Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Chapter 8
Pertama Kalinya Sang Pembunuh Bayaran
Keesokan paginya.
Setelah selesai sarapan bersama semua orang, aku datang ke hutan bersama Sephia-san untuk menerima bimbingan ilmu pedang.
"Sebagai penjelasan ulang, yang akan kuajarkan kepada Finn-san adalah ilmu pedang aliran Chevalier. Ciri khasnya adalah──"
Sambil berkata demikian, Sephia-san mencabut pedangnya dari sarung. Lalu, sambil menyelimuti pedang itu dengan sihir miliknya, dia berkata.
"Seperti ini, pengguna memasukkan sihirnya ke dalam pedang, lalu mengubah sifat teknik yang dikeluarkan sesuai situasi."
"Berarti teknik Wave Blade yang digunakan waktu itu juga salah satunya, ya."
"Benar. Seperti yang pernah kamu lihat sebelumnya, Wave Blade adalah teknik yang digunakan ketika ingin menyerang area luas. Sebaliknya, jika lawannya hanya satu orang dan ingin memprioritaskan kecepatan, maka digunakan teknik bernama Flash Blade."
"Hanya memprioritaskan kecepatan… t-tunggu, lebih cepat dari Wave Blade itu!?"
"Benar. Jangkauannya memang lebih terbatas, tetapi kecepatannya lebih tinggi dibanding Wave Blade."
Padahal menurutku Wave Blade saja sudah berada pada kecepatan yang mustahil kutiru.
Ternyata masih ada teknik yang lebih cepat dari itu….
"Pedang itu… luar biasa ya! Selama ini aku hanya belajar sihir, tapi berkat Sephia-san, ketertarikanku pada pedang jadi jauh lebih besar dari sebelumnya!"
"Berkat… aku ya…. Mendapatkan kata-kata tulus tentang sesuatu yang sangat saya tekuni ternyata membuatku sebahagia ini."
Setelah menatap mataku beberapa saat, Sephia-san tersenyum kecil lalu berkata.
"Kalau kamu berkata sejauh itu, maka aku ingin segera mulai mengajarkannya… Finn-san, silakan pegang pedang ini."
"B-baik!"
Setelah menerima pedang yang dipegang Sephia-san, aku menggenggamnya dengan kedua tangan.
Karena hampir tidak pernah memegang pedang sebelumnya, hanya dengan menggenggamnya saja rasanya sudah membuat gugup….
Namun saat memegang pedang ini, perasaan Sephia-san terhadap pedang seolah ikut tersampaikan kepadaku, dan entah kenapa rasa gugup itu perlahan menghilang.
"Pertama, ini dasar paling mendasar, tetapi aku ingin Finn-san mempelajari cara menyelimuti pedang dengan sihir. Biasanya ini dianggap sulit bagi pemula."
"Memberi sihir… pada pedang…."
"Benar. Memasukkan sihir ke benda yang bukan tubuh sendiri dalam bentuk ideal itu sangat sulit di awal, jadi tidak apa-apa jika kamu belum bisa melakukannya hari ini. Untuk sementara, cobalah keluarkan sihir sambil membayangkan sihirmu mengalir hingga ke ujung pedang."
"B-baik!"
Setelah menjawab, aku menarik napas dalam sekali.
Sebagai seorang prajurit, aku menyingkirkan seluruh pikiran lain dan memusatkan perhatian pada pedang di depanku.
──Bayangkan sihir yang dikeluarkan mengalir sampai ujung pedang.
Untungnya, aku pernah melihat Sephia-san memasukkan sihir ke pedangnya saat pertarungan sungguhan. Jadi aku hanya perlu membayangkan pedang Sephia-san saat itu.
Sambil memikirkannya, aku dengan hati-hati mulai memasukkan sihir ke dalam pedang.
Dan ketika akhirnya selesai──
"Berhasil!"
Aku berkata demikian sambil memperlihatkan pedang yang telah dipenuhi sihir kepada Sephia-san.
"Ini… sungguh mengejutkan. Aku tahu Finn-san adalah orang yang berbakat, tetapi saya tidak menyangka Finn-san bisa memasukkan sihir dengan sempurna hanya dalam satu percobaan…."
"Itu karena sebelumnya aku pernah melihat Sephia-san bertarung!"
"Meskipun begitu, ini tetap luar biasa…. Fufu, sepertinya keputusan saya yang ingin mengajarkan pedang kepada Finn-san memang tidak salah. Kalau begitu selanjutnya mari kita bahas tentang kuda-kuda."
"Tolong ajari aku!"
Dan setelah itu, aku mulai diajari Sephia-san mengenai kuda-kuda, sesuatu yang mungkin bisa disebut sebagai hal paling penting dalam ilmu pedang.
◆ ◇ ◆
"Kurasa sekitar sini."
Wanita berambut putih yang tiba di dekat markas garis depan militer Kekaisaran Luvankrum menghentikan langkahnya di tempat yang bisa melihat keadaan sekitar.
"Deteksi Kehidupan."
Sihir itu adalah sihir untuk mendeteksi keberadaan makhluk hidup di sekitar.
Di kota yang penuh orang memang tidak terlalu berguna, tetapi di garis depan hampir tak ada orang yang keluar bangunan selain saat pertempuran, sehingga dalam situasi ini sihir tersebut sangat cocok untuk mencari lokasi target.
"Di saat hampir semuanya berada di dalam bangunan, hanya ada dua orang di hutan dekat sini…. Kalau salah satunya targetku, itu malah menguntungkan bagiku."
Sambil bergumam begitu, wanita berambut putih itu menghapus keberadaannya dan masuk ke dalam hutan.
Jika mencoba memasuki hutan ini dari arah Kerajaan Granzania, seseorang akan mengalami kesulitan besar. Namun jika dari sisi Kekaisaran Luvankrum, tidak terlalu sulit.
Begitulah, dia terus berjalan di dalam hutan.
Lalu, setelah berhenti di tempat yang mustahil membuat keberadaannya terdeteksi, wanita berambut putih itu mengaktifkan dua sihir sekaligus.
"Penguatan Penglihatan, Penguatan Pendengaran."
Saat itu juga, matanya bersinar oleh sihir dan pendengarannya meningkat drastis hingga suara percakapan mulai terdengar.
"──Menurut Finn-san, dalam ilmu pedang aliran Chevalier, apa peran kuda-kuda?"
Begitu mendengar nama targetnya, Finn, wanita berambut putih itu mengangkat sudut bibirnya lalu memastikan arah suara tersebut dengan penglihatannya.
(Namun kalau ilmu pedang Chevalier… berarti wanita berambut pirang itu Sephia Chevalier. Jika aku gagal membunuh Finn Teraword dalam satu serangan, ini benar-benar akan jadi merepotkan.)
Yah, tapi aku tidak akan melakukan kesalahan seperti itu.
Tambahnya dalam hati sambil mengingat kesan tentang Finn dari dokumen yang diterimanya.
(Anak laki-laki yang di usia semuda itu sudah memiliki kemampuan sampai membuat petinggi militer Kekaisaran Luvankrum khawatir… pasti tumbuh menjadi anak yang sangat arogan. Membayangkannya saja sudah mengerikan.)
Terlebih lagi, karena dia dibesarkan sebagai rakyat biasa, pasti menyimpan kebencian terhadap kaum bangsawan.
Tak perlu dibayangkan lagi seperti apa raut wajahnya. Namun tetap saja dia harus memastikan target dengan matanya sendiri, jadi dia mengalihkan pandangannya ke arah Finn──
"Menurutku, itu berperan untuk menentukan bagaimana menghadapi setiap situasi. Lebih tepatnya, untuk mengubah cara melepaskan sihir dengan bebas!"
Yang berada di sana bukanlah anak laki-laki arogan penuh kebencian seperti yang dibayangkannya.
(A-apa… anak itu…?)
Melainkan seorang anak laki-laki dengan mata, ekspresi, dan aura yang sangat murni.
(I-imut….)
Matanya yang selama ini digunakan untuk membidik target mulai goyah. Dan tanpa sadar, dia sampai membisikkan itu dalam hati.
(I-imutnya…? Apa yang sebenarnya sedang kupikirkan…?)
Karena terlalu terkejut, keberadaannya sempat bocor sesaat, tetapi dia segera menyadarinya.
Lalu kembali menghapus keberadaannya sepenuhnya.
Selama ini, tidak pernah sekalipun dia melihat target lalu merasa seperti itu. Target tetaplah target, seseorang yang nyawanya akan ia renggut.
(Mungkin aku hanya terkejut karena dia terlalu berbeda dari bayanganku. Kalau tidak, mustahil aku menganggap targetku imut.)
Setelah sekali mengalihkan pandangannya dari Finn dan menyimpulkan demikian terhadap pikirannya yang tak biasa itu, dia kembali melihat Finn.
"Benar sekali. Seperti dugaanku, Finn-san memang luar biasa. Hanya dengan sekali mendengar penjelasan tentang karakteristik ilmu pedang Chevalier, kamu sudah memahami dasar yang menjadi fondasinya."
Sesaat setelah suara Sephia terdengar demikian, wanita berambut putih itu kembali melihat Finn.
Dan pada saat itu, Finn berkata dengan ekspresi cerah.
"Itu karena penjelasan Sephia-san sangat mudah dimengerti! Tapi… terima kasih banyak!!"
Mata yang murni itu.
Ekspresi yang menggemaskan itu.
Pipinya yang sedikit memerah karena malu.
Semua itu──
(I-imut… bener-bener, lucu banget….)
Kalau sudah kedua kalinya begini, dia tak bisa lagi menyimpulkan bahwa dirinya hanya bingung karena perbedaan dengan bayangan semata.
Wanita berambut putih itu menatap Finn dengan mata yang goyah, sementara hatinya kacau lebih dari saat menjalankan misi mana pun sebelumnya.
(Itukah benar-benar anak laki-laki dari dokumen itu…? Meski punya prestasi sebesar itu, sama sekali tak terlihat kesombongan dalam dirinya.)
Bahkan….
(Lucu~….)
Setelah itu, wanita berambut putih itu tanpa sadar terus memandangi Finn beberapa saat.
(Di negara ini… bahkan di dalam militer Kekaisaran Luvankrum, ternyata ada anak semurni itu…. Sepertinya aku masih belum benar-benar mengenal dunia.)
Namun justru karena itu──
(Sungguh disayangkan… aku harus merenggut nyawamu sekarang.)
Sambil bergumam demikian dalam hati, mata wanita berambut putih yang tadi goyah kembali menjadi dingin tanpa emosi.
(Bagiku, semua nyawa itu setara. Karena aku sudah menerima permintaan untuk membunuhmu sebagai seorang pembunuh bayaran, maka aku harus menyelesaikan tugas itu. Kepribadian maupun kemampuanmu tidak ada hubungannya.)
Tak peduli betapa istimewanya Finn, dia tetap hanya satu nyawa. Dan selama itu tidak berubah, maka tindakan pembunuhan ini pun tidak akan berubah.
"Kalau begitu berikutnya, aku akan memperlihatkan langsung kuda-kudaku, lalu setelah itu aku ingin Finn-san mempraktikkannya sendiri."
Wanita berambut putih itu mengeluarkan senapan musket bermotif yang dibawanya di pinggang.
"Baik!"
Wanita berambut putih itu mengarahkan senapan tersebut ke Finn dengan kedua tangan, lalu membidik dengan tepat.
Di dunia yang memiliki sihir ini, senjata api dikenal boros energi. Sihir memiliki daya hancur lebih besar dan tidak perlu diisi ulang, sehingga senjata api hampir tidak pernah digunakan bahkan dalam pertarungan antarmanusia.
Kalau ada gunanya pun, paling hanya menjadi alat hiburan para bangsawan.
Namun, wanita berambut putih itu berpikir bahwa dengan menggabungkan senjata api dan sihir, benda itu bisa memiliki potensi luar biasa khususnya untuk pembunuhan.
Karena itu, dia mereproduksi senapan musket menggunakan material yang memiliki daya hantar sihir tinggi.
Senjata itu memiliki berbagai keunggulan, seperti bidikan yang lebih mudah diarahkan dibandingkan sihir yang ditembakkan langsung dari tangan, serta kemampuan menghasilkan kecepatan tinggi bahkan dengan sedikit sihir. Tapi tentu saja, itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan sembarang orang.
Setiap kali menembakkan sihir dari senapan, dibutuhkan kontrol sihir yang sangat presisi. Jika jumlah sihirnya meleset sedikit saja, senapan itu bisa meledak.
Karena itulah, untuk benar-benar menggunakan senjata ini sebagai alat pembunuhan, dibutuhkan kemampuan kontrol sihir yang sangat halus dan ketenangan untuk tidak pernah panik dalam situasi apa pun.
Faktanya, para pembunuh lain juga pernah mencoba meniru wanita berambut putih itu dan menggunakan senapan serupa, tetapi pada akhirnya tak satu pun dari mereka mampu memaksimalkan potensi senjata api tersebut.
"Pertama, saat mencabut pedang dari sarungnya──"
Dia belum menembak.
"Begitu ya…! Cara mencabut pedang juga berbeda tergantung kuda-kudanya!"
Sampai dia melihat celah yang benar-benar pasti dapat membunuh targetnya, apa pun yang terjadi dia tidak akan menembak.
"Benar. Bisa dibilang, dasar paling mendasar dari sebuah kuda-kuda adalah cara mencabut pedang."
Hanya terus menunggu momen itu.
Itulah pekerjaan terbesar seorang pembunuh.
Wanita berambut putih itu memahami hal tersebut lebih dari siapa pun.
Bahkan dibanding kemampuannya menggunakan senapan, pemahaman itulah yang menjadi alasan mengapa dia dianggap sebagai pembunuh paling berbakat di Kekaisaran Luvankrum ini.
Dia tetap diam sambil menunggu saat itu tiba.
"Kaki diarahkan ke belakang sebagai tumpuan, lalu posisi tubuh juga dibuat agar bisa mencabut pedang dengan cepat──"
Saat Sephia masuk ke posisi kuda-kuda dan sedikit menunduk, Finn pun ikut menurunkan pandangannya untuk melihat Sephia.
Bagi mereka berdua, area sekitar kini menjadi titik buta sepenuhnya.
(Inilah saatnya.)
Begitu bergumam dalam hati, wanita berambut putih itu menarik pelatuk dan menembakkan peluru sihir dari senapannya.
Semua peluru sihir yang ditembakkannya adalah peluru tersembunyi.
Karena sihirnya ditekan hingga batas maksimum, mustahil bagi dua orang yang berada di wilayah sendiri dan tidak berjaga terhadap sekitar untuk menyadari serangan itu.
(…Maaf ya, bocah. Dengan kemampuan dan kepolosanmu itu… mungkin kau sebenarnya bisa membawa perubahan bagi negara ini──)
"Kenyataan memang seperti ini."
Meski merasakan sakit di hatinya, dia tetap bergumam begitu sambil menyaksikan peluru sihir itu melesat untuk menembus Finn──
"Teknik Pedang Aliran Chevalier… Combine Blade."
Sephia yang sebelumnya menunduk dalam posisi kuda-kuda langsung mencabut pedangnya dengan cepat dan menebas peluru sihir yang ditembakkan wanita berambut putih itu.
Meski terkejut melihat peluru sihirnya ditangkis untuk pertama kalinya, dia segera memahami situasinya.
(Saat pertama melihat anak itu aku sempat membocorkan kehadiranku sesaat… jadi sejak itu dia terus berjaga ya. Aku kalah kali ini.)
Ini adalah kegagalan pertamanya, tetapi anehnya dia tidak merasa kesal.
Justru, memikirkan bahwa takdir telah melindungi sosok semurni Finn dari tangannya yang selama ini selalu menyelesaikan semua misi, terasa cukup romantis.
(Tidak… jangan-jangan bukan romantis, tapi aku merasa lega?)
Saat dia memikirkan itu──
"Serangan tadi sungguh luar biasa, tetapi karena kau terus bersembunyi hingga sekarang, berarti kau menganggap tidak mungkin menang melawanku dalam pertarungan langsung… bisakah kau menunjukkan diri?"
Sephia berkata demikian ke arah tempat wanita berambut putih itu berada.
(Memang benar aku tak mungkin menang dalam pertarungan langsung, dan bahkan kalau kabur pun akan sulit jika seluruh pasukan garis depan dipanggil… dan lebih dari itu──)
Semua nyawa itu setara.
(Kabur di sini mungkin juga terdengar manusiawi… tapi selama ini aku selalu membunuh sambil berkata semua nyawa setara. Akan aneh kalau hanya nyawaku sendiri yang kuanggap berharga.)
Begitu menyadarinya, wanita berambut putih itu pun menampakkan diri sesuai permintaan Sephia dan berjalan menghampiri mereka berdua.
◆ ◇ ◆
Padahal tadi aku sedang diajari kuda-kuda pedang oleh Sephia-san.
Namun Sephia-san tiba-tiba melemparkan kata-kata ke arah balik sebuah pohon.
Lalu sesaat kemudian, seorang wanita cantik berambut putih berjalan menghampiri kami.
"Umm… ini sebenarnya apa…?"
Saat aku kebingungan karena tak mampu memahami situasi, wanita berambut putih itu membuka mulutnya.
"Singkatnya, Sephia Chevalier menyadari kalau aku sedang mencoba membunuhmu, dan karena situasi tak terduga itu, aku tak bisa berbuat apa-apa selain datang ke sini."
"Eh!? M-membunuhku!?"
"Ya. Karena aku seorang pembunuh."
"Pembunuh…!?"
Awalnya saja aku sudah sama sekali tak mengerti situasinya, dan sekarang malah makin tak bisa memahaminya.
"Kalau kau seorang pembunuh, berarti kau mencoba melaksanakan pembunuhan terhadap Finn-san bukan karena alasan pribadi, melainkan atas permintaan seseorang… benar begitu?"
"Pemahamanmu benar."
"Kalau begitu──"
"Aku tidak akan membicarakan identitas klienku. Itu salah satu dari sedikit aturan dalam pekerjaan pembunuh."
"…Begitu ya. Kalau begitu izinkan aku mengganti pertanyaan. Mengapa kau sempat membocorkan kehadiranmu sekali tadi?"
"……"
"Orang sehebat kau seharusnya bisa menyelesaikan semuanya tanpa membocorkan kehadiran sedikit pun."
"Itu karena……"
Wanita berambut putih itu menatapku beberapa saat.
Matanya tampak goyah, seolah sedang bimbang terhadap sesuatu.
Setelah itu dia mengalihkan pandangannya dariku dan berkata dengan suara tenang.
"Meski kau menanyakan itu, tak ada gunanya. Bagaimanapun juga, aku akan mati sekarang."
"…Benar."
"Eh…!?"
M-mati!?
"T-tunggu dulu! Sephia-san, apa kamu akan membunuh orang ini?"
"Orang ini mencoba membunuh Finn-san. Lagi pula, dengan kemampuan sehebat itu… kali ini kita berhasil mencegahnya, tapi ke depannya belum tentu."
Aku mengerti benar apa yang dikatakan Sephia-san, dan mungkin kalau biasanya, sebagai seorang tentara aku juga akan membunuh perasaanku lalu mengambil keputusan yang sama.
Tapi… mata tadi itu──
"Bocah. Kau benar-benar aneh ya… aku tadi mencoba merenggut nyawamu, tahu? Apa kau tidak membenciku karena itu?"
"Tidak mungkin aku membencimu!"
"Eh……?"
Terhadap wanita berambut putih yang bersuara bingung itu, aku melanjutkan.
"Aku memang masih seorang murid pelatihan, tapi aku tetap tentara, jadi setidaknya aku mengerti bahwa pekerjaan dan perasaan pribadi itu berbeda. Jadi meskipun kamu mencoba membunuhku karena pekerjaan, aku tidak akan membencimu karena itu."
Saat mendengar kata-kataku, wanita berambut putih itu membelalakkan mata, lalu Sephia-san yang sedari tadi diam mengamati percakapan kami berkata.
"Mengenai pertanyaan tentang mengapa kamu membocorkan kehadiran tadi… bukankah setelah melihat Finn-san, sebenarnya kamu merasa tidak ingin merenggut nyawanya?"
…Eh?
"…Kau tajam sekali. Benar."
"Eh!?"
"Meski begitu, aku tetap menembakkan peluru untuk membunuh anak ini… jadi hal seperti itu──"
"Kalau sebenarnya kamu tidak ingin membunuhku, berarti kamu ingin berteman denganku!?"
Aku langsung maju dengan penuh semangat, dan wanita berambut putih itu tampak sedikit kebingungan.
"Berteman… entahlah, tapi memang benar aku ingin mencoba berbicara denganmu──"
"Kalau begitu, kita sudah tidak perlu bertarung lagi! Mari kita mengobrol bersama!"
"Tapi aku tadi mencoba membunuhmu──"
"Itu karena pekerjaan, kan? Kalau dirimu yang sebenarnya tidak seperti itu, maka aku ingin berbicara dengan dirimu yang sebenarnya!"
"Diriku yang… sebenarnya…! B-bocah, kau terlalu dek──"
"Tadi kamu menyebut senapan, kan? Apa benda yang kamu bawa di pinggang itu senapan? Aku baru pertama kali melihat senapan asli selain yang dijadikan pajangan!"
"T-tunggu dulu, bocah… kita berteman, kita berteman kok, jadi tolong sedikit jaga jarak… kalau tubuhmu sedekat ini denganku, aku jadi malu──"
Sementara aku terus mengamati senapan berhias aneh itu dengan penuh rasa penasaran.
Wanita berambut putih itu memerah pipinya sambil bergumam pelan.
"Kegagalan pertama… dan perasaan yang pertama kali kurasakan… apa mungkin perasaan yang kurasakan terhadapmu sekarang adalah diriku yang sebenarnya, bukan diriku sebagai pembunuh? Kalau begitu, aku──"
Rasa penasaranku terhadap senapan, benda yang belum pernah kulihat itu, masih belum habis.
Aku mengamatinya mulai dari ujung laras, dan sekarang sedang melihat bagian pelatuknya.
Bentuknya unik, berbeda dari benda lain.
Inikah bentuk dari sesuatu yang disebut senapan──
"Hei, bocah."
Saat sedang memikirkan itu, wanita berambut putih itu memanggilku.
Saat melihat wajahku, wanita itu sedikit memerah di pipinya.
"Kalau kau begitu ingin melihatnya, lain kali akan kuperlihatkan lagi. Jadi, bisakah untuk sekarang kau menjauh dariku dulu? Kalau lebih dekat lagi, malah aku yang……"
"M-maaf! Aku menger—ah! Kalau begitu, ‘lain kali’ artinya……!"
"Ya. Aku sudah tidak akan mencoba membunuhmu lagi."
Kalau begitu, berarti benar-benar.
Mulai sekarang, kami bisa akur dan mengobrol bersama……!
"Aku senang sekali…… terima kasih banyak!"
"……Senyummu itu benar-benar curang."
Karena tidak mengerti maksud perkataannya, aku sedikit memiringkan kepala.
Wanita berambut putih itu memandangku sambil sedikit mengangkat sudut bibirnya.
"……Namun, tetap saja mengkhawatirkan mengenai orang yang memerintahkan pembunuhan Finn-san."
……Membunuhku.
Kupikir biasanya pembunuh bayaran dikirim ke negara musuh untuk membunuh orang-orang berbakat. Kalau begitu, kenapa justru aku yang masih seorang murid pelatihan yang dijadikan target?
"Aku mengerti perasaan itu, tapi aku tidak bisa membicarakannya dengan mulutku sendiri demi harga diri seorang pembunuh bayaran—"
"Memang membuat penasaran ya…… ah, m-maaf!"
Karena tanpa sengaja memotong perkataan wanita berambut putih itu, aku segera meminta maaf ringan.
Lalu, setelah jeda sesaat, wanita itu berkata.
"Mungkin memang wajar…… tapi kau juga penasaran, ya, bocah?"
"Eh? T-tentu saja…… kalau ada orang yang ingin membunuhku, pasti aku penasaran. Tapi, seperti aku punya hal penting yang kujaga sebagai tentara, kupikir kau juga punya hal penting yang kau jaga sebagai pembunuh bayaran, jadi perasaanku untuk menghormati itu lebih kuat!"
"Bahkan dengan mempertaruhkan nyawamu sendiri, kau masih memikirkan…… diriku……"
Sambil menatapku, wanita berambut putih itu menatap lurus ke mataku. Lalu, dengan sedikit malu-malu dia berkata.
"Ka-kalau kau juga ingin tahu…… akan kuberitahu."
"Eh!? B-benarkah boleh!?"
"Iya…… seperti kau mencoba menghormati harga diriku sebagai pembunuh bayaran, aku juga ingin menghormati keinginanmu."
Benar-benar……!
Benar kan, keputusan untuk tidak membiarkanmu mati itu memang tepat! Setelah benar-benar bicara denganmu, ternyata kau orang yang sangat baik!
"Bo-bocah…… a-aku senang kau bilang aku baik, dan aku juga senang kau sedekat ini…… t-tapi aku ingin melanjutkan pembicaraan, jadi bisakah kau menjauh dulu sebentar?"
"Mengerti!"
Aku segera menarik tubuhku yang tanpa sadar tadi condong mendekat, lalu wanita berambut putih itu menarik napas dalam-dalam.
Kemudian, kali ini dengan suara yang tenang, dia berkata.
"Aku bisa saja langsung memberitahumu sekarang, tapi sebelum itu ada sedikit persiapan yang ingin kulakukan. Jadi, bolehkah kalau ada sedikit jeda waktu?"
"Tentu saja!"
"Di markas garis depan selalu ada seseorang berjaga, jadi begitu persiapanmu selesai, silakan datang kapan saja. Aku juga akan memberitahu semuanya tentang ciri-cirimu dan bahwa tidak perlu waspada."
"Itu sangat membantu. Selama ini, aku belum pernah gagal menjalankan permintaan apa pun, tapi——"
Sambil berkata begitu, wanita berambut putih itu mendekatkan wajah cantiknya ke dekat telingaku.
"Bagiku, kau adalah target pertama yang gagal kubunuh, bocah pertama yang mencoba menghadapi diriku yang bukan seorang pembunuh bayaran, dan pria pertama yang membuatku ingin tetap berada di dekatnya mulai sekarang…… karena kau sudah merenggut begitu banyak ‘pertama kaliku’, kau harus bertanggung jawab, tahu?"
"Eh!?"
Ta-tanggung jawab……!?
Saat aku terkejut mendengar perkataan mendadak itu, wanita berambut putih itu tertawa kecil sambil berkata, "Cuma bercanda."
"Kalau begitu, aku pergi dulu ya. Oh ya, aku lupa bilang, Sephia Chevalier…… bahkan kalau aku melakukan kesalahan seperti kali ini, hampir tak ada orang yang bisa menyadari keberadaanku. Ditambah lagi, di tempat yang membuat orang pasti lengah seperti markas sendiri pun kau masih bisa merasakan keberadaanku dengan tajam. Kau memang pantas disebut kekuatan tempur terhebat Kekaisaran Luvankrum."
"Aku merasa terhormat menerima pujian itu."
"Aku hanya mengatakan fakta…… kalau begitu, aku pergi——"
Saat wanita berambut putih itu hendak selesai bicara.
"Tunggu dulu!"
Aku menghentikannya, dan wanita itu memiringkan kepala.
"Bocah……? Ada apa?"
"Umm…… karena kamu seorang pembunuh bayaran, kalau memang tidak memungkinkan tidak apa-apa, tapi kalau boleh, bisakah kamu memberitahu namamu sebelum kita berpisah?"
"Ah, benar juga, aku memang belum memperkenalkan diri. Memang, sebagai pembunuh bayaran aku tidak bisa sembarangan menyebutkan nama, tapi untuk kalian yang mulai sekarang akan akrab denganku, tentu saja akan kuberitahu."
Dengan gerakan anggun dia meletakkan tangan di dadanya sendiri, lalu wanita berambut putih itu berkata dengan ekspresi lembut.
"Namaku Stella. Mulai sekarang mohon bantuannya ya, Finn bocah…… dan juga Sephia-san."
"Stella-san……! Ya! Mohon bantuannya!"
"Aku juga mohon bantuannya."
Setelah mendengar balasan kami, Stella-san tersenyum kecil lalu membalikkan badan. Dan tepat setelah itu, sosoknya menghilang bersama keberadaannya dari depan mata kami.
"Kita tadi sedang melakukan bimbingan ilmu pedang, tapi sekarang malah jadi bukan itu lagi ya. Bagaimana kalau kita kembali ke markas dulu?"
"Mengerti."
Aku benar-benar menantikan hari saat bisa bertemu Stella-san lagi.
Sambil memikirkan itu, aku kembali menuju markas garis depan bersama Sephia-san.
◆ ◇ ◆
Markas utama Tentara Kekaisaran Luvankrum.
Di ruang rapat itu, empat petinggi duduk di kursi masing-masing.
"——Kalau sampai Deandre-dono menilainya setinggi itu…… maka kematian Finn Teraword sudah bisa dibilang pasti, ya."
"Benar. Pembunuh bayaran itu memang menjengkelkan dari cara bicara dan sikapnya, tapi kemampuannya asli…… bisa dibilang assassin hebat yang pantas untuk orang hebat sepertiku."
"Hou, itu sangat meyakinkan…… jadi dengan ini, bentuk masyarakat yang seharusnya, di mana para bangsawan berdiri di atas, tidak akan runtuh lagi, begitu?"
"Ya. Sejak awal tidak mungkin kaum bangsawan seperti kita digoyahkan hanya oleh Teraword yang cuma rakyat jelata, tapi sekarang posisi kita akan menjadi lebih kokoh."
"Begitu rupanya, hahahaha."
Pria berpakaian rapi dengan sedikit janggut di dagunya tertawa riang.
Terbawa suasana itu, Deandre dan pria bertubuh gemuk juga ikut tertawa kecil.
Namun, wanita berambut ungu dengan kecantikan yang terasa tidak cocok berada di tempat itu tetap memasang mata dingin seperti biasa, berbeda dari para pria tersebut.
"Namun, meski kematian Finn Teraword sudah pasti, mungkin tetap akan memakan waktu ya……"
"Karena ada pasukan garis depan? Soal itu aku juga sudah menanyakannya padanya, tapi katanya kekuatan mereka sama sekali tidak berpengaruh dalam pekerjaannya."
"Itu benar-benar meyakinkan sekali."
"Hmph…… mungkin sekarang mayat Finn Teraword sedang dibawa kemari——"
Saat Deandre hendak melanjutkan perkataannya.
"Pe-permisi!"
Tiba-tiba pintu ruang rapat terbuka. Lalu seorang prajurit masuk dengan tergesa-gesa.
"Apa-apaan ini, ribut sekali."
"M-maafkan saya! Namun saya rasa hal ini harus segera dilaporkan, jadi saya langsung datang kemari!"
"……Baiklah. Jadi, laporan apa itu?"
Saat Deandre bertanya, prajurit itu membuka mulutnya dan berkata.
"Itu…… saat ini di dalam militer sedang tersebar rumor bahwa ‘pembunuh bayaran yang belum pernah gagal membunuh siapa pun selama ini ternyata gagal membunuh Finn Teraword.’"
"A-apa katamu!?"
Karena tak mampu memahami situasi yang terlalu mendadak itu, Deandre meninggikan suaranya.
"A-apa yang sebenarnya terjadi!? Siapa yang menyebarkan rumor seperti itu!!"
"S-saya tidak tahu. Untuk saat ini, sepertinya rumor itu menyebar begitu saja secara alami……"
"Mustahil!! Seharusnya hanya para petinggi dan segelintir orang saja yang tahu soal rencana membunuh Finn Teraword……! Jadi kenapa bisa……!!"
"Y-yang mengkhawatirkan juga isi rumornya…… kalau rumor itu benar, berarti Finn Teraword masih hidup……"
"Guh……! B-bukan cuma itu……! Terlepas benar atau tidaknya, kalau rumor seperti ini menyebar——"
Saat Deandre berkata sambil menunjukkan kegelisahannya, seseorang melanjutkan perkataannya.
"Kalau menyebar, nama besarnya justru akan semakin meningkat."
Tiba-tiba terdengar suara wanita yang tenang. Dan tanpa disadari, Stella sudah berada di dalam ruang rapat itu.
"K-kau……!"
"Senang melihat kalian tampaknya sedang bersenang-senang. Julukan ‘satu-satunya orang yang selamat dari pembunuh bayaran legendaris’ rupanya terdengar cukup bagus ya."
"A-apa yang kau katakan!? Jangan bilang rumor itu kau sendiri yang menyebarkannya!?"
"Benar."
"Apa!? M-menodai namamu sendiri, sebenarnya apa yang kau pikirkan!?"
"Sayangnya, aku tidak merasa ternoda sama sekali…… malah, kalau namaku dan namanya disebut berdampingan dalam pembicaraan, mungkin itu juga salah satu bentuk kebahagiaan."
"A-apa yang sebenarnya kau bicarakan……! Tidak, lebih penting lagi, bagaimana dengan Finn Teraword!? Tugasmu adalah merenggut nyawanya——"
"Soal itu…… aku memutuskan untuk membatalkan permintaan tersebut."
"Apa katamu……!?"
Mendengar kata-kata yang benar-benar berbeda dari dirinya yang kemarin, Deandre pun berseru kaget.
Namun, Stella tidak memedulikannya dan membuka mulut.
"Sejujurnya, aku bahkan tidak ingin datang untuk melaporkan ini. Yah, anggap saja ini etika minimum seorang pembunuh bayaran terhadap kliennya… dan sekalian soal etika itu, izinkan aku mengatakan satu hal──"
Setelah memberi pengantar, Stella menatap mereka dengan mata tanpa emosi dan berkata.
"Kalian sebaiknya turun dari posisi petinggi militer Kekaisaran Luvankrum. Bukan nanti suatu hari, tapi sekarang juga."
"A-apa katamu!? Menyuruh kami turun dari kursi petinggi!?"
"Ya. Karena kalau orang-orang seperti kalian berada di jajaran atas militer Kekaisaran Luvankrum yang melindungi negara ini, aku merasa kasihan pada rakyat yang tinggal di negeri ini."
Saat Deandre berbicara dengan Stella sebelumnya.
Karena ia ingin Stella menerima permintaan pembunuhan itu, ia masih berusaha menahan diri meski mendengar beberapa hal yang tidak menyenangkan.
Namun kali ini, bukan hanya permintaannya dibatalkan, isi perkataan Stella juga jauh lebih menghina mereka dibanding sebelumnya.
Pada akhirnya ia tak mampu menahan diri lagi dan berteriak marah.
"Jangan bercanda!! Kami selama ini menjaga kedamaian negara ini!! Percobaan pembunuhan terhadap Finn Teraword kali ini juga demi itu!!"
"Yang benar-benar ingin kalian lindungi bukan negara ini, melainkan sistem negara di mana kaum bangsawan dianggap mutlak, bukan? Demi hal semacam itu, kalian sampai ingin membunuh seorang talenta luar biasa dan langka hanya karena dia rakyat biasa. Aku sudah melihat banyak sisi buruk manusia, tapi jika berbicara tentang betapa dangkalnya tujuan dibanding besarnya kehilangan yang ditimbulkan, kalianlah yang paling parah."
Saat Stella menyelesaikan perkataannya. Pria berpakaian rapi dengan sedikit janggut di dagunya tampak tercengang seolah melihat sesuatu yang tak dapat dipercaya.
"T-tujuan kami para bangsawan… d-dangkal…? K-kau sadar sedang berbicara kepada siapa?"
Bukan sekadar terguncang, melainkan benar-benar tercengang.
Seolah ia sama sekali tidak percaya ada orang di dunia ini yang berani mengatakan hal seperti itu padanya.
"B-benar sekali!"
Pria bertubuh gemuk itu juga ikut menimpali, lalu Stella menoleh pada mereka dan menjawab.
"Tentu saja aku tahu. Kalian manusia."
"Ngh…!"
"Guh…!"
Ditatap oleh mata tanpa emosi itu, wajah kedua pria tersebut sedikit memucat.
Namun pria berjanggut itu tetap membuka mulut dengan harga dirinya sebagai satu-satunya penopang.
"A-aku bukan manusia biasa. Aku adalah Duke Kekaisaran Luvankrum──"
"Kau tetap manusia biasa. Lebih tepatnya, hanya satu nyawa. Memang masih bisa diperdebatkan apakah nyawa tertentu layak dihargai atau tidak, tapi fakta bahwa semua manusia hanyalah satu nyawa yang setara tidak berubah──setara, kan…?"
Sambil bergumam begitu, Stella menghentikan kata-katanya sejenak.
Ia memandang ketiga pria petinggi yang tadi berbicara, lalu meletakkan tangan di dagunya seolah sedang berpikir.
"Selama ini aku hidup sebagai pembunuh bayaran dengan berpikir bahwa semua nyawa itu setara, tapi nyawa pria-pria ini dan nyawanya dia… setara? Mustahil. Pemikiran dasarku tetap sama, bahwa nilai nyawa tidak ditentukan oleh kepribadian atau kemampuan seseorang. Namun ketika aku mencoba menyebut mereka dan dia sebagai setara, ada sesuatu dalam diriku yang menolaknya dengan keras. Perasaan yang melampaui logika ini… fufu. Sepertinya setelah bertemu dengannya, aku benar-benar akan berubah mulai sekarang──"
"A-apa yang kau gumamkan itu!!"
Saat Deandre berteriak keras, Stella mengangkat wajahnya.
"Ah, maaf. Aku sedang memikirkan sesuatu yang lebih berarti daripada berbicara dengan kalian."
"Grr…!"
"Dan kurasa, apa pun yang kukatakan tak akan sampai pada kalian, jadi pembicaraan ini kuakhiri di sini saja… tapi terakhir, ada satu peringatan."
Stella membelakangi para petinggi itu lalu melanjutkan.
"Kalau kalian ingin mempertahankan keadaan negara ini seperti sekarang, sebaiknya jangan sentuh dia. Jika kalian masih mencoba melakukan sesuatu pada anak itu mulai sekarang… maka kalian sendiri yang akan menghancurkan masyarakat bangsawan ini dengan tindakan kalian sendiri."
"A-apa maksudmu itu!!"
Deandre berteriak karena tak memahami maksud perkataannya. Namun Stella sama sekali tak memedulikannya dan berjalan menuju pintu ruang rapat.
"T-tunggu!!"
Karena Stella hendak pergi tanpa menjawab pertanyaannya, Deandre memanggilnya dengan keras.
Stella menghela napas lalu berkata.
"Sebagai diriku sekarang, sebenarnya aku tak keberatan langsung membunuh kalian di tempat ini. Fakta bahwa aku tidak melakukannya adalah bentuk penghormatan terakhirku sebagai pembunuh bayaran kepada klien."
Lalu ia melanjutkan.
Setelah menoleh pada para pria itu, ia berkata dengan mata yang tetap tanpa emosi.
"Atau bagaimana? Apa kalian ingin aku tetap di sini tanpa memberi toleransi apa pun?"
"……"
Tak ada seorang pun yang mengangguk pada pertanyaan itu.
Keheningan menyelimuti ruangan sejenak, lalu Stella kembali melangkah dan keluar dari ruang rapat.
"Sialan dia…!!"
"D-Deandre-dono… kalau begini, nama Teraword malah akan makin terkenal. Apa yang akan kita lakukan sekarang?"
"Sudah jelas!! Kalau begini, kita tak akan lagi meminjam tangan pihak luar! Apa pun yang terjadi, kita sendiri yang akan membunuh Finn Teraword!! Setelah dipermalukan sejauh ini oleh rakyat biasa, mundur sekarang hanya akan mencoreng nama bangsawan!!"
Mendengar perkataan Deandre, pria berjanggut itu juga mengangguk.
"B-benar. Aku tentu tak keberatan mengeluarkan dana… tapi apa pembunuh bayaran itu akan kita biarkan begitu saja?"
"Benar juga. Aku ingin membuat pembunuh bayaran yang telah menyentuh murka kita itu menyesali karena berani menghina kita…"
Sulit untuk menjatuhkan pembunuh bayaran yang tampaknya memiliki kecerdasan dan kemampuan luar biasa itu.
Karena itulah Deandre sempat terdiam.
Lalu wanita berambut ungu itu berdiri dari kursinya dan mulai berjalan keluar dari ruang rapat.
"H-hei! Bahkan kau juga mau pergi ke mana!!"
"Seperti yang baru saja Anda katakan. Aku akan mengejar pembunuh bayaran itu, lalu menghukumnya atas berbagai ucapan yang bisa dianggap penghinaan terhadap kita."
"O-ohh! B-benar juga! Kalau dirimu, pasti bisa memberi pelajaran pada pembunuh bayaran itu dengan kekuatanmu!"
"K-kami mengandalkanmu!"
Wanita itu menerima kata-kata Deandre dan yang lainnya di punggungnya, lalu pergi meninggalkan ruang rapat.
"K-kalau begitu, masalah pembunuh bayaran sudah selesai."
"Ya. Tinggal Finn Teraword saja. Beraninya rakyat biasa itu membuat kita sampai seperti ini… mulai sekarang kita tak perlu memilih cara apa pun, yang penting dia harus dibunuh!!"
Setelah itu, Deandre dan yang lainnya terus melontarkan kebencian terhadap Finn dan Stella sambil mendiskusikan cara membunuh Finn.
◆ ◇ ◆
Setelah keluar dari ruang rapat, Stella berjalan menyusuri lorong markas utama militer untuk meninggalkan tempat itu.
(Memang dibuat merasa tidak nyaman, tapi setidaknya aku sudah memenuhi etika minimum. Sekarang aku bisa pergi menemui anak itu tanpa penyesalan)
Sambil berpikir begitu, ia melangkahkan kaki──
"Tunggu."
Tiba-tiba sebuah suara memanggil dari belakang.
Stella menghentikan langkahnya dan menoleh, lalu melihat wanita berambut ungu berdiri di sana.
"Kau… tadi juga ada di ruang rapat itu, tapi saat aku ada di sana, kau tidak mengatakan sepatah kata pun. Jangan-jangan kau datang untuk menghukumku karena telah menghina kalian?"
Sambil berkata begitu, Stella mengamati wanita di depannya.
(Aku sudah merasakannya sejak tadi di ruang rapat, tapi tidak seperti pria-pria itu, wanita ini tampaknya benar-benar kuat. Bahkan mungkin setara dengan Sephia Chevalier. Tapi, lencana di dadanya itu… Medali Luvankrum. Jadi begitu. Ini benar-benar lawan yang makin tidak ingin kuhadapi secara langsung)
Dalam sekejap ia melakukan analisis dingin di dalam pikirannya.
Namun, di luar dugaan, wanita berambut ungu itu menggelengkan kepala.
"Tidak."
"…Tidak?"
"Ya. Justru aku menghargai keberanianmu yang bisa menyampaikan pendapatmu secara terbuka di tempat itu, kemampuanmu sebagai pembunuh bayaran terbaik di Kekaisaran Luvankrum… dan juga matamu yang mampu melihat Finn dengan benar tanpa terpengaruh prasangka bodoh bahwa dia hanyalah rakyat biasa."
"…Aneh juga ya. Kau seharusnya salah satu petinggi yang memerintahkan pembunuhan dirinya, tapi malah berbicara seolah sangat peduli padanya."
"Tidak ada yang aneh. Faktanya, aku memang sangat peduli pada Finn."
"…Eh?"
"Bagi diriku, Finn adalah arti hidup itu sendiri… sumber kehidupanku. Berkat Finn, duniaku menjadi berwarna. Demi bisa merasakan Finn lebih kuat, indra penciumanku lahir. Dan karena Finn menyentuhku, aku mendapatkan indra peraba. Alasan aku tetap berada di jajaran petinggi yang dipenuhi pria-pria menjijikkan itu juga semuanya demi Finn."
Karena Stella sebelumnya mengira wanita berambut ungu ini juga memandang rendah Finn yang rakyat biasa, ia pun terkejut mendengar kata-kata itu.
Lalu wanita itu melanjutkan.
"Jadi, kalau kau sudah menyadari pesona Finn… maukah kau bekerja sama denganku dan menggunakan kekuatanmu demi Finn?"
Sebuah usulan yang sama sekali tak diduga.
Namun Stella secara naluriah memahami bahwa perasaan wanita itu terhadap Finn adalah tulus.
"Untuk sementara, biarkan aku mendengar ceritanya dulu."
Karena ia juga ingin melakukan sesuatu demi Finn, Stella memutuskan untuk mendengarkannya.
◆ ◇ ◆
Selain aku dan Sephia-san, rupanya semua orang masih berada di ruang tamu.
Saat kami datang, semuanya tampak menikmati catur, kartu, dan mengobrol santai… tapi.
"Eh…? Sephia-chan… barusan kau bilang apa?"
"Tadi aku menyampaikan bahwa kami bertemu dengan seorang pembunuh bayaran yang mengincar nyawa Finn-san. Untungnya aku berhasil menahan serangannya, jadi Finn-san tidak terluka… namun dari pembicaraan kami, tampaknya dia benar-benar berniat membunuh Finn-san, bukan sekadar memberi ancaman atau peringatan."
"Finn-kun… diincar… pembunuh bayaran…"
Elena-san bergumam dengan suara yang begitu gelap hingga sulit dibayangkan berasal dari dirinya biasanya──dan tepat setelah itu.
Semua orang mulai memancarkan kekuatan sihir dengan agresivitas tinggi dari seluruh tubuh mereka.
"Mereka mencoba membunuh Teraword-kun… apa-apaan itu?"
"Waktu dulu ada yang menyerang saat Teraword-kun mau makan dan mengganggu dia makan aja aku sudah nggak bisa maafin, tapi ini jauh lebih parah."
"Tak akan kumaafkan…"
"Orang yang mencoba mengambil nyawa Tera-kun harusnya malah kita yang ambil nyawanya…"
"Kalau tadi Sephia-senpai tidak ada, Teraword-kun mungkin sudah…"
"Dunia… tanpa Tera-kun…"
"Nggak sanggup…"
Semua orang memancarkan niat membunuh yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Dan itu bukan niat membunuh dingin khas seorang tentara. Melainkan niat membunuh asli manusia yang dipenuhi emosi.
Saat aku sangat merasakan itu, Sephia-san membuka mulut.
"Dan mengenai pembunuh bayaran yang tadi aku ceritakan… berkat Finn-san juga, kami berhasil berdamai dengannya."
"Eh…?"
"Dengan pembunuh bayaran…?"
"Berdamai!?"
Mereka langsung menghilangkan niat membunuh itu dan memasang ekspresi terkejut, lalu semua berlari mendekatiku.
"Teraword-kun hebat banget nggak sih!?"
"Serius hebat!"
"Aku baru pertama kali dengar ada yang begitu…!"
"T-tidak! Itu karena orangnya memang sangat baik…"
"Meski begitu! Berdamai dengan pembunuh bayaran yang mencoba membunuhmu itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan orang biasa, baik dari pihakmu maupun pihak lawan!"
"Seperti yang kuduga, Teraword-kun memang luar biasa dalam banyak hal."
"Kali ini aku cuma dilindungi Sephia-san, jadi sebenarnya aku tidak melakukan apa pun yang pantas dipuji…"
Meski begitu.
"Tapi… aku sangat merasa terhormat dan senang mendapat pujian dari kalian semua."
"Ekspresi malunya…!"
"Lucu…"
"Tadi aku merasa segelap itu, tapi cuma dengan lihat wajah lucu Tera-kun aja…"
"Benar-benar menyembuhkan…"
Saat mereka bergumam dengan suasana yang terlihat bahagia, Sephia-san berbicara pada mereka.
"Aku belum tahu kapan tepatnya, tapi kemungkinan dalam waktu yang tidak terlalu lama, orang itu akan datang ke markas garis depan ini dan memberi tahu kita tentang orang yang memerintahkan pembunuhan Finn-san."
"Eh!? Pembicaraannya sampai sejauh itu!?"
"Ya. Sekarang aku akan menjelaskan ciri-cirinya."
Karena itu, Sephia-san mulai menjelaskan ciri-ciri Stella-san.
Namanya.
Warna rambutnya.
Jenis kelaminnya.
Ia mengenakan pakaian putih berkancing yang rapi dengan jaket hitam penuh kantong dan holder di atasnya.
Lalu, kulitnya putih dan ia membawa senapan musket di pinggangnya.
"──Itu saja."
"Orang yang bawa senjata api ke mana-mana hampir nggak ada, jadi cuma dari itu aja kayaknya langsung ketahuan!"
"Benar!"
"Iya juga."
Saat semua orang mengangguk, Norn-san membuka mulut.
"Sephia-chan. Dari pembunuh bayaran itu, kau belum dengar dia berasal dari negara mana… atau semacamnya?"
"Benar. Sepertinya itu juga akan dibicarakan nanti."
"Begitu ya. Kalau begitu nggak apa-apa. Aku lagi pengin santai, jadi aku balik ke kamar dulu ya~"
Setelah menjawab ringan, Norn-san meninggalkan ruang tamu.
"Tunggu! Norn!"
Mengikuti di belakangnya, Elena-san juga keluar dari ruang tamu.
…Ada apa ya? Sambil merasa heran soal itu.
"Oh iya…!"
Aku tiba-tiba teringat sesuatu dan tanpa sadar berseru.
Lalu, sementara semua orang sibuk mengobrol satu sama lain di belakangku, aku menoleh pada Sephia-san.
"Anuu! Sephia-san!"
"Finn-san. Ada apa?"
"Hari ini banyak sekali yang terjadi sampai aku belum sempat mengatakannya…"
Lalu aku menundukkan kepala dan berkata dengan sungguh-sungguh.
"Terima kasih banyak karena sudah melindungiku waktu itu!"
Akhirnya aku benar-benar bisa menyampaikan rasa terima kasih yang belum sempat kukatakan karena telah diselamatkan dari tembakan Stella-san.
Sephia-san berkata dengan suara lembut.
"Tak perlu terlalu memikirkan hal seperti itu, jadi tolong angkat wajahmu."
"Aku tidak mungkin tidak memikirkannya! Sephia-san adalah penyelamat nyawaku, jadi aku benar-benar sangat berterima kasih! Karena itu... tolong biarkan aku membalas budi!"
"Finn-san..."
Setelah jeda sejenak, Sephia-san perlahan mengangguk.
"Baiklah. Jika Finn-san sudah berkata sejauh itu, rasanya justru tidak sopan bila aku tidak menginginkan apa pun. Jadi, kalau nanti aku terpikir sesuatu yang ingin kulakukan, aku akan memintanya padamu."
"Terima kasih banyak! Kalau nanti terpikir sesuatu, tolong beri tahu aku kapan saja!"
Tak peduli hal seperti apa itu nantinya, saat waktunya tiba aku akan membalas budi dengan sepenuh hati.
Dengan rasa syukur kepada Sephia-san yang telah menyelamatkan nyawaku di dalam dada, aku bersumpah kuat dalam hati.
◆ ◇ ◆
"Norn!!"
Keluar dari ruang tamu dan menuruni tangga spiral, Elena memanggil Norn yang baru saja hendak masuk ke kamarnya sendiri.
Norn pun menoleh ke arah Elena yang berada tepat di belakangnya.
"Hm, Elena-chan? Maaf ya, aku lagi banyak pikiran jadi nggak sadar kalau kamu ngejar aku~. Ada apa?"
"Aku ingin mendengar tentang apa yang sedang kau pikirkan itu!"
"...Tentang apa yang kupikirkan?"
Saat Norn balik bertanya, Elena mengangguk.
"Dari sikapmu tadi, Norn pasti sudah punya dugaan siapa yang mengirim pembunuh bayaran untuk membunuh Finn-kun, kan?"
"..."
Karena Norn terdiam mendengar pertanyaan itu, Elena pun yakin.
(Jadi benar... dia sudah punya dugaan...!)
Kalau begitu—
"Siapa!? Tolong, katakan padaku, Norn!! Aku sudah berjanji akan melindungi Finn-kun!! Aku sudah berjanji... iya, aku sudah berjanji, tapi..."
Kalau saja—
"Kalau Sephia-chan tidak ada di sana, sekarang Finn-kun mungkin sudah... hanya dengan memikirkannya saja, aku tidak bisa memaafkan orang yang mencoba membunuh Finn-kun, tapi juga diriku sendiri yang hampir membiarkan Finn-kun mati tanpa kuketahui! Jadi tolong! Katakan padaku, Norn!!"
Perasaan menganggap Finn begitu berharga.
Amarah dan niat membunuh kepada pihak yang mencoba membunuh Finn.
Dan kemarahan pada dirinya sendiri yang mungkin hampir membiarkan Finn mati.
Menanggapi jeritan pilu Elena yang dipenuhi berbagai emosi itu, Norn menjawab dengan ekspresi serius yang jauh berbeda dari biasanya.
"...Dulu Elena-chan pernah memberitahuku kalau Finn-kun bilang 'lebih baik aku mati', kan? Aku rasa kejadian kali ini ada hubungannya dengan itu."
"...Ada hubungannya?"
"Iya. Sebenarnya aku punya dugaan yang lebih spesifik juga, tapi untuk sekarang aku cuma akan bilang hal yang menurutku sudah cukup pasti."
Sampai di sini suara Norn masih tenang. Namun ketika hendak mengucapkan kata-kata berikutnya, mungkin karena emosinya tak bisa ditahan lagi.
Matanya menjadi gelap seperti waktu itu, dan sambil memancarkan niat membunuh bersama kekuatan sihir yang kuat dari seluruh tubuhnya, dia berkata.
"Orang yang mengirim pembunuh bayaran untuk Finn-kun adalah──orang dari Kekaisaran Luvankrum."
◆ ◇ ◆
Setelah menghabiskan waktu bersama semua orang di ruang tamu untuk sementara waktu.
Aku kembali ke kamarku dan mulai merangkum hal-hal yang kupelajari hari ini di buku catatan.
Hal-hal yang kupelajari adalah tentang pedang yang diajarkan oleh Sephia-san.
Dan juga fakta bahwa senjata api bisa digunakan selain untuk hiburan, bila digunakan dalam bentuk pembunuhan.
"Teknik Sephia-san memang luar biasa, tapi aku benar-benar kaget kalau senjata seperti itu benar-benar digunakan..."
Dalam pertarungan langsung, jelas sihir yang dipancarkan dari tubuh memiliki daya hancur lebih tinggi dan lebih unggul.
Tapi itu adalah senjata yang cocok justru karena digunakan oleh pembunuh bayaran yang mengkhususkan diri dalam bertarung sambil menyembunyikan keberadaan.
Aku merangkum hal-hal itu ke dalam catatan, lalu setelah mandi aku belajar seperti biasa menggunakan buku sihir yang selalu kubawa.
Saat waktu tidur mulai mendekat, pintu kamarku diketuk.
"Ya!"
Ketika kubuka pintunya, Elena-san berdiri di sana dengan pakaian tipis.
"E-Elena-san? Ada apa?"
Aku sedikit terkejut melihat penampilannya dan bertanya, lalu Elena-san menjawab dengan ekspresi murung.
"Ada banyak hal sih, tapi boleh aku masuk dulu? ...Malam ini aku ingin bersama Finn-kun."
...Jelas sekali dia tidak seceria biasanya. Tapi kalau di saat seperti ini dia ingin bersamaku.
"Baiklah. Silakan masuk."
"...Terima kasih."
Aku mengundang Elena-san masuk ke kamar dan hendak menarik kursi──saat itu.
"Kalau duduk di kursi, jaraknya jadi jauh. Bagaimana kalau kita duduk di atas sini sambil ngobrol?"
Yang disentuh Elena-san sambil berkata begitu adalah tempat tidur di kamarku.
"Baik."
Aku mengangguk pelan lalu duduk di atas tempat tidur bersama Elena-san.
Karena dia mengajakku bicara, pasti ada sesuatu yang ingin dia bicarakan denganku.
Sambil memikirkan itu, aku menunggu dengan tenang.
Tak lama kemudian, Elena-san membuka mulutnya dan berkata.
"Aku memang bilang ingin ngobrol, tapi hari ini aku datang bukan untuk ngobrol santai seperti biasanya... hari ini, aku datang untuk meminta maaf pada Finn-kun."
"Eh...? Meminta maaf... padaku?"
"Iya."
Ada tak terhitung banyaknya hal yang membuatku berterima kasih kepada Elena-san.
Tapi hal yang membuat Elena-san perlu meminta maaf padaku...
"Aku sama sekali tidak punya alasan untuk meminta maaf dari Elena-san."
Aku bisa mengatakan itu dengan yakin, jadi langsung mengatakannya tanpa ragu.
Namun Elena-san menggeleng pelan.
"Bukan... aku harus minta maaf... karena aku hampir melanggar janji pentingku dengan Finn-kun..."
Elena-san memelukku dan berkata dengan suara bergetar karena tangis, seakan emosinya sedang kacau.
"Maaf... maaf ya, Finn-kun. Aku sudah berjanji akan melindungimu apa pun yang terjadi... tapi malah membuatmu mengalami ketakutan karena diburu pembunuh bayaran... maafkan aku..."
"Eh...!?"
Aku sempat bingung apa maksudnya hampir melanggar janji denganku.
Jadi itu maksudnya... tapi kalau begitu.
Aku segera membuka mulut lebih cepat dari biasanya.
"Seperti yang dikatakan Sephia-san, kami berhasil berdamai dengan pembunuh bayaran itu, dan aku juga tidak terluka sedikit pun, jadi soal itu sudah──"
"Itu cuma karena hasil akhirnya jadi seperti itu!"
Dengan suara kuat, Elena-san melanjutkan sambil meluapkan emosinya.
"Bagaimana kalau Sephia-chan gagal menahan serangan itu? Bagaimana kalau Sephia-chan tidak ada di sana? Hanya membayangkannya saja sudah... iya. Aku bilang akan melindungi Finn-kun apa pun yang terjadi, tapi aku hampir saja membiarkan Finn-kun... Finn-kun yang sangat berharga bagiku ini... mati di tempat yang bahkan tidak kuketahui..."
"Elena... san..."
"Maafkan aku... orang seperti aku ini pasti sudah tidak pantas lagi memeluk Finn-kun seperti sekarang..."
Sambil berkata begitu, Elena-san mulai melonggarkan pelukannya.
"Bukan cuma itu... mungkin aku juga sudah tidak pantas berada di sisi Finn-kun lagi──"
Aku melingkarkan kedua tanganku ke punggung Elena-san.
Lalu memeluknya erat.
"F-Finn-kun...!?"
"Elena-san! Tolong jangan bilang kalau Elena-san tidak boleh berada di sisiku... jangan bilang begitu!! Aku ingin terus bersama Elena-san selamanya!!"
"...! Bersamaku... tapi aku hampir melanggar janji dengan Finn-kun──"
"Itu tidak ada hubungannya! Dari awal pun aku tidak merasa Elena-san hampir melanggar janji! Lagi pula, sejak awal aku tidak ingin terus dilindungi Elena-san dan semuanya, aku ingin suatu hari nanti bisa melindungi Elena-san dan semuanya! Jadi sungguh, itu sama sekali tidak masalah!!"
"Finn... kun... apa benar boleh? Apa aku benar-benar masih boleh terus bersama Finn-kun...?"
"Tentu saja! Malah aku sendiri yang ingin memintanya! Tolong teruslah bersama aku selamanya!!"
"Finn-kun...!!"
Perasaanku.
Aku menyampaikan semuanya apa adanya.
Elena-san pun mempererat pelukannya dan berkata.
"Iya... iya...! Kalau begitu, mulai sekarang kita akan terus bersama! Kali ini... kali ini aku pasti benar-benar akan melindungimu, Finn-kun!"
"Elena-san..."
Setelah itu kami saling berpelukan dalam diam.
Dan ketika tangisnya mulai mereda, Elena-san berkata dengan suara lembut.
"Finn-kun. Kalau sekarang aku harus kembali ke kamar dan tidur sendirian rasanya sepi... jadi malam ini, aku ingin tidur bersama Finn-kun."
Elena-san dan aku... tidur bersama...!
Aku juga tahu kalau ini berbeda dengan waktu dia menemaniku sampai tertidur sebelumnya.
Kalau biasanya, hanya mendengar kata-kata itu saja pasti aku sudah jauh lebih panik dan gugup.
Tapi... mungkin karena setelah percakapan yang sangat penting tadi.
"Baiklah... malam ini mari tidur bersama."
Tanpa merasa terlalu malu, kata-kata itu keluar begitu saja secara alami.
"B-Boleh!?"
"Iya. Aku juga... malam ini ingin tetap bersama Elena-san seperti ini."
"Finn-kun...! Kalau begitu, sini!"
Sambil berkata begitu Elena-san masuk ke dalam selimut, lalu mengajakku ikut masuk ke dalamnya, jadi aku pun menuruti ajakannya.
"Finn-kun..."
Kemudian Elena-san memelukku dari depan.
Dan karena itu, rasa tenang menyelimuti tubuhku.
Rasa kantuk yang sebelumnya tidak kurasakan saat kami berbicara tadi tiba-tiba datang dengan kuat.
"Elena-san..."
Sungguh... suatu hari nanti.
Aku juga ingin bisa melindungi Elena-san.
Melindungi Elena-san dan semuanya juga──
◆ ◇ ◆
Beberapa hari kemudian.
Markas besar militer Kekaisaran Luvankrum.
Di ruang rapat itu, empat petinggi sedang duduk di kursi masing-masing.
Deandre berkata dengan nada kesal.
"Apa-apaan jenius yang selamat dari pembunuh bayaran legendaris itu... cuma rakyat biasa saja malah dipuja-puja!"
Memang belum lama sejak rumor tentang Finn lolos dari pembunuh bayaran mulai menyebar. Namun meski begitu, rumor itu sudah tersebar hampir ke seluruh militer.
"Bahkan saat berjalan di lorong markas militer pun, aku mendengarnya jadi bahan pembicaraan..."
"Rakyat biasa menjadi pusat perhatian sementara kami para bangsawan diabaikan... sungguh penghinaan."
"...Sudah cukup. Kita tidak boleh terus dibuat kacau oleh rakyat jelata seperti itu!"
Bersamaan dengan Deandre meninggikan suaranya.
"Permisi!!"
Seorang prajurit masuk ke ruang rapat dengan tergesa-gesa.
"Di saat sibuk seperti ini, ada apa lagi!!"
"Ada pergerakan dari pasukan Kerajaan Granzania, jadi saya datang untuk melaporkannya!"
"Pergerakan dari Kerajaan Granzania...?"
Saat ini mereka ingin segera menyingkirkan Finn secepat mungkin.
Karena itu, mendengar ada pergerakan dari Kerajaan Granzania membuat Deandre makin kesal.
"Ya! Saat ini Kerajaan Granzania tampaknya sedang mengerahkan lima ribu pasukan menuju garis depan militer Kekaisaran Luuvankrum!"
"Apa...!?"
"L-Lima ribu...!?"
"Ini tidak masuk akal..."
Mendengar adanya pengerahan pasukan berskala besar yang tiba-tiba itu, wajah Deandre dan yang lain berubah pucat.
"A-Apakah itu pasti?"
"Ya. Tidak diragukan lagi."
"Meski itu pasukan garis depan, kalau lawannya sampai lima ribu orang... bukankah sebaiknya kita segera mengirim bala bantuan?"
"B-Benar juga. Pertama kita harus membentuk pasukan bantuan──"
"Tunggu."
Deandre memotong perkataan pria bertubuh gemuk itu.
"D-Deandre-dono...? Apa maksud Anda?"
"Kita tidak akan mengirim bala bantuan ke garis depan."
"T-Tidak mengirim...? T-Tapi──"
"Pikirkan baik-baik. Kalau situasi perang memburuk, pasukan garis depan bisa kabur sendiri kapan saja... dan kita juga hanya perlu mengalahkan pasukan Kerajaan Granzania sebelum mereka masuk ke kota. Artinya, ini adalah kesempatan yang bisa dimanfaatkan untuk membunuh Finn Teraword."
"Memanfaatkannya untuk pembunuhan... j-jadi ada cara berpikir seperti itu."
"Ya. Mungkin ada sedikit risiko, tapi kalau dia mati dalam perang, tidak akan meninggalkan dendam di kemudian hari... ini benar-benar kesempatan terbaik."
"Benar juga... seperti yang diharapkan dari Deandre-kun."
"Kalau begitu, untuk pasukan garis depan..."
Mengangguk pada gumaman pria gemuk itu, Deandre melanjutkan.
"Kita beri perintah agar mereka menahan musuh selama mungkin. Tapi Finn Teraword tidak mungkin mampu bertahan dalam pertempuran sekeras itu... artinya──hari ini akan menjadi hari kematian Finn Teraword!"




Post a Comment