NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Seijitsu Sugiru Shounen no Tsuihou-saki ga, Otokogiraina Bishoujo Shika Inai Saikyou Butaidattara? V1 Chapter 10

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 10

Duel Satu Lawan Satu

"Kukuku... jadi kalian memang bersama, ya! Persis seperti dugaanku! Hahahaha!"


Pria berambut cokelat itu tertawa seolah ada sesuatu yang sangat lucu.


Namun, Elena-san tampak tidak terlalu peduli.


Dia melangkah satu langkah ke depan dariku lalu berkata dengan nada dingin.


"Padahal kau membawa lima ribu pasukan, tapi komandannya malah maju sendiri melebihi para tentaranya. Bukankah itu terlalu ceroboh?"


"Hah? Tentu saja ini juga bagian dari strategi. Empat ribu lima ratus orang dipakai untuk menahan selain kalian berdua, lalu selama itu kami menghajar kalian yang tinggal berdua!!"


"Menghajar? Dengan jumlah segini, kau pikir bisa mengalahkanku?"


"Memang, kalau itu Elena Endyheart, jumlah segini pasti bisa kau habisi dengan mudah. Tapi itu kalau dalam kondisi normal. Seberapa lama kau bisa bertarung sambil melindungi bocah itu?"


"Lagipula," lanjutnya.


Pria berambut cokelat itu berbicara sambil membuat gerakan tangan berlebihan.


"Dengan rencana sekarang, pihak kami juga bakal menanggung korban yang sepadan. Tapi aku juga tidak ingin membiarkan anak buahku mati sia-sia. Jadi, aku punya usulan cerdas untuk kalian──"


Sambil berkata begitu, pria itu mengangkat sudut bibirnya.


Lalu menunjuk ke arahku dan berkata.


"Bagaimana kalau bocah itu dan aku melakukan duel satu lawan satu untuk menentukan kemenangan di tempat ini?"


"Eh...? Duel satu lawan satu antara aku dan Anda...?"


"Ya. Kalau kau berhasil mengalahkanku, aku akan mundur bersama lima ratus orang ini dengan patuh... kalau mau, kalian bahkan boleh membunuh kami── tapi kalau kau kalah, kami akan mengambil nyawa kalian berdua."


"Meski sebenarnya aku ingin bilang begitu," lanjutnya.


"Tapi aku ini baik hati. Jadi aku hanya akan menahan dirimu saja... bagaimana? Usulan yang sederhana, cerdas, dan masuk akal, bukan?"


"Memang sederhana, tapi tidak bisa dibilang cerdas, kan? Kami sama sekali tidak mendapat keuntungan dengan menerima usulan itu."


"Oi oi, aku sudah cukup baik hati loh. Atau kalian mau langsung dihujani serangan serentak dari lima ratus orang ini sampai jadi sarang lebah?"


"Haaah, itulah kenapa komandan yang cuma mengenal kami lewat informasi saja itu... seperti yang baru kukatakan, kami tak punya alasan menerima usulan seperti itu. Kalau kau begitu percaya diri, kenapa tidak langsung saja menyerangku dengan serangan serentak atau apa pun──"


"T-tolong tunggu!"


"Finn-kun...?"


"Umm... bukannya aku meragukan kekuatan Elena-san atau apa pun... tapi, bolehkah duel ini diserahkan padaku?"


"Eh...?"


Walaupun unit garis depan memang punya suasana yang lebih santai dibanding unit biasa.


Aku tahu kalau menyampaikan pendapat berbeda dari keputusan Elena-san yang posisinya lebih tinggi itu tidak sopan... tapi.


"Aku tidak ingin terus hanya dilindungi oleh Elena-san dan yang lain... aku ingin secepat mungkin bisa melindungi Elena-san dan semuanya juga. Jadi── tolong biarkan aku bertarung."


Secara logis, aku tidak tahu apakah pemikiran ini benar atau tidak. Tapi saat aku menyampaikan perasaanku apa adanya.


Elena-san menatap wajahku beberapa saat, lalu tersenyum kecil dan berkata.


"Itu wajah seorang laki-laki... kalau kau memintanya dengan wajah seperti itu, aku tidak bisa menolak."


"Elena-san...!"


"Pertarungan pertamamu melawan komandan, lakukan yang terbaik ya, Finn-kun! Aku mendukungmu!"


"Ya! Terima kasih banyak!"


Setelah mendapat dukungan dari Elena-san. Aku berjalan maju sambil membelakanginya, lalu mendekati pria berambut cokelat itu hingga kami saling berhadapan.


"Sudah kau putuskan apakah menerima duel ini atau tidak?"


"Ya. Aku menerimanya."


"Kukuku, begitu ya... kalau begitu, Elena Endyheart! Jangan ikut campur dalam pertarungan kami! Kalau kau ikut campur, aku akan memerintahkan anak buahku menyerang bocah ini secara serentak!!"


"Iya iya."


Masih dengan nada dingin yang sangat berbeda dibanding saat berbicara denganku dan yang lain, Elena-san menjawab begitu.


Lalu aku dan pria berambut cokelat yang menyunggingkan senyum itu berpindah ke tempat yang agak terbuka.


"Nah, sekarang ini benar-benar duel satu lawan satu antara aku dan kau... kuberitahu dulu, karena kau menerima duel ini, aku tidak akan menahan diri. Kalau kau memakai seragam militer, maka aku akan menghadapi dirimu sebagai seorang tentara."


"Tentu saja."


Justru akan lebih sulit menganggapku sebagai selain tentara, mengingat aku memang anggota militer.


"Tapi serius deh, bocah yang bahkan kelihatannya tak tahu apa-apa soal perang bisa berada di garis depan... aku memang benar-benar beruntung."


"Anda mengatakan sesuatu?"


"Tidak. Daripada itu, kalau mau duel, ayo langsung mulai saja."


"Baik."


Pertempuran sungguhan pertamaku.


Kekuatan dan gaya bertarung lawan masih belum diketahui. Mungkin dia tidak sekuat Elena-san, Sephia-san, atau Norn-san.


Tapi orang ini mengatakan dirinya ditugaskan memimpin garis depan tentara Kerajaan Granzania, jadi tidak aneh kalau dia jauh lebih kuat dibanding diriku yang masih murid pelatihan.


Meski begitu, demi Elena-san dan semuanya juga... aku tidak boleh gentar!


"Aku datang!!"


Begitu berkata, pria berambut cokelat itu langsung menyerangku dengan tinjunya.


Ayunan besar dari tangan kanan. Tubuhnya lebih besar dariku, jadi sebisa mungkin aku tidak ingin menerima serangannya.


Kalau memakai sihir pertahanan, aku bisa dengan mudah menahannya, tapi untuk sementara aku memilih menghindar sambil mengamati.


"Ora ora! Kenapa!? Apa cuma segitu!?"


Selanjutnya, pria itu terus melancarkan pukulan besar menggunakan kedua tangannya.


Tapi aku menghindari semuanya.


Aku sempat ingin maju dan melancarkan serangan balasan, tapi ada kemungkinan itu jebakan, jadi aku menahan diri.


Setelah terus menghindari serangannya dengan tenang.


Pria itu akhirnya mengambil jarak dariku sekali lagi.


"Cih, ternyata kau cuma jago menghindar ya. Jarang ada kesempatan buat menyiksa non-kombatan, jadi tadinya aku ingin menikmatinya perlahan... tapi sekarang akan kutunjukkan sesuatu yang bagus padamu! Bola Api!"


Pria berambut cokelat itu menciptakan bola api kecil dari tangannya.


Karena ukurannya kecil dan kecepatannya lambat, aku dengan mudah menghindarinya. Lalu pria itu tertawa keras.


"Hahahaha! Bagaimana!? Inilah sihir serangan! Kau yang cuma dikelilingi sihir kehidupan pasti baru pertama kali melihat beginian, kan!!"


"Eh...?"


Orang ini sebenarnya sedang bicara apa...?


Bola Api adalah sihir paling dasar dari dasar yang hampir pasti bisa digunakan oleh siapa pun yang masuk militer dan berniat bertarung di medan perang.


Tentu saja, mungkin berbeda bagi orang yang tak punya kecocokan atribut, tapi mereka pun pasti memiliki sihir dasar sesuai atribut masing-masing, jadi jelas bukan sihir yang pantas disebut "baru pertama kali dilihat."


Saat aku memikirkan itu, pria tersebut tersenyum aneh lalu berkata.


"Kenapa diam saja? Takut ya setelah melihat itu? Tapi karena kau sudah menerima duel ini, setidaknya pertarungan harus berlanjut sampai salah satu dari kita tak bisa bergerak lagi atau mati!! Nah, sekarang kau juga boleh menembakkan sihir padaku! Tentu saja, kalau kau memang bisa memakai sihir serangan! Hahahaha!!"


"Baik."


Aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan. Tapi setidaknya, dia bilang aku boleh menyerang.


Jadi aku mengarahkan tangan kananku ke pria itu.


Lalu menuangkan sihir ke tanganku dan melepaskannya.


"Ledakan."


"...Hah?"


Detik berikutnya.


Sihir yang kulepaskan dari tanganku mengenai pria berambut cokelat itu secara langsung. Lalu ledakan besar terjadi dengan pria itu sebagai pusatnya.


Area sekitar langsung tertutup asap dari ledakan tersebut.


"O-oi, apa tadi itu...!?"


"Ledakan...!?"


"Itu sihir yang luar biasa besar!!"


Saat para prajurit Kerajaan Granzania yang datang bersama pria berambut cokelat itu berteriak kaget dari tempat agak jauh.


Asap akibat ledakan perlahan menghilang, memperlihatkan sosok pria berambut cokelat yang terkapar di tanah dalam keadaan babak belur.


"Kuuh... sial... a-apa yang sebenarnya terjadi... kau seharusnya non-kombatan, jadi kenapa bisa memakai sihir seperti itu..."


"...Non-kombatan?"


Mendengar kata-kata pria yang tampaknya ingin bangkit tapi tak mampu berdiri itu, aku merasa bingung.


"Aku tidak tahu apa maksud Anda... tapi aku bukan non-kombatan, melainkan murid pelatihan Tentara Kekaisaran Luvankrum."


"A-apa...!? murid pelatihan... maksudmu, kau seorang tentara!?"


"Ya.”


Saat aku menjawab, pria itu berkata sambil terengah-engah namun tetap penuh emosi.


"J-jangan bohong dengan kebohongan yang jelas kelihatan begitu! Kami sudah menyelidiki kalau dalam pertempuran belakangan ini, kau selalu dilindungi oleh Elena Endyheart dan para wanita lainnya itu! Atau jangan-jangan, kau mau bilang kekuatan tempur terkuat Tentara Kekaisaran Luvankrum melindungi seorang tentara biasa? Mana mungkin itu terjadi!"


"...Memang benar."


Kekuatan tempur terkuat Tentara Kekaisaran Luvankrum.


Pasukan terkuat Tentara Kekaisaran Luvankrum.


Orang-orang seperti mereka bersikap begitu baik kepada diriku yang cuma seorang murid pelatihan biasa memang bukan sesuatu yang normal.


"Tapi... semuanya adalah orang-orang yang sangat baik, jadi mereka bahkan bersikap baik kepada orang sepertiku── dan aku ingin menjadi seseorang yang bisa melindungi mereka."


"Ku... kukuk... hahahahaha! Ingin bisa melindungi rekanmu, katanya? Hah! Jangan membuatku tertawa terlalu keras!"


Sepertinya selama berbicara dia berhasil sedikit memulihkan diri. Pria berambut cokelat itu bangkit sambil berlutut, lalu tertawa terengah-engah.


"Akan kuberi pelajaran khusus untuk murid pelatihan sepertimu. Seorang tentara itu, tak peduli seberapa parah rekannya terluka, selama dirinya sendiri selamat maka itu kemenangan! Memikirkan rekan hanyalah buang-buang waktu!"


"Itu salah! Tentara adalah pekerjaan untuk bertarung demi sesuatu yang berharga dan demi hal yang ingin dilindungi! Mulai sekarang pun, aku akan terus hidup sebagai tentara dengan keyakinan itu!"


Seperti semua orang di unit garis depan ini yang bertarung sambil saling memikirkan satu sama lain.


Aku juga ingin hidup seperti itu.


"...Mulai sekarang, katamu?"


Pria berambut cokelat itu bergumam sambil menyeringai.


"Kau tidak punya masa depan lagi! Permainan tadi sudah selesai! Mulai sekarang aku akan serius! Terimalah! Bola Api!!"


Begitu berkata, dari tangan pria itu muncul api raksasa yang tak bisa dibandingkan dengan sebelumnya.


"Hahahaha! Bagaimana!? Inilah kekuatan penuhkku! Mustahil kau bisa menangani api sebesar ini! Tapi tak perlu malu, tahu? Hampir tak ada yang mampu menghadapi seranganku!"


Seperti biasa, aku tidak terlalu mengerti apa yang dia bicarakan.


Aku mengulurkan tangan ke arah gumpalan api besar di depanku.


"Pisau Angin."


Saat aku melepaskan angin berbentuk bilah, api raksasa itu terbelah. Akibatnya, tekanan angin kuat tercipta dan api itu perlahan menghilang.


"...Itu tadi kekuatan penuh Anda?"


"Apa...!?"


Saat aku tanpa sadar mengucapkan apa yang kupikirkan.


Pria itu berteriak marah.


"Jangan besar kepala cuma karena kau bocah dan murid pelatihan! Kalau begini, persetan dengan duel satu lawan satu!! Hei! Kalian semua!! Serang bocah ini bersama-sama dan tunjukkan kenyataan padanya!! Hahahaha!! Ini sudah berakhir!! Setelah kau mati, aku akan menginjak-injak rekan-rekan berhargamu!! Mungkin kau cuma bisa melihat dari alam baka, tapi sambil menyesali kelembekanmu, lihatlah rekan-rekanmu dihancurka──"


Saat pria itu hendak melanjutkan.


"Tombak Angin Pusaran Spiral."


Aku merasakan kekuatan sihir yang sangat besar dari arah Elena-san yang berada agak jauh.


Jadi aku menoleh ke sana.


"Gwaaaaaaaaah!!"


"Guuuaaaaaah!!"


"P-pertahanan sihi── uaaaaaaaah!!"


"T-tertembu── aaaaaaaaah!!"


Di sana, Tombak Api, Tombak Air, Tombak Es, dan Tombak Petir milik Elena-san berputar membentuk spiral.


Sekitar lima ratus prajurit musuh yang berada di dekat serangan itu langsung tumbang seketika.


"E-Elena-san...!"


Saat aku terkesan oleh kecepatan pengambilan keputusannya dan hebatnya sihir itu sendiri.


Elena-san menoleh ke arahku lalu mengedipkan mata sekali.


"Terima kasih!"


Sekarang, yang tersisa hanyalah pria berambut cokelat di depanku ini. Saat aku kembali menghadapnya, pria itu memucat dan berkata.


"T-tidak... t-tidak mungkin! L-lima ratus orang... dalam sekejap seperti itu...!?"


Saat masih berada di sekolah sihir dan markas militer.


Aku pernah beberapa kali mendengar bahwa seluruh anggota kekuatan tempur terkuat Tentara Kekaisaran Luvankrum memiliki bakat luar biasa.


Dan memang, setelah melihat pertarungan Elena-san, Sephia-san, dan Norn-san selama ini, mereka benar-benar berbakat.


Namun, setelah berhubungan langsung dengan mereka, yang kurasakan sama pada ketiga orang itu dan semua anggota unit garis depan terkuat Tentara Kekaisaran Luvankrum adalah...


Bahwa mereka semua terus berusaha dan berlatih sambil saling memikirkan rekan satu unit mereka dan ingin melindungi satu sama lain.


Aku juga ingin menjadi seperti itu dan suatu hari nanti bisa membantu semuanya── saat aku memikirkan hal itu.


"K-kalau begini, memang jadi berbeda dari rencana awal, tapi aku tidak peduli lagi selama bisa menghajar kalian berdua yang sudah mempermalukanku!! Kalian!! Lima puluh orang itu pasti juga sudah mulai berkurang, kan!? Kalau begitu, hentikan penahanan dan datang ke sini! Lalu hajar dua orang ini──"


Begitu berkata, pria berambut cokelat itu menoleh ke medan perang yang tadinya merupakan pertarungan empat ribu lima ratus lawan lima puluh.


"Pesona, Death Poison."


"Uaaaaaaaaaaah!!"


"Kami jadi tidak bisa membedakan pasukan sendiri dan musuh! Koordinasi kami kacau!!"


Norn-san mendominasi para prajurit musuh.


"Hujan Es!"


"E-es turun dar── aaaaaaaah!!"


"Guaaaaaaah!!"


"Gwaaaaaaah!!"


Yang lain pun bertarung dengan koordinasi sempurna seperti yang tadi kulihat. Dan tanpa kusadari, jumlah pasukan musuh telah berkurang menjadi hanya ratusan orang.


Meski begitu, ratusan orang itu kini sudah dikepung semuanya, jadi hanya masalah waktu sebelum mereka kalah.


Saat aku memikirkan itu, pria berambut cokelat itu berteriak keras.


"J-jangan bercanda!! Kami ini lima ribu orang! Jumlah kami seratus kali lipat dari kalian!! Tapi kami kalah...? Mana mungkin aku bisa menerima itu!!"


Sambil berteriak, pria itu memaksa berdiri dan berjalan sempoyongan menghadapku, lalu berkata dengan wajah terdistorsi.


"Hutan hancur, pandangan menuju markas garis depan Tentara Kekaisaran Luvankrum jadi terbuka, kami menemukan non-kombatan, semuanya seharusnya sempurna!! Tapi... sial, sial!! Kenapa jadi begini!?"


"Hutan...? Maksud Anda hutan yang tanpa sengaja kuhancurkan itu?"


"Ya! Betul! Belakangan ini cuma ada satu hutan yang hancur di sekitar si── ah...? Barusan kau bilang kau yang menghancurkannya...?"


"Ya."


Saat aku mengangguk. Pria itu mundur dua langkah dan wajahnya semakin pucat.


"S-sihir raksasa yang luar biasa itu... sihir itu! Itu sihirmu!?"


"Benar."


Setelah itu, pria tersebut hanya terdiam dengan mulut terbuka. Namun tak lama kemudian napasnya memburu.


Wajahnya dipenuhi amarah seperti orang yang kehilangan kewarasan, lalu dia berteriak padaku.


"Aaaaaaaaaah!! Semua... semuanya semuanya semuanya semuanya! Ini semua salahmu!! Mati kau di sini!!"


Begitu berkata, dia mengepalkan tinjunya dan menerjang ke arahku.


Di tengah itu, aku memejamkan mata sekali. Lalu aku mengingat kata-kata yang tadi diucapkan pria di depanku.


──Aku akan menginjak-injak rekan-rekan berhargamu!!


...Orang-orang berhargaku.


Aku tidak akan menunjukkan belas kasihan kepada siapa pun yang mencoba menyakiti mereka.


Emosi yang tadi masih sedikit tersisa.


Perasaan itu.


Aku membunuh semuanya, lalu membuka mata.


Dengan pandangan yang lebih dingin dari sebelumnya, aku menatap pria berambut cokelat itu dan mengarahkan tangan kananku padanya, lalu kembali melepaskan sihir.


"Ledakan Api."


Detik berikutnya.


"Guaaaaaaaaaaaaaaaaah!!"


Ledakan Api, sihir tingkat lebih tinggi dari Ledakan yang tadi kugunakan, menghantam pria itu secara langsung.


Ledakan yang lebih besar dari sebelumnya terjadi dengan pria itu sebagai pusatnya. 


Dan ketika asap akhirnya menghilang, berbeda dari sebelumnya.


Yang tersisa di sana hanyalah lubang besar hangus akibat ledakan dan api, tanpa jejak sosok pria itu sama sekali.


"Finn-kun!"


Kemudian Elena-san berlari menghampiriku dan langsung memelukku.


"Kerja bagus di pertempuran sungguhan pertamamu! Kau sudah berusaha keras!"


"Elena-san...! Terima kasih banyak! ...Tadi aku minta hal yang merepotkan, maafkan aku."


"Selama kau selamat seperti ini, itu sudah lebih dari cukup bagiku."


Sambil berkata begitu, Elena-san mengusap kepalaku dengan senyum hangat.


Dan beberapa saat setelah aku mengalahkan pria berambut cokelat itu. 


Yang lain juga berhasil mengalahkan sisa ratusan prajurit Kerajaan Granzania.


Hasil akhirnya, tanpa kehilangan satu orang pun, kami berhasil memukul mundur lima ribu prajurit Kerajaan Granzania.


◆ ◇ ◆


"Permisi!"


Markas utama Tentara Kekaisaran Luvankrum.


Seorang pengintai yang menyaksikan pertempuran tadi memasuki ruang rapat di sana.


"P-pertarungannya! Bagaimana dengan Finn Teraword!?"


Selama beberapa jam terakhir, Deandre terus gelisah memikirkan hal itu. Begitu dia buru-buru bertanya, pengintai itu langsung menjawab.


"Pertempuran berakhir dengan kemenangan pihak unit garis depan yang berhasil memukul mundur lima ribu pasukan Kerajaan Granzania."


"Ooh... seperti yang diharapkan dari unit garis depan."


"Untuk sementara, berarti negara ini masih aman."


Pria bertubuh gemuk dan pria berpakaian rapi itu menghela napas lega, namun Deandre kembali bertanya.


"Kalau begitu, sekarang tentang Finn Teraword! Apa yang terjadi pada rakyat jelata itu!?"


Jawaban yang diinginkan Deandre adalah kematian di medan perang. Atau paling tidak, dia ingin Finn yang telah merepotkan mereka sejauh ini menderita sedikit saja.


Begitulah yang dipikirkannya, tetapi.


"Finn Teraword... tidak gugur dan selamat tanpa luka sedikit pun, bahkan memenangkan duel satu lawan satu melawan seseorang yang tampaknya merupakan komandan unit garis depan Tentara Kerajaan Granzania."


"A-apa katamu!?"


Bukan hanya jawaban itu benar-benar berlawanan dengan harapan Deandre.


Finn bahkan mendapatkan kehormatan karena berhasil mengalahkan seorang komandan.


"T-tidak kusangka seorang murid pelatihan bisa mengalahkan komandan musuh... sungguh mengejutkan..."


"Tapi kalau kabar seperti ini menyebar, bukankah itu akan menambah masalah lagi?"


"Ya. Karena itu, tentu saja informasi ini akan dirahasiakan seca──"


Saat Deandre hendak melanjutkan perkataannya.


"Permisi!"


Seorang prajurit masuk ke ruang rapat dengan tergesa-gesa.


"Dasar bodoh, sekarang ada apa lagi!?"


"Itu... saat ini tampaknya telah tersebar di dalam negeri kabar bahwa Finn Teraword, seorang rakyat jelata sekaligus murid pelatihan, berhasil membunuh komandan musuh, jadi saya datang untuk melaporkannya."


"T-telah tersebar di dalam negeri, katamu!?"


"Bahkan kita sendiri baru mengetahui informasi itu barusan, jadi kenapa bisa seperti itu..."


"Namun, kali ini benar-benar menjadi masalah besar..."


Kalau saja mereka mengirim sedikit bala bantuan, mungkin mereka masih bisa mengklaim itu sebagai jasa mereka.


Tapi karena sama sekali tidak mengirim bantuan, mereka bahkan tidak bisa melakukan itu.


Semuanya berakhir menjadi bumerang bagi mereka.


Di tengah kebingungan para pria itu, wanita berambut ungu tersebut justru diam-diam mengangkat sudut bibirnya.


Dia telah menyusupkan anak buahnya di antara para pengintai dan memerintahkan mereka untuk menyebarkan kabar jika Finn menunjukkan prestasi.


Memang cara yang sederhana, tetapi itu hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang memiliki posisi di kalangan petinggi.


Dan pada saat yang sama, cara itu sangat efektif untuk meningkatkan nama baik Finn.


"Kalau terus begini, benar-benar kaum bangsawan kita yang..."


"M-masih pasti ada cara untuk mengatasinya..."


"Ya... kita tidak boleh membiarkan rakyat jelata seperti itu merebut kedudukan kaum bangsawan!!"


Deandre mengatakannya dengan tegas.


Namun, dalam masalah ini mereka tidak bisa melakukan apa pun selain menyaksikan nama Finn semakin terkenal──


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close