnya aku
bisa membayangkan bagaimana perasaan Miori kalau kubicarakan hal seperti itu.
Merasa panik…… hanyalah alasan belaka.
Aku terlalu
memanjakan diriku pada Miori.
Aku pikir Miori
akan memaafkanku kalau aku bersandar padanya.
Aku yang bodoh
ini telah menyakiti Miori. Pada akhirnya, aku sama sekali tidak berubah.
Seperti yang
dikatakan pria yang mengaku Dewa itu, aku hanya berasumsi bahwa diriku sudah
berubah.
"Suasananya
mirip mantan pasangan yang baru putus, ya~?"
"Guh……"
Komentar santai
Kurahashi menusuk tepat di dada kami.
"Duh, kamu
ini terlalu tidak peka, ya……"
"Ah, maaf
maaf~"
Fujiwara menegur
Kurahashi.
Mungkin untuk
ukuran murid kelas dua, mereka seharusnya tahu kalau Miori pernah menyukaiku.
Kurahashi memang
tipe yang tidak ragu menyinggung hal sensitif dengan santainya.
"……Hei,
Miori."
"……Apa?"
Sekali lagi,
mataku bertemu dengannya dalam jarak dekat.
"Ehm……"
Aku merasa harus
mengatakan sesuatu.
Namun,
kata-kata yang paling penting justru tidak keluar.
Miori
memalingkan wajahnya karena canggung.
"……Kalian
berdua benar-benar aneh. Apa
terjadi sesuatu~?"
Kurahashi menatap
kami dengan tatapan tajam.
"Haibara-kun
kan sedang berpacaran dengan Hoshimiya-san! Mana mungkin terjadi apa-apa, lah!"
Fujiwara memukul
kepala Kurahashi pelan sambil menyuruhnya berhenti.
"……Benar apa
kata Fujiwara."
Aku berbohong
sambil memaksakan senyum hambar.
Tentu saja, ada
sesuatu yang terjadi. Dan
aku pun sudah tidak berpacaran dengan Hikari lagi.
Fakta
bahwa suasana kami aneh adalah hal yang objektif.
Setidaknya,
aku tahu kalau aku harus bersikap biasa saja di depan orang lain.
Namun,
aku tidak bisa berpura-pura dengan baik.
"Berbaris!"
Tiba-tiba,
ketua tingkat angkatan berseru dengan lantang. Sepertinya waktu
berkumpul sudah habis.
"Ayo, cepat berbaris nanti kena marah!"
Seperti biasa, Fujiwara memimpin kelas untuk berbaris.
Untuk karyawisata, satu kelas dibagi menjadi enam sampai
tujuh kelompok, dan kami berbaris dengan ketua kelompok di depan.
Karena aku adalah ketua kelompok, aku berdiri paling depan.
Saat melihat ke belakang, teman sekelompokku---Tatsuya, Reita, Miori, Fujiwara,
dan Kurahashi---sedang berbaris. Perlu diketahui, Mei, Kijima, dan Funayama
berada di kelompok lain.
"Semuanya sudah lengkap? Kalau begitu, saya akan
menjelaskan aturan yang harus diperhatikan."
Akhirnya, karyawisata dimulai.
Pertama, ada ceramah panjang lebar dari ketua tingkat yang
membuat semangat semua orang hampir padam, namun wali kelas kami melakukan aksi
penyelamatan dengan berkata, "Sudah hampir waktunya……"
"Oh, begitu rupanya…… kalau begitu, pastikan kalian
selalu mematuhi aturan selama perjalanan!"
Singkat cerita,
kami pun naik ke bus sesuai kelas masing-masing.
Busnya
memiliki struktur standar dengan lorong di tengah dan dua kursi di tiap sisi.
Pengaturan
tempat duduk tidak ditentukan. Namun, karena kami berbaris sesuai kelompok, mau
tidak mau kami duduk sesuai kelompok, dengan mengisi kursi dari baris paling
belakang.
Kelompok
kami terdiri dari tiga pria dan tiga wanita. Hasilnya, Tatsuya dan Reita duduk
berdampingan, sementara Fujiwara dan Kurahashi duduk bersama, yang membuatku
secara alami duduk di sebelah Miori.
"……Eh?"
"Maaf. Tadi
situasinya berjalan begitu saja……"
"Bukan
begitu, bukannya aku tidak suka, sih……"
Sudah terlambat
kalau ingin bertukar tempat duduk sekarang, itu malah terlihat aneh.
Selain itu,
karena teman sekelas lainnya terus berdatangan, aku tidak bisa bergerak
sembarangan.
"Semua sudah
ada? Kalau begitu, kita berangkat."
Setelah wali
kelas melakukan absensi kembali, bus pun meninggalkan area parkir.
Perjalanan
panjang dimulai dari sini. Pertama, kami akan menuju Bandara Haneda di Tokyo
dari kota Maebashi, Prefektur Gunma.
Mempertimbangkan
kemacetan lalu lintas pagi hari, mungkin akan memakan waktu sekitar tiga jam.
"Senang
banget ya, meski hari kerja tapi tidak perlu ikut pelajaran."
"Apalagi
tidak ada latihan klub. Belakangan ini latihan klub benar-benar berat."
"Klub
basket pria disuruh lari saat waktu luang sebelum tidur."
"Eh,
serius? Tapi ya tinggal bolos saja, kan?"
"Pelatih
klub basket pria juga ikut mengawasi……"
"Wah,
itu sih menyebalkan. Ya sudah, semangatlah."
Di dalam
bus, suasana langsung ramai dan bising.
"……"
"……"
Mungkin
hanya aku dan Miori yang tidak saling bicara.
Miori
menopang dagunya di bingkai jendela, menatap pemandangan jalan tol yang
monoton.
"……Maafkan
aku."
Ucapnya
lirih. Dengan volume suara yang nyaris tenggelam oleh kebisingan di sekeliling
kami.
"……Memangnya
apa yang kamu sesali?"
Justru,
seharusnya akulah yang meminta maaf.
"Ini
salahku. Karena aku, Natsuki putus dengan Hikari-chan."
Ternyata aku
memang terlalu banyak bicara hari itu.
Aku telah
membebani Miori dengan beban yang tidak perlu.
"Bukan. Itu semua salahku. ……Maaf, aku sudah bicara
yang aneh-aneh."
"Meskipun
itu adalah aku dari dunia lain, itu tetap saja kesalahanku."
"Lupakanlah.
Aku cuma sedang gila saat itu."
"Memangnya
kamu pikir dengan kalimat seperti itu kamu bisa selamat?"
"……Sebaliknya,
kenapa kamu malah memercayaiku? Bahkan kalaupun itu bukan soal Time Leap."
Miori yang teman
masa kecilku tahu perbedaan antara aku saat SMP dan aku yang sekarang.
Dan jika dia
mendengar kesimpulan dari Hikari, aku paham kenapa dia percaya soal Time Leap.
Tapi bicara soal
memori masa depan di dunia pertama, itu pasti terdengar tidak masuk akal.
"Entah satu
atau dua fenomena supranatural, begitu aku memutuskan untuk memercayaimu, itu
tidak ada bedanya."
……Benar juga,
dari sudut pandang Miori, memang begitu jadinya.
"Kamu
melihat mimpi tentang garis dunia yang benar, lalu mendapatkan pengalaman yang
seharusnya tidak ada, itu adalah tekanan dari dunia yang berusaha kembali ke
keadaan semula. Mungkin lebih tepat jika kita menamakannya kekuatan koreksi
dunia. Karena pergeseran garis dunia menjadi terlalu besar, dunia yang asli
terancam punah dan melontarkan pesan krisis."
Itulah penjelasan
dari pria yang mengaku Dewa, meskipun aku tidak terlalu paham logikanya.
Tapi yah, tidak
ada alasan bagiku untuk berbohong. Aku hanya bisa menerima kalau memang seperti
itulah adanya.
"Bagaimana
hubunganmu dengan Hikari-chan sejak itu?"
"Aku
tidak menghubungi dia, dan dia pun tidak menghubungiku."
"……Begitu,
ya."
Aku
mengeluarkan smartphone dari saku dan membuka percakapan dengan Hikari.
'Aku
hampir sampai!'
'Mengerti.
Aku akan menjemputmu.'
Itu
adalah percakapan terakhir kami satu minggu yang lalu.
"Aku
akan melakukan sesuatu."
Ucap
Miori dengan nada yang kuat.
"……Eh?
Melakukan sesuatu, maksudnya bagaimana?"
"Aku akan
membuatmu kembali bersama Hikari-chan."
"……Tidak
mungkin, itu mustahil."
"Kamu sudah
tidak menyukai Hikari-chan lagi?"
"Mana
mungkin."
"Kalau
begitu, kenapa kamu menyerah?"
"……Itu."
Yang ditanyakan
Miori mungkin apakah aku ingin kembali bersama Hikari.
Jika hanya
berdasarkan perasaan pribadiku, tentu saja aku ingin kembali. Namun, jika
keberadaanku justru membuat Hikari semakin sengsara, lebih baik aku tidak
mendekatinya lagi.
Lagipula, aku
harus memilih salah satu dunia.
Jika aku harus
kembali ke dunia pertama…… maka apa pun yang kulakukan setelah ini tidak ada
artinya.
"……Aku tidak
ingin membicarakannya."
Hari itu, aku
menceritakan segalanya pada Miori.
Hanya saja,
percakapan dengan pria yang mengaku Dewa itu adalah kejadian setelahnya.
Karena itu, Miori
tidak tahu kalau akulah yang diberi pilihan untuk menentukan dunia.
Tentu saja, tidak
perlu memberitahunya. Aku tidak boleh membebani Miori lagi.
Karena sudah
terlanjur membicarakan hal yang tidak perlu, dia jadi merasa semua ini
salahnya.
Ucapanku
benar-benar tidak peka. Aku
hanya terus mengulangi kesalahan yang sama.
Jika saja aku
tidak menceritakan apa pun, Miori tidak akan meneteskan air mata.
"……Hikari
yang memutuskan untuk putus. Tolong hargai kehendak Hikari."
"Mungkin
benar begitu, tapi…… aku yakin itu bukan niat aslinya. Hikari-chan sangat
menyukaimu, tahu? Kalau kita bicara sekali lagi dengan benar---"
"---Hikari
tidak akan mengucapkan selamat tinggal dengan mudah."
Karena dia adalah
orang yang sangat menghargai kata-kata.
"Itu……"
Miori kehilangan
kata-kata dan terdiam.
"Aku yang
telah mengkhianati kepercayaan Hikari. Hanya itu saja. Miori tidak perlu
mengkhawatirkannya."
"Tapi…… aku adalah sekutumu."
"Sejak kapan
kita punya hubungan seperti itu?"
Hubungan kerja
sama kita sudah lama berakhir.
"Baru saja,
aku baru saja memperbarui hubungan kerja sama kita. Aku akan bekerja sama untuk
membuatmu dan Hikari-chan kembali bersama."
"Aku tidak
meminta kerja sama seperti itu."
"Aku tidak
meminta persetujuanmu."
"……Kamu
terlalu memaksa."
"Berisik.
Aku hanya ingin melakukannya."
Sikapnya lebih
keras dari biasanya.
"Sudah
kubilang berkali-kali. Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun."
Ini adalah
masalahku.
Justru Miori di
dunia pertama hidup bahagia berkat Miori.
Tapi,
menyampaikan rasa terima kasih itu kepada Miori yang ada di sini tidak ada
gunanya.
Karena Miori di
dunia pertama dan Miori di dunia kedua, meski dasarnya sama, mereka menjalani
kehidupan yang berbeda.
"……Aku
melakukan ini bukan karena aku pikir ini salahku."
"Lalu, apa
maksudnya?"
"Karena aku
tidak ingin melihatmu memasang wajah seperti itu, makanya aku ingin kalian
kembali bersama."
"……Memangnya
aku memasang wajah suram?"
Aku merasa sudah
sangat berhati-hati agar tidak disadari oleh teman-teman yang lain.
Tapi, sepertinya
Miori tetap menyadarinya.
"Hei---"
Saat Miori baru
saja hendak mengatakan sesuatu, layar ponselku menyala karena notifikasi.
"……Ada
apa?"
Yang muncul di pop-up
adalah grup obrolan bernama 'Kemah Pantai'.
Grup 'Kemah
Pantai' itu berisi anggota yang ikut denganku ke pantai musim panas lalu.
Singkatnya, itu
adalah anggota 'Natsuki Family' dari kelas satu dua tahun lalu, ditambah dengan
Miori dan Serika.
Belakangan
ini, justru grup ini yang lebih aktif.
Setelah
mengetuk aplikasi untuk membukanya, kulihat Uta mengirim pesan.
Isinya
adalah, 'Sore hari ketiga, aku ingin foto bareng semuanya di pantai!'.
Seketika
itu juga, semua orang mulai menekan stiker 'Suka!'.
Nanase, Tatsuya, Reita, Serika…… dan Miori yang duduk di
sebelahku pun ikut menekan stiker itu.
Setelah sepuluh menit berlalu, hanya aku dan Hikari yang
belum memberikan reaksi.
"……Sudah dibaca oleh tujuh orang, ya," gumam Miori
sambil menatap ponselnya sendiri.
Kata-kata itu bermakna bahwa semua orang sudah melihatnya.
Artinya, meskipun
Hikari melihat obrolan ini, dia tidak memberikan reaksi apa pun.
Penyebabnya
tidak perlu dipikirkan lagi. Pasti karena dia tidak mau bertemu denganku.
Tanganku
tidak sanggup bergerak untuk sekadar menekan stiker, jadi aku memasukkan ponsel
ke dalam saku.
……Aku menunda
masalah itu lagi.
Padahal aku tahu
bahwa cepat atau lambat, aku harus memberikan jawaban.
*
Bus yang membawa
kami akhirnya tiba di Bandara Haneda.
Setelah turun
dari bus, kami diminta berbaris kembali di dalam bandara.
Setelah
itu, kami menitipkan tas duffel dan menuju ke dekat gerbang keberangkatan.
Meski pemeriksaan
keamanan sudah selesai, masih ada waktu sekitar tiga puluh menit sebelum
pesawat mulai dinaiki.
Setelah mendengar
peringatan entah keberapa kalinya dari ketua tingkat agar kami sadar diri
sebagai siswa Suzunari, kami diberi waktu bebas sebentar.
Murid-murid lain
menghabiskan waktu dengan bebas; ada yang membeli camilan di toko, menjelajahi
sekitar, atau mengobrol. Aku meminta izin pada Tatsuya dan yang lainnya dengan
alasan, "Tadi agak mabuk darat di bus," lalu melamun sendirian di kursi
dekat jendela sambil menatap pesawat. Sejujurnya, aku tidak mabuk darat, tapi
perasaanku memang sedang tidak enak.
Ada
banyak hal yang harus kupikirkan.
Masalah tidak
akan selesai kalau terus-terusan ditunda. Aku tahu itu.
"Hap."
Tiba-tiba,
seseorang duduk di kursi kosong di sebelahku.
Saat aku menoleh,
ternyata Serika sedang meminum cola.
Pakaian bebas
Serika hari ini adalah model off-shoulder dengan desain mencolok, celana
slacks dengan belahan, dan sepatu hak tinggi. Pakaian yang keren, tapi
membuatku bingung harus memandang ke mana.
Bahkan saat ini
pun, Serika menarik banyak perhatian.
Gaya rambutnya
berbeda dari biasanya; ujung rambut yang diikat bergelombang longgar, dan dia
mengenakan anting di telinganya.
Secara
keseluruhan, gayanya terlalu gyaru. Apa dia benar-benar sebebas itu?
"Apa tidak
apa-apa pakai baju begitu?"
"Tadi aku
dimarahi habis-habisan sama guru. Padahal baju ini imut, tahu."
"Kurasa
masalahnya bukan cuma di situ……"
Meski SMA
Suzunari dikenal punya aturan sekolah yang relatif santai, tetap saja tindakan
itu di luar batas.
"Lagipula,
kenapa cuma dimarahi? Kamu menyuap gurunya?"
"Wali
kelasku adalah penggemarku."
"Apa tidak
apa-apa dengan itu……"
Terlalu jauh
mencampuradukkan urusan pribadi dan pekerjaan!
"Kalau
karyawisata begini, kalau tidak 'bersenjata' (berdandan), semangatku tidak akan
muncul."
"Jadi gaya gyaru
itu adalah senjatamu…… maksudku, kamu benci karyawisata ya?"
"Habisnya,
waktu buat dengar musik jadi sedikit, dan aku juga tidak bisa main gitar."
Bagi Serika yang
mendedikasikan hidupnya untuk musik, mungkin ini adalah acara yang sangat
mengekang.
"Tapi,
dengan pergi ke tempat asing, terkadang aku mendapat inspirasi untuk menulis
lirik."
Serika
mengeluarkan ponselnya dan memasang earphone di satu telinga.
"Jadi, rasa
semangat itu sebanding dengan rasa malasnya."
Mungkin dia ingin
tenggelam dalam dunianya sendiri dengan musik meski hanya saat waktu luang.
"Dengar
lagu apa?"
"Lagu
'Alternative Plans'-nya ELLEGARDEN."
"……Lagu yang bagus, ya."
Percakapan antara
aku dan Serika terhenti sampai di sana.
Aku tidak tahu
kenapa Serika datang ke sebelahku.
Tapi, mungkin
saja Serika tahu. Bahwa aku dan Hikari sudah putus.
Itu karena Serika
sekelas dengan Hikari, dan belakangan ini mereka selalu bersama. Seingatku,
kelompok karyawisata mereka pun sama. Tidak aneh jika dia mendengar ceritaku
dari Hikari.
……Setidaknya, dia
pasti menyadari kalau ada sesuatu yang tidak beres.
Serika pasti
sedang menunggu aku bicara. Itulah kenapa dia ada di sampingku.
Buktinya,
Serika yang sedang mendengarkan musik tidak memasang salah satu earphone-nya.
"……Misalkan
saja, jika hidup itu ada dua."
Serika menutup
kelopak matanya tanpa berkata apa-apa.
Aku tidak tahu
apakah dia mendengar ucapanku, tapi aku tetap melanjutkan kata-kataku.
"Jika kamu
harus memilih salah satu, apa yang akan jadi tolok ukurmu?"
"Itu sih
sudah jelas."
Serika menjawab
dengan cepat tanpa membuka matanya.
"Pilih
yang terlihat menyenangkan."
Jawaban
yang sangat khas Serika.
Tapi, ya benar
juga. Kurasa aku pun akan menjawab hal yang sama.
Hanya saja…… jika masalahnya semudah itu, aku tidak akan
merasa tersiksa seperti ini.
"Lalu,
bagaimana dengan kondisi ini? Hidup di mana dirimu senang tapi orang berharga
bagimu menderita, atau hidup di mana dirimu sengsara tapi orang berharga bagimu
bahagia…… menurutmu bagaimana, Serika?"
"Hal seperti
itu tidak akan terjadi."
Serika
menyanggahnya dengan tegas.
"Kalau aku
senang, berarti semua orang juga senang."
"Kalau kamu
menyangkal premisnya, eksperimen pikirannya tidak akan ada artinya, tahu."
"Kalau semua
orang tidak senang, aku pun tidak senang."
"……Itu ada
benarnya juga."
Seperti yang
Serika katakan.
Itulah kenapa
saat ini, pandanganku menjadi kelabu.
"Saat
seperti itu, mari kita ciptakan pilihan ketiga."
Serika
mengacungkan jempol dengan wajah penuh percaya diri.
"Hidup di
mana aku dan orang-orang berharga bagiku sama-sama senang dan bahagia. Aku akan
terus berlari mengejar itu."
"Bagaimana
jika itu terjadi setelah orang berharga bagimu menderita?"
"Meski
sekarang menderita, bukan berarti penderitaan itu akan terus berlanjut
selamanya, kan?"
Selain itu,
Serika melanjutkan ucapannya.
"Karena masa
lalu yang penuh penderitaan tidak bisa diubah, kita tidak punya pilihan selain
berbahagia di masa depan."
……Kata-kata
Serika adalah sebuah kebenaran mutlak.
Setidaknya, bagi
manusia pada umumnya.
Tapi aku yang
sekarang memiliki cara untuk mengubah masa lalu yang penuh penderitaan.
"……Terima
kasih, itu membantuku."
Saat kukatakan
itu, Serika membuka matanya dan menatap wajahku lekat-lekat.
"Aku yakin,
Natsuki akan baik-baik saja."
"……Apanya?"
"Firasatku."
Aku tidak
mengerti apa maksud dari "baik-baik saja" itu.
Namun, kata-kata
Serika selalu memiliki daya persuasi yang misterius seperti biasanya.
*
Pesawat lepas
landas.
Sensasi tekanan
yang seolah mendorong punggungku ke kursi perlahan menguat.
Setelah
itu, tiba-tiba rasa melayang menyerang kami.
"T-tidak
mungkin~! Seram, seram!"
Jeritan Kurahashi
terdengar dari kursi belakang. Sepertinya dia takut ketinggian.
Tidak seperti
bus, kursi pesawat disusun bertiga, jadi aku duduk bersama Reita dan yang
lainnya.
Sedangkan Miori
duduk satu baris di belakang, bersama Fujiwara dan Kurahashi.
"Wah,
pemandangannya luar biasa!"
Tatsuya, yang
duduk setelah Reita, menatap ke luar jendela dengan antusias.
"Orang bodoh dan asap suka tempat tinggi…… ah, pepatah
itu sudah tidak berlaku lagi buat Tatsuya, ya."
Reita
berkata begitu sambil mengangkat bahunya.
"Dulu
aku sering menggunakannya untuk memancing emosi Tatsuya."
"Sekarang
nilai ujianku sudah lebih bagus daripada kamu, rasakan itu."
"Ya ya, aku
juga akan serius mulai tahun depan. Lihat saja nanti."
Alasan Reita
bilang "tahun depan" adalah karena dia akan mulai belajar untuk ujian
masuk.
Tekanan tak
terlihat bernama ujian itu perlahan-lahan mulai mendekati kami.
Setelah
karyawisata ini selesai, kurasa kesempatan untuk menikmati masa muda akan
semakin sedikit.
Sambil memikirkan
hal itu, guncangan pesawat pun mereda.
Sepertinya
pesawat sudah stabil setelah mencapai ketinggian tertentu.
Perjalanan ke
Bandara Naha di Okinawa akan memakan waktu sekitar tiga jam.
Antusiasme
semua orang tinggi, dan suasana di dalam pesawat pun bising.
Mungkin karena
naik pesawat, mereka jadi merasa benar-benar sedang karyawisata.
"Lagian aku
lapar sekali. Makan siangnya pakai makanan pesawat, ya?"
"Kata
sekolah mereka sudah menyiapkan bento. Katanya penerbangan domestik kelas
ekonomi tidak menyediakan makanan pesawat."
Aku membeberkan
informasi yang sudah kucari sebelumnya kepada Tatsuya yang sedang mengelus
perutnya.
Karena ingin
menikmati karyawisata semaksimal mungkin, aku tidak pernah melewatkan
persiapan.
……Yah, sekarang
aku sendiri tidak tahu apakah persiapan itu ada gunanya atau tidak.
"Hee,
begitu ya? Terserahlah, yang penting bisa makan."
Di tengah
percakapan itu, bento pun dibagikan. Bento makunouchi yang cukup
besar.
Porsinya terlihat agak terlalu banyak untuk para gadis.
Rupanya mereka menyamaratakan standar dengan porsi pria.
"Lumayan
sih, tapi kurang kenyang."
"Nagiura-kun,
mau makan punyaku? Aku
benar-benar tidak sanggup menghabiskannya……"
"Oh, kamu
pengertian sekali ya."
Tatsuya
menghabiskan makanannya dengan lahap, lalu menerima sisa bento dari Fujiwara di
kursi belakang.
"Kamu selalu
saja makan banyak."
"Pemain
basket butuh fisik yang kuat. Kalau tidak makan, kita tidak bisa bicara apa-apa."
Tatsuya berkata
sambil melahap nasi putih dengan rakus.
"Aku merasa
badanku makin besar dalam beberapa bulan terakhir."
"Sebaliknya,
bukannya Natsuki malah jadi sedikit kurus?"
"Belakangan
ini aku memprioritaskan latihan band, jadi latihan otot sering
terabaikan……"
Tentu
saja, aku tetap berolahraga secukupnya agar tidak gemuk.
Aku ingin
menjadi versi diriku yang sekeren mungkin agar bisa berdiri dengan percaya diri
di samping Hikari.
Dulu aku
berpikir begitu. Aku berpikir begitu, dan aku bertindak begitu.
Tapi sekarang
setelah dicampakkan oleh Hikari, itu semua sudah tidak ada artinya.
"Natsuki?
Ada apa?"
Melihatku yang
terdiam, Tatsuya bertanya.
"Ah, maaf.
Tidak ada apa-apa."
Aku buru-buru
menggelengkan kepala untuk mengalihkan perhatian.
Sepertinya lebih
baik jika mereka belum tahu kalau aku dicampakkan oleh Hikari.
Jika kuceritakan
sekarang, itu hanya akan merusak kesenangan karyawisata semua orang.
……Bahkan saat ini
pun, tanpa sadar aku terus mencari sosok Hikari.
Aku membenci diriku sendiri yang begitu sulit move on.
Padahal, aku yang telah mengkhianati kepercayaan Hikari ini
tidak punya kualifikasi untuk sekadar mengajaknya bicara.
*
Pesawat tiba di Bandara Naha.
Pengumuman bergema di langit-langit yang tinggi, dan suara
roda koper terus terdengar tanpa henti.
"Kok panas sekali, ya?"
"Rasanya benar-benar sudah sampai di Okinawa."
Cuacanya cerah. Saat keluar, sengatan matahari terasa begitu
menyilaukan sampai-sampai aku harus memicingkan mata.
Suhu udara
sekitar tiga puluh derajat. Udaranya lembap dan terasa hangat melekat di kulit.
Hawa panas yang
tidak terasa seperti akhir September. Benar-benar terasa seperti daerah tropis.
Aku
melepas hoodie yang kukenakan lalu memasukkannya ke dalam ransel. Kemeja
lengan pendek sudah cukup.
Kami naik
ke bus yang sudah menunggu di bandara, lalu menuju tempat pembelajaran
perdamaian.
Tempat
yang dituju adalah aula besar di gedung bernama Aula Pemuda Okinawa.
Kursi-kursi lipat
sudah berjajar di aula yang diperkirakan mampu menampung tiga ratus orang.
Karena angkatan
kami berjumlah dua ratus empat puluh orang, kami bisa duduk dengan lega.
Kami mendengarkan
ceramah tentang perang selama satu jam, lalu melihat langsung gua bawah tanah
yang pernah digunakan saat perang (sepertinya disebut pengalaman Gama).
Karena ini adalah karyawisata 'pendidikan', kami harus belajar dengan
sungguh-sungguh.
Setelah itu, kami
naik bus lagi menuju hotel tempat kami menginap di hari pertama.
Tiga puluh menit bus melaju.
Bus pun berhenti di area parkir hotel.
"Wow~,
semangatku jadi naik, nih~"
Begitu turun dari
bus, Kurahashi yang kebetulan ada di dekatku berkata.
"Resor hotel
yang sangat megah, ya."
Barisan pohon
palem yang menuju ke pintu masuk semakin memperkuat suasana tropis.
Lalu, bangunan
berwarna putih gading itu berdiri kokoh dengan latar belakang langit senja.
Sepertinya gedungnya memiliki lebih dari dua puluh lantai.
Kami berkumpul
kembali di lobi terbuka dan dijelaskan mengenai aturan hotel.
Setelah itu, kami
diberi waktu bebas sampai makan malam.
Pertama, kami
harus menaruh barang bawaan di kamar masing-masing.
Pembagian kamar
sudah ditentukan sebelumnya.
Kamar pria ada di
lantai empat, sedangkan kamar wanita ada di lantai lima.
Satu kelas dibagi
menjadi kelompok berisi empat sampai lima orang, dan aku satu kelompok dengan
Reita, Tatsuya, Mei, dan Kijima. Anggota yang itu-itu saja.
Kami segera
menuju kamar bersama Tatsuya dan lainnya.
Membuka pintu
kamar dengan kartu kunci, lalu masuk ke dalam.
Itu adalah kamar
bergaya barat dengan tiga tempat tidur di sisi kiri dan dua di sisi kanan.
Di dekat pintu
masuk terdapat meja panjang dan kursi sesuai jumlah orang. Ada juga TV.
Ternyata kamarnya lebih luas dari yang kubayangkan.
Aku hampir tidak
ingat apa-apa tentang karyawisata di dunia pertama, jadi semuanya terasa sangat
baru.
"Wah, bagus
sekali."
"Sepertinya
akan sangat nyaman."
Kijima
dan Reita melihat sekeliling kamar sambil menaruh barang bawaan.
"Wooo!"
Tatsuya
langsung melompat ke tempat tidur di dekat pintu.
"Ah~, empuk
dan nyaman sekali."
"Woi bodoh!
Kita kan belum memutuskan siapa tidur di kasur yang mana!"
Kijima menegur
Tatsuya dengan wajah marah.
"Kalau
begitu, aku yang ini saja. Soalnya sudah terlanjur melompat ke sini."
"S-sialan
kau……!"
"Sudahlah,
sudahlah. Lagipula tidak ada bedanya tidur di kasur mana pun. Kamarnya tidak
ada perbedaan fasilitas, kok."
Mei menenangkan
Kijima yang dahinya tampak berkerut karena marah.
Setelah itu, kami
melakukan hompimpa untuk menentukan posisi kasur yang tersisa.
Tiga kasur di
sisi kiri ditempati Tatsuya, Kijima, dan Mei. Sedangkan dua kasur di sisi kanan
ditempati aku dan Reita.
Begitu aku duduk
di atas kasurku, aku baru menyadari rasa lelah di tubuhku.
"Benar-benar
melelahkan……"
Kijima
bergumam pelan sambil berbaring telentang.
"Soalnya
hari ini isinya perjalanan terus-menerus."
Aku setuju dengan
ucapan Kijima. Karena lebih dari separuh hari dihabiskan untuk perjalanan,
wajar saja kalau lelah.
"Mungkin
karena duduk terus saat sesi pembelajaran perdamaian, pinggangku jadi
sakit……"
Mei memukul-mukul
pinggangnya.
"Kenapa kamu
bersikap seperti orang tua saja?"
Tatsuya tertawa
melihat Mei. Tatsuya sepertinya masih punya banyak tenaga.
"Ya sudah,
mari kita istirahat dengan santai hari ini. Besok baru mulai wisata Okinawa
yang menyenangkan."
Reita berkata
begitu sambil menyalakan TV dengan remote.
Program variety
show yang biasa kami tonton sedang tayang.
"Benar
juga! Aku tidak sabar! Soki soba, taco rice, goya
champuru!"
"Isinya
makanan semua, dasar."
Kami beristirahat
sambil menonton TV dan mengobrol santai.
Aku merasa
suasana ceria di kamar ini seperti berada di tempat yang jauh sekali.
Padahal ini
karyawisata, tapi hanya aku yang tidak bisa bergabung dalam lingkaran keceriaan
itu.
*
"Ah, kenyang
sekali."
Setelah selesai
makan malam, kami kembali ke kamar.
Tatsuya
berbaring di kasur sambil mengelus perutnya yang penuh.
"Makan nasi
sampai tiga mangkuk itu terlalu banyak……"
"Steaknya
enak sekali."
"Buah
pencuci mulutnya juga segar."
Kami
menghabiskan waktu bebas dengan mengobrol dan main kartu.
Sebenarnya
aku ingin segera mandi, tapi waktu penggunaan pemandian umum sudah dijadwalkan.
Tentu
saja boleh mandi dengan shower di kamar, tapi sayang sekali jika tidak
memakai pemandian umum yang besar. Hari ini tubuhku lelah karena perjalanan,
jadi aku ingin berendam di air hangat dengan santai.
Setelah
menunggu giliran kami, kami pun berbondong-bondong menuju pemandian umum.
Saat
turun ke lantai dua tempat pemandian umum berada, kami berpapasan dengan
sekelompok gadis yang baru selesai mandi.
Kebetulan,
di antara kelompok gadis itu ada Uta dan Nanase.
"Eh?
Bukannya itu Natsu dan yang lain?"
Uta
mengenakan kemeja dan celana pendek, pakaian santai yang berbeda dari biasanya.
"Baru
mau mandi?"
Nanase
mengikat rambut hitam panjangnya ke belakang dan memakai baju jersey
lengan panjang dan celana panjang.
Keduanya
menaruh handuk di bahu, rambut mereka masih basah. Mungkin akan dikeringkan di kamar.
"Ah, ya.
Bagaimana pemandian umumnya?"
"Luas
sekali, dan sangat nyaman!"
"Wah,
aku jadi tidak sabar."
Percakapan biasa.
Tidak ada keanehan pada sikap Uta dan Nanase.
……Artinya,
sepertinya mereka tidak mendengar kabar dari Hikari kalau kami sudah putus.
"Ah, benar
juga! Natsu! Tadi siang aku chat di grup, apa kamu sudah lihat?"
Uta bertanya
seolah baru mengingatnya.
Itu adalah salah
satu masalah yang kutunda.
Usulan Uta untuk
mengambil foto bersama semua orang di pantai pada sore hari ketiga.
Jika memikirkan
Hikari, mungkin lebih baik jika aku menolaknya.
……Tapi kalau
ditolak sekarang, itu akan terlihat sangat aneh.
"Ah, maaf.
Aku lupa membalasnya. Aku tidak masalah, kok."
Pada akhirnya,
aku menjawab begitu. Karena aku tidak punya pilihan lain selain menjawab
demikian.
"Oke! Kalau
begitu, sisanya tinggal Hikarin saja!"
Pilihan itu
berarti menyerahkan keputusan kepada Hikari.
Apakah Hikari mau
berinteraksi denganku sebagai teman mulai sekarang?
Atau, apakah dia
sudah tidak ingin melihat wajahku lagi? ……Entahlah.
"Natsu?"
Melihatku yang
terdiam, Uta memiringkan kepalanya dengan bingung.
"Natsuki,
ayo berangkat."
Tatsuya yang
sedang berbicara dengan Nanase memanggilku.
"Ah,
ya!"
"Sampai
jumpa nanti, ya!"
"……Ya."
Aku memunggungi
Uta dan yang lainnya, lalu menuju ke pemandian umum.
*
Pluk.
Saat aku
menggerakkan tubuh sedikit, permukaan air berguncang.
Sambil berendam
di pemandian terbuka yang mengeluarkan uap panas, aku menatap langit malam
dengan tatapan kosong.
Bintang-bintang
gemerlap di dalam kegelapan yang dalam dan pekat.
"Wah,
luar biasa sekali."
"Benar,
benar-benar menyegarkan~"
"Ya."
Aku
mengangguk menanggapi ucapan Tatsuya dan Mei.
Panas
dari pemandian meresap perlahan ke tubuhku yang lelah.
Namun, di
balik tembok pemisah, terdengar suara gadis-gadis yang sedang bercanda ria.
Sejujurnya,
itu membuat perasaanku jadi sedikit aneh, jadi aku berharap mereka berhenti.
"Sial…… seandainya saja tidak ada tembok ini……!"
Kijima menatap
tembok pemisah antara pemandian pria dan wanita dengan penuh rasa iri.
"Apa tidak
ada lubang di suatu tempat?"
Tatsuya
celingak-celinguk mencari lubang di tembok. Ya mana mungkin ada.
"Benar-benar……
pantas saja kalian begitu."
Di sisi lain,
Reita mengangkat bahunya seolah meremehkan Tatsuya dan yang lainnya.
"Kenapa
Reita. Kamu juga mau lihat, kan?"
"Itu namanya
tidak masuk akal. Bayangkan saja dari suaranya. Itulah cara menikmati situasi
ini."
"Begitu rupanya…… luar biasa, Reita."
Kijima
mengangguk seolah terkesan, tapi tolong tenanglah.
Itu sama sekali
bukan sesuatu yang hebat.
"Wow,
tubuh Minan sungguh……!"
Suara
lantang terdengar dari sebelah.
Itu suara
Miori. Terdengar seperti dia tidak sengaja mengucapkannya.
"Benar,
kan~? Aku sering dibilang begitu~"
Kurahashi
merespons dengan gaya santai seperti biasanya.
Alasan
percakapan dengan volume suara normal itu terdengar adalah karena para pria di
sini semua sedang memasang telinga.
"……Apanya
yang luar biasa?"
"Lawannya
Kurahashi, tahu. Kamu
mengerti, kan?"
"Dada-nya……"
"Besar
sekali."
Tatsuya dan yang
lainnya berbisik satu sama lain.
"B-boleh aku
sentuh?"
Woi Miori. Jangan
coba-coba menyentuhnya.
"Boleh
saja~"
"Tentu
saja tidak boleh! Tidak senonoh!"
Fujiwara menyela
percakapan mereka dengan panik.
"Bayangkan,
bayangkan---"
Kijima menutup
mata dan bermeditasi di dalam pemandian.
"Jadi Miori
ada di sana…… hmmm…… begitu rupanya."
Reita sedang
mengangguk pada apa, entah lah. Biarkan saja.
"Apa
yang sedang kalian lakukan, benar-benar……"
Mei tampak lelah.
Syukurlah, ada
teman yang berpikiran waras.
"Mei tidak
ikut-ikutan, ya."
"Tentu saja
tidak. Aku kan sudah punya kekasih?"
"---Airnya
hangat sekali."
"!?"
Saat itu, suara
Funayama terdengar samar, membuat tubuh Mei tersentak.
"Mei?"
"Jangan ajak
aku bicara. Aku sedang fokus saat ini."
"Kalian
semua sama saja……"
Pada akhirnya,
ternyata anak laki-laki SMA hanyalah sekumpulan orang yang penuh dengan hasrat.
*
Kami yang sudah
puas berendam di pemandian kembali ke kamar.
Waktu sudah lewat jam sembilan. Terlalu cepat untuk merasa
mengantuk.
Setelah jam sepuluh adalah waktu tidur, tapi sebelum itu
dianggap waktu bebas.
"Hei, tidak
bisa pergi ke kamar cewek, ya?"
"Katanya
guru berjaga di dekat lift. Sepertinya
Hino tertangkap."
Reita menjawab
pertanyaan Kijima sambil melihat ponselnya.
"Apa yang
dilakukan orang itu……"
"Mungkin dia
ingin menemui Fujiwara?"
Hino memang sudah
memadu kasih dengan Fujiwara sejak kelas satu.
"Meski lift
tidak bisa, bukannya ada tangga?"
"Lagipula,
mereka pasti menjaga keduanya, kan."
"Meski
begitu, bukankah layak dicoba?"
Sepertinya Kijima
belum menyerah.
"Ada apa
Kijima. Jangan-jangan ada gadis yang kamu suka?"
Tatsuya
bertanya sambil menyeringai.
"Bukan
begitu. Cuma saja, Chihiro
mengajakku. Bagaimana kalau kalian ikut?"
Kijima
menunjukkan layar LINE.
Chihiro adalah
gadis yang satu kelompok dengan Kijima. Nama keluarganya kalau tidak salah
Aihara.
"Kalau
Aihara-san, bukannya dia satu kamar dengan Miori?"
"Ya. Dia
mengajakku main kartu atau semacamnya."
"Bukankah
Aihara-san menyukai Kijima?"
"……Yah,
aku belum ditembak, tapi aku merasakan atmosfer seperti itu."
Kijima
menggaruk kepalanya.
"Maaf,
tapi aku tidak ikut. Kalau
ada Uta mungkin saja."
Tatsuya
menolak dengan tegas tanpa ragu.
"Kamu setia
sekali, ya. Padahal kalian belum jadian."
"Kalau sudah
jadian tapi masih ke kamar wanita lain, pasti akan dianggap tidak serius."
"Cih, kaku
sekali. Reita bagaimana?"
"Kurasa aku
akan melewatkannya. Statusku saja masih dalam masa skors."
Reita
tersenyum getir sambil mengangkat bahu.
Sejak insiden
kekerasan itu, Reita sengaja mempertahankan diri sebagai murid teladan.
Dia tidak
akan melakukan tindakan yang melanggar aturan. Mungkin dia tidak ingin
menyusahkan klub sepak bola.
"Lalu,
Shinohara?"
"Sepertinya
Shizuki akan marah……"
Mei yang sudah
punya pacar juga menggelengkan kepala.
Aihara-san dan
Funayama memang satu kelompok, tapi sepertinya kamar hotelnya berbeda.
"Haibara…… eh, kamu juga tidak bisa karena ada
Hoshimiya, kan."
Kijima menyerah lalu berbaring.
"Aku juga tidak punya keberanian untuk menyusup
sendirian ke sarang para gadis."
Padahal aku sekarang sudah sendiri. Meski begitu, aku juga
tidak akan pergi.
"Ngomong-ngomong Kijima. Bukannya kamu dulu pacaran
sama Miwa?"
Tatsuya
melemparkan topik pembicaraan.
"……Itu
cerita kelas satu, tahu. Aku sudah lama diputuskan olehnya."
Nama yang
familier. Miwa-san. Gadis yang sesekali kuajak bicara saat kelas satu.
Kami tidak sedekat teman…… tapi aku sempat ditembak saat
musim gugur. Karena saat itu aku
sudah berpacaran dengan Hikari, aku tidak punya pilihan selain menolaknya.
Miwa-san juga
adalah orang yang harus meneteskan air mata karenaku.
"Katanya dia
menyukai Haibara, makanya dia memutuskan aku. Baru bisa kubicarakan sekarang,
sih."
Kijima berkata
dengan nada santai.
Suasana ruangan
menegang sesaat.
……Karena aku,
Kijima diputuskan oleh Miwa-san?
"Ya, meski
akhirnya dia juga ditolak oleh Haibara."
"……Benarkah
begitu? Natsuki."
Aku belum pernah
menceritakan hal ini kepada siapa pun.
"……Ya, dia
memang menembakku, tapi kutolak. Itu tepat setelah aku mulai berpacaran dengan
Hikari."
"Ternyata
Natsuki memang populer, ya."
Mei
berkata dengan nada kagum.
Aku ingin
menyanggahnya secara refleks, tapi wajah orang-orang yang menyukaiku melintas
di benakku.
"……Maaf."
"Kenapa kamu
malah minta maaf? Itu bukan salahmu, kan. Waktu itu memang sedih, tapi setelah
satu tahun berlalu, ini sudah jadi bahan tertawaan. Makanya aku
ceritakan."
Kijima merangkul
bahuku. Pasti, tidak ada kebohongan dalam perkataannya.
"Lagipula Haibara,
sampai kapan mau memanggil 'Kijima-kun'? Bukannya itu terasa canggung?"
"……Kalau
begitu, boleh kupanggil Toshiki?"
Itu adalah nama
depan Kijima.
"Ya. Aku
juga akan memanggilmu Natsuki. Ayo, kita berteman baik."
Kijima---Toshiki,
tersenyum lebar.
Dia mencoba
mempererat jarak denganku, meski aku seperti ini. Aku merasa senang.
"Ah, curang
sekali Natsuki! Kalau begitu, aku juga boleh memanggilmu Toshiki, kan?"
"Hmm, kalau
Shinohara... kurasa tidak boleh..."
"Kenapa?!"
Melihat Mei yang
terperangah, Toshiki dan yang lainnya tertawa terbahak-bahak.
"Canda,
kok. Senang berkenalan denganmu, Mei."
Rasanya, satu
lagi ikatan pertemanan kami semakin menguat.
"Kalau
begitu, kami juga akan memanggilmu Mei saja. Mumpung lagi begini."
"Betul
juga."
"E-eh...
kalau begitu, Toshiki, Tatsuya, Reita, sekali lagi, mohon bantuannya!"
Mei menundukkan
kepala dengan sopan.
"Berlebihan
sekali kau ini."
"Apa mungkin
dia agak mirip Natsuki?"
Tatsuya dan Reita
tersenyum getir. Yah, aku dan Mei memang sama-sama berasal dari golongan inkya
(pendiam/kurang pergaulan) sih.
"Ngomong-ngomong
Toshiki, kalau Aihara menyatakan perasaannya padamu, apa kau akan jadian
dengannya?"
"Tentu saja.
Sudah saatnya aku memulai 'cinta yang berikutnya'."
"Wah, anak
muda sekali! Aku pasti mendukungmu!"
"Tolong
bantu aku ya. Kalau ada bantuan darimu yang satu kelompok denganku, segalanya
pasti bakal berjalan lancar."
Toshiki dan yang
lainnya mengobrol dengan riang.
……Meski begitu,
tidak bisa dimungkiri bahwa akibat tindakanku di dunia putaran kedua,
Kijima-kun telah tersakiti.
Di dunia putaran
pertama, mungkin mereka berdua bisa berpacaran tanpa masalah.
Ternyata,
perubahan sejarah yang kulakukan memang menyebarkan ketidakbahagiaan bagi semua
orang.
Kalau begitu,
aku……
"Hei
Natsuki. Sebenarnya apa yang terjadi?"
Saat aku sedang
tenggelam dalam lautan pikiran, Tatsuya tiba-tiba bertanya.
Begitu aku
mengangkat wajah, Tatsuya, Reita, Toshiki, dan Mei semuanya menatapku
lekat-lekat.
"……Kau pikir
kami tidak menyadari perubahan sikapmu?"
Reita tersenyum
tipis.
"Kau itu
orangnya mudah ditebak."
"Padahal kau
begitu menantikan karyawisata ini, tapi sejak tadi kau terlihat kurang
bersemangat."
"Ngomong-ngomong,
aku sama sekali tidak menyadarinya sampai mereka memberitahuku."
Tatsuya,
Mei, dan Toshiki bergantian berbicara.
"……Aku
sengaja diam karena tidak mau merusak suasana karyawisata kalian."
"Ceritakan
saja. Kita ini teman, kan?"
Lagipula, kabar
tentang hubunganku yang kandas dengan Hikari cepat atau lambat pasti akan
terbongkar.
Selain hal yang
berkaitan dengan time leap, rasanya tidak masalah jika menceritakan
sisanya.
"……Aku
dicampakkan oleh Hikari."
" "
"Eh!?" "
"
Tatsuya
dan yang lainnya refleks berseru kaget.
"Suara
kalian terlalu keras. Pelankan."
Reita meletakkan
jari telunjuk di depan bibirnya.
Waktu tepat
menunjukkan jam sepuluh malam. Jam tidur telah dimulai.
Ini adalah waktu
di mana guru akan marah jika kami berisik di dalam kamar.
"Tumben
Reita tidak terkejut."
"Aku
terkejut, kok. Hanya saja tidak terlihat di wajahku."
Sementara itu,
Tatsuya dan yang lainnya saling berpandangan dengan wajah syok.
"……S-serius
nih?"
Tatsuya
berbisik memastikan.
"Ya.
Dia bilang selamat tinggal, jadi sudah tidak diragukan lagi."
"Kalian
berdua tidak membalas pesan di grup, jadi aku sempat mengira kalian mungkin
sedang bertengkar..."
"Aku tidak
percaya kalian sampai putus..."
"Apa yang
terjadi? Bukannya hubungan kalian terlihat baik-baik saja?"
Menjawab
pertanyaan Toshiki, aku menjawab dengan singkat.
"……Ini
salahku. Aku telah mengkhianati kepercayaan Hikari. Makanya aku
dicampakkan."
"……Apa kau
tidak bisa menceritakan detailnya?"
"Maaf...
tapi untuk sekarang, aku tidak mau membicarakannya."
Menceritakan detail berarti menyentuh rahasia time leap.
Terlepas dari Hikari yang pernah menguji teori time leap-ku
atau Miori si teman masa kecilku, aku tidak yakin orang lain akan percaya jika
kuceritakan. Meskipun mereka adalah Tatsuya dan teman-temanku.
Lagipula, bahkan jika mereka percaya, itu hanya akan
membebani mereka dengan beban yang tidak perlu.
Tentu saja, itu
tergantung seberapa jauh aku bercerita.
Tapi karena ada
bagian yang memang tidak bisa kuceritakan, lebih baik aku diam saja.
"Yah, aku
tidak akan memaksamu untuk cerita kalau kau tidak mau."
Melihatku yang
terdiam, Tatsuya menggaruk kepalanya.
"Pantas
saja kau tidak bersemangat. Sekarang aku mengerti."
Sebenarnya,
alasan aku tidak bersemangat bukan semata-mata karena dicampakkan Hikari.
Melainkan karena
tindakan kukulah yang membuat Hikari dan Miori menangis.
Dan karena aku
akhirnya tahu kenyataan bahwa tindakanku telah membuat semua orang menderita.
Tentu saja, rasa
sakit karena dicampakkan Hikari juga besar, tapi karena ini salahku, aku tidak
bisa menyalahkan siapa pun.
"Apa ada
sesuatu yang bisa kami bantu?"
"……Terima
kasih banyak atas perhatiannya, tapi ini masalah kami berdua."
Terhadap Mei yang
tampak khawatir, aku menggelengkan kepala.
"Begitu,
ya……"
"Yah,
mungkin saja waktu akan menyelesaikan semuanya!"
Mungkin Toshiki
ingin mencairkan suasana, jadi dia sengaja berkata optimis.
Namun, sayangnya
waktu tidak akan menyelesaikan apa pun.
Justru, waktu
hanya akan memaksaku untuk segera memilih.
Meski begitu,
jawabanku sudah hampir bulat.
---Aku akan
kembali ke dunia putaran pertama.
Penuh Warna
bagiku, adalah warna kelabu bagi semua orang.
Setelah
mengetahui hal itu, aku tidak ingin menjadi orang bodoh yang tetap memaksakan
masa mudaku sendiri.
"Aku
mengerti kau sedang sedih, tapi ini karyawisata, tahu?"
Mungkin karena
kasihan melihatku yang diam saja, Tatsuya merangkul bahuku dengan erat.
"Ayo
nikmati! Untuk hiburan! Bukannya kau juga sangat menantikannya?"
……Memang benar,
aku sangat menantikan karyawisata ini.
Karena ini adalah
acara masa muda terakbar selama SMA, aku benar-benar berusaha keras
menyambutnya.
"……Benar
juga."
Karena aku sudah
memutuskan untuk kembali ke dunia putaran pertama, ini akan menjadi masa muda
terakhirku.
Hari-hari yang
kuhabiskan bersama semua orang di sini sekarang, hanya akan tertinggal di
ingatanku saja.
"Baiklah...
ayo kita naikkan semangatnya!"
"Nah, gitu
dong! Baru seru!"
Jadi setidaknya,
mari kita jadikan karyawisata ini kenangan terbaik.
Dengan menjadikan
kenangan itu sebagai bekal, aku akan melanjutkan sisa hidupku di dunia putaran
pertama.
Karena itu…… aku yakin, itulah keputusan yang paling benar.



Post a Comment