Bonus Cerita Pendek
Pesta Teh Hinata dan Shino
"Permisi."
Hinata memberi
salam dengan wajah tanpa ekspresi.
"Aku
pulang~"
Shino yang masuk
bersama Hinata ikut memberi salam. Para pelayan yang menyambut mereka langsung
membungkuk dalam-dalam untuk memberi hormat.
"Tolong
siapkan camilan dan teh hitam dengan rasa manis yang paling sedikit."
"Baik,
Nona."
Mereka berdua
berjalan menyusuri rumah mewah bergaya Barat tersebut, lalu masuk ke kamar
Shino.
Tepat saat pintu
ditutup, sebuah kekuatan misterius menyebar ke seluruh penjuru ruangan.
"Fuu……
akhirnya aku bisa melepaskannya~"
Sambil
mengatakan hal itu, dia melepaskan earphone yang sedari tadi terpasang
di telinganya.
"Hina-chan.
Kamu boleh duduk di mana saja~"
"Iya."
Hinata
memandang sekeliling ruangan, lalu duduk di kursi yang ada di dekat meja.
Aroma manis
yang lembut tercium di udara. Hinata selalu dibuat takjub dengan tingginya
pesona feminin Shino sehari-hari.
Jika
dibandingkan dengan dirinya, Hinata teringat akan kamarnya sendiri yang terasa
gersang. Walau dia tahu hal
itu juga dipengaruhi oleh kemampuannya.
"Berduaan
saja seperti ini, rasanya sudah lama sekali, ya?"
Hinata pun
mengangguk pelan untuk menjawab.
Tanpa kehadiran
Hinata-kun, Hinata kesulitan untuk mengungkapkan perasaannya secara terbuka.
Shino sangat memahami hal tersebut, sehingga dia sama sekali tidak marah dengan
sikap temannya itu.
Terdengar suara
ketukan di pintu kamar. Shino segera memasang kembali earphone di
tangannya ke telinga, tepat saat pelayan masuk membawakan teh hitam dan
camilan.
"Ini adalah
hidangan dengan rasa manis yang disesuaikan."
"Terima
kasih."
Kue kering
berwarna-warni dan teh hitam dengan semburat warna merah muda yang cantik kini
tersaji di atas meja.
Begitu pelayan
tersebut keluar, Shino kembali melepaskan earphone-nya.
"Pakai earphone
terus…… pasti merepotkan, ya."
"Begitulah.
Memang agak merepotkan, tapi menurutku keadaan Hina-chan jauh lebih berat
daripadaku."
"Aku
memang sudah terbiasa…… tapi tetap saja, rasanya jauh lebih menyenangkan saat
bersama Hinata-kun."
"Iya,
aku setuju. Aku juga senang bisa mengobrol tanpa perlu memedulikan earphone
ini saat dia ada."
"Omong-omong,
Hinata-kun selalu menjadi penerjemah untukmu, kan?"
"Iya! Karena
ini pakai Telepathy, rasanya sedikit berbeda dari suara asli, dan agak
beda juga dari telepon biasa."
"Tapi kamu
tahu kan kalau Hinata-kun itu pada dasarnya orang yang ceria? Dia bahkan bisa
menirukan cara bicara dan semangat orang yang sedang berbicara padaku."
Hanya untuk
sesaat, hawa dingin memancar dari tubuh Hinata.
Tampaknya,
memikirkan Hinata-kun terkadang bisa membuat kekuatannya bocor begitu saja.
"Aku juga
ingin mendengarnya."
"Kalau
begitu, bagaimana kalau lain kali kita minta dia untuk mengirimkan Telepathy
itu pada Hina-chan juga?"
"Iya. Aku
juga akan memintanya."
"Itu ide
yang bagus. Hinata-kun────pasti akan sangat senang melakukannya."
"Semoga saja
begitu……"
"Tidak
apa-apa kok, pasti bisa. Hina-chan itu sangat manis, dan Hinata-kun juga
kelihatannya tidak pernah menolakmu, kan?"
Sekali lagi,
sedikit hawa dingin bocor dari tubuh Hinata.
"Wah!?
M-Maaf."
"Tidak
apa-apa. Justru aku…… yang minta maaf karena kehilangan ketenangan."
Keheningan
pun berlangsung selama sekitar tiga detik.
"Maafkan
aku karena tidak bisa mengungkapkan isi hatiku dengan baik. Pasti membosankan……
ya."
Meskipun
wajahnya datar tanpa ekspresi, Shino bisa melihat Hinata merasa sedih di dalam
hatinya.
Melihat
gadis itu, Shino menyunggingkan senyum yang lembut.
"Sama
sekali tidak kok. Ngomong-ngomong soal penyumbat telinga ini. Bagi kebanyakan
orang, memakainya membuatku seolah-olah tidak ingin dihubungi."
"Dan pada
akhirnya, semua temanku pun pergi menjauh…… justru karena mereka tahu kemampuan
latenku."
Potensi S-Rank.
Hal itu
saja sudah cukup untuk membuat banyak orang iri. Kedua gadis itu sangat
memahami kenyataan tersebut hingga ke tulang sumsum.
Namun,
kenyataannya tidak sesederhana sekadar "kuat". Kekuatan yang terlalu
besar justru mengganggu kehidupan mereka sehari-hari.
Dan di antara
para pengguna kekuatan, mereka berdua memiliki kelemahan yang jauh lebih besar
dari siapa pun.
Tanpa perlu
mendengar ceritanya lebih lanjut, Hinata bisa dengan mudah membayangkannya.
Shino dijauhi oleh orang-orang di sekitarnya karena dia memakai earphone
seakan-olah mengabaikan semua orang dan tidak bisa diajak bicara akibat
kekuatannya.
"Sepertinya
Hina-chan juga sudah melewati banyak hal, ya."
"Iya……
aku telah…… melukai teman yang paling berharga bagiku. Oleh karena itu…… aku
merasa bersalah kalau cuma aku yang hidup bahagia saat ini."
"Tapi…… demi
orang tua dan kakak perempuanku, aku harus terus hidup."
"Begitu
ya. Aku sangat setuju dengan hal itu. Lagipula────Hinata-kun mungkin bisa
melakukan sesuatu untuk membantumu."
"Hinata-kun
bisa……?"
Shino
membayangkan sosok cowok itu yang selalu tampak kebingungan dengan ekspresi
cemas.
Dia selalu
menunjukkan wajah yang kurang bisa diandalkan. Sesuai dengan status Level 0
miliknya, tidak ada aura kehebatan yang terpancar dari dirinya.
Akan tetapi,
kekuatan yang mengalir dari dalam hatinya adalah kekuatan yang sejati. Shino
bisa melihatnya hanya dengan sekilas pandang.
────Mungkin
karena alasan itulah, gadis itu merasa tertarik padanya.
Meskipun merasa
paling mengerti betapa menakutkannya berinteraksi dengan seseorang, Shino malah
mengambil inisiatif untuk mendekatinya.
Dia merasa harus
melakukannya. Jika tidak, cowok itu akan pergi bagaikan burung yang terbang
terbawa angin, dan tak akan pernah bisa dijangkaunya lagi.
"Aku
memang tidak punya bukti yang pasti. Tapi………… entah kenapa, aku merasa Hinata-kun bisa membantu menyelesaikan
masalahku."
"Pendengaranku
memang tidak berubah, tapi berkat Hinata-kun, hidupku kini jadi jauh lebih
berwarna. Bahkan sekarang aku punya teman untuk berbagi isi hati seperti
ini!"
Senyuman
Shino telah menjelaskan segalanya. Begitulah yang dirasakan Hinata.
"Jadi
kalau kamu punya masalah, sebaiknya Hina-chan juga mencoba membicarakannya
dengannya, ya? Kalau dirasa sulit, aku juga akan bantu memintanya
bersamamu!"
"Shino-chan……
terima kasih."
"Itu karena
kita────teman, kan?"
"Iya."
Hinata memang
tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Namun karena Shino tahu kehangatan yang ada
di balik wajah datar itu, kata-kata temannya bisa tersampaikan dengan baik.
"Omong-omong,
Hinata-kun sempat meminta kita untuk berkenalan dengan adik perempuannya,
kan?"
"Iya.
Aku sangat terkejut mendengarnya."
"Fufufu.
Waktu itu Hina-chan mengeluarkan hawa dingin yang luar biasa lho."
"Ugh……"
"Adiknya
itu. Kira-kira dia anak yang seperti apa, ya? Aku memang menantikannya, tapi
agak sedikit cemas juga."
"Benar
juga. Bagaimana kalau dia tiba-tiba bilang 'Kalian sudah merebut kakakku, ya'
atau semacamnya……"
"Ahaha…………
iya juga. Sebaiknya kita bersiap-siap untuk yang terburuk."
"Kudengar
Hinata-kun dan adiknya selalu menghabiskan waktu bersama setiap hari di kampung
halaman mereka. Hinata-kun bahkan sengaja tidak menghubunginya selama sebulan
agar tidak terus bergantung padanya, kan."
Hinata,
yang mengetahui fakta tersebut, ikut mengangguk.
"Karena dia
adik perempuannya Hinata-kun, mungkin saja ada sisi keras kepalanya di hal-hal
yang tidak terduga……"
"Bisa
jadi. Sepertinya memang begitu. Lagipula, Hinata-kun sendiri masih terus menganggap dirinya lemah."
"Iya.
Hinata-kun sudah terlahir di Level 0 sejak awal…… aku bahkan tidak bisa
membayangkan perasaannya."
"Aku juga.
Mungkin karena itulah Hinata-kun menjadi orang yang sangat baik."
"Aaah~
berbicara dengan adiknya ini, rasanya bakal seperti proses melamar dan meminta
izin pada orang tua untuk mendapatkan Hinata-kun, ya."
"Iya.
Sepertinya memang akan begitu."
Mereka
berdua menyesap teh hitam masing-masing sembari membayangkan hari itu tiba.
Teh itu
sama sekali tidak manis, melainkan menyebarkan rasa sepat yang elegan hingga
memenuhi seluruh mulut mereka.
Kata Penutup
Pertama-tama,
aku ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena kalian telah
mengambil volume pertama dari Level 0 ini.
Aku
adalah seorang gamer kelas berat. Sejak kecil, aku sudah langsung
bermain game begitu membuka mata di pagi hari.
Satu hal yang
paling kusukai adalah terus-menerus menaikkan level di tempat yang sama.
Ide awal dari
karya ini bermula dari pemikiran, "Pasti menyenangkan kalau ada sistem
level di dunia nyata." Oleh karena itu, aku ingin menyampaikan betapa
menyenangkannya sensasi menaikkan level!
Awalnya aku
berpikir begitu. Namun saat mulai menulis dan membayangkan sosok Hinata-kun,
entah kenapa dia bukanlah tipe karakter yang akan terus-menerus menaikkan
level.
Jadi, aku
memberanikan diri untuk menulis sebuah dunia di mana hanya Hinata-kun
yang level-nya tidak bisa naik.
Ternyata konsep
itu terasa sangat pas di hati. Aku sangat menikmati proses menulis tentang masa
lalunya yang penuh dengan pergumulan, serta pertemuannya dengan Hinata, Shino,
dan Fujii-kun yang terus memperdalam ikatan mereka sebagai teman.
Aku akan sangat
bahagia jika para pembaca bisa merasakan sedikit saja dari perjalanan hidup
mereka!
Selanjutnya,
izinkan aku untuk bercerita sedikit tentang diriku sendiri.
Dulu aku hanya
bermain game dan sama sekali tidak pernah membaca novel.
Namun, setelah
melihat sebuah karya tertentu tentang seseorang yang bereinkarnasi menjadi
makhluk bulat, aku jadi tahu bahwa ada versi novel web-nya, dan sejak saat
itulah aku mulai membaca novel.
Sejak itu, aku
sangat ketagihan sampai-sampai berhenti bermain game yang dulu sangat
kusukai. Aku terus membaca novel setiap hari.
Sungguh
mengejutkan, beberapa tahun kemudian, aku malah menjadi seorang novelis.
Banyak
hal yang terjadi sejak aku menjadi seorang novelis.
Aku
sering berdiskusi tentang teori penulisan dengan banyak orang, dan terkadang
hal itu membuat kami hampir bertengkar.
Meski
begitu, aku bisa sampai sejauh ini berkat para senior yang telah memberiku
banyak nasihat dan juga dukungan dari teman-teman seperjuanganku. Mohon bantuannya juga mulai sekarang!
Lebih lanjut,
izinkan aku menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan rasa terima kasih.
Kepada Toru
Takahashi-sensei, sesama penulis Dengeki Bunko yang telah menyadarkanku akan
hal-hal penting untuk menjadi seorang novelis.
Kepada Kokone
Yururi-sensei, yang dengan sabar telah mengajariku banyak dasar-dasar penulisan
novel.
Serta kepada
KAZU-sensei, teman seperjuanganku yang telah banyak berdiskusi mendalam tentang
low fantasy denganku. Terima kasih banyak!
Sehari-harinya,
aku aktif di X (Twitter) dan situs novel web "Kakuyomu".
Aku juga telah
mempublikasikan banyak karya yang sudah tamat di "Kakuyomu", jadi
silakan mampir untuk membacanya.
Maaf kalau aku
terlalu banyak meminta, tapi jika kalian merasa karya ini menarik, aku akan
sangat senang kalau kalian bersedia memberikan bintang (★)
untuk Level 0 versi Kakuyomu── (Bugh!)
Sepertinya aku
terlalu banyak promosi, ya (tertawa). Mohon terus dukung Level 0 dan aku,
Omine, ke depannya!
Terima
kasih banyak telah membeli buku ini!!



Post a Comment