Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 5
Latihan Pratinjau Menuju Kebahagiaan
“Nn......”
Keesokan harinya. Sebuah pagi yang cerah dan menyenangkan menyambutku dengan mata yang langsung terasa segar saat terbangun.
Aku tidak mengalami hal yang biasa terjadi seperti tipe orang yang tidak bisa tidur kalau suasananya berubah atau bantalnya diganti, dan aku benar-benar bisa tidur nyenyak sampai pagi.
Saat melirik ke samping, tampaknya Hina masih tertidur, dan dia baru saja membalikkan badan menghadap ke arahku. Melihat sosoknya yang seperti itu, tanpa sadar aku langsung membuang muka.
Karena dia sedang tidur, dia pasti tidak sengaja melakukannya untuk mengincarku, tetapi yukata-nya tersingkap hingga berada dalam kondisi yang berbahaya.
Meskipun ini murni karena faktor ketidaksengajaan, pemandangan di pagi hari ini benar-benar terlalu kuat rangsangannya.
Begitu aku menyelimutinya dengan kasur lantai agar tidak makin kelihatan...... mungkin karena tindakan itu membuatnya terbangun, Hina membuka matanya sambil menggeliat pelan.
"......Selamat pagi."
"Selamat pagi. Maaf ya, apa aku membuatmu terbangun?"
"Tidak kok, aku terbangun secara alami. Tidurku sangat nyenyak."
"Syukurlah kalau begitu."
Karena aku sendiri tertidur pulas sampai pagi, aku tidak tahu bagaimana kondisinya selama tidur.
Aku sempat berpikir ada kemungkinan dia akan sulit tidur karena lingkungannya berubah, tetapi Hina tampaknya juga tertidur lelap sejak awal dan itu adalah hal yang paling melegakan.
"Ah, minta ciuman selamat paginya, dong."
Hina mendudukkan tubuhnya demi meminta ritual rutin saat bangun tidur. Saat itulah selimut yang tadi kupakaikan melorot, mengekspos sosoknya yang berbalut *yukata* yang tersingkap. Namun, Hina-san tampaknya tidak menyadari hal itu dan terus menagih ciuman selamat paginya.
"Hina, rapikan dulu bagian depannya......"
"......Jangan dipikirkan."
Sudah kuduga dia akan menjawab begitu.
Padahal sedikit saja rasa malu...... ah, rasanya percuma saja mengatakannya sekarang.
Jika di balik yukata-nya dia tidak mengenakan apa-apa, aku pasti harus mengatakannya dengan lebih cerewet. Namun, fakta bahwa aku malah menganggapnya masih aman hanya karena dia mengenakan pakaian dalam membuatku takut pada diriku sendiri.
Ini pasti contoh penggunaan teknik negosiasi dengan mengajukan permintaan besar yang pasti ditolak agar permintaan kecil berikutnya dikabulkan yang paling tepat.
Sangat berbeda jauh dengan teknik andalan Hina yang merupakan kebalikannya, yaitu teknik yang hanya terus-menerus menaikkan standar permintaannya saja.
Selagi aku melamun kebingungan, Hina langsung memelukku erat.
"Kalau kamu terganggu karena bagian dalamnya kelihatan, solusinya tinggal menempel erat begini saja supaya tidak kelihatan, kan!"
"......Itu kan cuma penanganan sementara. Kalau kamu menjauh juga bakal kelihatan lagi."
"Kalau begitu, artinya aku tinggal jangan menjauh saja, kan."
"......Kalau begitu, semua rencana agenda hari ini bisa batal total dan malah berubah jadi rencana maraton berpelukan seharian."
"......Kalau itu sih aku keberatan."
Jika untuk urusan ini dia kembali menjawab dengan kalimat "jangan dipikirkan", aku benar-benar akan angkat tangan. Namun, syukurlah karena Hina tampaknya juga sangat menantikan rencana agenda untuk hari ini.
"Kalau begitu, rapikan pakaianmu dengan benar."
"......Ciuman selamat paginya dulu."
"Iya, iya, aku paham."
Karena dia terus mendesakku dengan buru-buru, aku pun mengecup bibirnya. Sensasi bahagia dan kehangatan yang tercipta langsung memenuhi hatiku.
"Terima kasih banyak. Kalau begitu, mari kita rapikan sesuai janji."
"Lakukanlah."
"Ah, atau mau Rei-kun saja yang merapikannya? Atau karena toh nanti kita juga akan berganti pakaian, mau langsung dilepaskan saja juga boleh, lho?"
"Tentu saja tidak boleh, kan?"
Bisa-bisanya dia malah berinisiatif untuk menanggalkan pakaiannya lagi seperti itu......
Kalau pun mau melakukannya, kuharap dia menggunakan godaan yang sedikit lebih sehat...... tapi bagi Hina, hal ini mungkin sudah merupakan hasil kompromi yang cukup besar darinya.
"Karena toh nanti akan dilepas juga, kalau begitu kita langsung mandi pagi saja! Aku masuk duluan untuk menunggu, ya."
"Baiklah."
Pada akhirnya, Hina memutuskan untuk langsung melepas saja yukata-nya tanpa merapikan bagian yang tersingkap terlebih dahulu, lalu bergegas menuju ke ruang ganti dengan membawa pakaian ganti.
Ujung-ujungnya aku jadi dipaksa untuk ikut mandi di pemandian terbuka pagi-pagi, tetapi karena aku juga penasaran ingin merasakan berendam sambil menikmati pemandangan di pagi hari, jadi momen ini terasa pas sekali.
◇
"Sarapan paginya juga enak sekali, ya."
"Benar-benar lezat."
Setelah selesai mandi pagi dan sarapan, kami berdua sedang bersiap-siap untuk pergi keluar sambil saling bertukar kesan tentang menu sarapan tadi.
"Taimeshi yang dimasak dengan donabe tadi benar-benar mantap, ya."
"Sup misonya juga sangat meresap ke dalam tubuh."
Sajian sarapan pagi yang mewah dengan memanfaatkan hasil laut yang berlimpah—seperti sashimi, nasi ikan kakap, hingga sup miso yang kaldu hidangan lautnya sangat terasa—benar-benar luar biasa.
Makan malam kemarin memang sudah yang terbaik, tetapi bisa menikmati hidangan yang penuh dengan kelezatan laut seperti ini sejak pagi hari benar-benar membuatku merasa bahagia.
Seiring dengan suasana hati yang makin bersemangat, ekspektasiku terhadap rencana agenda hari ini yang telah dipersiapkan oleh Hina pun menjadi makin tinggi.
"Rencana untuk hari ini masih rahasia, ya?"
"Iya, masih rahasia."
"Begitu ya. Aku jadi tidak sabar."
"Aku juga sangat menantikannya."
Sambil berkata begitu, Hina memakai topi jeraminya lalu tersenyum manis.
Hina memadukan gaun one-piece putih model off-shoulder dengan topi jerami. Gaya busana itu memancarkan aura yang terasa sejuk sekaligus dewasa, membuat sosoknya terlihat sangat cantik.
"Bagaimana menurutmu?"
"Cantik sekali. Sangat cocok untukmu."
"Terima kasih banyak! Rei-kun juga terlihat keren, kok!"
Untukku sendiri, aku memilih gaya busana kasual dengan memadukan kemeja simpel dan celana denim berpotongan longgar, lalu melapisinya dengan luaran berbahan tipis.
Seperti biasa, aku masih tidak percaya diri dengan selera fesyenku, tetapi rasanya sangat terselamatkan hanya dengan fakta bahwa Hina memberikan dukungannya yang penuh.
"Sudah siap semua, ya."
"Iya."
"Sebelum berangkat, untuk memastikan saja, bagaimana kondisi fisikmu? Tidak ada masalah?"
"Aman, kok."
"Syukurlah. Soalnya rencana kita hari ini akan sedikit berjalan kaki, jadi sebenarnya aku agak cemas kalau-kalau ada efek dari kegiatan kemarin."
Hina tersenyum lega, dan mendapati kekhawatirannya hanya sekadar fobia belaka tentu saja adalah hal yang paling kusyukuri. Baik aku maupun Hina tidak ada yang sampai mengalami masalah seperti otot pegal parah hingga tak bisa bergerak, dan berkat tidur yang cukup, stamina kami pun sudah pulih sepenuhnya.
Oleh karena itu, kami bisa menikmati hari ini dengan kekuatan penuh seharian.
"Kalau begitu, mari kita berangkat. Pertama-tama kita akan berjalan kaki sebentar menuju tempat tujuan, jadi mari kita jalan sambil berhati-hati agar tidak terkena sengatan panas."
"Siiaap."
"......Barusan sepertinya aku mendengar kata 'ciuman', deh. Jadi, bolehkah aku minta cium?"
"Kan kamu sendiri yang mengucapkannya tadi!"
Bisa-bisanya Hina langsung memelesetkan kata nechuushou (sengatan panas) yang baru saja diucapkannya sendiri menjadi chuushiyo (ayo ciuman)...... dia benar-benar menghalalkan segala cara, ya.
Tapi, toh ciuman juga tidak akan membuat bibir jadi aus...... jadi, ya sudahlah ya.
Saat aku sedikit menggeser topi jeraminya ke atas, wajah Hina-san yang sedang menunggu untuk dicium pun langsung terlihat jelas.
Karena ekspresinya ini lagi-lagi terlihat sangat imut, pada akhirnya semua kesalahannya pun langsung kumaafkan begitu saja.
◇
Setelah berjalan sekitar 30 menit sejak keberangkatan tadi, kami pun tiba di tempat tujuan.
Kata Hina, tempat tujuannya hanya berjarak sekitar 10 menit berjalan kaki dari penginapan...... tetapi ternyata waktu yang dihabiskan jauh lebih lama dari perkiraan. Dan ini semua murni karena ulah plesetan kata dari Hina.
Udara memang panas, dan berhati-hati agar tidak terkena sengatan panas dengan menjaga hidrasi tubuh lewat minum air yang cukup adalah hal yang benar. Namun, setiap kali membahasnya, dia pasti akan menghentikan langkah kaki sambil beralasan kalau dia mendengar kata "ayo ciuman".
Bila disebut sebagai "istirahat sejenak yang teratur" mungkin kedengarannya bagus, tetapi jika setiap kali berhenti selalu berujung dengan ciuman, yang ada kami malah tidak bisa beristirahat dengan tenang. Rasanya kami malah seperti sedang melakukan aktivitas yang mempercepat sengatan panas, tetapi bagi Hina-san tampaknya hal itu "jangan dipikirkan". Dan, tempat yang ditunjukkan oleh sang Polisi Sengatan Panas ini adalah──.
"Tanjung Kekasih (Koibito Misaki)......?"
"Iya! Ini adalah tempat kencan yang sangat populer bagi pasangan kekasih maupun suami istri, dan tempat ini juga kerap dijuluki sebagai Tempat Suci Cinta, lho!"
Pada papan nama yang besar, tertulis kisah legenda yang menjadi asal-usul mengapa tanjung ini dinamakan demikian.
Selain itu, ada juga panduan tentang cara menikmati tempat ini, dan di dalamnya penuh dengan kata-kata yang sangat identik dengan kekasih, cinta, dan kebahagiaan—seperti Lonceng Ikrar hingga penerbitan Sertifikat Deklarasi Kekasih.
Karena rencana hari ini sempat dirahasiakan, aku sempat penasaran kami akan pergi ke mana dan melakukan apa...... tetapi aku sama sekali tidak menyangka kalau dia akan merencanakan kejutan seperti ini.
Tadinya kukira tempat kencan seperti ini adalah tempat yang tidak akan pernah ada hubungannya dengan hidupku, tetapi begitu benar-benar diajak ke sini, entah mengapa aku malah merasa sangat bersemangat.
Bagaimanapun juga, aku merasa tempat seasing apa pun pasti akan terasa menyenangkan jika dilewatkan bersama Hina, dan aku benar-benar merasa bahagia saat memikirkan betapa keras usahanya dalam mempersiapkan rencana kencan ini untukku.
"Terima kasih, ya, sudah menyiapkan rencana kencan yang paling mantap begini."
"Sama-sama. Tapi, proses untuk menjadikannya yang paling mantap baru akan dimulai dari sekarang, lho."
"Benar juga."
"Mari kita lakukan banyak hal yang biasa dilakukan oleh sepasang kekasih, mengambil foto yang banyak, dan menjadikan hari ini sebagai hari yang terbaik."
Sambil berkata begitu, Hina memamerkan senyuman manisnya yang tampak secerah sinar matahari. Sosoknya terlihat begitu elok dan cantik, sampai-sampai tanpa sadar aku terpesona hingga kehilangan kata-kata.
"Rei-kun, kamu tidak apa-apa? Wajahmu merah sekali, lho?"
"Eh...... ah, iya."
"Jangan-jangan...... kamu mau cium, ya?"
Begitu, ya.
Sekarang dia bahkan sudah mulai melakukan interogasi sebagai Polisi Sengatan Panas tanpa perlu melalui proses plesetan kata lagi...... Dan ini jelas-jelas bukan interogasi sukarela.
Karena interogasi ini baru akan berakhir setelah dia mendapatkan ciuman, jadi secara praktis ini adalah sebuah paksaan. Lagipula kalau aku terus menolaknya, ada risiko dia akan merajuk juga.
Kalau begitu...... menunjukkan sikap kooperatif sejak awal jelas merupakan pilihan yang terbaik.
"Memang benar, kok."
"Ngh......!?"
Aku langsung membungkam bibirnya yang sempat dimajukan untuk menggodaku tadi. Seketika itu juga, wajah Hina yang sempat melongo langsung merona merah dalam sekejap.
"......Serangan mendadak begitu benar-benar licik."
"Memangnya kamu tidak suka?"
"......Aku tidak bilang tidak suka, sih."
Sambil bergerak gelisah, dia memakai topi jeraminya dengan dalam demi menyembunyikan ekspresi wajahnya yang sedang tersipu malu. Sosoknya itu terlihat sangat menggemaskan. Padahal sepanjang jalan menuju ke Tanjung Kekasih tadi dia begitu gencar menginterogasiku...... tetapi Hina yang ternyata sangat lemah terhadap serangan mendadak dan serangan balik begini benar-benar imut, ya.
"Nah, karena proses interogasi dari Ibu Polisi Sengatan Panas sudah selesai, bagaimana kalau kita segera berangkat?"
"Benar juga...... tapi sebelum itu."
"......Apakah itu tongsis?"
"Benar sekali. Pertama-tama mari kita mengambil foto di depan papan nama itu sebelum memulai perjalanannya."
Sambil berkata begitu, Hina menarik tanganku. Papan nama itu bukan sejenis papan panduan wisata yang kami lihat tadi, melainkan sebuah papan nama yang bentuknya mirip seperti yang biasa dijumpai di stasiun kereta.
Dengan posisi Tanjung Kekasih sebagai lokasi saat ini, nama tujuan berikutnya pun tertulis di sana...... tetapi nama yang tertulis di sana bukanlah nama tempat yang spesifik seperti halnya Tanjung Kekasih.
"Pernikahan...... ya."
"Rasanya agak malu juga, ya."
Meskipun berkata demikian, kami berdua berdiri mengapit papan nama tersebut lalu mengambil foto kenang-kenangan.
Sejujurnya, karena kami juga baru saja resmi berpacaran, aku masih belum bisa membayangkan masa depan yang sejauh itu. Namun, saat melihat hal-hal yang seperti ini, mau tidak mau aku tetap saja jadi terpikirkan olehnya. Namun...... persis seperti yang ditunjukkan oleh papan nama stasiun ini, alangkah indahnya jika kami bisa menuju masa depan yang penuh kebahagiaan itu bersama-sama.
◇
Begitu menyusuri jalan setapak yang dikelilingi alam asri, sebuah bangunan besar mulai terlihat.
Tempat ini...... sepertinya adalah area untuk menulis ema atau tempat untuk menerbitkan Sertifikat Deklarasi Kekasih.
Tidak hanya itu, tempat ini juga merangkap sebagai toko suvenir dan kafe, sehingga bisa digunakan sebagai tempat beristirahat.
"Apa kita ke sini dulu?"
"Tidak, kita lewati saja dulu tempat ini untuk sekarang. Mari kita pergi ke menara pandang terlebih dahulu."
"Apa alasannya?"
"Karena kita masih harus berjalan kaki lagi setelah ini, kalau sekarang kita sudah kalah oleh godaan kafe, nanti jalan kakinya bisa terasa makin berat."
Ah, begitu rupanya. Meskipun menjaga hidrasi tubuh sebagai langkah pencegahan sengatan panas itu penting, jika kami langsung tergiur masuk ke kafe seperti ini, kami pasti akan berakhir makan dan minum di sana.
Tentu kurang bagus jika setelah itu kami masih harus banyak berjalan kaki. Lagipula, jika kami mampir setelah puas berjalan-jalan nanti, rasanya pasti akan jauh lebih istimewa sebagai bentuk hadiah setelah berolahraga.
"Tapi di sekitar sini ada banyak objek yang bagus untuk foto, ya."
"Di sebelah sana sepertinya ada kebun bunga berbentuk hati, lho."
"Kalau yang itu wajib sekali untuk difoto. Ah, papan nama yang itu......!"
"Apa sedikit berbeda...... dengan yang kita foto pertama kali tadi?"
"Mirip, sih, tapi yang ini tertulis 'Tiket Terusan Cinta'."
Tujuan akhirnya memang sama-sama tertulis "Pernikahan", tetapi papan nama yang satu ini tampaknya dibuat dengan meniru desain sebuah tiket terusan kereta.
Hina sudah bersiap dengan tongsisnya sambil melambaikan tangan memberi isyarat. Sama seperti saat di papan nama stasiun tadi, kami kembali berdiri mengapit papan tersebut, lalu suara jepretan kamera pun terdengar bergema.
"Fufu."
"Hasil fotonya bagus?"
"Itu juga, sih. Tapi karena di sini tertulis 'tidak bisa turun di tengah jalan', jadi tanpa sadar aku......"
"Oh, benar juga."
Di antara tulisan Tanjung Kekasih dan Pernikahan terdapat sebuah tanda panah, dan di bawah tanda panah tersebut tertulis catatan peringatan bahwa penumpang tidak bisa turun di tengah jalan.
Singkatnya...... maknanya adalah seperti itu.
"Aku tidak akan turun di tengah jalan...... dan tidak akan membiarkanmu turun juga, lho."
"......Aku pun tidak akan melakukannya. Aku juga tidak akan membiarkan Hina turun."
Hina tersenyum simpul dengan wajah yang tersipu malu, lalu menggenggam erat tanganku yang sedang bertautan dengannya.
Meskipun jawabanku kembali menjadi sebuah kalimat yang menghindari kata-kata secara langsung, tetapi perasaan di dalamnya sama sekali tidak ada kebohongan atau kepalsuan. Namun, suatu saat nanti...... aku ingin menyampaikannya secara jantan dengan untaian kataku sendiri.
Saat aku sedang tenggelam dalam perasaan emosional seperti itu, tanganku yang saling bertautan perlahan ditarik olehnya.
"Nah, mari kita segera jalan."
"......Benar juga."
Entah mengapa hatiku rasanya sudah dipenuhi oleh rasa bahagia yang luar biasa, padahal kami baru saja mengambil foto di depan papan nama. Kami harus mendatangi semua tempat yang ingin dikunjungi dan melakukan semua hal yang ingin dilakukan.
"Kalau begitu, pertama-tama kita mau ke mana dulu?"
"Pertama-tama mari kita pergi membunyikan lonceng."
"Maksudmu Lonceng Cinta yang ada di menara pandang...... ya?"
"Iya! Di jalan persimpangan menuju ke sana nanti, ada juga yang disebut dengan Lonceng Emas, jadi mari kita mampir ke sana juga."
Sambil berkata begitu, Hina-san langsung memeluk lenganku dan menarikku dengan penuh semangat. Udaranya panas dan membuatku sulit berjalan, sih...... tetapi toh apa pun yang kukatakan, ujung-ujungnya pasti akan dia jawab dengan "jangan dipikirkan", ya.
◇
Sesuai dengan namanya sebagai Tanjung Kekasih, rute jalan ini memang lumayan menguras tenaga. Namun, karena kami melangkah santai sambil menikmati pemandangan di sepanjang jalan, mengobrol, dan berfoto-foto, tanpa disadari kami sudah tiba di area Lonceng Emas.
Mengingat jalurnya yang tidak sedikit berupa tanjakan dan turunan yang terjal, aku kembali bersyukur karena rasa lelah dari kegiatan kemarin tidak sampai terbawa sampai hari ini.
"Fuu...... ini lumayan membuat kaki pegal juga, ya."
"Kamu tidak apa-apa?"
"Untuk saat ini tidak ada masalah kok. Lagipula kalau sampai terjadi apa-apa, kan ada Rei-kun yang akan menggendongku, jadi tidak ada masalah."
"......Kalau begitu, bagian akunya yang mencurigakan apakah akan aman atau tidak."
"Aku minta digendong ala tuan putri, ya."
"......Kalau permintaannya begitu, ini sudah bukan sekadar mencurigakan lagi namanya."
Membayangkan harus menggendong satu orang penuh untuk naik turun jalur perbukitan seperti ini...... sejujurnya aku agak khawatir apakah fisikku sanggup atau tidak. Yah, Hina sendiri sebenarnya masih terlihat sangat bertenaga, jadi dia pasti hanya sedang bercanda saja.
"Daripada memikirkan hal itu, coba lihat ke sebelah sana! Pemandangannya luar biasa menakjubkan!"
"Indah sekali, ya."
"Syukurlah kita juga diberkati dengan cuaca yang mendukung. Lihat, Gunung Fuji terlihat dengan sangat jelas tepat di tengah-tengah Monumen Kacamata."
"Benar juga."
Sebuah monumen berbentuk lingkaran yang berada di samping Lonceng Emas. Karena bentuknya yang menyerupai kacamata, monumen ini kerap disebut sebagai Monumen Kacamata.
Jika cuacanya sedang cerah dan Gunung Fuji sedang menampakkan dirinya, kita bisa melihat gunung tersebut melalui lubang lingkaran yang ada di sana.
Hari ini cuacanya sangat cerah, langitnya pun bersih sehingga kami bisa memandang jauh hingga ke ujung. Gunung Fuji terpampang dengan sangat jelas di dalam lingkaran monumen kacamata tersebut, membuatku merasa seolah-olah kami sedang diberkati oleh sebuah keberuntungan kecil.
Kami berdiri mengapit Monumen Kacamata tersebut lalu mengambil foto beberapa kali. Begitu suara jepretan kamera berhenti, kupikir dia sudah merasa puas. Namun di luar dugaan, Hina malah berputar ke bagian belakang monumen lalu menjulurkan wajahnya.
"Rei-kun, tolong foto aku!"
"......Kira-kira, monumen ini gunanya bukan untuk dipakai begitu, deh."
"Jangan dipikirkan!"
Monumen Kacamata itu kan fungsinya untuk mengintip Gunung Fuji dari sana, bukan sebuah papan pajangan wajah berlubang yang biasa dipakai orang-orang untuk memunculkan wajahnya...... tapi karena dia sudah bilang "jangan dipikirkan", ya mau bagaimana lagi.
Mumpung ada kesempatan, mari kita ambil foto sosoknya yang menggemaskan ini sebanyak-banyaknya.
Sesi foto-foto yang kulakukan sambil berlagak layaknya seorang fotografer profesional—lengkap dengan menentukan ekspresi wajah dan pose—ternyata berjalan jauh lebih menyenangkan dari perkiraan.
Hina yang menjadi objek foto pun menanggapinya dengan sangat antusias, dan aku merasa sangat puas karena bisa mengambil banyak foto yang bagus.
"Fuu, seru sekali! Nanti perlihatkan foto-fotonya kepadaku, ya."
"Baikk."
"Kalau begitu, mari kita bunyikan Lonceng Emasnya sekarang."
Setelah puas menikmati sesi berfoto di Monumen Kacamata, kami bergeser ke area Lonceng Emas yang berada tepat di sampingnya. Cara membunyikannya tertulis pada papan petunjuk di dekat sana.
"Nah, mari kita bunyikan sesuai petunjuk ini."
"Iya!"
Kami berdua saling merapat, menyelaraskan napas, lalu menarik talinya dengan penuh rasa cinta.
Dentangan pertama, untuk menyucikan diri sendiri.
Dentangan kedua, untuk memanggil hati sang kekasih.
Dentangan ketiga, untuk mengikrarkan cinta berdua kepada lautan.
Rangkaian dentangan lonceng yang kami bunyikan bersama itu tampak menggetarkan udara di sekitarnya. Gema yang tersisa perlahan meluas, menghantarkan gelombang kebahagiaan yang terasa begitu hangat meresap ke dalam hati.
Untuk beberapa saat, kami berdua terdiam dalam keheningan sambil terus meresapi sisa gema tersebut, tetapi momen sunyi itu pun terasa sangat berharga dan nyaman.
"Bahagia sekali, ya."
"Ah, benar. Aku merasa bahagia."
"Suatu saat nanti, aku juga ingin membunyikan Lonceng Perak yang ada di Tanjung Kekasih di Guam."
"Benar juga. Kapan-kapan mari kita pergi ke sana bersama."
Karena di papan petunjuk tadi sempat disinggung sedikit mengenai Lonceng Perak di Guam yang menjalin hubungan kemitraan, sebuah destinasi liburan baru pun akhirnya tercipta.
Mengingat daya aksi Hina yang luar biasa, sudah bisa dipastikan dia akan memasukkan destinasi tersebut ke dalam rencana liburan berikutnya dengan prinsip "jangan dipikirkan" miliknya, meskipun letaknya ada di luar negeri.
"Ah, bagaimana kalau kita berangkat sekarang saja?"
"......Kita tidak akan berangkat sekarang, dan lagipula tidak bisa, tahu?"
Ya, aku memang mengira dia akan membuat rencana untuk pergi ke sana suatu hari nanti, sih. Tetapi aku tidak menyangka kalau dia akan langsung memutuskan untuk pergi saat ini juga! Tempat itu kan bukan sejenis tempat dekat rumah yang bisa didatangi dengan modal nekat layaknya sedang berjalan-jalan santai biasa.
"Mari kita mengandalkan tekad untuk berenang ke sana!"
"Itu mustahil. Lagipula kalaupun bisa, itu namanya penyelundupan wilayah secara ilegal, kan."
"Aku punya kepercayaan diri yang tinggi untuk gaya dada, lho!"
"Masalahnya bukan terletak pada gaya renangnya, tahu."
"Kalau Rei-kun mau pakai gaya kupu-kupu?"
"......Jangan malah menyarankan gaya renang yang paling menguras tenaga begitu, dong."
Benar-benar terlalu banyak hal yang harus kukomentari dari ucapannya.
Seingatku perjalanan ke Guam memerlukan waktu sekitar 4 jam menggunakan pesawat, jadi dia pasti hanya sedang bercanda. Namun, karena ekspresi wajahnya terlihat sangat serius, aku sampai salah mengira kalau dia benar-benar berniat menyeberangi lautan dengan berenang.
"Kita tidak punya paspor sekarang, jadi mari kita pergi dengan menggunakan alat transportasi yang masuk akal setelah menempuh prosedur resmi yang legal, ya."
"Janji, ya?"
"Iya, janji. Tapi untuk sekarang, kita harus menikmati Tanjung Kekasih yang ada di sini dulu dengan benar."
Aku menautkan jari kelingkingku pada jari kelingkingnya yang dijulurkan ke arahku untuk saling berjanji.
Bagaimanapun, saat ini kami sedang berada di tengah-tengah momen kencan di Tanjung Kekasih. Kami tidak boleh terlalu larut memikirkan Tanjung Kekasih di Guam yang baru akan dikunjungi di masa depan nanti, dan harus benar-benar menikmati momen saat ini dengan maksimal.
Setelah berbalik arah dari Lonceng Emas dan Monumen Kacamata, kami tiba di jalan setapak papan kayu yang terhubung langsung menuju Lonceng Cinta, atraksi utama yang sesungguhnya untuk hari ini.
Jarak menuju ke dek menara pandang terbilang lumayan jauh, dan jalurnya pun sulit untuk dikatakan sebagai rute yang landai. Namun, jika kami melangkah santai sambil menikmati pemandangan di sekitar, tanpa disadari kami pasti akan tiba di sana.
"Jalan setapak papan kayu yang ini sepertinya dinamakan 'Jalan Gandengan Tangan', lho."
"Padahal dari tadi kita juga sudah bergandengan tangan, sih."
Tampaknya jalan ini dinamakan demikian dengan harapan agar sepasang kekasih bisa berjalan menuju dek menara pandang sambil bergandengan tangan untuk memupuk rasa cinta mereka. Namun, kami berdua bahkan sudah saling bergandengan tangan jauh sebelum tiba di jalur ini.
"Mumpung kesempatannya pas, bagaimana kalau tangan yang satunya lagi juga ikut bergandengan?"
"......Kalau begitu nanti kamu jadi tidak bisa memegang tongsisnya, lho."
"......Kalau yang itu sih merepotkan."
Berjalan sambil menggandeng kedua belah tangan sekaligus memang terasa berbahaya. Jika jalurnya landai mungkin tidak masalah, tetapi jalan setapak papan kayu ini juga memiliki rute tanjakan dan turunan yang cukup terjal. Berjalan menyamping dengan kedua tangan yang terkunci itu sangat berbahaya, lagipula tongsis yang selalu disiagakan di salah satu tangan agar bisa langsung digunakan setiap kali ada kesempatan berfoto pun terpaksa harus disimpan.
Bagi Hina-san yang selalu ingin memanfaatkan setiap peluang berfoto yang ada, kehilangan fungsi kedua belah tangan tentu akan berakibat fatal.
Aku sendiri juga ingin membebaskan salah satu tanganku demi berjaga-jega jika terjadi sesuatu, jadi meskipun tawaran Hina untuk bergandengan dengan kedua tangan terasa memikat, terpaksa harus kulewatkan dulu untuk saat ini.
"Nah, mari kita jalan."
"Iya."
"Di tengah jalan sepertinya ada bangku untuk beristirahat, jadi kalau kamu merasa lelah, katakan saja dengan jujur, ya?"
"Aku lelah!"
"......Lantang sekali kamu mengumumkannya."
Yah, yang memintanya untuk mengatakannya kan aku sendiri. Lagipula meskipun kami sudah mengambil waktu istirahat yang cukup, kami memang sudah berjalan dalam jarak yang lumayan jauh ditambah harus naik turun jalur yang berundak-undak, sih.
Karena ada kemungkinan dia benar-benar kelelahan, aku tidak bisa begitu saja mengabaikannya dan menganggap ucapan itu bohong.
"......Seingatku ada bangku di tempat yang baru saja kita lewati tadi. Atau sekalian saja kita kembali ke teras penginapan......?"
"Tidak, tidak perlu sampai sejauh itu, kok. Aku hanya ingin memberikan peringatan dini terkait bahaya sengatan panas, sekaligus meminta kesempatan untuk mengisi bahan bakar saja, sih."
"......Oh, maksudmu begitu."
Singkat kata, bisa dibilang dia sedang merasa "mulutnya sepi" atau semacamnya. Intinya dia hanya sedang ingin berciuman saja, kan.
Padahal pemicunya bukan karena masalah Polisi Sengatan Panas lagi, jadi kalau memang sedang ingin melakukannya tinggal bilang saja, padahal...... Dia benar-benar sangat menggemaskan, ya.
"Ngh...... apa begini sudah cukup?"
"Iya! Ini bukan lagi sekadar peringatan dini (chuui), tapi ciuman (chuu) yang bikin gembira!"
Bisa saja ya dia mencocokkan kata-katanya. Tapi, asalkan dia merasa gembira dan rasa lelahnya langsung sirna, itu adalah hal yang paling utama.
"Kalau begitu, mari kita pergi membunyikan Lonceng Cinta!"
"Ah, ayo."
Berkat pengisian bahan bakar tadi, semangat Hina pun kembali terisi penuh. Aku juga kecipratan energi darinya, jadi sepertinya aku masih bisa terus bertahan tanpa perlu khawatir kehabisan tenaga.
◇
"Kita sampai!"
"Fuu, kamu tidak apa-apa?"
"Anak tangganya memang banyak, tapi jalurnya kan menurun. Lagipula areanya terawat dengan baik dan mudah dilewati, jadi aku tidak apa-apa."
Kami menyusuri jalan setapak papan kayu dan tiba di menara pandang, tempat Lonceng Cinta yang menjadi incaran kami berada.
Di sepanjang jalan setapak yang memiliki panjang sekitar dua ratus meter ini, total ada 144 anak tangga. Pada peta panduan wisata pun terdapat catatan peringatan yang menyatakan bahwa jalur ini tidak direkomendasikan bagi orang yang memiliki kaki atau pinggang yang lemah.
Sesuai dengan apa yang tertulis di sana, jalur ini memang memiliki beberapa bagian yang sangat curam, tetapi untungnya areanya dirawat dengan sangat baik sehingga mudah untuk dilalui.
"Di sini pemandangannya juga menakjubkan, ya."
"Mau ambil foto?"
"Oh, Rei-kun sekarang mulai paham, ya."
"Tentu saja, dong."
Bagaimana tidak, aku kan selalu bersama Hina yang matanya selalu berbinar mencari celah untuk berfoto di setiap ada kesempatan.
Kalau ada pemandangan indah, itu artinya kesempatan berfoto. Bahkan kalau tidak ada pun, tetap saja menjadi kesempatan berfoto.
Pada awalnya aku sempat merasa canggung dengan urusan swafoto, tetapi karena sudah sesering ini diajak berfoto, aku pun menjadi terbiasa dan bahkan mulai bisa membaca alurnya.
Sejujurnya, aku masih agak merasa tegang setiap kali kamera diarahkan kepadaku. Namun, karena Hina selalu bersiap dengan tongsisnya penuh semangat dan mengambil foto dengan ekspresi yang sangat gembira, perlahan rasa tegangku pun mencair.
Belakangan ini, aku bahkan jadi lebih sering berinisiatif mengumumkan kesempatan berfoto sendiri. Karena ini adalah bagian dari kenangan liburan yang menyenangkan, tidak ada ruginya untuk terus menyimpannya dalam bentuk data digital.
"Rei-kun, mari kita tiru pose yang sama di depan patung itu!"
"Maksudmu berpose sama seperti Patung Amore, ya?"
Tempat yang ditunjuk oleh Hina adalah Patung Amore, sebuah monumen pasangan yang menjadi simbol ukiran cinta di menara pandang Tanjung Kekasih.
Monumen tersebut berbentuk sepasang pria dan wanita yang saling berhadapan, berpegangan tangan, dan saling bersandar erat. Hina tampaknya berniat mengambil foto dengan meniru persis komposisi dari monumen tersebut.
"Artinya, tangan yang di bagian depan saling bertautan...... lalu bagian tangan yang di sebaliknya bagaimana?"
"Kurasa diletakkan di bahu sambil saling merengkuh erat saja sudah bagus."
"Begini, ya...... dekat sekali."
"Ini jarak yang pas untuk berciuman, lho."
"Tapi karena wajah patungnya agak menghadap ke bawah, posisinya lebih mirip seperti saling menempelkan dahi, sih."
"Hmph......"
Melihat wajah Hina-san yang sudah bersiap untuk dicium membuatku tanpa sadar hampir saja benar-benar mengecupnya. Namun, jika ingin menirunya secara akurat, bagian yang saling menempel seharusnya adalah dahi dan bukannya bibir...... Hina yang tampaknya tidak puas dengan fakta itu langsung menggembungkan pipinya sambil merajuk.
"......Iya, iya, aku paham."
"Fufun, begitu baru benar."
Kami pun mengabaikan replika pose yang sepenuhnya akurat dan memasukkan sedikit variasi modifikasi ke dalamnya.
1 lembar foto yang berhasil diambil dengan cara begitu...... meskipun agak memalukan, tetapi hasilnya terasa sangat romantis.
Setelah selesai berfoto dengan Patung Amore, akhirnya tibalah saatnya untuk membunyikan Lonceng Cinta. Sama seperti Lonceng Emas sebelumnya, di sini kami juga harus membunyikannya bersama-sama sebanyak 3 kali.
"Apa ada perbedaan dengan Lonceng Emas yang kita bunyikan tadi?"
"Konon katanya Lonceng Emas itu untuk mewujudkan cinta yang baru bersemi, sedangkan Lonceng Cinta berguna untuk memantapkan ikatan cinta yang sudah terjalin."
"Kalau begitu...... legenda itu mungkin memang benar, ya."
"Benar sekali."
Wujudnya cinta dari Lonceng Emas dan kemantapan ikatan dari Lonceng Cinta. Jika keduanya digabungkan, maka akan tercipta sebuah ikatan cinta yang sempurna.
Karena kami berdua sudah resmi berstatus sebagai kekasih, keinginan agar perasaan kami saling terbalas tentu saja sudah terwujud. Namun, momen ini terasa seperti makin memperkokoh ikatan tersebut, membuatku bisa meyakini dengan pasti bahwa kami telah membangun sebuah hubungan yang penuh dengan kebahagiaan.
"Rei-kun, mohon bantuannya ya untuk seterusnya."
"Ah, aku juga mohon bantuannya."
Tangan kami yang menggenggam tali saling bertumpukan, dan tali yang kami ayunkan bersama itu pun membuat suara dentangan lonceng menggema sebanyak 3 kali.
Aku terkesima menatapi lonceng yang berayun, sekaligus terhanyut mendengarkan alunan nada kebahagiaan yang tercipta. Kami menunggu hingga alunan nada itu perlahan mengecil dan melebur hilang ke udara, lalu seolah-olah sudah berjanji sebelumnya, kami berdua pun saling berhadapan.
"Hina, aku sangat mencintaimu."
"Rei-kun, aku sangat mencintaimu."
"......Haha."
"......Fufu."
Kami mengucapkan kalimat cinta secara bersamaan...... lalu saling bertatapan dan berakhir tertawa terbahak-bahak.
Sebuah momen di mana perasaan kami benar-benar saling bertaut dan kami bisa merasakan kebahagiaan yang nyata. Ini sudah pasti merupakan bentuk berkat dari sang Lonceng Cinta.
"Nah, meskipun rasanya masih ingin di sini, sepertinya kita sudah harus segera kembali, ya."
"Benar juga."
Kami sudah puas menikmati pemandangan yang menakjubkan dan mengabadikan foto di setiap monumen tanpa ada yang terlewat. Lonceng Cinta pun sudah dibunyikan, jadi bisa dikatakan semua hal yang harus dilakukan di dek menara pandang ini sudah terselesaikan sepenuhnya.
Pemandangan Gunung Fuji dan lautan luas memang tipe pemandangan yang tidak akan pernah membosankan meskipun dipandangi terus-menerus. Namun, karena matahari sudah makin meninggi dan sinarnya terasa menyengat, sudah saatnya kami mengungsi ke dalam ruangan untuk melepas lelah sejenak, tetapi......
"Jalan pulangnya berarti rute menanjak, ya......"
Saat memandangi kembali jalur yang kami lewati untuk menuju ke dek menara pandang ini, rasanya pikiranku langsung menjadi kosong.
Karena jalur berangkatnya berupa anak tangga menurun, maka secara otomatis jalur pulangnya akan menjadi anak tangga menanjak. Begitu menyadari hal itu, rasa lelah yang sedari tadi menumpuk di kaki dan pinggangku rasanya seperti langsung meledak keluar sekaligus.
"Tinggal sedikit perjuangan lagi."
"......Rei-kun, gendong."
"......Tolong jangan meminta dengan cara yang seimut itu, dong."
Hina merentangkan kedua tangannya sambil mendongak menatapku dengan pandangan memohon demi meminta digendong, membuatku hampir saja langsung mengiyakan permintaannya. Namun, jika mempertimbangkan kondisiku yang sekarang, rasanya akan sangat berat.
Yah, kalau dia sampai meminta gendong, itu artinya kaki Hina pun sebenarnya sudah mencapai batasnya...... Tapi kuharap dia masih bisa bertahan sedikit lagi.
"Lihat, puding sudah menunggu kita di kafe, lho."
"Benar juga, ya. Mari kita berjuang untuk kembali, lalu menikmati waktu pencuci mulut yang sudah dinanti-nantikan."
Mengeluh di sini pun tidak akan mengubah keadaan.
Semoga saja kami bisa kembali sebelum Hina benar-benar kehabisan tenaga dan bergelayutan manja di tubuhku......
"Fuu...... rasanya seperti hidup kembali, ya."
"Benar-benar meresap sampai ke jiwa......"
Meskipun harus diselingi dengan istirahat yang cukup sering, kami akhirnya berhasil kembali menyusuri jalan setapak papan kayu dengan selamat.
Kami langsung bergegas masuk ke dalam kafe tanpa membuang waktu, dan kini sedang menikmati puding khas tempat ini yang bernama Kimi dake Pudding (Puding Hanya untukmu/Puding Hanya Kuning Telur).
Rasa dingin dan manisnya benar-benar meresap ke dalam tubuh yang kelelahan, menghantarkan perasaan yang sangat membahagiakan.
"Kimi dake Pudding...... maksudnya puding yang hanya menggunakan kuning telur (kimi), ya?"
"Permainan kata yang cerdas, kan."
Nama tersebut memadukan permainan kata antara "Hanya Untukmu" (君だけ) dan "Hanya Kuning Telur" (黄身だけ). Makna "Hanya Untukmu" ini tampaknya sengaja diselaraskan dengan konsep yang diusung oleh Tanjung Kekasih.
"Rasanya kental dan enak sekali, ya."
"Tidak terasa langsung habis kita lahap."
Mungkin karena tubuh kami memang sedang sangat membutuhkan asupan yang dingin dan manis, puding itu benar-benar habis dalam sekejap mata.
Teksturnya begitu lembut dan meleleh di dalam mulut. Meskipun dibuat dengan metode yang sederhana demi menonjolkan cita rasa terbaik dari bahan-bahannya, rasanya benar-benar kental dan menyuguhkan momen kebahagiaan yang luar biasa.
"Tapi ngomong-ngomong, cuacanya panas sekali, ya."
"Kamu tidak sedang terkena sengatan panas, kan?"
"......Pertanyaanmu itu yang mana, nih?"
"Ini murni kekhawatiran yang tulus, kok."
Berkat puding dingin tadi kondisiku memang sudah jauh lebih mendingan, tetapi karena tubuhku masih terasa gerah, aku mengibas-ngibaskan bagian dada kemejaku. Melihat hal itu, Hina langsung menengok ke arahku dengan tatapan cemas.
Awalnya aku sempat curiga kalau dia sedang mencari celah agar Polisi Sengatan Panas bisa beraksi lagi, tetapi tampaknya kali ini dugaan itu keliru.
"Aku tidak apa-apa, kok. Lagipula dari tadi aku juga rajin minum, jadi tidak ada masalah."
"Syukurlah kalau begitu. Tapi, merencanakan kunjungan di waktu yang paling panas seperti ini sepertinya adalah sebuah kegagalan, ya."
"Memang sih, kalau sore hari mungkin hawanya tidak akan sepanas ini...... Tapi, kamu memilih waktu ini pasti ada alasannya, kan?"
"Katanya pemandangan matahari terbenam di sore hari itu sangat menakjubkan, jadi waktu itu adalah saat yang paling padat pengunjung. Kalau areanya terlalu ramai, kita mungkin tidak bisa berkeliling dengan santai atau kesulitan mengambil foto. Makanya, aku mengincar waktu di sekitar tengah hari yang sepertinya paling sepi."
"Kalau begitu, rencanamu sukses besar. Berkat itu, kita bisa bergerak dengan sangat leluasa."
Sama sekali bukan kegagalan. Ini justru sebuah kesuksesan besar.
Tergantung pada seberapa padat jalurnya, kita mungkin saja harus mengantre hanya untuk membunyikan lonceng atau berfoto di monumen. Kita juga mungkin tidak akan punya waktu untuk meresapi sisa gema kebahagiaan karena terlalu memedulikan orang-orang di sekitar.
Jika dipikir-pikir seperti itu, aku benar-benar merasa bersyukur karena kami bisa berkeliling dengan santai di saat areanya sedang sepi. Lagipula...... berkat keadaan yang sepi itu, kami jadi bisa sering berciuman, sih.
"Sayang sekali memang kita tidak bisa melihat matahari terbenam dari Tanjung Kekasih, tapi sebagai gantinya, mari kita puas-puasin melihatnya dari pemandian air panas terbuka di penginapan nanti, ya."
"Benar juga."
Titik terbaik untuk menikmati pemandangan matahari terbenam kan bukan hanya di tempat ini saja. Karena kami masih memiliki kesempatan untuk menikmati matahari terbenam dari pemandian air panas terbuka di penginapan, tidak ada alasan untuk merasa berkecil hati.
Hanya saja......
"Kalau begitu, kita harus sudah kembali ke penginapan sebelum sore hari, ya."
"Iya, sih...... Di dalam kepala aku mengerti akan hal itu. Tapi sekali tubuh ini sudah duduk, rasanya malas sekali untuk bangkit berdiri lagi."
"Benar-benar setuju."
Dampak dari perjalanan bolak-balik menyusuri jalan setapak papan kayu tadi rupanya benar-benar terasa, kaki kami berdua sudah sukses berubah kaku seperti kayu.
Dalam kondisi seperti itu, begitu kami memutuskan duduk untuk mengambil istirahat yang sesungguhnya, sudah menjadi hukum alam jika dorongan untuk kembali bangkit berdiri tidak kunjung muncul.
"Hal yang ingin kita lakukan setelah ini semuanya tinggal diselesaikan di sekitar area sini saja, kan?"
"Benar. Sesi berfoto di monumen yang tersisa hanya ada di sekitar area sini, lalu sertifikat deklarasi kekasih dan papan ema juga bisa kita dapatkan di tempat ini."
"Kalau begitu, secara waktu kita masih punya banyak kelonggaran...... kan?"
"Seharusnya begitu, sih. Tapi karena kencan dengan Rei-kun ini terlalu menyenangkan, kalau kita sampai lengah, waktu bisa-bisa berlalu dalam sekejap mata."
"......Aku senang mendengarnya, tapi kita tetap harus kembali tepat waktu agar tidak terlambat."
Saat ini waktu sudah menunjukkan hampir jam 1 siang. Jika mengasumsikan waktu matahari terbenam adalah sekitar jam 6 sore, akan lebih baik jika kami sudah kembali sekitar 2 jam sebelum itu. Dengan begitu, kami bisa menikmati perubahan panorama alam yang bergerak menuju momen matahari terbenam.
Namun, seperti yang dikatakan Hina, karena momen ini terlalu menyenangkan dan membuat waktu berlalu begitu cepat, kami memang harus lebih memperhatikan pergerakan waktu.
"Nah, bagaimana kalau kita mulai bergerak sekarang?"
"......Aku masih belum bisa bergerak. Mari kita beristirahat sebentar lagi."
"......Mau makan gelato?"
"Mau."
Konsekuensi karena terlanjur duduk memang sangat besar, tetapi apa boleh buat karena dari tadi kami terus-menerus berjalan.
Aku sendiri pun masih ingin duduk sedikit lebih lama, jadi rasanya tidak ada salahnya untuk menuruti keinginan dengan menambah asupan yang manis dan dingin sebagai variasi kesenangan.
Setelah itu...... aku hanya perlu berhati-hati agar Hina tidak terus-menerus mengulur waktu istirahat secara agresif dengan trik rayuannya......
◇
Setelah itu, seperti yang sudah kuduga, Hina-san sempat mencoba mengerahkan trik rayuannya untuk memperpanjang waktu istirahat, tetapi berkat antisipasi yang sudah kupikirkan sebelumnya, aku berhasil membujuk dan menenangkannya.
Karena dia meminta dengan cara yang sangat imut, kalau saja tidak kuantisipasi sejak awal, aku pasti sudah kalah telak oleh desakannya dan bisa-bisa terancam menghabiskan waktu selama tujuh puluh dua jam di Tanjung Kekasih ini.
Trik rayuan Hina-san memang benar-benar tidak boleh diremehkan...... namun, berkat istirahat tadi, kekuatan untuk bergerak akhirnya pulih kembali.
Sebelum sisa tenaga yang sedikit ini habis dan membuat Hina kembali masuk ke mode manja merajuk karena kelelahan, kami bergegas menyelesaikan hal-hal yang tersisa, seperti mengambil foto dan mengurus penerbitan Sertifikat Deklarasi Kekasih.
"Jadi ini formulir pendaftaran untuk Sertifikat Deklarasi Kekasihnya, ya."
"Ehmm, lihat...... Berarti kita tinggal menulis nama kita di sini lalu menyerahkannya ke loket, kan?"
"Sepertinya begitu."
Kami mulai mengisi nama dan data lainnya sesuai dengan contoh yang ada. Setelah aku selesai mengisi bagian kolom yang menjadi giliranku...... aku mengoper kertas itu agar Hina bisa melengkapi kolom yang tersisa.
"Hal-hal seperti ini entah kenapa membuatku sedikit tegang, ya."
"Masa, sih?"
"Tentu saja. Bayangkan, aku menulis namaku di atas kertas yang sudah tertera nama Rei-kun, lho? Ini...... bukankah rasanya seperti latihan sebelum mengisi surat nikah?"
Sejujurnya, hal itu sempat terlintas juga di benakku.
Padahal aku sudah berusaha keras untuk tidak memikirkannya, tetapi melihatnya tersipu malu secara terang-terangan begitu membuatku ikut merasa salah tingkah. Namun, momen ini kembali menyadarkanku bahwa Tanjung Kekasih benar-benar sebuah tempat yang membuat seseorang mulai memikirkan tentang pernikahan.
"......Aku sudah selesai menulisnya."
"......Oh, oke."
"Untuk sekarang, surat yang ini saja sudah cukup...... Tapi suatu saat nanti, tolong berikan surat nikah yang sudah kamu isi kepadaku, ya?"
"......Iya, aku mengerti. Tunggulah saat itu tiba."
Dengan ekspresi wajah yang memadukan rasa malu sekaligus penuh harapan, dia menyerahkan formulir deklarasi kekasih yang telah selesai diisi itu dengan sangat hati-hati, seolah kertas itu adalah sesuatu yang amat berharga.
Untuk sekarang, ya......
Suatu saat nanti aku pasti akan menjawab harapan itu dengan semestinya, jadi kumohon tunggulah sedikit lagi.
Tenang saja. Aku tidak akan turun di tengah jalan, dan tidak akan membiarkanmu turun juga.
Kami membawa formulir tersebut ke loket pendaftaran, dan Sertifikat Deklarasi Kekasih pun berhasil diterbitkan tanpa kendala. Melihat Hina yang memandangi sertifikat itu dengan tatapan penuh binar bahagia dan rasa sayang terasa sangat menggemaskan, sampai-sampai membuatku ikut merasa bahagia.
"Begitu sampai di rumah, aku pasti akan memajangnya di dalam bingkai foto. Ini akan menjadi harta keluarga (kahou)...... bukan, ini sudah sah diakui sebagai harta karun nasional (kokuhou)!"
"......Kalau harta karun nasional rasanya terlalu berlebihan, deh."
"Kalau begitu...... bagaimana kalau warisan budaya dunia (sekai isan)?"
"Itu malah jauh lebih berlebihan lagi, tahu?"
Meskipun aku merasa sangat terhormat karena dia merasa begitu bahagia hingga ingin mengategorikannya melampaui harta keluarga—bahkan sampai ke tingkat harta karun nasional dan warisan budaya dunia—sayangnya argumen berlebihannya itu terlalu mustahil.
Ya, walaupun aku sangat memahami bagaimana perasaannya, sih.
Sertifikat Deklarasi Kekasih ini memang tidak akan mengubah hubungan kami saat ini, ataupun memiliki kekuatan hukum yang istimewa. Meski begitu, fakta bahwa ini adalah sertifikat yang kami daftarkan dan diterbitkan untuk kami berdua, sudah membuat nilainya menjadi sangat berharga bagi kami.
Jadi, aku sangat setuju jika sertifikat ini diangkat sebagai harta keluarga dan dipajang di dalam bingkai.
"Sertifikat Deklarasi Kekasih sudah ada di tangan...... setelah ini tinggal benda yang ini, kan?"
"Iya, benar yang itu."
Benda 'yang ini' merujuk pada barang yang sedang kami pegang saat ini. Sebuah papan kayu doa berbentuk hati yang disebut dengan Aijou Ema (Papan Doa Kasih Sayang).
Begitu kami menggantungkan papan ini di tempat khusus yang telah disediakan, maka daftar agenda yang ingin kami lakukan hari ini pun akan sukses terpenuhi semuanya.
Sama seperti Sertifikat Deklarasi Kekasih, papan doa ini juga sudah kami dapatkan di loket pendaftaran dan kondisinya sudah selesai kami tulisi.
Sebenarnya ada pilihan untuk membawanya pulang sebagai kenang-kenangan liburan dan memajangnya di rumah. Namun, karena kami sudah memiliki Sertifikat Deklarasi Kekasih, setelah berdiskusi kami akhirnya sepakat untuk menggantungkan papan doa ini di sini saja.
"Kalau dilihat-lihat lagi, jumlahnya luar biasa banyak, ya......"
"Itu artinya sudah ada banyak sekali pasangan kekasih maupun suami istri yang berkunjung ke sini sebelum kita."
Saat tiba di area penggantungan papan doa, kami disambut oleh jajaran papan doa berbentuk hati beraneka warna yang tergantung dengan sangat padat. Mari kita titipkan doa dan harapan kami di tempat ini bersama mereka.
"Warnanya ada macam-macam, ya. Tapi katanya papan yang berwarna merah itu khusus untuk laporan pernikahan."
"Sepertinya begitu."
"......Suatu saat nanti, mari kita gantungkan papan doa yang berwarna merah juga di sini, ya."
"Iya, tentu saja."
Sambil menerima luapan perasaan kasih sayang yang blak-blakan sekaligus membuat malu itu, kami pun menggantungkan papan doa milik kami bersama-sama.
Dan permohonan yang kami tuliskan di Papan Doa Kasih Sayang itu adalah────.
『Semoga kami bisa terus bersama selamanya』
◇
Keesokan paginya. Hari di mana kami akhirnya harus melakukan check-out dari penginapan pun tiba.
Kemarin malam, pada akhirnya kami berdua langsung tumbang karena kehabisan tenaga. Setelah menikmati pemandangan matahari terbenam dari pemandian air panas terbuka dan menyantap makan malam yang mewah, rasa kantuk langsung menyerang dan kami pun seolah terhisap masuk ke dalam futon.
Setelah berjalan sejauh itu di tengah cuaca yang panas, sangat wajar jika stamina kami terkuras habis hingga ke dasar. Alhasil, pagi ini tubuhku terasa pegal-pegal. Meskipun sudah mendingan berkat efek pemulihan rasa lelah dari sumber air panas, rasa letih yang menumpuk memang tidak bisa bohong.
Oleh karena itu, rencana kami hari ini adalah berendam santai di pemandian air panas terbuka sampai tiba waktunya meninggalkan penginapan, demi memanfaatkan efek pemulihan energinya hingga menit terakhir.
"Haa...... airnya segar sekali, ya. Berkat khasiat obat dari sumber air panas ini, tubuhku rasanya sudah jauh lebih enak."
"Padahal kemarin kakimu sampai gemetaran seperti anak rusa yang baru lahir, lho."
"Habisnya kita kan berjalan banyak sekali."
Soalnya kaki aku dan Hina memang sudah benar-benar mencapai batasnya. Mungkin ada bagusnya juga kami sudah mengambil kesempatan untuk berjalan-jalan di tepi pantai pada malam hari pertama.
"Air ini juga punya efek mempercantik kulit, jadi rasanya mantap sekali. Wah~ rasanya halus dan lembut banget~"
"Hei...... kenapa kamu malah meraba lenganku? Pastikan saja di kulitmu sendiri, dong."
"Kulit Rei-kun sekarang jadi makin bersih, lho. Waktu pertama kali kita bertemu dulu kulitmu lumayan kusam, tapi sejak kamu mulai makan makanan yang bergizi, kondisinya jadi jauh lebih baik."
"Untuk hal yang satu itu, aku benar-benar berterima kasih kepadamu. Berkat kamu, aku bisa menjalani hari-hari dengan sehat."
"Sama-sama."
Sentuhan jari-jari Hina yang lentik saat mengusap lenganku terasa menggelitik sekaligus membuat salah tingkah. Namun, perubahan kulitku yang tidak lagi kusam memang berkat Hina yang telah berhasil memikat perutku dengan masakannya.
Aku tidak tahu apakah ini efek mempercantik kulit dari air pangkat atau bukan, tetapi memiliki kulit yang disukai dan disentuh dengan gembira oleh kekasih sendiri adalah sesuatu yang patut dibanggakan.
Bisa dibilang kulit ini adalah hasil rawatan Hina. Jadi, aku akan pasrah saja menerima usapan manjanya.
"Fuu...... kalau begitu, sekarang giliran kita bergantian, ya."
"Bergantian? Apanya?"
"Sekarang giliran Rei-kun yang menyentuh kulitku, lalu periksalah dengan teliti apakah efek mempercantik kulitnya sudah keluar dengan maksimal atau belum."
"Kenapa jadi begitu?"
"Silakan, jangan sungkan. Kamu boleh menyentuh bagian mana saja, kok."
Bagaimana bisa logikanya jadi berputar begitu?
Aku sempat tersentak mundur saat Hina menggeser tubuhnya mendekat bahkan sebelum aku sempat menyentuhnya.
Asal tahu saja, ya, kulitnya itu memang terasa sangat kenyal dan halus. Berada dalam posisi seerat ini memang membuatku bahagia, tetapi karena aku hanya diam terpaku, wajah Hina mulai cemberut sehingga aku pun bergegas mengulurkan tangan. Saat aku mencubit lembut pipinya dengan jari lalu memijat dan menariknya pelan, wajah Hina langsung merekah penuh kepuasan.
"Ngh."
"Seperti biasa, kulitmu selalu terasa kenyal dan halus, ya."
"Apa efek mempercantik kulitnya kelihatan?"
"Kelihatan banget, kok."
Entah benar atau tidak, sih. Lagipula dari awal kulitnya memang sudah lembut dan bersih, serta terasa halus dan nyaman saat disentuh.
Sejujurnya aku tidak tahu apa perbedaannya, tetapi karena rasanya memang nyaman saat disentuh, aku memilih untuk mengatakannya saja begitu.
"Pemandian air panas ini enak sekali, ya. Rasanya aku ingin tinggal di sini selamanya."
"Kamu bisa pusing kalau berendam kelamaan."
"Jadi rasanya tidak ingin pulang, ya."
"Aku paham betul bagaimana perasaanmu, tapi......"
"Bagaimana kalau kita menginap di sini sekitar dua minggu lagi?"
"Sekolah kan sudah mau mulai, lagipula biayanya bisa membengkak luar biasa, lho."
"......Begitu, ya."
Tolong jangan tunjukkan wajah yang sewelas asih itu, dong. Nanti rasanya seolah-olah aku sedang melakukan suatu kesalahan besar saja.
"Bagaimana kalau Hina saja yang menginap di sini dua minggu lagi?"
"Aku kan ingin bersamamu, Rei-kun, makanya aku mau pulang. Tolong jangan mengatakan hal yang jahil begitu."
"Begitu, ya. Maaf, deh."
"Benar, lho. Kalau tidak bersama Rei-kun...... semua ini tidak ada artinya."
Dia mengatakannya dengan wajah polos, tetapi sukses membuatku tersipu. Kalau aku sampai kalah saing dalam taruhan pilihan antara pemandian air panas dan diriku, rasanya pasti akan sangat menyebalkan. Jadi, mendapatkan jawaban spontan seperti itu murni membuatku merasa senang.
"Liburan kali ini menyenangkan sekali, ya."
"Iya, sangat menyenangkan. Kita sudah membuat kenangan yang sangat indah."
Laut, pemandian air panas, ditambah kencan di Tanjung Kekasih atas arahan Hina. Kami benar-benar menikmati liburan ini dengan mengerahkan seluruh tenaga. Bisa mendapatkan kenangan yang begitu indah di penghujung musim panas membuatku kembali menyadari betapa beruntungnya diriku.
"Mari kita ke sini lagi suatu hari nanti, ya."
"Iya, janji, ya."
Sambil berkata begitu, Hina menyodorkan jari kelingkingnya ke arahku. Aku menyatukan jari kelingkingku dengan jari kelingkingnya, lalu kembali mengingat banyaknya janji yang telah terukir selama perjalanan liburan ini, membuat perasaan bahagia membuncah di dalam dada.
Bukan hanya untuk kali ini saja. Kebahagiaan ini akan terus berulang, berkali-kali.
Sembari menyematkan janji tersebut, aku bisa merasakan kehangatan dari jemari kami yang saling bertautan erat. Meskipun begitu, urusan membujuk Hina yang setelah ini kembali merajuk manja karena masih bersikeras tidak mau pulang, itu adalah cerita lain yang berbeda.




Post a Comment