NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Guuzen Tasuketa Bishoujo ga Naze ka Ore ni Natsuite Shimatta ken ni Tsuite Volume 3 Prologue

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Prologue

Kebahagiaan di Awal Pagi

 "Ugh, mmm...?"


Aku terbangun. 


Itu artinya, tanpa sadar aku ketiduran semalam.


Kalau diingat-ingat lagi, sepertinya aku mulai mengantuk sejak tadi malam, tepatnya saat mengantar orang tua Kirishima-san pulang dan sedang merapikan rumah. Kemudian, Kirishima-san menggendong dan mendekapku... Rasa aman yang luar biasa langsung menyelimutiku, lalu... apa yang terjadi setelah itu?


Ah, benar juga. Kami sedang membicarakan soal hadiah. Aku tidak sempat menyiapkan hadiah yang tepat waktu untuk hari ulang tahun Kirishima-san. 


Memang benar kalau dibilang waktunya tidak cukup, tapi alasan sebenarnya adalah karena aku tidak tahu harus memberi apa. Padahal, meski sedikit, aku punya waktu untuk memilih hadiah. Namun, karena tidak ada barang yang terasa pas di hati, sementara aku juga tidak ingin memilihnya secara asal... akhirnya hari ulang tahunnya tiba tanpa ada hadiah yang siap.


Untungnya aku sempat membeli pita pembungkus. Jadi... jika keadaan mendesak, aku berniat menggunakan rencana cadangan terakhir. Tapi tampaknya hal itu tidak diperlukan lagi.


Bahkan tanpa aku memintanya, dia sudah menganggap diriku sebagai hadiah terbaik. Hanya dengan didekap erat penuh kasih sayang olehnya, aku merasa begitu gembira dan bahagia—seolah-olah akulah yang sedang menerima hadiah. Menjadikan lengan dan tubuh Kirishima-san sebagai pita pembungkus, dan aku adalah hadiah yang terbalut di dalamnya. Kalau dipikir-pikir sekarang, itu adalah gambaran yang sangat indah. Lain kali, aku ingin dipeluk seperti itu dalam kondisi kesadaran yang benar-benar penuh.


Meski aku bisa mengingat sampai di bagian itu, ingatan setelahnya terasa samar. Mengingat sekarang aku berada di tempat tidur, sudah bisa ditebak kalau aku pasti tertidur. Sungguh disayangkan aku malah tidur lebih dulu di hari ulang tahun Kirishima-san.


Karena merasa kesal pada diri sendiri... untuk saat ini, aku akan memeluk Kirishima-san yang masih tidur di sampingku saja.


Di sini, aku ingin membagikan satu fakta unik tentang Kirishima-san. Ketika Kirishima-san sedang tidur, jika kita mendekatinya, kita pasti akan langsung tertangkap olehnya. 


Lihat, seperti ini contohnya. Lengannya akan langsung terjulur dan menarikku ke dalam pelukan yang erat. Luar biasa sekali, bukan?


Aku sangat suka sensasi ini—saat dipeluk dengan sedikit kuat hingga tidak bisa bergerak. Rasanya seperti ditunjukkan perbedaan kekuatan fisik kami dan diberi tahu bahwa perlawanan apa pun akan sia-sia, yang sukses membuat jantungku berdebar kencang. Menjadi guling pelukan Kirishima-san benar-benar sebuah kebahagiaan.


Andai saja waktu bisa berhenti... Tidak, tidak, meski ini adalah momen yang sangat indah, aku juga butuh dia bangun dengan segar agar bisa memanjakanku.


"Mmm...? Mikami-san?"


"Selamat pagi."


"Selamat pagi. Apa aku melakukannya lagi?"


"Tidak apa-apa, kok. Lagipula aku sendiri yang menempel padamu. Jangan dipikirkan, dan tolong peluk aku lebih erat lagi."


"...Kalau begitu, akan kulakukan."


"Ah, mmm..."


Kirishima-san saat masih setengah tidur memang memelukku dengan kuat tetapi lembut, membuatku merasa sangat berharga. Namun, didekap lebih erat seperti ini juga terasa sangat menyenangkan. Pagi hari yang sangat membahagiakan.


"Begitu bangun langsung terasa penuh gairah, ya. Manis sekali."


"Memangnya tidak boleh? Lagipula, walau kamu bilang tidak boleh, aku tidak akan melepaskanmu."


"Aku tidak akan kabur, kok. Malahan, akulah yang tidak akan melepaskanmu."


Dalam situasi ini, yang tertangkap sudah pasti adalah diriku. Namun, karena aku juga sedang berpegangan erat pada tubuh Kirishima-san, sebenarnya aku juga sedang menangkapnya, tahu? 


Yah, pelukan eratku ini pasti bisa dilepaskan dengan mudah jika Kirishima-san memang berniat melakukannya. Tapi karena Kirishima-san orang yang lembut, dia selalu menemaniku sampai aku merasa puas.


Hari ini, aku ingin menikmati kebahagiaan yang samar dan nyaman ini lebih lama lagi—saat kami sudah terbangun namun kesadaran belum sepenuhnya terkumpul.


"Apa ada rencana hari ini?"


"Tidak, tidak ada rencana khusus... Apa ada sesuatu yang ingin kamu lakukan?"


"Aku ingin tidur lagi bersama Mikami-sa... bersama Hina seperti ini."


"Tentu saja boleh. Mari kita tidur sampai puas."


Kegembiraan langsung membuncah di hatiku saat proposal itu dibisikkan dari mulutnya—tepat setelah aku berharap Kirishima-san merasakan hal yang sama. Mengetahui bahwa Kirishima-san ingin tetap seperti ini sama sepertiku membuat sudut bibirku tanpa sadar melengkung ke atas.


Tidak ada salahnya kan, sesekali menikmati hari seperti ini?


Meskipun aku selalu berusaha menjaga gaya hidup teratur selama liburan musim panas, bermalas-malasan dan menikmati tidur yang panjang seperti ini sesekali pasti dimaafkan. Lagipula, tidak ada siapa pun di sini yang akan memarahi kami.


Jika Kirishima-san menginginkannya dan aku menyetujuinya, maka keputusan mayoritas langsung tercapai dalam sekejap. Malahan, ini adalah istirahat yang memang kami butuhkan. Karena aku dan Kirishima-san tampaknya agak kelelahan, kami harus beristirahat dengan benar untuk memulihkan stamina. Anggap saja ini sebagai langkah antisipasi agar tidak jatuh sakit karena cuaca panas musim panas.


"Kalau begitu, tetap peluk aku seperti ini dengan benar, ya?"


"...Aku tidak bisa menjamin tindakanku saat tidur."


"Rei-kun tidak akan melepaskanku bahkan saat tidur, kan?"


"...Aku akan berusaha sebaik mungkin, tapi jangan terlalu berharap, ya?"


"Aku akan sangat berharap, lho."


Di bagian itu, sebenarnya aku ingin dia mengiyakannya dengan keren. Tapi sifat jujurnya yang seperti itu juga sangat mencerminkan kepribadian Kirishima-san, dan aku menyukainya.


Tidak apa-apa, kok. Karena kalaupun Kirishima-san mencoba menjauh, aku yang tidak akan melepaskannya.


Saat aku membuka mata nanti... tolong peluk aku erat seperti ini lagi, dan biarkan aku merasakan kebahagiaan saat baru terbangun sekali lagi, ya?



Setelah tidur lagi dalam waktu yang cukup lama, aku kembali terbangun saat hari sudah melewati tengah hari.


Kekasih tercintaku masih mendekam dengan pasrah di dalam pelukanku. Aku pun merasa lega karena itu berarti aku tetap menjaga janjiku dengan baik bahkan saat sedang tidur.


Hina—maksudku Mikami-san... padahal hari sudah siang begini, tapi dia masih tertidur dengan sangat lelap.


Yah, aku sendiri juga ikut tidur lagi sampai selembar begini, jadi aku tidak berhak mengomentari orang lain. Tapi rasanya, menghabiskan waktu hanya beberapa jam saja dengan monster berisik yang penuh energi (Ibuku) kemarin benar-benar menguras seluruh tenagaku.


Aku yang berulang tahun saja rasanya selelah ini. Tentu kelelahan ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Mikami-san yang sudah menyiapkan makanan, menghadapi serbuan Ibu, hingga akhirnya ambruk ketiduran karena saking lelahnya.


Sungguh... terima kasih atas kerja kerasmu.


"Euuungh..."


Sambil memandangi wajah tidurnya yang menggemaskan, jariku tanpa sadar menyentuh pipinya yang tampak empuk.


Kenyal sekali. Pipi ini begitu lembut sampai membuatku berpikir apakah bagian tubuh ini memang diciptakan khusus untuk dicubit.


Mengenai diriku yang akhirnya keasyikan memainkan pipinya yang kenyal secara tidak sadar... mari kita salahkan saja pipi penyihir milik gadis ini yang terlalu menggoda.


Saat aku sedang asyik bermain seperti itu selama beberapa saat, Mikami-san mulai menggeliat pelan. Dia membuka kelopak matanya perlahan, lalu mata kami pun saling bertemu.


"...Rei-kun, kamu terlalu banyak main-main, lho."


"Maaf. Apa aku membangunkanmu?"


"Kalau diremas-remas dengan cara yang nakal begitu, mana mungkin aku tidak bangun. Jadi... bagaimana? Apa kamu sudah puas menikmati pipiku?"


"...Terasa sangat lembut."


"Begitu, ya. Kalau begitu syukurlah."


Aku tahu tidak baik membangunkan seseorang yang sedang kelelahan, tapi aku tidak bisa menolak gaya tarik misterius dari pipinya itu. 


Maafkan aku. Oh, dan aku pasti akan melakukannya lagi nanti.


"Hari sudah siang, tapi... selamat pagi. Omong-omong... bukankah ada sesuatu yang harus Rei-kun lakukan kepadaku?"


"Minta maaf?"


"...Kalau yang itu sudah tidak perlu. Ayolah, bukankah ada hal lain? Seperti kecupan selamat pagi, atau ciuman selamat pagi, atau mungkin... sebuah kecupan manis di pagi hari?"


"Semuanya sama saja, tahu."


Pacarku yang sedang meminta ciuman selamat pagi ini benar-benar terlalu imut.


Ya, meskipun dia menggunakan istilah yang berbeda-beda, esensi dari permintaannya tetaplah sama, dan hal itu justru menunjukkan betapa pentingnya hal tersebut bagi dirinya.


Tentu saja, saat diminta dengan tatapan mata yang mendongak manja seperti itu, aku tidak punya pilihan lain selain menurutinya. Aku menyentuhkan jariku ke dagu Mikami-san, lalu mendekatkan wajahku perlahan. Tepat pada saat itu, Mikami-san tiba-tiba mengeluarkan suara seperti baru saja teringat sesuatu.


"Ah."


"...Ada apa?"


"Tolong sekalian rapel untuk bagian saat bangun pertama kali tadi pagi, dan bagian ucapan selamat tidur saat kita mau tidur lagi tadi, ya."


Meminta rapelan sampai ke momen yang sudah lewat... kekasihku ini benar-benar luar biasa.


Tapi yah, kurasa semakin banyak justru akan membuat kami semakin bahagia. Sebagai catatan, ciuman kami akhirnya tidak berhenti hanya pada hitungan ketiga untuk selamat pagi, selamat tidur, dan selamat pagi lagi.



Setelah selesai menyantap makan siang yang kami sebut sebagai sarapan yang kesiangan, sekarang aku sedang membuka hadiah ulang tahun berupa game pemberian Ayah dan bersiap untuk menyalakannya.


Atas permintaan Mikami-san, kami memutuskan untuk memainkannya bersama... entah bagaimana jadinya nanti.


"Ternyata ada banyak jenis kasetnya, ya. Yang mana rekomendasi dari Rei-kun?"


"Untuk sementara, bukankah lebih baik memilih game yang cara memainkannya tidak terlalu sulit?"


Jika itu Mikami-san, aku punya gambaran kalau dia akan langsung bisa memainkannya dengan mahir meskipun aku memberinya game yang sulit. Namun, demi mengantisipasi kemungkinan kalau dia ternyata tidak pandai bermain game, aku menyarankan game yang mudah terlebih dahulu sebagai langkah aman.


"Kalau begitu... mari kita coba yang ini saja."


"...Yang itu, ya? Kebetulan aku pernah memainkan yang itu sebelumnya, apa kamu tidak apa-apa?"


Kaset game yang diambil oleh Mikami-san ternyata adalah fighting game yang cukup intens. Karena aku pernah memainkan seri sebelumnya, kurasa aku bisa langsung mengembalikan insting bermainku setelah mencobanya sedikit... tapi bagaimana dengan Mikami-san?


"Heh~ ternyata jurus yang keluar bisa berubah tergantung dari kombinasi tombol yang kita tekan, ya... Kelihatannya menarik."


Sambil memperhatikan Mikami-san yang sedang membaca buku panduan dengan saksama—yang memperlihatkan betapa serius kepribadiannya—aku mulai menyiapkan game tersebut.


Televisi dan konsol game dinyalakan, musik yang ceria mulai mengalun, dan video pembuka pun muncul di layar.


"Mau mencoba bertarung melawan komputer dulu untuk melatih instingmu?"


"Benar juga. Karena tampaknya setiap karakter memiliki jurus yang berbeda, aku ingin mencari karakter yang paling mudah untuk dikendalikan terlebih dahulu."


Yah, langsung bertarung satu sama lain dan bermain secara acak juga pasti akan seru. Tapi Mikami-san tampaknya tipe orang yang lebih suka bertarung dengan serius.


Untuk saat ini, mari kita lihat kemampuannya saat dia membiasakan diri melawan komputer.


"Rei-kun, aku akan memulainya, jadi tolong ambil posisi tetapmu."


"Iya, iya."


Bahkan saat bermain game pun dia tetap memilih posisi duduk seperti ini... Yah, aku yang bisa langsung paham apa maksudnya saat dia bilang "posisi tetap" juga sama sajanya, sih.


"Kalau begitu, aku coba mainkan, ya. Kalau ada saran atau apa pun, tolong langsung beri tahu aku."


"Dimengerti."


Setelah mengatakan itu, Mikami-san mulai menggerakkan jari-jarinya di atas pengontrol game dengan bunyi klik-klik yang ritmis untuk memulai pertarungan.


Lawannya adalah komputer dengan tingkat kesulitan normal.


Meski begitu, kecuali jika terjadi sesuatu yang luar biasa, dia tidak akan kalah. Ini akan menjadi babak pertarungan untuk memastikan performa karakter serta kombinasi tombol jurus.


Sesuai dugaanku, Mikami-san bermain sambil mencoba seluruh kombinasi tombol satu per satu. Karena dia bersandar di dadaku, aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya. Namun, dia melakukannya dengan sangat serius. Rasanya dia bukan sedang bersenang-senang, melainkan sedang belajar.


Lagipula, dia sebenarnya sangat hebat. Gerakan jari-jarinya sangat lincah sampai-sampai tidak terlihat seperti seseorang yang baru pertama kali bermain, dan dia juga tidak melakukan kesalahan sama sekali saat memasukkan kombinasi tombol.


"Ah... lawannya sudah kalah. Padahal masih ada beberapa hal lain yang ingin kucoba..."


Apakah aku harus memujinya karena berhasil mengalahkan komputer dengan tingkat kesulitan normal dalam sekejap, lalu terlihat kecewa setelahnya?


"Kamu boleh main sendiri dulu sampai bisa mencoba semua hal yang kamu inginkan, kok."


"Begitu, ya. Kalau begitu, satu babak lagi...!"


Meskipun aku berkata demikian, melihat orang lain bermain rasanya selalu membuat kita ingin ikut bermain juga, bukan? Apalagi saat melihat cara Mikami-san mengendalikan pengontrol game-nya, entah mengapa aku merasa terpicu... Aku jadi ingin menggenggam pengontrol game dan ikut bermain.


Tepat saat aku berpikir harus melakukan sesuatu dengan tanganku yang sudah mulai gatal ini... tampak punggung Mikami-san yang sedikit membungkuk ke depan. Bagaikan tersedot oleh telinga yang mengintip dari balik rambut hitamnya yang indah, tanganku pun terulur dengan sendirinya.


"Hyaaa?!"


Mikami-san mengeluarkan suara yang sangat imut, mungkin karena terkejut karena tiba-tiba disentuh. Akibat hal itu, tampaknya dia melakukan kesalahan saat memasukkan kombinasi tombol, sehingga karakternya bertubi-tubi menerima serangan dari musuh.


"A-A... Apa yang kamu lakukan?"


"Tidak, tanganku tidak bisa diam, jadi tidak sengaja... Kebetulan ada pengontrol game di posisi yang pas, makanya tanganku refleks terulur."


"Telingaku bukan pengontrol game, tahu... Ah, tunggu... ah, ahhh!"


"Wah, responsnya bagus sekali. Sensitivitasnya tinggi dan kondisinya tampak sangat baik."


Saat aku menggerak-gerakkan jariku secara memutar seperti sedang memutar tombol analog, telinganya tampak berkedut merespons sentuhanku, dibarengi dengan suara desahan kecil yang lolos dari bibirnya. Jika ini adalah pengontrol game yang sudah lama dipakai, responsnya pasti akan memburuk, tetapi yang satu ini memiliki sensitivitas yang sangat luar biasa.


"Nngh... Ah, kan... jadinya aku kalah, kan!"


"Kamu harus tetap fokus, dong."


"Muuu, jangan menjahiliku terus!"


"Iya, iya, aku minta maaf. Jadi, tolong jangan menyundulku begitu."


Sundulan kepala Mikami-san yang mendarat di dadaku menunjukkan sedikit rasa kesalnya karena menderita kekalahan telak akibat campur tanganku. Karena serangan ini memiliki daya rusak yang lumayan tinggi, aku mencoba mengoperasikan "pengontrol game" yang berupa daun telinganya untuk menurunkan daya serangannya—dan seketika itu juga, serangannya langsung berhenti total.


"Nngh... Itu... curang namanya...!"


"Hina, telingamu sensitif sekali, ya. Imut."


"Hyan... Sudah, ah! Yang itu tidak boleh. Itu pelanggaran!"


"Iya, iya, aku mengerti."


Karena dia tampaknya akan benar-benar merajuk jika aku meneruskannya, aku memutuskan untuk menyudahinya sampai di sini. Saat tanganku terlepas, daun telinganya sudah sewarna merah padam.


"Awas, ya! Aku pasti akan menghajarmu sampai babak belur di game dan memberimu hukuman!"


"...Tolong kasihanilah aku, ya."


"Akan kuhancurkan kamu tanpa ampun!"


Setelah itu, kami pun beralih ke babak pertarungan satu lawan satu, dan aku benar-benar dihajar sampai babak belur olehnya. Aku sama sekali tidak menyangka dia bisa menjadi seahli ini dalam waktu yang sesingkat itu... 


Tampaknya aku telah memberinya terlalu banyak waktu untuk berlatih. Alhasil, aku harus menerima bertubi-tubi hukuman dari Mikami-san... Namun, karena hukuman dari Mikami-san pada dasarnya terasa seperti sebuah hadiah bagi diriku, hal itu sama sekali tidak menjadi masalah.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close