NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Guuzen Tasuketa Bishoujo ga Naze ka Ore ni Natsuite Shimatta ken ni Tsuite Volume 3 Epilogue

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Epilogue

Kami Bahagia, Jadi Jangan Pedulikan Kami

Ini adalah pagi yang menyenangkan, saat aku terbangun di dalam dekapan Rei-kun.


Betapa bahagianya jika aku bisa terus dipeluk oleh Rei-kun seperti ini dan tidur kembali untuk kedua kalinya.


Namun, justru di saat aku berpikir demikian, tenaga pelukan Rei-kun selalu terasa pas-pasan, sehingga terasa menjengkelkan karena aku bisa melepaskan diri dengan mudah jika aku mencobanya.


Bagaimana kalau sekalian saja aku beralasan bahwa pelukan Rei-kun terlalu erat sampai membuatku tidak bisa bergerak, lalu bolos dari persiapan pagi ini...... ah, tidak, cuma bercanda.


(Hari ini di sekolah...... sepertinya bakal menyenangkan.)


Kemarin, waktu yang kuhabiskan terpisah dari Rei-kun terasa begitu menyiksa, sampai-sampai aku sering kali hampir menangis di tengah-tengah pelajaran. Namun, hari ini tidak diragukan lagi adalah hari di mana kami tidak perlu lagi menyembunyikan hubungan kami.


Kami bisa melewati gerbang sekolah bersama-sama dengan bangga, dan aku tidak akan dimarahi lagi meskipun pergi menemuinya di setiap jam istirahat.


Hanya karena waktu yang bisa kuhabiskan bersama Rei-kun selama di sekolah sedikit bertambah, hal itu saja sudah sukses membuat hatiku berbunga-bunga seperti ini.


"Rei-kun, ayo bangun. Sudah pagi, lho."


"Ugh......"


Aku mengangkat kepalaku dari lengan Rei-kun yang dijadikan bantal, lalu mendudukkan tubuhku...... aku duduk bersimpuh di atas perut Rei-kun untuk memintanya bangun.


Tentu saja, aku tidak lupa untuk mengagumi wajah tidurnya di saat yang bersamaan.


"Selamat pagi."


"......Pagi."


"Ayo, tidak boleh tidur lagi, ya. Cepat bangun dan basuh wajahmu."


"Kalau kamu berpikir begitu, bisa tolong minggir sebentar? Kalau terus begini aku tidak bisa bangun, nanti kita malah gak bisa berangkat sekolah bareng, lho."


"......Wah, kalau itu sih gawat. Kalau begitu, aku mau menyiapkan sarapan dulu, ya. Ah......"


"Ada apa?"


"Kecupan selamat paginya, tolong."


Aku juga tidak lupa untuk merengek meminta ciuman sebelum beranjak berdiri. Setiap kali mendapatkan kecupan yang hangat, lembut, dan penuh kebahagiaan ini...... semangatku hari ini langsung bertambah seratus kali lipat.



"Mulai dari titik ini dan seterusnya, ini adalah pertama kalinya bagi kita, ya."


"Benar, ya. Aku sedikit tegang...... tapi aku juga merasa sangat bersemangat."


Di jalan menuju sekolah. Biasanya, jika sekolah sudah mulai dekat atau jika kami melihat ada murid lain di sekitar, kami akan langsung menjaga jarak dan berpisah agar orang lain tidak mengira kalau kami berangkat bersama. 


Namun, hal itu hanya berlaku sampai kemarin.


Mulai hari ini...... kenyataan bahwa aku bisa terus berjalan di sisinya membuatku merasa sangat bahagia hingga tidak bisa membendungnya lagi.


"Hina, apa kamu tidak apa-apa?"


"Apanya yang tidak apa-apa?"


"Ini bakal memicu kehebohan, lho."


"Soal hal seperti itu...... tidak usah dipedulikan. Biarkan saja orang-orang yang ingin heboh itu membuat keributan sesuka mereka."


"Benar juga, sih."


Bagaimana respons orang-orang di sekitar...... sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Akulah yang memutuskan untuk memangkas jarak dengan Rei-kun karena aku ingin dekat dengannya, hingga akhirnya berhasil mewujudkan cinta ini. Meskipun hal ini patut dirayakan, tidak ada alasan bagi orang lain untuk ikut campur dan mengomentari hubungan kami.


Suara-suara dari orang luar...... sama sekali tidak perlu dipedulikan.


Meskipun aku berpikiran demikian, Rei-kun tampaknya jauh lebih tegang daripada diriku. Bagi Rei-kun, ini adalah sebuah peristiwa besar yang mungkin akan mengubah total seluruh kehidupan sekolahnya yang tenang mulai sekarang.


Meski begitu, demi memikirkan diriku, dia tetap rela menuruti ego pribadiku. Di situlah letak kebaikan dan kelembutan seorang Rei-kun.


Aku suka, suka, sangat suka sekali dengannya.


Sembari melangkah dengan debaran dada yang terus menggebu-gebu seperti itu, jalan menuju sekolah yang biasanya terasa sama, kini terasa mengusung nuansa yang sedikit berbeda.


Aku mulai bisa merasakan sorotan tatapan mata dari sekitar. Rei-kun yang pada dasarnya tidak suka menjadi pusat perhatian...... kira-kira apa yang sedang dipikirkannya saat ini, ya?


"Rei-kun......"


"Jangan memasang wajah cemas seperti itu. Aku tidak apa-apa kok...... Jadi, tunjukkan saja ekspresi wajahmu yang paling bahagia kepada mereka."


"Baikk! ♡"


Aku, atas kehendak bebas dari diriku sendiri, kini sedang berdiri di sini dan berjalan di sisinya. Kenyataan bahwa hal ini terasa sangat membahagiakan dan membuatku merasa senang dari lubuk hati yang terdalam, harus kutunjukkan dengan bangga kepada semua orang yang menyaksikannya.


"Mumpung momennya pas, bagaimana kalau kita sekalian bergandengan tangan?"


"Mau! Aku tidak akan pernah melepaskannya seumur hidup!"


"......Eh, kelas kita kan terpisah, jadi tolong lepaskan begitu kita sudah sampai di sekolah, ya."


"Aku tidak peduli~"


"Hei, aku peduli, tahu?"


Sembari melangkah dengan percaya diri di sepanjang jalan menuju sekolah, tatapan mata yang mencuri-curi pandang terus tertuju kepada kami.


Inilah dia, pacar yang sangat kubanggakan, jadi silakan kalian saksikan baik-baik......!



Setelah itu, kami pun tiba di sekolah. Karena kelas kami berbeda, kami terpaksa harus berpisah di koridor.


Begitu aku menginjakkan kaki di dalam ruang kelasku sendiri, seluruh sorotan perhatian langsung tertuju kepadaku. Ekspresi wajah mereka seolah tertulis dengan jelas bahwa ada banyak hal yang ingin mereka tanyakan. Bahkan sebelum aku sempat menghempaskan pinggul di kursi dan mengambil napas sejenak, tubuhku sudah langsung dikerumuni oleh mereka.


Nah, silakan saja. Karena sama sekali tidak ada satu hal pun yang ingin kusembunyikan lagi, silakan introgasi aku sesuka hati kalian.


"Hei, hei, Mikami-san. Tadi kamu berangkat sekolah bareng laki-laki, kan?"


"Jangan-jangan dia pacarmu?"


"Ah, apa jangan-jangan begini? Aku dengar dulu Mikami-san pernah ditembak sama laki-laki dari sekolah lain juga, kan? Apa kamu cuma minta dia pura-pura jadi pacarmu buat mengusir para laki-laki yang mendekat?"


"Iya nih, gimana cerita sebenarnya?"


Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan secara bertubi-tubi seolah-olah sedang memberondongku.


Yuzuki-chan yang duduk di kursi depanku tampak melihat ke arahku sembari tersenyum geli, mungkin karena dia adalah satu-satunya orang di kelas ini yang sudah mengetahui rahasia kami yang sebenarnya. Namun, tidak ada satu pun hal yang membuatku merasa tersudut meski dihujani pertanyaan seperti ini.


Mari kuumumkan hal ini kepada mereka semua dengan penuh rasa bangga.


"Iya benar, dia adalah pacar yang sangat kubanggakan ♡"


Begitu aku melontarkan kalimat itu dengan kesiapan penuh, seisi ruang kelas mendadak langsung dikuasai oleh keheningan yang senyap.


Tepat setelah itu, suara entakan keras dari kursi-kursi yang digeser karena pemiliknya bangkit berdiri secara refleks bersamaan dengan gemuruh suara penuh keterkejutan dan ketidakpercayaan langsung bergema luas hingga terdengar ke sepanjang koridor luar.


Meskipun aku telah sukses membuat seisi kelas tenggelam dalam kepanikan dan kebingungan yang luar biasa, Yuzuki-chan memberitahuku sebuah fakta menarik setelahnya.


Katanya, ekspresi wajahku saat mengumumkan hal itu memancarkan aura kebahagiaan yang belum pernah dia lihat sebelumnya, lengkap dengan senyuman lebar yang merekah dengan sangat indah.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close