NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Level 0 no Munou Tansakusha to Sagesumaretemo Jitsu wa Sekai Saikyou desu Volume 1 Chapter 9

Chapter 9

Pembentukan Party


"Permisi."

"Selamat datang. Oh? Dan siapakah kamu?"

"Senang bertemu dengan Anda. Namaku Kagura Shino."

"Ibu, ini temanku Shino-chan. Berkat Hinata-kun, kami jadi saling mengenal. Bolehkah dia ikut makan malam bersama kita?"

"Fufufu……"

"Ibu?"

Ibu Hina mulai tertawa pelan.

Lalu,

"Ibu tidak pernah membayangkan seorang putri dari keluarga Kagura akan datang ke sini! Kamu sangat diterima di sini!"

Dalam perjalanan ke rumah Hina, Shino memberitahuku bahwa keluarga Kamui dan keluarga Kagura itu ibarat anjing dan kucing.

Konon di masa lalu, leluhur mereka memperebutkan seorang kekasih. Akibatnya, keluarga Kagura terus menyimpan hasrat balas dendam sejak kekasih itu menikah dan masuk ke dalam keluarga Kamui—atau semacam itulah.

Sekarang, mereka sepertinya lebih terlihat seperti rival yang bersahabat.

Saat kami tiba di rumah Hina, seorang pelayan mengantar kami ke ruangan yang sama seperti sebelumnya.

"Rumah kami bergaya Barat, jadi rumah bergaya Jepang seperti ini terasa menyenangkan, kan?"

Aku teringat rumah Shino yang dari luar terlihat seperti kastil Eropa.

Mungkinkah mereka begitu kompetitif sampai-sampai membangun rumah bergaya Jepang versus Barat agar terlihat menonjol? Ah, mungkin tidak juga.

"Kakek, apa yang Kakek lakukan di atas sana?"

Tiba-tiba muncul entah dari mana, seorang lelaki tua sedang menempel di langit-langit.

"Jizou-sama!?"

"Kakek!?"

"Hmph. Kamu sudah bertambah kuat, Nak."

"Aku rasa itu tidak benar……"

Hina juga mengatakan hal yang sama kepadaku, tetapi level-ku tidak naik sama sekali.

"Kudengar putri dari keluarga Kagura akan datang, jadi aku datang untuk melihatnya. Dan wow, sosok yang luar biasa ada di sini. Penyumbat telinga itu—pendengaranmu sangat tajam, bukan?"

Pria tua itu bisa melihat kemampuan Shino dalam sekejap.

Meskipun tidak banyak orang di sini, jika dia melepas earphone-nya di tengah kota, dia akan mendengar semua suara di sekitarnya.

Aku mengirimkan pesan telepati bersamaan dengan kata-kataku sebanyak mungkin untuk membantunya.

Aku juga menirukan perkataan Hina dan orang-orang lain menggunakan telepati, sehingga kelihatannya dia bisa mendengar mereka.

"Kakek, pendengaran Shino sangat tajam sehingga dia harus memakai benda itu. Kalau tidak, dia akan menangkap semua suara di sekitarnya."

"Oh, aku tahu. Tidak perlu khawatir."

Aku kira dia akan pergi, tapi secara mengejutkan, dia malah duduk di seberangku.

Jadi sekarang, pria tua itu ada di depanku, Hina di sebelah kiriku, dan Shino di sebelah kananku.

Seorang pelayan masuk dan, dengan ekspresi sedikit terkejut, berkata, "Saya akan menyiapkan hidangan untuk mantan kepala keluarga juga."

Hina pernah berkata bahwa kepala keluarga Kamui adalah ayahnya, jadi pria tua itu pasti kepala keluarga sebelumnya.

"Hmm…… Tak kusangka kamu bisa menjadi sekuat ini hanya dalam beberapa hari. Apakah itu karena kekuatan tersebut?"

"Uh, aku benar-benar tidak merasa kalau aku bertambah kuat……"

Pria tua itu mengangguk sambil berkata "Hmm, hmm," lalu tenggelam dalam pikirannya.

Tak lama kemudian, para pelayan membawa nampan dan meletakkannya di depan pria tua itu, di sebelahnya, lalu di depanku, Hina, dan Shino.

Selanjutnya, ibu Hina masuk dan duduk di samping pria tua itu.

"Ini pemandangan yang tidak biasa."

"Aku cuma ingin makan bersama cucu perempuanku."

"Bukankah itu bagus? Kakek juga harus sesekali makan bersama kami."

"Uh, umm……"

Hehe.

Sepertinya bahkan pria tua ini tidak bisa membantah ibunda Hina.

Selama makan, ibu Hina terus menjaga alur obrolan, seolah melepaskan semua rasa frustrasi yang selama ini terpendam.

Pria tua itu ikut menimpali sesekali, dan aku bisa merasakan betapa mereka berdua sangat menyayangi Hina.

Melihat hal itu membuatku teringat pada keluargaku sendiri—adik perempuanku.

Aku telah meminta adikku untuk tidak menghubungiku sampai aku mengunjunginya pada libur panjang berikutnya.

Kalau tidak, dia mungkin akan menelepon atau mengirimiku pesan setiap hari.

……Aku memutuskan untuk tidak terlalu bergantung pada adik maupun keluargaku.

Hidangan keluarga Kamui menampilkan banyak masakan tradisional Jepang, namun bumbunya secara mengejutkan terasa modern dan mudah dinikmati—benar-benar lezat.

Saat perjalanan pulang setelah perjamuan itu, aku memutuskan untuk mengantar Shino pulang.

Dunia telah menjadi gelap seiring terbenamnya matahari, namun lampu jalan dan cahaya bulan menerangi jalan kami.

"Hinata-kun, apa yang akan kamu lakukan mulai besok?"

Dengan "mulai besok", dia mungkin bermaksud menanyakan perihal sekolah.

Itu karena SMA Seishin, yang sangat mendukung para penjelajah, akan memulai kurikulum unik mereka.

"Aku berencana pergi ke dungeon setiap hari."

"Hmm. Sendirian?"

"Hah? Y-Yah…… Kurasa sendirian?"

Shino, yang sedari tadi berjalan dengan kecepatan yang sama denganku, seketika berhenti.

Saat aku berbalik, cahaya lampu jalan menyinari wajah cemberutnya yang menggemaskan.

"M-Maaf. Apa aku melakukan kesalahan lagi?"

"Pout Iya, kamu salah."

Dia menunjuk dirinya sendiri menggunakan jari telunjuk kanannya saat mengatakan hal itu.

"Aku. Aku adalah anggota party-mu, Hinata-kun. Jadi kita akan pergi ke dungeon bersama setiap hari."

"Oh, benar juga. Maaf. Aku cuma tidak yakin apa kamu tidak keberatan……"

Karena kami adalah siswa, beberapa orang mungkin ingin memprioritaskan pelajaran kelas di atas dungeon. Aku tidak ingin memaksa siapa pun untuk ikut.

"Lagipula, aku cuma mengikuti pelajaran sekadarnya saja. Jadi aku lebih suka menghabiskan waktu bersamamu."

Jantungku berdetak kencang mendengar kata-kata "menghabiskan waktu bersamamu."

Tentu saja, dia adalah gadis yang cantik. Tetapi lebih dari itu, rasanya menyenangkan mendengar ucapan seperti itu dari seorang gadis—atau dari siapa pun, terlepas dari jenis kelamin mereka.

"Dimengerti. Mari kita pergi ke dungeon bersama mulai besok."

"Iya! Tapi—kamu tidak melupakan orang lain, kan?"

"Orang lain?"

"Hina-chan. Kalau kamu meninggalkannya, dia mungkin akan menangis."

"B-Benarkah? Kalau Hina menangis, itu akan jadi masalah besar. Jadi aku akan bicara dengannya besok."

"Iya, iya. Kupikir itu ide yang bagus."

Dengan suasana hati Shino yang telah pulih sepenuhnya, kami melanjutkan perjalanan pulang.

Butuh waktu tiga puluh menit berjalan kaki dari rumah Kamui ke rumah Kagura—jarak yang terasa jauh sekaligus dekat—dan aku pun mengantar kepergian Shino.

Pada saat aku kembali ke asrama, hari sudah larut malam.

"Selamat datang kembali."

"Seino-san, aku pulang."

"Aku sudah mendengar situasinya dari Kamui-sama."

Sepertinya ibunda Hina telah memberitahunya lebih awal. Mungkin beliau berpikir itu akan lebih baik daripada aku sendiri yang menjelaskannya.

"Jadi, kamu akan makan di tempat Kamui-sama setiap hari mulai sekarang, kan?"

"Iya. Dan karena aku akan mengantar Kagura-san pulang, aku mungkin akan kembali sekitar jam segini setiap harinya."

"Dimengerti. Biasanya, ada jam malam, tapi kamu akan diperlakukan sebagai kasus spesial, Suzuki-kun. Pastikan saja kamu tidak memberitahu siswa lain kalau melanggar jam malam itu diperbolehkan."

"T-Tentu saja!"

Seino-san, yang sedari tadi berbicara dengan ekspresi dingin, sedikit melembut.

"Kalau kamu kebetulan tidak sempat makan, beri tahu aku saat kamu kembali. Aku bisa menyiapkan sesuatu kapan saja."

"Terima kasih."

Seperti Hina, menurutku dia adalah orang yang hangat di dalam, meskipun dia tidak menunjukkannya di luar.

Aku kembali ke kamarku, mencuci pakaian, mandi, lalu pergi tidur.

Keesokan paginya, saat jam wali kelas.

Wali kelas kami, Aoyagi-sensei, menyampaikan beberapa pengumuman.

"Bapak pernah menyinggung hal ini secara singkat sebelumnya. Namun mulai hari ini, 'Kurikulum Spesial Penjelajah' resmi dimulai."

Wajah banyak siswa di kelas langsung berbinar mendengar kata-kata itu.

Aku tidak tahu hal ini sampai aku mendaftar, tapi sepertinya banyak siswa yang masuk ke sekolah ini karena kurikulum tersebut.

"Mulai hari ini, kelas reguler akan berlanjut di pagi dan siang hari seperti biasa. Namun, kalian bebas menggunakan 'Kurikulum Spesial Penjelajah' di sore hari. Kurikulum ini memungkinkan siswa yang pergi ke dungeon di sore hari untuk mendapatkan kredit pelajaran sebagai pengganti kehadiran di kelas reguler."

Kemudian, kami dibagikan selembar kertas.

"Metodenya tertulis di selebaran. Siswa yang mengambil Kurikulum Spesial Penjelajah perlu mengambil 'Formulir Dungeon' di depan ruang guru. Kalian harus pergi ke dungeon, dan mendapatkan cap stempel di resepsionis. Kalian bisa mengumpulkannya keesokan paginya. Asal kalian tahu saja, kalian bisa meminta cap lalu bermalas-malasan di sore harinya, dan secara teknis sekolah akan mengizinkannya—asalkan hal itu tidak melanggar peraturan sekolah."

Sekolah ini cukup bermurah hati kepada para siswanya, terutama mereka yang bercita-cita menjadi penjelajah. Bahkan fasilitas asrama pun mencerminkan keberpihakan tersebut.

"Tapi biarkan Bapak mengatakan satu hal. Waktu itu terbatas. Bahkan jika kalian menjadi seorang penjelajah, kematian akan selalu mengintai di dekat kalian—mereka yang sudah menjadi penjelajah mungkin pernah mengalaminya."

Aku teringat saat pertama kali aku memasuki dungeon. Aku benar-benar hampir mati.

"Semakin kalian bermalas-malasan, semakin hal itu akan menjadi bumerang bagi kalian sendiri. Tidak ada yang dipaksa untuk menjadi penjelajah. Itulah sebabnya sekolah menciptakan kurikulum spesial ini untuk mendorong tindakan mandiri di antara para penjelajah. Ingatlah hal itu baik-baik saat kalian memanfaatkannya. Selain itu, OSIS menjalankan 'Kurikulum Dukungan Penjelajah' di sore hari. Jadi siapa pun yang ingin bergabung, bisa langsung menuju ke tempat latihan."

Begitu jam wali kelas berakhir, teman-teman sekelasku langsung mulai berdengung ramai.

Kurikulum Spesial Penjelajah akhirnya dimulai. Tidak ada satupun siswa yang bercita-cita menjadi penjelajah akan melewatkan kesempatan ini.

Di kelasku, Kelas 3, ada banyak sekali calon penjelajah. Jadi, lebih dari separuh kelas mungkin akan pergi ke dungeon di sore harinya.

Tiba-tiba, malaikat perak di depanku mulai gelisah. Wajahnya datar tanpa ekspresi seperti biasa, tapi dia sepertinya ingin menoleh ke belakang.

Hina, tetaplah mendengarkan seperti itu. Ini adalah skill Telepathy yang kusebutkan kemarin.

Hina memberikan anggukan kecil sambil tetap menghadap ke depan.

Aku ingin bicara nanti. Bolehkah aku menyita waktumu sebentar setelah kelas pagi selesai?

"Iya."

Sebuah suara pelan, yang hanya bisa didengar olehku, masuk ke telingaku. Bahkan di ruang kelas yang bising, suara Hina terdengar sangat jernih.

Kelas pagi dimulai setelah itu, dan waktu perlahan berlalu hingga jam istirahat makan siang.

Ketika bel berbunyi nyaring, suasana kelas menjadi lebih hidup dari biasanya.

Aku dan Hina bangkit dari kursi dan meninggalkan kelas bersama-sama.

Saat kami pergi, Gai-kun, dengan perban melilit di salah satu lengannya, menatap tajam ke arahku.

Kami langsung menuju ke atap sekolah.

"Dengan segala hal yang terjadi belakangan ini, tempat ini mungkin adalah spot yang paling santai."

Angin sejuk yang lembut menerpa rambutku dan Hina.

Tak lama kemudian, Shino tiba sambil berseru, "Maaf membuat kalian menunggu!"

"Hinata-kun, Telepathy-mu bisa menjangkau lumayan jauh, ya?"

"Iya, sepertinya aku bisa mengirimkannya ke mana saja di dalam area sekolah."

Shino bergabung dengan kami di atas tikar lipat yang dibawa Hina.

Begitu duduk, Shino langsung melihat sekeliling ke arah pemandangan langit biru.

"Atap sekolah ini benar-benar menyenangkan! Mari kita jadikan tempat ini sebagai markas kita setiap hari mulai sekarang!"

"Selama tidak turun hujan."

"Benar juga. Apa yang harus kita lakukan kalau hujan?"

"Kita pikirkan saja hal itu nanti saat hujannya benar-benar turun."

Seperti yang dijanjikan kemarin, kami akan makan siang bersama setiap hari mulai sekarang. Dan kami telah memutuskan atap sekolah ini akan menjadi tempat kumpul kami.

Ini adalah tempat pertama kalinya aku berbicara dengan Hina. Lagipula karena tidak banyak siswa yang naik ke sini, kami bisa bersantai dengan tenang.

Hina dengan cepat mengeluarkan bento yang dibawanya ke atas tikar.

"Apakah itu ransel sihir?"

"Iya."

Satu per satu kotak bento keluar dari ransel kecil itu. Meskipun bukaannya sempit, dia bahkan mengeluarkan sebuah meja rendah dari dalamnya.

Tak lama kemudian, makanan yang tampak lezat pun berjajar rapi, dan kami pun mulai makan.

Semua ini dibuat oleh ibu Hina. Beliau bilang akan membuatkan bento sebanyak yang kami mau asalkan Hina bisa makan bento yang lezat. Oleh karena itu, beliau menyiapkan porsi yang cukup untuk kami bertiga.

Dengan gembira Hina bercerita kepadaku bagaimana ibunya sangat antusias membuatkan bento sejak pagi dengan senyum lebar di wajahnya.

"Hina, dengarkan sambil makan, ya. Aku dan Shino telah membentuk sebuah party."

"!?"

Hina membeku dengan reaksi terkejut yang berlebihan.

"Berhubung kurikulum spesial dimulai hari ini, kami berencana pergi ke dungeon siang ini."

"B-Begitu ya…… Jadi begitu……"

Bahu Hina langsung merosot turun. Shino yang duduk di sebelahnya, memberiku tatapan seolah berkata, "Lihat, kan?"

"Jadi, kalau kamu tidak keberatan, Hina, maukah kamu bergabung dengan party kami?"

"Hah!? Aku? Apa kamu yakin?"

"Iya. Kalau kamu bergabung, itu akan menjadi bantuan yang sangat besar."

"Tapi…… udara dinginku……"

"Aku bisa menekannya sedikit. Dan bahkan jika kamu bertarung habis-habisan, aku bisa mencairkan semua esnya."

Hina dengan cemas menautkan kedua tangannya, melirik bergantian ke arahku dan Shino.

"Apakah aku…… akan menghalangi?"

Lalu Shino menyipitkan matanya sambil tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke wajah Hina.

"Oh~ kamu mungkin memang akan menghalangi~ tapi apa kamu rela, Hina-chan~?"

"Eh!"

"Bagaimana kalau aku memonopoli Hinata-kun untuk diriku sendiri~?"

"T-Tidak, itu tidak boleh!"

Shino……

"Aku akan berusaha sebaik mungkin! Aku akan bekerja keras agar tidak menjadi beban, jadi tolong izinkan aku bergabung dengan party!"

Dia menunjukkan tekadnya dengan mantap terlepas dari kepanikannya barusan.

"Iya, kamu sangat diterima di sini. Senang bisa bekerja sama denganmu."

"Senang bisa bekerja sama denganmu~ Lagipula, aku takut kalau harus masuk ke dungeon berduaan saja dengan Hinata-kun. Siapa tahu apa yang mungkin dia lakukan padaku~"

"Aku tidak akan melakukan hal macam-macam!"

Melihatku salah tingkah, Hina dan Shino pun tertawa terbahak-bahak.

Tawa kami menggema di bawah langit cerah yang tak berujung.

Setelah selesai makan siang, aku datang ke E90 membawa surat izin dungeon untuk kami bertiga dari ruang guru.

Kami sudah meminta cap stempelnya sebelumnya dan menyimpannya di Dimensional Storage agar tidak hilang.

Karena tanggalnya tertulis di atas kertas, sepertinya kami tidak bisa meminta stempel terlalu jauh hari sebelumnya.

"Imutnya!"

Seru Hina saat dia melihat seekor Kuna.

"Gigi depannya memang menakutkan, tapi bentuk badannya lucu, kan? Gerakannya sangat cepat, jadi berhati-hatilah, Hina-chan."

"Dimengerti!"

Sebuah pedang asing tergantung di pinggang Hina. Dilihat dari bentuknya, senjata itu lebih mirip katana daripada pedang biasa. Dia perlahan mengulurkan tangan dan menggenggam erat gagang hitamnya.

Saat dia menghunus pedang itu ke arah Kuna yang berlari ke arah kami, bilah pedang sehitam arang—berbeda dari apa yang kubayangkan—berkilau di bawah cahaya dungeon.

Dia menarik napas pelan untuk menenangkan diri, menggenggam gagang katananya, lalu mengambil kuda-kuda.

Pemandangan itu mengirimkan ketegangan yang menakjubkan ke dalam diriku.

"—Aliran Kamui, Jurus Pertama: 'Kilas Biru'"

Di Jepang, ada sebuah konsep yang disebut 'Kotodama', roh dari kata-kata.

Artinya, 'para dewa kata-kata bersemayam di dalamnya'.

Terkadang, kata-kata yang diucapkan seseorang membawa kekuatan dari dunia lain—seperti Hina saat ini.

Aura biru pudar meluap dari tubuh Hina. Dalam sekejap, katana yang dihunusnya menebas udara kosong, padahal serangannya seharusnya belum mencapai target. Lalu, seolah tidak terjadi apa-apa, dia dengan tenang menyarungkan katananya kembali. Pada saat yang sama, Kuna yang menerjang ke arah kami langsung terbelah menjadi dua di tempat.

"Seperti yang diharapkan dari keluarga Kamui. Luar biasa. Kamu sudah sekuat ini bahkan tanpa perlu menggunakan kemampuan latenmu."

"Ehehe…… terima kasih."

Saat bertarung, Hina adalah gambaran keseriusan itu sendiri, bahkan memancarkan sedikit aura kekejaman. Namun begitu pertarungan usai, dia kembali memamerkan senyumnya yang diwarnai dengan kepolosan.

Ini mungkin adalah bukti darah keluarga pejuang yang diwariskan dari generasi ke generasi.

"Aku juga tidak mau kalah!"

Kata Shino sambil menarik keluar tonfanya dan mengayunkannya ke arah Kuna yang lain.

Ketika ujung gagang tonfa terlepas, sebuah rantai muncul dari dalam sana. Ujung hijau yang bersinar itu melesat keluar, dan rantainya—yang jauh lebih panjang dari perkiraan ukuran gagangnya—merentang panjang dan menghantam Kuna di kejauhan sana.

"Tongkatnya pendek, tapi bisa melepaskan rantai sepanjang itu?"

"Iya, ini adalah Senjata Sihir. Rantai ini spesial, terbuat dari material monster yang disebut 'Nebula'."

Aku pernah mendengar Senjata Sihir memiliki berbagai macam kemampuan, tapi ternyata ini salah satunya, ya.

Ujung yang bersinar kemungkinan besar menunjukkan efek elemen.

Bergantung pada warnanya, luka pada monster bisa berubah menjadi luka bakar atau sayatan. Hal ini terdengar sangat masuk akal.

Tetap saja, karena mereka berdua sangat kuat, aku merasa bersalah karena tidak bisa melakukan apa-apa.

Untuk saat ini, aku akan membongkar dan mengumpulkan material Kuna yang telah mereka kalahkan.

"Eh!?"

Hina kembali mengeluarkan pekikan kaget yang berlebihan.

"Hm? Ada apa?"

"S-Shino-chan? Apa-apaan barusan!?"

"Hei, Hina-chan. Di dunia ini ada banyak hal yang tidak akan kamu mengerti meskipun kamu terlalu memikirkannya. Hinata-kun adalah salah satu contohnya."

"B-Benar juga. Hinata-kun adalah salah satu dari hal itu, ya."

"Iya. Jadi jangan terlalu dipikirkan—anggap saja hal itu sangat mungkin terjadi karena dia adalah Hinata-kun. Waktu pertama kali aku melihatnya, aku juga sangat terkejut sampai tidak bisa berpikir jernih."

Apa sih yang sebenarnya dibicarakan oleh dua orang ini? Memangnya aku melakukan sesuatu?

"Uh, aku cuma mau tanya satu hal—apakah kita akan baik-baik saja kalau masuk sedalam ini?"

"Itu juga tidak masalah. Lagipula, kan ada Hinata-kun."

"B-Benar. Kan ada Hinata-kun."

Tidak, seriusan, ada apa denganku sebenarnya……?

Sejak saat itu, mereka berdua terus-menerus mengalahkan Kuna, dan aku terus mengumpulkan material-nya saat kami berburu.

Aku sama sekali belum mengalahkan satupun monster dengan tanganku sendiri. Apa ini benar-benar tidak masalah?

Kalau pun aku ikut mengalahkan monster, level-ku tidak akan naik juga. Jadi mungkin hal itu tidak akan memberikan banyak perbedaan.

Di hutan normal, kamu biasanya akan mendengar suara burung atau hewan buas. Namun di dalam dungeon, tidak ada tanda-tanda kehidupan seperti itu.

Satu-satunya suara hanyalah gemerisik dedaunan di bawah kaki kami saat kami berjalan.

Kami menyusuri hutan yang sunyi, dengan Hina dan Shino yang secara bergantian mengalahkan Kuna sementara aku mengumpulkan barang jatuhannya.

Tunggu sebentar, karena kita sudah berada di sini, bukankah kita seharusnya mencari ruang bos untuk mengincar barang jatuhan langka?

Aku memfokuskan seluruh konsentrasiku pada Area Scan, mencari apa pun yang tidak biasa.

Kami terus bergerak maju. Aku mengamati mereka berdua mengalahkan Kuna, lalu mengumpulkan materialnya, dan terus mengulangi proses itu.

Pada saat itulah, sebuah riak air yang menyerupai mata air tenang menyebar dari diriku—sebuah gelombang kekuatan yang tak kasat mata.

Melalui pengalaman, skill turunan 'Floor Scan' telah diperoleh dari skill 'Area Scan'.

Tidak seperti fungsi Area Scan yang menyerupai radar, skill yang satu ini terus meluas tanpa henti begitu diaktifkan.

Hanya dalam beberapa detik, jangkauannya menutupi seluruh lantai pertama dari dungeon E90.

"Hei, kalian berdua. Mau menuju ke arah sana?"

"Tentu~"

Shino bergerak menuju arah yang kutunjuk dengan langkah ringan, sementara Hina mengikuti dari belakang.

Setelah mengalahkan sekitar sepuluh Kuna lagi, sebuah gua yang mengarah ke area tunggu ruang bos muncul di hadapan kami.

"Ruang bos~! Ayo cepat~!"

Shino menggandeng tangan Hina dan langsung berlari ke dalam.

Tanpa kusadari, mereka berdua sudah menjadi begitu dekat hingga tidak ada ruang bagiku untuk ikut campur.

Kami memasuki area tunggu dan beranjak ke dalam ruang bos bersama-sama.

Di dalam ruang bos, sama seperti sebelumnya, terdapat seekor serigala hitam raksasa, Gige.

"Hina-chan, mumpung kita ada di sini, kenapa kamu tidak menguji kekuatanmu?"

"Kekuatan? Maksudmu, kekuatan berkahku?"

Shino mengangguk, dan ekspresi Hina seketika sedikit menegang.

Bagi Hina, berkah Dewa Es telah menyakitinya selama bertahun-tahun. Menggunakannya dalam pertarungan sama saja dengan berdamai dengan hal tersebut—sebuah keputusan yang pasti membutuhkan tekad yang kuat.

"Mumpung kita ada di sini, kenapa tidak dicoba? Aku ingin sekali melihat kekuatan sejati dari berkah Dewa Es milik Hina. Dan apapun yang terjadi nanti, aku pasti akan melindungimu."

Mata Hina sedikit berkaca-kaca saat dia menatap lurus ke arahku.

Sepasang mata hitamnya, yang sangat kontras dengan rambut peraknya, seolah-olah bisa menarikku ke dalamnya.

"Oke. Kalau ada Hinata-kun, aku mungkin bisa melakukannya."

"Iya. Aku akan berada di sini mengawasimu bersama Shino."

"Oke!"

Setelah membulatkan tekadnya, Hina menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan diri.

Saat dia berbalik, rambut peraknya yang indah menari-nari di udara.

Tepat ketika tangan kanannya menyentuh gagang katana, udara dingin berwarna putih seketika meledak dari kakinya. Bongkahan es yang rumit menyerupai patung ukiran pun mulai terbentuk.

Lapisan es itu dengan cepat menyebar ke seluruh tubuhnya—seolah-olah sedang melindunginya dari segala ancaman eksternal.

"Cantiknya……"

"Iya, itu sangat cantik."

Shino menggumam pelan, dan aku merasakan hal yang persis sama.

Hina mulai berjalan perlahan menuju ke arah Gige, lalu mempercepat langkahnya hingga berlari kencang.

Meskipun lapisan es membalut tubuhnya, dia bisa bergerak bebas, seolah-olah es itu adalah bagian alami dari tubuhnya sendiri.

Gige, yang kini mengunci target pada Hina, mulai mengumpulkan api di dalam mulutnya.

Tanpa menunjukkan sedikit pun tanda-tanda khawatir, Hina menghunus katananya dari sarung sambil terus berlari lalu melompat ke depan.

Terlepas dari jarak yang cukup jauh antara dirinya dan Gige, dia sepertinya sama sekali tidak memedulikannya.

Dan kemudian,

"Aliran Kamui, Jurus Kedua: 'Kilas'"

Dengan tangan kirinya menopang bilah pedang dan tangan kanannya menusukkan senjatanya ke depan, Hina melepaskan jurus tersebut di tengah-tengah lompatannya.

Saat dia merentangkan tangan kanannya dalam sebuah tusukan, badai putih yang menyerupai bencana alam menerjang ke depan dari ujung katananya.

Permukaan tanah, udara di sekitarnya, langit-langit di kejauhan sana, dan dinding-dinding yang jauh—

Semuanya berubah menjadi putih bersih, menjelma menjadi sebuah dunia yang terbuat dari es.

Dunia perak yang indah membentang luas menjadikan Hina sebagai batasnya, dengan udara dingin yang juga mulai menyebar di belakang gadis itu.

"Inilah…… kemampuan laten peringkat-S……"

Ini memang sangat indah. Tapi lebih dari itu—hal ini juga sangat menakutkan.

Kekuatan Hina yang membekukan segalanya, membuat wujud Gige yang membeku—dengan napas apinya yang masih menyembur—terasa semakin nyata dan menakutkan.

Di tengah-tengah dunia tersebut, bahu Hina sedikit terangkat.

Gadis itu berdiri menghadap ke depan. Pemandangan itu membuatku merasa seolah-olah Hina mungkin akan hanyut ke suatu tempat yang jauh.

Aku harus menghampirinya…… Saat pemikiran itu terlintas, aku sudah berlari ke arahnya.

Aku tidak tahu kenapa aku memikirkan hal itu. Tapi punggungnya, terlihat begitu sangat kesepian.

"Hina……"

"Hinata-kun, apakah kamu…… pada akhirnya membenciku?"

Gumamannya yang bernada sedih, yang diucapkannya sambil tetap menghadap ke depan, membuat dadaku sesak.

Apa pun yang terjadi, aku akan melindungi Hina. Tidak ada kebohongan dalam kata-kata itu. Bukan hanya Hina, tapi siapa pun yang mungkin tersakiti oleh berkah Dewa Es—aku akan melindungi mereka juga.

Itulah tekad yang telah kubulatkan.

Dengan lembut, aku mengulurkan tanganku dan menarik Hina ke dalam pelukanku.

"Aku sama sekali tidak membencimu. Jika kekuatan ini suatu hari nanti menyakitimu atau menyakiti orang yang kamu sayangi, aku pasti akan melindungimu. Aku memiliki kekuatan untuk melakukannya."

Sambil masih memeluknya, aku mengulurkan tangan kananku ke depan.

Dunia perak yang luar biasa indahnya ini—jika ini adalah kutukannya, aku akan menghancurkannya dengan kekuatanku sendiri.

"—Absolute Ice Dissolution"

Bersamaan dengan ucapanku, dunia perak di hadapan kami hancur berkeping-keping menjadi pecahan yang tak terhitung jumlahnya.

Tidak ada sedikit pun jejak udara dingin yang tersisa, hanya debu berlian perak yang indah yang berkilauan di sekitar kami.

"Hina yang sebenarnya bukanlah es yang dingin itu. Ini adalah dunia perak yang indah. Jadi teruslah menatap ke depan tanpa keraguan. Aku akan selalu ada tepat di belakangmu."

"Iya…… terima kasih, Hinata-kun."

Hina meletakkan tangannya di atas tanganku saat aku memeluknya.

Setitik air mata jatuh ke atas tanganku, dan kami pun menjadi lebih mengenal satu sama lain.

"Aku akan…… melindungimu……"

Shino, dengan nada yang menirukan gaya maskulin, memojokkan Hina ke sebatang pohon seolah-olah itu adalah dinding.

"Shino-chan……"

"Bukan, bukan, seharusnya kamu bilang 'Hinata-kun' di situ."

U-Uwaaaah!

Apa yang baru saja kukatakan tadi!?

Aku terbawa suasana dan mengatakan hal yang tidak masuk akal kepada Hina.

Apakah itu terdengar seperti sebuah lamaran? Tidak, kalau dipikir-pikir lagi, itu mungkin sangat memalukan sampai-sampai dia mungkin merasa jijik.

Shino mulai mengejekku dengan menirukan apa yang kukatakan tadi, lalu mengubahnya menjadi sebuah permainan.

Setiap kali mereka mengalahkan Kuna setelah keluar dari ruang bos dan kembali ke lantai pertama, dia akan mengulanginya lagi.

Entah kenapa, wajah Hina akan sedikit merona, dan setiap kali dia menatapku dengan mata yang penuh harap.

Apakah ini!? Apakah ini jenis perundungan gaya baru!?

Ketika aku menghela napas panjang, dia tiba-tiba memeluk lenganku.

"Shino!?"

"Aku juga mau mendengarnya~ Tidak adil kalau cuma Hina yang dapat~"

"Hah!?"

"Apakah kamu tidak akan melindungiku juga?"

Shino menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. Bukankah hal seperti ini pernah terjadi sebelumnya?

Aku dengan pelan mengetuk dahi Shino.

"Jangan pura-pura pakai obat tetes mata lagi ya."

"Hehe, ketahuan ya?"

Ucapnya sambil menunjukkan obat tetes mata yang disembunyikannya di tangannya.

"S-Selanjutnya, mari kita ke sana!"

Gadis itu mulai berjalan ke arah ruang bos selanjutnya seolah mengabaikan hal itu.

Shino berjalan di sebelah kananku, Hina di sebelah kiriku, saling berdampingan.

Setelah itu, kami mengulang-ulang rutinitas mengalahkan Kuna dan menumbangkan Gige di dalam ruang bos beberapa kali.

"……Hinata-kun?"

"Iya?"

Shino menyipitkan matanya dan menatap ke arahku.

"Bagaimana kamu bisa tahu lokasi ruang bos secara akurat?"

"Hm? Bukankah kamu juga tahu, Shino?"

Sebelumnya aku berasumsi bahwa dia menemukannya dengan cara yang sama seperti saat pertama kali kami masuk.

Kupikir Shino mungkin memiliki skill seperti Floor Scan juga.

"Mana mungkin aku tahu! Asal tahu saja, Gige adalah monster yang menjatuhkan potion langka, lho! Bisa menemukannya semudah ini…… ugh, karena ini Hinata-kun, tidak ada gunanya berpikir terlalu dalam……"

"Iya, iya. Hinata-kun memang seperti itu, kan."

Hina juga mengangguk, dan mereka berdua kembali meyakinkan diri mereka sendiri.

"Tunggu, kalian berdua tidak bisa menggunakan skill Floor Scan?"

Keduanya mengangguk untuk menjawabku.

"Kalau aku, aku punya pendengaran yang tajam, jadi aku bisa menangkap suara pergerakan monster dan menuju ke arah mereka. Begitulah caraku melacak mereka seperti yang kamu lakukan, Hinata-kun."

"Begitu rupanya. Jadi itu bukan sebuah skill ya."

"Yap, yap. Ngomong-ngomong, skill itu apa, sih?"

"Hm? Bukankah semua orang punya skill?"

Keduanya menggelengkan kepala.

Kalau dipikir-pikir, kakek Hina sepertinya tahu sesuatu tentang skill.

Waktu itu, dia bilang kalau aku mau tahu soal skill—wajahku memanas saat mengingatnya.

"Kenapa wajahmu jadi memerah begitu?"

"B-Bukan apa-apa! Aku akan bertanya pada kakekmu tentang hal itu waktu kita ke rumah Hina hari ini."

"Jizou-sama, ya. Tidak aneh kalau Jizou-sama tahu tentang hal itu."

Oh benar juga, Hina pernah bilang kalau kakeknya adalah orang yang terkenal.

"Sebenarnya seberapa hebat kakekmu itu?"

"Hmm…… misalnya, kalau kamu bertanya siapa orang terkuat di Jepang, namanya akan jadi yang pertama muncul."

Kakek itu jauh lebih hebat dari yang kubayangkan.

Tidak, dari yang kulihat, dia cuma kelihatan seperti kakek aneh—sepertinya kamu memang tidak bisa menilai orang dari penampilannya.

Karena tingkat keterangan dungeon tidak berubah seiring berjalannya waktu, kamu bisa kehilangan jejak waktu kalau tidak melihat jam. Misalnya, dungeon tetap terang benderang meskipun kamu masuk pada malam hari.

Sudah waktunya untuk kembali, jadi kami meninggalkan dungeon dan berjalan menuju rumah Kamui.

Di perjalanan pulang, aku mencoba menggunakan skill Floor Scan yang kudapat hari ini. Akan tetapi skill itu hanya berfungsi di dalam dungeon dan tidak mau aktif di luar. Meski begitu, Area Scan tetap berfungsi, jadi aku membiarkannya aktif secara perlahan.

Saat kami tiba di rumah Kamui dan menunggu di ruangan seperti biasanya, kakek Hina menemui kami lagi hari ini.

"Kakek, bisakah kakek memberitahuku tentang apa yang kita bicarakan sebelumnya?"

"Hm? Tentang apa itu?"

"Eh, tentang skill."

"Oh…… jadi kamu sudah mulai penasaran sekarang, eh?"

"Iya."

Kakek menyeruput tehnya dan menutup matanya tanpa memberi jawaban.

"Dulu, ada orang-orang yang meneliti tentang skill. Hanya itu yang bisa kuberitahukan padamu."

"Tapi terakhir kali, kakek sepertinya mau mengajariku……"

"Yah, itu kalau kamu menikah dengan Hina, kan."

"Kakek!?"

"!?"

Bukan cuma aku dan Hina, bahkan Shino pun mengalihkan perhatiannya pada kakek.

"Aku tidak bercanda. Informasi tentang skill adalah rahasia negara. Jadi aku tidak bisa memberitahumu begitu saja. Tapi kalau kamu menikahi Hina dan menjadi bagian dari keluarga Kamui, itu beda cerita."

Oh…… jadi itu yang dia maksud dengan pernikahan……

Tetap saja, skill adalah rahasia negara, ya?

Pada akhirnya, dia tidak memberitahuku apa pun, dan kami pun pulang setelah menikmati hidangan lezat lainnya hari ini.

Setelah mengulang rutinitas yang sama setiap harinya, kami akhirnya mendapatkan jatuhan potion dari Gige.

Aku mencoba memberikannya pada Hina dan Shino. Namun mereka menolaknya mentah-mentah, jadi aku akhirnya menyimpannya.

Jumat malam.

Saat menyalakan mesin cuci di ruang binatu seperti biasa, Fujii-kun masuk dengan raut wajah sangat kelelahan.

"Kamu kelihatannya babak belur ya."

"Ahaha…… iya……"

Dia tidak seenergik biasanya dan terlihat benar-benar kelelahan.

Dia melemparkan seragamnya yang compang-camping ke dalam mesin cuci dan menjatuhkan diri ke kursi.

"Apa kamu pergi ke dungeon yang sulit?"

"Tidak, aku pergi ke ruang bos di D86, seperti yang kusebutkan sebelumnya."

Aku pernah mendengar dungeon peringkat-D tidak cuma punya satu lantai—mereka punya tiga lantai, dan ruang bos ada di ujungnya.

Karena kami hanya bisa masuk dungeon setelah siang hari di hari kerja, mencapai lantai tiga pasti sangat sulit.

"Sekarang setelah aku tahu aku bisa menaklukkan D86, aku berencana untuk pergi ke tempat baru mulai besok."

"Tempat baru? Dungeon peringkat-D lainnya?"

Fujii-kun menggelengkan kepalanya.

"Tidak, sebenarnya, aku akan menuju ke C3 selanjutnya."

"Peringkat-C!? I-Itu luar biasa……!"

"Aku sama sekali tidak kuat, tapi anggota party-ku sangat kuat. Lagipula aku cuma barisan belakang."

Aneh juga dia bisa babak belur begini sebagai barisan belakang.

Menurut buku panduan dungeon, party penjelajah secara garis besar dibagi menjadi 'garis depan', 'garis tengah', dan 'garis belakang'.

Standarnya adalah tim beranggotakan enam orang—lebih dari itu, kamu akan berhenti mendapatkan experience point, jadi levelmu tidak akan naik.

Oleh karena itu formasi yang umum adalah dua orang untuk masing-masing peran.

Garis depan biasanya menggunakan pedang atau kapak, garis tengah menggunakan busur atau tombak, dan garis belakang sering kali menggunakan sihir.

Kalau Fujii-kun ada di garis belakang, dia mungkin punya kemampuan seperti itu.

"Jangan terlalu memaksakan diri, oke?"

"Terima kasih. Hati-hati juga di dalam dungeon, Hinata-kun."

"Iya. Tapi keadaanku hampir sama denganmu—kedua anggota party-ku sangat kuat sampai-sampai hampir tidak ada yang kulakukan. Paling cuma membongkar monster."

"Eh!? ……Tunggu, apa kamu seorang porter?"

Aku memiringkan kepala mendengar istilah yang tidak asing itu.

"Umm, porter itu orang yang tidak ikut bertarung dan cuma membawakan barang-barang saja. Mereka sering kali juga menangani pembongkaran monster. Bukankah itu lumayan berat?"

Pada saat itu, perkataan kakek tentang skill yang menjadi rahasia negara terlintas di benakku.

Aku teringat bahwa pembongkaran monster dan ruang penyimpanan milikku juga merupakan skill.

"Oh, iya. Aku sudah melakukannya selama berhari-hari, jadi aku sudah terbiasa sekarang."

"Begitu ya…… Umm, Hinata-kun, kalau party-mu memaksamu ke kondisi yang tidak masuk akal, sebaiknya kamu keluar. Aku tidak tahu situasimu, tapi aku sering dengar banyak porter yang berakhir di lingkungan yang buruk……"

Kekhawatirannya yang tulus terdengar jelas.

Itu sedikit menusuk hati, tapi aku memutuskan untuk merahasiakan soal skill itu untuk saat ini.

"Terima kasih. Sebenarnya, aku beruntung punya party yang baik—mereka membiarkanku mengambil sebagian besar keuntungannya. Mereka cuma berburu tapi tidak peduli dengan materialnya, jadi mereka membiarkanku mengambil semuanya."

"Syukurlah kalau begitu. Aku sempat khawatir kamu mungkin dimanfaatkan karena kamu terlalu baik. Tapi aku senang kamu menemukan kelompok yang bagus."

Iya, mereka berdua terlalu baik untuk orang sepertiku.

Mesin cuci membunyikan melodi tanda selesai.

Menyadari betapa lelahnya Fujii-kun, aku memutuskan untuk memanggilnya.

"Fujii-kun, kalau kamu masih ada waktu luang, mau datang ke kamarku setelah ini?"

"Eh!? B-Benarkah?"

"Tentu saja."

"Aku akan datang! Aku akan ke sana tepat setelah mandi."

"Dimengerti."

Aku keluar dari ruang penatu dan kembali ke kamarku.

Aku bergegas mulai bersiap-siap untuk Fujii-kun.

Aku mengeluarkan botol kecil, seukuran ibu jariku, dan meletakkannya di atas meja.

Di dalamnya ada cairan biru jernih yang sangat cocok dengan botol transparan itu—cukup cantik untuk dijadikan hiasan pajangan.

Ini adalah potion yang kami dapatkan kali ini. Botol ini berisi sekitar 10 mililiter, jumlah yang sedikit.

Sepertinya botol ini punya mekanisme spesial—kalau kamu membukanya dan menuangkannya, hanya setengah isinya yang akan keluar.

Menggunakan trik itu, aku menuangkan potion ke dalam cangkir teh.

Ibu Hina mengajariku trik ini—menuangkan potion ke dalam cangkir teh lalu membaginya menjadi dua akan memberikan efek relaksasi alih-alih penyembuhan.

Aku memisahkan potion dari satu cangkir teh ke cangkir lainnya, lalu menambahkan air panas.

Potion biru itu bercampur dengan air, berubah menjadi warna biru yang lebih muda.

Menambahkan kantong teh melengkapi racikan 'Teh ~dengan sentuhan potion~'.

Tepat setelah aku menyelesaikannya, terdengar ketukan di pintu. Saat kubuka, aku melihat Fujii-kun dengan rambut sedikit basah sedang melambaikan tangannya.

"Masuklah."

"P-Permisi."

Saat dia melangkah masuk, aroma sampo yang lembut memenuhi ruangan.

"Aku baru saja selesai menyeduhnya. Ini untukmu."

"T-Terima kasih."

Meski masih tampak kelelahan, dia dengan hati-hati memegang cangkir teh dengan kedua tangannya lalu membawanya ke bibirnya dengan ragu.

"Hm!? Enak!"

"Syukurlah kalau itu sesuai seleramu. Itu adalah teh kesukaan orang tuaku—aku membelinya baru-baru ini pakai hasil buruan. Minum teh sendirian itu rasanya agak hambar."

"Hehe. Jadi karena itu kamu mengundangku."

"Iya."

Fujii-kun tersenyum hangat dan menyeruput teh perlahan, menikmatinya dengan dalam.

Dia pernah bercerita padaku tentang peringkat penjelajah, dan kami sering makan bersama di kafetaria—dia adalah satu-satunya orang yang kusebut sebagai teman sejak aku mendaftar sekolah.

Aku tahu sebotol potion harganya mahal, tapi berkat Hina dan Shino, lisensiku sudah menyimpan lebih dari sejuta yen.

Sebelum mendaftar, aku menggunakan sebagian besar uang sakuku untuk biaya hidup agar bisa meringankan beban ibuku, berharap bisa mengirim uang ke rumah setelah aku menjadi seorang penjelajah—tapi sekarang aku sudah punya lebih dari cukup uang.

Aku ingin membalas budi meski cuma sedikit kepada orang-orang di sekitarku.

Aku hanya berdoa semoga Fujii-kun berhasil kembali dengan selamat dari dungeon.

"Ceritakan padaku tentang C3 kapan-kapan, ya. Nanti aku akan traktir kamu teh lagi."

"Tentu! Pasti!"

Akhirnya aku merasa sudah mendapatkan teman yang bisa kuajak tertawa dan mengobrol.

Skill Baru yang Diperoleh

Fate

 

Active Skill:

Area Search

Skill List

Monster Dismantling

Dimensional Storage

Absolute Ice Melt

Absolute Stealth

Absolute Ice Seal

Weak Monster Analysis

Adjustment

Telepathy

Poker Face

Intimidation

Floor Search

 

Passive Skill:

Foreign Body

Resistance Status

Ailment Immunity

Dungeon Information

Great HP Recovery

Hunger Resistance

Night Vision

Extreme Speed Boost

Endurance Boost

Trap Detection

Trap Immunity Martial Arts

Emergency Evasion

Intimidation Resistance

Fear Resistance

Cold Resistance

Freeze Resistance

Stealth Detection

Mind Reading Resistance

Waste Decomposition

Defense Boost


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close