Penerjemah: Ramdhian
Proffreader: Ramdhian
Chapter 1
Shizuku Menyerbu
Di bawah bentangan langit biru tanpa awan, Haruto berjalan menuju sekolah dengan hati yang riang.
Selain karena curahan sinar mentari pagi yang menyegarkan, ingatan tentang kembang api yang ditontonnya bersama Ayaka kemarin kian melambungkan perasaannya.
Tomoya, yang berjalan di samping Haruto, angkat bicara untuk sedikit mengusilinya.
“Oi Haru, kau tampak semangat banget pagi ini.”
“Yah, kalau kau nonton kembang api sama pacar tercantik sedunia, wajar saja kalau suasana hati jadi sangat bagus, ‘kan?”
Menanggapi keisengan Tomoya, Haruto dengan santai memamerkan kemesraannya.
“Ah~ ya, ya. Begitulah kiranya.”
“Omong-omong, terima kasih untuk kemarin. Sudah mau menemani ke festival kembang api.”
“Aman. Yah, melihat kalian bermesraan seterbuka itu, mungkin tak ada gunanya juga kami ikut.”
“Yah... meski begitu, terima kasih.”
Mengingat kembali kedekatannya dengan Ayaka saat keliling kedai kemarin, pipi Haruto sedikit memerah saat mengutarakan rasa terima kasihnya pada Tomoya.
“Yah, aku sendiri bisa menikmati makanan kedai sama Aizawa-san, jadi tidak masalah.”
“Omong-omong, kau menonton kembang api sama Aizawa-san?”
“Ya. Tapi karena kami berkeliling kedai sampai menit-menit terakhir, spot-spot bagus di lokasi kembang api sudah penuh, jadi kami nontonnya sambil duduk di lereng tanggul.”
“Hahaha, khas dirimu banget, ya. Aizawa-san nggak marah, tuh?”
“Aizawa-san, dengan hati selapang Dewi, memaafkan kebodohanku ini.”
Tomoya menengadah ke langit, menautkan jari-jari kedua tangannya seolah sedang memanjatkan doa.
“Begitu, syukurlah ya Aizawa-san itu seorang Dewi.”
Haruto mengabaikan sahabatnya yang berlebihan itu, dan berpikir untuk mengucapkan terima kasih juga pada Saki nanti.
Setibanya di sekolah bersama Tomoya, Haruto masuk ke kelas dan duduk di bangkunya, lalu ia menyadari suasana kelas lebih gaduh dari biasanya.
“Sepertinya di sekitar Toujou-san lagi ramai,” ujar Tomoya, memandang ke arah pusat kegaduhan.
“Jangan-jangan, hubungan kita sudah ketahuan?”
“Tidak, kalau begitu, saat Haru masuk kelas, kalian berdua pasti langsung diberondong pertanyaan, ‘kan?”
“Benar juga.”
Haruto bercakap-cakap dengan Tomoya sembari merendahkan suaranya agar tidak terdengar sekitar.
Bangku Ayaka berada tepat di tengah-tengah kelas, dan saat ini banyak siswi berkumpul di sana, tampaknya mereka sedang menanyakan sesuatu. Haruto memandang kerumunan itu dengan wajah cemas.
Di sela-sela siswi yang mengerumuninya, tampak sekilas Ayaka sedang memaksakan senyum ramah.
“Aku akan mendekat dan menguping percakapan mereka. Haru, untuk jaga-jaga, sebaiknya jangan terlalu dekat.”
“Ah. Maaf. Tolong, ya.”
Tomoya mengangkat satu tangannya sedikit pada Haruto, lalu menuju ke pusat kegaduhan dalam kelas.
Beberapa menit kemudian, ia kembali ke hadapan Haruto dengan wajah rumit.
“Bagaimana?”
“Ah, sepertinya ada teman sekelas yang lihat kalian jalan sebelahan kemarin.”
“Ternyata benar...”
Mendengar perkataan Tomoya, wajah Haruto menjadi serius. Namun, tiba-tiba ia merasa heran dan menatap sahabatnya.
“Hm? Tapi kok tak ada yang menghampiriku?”
“Masalahnya, orang yang melihat itu sepertinya hanya lihat punggungnya saja. Dengan penampilannya, Toujou-san, yah, dari punggung pun sudah cukup bisa dikenali. Tapi Haruto, si Murid SMA A yang biasa saja, mana mungkin bisa dikenali hanya dari punggung, ‘kan?”
“Oi, apa maksudnya Murid SMA A. Kok kedengarannya kayak figuran.”
“Kau kan memang figuran.”
“Taik lu.”
Menanggapi ejekan Tomoya, Haruto menyikutnya dengan gerakan yang sudah terbiasa.
Siswa yang memergoki mereka berdua tampaknya hanya bisa melihat punggungnya saja, dan bahkan jika mencoba memutar, kerumunannya terlalu padat sehingga tidak memungkinkan.
Namun, hanya dari punggungnya saja, aura sepasang kekasih dari suasana mereka berdua benar-benar terpancar.
Karena Ayaka pernah menyatakan bahwa suka pada seseorang pasca libur musim panas, sepertinya saat ini ia sedang diberondong pertanyaan mengenai hal-hal tersebut.
“Suasana kalian kemarin itu, benar-benar aura pasangan yang saking mesranya sampai bikin mual.”
“............”
Tomoya berkata dengan wajah jengah. Karena tidak bisa membantah perkataannya, Haruto hanya bisa terdiam.
“Kalau begini, jadi makin sulit buat dekatin Toujou-san di sekolah.”
“Hah... benar juga...”
Haruto menghela napas panjang, lalu memandang kerumunan di tengah kelas dengan muram.
※
“Haa~. Baru awal pekan sudah harus kerja bakti, males banget rasanya.”
Tomoya mengeluh sambil menghela napas, dan mengambil beberapa buku sekaligus dari rak.
“Kerja bakti oleh seluruh siswa usai libur musim panas kan tradisi sekolah kita, jadi apa boleh buat,” sahut Saki sambil mengelap rak yang kosong setelah bukunya dipindahkan dengan kain lap.
Di SMA tempat Haruto dan yang lainnya bersekolah, sudah menjadi tradisi bagi seluruh siswa untuk melakukan kerja bakti di gedung dan halaman sekolah pada pekan setelah libur musim panas berakhir. Pihak sekolah tampaknya berniat untuk menanamkan semangat merawat tempat belajar mereka sendiri, sekaligus menggerakkan tubuh yang kaku setelah libur panjang.
Kerja bakti dibagi menjadi beberapa kelompok di kelas, dan masing-masing kelompok ditugaskan untuk membersihkan tempat yang telah ditentukan. Tomoya dan Saki berada dalam kelompok yang sama dan ditugaskan untuk membersihkan ruang perpustakaan.
“Yah, daripada tiba-tiba harus mengikuti pelajaran Matematika atau Bahasa Jepang, ini 100 kali lebih baik, sih.”
“Benar. Lagipula kelompok kita di dalam ruangan, jadi masih lebih baik. Dibandingkan dengan kelompok yang mencabuti rumput di lapangan,” ujar Saki sambil melirik ke luar jendela. Meski libur musim panas telah berakhir, hari-hari panas masih berlanjut, dan matahari bersinar terik tanpa ampun tepat di atas kepala.
Saki menyipitkan matanya karena sinar matahari yang terang dan menyilaukan. Tomoya meliriknya sekilas, lalu sambil mengembalikan buku yang telah dipindahkannya ke rak yang sudah selesai dilap, dan membuka suara perlahan.
“Omong-omong, Aizawa-san.”
“Hm?”
“Terima kasih sudah menonton kembang api bersamaku kemarin.”
“Sama-sama. Terima kasih juga sudah mentraktirku macam-macam.”
Saki membalas dengan senyuman ramah.
Keduanya pergi ke festival kembang api sebagai sahabat masing-masing agar Haruto dan Ayaka punya alasan jika mereka ketahuan bersama. Setelah itu, karena tenggang rasa, Tomoya dan Saki berpisah dari Haruto dan Ayaka, lalu berkeliling kedai dan menonton kembang api secara terpisah.
Saki berterima kasih sambil sedikit membungkukkan kepalanya karena Tomoya sudah mentraktirnya macam-macam. Tomoya, tersenyum lebar sambil memegang buku.
“Aizawa-san, karena kau makan semuanya dengan sangat lahap, aku juga jadi semangat buat traktir.”
“Itu... yah, makanan kedai itu enak, ‘kan?”
“Begitulah. Asyik banget. Aku jadi kepingin keliling kedai lagi bareng Aizawa-san. Jadi pengin mentraktirmu macam-macam lagi, deh.”
“Akagi-kun, apa kau mencoba memberiku makan seperti hewan ternak?”
“Ya.”
“Oi!”
Menghadapi Saki yang ngambek dengan wajah cemberut, Tomoya terkekeh.
“Jangan pikir aku wanita gampangan yang bisa terpancing dengan makanan. Aku nggak bakal keliling kedai lagi sama Akagi-kun. Titik!”
“Ehh~. Kalau aku bilang akan traktir karaage?”
“Tidak.”
“Sate sapi?”
“Tidak, tidak.”
“Kalau begitu, pisang cokelat dan crepes.”
“......Masih perlu dipertimbangkan.”
“Gulali dan baby castella.”
“Bisa jadi aku takkan pergi, tapi mungkin saja aku akan pergi.”
“Eh? Yang bener yang mana?”
“Hmm, yang mana, ya.”
Menanggapi jawaban Saki, Tomoya mengerutkan kening dan memiringkan kepalanya. Saki memalingkan wajahnya darinya, dan menekuk mulutnya karena melihat pemandangan di sela-sela rak buku.
“Daripada itu, kita harus melakukan sesuatu tentang itu.”
Di ujung pandangan Saki, ada Ayaka yang sedang mengelap meja perpustakaan dengan kain lap. Dan di sekitarnya, dua siswa terus mengikutinya sambil menanyakan banyak hal.
“A-Anu Toujou-san. Toujou-san punya pacar, ya.”
“Tidak... itu, itu tidak benar─”
“Tapi kudengar kamu kelihatan sangat dekat dengan cowok yang bersamamu di festival kembang api kemarin, jangan-jangan Toujou-san punya abang?”
“Ugh. Tidak─”
“Kalau begitu kemarin itu benar pacar?”
Dua siswa itu terus mengulangi pertanyaan dengan cepat seolah-olah memotong jawaban Ayaka.
Biasanya, Ayaka selalu dikerumuni oleh siswi, jadi siswa tidak bisa bertanya padanya dengan santai. Namun, karena sekarang mereka satu kelompok, tidak ada dinding siswi yang menjauhkannya. Menganggap itu sebagai peluang emas, kedua siswa tersebut terus mengajukan pertanyaan satu demi satu.
“Sejak kapan Toujou-san pacaran?”
“Siapa pasangannya? Anak sekolah ini?”
“Selain itu, apa cowok yang bersamamu di festival kembang api itu betulan pacar?”
“Apa orang yang disukai Toujou-san itu dia?”
Siswa-siswa itu terus mencecar Ayaka sampai tidak sempat untuk menjawab. Melihat itu, seorang siswa yang sedang membersihkan perpustakaan tidak tega dan angkat bicara.
“Oi, mejanya sudah di lap Toujou-san, jadi kalian berdua lap lantai saja.”
“Ah? Yah, aku kan sedang bantu Toujou-san.”
“Aku juga. Lap lantai biar Ootsuki saja yang kerjakan.”
Kedua siswa itu menatap Haruto dengan wajah tidak senang.
“Tidak, tapi Aya─Toujou-san juga sulit membersihkan kalau diberondong pertanyaan seperti itu?”
“Apaan sih Ootsuki, jangan-jangan kau lagi caper dan mencoba mendapatkan poin dari Toujou-san?”
“Bukan begitu─”
“Lantas apa? Lagian, Toujou-san, kamu sangat dekat dengan cowok di festival kembang api kemarin, ‘kan? Jadi, kurasa tidak ada gunanya juga kau mencoba meningkatkan daya tarik secara vulgar seperti sekarang?”
Menghadapi Haruto yang terus mengingatkan, siswa tersebut membalas dengan sindiran dan mencoba membungkamnya.
“Betul, tuh. Sebanyak apa pun poin yang kau kumpulkan, di mata Toujou-san, Ootsuki itu bahkan hampir nggak kelihatan,” tambah siswa lainnya dengan senyum mengejek ke arah Haruto.
Saki, yang mengamati interaksi antara para siswa tersebut dengan Haruto dari sela-sela rak buku, bergumam pelan, “Ah, gawat...”. Mendengar itu, Tomoya pindah ke sampingnya dan sama-sama mengintip ke arah Haruto dan yang lainnya dari sela-sela rak buku.
“Kenapa?”
“Ayaka kayaknya bakal marah.”
“Eh!? Toujou-san bisa marah!?”
Dalam benak Tomoya, Ayaka adalah pribadi yang selalu lembut dan paling jauh dari yang namanya ‘marah’.
“Jarang sih marahnya. Aku juga baru sekali lihat Ayaka marah sungguhan.”
“Jangan-jangan, tipe orang yang biasanya lembut kalau marah jadi sangat menakutkan?”
“Tepat sekali.”
Saki mengangguk pelan. Tomoya perlahan mencoba mengintip keadaan Ayaka dari sela-sela rak buku. Benar saja, dari wajahnya yang semula tersenyum canggung, kini ekspresinya hilang seperti topeng Noh.
Melihat wajah Ayaka yang biasanya hanya menunjukkan ekspresi lembut, emosinya jadi tak terbaca, Tomoya melupakan gerahnya musim panas dan merasakan dingin menjalar di punggungnya.
“Seram...”
“Kan?”
Setelah bertukar percakapan singkat, Tomoya menyemangati diri dengan seruan “Sip!” dan melompat keluar dari balik rak buku.
“Oi, Iijima, Tanaka! Ayo kita pergi ambil air dengan ember untuk lap lantai!”
Tomoya memanggil kedua siswa yang mengganggu Ayaka, lalu merangkul bahu keduanya dari belakang.
“Uwah!? Tung–, Akagi! Jangan nempel-nempel, jijik!”
“Kok gitu sih Iijima! Kita kan akrab? Ayo kita bermesraan sambil mengambil air!”
“Hentikan! Jijik, nyet!”
“Ayolah, ayolah. Tanaka juga ikut! Sebagai lelaki, ayo kita keringetan bareng!”
“Hentikan! Aku tidak mau bau keringat!”
“Ayolah, ayolah.”
Tomoya dengan santai mengabaikan penolakan keduanya, dan langsung keluar dari perpustakaan.
Saki, yang mengantar kepergian para siswa yang berisik itu, memberikan jempol ke punggung Tomoya.
“Akagi-kun, good job.”
Ia berpindah ke hadapan Ayaka dan Haruto yang masih di perpustakaan.
“Ayaka, kamu berutang budi pada Akagi-kun, ya.”
“Iya...”
Ayaka, yang diberitahu Saki, mengangguk sambil menarik napas dalam-dalam, seolah mencoba menenangkan perasaannya. Haruto angkat suara dengan perasaan bersalah.
“Maaf Ayaka. Aku tidak bisa berbuat apa-apa.”
Haruto meminta maaf dengan nada agak lesu. Tiba-tiba, Ayaka berbalik menghadapnya.
“Haruto-kun tidak perlu meminta maaf! Aku senang banget Haruto-kun datang!”
Setelah bilang begitu, Ayaka perlahan mendekati Haruto.
“Haruto-kun, dari mataku, kamu sama sekali nggak gitu, oke? Aku hanya melihat Haruto-kun seorang! Haruto-kun adalah, umm... segalanya bagiku.”
Ia berjuang untuk mengutarakan perasaannya, hanya sedikit tersendat pada kata terakhirnya, dan pipinya merona merah karena malu.
“B-Begitu... terima kasih. Bagiku juga Ayaka adalah segalanya.”
“Haruto-kun!”
Mendengar perkataan Haruto, ekspresi Ayaka langsung cerah, seolah ekspresi topeng Noh tadi hanya kebohongan belaka. Lalu, ia merentangkan kedua tangannya seolah ingin memeluknya.
“Ehem! Ayaka, apa aku harus keluar dari perpustakaan juga?”
“Haugh! M-Maaf Saki.”
Sesaat sebelum Ayaka melompat memeluk Haruto, Saki berdeham keras untuk memberi tahu keberadaannya pada Ayaka. Sontak, ia buru-buru melipat tangan yang tadi terentang di depan dadanya.
“Bener-bener, deh. Kita lagi di sekolah, tahu? Kalau ketahuan peluk Ootsuki-kun di tempat kayak gini, mana bisa ngelak, ‘kan.”
“Uuu... tapi, terakhir kali aku bersentuhan dengan Haruto-kun itu tepat sebelum keluar rumah, jadi sudah hampir tiga jam aku tidak bersentuhan dengannya...”
Ayaka menunduk sambil memberikan alasan pada Saki.
“Terlebih lagi, aku bahkan tidak bisa bercakap-cakap atau bertatap mata, tahu? Di kelas pun, sulit untuk mendekat...”
Saki tersenyum kecut melihat Ayaka yang sudah tidak beralasan lagi, melainkan hanya mengeluh.
“Bukannya Ayaka sendiri yang memutuskan untuk merahasiakan hubunganmu dengan Ootsuki-kun?”
“Itu, memang benar, tapi...”
Ayaka menunduk sedih.
Karena Saki mengetahui trauma yang dialaminya, ia tidak medesaknya lebih jauh dan memandang ke arah pintu tempat Tomoya dan yang lainnya keluar.
“Apa boleh buat. Kalau begitu, aku akan mengawasi kalau-kalau Akagi-kun dan yang lainnya kembali, jadi selama itu, sebisa mungkin konsumsilah asupan Ootsuki-kun.”
Mendengar perkataan Saki, Ayaka memancarkan senyum lebar.
“Makasih Saki!”
Setelah berterima kasih pada sahabatnya, Ayaka segera berlari menuju Haruto.
“Haruto-kun!”
“Uwah!? Tung, Ayaka!? Kita lagi di sekolah, tahu!?”
“Karena Saki mengawasi, jadi tidak apa-apa!”
“Tapi kan...”
“Ootsuki-kun, kalau kau tidak menenangkan Ayaka dengan baik sebelum Akagi-kun dan yang lainnya kembali, bisa gawat, tahu?” ujar Saki sambil memandang pintu perpustakaan.
Mendengar perkataan Saki, Haruto tersenyum kecut sambil membatin ‘iya sih’, dan mengelus pelan kepala pacar kesayangannya yang memeluknya.
“Hehehe...”
Terbawa suara bahagia Ayaka, sudut bibir Haruto juga ikut terangkat secara alami. Melihat itu, Saki bergumam “dasar bucin”, dan keduanya pun menghabiskan waktu singkat sebagai sepasang kekasih sampai Tomoya dan yang lainnya kembali.
※
Usai kerja bakti di perpustakaan, Ayaka kembali dikerumuni banyak siswi.
Terlebih lagi, di sekelilingnya, para siswa selalu menguping percakapan mereka untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya, yang mengakibatkan Haruto tidak bisa mendekati Ayaka, dan langsung menyambut waktu pulang sekolah.
Bahkan usai sekolah pun, Haruto melirik sekilas ke arah Ayaka yang masih diberondong pertanyaan.
Lalu, ia mengingat keadaan Ayaka di perpustakaan, dan ingin melakukan sesuatu tentang ini. Namun, tidak ada ide bagus yang terlintas di benaknya.
Mengumumkan diri “aku adalah pacar Ayaka!” tanpa ambil pusing adalah cara termudah, tapi ia tidak bisa melakukannya. Hubungan pertemanan Ayaka pernah renggang gara-gara pria yang menembaknya saat SMP, dan jadi sedikit trauma.
Imej ‘tidak tertarik pada asmara’ yang selama ini ia buat di sekolah disebabkan oleh masalah tersebut.
Ia tidak bisa mengabaikan masalah tersebut dan bertingkah egois.
Bahkan setelah kerja bakti di perpustakaan, dari kejauhan ia selalu melihat Ayaka tersenyum. Namun, Haruto yang sekarang, yang menghabiskan musim panas bersama dan menjadi pacarnya, bisa merasakannya. Di balik senyum ramah itu, terpendam banyak kekecewaan.
“Apa ada cara yang bagus...”
Saat Haruto bingung, Tomoya, dengan tas tersampir di bahunya, menghampirinya.
“Haru, maaf tapi ada tempat yang harus kukunjungi, jadi aku pulang duluan hari ini.”
“Begitu, kalau begitu sampai besok.”
“Ya, sampai besok.”
Haruto mengantar kepergian sahabatnya dari kelas setelah bertukar sapaan singkat, lalu mengambil tas yang tersampir di bangku dan berdiri.
“Hah... aku juga pulang, deh.”
Setelah mendesah untuk ke sekian kalinya hari ini, ia mencoba meninggalkan kelas dengan tenang.
Tepat sebelum benar-benar keluar kelas, Haruto kembali mengarahkan pandangannya ke arah Ayaka. Lalu, sesaat, mata mereka bertemu.
Pada saat itu, sudut bibir Ayaka terangkat dan membentuk senyuman.
Pada saat berkedip, ekspresinya sudah kembali ke senyuman ramah semula, sampai-sampai membuatnya berpikir ‘mungkin hanya salah lihat’ saking singkatnya.
Namun, Haruto benar-benar saling bertatapan dengan Ayaka, dan tersenyum padanya.
Hanya dengan itu, hatinya berbunga-bunga, dan pada saat yang sama, keinginannya untuk berinteraksi seperti biasa dengan Ayaka di sekolah kian menguat. Ia ingin berinteraksi seperti di perpustakaan sebagai sepasang kekasih. Namun, dalam keadaan sekarang, Haruto meninggalkan kelas sambil menyimpan kekecewaan karena tidak bisa berbuat apa-apa.
Dan dalam perjalanan pulang sekolah, Haruto berjalan sendirian di trotoar, memikirkan berbagai cara agar bisa berinteraksi secara alami dengan Ayaka di sekolah.
“Selama ini, aku jarang mengobrol dengan Ayaka di sekolah, sih.”
Sebelum ia kerja sambilan sebagai asisten rumah tangga, mereka hanyalah teman sekelas yang sebatas kenal wajah. Jika setelah libur tiba-tiba sok akrab, mereka pasti akan dicurigai.
“Ada pacar di depan mata, tapi untuk sekadar mengobrol pun tidak bisa, apa ini neraka...”
Haruto bergumam pelan sendirian. Tiba-tiba, sebuah guncangan menjalar di punggungnya.
“DOR!”
“Uwaah!?”
Punggung Haruto didorong oleh seseorang, dan melangkah maju dua-tiga langkah sambil kehilangan keseimbangan. Di sana ia berhasil bertahan untuk tidak terjatuh, lalu berbalik dan mengeluh pada penyerangnya.
“Shizuku, bahaya tahu tiba-tiba begitu!”
“Ini adalah dor penyemangat, Haru-senpai.”
Dengan kedua tangan yang mendorong punggung Haruto tetap menjulur ke depan, Shizuku menjawab dengan ekspresi datar seperti biasa.
“Dor penyemangat apaan sih, aneh-aneh aja.”
Haruto menatap kesal menanggapi perkataan Shizuku yang misterius seperti biasa. Meski begitu, ia sama sekali tidak mempedulikannya.
“Aku mendengar rumor di sekolah hari ini, soal Toujou-senpai yang punya pacar.”
Kegaduhan hari ini tampaknya sudah sampai ke telinga Shizuku yang beda angkatan.
“Padahal sudah berhasil pacaran dengan Toujou-senpai si Idol Sekolah, tapi malangnya Haru-senpai malah kena NTR pria lain, dan sedang dihibur oleh Shizuku-chan, si adik kelas yang baik hati.”
“Tidak, aku tidak kena NTR siapa pun, oke?”
Haruto menjawab setenang mungkin pada Shizuku yang bangga sambil membusungkan dadanya keras-keras.
Sontak, Shizuku sedikit membelalakkan matanya, mungkin karena terkejut.
“Hm? Kalau begitu, rumor tentang pacar di sebelah Toujou-senpai itu Haru-senpai?”
“Ya. Terlebih lagi, aku kan pernah bilang pada Shizuku? Bahwa aku akan pergi menonton kembang api sama Ayaka. Waktu itu, kau minta beliin sesuatu, ‘kan.”
“Percakapan seperti itu langsung hilang dari otakku dalam sekejap. Jadi aku tidak ingat.”
“Oi...”
Haruto menutupi wajahnya dengan satu tangan pada adik kelas yang berbicara terus terang.
“Lalu kenapa Haru-senpai berjalan sendirian dengan lesu seolah baru dicampakkan Toujou-senpai dengan kejam?”
Shizuku bertanya pada Haruto sambil memiringkan kepalanya.
“Rumornya, Toujou-senpai dan pacar di sampingnya kelihatan sangat bahagia, tahu? Sampai-sampai muncul aura pink di sekitarnya.”
“Itu... di sekolah kami merahasiakannya, bahwa aku pacaran dengan Ayaka.”
Mendengar perkataan Haruto, Shizuku bereaksi dengan menggerakkan salah satu alisnya sedikit.
“Haru-senpai... apa kau takut? Takut dibenci cowok sekolah.”
Menanggapi Shizuku yang memberikan tatapan tajam, Haruto menggelengkan kepalanya pelan.
“Bukan. Aku juga pengin mengumumkan hubunganku dengan Ayaka jika bisa, tapi...”
“Tapi?”
Shizuku menatap datar dan mendesaknya untuk melanjutkan.
Haruto bingung harus berkata apa, lalu perlahan membuka suara.
“Aku ingin mengumumkan diri sebagai pacar Ayaka. Tapi jika kulakukan, takutnya akan merusak hubungan pertemanannya. Tampaknya Ayaka pernah mengalami itu di masa lalu, dan ia sedikit takut dengan reaksi teman-temannya saat hubungannya denganku ketahuan.”
Mendengar penjelasan Haruto, Shizuku mengangguk seolah mengerti, “Ah, begitu rupanya”.
“Intinya, Toujou-senpai takut mendapat antipati atau kebencian dari siswi yang menyukai Haru-senpai, begitu?”
“Yah, kurasa begitu.”
Saat Haruto mengiyakan, Shizuku memberitahunya dengan wajah serius.
“Haru-senpai... kamu nggak kepedean?”
“Bacot. Aku pun berpikir itu hanya kekhawatiran berlebihan Ayaka!”
Haruto langsung memotong perkataan Shizuku yang memancarkan kesan ‘hadeh, Senpai ini...’. Haruto sendiri juga berpikir bahwa dirinya tidak terlalu populer di kalangan siswi sampai-sampai mengganggu hubungan pertemanan Ayaka. Karena itu, ia berpikir bahwa semua masalah yang mungkin terjadi saat hubungannya ketahuan hanyalah kekhawatiran berlebihannya. Ia berpikir begitu, tapi saat memikirkan Ayaka, ia tidak bisa mengabaikannya. Haruto kembali mendesah bingung, “Haah”.
Shizuku menatap datar padanya.
“Haru-senpai, apa tidak masalah begini terus? Senpai sudah kelas dua, tahu? Tahun depan sudah ujian, tahu? Artinya, tahun ini adalah tahun terakhir kehidupan sekolah di mana kau bisa bermain sepuasnya, tahu?”
“Aku tahu. Aku juga ingin melakukan sesuatu. Tapi tak ada ide bagus yang terlintas di benakku.”
Haruto menunjukkan ekspresi yang sangat kebingungan.
Di sana, Shizuku mengarahkan pandangannya ke bawah seolah berpikir sejenak, dan tiba-tiba mengangkat wajahnya.
“Aku mengerti. Aku akan membantumu.”
“Eh?”
Haruto tersentak kaget mendengar tawaran tak terduga dari Shizuku.
“Shizuku-san, adik kelas yang memikirkan senpainya dan bisa diandalkan ini, akan membantu Haru-senpai.”
Sambil mengatakan itu, Shizuku menjepit leher kemejanya dengan satu tangan, dan sekilas memperlihatkan lehernya sedikit pada Haruto sambil melakukan tindakan yang benar-benar tidak jelas seperti “Hyaah”.
Melihatnya, Haruto menunjukkan ekspresi sangat cemas.
“Aku sangat berterima kasih karena kau mau membantu, tapi... lebih tepatnya, bantuan macam apa yang akan kau berikan?”
“Fufufu... kalau kukatakan, jadi nggak seru.”
“Tidak, aku lagi nggak cari keseruan...”
Kecemasan Haruto kian meningkat melihat Shizuku yang tersenyum sinis meskipun ekspresinya datar.
“Sudahlah, sudahlah, Haru-senpai harap tenang dengan perasaan seperti menaiki sampan.”
“Justru nggak bisa tenang, ‘kan! Harusnya perahu besar! Sampan itu rawan tenggelam!”
Menanggapi Haruto yang langsung memotong, Shizuku berekspresi sangat serius.
“Haru-senpai, yang namanya hidup adalah setelah kita melewati ombak besar.”
“Kalau perahunya tenggelam, ombak kecil pun tidak bisa dilewati, ‘kan?”
Kecemasan Haruto kian meningkat pada adik kelas yang mulai berjalan dengan angkuhnya.
※
Rumor bahwa Idol Sekolah berkencan sambil nonton kembang api sama sekali tidak kunjung mereda meskipun hari sudah berganti. Pas waktu istirahat, Ayaka langsung dikerumuni siswi.
Sama seperti kemarin, Haruto menyambut waktu pulang sekolah tanpa bisa berinteraksi sedikitpun dengannya di sekolah. Ia menghela napas sendirian gara-gara tidak bisa mengobrol meski Ayaka ada di depan mata. Namun, ia sedikit melenturkan ekspresinya saat mengingat sekarang adalah hari Selasa.
Mulai hari ini, nenek Haruto akan bekerja sebagai asisten rumah tangga keluarga Toujou dan tinggal di sana. Haruto sendiri juga dijadwalkan akan menginap di rumah keluarga Toujou mulai hari ini.
Meski tidak bisa bersama di sekolah, mereka bisa bersama di rumah.
Haruto mulai siap-siap agar bisa segera pulang dan bersiap menuju rumah keluarga Toujou.
Tepat pada saat itu, Tomoya menghampiri.
“Haru~ pulang, yuk.”
“Ya, ayo cepat pulang.”
Menanggapi Tomoya yang berbicara sambil menyampirkan tas di bahunya, Haruto juga mengangguk dan cepat-cepat berdiri.
“Oh? Kok semangat banget, nih?”
“Tidak, aku tidak terlalu bersemangat. Hanya saja aku harus cepat pulang dan bersiap untuk menginap.”
Mendengar perkataan Haruto, Tomoya tersenyum jahil, “Aah”.
“Mulai hari ini ya, kehidupan tinggal seatap sambil bermesraan.”
“Bermesraan apaan... ada seluruh anggota keluarga, mana mungkin kulakukan.”
Melihat Haruto yang berbicara dengan wajah jengah, Tomoya membalas sambil menyeringai.
“Artinya kalau tak dilihat keluarga, kau akan bermesraan, ‘kan?”
“Itu... tergantung doi, ‘kan? Kalau doi tidak mau, aku tidak akan memaksanya.”
“Tidak, pasti bakalan mau, kok. Mengingat keadaan selama ini, aku jadi yakin. Soalnya aura kesengsemnya padamu tuh kuat banget.”
“Itu... yah...”
Menanggapi penegasan Tomoya, Haruto menjawab dengan tidak jelas karena malu.
Mengingat kembali kejadian dari pertemuan dengan Ayaka sampai sekarang, Haruto benar-benar merasakan bahwa dirinya sangat dicintai olehnya. Karena itu, hati Haruto menjadi gatal karena bahagia sekaligus malu.
“Kau, mungkin lebih baik umumin diri sebagai pacarnya dan menunjukkan kebucinan kalian pada sekitar agar kegaduhan ini cepat mereda? Semua orang akan mual sampai nggak mau dekat-dekat.”
Bahkan saat Haruto dan Tomoya sedang mengobrol, Ayaka selalu berada di pusat kegaduhan. Setelah melirik sekilas padanya, Haruto tersenyum kecut.
“Aku juga ingin melakukannya jika bisa.”
“Kau tidak menyangkal bahwa kau bucin, ya.”
“......Aku menyangkalnya.”
“Reaksi itu artinya mengiyakan.”
“Bacot. Ayo pulang.”
Menanggapi Tomoya yang terus-terusan menggodanya, Haruto menjawab dengan ketus dan berjalan ke pintu belakang kelas. Pada saat itu. Di pintu belakang kelas yang dituju Haruto, muncul seorang siswi.
“Haa~ru~se~n~pa~i~! Pulang bareng, yuk!”
Yang muncul adalah Shizuku.
Meskipun ekspresinya datar, ia mengeluarkan suara keras sampai bergema di seluruh kelas, meskipun itu adalah ruang kakak kelas, ia masuk tanpa ragu dan menghampiri Haruto.
“Tunggu, Shizuku!?”
“Haru-senpai, ayo pulang bareng.”
Shizuku mengulangi hal yang sama setelah mendekat ke Haruto. Menanggapi itu, suasana di kelas mulai gaduh dengan mereka berdua sebagai pusatnya. Terdengar suara bisik-bisik dari sana-sini.
“Siapa anak itu?”
“Pacar Ootsuki-kun?”
“Eh, bukannya itu anak kelas satu yang bernama Doujima?”
“Cantik, ya. Ootsuki meledak saja sana.”
Mendengar berbagai suara yang terdengar, Haruto merasakan kepalanya agak sakit.
Keberadaan mutlak yang diketahui semua orang di sekolah ini adalah Toujou Ayaka. Namun, nama Doujima Shizuku juga dikenal luas di kalangan siswa, terutama siswa kelas satu, sebagai anak yang cantik.
Dengan kemunculan tiba-tiba Shizuku, pandangan seluruh kelas yang tadi mengarah pada Ayaka langsung diarahkan pada Shizuku dan Haruto dalam sekejap. Kendati demikian, ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda gentar, dan menyapa Haruto seperti biasa.
“Haru-senpai adalah orang yang beruntung. Bisa pulang sekolah bareng adik kelas secantik ini.”
Haruto berekspresi kaku pada Shizuku yang sama sekali tidak terlihat gentar. Di sana, Tomoya ikut nimbrung.
“Hai Shizuku-chan. Lama tidak bertemu.”
“Tomo-senpai. Lama tidak bertemu.”
“Shizuku-chan, anu, mau pulang bareng Haru─”
“Ah, jangan-jangan Tomo-senpai berencana pulang bareng Haru-senpai?”
“Eh? Aah, yah.”
“Kalau begitu maaf, tapi hari ini tolong serahkan Haru-senpai padaku.”
Shizuku mengatakan itu dengan ekspresi datar, lalu memeluk lengan Haruto.
Sontak, kegaduhan di kelas mulai meningkat.
Haruto merasakan berbagai tatapan, mulai dari cemburu hingga rasa ingin tahu, dan kecemasannya kian meningkat. Di sana, salah satu siswi yang mengerumuni Ayaka, menyapa Shizuku dengan ragu.
“A-Anu... kamu...”
“Kelas 1-B, Doujima Shizuku. Tinggi badan 152 cm, golongan darah AB, tanggal lahir 7 Juni. Minuman kesukaan adalah teh ume kombu. Apa kau juga ingin tahu 3 size-ku?”
“Eh, ti-tidak, tidak perlu...”
Melihat Shizuku yang memperkenalkan diri dengan datar, siswi yang merupakan kakak kelasnya itu menggelengkan kepala dengan bingung. Menanggapi itu, terdengar desahan kecewa dari sebagian siswa.
[TLN: 3 size di sini merujuk pada ukuran lingkar dada, pinggang, dan pinggul.]
“Anu... Do-Doujima-san... itu, pacarnya Ootsuki-kun, atau bagaimana?”
Siswi itu bertanya dengan ragu.
Saat ditanya, Shizuku dengan cepat mendekat ke arah siswi itu.
“Kelihatannya kayak gitu? Aku dan Haru-senpai kelihatan kayak sepasang kekasih? Kelihatan, ‘kan? Begitu, ‘kan??”
“Hii, ya, ah, itu... hubungan kalian kelihatan dekat, kurasa...”
Melihat Shizuku yang tiba-tiba memperpendek jarak dan mencecar dengan wajah serius, siswi itu kaget dan mundur beberapa langkah sambil menjawab dengan terbata-bata.
Mendengar jawaban siswi itu, Shizuku menunjukkan wajah puas meskipun ekspresinya datar, dan berbalik ke arah Haruto.
“Dengar tuh Haru-senpai. Senpai ini pun bilang kalau kita sudah tidak bisa dianggap selain sepasang kekasih, tahu?”
“Tidak bilang begitu, ‘kan!”
Haruto langsung menyangkal Shizuku yang memperluas interpretasi perkataan siswi itu. Lalu, ia menarik lengan kanannya yang dipeluk olehnya.
“Shizuku bukan pacarku.”
Haruto mengatakannya dengan suara yang sedikit keras agar bisa terdengar sekitar. Sontak, Shizuku juga mengikuti perkataan Haruto.
“Benar. Aku dan Haru-senpai punya hubungan yang sangat kental dan intens, sampai-sampai tidak bisa diungkapkan dengan kata pacar.”
“Tunggu sebentar! Cara bicaramu bisa menimbulkan kesalahpahaman luar biasa, tahu!”
“Senpai ngomong apa sih, tidak ada satu pun kesalahpahaman di antara kita, tahu? Daripada itu, ayo lekas pulang.”
Shizuku dengan santainya mengabaikan protes Haruto, lalu kembali mencengkeram lengannya dan menyeretnya keluar dari kelas.
“Sebentar, oi tunggu Shizuku! Kalau keluar dari kelas dalam kondisi begini, berbagai kesalahpahaman─”
“Haru-senpai tidak perlu khawatir berlebihan. Ayo lekas pulang bersamaku.”
Shizuku menyeret Haruto keluar dari kelas sambil mengatakan itu. Shizuku yang dilatih di dojo karate sejak kecil, tidak mengenal perbedaan kemampuan fisik antara pria dan wanita, dan memaksanya ikut tanpa ampun meskipun Haruto mencoba melawan dengan putus asa. Haruto memandang ke arah Ayaka tepat sebelum benar-benar meninggalkan kelas.
Melihat Haruto yang ditarik lengannya oleh Shizuku, Ayaka membelalakkan mata dengan mulut sedikit menganga saking terkejutnya; sebuah ekspresi belum pernah ia lihat sebelumnya. Melihat Ayaka berekspresi seperti itu, Haruto meminta maaf dalam hati sampai ingin bersujud, sambil diseret keluar dari kelas oleh Shizuku.
Setelah keluar dari sekolah, ia akhirnya dilepaskan oleh Shizuku. Di sekitar, sudah tidak ada lagi siswa yang pulang sekolah.
“Yang benar saja... harus bagaimana ini Shizuku.”
Haruto mengingat kekacauan di kelas tadi, dan bertanya pada Shizuku dengan nada lelah.
“Apa perkataanmu kemarin itu bohongan?”
“Ngomong apa, sih? Aku sangat membantu, ‘kan.”
Melihat Shizuku yang memiringkan kepalanya dengan ekspresi datar, Haruto mendesah, “Hah”.
“Terus yang tadi apa?”
“Dengan melakukan itu, aku bisa mengungkap siswi yang mungkin menyukai Haru-senpai. Orang yang bertanya apakah aku pacarmu, kemungkinan besar tertarik pada Haru-senpai. Selain itu ada beberapa siswi yang tatapannya berubah saat aku memeluk lengan Haru-senpai.”
“Eh? Jadi, tadi itu sengaja...?”
“Tentu saja. Aku tuh ya, demi Haru-senpai, meski gemetar ketakutan di ruang kakak kelas pun, tapi tetap mengumpulkan keberanian dan rela menyerbu sendirian, tahu?”
“O-Oh. Sama sekali nggak kelihatan takut sih, tapi... makasih.”
“Sama-sama.”
Mendengar ucapan terima kasih Haruto, Shizuku meletakkan kedua tangannya di pinggang dan membusungkan dadanya.
Melihat Shizuku seperti itu, Haruto angkat suara dengan wajah serius.
“Tapi, kurasa itu juga menimbulkan kesalahpahaman yang luar biasa, ‘kan? Apa coba maksudnya hubungan yang kental dan intens itu.”
“Lah, kan itu faktanya? Aku dan Haru-senpai, sejak kecil telah saling mengasah, layaknya saudara, layaknya teman, dan juga layaknya rival yang baik lewat karate. Tidak ada satu pun yang salah, ‘kan?”
“Itu, memang benar, tapi... dalam kondisi kayak tadi... hah.”
Melihat Shizuku yang menjelaskan panjang lebar, Haruto menunduk sambil meletakkan satu tangan di kepalanya seolah menahan sakit kepala.
Di sampingnya, Shizuku mengeluarkan suara yang bersemangat meskipun ekspresinya datar.
“Besok pun akan kubantu.”
“......Omong-omong, apa yang akan kau lakukan kali ini?”
Haruto menatap sedikit waspada, sementara Shizuku menunjukkan senyuman sinis seperti kemarin, “Fufu”.
“Dibilangin, kalau kukatakan isinya, jadi nggak seru. Kemarin juga sudah kubilang, Haru-senpai harap tenang dengan perasaan seperti menaiki sampan.”
“Sepertinya pesta akan dimulai, kapan aku bisa menaiki perahu besar dengan tenang...”
Haruto mengingat kembali ekspresi terkejut Ayaka yang dilihatnya sesaat.
Haruto, yang sama sekali tidak bisa menebak tindakan Shizuku, berterima kasih atas bantuan adik kelasnya, namun di saat yang bersamaan, kecemasannya kian meningkat.





Post a Comment