NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Watashi Ni-banme no Kanojo de Ii kara Volume 2 Chapter 5

Chapter 12

Versi Aplikasi


Bel berbunyi, aku melangkah ke pintu depan. Saat kubuka, berdiri sosok Tachibana-san dengan wajah yang tampak sedikit kesal.

"Kau tidak pakai seragam, ya?"

"Aku sempat pulang ke rumah sebentar."

Blus elegan, kardigan warna merah muda pucat, dan rok krem. Tachibana-san ada di pintu masuk rumahku.

Rasanya aneh sekali, seperti seorang putri kerajaan yang mampir ke rumah rakyat biasa. Sesuatu yang lazim dan tidak lazim bercampur menjadi satu.

"Shirou-kun tumbuh besar di sini, ya?"

Setelah masuk dan mengenakan sandal, Tachibana-san menatap ke arah bawah dengan malu-malu.

"Ini, untuk keluargamu."

Dia memberikan kotak oleh-oleh dengan kemasan mewah yang terlihat mahal.

"Ibu dan adikku sedang keluar. Nanti kuberikan pada mereka."

Tachibana-san tampak sangat tertarik dengan rumah yang kutinggali.

Rumah tua satu lantai. Karena tidak terlalu rapi, aku segera memintanya naik ke lantai atas dan membawanya ke kamarku.

"Apa tadi kau tidak tersesat?"

"Aku bisa membaca peta, kok."

"Berbeda dengan distrik tempat tinggalmu, daerah sini penataan kotanya tidak terlalu rapi."

"Aku justru suka lingkungan kota tua seperti ini."

Ini terjadi sepulang sekolah, beberapa hari setelah tes kecocokan itu.

Sejak saat itu, aku dan Tachibana-san berusaha untuk tidak terlalu terlibat di sekolah. Akan gawat jika ada yang melihat kami berinteraksi atau mendengar orang lain memanggilku "Shirou-kun".

Dalam situasi itulah, pagi ini Tachibana-san mengirim pesan padaku.

"Ada tes susulan, tolong ajari aku."

Mengingat waktunya, ini pasti tes kecil. Sembari mendiskusikan di mana kami akan belajar, Tachibana-san tiba-tiba berkata ingin datang ke rumahku, dan berakhir seperti ini. Mungkin, dia memang ingin datang ke rumahku. Buktinya──.

"Tachibana-san, kau tidak berniat belajar, ya?"

Saat aku kembali ke kamar setelah menyeduh teh di dapur, Tachibana-san sudah berbaring di tempat tidurku.

"Kau tidur di sini setiap hari, ya?"

Tachibana-san berkata begitu sambil menyelimuti dirinya dengan futon.

"Ada aroma Shirou-kun di sini."

"Itu pasti cuma aroma pengharum pakaian, kan."

"Kau ini, merusak suasana saja."

Meski berkata begitu, Tachibana-san memeluk bantal, menekan wajahnya ke sana, lalu menghirup napas dalam-dalam. Dia benar-benar melakukan sesuka hatinya. Aku teringat kata-kata Hamanami.

"Kurasa Tachibana-senpai sebenarnya sangat menahan diri, lho."

Setelah tes kecocokan, dia ditekan oleh Hayasaka-san. Mungkin itu sebabnya, dia ingin datang ke rumahku dan memanjakan diri dengan segala keegoisannya. Namun──.

Tachibana-san berbaring di tempat tidurku tanpa pertahanan sedikit pun. Meskipun dia adalah anak baru dalam hal asmara, seharusnya dia sadar sedikit akan artinya.

Ini hampir seperti kencan di rumah, tidak ada yang mengganggu, dan jika dia bersikap seperti itu di hadapanku, tentu saja aku juga memiliki perasaan yang sama. Aku ingin menyentuhnya lebih jauh. Saat itu terjadi.

"Suara apa itu?"

Tachibana-san bertanya. Ada suara cakaran di pintu dari arah lorong. Saat kubuka pintunya, seekor anak anjing melompat keluar. Seekor Shiba Inu.

"Eh? Lucu sekali!"

Tachibana-san bangkit dari tempat tidur. Anjing Shiba itu berlari masuk ke kamar. Saat dia mencoba menerjang Tachibana-san, aku segera mengangkatnya dengan kedua tangan.

Sepertinya dia bersemangat karena ada tamu yang tidak dikenal. Dia menggonggong dengan riang sambil mengibaskan ekornya.

"Hei, Hikari, tenanglah."

Begitu aku mengucapkannya, Tachibana-san menatapku dengan wajah curiga.

"Hikari?"

"Ini nama anjing ini……"

Ya, namanya sama dengan nama kecil Tachibana-san.

"Aku sih tidak masalah, tapi……"

Tachibana-san memainkan rambutnya dengan bingung.

"Meski tidak harus melakukan hal seperti itu, aku akan melakukan apa pun yang Shirou-kun inginkan……"

"Aku merasa kau salah paham, deh."

Tachibana-san mungkin mengira aku sengaja menamai anjing itu dengan namanya sebagai kompensasi karena tidak bisa menguasainya, lalu memukuli pantat anjing itu untuk memuaskan hasrat menyimpangku.

Lagipula, Tachibana-san baru saja mengatakan sesuatu yang luar biasa dengan santainya.

"Adikku yang menamai anjing ini, dan jenis kelaminnya jantan. Sepertinya adikku memang sudah lama ingin memelihara anjing."

"Begitu, ya."

Tachibana-san memasang wajah seolah hal itu tidak menarik.

"Karena itulah, adikku yang mengurusnya."

"Shirou-kun tidak mau memedulikan Hikari, ya."

"Caramu bicara itu, lho……"

Sepertinya Tachibana-san juga menyukai anjing, dan setelah itu dia bermain dengan Hikari si anjing.

"Hikari, air liurmu terlalu banyak."

Saat aku berkata begitu, Tachibana-san menyentuh mulutnya dengan tangan, "Eh? Masa?"

"Hei, Hikari, jangan menjilati semua tempat."

"Maaf……"

"Hikari, Paw."

"Ini."

"……Kau sengaja, kan?"

Tachibana-san pura-pura tidak tahu sepanjang waktu, tapi dia tampak senang bermain dengan Hikari.

Katanya, apartemen tempat tinggalnya tidak memperbolehkan memelihara hewan.

Setelah puas bermain, Hikari si anjing mengibaskan ekornya lalu keluar dari kamar. Sifatnya yang berubah-ubah sedikit mirip dengan Tachibana-san.

Setelah itu, aku dan Tachibana-san duduk bersisian di tempat tidur.

"Nah, kalau begitu."

Tachibana-san berbicara dengan nada tenang.

"Shirou-kun, bukankah kau punya sesuatu yang ingin kau katakan padaku?"

Rasanya topik utama dimulai.

"Aku memang tidak bisa menyembunyikan apa pun darimu, ya."

"Karena kau terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu sepanjang waktu di sekolah."

"Aku diminta tolong oleh Hamanami."

Aku memberi mukadimah sebelum melanjutkan.

"Saat festival budaya nanti, kelas Tachibana-san akan mengadakan permainan meloloskan diri dari rumah hantu, kan?"

"Iya, benar."

"Hadiah juara pertamanya adalah hak untuk ikut Kejuaraan Pasangan bersama Tachibana-san, kan?"

"Bukan aku, tapi hantu yang kuperankan. Itu cuma lelucon."

"Memang benar begitu, tapi bisakah kau menolak hal itu?"

"Kenapa Hamanami-san meminta hal itu padamu?"

Aku menjelaskan situasinya pada Hamanami. Tentang teman masa kecilnya yang bernama Yoshimi-kun. Tentang Hamanami yang menyukai Yoshimi-kun.

Bahwa Yoshimi-kun tergila-gila pada Tachibana-san. Dan bahwa Yoshimi-kun berencana menjadi juara pertama dalam permainan tersebut untuk bisa ikut Kejuaraan Pasangan bersama Tachibana-san.

"Aku sama sekali tidak kenal Yoshimi-kun."

"Dia anak laki-laki yang cukup keren dari klub basket. Tachibana-san, kau memberinya kontakmu, lho."

"Aku tidak ingat."

Tachibana-san tampak berpikir sejenak sebelum menjawab.

"Untuk saat ini, kutolak."

"Bukankah tadi kau bilang akan menuruti apa pun yang aku katakan?"

"Cara mintamu salah."

Kalau begitu, aku berpikir sejenak lalu berkata.

"Aku tidak ingin Tachibana-san ikut Kejuaraan Pasangan dengan pria selain diriku."

"Kalau kau bilang begitu sejak awal, mungkin aku akan melakukannya. Tapi sekarang sudah terlambat."

"Kau ini jahil sekali."

"Bagaimana sebaiknya?" tanyaku.

"Aku ingin melakukan versi aplikasi."

"Versi aplikasi?"

"Yang ada di buku catatan itu. Bukankah kita sudah melakukan versi dasar?"

Buku catatan asmara yang diwariskan di klub penelitian misteri, berisi permainan bagi pria dan wanita untuk menjadi akrab.

Dulu, kami pernah melakukan versi dasar permainan yang tidak menggunakan tangan.

Karena permainan itu, aku jadi tidak bisa merasakan rasa Pocky kalau tidak disuapi oleh Tachibana-san. Permainan itu memiliki versi aplikasi.

"Kalau kau mau melakukannya, aku akan pertimbangkan."

"Bagaimana ya. Melakukan permainan seperti itu cenderung menjurus ke arah yang tidak senonoh."

Aku mengirimkan tatapan, Apa tidak cukup kalau kita berciuman biasa saja?

Kami tidak perlu lagi alasan untuk berbuat sesuatu. Kami tahu perasaan masing-masing. Namun, tatapan dingin Tachibana-san menolak hal itu.

"Waktu itu, aku diprovokasi habis-habisan oleh seorang gadis. Entah apa maksudnya, tapi dia bilang melakukan hal istimewa dengan Shirou-kun. Aku tidak mau kalau harus melakukan hal yang biasa saja."

Dia benar-benar marah. Mungkin karena akulah yang memaksanya menahan diri. Aku teringat pintu yang ditendang saat aku berada di balik pintu tadi.

"Shirou-kun, bagaimana?"

"Tidak, permainan seperti ini, sungguh……"

"Sudahlah, tidak apa-apa."

Tachibana-san berdiri.

"Kau bisa melakukan apa pun dengan Hayasaka-san, tapi denganku tidak bisa, ya? Aku benar-benar sedih…… aku pulang."

Dia bersiap untuk pergi, lalu membuka pintu untuk meninggalkan kamar.

Biasanya ini hanya akting Tachibana-san, tapi kali ini suaranya bergetar saat mengatakan ingin pulang, dan wajahnya benar-benar seperti akan menangis.

Hatiku terasa sakit, dan jika sudah begini, aku tidak punya pilihan.

"Tunggu, tunggu sebentar!"

Sambil melipat kedua tangan di belakang, aku menutup pintu yang dibuka Tachibana-san dengan kakiku.

"……Apa kau mau melakukannya?"

"Ya. Jadi jangan pasang wajah seperti itu."

"Hmm."

Tachibana-san menyeka sudut matanya dengan jari, lalu tersenyum dingin seperti biasanya.

"Sebagai gantinya, aku akan mengundurkan diri dari posisi hadiah itu."

"Aku mengerti."

Tachibana-san kembali seperti biasanya, tapi emosinya naik turun dengan drastis untuk ukuran dirinya.

Mungkin seperti yang dikatakan Hamanami, dia menahan diri dalam banyak hal dan merasa tertekan.

Karena itulah, kali ini, aku memutuskan untuk melakukan permainan tidak sehat ini dengan kecepatan penuh sesuai keinginan Tachibana-san.

"Kalau begitu, ayo kita mulai."

"Ya, ayo kita coba."

Permainan tanpa tangan, versi aplikasi. Begitulah alurnya.

Permainan tanpa tangan adalah salah satu permainan konyol yang tercatat di buku catatan asmara.

Aturannya sederhana: cukup menghabiskan waktu bersama tanpa menggunakan tangan selama batas waktu yang ditentukan.

Kami harus melakukan segala sesuatunya tanpa menggunakan tangan, sehingga secara alami kami menggunakan mulut karena bagian tubuh yang bisa digerakkan dengan tangkas hanyalah itu.

Dalam versi dasar, kami pernah memberikan minum kepada pasangan dengan mulut menggunakan cangkir kertas, atau memakan Pocky bersama. Aturan versi aplikasi sama, hanya saja ada satu situasi tambahan.

Suhu ruangan harus dibuat setinggi mungkin. Untuk itu, aku mengatur AC ke suhu tertinggi dan menyalakan pemanas, bahkan menyiapkan Heater tambahan. Kamar itu segera terasa lebih panas daripada pertengahan musim panas.

"Kita ini ya, kalau melakukan hal seperti ini, akhirnya selalu merasa malu lalu berhenti, kan?"

"Ya, begitulah."

"Kali ini, ayo kita bertaruh dengan itu. Siapa yang berhenti duluan, dia yang kalah."

Singkatnya, ini adalah Chicken Race. Untuk menang, aku harus terus menginjak pedal gas dan membuat lawan menginjak rem.

"Kalau aku menang, kau akan mengundurkan diri sebagai hadiahnya, ya?"

"Begitulah."

Aku berkata baiklah, lalu duduk bersisian dengan Tachibana-san di tempat tidur.

Dengan adanya humidifier, kamar itu sekarang seperti sauna. Keringat tidak berhenti mengalir. Keringat menetes di pelipisku, dan kemeja seragamku mulai menempel di kulit.

"Shirou-kun, apa tidak panas?"

"Tentu saja panas dengan melakukan ini semua."

"Aku ingin melepas kardigan."

Ya, inilah versi aplikasinya. Berasumsi bahwa pakaian harus dilepas karena panas.

"Baiklah."

Karena tidak bisa menggunakan tangan, aku menggigit kerah kardigan Tachibana-san dengan mulutku.

Tachibana-san mengenakan parfum hari ini. Aromanya sedikit manis, jarang sekali.

Tekstur kain kardigan yang kurasakan melalui mulutku begitu lembut; dia benar-benar gadis seperti seorang putri.

"Kenapa?"

"Tidak, tidak apa-apa."

Sambil merasakan sentuhan tubuh Tachibana-san yang ramping melalui kain, aku melepas kardigannya menggunakan mulut.

Tachibana-san sekarang mengenakan blus putih dan rok panjang. Tachibana-san juga berkeringat, blusnya menempel di kulit. Camisole hitam di baliknya terlihat samar, sangat menggoda.

"Shirou-kun juga panas, kan?"

"Benar juga. Mungkin aku juga ingin melepasnya."

Aku ingin dia melepas jas seragamku.

Namun, dia justru menempelkan mulutnya ke tenggorokanku.

Aku terkejut dan jatuh telentang di tempat tidur. Tachibana-san menyusul dan menunggangiku.

"Tunggu, Tachibana-san?"

"Aku akan melepas dasimu. Kau panas, kan?"

Sambil berkata begitu, dia mulai melepaskan simpul dasiku dengan mulutnya.

Napas Tachibana-san menerpa tenggorokanku. Rambutnya yang halus tergerai dan menggelitik dadaku.

Aku meliuk-liuk, tapi Tachibana-san menekanku dengan erat sehingga aku tidak bisa melarikan diri.

"Hore."

Sudah lepas, katanya sambil menggigit dasi dengan gembira. Sentuhan bibirnya masih membekas di tenggorokanku, dan ada sedikit air liurnya di sana.

Permainan tanpa tangan ini sedikit menyulitkan bagi dua orang yang saling mencintai.

Aku ingin memeluknya sekarang juga, tapi tidak bisa. Namun hal itu justru membuat perasaan kami semakin membara.

"Sekarang giliranku."

Dengan satu sentakan, aku bangkit. Kini giliran Tachibana-san yang jatuh dan berada di bawah.

Karena dia menekan tubuhku dengan pahanya, aku berada di antara kedua kakinya. Postur tubuh yang sangat tidak senonoh. Namun──.

Meski memasang wajah bingung, Tachibana-san menyilangkan kakinya di belakang pinggangku.

Rok panjangnya tersingkap sepenuhnya, memperlihatkan kaki putihnya dari paha hingga ke bawah.

Kami berdua benar-benar sudah kehilangan akal sehat karena sudah tidak bisa mengendalikan diri.

"Tachibana-san, kau berkeringat. Biar aku usap."

Aku menindih Tachibana-san dan mendekatkan wajahku.

"Eh, Shirou-kun?"

Sebutir keringat mengalir di pelipis Tachibana-san.

"Tunggu, handuk kecil ada di atas meja──tunggu, bohong, jangan-jangan…… tidak mau……"

Aku──menjilatnya dengan lembut menggunakan lidahku. Seketika, mata Tachibana-san melebar dan wajahnya memerah padam.

"K-kau sudah gila!? Itu keringat, tahu!?"

"Kenapa memangnya?"

"Kenapa memangnya, katamu……"

"Apa mau berhenti?"

Saat aku bertanya, meski matanya berputar-putar, Tachibana-san menjawab dengan terbata-bata.

"T-tidak, tidak berhenti. Lakukan…… sesukamu, Shirou-kun."

"Apa tidak apa-apa? Kau tampak malu, lho."

"Tidak apa-apa. Aku, anu…… karena aku sudah mandi sebelum datang…… jadi tidak malu."

Jika diserang seperti ini, Tachibana-san tidak berdaya. Dia benar-benar pasrah, dan perlahan menjadi semakin kekanak-kanakan.

Aku menjilati keringat Tachibana-san secara berurutan. Dahi, pelipis, pipi, lalu leher. Kulit Tachibana-san putih dan sangat lembut.

Sepertinya Tachibana-san sangat sensitif di bagian leher, karena setiap kali kujilat, tubuhnya gemetar. Meski berpura-pura tanpa ekspresi, napasnya semakin kasar. Kaki yang menahanku menegang, dan pinggang Tachibana-san terangkat.

Aku menekan kembali pinggang yang dia sodorkan dengan pinggangku sendiri.

Rasanya seperti bergesekan, seolah latihan untuk kejadian yang sesungguhnya.

Perasaanku semakin memuncak. Sambil terus saling menekan pinggang, aku terus menjilati keringat Tachibana-san.

"Ah…… Shirou-kun, sebentar…… ah…… ah."

"Apa tidak boleh?"

"Bukan tidak boleh, tapi, ah…… tidak…… ah…… ada apa ini…… pinggangku, tidak bisa berhenti."

Setelah selesai menjilat semuanya, napas Tachibana-san terengah-engah.

Biasanya kami akan berhenti di sini, tapi aku sudah memutuskan untuk tancap gas, dan yang terpenting, ini adalah pertarungan Chicken Race, jadi Tachibana-san pun terus melawanku meski sudah limbung.

"Kau benar-benar keterlaluan, ya."

Posisi berbalik, sekarang aku lagi yang berada di bawah.

"Shirou-kun, bukankah sebaiknya kau juga melepas kancing kemejamu?"

Sambil berkata begitu, dia melepas kancing kemejaku dengan mulutnya. Saat itu, Tachibana-san sengaja menjilati kulitku.

"Tachibana-san, aku belum mandi, lho."

"Tidak apa-apa. Aku suka Shirou-kun."

Tachibana-san mulai menjilati leher dan dadaku seperti yang kulakukan padanya.

Mulut kecilnya, dan lidah kecilnya. Saat leherku dijilati, kenikmatan yang mendebarkan menjalari punggungku.

Hembusan napas Tachibana-san yang mulai terasa lembap di kulitku selalu terasa menyenangkan. Tentu saja, aku juga merasa malu karena keringatku dijilati──.

"Sepertinya kau tidak masalah, ya."

"Karena ini hal yang kulakukan lebih dulu. Aku sudah siap."

Tachibana-san memasang wajah yang sangat tidak puas.

"Aku juga ingin membuat Shirou-kun kesulitan."

Sambil berkata begitu, dia menempelkan bibirnya di leherku dan mulai menghisapnya dengan kuat.

Bibir yang lembap dan napasnya menerpa leherku. Tachibana-san tampak terengah-engah, tapi tidak kunjung melepaskannya.

"Hei, itu……"

Entah sudah berapa lama berlalu, Tachibana-san menjauhkan wajahnya, lalu dengan napas terengah-engah, dia memasang wajah puas.

"Sudah jadi."

"Terasa seperti apa?"

"Rasanya seolah Shirou-kun adalah milikku."

Itu bekas cupang. Mungkin di leherku sudah terbentuk bukti kasih sayang Tachibana-san.

"Apa ini tidak akan merepotkan?"

"Tapi ya, kalau ditempel Plester, bisa tertutup, kan."

"Bagaimana kalau aku bilang jangan ditutupi?"

"Itu……"

"……Tidak apa-apa, sih."

Mendengar kejujuran yang sedikit bocor itu, aku merasa sangat menyayangi Tachibana-san. Tachibana-san memasang wajah yang sedikit kesepian. Rambut panjangnya basah kuyup.

"Tachibana-san, kau berkeringat banyak sekali. Kalau begini terus, kau bisa dehidrasi."

"Shirou-kun juga."

Aku menatap botol minum dengan sedotan di meja samping tempat tidur. Aku menyiapkannya untuk rehidrasi. Kami mengangguk satu sama lain. Kami yang sudah kehilangan akal sehat tidak butuh kata-kata.

"Shirou-kun, tunggu sebentar, ya."

Tachibana-san memasukkan air ke dalam mulutnya, lalu menindihku yang sedang terlentang di tempat tidur, dan menempelkan bibir tipisnya.

Air yang sedikit hangat oleh suhu tubuh Tachibana-san mengalir masuk. Saat bibir kami lepas, air liur yang menyambung di antara kami pun terputus. Karena kami saling mencintai, kami menukar apa pun.

"Sebaiknya Tachibana-san juga minum."

"Shirou-kun, suapi aku. Masukkan milikmu ke dalam mulutku. Aku ingin minum milikmu."

Kami saling memberikan air dari mulut ke mulut.

Karena tubuh kami saling tumpang tindih, keringat kami pun bercampur.

Tubuh kami sudah basah kuyup, dan kesadaran kami semakin tenggelam dalam sensasi sensual.

Kesadaran kami meleleh, air tumpah dari mulut dan membasahi dada Tachibana-san yang sedang terlentang.

Aku menjilati air itu. Blusnya hampir transparan, pakaian dalamnya benar-benar terlihat jelas.

"Tapi kalau begini terus, permainan ini tidak akan ada pemenangnya."

Tachibana-san bilang dia senang apa pun yang kulakukan padanya. Sepertinya kata-kata itu bukan bohong, kami hanya menjadi semakin merasa nyaman satu sama lain.

"Kalau begitu."

Tachibana-san berkata sambil memalingkan wajah karena malu.

"Lakukan hal yang lebih luar biasa lagi. Sesuatu yang membuatku merasa malu sampai-sampai ingin menyerah."

"Apa tidak apa-apa?"

"Ya."

Aku menindih Tachibana-san lagi.

"Tachibana-san, boleh kubuka sedikit bagian depan blusmu?"

"……Boleh, kalau itu yang Shirou-kun inginkan, aku tidak masalah."

Tachibana-san berkata sambil memalingkan wajah dan membenamkan wajahnya ke bantal. Menggunakan mulutku, aku melepas kancing blusnya satu per satu.

Karena tahu dia mengenakan camisole, aku melepas semua kancing tanpa ragu. Tachibana-san tidak mengatakan apa pun. Roknya entah sudah lepas sejak kapan.

Tachibana-san hanya mengenakan pakaian dalam, camisole, dan kaus kaki. Kulit putihnya yang basah terpampang luas, terlihat sangat menggoda.

Secara impulsif, aku menjilati sepanjang tulang selangkanya. Bahunya sangat indah. Tachibana-san benar-benar tidak mengatakan "jangan" apa pun yang kulakukan.

Wajah sampingnya tampak seperti sedang menantikan sesuatu. Tapi ini adalah permainan, dan aku punya ide untuk membuat Tachibana-san merasa malu.

"Angkat tangan kananmu."

"Eh?"

Karena Tachibana-san cukup cerdas, dia segera menyadarinya.

"……Bohong, kan?"

"Apa mau berhenti?"

Tachibana-san menatapku, lalu berkata "Kau jahil" sambil mengangkat tangan kanannya.

Ya, wajah ini. Meski menjadi lemah saat diserang, aku ingin melihat wajah Tachibana-san yang tampak sedikit senang itu. Aku ingin membuatnya lebih malu lagi.

"Apa…… sudah cukup?"

Tachibana-san mengangkat tangan kanannya.

"Kau benar-benar mau melakukannya?"

Sebagai jawaban, aku menjilati ketiak Tachibana-san yang putih dan mulus.

"Shirou-kun…… kau benar-benar bodoh."

"Aku hanya menyukai Tachibana-san."

"Aku juga."

Sambil mengatakannya, Tachibana-san yang berada di bawahku tersentak.

"Sudahlah…… lakukan saja sesukamu, Shirou-kun."

Aku terus menjilati ketiak Tachibana-san.

"Shirou-kun…… ah, ah…… tidak, lagi…… seenaknya…… ini, bukan……"

Seperti biasa, Tachibana-san menahanku dengan kakinya yang menyilang, dan terus merintih sambil mengangkat pinggangnya.

Tidak ada lagi gadis keren seperti biasanya; dia adalah gadis yang hampir menangis, membenamkan wajahnya ke bantal, dan terus menahan rasa malunya.




"……Aku dipermalukan."

Setelah semuanya selesai, Tachibana-san berkata dengan napas terengah-engah.

"Mau menyerah?"

"Tidak apa-apa…… aku masih baik-baik saja…… kok……"

Tachibana-san berusaha bersikap kuat. Itu bagus sekali. Aku ingin melihat sosoknya yang malu-malu itu lebih lama lagi.

"Tachibana-san, wajahmu merah sekali."

"……Itu hanya karena panas."

Kalau begitu, kataku. "Mau melepas sedikit lagi?"

Tachibana-san menunduk, lalu berkata dengan ekspresi yang tampak kekanak-kanakan.

"……Kalau Shirou-kun yang melepasnya untukku…… tidak apa-apa."

Tachibana-san duduk di tempat tidur, sementara aku berlutut di hadapannya. Permainan versi aplikasi ini sudah mencapai babak final.

Tadi aku bilang mau melepas pakaian, tapi hampir tidak ada lagi yang tersisa.

Hal pertama yang menarik perhatianku tentu saja pakaian dalam hitam yang menggoda, tapi yang kuincar adalah──.

"Tachibana-san, bukankah sebaiknya kau lepas kaus kakimu?"

"Eh, bohong…… kau serius?"

"Mau berhenti?"

"……Aku lakukan."

Setelah percakapan itu, inilah situasinya di mana aku berlutut di depannya.

"A-anu," kata Tachibana-san sambil memalingkan wajah ke samping. "Bagaimana kalau aku saja yang melepas kaus kaki Shirou-kun? Biar aku dulu yang……"

"Tidak boleh. Tachibana-san duluan."

"Hmm…… baiklah…… aku mengerti……"

Dengan ekspresi cemberut, Tachibana-san menyodorkan kakinya dengan perasaan ragu-ragu. Jika aku bicara dengan tegas, Tachibana-san benar-benar akan menuruti apa pun yang kukatakan. Dia sangat penurut.

Aku menggigit ujung kaus kaki putih Tachibana-san dengan gigi depanku.

"Tidak perlu bicara apa-apa, ya," ucap Tachibana-san, dan aku mengangguk.

"……Cepat lakukan."

Aku menarik kaus kaki itu perlahan-lahan untuk melepasnya. Melepas kaus kaki dengan mulut. Meski hanya tercium aroma pelembut pakaian, bagi orang yang melakukannya, ini sangat memalukan.

Tachibana-san tetap memalingkan wajah ke samping sambil menahan rasa malu hingga telinganya memerah.

Saat aku mengangkat wajah sambil masih menggigit kaus kakinya, aku bisa melihat paha putih Tachibana-san.

Kain tipis pakaian dalam hitam di baliknya kini berubah warna karena basah oleh keringat atau cairan lainnya.

"Shirou-kun, cepatlah……"

Tachibana-san bukan lagi gadis yang keren. Dia terlalu sering kuserang hingga akalnya mulai kacau. Aku ingin melihat Tachibana-san yang sudah menjadi gadis ceroboh seperti itu lebih jauh lagi.

Aku selesai melepas kaus kaki di kaki kirinya. Karena dia baru saja mandi, aromanya sangat harum seperti sabun mandi.

"Angkat kaki yang sebelah lagi."

Tachibana-san mengangguk pelan, dan aku beralih ke kaus kaki di kaki satunya. Aku menariknya perlahan hingga lepas. Saat itulah aku tahu Tachibana-san sedang lengah. Jadi──.

"Shirou-kun, jangan, tidak boleh tidak boleh tidak boleh, itu tidak boleh!"

Tachibana-san panik bukan main. Itu karena aku menjilati jari-jari kakinya.

"Bohong, bohong bohong bohong, sebentar, ini sudah keterlaluan, aku malu sekali, aku sudah tidak tahan lagi!"

Aku tidak berhenti.

Aku ingin dia lebih panik lagi, lebih kekanak-kanakan lagi.

Aku memasukkan ibu jarinya ke dalam mulut, lalu menjilati sela-sela jarinya dengan teliti.

Bahkan kulit di sela jarinya pun terasa mulus dan lembut. Aku benar-benar merasa dia adalah seorang putri dari keluarga terpandang.

"Kumohon, maafkan aku, aku kalah, aku mengaku kalah!"

Tachibana-san menyerah. Tapi aku terus menjilatnya. Aku ingin membuatnya basah kuyup.

Aku ingin melihat sosoknya yang terus meronta. Aku ingin melihat wajah aslinya di balik ekspresi keren yang biasa dia tunjukkan.

Karena itulah, aku mulai menjilatnya dari ibu jari satu per satu. Setelah sampai di jari kelingking, aku kembali lagi ke awal.

"Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, kumohon, hentikan……"

Lucu sekali, pikirku. Tachibana-san memiliki sisi dewasa yang tenang dan sisi gadis kecil dalam satu tubuh.

"Shirou-kun, aku bisa mati kalau begini, aku akan melakukan apa pun selain ini, kumohon, hentikan, aku benar-benar akan mati!"

Tachibana-san terus berteriak "aku bisa mati" sambil menutupi wajahnya dengan tangan dan terus meronta. Aku semakin terbawa suasana dan terus menjilatnya. Namun──.

"Habis sudah!! Shirou-kun bodoh!"

Rasa malunya akhirnya berubah menjadi kemarahan, dan dia menendang dadaku sekuat tenaga dengan kakinya yang lain.

Sepertinya dia sudah melewati titik kritisnya. Tachibana-san mengerutkan kening dengan ekspresi penuh amarah.

"Mulutmu! Kumur-kumur!"

Tachibana-san menyambar botol minum dari atas meja dan dengan kasar menyodorkannya ke dalam mulutku.

"Jangan ditelan, ya!"

Tangannya masuk ke dalam mulutku untuk membersihkannya.

Air mengalir keluar dari mulutku ke lantai, tapi karena kami sudah basah kuyup sejak tadi, itu bukan masalah besar.

Setelah melakukan itu beberapa saat, Tachibana-san menghela napas.

Dia sudah sedikit mendapatkan kembali ketenangannya.

"Shirou-kun, aku hampir mati karena malu tadi, tahu."

"Maaf, aku keterlaluan."

Kami terduduk lemas di lantai, tersadar kembali ke dunia nyata.

Kami benar-benar terlalu terbawa suasana.

Tachibana-san yang sudah mengatur napasnya mendekatiku.

"……Maaf soal tendangannya."

"Tidak, wajar saja kalau kau menendangku."

"Apa ada memar?"

Tachibana-san menyingkap kemejaku dan memeriksa dadaku.

Saat itulah, kami berdua menyadari bahwa pakaian kami berantakan dan basah kuyup.

Karena kami sudah kehilangan akal sehat, hal itu justru membuat kami kembali bersemangat.

"Shirou-kun, anu…… bagaimana kalau kita ulangi permainan tadi?"

"Benar juga. Kita harus menghapus keringat ini."

"Kali ini…… mari gunakan tangan kita juga."

"Setuju."

Dalam kondisi seperti ini, jika kami berpelukan dan saling menjilat, rasanya pasti akan sangat nikmat.

"Shirou-kun……"

"Tachibana-san……"

Tachibana-san yang basah kuyup terlihat sangat erotis. Ekspresinya tampak sedikit ekstasi dan lemas tak berdaya.

Mari berpelukan, saling menjilat mulut satu sama lain, dan menjilat bagian-bagian tubuh yang belum sempat kami sentuh.

Aku memegang bahu Tachibana-san dengan pemikiran itu. Saat itulah──.

"Aku pulang~"

Tiba-tiba, pintu terbuka.

Saat kulihat, adikku berdiri di sana sambil membawa kantong belanja.

Di kakinya, anjing Hikari sedang mengibaskan ekor.

"Kakak……?"

Setelah menatapku dan Tachibana-san bergantian, adikku menundukkan kepalanya.

"Maaf mengganggu. Aku dan Ibu akan keluar lagi sekali lagi. Kami tidak akan kembali dalam dua jam, jadi silakan lanjutkan saja."

Adikku berkata "Jangan dilihat ya" sambil menggendong anjing Shiba itu dan bergegas pergi dari sana.

Di luar, hari sudah benar-benar gelap. Aku berjalan bersama Tachibana-san menuju stasiun.

Kami berpegangan tangan, benar-benar terlihat seperti pasangan kekasih seratus persen.

"Maaf ya, sepertinya aku membuat Ibu dan adikmu repot."

Tachibana-san berkata sambil menatap kantong kertas yang dia pegang.

"Aku bahkan mendapatkan banyak sekali oleh-oleh."

"Tidak apa-apa, santai saja. Itu pemberian tetangga dan kerabat."

"Kalau saja aku tidak punya jam malam, kita bisa makan malam bersama tadi."

"Ibu tadi berniat membuatkan sushi…… aku merasa malu sekali."

"Ibu yang baik."

Sejak kejadian tadi, Ibu dan adikku terus membuat keributan. Wajar saja, karena aku membawa seorang gadis pulang.

Ibu menatap Tachibana-san dengan kaget dan berkata, "Tak kusangka Shirou bisa berpacaran dengan seorang gadis," dan adikku melontarkan komentar tidak sopan, "Aku pikir aku harus mengurus Kakak seumur hidupku."

Ibu menunduk di hadapan Tachibana-san dan memintanya untuk menjaga putranya, lalu Tachibana-san membalasnya dengan sopan, "Justru sebaliknya."

Sejak itu, Tachibana-san jadi rebutan Ibu dan adikku.

Aku hanya terdiam sendirian di pojokan.

Dan sekarang karena hari sudah gelap, aku mengantarkannya sampai stasiun.

"Adikmu, masih SMP?"

"Kelas dua."

"Tadi dia mengajakku membeli baju bersama kapan-kapan."

Sepertinya adikku sudah langsung akrab dengan Tachibana-san.

"Ibu dan adikmu terlihat sangat bahagia saat tahu Shirou-kun punya pacar."

Tachibana-san menunduk, lalu berkata dengan nada yang sedikit kesepian.

"Padahal aku bukan pacar yang sesungguhnya."

Kami berjalan di bawah lorong pusat perbelanjaan.

Setiap kali melihat kedai burger atau pusat permainan, aku membayangkan, kalau saja kami pasangan kekasih yang sesungguhnya, pasti kami akan bermain di tempat seperti ini sepulang sekolah dengan biasa.

"Maaf karena berbohong dan mengaku sebagai pacar."

"Itu bukan sesuatu yang perlu kau minta maafkan, Tachibana-san."

"Maaf karena aku sudah bertunangan."

"Itu pun, bukan hal yang harus kau minta maafkan."

"Seandainya saja kita bisa menjadi kekasih yang sesungguhnya. Aku ingin pergi bermain dengan adikmu, atau berdiri di dapur bersama ibumu untuk memasak."

"Tachibana-san……"

"Bayangan seperti ini tidak baik," ujar Tachibana-san.

Dia kembali ke wajah poker face biasanya, dan aku tidak bisa lagi membaca emosinya.

"Jadilah kekasih yang sesungguhnya dengan Hayasaka-san. Berhentilah bermain jadi pacar latihan."

Tiba-tiba, dia mengatakan hal itu.

"Ibu dan adikmu pasti akan senang. Daripada pacar bohong seperti ini……"

"Tidak, Hayasaka-san punya orang lain yang dia sukai."

"Mungkin saja, tapi dia sangat menyukai Shirou-kun. Sampai-sampai dia tidak bisa melihat sekelilingnya. Kasihan kalau kau tetap menjadi pacar latihan."

"……Apa Tachibana-san tidak apa-apa dengan itu?"

"……………………Tidak apa-apa."

"Aku hanya bisa bersama Shirou-kun sampai lulus SMA," kata Tachibana-san.

Kami sampai di stasiun, dan kami berpisah.

"Sampai jumpa."

Tachibana-san membalikkan badan dan berjalan menuju pintu tiket.

Dia tidak akan pernah tersesat di tengah kerumunan orang.

Bahkan di peron stasiun malam yang lelah sekalipun, dia memancarkan aura layaknya bunga putih sendirian.

Dan yang terpenting, aku tidak akan pernah kehilangan pandangan terhadap Tachibana-san. Mungkin, di mana pun dia berada, aku bisa menemukannya.

Saat aku terus menatapnya, Tachibana-san berbalik di saat terakhir dan berkata.

"Aku tidak masalah menjadi kekasih yang hubungannya memudar, tidak apa-apa."



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close