Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 1
Tidak Masalah Meski Akulah Hadiahnya
3 hari telah berlalu sejak hari ulang tahunku.
Setelah sisa-sisa kemeriahan ulang tahun mulai mereda, kami menghabiskan liburan musim panas dengan menikmati aktivitas di dalam rumah, mulai dari melakukan skinship hingga bermain game bersama.
Hari ini, saat aku sedang menikmati duel game berhadiah hukuman lagi dengan Mikami-san, ponsel yang tergeletak di atas meja mendadak berdering. Sekilas, ketegangan langsung menyergapku begitu melihat tulisan "Ibu" tertera di layarnya.
"Tidak mau diangkat?"
"...Nanti saja, deh. Aku sedang main racing game sekarang."
"Bukankah bisa dijeda?"
Saat ini aku sedang berada di tengah-tengah permainan racing game. Dengan kata lain, tanganku tidak bisa lepas dari pengontrol.
Sambil meyakinkan diri sendiri dengan alasan itu, aku memutuskan untuk mengabaikan panggilan tersebut dan kembali menatap layar televisi.
Bukannya aku merasa malas menerima telepon dari Ibu, lho... Benaran. Sama sekali tidak terpikir seperti itu. Ini murni karena tanganku sedang tidak bisa dilepas, jadi mau bagaimana lagi.
Namun, suara dering ponsel itu tidak kunjung berhenti.
Fokusku menjadi buyar dan kendaliku melambat, membuat jarak antara karakaterku dan karakter yang dikendalikan Hina perlahan-lahan semakin menjauh.
Entah mengapa, tekanan dari suara dering telepon itu terasa luar biasa. Biasanya, jika telepon tidak diangkat selama ini, orang akan paham kalau si penerima sedang tidak bisa diganggu lalu menyerah. Namun, panggilan dari Ibu sama sekali tidak ada tanda-tanda akan terputus.
Tanpa sempat terputus, balapan akhirnya selesai. Tepat saat aku hendak mengangkatnya dengan berat hati, suara dering itu berhenti.
Kalau sudah bertahan sampai selama ini, kenapa tidak sekalian bertahan sedikit lagi, sih? Padahal tinggal beberapa sekian detik lagi.
"Ah."
Belum sempat rasa kesalku yang tersembunyi itu mereda, kali ini giliran ponsel Mikami-san yang berdering. Di layarnya muncul nama "Mirei-san".
Aku tahu mereka sudah saling bertukar nomor kontak, tapi saat melihat langsung bukti interaksi mereka seperti ini... rasanya ada perasaan campur aduk yang aneh.
Mendapat panggilan dari Ibu, Mikami-san memandangi diriku dan ponselnya bergantian—lalu mengangkat telepon itu dengan ragu-ragu.
"Ah, halo. Iya... iya..."
Saat aku sedang penasaran tentang apa yang mereka bicarakan, Mikami-san menjauhkan ponsel dari telinganya lalu menatapku dengan wajah yang dibuat serius.
"'Kamu pasti berpikir malas mengangkat teleponnya, kan? Sini biar kuhajar!'... katanya begitu."
Bagaimana bisa dia tahu?
Lagipula, tiruan suara Mikami-san mirip sekali, sampai-sampai aku bisa merasakan tekanan dari Ibu yang asli.
Menakutkan.
"Mikami-san, tolong..."
"Ada apa?"
"Tolong buatkan alasan yang bagus untuk mengelabuinya."
"...Kalau begitu, nanti tolong elus-elus kepalaku untuk memanjakanku, ya?"
"Pasti. Malahan akan kulakukan sekarang."
"Nngh..."
Aku segera menarik Mikami-san ke dalam dekapanku dan mengelus kepalanya. Aku sendiri memang suka menyisir rambut hitamnya yang halus dengan jari-jariku.
Nah, jika hal seperti ini saja sudah cukup, aku akan melakukannya sebanyak yang kamu mau. Jadi, tolong selamatkan aku.
"Ah, maaf. Sampai sesaat yang lalu kami sedang bermain racing game bersama, jadi tangannya tidak bisa lepas, iya. Begitu gamenya selesai dan dia baru saja mau mengangkatnya, teleponnya sudah terputus. Iya... iya..."
Bagus, kerja bagus. Tidak ada kebohongan sama sekali dalam ucapan itu. Ditambah lagi, Ibu sangat memanjakan Mikami-san. Karena Mikami-san yang mengatakannya, pasti semua akan baik-baik saja.
Pasti... aman, kan?
Kuharap begitu.
Seolah mendengar doaku, Mikami-san mengacungkan ibu jarinya... memberikan tanda thumbs up.
Melihat hal itu, aku pun bisa bernapas lega. Aku harus memberikan banyak elusan di kepala untuk memanjakan Mikami-san yang telah berhasil menjalankan misi berbahaya ini dengan selamat.
"Iya... iya... baik, saya mengerti. Kalau begitu, tolong lakukan seperti itu saja. Iya, selamat tinggal."
"...Ibu bilang apa?"
"Untuk saat ini, dia sudah memahami situasinya. Demi aku, hukuman hajaran untukmu ditangguhkan dulu katanya. Syukurlah, ya."
"...Ditangguhkan, ya? Itu artinya suatu saat nanti aku akan tetap dihajar, dong."
Kira-kira sudah dimaafkan sepenuhnya, ternyata tidak begitu. Aku agak ngeri memikirkan kapan hukuman hajaran yang ditangguhkan itu akan datang... tapi untuk sekarang, lebih baik tidak usah dipikirkan dulu.
"Sudahlah, Mirei-san itu orang yang lembut, jadi pasti aman, kok. Daripada itu, telepon tadi sebenarnya tentang hadiah ulang tahun untuk Kirishima-san."
"Oh, dia mau memberi apa?"
"Apakah berupa barang... ya? Pokoknya, dia memintamu untuk mengosongkan jadwal pada lusa sore ke atas, jadi aku sudah telanjur menjawab bersedia."
"Uwah... rasanya agak menakutkan, ya."
Mengosongkan jadwal, ya...
Dia tidak berniat untuk menyerbu rumahku lagi seperti saat hari ulang tahun kemarin, kan?
Mengingat ini adalah Ibu, fakta bahwa dia sengaja menentukan waktu spesifik dan menyuruh kami mengosongkan jadwal pasti berarti dia sedang merencanakan kejutan tertentu. Kalau hadiahnya dikirim lewat kurir, dia hanya perlu menyuruhku untuk tetap berada di rumah. Dia tidak akan menggunakan kalimat "kosongkan jadwal".
"Ibu... apa dia sedang merencanakan sesuatu yang aneh lagi...?"
"Bukankah bagus? Itu kan hadiah. Mari kita nantikan hari lusa dengan gembira."
"Benar juga, sih. Lalu... bagaimana? Mau melanjutkan game tadi? Atau mau tetap dielus-elus seperti ini?"
"Tanpa bertanya pun kamu pasti sudah tahu jawabannya, kan? Jasaku karena berhasil membuatmu terhindar dari hukuman hajaran itu sangat besar, jadi tolong berikan yang banyak, ya."
"Itu cuma ditangguhkan, jadi belum terhindar, tahu."
"Sama saja, kok. Yang penting kan bisa lolos dari omelan yang ada di depan mata sekarang."
"Iya, iya, aku mengerti. Tanpa perlu memohon sekeras itu pun aku pasti akan mengelus-elus kepalamu sampai puas, kok. Terima kasih ya, sudah menjinakkan Ibu."
"Begitu baru benar."
Meskipun permainan game kami sempat terhenti karena telepon dari Ibu, tampaknya game ini akan berakhir begitu saja untuk hari ini.
Yah, berkat dia aku bisa lolos dari kemarahan Ibu, jadi aku harus menunjukkan rasa terima kasihku dengan tindakan yang nyata, bukan?
Lagipula... Mikami-san yang sudah masuk ke mode manja sepenuhnya ini benar-benar terlalu imut. Rasanya tidak mungkin aku malah mengabaikannya demi bermain game.
Meskipun aku penasaran dengan isi hadiah ulang tahun dari Ibu... saat ini, memanjakan Mikami-san adalah prioritas utamaku. Mari kita limpahi dia dengan kasih sayang sepuasnya.
Sungguh kejadian yang langka.
Itulah hal pertama yang terlintas di kepalaku yang masih linglung sesaat setelah terbangun.
Pertama, bangun secara alami tanpa alarm atau bantuan orang lain adalah hal yang jarang terjadi bagiku. Kenapa? Karena biasanya Mikami-san selalu membangunkanku.
Alasannya membangunkanku... adalah karena dia sangat mendambakan ciuman selamat pagi.
Saking inginnya mendapatkan ciuman itu, dia rela mengguncang-guncang tubuhku agar bangun, menunggangi perutku sambil menepuk-nepuk pipiku, bahkan jika sudah benar-benar tidak tahan, dia akan nekat menyerangku saat aku masih tertidur lelap.
Mengingat pagi ini aku bisa menyambut kesadaran secara alami tanpa menerima serangan mendadak dari Mikami-san... Ah, karena tidak ada yang membangunkanku, sepertinya waktu sudah terlalu siang untuk disebut pagi.
Jarum jam menunjukkan pukul 9 lewat. Karena ini liburan musim panas, belakangan ini kami memang sering bangun agak siang, tapi seingatku baru kali ini aku bangun kesiangan sampai jam segini.
Kira-kira apakah Mikami-san juga ikut ketiduran?
Namun, saat aku menoleh ke samping, sosoknya tidak ada di sana. Artinya, dia bangun lebih cepat dariku, dan anehnya, dia sama sekali tidak membangunkanku.
Dalam hal ini pun, rasanya benar-benar tidak biasa. Bisa dibilang, sisa liburan musim panas ini adalah waktu bersenang-senang yang sesungguhnya. Karena di awal liburan kami sudah menuntaskan musuh besar bernama "tugas sekolah", waktu terbaik untuk bermain sepuasnya atau bahkan sesekali bermalas-malasan sudah terjamin di tangan. Kecuali jika ada rencana penting yang membuat kami dikejar waktu, sangat aneh jika Mikami-san tidak membangunkanku dengan paksa.
...Tidak, bukan begitu. Sebenarnya, aku hanya merasa kesepian di pagi hari karena tidak ditagih ciuman selamat pagi seperti biasanya. Mari kita berhenti mencari-cari alasan yang berputar-putar. Hanya ada satu jawaban sederhana, yaitu perasaan kesepianku itu sendiri.
"Mikami-san... tidak ada, ya."
Aku melangkah ke ruang tengah untuk mencarinya, tetapi dia tetap tidak ada di sana. Ruang tengah yang sunyi senyap tanpa suara sedikit pun ini entah mengapa terasa begitu asing sekaligus familiar.
Sebelum Mikami-san "menginvasi" tempat ini, suasana seperti ini adalah hal yang lumrah. Namun, karena aku sudah terbiasa dengan hari-hari penuh warna yang diwarnai oleh keceriaannya yang bertindak sesuka hati, suasana sepi ini malah terasa janggal.
"Hari ini kan hari itu... Hari yang Ibu bilang agar kami mengosongkan jadwal. Dan seingatku kami memang tidak ada rencana pergi ke mana-mana sampai sore nanti."
Ibu memang mengatakannya lewat telepon beberapa hari yang lalu.
Yah, karena jadwal yang harus dikosongkan adalah dari sore hari ke atas, sebenarnya kami bebas melakukan apa saja sampai waktu itu tiba... Tapi, ke mana Mikami-san pergi?
Tentu saja Mikami-san juga butuh waktu pribadi, dan aku bukan tipe pacar posesif yang harus mengekangnya setiap saat. Dia bebas pergi ke mana saja sendirian, tetapi jika dia pergi tanpa pamit sepatah kata pun, rasanya ada yang salah.
Lagipula, dia itu kan Mikami-san, lho?
Mikami-san yang akan sangat gembira jika mendapatkan ciuman selamat pagi dan selamat tidur sebanyak-banyaknya, yang tidak pernah melewatkan pelukan setiap pagi, dan selalu hadir paling depan untuk urusan manja-memanjakan. Sungguh tidak masuk akal jika dia mengabaikan itu semua dan menghilang begitu saja.
...Meskipun agak memalukan saat mengatakannya sendiri, ini sama sekali bukan hiperbola, melainkan kenyataan yang seharusnya terjadi.
"Coba kuhubungi saja kali, ya... Hm?"
Aku sempat bimbang apakah mengkhawatirkan dan menghubunginya hanya karena dia tidak ada sebentar terkesan terlalu mengekang atau tidak. Namun, karena aku terlalu cemas dengan sikapnya yang tidak biasa ini, aku memutuskan untuk mengeluarkan ponselku.
Tepat pada saat itu, seolah-olah sudah diperhitungkan dengan matang, suara notifikasi yang nyaring terdengar. Bukan dari Mikami-san... melainkan dari Ibu.
Ehem, "Hina-chan sudah kusandera. Kalau mau dia kembali, ikuti perintahku"...
Ha? Apa-apaan ini? Penculikan? Ibu... apa karena Mikami-san terlalu imut, kamu akhirnya nekat melakukan tindakan kriminal? Apa aku harus menelepon polisi sekarang?
Saat aku sedang panik menghadapi deklarasi penculikan yang tiba-tiba ini, suara notifikasi kembali berbunyi. Kali ini, sebuah foto dikirimkan. Itu adalah foto selfie berdua antara Ibu dan Mikami-san. Di dalam foto itu, Mikami-san tampak tersenyum lebar dengan sangat imut sambil melahap parfaits yang lezat.
Melihat penculikan ini tampaknya terjadi atas dasar suka sama suka, sepertinya tidak ada unsur kriminalitas di sini.
Kemungkinan besar ini adalah bagian dari rencana Ibu, tapi tolonglah jangan membuat jantungku mau copot seperti ini. Rasanya umurku baru saja berkurang lima tahun gara-gara syok tadi. Nanti aku harus menuntut ganti rugi berupa asupan energi dari Mikami-san.
"Apa yang sedang kamu lakukan dengan menculik pacar orang lain, Ibu..."
Aku tidak tahu kejutan macam apa yang sedang dia rencanakan... tapi untuk sekarang, apakah sebaiknya aku ikuti saja perintahnya?
Lalu... apa perintah yang dia maksud?
Sambil menunggu beberapa saat, sebuah pesan teks yang sangat panjang akhirnya masuk.
Ini... daftar belanjaan, ya?
"Beli semua barang ini sebanyak mungkin...? Daftar apa ini sebenarnya?"
Tampaknya perintah pertama dari Ibu adalah pergi berbelanja.
Isinya bermacam-macam. Mulai dari tisu basah, plester luka, semprotan anti-nyamuk, hingga payung lipat penahan sinar matahari... jumlahnya lumayan banyak.
Entah apa maksud dari semua ini... tapi karena ini adalah misi untuk mendapatkan Mikami-san kembali, aku tidak punya pilihan lain selain melakukannya.
Aku pun segera bersiap-siap lalu pergi keluar untuk berbelanja.
◇
Setelah berjuang lebih keras dari yang kukira, aku akhirnya selesai berbelanja dan pulang ke rumah. Begitu sampai, aku mendapati sebuah amplop mencurigakan tergeletak di atas meja.
Saat aku meninggalkan rumah tadi, benda ini jelas-jelas tidak ada di sana. Jadi, sudah bisa dipastikan 99% persen kalau ini adalah ulah Ibu.
Sengaja mengirimiku perintah untuk mengosongkan rumah, lalu menyelinap masuk untuk menyiapkan jebakan di saat aku pergi... dia benar-benar niat sekali melakukan hal seperti ini.
Aku membuka amplop itu dan melihat isinya. Di dalam terdapat selembar kertas yang tampaknya berupa hasil cetakan peta, dengan tanda penekanan yang digambar untuk menunjukkan sebuah titik lokasi tertentu. Di sana tertulis dengan huruf yang sangat besar: "Bawalah barang-barang yang sudah kamu beli, lalu datanglah ke sini pada pukul 17.00."
Pikirku, kalau hanya ingin memberi tahu informasi lokasi, tidak perlu sampai menggunakan cara berputar-putar seperti ini. Tapi, cara ini terasa seru dan menarik seperti sebuah permainan. Rasanya mirip seperti sedang menyelesaikan misi atau quest tertentu. Konsepnya seperti kita harus memicu suatu bendera petunjuk, lalu pergi ke titik lokasi tertentu agar sebuah peristiwa atau event dalam cerita bisa dimulai.
Untuk memastikan, aku membalik kertas tersebut, dan ternyata ada tulisan lain di bagian belakangnya: "Kamu boleh menantikan hadiah ulang tahunmu nanti..." katanya begitu.
Begitu, ya. Ternyata semua ini memang bagian dari rangkaian hadiah ulang tahunku. Seingatku dia memang pernah bilang akan memberiku hadiah yang pasti membuatku sangat gembira. Karena dia kembali menuliskan hal seperti itu di sini, sepertinya aku benar-benar boleh menaruh harapan yang tinggi.
Melihat situasinya, sepertinya aku akan bisa bertemu dengan Mikami-san jika pergi ke sana, jadi ada sedikit rasa tidak sabar yang menggelitik hatiku.
Untuk saat ini, karena waktunya masih ada, aku berniat merapikan penampilan dan mempersiapkan diri dengan matang sebelum berangkat ke tempat yang telah ditentukan.
Setelah beristirahat sejenak dan bersiap-siap, aku pun keluar rumah. Mengikuti instruksi Ibu, aku memasukkan semua barang belanjaan ke dalam tas yang agak besar, lalu berguncang di dalam kereta selama beberapa stasiun. Perlahan, aku mulai bisa menebak apa sebenarnya rencana Ibu.
Aku memang tidak biasa naik kereta setiap hari, tapi aku tahu kalau kereta yang kunaiki sekarang ini relatif lebih padat dari biasanya. Dan, aku bisa menebak bahwa hampir semua penumpang di sini kemungkinan besar akan turun di stasiun yang sama.
Melihat dari rentang usia dan pakaian para penumpang, ditambah dengan barang-barang yang diperintahkan Ibu untuk kubeli tadi, tebakanku sepertinya tidak akan meleset.
Awalnya aku sempat berpikir apakah Ibu berniat mengajakku pergi piknik, dan meski tebakan itu tidak sepenuhnya tepat, tapi rasanya tidak jauh berbeda.
Yah, kemungkinan piknik sebenarnya sudah kucoret sejak dia menyuruhku mengosongkan jadwal sore, tapi... masa, sih?
Menggunakan Mikami-san sebagai umpan untuk menyeret orang rumahan sepertiku agar mau pergi ke luar... aku benar-benar telah terjebak ke dalam taktik Ibu bulat-bulat.
Tapi kalau dipikir-pikir... festival, bukan... maksudku pesta kembang api, ya? Sudah berapa lama aku tidak pergi ke acara seperti itu? Terakhir kali aku pergi adalah saat masih kecil dulu ketika diajak oleh orang tuaku, dan setelah itu aku tidak pernah pergi lagi.
Satu-satunya kenangan pergi ke festival saat masih SD atau SMP dulu hanyalah festival berskala kecil. Acara itu bukan jenis festival yang menjadikan kembang api sebagai menu utama.
Mengingat hal itu, ini memang sudah sangat lama sekali.
(Pesta kembang api, ya. Sama sekali tidak terlintas di kepalaku...)
Sebelum naik ke kereta ini dan melihat orang-orang yang memiliki tujuan sama denganku untuk pergi ke lokasi pesta kembang api, aku sama sekali tidak terpikir tentang adanya acara seperti itu.
Jika dipikir-pikir kembali, ini memang acara wajib di musim panas. Tapi karena Mikami-san juga tidak pernah menyinggungnya, aku jadi benar-benar melupakannya. Aku sama sekali tidak menyangka kalau aku akan dipaksa ikut serta secara mendadak seperti ini.
Bahkan sekarang, di saat aku sudah semakin dekat dengan lokasi acara, aku masih menganggap festival atau semacamnya adalah acaranya para kaum gaul, dan aku belum menyiapkan mental karena tiba-tiba harus berpartisipasi dalam acara seperti itu.
(Lagipula... kenapa harus janjian di lokasi, sih? Apa perlu Ibu ikut campur sampai harus menculik Mikami-san segala?)
Karena datang tepat waktu ke lokasi yang dijanjikan juga merupakan perintah dari Ibu, aku tidak berniat untuk kabur di tengah jalan. Tapi, tetap saja ada sesuatu yang mengganjal di pikirku.
Taktik ini memang sangat efektif untuk menyeret orang sepertiku ke acara seperti ini. Jika aku hanya disuruh pergi ke pesta kembang api bersama Mikami-san, aku pasti akan bermalas-malasan dan enggan untuk pergi. Meskipun pada akhirnya aku merasa akan tetap pergi juga karena kalah telak dari Mikami-san yang pasti akan merengek minta pergi... tapi sudah bisa dipastikan aku tidak akan bergerak secara sukarela.
Sengaja menyembunyikan isi acara dan memberiku misi untuk merebut kembali Mikami-san agar aku mau bergerak—rencana Ibu benar-benar sukses besar. Namun, pertanyaan tentang apa sebenarnya yang dia maksud sebagai "hadiah" masih menyisakan tanda tanya. Mengingat aku dibawa ke sini dengan cara dijebak seperti ini, tidak mungkin akhir dari lelucon ini hanyalah sekadar berpartisipasi dalam pesta kembang api sebagai hadiah ulang tahunku, kan?
Ibu bilang aku boleh menantikan hadiah yang pasti akan membuatku sangat gembira. Meski Ibu adalah orang yang suka bertindak seenaknya dan luar biasa absurd, tapi keinginannya untuk merayakan ulang tahunku pasti tulus, dan ucapannya itu pasti tidak bohong.
Karena terus memikirkannya pun tidak akan ada hasilnya, tidak ada pilihan lain selain pergi melihatnya langsung.
...Haaah, aku ingin cepat-senang bertemu dengan Mikami-san.
◇
"Wah... ramai sekali orangnya..."
Begitu turun dari kereta, aku hanya bisa berdiri terpaku. Seperti yang sudah kuduga, semakin dekat dengan stasiun terdekat dari lokasi acara, jumlah orang semakin membeludak. Kereta yang penuh sesak dan aliran gelombang manusia yang tercipta saat turun benar-benar luar biasa.
Sesuai perkiraan, tujuan semua orang di sini adalah sama. Mungkin waktu penyalaan kembang apinya masih agak lama, tapi beberapa stan makanan pasti sudah ada yang mulai buka.
Orang-orang yang ingin menikmati makanan atau sekadar bermain di stan festival pasti sengaja datang lebih awal seperti ini... tapi tetap saja, jumlah orangnya banyak sekali.
Untuk sementara, setelah gelombang lautan manusia sedikit mereda, aku memutuskan untuk ikut berjalan mengikuti arus.
Hingga akhirnya, aku tiba di area tempat stan-stan makanan berjejer yang menjadi lokasi penyelenggaraan... dengan kata lain, tempat yang ditentukan oleh Ibu.
Tapi... apa yang harus kulakukan dari sini? Jangan bilang kalau dari sini misi mencari mereka berdua di tengah lautan manusia ini akan dimulai...?
Yah... jika melihat kombinasi dari mereka berdua, kurasa aku akan bisa menemukan mereka dengan cukup mudah bahkan di tengah keramaian sekalipun. Entah mengapa, aku punya keyakinan kuat kalau aku hanya perlu mencari ke arah mana aura berisik berada, maka aku akan langsung menemukan mereka.
Meski begitu, jika aku nekat menerobos masuk tanpa arah yang jelas, ujung-ujungnya aku hanya akan tersesat. Aku benar-benar tidak mau tersesat di usia segini. Tidak perlu rasanya memberi bahan baru bagi Ibu untuk mengolok-olok diriku nantinya.
Karena misi yang diberikan oleh Ibu sudah kuselesaikan, aku mengirim pesan laporan untuk menunggu instruksi selanjutnya. Detik berikutnya, sebuah pesan balasan langsung masuk.
"'Kami akan segera ke sana, jadi jangan bergerak dari tempatmu'... Lah, ternyata aku yang sampai duluan, toh."
Kira-kira aku sudah membuat mereka menunggu, ternyata malah sebaliknya.
Untuk sementara, aku merasa lega karena misi tingkat kesulitan ekstrem untuk mencari mereka berdua di tengah keramaian tidak jadi dimulai... Namun, tempatku berdiri saat ini juga lumayan padat.
Aku cenderung berpenampilan biasa saja, dan tidak mengenakan pakaian yang mencolok seperti orang-orang di sini. Tubuhku memang tergolong agak tinggi, tetapi tidak secukup mencolok itu hingga bisa terlihat jelas di tengah lautan manusia. Aku sempat berpikir bagaimana cara mereka menemukanku, sampai akhirnya...
"Rei~!"
"Cepat banget, oi."
Sebuah suara bersemangat yang sangat familier terdengar. Di tengah keramaian yang cukup bising ini, suara yang memanggil namaku itu terdengar dengan sangat jelas.
Ibu... tolonglah, jangan berteriak begitu, memalukan tahu.
Saat aku menoleh ke arah datangnya suara... tubuhku langsung membeku. Keberadaan Ibu di sana sudah pasti, dan aku juga tahu kalau Mikami-san pasti bersamanya. Ya, aku sudah tahu itu. Namun, aku belum menyiapkan mental sama sekali. Aku merasa seperti mendapat hantaman keras di saat sedang lengah. Kehilangan kata-kata adalah ungkapan yang paling tepat untuk menggambarkan kondisiku saat ini. Saking terpesonanya, pandanganku benar-benar terkunci sepenuhnya pada dirinya.
"Rei-kun, bagaimana penampilanku?"
Tanpa memedulikan badai emosi yang sedang berkecamuk di dalam hatiku, Mikami-san menunjukkan senyuman polosnya. Penampilannya yang mengenakan yukata terasa begitu elok, indah, dan sangat imut—menatap sosok kekasih yang telah lama kunantikan setelah seharian penuh tidak bertemu membuatku... benar-benar terpana tanpa bisa berpaling.
Mikami-san yang mengenakan yukata putih bersih itu menatap ke arahku. Bagaimanapun juga, sosoknya yang teramat imut dengan daya hancur yang luar biasa tinggi sukses membuat hatiku menjerit histeris.
Aku bisa merasakan kilau pesona yang begitu menyilaukan dari arah depan hingga membuatku tidak sanggup menatapnya secara langsung. Namun, di saat yang sama aku juga berusaha setengah mati untuk merekam dan menanamkan pemandangan indah itu ke dalam ingatan serta otakku. Aku sampai lupa cara bernapas, hanya bisa terus terpana mengaguminya.
Makhluk apa sebenarnya yang ada di hadapanku ini? Terlalu imut.
"Hei, Rei. Ini ada anak gadis yang sedang bertanya kepadamu, jadi jangan cuma bengong terpesona begitu. Cepat katakan sesuatu."
"Ah, aaah..."
Ucapan Ibu berhasil menarikku kembali ke realitas. Begitu aku kembali menatap langsung Mikami-san yang berbalut yukata, kepalaku rasanya mau mati kutu lagi. Setelah mengalami siklus mati total dan menyala kembali beberapa kali di dalam pikiran, mataku akhirnya mulai terbiasa dengan keindahannya.
Tidak... bohong, deng. Aku sama sekali belum terbiasa. Menghadapi daya hancur dari Mikami-san yang terus menatapku dengan pandangan mendongak manja saat aku masih membeku seperti ini benar-benar terlalu berbahaya; jika dibiarkan, pikiranku bisa terjebak ke dalam lingkaran eror tanpa akhir.
Aku harus segera membebaskan diri dari situasi ini...!
"E-Eto, anu... kamu... terlihat sangat cantik."
"Terima kasih banyak!"
Ekspresi Mikami-san yang tadinya menunggu respons dariku dengan agak tersipu, kini langsung berubah menjadi senyuman lebar. Senyumannya itu teramat imut, sampai-sampai aku hampir saja terseret kembali ke dalam lingkaran eror tanpa akhir yang baru saja berhasil kukeluarin.
"Bagaimana, Rei? Apa kamu menyukai hadiah ulang tahunmu?"
"...Ya, ini yang terbaik."
"Berhasil ya, Hina-chan! Iyeyyyy!"
"Iyeyyyy!"
Melihat Ibu dan Mikami-san melakukan high five dengan gembira, aku sempat heran dengan apa yang sedang dipertontonkan di hadapanku ini. Namun, karena setiap gerak-gerik Mikami-san terlalu imut, jadi tidak masalah.
Meski begitu, saat akhirnya aku bisa menatap Mikami-san dengan lebih tenang, aku menyadari satu hal: kebahagiaan visual yang didapatkan oleh mataku saat ini sungguh luar biasa.
"Jangan-jangan alasan Ibu menculik Hina tadi pagi adalah untuk ini?"
"Menculik? Bahasamu itu kedengarannya jahat sekali. Tapi, ya, memang begitu. Kalau soal apa yang bisa membuat Rei gembira, sudah pasti hal seperti ini, kan? Setelah dibuat rindu karena dipisahkan sejak pagi hari, tiba-tiba disuguhi penampilan Mikami-chan dalam balutan yukata ini. Suasana hatimu pasti langsung melonjak drastis, kan?"
Menyebalkan, tapi ucapannya memang benar.
Aku dipisahkan dari Mikami-san sejak pagi, sementara Ibu asyik bermain dengan Mikami-san yang diculiknya. Tentu saja aku merasa cemburu, satu, dua... atau bahkan lima kali lipat.
"Kalau dia bersamamu, kamu pasti akan terus menempel pada Hina-chan dan dia tidak akan bisa berganti pakaian secara sembunyi-sembunyi. Makanya aku meminta kerja sama Hina-chan untuk pergi diam-diam. Lagipula, kalau mau berdandan cantik, efek kejutan seperti ini akan membuat sensasi 'hadiah'-nya lebih terasa, kan?~"
"...Begitu, ya."
"Ara, memasang wajah sok tenang begitu... jangan-jangan kamu sedang tersipu? Hina-chan, ayo buat dia semakin salah tingkah!~"
"Rei-kun, bersiaplah... Kya?!"
"Hei, kamu tidak apa-apa? Apa kamu sedang memakai geta...?"
Bagaikan sebuah game RPG pertempuran monster, Ibu memberikan instruksi dan Mikami-san berusaha meresponsnya dengan penuh semangat... namun, di tengah jalan saat hendak menyerbuku, dia tersandung. Aku refleks menangkap tubuhnya, dan baru saat itulah aku menyadari bahwa Mikami-san mengenakan geta.
Ternyata dia memakainya agar serasi dengan yukata-nya. Memang benar yukata sangat cocok dipadukan dengan geta... Namun, geta yang tidak biasa dipakai pasti akan terasa sulit untuk berjalan, dan wajar saja jika dia terjatuh saat mencoba bergerak secara tiba-tiba seperti tadi.
"A-Ah, terima kasih banyak."
"Iya."
"Kyaaa~ mesra sekali, ya!~"
"Jangan mengejek kami. Ibu juga, jangan memberikan instruksi yang aneh-aneh. Bagaimana kalau Hina sampai terluka?"
"Soal itu, maaf, ya. Tadi Hina-chan bisa langsung berjalan dengan baik memakai geta, jadi aku agak lengah."
"Jika sudah terbiasa, berjalan biasa tidak akan menjadi masalah, kok. Suara klontang-klonting yang dihasilkannya justru terasa menenangkan dan memberikan nuansa festival yang menyenangkan."
"Benar, benar. Yukata memang paling cocok dengan geta, dan karena Hina-chan dasarnya sudah cantik, penampilannya benar-benar terlihat elok seperti di dalam lukisan. Ah, tapi kalau kakimu mulai terasa sakit, pastikan untuk langsung memberi tahu Rei, ya? Minta saja dia untuk princess carry."
"Baik! Meskipun tidak sakit, aku memang sudah berencana untuk memintanya."
"Oi."
"Wah, mesra sekali, ya~"
Kenapa malah Ibu yang terlihat paling heboh dan menikmati momen ini?
Lalu untuk Mikami-san, aku tahu berjalan dengan geta yang tidak biasa dipakai itu melelahkan, tapi deklarasi minta digendong ala putri itu rasanya terlalu cepat.
"Ah, benar juga. Rei."
"Apa lagi?"
"Ini, hadiah untuk misimu."
"Apa ini? Kedengarannya gemerincing... apa isinya uang?"
"Ada banyak stan makanan di sana, jadi gunakan uang ini untuk bermain sepuasnya bersama Hina-chan."
"O-Oh... terima kasih."
Ibu menyerahkan sebuah dompet koin yang agak besar sebagai hadiah misi. Saat kubuka, isinya penuh dengan uang logam pecahan 100 yen dan 500 yen dalam jumlah banyak. Aku tidak tahu berapa total nominalnya... tapi jika ingin membeli sesuatu di stan festival, uang koin memang jauh lebih praktis daripada uang kertas.
Aku sempat terkejut karena tiba-tiba disodori uang sebanyak ini. Namun, karena ini dianggap sebagai upah bagiku yang sudah pontang-panting berlari ke sana kemari sementara Ibu bersenang-senang berdua dengan menculik Mikami-san, aku akan menerimanya dengan senang hati.
Jika ini juga bagian dari rangkaian hadiah ulang tahunku, maka akan kugunakan uang ini dengan sebaik-baiknya untuk menciptakan kenangan terindah bersama Mikami-san.
"Lalu ini juga. Ini cuma tambahan, sih, tapi ini tiket untuk kursi berbayar. Aku sudah memesankan area dengan posisi paling mahal, jadi pergilah ke sana begitu waktu pesta kembang apinya dimulai."
"Tambahan katanya... bukankah ini yang justru menjadi menu utamanya?"
"Menu utamanya sudah pasti penampilan Mikami-chan dalam balutan yukata, dong?"
"...Tidak ada keberatan."
Mengingat tiket kursi berbayar untuk pesta kembang api biasanya dibanderol dengan harga yang cukup menguras kantong, fakta bahwa Ibu menganggapnya sebagai "tambahan" membuatku harus angkat topi pada kondisi isi dompetnya.
Ditambah lagi, seperti yang dikatakannya dengan tegas, jika seluruh rangkaian acara yang direncanakan Ibu ini adalah hadiah ulang tahunku, tidak bisa dimungkiri bahwa hal yang paling membuatku gembira—atau yang paling membekas di dalam hati—adalah sosok Mikami-san yang mengenakan yukata.
"Tapi, sekalipun Hina-chan sangat imut, jangan sampai kamu bertindak kelewatan, ya."
"Aku tahu."
"Bagus kalau begitu. Jaga dia baik-baik, ya."
Ibu memberikan peringatan tegas dengan berbisik pelan di dekat telingaku.
Tentu saja aku tahu kalau aku harus menanamkan hal itu dalam-dalam di lubuk hatiku, tapi di sisi lain, aku sempat berpikir kalau kalimat seperti itu justru lebih ingin kudengar langsung dari mulut Mikami-san sendiri.
"Kalau begitu, semua yang harus kuberikan sudah kuserahkan. Sisa waktunya silakan kalian nikmati berdua dengan mesra sebagai anak muda. Hina-chan, aku titip Rei, ya."
"Baik, serahkan saja kepadaku. Terima kasih banyak atas banyak hal hari ini!"
"Kapan-kapan mari kita pergi main sembunyi-sembunyi lagi tanpa mengajak Rei, ya."
"Siap! Mari kita mengadakan acara kumpul perempuan lagi!"
"Heis, apa-apaan itu."
"Janji, ya. Kalau begitu, sekarang aku benar-benar pamit pulang dulu~"
Eh, Mikami-san? Kalian berdua jadi terlalu akrab sampai-sampai membuatku merasa cemburu, tahu?
"Nah, Rei-kun. Mari kita melihat-lihat stan makanan sampai waktu kembang apinya tiba. Aku ingin makan permen kapas, permen apel, dan aku juga ingin mencoba permainan menembak serta menangkap ikan mas!"
"Ah, ayo pergi... Tapi, sebelum itu."
"Ah... pikiran kita sejalan, ya. Seperti yang diharapkan dari Rei-kun."
Sebelum melangkah menuju kerumunan orang, aku berniat mengulurkan tangan untuk menggandengnya agar kami tidak terpisah. Namun, belum sempat tanganku meraihnya... tanganku sudah menyentuh tangan Mikami-san terlebih dahulu.
Tampaknya kami sedang memikirkan hal yang sama.
"Tangan Rei-kun... besar dan terasa hangat, ya. Ah, apa kamu sedang tersipu?"
"Berisik, jangan dibahas. Daripada itu, wajahmu yang terlihat imut saat tersipu malah terlihat mirip seperti permen apel, tahu."
"Kalau kamu mengatakan hal yang menjengkelkan seperti itu, aku tidak akan menyuapimu permen apel, lho."
"...Iya, iya, aku minta maaf."
Sambil saling menggoda satu sama lain, kami mulai melangkah maju dengan langkah kaki yang sengaja kuatur lebih kecil dari biasanya agar selaras dengannya.
Merasakan jari-jemari kami yang saling bertautan satu demi satu—mengalami jenis tautan jari sepasang kekasih untuk pertama kalinya sejak kami resmi berpacaran—membuatku merasa sedikit gugup. Namun, bisa terikat dengan tangannya yang kecil dan lembut itu... memberikan rasa aman yang luar biasa dan terasa begitu nyaman di hati.




Post a Comment