Chapter 3
Sang Penjelajah
Menjadi
seorang Penjelajah memang terdengar mengasyikkan. Namun, membayangkan
menghabiskan waktu seharian penuh tak sadarkan diri di dalam dungeon, membuatku
enggan untuk segera kembali ke sana dalam waktu dekat.
Sebelum
kembali ke asrama, aku memutuskan untuk mengunjungi Pusat Pembelian.
Pusat
Pembelian adalah fasilitas tempat material yang diperoleh dari dungeon dapat
dijual. Tempat ini dikelola oleh pemerintah yang bekerja sama dengan beberapa
perusahaan besar.
Fasilitas ini
dibagi menjadi tiga bagian:
Kanan:
"Pusat Konsultasi Item Langka."
Tengah:
"Mesin Pembelian Otomatis."
Kiri:
"Terminal Pengecekan Harga Pasar."
Untuk menjamin
kerahasiaan identitas, mesin pembelian maupun terminal pengecekan harga
dibatasi hanya untuk satu orang pada satu waktu. Pengunjung harus mengambil
tiket antrean dan menunggu giliran mereka.
Meski pusat ini
beroperasi selama 24 jam penuh, Pusat Konsultasi Item Langka hanya berfungsi
pada jam-jam tertentu.
Terminal
pengecekan harga memungkinkan pengguna untuk mencari tahu harga material dan
informasi barang jatuhan dari dungeon. Namun, karena ponsel pintar kini bisa
mengakses data yang sama, terminal ini sudah jarang digunakan.
Karena hari masih
terang, Pusat Pembelian hampir kosong melompong saat aku tiba. Tujuanku adalah
Mesin Pembelian Otomatis.
Karena
tidak ada antrean di depanku, aku mengambil tiket dan giliranku pun langsung
tiba. Aku melewati ruang tunggu dan berjalan lurus menuju mesin tersebut.
Suara
dentingan berbunyi, lalu panel-panel turun dari langit-langit, mengurungku di
dalam ruang privat.
Ini adalah
langkah lain untuk memastikan anonimitas. Hal ini mencegah orang lain melihat
material apa yang sedang dijual.
Mesin ini
dilengkapi dengan monitor layar sentuh di sebelah kanan dan meja konter besar
di depannya. Material diletakkan di atas meja, tempat mesin akan memindai dan
menampilkan nama serta harganya.
Aku
mengeluarkan material yang kukumpulkan dari Dimensional Storage milikku.
Aku meletakkannya di atas meja konter satu per satu.
Layar
menampilkan "Sedang Memindai……" saat cahaya merah menyapu
barang-barang tersebut. Beberapa
saat kemudian, nama dan harga barang muncul di monitor.
Pertama-tama, aku
meletakkan Batu Sihir 30 sentimeter dari sang T-Rex.
"Batu
Sihir Peringkat-X: Tidak Dapat Dinilai"
Tidak
dapat dinilai!?
Layar
konter menampilkan sebuah pemberitahuan. "Untuk barang yang tidak dapat
dinilai, silakan kunjungi Pusat Konsultasi Item Langka."
Aku
mengembalikan batu itu ke dalam penyimpananku dan mencoba material lainnya.
"Tulang
Misterius: Tidak Dapat Dinilai"
"Kulit
Misterius: Tidak Dapat Dinilai"
Bukan
hanya material T-Rex, material dari monster kelinci dan babi kecil pun tidak
bisa dinilai.
Terakhir,
aku meletakkan Batu Sihir ungu berukuran 5 sentimeter yang dijatuhkan oleh
monster kelinci dan babi kecil.
"Batu
Sihir Spesial: ¥300.000"
Aku
nyaris berteriak saking terkejutnya. Batu kecil berwarna ungu ini bernilai
300.000 yen!?
Panduan
pemula untuk dungeon memang menyebutkan kalau batu-batu ini berharga. Namun,
aku tak pernah menyangka harganya akan setinggi ini.
Aku punya
puluhan batu seperti ini. Menjual semuanya akan membuatku luar biasa kaya.
Akan
tetapi, aku teringat pernah menonton program TV yang memberikan peringatan.
Anak SMA yang tiba-tiba mendapatkan banyak uang sering kali menarik perhatian
yang tidak diinginkan, sekalipun ada perlindungan privasi.
Untuk saat ini,
aku memutuskan hanya menjual satu Batu Sihir demi mendapatkan uang tunai.
Aku
mengambil kembali semua material yang tidak dapat dinilai. Setelah itu, aku
hanya menaruh satu Batu Sihir ungu untuk dijual.
Meja
konter menurun dan penutupnya tertutup. Penilaian kedua dilakukan, dan jumlah
pembelian muncul di monitor untuk meminta konfirmasiku.
Tentu
saja, aku menyetujuinya.
Selanjutnya,
layar mengarahkanku untuk meletakkan tangan di atas 'Pelat Pembayaran', sebuah
piringan dengan gambar simbol tangan kecil di bawah monitor. Di sanalah
lisensiku terukir.
Saat aku
menyentuh piringan itu dengan tangan kananku, layar menunjukkan bahwa uang
sebesar 300.000 yen telah disetorkan ke dalam lisensiku.
Inilah
yang biasa dikenal sebagai 'Transaksi Lisensi'. Kabarnya, buku tabungan bank
pernah ada di masa lalu, tetapi zaman sekarang semuanya menggunakan sistem
Transaksi Lisensi ini.
Alasan terbesar
dari peralihan ini adalah karena lisensi tidak diatur oleh manusia. Lisensi
diatur oleh sistem yang dikelola langsung oleh Sang Dewi, sehingga menjamin
tidak ada tindak penipuan.
Bahkan mesin
pembelian ini dibangun menggunakan metode khusus untuk menjaga anonimitas. Ini
adalah fitur lain yang terwujud berkat kekuatan Sang Dewi.
Setelah transaksi
selesai, aku menekan tombol keluar. Dinding-dinding di sekitarku pun kembali tertarik ke dalam
langit-langit.
Merasa senang
dengan keberhasilan penjualan pertamaku, aku meninggalkan Pusat Pembelian. Aku
lalu melangkah kembali menuju asrama.
Tanpa kusadari,
kejadian ini nantinya akan berkembang menjadi sebuah situasi yang akan
mengguncang seluruh dunia.
◆
Saat aku kembali
ke asrama, aku langsung disambut oleh Seino-san.
"Selamat
datang. Kamu tidak pulang kemarin, kan?"
"Aku
pulang. Maaf, aku berada di dalam dungeon kemarin."
"Kalau
kamu sedang menjelajahi dungeon, mau bagaimana lagi. Namun, tolong jangan terlalu memaksakan
diri."
"Nyawamu
jauh lebih berharga daripada apa pun."
"Umm……
kamu percaya padaku?"
"Tentu
saja. Setidaknya, tidak akan ada yang meragukannya setelah melihat seragammu
yang robek-robek itu."
Barulah
ketika Seino-san menyebutkannya, aku benar-benar memperhatikan seragamku.
Aku tidak bisa
menahan desahan napas saat melihat betapa kotornya seragam ini.
Karena kami harus
mencuci pakaian sendiri di asrama, aku memutuskan untuk segera mencucinya.
"Ngomong-ngomong,
Suzuki-kun."
"Iya?"
"……Selamat
atas keberhasilanmu menjadi seorang Penjelajah."
"!? T-Terima
kasih banyak!"
Mendengar
kata-kata itu, akhirnya aku benar-benar menyadari bahwa aku telah menjadi
seorang Penjelajah.
Meskipun
Seino-san selalu memberikan kesan sedikit dingin—mungkin karena
riasannya—senyumannya saat memberiku selamat benar-benar terlihat bersinar.
Aku kembali ke
kamarku, berganti pakaian dengan baju olahraga biasa, dan mengambil seragamku
yang kotor. Setelah itu, aku bergegas menuju ruang penatu.
Setiap lantai
asrama dilengkapi dengan ruang penatu tersendiri. Fasilitas ini sangat pas
untuk asrama yang dirancang guna mendukung para Penjelajah.
Saat masuk, aku
memperhatikan ada dua mesin cuci yang tidak biasa. Salah satu mesin itu sudah
digunakan oleh siswa lain.
Benda ini
bukanlah mesin cuci biasa. Ini adalah 'Mesin Cuci Sihir', perangkat yang luar
biasa canggih dan mahal yang hanya beroperasi menggunakan Batu Sihir.
Namun, benda ini
sangat terkenal karena kinerjanya yang luar biasa sebagai alat magis.
Aku benar-benar
terkejut melihat peralatan kelas atas seperti itu ada di asrama.
Mengingat sekolah
bahkan menanggung biaya Batu Sihir yang diperlukan untuk mengoperasikannya,
jelas bahwa asrama ini adalah lingkungan yang sempurna. Sebuah tempat yang
ideal bagi para siswa yang ingin menjadi Penjelajah.
Siswa laki-laki
yang sedang menggunakan mesin cuci melirik seragam kotorku dan melebarkan
matanya.
"Wow,
nodanya parah juga. Baru pulang dari dungeon?"
"Ah, iya.
Aku masih membiasakan diri."
"Semua orang
juga begitu pada awalnya. Nanti lama-kelamaan kamu juga akan terbiasa."
"Uh, jadi
kamu juga pernah mengalaminya?"
"Iya,
seragamku juga sering kali kotor berantakan. Omong-omong, salam kenal. Aku Hiroto
Fujii."
"Aku Hinata
Suzuki. Salam kenal juga."
Fujii-kun
memiliki tubuh yang ramping dan wajah yang cukup lembut hingga bisa disangka
sebagai seorang perempuan. Meskipun begitu, perawakannya secara keseluruhan
tidak diragukan lagi adalah laki-laki.
Karena dia sedang
duduk, aku tidak bisa memastikannya dengan jelas. Namun, dia sepertinya sedikit
lebih pendek dariku.
Setelah berjabat
tangan, aku memasukkan seragam kotorku ke mesin cuci yang kosong dan menekan
tombol 'Cuci'.
Mesin Cuci Sihir
ini sama sekali tidak membutuhkan air maupun deterjen.
Benda ini
menggunakan kekuatan misterius untuk membersihkan pakaian, jadi barang-barang
biasa seperti itu tidak lagi diperlukan.
Keuntungan
lainnya adalah karena tidak menggunakan air, tidak perlu menjemur pakaian
setelahnya. Hal ini jelas sangat menghemat waktu.
Namun, tidak
seperti mesin cuci biasa, kamu tidak bisa mengintip ke dalam saat mesin sedang
berjalan.
Setelah
memastikan mesinnya menyala, aku duduk di bangku tunggu, dan Fujii-kun kembali
angkat bicara.
"Jadi,
dungeon mana yang kamu kunjungi?"
"Aku pergi
ke Dungeon Peringkat-E ke-117."
"Wah, hebat
juga. Kebanyakan
orang di sini justru ingin langsung melompat masuk ke dungeon
peringkat-D."
"Yah, aku
baru saja menjadi Penjelajah kemarin. Aku bisa dibilang agak terpaksa
melakukannya karena beberapa keadaan, tapi untungnya aku bisa kembali dengan
selamat."
"Apa? Jangan
bilang kamu masuk ke dalam dungeon itu sendirian?"
"Eh,
iya."
"Itu sangat
berbahaya! Meskipun itu dungeon peringkat-E yang paling lemah sekalipun,
setidaknya kamu harus membentuk party saat masuk untuk pertama kalinya!"
Walaupun ini
adalah pertemuan pertama kami, dia tampak benar-benar mengkhawatirkan
keselamatanku.
"Iya, kamu
benar. Aku akan melakukannya lain kali."
"Kalau kamu
butuh teman, jangan ragu untuk mengajakku! Aku memang tidak terlalu kuat, jadi
aku mungkin tidak akan banyak membantu, tapi……"
Bagiku, kuat atau
lemahnya seseorang tidaklah menjadi masalah.
Lagipula, aku
berada di level 0, jadi akulah yang paling lemah di antara semuanya. Siapa pun
pasti akan berguna dalam pertarungan.
Sekalipun
tawarannya ini murni karena kebaikan hatinya, aku benar-benar senang
mendengarnya.
Kuharap suatu
hari nanti aku bisa menerima tawarannya. Kami pun lanjut mengobrol sebentar,
menikmati percakapan yang mengalir begitu saja.
Beberapa menit
kemudian, cucian Fujii-kun selesai, lalu seorang siswa baru masuk ke dalam
ruangan.
Fujii-kun pergi
untuk kembali ke kamarnya, dan siswa yang baru masuk itu tampaknya tidak
tertarik untuk berbicara denganku sama sekali.
Meskipun kami
tinggal di lantai yang sama, kami tetap saja seperti orang asing satu sama
lain.
Keesokan harinya.
Setelah
menghabiskan akhir pekan di dalam dungeon, awal minggu yang baru pun dimulai,
dan aku bergegas menuju kelasku.
Seperti
biasa, malaikat cantik berambut perak itu berada tepat di depanku. Meskipun
begitu, aku memastikan untuk tidak menatapnya terlalu terang-terangan.
Tatapan
mata seisi kelas lebih banyak tertuju padaku ketimbang sang malaikat—semuanya
dipenuhi dengan rasa iri.
Tampaknya
duduk di kursi utama ini telah menjadi posisi yang paling membuat iri di kelas.
Bagaimana tidak, aku bisa dengan mudahnya memandangi malaikat itu hanya dengan
menatap ke depan.
Setelah
kelas berakhir, teman-teman sekelasku yang rupanya sudah membentuk kelompok
mereka sendiri mulai membahas aktivitas klub. Mereka juga sibuk membicarakan
rencana sore ini.
Sedangkan
aku……
"Hei,
Si Level 0 Abadi."
"Eh, hai,
Gai-kun."
"Ikut aku
sebentar."
"……Baiklah."
Faktanya, Arai
Gai-kun, teman sekelasku sejak SMP, kebetulan juga berada di kelas yang sama.
Kami bertukar
sapaan basa-basi seperti yang biasa kami lakukan. Benar-benar tidak ada yang berubah di antara
kami.
Seperti
biasa, Gai-kun memandang rendah diriku. Akan tetapi kali ini, ada sesuatu yang
terasa sangat berbeda.
Rasa
takut yang dulu kurasakan terhadapnya, entah kenapa telah lenyap sepenuhnya.
Mungkin ini
berkat skill yang baru saja kudapatkan—Fear Resistance atau Intimidation
Resistance.
Memikirkan hal
itu, tanpa sadar aku mengepalkan tanganku. Aku menyadari bahwa mungkin
seseorang sepertiku, yang terjebak di level 0 selamanya, masih bisa mendapatkan
hasil jika terus melangkah maju.
Dengan pemikiran
tersebut, perlahan aku mulai mengikuti langkah Gai-kun.
Dia memiliki
fisik yang sangat besar sehingga membuatnya terlihat menonjol bahkan di antara
para siswa lainnya.
Hanya dengan
berjalan biasa, dia memancarkan aura intimidasi, seolah sangat meluap dengan
kepercayaan diri.
Aku mengikutinya
naik ke atap sekolah. Sebuah tempat yang bahkan aku sendiri tidak yakin apakah
para siswa diizinkan berada di sana.
Atapnya sangat
luas, tanpa ada satupun benda yang menghalangi pandangan. Hanya ada sebuah
pagar yang mengelilingi tepiannya.
"Hei, hei,
Hi-na-taaa-kun."
"Hm?"
"Jangan
'hm?' padaku!"
Tanpa ragu-ragu
sedikit pun, tinjunya melayang ke arahku.
Dulu saat kami
masih SMP, aku pasti sudah gemetar ketakutan.
Namun sekarang,
aku sama sekali tidak merasakan apa pun darinya.
Tinju yang
mengarah ke arahku terasa cukup lambat hingga membuatku menguap. Tapi
sepertinya pukulan itu akan tetap terasa sakit jika mengenai sasaranku, jadi
aku memutuskan untuk menghindar.
Gai-kun, yang
mengerahkan seluruh tenaganya ke dalam pukulan tersebut, terdorong melewati
tempatku berdiri sebelumnya. Dia terus melaju, lalu tersandung dan jatuh
tersungkur karena momentum pukulannya sendiri.
"Apa-apaan
ini!? Dasar, pecundang seperti Hinata bisa menghindari pukulanku?!"
Gai-kun yang
sekarang terkapar di lantai langsung bangkit, wajahnya memerah karena amarah.
Namun, yang
mengejutkan, aku tidak merasakan takut sama sekali.
Malahan,
monster-monster kelinci di dungeon peringkat-E terasa lebih menakutkan bagiku
ketimbang sosok Gai-kun saat ini.
"Sialan
kau!!"
Sudah tidak ada
keraguan lagi di benakku sekarang—dia menyerangku dengan sungguh-sungguh.
Entah karena
pengalamanku di dungeon, skill tempur baruku, atau skill-skill lain yang sudah
kuperoleh. Aku bisa tahu secara naluriah bahwa dia sedang serius.
Aku menghindari
ayunan tangannya yang lebar dan mudah diprediksi itu dengan sangat tenang.
Dan saat aku
dengan mudahnya menghindari pukulan lainnya, aku menyadari bahwa aku sebenarnya
bisa membalas serangannya jika aku mau.
Pada saat itulah,
sebuah suara dingin menggema melintasi atap sekolah.
"Hentikan."
Aku mengalihkan
pandanganku ke arah pintu yang terbuka. Seseorang sedang berjalan ke arah kami,
dengan rambut perak panjang yang mulai terlihat dalam pandangan.
Tentu saja, itu
tidak lain adalah Kamui Hinata-san, sosok sang malaikat berambut perak itu
sendiri.
Saat dia
menginjakkan kaki di atap sekolah, gelombang udara yang membekukan langsung
menyapu kami.
《Skill Diperoleh: "Cold Resistance" (Akibat Kesulitan)》
Fakta bahwa
aku memperoleh skill baru menandakan bahwa rasa dingin ini nyata. Dengan kata
lain, gadis di hadapan kami ini sudah bersiap penuh untuk bertarung.
Tanpa
mengubah ekspresi wajahnya, gadis itu berdiri di depan kami. Gai-kun yang kini semakin jengkel, lantas
membentaknya.
"Apa
masalahmu?!"
"Hentikan."
"Hah!? Ini
sama sekali bukan urusanmu!"
"Hentikan."
"Sialan!
Hinata, kau harus ingat ini baik-baik!"
Gai-kun langsung
menghilang dari atap sekolah, seolah-olah sedang berlari kabur.
Hal
seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Walaupun sebagian dari diriku berpikir,
"Rasakan itu," aku juga merasa sedikit kasihan padanya.
Pada dasarnya,
aku adalah orang yang paling lemah dari semuanya. Oleh karena itu, semua orang
di sekitarku terasa lebih kuat.
Namun
bagi Gai-kun, gadis itulah yang lebih kuat. Hal ini pastilah terasa sangat memalukan baginya.
"Umm,
Kamui-san…… Terima kasih."
"……………………."
Ekspresi
gadis itu tetap kosong. Namun, dia memelototiku dengan permusuhan yang sama
sekali tak disembunyikan.
Apakah
seharusnya aku meminta maaf? Aku masih tidak bisa memahami isi hati perempuan.
Adik perempuanku
selalu berkata, "Hati seorang gadis itu rumit, tahu, Kakak!" Dan sekarang, aku benar-benar
mengerti betapa benarnya perkataannya itu.
"Umm……"
"!"
Saat aku
mengambil selangkah ke depan, aura dinginnya tiba-tiba menyelimuti tubuhku.
"Ah……
ah……"
《Skill Diperoleh: "Freeze Resistance" (Akibat Kesulitan)》
Ini sudah pasti
sebuah serangan. Secara
naluriah, aku langsung mengambil kuda-kuda bertahan.
Tanpa
skill-skill ini, aku mungkin sudah mati. Akan tetapi, sesuatu yang aneh mulai terjadi pada ekspresinya.
Meskipun awalnya
tanpa ekspresi, raut wajahnya perlahan runtuh. Gadis itu kini terlihat seperti
akan menangis kapan saja.
"Ja……
jadi……"
"Aku
tidak yakin kenapa kamu menyerangku, Kamui-san, tapi aku juga tidak mau mati.
Jadi, aku akan membela diri."
Tepat
ketika aku hendak berlari melewatinya sebelum terkena gelombang dingin lainnya—
"Maafkan
aku!"
Bersamaan
dengan ucapan itu, dia jatuh terduduk di lantai sambil berlinang air mata.
"Ehhhh!?
K-Kamui-san!?"
"A……
aku benar-benar minta maaf. Aku
tidak bisa menahannya karena aku sangat ketakutan…… Aku sungguh minta
maaf……"
Apa yang terjadi
padanya? Kenapa dia merasa ketakutan?
Mungkinkah……
apakah dia ketakutan saat meneriaki Gai-kun untuk berhenti demi berusaha
menolongku?
Dia
berusaha untuk menolongku, tapi aku malah menyangka kalau dia sedang
menyerangku?
Tapi
sepertinya tadi aku memang diserang, kan……?
"Aku…… saat
aku menurunkan pertahananku, aku…… tanpa sengaja melepaskan 'Berkah Dewa Es'……"
Dengan air
mata yang mengalir di wajahnya, dia menatapku menggunakan ekspresi penuh
penyesalan.
Bahkan
dalam situasi seperti ini, aku tak bisa menahan diri untuk tidak berpikir.
Ternyata gadis ini tetap terlihat cantik saat sedang menangis.
"Jadi……
umm…… aku tidak bermaksud untuk menyerangmu…… Maafkan aku……"
"Oh,
jadi begitu ceritanya! Tidak, seharusnya akulah yang meminta maaf! Kamu sudah menolongku meskipun kamu
ketakutan, dan aku malah bersikap begini…… Maafkan aku atas hal itu!"
Aku menarik
keluar saputangan dari saku dadaku—mengikuti ajaran adik perempuanku,
"selalu simpan saputangan di saku dada".
Ini adalah
pertama kalinya aku mengusap air mata gadis selain adikku. Jantungku berdebar
sangat kencang sampai-sampai suaranya terdengar di telingaku sendiri.
Kesalahpahaman
ini jelas-jelas adalah kesalahanku. Dia telah mengatasi rasa takutnya untuk
menolongku dengan menghentikan Gai-kun, dan aku justru salah paham mengartikan
tindakannya itu.
"H-Hei!
Sebagai tanda terima kasih karena telah menolongku, kalau kamu punya masalah,
beri tahu aku saja. Memang aku tidak yakin apa yang bisa kulakukan dengan tubuh
lemahku ini, tapi aku pasti akan membantu sebisa mungkin……"
Kedua matanya yang sembab karena air mata menatap lekat ke arah mataku.
Skill Baru yang Diperoleh
Fate
Active Skill:
Area Search
Skill List
Monster Dismantling
Dimensional Storage
Passive Skill:
Foreign Body
Resistance Status
Ailment Immunity
Dungeon Information
Great HP Recovery
Hunger Resistance
Night Vision
Extreme Speed Boost
Endurance Boost
Trap Detection
Trap Immunity Martial Arts
Emergency Evasion
Intimidation Resistance
Fear Resistance
Cold Resistance
Freeze Resistance



Post a Comment