NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Level 0 no Munou Tansakusha to Sagesumaretemo Jitsu wa Sekai Saikyou desu Volume 1 Extra Story + Afterword

Bonus Cerita Pendek

Pesta Teh Hinata dan Shino


"Permisi."

Hinata memberi salam dengan wajah tanpa ekspresi.

"Aku pulang~"

Shino yang masuk bersama Hinata ikut memberi salam. Para pelayan yang menyambut mereka langsung membungkuk dalam-dalam untuk memberi hormat.

"Tolong siapkan camilan dan teh hitam dengan rasa manis yang paling sedikit."

"Baik, Nona."

Mereka berdua berjalan menyusuri rumah mewah bergaya Barat tersebut, lalu masuk ke kamar Shino.

Tepat saat pintu ditutup, sebuah kekuatan misterius menyebar ke seluruh penjuru ruangan.

"Fuu…… akhirnya aku bisa melepaskannya~"

Sambil mengatakan hal itu, dia melepaskan earphone yang sedari tadi terpasang di telinganya.

"Hina-chan. Kamu boleh duduk di mana saja~"

"Iya."

Hinata memandang sekeliling ruangan, lalu duduk di kursi yang ada di dekat meja.

Aroma manis yang lembut tercium di udara. Hinata selalu dibuat takjub dengan tingginya pesona feminin Shino sehari-hari.

Jika dibandingkan dengan dirinya, Hinata teringat akan kamarnya sendiri yang terasa gersang. Walau dia tahu hal itu juga dipengaruhi oleh kemampuannya.

"Berduaan saja seperti ini, rasanya sudah lama sekali, ya?"

Hinata pun mengangguk pelan untuk menjawab.

Tanpa kehadiran Hinata-kun, Hinata kesulitan untuk mengungkapkan perasaannya secara terbuka. Shino sangat memahami hal tersebut, sehingga dia sama sekali tidak marah dengan sikap temannya itu.

Terdengar suara ketukan di pintu kamar. Shino segera memasang kembali earphone di tangannya ke telinga, tepat saat pelayan masuk membawakan teh hitam dan camilan.

"Ini adalah hidangan dengan rasa manis yang disesuaikan."

"Terima kasih."

Kue kering berwarna-warni dan teh hitam dengan semburat warna merah muda yang cantik kini tersaji di atas meja.

Begitu pelayan tersebut keluar, Shino kembali melepaskan earphone-nya.

"Pakai earphone terus…… pasti merepotkan, ya."

"Begitulah. Memang agak merepotkan, tapi menurutku keadaan Hina-chan jauh lebih berat daripadaku."

"Aku memang sudah terbiasa…… tapi tetap saja, rasanya jauh lebih menyenangkan saat bersama Hinata-kun."

"Iya, aku setuju. Aku juga senang bisa mengobrol tanpa perlu memedulikan earphone ini saat dia ada."

"Omong-omong, Hinata-kun selalu menjadi penerjemah untukmu, kan?"

"Iya! Karena ini pakai Telepathy, rasanya sedikit berbeda dari suara asli, dan agak beda juga dari telepon biasa."

"Tapi kamu tahu kan kalau Hinata-kun itu pada dasarnya orang yang ceria? Dia bahkan bisa menirukan cara bicara dan semangat orang yang sedang berbicara padaku."

Hanya untuk sesaat, hawa dingin memancar dari tubuh Hinata.

Tampaknya, memikirkan Hinata-kun terkadang bisa membuat kekuatannya bocor begitu saja.

"Aku juga ingin mendengarnya."

"Kalau begitu, bagaimana kalau lain kali kita minta dia untuk mengirimkan Telepathy itu pada Hina-chan juga?"

"Iya. Aku juga akan memintanya."

"Itu ide yang bagus. Hinata-kun────pasti akan sangat senang melakukannya."

"Semoga saja begitu……"

"Tidak apa-apa kok, pasti bisa. Hina-chan itu sangat manis, dan Hinata-kun juga kelihatannya tidak pernah menolakmu, kan?"

Sekali lagi, sedikit hawa dingin bocor dari tubuh Hinata.

"Wah!? M-Maaf."

"Tidak apa-apa. Justru aku…… yang minta maaf karena kehilangan ketenangan."

Keheningan pun berlangsung selama sekitar tiga detik.

"Maafkan aku karena tidak bisa mengungkapkan isi hatiku dengan baik. Pasti membosankan…… ya."

Meskipun wajahnya datar tanpa ekspresi, Shino bisa melihat Hinata merasa sedih di dalam hatinya.

Melihat gadis itu, Shino menyunggingkan senyum yang lembut.

"Sama sekali tidak kok. Ngomong-ngomong soal penyumbat telinga ini. Bagi kebanyakan orang, memakainya membuatku seolah-olah tidak ingin dihubungi."

"Dan pada akhirnya, semua temanku pun pergi menjauh…… justru karena mereka tahu kemampuan latenku."

Potensi S-Rank.

Hal itu saja sudah cukup untuk membuat banyak orang iri. Kedua gadis itu sangat memahami kenyataan tersebut hingga ke tulang sumsum.

Namun, kenyataannya tidak sesederhana sekadar "kuat". Kekuatan yang terlalu besar justru mengganggu kehidupan mereka sehari-hari.

Dan di antara para pengguna kekuatan, mereka berdua memiliki kelemahan yang jauh lebih besar dari siapa pun.

Tanpa perlu mendengar ceritanya lebih lanjut, Hinata bisa dengan mudah membayangkannya. Shino dijauhi oleh orang-orang di sekitarnya karena dia memakai earphone seakan-olah mengabaikan semua orang dan tidak bisa diajak bicara akibat kekuatannya.

"Sepertinya Hina-chan juga sudah melewati banyak hal, ya."

"Iya…… aku telah…… melukai teman yang paling berharga bagiku. Oleh karena itu…… aku merasa bersalah kalau cuma aku yang hidup bahagia saat ini."

"Tapi…… demi orang tua dan kakak perempuanku, aku harus terus hidup."

"Begitu ya. Aku sangat setuju dengan hal itu. Lagipula────Hinata-kun mungkin bisa melakukan sesuatu untuk membantumu."

"Hinata-kun bisa……?"

Shino membayangkan sosok cowok itu yang selalu tampak kebingungan dengan ekspresi cemas.

Dia selalu menunjukkan wajah yang kurang bisa diandalkan. Sesuai dengan status Level 0 miliknya, tidak ada aura kehebatan yang terpancar dari dirinya.

Akan tetapi, kekuatan yang mengalir dari dalam hatinya adalah kekuatan yang sejati. Shino bisa melihatnya hanya dengan sekilas pandang.

────Mungkin karena alasan itulah, gadis itu merasa tertarik padanya.

Meskipun merasa paling mengerti betapa menakutkannya berinteraksi dengan seseorang, Shino malah mengambil inisiatif untuk mendekatinya.

Dia merasa harus melakukannya. Jika tidak, cowok itu akan pergi bagaikan burung yang terbang terbawa angin, dan tak akan pernah bisa dijangkaunya lagi.

"Aku memang tidak punya bukti yang pasti. Tapi………… entah kenapa, aku merasa Hinata-kun bisa membantu menyelesaikan masalahku."

"Pendengaranku memang tidak berubah, tapi berkat Hinata-kun, hidupku kini jadi jauh lebih berwarna. Bahkan sekarang aku punya teman untuk berbagi isi hati seperti ini!"

Senyuman Shino telah menjelaskan segalanya. Begitulah yang dirasakan Hinata.

"Jadi kalau kamu punya masalah, sebaiknya Hina-chan juga mencoba membicarakannya dengannya, ya? Kalau dirasa sulit, aku juga akan bantu memintanya bersamamu!"

"Shino-chan…… terima kasih."

"Itu karena kita────teman, kan?"

"Iya."

Hinata memang tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Namun karena Shino tahu kehangatan yang ada di balik wajah datar itu, kata-kata temannya bisa tersampaikan dengan baik.

"Omong-omong, Hinata-kun sempat meminta kita untuk berkenalan dengan adik perempuannya, kan?"

"Iya. Aku sangat terkejut mendengarnya."

"Fufufu. Waktu itu Hina-chan mengeluarkan hawa dingin yang luar biasa lho."

"Ugh……"

"Adiknya itu. Kira-kira dia anak yang seperti apa, ya? Aku memang menantikannya, tapi agak sedikit cemas juga."

"Benar juga. Bagaimana kalau dia tiba-tiba bilang 'Kalian sudah merebut kakakku, ya' atau semacamnya……"

"Ahaha………… iya juga. Sebaiknya kita bersiap-siap untuk yang terburuk."

"Kudengar Hinata-kun dan adiknya selalu menghabiskan waktu bersama setiap hari di kampung halaman mereka. Hinata-kun bahkan sengaja tidak menghubunginya selama sebulan agar tidak terus bergantung padanya, kan."

Hinata, yang mengetahui fakta tersebut, ikut mengangguk.

"Karena dia adik perempuannya Hinata-kun, mungkin saja ada sisi keras kepalanya di hal-hal yang tidak terduga……"

"Bisa jadi. Sepertinya memang begitu. Lagipula, Hinata-kun sendiri masih terus menganggap dirinya lemah."

"Iya. Hinata-kun sudah terlahir di Level 0 sejak awal…… aku bahkan tidak bisa membayangkan perasaannya."

"Aku juga. Mungkin karena itulah Hinata-kun menjadi orang yang sangat baik."

"Aaah~ berbicara dengan adiknya ini, rasanya bakal seperti proses melamar dan meminta izin pada orang tua untuk mendapatkan Hinata-kun, ya."

"Iya. Sepertinya memang akan begitu."

Mereka berdua menyesap teh hitam masing-masing sembari membayangkan hari itu tiba.

Teh itu sama sekali tidak manis, melainkan menyebarkan rasa sepat yang elegan hingga memenuhi seluruh mulut mereka.


Kata Penutup

Pertama-tama, aku ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena kalian telah mengambil volume pertama dari Level 0 ini.

Aku adalah seorang gamer kelas berat. Sejak kecil, aku sudah langsung bermain game begitu membuka mata di pagi hari.

Satu hal yang paling kusukai adalah terus-menerus menaikkan level di tempat yang sama.

Ide awal dari karya ini bermula dari pemikiran, "Pasti menyenangkan kalau ada sistem level di dunia nyata." Oleh karena itu, aku ingin menyampaikan betapa menyenangkannya sensasi menaikkan level!

Awalnya aku berpikir begitu. Namun saat mulai menulis dan membayangkan sosok Hinata-kun, entah kenapa dia bukanlah tipe karakter yang akan terus-menerus menaikkan level.

Jadi, aku memberanikan diri untuk menulis sebuah dunia di mana hanya Hinata-kun yang level-nya tidak bisa naik.

Ternyata konsep itu terasa sangat pas di hati. Aku sangat menikmati proses menulis tentang masa lalunya yang penuh dengan pergumulan, serta pertemuannya dengan Hinata, Shino, dan Fujii-kun yang terus memperdalam ikatan mereka sebagai teman.

Aku akan sangat bahagia jika para pembaca bisa merasakan sedikit saja dari perjalanan hidup mereka!

Selanjutnya, izinkan aku untuk bercerita sedikit tentang diriku sendiri.

Dulu aku hanya bermain game dan sama sekali tidak pernah membaca novel.

Namun, setelah melihat sebuah karya tertentu tentang seseorang yang bereinkarnasi menjadi makhluk bulat, aku jadi tahu bahwa ada versi novel web-nya, dan sejak saat itulah aku mulai membaca novel.

Sejak itu, aku sangat ketagihan sampai-sampai berhenti bermain game yang dulu sangat kusukai. Aku terus membaca novel setiap hari.

Sungguh mengejutkan, beberapa tahun kemudian, aku malah menjadi seorang novelis.

Banyak hal yang terjadi sejak aku menjadi seorang novelis.

Aku sering berdiskusi tentang teori penulisan dengan banyak orang, dan terkadang hal itu membuat kami hampir bertengkar.

Meski begitu, aku bisa sampai sejauh ini berkat para senior yang telah memberiku banyak nasihat dan juga dukungan dari teman-teman seperjuanganku. Mohon bantuannya juga mulai sekarang!

Lebih lanjut, izinkan aku menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan rasa terima kasih.

Kepada Toru Takahashi-sensei, sesama penulis Dengeki Bunko yang telah menyadarkanku akan hal-hal penting untuk menjadi seorang novelis.

Kepada Kokone Yururi-sensei, yang dengan sabar telah mengajariku banyak dasar-dasar penulisan novel.

Serta kepada KAZU-sensei, teman seperjuanganku yang telah banyak berdiskusi mendalam tentang low fantasy denganku. Terima kasih banyak!

Sehari-harinya, aku aktif di X (Twitter) dan situs novel web "Kakuyomu".

Aku juga telah mempublikasikan banyak karya yang sudah tamat di "Kakuyomu", jadi silakan mampir untuk membacanya.

Maaf kalau aku terlalu banyak meminta, tapi jika kalian merasa karya ini menarik, aku akan sangat senang kalau kalian bersedia memberikan bintang () untuk Level 0 versi Kakuyomu── (Bugh!)

Sepertinya aku terlalu banyak promosi, ya (tertawa). Mohon terus dukung Level 0 dan aku, Omine, ke depannya!

Terima kasih banyak telah membeli buku ini!!



Previous Chapter | ToC

Post a Comment

Post a Comment

close