NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Zenchi Zennou no Ou, Okotoba ga Kanchigai Sareru ~Tomodachi ga Hoshikute Gakuin ni Haitta dake nanoni, Sekaijuu de Hijou Jitai ga Sengen Sarete Shimatta~ V1 Prologue

 Penerjemah: Randika Rabbani

Proffreader: Randika Rabbani


Prologue

【Saintess dan Sang Maha Tahu dan Maha Kuasa】

Tempat itu adalah lautan pohon yang remang-remang.

Seorang gadis berjubah sedang berjalan.

Ciri khas gadis itu ialah, dia berambut ikal pirang bercahaya, dengan sepasang mata biru. Dan wajahnya yang manis, memancarkan aura yang aktif.

Namanya adalah Charl Arlian.

"Etto, di sekitar sini, kan? Mm, bukan?"

Gumam Charl, menundukkan pandangan ke arah buku di tangannya. Buku itu sudah cukup tua. Sampulnya bertuliskan judul 『Mansion Owl si Penyihir』.

"Yah, sudahlah. Ayo kita coba."

Ucapnya dengan nada ringan, lalu Charl memasukkan tangan ke saku dalam jubahnya.

Yang dia keluarkan adalah sebuah bola kaca biru. 

Dia pun mengintip dengan matanya yang bulat, menatap lautan pohon melalui bola kaca tersebut.

"Penyucian (Risia)."

Saat bola kaca biru itu dipenuhi sihir, pada saat itu juga, seluruh area lautan pohon diselimuti cahaya.

Kemudian, secara perlahan wujud sebuah bangunan mulai terlihat.

Bangunan itu menyatu dengan rerumputan dan pepohonan yang rimbun, sebuah mansion penyihir tua.

"Ini gawat, kan? Pasti gawat lah. Maksudku, ini beneran gawat."

(TL/N : Btw Charl ini gaya bicaranya kayak gyaru alias supel, ceplas ceplos juga. Contoh diatas dia bilangnya kayak gini, “Yabakunai? Yabai yo ne. Teyuuka, yabai yoo”, contoh lain dia kayak bilang “Zettai futsuu janai shi”)

Sambil bergumam riang seolah-olah sedang mengobrol dengan seseorang, Charl berjalan mendekati mansion itu.

Dia meletakkan tangan di pintu, lalu mendorongnya.

Zreet, terdengar derit kayu menggema, dan pintu pun terbuka.

"Karena ada sihir segel yang membuat tempat ini sampai nggak kelihatan, tempat ini pasti nggak biasa."

Charl menatap lurus ke dalam mansion dan berkata.

"Pasti ada di sini."

Dengan tekad yang bulat, gadis itu melangkahkan kakinya ke dalam mansion tersebut.

Meski pintunya ditutup, di dalamnya terang benderang. Dan meskipun mansion itu sudah tua, api dari lampu yang digantung di dinding dan langit-langit belum padam.

Charl berjalan semakin jauh ke dalam aula masuk yang luas itu.

Tepat pada saat itu, seluruh mansion mulai bergetar hebat.

"Apa ini!? Gempa bumi!?"

Lantai tepat di depan mata Charl meledak.

Yang muncul menembus lantai dari bawah tanah adalah seorang iblis dengan rantai merah tua melilit tubuhnya. Kedua tangan dan kakinya terikat rantai. 

Dengan kondisi seperti itu, dia mungkin hanya bisa melakukan gerakan seminimal mungkin.

Melihat wujud yang seolah-olah menyegel dirinya sendiri itu, Charl pun kaget.

"... Rantai merah tua...!? Nggak mungkin, kenapa Gamura si Penyegel ada di...?"

"Nasib orang yang masuk ke mansion ini hanya ada satu."

Iblis rantai──Gamura, angkat bicara.

"Kematian."

Charl secara reflek mengeluarkan bola kaca hitam, tapi lebih cepat dari itu, dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata, Gamura mendekat dan mengoyak dada Charl dengan kedua tangannya.

Darah mengalir deras, dan Charl pun ambruk di tempat.

"........"

Melirik sekilas, Gamura berbalik.

Tapi, terdengar suara dari belakangnya. Saat dia menoleh, yang ada di sana hanyalah genangan darah dan sebuah bola kaca hitam. Sosok Charl tidak ada.

"Hm? Padahal aku yakin sudah meremas jantungnya sampai hancur...?"

Meskipun kebingungan, Gamura mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru aula masuk yang luas itu.

Charl berlari di lantai mezanin sambil merendahkan tubuhnya.

(Aku harus lari! Sebelum segel Gamura terlepas...!!)

Saat Charl memikirkan hal itu, sebuah pintu terlihat di depan matanya.

(Di sana...!)

Tepat pada saat itu.

"HEEEEENTIKAAAAAAANNNNNNNN!!!!!!!"

Teriakan itu begitu keras hingga seakan bisa mengguncang mansion.

Gamura yang tadi begitu tenang, kini terlihat panik hanya karena Charl mendekati pintu tersebut.

Tidak, menyebutnya sebagai ketakutan pun tidak berlebihan.

"Wanita! Tempat itu...! Hanya kamar itu saja yang tidak boleh kamu masuki!!!"

Seolah mengintimidasi, sihir yang sangat tidak normal memancar dari seluruh tubuh Gamura.

Charl membuka pintu dan melompat masuk ke dalam kamar dengan penuh tenaga.

Dia segera menutup pintu dengan suara bantingan keras dan menguncinya.

Sambil memegang bola kaca hitam, dia menatap pintu seakan bersiaga.

Satu detik, dua detik... tiga detik... lima detik berlalu.

Kondisinya masih sunyi.

"... Dia nggak… mengejar...?"

Lebih dari belasan detik berlalu, tapi Gamura tidak mengambil tindakan apa pun.

Dengan kekuatannya, satu detik saja seharusnya lebih dari cukup untuk menghancurkan pintu dan membunuh Charl.

Artinya, ada alasan kenapa dia tidak bisa masuk.

"Seperti dugaanku, benda itu ada di sini."

Charl perlahan mengalihkan pandangannya ke dalam ruangan.

Ruangan itu tertutup oleh tanaman dan bunga. Sepertinya ini awalnya hanya ruangan biasa, tapi setelah bertahun-tahun lamanya, ruangan ini telah dipenuhi oleh tanaman dan bunga yang menjalar.

Mengeluarkan bola kaca kuning, dia pun mengintipnya.

"Deteksi (Sachie)."

Dalam pandangannya melalui bola kaca, terdapat satu titik cahaya kecil. Di tengah ruangan, sejumlah besar tanaman dan bunga menjuntai dari langit-langit hingga ke lantai. Cahaya itu ada di dalamnya.

Tanpa ragu, Charl membelah rerumputan rimbun itu dengan kedua tangannya.

"Ah!"

Ada sensasi hangat di ujung jarinya.

Charl membuka semua rerumputan dalam jumlah besar yang menutupi pandangannya sekaligus, dan menerobos masuk dengan tubuhnya.

"Eh...?"

Yang terlihat di matanya adalah seorang anak laki-laki yang sedang tidur lelap dengan menjadikan tanaman dan bunga sebagai tempat tidurnya.

Rambutnya putih, dan wajahnya tampan.

"Dia, masih hidup... kan?"


Untuk memastikannya, Charl mendekatkan wajahnya ke anak laki-laki itu.

Lalu, anak laki-laki itu membuka matanya dengan tenang.

Ditatap lurus oleh sepasang mata merah itu, Charl sempat kehilangan kata-kata sejenak.

"Siapa kamu?"

"A, a... Aku sama sekali bukan orang mencurigakan! Aku murid Akademi Noir, terus, etto──"

Saat Charl mencoba membela diri dengan terbata-bata, partikel merah tua berpusar di dalam ruangan.

Secara reflek, Charl menoleh ke arah pintu tempat dia masuk tadi.

Dari luar ruangan, sihir kuat yang melampaui akal sehat manusia sedang dipancarkan.

"Ada apa?"

Tanya anak laki-laki itu.

Entah dia tidak menyadari sihir yang dipancarkan dari jarak sedekat itu, dia bahkan tidak mau repot-repot melihat ke arah pintu. 

Dengan cepat, Charl menggenggam enam bola kaca berwarna cokelat, lalu berdiri di depan pintu untuk melindungi anak laki-laki itu.

Dengan nada terdesak, dia berteriak.

"Cepat lari dari sini! Kamu mungkin nggak ngerti, tapi di balik pintu itu ada ajudan Raja Iblis, Gamura si Penyegel! Kalau semua segel rantainya dilepas dalam satu menit, dia monster yang disebut-sebut paling kuat dalam sejarah!!!"

Saat Charl memusatkan sihir pada bola kacanya, kilatan cahaya merah tua melesat dengan arah zig-zag. Itu adalah Gamura yang telah melepaskan segel rantainya. 

Melesat dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap oleh pandangan Charl, Gamura mendekati anak laki-laki yang berada di belakangnya.

Rantai merah tua di tangannya berkilauan. Dia berniat untuk menyegel anak itu.

"Guhahh...!!!"

Suara rintihan pelan terdengar.

Anak laki-laki itu telah mencengkeram leher Gamura.

"Sekarang sudah aman."

Saat anak laki-laki itu mengerahkan sedikit kekuatannya, tubuh Gamura hancur berkeping-keping.

Iblis yang disebut-sebut terkuat dalam sejarah telah musnah tanpa bisa melakukan perlawanan apa pun.

"Maksudmu aman...?"


Charl melirik anak laki-laki di belakangnya dengan sudut matanya.

Dia masih terus waspada ke arah balik pintu. Dia bahkan tidak sadar kalau Gamura si Penyegel telah dikalahkan. Begitu cepatnya serangan tadi.

"Sudah tidak ada siapa-siapa."

Anak laki-laki itu berjalan menuju pintu.

"T-Tunggu sebentar. Bahay──"

Dia membuka pintu.

Di seberangnya membentang aula masuk.

Sosok Gamura si Penyegel tidak ada.

"L, loh? Kenapa...?"

Mengabaikan Charl yang kebingungan, anak laki-laki itu melenggang pergi ke luar ruangan.

"Tunggu, tunggu. Aku beneran serius tahu. Bahaya, loh?"

Dengan cemas, Charl mengejarnya.

Dia mengawasi sekeliling, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan orang. Sihir luar biasa besar yang dia rasakan tadi pun telah hilang sepenuhnya.

Katanya, Gamura bisa mempertahankan kekuatan terkuatnya itu selama satu menit. Waktu itu pun sudah berlalu.

"Benar-benar nggak ada, ya."

Sambil menoleh ke sana-kemari mengamati sekitarnya, Charl berkata.

"Hei. Aku Charl Arlian. Kalau kamu?"

"Chrono."

"Apa mansion ini rumahnya Chrono-kun?"

Charl bertanya seolah itu hanya pertanyaan sederhana.

"Tepatnya, bukan."

Memiringkan kepalanya sejenak, dengan ramah Charl bertanya kembali.

"Kalau tepatnya, gimana?"

"Aku menggunakannya seenaknya."

Kusu, Charl tertawa kecil.

"Posisi Chrono-kun sama sepertiku, dong."

Chrono menatap lurus ke arahnya.

"Untuk apa Charl datang ke sini?"

"Aku lagi cari barang kok ..... Ah iya. Bisa tolong bantu aku sebentar?"

"Tapi di sini tidak ada apa-apa."

"Nggak apa-apa, nggak apa-apa. Kelihatannya memang begini, tapi aku lumayan percaya diri soal intuisiku."

Charl dengan paksa meraih tangan Chrono dan mulai menyusuri mansion. 

Tapi, tempat itu benar-benar terlihat seperti sekadar mansion tua biasa, dan dia sama sekali tidak menemukan barang yang dicarinya.

"Hmm. Aneh, ya."

"Sudah kubilang tidak ada apa-apa."

Membuka pintu depan, Charl melangkah keluar.

Di belakangnya, Chrono berjalan mengikuti.

"Tapi, Chrono-kun. Apa nggak aneh kalau Gamura si Penyegel menjaga tempat yang benar-benar kosong?"

"Ah, alasannya sederhana."

Saat Charl menoleh, Chrono berkata.

"Karena aku adalah Sang Maha Tahu dan Maha Kuasa."


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close