NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 7 Chapter 3

Chapter 3

Kabar yang Tak Disangka-Sangka


Suasana waktu makan malam di apartemen keluarga Kirishima.

Himeko duduk di meja makan sambil menggembungkan pipinya.

"Dengar, ya, Haru-chan! Festival budaya SMP kita cuma ada penampilan marching band, lomba pidato, dan pameran kelas—tidak ada stan makanan atau kafe sama sekali!? Padahal aku ingin crepes, takoyaki, dan es serut~!"

Saki memberikan senyum penuh masalah kepada sahabatnya itu.

Himeko jelas merasa tidak puas karena festival di SMP-nya tidak menyediakan makanan. Sejak mendengarnya di sekolah pagi tadi, ia terus bersikap seperti ini. Sambil mengeluh, ia menyumpal pipinya dengan ayam goreng.

"Saus ponzu ini memang menyegarkan, tapi sudah tidak panas lagi. Jadi, saus asam manis sepertinya jauh lebih enak," omelnya sambil semakin menggembungkan pipinya.

Namun, Hayato dan Haruki sudah terbiasa dengan tingkah Himeko. Mereka mengabaikannya dengan dengusan dan tatapan setengah mengantuk.

"Himeko, meskipun kamu bisa membuka stan, kamu harus memasak, bukan cuma makan. Kamu tidak bisa mencuri-curi gigit takoyaki atau yakisoba."

"Benar sekali. Dan tidak boleh juga mencicipi krim kocok atau buah saat sedang membuat parfait atau crepe."

"Ugh…!"

"…Pfft!"

Komentar tepat waktu dari Hayato dan Haruki membuat Saki langsung tertawa terbahak-bahak. Hal itu membuat wajah Himeko memerah dan matanya berkaca-kaca sambil merajuk, "Bahkan Saki-chan juga ikut-ikutan!?"

Saki, dengan senyum masam, merbuka suara untuk menenangkannya, "Maaf, maaf, Hime-chan," lalu membagikan sepotong ayam goreng miliknya.

Seketika itu juga, wajah Himeko kembali cerah. Seperti biasa, Himeko adalah anak yang sangat mudah dibujuk. Sebagai sahabatnya, Saki tidak bisa tidak merasa khawatir dengan masa depan gadis itu.

Saki, sambil terkekeh canggung, menoleh ke arah Hayato dan yang lainnya yang sedang menghela napas pasrah.

"Ngomong-ngomong, aku dengar festival budaya SMA kalian cukup besar. Hal itu bahkan jadi bahan obrolan di kelas kami."

"Sepertinya begitu. Acara ini terbuka untuk umum, jadi banyak pengunjung yang datang. Kontes kecantikan juga terbuka untuk non-siswa, jadi acara panggungnya bakal sangat meriah."

"Stan makanan punya sistem voting popularitas, jadi setiap kelas mengerahkan kreativitas mereka. Terutama klub-klub sekolah, karena peringkat tinggi bisa berujung pada bonus anggaran, jadi mereka benar-benar totalitas."

Saki mengeluarkan suara "Wah" tanda kagum. Meski begitu, ia masih belum bisa membayangkan seberapa megah acara tersebut. Namun, sejak pindah ke kota, hal-hal yang tadinya tidak terbayangkan ini terasa begitu mengasyikkan.

Tepat pada saat itu, Himeko, yang mendengarkan percakapan Hayato dan Haruki, berteriak "Ah!" seolah baru menyadari sesuatu.

"Terbuka untuk umum berarti kita bisa datang ke festival Onii dan Haru-chan dong!?"

"Tentu saja, Hime-chan. Bukan hal aneh bagi anak SMP yang mengincar sekolah itu untuk datang berkunjung."

"Yay, aku pasti akan datang! Jadi, apa yang akan kamu dan Onii lakukan untuk festival nanti?"

"Belum ada yang diputuskan. Kami masih mendiskusikannya."

"Kelas Kaido melakukan hal liar seperti cabaret cross-dressing."

"Apa itu!?"

Mata Himeko berbinar-binar penuh rasa ingin tahu mendengar acara Kazuki. Ia bergumam, "Kazuki-san kan adiknya MOMO," lalu berpikir, "Bahu lebarnya bisa disembunyikan pakai selendang," atau "Tinggi badannya malah bisa membuatnya terlihat stylish!?" sembari menganalisisnya dengan wajah serius.

Pada akhirnya, Himeko menatap Hayato dan berbicara dengan nada yang tidak biasanya serius.

"Hei, Onii. Bagaimana kalau—"

"Tidak mungkin!"

Merasakan firasat buruk dari Himeko, Hayato langsung memotongnya mentah-mentah.

"Aku bahkan belum ngomong apa-apa! Onii pelit!"

"Aku tahu hal itu bakal terlihat mengerikan kalau dipake aku!"

"Kamu tidak akan tahu sebelum mencobanya!"

"Justru aku bilang tidak mau coba karena aku sudah tahu!"

Kakak beradik Kirishima itu mulai meninggikan suara. Saki dan Haruki saling bertukar pandang, tersenyum melihat interaksi yang menghangatkan hati itu.

Namun, Saki terdiam sejenak untuk berpikir.

Himeko adalah gadis yang langsing dan sangat manis, bahkan untuk ukuran anak kota.

Dan Hayato, kakak kandungnya, memiliki fitur wajah dan aura yang mirip. Sejak pindah ke kota, Saki pernah melihatnya berdandan beberapa kali, dan kenangan itu sukses membuat jantungnya berdegup kencang.

Jadi, ketika ia mencoba membayangkan Hayato berdandan sebagai perempuan—jantungnya berdegup tak terkendali.

Jika Hayato versi perempuan mendekatinya… pikiran itu membuat tubuhnya terasa panas. Ia menempelkan kedua tangannya ke pipinya yang memerah sambil menggeliat gelisah.

(Aku… aku bisa jadi gadis nakal…!)

Saat Saki tenggelam dalam fantasi liarnya, Haruki tiba-tiba bergumam dengan nada penuh pencerahan.

"…Hayato melakukan hal seperti itu sepertinya malah bakal cocok."

Mendengar itu, mata Saki langsung melebar. Ia mencondongkan tubuh ke depan dan menggenggam kedua tangan Haruki dengan penuh antusias.

"Kan!?"

"Jangan bilang kamu juga, Saki-san!?"

Jeritan putus asa Hayato menggema di ruang makan keluarga Kirishima.

Malam tiba dengan cepat, mengejar matahari terbenam, dan suasana di luar pun menggelap.

Daun-daun berwarna-warni di bawah lampu jalan bergoyang, berbisik seolah mencerminkan isi hati Saki.

Dalam perjalanan pulang dari rumah keluarga Kirishima, Saki berjalan berdampingan dengan Haruki dalam langkah yang ringan.

Pikiran Saki tentu saja melayang pada festival budaya SMA Hayato dan Haruki.

Tidak seperti Himeko, kesan pertama Saki terhadap festival SMP-nya sendiri adalah terasa biasa saja. Jujur saja, rasanya sedikit mengecewakan. Terutama setelah melihat adegan-adegan meriah dan mendebarkan dari manga dan drama sejak pindah ke kota, hal itu membuat festival sekolahnya terlihat semakin biasa.

Namun, festival SMA yang dideskripsikan Hayato dan Haruki saat makan malam tadi sangatlah berbeda. Itu adalah dunia di dalam buku cerita yang selama ini ia impikan.

Membayangkan berkunjung ke sana membuat jantungnya tidak bisa berhenti berdegup kencang.

"Festival ya? Aku jadi tidak sabar."

"Ah, ya. Benar."

Mencoba berbagi kegembiraannya dengan Haruki, ia justru mendapat respons yang datar dan tampak tidak fokus. Haruki sepertinya sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.

"Haruki-san?"

Padahal mereka sangat bersemangat membahasnya sejak keluar dari rumah Kirishima, membuat Saki memiringkan kepalanya karena penasaran. Haruki mengerang pelan, "Hmm," sambil mengerutkan keningnya, lalu berbicara dengan ragu-ragu.

"Hime-chan sepertinya bakal populer di kalangan cowok… ya kan?"

"…Eh?"

Saki menghentikan langkahnya, mengerjap kebingungan mendengar ucapan itu.

Himeko populer di kalangan cowok. Ia sama sekali tidak pernah memikirkan hal itu.

Mengingat kembali sosok Himeko di sekolah, tidak pernah ada rumor percintaan tentangnya. Yang ada hanyalah ia yang sering dijahili oleh teman-teman ceweknya seperti Honoka.

Meskipun Himeko sangat menyukai cerita romantis di manga dan drama, ia tampaknya belum tertarik pada percintaan di dunia nyata. Kesehariannya yang biasa saja seharusnya sudah memperjelas hal itu bagi Saki maupun Haruki.

Tidak yakin dengan maksud dari pertanyaan tersebut, Saki menatap lurus ke mata Haruki. Haruki menatap ke depan, melanjutkan langkahnya, dan berbicara terbata-bata.

"Habisnya, festival itu menarik banyak orang dari sekolah lain yang datang cuma buat mencari koneksi. Hime-chan itu manis, ceria, dan sedikit polos, jadi aku khawatir dia bakal jadi sasaran."

"Ah… Maksudnya, dia bakal ikut begitu saja sama orang yang baru kenal kalau dibisiki soal okonomiyaki atau pisang cokelat…"

"Nah, kan?"

"Hehe, iya juga ya."

Menbayangkannya dengan mudah, mereka berdua saling melempar senyum penuh masalah sekaligus pasrah.

Kekhawatiran Haruki memang masuk akal.

Namun, Saki sangat yakin akan satu hal.

"Tapi Hime-chan akan baik-baik saja."

"…Eh?"

Giliran Haruki yang kini mengerjap tak percaya.

Sambil menatap ke depan, Saki memikirkan sahabat baiknya, Himeko.

Memang benar, Himeko itu pemalu dengan orang asing, pelupa, ceroboh, dan mudah tertarik dengan hal-hal yang menarik perhatiannya dengan gaya jalannya sendiri yang santai.

"Hime-chan punya mental yang jauh lebih kuat dari yang kamu bayangkan. Dia bisa melihat niat jahat seseorang dan tidak akan pernah mundur."

"…Hime-chan?"

"Iya. Aku dengar karena dia cukup mencolok, ada orang-orang yang sempat bergumam 'sok banget dia' di dekatnya, meniru gaya bicaranya yang medok, atau mencoba memberinya julukan aneh. Tapi dia mengabaikan semua itu begitu saja."

"Begitu ya…"

Semangat Himeko sangat tangguh. Ia bisa dengan tegas mengatakan tidak pada hal-hal yang tidak disukainya.

Bahkan ketika ibunya jatuh pingsan dan dunianya hancur lebur, ia tetap bisa bangkit dengan usahanya sendiri.

Melihat sahabatnya selalu merintis jalannya sendiri memberikan Saki keberanian untuk melangkah ke kota ini dan terus menginspirasinya hingga sekarang.

Oleh karena itu, Saki mengangguk kepada Haruki dengan senyuman penuh keyakinan untuk megakhiri kekhawatirannya.

Berpisah dengan Haruki di depan pintu masuk apartemen, Saki melangkah masuk ke dalam rumahnya dan menyalakan lampu. Ucapan "Aku pulang" miliknya bergema hampa di ruangan yang kosong, memaksanya untuk kembali berhadapan dengan kesendirian.

Lebih dari sebulan sejak pindah, ia tetap tidak bisa terbiasa dengan momen ini. Secercah rasa kesepian meresap ke dalam dadanya.

"…Ah."

Tepat pada saat itu, seolah diatur waktunya, ponselnya berdering menandakan sebuah pesan masuk.

Secara refleks ia mengeceknya, dan ternyata pesan itu berasal dari ayahnya.

"Dia sudah tumbuh sebesar ini."

Pesan itu menyertakan foto kucing kesayangannya, Tsukushi, yang sedang tidur telentang dengan bahagia di dalam kotak kardus yang penuh. Di sebelah foto itu terdapat foto lamanya saat ia masih lebih kecil, di mana masih banyak ruang tersisa di dalam kotak tersebut.

Hampir dua bulan sejak bergabung dengan keluarga Murao, Tsukushi memang sudah tumbuh sangat besar.

Meski begitu, ia tetaplah seekor anak kucing. Dengan semakin banyaknya makanan sapih belakangan ini, ia pasti akan terus tumbuh.

Bibir Saki terukir membentuk senyuman. Ia mengunggah foto tersebut ke dalam obrolan grup dengan caption, "Tsukushi hari ini," lalu berjalan menuju kamar mandi sambil mengganti seragamnya.

Sejak pindah, menyiapkan air berendam terasa seperti sebuah pekerjaan rumah, jadi ia lebih sering mandi menggunakan shower. Namun, seiring dengan semakin dalam-nya musim gugur, ia mulai merindukan berendam di dalam bathtub. Setelah mandi dengan air yang sedikit lebih hangat dari biasanya, ia mengenakan yukata dan mengecek ponselnya di atas meja, lalu menyadari adanya sebuah notifikasi baru.

"…Eh?"

Berpikir bahwa itu adalah reaksi atas foto Tsukushi, ia langsung mematung saat melihat nama pengirimnya.

Airi Sato.

Seorang model yang sedang naik daun, seseorang yang ditukar kontaknya oleh Saki tanpa mengetahui identitas aslinya—seseorang yang sangat mempesona.

Pertemuan mereka adalah murni kebetulan. Menganggapnya sebagai seorang kenalan saja sudah terasa terlalu lancang bagi Saki. Mereka hidup di dunia yang benar-benar berbeda.

Jadi, apa artinya ini?

Kenapa harus aku?

Pikirannya berputar kacau, jantungnya berdegup kencang karena syok. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia dengan hati-hati membuka pesan tersebut.

"Um, aku ingin bertanya—atau lebih tepatnya, berkonsultasi—tentang festival budaya. Apakah kamu punya waktu?"

Sensasi dingin merayap di tulang belakangnya, seolah ada sebatang es yang ditusukkan ke tubuhnya.

Ia teringat kembali pembicaraannya dengan Haruki tadi.

—Orang-orang datang mencari koneksi.

Kata-kata Airi tentang seseorang yang disukainya melintas di benaknya, dan ia menggelengkan kepalanya pelan. Hal itu seharusnya tidak berlaku untuk seorang Airi Sato. Namun, Airi sangat dekat dengan MOMO, yang kakaknya adalah Kazuki, dan ia juga tampak akrab dengan Hayato.

Tidak mungkin, batinnya. Perasaan Airi terdengar sudah ada sejak lama, dan Saki berusaha keras menepis pikiran itu.

Menatap layar ponselnya sambil mencoba membalas, jari-jarinya hanya bergerak tanpa arah.

Kata-kata Haruki sebelumnya, "Hime-chan sepertinya bakal populer di kalangan cowok… ya kan?" kembali bergema di dalam kepalanya yang kalut.

Apakah Hayato populer?

…Ia tidak tahu. Ia tidak pernah memikirkan hal itu.

Namun, ia pernah mendengar bahwa gadis-gadis di kota ini sangat berani.

Membayangkan Hayato dikejar-kejar oleh banyak gadis membuat rasa gelisah di dadanya semakin membesar.

Oleh karena itu, untuk menepis kekhawatiran tersebut, Saki mengetuk nomor telepon Airi.

"…Ah."

"Halo, um—"



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close