NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Guuzen Tasuketa Bishoujo ga Naze ka Ore ni Natsuite Shimatta ken ni Tsuite Volume 3 Chapter 6

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 6

Awal Mula Semester Kedua

Setelah liburan pemandian air panas selesai dan sisa libur musim panas pun telah habis dikonsumsi, tibalah saatnya awal semester kedua dimulai. Karena aku tidak mengikuti kegiatan klub ataupun kelas tambahan, ini adalah pertama kalinya setelah sekian lama aku kembali mengenakan seragam sekolah. Barang-barang yang diperlukan, termasuk tugas libur musim panas, sudah selesai kumasukkan ke dalam tas sejak tadi malam.


Pagi ini terasa relatif longgar. Karena baru saja menyelesaikan liburan panjang, awalnya aku sempat khawatir jika atmosfer liburan masih belum hilang, tetapi karena aku sudah menata ulang ritme hidup dan bersiap-siap demi menyambut semester kedua sejak pulang dari penginapan air panas, aku bisa melakukan peralihan ini dengan baik.


......Maksudnya, aku sendiri yang begitu.


"Uuuh...... aku harus terpisah dari Rei-kun...... Bisa mati aku."


"Kamu terlalu berlebihan."


"Ini sama sekali tidak berlebihan tahu...... Bagi bagiku ini adalah masalah hidup dan mati......"


Sembari menyantap sarapan, Hina mengerang dengan tatapan mata yang tampak kosong bagai kehilangan gairah hidup.


Meskipun dia bisa bangun pagi dengan teratur, memasak makanan yang lezat seperti biasanya, dan menemani di meja makan dengan baik, situasinya langsung berubah drastis begitu waktu keberangkatan ke sekolah semakin dekat.


Ya, habisnya selama libur musim panas kami memang benar-benar selalu menghabiskan waktu bersama, sih.


Jika dibandingkan dengan masa liburan, tentu saja waktu kami untuk berpisah di sekolah akan menjadi jauh lebih lama. Ditambah lagi kelas kami juga berbeda, jadi sebenarnya ini adalah hal yang tidak bisa dihindari. Namun, tampaknya Hina masih belum bisa menerima kenyataan itu, sehingga dari tadi dia terus bergumam seperti sedang merapalkan kutukan, rasanya agak menyeramkan.


"Kira-kira mungkin tidak ya, kalau karena suatu kesalahan tiba-tiba diadakan pengaturan kelas lagi?"


"Tidak mungkin. Mana ada pengaturan kelas di waktu seperti ini. Lagipula, andai saja ada, belum tentu juga kita bisa masuk ke kelas yang sama, kan?"


"Ugh...... Kalau begitu aku harus segera mengambil alih kendali atas jajaran guru......"


"Jangan macam-macam, ya."


Jangankan sekadar pindah tempat duduk, meminta pengacakan kelas di saat seperti ini adalah sebuah ide yang lumayan nekat.


Sekolah juga pasti akan repot kalau kelas bisa berubah-ubah dengan mudahnya seperti saat pindah tempat duduk. Pihak sekolah pasti sudah mempertimbangkan banyak hal saat menyusun formasi kelas, jadi tolong jangan menggampangkannya begitu.


Lagipula, dia baru saja menggumamkan sesuatu yang mengerikan dengan santainya. Karena dia mengatakannya dengan sorot mata yang kehilangan binar cahaya, aku jadi takut kalau dia benar-benar akan merealisasikannya.


Tolong hentikan. Aku tidak mau kalau tahu-tahu sekolah ini sudah berada di bawah kekuasaan Hina.


"Muu...... Apa Rei-kun tidak merasa kesepian karena harus berpisah denganku?"


"Meskipun kita tidak bisa bersama di sekolah, kita kan masih bisa menghabiskan waktu bersama di rumah. Rasa kesepian itu pasti ada sedikit, tapi tidak sampai separah dirimu."


Karena kami tinggal bersama, jika dibandingkan dengan pasangan kekasih lainnya, waktu yang kami habiskan berdua justru jauh lebih lama.


Pasangan pelajar pada umumnya hanya bisa menghabiskan waktu bersama dalam waktu yang terbatas di sekolah. Bahkan jika ditambah dengan waktu sepulang sekolah pun, durasinya pasti terhitung singkat.


Antara hanya bisa bertatap muka selama jam sekolah pada hari kerja, dengan bisa bersama di luar jam sekolah; manakah yang bisa menjamin waktu kebersamaan yang lebih lama dengan kekasih? Mengingat sebagian besar waktu di sekolah dihabiskan untuk mengikuti pelajaran, jawabannya tentu sudah sangat jelas.


"Kalau soal itu aku tahu, sih...... Tapi karena selama libur musim panas kemarin bersama setiap saat sudah menjadi hal yang lumayan lumrah, dipisahkan secara mendadak dalam waktu lama seperti ini bisa mengancam keselamatan jiwaku."


"Mengancam keselamatan jiwa...... Begitu, ya?"


Dipisahkan...... katanya?


Sejak kapan tindakan wajar seorang pelajar untuk pergi ke sekolah dan mengikuti pelajaran berubah menjadi sesuatu yang melibatkan ancaman keselamatan jiwa......?


"Kalau sudah begini, aku akan pindah sekolah saja, lalu terus melakukan skema gacha pindah kelas sampai aku berhasil dialokasikan ke kelasnya Rei-kun......!"


"Sudah kubilang jangan macam-macam."


"Lalu, aku harus bagaimana? Apa Rei-kun mau menelantarkanku?"


"Aku tidak bilang begitu, kok...... Tapi aduh, repot juga kalau begini."


Meskipun percakapan ini terdengar seperti gurauan, bagi Hina ini tampaknya adalah masalah yang sangat pelik.


Perasaannya yang begitu enggan untuk berpisah denganku memang menjadi bukti seberapa besar dia mencintaiku, tetapi hal ini sudah mulai terlalu mengganggu aktivitas kehidupan sekolahnya.


Ini...... bakal aman tidak, ya?


"Ayo, cepat dihabiskan makannya, nanti kita bisa terlambat."


"Uuuh...... Masa depanku terasa begitu suram sampai-sampai makanannya tidak mau turun ke tenggorokan. Mungkin aku baru bisa makan kalau Rei-kun menyuapiku."


"Iya, iya, aku mengerti. Kamu kan murid teladan, jadi tolong berjuanglah sedikit."


"Tidak bisa berjuang...... Ahm, enak."


Meskipun aku terus mendesak Hina yang pergerakan sumpitnya tampak lambat, aku sendiri pun perlahan mulai merasa cemas akan kelanjutan hari ini.


Untuk saat ini, setelah kusuapi akhirnya dia mau mulai makan, jadi urusan sarapan sepertinya bisa teratasi...... Namun, pertanyaannya adalah apakah dia benar-benar bisa berangkat ke sekolah nanti?


"Haa...... rasanya depresi sekali."


"Jangan berkata begitu. Wajah imutmu jadi sia-sia nanti."


"Habisnya...... aku harus berpisah dengan Rei-kun, lho? Ini masalah yang sangat serius."


"Sebagai gantinya, begitu pulang nanti aku janji akan memanjakanmu sepuasnya, jadi mari kita berjuang hari ini."


"......Memanjakan sepuasnya itu tolok ukurnya seberapa banyak?"


"Ya...... silakan dinantikan saja sendiri nanti."


"Sudah janji, ya? Awas kalau bohong."


Efek samping setelah ini mungkin akan sedikit menakutkan, tetapi jika tidak diumpan begini dia pasti akan terus merajuk tanpa henti, jadi anggap saja ini adalah timbal balik yang setimpal.


Jika dengan cara ini dia mau berjuang untuk pergi ke sekolah, aku akan dengan senang hati memanjakannya nanti.


"Kalau membayangkan Rei-kun akan memanjakanku sepuasnya begitu pulang nanti, rasanya entah kenapa aku jadi punya energi untuk berjuang...... untuk sekitar 30 menit ke depan."


"Sebentar amat, oi. Belum juga upacara pembukaan semester baru selesai kamu sudah tumbang duluan dong."


"Upacara pembukaan...... pelajaran...... Haa, padahal masih di rumah tapi aku sudah ingin cepat-cepat pulang."


Sembari berkata begitu, Hina menempelkan dan menggosok-gosokkan kepalanya ke dadaku sambil memelukku erat.


Saat aku mengusap kepalanya untuk menenangkannya, dia tampak menikmatinya dengan nyaman, tetapi begitu aku mencoba melepaskan dekapan, dia langsung menatapku dengan wajah yang amat sedih. Ini sepertinya sudah masuk kategori stadium akhir, ya.


Namun, aku ingin berpikir kalau ini hanyalah efek kejut sesaat dan kondisinya akan berangsur membaik seiring berjalannya waktu...... semoga saja begitu.


Meskipun aku merasa kasihan mendengarnya sudah ingin pulang bahkan sebelum kami berangkat, untuk saat ini yang terpenting adalah melangkah menuju sekolah terlebih dahulu.


"Ayo, mari kita bersiap-siap."


"......Tidak mau."


"Jangan bilang tidak mau, dong. Tadi kan sudah janji mau berjuang?"


Rasanya seolah-olah aku sedang berusaha keras membujuk anak yang mogok sekolah agar mau berangkat ke kelas.


Siapa pun pasti tidak akan pernah menyangka bahwa ini adalah wujud asli dari Mikami Hina—takane no hana peringkat 1 paralel seangkatan yang terkenal dengan citra cool beauty-nya itu.


"Uuuh...... Kalau aku sudah berjuang, nanti benar-benar harus manjakan aku sepuasnya, ya?"


"Iya, aku mengerti."


"Sudah janji, lho?"


"Iya, sudah kubilang aku mengerti."


Hina terus bertanya berulang-ulang seolah ingin memastikan komitmenku agar aku tidak bisa ingkar janji.


Melihat matanya yang agak berkaca-kaca begitu membuatnya terlihat sangat imut.


"A-Apalagi, bolehkah aku tetap seperti ini sebentar lagi saja?"


"5 menit lagi, ya."


"......1 jam."


"5 menit."


"2 jam."


"Malah makin nambah, dong."


Hina yang terus menarik napas dalam-dalam di dadaku untuk menenangkan hatinya seperti itu terlihat sangat menggemaskan.


Memang imut, sih...... tapi di sisi lain aku juga merasa sangat cemas. Sama sekali tidak terpikir olehku kalau awal semester kedua ini bakal sekaya ini dengan rintangan.......


Setelah bersusah payah mengantarkan Hina—yang hampir saja menyeretku ikut serta untuk menjadi gadis mogok sekolah—aku pun akhirnya tiba dan duduk di kursiku sendiri di dalam kelas.


Mungkin karena tubuhku sudah terlanjur terbiasa dengan sensasi empuk saat tenggelam di sofa rumah, aku sampai kagum pada kekuatan ketahanan diriku sendiri di semester pertama lalu, yang mampu bertahan duduk di kursi kayu yang keras ini selama jam pelajaran yang panjang.


Aku benar-benar meresapi dalam hati bahwa duduk di kursi ini dalam waktu lama sama sekali tidak bagus untuk kesehatan pinggang...... namun mengeluh pun tidak akan mengubah apa-apa, jadi aku hanya bisa pasrah menyandarkan punggungku.


Bukannya respons empuk yang kudapatkan, melainkan suara derit keras yang kaku. Begitu menghempaskan pinggul dan mengambil napas, entah mengapa rasa lelah langsung datang menyerbu sekaligus.


Padahal aku baru sekadar sampai di sekolah. Upacara pembukaan semester dan jam pelajaran pun bahkan belum dimulai, tetapi tubuhku rasanya sudah babak belur. Jika boleh meniru ucapan Hina tadi, padahal aku belum melakukan apa-apa tapi rasanya sudah ingin pulang ke rumah.


Biasanya, kami hanya berangkat sekolah bersama sampai di tengah jalan saja. Kami akan memisahkan diri sebelum rute kami menyatu dengan jalur yang dilewati oleh murid-murid yang menggunakan kereta. Namun, kecerobohanku yang lupa mengantisipasi kalau dia akan mogok di titik itulah yang berakibat fatal.


Rentetan tembakan kalimat "Tidak mau" yang diluncurkan dengan tatapan mata mendongak penuh manja langsung meledak bertubi-tubi. Berkat hal itu, kekuatan mentalku sukses terkikis habis tanpa sisa. Mengenai hal ini, sepertinya aku harus membicarakannya lagi dengannya......


Bagi diriku sendiri, aku hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang tenang tanpa perlu memicu riak pembicaraan, tetapi menyembunyikan fakta bahwa kami berpacaran sebenarnya hanyalah ego pribadiku semata.


Jika hal itu malah menjadi sesuatu yang menyiksa bagi Hina, mungkin ada baiknya aku mulai mempertimbangkan untuk membuka hubungan kami ke publik. Kalau begitu, kami tidak perlu lagi mengendap-endap dan menyelinap secara rahasia untuk bertemu...... Namun, memanjakannya secara berlebihan juga bisa menjadi bumerang tersendiri.


Membawa kedekatan jarak yang biasa kami lakukan di rumah ke lingkungan luar adalah hal yang sangat berbahaya. Jika dia terus mempertahankan persepsi bahwa selalu bersama setiap saat dan di mana saja adalah hal yang lumrah, aku jadi mencemaskan kelangsungan kehidupan sekolah kami ke depannya.


Aku memang tidak ingin melihat wajah Hina yang sedih, tetapi apakah di saat seperti ini aku harus mengeraskan hati dan bersikap tegas kepadanya......?


Ini benar-benar dilema yang membingungkan. Sama sekali tidak menyangka kalau sejak hari pertama semester kedua dimulai, aku sudah harus memeras otak dengan konflik batin seperti ini......


Untuk saat ini, mari kita kesampingkan dulu hal itu. Masalah seperti ini bukanlah sesuatu yang harus kuputuskan sendirian. Nanti setelah pulang ke rumah, mari kita bicarakan ini baik-baik dengan santai.


Sambil mendorong kegalauan yang ada di depan mata ke sudut pikiran, aku menghabiskan waktu menjelang homeroom dengan melamun seperti biasanya.


Atmosfer di dalam kelas masih tampak bersemangat karena efek baru selesai libur musim panas.


Ada murid yang sudah puas bermain bersama teman-teman mereka, ada yang mencurahkan energi mereka untuk kegiatan klub, dan ada juga yang fokus belajar; setiap orang pasti melewati liburan dengan cara yang beragam. Mereka saling berbagi cerita yang menumpuk hingga obrolan pun mengalir dengan seru dan meriah.


Di tengah hiruk-pikuk itu, suara dari kelompok siswi yang sedang mengobrol di posisi yang agak jauh samar-samar masuk ke telingaku.


Bukannya aku sengaja menguping, ya. Hanya saja volume suara mereka memang cukup keras, sehingga secara otomatis terdengar olehku.


"Eh! Kamu beneran mulai pacaran sama senpai di klubmu?"


"Aduh, suaramu kekencangan tahu."


"Maaf, maaf. Terus, gimana cerita detailnya?"


"Bagian mana dari dia yang bikin kamu suka?"


"Kamu yang nembak? Atau malah ditembak?"


"Senpai kelas 2 di klub basket. Dia masuk tim reguler, badannya tinggi, tampan, dan keren banget."


"Wah, asyik banget, ya~"


"Di klub basket masih ada laki-laki keren lain yang jomlo tidak? Kalau ada, kenalin ke aku, dong."


Obrolan seputar cinta yang dilakukan secara sangat terbuka. Fakta bahwa mereka bisa membicarakannya secara blak-blakan begitu menandakan kalau hal itu bukanlah sesuatu yang risi jika terdengar oleh orang lain.


Siswi yang dihujani pertanyaan bertubi-tubi itu pun menjawabnya dengan santai seperti biasa. Aku sama sekali tidak tertarik dengan urusan asmara siswi yang tidak kukenal, tetapi ada satu hal dari percakapan kelompok siswi tersebut yang menarik perhatianku.


Hal itu adalah alasan mengapa dia bisa jatuh cinta. Jika merangkum cerita yang terdengar tadi, siswi itu adalah manajer dari klub basket putra, dan tampaknya dia mulai berpacaran dengan kakak kelasnya selama libur musim panas kemarin.


Senpai yang dimaksud itu terpilih masuk ke dalam tim utama. Kemampuan bermain basketnya pasti tinggi, ditambah lagi fisik rupawannya yang tinggi dan ganteng juga tergolong luar biasa. Dari apa yang kudengar, sosoknya memang terlihat sangat memikat.


Sangat wajar jika seseorang merasa tertarik pada orang lain yang memiliki suatu kelebihan yang menonjol. Dan contoh yang paling ekstrem dari hal itu tidak lain adalah Hina sendiri.


Sejak masa-masa awal setelah masuk sekolah, Hina sudah memikat kaum lelaki dengan kecantikannya yang luar biasa, dan memori tentang rentetan pernyataan cinta yang didasari oleh pandangan pertama kepadanya pun masih segar di ingatan.


Ingin berpacaran karena dia imut. Ingin berpacaran karena dia keren. Penampilan memang bukanlah segalanya dari diri seseorang, tetapi sudah menjadi hal yang mutlak bahwa penampilan adalah elemen penting untuk menentukan apakah seseorang masuk ke dalam kriteria yang disukai atau tidak.


(......Tapi kalau dipikir-pikir, kenapa Hina bisa sampai begitu menempel padaku, ya?)


Entah sejak kapan rasa suka Hina mulai terarah kepadanya diri ini.


Tiba-tiba saja aku menjadi penasaran, sebenarnya apa alasan yang mendasari hingga perasaan cinta itu bisa tumbuh dan berkembang sedemikian rupa? Kira-kira, bagian mana dari diriku yang berhasil memikat hatinya?


Aku memang merasa kalau kami memiliki momen pertemuan awal yang cukup berkesan, tetapi selain itu, apakah ada hal lain lagi?


Aku ini hanyalah seorang siswa SMA yang tergolong sangat biasa.

Tidak ada bagian dari diriku yang bisa kuanggap menonjol dari orang lain. Tinggiku biasa saja, dan penampilanku pun kurasa terhitung standar.


Meskipun sekarang aku malah kepikiran kenapa sosok kembang panggung seperti Mikami Hina bisa sampai seperti itu kepada orang sepertiku, rasanya tidak perlu diambil pusing secara berlebihan.


(Lagipula, biarpun tanpa alasan tertentu, asalkan aku menyukai Hina dan Hina juga menyukaiku, itu saja sudah cukup.)


Aku memang tidak tahu apa pemicu awalnya, tetapi Hina pasti memiliki alasan tersendiri yang membuatnya merasa demikian. Sebuah alasan yang membuat Hina—yang sama sekali tidak goyah meski telah menerima begitu banyak pernyataan cinta dari para lelaki—hanya mau membuka hati kepadaku seorang.


Terlebih lagi, diriku sendiri pun tanpa disadari telah terpikat oleh Hina, dan begitu tersadar, aku sudah sepenuhnya membuka hati kepadanya.


Singkat kata...... maknanya pasti seperti itu.


(Tapi...... jujur aku tetap agak penasaran, sih. Nanti coba kutanyakan ah.)


Meskipun aku sudah berniat mengusir hal itu dari kepala karena merasa tidak perlu dipikirkan, rasa ingin tahuku ternyata tidak kunjung surut. Tampaknya rasa itu jauh lebih mengusik daripada perkiraan.


Walaupun logikaku berpikir bahwa rasa suka tidak membutuhkan alasan, tetapi hatiku tetap saja ingin mengetahuinya.


Melemparkan pertanyaan seperti ini mungkin saja akan membuatnya salah tingkah atau kebingungan. Namun, karena dari pagi tadi aku sudah dibuat kelimpungan oleh ulahnya, rasanya tidak ada salahnya jika aku membalasnya sedikit.


(Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Hina sekarang, ya......?)


Mungkin karena memikirkan hal itu, kepalaku sekarang menjadi sepenuhnya dipenuhi oleh urusan Hina.


Aku mendadak merasa sangat cemas...... memikirkan apakah kekasihku yang berada di kelas sebelah itu tidak sedang menangis menahan sedih.



Setelah upacara pembukaan selesai dan diselingi waktu istirahat sejenak, jam pelajaran pun akhirnya dimulai.


Di SMA ini, kegiatan belajar-mengajar sudah langsung berjalan normal sejak hari pertama masuk sekolah. Kudengar ada beberapa sekolah yang kegiatannya langsung selesai setelah upacara di siang hari, tetapi sekolah kami tampaknya sengaja langsung menerapkan jam pelajaran demi menghapus atmosfer liburan dengan cepat.


Karena ada pengumpulan tugas libur musim panas sebelum pelajaran dimulai, aku memanfaatkan waktu istirahat untuk merapikan barang-barang yang harus dikumpulkan.


Di sekitarku tampak ada beberapa murid yang mulai panik karena tugas mereka belum selesai atau tertinggal di rumah, tetapi hal itu sama sekali bukan urusanku. Namun kalau dipikir-pikir, orang-orang yang mengaku lupa membawa tugasnya itu, apakah benar-benar tertinggal secara tidak sengaja?


Jangan-jangan, sebenarnya tugas mereka memang belum selesai, lalu mereka berdalih lupa membawanya agar bisa mengebut pengerjaannya begitu pulang ke rumah, kemudian mengumpulkannya keesokan hari dengan wajah tanpa dosa. Kurasa taktik licik semacam itu ada saja yang melakukannya.


Guru yang bertugas mengumpulkan tugas-tugas itu pun pasti sudah hafal luar kepala dengan modus operandi semacam itu karena sudah bertahun-tahun mengajar.


Oleh karena itu, menurutku murid yang benar-benar murni sekadar lupa membawa tugasnya akan sangat dirugikan karena disamaratakan dengan murid yang sengaja berniat licik.


Yah, tapi salah sendiri karena tidak mempersiapkannya dengan baik. Kalau sampai dibilang itu adalah buah dari kesalahan sendiri, ya mau bagaimana lagi.


(......Aduh, malas sekali rasanya kalau sampai kena omel karena pertanggungjawaban renteng.)


Membayangkan kemungkinan terburuk seperti itu membuatku agak lemas. Meskipun aku menganggap hal semacam ini adalah tanggung jawab individu, mengingat momennya bertepatan dengan awal masuk sekolah, tidak menutup kemungkinan guru akan melontarkan teguran yang keras sebagai bentuk peringatan dini untuk seluruh kelas.


(Untuk berjaga-jaga, setidaknya aku harus menyiapkan mental dulu.)


Aku hanya bisa berharap semoga guru yang masuk memiliki hati yang lapang.


Sambil memikirkan hal itu, aku menyelesaikan persiapan pelajaran dengan cepat, lalu bangkit berdiri untuk keluar dari ruang kelas. Tujuan perjalananku bukan menuju toilet...... melainkan ke ruang kelas 2.


Aku sendiri merasa tindakan ini sangat tidak mirip dengan pembawaanku yang biasanya. Pada dasarnya, aku jarang sekali keluar kelas jika bukan untuk pergi ke toilet. Sebelum bel masuk berbunyi, aku biasanya hanya menghabiskan waktu dengan menelungkupkan badan di meja, membaca buku saku hafalan kosakata, atau membaca buku cerita.


Tindakan diriku yang sampai sengaja pergi menengok ke kelas lain seperti ini tentu hanya memiliki satu tujuan. Yaitu untuk memantau apakah kondisi Hina baik-baik saja atau tidak.


Sampai saat ini, aku tidak menerima pesan teks permintaan tolong ataupun serangan mendadak ke kelasku. Mengingat ucapannya saat di rumah tadi pagi, aku sempat berasumsi sepihak bahwa batas kemampuannya untuk bertahan paling-paling hanya sampai upacara pembukaan selesai...... Namun, di luar dugaan ternyata dia mampu bertahan dengan baik.


Apakah dia memang baik-baik saja, atau justru sedang terkapar tak berdaya sampai-sampai tidak bisa bergerak?


Aku berniat untuk memastikan hal itu saja lalu segera kembali, jadi aku mengintip kelas Hina secara sembunyi-sembunyi.


(Oh...... ternyata dia masuk kategori yang baik-baik saja, ya.)


Di meja tempat Hina duduk tampak beberapa siswi sedang berkumpul dan membicarakan sesuatu. Karena aku memantaunya dari jarak yang agak jauh, aku tidak bisa mendengar isi percakapan mereka. Namun, melihat Hina yang tampak ceria, dia sepertinya bisa berjuang dengan baik. Tampaknya aku saja yang terlalu berlebihan mengkhawatirkannya.


Begitu memastikan hal itu, aku langsung membalikkan badanku untuk kembali.


"Ne, kamu ngerasa gak sih kalau Mikami-san sekarang jadi makin cantik banget?"


"Iya, setuju! Aura wajahnya kelihatan seperti orang yang lagi kasmaran, ya."


Langkah kakiku mendadak terhenti secara refleks saat mendengar percakapan siswi yang sedang mengobrol di koridor jalan kembali menuju kelas.


Sesuai dugaan bagi sosok populer seperti dirinya. Desas-desus tentangnya ternyata berembus di berbagai tempat.


"Ada teori yang bilang kalau perempuan itu bakal jadi makin cantik kalau lagi jatuh cinta, kan?"


"Katanya itu ada hubungannya sama pengaruh hormon, lho. Terus, keinginan untuk terlihat menawan di depan orang yang disuka juga memicu motivasi buat mempercantik diri sendiri."


"Oh, gitu."


"Ya iyalah. Soalnya mana ada orang yang mau kulitnya kelihatan kusam atau badannya kelihatan melar di depan orang yang dia taksir."


"Bener juga! Aura cool beauty-nya Mikami-san sekarang juga kelihatan makin tajam...... jadi kesimpulannya begitu, ya? Apa dia udah punya pacar?"


"Semoga aja beneran udah punya, sih. Kalau begitu, para laki-laki yang selama ini ngincar Mikami-san bakal mundur, dan siapa tahu kesempatan buat kita jadi terbuka."


"Benar juga."


"Kira-kira pacaranya sama siapa, ya?"


"Aduh, gak tahu deh. Gak peduli siapapun orangnya, yang penting semoga mereka cepat jadian aja. Soalnya aku pengen banget punya pacar sebelum natal tiba."


"Sama, aku juga~ Ah, ngomong-ngomong soal itu──"


Aku sempat terlanjur mendengarkannya dengan saksama. Namun, begitu topik pembicaraan kedua siswi itu bergeser, aku berhenti mendengarkan dan langsung melangkah kembali ke dalam kelas.


Meskipun hanya kebetulan, bisa memahami bagaimana sudut pandang dari sisi perempuan ternyata memberikan pelajaran yang sangat berharga bagiku.


(Begitu rupanya...... Jadi ada keuntungan tersendiri jika status hubungan kami diumumkan ke publik, ya.)


Untuk saat ini, hubungan antara diriku dan Hina memang belum dibuka ke publik. Artinya, dari kacamata orang-orang di sekitar, mereka tidak tahu apakah Hina sudah memiliki kekasih atau belum. 


Bagi kaum lelaki, situasi ini menandakan bahwa peluang untuk mendekatinya dinilai masih terbuka lebar.


Selama situasi itu terus berlanjut, laki-laki-laki-laki yang mengincar Hina pasti tidak akan pernah ada habisnya. Bagaimanapun juga, dari sudut pandang laki-laki, peluang bahwa Hina masih jomlo dinilai masih tetap ada.


Maksud dari perkataan para siswi tadi pun merujuk pada hal itu; mereka ingin Hina cepat-cepat punya pacar agar segalanya menjadi jelas. Jika sudah terbukti bahwa orang yang disukai ternyata sudah memiliki kekasih, seseorang pasti akan lebih mudah untuk menyerah dan merelakannya.


Meskipun mungkin ada saja orang yang tetap memendam perasaan cintanya yang tak berbalas, normalnya mereka akan segera beralih ke cinta yang baru.


Jika dilihat dari sudut pandang tersebut, Hina yang terus-menerus memikat hati banyak laki-laki mungkin bisa dianggap sebagai musuh bagi para gadis yang sedang kasmaran. Namun, jika dia menegaskan bahwa dirinya sudah punya pacar, dia pasti bisa mematahkan harapan sebagian besar laki-laki yang mendekatinya.


Terlepas dari apakah dia akan membeberkan hubungannya denganku atau tidak, mengumumkan status bahwa dirinya sudah memiliki kekasih sepertinya bisa menjadi langkah yang cukup efektif bagi Hina. Meskipun aku merasa tidak enak karena telah menguping pembicaraan orang lain, setidaknya aku beruntung bisa mendapatkan sebuah sudut pandang yang tak terduga.


Sambil memikirkan hal itu, aku melangkah kembali ke dalam kelas yang masih bising lalu duduk di kursiku. Ada satu hal dari percakapan para siswi tadi yang mengusik pikiranku.


(Bukannya yang makin tajam itu bukan aura kembang panggungnya, ya? Melainkan sifat teledor dan manjanya (ponkotsu).)


Sebagai orang yang tahu bagaimana pembawaan Hina yang biasanya—terutama Hina yang kulihat hari ini—aku tidak bisa tidak berpikir demikian. Namun...... bisa melihat sisi dirinya yang seperti itu mungkin merupakan sebuah hak istimewa tersendiri sebagai seorang kekasih sekaligus pacarnya.



Istirahat siang. Setelah berhasil melewati jam pelajaran dengan selamat, waktu rehat yang telah dinanti-nantikan akhirnya tiba.


Karena waktu pagi tadi sudah agak tersita oleh upacara pembukaan, jam pelajaran di paruh pertama seharusnya terasa lebih singkat dari biasanya, tetapi entah mengapa rasanya berjalan sangat lama. 


Tubuhku yang sudah terlanjur dimanjakan oleh libur panjang musim panas seolah-olah menolak untuk diajak mengikuti pelajaran yang berat, sampai-sampai aku sama sekali tidak bisa fokus mendengarkan penjelasan guru. Namun, tidak ada gunanya juga menyesali hal yang sudah berlalu.


Jam pelajaran di paruh kedua masih menanti nanti siang, dan memulihkan stamina dengan menyantap bekal buatan Hina adalah hal utama yang harus kulakukan sekarang.


"Panas banget."


Aku menghempaskan pinggul di tempat favorit kami yang sudah lama tidak kukunjungi, lalu mendongak menatap langit biru. Matahari sudah membubung tinggi, bersinar dengan terik seolah ingin menegaskan bahwa musim panas masih belum berakhir.


Mengingat gaya duduk favorit Hina yang sudah menjadi pemandangan familier di tempat ini sedang menantiku, rasanya hawa di sekitar sini jadi terasa jauh lebih gerah.


Saat berada di rumah, hal seperti ini mungkin tidak terlalu mengusikku karena kami berada di dalam ruangan ber-AC, tetapi di sini kondisinya tentu berbeda. Keringat mulai merembes keluar perlahan, dan karena aku merasa agak risi jika ditempeli erat-erat dalam kondisi seperti ini, aku berniat untuk memintanya menjaga jarak secara halus......


"Anu...... Hina-san?"


"Gak mau."


"Aku bahkan belum bicara apa-apa."


"Gak mau."


"......Udara lagi panas, jadi tolong menjauh sedikit."


"Aku sama sekali tidak keberatan."


Sempat ada masa di mana aku berpikir bisa bernegosiasi seperti itu. Namun kenyataannya, celah untuk bernegosiasi tampaknya memang sama sekali tidak tersisa sejak awal, dan Hina sama sekali tidak mau mendengarkan perkataanku.


Begitu Hina melihatku sedang menunggu di tempat biasa, dia langsung mengambil posisi ancang-ancang crouching start, lalu mulai berlari ke arahku dengan kecepatan yang luar biasa.


Ini sama sekali tidak bisa disamakan dengan lari-lari kecil. Ini adalah sprint dengan mengerahkan seluruh kemampuan atletik yang dimilikinya.


Aku sampai dibuat terperangah tak bersuara melihatnya menerobos maju tanpa memedulikan roknya yang berkibar tertiup angin hingga pakaian dalamnya hampir terlihat.


Kemudian, tanpa menurunkan kecepatannya sedikit pun, dia melepas sepatu loafer-nya dengan sangat tangkas, lalu langsung melompat ke pelukanku tanpa ragu.


Aku pun berusaha keras untuk menangkap tubuhnya...... dan begitulah cara kami berakhir dalam posisi seperti sekarang.


"Rei-kun, ini Rei-kun yang sangat kurindukan......"


Ditambah lagi, jika biasanya aku bertindak sebagai sandaran punggungnya sehingga dia memelukku dari belakang—di mana aku masih bisa mengendalikan posisi tubuhku sampai batas tertentu—hari ini kondisinya mengusung spesifikasi khusus yang sedikit berbeda. 


Hina duduk menghadap ke arahku sambil menyilangkan kakinya di atas paha untuk menunggangiku. Tubuhku dikunci rapat dalam pelukannya, sementara dia terus mengendus dan mengesekkan wajahnya ke dadaku; sebuah paket lengkap berisi semua hal yang paling tidak ingin kulakukan dalam kondisi gerah seperti sekarang. Aku bisa merasakan stamina dan kekuatan mentalku terkikis habis oleh hawa panas udara dan kehangatan tubuhnya.


"Hina, badanku sedang berkeringat, jadi tolong jangan diendus seperti itu......"


"Aku tidak keberatan. Aromanya sangat harum."


"Kalau kamu memelukku seerat itu, seragam kita bisa lecek, lho."


"Aku tidak keberatan. Rei-kun juga harus memelukku lebih erat lagi."


"Tapi ini panas, tahu?"


"Aku tidak keberatan. Karena momennya sudah pas, mari kita buat suasananya jadi makin hangat."


Begitu rupanya, jadi apa pun yang kukatakan memang akan berakhir sia-sia, ya.


Kalau posisinya begini, kami bahkan tidak akan bisa menyantap bekal kami. Aku tidak punya pilihan lain selain menunggu sampai Hina menjadi lebih tenang...... tapi entah berapa lama waktu yang akan dihabiskannya.


Sembari terus mengelus kepala Hina yang sedang asyik mengendus dadaku dengan tatapan kosong, aku tiba-tiba berpikir bahwa aku juga harus mulai memikirkan cara bagaimana kami menghabiskan waktu di tempat ini.


Kemeja putihnya tampak agak menerawang karena menempel pada kulitnya yang lembap oleh keringat. Aroma manis bercampur asam dari perpaduan keringat dan sampo mengusik ujung hidungku. 


Karena posisi kami yang saling berhadapan dan menempel dengan sangat erat, kelembutan tubuhnya tertekan sepenuhnya ke tubuhku tanpa ada celah. Meskipun terhalang oleh seragam sekolah, pakaian musim panas memiliki kain yang relatif tipis, sehingga sensasi sentuhannya dapat tersampaikan dengan sangat amat jelas. Perpaduan antara teriknya musim panas dan kehangatan dari situasi ini membuat kepalaku menjadi agak pening.


Jika boleh mengungkapkannya secara blak-blakan tanpa menyaring kata-kata, situasi ini membuat gairahku bangkit.


"Hina, sudah saatnya kita......"


"Gak mau."


"Jangan bilang 'gak mau' terus...... tolonglah."


"Meskipun itu adalah permintaan dari Rei-kun, aku tetap tidak bisa menurutinya. Aku harus mengisi ulang energiku baik-baik di sini agar bisa bertahan melewati jam pelajaran nanti siang."


Hari ini pertahanannya terasa jauh lebih kokoh dari biasanya.


Aku bisa merasakan tekadnya yang kuat untuk terus mempertahankan posisi ini apa pun yang terjadi. Apakah ini semua adalah kesalahanku karena tidak mengawasinya secara berkala sejak awal, padahal aku sudah bisa memprediksi kalau hal seperti ini akan terjadi?


Menilai bahwa dia baik-baik saja hanya berdasarkan pantauan singkatku di awal tadi tampaknya merupakan sebuah keputusan yang terlalu terburu-buru......


Namun ya sudahlah, jika dengan melakukan ini dia bisa kembali bersemangat untuk menghadapi pelajaran nanti siang, bukankah ini termasuk harga yang murah?


Tidak...... ini sama sekali tidak murah. Malahan ongkosnya terasa sangat mahal. Namun, aku hanya bisa menganggap hal ini sebagai pengeluaran wajib yang tidak bisa dihindari.


"Rei-kun, tolong elus aku lagi."


"Iya, iya."


"Rei-kun, tolong peluk aku dengan lebih erat lagi."


"Iya, iya."


"Rei-kun, cium aku dong."


"......Gak mau kalau di sekolah."


"......Padahal kupikir tadi suasananya pas buat langsung ciuman. Harusnya kamu biarkan kepalamu agak makin bleng saja karena kepanasan."


Bahaya, bahaya. Benar-benar tidak boleh lengah sedikit pun, ya.


Kalau sampai membuatku pening karena hawa panas ini juga termasuk dalam rencananya, dia sungguh menakutkan......


Mengingat posisiku yang sedang menuruti tindakannya sekarang, ucapanku memang terdengar kurang meyakinkan, tetapi orang sepertiku pun setidaknya tahu persis batasan mana yang tidak boleh dilewati.


Berapa kali pun dia merengek meminta ciuman, aku tetap tidak akan melakukannya di sekolah. Soalnya, sekali saja aku tidak bisa menahan diri, tamatlah riwayatku. Begitu remnya blong, aku tidak akan bisa berhenti untuk sementara waktu.


Karena aku tahu betul konsekuensinya, aku tidak boleh melepaskan rasionalku begitu saja sedari awal. Jadi, tolong berhentilah memancing gairahku seperti ini.


Yah, meskipun aku tahu dia tidak akan mendengarkannya jika kukatakan langsung, jadi aku hanya bisa menahan diri dengan caraku sendiri.


Setelah dibiarkan berbuat sesukanya dan aku hanya mengabulkan permintaan yang sekiranya masih bisa kuturuti, Hina akhirnya mendongakkan wajahnya dari dadaku, tampaknya dia sudah merasa puas.


Wajahnya tampak merona. Poni rambut yang menempel di dahinya yang agak berkeringat terlihat sangat menawan.


"Fiuh...... aku sudah lebih tenang sekarang. Kalau begini, sepertinya aku bakal bisa berjuang melewati sisa waktu nanti."


"Begitu, ya. Syukurlah kalau begitu."


"Perutku jadi lapar, ya. Ayo kita makan bekalnya...... ah."


"Aduh."


Baru saja aku merasa lega karena bisa terlepas dari kekangan Hina dan akhirnya bisa menyantap makan siang, kelegaan itu hanya bertahan sesaat.


Bel awal tanda waktu istirahat siang akan segera berakhir keburu berbunyi.


"Hina-san, bukannya agak bahaya kalau kamu langsung kembali ke kelas dengan penampilan seperti itu?"


"Aku tahu. Nanti akan kurapikan sambil jalan kembali, jadi jangan khawatir!"


Wajahnya yang merona merah serta rambut dan seragamnya yang tampak agak berantakan memberikan kesan yang sedikit berbahaya, tetapi Hina mulai berlari sembari merapikan penampilannya dengan sangat tangkas.


Aku pun meniru langkahnya dengan merapikan seragamku yang berantakan, lalu bergegas mengemas barang-barangku setelah memberi jeda waktu sedikit agar tidak terlihat mencurigakan.



Aku berhasil melewati jam pelajaran paruh kedua meskipun agak lemas karena melewatkan makan siang. Semakin terik harinya, semakin terasa betapa pentingnya arti sebuah makanan bagi tubuh.


Fokusku yang sedari awal memang sudah buyar rasanya menjadi semakin diperparah oleh faktor kekurangan energi. Staminaku terkuras oleh hawa panas. Rasionalku terkikis oleh serangan Hina. Cairan tubuhku berkurang karena berkeringat. Terlalu banyak hal yang hilang dari diriku selama waktu istirahat siang tadi.


Yah, tapi terlepas dari semua itu, berpelukan dengan kekasih memang terasa membahagiakan. Aku juga pernah mendengar info kalau berpelukan dengan orang tercinta bisa meredakan stres. Kenyataannya, alasan kenapa aku tidak menghempaskan Hina secara paksa terlepas dari segala keluh kesanku tentang hawa panas dan lain-lain, kemungkinan besar karena rasa bahagia yang didapatkan dari pelukan itu sungguh luar biasa besar.


Pelukan itu sendiri sama sekali tidak salah. Yang menjadi masalah hanyalah lingkungan sekitar dan keterbatasan waktu yang kami miliki. Lain kali, aku ingin melakukannya di hari libur di mana kami tidak dikejar-kejar oleh waktu, dan tentu saja di dalam ruangan ber-AC yang nyaman.


Sembari memikirkan hal itu, waktu homeroom pun berlalu dan kini telah memasuki waktu pulang sekolah. Seperti biasa, karena aku ingin menggeser waktu kepulanganku agar tidak berbarengan dengan murid-murid lain, aku tidak langsung beranjak dari kursiku.


Jika kami bisa berangkat dan pulang sekolah secara terpisah, itu pasti akan menjadi pilihan yang paling aman, tetapi aku sudah bisa menebak kalau usul itu pasti akan ditolak mentah-mentah olehnya. Dianggap sebagai sosok yang berharga sampai-sampai dia ingin menghabiskan waktu yang singkat itu bersamaku adalah sebuah kehormatan, dan karena aku sendiri juga menghargai waktu kebersamaanku dengan Hina, aku tidak keberatan dengan hal itu.


Untuk saat ini, karena rasa laparku sudah mencapai batasnya dan rasanya tidak akan tertahankan lagi sampai tiba di rumah, aku memutuskan untuk menunggu sambil menyantap makan siangku yang tertunda.


Makan di ruang kelas seperti ini sebenarnya termasuk hal yang tidak biasa bagiku, jadi aku merasa agak tegang. Namun, karena kurasa tidak akan ada orang yang tertarik memperhatikan caraku makan, aku memutuskan untuk makan saja tanpa memedulikannya. Tamagoyaki hari ini juga terasa lezat.


Beberapa saat kemudian, murid yang tersisa di dalam kelas tinggal diriku seorang. Sambil mengunyah makanan, aku melemparkan pandangan ke luar jendela dan melihat anggota klub atletik sedang berlari di lapangan. Karena aku sempat merasakan sendiri betapa payahnya staminaku saat kencan di Tanjung Kekasih (Koibito Misaki) waktu itu, apakah sebaiknya aku juga mulai melatih fisikku sedikit, ya......?


Saat aku sedang memikirkan hal yang sangat tidak mirip dengan pembawaanku biasanya itu, seseorang mendadak berjalan menghampiri mejaku.


Kupikir Hina yang sudah tidak sabar menunggu yang datang, tetapi begitu aku mengalihkan pandanganku kembali dari luar jendela...... yang berdiri di sana adalah seorang siswi yang sama sekali tidak kukenal. Sentakan kaget itu membuat sepotong karaage yang belum sempat terkunyah dengan baik langsung tertelan begitu saja hingga menyumbat tenggorokanku dan membuatku terbatuk-batuk.


"Uhuk! Uhuk!"


"Kamu gak apa-apa?"


"......Maaf."


Aku buru-buru meneguk teh untuk mendorong makanannya ke bawah lalu mengembuskan napas lega. Aku merasa sangat canggung karena telah memperlihatkan penampilan yang begitu memalukan di depan anak perempuan yang baru pertama kali kutemui. Namun di tengah kecanggungan itu, aku mendadak menyadari bahwa aku pernah melihat wajah siswi ini sebelumnya.


(Anak ini...... yang tadi mengobrol dengan Hina......)


Aku sempat melihat sekilas wajahnya saat mengintip ke kelas 2 tadi. Dia adalah salah satu siswi yang sedang asyik mengobrol bersama Hina. Aku tidak tahu namanya. Penampilannya berambut cokelat dan memberikan kesan sebagai anak yang populer. Dan yang pasti, dia adalah teman Hina.


Kira-kira urusan apa yang dimiliki oleh gadis seperti dirinya denganku? Apakah dia datang menyapaku karena merasa iba melihatku makan sendirian di kelas setelah jam pulang sekolah?


"Maaf ya udah bikin kamu kaget. Aku Machida Yuzuki dari kelas 2. Kamu Kirishima Rei-kun...... benar, kan?"


"......Benar, ada urusan apa ya?"


"Hmm? Nggak ada apa-apa kok, aku cuma nyari kamu karena penasaran kamu itu orang yang kayak gimana."


"Nyari aku? Kamu tahu tentang aku?"


"Nggak juga, awalnya gak tahu sama sekali. Tapi...... kamu pacarnya Hina-chan, kan?"


Gadis itu—Machida-san—mengatakan hal tersebut sembari menyunggingkan senyum yang penuh arti. Meskipun sempat terkejut, aku berusaha keras agar tidak memperlihatkan tanda-tanda kepanikan pada ekspresi wajahku.


Nah, reaksi seperti apa yang harus kutunjukkan sekarang? Berpura-pura tidak tahu? Atau memilih untuk mengakuinya dengan jantan?


Ada kemungkinan kalau ucapan tadi hanyalah sebuah jebakan untuk memancingku, tetapi melihat dari cara bertanyanya, dia tampaknya sudah memiliki keyakinan yang kuat.


Setidaknya ini bukan karena dia melihat kami sedang berkencan secara sembunyi-sembunyi. Jika dia bukan sekadar mencurigai adanya hubungan di antara kami melainkan sudah yakin bahwa kami berpacaran, maka berpura-pura tidak tahu justru malah bisa menjadi bumerang.


Melihatku yang tampak sedang kebingungan menimbang jawaban, Machida-san tampak tersenyum lebar menikmati situasi ini. Lagipula, cepat atau lambat aku memang berniat meminta Hina untuk mengumumkan status hubungan kami bahwa dirinya sudah memiliki kekasih.


Rencananya aku ingin mendiskusikannya berdua dulu dengannya sebelum mulai menyebarkannya sedikit demi sedikit. Jadi, entah sekarang atau nanti, situasi seperti ini cepat atau lambat pasti akan terjadi juga.


"......Yah, itu memang benar."


"......Heh—, jadi kamu milih jawaban itu, ya. Kupikir kamu bakal berusaha mengalihkan pembicaraan, tapi ternyata langsung ngaku segampang itu. Padahal kalau kamu tadi coba mengelak, aku udah berniat lapor ke Hina-chan kalau Kirishima-kun kayaknya gak menganggap dia sebagai pacar, lho. Sayang banget."


"Ha, woi......"


"Ahaha, reaksi panik yang bagus! Kalau sampai aku beneran ngaku kayak gitu, pasti bakal repot banget, kan~?"


Anak ini...... apa pun reaksiku, dia sepertinya memang sudah berniat untuk menjahiliku.


Kalau aku mengaku dia akan terus begitu, dan kalau aku mengelak dia akan mengancam akan mengadu pada Hina.


Jika tadi aku memilih untuk menyangkal, aku pasti akan disodorkan pada pilihan yang memberikan daya rusak paling besar bagiku. Kenyataannya, kalau sampai dia mengadu hal seperti itu pada Hina, aku pasti akan berada dalam masalah besar. Sudah terbayang jelas bagaimana Hina akan merajuk dan mengamuk nanti.


"Ah, omong-omong, yang bocorin hal ini itu Hina-chan sendiri, lho."


"......Sudah kuduga."


"Habisnya begini, ya. Hina-chan yang pagi tadi kelihatan lesu banget, entah kenapa setelah istirahat siang berakhir langsung memancarkan aura kebahagiaan yang kentara banget. Ditambah lagi, dia agak berkeringat dan ekspresi wajahnya kelihatan sedikit seksi, jadi aku coba nanya bisik-bisik buat bercanda, 'Kamu habis melakukan hal mesum sama pacarmu, ya?' gitu."


Ah, perasaanku mendadak tidak enak. Tapi di luar itu, cara bertanyanya parah sekali, ya.


"Terus kamu tahu gak dia jawab apa? 'Kami gak melakukan hal mesum kok,' katanya. Setelah itu dia langsung buru-buru menutup mulutnya sambil bilang 'Ah', tapi ya jelas udah telat banget lagian."


Apa-apaan, dah? Ini sudah bukan di level salah ucap lagi. Hal sensitif seperti itu sama sekali bukan sesuatu yang boleh diucapkan karena keceplosan, kan......?


"Nah, setelah melewati berbagai perbincangan karena dia gak menyangkal kalau punya pacar, aku pun menyudutkannya sampai akhirnya berhasil mengorek info tentang kamu. Begitu kronologinya."


"Seriusan......?"


"Serius, sangat, serius banget. Lucu, kan?"


"Bisa-bisanya kamu bilang begitu karena menganggap ini urusan orang lain...... Terus, setelah mengetahui hal itu, apa tujuanmu mendatangi aku? Kalau kamu berniat menyuruhku putus, aku bakal menolaknya."


"Eh, aku gak bakal ngomong kayak gitu, kok. Malahan aku ingin berterima kasih karena kamu udah mau jadian sama Hina-chan."


"......Ah, jadi karena alasan itu."


"Peka juga ya kamu. Aku lega banget akhirnya Hina-chan udah ada yang punya. Mungkin musim semiku juga bakal segera tiba...... walaupun ini musim panasnya udah mau kelar dan bentar lagi masuk musim gugur, sih."


Mengenai hubunganku dengan Hina, kupikir aku hanya akan menerima protes dari orang lain dan tidak akan pernah mendapatkan ucapan terima kasih. Namun, setelah mengingat kembali obrolan para siswi yang sempat kuuping tadi, aku langsung paham duduk perkaranya.


Tampaknya pengaruh dari status Hina yang selama ini dianggap masih jomlo memang sebesar itu.


"Yuzuki-chan! Lagi ngapain, sih!?"


Di saat seperti ini, Hina tiba-tiba datang dengan napas yang terengah-engah. Dia membuka pintu kelas dengan sentakan yang keras, lalu melangkah lebar-lebar menghampiri kami. Wajahnya memasang senyuman, tetapi matanya sama sekali tidak sedang tertawa.


Tapi...... ini kan buah dari perbuatanmu sendiri.


"Aku cuma lagi menyapa pacarnya Hina-chan kok~"


"Apa benar begitu, Rei-kun?"


"......Ya, kurang lebih begitu."


"Kalau begitu sih gak apa-apa...... tapi Yuzuki-chan, bukannya aku udah bilang kalau aku bakal ngenalin dia nanti!?"


"Maaf, maaf. Soalnya aku penasaran banget pacarmu itu orang yang kayak gimana, jadi aku udah gak tahan lagi."


Begitu rupanya, jadi karena itulah dia mencariku.


Aku sempat dibuat merinding ketakutan saat teman Hina tiba-tiba mendatangiku secara langsung...... tapi untuk saat ini, setidaknya aku sudah paham apa yang sebenarnya terjadi.


Kenyataan bahwa hubungan kami sudah bocor memang tidak bisa dihindari...... tapi setidaknya, aku berharap dia bisa memikirkan cara yang sedikit lebih elegan untuk menyampaikannya.


"Hina, apa kamu melakukan kecerobohan ini cuma di depan Machida-san saja?"


Hina mengangguk pelan. Ekspresi wajahnya memancarkan rasa bersalah yang mendalam, tetapi tidak terlihat seolah dia sedang berbohong karena takut dimarahi.


Untuk saat ini, setidaknya aku harus memujinya karena dia tidak membicarakan hal itu dengan suara keras.


"Machida-san, soal masalah ini......"


"Belum kubilang ke siapa-siapa, kok. Lagian, menyimpan rahasia Hina-chan begini rasanya jauh lebih seru dan menguntungkan."


"Yuzuki-chan!?"


"Kami gak melakukan hal mesum kok. Gak~"


"Auuu......"


Dia benar-benar sedang dipermainkan.


Sepertinya kami bakal terus digoda dengan bahan bercandaan ini untuk beberapa waktu ke depan......


Wajah Hina memerah padam sementara dia hanya bisa mengerang pelan sambil megap-megap tanpa bisa berkata-kata.


"Tolong jangan keterlaluan menggodanya. Bakal repot urusannya kalau dia sampai menangis."


"Heeh, repot yang kayak gimana tuh spesifiknya?"


"......Aku berhak untuk diam."


Omong-omong, pihak yang bakal repot setengah mati itu kemungkinan besar adalah aku sendiri. Jadi, tolong ampuni aku dan jangan diteruskan lagi.


"Yah, berhubung aku mau berbaik hati demi pacarnya Hina-chan, hari ini kubiarin sampai di sini dulu deh. Kirishima-kun, kapan-kapan kita ngobrol lagi, ya."


"O-oh......"


"Kalau gitu, Hina-chan, sampai ketemu besok ya~ Ceritain yang banyak lho nanti~"


Sembari meninggalkan kata-kata itu, Machida-san melangkah pergi meninggalkan ruang kelas dengan melompat-lompat kecil sambil bersenandung. Baru hari pertama semester dua dimulai, hari yang padat dan dipastikan bakal membuat segalanya menjadi sibuk ini akhirnya resmi berakhir.


Meskipun sempat diwarnai sedikit kehebohan, setidaknya aku berhasil melewati hari pertama semester dua setelah libur panjang musim panas ini dengan selamat.



Begitu tiba di rumah, aku langsung mandi sebentar untuk membersihkan tubuhku yang terasa lengket oleh keringat agar kembali segar.


Tepat setelah itu, Hina yang juga sudah selesai mandi langsung menagih rutinitas harian kami yang biasa.


Sambil memeluk Hina dari belakang—yang saat ini sedang mengenakan kemeja longgar longgar demi menciptakan impresi gaya "meminjam kemeja pacar"—aku mulai memikirkan rencana kami untuk ke depannya.


"Rei-kun, apa kamu marah?"


"Enggak kok. Tapi kalau kamu mau aku marah, aku bisa saja marah."


"Eh...... kalau gitu gak usah repot-repot, deh."


Hina mulai membuka pembicaraan saat aku sedang menyesap tengkuknya sembari memikirkan harus memulainya dari mana.


Aku tidak perlu bertanya lagi untuk tahu apa maksud dari pertanyaannya tentang apakah aku marah atau tidak. Meski aku sempat terkejut dengan kronologi bagaimana rahasia kami bisa terbongkar, jika ditanya apakah aku marah, maka jawabannya adalah tidak.


"Tapi...... sebenarnya kamu ingin tetap merahasiakannya, kan?"


"Yah, anggap saja ini kesempatan yang bagus. Lagipula kita tidak akan bisa menyembunyikannya selamanya."


Melihat sikap Hina hari ini, tidak sulit bagiku untuk membayangkan betapa melelahkannya menjalani kehidupan sekolah sembari menyembunyikan status hubungan kami. Semakin aku menjaga jarak demi menuruti egoku, maka efek timbal baliknya justru akan membuat gejala kecanduan Hina menjadi semakin tidak terkendali.


Jika situasi seperti hari ini terus berlanjut, entah sampai kapan rasionalku akan sanggup bertahan.


Selama ini, aku berpikir bahwa kami harus menyembunyikan hubungan ini demi kedamaian hidup di sekolah, namun kenyataannya justru sebaliknya. Aku menyadari betul bahwa jika aku menginginkan kedamaian, kami justru harus membuka hubungan ini secara terang-terangan.


"Kalau begitu, apa beneran gak apa-apa?"


"Beneran."


"Mulai sekarang, apa boleh kita berangkat ke sekolah bareng-bareng?"


"Boleh saja."


"Apa boleh aku nemuin kamu setiap jam istirahat?"


"Aku juga bakal pergi buat ngobrol sama kamu."


"Apa kamu bakal cium aku kapan saja setiap aku mau?"


"Kalau yang itu enggak."


Dia mencoba menyelipkannya ke dalam obrolan, tetapi khusus untuk hal yang satu itu aku harus menegaskannya dengan jelas.


Aku hanya setuju untuk tidak menolak interaksi di dalam lingkungan sekolah, bukan berarti aku akan menuruti semua keinginannya tanpa batas. Jadi, jangan memasang wajah kecewa seperti itu. Mari kita berkomitmen untuk menjaga kesopanan selama di sekolah, ya.


Maka dari itu, kami akhirnya memutuskan untuk menjalani hubungan ini ke depannya tanpa menyembunyikannya lagi.


Lagipula, seketat apa pun kami berusaha menyembunyikannya, cepat atau lambat kedok kami pasti akan terbuka juga seperti kecerobohan yang Hina lakukan di depan Machida-san tadi. Daripada hubungan kami menyebar melalui rumor yang tidak disengaja dan membuat kami berada di posisi pasif, rasanya tidak ada salahnya jika kami yang mengambil langkah duluan.


Sekecil apa pun rumor yang berembus, orang yang mendengarnya mungkin saja akan langsung mendatangi kami secara langsung seperti yang Machida-san lakukan hari ini, jadi sepertinya akan lebih baik jika kami sudah menyiapkan mental dengan asumsi seperti itu. Namun, kalau dipikir-pikir kembali......


"Machida-san, ya......"


"Ada apa dengan Yuzuki-chan?"


"Enggak, aku cuma merasa kalau ini sudah lama banget sejak terakhir kali aku ngobrol dengan orang lain di sekolah."


"......Apa secara gak langsung kamu mau bilang kalau aku ini bukan manusia melainkan sesuatu yang lain?"


"Maaf, kalimatku kurang lengkap. Maksudku, karena biasanya aku ini murid kuper yang penyendiri (bocchi), jadi momen tadi itu rasanya sudah lama banget gak terjadi."


Ini bukan karena faktor liburan musim panas atau apa, melainkan karena statusku sebagai seorang penyendiri yang membuatku pada dasarnya hampir tidak pernah mengobrol dengan orang lain.


Karena reputasi itu sudah melekat kuat pada diriku, orang-orang di sekitar jadi tidak terlalu memedulikanku dan itu sangat membantu bagiku. Namun, karena ini adalah pertama kalinya aku mengobrol dengan orang lain selain Hina di sekolah, jujur saja aku merasa cukup tegang.


"Hubungan kalian sepertinya dekat banget, ya, sampai-sampai bisa membicarakan hal yang cukup vulgar seperti itu."


"Iya, benar. Nama marga Mikami berawalan huruf 'Mi' dan Machida berawalan 'Ma', jadi posisi tempat duduk kami selalu depan-belakang dan kami sering banget ngobrol."


"Berdasarkan urutan nomor absen, ya. Wajar sih kalau itu jadi awal mula kalian bisa akrab."


Meskipun aku tidak tahu secara mendetail tentang lingkungan pertemanan Hina, melihat dia memanggil Machida-san dengan nama depannya, aku bisa tahu kalau jarak hubungan mereka memang cukup dekat.


Mungkin karena dia adalah teman yang bisa dipercaya, makanya Hina sampai bisa melakukan kecerobohan seperti itu.


"Waktu aku gak ada tadi, apa saja yang kamu obrolin sama Yuzuki-chan? Gak cuma sekadar menyapa, kan?"


"Bagi dia, momen tadi itu sepertinya benar-benar cuma sebatas perkenalan wajah saja. Kesannya dia cuma datang buat melihat sosokku secara langsung."


"Dia gak coba tebar pesona sama kamu, kan?"


"Nggak kok, sama sekali enggak. Lagipula, anggap saja kalau dia beneran mencoba melakukannya, aku tidak akan goyah."


"Kalau begitu sih bagus. Pokoknya kamu harus terus terpesona sama aku selamanya, ya."


"Itu sih tidak perlu ditanya lagi."


Saat ini, aku hanya menganggap Machida-san sebatas teman Hina saja. Namun, jika dalam kondisi baru pertama kali kenal dan sudah tahu kalau aku berpacaran dengan Hina dia tetap mencoba tebar pesona kepadaku, aku mungkin akan sedikit memandangnya rendah. Lagipula, hatiku ini sudah lama dijajah sepenuhnya oleh seseorang, jadi tidak ada ruang tersisa bagi orang asing yang baru pertama kali kutemui untuk masuk.


Akan tetapi, melihat Hina yang merasa cemas hingga menanyakan hal seperti itu membuat dirinya terlihat sangat manis. Apakah perasaan seperti ini yang disebut dengan cemburu?


Sebagai pria, aku merasa senang karena bisa merasakan betapa besarnya dia mencintaiku...... Ah, kalau dipikir-pikir, bukankah tadinya aku berniat untuk menanyakan alasan awal dia menyukaiku?


Gara-gara ledakan kecerobohan Hina yang terlalu besar tadi, aku sampai benar-benar melupakannya.


"Hei, Hina. Boleh aku tanya sesuatu yang agak aneh?"


"Iya, ada apa?"


"Kenapa sih kamu bisa suka sama aku?"


"......Mendadak sekali, ya. Apa Yuzuki-chan mengatakan sesuatu yang aneh kepadamu?"


"Enggak, bukan begitu. Tadi di kelas aku sempat menguping obrolan cinta anak-anak perempuan. Soal kriteria pria bertubuh tinggi, tampan, dan semacamnya...... Jadi aku penasaran apa alasan spesifiknya? Soalnya, kamu terhitung cukup agresif mendekatiku sejak awal-awal kita bertemu, kan? Makanya aku berpikir, apa saat itu ada sesuatu pada diriku yang berhasil menarik perhatianmu."


Sekarang kami memang sudah saling mencintai, tetapi bagaimana dengan awalnya bagi Hina? Apa yang memicu tumbuhnya perasaan itu kepadaku?


Ketika aku menanyakan hal itu dengan agak ragu-ragu, Hina yang berada di dalam pelukanku mulai menggeliat. Dia melepaskan diri lalu mengubah posisi tubuhnya.


Sama seperti saat istirahat siang tadi, dia berbalik menghadapku, lalu melipat kakinya dan duduk bersimpuh di atas pahaku.


"Biar kuingat. Hari pertama kita bertemu saat itu...... ditolong olehmu tentu saja menjadi salah satu alasannya, tapi yang paling membekas di ingatanku adalah kejadian setelahnya...... mungkin?"


"Setelahnya? Memangnya aku melakukan sesuatu?"


"Enggak, kamu tidak melakukan apa-apa. Rei-kun pergi begitu saja tanpa memedulikanku. Saat itu...... ekspresi wajahmu yang seolah sama sekali tidak menganggapku ada dan kelihatan tidak tertarik sedikit pun, justru memberikan kesan yang sangat baik bagiku."


Sembari berkata demikian, Hina tersenyum dengan lembut.


Aku sempat kebingungan dan tidak paham di bagian mana hal itu bisa memberikan kesan yang baik. Seolah menikmati reaksiku yang kebingungan, Hina mengusap pipiku dengan lembut.


"Meski agak aneh kalau aku mengatakannya sendiri, tapi aku ini termasuk perempuan yang populer, kan?"


"Ya, kalau itu sih...... benar."


"Waktu awal masuk sekolah dulu jumlahnya banyak banget, tapi hampir semua orang menyatakan cinta dengan alasan jatuh cinta pada pandangan pertama. Jujur saja, aku muak. Kami bahkan belum pernah mengobrol dengan layak, tapi mereka ingin pacaran denganku hanya karena aku cantik. Mereka cuma melihat penampilan luarku saja. Di saat aku mulai merasa lelah dengan semua hal seperti itu...... aku bertemu dengan Rei-kun."


Kalau dipikir-ikira kembali, apa yang dikatakannya memang benar.


Banjir pernyataan cinta pada pandangan pertama saat baru masuk sekolah pasti sangat menjemukan baginya. Dimintai pacaran hanya berdasarkan penampilan luar tanpa benar-benar mengenal pribadinya. Jika hal seperti itu terus terjadi secara beruntun, wajar saja kalau muncul rasa muak satu atau dua kali.


"Kamu tidak menyebutkan namamu, tidak mengungkit-ungkit masalah budi, dan saat aku mencoba membalas kebaikanmu pun kamu malah kabur...... Apa kamu masih ingat?


Rei-kun bahkan sempat berniat menyelesaikan urusan balas budi kepadaku cuma dengan sepotong roti, lho?"


"Ah, pernah ada kejadian seperti itu juga, ya......"


Rasanya sangat bernostalgia.


Pertemuan kami dan awal mula dari hubungan ini. Berawal dari ketidaksengajaan diriku saat menolong Hina, penjajahan Hina terhadap hidupku pun dimulai sejak saat itu.


"Berada di dekat Rei-kun rasanya sangat nyaman. Tidak ada niat terselubung, dan kamu melihatku...... melihat Mikami Hina apa adanya tanpa melalui filter yang aneh-aneh."


"Benarkah begitu?"


"Kalau kamu punya niat terselubung, kamu pasti bisa memanfaatkan momen balas budi itu untuk menuntut ini dan itu dariku."


"......Benar juga, sih."


Seorang gadis cantik yang berada di kasta tertinggi sekolah dan dianggap bagai bunga di puncak gunung (takane no hana). Pasti ada sejumlah orang yang mendekatinya hanya demi mengincar status tersebut. Bukan mendekatinya sebagai Mikami Hina, melainkan sebagai pacar atau teman dari sang bunga di puncak gunung. Orang-orang yang mencoba mendekat demi perhitungan untung rugi seperti itu......


"Waktu yang kita habiskan bersama sampai aku bisa membalas kebaikanmu memang tidak begitu lama. Tapi, berada di dekatmu rasanya sangat nyaman, tenang, dan aku bisa menjadi diriku yang apa adanya. Karena itulah, aku berpikir ingin bersamamu lebih lama lagi. Aku ingin menjadi lebih akrab denganmu."


"Wah, sebuah kehormatan bagiku."


"Sisanya...... cuma sebatas intuisi perempuan saja."


"Intuisi?"


"Iya. Aku mendapat firasat kalau aku bisa bersamamu, aku pasti akan bahagia. Kasarnya, itu seperti sebuah wahyu. Wahyu yang menyuruhku untuk menangkap Rei-kun."


"......Dan sesuai firasatmu, kamu beneran menangkapku dengan sangat rapat, ya. Terus...... apa intuisimu itu terbukti benar?"


"Iya, tepat sasaran! Karena ternyata kamu adalah orang yang sangat menyayangiku seperti ini...... Aku yakin tidak salah lagi kalau ke depannya kamu akan membuatku menjadi jauh, jauh lebih bahagia lagi!"


Aku tanpa sadar terpesona melihat senyumannya yang dipenuhi dengan rasa bahagia yang meluap-luap. Kemudian, napasku mendadak terenggut oleh bibirnya yang perlahan mendekat.


"Oleh karena itu, mohon bantuannya untuk seterusnya, ya!"


"Ah, iya, sama-sama. Mari kita berbahagia bersama."


Kami saling mendekap erat, lalu bertukar kecupan yang terasa lebih lama dan lebih dalam daripada sebelumnya.


Sembari meresapi rasa bahagia ini, aku ingin memupuknya bersama-sama agar menjadi sesuatu yang jauh lebih besar lagi.


Sembari menanamkan kembali pemikiran itu di dalam hati, aku terus merasakan kehangatan dan kelembutan dari bibir Hina.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close