NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Henkyou Kizoku ni Tensei shita Akuyaku Reijō Suki ga Volume 1 Chapter 1

Chapter 1

Nona Villainess Palsu


Setengah bulan telah berlalu sejak aku masuk ke Akademi Bangsawan.

 

Pencarian jodohku sama sekali tidak mengalami kemajuan, namun siapa sangka aku di sini menjalani kehidupan yang cukup menyenangkan.

 

“Kau ini. Meskipun hanya bangsawan kelas bawah, Lagi-lagi berani bersikap sok-akrab pada Yang Mulia...!”

 

“Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, Rena-sama...”

 

Oh, hari ini pun dia kembali beraksi dengan penuh semangat...!

 

Hal pertama di pagi hari, saat aku memasuki ruang kelas untuk mengikuti kuliah, aku merasa sangat antusias melihat pemandangan yang belakangan ini sudah menjadi rutinitas.

 

Seorang gadis cantik berambut pirang yang diikat gaya half-up, dengan sepasang mata ungu indah layaknya batu amethyst, sedang menyudutkan seorang gadis cantik lain yang memiliki rambut dan mata berwarna ungu muda.

 

Nama gadis yang sedang menyudutkan itu adalah Rena Hyacinth.

 

Dia adalah putri dari Keluarga Marquis Hyacinth, salah satu keluarga dengan kekuatan yang masuk jajaran teratas di Kerajaan Suci, sekaligus tunangan dari Putra Mahkota saat ini.

 

Sementara gadis cantik yang satunya lagi bernama Mary Iris, seorang putri dari Keluarga Baronet.

 

Meskipun Akademi Bangsawan adalah tempat di mana hanya anak-anak dari keluarga Baron ke atas yang diizinkan masuk, mereka yang berasal dari keluarga semi-bangsawan seperti Baronet atau keluarga Ksatria juga dapat diterima sebagai murid beasiswa jika mereka sangat berprestasi.




Di samping murid beasiswa tersebut, berdiri seorang pria tampan berambut merah muda pucat dengan mata yang berwarna senada.

 

Pria itu adalah Putra Mahkota kerajaan ini, Alphonse King Protea, yang sedang menatap Rena dengan pandangan tajam.

 

“Hentikan, Rena.”

 

Sepertinya hari ini pun Yang Mulia kembali membela Mary si murid beasiswa dibandingkan tunangannya sendiri, Rena.

 

“Maaf ya, Mary. Tunanganku ini...”

 

“Yang Mulia, mengapa Anda membelanya?! Jika Anda bersikap akrab dengan orang yang memiliki status sosial rendah sepertinya, hal itu hanya akan menodai martabat keluarga Kerajaan!”

 

“Rena. Sudah berulang kali kukatakan, kita ini di sekolah. Selama kita belajar di bawah atap yang sama, status sosial itu tidak ada hubungannya.”

 

“T-Tapi...”

 

“Ini tidak akan ada habisnya. Mary, ayo kita keluar sebentar.”

 

“Eh, b-baik...”

 

Seakan kehabisan kesabaran melihat sikap buruk tunangannya, Yang Mulia membawa murid beasiswa itu keluar dari ruangan.

 

“Rena-sama, ayo kita duduk.”

 

“Ya, baiklah...”

 

Setelah Yang Mulia pergi, Rena duduk di bangkunya atas bujukan para pengikutnya.

 

Seperti yang bisa kalian lihat dari runtutan kejadian tadi, ini benar-benar sama persis dengan event Nona Villainess di dalam game otome.

 

Karena ada event semacam ini hampir setiap hari sejak aku masuk, aku sangat menikmati kehidupan di Akademi Bangsawan.

 

Ditambah lagi, berkat mereka yang sangat mencolok, tidak ada yang memedulikan Keluarga Clover yang dijuluki 'Keluarga Margrave Hanya sebatas Gelar' ini.

 

Buktinya, aku bahkan bisa mendapatkan teman dengan normal, padahal Alan pernah bilang kalau mencari teman saja akan sangat sulit bagiku.

 

“Selamat pagi, Arl.”

 

Setelah rutinitas event Nona Villainess itu berakhir, aku berjalan menuju kursiku yang berada di bagian paling belakang kelas, lalu seorang pria tampan dengan rambut biru muda yang agak panjang disertai warna mata yang senada menyapaku.

 

“Selamat pagi, Ralph.”

 

Begitu duduk, aku membalas sapaan dari pria tampan itu sambil mengangkat tangan dengan santai.

 

Nama pria tampan itu adalah Ralph Kelp. Kami mulai mengobrol karena duduk bersebelahan saat upacara penerimaan siswa baru, dan sekarang kami menjadi teman yang mengobrol setiap hari.

 

Dia berasal dari Keluarga Count Kelp, mereka mengelola resort di wilayahnya yang terkenal sebagai tempat liburan para bangsawan. Kudengar wilayah mereka jauh lebih maju dan tidak bisa dibandingkan dengan wilayah Clover.

 

Artinya, dia adalah putra bangsawan berpengaruh, dan tentu saja dia sudah memiliki tunangan.

 

Dari yang kudengar, tunangannya adalah gadis yang sangat menarik dan baik hati. Aku benar-benar iri padanya.

 

“Hei, Ralph.”

 

“Ada apa, Arl?”

 

Aku bertanya padanya sambil memendam perasaan kalah sebagai sesama pria.

“Menurutmu bagaimana tentang perdebatan tadi?”

 

“Bagaimana apanya?”

 

“Kau ada di pihak siapa?”

 

“Itu pertanyaan yang sulit, ya.”

 

Jika ini mengikuti alur cerita Nona Villainess yang selama ini kuketahui, pasti ada salah satu pihak yang bersalah.

 

Tapi untuk kali ini, seperti yang Ralph katakan, kita tidak bisa dengan mudah menghakimi siapa yang salah.

 

Sesuai klaim Rena, jika anggota keluarga kerajaan terlalu akrab dengan putri keluarga Baronet, martabatnya pasti akan dipertanyakan.

 

Bagi bangsawan daerah sepertiku, itu bukanlah urusan yang relevan. Tapi keluarga kerajaan dan bangsawan pusat yang sering menghadiri pergaulan sosial rupanya sangat memedulikan hal-hal semacam itu.

 

Dan yang terpenting, sebagai seorang tunangan, pasti sangat menyakitkan melihat pasangannya bersikap akrab dengan wanita lain.

 

Di sisi lain, argumen Yang Mulia juga masuk akal.

 

Karena ini adalah sekolah, tidak seharusnya ada diskriminasi status sosial di dalam Akademi Bangsawan.

Dalam hal tertentu, pemikiran Yang Mulia ini sangat pantas dimiliki oleh seorang anggota keluarga kerajaan yang berdiri di atas rakyatnya.

 

Terlebih lagi, tahun ini adalah tahun yang tidak biasa karena hanya ada satu murid beasiswa, yaitu Mary.

 

Kudengar awal mula Yang Mulia mulai berbicara dengan Mary adalah karena Yang Mulia melihat Mary diejek oleh murid-murid lain lantaran dia satu-satunya yang berasal dari kaum kuasi-bangsawan.

 

“Ngomong-ngomong, Arl sendiri ada di pihak mana?”

 

“Itu, um... coba tebak saja.”

 

Tentu saja jawabannya adalah Rena sang Nona Villainess, tapi jika aku mengatakannya secara terang-terangan, itu sama saja dengan tidak menghormati keluarga kerajaan.

 

Ralph adalah anak yang peka, jadi dia pasti akan berasumsi kalau aku mendukung argumen Yang Mulia.

 

“Begitu ya, Rena-sama rupanya.”

 

Apa? Ternyata tidak tersampaikan...!?

 

“Kok kesimpulannya malah ke sana?!”

 

“Habisnya, Arl, kau tertarik pada Rena-sama, ‘kan?”

 

“—Ghk!?”

 

Aneh, padahal seingatku aku tidak pernah sekalipun membicarakan preferensiku ini padanya.

 

“Arl. Kalau kau terus-terusan menatap Rena-sama sejak kita masuk akademi, kurasa siapa pun setidaknya akan menyadarinya.”

 

“...”

 

Sepertinya tanpa sadar semuanya terlihat jelas dari sikapku. Hanya saja, mungkin Ralph salah paham tentang satu hal. Aku tidak memiliki perasaan romantis pada Rena.

 

Status sosial antara putri bangsawan pusat dan putra dari 'Margrave Hanya sebatas Gelar' terlalu jauh berbeda, dan dia sudah memiliki tunangan yang tak terkalahkan, yaitu Yang Mulia.

 

Sejak awal, aku tidak terlalu naif untuk memimpikan sebuah hubungan yang mustahil terwujud.

 

Saat aku berniat membuka mulut untuk menyangkal pendapatnya itu, Ralph sudah berbicara mendahuluiku.

 

“Arl. Ada kabar baik untukmu.”

 

Ralph mendekatkan mulutnya ke telingaku dan berbisik.

 

“Sebenarnya, sedang ada pembicaraan tentang pembatalan pertunangan antara Yang Mulia dan Rena-sama.”

 

Hee... pembatalan itu berarti putus tunangan... eh, seriusan? Aku memang sempat berpikir kalau cepat atau lambat hal itu akan terjadi. Tapi, bukankah ini terlalu cepat?

 

Untuk saat ini, aku memutuskan untuk meminta Ralph menceritakan lebih detail tentang informasi tersebut.

 

※※※

 

Bagi para anak-anak bangsawan daerah yang tidak bisa pulang ke rumah selama bersekolah di Akademi Bangsawan, akademi menyediakan kamar asrama pribadi di dalam area sekolah.

 

Setelah jam pelajaran selesai dan kembali ke asrama, aku telentang di atas tempat tidur dan menghela napas panjang.

 

Pembicaraan tentang pembatalan pertunangan antara Rena dan Yang Mulia sedang memanas.

 

Dari yang kudengar, faksi yang bertentangan dengan Faksi Bangsawan (tempat keluarga Rena bernaung, keluarga Hyacinth), yang biasa disebut Faksi Kerajaan, sedang bergerak aktif.

 

Normalnya, seorang putri dari bangsawan Faksi Bangsawan tidak akan mungkin menjadi tunangan keluarga kerajaan.

 

Namun, saat pertunangan itu ditetapkan, tidak ada gadis lain yang memiliki bakat lebih unggul daripada Rena. Itulah sebabnya, klaim dari Faksi Bangsawan disetujui, membuat penolakan dari Faksi Kerajaan berakhir sia-sia.

 

Ditambah lagi, karakter Rena yang pada awalnya itu polos dan penurut sangat berbanding terbalik dengan karakternya sekarang.

 

Ini adalah pola klasik di mana kepribadian seseorang berubah menjadi arogan begitu ia menjadi tunangan seorang pangeran.

 

Oleh karena itu, sejak pertunangan ditetapkan, Faksi Kerajaan selalu berusaha mencari cara agar pertunangan Rena dan Yang Mulia bisa dibatalkan.

 

Akan tetapi, sekeras apa pun para bangsawan Faksi Kerajaan mencoba, Yang Mulia tidak pernah berniat membatalkan pertunangannya dengan Rena.

 

Yang Mulia terkenal akan kebaikannya, mungkin ia memikirkan bagaimana nasib Rena setelah pertunangan dibatalkan.

 

Setelah melihat keteguhan hati Yang Mulia, Faksi Kerajaan menyadari satu hal, fakta bahwa Rena yang merupakan putri pemimpin Faksi Bangsawan sekaligus memiliki masalah kepribadian, tidaklah cukup untuk mengubah keputusan Yang Mulia.

 

‘Apakah ada cara lain untuk menggerakkan Yang Mulia?’, Para bangsawan Faksi Kerajaan terus mencari sesuatu untuk memecahkan kebuntuan tersebut.

 

Dan pada saat itulah, Mary Iris muncul. Kehadirannya membuat sikap Rena semakin memburuk dari sebelumnya.

 

Sebagai tanggapannya atas perilakunya itu, sikap Yang Mulia juga ikut berubah, ia mulai menunjukkan perkataan dan tindakan yang menyalahkan Rena.

 

Bagi para bangsawan Faksi Kerajaan, ini adalah kesempatan emas. Jadi mereka segera mendesak Yang Mulia untuk membatalkan pertunangannya, dan sepertinya respons yang mereka dapatkan jauh lebih positif dari sebelumnya.

 

Menurut Ralph, dalam waktu dekat mungkin akan ada pergerakan secara terang-terangan di Akademi Bangsawan ini.

 

“Siapa tahu, mungkin aku juga punya kesempatan, ya.”

 

Kenyataannya, di akhir ceritanya Ralph berkata padaku,

 

“Bagaimana kamu menggunakan informasi ini, itu terserah padamu.”

 

Karena dia bilang begitu, jika aku melakukannya dengan sangat baik, kemungkinan bagiku untuk mendapatkan Rena mungkin tidak sepenuhnya nol.

“Misalnya, mencalonkan diri sebagai tempat pengasingan Rena...”

 

Di luar dugaan, ide itu kedengarannya tidak buruk.

 

Situasi saat ini memaksaku untuk menyerah pada Rena karena dia adalah tunangan Yang Mulia dan perbedaan status kami terlalu jauh. Tapi jika pertunangannya dibatalkan, situasi itu akan berubah.

 

Pembatalan pertunangan akan membuat Rena tidak lagi menjadi tunangan Yang Mulia. Dan jika diketahui bahwa keluarga kerajaan yang memutuskan pertunangan tersebut, ia pasti akan diperlakukan layaknya barang cacat atau gadis bangsawan yang bermasalah.

 

Jika sudah begitu, bahkan diriku yang berasal dari 'Keluarga Margrave Hanya sebatas Gelar’ pun memiliki kemungkinan yang cukup untuk bersanding dengannya.

 

Jika harus menyebutkan satu masalah besar, itu adalah bagaimana caranya bernegosiasi dengan Yang Mulia... tunggu dulu.

 

“Hentikan, hentikan. Ide ini konyolnya kelewatan.”

 

Mana mungkin Yang Mulia bersedia meluangkan waktunya yang berharga untukku.

 

Lagi pula, aku juga tidak tahu seberapa banyak kebenaran dari cerita yang kudengar dari Ralph tadi.

Aku tidak ingin melewatkan peluang realistis yang ada di depan mata, hanya karena mengejar mimpi yang mustahil.

 

Aku memperingatkan diriku sendiri yang sempat menaruh sedikit harapan itu, lalu jatuh tertidur.

 

※※※

 

Keesokan paginya. Sama seperti kemarin, Rena dan Yang Mulia kembali berdebat.

 

“Yang Mulia, sampai kapan Anda akan terus bersama dengannya?”

 

“Rena, kau masih saja meributkan hal itu...”

 

Dilihat dari percakapannya, tidak ada yang berubah dari biasanya. Kecuali fakta bahwa ada seorang siswi lain yang berdiri di samping Mary, di belakang Yang Mulia.

 

“Hei, Ralph. Anak yang ada di sebelah Mary Iris itu...”

 

“Ah, dia Valeria Marigold.”

 

Ralph segera menjawab ketika aku bertanya tentang gadis cantik yang identik dengan rambut berwarna persik kekuningan yang diikat side ponytail dan mata yang berwarna senada tersebut.

 

Keluarga Count Marigold terkenal sebagai bangsawan yang sangat setia pada keluarga kerajaan. Artinya, dia adalah bagian dari Faksi Kerajaan, musuh politik bagi keluarga Rena—yakni Keluarga Hyacinth.

 

“Aku punya firasat buruk soal ini...”

 

“Aku setuju denganmu. Tak kusangka hari ini situasinya akan berkembang seperti ini.”

 

Sambil terus mengamati interaksi Rena dan yang lainnya, tiba-tiba Valeria melangkah maju ke depan Yang Mulia.

 

“Rena-san. Bisakah kamu segera menghentikan ini?”

 

“—Ghk, Valeria-san.”

 

Munculnya seorang wanita dari faksi musuh membuat Rena bersiaga.

 

“Rena-san, sebenarnya apa yang membuatmu begitu tidak menyukai Mary-san?”

 

“Tentu saja status sosialnya.”

 

“Status sosial? Yang Mulia selalu berkata bahwa status sosial tidak ada hubungannya di tempat ini.”

 

“I-Itu...”

 

“Ara, apakah kamu berniat mengatakan sesuatu? Tindakan yang menyangkal kehendak Yang Mulia... itu adalah sebuah ketidaksopanan, lho.”

“—Ghk, t-tidak mungkin. Saya hanya—“

 

‘Hanya demi kebaikan Yang Mulia.’

 

Ucapan Valeria memiliki kekuatan yang begitu besar, hingga Rena tidak mampu mengeluarkan kata-kata itu dari mulutnya.

 

“Nah, silakan sampaikan apa yang ingin kamu katakan.”

 

“...”

 

Setelah didesak sedemikian rupa oleh Valeria, bahkan sosok sehebat Rena pun akhirnya terdiam membisu. Perubahan sikapnya itu menciptakan suasana kelas berubah menjadi dingin.

 

Setengahnya adalah akibat ulah Rena sendiri.

 

Namun, jika melihatnya terus disudutkan seperti ini, itu membuatku merasa sangat kasihan pada Rena.

 

“Aku tidak bisa diam saja melihat ini.”

 

“—Ghk, Arl?”

 

Menanggapi perlakuan kejam yang diterima oshi-ku, secara refleks aku mulai mengangkat pinggulku dari kursi.

 

Dan tepat ketika aku hampir berdiri sepenuhnya...

 

“Kalian berdua, hentikan...!”

“ “—Ghk, Yang Mulia...!?” “

 

Yang Mulia, yang biasanya bersikap lemah lembut, tiba-tiba membentak dengan nada marah. Tekanan suaranya tanpa sadar membuat pinggulku kembali mendarat di kursi.

 

“Valeria. Sejak kapan aku mengizinkanmu untuk maju?”

 

“—Ghk, saya sungguh memohon maaf...!”

 

“Dan juga, Rena. Bukankah ini sudah saatnya untuk menghentikan tingkahmu? Jika terus begini, kau hanya akan menurunkan martabat Keluarga Hyacinth.”

 

“—Ghk, Anda benar...”

 

Suhu panas di antara mereka berdua yang sebelumnya terus memuncak, langsung merosot drastis akibat perkataan Yang Mulia.

 

Dan hal yang sama juga terjadi padaku.

 

“Arl. Mau bagaimanapun, tindakanmu tadi itu terlalu berbahaya.”

 

“Ya. Kau benar...”

 

Meskipun kulakukan demi Rena, aku benar-benar bertindak tanpa berpikir panjang. Jika Yang Mulia tidak meninggikan suaranya, entah apa yang terjadi padaku sekarang.

 

Membayangkannya saja sudah membuatku ngeri.

 

“Tapi yah, pada akhirnya ini mungkin berbuah hasil yang bagus.”

 

“? Apa maksudmu?”

 

“Coba lihat.”

 

Didorong oleh ucapan Ralph, aku menatap ke arah Yang Mulia.

 

“Yang Mulia sedang melihat ke arah sini.”

 

“...”

 

Tatapan kami benar-benar saling bertemu. Aku tidak bisa mengelak lagi.

 

“Kau benar, pada akhirnya ini memang hasil yang bagus.”

 

Kesempatan untuk berbicara langsung dengan Yang Mulia yang sangat kuinginkan kini telah datang dengan sendirinya.

 

※※※

 

Sepulang sekolah, aku dipanggil oleh Yang Mulia.

 

Tujuan panggilannya sembilan dari sepuluh sudah pasti mengenai kejadian tadi pagi. Meskipun belum sempat bertindak, aku jelas-jelas mencoba untuk ikut campur.

Bagi Yang Mulia, yang lingkungan sekitarnya sedang ramai karena masalah Rena, tindakanku tidak bisa dibiarkan begitu saja. Tapi, dengan ini kesempatan untuk berbicara empat mata dengan Yang Mulia telah jatuh ke pangkuanku.

 

Dengan ketegangan karena tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini, aku berjalan menuju ruang tamu Akademi Bangsawan.

 

Di depan pintu ruang tamu, berdiri penjaga keamanan dengan perlengkapan bersenjata lengkap.

 

“Ini saya, Arl Clover.”

 

Begitu aku menyebutkan namaku, sang penjaga tidak berkata apa-apa dan hanya memberi jalan.

 

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk pintu tiga kali.

 

“Kuncinya sudah dibuka. Masuklah.”

 

“Permisi.”

 

Aku perlahan memasuki ruangan setelah mendapat instruksi dari Yang Mulia yang berada di dalam.

 

Sepertinya semua orang sudah disuruh keluar, karena di ruangan itu hanya ada Yang Mulia sendirian yang sedang duduk di sofa tunggal.

 

Yang Mulia bangkit berdiri dan memberikan senyuman menyegarkan seperti biasanya.

 

“Maaf karena membuatmu repot-repot datang ke sini. Silakan duduk.”

 

Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam untuk merespons kata-kata sambutannya, lalu duduk berhadapan dengannya.

 

“Sebenarnya aku ingin berbicara santai dulu, tapi akhir-akhir ini aku sedang sibuk. Maaf karena tiba-tiba, tapi aku akan langsung masuk ke topik utama.”

 

Dengan senyum lembut yang masih terukir, Yang Mulia melanjutkan.

 

“Kau pasti sudah tahu alasan mengapa aku memanggilmu, ‘kan?”

 

“Iya, Yang Mulia.”

 

“Kalau begitu urusannya jadi lebih cepat. Tadi pagi, apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan?”

 

Dalam negosiasi semacam ini, Yang Mulia jelas berada di atas angin. Pengalamannya jauh berbeda denganku. Sekalipun aku berbohong, ia pasti akan langsung menyadarinya.

 

Mengingat rencana negosiasi ke depannya, merusak kepercayaannya di sini bukanlah keputusan yang cerdas.

 

“Saya mencoba untuk melindungi Rena-sama.”

 

“Melindungi Rena?”

 

Ketika aku menyatakan fakta itu secara jujur, wajah Yang Mulia menunjukkan ekspresi yang penuh tanda tanya.

 

“Memang benar bahwa sikap Rena-sama akhir-akhir ini bermasalah. Akan tetapi, saya tidak bisa membiarkan begitu saja perlakuan yang ia terima pagi tadi.”

 

“Maksudnya, rasa keadilanmu tidak bisa menerima suasana di tempat itu?”

 

“Tepat seperti yang Anda katakan.”

 

“Begitu rupanya.”

 

Setelah menunjukkan gestur berpikir memegang dagu sejenak, Yang Mulia melanjutkan.

 

“Baiklah. Aku akan memercayaimu.”

 

“—Ghk, apakah Anda yakin?”

 

“Ya. Biar begini, aku cukup percaya diri dalam menilai apakah seseorang sedang berbohong atau tidak.”

 

Hebat, tidak heran dia bisa berhadapan dengan banyak bangsawan kelas atas. Tapi, obrolannya tidak boleh berakhir sampai di sini saja.

“? Ada apa?”

 

“Tidak, itu...”

 

“Jika ada yang ingin kau sampaikan, katakan saja tanpa ragu. Lagipula, aku sudah menyita waktumu dengan memanggilmu ke sini.”

 

Jika Yang Mulia sudah berkata sampai sejauh ini, rasanya justru tidak sopan jika aku tidak menanyakan apa-apa.

 

“Kalau begitu, bolehkah saya menanyakan dua hal?”

 

“Silakan.”

 

Untuk memastikan apakah penawaran yang kupikirkan kemarin itu memungkinkan atau tidak, aku menerima kebaikannya dan mulai bertanya.

 

“Pertama, apa rencana Anda ke depannya mengenai Rena-sama?”

 

“Apa rencanaku maksudnya... tentang pertunangan kami?”

 

“Iya.”

 

“Jangan tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Tapi—“

 

Senyum yang menghiasi wajah Yang Mulia sejak tadi seketika lenyap.

“Aku belum pernah sekalipun memberitahukan jawaban dari pertanyaan itu kepada siapa pun. Kamu tahu apa artinya itu?”

 

“Kurang lebih.”

 

“Kalau begitu, kusarankan agar kau tidak mendengar jawabannya.”

 

Itu adalah peringatan dari Yang Mulia karena khawatir aku akan terseret ke dalam suatu masalah politik jika mengetahui jawabannya.

 

Yang Mulia berniat membatalkan pertunangannya dengan Rena. Tanpa premis itu, penawaranku tidak akan terwujud. Oleh karena itu, aku tidak boleh mundur di sini.

 

“Meskipun begitu, maukah Anda memberitahukannya kepada saya?”

 

“—Sepertinya tekadmu sudah bulat.”

 

“Iya.”

 

“Baiklah, aku akan menceritakannya. Aneh rasanya, tapi intuisiku mengatakan tidak apa-apa jika aku menceritakannya padamu.”

 

Yang Mulia mengambil jeda sejenak, lalu melanjutkan ucapannya.

 

“Akan kusebutkan kesimpulannya. Aku bermaksud membatalkan pertunanganku dengan Rena.”

 

“Ternyata dugaan saya benar.”

 

“Melihat reaksimu, sepertinya kau sudah bisa menebak alasannya.”

 

“Ya, kurang lebih seperti itu.”

 

Sikap Rena yang menjadi arogan setelah pertunangan ditetapkan. Ditambah lagi, desakan terus-menerus dari para bangsawan Faksi Kerajaan untuk membatalkan pertunangan.

 

Mungkin ada alasan lain, tetapi dua hal itulah yang menjadi faktor utama.

 

“Pertanyaan kedua. Mengingat Anda berniat membatalkan pertunangan, apakah alasan Anda belum melakukannya hingga saat ini adalah karena Anda mengkhawatirkan nasib Rena-sama setelah pertunangan dibatalkan?”

 

“Ya. Memalukan memang, tapi kau benar.”

 

Yang Mulia mengangguk sambil tersenyum kecut.

 

Dengan ini, alasan mengapa Yang Mulia ingin membatalkan pertunangan tetapi tidak bisa melakukannya telah terkonfirmasi.

 

“Apa pertanyaannmu sudah cukup terjawab?”

“Ya, jawaban Anda sudah lebih dari cukup. Sekarang, saya ingin mengajukan sebuah penawaran kepada Anda.”

 

“Penawaran...?”

 

Dapat dipastikan bahwa proposal penawaran ini dapat dieksekusi. Sekarang, saatnya untuk menyampaikannya.

 

“Seandainya pertunangan Anda dibatalkan, sebagai bentuk hukuman bagi Rena-sama, Anda bisa memilih untuk membuangnya ke negara tetangga atau ke wilayah perbatasan di dalam negeri, bukan?”

 

“Benar, itu adalah salah satu pilihan yang bisa diambil.”

 

“Maka dari itu, maukah Anda menjadikan Wilayah Clover sebagai tempat pengasingan Rena-sama setelah pertunangan dibatalkan?”

 

“—Ghk!?”

 

Yang Mulia menatapku dengan ekspresi seolah tidak percaya tentang keputusanku untuk menerima seorang wanita yang pertunangannya dibatalkan oleh anggota keluarga kerajaan.

 

Tentu saja wajar jika dia bereaksi seperti itu, apalagi jika yang menerimanya adalah Keluarga Clover, sebuah keluarga yang dijuluki 'Keluarga Margrave Hanya sebatas Gelar'.

 

Yang Mulia berdeham pelan sebelum bertanya.

 

“Arl. Apa tujuanmu? Aku benar-benar tidak paham.”

 

Bahkan Yang Mulia, yang telah melihat berbagai macam taktik politik, tidak bisa menebak niatku.

 

Jawabannya sangat sederhana. Sejak awal, ini sama sekali bukan tentang politik.

 

“Anda telah salah paham akan satu hal, Yang Mulia.”

 

“Salah paham?”

 

“Ya. Sama sekali tidak ada unsur politik dalam penawaran saya ini.”

 

“Lalu, apa alasanmu?”

 

“Di dalam penawaran saya ini, yang ada hanyalah keinginan agar orang yang saya cintai berada di sisi saya.”

 

“—Ghk!”

 

Saking terkejutnya, tubuh Yang Mulia sedikit terangkat dari sofa.

 

“Itu... sejauh yang kutahu, kamu tidak memiliki interaksi khusus dengan Rena, bukan?”

 

“Tepat seperti yang Anda katakan.”

 

“Lalu, kenapa bisa...”

“Itu karena saya menganggap cara hidup Rena-sama begitu menawan.”

 

“C-Cara hidup?”

 

Benar sekali, cara hidupnya sebagai seorang Nona Villainess!

 

“Apakah Yang Mulia tahu mengapa Rena-sama begitu sering menyerang Mary?”

 

“Bukankah itu karena dia ingin aku menunjukkan perilaku yang pantas sebagai seorang anggota Keluarga Kerajaan──”

 

“Anda salah!”

 

Memang benar jawaban Yang Mulia tidak sepenuhnya salah, namun bukan itu inti permasalahannya.

 

“Rena-sama bertindak seperti itu semata-mata karena perasaannya yang tulus kepada Anda. Hanya saja, arah tindakannya berbeda dari apa yang Anda harapkan. Intinya, dia itu sangat setia pada Anda!”

 

“B-Begitukah...”

 

“Coba Anda pikirkan baik-baik. Secara logika, apakah Anda pikir dia akan melakukan hal seperti menyudutkan Mary meskipun itu akan membuatnya dibenci oleh Yang Mulia? Tentu tidak. Tindakan itu dilakukan karena ia sangat mencintai Yang Mulia!”

 

“B-Begitu ya...”

 

“Benar!”

 

Yang Mulia terlihat sedikit ngeri mendengar argumenku yang berapi-api. Namun, bagiku ini justru sesuatu yang menguntungkan.

 

Akan sangat merepotkan jika Yang Mulia setuju dengan ucapanku dan benar-benar jatuh cinta pada Rena.

 

“Intinya, saya jatuh cinta pada keteguhannya yang tidak pernah mau menggoyahkan pendiriannya!”

 

“—Ghk, b-baiklah. Aku paham. Aku sangat mengerti, jadi tolong tenangkan dirimu, Arl.”

 

Apakah ia benar-benar memahaminya?

 

Secara pribadi, masih banyak yang ingin kubicarakan. Namun, karena Yang Mulia terlihat benar-benar kewalahan, aku memutuskan untuk menahan diriku di sini.

 

“Arl. Mengenai penawaranmu itu, aku akan mempertimbangkannya dengan sudut pandang positif.”

 

“—Ghk, benarkah...!?”

 

“Ya. Karena itu, maukah kau membiarkanku membawa pulang pembicaraan ini untuk kupertimbangkan lebih lanjut?”

 

“Tentu saja!”

 

Sepertinya, perasaanku pada Rena berhasil tersampaikan dengan baik.

 

“Arl. Aku senang bisa berbicara denganmu hari ini.”

 

“Saya merasa terhormat mendengarnya.”

 

Aku menerima tangannya yang terulur dengan sopan dan menjabatnya.

 

Apa sudah melakukan apa yang harus kulakukan. Sisanya hanya bergantung pada apakah Yang Mulia akan mengambil keputusan seperti yang kuharapkan atau tidak.

 

Karena aku sudah berusaha sejauh ini, aku sangat berharap penawaranku ini diterima.

 

“Kalau begitu, Arl. Sampai jumpa besok.”

 

Aku menunduk dalam-dalam kepada Yang Mulia dengan perasaan yang sangat puas, lalu meninggalkan ruang tamu.

 

※※※

 

Sihir itu nyata adanya di dunia Arl berada saat ini.

 

Namun, itu bukan sihir mencolok seperti yang ada di cerita fantasi isekai pada umumnya. Itu hanyalah sihir sederhana yang sedikit berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, menyalakan api kecil di ujung jari sebagai pengganti korek api, mengeluarkan angin sejuk setara kipas angin dari telapak tangan, atau sedikit meningkatkan kemampuan pendengaran dan penciuman.

 

Saat ini ada seseorang yang sedang menggunakan sihir semacam itu di ruangan kecil yang bersebelahan dengan ruang tamu.

 

Nama orang itu adalah Valeria Marigold, teman seangkatan Arl sekaligus putri Keluarga Marigold yang sangat setia pada keluarga kerajaan.

 

Valeria sedang bersiaga di ruangan sebelah setelah menerima perintah dari Alphonse.

 

“Sepertinya pembicaraan mereka sudah selesai, ya.”

 

Sihir penguatan pendengaran cukup ampuh untuk menyadap percakapan yang hanya terhalang dinding biasa.

 

Valeria segera menemui Alphonse ketika mengetahui dari isi percakapan bahwa Arl telah pergi.

 

“Ini Valeria.”

 

“Masuklah.”

 

“Permisi.”

 

Begitu melangkah masuk tepat setelah diberikan izin, Valeria langsung menyadari ada yang tidak beres dengan Alphonse.

 

Alphonse, yang bersandar lelah di kursinya, tampak sangat kelelahan.

 

“Apakah sebaiknya kita membahasnya setelah Anda beristirahat sejenak?”

 

“Tidak, itu tidak perlu.”

 

“Tetapi...”

 

“Sudahlah. Silakan duduk.”

 

Atas desakan Alphonse, Valeria pun dengan enggan duduk di kursi.

 

“Pertama-tama, aku ingin mendengar pendapatmu, Valeria, mengenai usulan yang diajukan Arl tadi.”

 

“Jika harus jujur, saya sama sekali tidak memahami apa yang ia bicarakan.”

 

“Begitu ya, jadi Valeria juga berpikir begitu...”

 

Mendengar tanggapan jujur Valeria, Alphonse tersenyum kecil.

 

Arl ingin wilayahnya dijadikan sebagai tempat pengasingan Rena dengan alasan karena ia menyukai Rena.

Valeria masih bisa memahami sampai di situ. Hanya saja, alasan di balik perasaannya itu benar-benar tidak masuk akal.

 

Dari sudut pandang mana dan bagaimana Arl bisa menyukai karakter Rena yang seperti itu?

 

(Yah, antusiasmenya memang sungguhan, sih...)

 

Setidaknya bagi Valeria sendiri yang belum pernah menerima pujian seantusias dan berapi-api seperti itu seumur hidupnya, meski tidak memahami sepenuhnya perkataan Arl, di dalam hatinya terselip sedikit perasaan iri kepada Rena.

 

“Lalu Yang Mulia, bagaimana dengan keputusan Anda?”

 

“Dari sudut pandangku, aku berniat menerima penawarannya.”

 

“Begitu ya...”

 

Terlepas dari motifnya, Valeria juga beranggapan bahwa penawaran Arl layak untuk diterima. Tidak ada alasan khusus baginya untuk menentang keputusan Alphonse.

 

“Saya akan sepenuhnya menghormati keputusan Anda, Yang Mulia.”

 

“Terima kasih. Terkait rencana ke depannya, Valeria, aku juga akan membutuhkan kerja samamu.”

 

“Baik. Perintahkan saja apa yang harus saya lakukan.”

 

“Kalau begitu, ini permintaan pertamaku. Semua hal yang terjadi kali ini, tentu saja harus dirahasiakan rapat-rapat dari orang lain”

 

“Saya mengerti. Bahkan kepada ayah saya sekalipun, saya tidak akan pernah membocorkan hal ini.”

 

“Itu baru Valeria.”

 

Kesetiaan Valeria kepada keluarga kerajaan memang tidak perlu diragukan lagi. Jika ada tindakan yang bertentangan dengan kesetiaan pada keluarga kerajaan, meskipun itu keluarganya sendiri, ia tidak akan memberikan ampun.

 

Itulah sebabnya Alphonse sangat memercayai Valeria.

 

Keberadaan Valeria di sisi Mary hari ini pun bukanlah tindakannya sendiri sebagai Faksi Kerajaan, melainkan perintah langsung dari Alphonse.

 

“Kalau begitu, mari kita bahas rencana kita selanjutnya.”

 

“Baik.”

 

Di ruangan itu, Alphonse dan Valeria mulai menyusun rencana yang melibatkan penawaran Arl secara matang.

 

Tiga jam kemudian, diskusi mereka selesai. Matahari telah sepenuhnya terbenam.

“Terima kasih, Valeria. Aku akan menyampaikan detail ini kepada Arl.”

 

“Kalau begitu, saya akan segera memulai persiapannya.”

 

“Kuserahkan padamu.”

 

Setelah menerima peran dari Alphonse, Valeria meninggalkan ruang tamu untuk memulai tugasnya. Dan kemudian—

 

“Dengan begini, aku akhirnya bisa mengabulkan permintaanmu, Rena.”

 

Ditinggal sendirian di ruang tamu, Alphonse menggumamkan kata-kata itu.

 

※※※

 

Beberapa hari kemudian, aku menerima pesan resmi dari Yang Mulia bahwa penawaranku diterima.

 

Pembatalan pertunangannya dengan Rena akan diumumkan pada pesta perayaan kelulusan tiga tahun yang akan datang.

 

Jika pertunangan langsung dibatalkan sekarang, ada kemungkinan Rena tidak bisa lulus dari Akademi Bangsawan.

 

Selain itu, keputusan ini juga diambil lantaran Yang Mulia khawatir hari-harinya di Akademi Bangsawan akan dipenuhi oleh perebutan posisi tunangan pengganti Rena.

 

Lagipula, akan sangat merepotkan jika Rena dikirim sendirian ke Wilayah Clover saat aku tidak ada, jadi setting waktu ini juga sangat sempurna bagiku.

 

Namun, untuk menjalankan rencana ini, Yang Mulia menitipkan sebuah tugas padaku.

 

Tugas itu terkait dengan masalah Mary.

 

Semakin keras Rena menekan Mary, para bangsawan Faksi Kerajaan akan semakin mendesak untuk membatalkan pertunangan.

 

Maka dari itu, Yang Mulia harus mengurangi intensitas pertemuannya dengan Mary. Dan sebagai gantinya, ia memintaku untuk melindungi Mary.

 

Tentu saja, bukan hanya aku yang melindungi Mary, Ralph dan Valeria juga akan ikut membantu.

 

Karena akan sulit bagiku untuk menyadari bentuk perundungan halus di kalangan wanita, adanya Valeria di sini benar-benar sangat menguntungkan.

 

Mengenai Ralph, sepertinya ini adalah bentuk perhatian Yang Mulia terhadap lingkaran pertemananku.

 

Dan yang terakhir, tentang masalah ini, kami semua dilarang membocorkannya kepada siapa pun. Hanya kami berempat yang mengetahuinya─aku, Yang Mulia, Ralph, dan Valeria.

 

Sebenarnya, aku berpikir kalau Raja yang tidak lain adalah ayah dari Yang Mulia sendiri, diberi tahu mengenai hal ini.

 

Tetapi, sepertinya ini adalah bentuk perhatian khas Yang Mulia untuk tidak membebani sang Raja dengan masalah pribadinya.

 

Begitulah ceritanya, usulanku dengan sukses diterima, dan kehidupan baruku di Akademi Bangsawan pun dimulai—

 

—Kemudian, tiga tahun telah berlalu sejak kami masuk ke Akademi Bangsawan, dan tibalah saatnya pesta perayaan kelulusan untuk melaksanakan rencana tersebut.

 

Yang Mulia akan mengumumkan pembatalan pertunangannya di akhir acara. Sampai saat itu tiba, kami akan menghabiskan waktu terakhir kami di akademi bersama teman-teman.

 

“Arl. Mulai hari ini, aku tidak akan bisa bertemu denganmu untuk sementara waktu, ya.”

 

“Kau benar. Mungkin kita baru bisa bertemu lagi di acara pernikahan Yang Mulia nanti.”

 

Aku menyetujui ucapan Ralph yang terdengar sedih.

 

Termasuk diriku dan Ralph, besok akan banyak bangsawan daerah yang akan kembali ke wilayahnya masing-masing.

 

Ketika saat itu tiba, yang menantiku adalah kehidupan di pelosok yang sangat terpencil.

Karena Keluarga Clover hampir tidak pernah diundang ke acara pergaulan sosial, kesempatan untuk berkunjung ke Ibukota Kerajaan tidak akan datang dalam waktu dekat.

 

“Hah, aku jadi tidak ingin pulang...”

 

Walaupun Rena akan datang ke rumahku, tetap saja berpisah dari teman-teman ini terasa menyakitkan.

 

“Hei, Arl. Kamu masih saja mengatakan hal seperti itu?”

 

Di tengah keluh kesahku, Valeria, yang mengenakan gaun berwarna citrus, menghampiri kami dengan omelannya.

 

“Sudah berkali-kali aku katakan, Wilayah Clover memegang peran penting dalam menjaga perbatasan negara yang dipercayakan oleh keluarga kerajaan. Tapi kamu malah...”

 

“Kalau kamu ngomong begitu terus, kamu saja yang menggantikanku, Valeria.”

 

“Tidak, kalau itu... Aku memiliki tanggung jawab yang harus kulakukan sendiri...!”

 

“Fufu, sampai hari terakhir pun kalian berdua tetap akrab seperti biasanya, ya.”

 

Mary, yang sejak tadi mengamati interaksi kami tersenyum dengan ceria.

 

Pada awal kami berteman, Mary sangat canggung karena perbedaan status kami, tetapi seiring berjalannya waktu, ia bisa tersenyum secara alami seperti sekarang.

 

Ngomong-ngomong, karena Mary adalah pengguna sihir penyembuhan langka, dia akan bekerja di istana kerajaan. Itu artinya, dia akan tetap tinggal di Ibukota. Aku benar-benar iri padanya.

 

Dan seperti yang Mary katakan, obrolan sepele ini mungkin akan menjadi yang terakhir hari ini.

 

Meskipun aku sering menemui event seperti ini di duniaku sebelumnya, tapi tetap saja terasa mengharukan saat kita mengalaminya secara langsung.

 

“Ara, Arl. Jangan-jangan kamu sedang menangis?”

 

“—Ghk, aku tidak menangis!”

 

“Haha, Arl. Sekali-sekali jujurlah pada diri sendiri.”

 

“Bagaimana denganmu sendiri, Ralph!”

 

Meskipun ia tidak meneteskan air mata, pipinya terlihat sedikit merona merah. Bagi Ralph, tiga tahun di Akademi Bangsawan ini juga menjadi kenangan berharga.

 

Setelah itu, kami bertukar cerita penuh nostalgia tentang masa-masa di akademi.

 

Kehidupan di Akademi Bangsawan terasa sangat damai tanpa insiden besar apa pun. Semua ini berkat ketiga temanku yang ada di sini. Jika mereka tidak ada, aku pasti akan menjalani kehidupan menyedihkan seperti yang pernah Alan ceritakan padaku sebelum masuk akademi.

 

Aku benar-benar sangat berterima kasih pada mereka bertiga.

 

Sekali lagi, dengan perasaan syukur pada teman-temanku, waktu terus berlalu. Dan kemudian—

 

“Maaf karena menyela di tengah kemeriahan kalian, tapi aku ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian semua.”

 

Saat mendekati akhir acara pesta, Yang Mulia melangkah ke tengah aula dan memanggil seluruh orang yang hadir di pesta.

 

Suara Yang Mulia menghentikan setiap obrolan, dan aula itu langsung diliputi keheningan.

 

“Terima kasih. Pengumuman ini berkaitan dengan pertunanganku dengan Rena.”

 

Mendengar kata ‘pertunangan’, beberapa gadis memekik kegirangan.

 

Ketika aku melihat ke arah Rena, di luar dugaan, ia menunjukkan senyuman yang tenang.

 

Kecuali untuk urusan formal, aku nyaris tidak pernah berbicara langsung dengan Rena. Karena itu, wajar jika aku tidak memahami maksud senyumannya itu.

 

Hanya saja, membayangkan senyumnya itu akan segera hancur membuat hatiku sesak.

 

“Kalau begitu, aku mohon dengarkan baik-baik. Seperti yang kalian ketahui, saat ini aku bertunangan dengan Rena. Tetapi—“

 

Mungkin untuk menguatkan tekadnya, Yang Mulia berhenti sejenak sebelum mengumumkannya.

 

“Mulai hari ini, aku membatalkan pertunangan ini!”

 

Begitu kata-kata itu keluar, keheningan sekejap menyelimuti ruangan, sebelum akhirnya digantikan oleh keributan yang menggema.

 

Berdasarkan standar moral di kehidupan sebelumnya, pengumuman semacam ini tidak pantas dilakukan di depan publik kecuali dengan niat untuk menghina Rena.

 

Yang Mulia sendiri pun sebenarnya berpandangan sama.

Tetapi, mengingat posisinya sebagai bagian dari keluarga kerajaan, urusan pertunangan adalah urusan kenegaraan, dan ia tidak punya pilihan lain selain menyampaikannya secara publik.

 

Mengingat biasanya pengumuman ini dilakukan di pesta skala besar yang dihadiri oleh para penguasa wilayah, cara ini bisa dibilang jauh lebih baik.

 

“Yang Mulia.”

 

Rena melangkah ke depan Yang Mulia dengan wajah penuh kesedihan setelah tiba-tiba diputuskan pertunangannya.

 

Ruangan itu kembali sunyi, semua mata tertuju padanya.

 

“Ada apa, Rena.”

 

“Yang Mulia, ini pasti sebuah lelucon, bukan...?”

 

Rena bertanya dengan nada memelas, tetapi Yang Mulia menggelengkan kepalanya.

 

“Apakah aku pernah melontarkan lelucon semacam itu kepadamu?”

 

“—Ghk, t-tapi...!”

 

“Rena. Aku ulangi sekali lagi. Mulai hari ini, aku membatalkan pertunanganku denganmu.”

 

“Kenapa... Bagian mana dari diriku yang membuat Anda tidak puas...?”

 

“Kalau harus disebutkan satu, justru karena kamu tidak memahaminya.”

“T-Tidak mungkin...”

 

Di luar dugaan, tidak ada satupun yang mencibir Rena saat ia menampakkan ekspresi putus asanya. Mungkin karena Yang Mulia yang mengumumkan pembatalan itu sendiri terlihat begitu tersiksa.

 

Aku bersyukur yang hadir di sini hanyalah orang-orang yang sangat mengenal Yang Mulia.

 

“Yang Mulia, izinkan saya bertanya satu hal terakhir kali.”

 

“Apa itu?”

 

“Anda... serius dengan ini, bukan?”

 

“Ya. Jangan memaksaku untuk mengulanginya lagi.”

 

“—Ghk, saya... mengerti.”

 

Berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya agar tidak tumpah, Rena perlahan meninggalkan aula.

 

Tidak ada seorangpun dari hadirin yang berusaha mengejarnya.

 

“Yang Mulia, kenapa...”

 

Begitu Rena pergi, Mary terlihat sangat terpukul. Berbeda dengan kami bertiga yang mengetahui rencana tersebut, Mary sama sekali tidak tahu apa-apa, jadi reaksinya ini sangatlah wajar.

 

Dan hal yang sama juga berlaku bagi seluruh hadirin yang berada di ruangan ini. Ketegangan yang sebelumnya ditahan kini pecah menjadi keributan.

 

Namun, di tengah semua itu, Yang Mulia tetap berdiri di tengah aula, tidak ada satupun orang yang berani mendekatinya. Ia benar-benar diperlakukan seperti wabah.

 

Ketika aku sedang menatap Yang Mulia, mata kami saling bertatapan.

 

‘Aku ingin berbicara di luar sebentar.’

 

Merasa seolah mendengar kalimat itu, aku keluar dari ruangan, dan tidak lama kemudian Yang Mulia menyusulku.

 

“Kerja bagus hari ini, Yang Mulia.”

 

“Arl, kamu juga telah bekerja keras selama ini.”

 

Ketika melihatnya dari dekat, ekspresi Yang Mulia tampak suram dan terlihat jelas bahwa ia sedang depresi karena tekanan mental yang dihadapi pasti sangat berat.

 

“Arl. Apakah aku, sudah melakukannya dengan baik?”

 

“Anda sangat luar biasa.”

 

“Begitu ya. Kalau begitu, kuserahkan sisanya padamu.”

 

“Baik, saya pasti akan membahagiakan Rena-sama.”

 

“Tolong, kuserahkan padamu.”

 

Terakhir, kami berjabat tangan dengan erat, dan aku berjanji padanya untuk membahagiakan Rena.

 

※※※

 

Rena berjalan pelan meninggalkan aula pesta yang mirip gedung dansa bergaya Eropa itu, melangkah di bawah redupnya cahaya bulan seolah menikmati sisa-sisa perasaan di dalam hatinya.

 

Meski baru saja diputus tunangannya, saat ini tidak ada lagi air mata di wajahnya. Sebaliknya—

 

“Akhirnya, peran ini selesai juga.”

 

Rena memancarkan senyuman yang cerah layaknya seseorang yang baru saja menyelesaikan sebuah misi besar.

 

※※※

 

Setelah tiga tahun sekolah di Akademi Bangsawan, aku yang telah lulus dari akademi kini kembali ke Wilayah Clover.

 

Dari dalam kereta kuda, aku memandangi hamparan alam liar yang tidak berubah sama sekali.

Setelah sampai, aku melangkahkan kaki ke dalam kediaman Keluarga Clover yang berdiri layaknya entitas asing di wilayah perbatasan ini. Dan kemudian—

 

“Aku sudah menunggumu, Arl. Maaf meskipun baru saja tiba, tapi—“

 

“Bisa tolong ceritakan padaku secara detail mengenai hal yang satu ini?”

 

Begitu membuka pintu masuk, aku langsung disambut oleh kedua orang tuaku dengan ekspresi yang tampak tegang dan serius.

 

Reaksi yang sangat tidak biasa bagi orang tua yang baru bertemu anaknya setelah sekian lama, namun hal itu wajar jika mengingat isi surat yang mereka pegang.

 

Aku meletakkan barang bawaanku di kamar, mengganti pakaian, lalu menuju ke aula utama di mana mereka berdua telah menunggu.

 

“Maaf membuat kalian menunggu.”

 

“Baiklah, Arl. Bisa kau jelaskan sekarang?”

 

“Sebenarnya, apa maksud dari semua ini?”

 

Sambil mengucapkan itu, mereka berdua masing-masing menyodorkan selembar surat ke hadapanku. Satu surat berasal dari Yang Mulia untuk Keluarga Clover, dan satunya lagi adalah surat yang kukirimkan pada mereka.

 

Keduanya berisi tentang pengasingan Rena, namun surat dari Yang Mulia memuat informasi resmi, sementara suratku menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di baliknya.

 

“Semua yang tertulis di suratku itu benar adanya.”

 

“Jadi maksudmu, kamu mencalonkan diri sebagai tempat pengasingan Rena-jou yang rencananya akan diputus tunangannya?”

 

“Benar.”

 

“Apa alasannya?”

 

“Seperti yang tertulis di sana, karena saya mencintai Rena-sama.”

 

“Apa kau serius?”

 

“Jika kamu diancam oleh Yang Mulia, tolong jujur padaku, ya?”

 

Reaksi mereka ini sangat wajar mengingat mereka sudah mengetahui tentang reputasi Rena di mata publik.

 

Sebenarnya, aku sangat ingin mengubah pandangan mereka sekarang juga, tapi meluruskan kesalahpahaman ini adalah yang utama.

“Mengenai hal ini, tidak ada paksaan dari Yang Mulia. Ini murni hasil negosiasi yang saya ajukan sendiri kepada Yang Mulia.”

 

“—Ghk.”

 

“Haaah...”

 

Alan menggertakkan gigi, sementara Lucy memijat kening sambil menghela napas.

 

Aku sudah siap dimarahi, tapi kelihatannya ini akan lebih parah dari dugaanku.

 

“Ini semua salah Alan, bukan?”

 

“ “Eh...?” “

 

Alur perkembangan yang tidak terduga ini membuat bukan hanya aku, tapi bahkan Alan juga merasakan kebingungan yang luar biasa.

 

“Lucy, apa yang sebenarnya ka—“

 

“Karena kamu terlalu sering mengancam Arl, makanya Arl sampai mengambil tindakan nekat seperti ini.”

 

“A-Apa...!?”

 

‘Arl bertindak sejauh ini karena merasa putus asa setelah Alan terus-menerus menakut-nakutinya tentang betapa sulitnya pencarian jodoh'.

 

Sepertinya begitulah kesimpulan yang diambil Lucy.

 

“Benar begitu ‘kan, Arl?”

 

Apa yang harus kulakukan... Aku memang bisa saja melemparkan kesalahan ini pada Alan, tapi itu agak terlalu...

 

“Tunggu dulu, Lucy. Aku sama sekali tidak menyangka selera wanita Arl bisa seburuk ini...!”

 

Hei, Alan. Kau baru saja melontarkan kalimat yang tidak bisa kubiarkan.

 

Rasa sungkanku pada Alan yang ada beberapa saat lalu seketika sirna begitu saja.

 

“Ucapan Ibunda benar. Karena Ayahanda terus menakut-nakutiku, saat ada kesempatan di depan mata, aku—“

 

“Lihat sendiri ‘kan, Alan.”

 

“Tidak, tunggu dulu, Lucy. Bagaimana pun kau memikirkannya, jelas-jelas Arl sedang berbohong—“

 

“Apa kamu mengatakan sesuatu, Alan?”

 

Ghk— Tidak, bukan apa-apa.”

Kalau sudah begini, Alan tidak akan bisa berkutik.

 

Di Keluarga Clover, raja sesungguhnya adalah Lucy.

 

Aku merasa bersalah pada Alan, tapi ini salahnya sendiri karena sudah menghina fetish-ku terhadap wanita.

 

“Kalau begitu, Arl. Ada yang ingin kubicarakan dengan orang ini, jadi kamu silakan keluar.”

 

“Baiklah.”

 

“Satu lagi, karena kamu sudah memutuskan untuk menerima Rena-jou, kamu harus bertanggung jawab dan membahagiakannya. Mengerti?”

 

“Tentu saja.”

 

“Jawaban yang bagus. Sekarang, pergilah.”

 

“Baik.”

 

“—Ghk, t-tunggu sebentar Arl, kumohon—“

 

Setelah menerima kata-kata penyemangat yang hangat dari Lucy, aku bergegas keluar agar tidak mengganggu obrolan mereka.

 

Rena akan tiba di kediaman ini minggu depan.

 

Aku sudah tidak sabar menunggu kedatangannya.

※※※

 

Satu minggu telah berlalu sejak kepulanganku ke Wilayah Clover.

 

Hari ini, Rena akhirnya datang ke kediaman kami.

 

“Akhirnya hari ini tiba juga... perutku sakit.”

 

“Ayahanda, sudah saatnya Ayahanda menguatkan mental.”

 

Sambil menunggu kedatangannya di depan pintu masuk, Alan merengek dengan suara menyedihkan.

 

Ngomong-ngomong, Lucy mengurung diri di kamar karena merasa tidak enak badan. Tadi aku sempat memeriksa keadaannya, dan sepertinya itu hanya pura-pura sakit.

 

Keduanya benar-benar tidak ingin bertemu Rena.

 

Mereka ini kejam sekali. Padahal aku saking senangnya sampai hampir tidak bisa tidur semalaman.

 

Setelah kami berdua menunggu sekitar sepuluh menit.

 

Pintu masuk pun terbuka.

 

Rena berdiri seorang diri dibalik pintu yang terbuka itu. Dia bahkan tidak membawa satu pun pelayan atau pengawal.




“Senang bertemu dengan Anda untuk pertama kalinya. Mulai hari ini, saya akan berada di bawah perawatan Anda. Saya Rena Hyacinth. Terima kasih banyak karena bersedia menerima orang seperti saya.”

 

Rena mengangkat sedikit roknya, menunjukkan rasa hormat kepada kami.

 

“Ke depannya, saya akan berusaha sebaik mungkin untuk membalas kebaikan Anda semua, jadi mulai sekarang mohon bimbingannya.”

 

Setelah menyelesaikan kalimatnya dengan nada suara yang tenang, Rena membungkuk dalam-dalam.

 

Berkat pendidikan sebagai calon ratu yang pernah dijalaninya, perilakunya tersebut terlihat sangat natural.

 

“Silakan angkat kepalamu, Rena-jou.”

 

Menanggapi instruksi Alan, Rena mengangkat kepalanya. Ekspresinya sangat lembut dan ramah, membuatku merasa sedikit aneh.

 

“Perjalanan yang panjang pasti melelahkan. Kami sudah menyiapkan kamar, silakan beristirahat di sana untuk sementara waktu. Kita akan bicara setelah itu.”

 

“Saya mengerti. Terima kasih atas kebaikan Anda.”

 

Rena kembali membungkuk dalam-dalam merespons perkataan Alan, lalu menuju kamarnya dengan dipandu oleh Bertrand, sang kepala pelayan.

 

“Hei, Arl.”

 

Aku tahu apa yang ingin dikatakan Alan.

 

“Itu Rena-sama yang asli, tidak salah lagi.”

 

“—Ghk, b-benarkah?”

 

Wajar jika dia meragukannya. Dari seluruh interaksi tadi, Rena sama sekali tidak menunjukkan perilaku seperti seorang Nona Villainess. Malahan, ia lebih terlihat seperti seorang wanita terhormat yang sempurna.

 

Tapi, itu hanyalah permukaannya saja. Sebagai penggemar berat Nona Villainess, aku bisa membaca semua niatnya.

 

Sambil tersenyum sinis, aku memberitahu Alan.

 

“Tenang saja, Ayahanda. Saat ini ia hanya sedang berpura-pura menjadi kucing manis.”

 

Strategi Rena sangat sederhana. Sambil berpura-pura menyesal di Keluarga Clover, di dalam hatinya ia pasti sedang berjuang keras memikirkan cara untuk kembali ke Ibukota Kerajaan.

 

“Pada akhirnya nanti, topengnya akan terlepas.”

“B-Begitu ya... Tapi sejujurnya, aku lebih suka dia yang sekarang...”

 

“Yah, mari kita lihat saja perkembangannya.”

 

Aku sangat menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya.

 

※※※

 

Sudah seminggu sejak Rena tiba di kediaman Keluarga Clover.

 

“Hei, Arl.”

 

“Ada apa, Ayahanda.”

 

“Dia itu benar-benar Rena-jou, ‘kan?”

 

Entah sudah ke berapa kalinya kami mengulang percakapan ini hari ini.

 

Sambil memperhatikan Rena yang sedang membuat sarapan bersama para pelayan dari pintu masuk dapur, kami melanjutkan perbincangan.

 

“Sudah berkali-kali kukatakan, itu memang Rena-sama.”

 

“Hm, meski kau bilang begitu...”

 

Alan bergumam seolah tidak yakin mendengar jawabanku.

 

Jujur saja, perasaanku pun tidak jauh berbeda dengan Alan.

 

Semenjak datang ke rumah Keluarga Clover, Rena tidak pernah mengeluh saat membantu menyiapkan sarapan, serta mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci dan bersih-bersih setiap harinya.

 

“Ayahanda. Apakah putri seorang Marquis memang biasanya bisa melakukan pekerjaan rumah tangga seperti itu?”

 

“Tidak, normalnya tidak bisa.”

 

“Lalu, pelatihan calon istri atau semacamnya?”

 

“Itu juga tidak masuk akal. Dia ‘kan dulunya tunangan Yang Mulia. Tidak ada perlunya belajar mengurus pekerjaan rumah tangga.”

 

Memang benar, bahkan Lucy yang berasal dari keluarga Baron pun belum pernah kulihat mengerjakan tugas rumah. Sekalipun tujuannya untuk menarik simpati, apa perlu sampai sejauh ini?

 

Situasi yang terus berlanjut ini sangat bertolak belakang dengan kehidupan bersama Nona Villainess yang kubayangkan.

 

Saat sedang memusingkan situasi ini, Rena selesai menyiapkan makanan dan keluar dari dapur, menunduk sopan kepada kami.

 

“Selamat pagi, Kalian berdua.”

 

“P-pagi, Rena-jou.”

 

“S-Selamat pagi, Rena-sama.”

 

Begitu kami berdua membalas salam dengan canggung secara bersamaan, Rena menurunkan sudut matanya seperti orang yang merasa serba salah.

 

“Kalian berdua. Tolong jangan bersikap terlalu formal kepadaku.”

 

“ “Eh...?” “

 

Aku dan Alan saling berpandangan mendengar tawaran yang sama sekali tidak mencerminkan sosok Nona Villainess tersebut.

 

“Tapi. Anda adalah putri dari seorang Marquis—“

 

“Itu hanya formalitas saja. Pada kenyataannya, saat ini saya sama saja seperti orang yang diasingkan dari keluarga.”

 

“I-Itu mungkin benar, tapi...”

 

Alan, mentang-mentang kebingungan jangan melihat ke arahku terus. Aku juga tidak tahu harus berbuat apa.

 

Saat dua pria memalukan ini kebingungan memikirkan jawaban, Lucy ikut bergabung dalam obrolan.

“Bukankah apa-apa? Lagipula dia sendiri yang meminta agar diperlakukan seperti itu.”

 

“Selamat pagi, Nyonya.”

 

“Selamat pagi, Rena.”

 

“—Ghk, ‘Nyonya’...?!”

 

“Ayo, kalian berdua juga.”

 

Tak diragukan lagi, nyonya rumah kamilah yang paling bisa diandalkan.

 

Mengikuti arahan Lucy, Alan berbicara.

 

“Selamat pagi, Rena. Terima kasih karena selalu membantu pekerjaan rumah tangga. Para pekerja di kediaman ini juga sangat tertolong.”

 

“Anda terlalu berlebihan.”

 

Tatapan Alan padaku seakan berkata “aku sudah melakukannya, lho”.

 

Aku juga tidak boleh kalah.

 

“S-Selamat pagi, Rena. Selain itu, panggil aku Arl saja.”

 

“Bolehkah?”

 

“Ya.”

 

Sejak tiba di rumah ini, Rena selalu memanggilku dengan Arl-dono, dan di masa akademi dulu kami nyaris tidak pernah mengobrol, jadi rasanya sedikit memalukan tiba-tiba dipanggil dengan nama depan. Tapi, menyedihkan juga kalau hanya aku yang dipanggil dengan formal di rumah sendiri.

 

“Aku mengerti, Arl.”

 

“—Ghk.”

 

Rena menyebutkan namaku sambil menyunggingkan senyuman lembut di bibirnya.

 

Walaupun dia Nona Villainess, senyum lembutnya itu mirip sekali dengan Saintess. Tubuhku tanpa sadar menggeliat pelan ketika menerima serangan sekuat itu.

 

“Kalau begitu semuanya, karena sarapan sudah siap, mari kita pindah ke ruang makan.”

 

Tanpa menyadari kegugupan kami, Rena mulai membawa makanan menuju aula utama.

 

Hari ini pun, keaktifan Rena yang melampaui kemampuan pelayan tidak berubah.

 

Sebenarnya pemandangan macam apa yang sedang kulihat ini...

 

Menghadapi realita yang sulit diterima ini, dengan hati diliputi keputusasaan, aku melangkah untuk menyusul punggungnya.

 

“Tunggu sebentar, Arl.”

 

“Ada apa, Ibunda?”

 

Alan sempat menatapku sejenak saat aku dipanggil oleh Lucy, namun Lucy mengibas-ngibaskan tangannya seolah mengusirnya, membuat Alan dengan canggung mendahului kami dan menuju aula utama.

 

Setelah sosok Rena dan Alan tidak terlihat lagi, Lucy pun angkat bicara.

 

“Arl. Bukankah ini sudah saat yang tepat untuk bertindak?”

 

“—Ghk, ya, Ibunda benar...”

 

Awalnya aku berpikir seminggu sudah cukup untuk memunculkan niat aslinya, tapi nyatanya sampai sekarang pun aku masih tidak bisa menebak apa yang dipikirkan Rena.

 

Meski tidak ada masalah yang timbul akibat hal itu, seperti yang dikatakan Lucy, sudah saatnya aku mengorek informasi darinya secara langsung.

 

“Saya mengerti. Malam ini, saya akan menanyakannya langsung.”

 

“Lakukanlah seperti itu.”

 

Setelah obrolan itu selesai, kami pun menuju aula utama untuk sarapan.

 

※※※

 

Pada akhirnya, hari ini pun Rena membantu seluruh pekerjaan rumah tangga dari awal hingga akhir, dan tidak menunjukkan satu pun tingkah laku khas Nona Villainess.

 

“Baiklah, ayo lakukan.”

 

Sambil memandangi langit malam yang tak berawan dari jendela, aku menguatkan tekadku.

 

Karena sudah diperingatkan oleh Lucy, aku tidak bisa terus membiarkan situasi ini tanpa berbuat apa-apa.

 

Aku keluar dari kamarku, melangkah hingga tiba di depan pintu kamar di ujung lorong. Lalu, setelah mengambil napas dalam-dalam, aku mengetuk pintunya.

 

“Siapa di sana?”

 

“Ini aku. Maaf mengganggu larut malam begini, tapi ada yang ingin kubicarakan.”

 

“Mohon tunggu sebentar.”

 

Tak lama kemudian pintu pun terbuka dan Rena menampakkan dirinya. Ini pertama kalinya aku melihatnya memakai pakaian tidur tanpa riasan. Singkatnya, ia sangat cantik.

 

“Um, karena agak memalukan, tolong jangan terlalu menatapku...”

 

“—Ghk, m-maaf.”

 

“Di mana kita akan bicara?”

 

“Jika Rena tidak keberatan, bolehkah aku masuk ke dalam?”

 

“Aku tidak keberatan. Silakan.”

 

“Terima kasih.”

 

Aku melangkah masuk ke dalam kamar.

 

Wajar saja barangnya hanya sedikit, karena Rena baru tiba seminggu yang lalu. Lain kali aku ingin membelikannya beberapa hadiah kecil.

 

“Arl?”

 

“Ah tidak, bukan apa-apa.”

 

“Kalau begitu, silakan duduk di sini, Arl.”

 

“Bolehkah?”

 

Aku menatap ke arah tempat tidur yang ditunjuk oleh jari Rena.

 

“Iya.”

 

“Kalau begitu, aku tidak akan sungkan.”

 

Setelah aku duduk di tepi tempat tidur, Rena mengambil posisi di kursi yang menghadap ke arahku.

 

“Lalu, apa yang ingin kamu bicarakan?”

 

Begitu mata kami saling bertatapan dengan lurus, Rena langsung memulai pembicaraan.

 

“Kamu mungkin sudah menyadarinya, tapi ini mengenai sikapmu belakangan ini, Rena.”

 

“—Sepertinya aku benar-benar sudah dicurigai, ya”

 

Ekspresi Rena menegang.

 

“Aku akan langsung ke intinya. Sejak kedatanganku di kediaman Keluarga Clover hingga hari ini, seluruh tindakanku semata-mata karena aku ingin bermanfaat bagi keluarga ini.”

 

“Maksudnya, kamu tidak memiliki niat tersembunyi?”

 

“Benar. Aku berani bersumpah atas nama Yang Mulia Raja.”

 

Rena menjawab dengan nada dan sikap tegas berwibawa. Setidaknya, ini bukanlah sikap seorang Nona Villainess seperti yang kukenal.

 

Apakah Rena memang bukan Nona Villainess... tunggu, sebelum menyimpulkan itu.

 

“Rena. Ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan padamu.”

 

“Silakan.”

 

“Rena yang berada di Akademi Bangsawan, dan Rena yang sekarang ada di depanku, mana dari keduanya yang merupakan sosok dirimu yang sebenarnya?”

 

Itulah satu-satunya hal yang harus kupastikan.

 

Mendengar pertanyaanku, Rena menarik napas panjang, seakan meneguhkan tekad, sebelum menjawab.

 

“Diriku yang sekarang, itulah diriku yang sesungguhnya.”

 

Setelah mengatakan hal tersebut, Rena mulai menceritakan seluruh kronologi yang membawanya hingga ke hari ini.

 

“Arl, seberapa jauh kamu mengetahui tentang Keluarga Hyacinth?”

 

“Hanya sebatas mengetahui bahwa keluarga itu berpangkat Marquis dan tergabung dalam Faksi Bangsawan.”

 

Tanpa badan intelijen kelas atas, hampir mustahil untuk mengorek informasi dari keluarga bangsawan lain, terlebih dari bangsawan pusat yang memegang kekuasaan besar.

 

“Lalu, menurutmu apa tujuan mereka menjadikanku sebagai tunangan Yang Mulia?”

 

“Kalau itu...”

 

“Jangan ragu, katakan saja.”

 

“Berdasarkan dugaanku, mungkin mereka ingin mengambil alih keluarga kerajaan.”

 

“Tepat sekali.”

 

Rena membenarkan dugaanku tanpa ada sangkalan sedikit pun.

 

“Apa kamu berpikir tindakan itu terlalu kejam?”

 

“Yah, begitulah.”

 

“Namun, begitulah keadaan Keluarga Hyacinth.”

 

Lalu, Rena membeberkan kepadaku sebagian dari kejahatan-kejahatan yang telah dilakukan Keluarga Hyacinth.

 

Sebagai bangsawan, tentu wajar memiliki ambisi untuk terus meraih posisi yang lebih tinggi. Akan tetapi, apa yang diceritakan Rena telah jauh melewati batas toleransiku.

“Ketika aku mempelajari sejarah Keluarga Hyacinth, aku merasa sangat muak.”

 

Dengan kata lain, Rena tidak lagi bisa menoleransi kehidupan mewah yang didirikan di atas sejarah yang kejam. Jika aku berada di posisinya, aku pasti akan merasakan hal yang sama.

 

“Karena itulah aku memutuskan. Aku akan mengakhiri sejarah keluarga tersebut.”

 

“Jangan-jangan, demi tujuan itu...”

 

“Benar, aku menargetkan agar pertunanganku dengan Yang Mulia dibatalkan.”

 

Mendengar hal tersebut, aku mulai bisa melihat gambaran besarnya.

 

Demi mengakhiri sejarah Keluarga Hyacinth—lebih tepatnya, untuk membuat Keluarga Hyacinth runtuh dan kehilangan pengaruhnya—Rena berusaha memutus pertunangannya dengan Yang Mulia.

 

Aktingnya sebagai Nona Villainess merupakan salah satu langkah dari rencananya.

 

Di tempat itu, aku menghela napas panjang.

 

“Bolehkah aku menanyakan sesuatu yang aneh?”

 

“Sesuatu yang aneh? Jika aku bisa menjawabnya.”

“Pertama, apakah Rena ini tipe karakter gadis bangsawan yang ‘mengulang kembali waktu’?”

 

“? Tipe mengulang kembali waktu, maksudnya?”

 

“Maksudnya adalah gadis bangsawan yang mengalami nasib tragis di masa depan, lalu kembali mengulang waktunya di masa lalu dengan ingatan tersebut.”

 

“...?”

 

“Atau, apa kamu tipe karakter gadis bangsawan yang ‘reinkarnasi’?”

 

“Tipe reinkarnasi?”

 

“Seperti, menjalani kehidupan kedua kalinya... atau pola di mana kamu memiliki ingatan kehidupan di dunia sebelumnya.”

 

“Anu... dari tadi apa yang kamu bicarakan?”

 

Dari reaksinya, terlihat jelas bahwa Rena memang tidak mengerti, membuatku kembali menghela napas.

 

Seandainya Rena melakukan reinkarnasi atau time-leap, semua tindakannya ini akan terasa masuk akal, namun kenyataannya bukan seperti itu.

 

Itu berarti, sejak awal Rena ini memang memiliki pendirian teguh, jujur dengan perasaannya, benar-benar sosok heroine yang paling sempurna bagiku.

Perasaanku sungguh campur aduk. Awalnya, aku berencana untuk secara perlahan mengatasi segala rintangan dan kesulitan, mendekatkan jarak dengannya, hingga akhirnya sifat aslinya yang seperti sekarang terungkap.

 

Tapi kenyataannya, proses untuk menjadi lebih dekat dengannya yang sangat kunanti-nantikan itu langsung terlewati begitu saja.

 

Secara harfiah ini memang hal yang baik, tapi jika dipikir-pikir aku kehilangan kesempatan menikmati proses itu, rasanya susah diungkapkan.

 

“Anu, Arl. Maaf mengganggu saat kamu sedang terlihat murung, tapi bolehkah aku menanyakan satu hal?”

 

Saat aku mengangguk lesu, entah mengapa Rena mendadak terdiam ragu. Terlebih lagi, pipinya sedikit memerah.

 

“Kamu baik-baik saja?”

 

“Iya... soal itu, aku jadi berpikir, kenapa Arl bersedia membawaku ke kediaman ini?”

 

Begitu ya, dari sudut pandang Rena, wajar saja jika ia penasaran.

 

Normalnya, tidak ada orang waras yang mau menampung wanita yang baru saja diputus tunangannya oleh anggota keluarga kerajaan. Itu sama saja dengan mencoreng nama baik keluarga.

Sekarang, jawaban seperti apa yang tepat untuk diberikan?

 

“Beri aku waktu sebentar. Satu menit saja cukup.”

 

Aku mencoba menata kembali perasaanku.

 

Alasanku membawa Rena ke sini adalah karena aku mencintainya. Hanya saja, perasaan itu sebelumnya ditujukan pada Rena yang berpura-pura menjadi Nona Villainess di Akademi Bangsawan.

 

Lalu, apakah aku benar-benar mencintai sosok Rena yang ada di hadapanku ini?

 

Pertanyaan konyol.

 

“Tentu saja karena aku mencintaimu, Rena.”

 

“—Ghk!?”

 

Mendengar jawabanku, wajah Rena seketika merona merah padam.

 

“Itu... apakah benar-benar tidak apa-apa?”

 

Memang sangat disayangkan bahwa aku tidak bisa menikmati proses pendekatan untuk mengikis jarak di antara kami secara perlahan.

 

Meski begitu, tidak diragukan lagi bahwa Rena tetaplah sosok heroine yang paling sempurna bagiku.

Sambil membusungkan dada dengan penuh percaya diri, aku menganggukkan kepalaku.

 

“Ya.”

 

“Uuugh...”

 

Sepertinya Rena sangat malu, bahkan sampai menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

 

Mengingat biasanya ia tampil anggun dan tangguh, reaksi imutnya ini membuat jantungku berdegup kencang.

 

“Rena sendiri, apa tidak apa-apa jika kamu bersama dengan orang sepertiku?”

 

Mengingat situasi di mana aku membawanya ke sini secara sepihak menggunakan skenario pengasingan, walaupun sedikit terlambat, aku harus menanyakannya.

 

Rena membuat sedikit celah pada jari-jarinya yang menutupi wajah, lalu ia menatapku dari celah tersebut dan menjawab.

 

“Iya... Karena aku juga, umm... sangat mencintai Arl.”

 

“—Ghk.”

 

Mendengar kata-kata yang diucapkan dengan susah payah karena menahan rasa malu, pipiku perlahan mulai terasa panas.

 

“A-Arl. Anu... aku ini masih memiliki banyak kekurangan, tapi mulai sekarang aku mohon bimbingannya...!”

 

“O-Oh... aku juga, mohon bimbingannya...”

 

Kami berdua membuang muka, sementara keheningan dengan nuansa manis-asam memenuhi udara.

 

Jika dibiarkan, keadaan ini bisa berlanjut sampai salah satu dari kami terlelap tidur.

 

“Umm, karena besok kita harus bangun pagi, kurasa kita sudahi sampai di sini dulu.”

 

“I-Iya.”

 

“Kalau begitu, selamat tidur.”

 

“Iya, selamat tidur.”

 

Aku yang sudah tidak sanggup menahan debaran dada lebih lama lagi, langsung berpamitan pada Rena dan melangkah keluar dengan tergesa-gesa.

 

Namun, bahkan setelah aku kembali ke kamarku sendiri, rasa kegembiraan yang meluap-luap ini sama sekali tidak mau mereda

 

Pada akhirnya, malam itu berakhir dengan aku yang hampir tidak bisa memejamkan mata sama sekali.


Previous Chapter ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close