NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Level 0 no Munou Tansakusha to Sagesumaretemo Jitsu wa Sekai Saikyou desu Volume 1 Chapter 3

Chapter 3

Sang Penjelajah


Menjadi seorang Penjelajah memang terdengar mengasyikkan. Namun, membayangkan menghabiskan waktu seharian penuh tak sadarkan diri di dalam dungeon, membuatku enggan untuk segera kembali ke sana dalam waktu dekat.

Sebelum kembali ke asrama, aku memutuskan untuk mengunjungi Pusat Pembelian.

Pusat Pembelian adalah fasilitas tempat material yang diperoleh dari dungeon dapat dijual. Tempat ini dikelola oleh pemerintah yang bekerja sama dengan beberapa perusahaan besar.

Fasilitas ini dibagi menjadi tiga bagian:

Kanan: "Pusat Konsultasi Item Langka."

Tengah: "Mesin Pembelian Otomatis."

Kiri: "Terminal Pengecekan Harga Pasar."

Untuk menjamin kerahasiaan identitas, mesin pembelian maupun terminal pengecekan harga dibatasi hanya untuk satu orang pada satu waktu. Pengunjung harus mengambil tiket antrean dan menunggu giliran mereka.

Meski pusat ini beroperasi selama 24 jam penuh, Pusat Konsultasi Item Langka hanya berfungsi pada jam-jam tertentu.

Terminal pengecekan harga memungkinkan pengguna untuk mencari tahu harga material dan informasi barang jatuhan dari dungeon. Namun, karena ponsel pintar kini bisa mengakses data yang sama, terminal ini sudah jarang digunakan.

Karena hari masih terang, Pusat Pembelian hampir kosong melompong saat aku tiba. Tujuanku adalah Mesin Pembelian Otomatis.

Karena tidak ada antrean di depanku, aku mengambil tiket dan giliranku pun langsung tiba. Aku melewati ruang tunggu dan berjalan lurus menuju mesin tersebut.

Suara dentingan berbunyi, lalu panel-panel turun dari langit-langit, mengurungku di dalam ruang privat.

Ini adalah langkah lain untuk memastikan anonimitas. Hal ini mencegah orang lain melihat material apa yang sedang dijual.

Mesin ini dilengkapi dengan monitor layar sentuh di sebelah kanan dan meja konter besar di depannya. Material diletakkan di atas meja, tempat mesin akan memindai dan menampilkan nama serta harganya.

Aku mengeluarkan material yang kukumpulkan dari Dimensional Storage milikku. Aku meletakkannya di atas meja konter satu per satu.

Layar menampilkan "Sedang Memindai……" saat cahaya merah menyapu barang-barang tersebut. Beberapa saat kemudian, nama dan harga barang muncul di monitor.

Pertama-tama, aku meletakkan Batu Sihir 30 sentimeter dari sang T-Rex.

"Batu Sihir Peringkat-X: Tidak Dapat Dinilai"

Tidak dapat dinilai!?

Layar konter menampilkan sebuah pemberitahuan. "Untuk barang yang tidak dapat dinilai, silakan kunjungi Pusat Konsultasi Item Langka."

Aku mengembalikan batu itu ke dalam penyimpananku dan mencoba material lainnya.

"Tulang Misterius: Tidak Dapat Dinilai"

"Kulit Misterius: Tidak Dapat Dinilai"

Bukan hanya material T-Rex, material dari monster kelinci dan babi kecil pun tidak bisa dinilai.

Terakhir, aku meletakkan Batu Sihir ungu berukuran 5 sentimeter yang dijatuhkan oleh monster kelinci dan babi kecil.

"Batu Sihir Spesial: ¥300.000"

Aku nyaris berteriak saking terkejutnya. Batu kecil berwarna ungu ini bernilai 300.000 yen!?

Panduan pemula untuk dungeon memang menyebutkan kalau batu-batu ini berharga. Namun, aku tak pernah menyangka harganya akan setinggi ini.

Aku punya puluhan batu seperti ini. Menjual semuanya akan membuatku luar biasa kaya.

Akan tetapi, aku teringat pernah menonton program TV yang memberikan peringatan. Anak SMA yang tiba-tiba mendapatkan banyak uang sering kali menarik perhatian yang tidak diinginkan, sekalipun ada perlindungan privasi.

Untuk saat ini, aku memutuskan hanya menjual satu Batu Sihir demi mendapatkan uang tunai.

Aku mengambil kembali semua material yang tidak dapat dinilai. Setelah itu, aku hanya menaruh satu Batu Sihir ungu untuk dijual.

Meja konter menurun dan penutupnya tertutup. Penilaian kedua dilakukan, dan jumlah pembelian muncul di monitor untuk meminta konfirmasiku.

Tentu saja, aku menyetujuinya.

Selanjutnya, layar mengarahkanku untuk meletakkan tangan di atas 'Pelat Pembayaran', sebuah piringan dengan gambar simbol tangan kecil di bawah monitor. Di sanalah lisensiku terukir.

Saat aku menyentuh piringan itu dengan tangan kananku, layar menunjukkan bahwa uang sebesar 300.000 yen telah disetorkan ke dalam lisensiku.

Inilah yang biasa dikenal sebagai 'Transaksi Lisensi'. Kabarnya, buku tabungan bank pernah ada di masa lalu, tetapi zaman sekarang semuanya menggunakan sistem Transaksi Lisensi ini.

Alasan terbesar dari peralihan ini adalah karena lisensi tidak diatur oleh manusia. Lisensi diatur oleh sistem yang dikelola langsung oleh Sang Dewi, sehingga menjamin tidak ada tindak penipuan.

Bahkan mesin pembelian ini dibangun menggunakan metode khusus untuk menjaga anonimitas. Ini adalah fitur lain yang terwujud berkat kekuatan Sang Dewi.

Setelah transaksi selesai, aku menekan tombol keluar. Dinding-dinding di sekitarku pun kembali tertarik ke dalam langit-langit.

Merasa senang dengan keberhasilan penjualan pertamaku, aku meninggalkan Pusat Pembelian. Aku lalu melangkah kembali menuju asrama.

Tanpa kusadari, kejadian ini nantinya akan berkembang menjadi sebuah situasi yang akan mengguncang seluruh dunia.

Saat aku kembali ke asrama, aku langsung disambut oleh Seino-san.

"Selamat datang. Kamu tidak pulang kemarin, kan?"

"Aku pulang. Maaf, aku berada di dalam dungeon kemarin."

"Kalau kamu sedang menjelajahi dungeon, mau bagaimana lagi. Namun, tolong jangan terlalu memaksakan diri."

"Nyawamu jauh lebih berharga daripada apa pun."

"Umm…… kamu percaya padaku?"

"Tentu saja. Setidaknya, tidak akan ada yang meragukannya setelah melihat seragammu yang robek-robek itu."

Barulah ketika Seino-san menyebutkannya, aku benar-benar memperhatikan seragamku.

Aku tidak bisa menahan desahan napas saat melihat betapa kotornya seragam ini.

Karena kami harus mencuci pakaian sendiri di asrama, aku memutuskan untuk segera mencucinya.

"Ngomong-ngomong, Suzuki-kun."

"Iya?"

"……Selamat atas keberhasilanmu menjadi seorang Penjelajah."

"!? T-Terima kasih banyak!"

Mendengar kata-kata itu, akhirnya aku benar-benar menyadari bahwa aku telah menjadi seorang Penjelajah.

Meskipun Seino-san selalu memberikan kesan sedikit dingin—mungkin karena riasannya—senyumannya saat memberiku selamat benar-benar terlihat bersinar.

Aku kembali ke kamarku, berganti pakaian dengan baju olahraga biasa, dan mengambil seragamku yang kotor. Setelah itu, aku bergegas menuju ruang penatu.

Setiap lantai asrama dilengkapi dengan ruang penatu tersendiri. Fasilitas ini sangat pas untuk asrama yang dirancang guna mendukung para Penjelajah.

Saat masuk, aku memperhatikan ada dua mesin cuci yang tidak biasa. Salah satu mesin itu sudah digunakan oleh siswa lain.

Benda ini bukanlah mesin cuci biasa. Ini adalah 'Mesin Cuci Sihir', perangkat yang luar biasa canggih dan mahal yang hanya beroperasi menggunakan Batu Sihir.

Namun, benda ini sangat terkenal karena kinerjanya yang luar biasa sebagai alat magis.

Aku benar-benar terkejut melihat peralatan kelas atas seperti itu ada di asrama.

Mengingat sekolah bahkan menanggung biaya Batu Sihir yang diperlukan untuk mengoperasikannya, jelas bahwa asrama ini adalah lingkungan yang sempurna. Sebuah tempat yang ideal bagi para siswa yang ingin menjadi Penjelajah.

Siswa laki-laki yang sedang menggunakan mesin cuci melirik seragam kotorku dan melebarkan matanya.

"Wow, nodanya parah juga. Baru pulang dari dungeon?"

"Ah, iya. Aku masih membiasakan diri."

"Semua orang juga begitu pada awalnya. Nanti lama-kelamaan kamu juga akan terbiasa."

"Uh, jadi kamu juga pernah mengalaminya?"

"Iya, seragamku juga sering kali kotor berantakan. Omong-omong, salam kenal. Aku Hiroto Fujii."

"Aku Hinata Suzuki. Salam kenal juga."

Fujii-kun memiliki tubuh yang ramping dan wajah yang cukup lembut hingga bisa disangka sebagai seorang perempuan. Meskipun begitu, perawakannya secara keseluruhan tidak diragukan lagi adalah laki-laki.

Karena dia sedang duduk, aku tidak bisa memastikannya dengan jelas. Namun, dia sepertinya sedikit lebih pendek dariku.

Setelah berjabat tangan, aku memasukkan seragam kotorku ke mesin cuci yang kosong dan menekan tombol 'Cuci'.

Mesin Cuci Sihir ini sama sekali tidak membutuhkan air maupun deterjen.

Benda ini menggunakan kekuatan misterius untuk membersihkan pakaian, jadi barang-barang biasa seperti itu tidak lagi diperlukan.

Keuntungan lainnya adalah karena tidak menggunakan air, tidak perlu menjemur pakaian setelahnya. Hal ini jelas sangat menghemat waktu.

Namun, tidak seperti mesin cuci biasa, kamu tidak bisa mengintip ke dalam saat mesin sedang berjalan.

Setelah memastikan mesinnya menyala, aku duduk di bangku tunggu, dan Fujii-kun kembali angkat bicara.

"Jadi, dungeon mana yang kamu kunjungi?"

"Aku pergi ke Dungeon Peringkat-E ke-117."

"Wah, hebat juga. Kebanyakan orang di sini justru ingin langsung melompat masuk ke dungeon peringkat-D."

"Yah, aku baru saja menjadi Penjelajah kemarin. Aku bisa dibilang agak terpaksa melakukannya karena beberapa keadaan, tapi untungnya aku bisa kembali dengan selamat."

"Apa? Jangan bilang kamu masuk ke dalam dungeon itu sendirian?"

"Eh, iya."

"Itu sangat berbahaya! Meskipun itu dungeon peringkat-E yang paling lemah sekalipun, setidaknya kamu harus membentuk party saat masuk untuk pertama kalinya!"

Walaupun ini adalah pertemuan pertama kami, dia tampak benar-benar mengkhawatirkan keselamatanku.

"Iya, kamu benar. Aku akan melakukannya lain kali."

"Kalau kamu butuh teman, jangan ragu untuk mengajakku! Aku memang tidak terlalu kuat, jadi aku mungkin tidak akan banyak membantu, tapi……"

Bagiku, kuat atau lemahnya seseorang tidaklah menjadi masalah.

Lagipula, aku berada di level 0, jadi akulah yang paling lemah di antara semuanya. Siapa pun pasti akan berguna dalam pertarungan.

Sekalipun tawarannya ini murni karena kebaikan hatinya, aku benar-benar senang mendengarnya.

Kuharap suatu hari nanti aku bisa menerima tawarannya. Kami pun lanjut mengobrol sebentar, menikmati percakapan yang mengalir begitu saja.

Beberapa menit kemudian, cucian Fujii-kun selesai, lalu seorang siswa baru masuk ke dalam ruangan.

Fujii-kun pergi untuk kembali ke kamarnya, dan siswa yang baru masuk itu tampaknya tidak tertarik untuk berbicara denganku sama sekali.

Meskipun kami tinggal di lantai yang sama, kami tetap saja seperti orang asing satu sama lain.

Keesokan harinya.

Setelah menghabiskan akhir pekan di dalam dungeon, awal minggu yang baru pun dimulai, dan aku bergegas menuju kelasku.

Seperti biasa, malaikat cantik berambut perak itu berada tepat di depanku. Meskipun begitu, aku memastikan untuk tidak menatapnya terlalu terang-terangan.

Tatapan mata seisi kelas lebih banyak tertuju padaku ketimbang sang malaikat—semuanya dipenuhi dengan rasa iri.

Tampaknya duduk di kursi utama ini telah menjadi posisi yang paling membuat iri di kelas. Bagaimana tidak, aku bisa dengan mudahnya memandangi malaikat itu hanya dengan menatap ke depan.

Setelah kelas berakhir, teman-teman sekelasku yang rupanya sudah membentuk kelompok mereka sendiri mulai membahas aktivitas klub. Mereka juga sibuk membicarakan rencana sore ini.

Sedangkan aku……

"Hei, Si Level 0 Abadi."

"Eh, hai, Gai-kun."

"Ikut aku sebentar."

"……Baiklah."

Faktanya, Arai Gai-kun, teman sekelasku sejak SMP, kebetulan juga berada di kelas yang sama.

Kami bertukar sapaan basa-basi seperti yang biasa kami lakukan. Benar-benar tidak ada yang berubah di antara kami.

Seperti biasa, Gai-kun memandang rendah diriku. Akan tetapi kali ini, ada sesuatu yang terasa sangat berbeda.

Rasa takut yang dulu kurasakan terhadapnya, entah kenapa telah lenyap sepenuhnya.

Mungkin ini berkat skill yang baru saja kudapatkan—Fear Resistance atau Intimidation Resistance.

Memikirkan hal itu, tanpa sadar aku mengepalkan tanganku. Aku menyadari bahwa mungkin seseorang sepertiku, yang terjebak di level 0 selamanya, masih bisa mendapatkan hasil jika terus melangkah maju.

Dengan pemikiran tersebut, perlahan aku mulai mengikuti langkah Gai-kun.

Dia memiliki fisik yang sangat besar sehingga membuatnya terlihat menonjol bahkan di antara para siswa lainnya.

Hanya dengan berjalan biasa, dia memancarkan aura intimidasi, seolah sangat meluap dengan kepercayaan diri.

Aku mengikutinya naik ke atap sekolah. Sebuah tempat yang bahkan aku sendiri tidak yakin apakah para siswa diizinkan berada di sana.

Atapnya sangat luas, tanpa ada satupun benda yang menghalangi pandangan. Hanya ada sebuah pagar yang mengelilingi tepiannya.

"Hei, hei, Hi-na-taaa-kun."

"Hm?"

"Jangan 'hm?' padaku!"

Tanpa ragu-ragu sedikit pun, tinjunya melayang ke arahku.

Dulu saat kami masih SMP, aku pasti sudah gemetar ketakutan.

Namun sekarang, aku sama sekali tidak merasakan apa pun darinya.

Tinju yang mengarah ke arahku terasa cukup lambat hingga membuatku menguap. Tapi sepertinya pukulan itu akan tetap terasa sakit jika mengenai sasaranku, jadi aku memutuskan untuk menghindar.

Gai-kun, yang mengerahkan seluruh tenaganya ke dalam pukulan tersebut, terdorong melewati tempatku berdiri sebelumnya. Dia terus melaju, lalu tersandung dan jatuh tersungkur karena momentum pukulannya sendiri.

"Apa-apaan ini!? Dasar, pecundang seperti Hinata bisa menghindari pukulanku?!"

Gai-kun yang sekarang terkapar di lantai langsung bangkit, wajahnya memerah karena amarah.

Namun, yang mengejutkan, aku tidak merasakan takut sama sekali.

Malahan, monster-monster kelinci di dungeon peringkat-E terasa lebih menakutkan bagiku ketimbang sosok Gai-kun saat ini.

"Sialan kau!!"

Sudah tidak ada keraguan lagi di benakku sekarang—dia menyerangku dengan sungguh-sungguh.

Entah karena pengalamanku di dungeon, skill tempur baruku, atau skill-skill lain yang sudah kuperoleh. Aku bisa tahu secara naluriah bahwa dia sedang serius.

Aku menghindari ayunan tangannya yang lebar dan mudah diprediksi itu dengan sangat tenang.

Dan saat aku dengan mudahnya menghindari pukulan lainnya, aku menyadari bahwa aku sebenarnya bisa membalas serangannya jika aku mau.

Pada saat itulah, sebuah suara dingin menggema melintasi atap sekolah.

"Hentikan."

Aku mengalihkan pandanganku ke arah pintu yang terbuka. Seseorang sedang berjalan ke arah kami, dengan rambut perak panjang yang mulai terlihat dalam pandangan.

Tentu saja, itu tidak lain adalah Kamui Hinata-san, sosok sang malaikat berambut perak itu sendiri.

Saat dia menginjakkan kaki di atap sekolah, gelombang udara yang membekukan langsung menyapu kami.

Skill Diperoleh: "Cold Resistance" (Akibat Kesulitan)

Fakta bahwa aku memperoleh skill baru menandakan bahwa rasa dingin ini nyata. Dengan kata lain, gadis di hadapan kami ini sudah bersiap penuh untuk bertarung.

Tanpa mengubah ekspresi wajahnya, gadis itu berdiri di depan kami. Gai-kun yang kini semakin jengkel, lantas membentaknya.

"Apa masalahmu?!"

"Hentikan."

"Hah!? Ini sama sekali bukan urusanmu!"

"Hentikan."

"Sialan! Hinata, kau harus ingat ini baik-baik!"

Gai-kun langsung menghilang dari atap sekolah, seolah-olah sedang berlari kabur.

Hal seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Walaupun sebagian dari diriku berpikir, "Rasakan itu," aku juga merasa sedikit kasihan padanya.

Pada dasarnya, aku adalah orang yang paling lemah dari semuanya. Oleh karena itu, semua orang di sekitarku terasa lebih kuat.

Namun bagi Gai-kun, gadis itulah yang lebih kuat. Hal ini pastilah terasa sangat memalukan baginya.

"Umm, Kamui-san…… Terima kasih."

"……………………."

Ekspresi gadis itu tetap kosong. Namun, dia memelototiku dengan permusuhan yang sama sekali tak disembunyikan.

Apakah seharusnya aku meminta maaf? Aku masih tidak bisa memahami isi hati perempuan.

Adik perempuanku selalu berkata, "Hati seorang gadis itu rumit, tahu, Kakak!" Dan sekarang, aku benar-benar mengerti betapa benarnya perkataannya itu.

"Umm……"

"!"

Saat aku mengambil selangkah ke depan, aura dinginnya tiba-tiba menyelimuti tubuhku.

"Ah…… ah……"

Skill Diperoleh: "Freeze Resistance" (Akibat Kesulitan)

Ini sudah pasti sebuah serangan. Secara naluriah, aku langsung mengambil kuda-kuda bertahan.

Tanpa skill-skill ini, aku mungkin sudah mati. Akan tetapi, sesuatu yang aneh mulai terjadi pada ekspresinya.

Meskipun awalnya tanpa ekspresi, raut wajahnya perlahan runtuh. Gadis itu kini terlihat seperti akan menangis kapan saja.

"Ja…… jadi……"

"Aku tidak yakin kenapa kamu menyerangku, Kamui-san, tapi aku juga tidak mau mati. Jadi, aku akan membela diri."

Tepat ketika aku hendak berlari melewatinya sebelum terkena gelombang dingin lainnya—

"Maafkan aku!"

Bersamaan dengan ucapan itu, dia jatuh terduduk di lantai sambil berlinang air mata.

"Ehhhh!? K-Kamui-san!?"

"A…… aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bisa menahannya karena aku sangat ketakutan…… Aku sungguh minta maaf……"

Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia merasa ketakutan?

Mungkinkah…… apakah dia ketakutan saat meneriaki Gai-kun untuk berhenti demi berusaha menolongku?

Dia berusaha untuk menolongku, tapi aku malah menyangka kalau dia sedang menyerangku?

Tapi sepertinya tadi aku memang diserang, kan……?

"Aku…… saat aku menurunkan pertahananku, aku…… tanpa sengaja melepaskan 'Berkah Dewa Es'……"

Dengan air mata yang mengalir di wajahnya, dia menatapku menggunakan ekspresi penuh penyesalan.

Bahkan dalam situasi seperti ini, aku tak bisa menahan diri untuk tidak berpikir. Ternyata gadis ini tetap terlihat cantik saat sedang menangis.

"Jadi…… umm…… aku tidak bermaksud untuk menyerangmu…… Maafkan aku……"

"Oh, jadi begitu ceritanya! Tidak, seharusnya akulah yang meminta maaf! Kamu sudah menolongku meskipun kamu ketakutan, dan aku malah bersikap begini…… Maafkan aku atas hal itu!"

Aku menarik keluar saputangan dari saku dadaku—mengikuti ajaran adik perempuanku, "selalu simpan saputangan di saku dada".

Ini adalah pertama kalinya aku mengusap air mata gadis selain adikku. Jantungku berdebar sangat kencang sampai-sampai suaranya terdengar di telingaku sendiri.

Kesalahpahaman ini jelas-jelas adalah kesalahanku. Dia telah mengatasi rasa takutnya untuk menolongku dengan menghentikan Gai-kun, dan aku justru salah paham mengartikan tindakannya itu.

"H-Hei! Sebagai tanda terima kasih karena telah menolongku, kalau kamu punya masalah, beri tahu aku saja. Memang aku tidak yakin apa yang bisa kulakukan dengan tubuh lemahku ini, tapi aku pasti akan membantu sebisa mungkin……"

Kedua matanya yang sembab karena air mata menatap lekat ke arah mataku.



Skill Baru yang Diperoleh

Fate

 

Active Skill:

Area Search

Skill List

Monster Dismantling

Dimensional Storage

 

Passive Skill:

Foreign Body

Resistance Status

Ailment Immunity

Dungeon Information

Great HP Recovery

Hunger Resistance

Night Vision

Extreme Speed Boost

Endurance Boost

Trap Detection

Trap Immunity Martial Arts

Emergency Evasion

Intimidation Resistance

Fear Resistance

Cold Resistance

Freeze Resistance


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close