NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jinsei ni Tsukare Tadorisuita Mura de, Bijotachi ga Ore o Hanasanai de Kurenai V2 Chapter 2

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 2

Bersama Mina

"Hmm hmm hm~♪ Hm~ hm~♪"


Di seberang meja, Reina-san sedang bersenandung riang.


Seperti biasa, ia hanya mengenakan camisole, memancarkan aura dewasa yang menggoda sambil tekun membuat aksesori.


"...?"


Saat aku terus memandanginya, mata kami saling bertemu.


"Ada apa? Apa kau ingin diperlakukan seperti tadi pagi lagi?"


"...Tidak."


"Begitu? Kalau nanti ingin, bilang saja kapan pun ya."


Melihat Reina-san tersenyum seperti itu, aku hanya bisa tertawa kecil sambil menggaruk kepala.


Sebenarnya, pagi ini Reina-san datang menghampiriku saat baru bangun tidur... lalu ia dengan lembut memanjakanku.


Dulu ia sempat kesal karena Mina lebih dulu "mendahuluinya" di pagi hari, dan rupanya hari ini adalah saatnya ia membalas kekalahan itu.


"Oh iya."


"Ada apa?"


"Aku, Mina, dan Yua-chan semuanya sudah memanjakanmu, kan? Jadi... menurutmu siapa yang paling membuatmu merasa nyaman?"


"...Eh!?"


Aku sampai berseru kaget mendengar pertanyaan yang sama sekali tidak kuduga.


Apa-apaan pertanyaan mendadak ini....


Kalau saja saat itu aku sedang minum teh, mungkin tanpa sadar sudah kusemburkan ke arah Reina-san yang duduk di depanku.


...Meski begitu, kurasa Reina-san bukannya marah, malah akan memasang ekspresi menggoda sambil berkata, "Aku disiram ya?♡"


Reina-san menghentikan pekerjaannya dan menatapku, menunggu jawabanku. Namun ekspresinya tampak begitu santai, memperlihatkan ketenangan seorang wanita yang jauh lebih dewasa dariku.


"Eh..."


"Eh?"


"Itu..."


"Itu?"


Apa pun yang kukatakan, Reina-san selalu mengulanginya seolah mengejarku.


Karena tangannya benar-benar berhenti bekerja, sepertinya ia tidak akan melanjutkan pekerjaannya sebelum mendengar jawabanku.


Dengan kata lain... aku benar-benar tidak punya jalan untuk kabur.


"...Sejujurnya aku tidak pernah memikirkan siapa yang paling baik."


"Tapi?"


Aku berpikir sejenak, lalu menjawab dengan jujur.


"...Reina-san yang paling ahli."


"Hehe♪ Begitu rupanya♪"


Entah karena pengalaman atau apa, yang jelas kemampuan Reina-san memang berada di tingkat yang berbeda.


"Ngomong-ngomong... bukan berarti dulu aku melakukan hal-hal seperti itu saat suamiku masih hidup, lho? Bahkan bisa dibilang Takuya-kun adalah orang pertama yang membuatku melakukan hal semacam ini."


"B-Begitu ya..."


"Iya♪"


Yah... aku agak bingung harus bereaksi seperti apa.


Karena tampaknya puas dengan jawabanku, Reina-san kembali fokus membuat aksesori.


Aku yang jadi tidak ada kegiatan mengambil papan pengumuman desa yang tergeletak di dekatku.


Di dalamnya terselip selebaran tentang festival musim panas yang pernah kudengar sebelumnya, sehingga tanpa sadar aku mulai membacanya.


"Festival Minori... begitu."


Karena nama desanya Desa Minori, jadi namanya Festival Minori... begitu, ya?


Memang terdengar sederhana, tetapi mengingat desa ini dipenuhi sawah dan ladang, nama yang melambangkan panen melimpah terasa sangat cocok.


Di selebaran itu juga terdapat beberapa foto yang memperlihatkan suasana festival tahun-tahun sebelumnya.


"Hehe, kalau dibandingkan festival yang pernah kau lihat, pasti terasa kecil, kan?"


"Ya... memang begitu. Tapi dari foto-foto ini saja sudah terasa kalau suasananya sangat meriah."


"Aku senang mendengarnya. Mungkin mulai minggu depan persiapannya sudah dimulai di kuil."


"Wah."


Aku benar-benar menantikan seperti apa festival itu nanti. Bagiku, besar atau kecilnya festival bukanlah hal yang penting.


Yang paling kutunggu hanyalah bisa menghabiskan festival itu bersama Mina dan yang lainnya.


"Sebegitu menantikannya ya?"


"Eh?"


"Soalnya dari tadi kelihatan gelisah gitu."


"Serius...? Sampai kelihatan begitu?"


"...Kau memang lucu sekali ya."


"Reina-san...?"


Sekali lagi Reina-san menghentikan pekerjaannya lalu berdiri dan menghampiriku.


Ia duduk di sampingku, membuka kedua lengannya lebar-lebar, lalu memeluk kepalaku hingga wajahku tenggelam di dadanya yang lembut.


Gerakannya begitu cepat hingga aku bahkan tidak sempat terkejut.


"Maaf ya, Takuya-kun. Kau terlihat terlalu menggemaskan."


"...Aku jadi malu."


"Tak perlu malu. Bagiku, melihatmu menunjukkan ekspresi ceria seperti sekarang, apa pun alasannya, sudah membuatku sangat bahagia."


"Reina-sa—"


"Ah, sudah tidak tahan lagi! Kau benar-benar menggemaskan, Takuya-kun!"


"Mmph!?"


Pelukannya semakin erat, membuat wajahku semakin tenggelam.


Dadanya yang begitu lembut berubah bentuk mengikuti wajahku dan membungkusnya dengan nyaman... meski sedikit sulit bernapas, aku malah merasa ingin tetap seperti ini.


"Dengar ya, Takuya-kun."


"Iya?"


Masih memelukku, Reina-san berbicara dengan suara lembut.


"Aku memang bilang kau menggemaskan, tapi bukan berarti kekanak-kanakan. Dari sudut pandangku yang melihatmu sejak pertama datang ke sini, melihatmu bisa mengekspresikan perasaanmu dengan jujur itu sangat menggemaskan."


Ia bahkan mengusap kepalaku dengan lembut.


Saat diperlakukan seperti ini, aku benar-benar bisa merasakan sifat keibuannya... kehangatan yang selalu dimiliki Reina-san.


(Lembut sekali...)


Kelembutan yang luar biasa...


Sejak dulu setiap kali melihat dadanya, aku selalu penasaran bagaimana rasanya menyentuhnya.


Reina-san sering menggunakannya untuk memanjakanku, menggoda, atau seperti sekarang, memelukku hingga wajahku tenggelam di belahan dadanya.


(Rasanya menenangkan...)


Memang, aku tetap merasakan gairah dan ingin melakukan lebih banyak hal. Namun lebih dari itu, setiap kali Reina-san memelukku seperti ini, hatiku selalu merasa damai.


"Takuya-kun?"


"Iya...?"


"Kalau ada sesuatu yang ingin kau lakukan, kau juga boleh memulainya sendiri."


"...!"


Bisikan itu benar-benar penuh godaan.


Belakangan ini aku memang mulai berpikir untuk tidak terlalu menahan diri. Karena itulah, kata-kata itu terasa sangat berbahaya...


Begitu mendengarnya, tanpa sadar tanganku bergerak menyentuh dada Reina-san.


"...Eh..."


"Jangan dilepas."


Aku tersadar dan hendak menarik tanganku, tetapi Reina-san menghentikannya. Dengan kata-katanya yang tegas, keinginanku untuk menarik diri pun lenyap.


Aku hanya mengikuti dorongan kecil dalam hatiku, menikmati kelembutan yang terasa di telapak tanganku.


Mungkin karena perhatiannya teralihkan, pelukan Reina-san sedikit mengendur. Memanfaatkan kesempatan itu, aku mengangkat wajahku dari dadanya dan menatapnya.


"............."


"............."


Reina-san hanya membalas tatapanku dengan senyuman.


Pipinya memang sedikit memerah, tetapi bukan karena malu.


Ia tampak benar-benar bahagia... Seolah tindakan yang seharusnya memalukan ini berubah menjadi sesuatu yang membuatnya senang hanya karena aku yang melakukannya.


"Aku tidak memakai bra, jadi rasanya pasti lebih enak disentuh, kan?"


"...Iya."


Benar seperti yang dikatakannya, hari ini Reina-san memang tidak memakai bra.


Bukan karena tidak berniat keluar rumah.


Aku tahu ia sengaja melakukannya agar aku semakin tergoda. Lagi pula, dengan ukuran sebesar itu, rasanya mustahil seseorang tidak memakai bra kecuali memang disengaja.


"Mau menyentuhnya secara langsung?"


"...Iya."


"Bagus, jujur sekali♪"


Aku sudah pasrah.


Perlahan kuselipkan tanganku ke balik camisole miliknya dan akhirnya menyentuh kulitnya secara langsung.


Tanpa ada kain yang menghalangi, kulitnya terasa begitu halus.


Kelembutannya memang sudah kurasakan sejak tadi, tetapi sentuhan kulitnya yang licin membuatku tanpa sadar lebih banyak mengusap daripada menggenggam.


"Agak geli."


"Maaf... kulit Reina-san terasa sangat halus."


"Sejak mulai sering bersamamu, kondisi kulitku memang jadi semakin bagus. Tentu saja aku tetap merawatnya seperti biasa... tapi mungkin tubuhku sendiri masih ingin dicintai sebagai seorang wanita."


"...Reina-san memang selalu bicara terus terang ya."


"Bukankah dari dulu memang begitu?"


"Itu... benar juga."


Aku hanya bisa tersenyum kecut.


"Kalau dibanding Mina atau Yua-chan, aku sudah termasuk wanita yang lebih tua. Meski hatiku ingin tetap muda, waktu tetap berjalan... tapi akhir-akhir ini bukan cuma kulitku yang terasa lebih segar, rasanya seluruh diriku seperti mendapatkan kembali masa muda."


"Begitu ya..."


"Mungkin karena aku masih ingin mengenal cinta lebih dalam... karena tubuhku masih mendambakan kebahagiaan sebagai seorang wanita. Karena aku ingin diperhatikan olehmu... oleh orang yang ada tepat di depanku."


Selama percakapan itu, tanganku masih tetap menyentuh dada Reina-san.


Ucapan Reina-san yang terus menatapku lurus-lurus membuat keinginan yang selama ini kupendam kembali menyala.


Bukan nyala api kecil...melainkan kobaran api besar seperti tumpukan kayu bakar yang terbakar hebat.


"...Kurasa aku masih sedikit takut."


"Kenapa?"


"Karena selama ini hidupku dipenuhi hal-hal terburuk... Padahal bisa tinggal di sini saja sudah merupakan keberuntungan. Tapi sekarang, kebahagiaan terus berdatangan seolah tanpa kuminta... selalu ada hal-hal yang membuatku merasa bahagia."


Ya...


Bagaimanapun juga, keadaan yang sedang kujalani sekarang memang terasa seperti mimpi. Padahal tadi aku sudah berpikir tidak perlu lagi menahan diri...


Bahkan sekarang aku sedang menyentuh Reina-san karena mengikuti keinginanku sendiri...


Namun tetap saja aku masih memikirkan hal-hal seperti ini.


"Itulah kehidupan yang berhasil kau raih di sini. Dan itulah pula yang ingin kami berikan kepadamu. Jadi seperti yang selalu kukatakan, cobalah sedikit mengurangi rasa sungkanmu."


"Haha... aku tahu kok."


Hah...


Perasaan sungkan ini memang benar-benar sulit dihilangkan. Namun mungkin, yang paling kupikirkan sebenarnya adalah ini.


"Aku tahu Reina-san dan yang lainnya ingin aku lebih mengandalkan kalian. Tapi aku takut kalau terlalu bergantung, suatu saat kalian akan bosan padaku... itulah yang paling kutakutkan."


"Astaga, kami tidak mungkin—"


"Aku tahu kok. Tapi justru karena rasa takut itu, aku merasa bisa menjaga batas yang tidak boleh kulewati. Aku tidak ingin dibenci atau ditinggalkan oleh Reina-san dan yang lainnya. Karena itulah aku tidak hanya ingin bergantung pada kalian... aku juga ingin menjadi seseorang yang bisa membantu kalian. Sebagai seorang pria, aku juga ingin memperlihatkan sisi diriku yang bisa diandalkan."


Aku ingin menjadi sosok yang mereka harapkan. Namun pada saat yang sama, aku juga ingin menjadi sosok yang kuinginkan sendiri.


Setelah mendengar pengakuanku, Reina-san sempat membelalak.


Namun tak lama kemudian ia tersenyum kecil.


"Kalau bisa mengatakan semua itu dengan penuh percaya diri, menurutku kau sudah sangat keren. Meski... mungkin agak kurang keren kalau mengatakannya sambil meremas dadaku."


"...Ah! Maaf!"


Baru kusadari...


Sejak tadi tanganku memang tidak pernah lepas dari dadanya.


Aku buru-buru menarik tanganku dan menjauh, tetapi rupanya Reina-san malah terlihat sedikit kecewa.


Ia mengembungkan pipinya dengan manis. Padahal dia selalu menyebut dirinya wanita tua….memang usianya lebih dewasa, tetapi sama sekali tidak terlihat seperti itu.


Yang kulihat hanyalah seorang wanita dewasa yang cantik, menggemaskan, dan sangat memikat.


"Sudah tidak mau menyentuhnya lagi...?"


"............."


Sepertinya ia masih ingin aku terus menyentuhnya....


"Kalau begitu... bolehkah aku... menciumnya...?"


"...Eh, tunggu dulu!?"


Apa yang barusan kukatakan!?


Sepertinya setelah menyentuh dada Reina-san dan melihat ekspresi manisnya, pikiranku benar-benar jadi kacau.


"...Hehe, mendadak sekali sampai membuatku kaget. Maksudmu kau ingin dimanjakan seperti bayi yang sedang menyusu? Sayangnya aku sudah tidak mengeluarkan ASI lagi."


"A-Ah... itu..."


"Tapi tidak apa-apa. Aku akan memenuhi keinginan Takuya-kun♡"


Sambil berkata begitu, Reina-san menepuk-nepuk pahanya.


Meskipun yang memulai adalah aku, melihat semangat Reina-san sekarang, rasanya sudah tidak mungkin menghentikannya.


"K-Kalau begitu... tolong."


"Ya♡"


Kalau begitu, dengan senang hati aku akan menerima permainan menyusui itu!


Apa pun alasannya, ini memang permainan yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Tapi aku tahu seperti apa itu secara teori, dan sejujurnya... aku memang pernah ingin mencobanya.


Aku merebahkan tubuh di pangkuan Reina-san. Begitu berbaring, yang langsung memenuhi pandanganku tentu saja adalah payudara Reina-san yang sangat besar.


"Kalau begitu, kita mulai ya."


"...Baik!"


Payudara di hadapanku perlahan mendekat. Jarak kami menjadi nol, menutupi mulutku, lalu putingnya menyentuh bibirku.


"........"


Aku bahkan tidak tahu harus menggambarkan perasaan ini bagaimana.


Meski tentu saja tidak ada ASI yang keluar saat aku mengisapnya, entah kenapa rasanya seperti sedang menyerap sesuatu, dan itu membuatku merasa sangat tenang.


"Hmm... ternyata tidak buruk juga ya♡"


"Be-benarkah...?"


"Terakhir kali aku merasakan sensasi dihisap seperti ini adalah saat Mina masih bayi... fufu, Takuya-kun benar-benar seperti bayi besar."


Ini... benar-benar memalukan. Namun pada saat yang sama, ada daya tarik yang membuatku tidak bisa berhenti. Bahkan saat aku mencoba sedikit menjauhkan wajah, Reina-san malah mendorong dadanya ke arahku seolah berkata jangan berhenti, sehingga aku terus saja mengisapnya.


Entah sudah berapa menit berlalu...


Aku benar-benar menikmati payudara Reina-san.


"Bagaimana?"


"Ehm... luar biasa."


"Syukurlah♪ Aku juga merasa sangat puas... nanti kita lakukan lagi ya? Bisa sebagai bagian dari permainan saat ngentot, atau mungkin nanti kalau suatu hari aku benar-benar bisa mengeluarkan ASI lagi♪"


"........"


Bagaimana bisa dia mengucapkan hal seperti itu sambil tersenyum begitu indah...!


Reina-san memancarkan pesona yang membuatnya sama sekali tidak terlihat seperti wanita yang sudah memiliki anak perempuan dewasa. Namun saat itu, ponselnya berdering.


Nada dering berbunyi sekali... dua kali... tetapi Reina-san terus menatapku.


Meski begitu, sepertinya dia juga tidak bisa terus mengabaikan telepon itu. Sambil menghela napas, dia mengambil ponselnya.


"Karena tadi pagi kita sudah melakukannya sekali, jadi katanya jangan lebih dari itu ya...?"


"...Mungkin."


"Sayang sekali..."


Dia benar-benar tampak kecewa dari lubuk hatinya.


Meski begitu, mendengar dia berkata seperti itu saja sudah membuatku merasa tersanjung. Apalagi sejak tadi aku terus menyentuh dadanya yang begitu lembut, sehingga gairahku juga masih belum reda.


"Halo──"


Reina-san mulai menerima telepon, dan sepertinya pembicaraannya akan cukup lama.


Kalau terus berada di sini, pikiranku pasti hanya akan tertuju padanya dan panas tubuhku tidak akan turun. Jadi aku memutuskan kembali ke kamar.


"...Hm?"


Di depan kamar Mina, aku berhenti.


Dari celah pintu yang sedikit terbuka, aku bisa melihat ke dalam. Di sana, Mina mengenakan pakaian yang belum pernah kulihat sebelumnya.


"...Pakaian miko."


Mina sedang mengenakan pakaian miko.


Dia memang bilang ada yang harus dipersiapkan untuk festival, jadi ternyata itu adalah latihan memakai pakaian miko...


Meski tahu aku tidak boleh melihat, pandanganku tetap tidak bisa berpaling.


Atasannya putih dan bawahannya merah, pakaian miko yang biasa kulihat. Namun karena dia sedang berganti pakaian, bajunya masih terbuka sebagian.


"...Gawat."


Aku bergumam pelan.


Karena... penampilan Mina terlihat begitu menggoda.


Padahal tadi aku berniat menenangkan gairah setelah bersama Reina-san, tetapi melihat Mina yang sedang berganti pakaian justru membuatku semakin bersemangat.


"...Ini benar-benar tidak baik."


Namun, aku bukan binatang yang diperbudak nafsu.


Karena itulah, meski aku tahu Mina tidak akan membenciku atau terluka hanya karena aku sempat melihatnya seperti ini, tetap saja mengintip adalah hal yang salah. Aku masih cukup tenang untuk menyadarinya.


"...Haa... lebih baik kembali ke kamar."


Aku memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, lalu hendak pergi.


Namun sebuah suara sejuk menghentikanku.


"Ada apa, Takuya-san?"


"...Eh?"


Suara Mina!?


Kupikir dia masih sibuk berganti pakaian tanpa menyadari keberadaanku...


Saat membuka mata, yang kulihat adalah Mina berdiri tepat di balik pintu yang sedikit terbuka sambil menatapku.


"Waaahh!?"


Aku begitu terkejut hingga terduduk jatuh di lantai. Mungkin saat aku memejamkan mata tadi dia sudah menghampiriku.


Rasa bersalah karena mengintip memang ada, tetapi yang lebih besar adalah rasa takut karena tidak tahu sejak kapan dia menyadari keberadaanku.


Pintu perlahan terbuka.


Mina berdiri di depanku dengan pakaian miko yang masih belum rapi.


"Jangan-jangan... Kamu tadi mengintip?"


"...Ma-maaf."


Belahan dadanya yang terlihat atau pahanya yang putih kini sudah tidak penting lagi.


Yang membuatku takut justru nada suara Mina yang datar. Aku hanya bisa menundukkan kepala dan meminta maaf.


Eh...?


Bukankah Mina seharusnya tidak marah...?


"...?"


"Fufu, kamu sampai sekaget itu? Atau kamu pikir aku akan marah?"


Mina...sedang tersenyum.


Tidak ada sedikit pun tanda-tanda marah. Bahkan dia menarik tanganku, membantuku berdiri, lalu mengajakku masuk ke kamarnya.


Aku sudah beberapa kali masuk ke kamar Mina.

Di sinilah dia pernah merawatku.


Di kamar yang dipenuhi aroma manis khas dirinya ini, dia berkali-kali merayuku dengan kata-kata dan tingkah laku yang menggoda.


"Tenang saja. Aku tidak marah kok."


"...Syukurlah."


"Takuya-san juga tahu, kan? Jangankan marah karena hal seperti ini, aku malah ingin memperlihatkan lebih banyak lagi... tentu saja khusus untuk Takuya-san♪"


Sambil berkata begitu, Mina tersenyum. Namun perlahan senyum itu berubah menjadi senyum yang begitu menggoda.


Dengan pakaian yang masih berantakan, dia benar-benar tampak seperti wanita yang sedang menggoda seorang pria.


Biasanya dia begitu anggun, tetapi demi membuatku tetap tinggal di desa ini, dia rela mempertaruhkan seluruh dirinya.


"Fufu, sepertinya Takuya-san sudah mengeluarkan aroma yang menggoda ya?"


"........"


"Pakaian ini juga tidak akan dipakai hari ini ataupun besok. Lagi pula aku akan menerima semuanya, jadi tidak akan kotor. Tidak masalah kok."


Mina berjongkok, mengusap selangkanganku, lalu mendongak menatapku.


Ekspresinya jelas menunjukkan bahwa dia tahu aku tidak mungkin menolak.


Sejujurnya tadi aku masih berusaha menahan diri agar pakaian miko yang dipersiapkan untuk festival itu tidak ternoda. Namun hanya dengan satu kalimat "tidak masalah" darinya, tekadku langsung goyah.


Aku...Ingin bersama Mina.


Dan pada saat yang sama, aku sadar bahwa rasa sungkan yang selama ini selalu kurasakan terhadapnya mulai memudar.


"...Mina."


"Ya."


Jangan sungkan...


Seolah didorong oleh kata-kata itu, akhirnya aku mengatakannya.


"Aku ingin... ngentot denganmu, Mina."


"...Eh?"


"Aku tidak ingin terus menahan diri. Lebih dari itu... aku ingin terhubung denganmu lebih dalam."


"...Ah."


Ekspresi menggoda Mina menghilang. Dia hanya terdiam dengan wajah benar-benar terkejut.


Jangan-jangan...


Ini bukan jawaban yang dia harapkan? Atau mungkin kata-kataku tadi justru menghancurkan hubungan kami?


Melihat Mina yang tampak begitu terkejut, kecemasan dalam dadaku langsung membesar.


"Ehm... anu... lupakan saja──"


Aku hendak menarik kembali ucapanku. Namun aku tidak sempat mengatakannya.


Tiba-tiba tubuhku didorong pelan. Pandangan berputar.

Saat sadar, aku sudah menatap langit-langit.


"...Mina?"


"........"


Dia...menindihku.


Mina tidak berkata apa-apa. Dia hanya menyandarkan wajah di dadaku. Beberapa saat kemudian dia mengangkat wajah dan menatapku.


Aku pun bangkit agar tinggi wajah kami sejajar.


"........"


"........"


Tak satu pun dari kami berbicara.


Kami hanya saling memandang dalam diam.


Semua ini jelas terjadi karena kata-kataku tadi. Namun suasananya bukan canggung. Justru terasa begitu hangat dan tenang.


"...Mina."


"...Takuya-san."


Akhirnya yang keluar dari mulut kami hanyalah nama satu sama lain. Lalu secara alami tubuhku mendekatinya.


Ternyata dia pun melakukan hal yang sama.


Kami saling berpelukan.


Aku melingkarkan tangan di punggungnya. Meski ruangan hanya sedikit didinginkan AC dan terasa agak hangat, saat ini yang paling kuinginkan hanyalah merasakan keberadaan Mina.


"........"


"........"


Kami masih belum berbicara.


Namun tubuh kami terus bergerak. Tanpa kusadari, tanganku meraih dadanya yang lembut.


Menyelip masuk melalui celah pakaian yang terbuka, telapak tanganku menggenggam kelembutan yang begitu besar hingga nyaris meluap dari genggaman.


Aku meremasnya sesuka hati.


Sepanjang waktu itu, Mina hanya terus menatap lurus ke arahku.


"........"


"........"


Masih…


Belum ada kata-kata. 


Namun anehnya, tidak ada sedikit pun rasa canggung. Fakta bahwa bayanganku terpancar di mata Mina membuat jantungku berdebar tanpa bisa dihentikan.


Di ruangan ini hanya ada aku dan Mina. Tak seorang pun akan mengganggu kami.


Tatapan mata Mina perlahan semakin mendekat.


Artinya wajahnya juga semakin dekat.


Lalu...bibir kami saling bertemu.


"......."


"Chu..."


Sama seperti dadanya yang kusentuh, bibirnya juga begitu lembut.


"Ehm... ini ciuman pertama kita ya?"


"...Ah, iya juga."


Baru setelah dia mengatakannya aku menyadarinya.


Ini memang ciuman pertama kami. Padahal kami sudah melakukan banyak hal yang jauh lebih intim. Namun justru ciuman, yang sebenarnya lebih sederhana dibanding semua itu, belum pernah kami lakukan.


Yah, biasanya ciuman memang dilakukan oleh sepasang kekasih. 


Meski pemikiran itu sempat terlintas di benakku...


Meski aku tahu jika wajah kami terus mendekat maka kami pasti akan berciuman...


Aku tidak mampu menghentikannya.


"Padahal kita bukan pasangan... tapi mengingat semua yang sudah kita lakukan, mungkin sekarang sudah tidak ada bedanya lagi ya?"


"...Mungkin."


"Fufu, bagiku ini benar-benar membahagiakan. Karena aku begitu mencintai Takuya-san, fakta bahwa kita akhirnya saling berciuman seperti ini membuatku sangat bahagia."


"...Aku juga."


Kami kembali saling mendekat dan berciuman.


Sejujurnya, selama hidupku aku belum pernah mencium siapa pun. Bahkan hanya saling menyentuhkan bibir seperti ini saja sudah cukup membuatku kehilangan akal.


Namun...masih ada sesuatu yang membuatku semakin tak mampu berpikir jernih.


Mina perlahan membuka celah bibirku, lalu lidahnya menyelinap masuk ke dalam mulutku.


"...!?"


"Hmm♡"


Lidah Mina menjelajahi bagian dalam mulutku... inilah yang disebut ciuman mendalam.


Karena terlalu terkejut, untuk beberapa saat aku hanya membiarkan semuanya terjadi. Namun tak lama kemudian, aku juga menggerakkan lidahku untuk membalas Mina... lalu lidah kami pun saling bertaut.


Meski ini adalah ciuman mendalam pertamaku, entah bagaimana aku tahu harus melakukannya.


Bukan karena pengetahuan, melainkan karena naluri sebagai manusia yang sudah memahaminya.


Setelah ciuman yang panjang dan dalam itu berakhir—waktu yang terasa seolah tak berujung—Mina menatapku dengan mata yang sedikit berkaca lalu berkata,


"Jawaban untuk yang tadi... aku belum sempat memberikannya. Aku terlalu bahagia sampai-sampai larut dalam ciuman dengan Takuya-san."


"...Tidak, aku juga tiba-tiba mengatakannya begitu saja. Benar-benar tidak ada suasana romantis sama sekali."


"Aku tidak membutuhkan suasana seperti itu. Takuya-san menginginkanku... fakta itu saja sudah lebih dari cukup."


"...Begitu ya."


"Hanya saja..."


"Hanya saja?"


"Walaupun memang aku sengaja mengarahkannya agar jadi seperti ini, aku tetap penasaran kenapa Takuya-san tiba-tiba mengatakan hal itu."


"...Kalau begitu..."


Merasa tak ada gunanya mencari-cari alasan, aku pun menjelaskan kenapa semuanya bisa sampai seperti ini.


Setelah percakapanku dengan Reina-san membuat gairahku memuncak, aku melihat Mina mengenakan pakaian miko yang sudah terbuka berantakan... lalu pada saat yang sama aku berpikir, mungkin aku memang tidak perlu lagi menahan diri terhadap Mina dan yang lain yang terus menggodaku secara erotis... itulah alasan aku bertindak seperti tadi.


"Begitu rupanya... ini benar-benar perkembangan yang luar biasa!"


"Whoa!?"


Mengepalkan tangannya dengan penuh semangat, Mina berseru sambil matanya berbinar.


Melihat reaksinya saja sudah cukup membuktikan bahwa perubahan dalam diriku memang merupakan sesuatu yang selama ini diinginkannya... tidak, Reina-san dan Yua pasti juga merasakan hal yang sama.


Kalau aku melangkah lebih jauh, tidak akan ada jalan untuk kembali.


Tak peduli seberapa banyak kata-kata yang kuucapkan, setelah ini aku takkan bisa menjauh lagi... meski aku tahu suatu hari nanti aku harus pergi, aku tak boleh terus bergantung pada mereka, tetap saja aku tak mampu mengalihkan pandangan dari godaan manis yang ada tepat di hadapanku.


Seolah tak ingin memberiku kesempatan untuk menenangkan pikiranku, Mina mulai melepaskan pakaian mikonya sedikit demi sedikit, membuat penampilannya semakin menggoda.


"Tidak perlu memikirkannya terlalu rumit. Takuya-san hanya perlu melakukan apa yang ingin Takuya-san lakukan padaku──meski sebenarnya... aku juga sudah tidak sabar ingin terhubung denganmu lebih dalam lagi♡"


Dengan kedua tangan terbuka lebar, Mina menungguku.


Membuang jauh semua keraguan yang tadi memenuhi kepalaku, aku mengikuti keinginanku menuju Mina... lalu menjatuhkannya perlahan ke atas tempat tidur.


"...Setelah menjatuhkanmu seperti ini, aku malah tidak tahu harus bagaimana... maaf soal itu."


"Aku juga sama. Jadi tidak apa-apa kalau kita sama-sama meraba-raba jalan kita, bukan?"


"...Benar juga."


"Iya♡"


Karena ini pertama kalinya, aku sama sekali tidak tahu apa yang harus kulakukan.


Namun entah kenapa, senyuman Mina berhasil mengusir semua kegelisahanku. Bahkan membuatku merasa tak masalah menikmati pengalaman pertama yang sama sekali belum kukenal ini.


Lalu──


"Takuya-san, datanglah... aku ingin Takuya-san memperlakukanku semaumu♡"


Kata-kata yang dipenuhi hasrat dan harapan itu membuatku akhirnya benar-benar mantap.


Seperti yang tadi kukatakan, ini adalah pengalaman pertamaku, jadi aku tidak tahu urutannya... yang bisa kuandalkan hanyalah sedikit pengetahuan yang pernah kudengar sekilas.


Namun entah kenapa, itu pun terasa tidak buruk.


"Mina..."


"Takuya-san...♡"


Aku menutupi tubuh Mina, lalu kembali menciumnya.


Kali ini sejak awal lidah kami saling bertaut tanpa ada sedikit pun rasa sungkan... tadi Mina yang memulainya, sekarang giliranku.


"Chu... n... churu..."


Karena ciuman yang menggunakan lidah dengan begitu intens, baik aku maupun Mina tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.


Namun embusan napas Mina terus menggema di telingaku, semakin membakar gairahku... membuatku ingin lebih, ingin mencium Mina dengan lebih hebat lagi.


"Ah...!? Uhn♡"


Tentu saja tidak hanya berciuman. Tanganku mulai membelai tubuh Mina yang montok. Tubuhnya yang benar-benar dikuasai gairah terasa begitu panas hingga membuatku sempat berpikir apakah dia sedang demam.


"Aku ingin menyentuhmu lebih banyak lagi, Mina."


"Iya♡ Sentuhlah aku lebih banyak lagi... ah... warnailah seluruh diriku dengan warna milikmu, Takuya-san♡"


...!


Gawat... hampir saja kendali diriku benar-benar lepas.


Meski setelah sampai sejauh ini rasanya sudah tak ada lagi gunanya membicarakan soal pengendalian diri, tetap saja tanganku kini bergerak tanpa sedikit pun rasa sungkan.


Sambil terus berciuman, aku membelai dadanya, lalu perlahan menggerakkan tanganku ke arah bawah.


Tanganku berhenti di atas celana dalamnya yang terasa lembut, lalu telunjukku mengusapnya perlahan... hanya dengan itu saja tubuh Mina langsung bergetar kecil, sementara pinggangnya bergerak mendorong bagian paling berharganya ke arah jariku.


"Emm... bukankah itu terlalu menggoda?"


"Jangan bilang begitu... tangan Takuya-san terasa sangat nyaman sampai tanpa sadar aku jadi seperti ini♡ Aku ingin Takuya-san melakukan lebih banyak lagi padaku, jadi tanpa sadar pinggangku terus bergerak memohon♡"


T-terlalu erotis....


Sikap seperti menggesekkan bagian yang paling sensitif demi mencari kenikmatan benar-benar mustahil kubayangkan dilakukan oleh Mina yang biasanya.


"Entahlah, dalam situasi seperti ini aku harus bilang kau imut atau erotis... tapi apa pun ekspresimu, kau tetap cantik, Mina."


"Benarkah? Apa Takuya-san tidak berpikir kalau aku benar-benar mesum?"


"...Mesum."


"...♡♡"


Begitu mendengar kata itu, Mina justru menunjukkan reaksi yang sangat bahagia.


Anak ini... benar-benar terlalu erotis. Dan lebih dari itu, apa pun reaksinya selalu membuatku ingin melihat sisi dirinya yang lebih jauh lagi.


Aku ingin melihat lebih banyak lagi ekspresi Mina... ingin dia memperlihatkan semuanya padaku.


"Ahn♡"


Tanganku menyelinap ke balik celana dalamnya.


Semua terjadi begitu alami sampai di titik ini, tetapi yang paling penting tetaplah reaksi Mina.


Meski aku menyentuh bagian tubuhnya yang begitu sensitif, Mina sama sekali tidak memintaku berhenti... demi menjawab kepercayaan penuh yang ia berikan kepadaku, aku ingin memastikan pengalaman ini tidak menjadi sesuatu yang buruk baginya.


(...Aneh juga... padahal aku sendiri seharusnya tidak punya ruang untuk berpikir tenang, tapi ternyata aku masih sempat mengkhawatirkan hal seperti ini?)


Namun, itu juga tidak buruk. 


Lagi pula aku lebih tua daripada Mina, jadi setidaknya aku ingin memperlihatkan sisi diriku yang bisa diandalkan... seseorang yang membuatnya merasa aman.


Kurasa ini... hanya soal harga diriku.


"Haa...♡ Jari Takuya-san ada di dalam diriku...♡"


"...Luar biasa... jadi rasanya seperti ini."


"T-tolong jangan mengatakannya begitu...♡"


Bagian dalam tubuh Mina benar-benar merupakan sensasi yang sama sekali baru bagiku.


Setiap kali jariku bergerak sedikit saja, Mina langsung bereaksi, membuktikan tanpa keraguan bahwa tempat ini memang sangat sensitif.


Aku berusaha berhati-hati agar tidak menyakitinya sedikit pun, tetapi reaksinya justru semakin lama semakin besar.


"Takuya-san... Takuya-san♡"


"Apa aku melakukannya dengan benar?"


"Iya... menurutku Takuya-san sangat pandai... ah♡"


...Meski suaranya terdengar begitu menggoda, bagiku semuanya tetap terasa sangat menggemaskan.


"...Haaa."


"Ada... apa?"


"Tidak... melihat Mina terlihat begitu menikmati semuanya... mendengar suara seperti itu darimu membuatku yakin kalau caraku mungkin memang tidak salah."


"Fufufu♡ Takuya-san boleh percaya diri. Rasanya benar-benar enak... tapi yang lebih dari itu, aku sangat bahagia. Aku bisa mempersembahkan tubuh ini untukmu... bisa memberikannya hanya untukmu♡"


Mendengar kata-kata itu, aku tak mampu lagi menyembunyikan senyumku.


Dalam situasi seperti ini mungkin wajahku terlihat bodoh bagaimana pun aku tersenyum, tetapi sekarang itu sudah tidak penting lagi.


"Mina..."


"Ah... luar biasa♡"


Setelah terus mencium dan membelai Mina, aku pun mencapai batas kesabaranku.


Berkali-kali selama ini mereka membuatku bergairah, tetapi tidak pernah ada yang melebihi perasaanku saat ini. Tanpa sedikit pun keraguan atau rasa malu, aku melepaskan celanaku.


"Aku mulai ya, Mina."


"Iya... datanglah♡"


Mulai dari sini adalah wilayah yang benar-benar belum pernah kualami.


Namun aku sama sekali tidak takut. Bahkan aku hanya ingin segera mengalaminya... atau kalau harus mengatakannya dengan cara yang lebih jujur, aku begitu ingin membuat wanita cantik di hadapanku menjadi sepenuhnya milikku.


...Memang terdengar kasar, tetapi sebesar itulah keinginanku untuk mencurahkan seluruh perasaanku kepada Mina.


"Ke sini... lalu──"


"Ah... ah... masuk...!"


Aku menggerakkan pinggangku perlahan, sedikit demi sedikit memasuki tubuh Mina.


Proses itu menghadirkan sensasi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata... kehangatan yang seolah melelehkan, serta penerimaan tanpa sedikit pun penolakan terasa begitu nyaman.


Jadi inilah bagian dalam tubuh Mina... jadi beginilah rasanya ngentot.


Saat aku masih terpaku oleh rasa takjub itu, tiba-tiba aku tersadar... padahal baru saja kami benar-benar menyatu, tetapi pikiranku hanya dipenuhi oleh diriku sendiri, bukan oleh Mina.


"Luar biasa... jadi rasanya seperti ini... hangat... milik Takuya-san terasa begitu nyata♡"


"........"


Mina terus menatap bagian tempat tubuh kami menyatu.


Melihatnya mengusap bagian itu dari atas perutnya dengan penuh kasih sayang, sepertinya dia tidak merasa kesakitan... mungkin.


"Apa... sakit?"


"Tidak, aku baik-baik saja. Ini memang pertama kalinya bagiku... fufu, mungkin karena tadi Takuya-san sudah membuat tubuhku rileks."


"Begitu ya..."


Memang persiapannya sudah cukup matang... tapi saat Mina mengusap perutnya seperti itu, sensasi seperti ditekan benar-benar bisa kurasakan juga.


"Bagaimana rasanya di dalam diriku?"


"Sangat nyaman... entahlah... benar-benar sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya."


"Boleh dijelaskan lebih rinci?♡"


"...Rasanya sangat licin, lalu mengikuti napas Mina kadang terasa lebih erat... mungkin begitu. Tapi justru rangsangan itu membuatku ketagihan."


Aku ini sebenarnya sedang menganalisis apa sambil mengatakan semua itu....


"Fufu, agak memalukan ya... tapi aku juga merasakan sensasi yang sangat aneh. Ada sesuatu di dalam tubuhku... namun entah kenapa rasanya sama sekali tidak buruk. Kalau kita tetap menyatu seperti ini selama berjam-jam, apa bagian ini nantinya akan berubah menjadi bentuk yang khusus hanya untuk Takuya-san?♡"


"........"


Pilihan kata-katanya satu per satu benar-benar erotis... sebenarnya anak ini apa sih?


Tentu saja, Mina sendiri tampaknya sadar akan hal itu. Melihat reaksiku, dia hanya terkikik geli.


Sambil tersenyum kecut karena bahkan dalam situasi seperti ini aku masih dijadikannya bahan godaan, aku pun berpikir ingin menunjukkan bahwa kalau memang harus melakukannya, aku juga bisa serius, lalu mulai menggerakkan pinggangku.


"Ah, tung... ini... apa ini...?"


Gerakanku masih lambat, tetapi perubahan pada Mina sangat jelas terlihat.


Dia tampak kebingungan menghadapi sensasi yang belum pernah dikenalnya... ingin melihat ekspresinya lebih jauh, aku sedikit mempercepat gerakanku.


"Ah... uhn... ah, ah♡"


Suara Mina mulai dipenuhi warna kenikmatan.


Setiap kali melihat ekspresi itu terpatri di mataku, semuanya menjadi bahan bakar yang membuatku semakin terdorong untuk terus memberikan rangsangan... tetapi bukan hanya Mina yang larut dalam kenikmatan.


Aku juga sama... jadi beginikah rasanya ngentot?


"Mina, Mina...!"


"Takuya-san... Takuya-san...♡"


Sedikit demi sedikit aku mulai memahami cara menggerakkan pinggangku.


Sambil memanggil namanya untuk menjaga ritme, aku terus bergerak... namun saat itu Mina tiba-tiba menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


"Kenapa...?"


"Tidak... maafkan aku, Takuya-san... wajahku pasti terlihat aneh... aku malu..."


Sepertinya Mina tidak ingin wajahnya dilihat.


Padahal sejak tadi aku terus memperhatikannya, dan sama sekali tidak ada ekspresi yang aneh... malah aku jadi bertanya-tanya, kenapa harus disembunyikan? 


Aku ingin melihat wajah Mina.


"Tak perlu disembunyikan lagi setelah sejauh ini... perlihatkan wajah cantikmu lebih lama padaku."


"Ja-jangan mengatakan hal yang begitu jahat...♡"


"Mana mungkin itu jahat... kalau begitu akan kulihat secara paksa."


"Ah♡"


Aku menggenggam kedua pergelangan tangan Mina dan menahannya di samping wajahnya.


Wajah Mina memerah karena malu. Dia sempat mencoba memalingkan wajahnya, tetapi setelah sadar tak bisa lagi menyembunyikannya, dia akhirnya menyerah dan menatapku.


Saat aku kembali menggerakkan pinggangku, ekspresinya kembali berubah, dan suara yang manis itu kembali keluar dari bibirnya.


"Ah... haa! Ah... aaah♡"


"Tidak perlu disembunyikan sama sekali... kau secantik ini!"


Segala sesuatu tentang Mina begitu menggemaskan, dan pada saat yang sama begitu berharga bagiku.


Melihat Mina seperti itu membuatku semakin ingin mencurahkan seluruh perasaanku kepadanya... gerakanku pun semakin cepat. Aku sudah tak bisa berhenti.


"Mina! Mina...! Mina!"


"Uhn...! Datang... datanglah...!"


Seolah mengerahkan seluruh tenaga untuk dorongan terakhir, aku menggerakkan pinggangku sedalam mungkin.


"Akuuu...♡"


Bersamaan dengan teriakannya, kukunya mencengkeram punggungku. Rasanya memang sedikit perih seperti ditusuk jarum suntik, tetapi kenikmatan yang menyelimuti tubuhku jauh mengalahkan rasa sakit itu.


Saat Mina memelukku erat, aku pun membalas pelukannya sekuat tenaga.


Kami sama-sama bernapas kasar seperti baru selesai berolahraga. Ketika saling memandang, tanpa sadar senyum pun mengembang di wajah kami.


"Luar biasa ya...♡"


"Iya... jadi beginilah rasanya ngentot."


"Iya... rasanya benar-benar menyenangkan♡"


Syukurlah... bukan hanya aku, Mina juga ternyata sangat menikmatinya.


Masih ingin menikmati sisa-sisa perasaan itu, aku secara alami mendekatkan wajahku ke arahnya, lalu menciumnya bahkan sebelum meminta izinnya.


Mina menutup mata dan menerimanya.


Entah kenapa ciuman kami tak kunjung berakhir.


Kupikir setelah berciuman seperti ini aku akan kembali ingin mengulang semuanya, tetapi anehnya tidak. Kami hanya saling menikmati sisa kehangatan itu lewat ciuman yang lembut.


"...Haa."


"Istirahat sebentar, ya."


Aku mengangguk pada ucapan Mina dan berbaring di sampingnya.


Napas kami perlahan mulai kembali tenang. Saat suasana menjadi hening, Mina mendekatkan tubuhnya kepadaku.


Aku merangkul bahunya dan menariknya mendekat, lalu melirik ekspresinya.


"............"


"............"


Mina hanya menatapku tanpa berkedip.


Aku pun membalas tatapannya, dan waktu berlalu begitu saja.


Entah waktu macam apa ini, pikirku. Namun rasa lelah yang membungkus tubuh terasa begitu nyaman hingga aku berharap momen ini berlangsung selamanya.


"...Fufu, akhirnya kita melakukannya ya?"


"Iya... kita melakukannya."


"Menyesal?"


"Tentu tidak... hanya saja, setelah melewati batas ini, aku merasa aneh. Bukan penyesalan, hanya perasaan yang sulit dijelaskan."


Aku sama sekali tidak menyesal... mana mungkin aku menyesal.


Hanya saja kenyataan bahwa aku telah benar-benar menyatu dengan Mina membuatku merasa semuanya sudah berjalan sejauh ini.


"Memang rasanya aneh ya... karena rasanya milik Takuya-san masih tetap ada di dalam diriku."


"...Jadi memang begitu rasanya."


"Iya♪ Tapi aku tidak membencinya, kok. Aku memang sudah lama ingin seperti ini... rasa puas itu memenuhi seluruh diriku♪"


Mina tersenyum dengan wajah yang benar-benar bahagia.


Melihat senyum itu membuat pipiku ikut mengendur. Namun perlahan pikiranku kembali dipenuhi kenyataan bahwa aku benar-benar telah melewati batas... bukan karena menyesal, melainkan karena semuanya terasa begitu nyata.


"Takuya-san."


"Hm?"


"Bisa menyatukan tubuh dan menjalin hubungan seperti ini adalah sesuatu yang sangat membahagiakan bagiku. Itu sama sekali bukan kebohongan, jadi jangan terlalu dipikirkan, ya?"


"...Kau benar-benar tahu isi kepalaku ya."


"Tentu saja. Kalau Takuya-san sampai menyesal, perasaanku pasti rumit. Tapi sepertinya tidak begitu, jadi aku lega... ufufu♪ Malah aku ingin Takuya-san senang karena mulai sekarang kau bisa memelukku kapan pun kau mau♪"


Mulai sekarang aku bisa memeluknya kapan saja...


Tanpa sadar, kata-kata itu membuat hatiku berdebar.


"Tentu saja bukan hanya aku. Kau juga boleh memeluk Ibu maupun Yua, lho?"


Mina membisikkan kata-kata itu di dekat telingaku sambil tersenyum penuh arti.


Aku tahu... aku paham bahwa situasi seperti ini memang sudah tidak wajar. Namun tetap saja... aku tidak bisa memungkiri bahwa aku menantikannya.


Bukan hanya bersama Mina, tetapi juga bisa menghabiskan waktu seperti tadi bersama Reina-san dan Yua.


"Takuya-san sudah berusaha sangat keras. Memang Takuya-san selalu rendah hati dan bilang itu tidak benar, tapi aku terus memperhatikanmu selama berada di sini, jadi ada banyak hal yang bisa kulihat."


"............"


"Selama berada di sini, Takuya-san tidak perlu lagi menahan diri ataupun sungkan. Karena memang itulah yang kami inginkan... kami yang berada di sisimu sekarang adalah wanita-wanita milikmu, Takuya-san♡"


Kata-kata Mina itu terus bergema di dalam kepalaku.


Yang sedikit membuatku lega saat itu adalah aku tidak tersenyum aneh. Memang aku ingin mengalami lagi waktu yang terasa seperti mimpi tadi, tetapi bayangan diriku di mata Mina tidak menunjukkan senyum mesum karena membayangkan hal itu.


Entah kenapa, itu terasa sangat seperti diriku sendiri.


"Ngomong-ngomong... fufu♪"


"Hm?"


"Dulu aku pernah bilang kalau Yua suka manga yang agak mesum, ingat?"


"Oh, iya."


"Waktu itu kita bilang kalau cerita seperti itu tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Tapi ternyata belum tentu juga ya."


"...Benar. Kenyataan memang kadang lebih aneh daripada fiksi."


Kami pun saling tertawa kecil.


Setelah itu aku terus memeluk tubuh Mina, sementara dia juga sama sekali tidak berniat menjauh dariku. Dalam keadaan tanpa sehelai benang pun, kami terus merasakan kehangatan tubuh satu sama lain.


"Takuya-san."


"Hm?"


"Setelah ini, kau sudah tidak berniat menahan diri lagi, kan?"


Mendengar itu aku mengangguk pelan, tetapi segera menambahkan,


"Tapi aku tetap akan tahu batas. Lagi pula, semua yang bisa kurasakan sekarang terjadi karena kalian. Jadi kalau sampai aku melupakan perasaan itu, kurasa aku akan menjadi orang yang payah."


"...Kau benar-benar baik hati ya~"


"Menurutku itu bukan soal baik hati, hanya hal yang wajar."


"Fufu♪ Yah, untuk sementara kita tidak usah membahas kalau situasi kita sekarang sendiri sudah tidak wajar."


"Itu memang sudah jadi kesepakatan kita...!"


Setelah menikmati sisa-sisa kehangatan itu cukup lama, kami akhirnya sadar tak mungkin terus berdua dalam keadaan telanjang.


"Tubuh kita juga lengket karena keringat dan macam-macam, jadi sebaiknya kita akhiri sampai di sini."


"Ah... maaf, Mina."


Yang diangkat Mina adalah pakaian mikonya.


Benar juga... tadi Mina sedang mencoba mengenakan pakaian miko.


"Jangan minta maaf. Seperti yang kubilang dari awal, tidak apa-apa kok."


"Begitu ya... syukurlah."


"Iya♪"


Saat Mina merapikan pakaian miko yang sedikit kusut, aku tiba-tiba berpikir,


"............"


Pemandangan seorang wanita telanjang sedang merapikan pakaiannya benar-benar luar biasa.


Memang ini kamar pribadinya, dan mungkin ada orang yang biasa melakukan sesuatu dalam keadaan telanjang. Namun tetap saja, pemandangan seperti ini tidak mudah dilihat.


Aku sendiri juga duduk bersila tanpa mengenakan apa pun sambil mengamatinya... sungguh pemandangan yang indah.


"Aku tahu Mina akan menari sebagai miko, tapi apa latihan juga dilakukan sebelumnya?"


"Iya. Kira-kira mulai tiga hari sebelumnya kami akan mengadakan sedikit pertemuan."


"Begitu ya..."


"Bahkan sebelum itu aku juga berencana membantu persiapan lokasi festival."


"...Hmm."


Jadi bukan hanya persiapan sebagai miko, dia juga ikut membantu penyelenggaraan festival.


Saat itulah aku berpikir──baik sebagai seseorang yang telah ditolong oleh desa ini maupun sebagai orang yang ingin membantu Mina, aku juga ingin melakukan sesuatu.


"Hei, Mina. Aku juga ingin membantu."


"Eh?"


"Aku memang diselamatkan oleh kalian... tapi semuanya berawal karena aku datang ke desa ini. Jadi aku juga ingin melakukan sesuatu untuk desa ini──selama aku masih tinggal di sini, aku ingin melakukan apa yang bisa kulakukan."


"Takuya-san..."


"...Bagaimana?"


Tentu saja Mina tidak bisa memutuskannya sendirian.


Mungkin ada aturan khusus desa, atau mungkin mereka tidak ingin bergantung pada orang luar... meski kurasa itu tidak mungkin.


"Hmm..."


"Karena aku orang luar, memang sulit ya?"


"Eh? Bukan, bukan begitu. Hanya saja aku tidak bisa memutuskannya sendiri..."


"...Benar juga."


"Tapi kalau Takuya-san memang ingin membantu, aku akan membicarakannya. Kalaupun ada yang menolak, nanti akan kubujuk sampai mereka setuju."


"Eh...?"


"Pendapatku cukup didengar di sini, jadi tenang saja."


"A-ah, baik."


Mina mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa dia akan membuat semua orang setuju.


Sesaat aku merasa melihat sisi dirinya yang sedikit menakutkan, tetapi melihat sikapnya sekarang, sepertinya aku memang tidak perlu khawatir.


Bisa melakukan sesuatu demi Desa Minori...


Tak pernah kusangka akan datang hari ketika hal itu membuatku merasa sebahagia ini.


"............"


"Takuya-san!"


Aku sedang menutup mata sambil menikmati rasa bahagia itu ketika namaku dipanggil.


"Dada!?"


Saat membuka mata, yang pertama kali kulihat adalah dua tonjolan besar tepat di depan wajahku.


"Bukan dadaku yang sedang berbicara!"


"O-oh..."


Aku hanya tersenyum kecut lalu mengalihkan pandanganku ke atas.


Mina yang tadi juga tersenyum geli tiba-tiba mengubah tatapan matanya──tatapan yang sama seperti saat kami baru saja menyatukan tubuh.


"Mulai sekarang hari-hari kita akan menjadi lebih menyenangkan dan lebih bahagia, tahu?"


"......."


"Bukan hanya hati kita yang akan dipenuhi, tetapi tubuh kita juga akan dipenuhi dengan kebahagiaan──aku mencintaimu, Takuya-san♡"


Kata-kata Mina yang diiringi hembusan napas hangat itu sampai ke telingaku.


Hari ini memang menjadi hari ketika kami melewati satu batas besar, tetapi kata-katanya membuatku membayangkan masa depan yang lebih bahagia, dan hari-hari bersama mereka yang akan menjadi semakin erat.


Membayangkan semua itu, aku pun menelan ludah.


"Ufufu♡"


Mina terus menatapku yang dipenuhi harapan.


Tatapan yang seolah berkata bahwa dia tidak akan pernah membiarkanku pergi.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close