NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jinsei ni Tsukare Tadorisuita Mura de, Bijotachi ga Ore o Hanasanai de Kurenai V2 Chapter 6

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 6

Di Balik Festival

Akhirnya hari Festival Panen di Desa Minori pun tiba.


Sebagai seseorang yang telah banyak dibantu oleh desa ini, ada perasaan haru tersendiri karena acara yang ikut kubantu persiapkan akhirnya bisa terlaksana dengan lancar.


"Menurut ramalan cuaca sih tidak akan hujan. Cuacanya benar-benar pas buat festival."


Memang suhunya cukup panas, tapi itu sudah tidak bisa dihindari.


Walaupun Festival Panen yang diadakan setahun sekali ini bukan acara berskala besar, karena aku bisa menikmatinya bersama Mina dan yang lain, aku benar-benar ingin bersenang-senang sepenuh hati.


"...Jam lima ya."


Sekarang sudah pukul lima sore, sementara festival baru dimulai sekitar pukul enam.


Mina yang bertugas sebagai miko sudah lebih dulu pergi ke kuil untuk gladi bersih, jadi nanti aku akan berangkat ke lokasi bersama Reina-san dan Yua.


"Takuya-kun."


"Ah, ya—"


Pintu geser terbuka, lalu Reina-san memasuki ruang keluarga.


"...Wah."


"Hehe, bagaimana?"


Reina-san muncul mengenakan yukata. Warna dasarnya hitam dengan motif merah yang menghiasinya.


Yukata itu memang disiapkan khusus untuk festival. Sejak diberi tahu bahwa mereka akan mengenakan yukata, aku sudah tidak sabar membayangkan pemandangan ini.


"Cantik sekali... Maaf kalau terdengar terlalu biasa."


"Tidak kok. Selama kamu menyukainya, itu sudah membuatku sangat senang."


Reina-san tersenyum sambil menatapku.


Bukan hanya karena aku jarang melihatnya memakai yukata, tapi rambutnya juga ditata berbeda agar cocok dengan pakaian itu, jadi melihatnya berdiri di depanku membuatku sedikit gugup.


Orang cantik memang cocok memakai apa pun, dan Reina-san di depanku jelas tidak terkecuali.


Biasanya saja dia sudah terlihat sedikit menggoda dan seksi, tapi kenapa sekarang, meski mengenakan yukata dengan rapi, dia tetap terlihat begitu menggoda...?


"...Tidak boleh, tidak boleh!"


"Ara? Reaksimu barusan seperti sedang berpikir, ‘Padahal pakaiannya jauh lebih rapi dari biasanya, tapi tetap saja seksi sekali.’"


"...Ya... memang persis begitu deh."


"Ufufu~♪"


Sepertinya reaksiku mendapat nilai sempurna dari Reina-san.


Biasanya wanita mungkin akan kesal kalau dibilang terlihat seksi, tapi karena yang mengatakannya adalah Reina-san dan yang lain, mereka justru tampak senang.


"...Yah, itu karena Reina-san dan yang lain memang seperti itu, jadi aku juga bisa terus terang bilang kalau kalian terlihat seksi."


Begitu kukatakan, Reina-san mendekat dengan wajah bahagia.


Jarak kami pun menjadi nol, dan seperti sudah sewajarnya kami saling berciuman. Namun, kami tidak sampai saling memainkan lidah.


Alasannya sederhana.


Kalau sampai tidak bisa menahan diri, nanti malah repot.


"Sayang sekali kita sudah berdandan seperti ini. Kalau sampai kotor dari sekarang bakal repot ya."


"Benar... Tapi sungguh, Reina-san cantik sekali."


"Terima kasih♪ ...Ara, sepertinya dia sudah datang."


Tepat saat itu, bel rumah berbunyi.


"Aku yang bukakan."


"Ya."


Kupikir pasti Yua, jadi aku berjalan menuju pintu masuk.


Dari siluet samar di balik pintu saja sudah terlihat kalau, sama seperti Reina-san, Yua juga mengenakan yukata.


Saat kubuka pintunya, benar saja, Yua berdiri di sana dengan yukata.


Berlawanan dengan yukata Reina-san yang didominasi warna hitam, yukata Yua didominasi warna putih.


Awalnya kupikir warna yang lembut seperti itu agak tidak cocok dengan Yua yang bergaya gyaru, tapi ternyata dia tetap terlihat sangat memesona.


"Hai, Takkun♪"


"Selamat datang, Yua."


Baru saja tadi aku terpukau melihat Reina-san, dan sekarang Yua pun memberiku perasaan yang sama.


"Itu... benar-benar cocok untukmu."


"Benarkah? Syukurlah♪"


Itu benar-benar kesan jujurku, meski terdengar terlalu biasa.


Sama seperti Reina-san, Yua juga tidak tampak kecewa dengan komentarku. Malah dia berputar sekali di tempat sambil menunjukkan betapa senangnya dia.


"Sudah lama ya aku nggak pakai yukata."


"Memangnya sudah lama sekali ya?"


"Iya. Tahun lalu sih aku tetap datang ke festival, tapi waktu itu nggak ada orang yang ingin kubuat terpesona dengan berdandan."


"Oh..."


"Kalau Mina yang menari tentu beda. Reina-san juga ya... Kalau nggak salah, bahkan dalam ingatanku, aku belum pernah melihat Reina-san pakai yukata."


"Serius?"


"Oh? Takkun lagi senyum-senyum ya?"


Saat dia menunjukkannya, aku spontan menutupi pipiku dengan kedua tangan.


Aku sendiri tidak merasa sedang menyeringai, tapi mungkin memang begitu kelihatannya... Ya, bagaimana tidak?


Baik Yua maupun Reina-san selama ini belum pernah menunjukkan penampilan seperti ini. Fakta bahwa mereka sekarang mengenakan yukata jelas karena keberadaanku.


"...Maaf. Aku terlalu senang."


"Nggak apa-apa kok. Senangin aja lebih banyak lagi♪"


Akhirnya aku berhenti berusaha menyembunyikan senyumku.


"...Hmm."


Karena kami belum akan berangkat, aku mengajak Yua masuk ke ruang keluarga.


"Wah, Reina-san benar-benar cocok banget."


"Yua juga cocok kok. Kamu benar-benar sudah jadi wanita dewasa."


"Aku kan memang sudah dewasa dari dulu! ...Tapi tetap saja, soal pesona wanita aku masih kalah dari Reina-san ya?"


Melihat dua wanita cantik berbalut yukata berdiri berdampingan seperti ini... sungguh pemandangan yang luar biasa mewah.


Dan aku akan menghabiskan waktu panjang bersama mereka... bukan hanya menikmati festival, tapi setelahnya juga menanti waktu yang manis bagaikan madu.


"......"


Aku memang menantikan festival, tapi aku juga tidak kalah menantikan apa yang akan terjadi setelahnya.


"Takkun!"


"Hah!?"


Saat aku sedang larut dalam lamunan yang menyenangkan sekaligus sedikit nakal, Yua tiba-tiba mendekat.


"A-ada apa?"


"Dengar-dengar tadi kamu ciuman sama Reina-san sampai suasananya jadi hangat? Nggak adil kalau cuma Reina-san. Sekarang juga aku mau dicium."


Di belakang Yua, Reina-san menutup pipinya sambil terkekeh.


Yua memang paling tidak suka kalau ada yang mendahuluinya, jadi mungkin Reina-san sengaja menggodanya hingga rasa kompetitifnya muncul.


"Baiklah."


"Hehe♪"


Tatapan tajamnya langsung menghilang.


Sikap Yua yang seketika melunak itu melingkarkan kedua lengannya ke leherku, lalu memelukku sambil mengecup bibirku.


Ciumannya sama seperti Reina-san, hanya sebatas menyentuh bibir.


Kalau diteruskan, suasananya pasti akan memanas, tapi demi menjaga yukata mereka tetap bersih, aku memaksa diri untuk menahan hasratku.


"Hanya ciuman begini ternyata susah juga buat ditahan ya."


"Bukankah tidak apa-apa membiarkan tubuhmu tetap hangat dulu? Nanti kamu bisa melampiaskannya sepuasnya."


"Ya sih... Tapi aku bahkan merasa celana dalamku sudah basah."


"Aku juga sama. Jadi tahan saja."


"Baiklah."


Percakapan macam apa ini....padahal bagi mereka itu keluhan yang serius, tapi bagiku justru membuat imajinasiku semakin liar. Mungkin karena aku terus memperhatikan mereka.


"Hei Takkun, lihat."


"Nah, kamu pasti tahu kan?"


Mereka sama-sama mengangkat bagian depan yukata dengan kedua tangan, memperlihatkan celana dalam mereka tanpa ragu.


Sesuai ucapan mereka, kain itu memang tampak sedikit lembap.


Itu adalah bukti bahwa mereka sedang bersemangat, sekaligus tanda bahwa mereka sudah siap kapan saja.


"Kalau aku goyangin pinggul begini, rasanya jadi makin menggairahkan."


"Aku paham. Benar-benar seperti betina yang sudah menyerahkan seluruh dirinya pada Takuya-kun."


"M-makanya jangan bilang hal seperti itu!"


Memang seksi sekali! Aku juga sempat berpikir situasi ini benar-benar seperti adegan di manga dewasa!


Padahal mereka tahu kalau tidak boleh melakukan apa pun di sini karena yukata mereka bisa kotor, tapi baik Yua maupun Reina-san sudah benar-benar mengarahkan suasana ke hal-hal yang menggoda, jadi aku buru-buru menghentikan mereka.


Karena waktunya juga sudah pas, aku mendorong pelan punggung mereka agar segera keluar rumah.


"...Haa... Aku benar-benar capek, dalam banyak arti."


"Ahaha, maaf ya Takkun."


"Maaf ya, Takuya-kun."


Tidak perlu sampai minta maaf sih... tapi memang benar-benar menggoda.


"...Ah, ngomong-ngomong."


"Ada apa?"


"Kalau Mina... apa kita bisa melihat dia memakai yukata?"


Sebenarnya itu sudah lama membuatku penasaran.


Aku memang sudah melihat Reina-san dan Yua memakai yukata, tapi bagaimana dengan Mina yang akan menari sebagai miko? 


Aku memang sempat melihatnya mengenakan pakaian miko, tapi sama sekali tidak melihatnya mempersiapkan yukata.


"Hehe, tidak perlu khawatir kalau soal itu. Yukata Mina juga sudah disiapkan."


"Katanya setelah selesai menari dia akan berganti pakaian."


"...Begitu ya."


Kalau begitu... berarti aku juga akan bisa melihat Mina mengenakan yukata.


Kalau tinggal di sini, aku pasti bisa melihat mereka mengenakan yukata kapan saja. Bahkan kalau aku bilang ingin melihatnya, Mina pasti akan langsung memakainya untukku.


Tapi justru karena sekarang adalah momen festival ini, aku ingin melihatnya.


"Hei, Reina-san? Tetap saja yang paling mencolok itu Mina, ya?"


"Benar juga... Meski sedikit kesal, aku harus mengakui kalau kehadiran Mina memang yang paling besar."


"Begitu ya... Yah, masih ada waktu kok."


"Bukannya aku ingin jadi yang nomor satu, tapi tetap saja menginginkannya... mungkin memang begitulah sifat seorang wanita."


Mereka berdua lagi-lagi membicarakan sesuatu yang sulit kutanggapi...!


Sambil terus dibuat kewalahan oleh percakapan mereka, kami akhirnya tiba di tujuan kami, yaitu kuil.


Halaman kuil sudah ramai oleh orang-orang.


Karena ikut membantu persiapannya, aku sudah tahu apa saja yang ada di sana, tapi suasana yang tercipta saat dipenuhi banyak orang benar-benar berbeda.


"Oh, kamu sudah datang ya, Takuya-kun."


"Selamat malam, Donoue-san."


Donoue-san langsung menyapaku, dan aku pun membalas salamnya.


"Oh, Takuya-kun!"


"Senang kamu datang!"


"Festival pertamamu di sini, nikmati ya!"


Orang-orang yang kukenal selama beberapa hari terakhir satu demi satu menyapaku.


Aku senang karena ternyata kenalanku sudah bertambah banyak. Sambil membalas sapaan mereka, aku mencari sosok Mina.


"Mina-chan ada di sana."


"Shiraishi-san."


Ke arah yang ditunjuk Shiraishi-san, kulihat Mina mengenakan pakaian miko.


Sepertinya dia sedang sibuk dengan persiapan terakhir, begitu fokus hingga tidak menyadari tatapanku sama sekali. 


Ekspresinya terlihat begitu anggun, terutama saat kulihat dari samping.


"...Ah."


Mungkin akhirnya dia menyadari tatapanku, Mina menoleh ke arahku. Meski jarak kami cukup jauh, reaksinya begitu besar hingga aku bisa tahu dia berseru pelan.


"Takuya-san!"


Lalu dia segera berlari menghampiriku.


"Jadi kamu benar-benar datang♪"


"Kalau dengan posisiku sekarang aku tidak datang, itu baru masalah."


"Itu juga benar. Tapi aku tetap senang kok♪"


Padahal banyak orang di sekitar kami, tapi Mina tetap mendekat dan menyandarkan tubuhnya padaku.


"Ara, ara"


"Hahaha..."


Dimulai dari Shiraishi-san, banyak orang menatap kami sambil tersenyum hangat.


Meski diperhatikan sebanyak itu, aku tetap membiarkan Mina memelukku sampai dia benar-benar puas.


"...Baik! Pengisian energinya selesai♪"


"Aku menantikan tarianmu, Mina."


"Terima kasih♪ Tapi jangan berharap terlalu tinggi ya. Tarian ini tidak terlalu rumit, hanya menari ringan mengikuti iringan musik."


"Bukan soal tarian mikonya. Aku menantikannya karena yang melakukannya adalah Mina."


"...Hehe♪ Aku akan berusaha sebaik mungkin!"


Mina mengepalkan tangannya penuh semangat, lalu kembali melanjutkan persiapan terakhirnya.


"Dasar, kalian benar-benar pamer kemesraan."


"Oh—"


Seseorang tiba-tiba memeluk punggungku.


Ternyata Yua. Sambil menyembulkan wajahnya dari samping, Yua tersenyum meski ucapannya terdengar mengeluh. Pandangannya tertuju pada Mina yang sedang berjalan menjauh.


"Pakaian miko Mina... memang selalu lucu ya. Berbeda denganku, dia punya aura yang anggun, jadi pakaian seperti itu benar-benar cocok untuknya."


"Menurutku kamu juga cocok kok."


"Itu jawaban gampang yang bilang kalau orang cantik cocok pakai apa saja?"


"Jawaban gampang ya... mungkin memang begitu. Tapi kalau soal Yua, aku benar-benar serius. Aku tidak menyangkal kalau kamu cantik, dan aku juga tidak menyangkal kalau pakaian apa pun cocok untukmu. Karena memang begitu kenyataannya."


"Ah..."


Aku menjawabnya tanpa sedikit pun ragu.


Shiraishi-san yang sedari tadi hanya melihat dari samping mengacungkan jempol... Eh, Yame-san juga ada!?


"Wah... ternyata Yua juga bertemu orang yang tepat."


Entah sejak kapan Yame-san sudah berada di sana.


Melihat reaksi Shiraishi-san dan Yame-san, sepertinya jawabanku tadi memang jawaban terbaik.


Yua menundukkan kepala dengan pipi memerah.


Sesaat aku berpikir mungkin ucapanku tadi terlalu memalukan, tapi kemudian Yua mengangkat wajahnya dan bergumam pelan.


"Maaf... Cara kamu menyampaikannya terlalu jujur. Aku jadi senang banget sampai malu... Aduh, pipiku pasti sudah senyum terus. Aku nggak bisa nunjukkin wajahku."


Sambil berkata begitu, dia memelukku dan menyembunyikan wajahnya di dadaku.


"Nih, ada kursi di sana. Duduklah."


"Ah, terima kasih..."


Aku mengajak Yua duduk di kursi terdekat. 


Sepertinya dia masih belum bisa menghilangkan rasa malunya, jadi dia tetap diam. Karena aku juga tidak ada hal lain yang harus dilakukan, aku membiarkan tanganku tetap berada di bahunya sambil melihat suasana sekitar.


(...Jadi beginilah Festival Panen.)


Karena aku tahu biasanya kuil ini sangat tenang, keramaian hari ini terasa luar biasa.


Memang, kalau dibandingkan dengan festival di kota besar seperti Tokyo, Festival Panen ini jauh lebih kecil.


"..."


Namun, tempat ini dipenuhi senyuman. Baik anak-anak maupun orang dewasa menikmati makanan yang jumlahnya tidak banyak, lalu bermain permainan sederhana seperti balon air dan menangkap ikan mas.


Festival yang benar-benar sederhana.


Meski begitu, aku bangga bisa datang ke festival ini, sekaligus bangga bisa ikut membantu persiapannya.


"Ah..."


Di antara anak-anak, kulihat Shun-kun dan teman-temannya yang belum lama ini menjadi akrab denganku.


Tak jauh dari sana juga ada Takeru-chan dan teman-temannya.

Semua tampak menikmati waktu mereka masing-masing.


"Kencan berdua ya?"


"Reina-san?"


Reina-san yang tadi berkumpul bersama para orang dewasa kini menghampiri kami. Di tangannya ada sekotak takoyaki yang masih mengepul panas.


Sepertinya dia baru saja membelinya.


"Bukan sedang berkencan sih."


"Benarkah?"


"Bukan begitu kok!"


"Hmm? Ya sudahlah. Mau makan takoyaki?"


"Eh? Boleh?"


"Wah, kelihatannya enak!"


Aku dan Yua menikmati takoyaki yang dibelikan Reina-san.


Takoyaki itu dipenuhi saus, mayones, dan daun bawang, bahkan daun bawangnya sampai nyaris tumpah.


Karena ukurannya juga cukup besar, kami memakannya menggunakan sumpit, bukan tusuk gigi.


"Aku sebenarnya ingin menyuapimu, tapi ini terlalu panas. Kalau sampai jatuh nanti repot."


"Ah... Aku juga sebenarnya mau nyuapin."


"Hahaha... Lain kali saja ya?"


Sambil mengobrol begitu, aku memasukkan takoyaki ke mulut. Begitu kugigit, kuah panas langsung memenuhi mulutku.


Aku buru-buru meniup-niup sambil membuka dan menutup mulut berkali-kali agar tidak kepanasan, lalu akhirnya menelannya.


"...Huu... Enak sekali."


"Syukurlah."


"Kalau begitu aku juga makan."


Yua pun memasukkan takoyaki ke mulut dan, seperti dugaanku, langsung kewalahan menghadapi panasnya. Melihat reaksinya, aku dan Reina-san tak bisa menahan tawa.


"Aku ambil minuman dulu ya."


"Oke."


"Hati-hati."


Begitu Yua pergi, Reina-san langsung menggandeng lenganku.


"Memang agak panas, tapi tidak apa-apa kan?"


"Tentu saja."


Meski malam ini masih cukup gerah, kehangatan yang kurasakan dari Reina-san jauh lebih terasa.


"Bagaimana festival di sini? Lebih kecil dari yang kamu bayangkan, kan?"


"Kalau dibilang kecil memang benar. Tapi aku menikmati suasana yang hanya bisa dirasakan di sini. Hanya saja... setelah festival ini selesai, mungkin aku akan merasa sedikit sepi."


"Kalau Takuya-kun menikmatinya, aku senang. Tapi..."


"Tapi?"


Dengan senyum menggoda, Reina-san menyentuh pipiku dengan ujung telunjuknya.


"Aku sedikit tersinggung kalau kamu berpikir akan kesepian setelah festival selesai. Bukankah kami akan tetap ada di sisimu?"


"B-bukan begitu maksudku... Tapi benar juga. Ya, aku tidak akan kesepian. Aku ingin menikmati festival ini, dan juga menikmati waktu bersama Reina-san dan yang lain."


"Dalam banyak hal... ya?"


"Ya... dalam banyak hal."


"Ufufu♪"


Padahal kami masih berada di area festival. Namun diam-diam, agar tidak terlihat orang lain, Reina-san menggigit lembut daun telingaku, seolah sengaja membangkitkan gairahku.


...Eh?


"Reina-san?"


"Ada apa?"


"Kamu... habis minum alkohol ya?"


"Aku sudah minum dua gelas bir!"


"...Pantas saja."


Wajar saja wajahnya semerah orang yang habis minum alkohol!


Yah, orang-orang lain... terutama Donoue-san dan Shiraishi-san yang lebih tua juga sedang minum, jadi tidak mungkin Reina-san yang suka alkohol tidak ikut minum.


"Aku kembali~. Nih, Takkun, bir buatmu."


"Makasih."


"Lho? Punyaku tidak ada?"


"Reina-san kan sudah minum... Kalau masih mau ya ambil sendiri saja."


"Cih, baiklah, baiklah. Biar nenek tua yang sudah minum ini ngambek! Jadi, Takuya-kun, hibur aku!"


"Heeei! Makanya jangan langsung meluk Takkun terus!"


"Aku tidak dengar~ Soalnya aku kan sudah tua, pendengaranku jelek~!"


"Jangan pakai alasan umur cuma di saat seperti ini! Memangnya tidak malu!?"


"Kalau dibandingkan bermesraan dengan Takuya-kun, hal seperti itu tidak ada artinya!"


"A-aku sih bisa mengerti kalau menyangkut Takkun... eh, bukan begituuuuu!"


Sambil tersenyum kecut melihat mereka berdua saling berdebat dengan aku di tengah-tengah, aku meneguk birku.


Aku bukan peminum yang kuat, jadi berniat berhenti di satu gelas saja. Tapi entah kenapa, suasana festival membuatku merasa bisa terus minum tanpa henti.


Meski begitu, aku benar-benar tidak ingin mabuk keesokan harinya, jadi aku harus menahan diri dan tidak kebablasan minum.


"Ugh... puaaah! Memang paling enak minum alkohol di hari seperti ini!"


"Benar... bir ditemani takoyaki benar-benar terasa seperti festival."


Saat itulah Reina-san yang tadi agak pendiam mulai bergerak.


Dia meraih lenganku yang kosong lalu melingkarkannya di bahunya, sehingga dari luar terlihat seolah-olah akulah yang sedang merangkulnya.


Bukan cuma itu, dia bahkan menarik tanganku lebih jauh hingga menyelinap ke balik dadanya.


"R-Reina-san...?"


"Diam ya."


Seolah-olah dia sedang berkata agar Yua tidak menyadarinya.


Karena di balik yukata-nya dia tidak memakai bra, kelembutan dadanya langsung terasa di telapak tanganku. Bukan cuma itu, ada pula tonjolan kecil yang mengeras, menunjukkan betapa terangsangnya Reina-san.


"........."


Aku jadi berpikir...


Di antara para wanita, yang paling mesum jelas Reina-san. Dan yang paling kewalahan menghadapi hasratnya juga Reina-san.


Biasanya memang tidak separah ini, tapi begitu alkohol masuk ke tubuhnya, dia langsung berubah menjadi sangat menggoda... orang ini benar-benar perwujudan hawa nafsu.


"...Tapi tetap saja, melakukan ini di sini tidak masalah ya?"


"Kita bukan sedang melakukan yang sebenarnya. Cuma meletakkan tanganmu di dadaku. Bukankah biasanya aku juga sering menekankan dadaku ke tubuhmu? Tidak ada bedanya."


"Begitu ya...?"


"Tentu saja♪ Lagi pula semua orang sedang sibuk menikmati festival. Tidak ada seorang pun yang memperhatikan kita."


Seperti kata Reina-san, untungnya memang tidak ada yang sedang melihat ke arah kami.


Kalaupun ada yang mulai memperhatikan, aku tinggal menarik tanganku. Kalau begitu, sedikit usil dalam situasi seperti ini seharusnya tidak masalah, kan?


Aku tersenyum dalam hati lalu mencubit puting Reina-san.


"!?♡"


Tubuh Reina-san bergetar hebat, tapi hanya itu reaksinya.


"Hei Takkun, masih mau bir lagi?"


"Tidak... satu gelas saja sudah cukup."


"Begitu?"


"Iya. Makasih."


Meski sedang mengobrol dengan Yua, tanganku tidak berhenti mengusili Reina-san.


"Nn... ah...♡"


Mengikuti gerakan jariku, Reina-san mengeluarkan suara yang manis.


Mencubit putingnya, mengusapnya dengan jari, menekannya dengan jari telunjuk...


Aku memang suka memainkan bagian tengahnya seperti itu, tapi kurasa yang paling kusukai tetap meremas dadanya yang besar itu dengan seluruh telapak tangan, meski tetap tidak bisa menggenggamnya sepenuhnya.


"........."


Namun akhirnya aku melepaskan tanganku.


Bagaimanapun juga, kalau diteruskan pasti keterlaluan.


Sebentar lagi tarian suci miko akan dimulai. Kalau masih melakukan hal seperti ini, rasanya aku bisa kena kutukan... meski mungkin sudah terlambat karena kami sudah berada di halaman kuil.


"Lho? Reina-san, wajahmu kok lebih merah daripada tadi?"


"Tidak apa-apa kok."


"Eh, begitu...?"


Syukurlah... sepertinya Yua tidak menyadarinya.


Aku menghela napas lega. Di sampingku, Reina-san tampak sangat puas sekaligus begitu terangsang. Sambil melemparkan tatapan menggoda, dia terkekeh pelan.


"Kalau bersama Takuya-kun, aku jadi terus berpikiran mesum, benar-benar merepotkan... Tapi saat tubuhku diusap seperti tadi olehmu, aku jadi sangat terangsang, dan yang paling penting, aku juga sangat bahagia. Jadi mau bagaimana lagi♪"


Kalau dia sendiri berkata begitu, ya wajar saja aku melakukan hal seperti itu...


Memang tidak bisa disalahkan. Soalnya dia terlalu menggoda.


Saat aku masih saling bercumbu dengannya, rupanya waktunya sudah tiba.


Suasana di sekitar mendadak hening. Tak lama kemudian, Mina yang mengenakan pakaian miko naik ke atas panggung yang telah disiapkan.


"Sudah dimulai."


"Mina, semangat seperti tahun-tahun sebelumnya!"


Di atas panggung, Mina memejamkan mata dan berkonsentrasi penuh, seolah-olah sama sekali tidak mendengar suara dari sekelilingnya.


"........."


Kami semua menahan napas.


Akhirnya, tarian miko pun dimulai.


Mengikuti alunan seruling yang penuh nuansa sejarah dan tabuhan genderang yang lembut dari para pengiring di kedua sisinya, Mina mulai menggerakkan tubuhnya.


"...Indah."


"Iya... benar-benar indah."


Aku mengangguk mendengar gumaman mereka yang terpukau.


"...Indah sekali."


Bukan hanya Mina...seluruh suasana di tempat ini membuat kecantikannya semakin bersinar.


Bangunan kuil di belakangnya, bulan purnama yang tepat berada di atas kepalanya, suara seruling dan genderang...


Semua itu berpadu dengan tariannya, menciptakan pertunjukan yang begitu memukau hingga mustahil mengalihkan pandangan walau sesaat.


(Tidak... sebenarnya panggungnya sendiri tidak penting—aku hanya melihat Mina... Aku merasa bahagia hanya karena bisa terus memandangnya. Itulah sebabnya aku begitu menikmati tarian ini.)


Kalau dipikir-pikir, makna yang terkandung dalam tarian itu ataupun tujuan sebenarnya tidak terlalu penting bagiku.


Yang penting adalah siapa yang menari.


Karena yang menjalankan peran itu adalah Mina, maka aku terus memperhatikannya seperti ini. Mungkin cara berpikirku memang tidak patut dipuji, tapi setidaknya begitulah perasaanku.


"...Ah."


Saat itu, pandanganku bertemu dengan Mina yang sedang menari.


Dia benar-benar melihat ke arahku lalu tersenyum, dan sejak saat itu gerakan tariannya menjadi semakin tajam.


Memang udara malam lebih sejuk dibanding siang hari, tetapi angin yang bertiup tetap terasa hangat. Dengan terus menggerakkan tubuhnya seperti itu, pasti dia kepanasan.


Buktinya, butiran keringat mulai membasahi wajah Mina, dan beberapa helai rambutnya menempel di pipinya.


"Yua-chan, tidak tertarik menjadi miko?"


"Aku tidak mungkin mau jadi miko... meski begitu, setelah melihat Mina secantik itu, kurasa aku jadi sedikit mengaguminya."


"Tapi tetap belum sampai ingin menjalaninya?"


"Iya... aku tidak merasa bisa melakukannya lebih baik daripada Mina, dan untuk saat ini, menurutku memang tidak ada orang yang lebih cocok menjalankan peran itu selain dia."


Sambil mendengarkan percakapan Reina dan Yua, pandanganku sama sekali tidak lepas dari Mina.


Begitu ya... entah kenapa aku juga mengerti maksud Yua. Setelah melihat tarian Mina yang begitu indah, rasanya sulit membayangkan ada yang bisa melampauinya.


Tentu saja ini pertama kalinya aku melihatnya, tapi justru karena itulah pemandangan ini begitu kuat membekas di mata dan ingatanku.


"..."


Saat menyaksikan tarian Mina, tanpa sadar aku mengenang semua yang telah terjadi.


Aku yang putus asa pada segalanya melarikan diri dari perusahaan, lalu tanpa tujuan singgah di desa ini... bertemu Mina, dan sejak saat itu aku memperoleh kebahagiaan yang kini kumiliki.


Semua berawal dari pertemuanku dengan Mina... karena bertemu dengannya, sekarang aku bisa berdiri di sini.


Yang mengubah seluruh hidupku adalah Mina.

Yang menuntunku menuju kebahagiaan adalah Mina.

Yang mengajarkanku arti kebahagiaan adalah Mina.


"...Mina, terima kasih."


Aku memang selalu mengucapkan terima kasih padanya, tetapi entah kenapa aku ingin mengatakannya lagi.


"...Ah."


Tak lama kemudian, tarian Mina pun berakhir.


Seiring alunan musik berhenti, Mina mengambil pose terakhir sambil bernapas terengah-engah dan menatap lurus ke depan.


"Terima kasih banyak telah menyaksikan tarian saya hari ini."


Saat Mina membungkukkan badan perlahan, tepuk tangan meriah pun menggema.


Di tengah semua itu, aku bertepuk tangan sekeras mungkin, bahkan berdiri untuk memberikan pujian kepadanya.


"Bagaimana?"


"Hebat, kan?"


"...Luar biasa! Aku benar-benar terharu!"


Tanpa kusadari, suaraku ternyata terdengar sangat keras.


Tadi suara musik masih menenggelamkannya, tetapi sekarang musik sudah berhenti. Bukan hanya Mina di atas panggung, semua orang pun menoleh ke arahku.


"Hohoho, syukurlah kalau kau puas."


"Mina-chan! Lihat tuh, Takuya-kun juga puas sekali!"


"Biarkan dia menikmati kesannya dulu, dong..."


"Itu... anu..."


Karena terlalu keras bersuara, sekarang aku jadi malu setengah mati. Bahkan Mina yang masih berada di atas panggung pun tertawa. 


Aku mengalihkan pandangan meminta bantuan kepada Reina dan Yua, tetapi keduanya hanya tersenyum geli tanpa berniat menolongku.


Tak lama kemudian, Mina turun dari panggung dan menghilang untuk sementara.


Acara utama memang sudah selesai, tetapi festival masih berlanjut, dan katanya akan ditutup dengan pertunjukan kembang api.


Beberapa menit kemudian, saat aku menunggu Mina, seseorang menepuk bahuku pelan.


"Maaf membuatmu menunggu, Takuya-san."


"Mina... wah."


Akhirnya orang yang kutunggu datang juga.


Bukan lagi mengenakan pakaian miko, melainkan yukata yang tadi mereka bilang sudah disiapkan.


Reina mengenakan yukata hitam, Yua putih, jadi aku penasaran Mina akan memakai warna apa.


Jawabannya adalah biru muda yang memancarkan kesan anggun. Aku memang sudah yakin yukata apa pun pasti cocok untuknya, tetapi warna ini jauh lebih serasi dengannya daripada yang kubayangkan.


"Sangat cocok untuk Mina yang anggun."


"Aku senang dibilang anggun, tapi mengingat bagaimana diriku belakangan ini, rasanya aku sudah jauh dari kata anggun."


"Itu memang benar, tapi maksudku penampilanmu."


"Hehe, aku tahu kok. Dari luar memang anggun, tapi di dalam aku wanita mesum yang hanya berlaku begitu untuk Takuya-san."


Tanpa sedikit pun ragu Mina mengatakannya, lalu melirik ke belakangku.


Aku penasaran apa yang dilihatnya dan hendak menoleh, tetapi Mina lebih dulu menarik tanganku dan mulai berjalan.


"Mina?"


"Tolong ikut aku sebentar."


Dia terus menarikku melewati sisi aula utama kuil dan menuju bagian yang lebih dalam.


Cahaya dari area festival sudah tidak sampai ke sana, sehingga satu-satunya penerangan hanyalah sinar bulan.


Setelah berjalan cukup jauh, Mina akhirnya berhenti.


"Maaf sudah mengajakmu sampai sejauh ini."


"Tidak apa-apa sih... tapi kenapa?"


"Sederhana saja. Karena sekarang juga aku ingin berduaan dengan Takuya-san."


Sambil berkata demikian, Mina langsung memelukku.


"Aku memang merasa sedikit bersalah kepada Ibu dan Yua, tapi tadi mereka sudah bersama Takuya-san. Jadi mulai sekarang giliranku."


"Jadi begitu..."


"Iya. Takuya-san sendiri lebih ingin tetap di sana?"


"Kalau hanya menikmati suasana festival, memang iya. Tapi kalau Mina bilang ingin berdua denganku, aku lebih memilih berada di sini. Lagi pula setelah melihat tarianmu yang begitu indah, aku jadi sangat ingin memelukmu."


"Berarti kita sama-sama ingin berada di sisi satu sama lain."


"Iya."


"Lagi pula..." lanjutku.


"Ketika melihat tarianmu tadi, aku jadi mengenang semuanya."


"Mengenang?"


"Iya... sekarang aku benar-benar bahagia. Tapi aku bisa mendapatkan kehidupan seperti ini karena bertemu denganmu. Pertemuan denganmu membuatku bisa kembali menatap ke depan."


"Takuya-san..."


"Aku benar-benar bersyukur bisa bertemu denganmu... bahkan sampai sekarang aku sudah tidak bisa membayangkan hari-hariku tanpa Mina. Keberadaanmu sudah menjadi bagian yang sangat besar dalam hidupku."


Aku melingkarkan kedua tangan di punggung Mina dan memeluknya erat, tetapi tetap berhati-hati agar tidak menyakitinya.


Meski tempat ini gelap, suara keramaian festival masih samar-samar terdengar dari kejauhan.


"Mina..."


"Iya...♡"


Kami sama-sama sudah tidak sabar melakukan ini.


Festival, keramaian di sana, semuanya terlupakan. Yang ada hanya kami yang saling menatap, seolah tak menginginkan apa pun selain satu sama lain.


"Mm... chuu~..."


Sejak awal, ciuman kami langsung begitu dalam dan penuh gairah.


"Ciuman dengan Mina... aku benar-benar mulai ketagihan."


"Aku juga... aku juga sangat menyukai ciuman dengan Takuya-san."



Kata-kata yang kami ucapkan di sela-sela ciuman semakin membuat suasana menjadi hangat.


Masih saling berciuman, aku perlahan mengulurkan tangan ke dada Mina, lalu menyelipkannya melalui celah yukatanya.


"Mm... ah... ahn...♡"


Aku begitu menyukai Mina yang sesekali mengeluarkan suara kecil di tengah ciuman.


Sisi dirinya yang hanya diperlihatkan kepadaku... seolah memintaku melihat lebih banyak lagi. Aku terus menciumnya sambil membelai tubuhnya.


"...Haa."


"...Hnn."


Kami akhirnya saling melepaskan wajah untuk mengambil napas.


Yang kulihat kemudian adalah Mina dengan pipi merah dan yukata yang sedikit berantakan.


Disinari cahaya bulan, sosoknya terlihat begitu memukau hingga aku hanya bisa terpaku menatapnya.


"...Cantiknya keterlaluan."


"Hehe, terima kasih... Takuya-san, aku sudah tidak sanggup menunggu lagi."


"Iya... aku juga."


Aku mengangguk mendengar kata-kata Mina.


"Ah... apakah Takuya-san menyukai yang seperti ini?"


"Iya... diam tanpa bergerak sambil menikmati perasaan saling terhubung seperti ini juga tidak buruk."


"Aku juga merasakan hal yang sama... sensasi ini benar-benar membuat ketagihan."


"Benar."


"Iya.♡"


Masih saling terhubung, kami tertawa bersama karena menemukan kenikmatan baru itu.


Setelah menikmati momen tersebut selama beberapa puluh detik, akhirnya aku mulai bergerak.


"Mm...♡"


"Mina... aku mencintaimu."


"Eh... ah...♡"


Ini bukan pertama kalinya aku mengatakan bahwa aku mencintainya.


Tak peduli berapa kali kuucapkan, kata-kata itu tidak pernah terasa sia-sia. Justru itulah ungkapan paling jujur untuk menyampaikan perasaanku.


Benar... aku sangat mencintainya... mencintai mereka semua.


"Aku ingin terus tinggal di sini... tidak, tempatnya tidak penting. Selama Mina dan yang lain ada di sisiku, di mana pun tidak masalah."


"Ah... ah... iya... Takuya-san...♡"


Ekspresi Mina benar-benar telah meleleh karena kebahagiaan. Mulutnya sedikit terbuka, air liur tipis mengalir, sementara matanya yang berkaca-kaca menatapku.


Memang terlihat menggemaskan, tetapi secara keseluruhan kesan yang paling kuat bukan lagi lucu, melainkan begitu menggoda.


"Mina."


"Takuya-san...♡"


Hanya dengan saling memanggil nama, hati kami sudah terasa penuh. 


Namun itu masih belum cukup. Aku masih ingin memenuhi hatiku lebih lagi, dan aku juga ingin memenuhi hati Mina.


"Hehe... rasa bersalahnya luar biasa ya."


"Iya... karena kita meninggalkan festival."


"Betul. Kalau kita membuat suara terlalu keras, mungkin saja... ada seseorang yang datang kemari. Aku tidak bermaksud mengatakan kalau diriku ini seorang mesum... tapi membayangkan kemungkinan itu membuatku sedikit bersemangat."


"...Bukankah itu berarti memang mesum?"


"...♡"


Begitu aku menyebutnya mesum, tubuh Mina seketika menegang sesaat.


Bagian dalam dirinya menggeliat dan membelitku begitu erat hingga sulit dipercaya kalau itu benar-benar bagian dari tubuh manusia.


Sejujurnya, rasanya begitu nikmat sampai-sampai aku sempat panik, khawatir seluruh tenagaku akan terkuras dalam sekejap. Sensasi di dalam dirinya berubah-ubah mengikuti gejolak emosinya, membuatku semakin sulit menahan diri.


"Wah... enaknya luar biasa."


Tanpa sadar aku bergumam pelan.


"Jujur sekali ya... tapi aku senang kalau Takuya-san merasa begitu. Aku juga merasa sangat nikmat setiap kali milik Takuya-san bergerak."


Seperti Mina yang merasa bahagia mendengar ucapanku, aku pun merasakan hal yang sama.


Ah, tidak bisa...


Aku memang suka mengobrol dalam situasi seperti ini, tapi menahan diri untuk tetap diam dalam keadaan seperti ini benar-benar mustahil.


Namun, tepat saat aku hendak mulai bergerak lagi, terdengar suara dedaunan bergesekan.


"!? "


"!? "


Aku dan Mina sama-sama menegang.


Tak seorang pun dari kami mengeluarkan suara. Bahkan kami tak berani bergerak sedikit pun... sehingga kami tetap saling terhubung.


Ini... bisa gawat.


Saat aku merasa seolah keringat dingin mengalir deras di punggungku, terdengar seseorang menyapa kami.


"Ara ara, jadi kalian benar-benar kabur untuk bermesraan ya."


"Sudah kubilang, kan? Mereka memang lengah sedikit saja langsung begini."


Mendengar suara itu, aku langsung tahu siapa yang datang.


Aku dan Mina sempat menghela napas lega, tetapi segera sadar bahwa situasi ini sama sekali belum bisa membuat kami tenang.


"Reina-san... Yua...?"


"Iya."


"Mm."


Ternyata memang Reina-san dan Yua.


Kini mereka sudah menemukan kami, tetapi tubuhku dan Mina masih belum berpisah, sehingga kami harus berhadapan dengan mereka dalam keadaan seperti ini.


Reina-san dan Yua berdiri di kedua sisi Mina yang bersandar di depan pohon.


"Aku sudah merasa aneh karena kalian berdua tiba-tiba menghilang."


"Iya. Begitu tahu Mina juga tidak ada, aku langsung yakin dia pasti membawa Takkun ke sini."


"Haha... ternyata kalian sudah tahu ya."


Berbeda denganku yang kehilangan kata-kata, Mina hanya tersenyum pahit.


Aku sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Saat itu Reina-san dan Yua mengulurkan tangan ke arah dada Mina... lalu meremasnya dengan lembut.


"Mm...♡"


"Aku tidak akan bilang ini hukuman karena kalian mendahului kami. Tapi... boleh kan kami ikut juga?"


"Hah!?"


Ikut...!?


"Boleh, kan? Lagi pula nanti malam sepertinya memang bakal begitu juga. Takkun juga tidak keberatan, kan? Bersama kami bertiga sekaligus."


"......"


Mendengar perkataan Yua, aku hanya bisa terdiam.


Memang dari pembicaraan selama ini aku sudah membayangkan malam nanti bakal sibuk, tetapi kupikir soal bertiga sekaligus hanyalah candaan.


Namun situasi sekarang membuatku sadar kalau mereka sama sekali tidak bercanda.


"Itu..."


"Masa cuma Mina yang kau temani, sementara kami tidak?"


"Itu kejam sekali, Takkun."


Reina-san dan Yua melepaskan tangan mereka dari Mina, lalu menyeringai sambil berdiri di sisi kanan dan kiriku.


"Lihatlah... tubuh kami juga sudah sepanas ini. Kami benar-benar ingin dimanjakan olehmu."


"Iya, jadi manjakan kami juga ya, Takkun.♡"


Mereka berdua berbisik di telingaku dengan embusan napas hangat. Bersamaan dengan itu, kedua tangan mereka mulai membelai tubuhku.


Yua menjilat leherku, sementara Reina-san menjilat daun telingaku.


"Hehe, Takuya-san ternyata benar-benar bersemangat ya? Di dalam diriku pun rasanya semakin besar."


"Oh? Benarkah?"


"Hmm? Jadi Takkun memang suka yang begini ya?"


Ketiganya tersenyum nakal sambil terus menggodaku.


Aku mencoba mengalihkan pandangan, tetapi tidak bisa. Mereka sudah mengapitku dari kedua sisi. Kecuali aku memaksa menoleh ke belakang, tidak ada jalan untuk kabur.


"...Tentu saja aku suka."


Akhirnya aku memilih jujur. Bagaimanapun juga, kami sudah saling menerima dan sudah sejauh ini bersama. Mustahil aku tidak menyukainya.


"Kalau ditanya apakah aku suka hal-hal seperti ini... mungkin bukan itu intinya. Yang membuatku menyukainya adalah karena yang ada di sini adalah Mina, Reina-san, dan Yua. Yang membuatku berdebar seperti ini, membuat tubuhku sepanas ini, hanyalah kalian."


Aku tidak akan seperti ini dengan sembarang orang.


Seperti yang baru saja kukatakan, hanya karena mereka bertigalah tubuhku bereaksi seperti ini. Mengenai hal itu, aku yakin sepenuhnya.


"Jadi... jadi aku... ingin terus bersama kalian! Aku tidak ingin menyerahkan kalian kepada siapa pun!"


Dalam situasi seperti ini, kata-kata itu akhirnya keluar begitu saja.


Kepalaku terasa begitu panas hingga seolah mendidih, dan kemampuan berpikirku pun menurun drastis. Mungkin bir yang tadi kuminum juga sedikit berpengaruh.


"Ah...♡"


"Kyaa...♡"


Aku memeluk Reina-san dan Yua yang berdiri di kedua sisiku dengan erat.


Entah sejak kapan yukata mereka sudah sedikit terbuka seperti milik Mina, sehingga kedua tanganku dengan mudah menyentuh dada mereka.


"Ya ampun... kasar sekali.♡"


"Tapi aku suka kalau disentuh dengan penuh gairah seperti ini.♡"


Dengan wajah bahagia, mereka menerima sentuhanku dan semakin mendekatkan tubuh mereka.


Situasi macam apa ini...


Benar-benar sulit dipercaya. Namun aku sudah tidak punya ruang untuk berpikir tenang. Yang ada di benakku sekarang hanyalah ingin meluapkan semua gejolak yang selama ini terus kutahan.


"Mina...!"


"Iya.♡ Berikan semuanya... berikan seluruh dirimu kepadaku, Takuya-san.♡"


Mendengar kata-kata itu, semua pertahananku runtuh.


Sejak tadi aku memang terus menahan diri.


Aku menikmati kebersamaan dengan Mina, tetapi di saat yang sama terus menunggu saat untuk benar-benar melepaskan semuanya. Ditambah lagi Reina dan Yua ikut mendekat dengan pesona mereka.


Dalam situasi seperti ini, mempertahankan kesabaran benar-benar terasa seperti siksaan.


"Mina! Reina-san! Yua! Aku ingin terus berada di sisi kalian! Aku ingin kalian terus berada di sisiku! Selamanya... kalian hanya milikku!"


"Ah... mm... keras sekali...♡ Takuya-san... Takuya-san...♡"


"Iya... kita akan selalu bersama. Tubuh ini, perasaanku... semuanya milikmu.♡"


"Aku perempuan milik Takkun. Selamanya... seumur hidup aku perempuan Takkun.♡"


Di saat itu aku sadar bahwa diriku sudah benar-benar kehilangan kendali.


Namun kata-kata itu bukan sekadar luapan emosi.


Itulah isi hatiku yang sebenarnya. Apa pun yang terjadi, aku ingin terus bersama mereka yang telah menerimaku.


Itulah harapan sekaligus tekadku yang paling tulus.


"Aku tidak mungkin melepaskan kalian... aku tidak mungkin menjauh dari orang-orang yang telah menyelamatkanku dari neraka... tanpa Mina dan kalian semua, aku sudah tidak bisa hidup lagi!"


Setelah mengucapkan semuanya, kepalaku benar-benar kosong.


Yang tersisa hanyalah sensasi tubuh yang kurasakan.


Kelembutan yang disentuh kedua tanganku dan kenikmatan yang menjalar dari tubuhku. Suara-suara manis mereka bertiga semakin membangkitkan hasratku.


Aku hanya terus bergerak seperti seekor binatang yang mengikuti naluri... hingga akhirnya mencapai puncak dengan kepuasan yang luar biasa.


"Haa... haa...?"


Saat napasku masih memburu, terdengar suara pang! di langit, lalu kembang api bermekaran.


Cahayanya menerangi kegelapan malam... sekaligus menyinari kami.


Mina membelai perutnya dengan wajah yang dipenuhi kebahagiaan.


Reina menatap Mina dengan tatapan iri.


Yua memandangku dengan penuh harap.


Aku dapat melihat ekspresi mereka dengan jelas. Dan aku juga sadar bahwa malam ini masih belum berakhir.


"Takuya-san."


"H-hah?"


Mina tersenyum, lalu berkata,


"Sepertinya Takuya-san sudah benar-benar jatuh kepada kami, ya?"


Mendengar itu, tubuhku langsung tersentak.


Bukan hanya Mina, Reina dan Yua juga menatapku sambil menunggu jawabanku. Namun bukannya takut, aku malah tersenyum pahit.


"Kalau dibilang 'jatuh' terdengar agak menyeramkan... bagaimana kalau diganti menjadi 'aku sangat mencintai kalian sampai tidak bisa menahan diri lagi'?"


Sebenarnya aku tidak keberatan dengan ungkapan "jatuh", tetapi aku lebih menyukai cara mengatakannya seperti itu.


Sebagai jawaban atas perkataanku, ketiganya langsung memelukku erat. Pelukan yang begitu kuat, seolah ingin mengukir keberadaan mereka di dalam diriku.


(...Aku ingin terus berada di sisi mereka. Mungkin... inilah awal baru yang sesungguhnya dalam hidupku.)


Saat pertama kali datang ke Desa Minori, mungkin memang saat itu aku sudah memulai hidup baru. 


Namun awal perjalanan hidupku yang sebenarnya... mungkin adalah saat ini.


(Mulai sekarang pasti akan ada lebih banyak hal yang harus kupikirkan... tapi untuk saat ini, aku hanya ingin menikmati kehangatan ini... lagi pula setelah ini sepertinya aku masih harus berusaha lebih keras.)


Saat mendongak ke langit, kembang api masih terus bermekaran.


Festival ini memang kecil, jadi jumlah kembang apinya mungkin tidak banyak.


Namun bagiku, setiap ledakan cahaya itu terasa seperti ucapan selamat atas awal kehidupanku yang baru.


"Takuya-san."


"Takuya-kun."


"Takkun."


Begitu namaku dipanggil, sebuah kembang api yang jauh lebih besar meledak di langit.


Kata-kata yang mereka ucapkan sambil menatapku tidak mungkin tertelan bahkan oleh suara kembang api.


"Aku mencintaimu."


"Aku mencintaimu."


"Aku mencintaimu."


Aku mendengar kata-kata itu dengan jelas, lalu menjawab.


"Aku juga mencintai kalian."


Kontrak, sumpah, janji... mungkin semuanya pada dasarnya sama.


Begitu kata-kata itu terucap, aku telah melangkah ke dalam hari-hari yang tak mungkin lagi bisa kulepaskan, dan itu adalah jalan yang kupilih atas kemauanku sendiri.


Begitulah, akhirnya aku tertangkap oleh mereka.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close