Chapter 1
Masuk Sekolah
"Gyahahahaha!
Beri jalan untuk Tuan Hinata, sang Level 0 Abadi—!"
Suara yang
dipenuhi sarkasme itu menggema dari gerbang utama SMA Seishin, tempat yang akan
segera aku masuki.
Ejekan itu
ditujukan kepada sama sekali bukan orang lain, melainkan aku.
Dan orang yang
berdiri tepat di hadapanku untuk mengolok-olokku adalah Arai Gai, yang menjadi
seorang Explorer sesaat setelah masuk SMA.
Kemunculan Dungeon
di bumi membawa serta konsep Level bagi umat manusia.
Berkat Level,
dunia kita menjadi tempat yang semakin kejam di mana yang kuat memangsa yang
lemah.
Dan
sekarang, aku telah menjadi target dari sistem ini.
Terlahir
sebagai Level 0, aku diberitahu bahwa hidup sebagai seorang Explorer
adalah hal yang mustahil.
Menjadi Level
0 adalah hal yang begitu langka hingga rumor menyebar bagaikan api di musim
kering—sebentar saja, tidak ada satu pun orang di kampung halamanku yang tidak
mengetahuinya.
Itulah
sebabnya aku sengaja memilih untuk mendaftar ke SMA yang jauh…… tapi dari semua
orang, aku tidak pernah membayangkan Gai akan berada di sini.
"Hei,
hei, Hinata. Aku sudah menjadi seorang Explorer lho~ Lihat, lihat~"
Di
hadapanku berdiri Gai, memamerkan punggung tangan kanannya.
Terukir
di sana adalah simbol misterius—"Lisensi Explorer"—yang
menandakan statusnya sebagai seorang Explorer.
Demam Explorer
telah melanda seluruh negeri Jepang, dan kini setiap warga membawa lisensi
tersebut di punggung tangan kanan mereka.
Namun,
bukan berarti semua orang yang memilikinya berani menjelajahi Dungeon.
Dungeon adalah dunia yang begitu berbeda
dari kehidupan biasa, di luar imajinasi seseorang, dan dipenuhi oleh
monster—makhluk-makhluk yang menentang logika.
Monster
jauh lebih kuat daripada manusia, dan sesekali, makhluk luar biasa kuat yang
dikenal sebagai Irregular muncul untuk mendatangkan malapetaka pada apa
pun yang ada di jalur mereka.
Hasilnya,
setiap ekspedisi Dungeon adalah pertaruhan dengan kematian itu sendiri.
Alasan
inilah yang membuat praktik standarnya adalah membentuk tim yang dikenal
sebagai Party.
"I-itu hebat
sekali……! Gai-kun."
"Benar kan~?
Berusahalah yang keras juga ya~ meskipun kau tidak akan pernah bisa menjadi
seorang Explorer~ Gyahahahaha!"
Aku tadinya
berpikir akhirnya bisa membuka lembaran baru di SMA, tapi aku tidak pernah
menduganya akan berada di sini.
Begitu saja,
statusku sebagai Level 0 telah terekspos ke semua orang di sekitarku.
Aku mengenakan
sarung tangan hitam di tangan kanan untuk menyembunyikan punggung tanganku dari
orang lain.
Namun sekarang,
tindakan pencegahan itu…… telah kehilangan makna.
Aku bisa
merasakannya—tatapan dingin, bisikan-bisikan, dan tawa meremehkan.
Sama seperti yang
terjadi selama ini.
────
"Sekarang mengumumkan Peringkat Eksplorasi hari ini~"
Pengumuman
itu bergema dari sebuah kapal udara yang meluncur di langit.
Peringkat
Eksplorasi lahir
bersamaan dengan kemunculan Dungeon itu sendiri.
Peristiwa
itu terjadi jauh sebelum aku lahir, jadi aku tidak pernah mengenal dunia tanpa Dungeon
atau peringkat-peringkat ini.
Peringkat
Eksplorasi secara
otomatis menghitung dan menampilkan pencapaian para Explorer dalam
bentuk angka.
Empat
kali sehari, pada interval yang telah ditentukan, mereka menyiarkan
pembaruannya menggunakan kapal udara seperti yang ada di atas sana.
Bagi
kami, melihat nama kita masuk dalam 100 besar peringkat adalah tanda kebanggaan
seorang pahlawan—sebuah status yang hanya bisa kita kagumi dan dambakan.
Saat aku menatap
ke langit, sebuah keributan mulai terjadi di kerumunan orang di sekitarku.
Ada apa ini?
Melihat
sekeliling, aku menemukan sumbernya—seorang gadis berambut perak yang melangkah
turun di depan gerbang utama, rambutnya berkilau indah saat menangkap cahaya
matahari.
Dua siswa
laki-laki yang berdiri di dekat sana mulai berbisik-bisik.
"Hei, lihat.
Itu Hinata."
"Jadi itu
gadis ajaib SMA yang legendaris, Hinata-sama? Aku pernah dengar rumornya, tapi
wow, aslinya jauh lebih memukau."
"Menurutmu
aku punya peluang kalau mengajak dia ngobrol?"
"Jangan
harap. Dia bukan cuma cantik; dia benar-benar yang terkuat. Bisa berbicara
dengannya bahkan sekali seumur hidup saja sudah merupakan keajaiban."
"Ya, benar
juga."
Sudah jelas
mereka tahu persis siapa gadis itu.
Aku tidak
mengerti mengapa rambutnya berwarna perak, tapi dipanggil sebagai "yang
terkuat" hanya bisa berarti satu hal—dia sudah menjadi seorang Explorer.
Dari aura yang
dipancarkannya, sudah sangat jelas, dia memiliki kekuatan langka atau kekuatan
fisik yang luar biasa.
Di zaman modern,
setiap bayi yang baru lahir menjalani tes "kemampuan bawaan" untuk
menilai potensi mereka sebagai seorang Explorer.
Semakin tinggi
potensinya, semakin kuat mereka bisa berkembang saat naik Level.
Hasilnya,
orang-orang diberi peringkat berdasarkan kemampuan bawaan mereka, dan
pemerintah memberikan tingkat dukungan yang berbeda-beda tergantung pada
peringkat tersebut.
Peringkat
terendah adalah F, dan yang tertinggi adalah S.
Konon, keluarga
dengan anak berperingkat S cukup kaya untuk membangun sebuah rumah besar,
tetapi untukku—aku jelas berperingkat F, jadi aku tidak menerima satupun dari
keistimewaan itu.
Peringkat F tidak
memenuhi syarat untuk mendapatkan bantuan pemerintah apa pun.
Gadis bernama Hinata itu, sama sekali tidak terusik oleh perhatian orang-orang, berjalan dengan penuh percaya diri melewati gerbang tanpa melirik siapa pun di sekitarnya dan memasuki gedung sekolah.
Mengikuti
instruksi yang diberikan, aku melangkah menyusuri lorong dan tiba di gedung
olahraga, yang begitu luas hingga seluruh siswa dapat tertampung di dalamnya
dengan sisa ruang yang masih banyak.
Setelah berbaris
di tempat yang telah ditentukan dan mendengarkan pidato panjang dari kepala
sekolah, ketua osis melangkah ke depan dan mulai menyampaikan sambutannya.
"Dan
terakhir, kita memiliki Explorer peringkat-S—Kamui Hinata."
Mendengar
perkenalan dari ketua osis, gadis bernama Hinata itu naik ke atas panggung.
Dia begitu cantik
memukau hingga orang-orang bisa dengan mudah mengiranya sebagai seorang model
atau aktris. Namun, hal yang paling memikat perhatian semua orang adalah rambut
peraknya yang indah, tergerai turun sampai ke pinggangnya.
Dia membungkuk
sedikit sebelum berdiri berdampingan dengan para pengurus osis. Pada detik itu,
dia tampak memancarkan pesona cemerlang yang begitu khas dirinya, tak
tertandingi oleh siapa pun.
"Sudah masuk
osis bahkan sebelum masuk sekolah? Kurasa menjadi peringkat-S benar-benar memberimu perlakuan
spesial."
"Lagipula,
dia adalah putri dari keluarga Kamui, kan? Mereka bilang para dewa tidak
memberikan dua anugerah kepada satu orang, tapi lihatlah dia."
"Mustahil—terlahir
di keluarga kaya, terkuat, dan cantik? Dia punya lebih dari dua anugerah,
mungkin tiga. Beruntung sekali……"
Dia menjadi
target tatapan penuh iri dari tak terhitung banyaknya siswa.
Hal itu pasti
melelahkan sekali, jauh melampaui apa pun yang bisa kubayangkan.
Seperti apa
rasanya terus-menerus berada di bawah tekanan sebesar itu? Aku belum pernah
mengalaminya sendiri, tapi aku bisa membayangkan kalau itu sama sekali tidak
mudah.
Sambil melamun
selama pidato ketua osis berlangsung, aku tidak bisa mengalihkan pandanganku
darinya, terpaku pada kecantikannya yang bersinar.
Usai upacara
penerimaan siswa baru, aku berjalan menuju ke kelas.
Saat itulah aku
menyadari sesuatu. Aku bisa merasakan tatapan intens yang hampir menusuk dari
para siswa di sekitarku, terutama para cowok.
Dan alasannya
sangat sederhana—ada seorang malaikat berambut perak tepat di hadapanku.
Explorer Peringkat-S Kamui Hinata.
Tanpa
disangka-sangka, dia bukan hanya berada di kelas yang sama denganku, tetapi
karena pengaturan tempat duduk, dia duduk tepat di depanku.
Setiap kali aku
menatap ke arah papan tulis, dia pasti selalu berada dalam jangkauan
pandanganku.
Di satu sisi, hal
ini terasa seperti sebuah berkah. Namun, karena usahaku untuk melakukan
"debut SMA" telah gagal total, aku bertekad untuk tetap tidak
mencolok sebisa mungkin. Ironisnya, aku malah tampak menonjol dengan cara yang
sama sekali berbeda.
"Baiklah,
mari kita mulai dengan perkenalan singkat. Kita ikuti urutan tempat duduk
ya,"
pumgkas wali
kelas kami, Pak Aoyagi. Dengan isyarat darinya, perkenalan pun dimulai.
Setiap siswa
membagikan nama mereka, SMP asal kelulusan mereka, dan rencana kegiatan klub.
Lalu
tibalah giliran orang yang ada di depanku—sang malaikat berambut perak.
Dia
berdiri dengan anggun. Rambutnya bergoyang lembut, bagaikan adegan di dalam
film, dan aroma harum yang samar melayang di udara.
"Aku Kamui
Hinata………………"
'''……………………'''
'……………………'
'''???'''
Begitu saja, dia
duduk kembali.
Tunggu, apa!?
Cuma itu!?
Di sekeliling
ruangan, bisikan-bisikan kejengkelan mulai pecah, "Kira-kira dia siapa,
bersikap begitu angkuh dan sombong?"
"Ahem.
Selanjutnya."
"A-Ah……
Ya!"
Aku
buru-buru berdiri, membuat kursiku terdorong ke belakang dengan suara dentuman
keras.
Terkejut oleh
suara itu, aku membeku, dan tawa pun meletus ke seluruh penjuru kelas.
Dengan perasaan
salah tingkah, aku lekas mengangkat kursiku dan memulai perkenalanku.
"Aku Suzuki
Hinata, dari SMP Eran."
Begitu aku
menyebutkan namaku, ruangan tersebut mulai berdengung.
Masuk akal juga……
karena aku memiliki nama yang sama persis dengan gadis yang ada di depanku.
"Aku
tidak begitu mahir dalam hal apa pun, jadi aku belum memutuskan klub apa pun……
Oh, dan aku akan tinggal di asrama."
Selain
namaku, sepertinya tidak ada seorang pun yang tertarik. Aku bisa merasakan
suasana berubah semakin dingin saat aku berbicara.
"U-um……
Semoga kita bisa akur ya."
Dan dengan
begitu, aku berhasil menyelesaikan perkenalanku tanpa masalah lebih lanjut.
◆
Setelah
kelas hari pertama usai, aku langsung menuju ke asrama.
SMA Seishin
memiliki fasilitas asrama yang dilengkapi dengan sangat baik. Tepat di samping lapangan sekolah
terdapat kompleks besar bangunan bergaya apartemen modern.
Ada tiga
bangunan totalnya—masing-masing untuk tahun pertama, tahun kedua, dan tahun
ketiga.
Meskipun
aku pernah mendengar betapa hebatnya tempat ini, aku tidak pernah membayangkan
bangunan itu akan semasif ini.
Di atas pintu
masuk utama, terdapat papan tanda besar yang menampilkan angka satu, dua, dan
tiga.
Sesuai instruksi,
aku memasuki asrama dengan tanda "Tahun Pertama" yang menggantung di
atasnya.
"Salam
kenal. Aku Seino, ibu asrama di sini. Silakan buat dirimu nyaman, Suzuki
Hinata-kun."
Seorang wanita
menyapaku begitu aku melangkah masuk.
"Ehh?
Bagaimana Anda tahu namaku?"
"Aku adalah
ibu asrama. Aku sudah menghafal nama dan wajah semua siswa yang tinggal di
sini. Ini buku peraturan; tolong pastikan untuk membacanya dengan teliti."
Dia tampak
berusia sekitar empat puluhan, dengan wajah yang terlihat jauh lebih muda dari
usianya. Kendati demikian, sorot matanya yang tajam memberinya kesan yang agak
tegas.
Tetap saja……
Mengingat dia sudah menghafal nama dan wajah semua siswa bahkan sebelum kita
pindah ke sini, aku percaya kebaikannya itu sungguh-sungguh.
Setelah menunggu
sebentar di pintu masuk, beberapa siswa lain tiba, dan kami semua menerima
orientasi bersama-sama.
Kamarku adalah
Kamar 307 di lantai tiga. Ruangannya luas, sekitar sepuluh tatami, dilengkapi
satu buah tempat tidur, seperangkat meja dan kursi, ditambah lemari. Lagipula,
setiap orang mendapatkan kamar sendiri-sendiri.
Berbicara soal
asrama, aku tadinya membayangkan kamar yang harus dibagi bersama orang lain,
tapi sepertinya SMA Seishin memberikan dukungan yang sangat dermawan kepada
para explorer, dan asramanya praktis dibuat khusus untuk mereka.
Tanpa mengetahui
hal itu, aku terlanjur menjadi orang tersisih di antara para penghuni asrama.
Sejujurnya…… jika
aku tahu dari awal, aku pasti akan memilih SMA yang berbeda. Aku seharusnya menyadarinya saat
pertama kali mendengar bahwa mereka menyediakan dukungan yang begitu dermawan……
Barang-barangku
tiba dalam satu kotak kardus, yang langsung kubuka dan bongkar saat itu juga.
Aku tidak
pernah membenci kegiatan merapikan, dan aku cukup mahir melakukannya, jadi aku
bisa memilah isi kotak kardus itu dengan tuntas.
Klik──.
Detikan jam
dinding bergema di dalam kamar yang sunyi saat aku duduk untuk menarik napas
sejenak.
Hari ini
adalah hari upacara penerimaan sekaligus hari kepindahan, jadi pesta
penyambutan bagi para penghuni asrama diadakan di ruang makan.
Dalam
perjalanan ke sana, aku memerhatikan bahwa setiap siswa memiliki lisensi yang
terukir di punggung tangan kanan mereka.
Di ruang
makan, aku mendapati meja-meja yang diberi label dengan nama masing-masing
orang. Aku duduk di tempat
namaku tertulis, dan tidak lama kemudian, pesta penyambutan pun dimulai.
"Sekarang,
tolong jaga sikap kalian dengan penuh kendali selama kehidupan asrama
kalian."
Jika kami sudah
dewasa, ini adalah waktunya untuk minum alkohol. Namun, karena minum di bawah
umur dilarang, kami mengangkat cangkir teh atau jus kami untuk merayakan
pendaftaran dan kepindahan kami.
Setiap
meja diatur untuk empat orang. Di mejaku duduk satu orang gadis dan dua orang
cowok lainnya.
Mereka
berkeliling memperkenalkan diri, tetapi masalahnya adalah semua orang secara
terbuka membagikan peringkat kemampuan bawaan mereka.
"Hei, karena
peringkat kita tidak jauh berbeda, bagaimana kalau kita membentuk party?"
"Oh ya! Aku
sebenarnya sedang mencari anggota party juga."
"Sama di
sini! Sebenarnya, aku agak dalam masalah karena belum punya siapa-siapa."
Sebelum aku
sempat memperkenalkan diri, mereka bertiga sudah akrab duluan dan memutuskan
untuk membentuk party di tempat.
Melihat
sekeliling, aku memerhatikan meja-meja lain juga sibuk membicarakan tentang
pembentukan party di antara orang-orang yang memiliki peringkat potensi yang
mirip.
"Eh?
Ngomong-ngomong, siapa kamu?"
Gadis itu menoleh
kepadaku, menarikku ke dalam percakapan.
"Eh, um……
Aku Suzuki Hinata. Dan, yah…… aku seorang Explorer peringkat-F……"
"Ehh!?
Kamu bisa masuk asrama dengan peringkat-F!?"
Suaranya
yang terkejut bergema ke seluruh ruang makan, menarik perhatian semua orang.
"M-maaf!"
Dia
buru-buru menyatukan kedua tangannya dalam gestur meminta maaf.
Sekarang
setelah semua orang tahu aku berperingkat-F, suasana di ruang makan menjadi
tegang. Tatapan dingin perlahan-lahan mulai tertuju padaku.
"Eh,
aku tidak tahu ada siswa non-Explorer di asrama ini. Itu berita baru
bagiku."
Anak
laki-laki yang duduk di seberangku tampak terkejut.
"Apakah
benar-benar tidak biasa bagi non-Explorer untuk tinggal di asrama
Seishin?"
"Tentu
saja tidak biasa. SMA Seishin didirikan khusus untuk mendukung para Explorer,
lagipula."
"Kira-kira
begitu ya……"
Aku
hampir tidak melakukan riset apa pun. Asrama mewah itu menarik perhatianku, dan
aku mendaftar tanpa berpikir panjang.
Kalau
dipikir-pikir lagi, aku yakin aku menulis "peringkat-F" di bagian
kemampuan bawaan. Jadi bagaimana aku bisa diterima?
"Wah,
seriusan? Apakah sarung tangan itu cuma untuk menyembunyikan lisensimu?"
"Eh?
Oh…… ya."
"Heh.
Tapi tahu tidak, menjadi peringkat-F bukan berarti kamu tidak bisa
sukses."
"Eh!? Apa
maksudmu dengan itu?"
Jawabannya yang
tak terduga memicu rasa penasaranku.
"Memiliki
potensi yang rendah tidak serta-merta membuatmu menjadi lemah sebagai seorang Explorer.
Bahkan peringkat-A pun mungkin tidak berkembang tergantung pada tipe kemampuan
mereka. Tapi peringkat-S berada di level yang sepenuhnya berbeda."
"Ya,
peringkat-S itu gila. Kudengar ada satu orang di Kelas 3."
"Oh,
maksudmu Putri Es?"
Putri Es? Julukan
itu melekat di benakku entah kenapa.
"Iya, betul.
Dia memasang ekspresi sedingin batu bahkan selama sambutan osis. Konon, dia
tidak pernah berbicara dengan siapa pun."
Menilai dari
penyebutan ekspresi dinginnya itu, mereka pasti sedang membicarakan Hinata-san.
"M-maaf.
Soal yang kau katakan tadi…… bisakah kau menjelaskannya lebih detail?"
"Hm?
Maksudmu tentang peringkat-peringkat itu?"
"Ya."
"Tentu saja~
Peringkat hanyalah klasifikasi dari kemampuan bawaan. Memiliki potensi tinggi
bukan berarti kamu akan otomatis menjadi sekuat itu. Bagaimanapun juga, potensi
ya tetap potensi—hanya potensi. Tidak ada jaminan kamu akan benar-benar membukanya
secara penuh. Dan lagi, bukan potensi yang membuatmu menjadi lebih
kuat—melainkan kemampuan aslimu di dunia nyata. Perbedaan terbesar berasal dari Level."
"B-begitu
ya!"
"Tepat
sekali. Jadi jika kamu terus
bekerja keras, kurasa hari di mana usahamu membuahkan hasil akan tiba. Banyak
orang memiliki kemampuan bawaan yang tidak cocok untuk pertarungan. Meskipun…… aku belum pernah
mendengar ada orang yang sukses sebagai peringkat-F."
"Benar juga.
Selama kamu menaikkan Level, setiap orang punya kesempatan."
"Menaikkan Level……"
"Kita para Explorer
hanya bisa menjadi lebih kuat dengan menaikkan Level kita. Tentu saja,
latihan untuk mengendalikan kekuatan itu dengan benar juga penting, tapi Level
adalah yang utama."
Level. Kata-kata itu menghantamku bagaikan palu
yang memukul kepala.
Meskipun aku
berperingkat-F, jika ada secercah harapan pun, aku ingin terus melangkah maju.
Tapi Level miliki—nol.
Level biasanya dimulai dari angka 1 secara
bawaan. Jadi menjadi Level 0 pada dasarnya sama saja dengan tidak
memiliki Level sama sekali.
Untuk menaikkan Level-mu,
kamu harus terus menggunakan kemampuan Explorer milikmu atau mengalahkan
monster di dalam Dungeon.
Mengalahkan
monster memberimu jauh lebih banyak Experience dan membantumu naik Level
lebih cepat, tapi bertarung melawan mereka mempertaruhkan nyawamu. Risikonya
sangat besar.
Meskipun kamu
baru bisa menjadi Explorer di SMA, aku pernah dengar bahwa sekadar
menjalani kehidupan sehari-hari sampai saat itu secara alami akan menaikkan Level-mu
hingga sekitar 5 rata-rata.
Mereka bilang
kamu bahkan bisa mencapai Level 10 hanya dengan menjalani kehidupan
sehari-hari, tanpa harus bertarung melawan monster apa pun.
"Hei……
tidak ada di antara kalian yang sudah masuk Dungeon kan? Apa boleh kalau aku bertanya berapa Level
kalian saat ini?"
"Aku di Level
6."
"Aku
4."
"Aku di Level
5."
Jadi Level
mereka benar-benar naik.
………………
Setelah pesta
penyambutan usai, aku kembali ke kamarku, dibebani oleh keputusasaan.
Level-ku adalah 0.
Bahkan
setelah bertahun-tahun menjelang masa SMA ini, Level-ku sama sekali
tidak bergeming.
◆
Beberapa Hari
Setelah Masuk SMA Seishin.
Aku
menghabiskan hari-hariku dengan perasaan…… hampa di dalam dada.
Aku menghadiri
pelajaran tapi sama sekali tidak tertarik mencari klub. Sebagai gantinya, aku langsung
kembali ke asrama dan mengurung diri di kamar.
Aku makan
lebih awal dari yang lain agar tidak berpapasan dengan sesama penghuni asrama,
lalu kembali belajar.
Namun,
ada kekosongan yang begitu luas di hatiku yang membuatku mustahil bisa fokus
pada hal apa pun—termasuk pelajaran.
Aku masuk
SMA Seishin sebagian karena berharap bisa membantu menopang rumah tangga orang
tua tunggal kami, meski hanya sedikit. Ayahku sudah tidak ada sejak sebelum aku
bisa mengingatnya, dan aku tidak pernah menanyakan alasannya, jadi aku tidak
tahu persis penyebabnya.
Itulah
mengapa aku berpikir tinggal di asrama setidaknya akan membereskan biaya
hidupku. Dan jika aku bisa menjadi seorang Explorer, aku membayangkan
bisa menghasilkan uang sebanyak yang hanya bisa diimpikan oleh orang biasa.
Aku ingin
meringankan beban ibu dan adik perempuanku, meski hanya sedikit. Namun, impian
itu hancur berkeping-keping oleh keputusasaan karena menjadi Level 0.
── Ping♪
Sebuah
suara berdering dari ponselku. Hanya ada dua orang yang memiliki nomorku.
Aku
membuka kunci layarnya dan membuka aplikasi perpesanan, Connect.
"Kakak!
Apakah kamu sudah terbiasa dengan sekolah barumu? Aku sedang berusaha keras
agar bisa masuk SMA Seishin tahun depan juga~!"
………………
………………
Aku telah
meminta ibu dan adikku untuk tidak menghubungiku sampai libur panjang
berikutnya. Aku ingin berdiri di atas kakiku sendiri di asrama tanpa harus
bergantung pada mereka.
Adik
perempuanku begitu peduli pada keluarga kami, aku tahu dia pasti akan khawatir
dan mungkin mengirimiku pesan setiap hari.
Memikirkan
hal itu, aku menyadari—aku tidak boleh menyerah di sini. Aku tidak akan sanggup
menatap wajah adikku yang sedang menahan diri demi aku.
Lalu kenapa kalau
aku Level 0? Mungkin jika aku mengalahkan monster di dalam Dungeon,
aku bisa menaikkan Level.
Menjadi
peringkat-F, menjadi Level 0—bukan berarti masa depanku sudah tertulis
di atas batu.
Aku mempererat
genggamanku pada ponsel yang berisi pesan dari adikku.
Aku tidak akan
menyerah.
Dan untuk pertama
kalinya, aku memantapkan tekad untuk memasuki sebuah Dungeon.
Keesokan Harinya.
Sebelum
berangkat, aku mampir ke tempat ibu asrama di lantai satu.
"Selamat
pagi, Hinata-kun."
Wajah datarnya
yang biasa memancarkan kesan dingin.
"Selamat
pagi. Sebenarnya, aku berniat masuk ke dalam Dungeon untuk pertama
kalinya. Bisakah Anda merekomendasikan Dungeon pemula yang ada di dekat
sini?"
Tanpa berkata
apa-apa, dia menarik sebuah peta dan membentangkannya di hadapanku.
"Ini adalah
posisi sekolah, dan jika kamu berjalan ke arah selatan dari sini, kamu akan
menemukan Dungeon Peringkat-E 117 yang direkomendasikan untuk pemula.
Kurasa kamu akan baik-baik saja jika masuk seorang diri."
Tanpa diduga, dia
menjelaskannya dengan sangat tuntas.
"Terima
kasih banyak."
"Hinata-kun,
Explorer hanya bisa eksis jika mereka berhasil keluar hidup-hidup.
Tolong jangan memaksakan diri dan tetaplah selamat."
"Baik……!"
Setelah berterima
kasih kepada ibu asrama, aku meninggalkan gedung dan mengikuti jalur yang telah
dia gambarkan.
Berjalan ke arah
selatan, aku melihat sebuah bangunan yang mengelola Dungeon beserta
pintu masuknya.
Secara umum, kamu
tidak bisa masuk ke dalam Dungeon tanpa lisensi yang sah—kamu akan
dihentikan di gerbang tempat petugas berjaga.
Dungeon selalu berada satu langkah dari kematian.
Itulah sebabnya pemerintah melarang keras siapapun memasuki Dungeon di
luar kemampuan mereka.
Aku memasuki
gedung yang berdiri di depan pintu masuk Dungeon tersebut.
Aku berjalan
menuju lantai dua tempat meja resepsionis berada, lalu melangkah masuk.
"Selamat
datang! Apakah ini pertama kalinya kamu ke sini?"
Suara wanita yang
cantik menyapaku seketika.
"Ya, ini
pertama kalinya."
"Dilihat
dari seragammu, kamu siswa dari SMA Seishin, ya? Aku akan mengeluarkan
lisensimu sekarang, jadi mohon tunggu sebentar. Jika kamu meletakkan tanganmu
di atas kristal yang ada di sana, kamu bisa memeriksa peringkat kemampuan
bawaanmu."
Kristal itu
digunakan untuk menilai kemampuan terpendam. Saat disentuh, kristal tersebut
akan memancarkan cahaya yang sesuai dengan peringkat penggunanya.
Peringkatnya
berkisar dari F hingga S, masing-masing diwakili oleh satu dari tujuh warna: S
berwarna merah, A oranye, B kuning, C hijau, D biru, E nila, dan F ungu.
"Eh……?
Kotaknya tidak ada di sini…… Mungkin ada di belakang."
Resepsionis itu
bergumam pelan sambil mencari-cari di sekitar dengan cemas.
"Aku akan
mengambil kotak lisensinya, jadi mohon tunggu sebentar di sini."
Dengan
tergesa-gesa, dia menghilang di balik konter.
Ditinggal
sendirian, aku memutuskan untuk meletakkan tanganku di atas kristal untuk
pertama kalinya setelah sekian lama.
Kristal itu
perlahan mulai berubah menjadi warna hitam.
Inilah alasan
mengapa aku dicap sebagai Level 0.
Biasanya, kristal
tersebut akan memancarkan warna untuk menentukan peringkat, tapi milikku
berubah menjadi hitam pekat—artinya tidak ada warna, tidak ada kemampuan.
Kristal itu menandadiku sebagai orang yang tidak memiliki kekuatan, seorang Level
0.
Dan penilaian itu
sama sekali tidak salah. Level-ku
tidak pernah meningkat.
Saat aku
terus meletakkan tanganku di atas kristal itu, pikiran-pikiran tersebut
berputar-putar di dalam kepalaku.
Kegelapan
yang mengerikan merembes keluar dari kristal, tumbuh semakin besar dan besar,
seolah-olah sedang mengintip ke dalam lubuk jiwaku.
Aku diliputi oleh
emosi yang rumit saat kegelapan suram itu terus menerus mencuat ke luar.
Kegelapan ini
merepresentasikan keputusasaanku—keputusasaan karena terjebak selamanya di Level
0.
Kegelapan itu
terus menyebar, menelanku bulat-bulat—begitu hebatnya hingga aku bahkan tidak
menyadari saat kegelapan tersebut perlahan-lahan melahap seluruh ruangan.
"Maaf
membuatmu menu────eh? Tidak ada siapa-siapa? Halo~? Eh? Siswa yang tadi…… apa
dia sudah pergi?"
Resepsionis itu
menghela napas berat sambil menatap konter yang kini sudah kosong.
◆
"U-UWAAAAAAHHHHHHH!"
Rasanya aku
sedang terjun bebas langsung ke dalam neraka—itulah satu-satunya cara untuk
menggambarkan sensasi jatuh tanpa akhir melalui kegelapan pekat ini.
Apa-apaan
sebenarnya ini!?
Aku yakin tadi
aku sedang menyentuh kristal di meja resepsionis, tapi sebelum aku sadari, aku
sedang jatuh…… tanpa ujung, ditelan oleh ketiadaan yang hitam legam.
Aku tidak bisa
melihat apa-apa. Satu-satunya sensasi yang bergelayut di tubuhku adalah
perasaan mengerikan meluncur turun dari ketinggian yang mustahil.
"A-Apa
ini!?"
Tiba-tiba
merasakan sesuatu mencengkeram pergelangan kakiku, aku menunduk menatap kakiku,
tapi aku tidak bisa melihat apa pun di dalam kegelapan.
Saat berikutnya,
bidang pandangku terbuka lebar seketika.
Tadi aku merasa
sedang jatuh, namun kini aku berdiri dengan kokoh di atas tanah.
"D-Di mana
aku!?"
Bahkan saat aku
melihat sekeliling dengan panik, pemandangan yang remang-remang membuatku sulit
melihat jauh. Bintang-bintang bersinar di langit di atas sana, jadi rasanya
seperti malam hari, tapi aku tidak bisa menahan napas melihat bentang alam yang
diselimuti kabut itu.
Sebagai
puncaknya, aku bisa melihat sesuatu seperti kastil yang sangat, sangat jauh di
kejauhan. Aku tertegun bisu oleh pemandangan yang begitu jauh dari kenyataan.
《Karena tingkat kesulitan, kamu telah memperoleh skill Dungeon
Information.》
Eh!? Dungeon!?
I-Itu dia!
Pemandangan aneh ini pastinya berada di dalam Dungeon!
Aku memang sudah
menyiapkan diri untuk ini, tapi berada di dalam Dungeon untuk pertama
kalinya, segala sesuatunya terasa sangat tidak pasti.
《Melalui skill Dungeon Information, tempat ini telah dianalisis
sebagai “Lucifer’s Descent”.》
Jatuhnya Lucifer?
Apakah itu nama Dungeon ini? Aku belum pernah mendengar nama seperti
itu, tapi bukankah tempat ini seharusnya adalah Dungeon Peringkat-E 117,
tempat yang ingin kutuju?
Bukankah semua Dungeon
seharusnya dikelola dengan nomor? Kenapa tempat ini memiliki sebuah nama?
《Karena tingkat kesulitan, kamu telah memperoleh skill Surrounding
Detection.》
Ada apa lagi
sekarang!?
Tepat setelah
mendengar suara itu, entah mengapa, aku bisa memahami sekelilingku dengan lebih
jelas, seolah-olah aku bisa menggenggamnya di telapak tanganku.
Apa yang aku
rasakan di sana adalah niat jahat yang luar biasa besar. Hawa dingin yang tak
tertahankan menghantamku, dan syoknya begitu hebat hingga aku memuntahkan isi
perutku di tempat itu juga.
《Karena tingkat kesulitan, kamu telah memperoleh skill Foreign Resistance.》
Lagi…… aku mendapatkan skill lain yang
disebut-sebut itu. Sebenarnya apa sih “skill” itu? Aku belum pernah
mendengarnya!
Pada saat itu,
aku merasakan rasa sakit yang berbeda dari hawa dingin tadi.
Didorong oleh
rasa sakit luar biasa yang menjalar ke seluruh tubuhku, aku ambruk di tempat
tanpa bahkan bisa berteriak.
《Karena tingkat kesulitan, kamu telah memperoleh skill Status Ailment
Resistance.》
《Karena tingkat kesulitan, skill Status Ailment Resistance telah
berevolusi menjadi Status Ailment Resistance: Moderate.》
S-Seseorang……
tolong……
《────Skill tersebut telah berevolusi menjadi Status Ailment
Resistance: High.》
《────Skill tersebut telah berevolusi menjadi Status Ailment
Resistance: Extreme.》
《────Skill tersebut telah berevolusi menjadi Status Ailment Immunity.》
Kata-kata aneh bergema berulang-ulang di dalam kepalaku, dan bersamaan dengan itu, aku kehilangan kesadaran.
Skill
Baru yang Diperoleh
Fate
Active
Skill:
Area
Search
Skill
List
Monster
Dismantling
Dimensional
Storage
Passive
Skill:
Foreign
Body
Resistance
Status
Ailment
Immunity
Dungeon
Information



Post a Comment