Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Epilogue
Hari-hariku di Desa Minori berjalan dengan sangat lancar.
Tak ada lagi yang terus-menerus mendesakku, tak ada lagi yang membuat batinku terpojok. Dan kalau aku ingin merasakan kehangatan seseorang, aku bisa langsung menyentuhnya kapan saja.
Yah, dalam kasusku, yang kurasakan adalah kehangatan tubuh Mina dan yang lainnya. Perubahan dalam hidupku benar-benar terasa, bahkan sampai sekarang.
"Lagi pula, kesibukannya juga pas. Rasanya hidupku benar-benar penuh."
Mina dan Reina-san yang tinggal serumah denganku selalu memanjakanku dan berkata aku boleh bermalas-malasan sesukaku. Tapi, baik atau buruk, aku sudah terlalu lama hidup sebagai budak perusahaan, jadi aku memang tidak bisa diam saja.
Aku membantu Reina-san mengurus rumah, keluar membantu Shiraishi-san dan Yame-san bekerja di ladang, dan tentu bukan cuma itu. Karena sekarang sedang musim panas, aku juga ikut membantu pekerjaan yang berkaitan dengan sawah.
Terutama berkat Donoue-san, orang-orang yang mengenalku saat persiapan festival mulai mengajakku membantu selama mereka tidak merasa aku merepotkan. Buat orang sepertiku yang tidak bisa diam, keadaan ini benar-benar seperti mimpi yang menjadi kenyataan.
"Juu... zo... rero...♡"
Bahkan mereka juga bilang akan memberiku beras sebagai ucapan terima kasih karena sudah membantu. Karena itulah aku sangat senang bisa sedikit meringankan beban keluarga Anzai.
Sejujurnya aku masih ragu seberapa besar bantuanku benar-benar berguna, jadi sebenarnya aku berniat membayar. Tapi pada akhirnya aku kalah oleh kebaikan Donoue-san dan yang lainnya... atau lebih tepatnya, orang-orang di desa ini memang terlalu baik.
Memang aku juga sudah banyak memberi, tapi dibandingkan itu, aku jauh lebih banyak menerima.
Orang-orang yang harus kubalas budinya kini bukan hanya Mina dan yang lainnya, melainkan seluruh desa ini. Dan kurasa, untuk saat ini, tak ada lagi alasan hidup yang lebih berarti daripada itu.
"Amu... n... slurp...♡"
"Kuuh..."
...Baiklah, sebaiknya aku kembali ke kenyataan.
Aku yang tadi sedang memikirkan berbagai kejadian belakangan ini dan rencana ke depan pun menundukkan pandangan.
"Hehe♡"
Di sana ada Yua. Dia duduk di antara kedua kakiku saat aku sedang duduk di sofa. Begitu kami bertemu, dia langsung menarikku masuk ke dalam kamar hingga akhirnya kami berada dalam situasi seperti sekarang.
"Ngomong-ngomong... bukannya ini terlalu mendadak ya?"
"Memangnya kenapa? Kalau pria dan wanita muda cuma berdua, ya begini kan jadinya♪"
Yua menjawab sambil tersenyum.
Hari ini kebetulan dia sedang libur, jadi dia mengundangku datang ke rumahnya.
Permintaannya adalah aku datang sendirian.
Ngomong-ngomong, sekarang setelah aku menjalin hubungan dengan mereka bertiga, Mina maupun Reina-san sama sekali tidak keberatan dan malah mengantarkanku pergi sambil tersenyum.
"Kalau begitu, aku bakal menjepitnya dengan dada besarku yang paling disukai Takkun♡ Nikmatilah sepuasnya ya?"
Gadis gyaru yang luar biasa cantik itu menyampaikan kata-kata dan perasaannya dengan begitu lugas.
...Dan memang, rasanya benar-benar nyaman.
Setelah itu, aku dan Yua bersantai di ruang keluarga.
Rumah keluarga Anzai memang sudah terasa nyaman bagiku, tapi entah sejak kapan rumah keluarga Yame juga mulai memberiku perasaan yang sama. Mungkin karena Yua selalu menunjukkan perasaannya dengan jujur kepadaku, ditambah lagi neneknya, Yame-san, juga sangat menyukaiku dan selalu memperlakukanku dengan baik.
"Oh ya? Jadi besok kamu bakal bantu panen di rumah kaca milik Sakamata-san?"
"Iya. Donoue-san yang mengenalkanku... serius deh, ternyata bertani seseru ini ya."
"Belakangan ini memang katanya makin banyak orang yang pindah ke desa. Tapi tetap saja jumlah anak mudanya sedikit, jadi masalah kekurangan penerus itu sama saja di mana-mana."
"Begitu ya."
Selama kami mengobrol, Yua sama sekali tidak menjauh dari sisiku.
Menghabiskan waktu bermesraan dengan seorang wanita di ruangan ber-AC...
Aku tidak boleh menganggap kehidupan seperti ini sebagai sesuatu yang biasa. Supaya kehadiran mereka tidak pernah meninggalkanku, aku juga harus menjadi pria yang lebih baik lagi.
"Oh iya. Takkun, buka mulutmu dong."
"Hah?"
Tiba-tiba saja. Tapi aku juga tidak punya alasan untuk menolak, jadi aku membuka mulut. Yua lalu mengamati bagian dalam mulutku dengan wajah serius.
"Gigimu lumayan bersih ya... tapi masih ada sedikit karang gigi. Sebaiknya dibersihkan di dokter gigi."
"Aku memang tidak pernah melewatkan sikat gigi. Tapi begitu ya... berarti kamu mau aku datang ke tempatmu?"
"Iya dong♪ Kan dulu juga pernah kubilang bakal kasih pelayanan spesial buatmu. Tapi terlepas dari itu, gigi itu bagian tubuh yang penting. Jadi anggap saja ini nasihat supaya rutin dirawat."
Memang benar. Untungnya aku belum pernah mengalami gigi berlubang atau masalah gigi lainnya. Tapi menjaga kebersihan gigi demi masa depan juga penting.
"Kalau begitu, minggu depan aku datang saja."
"Serius!? Oke! Berarti nanti aku buatkan jadwalnya!"
"Terima kasih."
"Mufufu~♪ Waktu bersihin gigimu nanti, aku bakal kasih banyak hal yang menyenangkan buatmu♡"
"Ehm... bukannya itu masih jam kerja?"
"Tenang aja♪ Aku bakal melakukannya tanpa ketahuan kok♪"
Yua tertawa sambil memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih.
Meski aku sempat berpikir apakah itu benar-benar boleh dilakukan, hari-hariku yang penuh kejutan bersama mereka bertiga sudah membuatku penasaran juga, perlakuan seperti apa yang akan kuterima nanti.
Kurasa aku benar-benar sudah banyak berubah karena mereka... dan menyadari hal itu membuatku tersenyum sendiri.
▼▽
Setelah meninggalkan rumah Yua, aku langsung pulang ke rumah keluarga Anzai.
Sudah bisa diduga, yang menyambut kepulanganku adalah Mina dan Reina-san. Bahkan sebelum sempat mengatakan apa pun, mereka langsung menarikku ke ruang keluarga, lalu memelukku dari kedua sisi.
"Takuya-san♡"
"Takuya-kun♡"
"............"
Nah, menurut kalian aku kehilangan kata-kata karena tindakan mereka?
Tentu saja tidak. Justru aku hanya sedang menikmati kebahagiaan dari situasi ini.
"Mina belakangan ini terlihat sangat bersemangat ya."
"Ibu juga, bukan?"
"Hehe, ketahuan ya?"
"Tentu saja. Malah menurutku Ibu agak terlalu bersemangat."
"Memangnya separah itu?"
Percakapan ibu dan anak itu berlangsung sambil menjepitku di tengah.
Yah... aku juga sadar Reina-san memang sedang sangat bersemangat akhir-akhir ini. Tapi mengetahui penyebabnya adalah aku sendiri membuatku tak bisa menahan rasa senang.
Sementara aku menikmati sentuhan tubuh mereka yang menempel padaku, topik pembicaraan pun beralih kepadaku.
"Ngomong-ngomong, Takuya-san."
"Hm?"
"Akhir-akhir ini kamu terlalu memaksakan diri, ya?"
"...Eh, memangnya begitu?"
"Kurasa memang begitu. Donoue-san dan yang lainnya selalu memuji Takuya-kun, tapi kami tahu, lho? Entah itu pegal atau nyeri otot, tubuhmu sedang menjerit, kan?"
"............"
Tatapan tajam mereka membuatku akhirnya menyerah dan mengangguk.
Memang, akhir-akhir ini seluruh tubuhku terasa sakit... mungkin memang nyeri otot, tapi hampir semua persendianku terasa nyeri.
"Ehm... yah, aku cuma ingin bekerja keras... atau mungkin memang aku tidak bisa diam."
"Tapi kalau sampai tubuhmu rusak, itu sama saja sia-sia, bukan?"
"Bahkan kalau tubuhmu tidak sakit pun, jelas sekali kalau kamu sudah bekerja terlalu keras."
Bukan hanya tatapan mereka, nada bicara mereka pun sedikit lebih tegas.
Mereka bukan sedang memarahiku, melainkan mengkhawatirkanku... dan sejujurnya aku tak punya bantahan. Yang ada justru aku merasa bersalah karena membuat mereka memasang wajah seperti itu.
"...Ya, aku sadar kalau aku memang terlalu memaksakan diri."
Kali ini aku memutuskan untuk mengakuinya dengan jujur.
Seberapa keras pun aku berusaha, sebanyak apa pun pengakuan yang kudapat, atau sebanyak apa pun orang yang membutuhkanku, semuanya akan sia-sia jika pada akhirnya aku malah membuat seseorang mengkhawatirkanku.
Terlebih lagi jika orang itu adalah mereka.
"Benar, kan."
"Betul."
"Iya..."
"Kalau begitu mulai sekarang kami yang akan menyembuhkanmu."
"Kami akan memijat tubuhmu sampai benar-benar rileks."
"...Hah?"
Detik berikutnya aku sudah dijatuhkan ke lantai.
Tunggu... benturan tadi saja sudah cukup membuat tubuhku sakit... terutama pinggangku yang benar-benar nyeri!
"Tunggu, jangan-jangan kalian cuma pengen melakukan hal-hal mesum saja!?"
"Hehe♡"
"Ufufu♡"
Mina dan Reina-san menatapku dari atas dengan senyum bak iblis. Namun bukan iblis yang menakutkan, melainkan seperti succubus yang hendak menguras habis diriku... senyum yang begitu menggoda.
"Kuuh...!?"
Melawan...? Mana mungkin aku melawan!
Pada akhirnya aku memang sama saja dengan mereka... aku sama sekali tidak keberatan melakukan hal-hal mesra bersama mereka, malah sekarang aku justru selalu ingin melakukannya kapan pun ada kesempatan... jadi ya, memang begitulah!
Kalau begitu aku juga harus terus terang!
"Ehm! Mina, Reina-san!"
"Ada apa?"
"Ada apa ya?"
Nada suara mereka seolah sengaja menggodaku, tetapi juga menunjukkan bahwa mereka bersedia melakukan apa pun untukku.
"Kalian masih ingat dulu...? Waktu kalian berdua melakukannya dengan dada kalian."
"Tentu saja ingat."
"Jadi kamu ingin kami melakukannya lagi?"
Aku mengangguk. Memang ada banyak cara untuk bermesraan, tapi yang paling kuinginkan saat ini adalah mereka berdua melakukannya bersamaan.
Mereka memang sering memanjakanku dengan cara itu, tetapi yang dilakukan berdua sekaligus hanya pernah sekali. Karena itulah aku ingin merasakannya lagi.
"Kalau sudah diminta seperti itu, tentu kami tidak bisa menolak♡"
"Benar. Kalau begitu biar aku dan Mina yang membuatmu merasa nyaman♡"
Mina dan Reina-san melepas pakaian luar mereka, lalu juga melepas pakaian dalam.
Setelah itu mereka saling merapatkan tubuh, dada mereka saling menempel, lalu dengan lembut membungkusku bersama-sama.
(...Pemandangan yang luar biasa.)
Di depan mataku terbentang pemandangan yang indah sekaligus begitu menggoda.
Pemandangan penuh gairah seperti ini bukanlah sesuatu yang baru lagi bagiku, dan aku tahu kehidupan seperti ini akan terus berlanjut.
Memang masih ada bagian dalam diriku yang bertanya apakah aku pantas menerima kebahagiaan sebesar ini, tetapi sekarang aku sudah benar-benar mantap.
Aku bersumpah dalam hati bahwa aku tidak akan pernah melepaskan hari-hari seperti ini.
"Itu dia♡ Begini♡"
"Bagaimana? Enak?♡"
...Tapi untuk sekarang, aku memutuskan berhenti memikirkan hal-hal rumit.
Aku hanya ingin menyerahkan diriku sepenuhnya pada kebahagiaan dan kenikmatan yang diberikan oleh kedua wanita ini.
(...Ah, tapi...)
Tetap saja ada satu hal yang terus mengganggu pikiranku.
Yaitu apartemen tempatku dulu tinggal.
Karena aku pergi secara mendadak, tentu saja aku belum mengurus pembatalan kontraknya. Jadi suatu saat nanti aku harus kembali ke Tokyo untuk berbicara dengan pemilik apartemen.
"...Kalian berdua... sudah!"
"Tidak apa-apa. Berikan semuanya pada kami♡"
"Berikan semuanya pada dada kami♡"
Ah... tidak bisa. Sedikit pikiran yang tadi sempat muncul pun lenyap begitu saja di hadapan kenikmatan ini.
Yah... memang lebih baik urusan yang rumit dipikirkan nanti saja. Sekarang aku hanya ingin menikmati waktu manis bersama mereka.
"Uwah!?"
Hari-hari yang kudapatkan di desa ini...
Aku yakin akan mengatakannya berkali-kali.
Hari-hari ini begitu membahagiakan, penuh kehangatan dan kemesraan, sampai-sampai rasanya mustahil bagiku untuk meninggalkannya.
Previous Chapter | ToC |



Post a Comment