Chapter
13
Dia
yang Seratus Persen
"Persiapan kita sudah hampir selesai, ya.
Pamflet juga sudah dicetak, jadi sekarang aku bisa merasa tenang," ucap
Hamanami.
Itu terjadi di suatu malam di akhir musim gugur, saat
kami dalam perjalanan pulang dari sekolah.
Pekerjaan sebagai panitia festival budaya sudah hampir
selesai, dan kami hanya tinggal menunggu hari pelaksanaannya saja.
"Ah, ayo mampir ke minimarket. Aku traktir, deh.
Mau ayam goreng?"
Karena Hamanami mengajakku, kami pun mampir ke
minimarket. Kami memakan ayam goreng di depan toko.
Kebiasaan makan saat jajan di minimarket itu
berbeda-beda bagi setiap orang. Hayasaka-san sering membeli bakpao, sementara
Tachibana-san akan memakan es krim bahkan di hari yang dingin sekalipun.
"Anu, Kirishima-senpai, soal masalah waktu
itu……" tanya Hamanami dengan malu-malu.
"Ah, yang itu ya? Soal Tachibana-san yang bakal jadi
hadiah di permainan meloloskan diri."
"I-iya, benar."
"Tachibana-san menolaknya, kok."
Saat aku mengatakannya, Hamanami memasang wajah lega.
"Hamanami, ternyata kamu cukup feminin juga
ya."
"Yah……
biar bagaimanapun, meskipun itu cuma mitos, tapi kalau menang, katanya bisa
menikah, kan……"
"Kamu menyukai Yoshimi-kun, ya?"
"Aku sendiri juga tidak terlalu yakin. Aku baru
mulai menyadarinya belakangan ini. Padahal kupikir dia cuma anak yang suka
pamer……"
Sepertinya Yoshimi-kun mulai bermain basket sejak sekolah
dasar gara-gara membaca manga. Namun, ternyata dia cukup serius, sampai-sampai
bisa ikut kejuaraan nasional saat SMP. Di SMA, level permainannya meningkat,
dan dia sempat kesulitan di bangku cadangan. Tapi dia tidak putus asa dan
katanya sering latihan sampai larut malam di taman.
"Entah
kenapa…… menurutku dia keren……"
"Padahal," lanjut Hamanami dengan sedih.
"Tiba-tiba saja dia bilang kalau dia menyukai
Tachibana-senpai. Padahal dulu waktu kecil, dia pernah bilang mau menjadikanku
istrinya……"
"Tenang saja, perasaanmu pada Yoshimi pasti akan
berhasil."
"Kenapa Kakak bisa bilang begitu?"
"Tachibana-san bilang kalau teman masa kecil itu
adalah yang terkuat."
"……Ngomong-ngomong, Kirishima-senpai dan
Tachibana-senpai juga bertemu saat masih kecil, ya."
Setelah menghabiskan ayam goreng, kami mulai berjalan
menuju stasiun.
"Tachibana-san itu ternyata orang yang lebih baik
dari dugaanku, ya. Apa dia sudah berubah? Atau memang dari sananya?"
"Entahlah. Dia itu sosok yang sulit ditebak.
Orangnya berubah-ubah, dan sedikit punya sisi seniman."
Ditambah lagi, dia bergolongan darah AB dan kidal.
"Menurutku, dia punya sisi feminin yang tak terduga,
atau mungkin kesan girly," ujar Hamanami.
"Jadi, jangan-jangan kali ini pun, sebenarnya dia
sedang menunggu Kirishima-senpai, kan?"
"Menunggu?"
"Soal jadi hadiah di permainan meloloskan diri itu.
Bukankah dia berharap Kirishima-senpai akan ikut permainannya dan jadi juara
satu? Dengan begitu, dia bisa ikut Kejuaraan Pasangan bersamamu, kan?"
"Tidak, tapi itu……"
"Yah, itu semua cuma imajinasiku saja, sih. Tapi
menurutku, sebaiknya Kakak jangan melupakan kejadian saat Kakak ditendang lewat
pintu itu."
Aku pun sangat paham bahwa Tachibana-san memiliki sisi
yang keras.
"Walau begitu, tidak diragukan lagi kalau dia punya
lebih banyak kelonggaran daripada orang yang satunya lagi."
"Hayasaka-san, ya……"
"Itu semua salah Kirishima-senpai," ucap
Hamanami.
"Bukankah ada psikologi di mana kita jadi ingin
mengejar orang yang lari menjauh?"
"Itu Snob Effect."
"Situasi di mana Kirishima-senpai paling menyukai
Tachibana-senpai itu, bagi Hayasaka-senpai, justru jadi situasi yang membuatnya
ingin mengejar terus."
Memang benar bisa dikatakan bahwa Snob Effect itu
sedang aktif setiap saat.
"Wajar saja kalau Hayasaka-senpai sampai jadi yandere.
Soalnya, di antara banyak efek psikologis, Snob Effect itu termasuk yang
kuat."
Hal itu bahkan sudah dibuktikan dalam eksperimen
psikologi.
Mungkin, semakin aku bilang kalau aku menyukai
Tachibana-san, Hayasaka-san justru semakin ingin mengejarku.
"Enak ya, bisa disukai sampai sebegitunya oleh
orang lain," ujar Hamanami.
"Apa aku tidak bisa menarik perhatian Yoshimi
dengan Snob Effect juga?"
"Memangnya mau bagaimana?"
"Bagaimana kalau begini?"
Hamanami merangkul lenganku.
"Tidak, ini jelas tidak bisa. Sebelum dia jadi
ingin mengejar, orang lain malah akan mengira kita berdua sedang pacaran."
"Benar juga, ya."
Sambil berkata begitu, Hamanami terus menempel padaku
dengan lengan yang masih terangkul.
"Aah~ aku sebenarnya ingin melakukan hal ini,
bukan dengan Kirishima-senpai, tapi dengan si bodoh Yoshimi itu!"
"Jangan jadikan aku bahan latihan."
"Lagipula, bagi Kirishima-senpai, orang
sepertiku tidak bisa jadi bahan latihan, ya. Dibandingkan dengan
Tachibana-senpai atau Hayasaka-senpai, aku kan cuma anak kecil……"
Saat kami sedang melakukan simulasi pacaran seperti itu
dan sampai di alun-alun depan stasiun.
Mungkin karena insting liar, aku merasakan hawa dingin di
punggungku, dan saat aku menoleh ke sekeliling──.
Seorang gadis berdiri dari bangku dan menatap ke arah
kami.
Itu Hayasaka-san.
Dengan wajah tanpa ekspresi, dia menatap lengan kami
yang saling merangkul, lalu memiringkan kepalanya dan bertanya.
"Hei Kirishima-kun, apakah aku ini gadis yang
tidak lagi kamu butuhkan?"
"Sudah berapa lama kamu menunggu?"
"Aku tidak menunggu kok. Cuma tiga jam saja."
Hayasaka-san benar-benar berkata seolah-olah tiga jam itu
adalah waktu yang singkat dari lubuk hatinya. Meskipun aku memasang wajah
bingung, dia hanya memiringkan kepalanya dengan wajah polos seolah bertanya,
"Kenapa?".
Kami duduk berdampingan di bangku depan stasiun.
Hamanami, yang tadi merangkul lenganku, pergi setelah
meminta maaf habis-habisan kepada Hayasaka-san.
Saat berpisah, aku sempat berpesan, "Kalau nanti
jatuh cinta pada Yoshimi-kun, jangan pakai trik yang aneh-aneh ya," dan
dia meninggalkan kata-kata terakhir, "Ka-ka-ka-kamu jangan asal
bicara!!". Memang benar juga apa katanya.
"Kirishima-kun, apa kamu tidak kedinginan?"
Hayasaka-san berkata begitu, lalu mencoba memakaikan syal
yang melilit lehernya ke leherku.
"Tidak, bukankah justru Hayasaka-san yang lebih
kedinginan?"
Pipi Hayasaka-san yang terus menunggu di bangku itu sudah
putih pucat.
"Kalau kamu mengirim pesan ke ponselku, aku pasti
sudah keluar dari rapat panitia dan menemuimu," kataku, namun Hayasaka-san
menjawab, "Tidak apa-apa."
"Aku tidak mau menjadi beban bagi
Kirishima-kun."
Aku segera membeli minuman teh panas dalam botol dari
mesin penjual otomatis dan memberikannya kepada Hayasaka-san.
Saat Hayasaka-san menerimanya, dia mulai menghangatkan
tangannya dengan wajah senang. Jika dilihat seperti ini, dia
benar-benar gadis yang manis.
"Ehehe, ternyata benar-benar Kirishima-kun ya."
"Karena mumpung di sini, mau masuk ke toko?"
"Tidak,
begini saja sudah cukup."
"Aku
cuma ingin bicara santai denganmu setelah sekian lama," ujar Hayasaka-san.
"Hamanami-san tadi terlihat ketakutan sekali."
"Itu karena Hayasaka-san mengancamnya dengan
senyuman, kan."
"Apa aku agak berlebihan? Padahal sebenarnya aku
tidak peduli, kok. Rangkulan lengan seperti tadi, sama sekali tidak membuatku
peduli. Aku sudah memutuskan untuk jadi pacar baik yang bisa memaklumi hal
seperti itu."
"A, ah……"
"Lagipula, aku juga sering akrab dengan pria selain
Kirishima-kun, kok."
"Eh?"
"Yanagi-senpai."
Katanya belakangan ini mereka sering berkomunikasi.
"Syukurlah kalau begitu."
"Iya. Dia sampai membicarakan hal-hal yang cukup
pribadi, seperti masalah kelanjutan sekolah."
"Ngomong-ngomong, Senpai tadi bilang kalau
Hayasaka-san itu manis."
"Berhasil!"
Hayasaka-san mengepalkan tinjunya. Setelah itu, dia
menatapku dengan wajah terkejut.
"Ma-maaf.
Aku…… bukan begitu, bukan begitu, Kirishima-kun, jangan membenciku……"
Hayasaka-san tiba-tiba tampak ingin menangis. Dia memang tidak stabil.
"Tidak apa-apa," kataku mencoba
menenangkannya.
"Yanagi-senpai itu adalah pasangan terbaikmu."
"Benar ya, iya kan. Tapi, aku senang tadi melihat
wajah Kirishima-kun yang terlihat murung karena cemburu."
Dia berkata begitu sambil memeluk lenganku. Sensasi
lembut dan hangat yang sudah lama tidak kurasakan.
"Jadi, hubunganmu dengan Yanagi-senpai sedang
baik-baik saja?"
"Iya. Kemarin dia tiba-tiba menelepon di tengah
malam."
"Itu hal yang luar biasa, lho. Orang tidak akan
melakukan itu kalau tidak akrab."
"Iya. Sepertinya dia punya masalah yang ingin
dikonsultasikan."
"Tentang apa?"
"Tentang dia yang melihat Kirishima-kun dan
Tachibana-san berjalan sambil bergandengan tangan."
Angin dingin berhembus kencang.
Aku dan Yanagi-senpai tinggal di stasiun yang sama. Saat
Tachibana-san main ke rumahku, aku mengantarnya ke stasiun saat pulang. Waktu
itu kami terus bergandengan tangan, jadi mungkin dia melihat kami.
"Itu salah, kan?" tanya Hayasaka-san dengan
tatapan kosong.
Aku tanpa sadar berbohong, "A, ah……"
"Iya kan. Makanya, aku sudah bilang ke Senpai……
kalau itu pasti salah lihat."
Ujar Hayasaka-san. Poni rambutnya jatuh, dan aku tidak
bisa membaca ekspresinya.
"Mana mungkin Kirishima-kun melakukan hal seperti
itu. Saat aku sedang berjuang, mana mungkin dia melakukan hal sekejam itu.
Kirishima-kun tidak mungkin mengkhianatiku. Kirishima-kun, Kirishima-kun,
Kirishima-kun."
"Tunggu, Hayasaka-san──"
"Kalau aku bisa membuat Senpai berpaling, semuanya
akan berjalan lancar. Dengan begitu, Kirishima-kun tidak perlu mengkhianati
Senpai, dan aku juga bisa tetap berteman dengan Tachibana-san. Aku benar-benar
menyukai Tachibana-san. Makanya, aku harus segera merayu Senpai. Kalau begitu,
tidak akan ada yang hancur."
Hayasaka-san mencengkeram lenganku. Cengkeramannya kuat,
sedikit sakit.
"Kirishima-kun, kamu akan menungguku sampai aku
berhasil, kan? Kamu tidak akan jadi orang jahat, kan? Iya,
tidak mungkin. Kamu kan Kirishima-kun, aku percaya padamu."
Hayasaka-san mungkin sebenarnya tahu. Tapi dia tidak
ingin mempercayainya, dia mencoba bergantung pada ilusiku, dan kini dia hampir
hancur. Aku tidak sanggup melihatnya, lalu aku berkata.
"Bagaimana kalau aku…… sudah terlanjur jadi orang
jahat?"
Aku berpikir bahwa aku bisa menceritakan semuanya dengan
jujur, dan tidak apa-apa jika dia kecewa padaku. Tapi──.
Reaksi Hayasaka-san di luar dugaan.
Seandainya aku sudah jadi orang jahat──.
"Itu, berarti aku yang salah. Iya, sekarang aku
sudah mengerti semuanya. Aku yang salah."
"Eh?"
"Karena aku tidak bisa diandalkan, karena aku tidak
bisa memuaskan Kirishima-kun, makanya Kirishima-kun tidak bisa menungguku
dengan benar. Itu
semua salahku. Karena aku gadis yang payah…… makanya…… aku harus jadi gadis
yang lebih baik. Dengan begitu, Kirishima-kun bisa menunggu dengan benar, tanpa
mengkhianati Senpai, menungguku sampai aku bisa merayunya, dan kalau aku bisa
memuaskannya──semuanya akan berjalan lancar!"
Ekspresi
Hayasaka-san saat mengangkat wajahnya tampak lebih cerah dari sebelumnya.
"Tunggu
aku ya," katanya dengan suara yang penuh semangat.
"Aku
akan jadi pacar yang baik. Aku akan jadi pacar seratus persen
untuk Kirishima-kun!"
Eksperimen Pacar yang Sempurna
Kirishima-kun tidak boleh jadi orang jahat.
Hayasaka-san mulai berusaha keras untuk menjadi
"pacar yang baik". Logikanya adalah jika aku merasa puas dengan
Hayasaka-san, maka aku tidak akan mendekati Tachibana-san di saat yang
seharusnya membuatku mengkhianati Senpai.
"Kirishima-kun, pengumpulan buku catatan sejarah
sudah waktunya, apa kamu tidak apa-apa?"
Di kelas pagi hari, Hayasaka-san mendekatiku dengan
ramah.
"Karena aku banyak bolos, mungkin kondisinya cukup
gawat."
"Aku sudah mencatat semuanya, lho. Mau
menyalin?"
"Terima kasih."
"Kalau begitu, pinjamkan buku catatan
Kirishima-kun?"
"Eh?"
"Biar aku saja yang menyalinnya untukmu."
Hayasaka-san dengan paksa mengambil buku catatanku dari
meja, lalu sambil tersandung kakinya sendiri, dia berlari kembali ke kursinya.
Hari itu juga, buku catatanku kembali. Halaman yang ditulis Hayasaka-san tampak
penuh dengan tulisan cantik berwarna-warni.
Sepertinya definisi pacar yang baik menurut Hayasaka-san
adalah pacar yang sangat berdedikasi.
Dan karena dia tetaplah Hayasaka-san, ada kalanya dia
sedikit berlebihan. Ini terjadi beberapa hari setelah rencana "Pacar
Seratus Persen" milik Hayasaka-san dimulai.
Saat jam istirahat, saat aku sedang pura-pura tidur
dengan menelungkupkan wajah di meja, aku mendengar percakapan teman sekelasku.
"Eh, apa Hayasaka-san belakangan ini tidak
terus-terusan bersama Kirishima?"
"Iya. Saat praktek masak, begitu kue keringnya jadi,
dia langsung membawanya ke Kirishima."
"Pas Kirishima bicara soal permen kenyal merek baru,
besoknya dia langsung beli dan memberikannya."
"Itu sih, Kirishima cuma jadi pacar matre,
kan."
Hubunganku dengan Hayasaka-san adalah rahasia, dan selama
ini kami menjaga jarak bahkan tanpa bicara di kelas. Hal itu kini benar-benar
runtuh.
Saat aku berpikir bahwa aku harus menegurnya dengan
lembut, bahuku ditepuk. Saat aku mengangkat wajah, itu adalah Hayasaka-san.
"Hei Kirishima-kun, belakangan ini kamu terus beli
roti di kantin ya? Padahal biasanya bawa bekal."
"Adikku yang biasanya membuatkan, tapi entah kenapa
tiba-tiba dia berhenti membuatkannya."
"Begitu ya, begitu ya," Hayasaka-san memasang
wajah senang.
"Kalau begitu, mulai besok aku yang buatkan untukmu
ya."
Dia
membuat tanda peace dengan jarinya. Teman-teman
sekelas laki-laki melihat kejadian kami dari jauh, lalu mulai berbisik-bisik.
"Hei Hayasaka-san, bukankah terlalu berani mengajak
bicara seperti itu?"
"Kenapa?"
"Soalnya kalau terus begini, tidak tahu apa yang
bakal dikatakan orang lain……"
"Tapi, bukannya kita harus memuaskan Kirishima-kun
dulu? Kalau tidak, nanti dia jadi orang jahat, kan? Tenang
saja, aku sudah mengerti semuanya. Aku bisa melakukan semuanya sendiri
sekarang."
"Anu, Hayasaka-san──"
"Ya ya, pasti akan berjalan lancar!"
Hayasaka-san mengepalkan tinjunya dengan ekspresi
yang tampak lega.
"Makanya, nantikan bekalnya mulai besok!"
Begitulah kehidupan makan siang dengan bekal buatan
pacarku dimulai. Hayasaka-san membuatkan bekal, dan saat jam istirahat, kami
pergi ke ruang klub penelitian misteri secara bergantian untuk memakannya
bersama.
Hayasaka-san mengabaikan pandangan orang sekitar dan
aturan "pacar kedua", dia mengerahkan segalanya hanya untuk menjadi
"pacar yang baik".
Saat aku berangkat sekolah dengan rambut berantakan,
dia merapikannya sambil tertawa. Sepulang sekolah, kami membuat janji untuk
pulang bersama sambil membicarakan hal-hal yang tidak penting.
Jika mengabaikan fakta bahwa itu tidak sejalan dengan
perasaan cintaku yang paling utama pada Yanagi-senpai, itu adalah hari-hari
yang menyenangkan.
Aku berpikir kalau inilah kehidupan sekolah menengah
dengan pacar yang manis.
Jika saja aku dan Hayasaka-san sama-sama saling
mencintai, mungkin masa depan seperti ini yang akan terjadi. Aku juga berpikir,
andai saja begitu. Tapi──.
"Kirishima-kun, ada apa?" ujar Hayasaka-san.
"Sumpitmu berhenti. Apa ada makanan yang tidak kamu
sukai? Kamu bisa bilang tanpa sungkan, lho."
"Tidak, tidak apa-apa, semuanya makanan kesukaanku.
Tidak ada satu pun yang tidak aku sukai, dan semuanya enak."
Itu terjadi saat jam istirahat di ruang klub. Hari itu
pun aku sedang makan bekal buatan Hayasaka-san bersamanya.
"Kalau ada yang kurang, bilang ya, aku bakal
melakukan apa pun."
"Sekarang saja sudah cukup. Hayasaka-san benar-benar pandai
memasak. Aku yakin kamu bakal jadi istri yang baik."
"Benarkah!?
Senang sekali! Aku bukan cuma bisa jadi pacar yang baik, tapi juga bisa jadi
istri yang baik ya!"
Sambil
berkata begitu, Hayasaka-san yang duduk di sofa seberang pindah ke sampingku
dan menempel.
"Kita masih di sekolah, lho."
"Cuma sebentar saja."
Dia menggesekkan kepalanya lagi seperti binatang yang
manja. Menurutku, dia benar-benar pacar yang manis dan baik. Dia adalah pacar
yang sempurna.
"Radio kemarin, aku juga mendengarkannya, sangat
menarik!"
Hayasaka-san mulai menceritakan kesannya tentang acara
radio semalam. Itu adalah program yang selalu aku dengarkan.
"Lalu aku juga membaca novel misterinya. Meskipun
ada bagian yang sulit, saat teka-tekinya terpecahkan rasanya sangat lega!"
Belakangan ini Hayasaka-san juga mulai membaca misteri.
"Kalau begitu, aku kembali ke kelas ya."
Sambil berkata begitu, dia memasukkan kotak makan
siangnya ke dalam tas kecil yang lucu dan hendak pergi dari ruang klub. Mungkin
aku harus terus melanjutkan kesenangan yang dangkal ini. Tapi, ini hanyalah
sebuah imajinasi. Hanya sekadar "andai saja begini", dan tidak ada
satu orang pun yang bahagia.
Karena itulah, aku tetap mengatakannya.
"Hayasaka-san, aku juga benar-benar
menyukaimu."
"Iya. Senang sekali kamu bilang begitu!"
"Makanya, aku tidak mau kamu memaksakan diri."
Hayasaka-san berhenti di depan pintu, menoleh ke arahku
dengan wajah terkejut.
"Aku tidak memaksakan diri, kok?"
"Kamu bangun pagi untuk membuat bekal, mendengarkan
radio, membaca misteri, sebenarnya kapan kamu tidur?"
"Tidak perlu tidur tidak apa-apa. Karena
ini demi menjadi pacar ideal Kirishima-kun."
"Hayasaka-san…………"
"Aku kan, tidak punya apa-apa, kan? Tidak seperti
Tachibana-san, aku tidak punya apa pun untuk membuat Kirishima-kun menyukaiku.
Makanya aku harus berusaha. Supaya Kirishima-kun bisa menyukaiku. Tenang saja,
kali ini aku akan melakukannya agar tidak terlihat memaksakan diri. Maaf ya,
aku tidak peka. Aku tidak secerdas Tachibana-san. Tapi, aku pasti bisa
melakukannya. Sebentar lagi pasti bisa. Makanya, tunggu aku ya."
Hayasaka-san berkata dengan nada yang positif.
"Kalau Kirishima-kun sampai tergila-gila padaku,
semuanya akan berjalan lancar. Kirishima-kun tidak perlu jadi orang jahat.
Kalau aku jadi pacar yang sempurna──"
"Tapi kalau begini, ini tidak baik untuk perasaan
cinta Hayasaka-san yang sebenarnya. Kita berdua sudah mulai jadi bahan
pembicaraan."
"Benar juga. Aku, entah kenapa sudah jadi berantakan
sekali, ya. Pada dasarnya, Tachibana-san kan gadis yang utama, jadi bukan
pembicaraan soal 'tunggu sampai aku membuat Senpai berpaling' atau semacamnya.
Aku mengerti semuanya kok. Aku memikirkannya dengan matang, lalu mengambil
kesimpulan ini."
Karena, lanjut Hayasaka-san.
"Aku kan bodoh, jadi makin lama makin suka sama
Kirishima-kun. Mau bagaimana lagi."
"Kamu membuat Akane hancur lagi, ya."
Ujar
Saka-i. Teman Hayasaka-san, seorang gadis yang biasanya memakai kacamata dengan
penampilan sederhana.
Namun
jika dia melepas kacamatanya dan menyisir poninya ke atas, dia berubah menjadi
gadis dewasa yang punya banyak pengalaman cinta.
"Meskipun itu keputusan Akane sendiri, sih."
Itu terjadi di pagi hari saat hujan gerimis musim gugur
turun. Aku bolos pelajaran pertama dan berbicara dengan
Saka-i di tempat parkir sepeda.
"Belakangan ini, Akane menepis tangan
laki-laki."
"Itu, aku juga melihatnya."
Itu terjadi di koridor penghubung, saat seorang siswa
kelas tiga mencoba menyentuhnya.
"Hayasaka-san, ayo jalan-jalan saat festival budaya
nanti."
Siswa laki-laki itu berkata begitu sambil mencoba
meletakkan tangannya di bahu Hayasaka-san.
"Tolong jangan sentuh saya!"
Karena Hayasaka-san menepisnya dengan berlebihan, siswa
laki-laki itu memasang wajah tidak senang. Sepertinya dia merasa dipermalukan
di depan orang banyak.
Setelah dia pergi, Hayasaka-san tampak cemas dan
kebingungan.
"Sepertinya dia mencoba memanjangkan rambutnya juga.
Tahu kenapa?"
"Dia mencoba menjadi seperti Tachibana-san."
"Benar. Menyesuaikan dengan selera Kirishima."
Begitu pula dengan radio dan misteri. Dia memutuskan
kalau hal-hal itulah yang jadi ideal bagi diriku.
"Manusia memang sedikit banyak akan mengubah diri
mereka sendiri untuk menyesuaikan dengan orang lain, tapi Akane sudah
keterlaluan."
"Hayasaka-san pernah bilang, 'Aku tidak punya
apa-apa dalam diriku'."
"Karena kecocokan Kirishima dan Tachibana-san
terlalu baik, makanya dia jadi membandingkannya."
"Akane kan punya kepercayaan diri yang
rendah," ujar Saka-i.
"Apa pemicu kali ini?"
"Aku bergandengan tangan dengan
Tachibana-san."
"Kamu melakukannya, ya."
"Sepertinya Yanagi-senpai melihatnya."
"Wah, itu medan pertempuran."
"Hayasaka-san memaksakan diri percaya kalau itu
hanya salah lihat Senpai."
"Itu mungkin kenyataan yang tidak ingin dia
lihat."
"Jadi karena itu dia hancur," ujar Saka-i.
"Memang benar kalau Yanagi-kun jatuh cinta pada
Akane dan mereka berdua bersama, semua orang akan bahagia. Garis
Yanagi-Tachibana juga akan lenyap dengan sendirinya. Tapi itu tidak mungkin,
kan. Tidak mungkin Yanagi-kun akan beralih ke Akane."
"Aku pun berpikir begitu."
"Akane harusnya jujur mengakui. Kalau Kirishima
sudah jadi orang yang paling dia sukai."
"Sudah alami kan, kalau dalam kebersamaan tiba-tiba
jadi yang paling disukai," ujar Saka-i.
"Bagaimanapun juga, kalau kamu masih mau melanjutkan
hubungan ini, setidaknya perhatikanlah Akane."
"Apa yang harus kulakukan?"
"Pertama, bantu dia. Akane
sekarang sedang dalam masalah."
"Apa terjadi sesuatu?"
"Siswa kelas tiga yang tangannya ditepis itu,
sepertinya dia dendam pada Akane."
Hayasaka-san meniru Tachibana-san untuk menolak
dengan tegas. Rupanya hal itu menjadi bumerang.
"Aku mengerti."
"Tentu saja. Meskipun nomor dua, kamu kan
satu-satunya pacarnya."
"Tapi meski aku membantunya, dia tidak akan berhenti
meniru Tachibana-san, kan?"
Kalau begitu, ini hanya akan jadi pengulangan seperti
biasa.
"Benar juga. Kamu
harus mengafirmasi Akane dengan kuat. Bahwa dia yang sekarang sudah
cukup."
"Aku tidak tahu caranya."
"Kirishima, ternyata kamu kurang peka juga ya,"
ucap Sakai.
Menurutnya, ada cara yang sangat sederhana dan ampuh.
"Kamu cuma perlu melakukan hal yang sama seperti
pasangan kekasih pada umumnya, Akane."
Melakukan hubungan yang sangat intim layaknya pria dan
wanita dewasa. Itu memang bentuk pengakuan tertinggi.
Biasanya, orang hanya melakukan hal tersebut dengan pihak
yang sudah sepenuhnya mereka terima.
Melakukannya berarti kamu telah mendapatkan jaminan kasih
sayang dari pihak lawan. Interpretasi bahwa itu adalah bentuk verifikasi cinta
rasanya cukup tepat.
Jika dengan cara itu aku bisa memberi penegasan yang kuat
pada Hayasaka-san, maka aku harus mempertimbangkannya dengan serius.
Namun, makna di balik tindakan itu terlalu besar bagiku
hingga aku belum bisa mengambil keputusan.
Bagaimanapun juga, sebelum itu, ada sesuatu yang harus
kulakukan.
"Jadi, kita mau ke mana?" tanya Maki.
"Minimarket," jawabku.
Ini terjadi sepulang sekolah, saat hujan baru saja reda.
Sakai memberitahuku bahwa ada sekelompok pria yang
menunggu di minimarket dalam perjalanan pulang, sengaja memancing Hayasaka-san
agar bisa mengajaknya pergi secara paksa.
Penyebabnya adalah siswa laki-laki yang sempat ditolak
mentah-mentah oleh Hayasaka-san, bercerita kepada kakak kelas berandalan di
lingkungannya bahwa ada gadis seksi dan imut di sekolah kami.
"Kenapa aku harus ikut juga?" tanya Maki yang
berjalan di sampingku.
"Sepertinya jumlah mereka lebih dari satu
orang," jawabku.
"Kamu mau cari keributan?"
"Tergantung situasinya."
"Kirishima, jujur saja, kamu sebenarnya takut,
kan?"
"Mana mungkin."
"Kalau begitu, kenapa kamu menyuruhku berdiri di
depan?"
Sambil berbincang seperti itu, kami sampai di
minimarket. Ada tiga pria yang sedang nongkrong di area parkir.
"Hei Kirishima, mereka bukan cuma berandal
biasa, ya? Kelihatannya tipe berbahaya."
"Yang pakai kacamata hitam itu kelihatannya ketua
kelompoknya."
"Dan mereka memarkir mobil box car hitam itu
di sana. Pasti mereka berniat memasukkan Hayasaka ke dalamnya."
"Kita harus melakukan sesuatu."
"Kirishima, kamu jantan juga ternyata."
"Ya, begitulah."
Aku membusungkan dada dan berjalan mendekati para pria
itu. Namun──.
"Mohon maaf, tolong kalian pergi dari sini,"
ucapku sembari menunduk secepat kilat tepat setelah berdiri di depan mereka.
Hal yang menyeramkan tetaplah menyeramkan.
"Kalian ini siapa, hah?" tanya pria berambut
gimbal dengan kalung emas tebal di lehernya.
"Kami
teman Hayasaka-san. Hayasaka-san bukan gadis yang seperti kalian pikirkan, jadi
tolong jangan ganggu dia. Begitu kata pria di samping saya, Maki, ini."
"Bukan! Si Kirishima, si kacamata pecundang ini saja
yang bicara! Tadi dia bilang, kalau perlu dia akan memaksa dengan kekerasan.
Kalau mau memukul, pukul saja dia!"
Kami saling melempar tanggung jawab sambil meminta mereka
untuk pulang tanpa berbuat macam-macam.
"Tapi ya," ujar pria berkacamata hitam yang
tampak sebagai pemimpinnya.
"Kudengar gadis itu sempat 'main' dengan laki-laki
di balik tirai saat persiapan festival budaya, kan? Kalau kami yang mengajak,
mulutnya mungkin menolak, tapi tubuhnya pasti akan menurut dengan senang hati,
bukan?"
Para pria itu tertawa vulgar, "Kami juga mau main
sama dia~"
Maki menatapku dengan mata terbelalak.
"Hah? Kalian beneran melakukannya? Di sekolah? Itu
sih kelewatan, kan?"
"Tidak melakukannya! Lagipula, sekarang bukan
waktunya membahas itu!"
Begitu rupanya, itu sebabnya rumor ini tersebar.
Memang benar, saat itu Hayasaka-san melepas roknya di
balik tirai, mendesah dengan berlebihan, dan memamerkannya kepada para siswa
laki-laki yang mencoba mengintip.
Meskipun sebagian besar orang berpendapat bahwa
Hayasaka-san yang polos tidak mungkin melakukan hal itu, tetap saja rumornya
sudah tersebar luas.
"Jadi, kami tidak mungkin pulang sebelum mengajaknya
bicara. Kami juga ingin melihat wajahnya. Eh, maksudnya ingin melihat tubuhnya.
Katanya dia sangat seksi, kan? Kami juga ingin melihat saat dia melepas
pakaiannya."
Para pria itu kembali tertawa terbahak-bahak.
Jika Hayasaka-san sampai terlibat dengan orang-orang tipe
ini, hatinya pasti akan ternodai.
"Itu semua cuma salah paham," pintaku agar
mereka segera pergi.
Namun, karena mereka sudah sangat bersemangat ingin
bersenang-senang dengan seorang gadis, mereka tidak mau mundur sedikit pun.
Bahkan, mereka mulai marah dan nada suara mereka semakin mengancam.
"Kalian ini apanya wanita yang bernama Hayasaka itu?
Pasti bukan cuma sekadar teman, kan?"
"…………Aku pacarnya."
"Oh, jadi kamu kewalahan punya pacar yang seksi,
ya?"
"Hayasaka-san bukan gadis seperti itu. Jangan bicara
yang tidak sopan."
Aku juga mulai merasa kesal, dan perdebatan kami semakin
memanas. Bagi mereka, kami terlihat lemah, jadi wajar saja jika mereka mulai
main tangan.
"Kalian, meski menunduk begitu, sebenarnya
sedang meremehkan kami, kan? Kami tahu itu."
Pria berambut gimbal itu mengangkat tinjunya.
"Ah, kalau mau memukul, silakan pukul Maki
saja."
"Tidak, pukul Kirishima saja, hancurkan
kacamatanya!"
Pada akhirnya, hidungku dihantam pukulan telak.
Rasanya sakit, dan karena terkena hidung, air mataku
keluar dengan sendirinya. Aku merasakan sensasi hangat di bawah hidungku. Itu
darah.
Tapi, mungkin ini jalan keluarnya. Jika aku babak belur
di sini, mereka tidak akan sempat lagi menggoda Hayasaka-san dan mungkin akan
segera pergi sebelum masalah menjadi lebih besar.
"Kenapa orang ini? Malah cengar-cengir," ujar
mereka saat hendak memukulku lagi.
Saat itulah.
"Bisa berhenti melakukan itu?"
Seorang siswa laki-laki yang mengenakan seragam sekolah
yang sama dengan kami menyela dan mencengkeram lengan pria berambut gimbal itu.
"Kalau cuma tiga orang, aku bisa mengatasinya."
Dia berambut pendek, tubuhnya ramping namun terlatih
dengan baik. Dia seorang atlet. Para berandalan itu juga bertubuh besar, tapi
itu hanya otot yang dibentuk dari gym sekadar untuk pamer.
Tubuhnya berbeda; terlihat fleksibel dan memiliki
kekuatan yang terasa sangat praktis untuk bertarung. Dia menghadapi mereka
bertiga sendirian dan beradu tatap selama beberapa saat.
Tak lama kemudian, beberapa siswa yang sepertinya
teman klubnya datang menyusul.
Rupanya para berandalan itu sadar bahwa mereka berada
di posisi yang kurang menguntungkan.
"Cih, tidak seru," ucap mereka sambil masuk
ke dalam mobil box car dan pergi.
"Senpai, Anda tidak apa-apa?" pria berambut
pendek itu menatap wajahku. Wajahnya terasa familier.
"Kamu adalah……"
"Aku Yoshimi. Yoshimi Makoto."
Dia terlihat sangat segar. Bahkan di
mataku sebagai sesama laki-laki, dia terlihat keren.
Begitu ya, ternyata Hamanami punya selera yang lumayan
juga.
"Terima kasih, sudah menolongku."
"Sama-sama. Sebenarnya…… aku punya urusan dengan Kirishima-senpai,
makanya aku memanggilmu."
Yoshimi-kun
adalah tipe anak laki-laki yang sedikit pemalu dalam berbicara. Dia punya kesan
yang baik.
"Tapi,
kalau soal Tachibana-san, aku tidak bisa banyak membantu."
"Tidak,
bukan itu."
Dia
menggaruk kepalanya, tampak ragu-ragu untuk bicara. Saat aku menunggu, dia
akhirnya bicara dengan terbata-bata dan malu-malu.
"Kirishima-senpai,
itu…… apakah Anda berpacaran dengan Hamanami?"
"……Tidak, sama sekali tidak."
Aku hanya sering bersama Hamanami karena kami sama-sama
panitia festival budaya. Saat aku menjelaskan hal itu, wajah Yoshimi-kun
terlihat lega.
"Yoshimi-kun, jangan-jangan……"
"Yah…… memang begitulah adanya,"
jawab Yoshimi-kun dengan wajah malu.
"Orang yang aku sukai adalah Hamanami."
"Maaf ya, ini semua salahku."
Hayasaka-san menyumbatkan tisu yang sudah digulung ke
dalam hidungku.
"Tapi darahnya tidak keluar dari lubang yang
itu."
"Maaf ya Kirishima-kun, maaf, maaf. Jadi, tolong
jangan membenciku, jangan buang aku."
Hayasaka-san tidak mendengarkan perkataanku dan akhirnya
menyumbat kedua lubang hidungku sampai penuh dengan tisu. Kami sedang berada di
ruang UKS.
Setelah kejadian itu, aku kembali ke sekolah dan
diarahkan ke UKS. Kemudian Hayasaka-san datang setelah mendengar ceritanya dari
Maki, dan dia pun merawatku seperti ini.
"Wajahmu kotor."
"Hayasaka-san, itu lap pel, lho."
"Ujung hidungmu juga terluka. Harus
disterilkan."
"Bisa tidak kalau jangan menyemprotnya tepat ke arah
bola mataku?"
"Ma-maaf! Tunggu sebentar, segera──"
Hayasaka-san yang panik menabrak meja, menjatuhkan kotak
P3K, dan isinya berhamburan ke lantai.
"Aku tidak apa-apa, jangan terlalu panik
begitu."
Sambil berkata begitu, aku memunguti isi kotak P3K yang
berserakan. Perban, obat maag, plester, setelah hampir selesai dirapikan
kembali, aku menyadari Hayasaka-san berdiri mematung dengan bahu merosot.
"Hayasaka-san?"
"Aku
benar-benar payah, ya. Padahal aku ingin jadi pacar yang baik, padahal aku
pikir aku bisa melakukannya, ternyata aku benar-benar payah……"
Ujarnya dengan wajah lelah dan ingin menangis.
"Aku selalu menyusahkan Kirishima-kun……"
"Tidak seperti itu, kok."
"Aku juga ingin melakukannya dengan benar. Aku ingin
melakukan sesuatu untuk Kirishima-kun. Tapi aku tidak bisa melakukannya dengan
cekatan. Aku tidak bisa menjadi seperti Tachibana-san…… maaf ya, kali ini pun
aku mencoba meniru cara Tachibana-san dalam menghadapi laki-laki. Tapi
hasilnya, malah membuat Kirishima-kun terluka. Maaf ya, maaf karena aku
bodoh."
"Hayasaka-san……"
Aku menyuruh Hayasaka-san duduk di kursi.
"Dengar
Hayasaka-san, kamu tidak perlu menjadi Tachibana-san."
"Tapi,
Tachibana-san adalah gadis nomor satu bagi Kirishima-kun, kan? Aku ingin
sedikit saja mendekati seleramu. Aku ingin menjadi pacar seratus persen untuk
Kirishima-kun."
"Menyesuaikan
diri dengan selera pasangan itu bukan hal yang salah, sih."
Aku pun sering bersikap seperti pria gentleman
karena ingin terlihat baik di mata Hayasaka-san dan mendekati idealnya. Hal
seperti itu wajar dimiliki semua orang.
"Tapi, bukan berarti kamu harus menolak dirimu
yang sekarang dan menganggapnya payah, kan? Aku justru sangat menyukai bagian
dari dirimu yang kamu anggap payah itu."
"Itu bohong."
Karena, Hayasaka-san berkata.
"Kalau aku jadi diriku sendiri, aku tidak akan
mendengarkan radio, kan? Radio tengah malam yang kamu sukai, aku tidak
mendengarkannya, kan?"
"Hayasaka-san kan cepat mengantuk. Menurutku,
sisi seperti itu manis."
"Kalau aku jadi diriku sendiri, aku tidak akan
membaca misteri, kan? Misteri yang kamu sukai, aku tidak membacanya, kan?"
"Hayasaka-san kan tidak suka kasus pembunuhan.
Itu berarti kamu lembut dan baik hati, bukan?"
"……Tapi, tetap saja tidak bisa. Kalau begini terus,
aku tidak akan berhasil. Aku terlalu berbeda dengan Tachibana-san.
Kirishima-kun pasti akan membenciku."
Seperti kata Sakai, Hayasaka-san punya kepercayaan diri
yang rendah. Namun, mungkin akulah yang membuat perbandingannya dengan
Tachibana-san. Karena itu, sekarang akulah yang harus menegaskan Hayasaka-san
apa adanya.
"……Lagi pula," Hayasaka-san melanjutkan.
"Aku ini gadis yang 'berat', lho? Karena aku
nomor dua, aku berusaha keras agar tidak bersikap seperti itu, tapi sebenarnya
aku gadis yang sangat berat. Mungkin Kirishima-kun tidak menyadarinya."
"I-iya juga, ya……"
Sudah sadar dari awal, sih. Dan,
menahan diri saja sudah sampai seperti itu….
"Berpelukan atau berciuman, semuanya adalah
pengalaman pertamaku dengan Kirishima-kun, jadi hanya itu saja sudah membuatku
semakin menyukaimu. Aku jadi tidak bisa memikirkan apa pun selain dirimu.
Padahal Tachibana-san adalah teman berhargaku, tapi tetap saja, kadang aku
berpikir, 'andai saja dia tidak ada', aku benar-benar gadis yang payah."
"Tidak apa-apa. Aku bisa menerima semua sisi dirimu
yang seperti itu."
Lagipula, kataku.
"Aku sangat senang bisa disukai sampai sebegitunya
oleh gadis hebat seperti Hayasaka-san."
"Benarkah?"
"Iya."
"Aku boleh tetap jadi gadis yang 'berat'?"
"Tentu saja."
Gadis yang manis tapi "berat" memang punya
citra yang merepotkan, tapi sejujurnya, bagi laki-laki itu adalah dambaan.
Disukai begitu banyak, tidak mungkin merasa tidak senang.
"Kirishima-kun, aku boleh jadi diriku sendiri?"
"Tentu saja. Aku menyukai Hayasaka Akane."
Ekspresi Hayasaka-san mulai mencerah. Itu bukan buatan.
Itu adalah keceriaan yang murni dan alami yang memang ada dalam diri
Hayasaka-san. Melihat wajah itu, aku sadar: aku memang menyukai Hayasaka-san.
"Begitu ya, benar juga. Aku adalah aku, ya."
Hayasaka-san berdiri, hendak memelukku, tapi dia berhenti
tepat sebelum melakukannya. Biasanya, dia akan kehilangan kendali, menempel
padaku, dan ingin melakukan hal-hal yang lebih ekstrem.
Tapi──.
"Tidak apa-apa," ujar Hayasaka-san.
"Ini kan sekolah, dan Kirishima-kun bilang dia bisa
menerimaku, jadi aku tidak perlu memaksakan diri."
Rasanya dia benar-benar sudah lepas dari bebannya, dan
menurutku ini adalah hal yang baik.
"Aku akan terus melangkah ke arahmu, ya. Aku akan
pergi sebagai diriku yang apa adanya."
"Iya, datanglah."
"Ehehe, kalau begitu──"
Hayasaka-san menyilangkan jari-jarinya di depan wajah,
merona merah, dan dengan ekspresi menggoda yang belum pernah kulihat
sebelumnya, dia berkata:
"Lain kali, aku akan memberikan diriku sepenuhnya padamu. Jadi, tolong terima aku sepenuhnya ya. Jangan lari."
Previous Chapter | ToC | Next Chapter



Post a Comment