Epilog
Kembang
api mulai meluncur ke angkasa.
Namun, di
sudut sepi dekat kantor kuil, Kazuki yang duduk di sebelah tempat cuci tangan
sedang mendinginkan pipinya yang bengkak menggunakan sapu tangan basah sambil
omeli oleh Himeko.
"Kazuki-san,
sebenarnya apa yang kamu pikirkan sampai nekat melompat seperti itu?! Kamu
benar-benar membuatku terkejut, dan pipimu jadi merah serta bengkak tahu!"
"Haha,
bagian dalam mulutku juga cukup parah. Kurang lebih aku bakal sariawan mulai
besok."
"Ini bukan
waktunya tertawa!"
Dimarahi oleh
adik temannya—Himeko, yang berdiri berkacak pinggang dengan pipi menggembung
karena kesal—pasti terlihat sangat menyedihkan sekaligus kocak.
Namun, hati
Kazuki terasa begitu jernih dan cerah hingga sebuah senyuman terus terukir di
bibirnya meski situasinya seperti ini.
Ia melirik ke
arah Hayato secara diam-diam.
Hayato rupanya
juga sedang diceramahi oleh Saki.
"Aku
benar-benar kaget! Tiba-tiba menerjang begitu saja tanpa perhitungan,
sampai-sampai berkelahi... Jantungku copot melihatnya!"
"Yah, eh,
itu... tubuhku bergerak sendiri, tahu, rasanya seperti..."
"Memangnya
apa yang mau kamu lakukan kalau sampai terluka, Onii-san? Ampun deh!"
"Uh, yah...
maaf."
Tentu saja,
ucapan provokatif dan tekel yang dilakukan Hayato bukanlah hal yang patut
dipuji. Sepertinya ia pun menyadarinya, terlihat dari bahunya yang menciut
karena rasa bersalah.
Menangkap tatapan
Kazuki, Himeko melihat keadaan kakaknya lalu menghela napas pasrah sembari
bergumam, "Beneran deh, Onii juga sama saja brengseknya."
Namun, Kazuki
memiliki sesuatu untuk dikatakan kepada Hayato. Dengan sedikit malu-malu, ia
pun membuka suara.
"Tapi, aku
benar-benar senang kamu ikut turun tangan, Hayato-kun. Serius, senang banget.
Maksudku, kupikir kamu cuma cowok bodoh, tapi..."
"Wah, terima
kasih banyak atas pujian 'bodoh' itu."
"Haha, tapi
jujur saja, akulah orang paling bodoh sedunia karena melayangkan tinju itu
tadi."
"Aku nggak
pernah menyangka kamu bakal melakukan hal seperti itu, Kazuki."
"Haha,
aneh, kan? Tubuhku tiba-tiba... bergerak sendiri. Kayak refleks gitu... Eh,
tunggu—"
Kazuki
menghentikan kata-katanya, kesadaran mulai menghampirinya.
Ekspresinya
berubah serius saat ia menoleh ke arah kantor kuil, tempat Haruki, Iori, dan
Ema sedang menjelaskan keributan tadi. Dengan suara yang jernih dan menggema, ia
mengungkapkan isi hatinya.
"Semua ini
pasti karena aku menyayangi kalian—Hayato-kun, Himeko-chan, kalian semua—jauh
melebihi yang kusadari selama ini."
"K-Kazuki!?"
"Kazuki-san!?" "A-A-Apa-apaan!?"
Kata-kata itu
begitu terus terang, bahkan Kazuki sendiri merasakan gelombang rasa malu hingga
pipinya terasa panas terbakar.
Hayato dan Himeko
tertegun, kehilangan kata-kata. Saki tampak kebingungan, matanya beralih antara
Kazuki dan kakak beradik Kirishima itu.
Meski
begitu, hatinya terasa begitu ringan.
Beban
keruh yang selama ini bersarang di dadanya, mengendap bagai lumpur, telah
lenyap sepenuhnya. Ia merasa seperti terlahir kembali.
"Setelah
kejadian dengan orang-orang itu, aku membangun tembok pembatas antara diriku
dan orang lain. Aku jadi takut untuk mempercayai siapa pun. Tapi, melihat
Hayato-kun di sana tadi, aku jadi yakin sepenuhnya—kamu adalah teman sejati. Aku bahkan sudah diselamatkan sejak
lama..."
"Uh,
ya..."
Kazuki tahu kalau
ia sedang melontarkan kalimat-kalimat yang memalukan. Hayato tampak merona
merah, jelas-jelas kebingungan bagaimana harus meresponsnya.
Namun, ia harus
mengucapkannya lewat kata-kata. Ia harus mengatakannya.
Perasaan tidak
akan pernah tersampaikan kepada orang lain kalau tidak kamu suarakan—bukankah
Iori dan Ema baru saja mengajarinya hal itu?
Masih ada
satu hal lagi yang harus ia katakan, dengan jelas dan langsung.
Dengan
raut wajah yang sedikit gugup, Kazuki berdiri—membuat pipinya yang bengkak
semakin memerah—lalu mengulurkan tangannya kepada Himeko dengan ketulusan yang
tak tergoyahkan.
"Aku
punya banyak masalah psikologis soal perempuan. Tapi, kamu berbeda,
Himeko-chan. Kamu selalu memperlakukanku dengan begitu natural, dan hari ini,
kamu melihatku sebagai diriku sendiri, bukan sekadar kakak dari saudaraku.
Kalau dipikir-pikir, kamu juga sudah banyak menyelamatkanku. Jadi!"
"Eh,
a-apa!?"
"Aku ingin
menjadi temanmu, Himeko-chan. Bukan sekadar teman kakakmu atau adik dari
temannya—tapi benar-benar teman sejati!"
"~~~~!?"
Ia memanfaatkan
momentum saat itu untuk menyuarakan apa yang sudah lama dipendamnya.
Namun,
bagi Himeko, hal itu datang terlalu mendadak. Wajahnya berubah merah padam
hingga hampir mengeluarkan uap dari kepalanya. Ia tergagap mengucapkan
"Ehh..." dan "Ahh," sementara bola matanya berputar pusing.
Hayato dan Saki pun sama terkejutnya.
Uluran
tangan Kazuki menggantung begitu saja di udara.
Mungkin
hal ini justru membuatnya merasa terganggu—pikirnya, wajahnya sempat mengernyit
sedih sesaat. Namun, ia tetap melangkah maju.
"Himeko-chan—"
"Kazuki-san!"
"Y-Ya!"
"Kamu
nggak perlu ngomong separah itu—kita kan memang sudah... Tunggu, ada apa dengan
lenganmu itu!?"
Himeko
meraih tangannya dengan tepisan yang cukup kuat, namun matanya langsung melebar
saat melihat luka gores yang tampak menyakitkan mengintip dari balik lengan
bajunya, lalu ia pun meninggikan suaranya.
Kazuki,
yang baru menyadarinya untuk pertama kali, berkata dengan santai, "Oh,
mungkin waktu mereka mendorongku ke tanah tadi?"
"'Mungkin'!? Yang benar saja! Uh, kalau cuma pakai plester luka bakal nggak mempan! Onii, Saki-chan, ayo kita ke minimarket!"
"Uh,
tentu."
"T-Tunggu,
sebentar!"
"…Ah."
Dengan itu,
Himeko berbalik, menyambar tangan Hayato dan Saki, lalu berlari kencang.
Tepat saat itu,
ia berpapasan dengan Haruki yang baru kembali dari kantor kuil, melontarkan
kata-kata cepat sambil berpapasan.
"Haru-chan,
tolong jaga Kazuki-san, ya!"
"…Hime-chan?"
Meninggalkan
Haruki dan Kazuki yang kebingungan, Himeko dan yang lainnya pun menghilang.
Haruki
menatap Kazuki dengan pandangan datar, membuat pemuda itu mengangkat bahu
dengan gaya kasualnya.
"Huh, cuma
kamu saja, Nikaido-san? Di mana Iori-kun dan Isami-san?"
"Mereka
masih di kantor kuil, menjelaskan—atau lebih tepatnya, mencari alasan. Tadi
yukataku berantakan jadi aku merapikannya dulu, dan rasanya aneh kalau
tiba-tiba ikut nimbrung di tengah pembicaraan, makanya aku duluan balik. Lagian
mereka juga nggak berniat memperpanjang masalah itu kok."
"Paham."
"…Jadi, apa
yang sudah kamu lakukan pada Hime-chan?"
"Aku cuma
minta untuk berteman."
"Sama
seperti yang kamu lakukan pada Hayato waktu itu?"
"Yup."
Kazuki tidak
begitu menangkap makna di balik ucapan Haruki. Ia mengerjap, memiringkan
kepalanya karena bingung.
Namun Haruki,
saat melihat wajahnya, menghela napas panjang dengan pasrah.
"Dari dulu
aku sudah mikir begitu, tapi kamu itu sebenarnya agak bodoh ya, Kaido?"
"Haha, aku
bahkan juga terkejut sendiri."
"Wajahmu
kelihatan cukup parah tuh."
"Iya,
sepertinya bakal bengkak agak lama."
"…Aku
selalu mengira kamu bakal menangani situasi seperti itu dengan lebih tenang,
Kaido."
"Ya,
aku yang dulu mungkin memang bakal begitu. Tapi..."
"Tapi?"
"Waktu
mereka mengejek Hayato-kun dan lancang menyentuh Himeko-chan serta yang lain,
pikiranku mendadak kosong..."
Haruki
mengamatinya dengan penasaran saat suaranya perlahan melemah, semakin pelan di
setiap kata seiring ingatannya yang kembali ke momen itu.
Mata
Kazuki melebar, menatap tangan kanannya sendiri, membiarkan perasaan yang
telanjur membuncah di dalam dadanya tumpah begitu saja, seolah untuk meyakinkan
dirinya sendiri.
"Itu
terjadi saat orang-orang keparat itu mencoba menyentuh Himeko-chan."
"Huh?"
"Gagasan
bahwa mereka menodai dan meraba-rabanya—aku nggak bisa memaafkan hal itu. Perasaan-perasaan itu melonjak begitu
saja, meluap-luap, dan memenuhi kepalaku..."
Di detik itu,
saat Himeko menunjukkan rasa takut kepada mereka, sesuatu di dalam diri Kazuki
tiba-tiba retak. Sesuatu itu benar-benar putus.
Kirishima Himeko.
Seorang gadis
yang perlahan menjadi dekat dengannya, seseorang yang sering menghabiskan waktu
bersamanya.
Mulai dari
menonton bioskop, bermain di kolam renang, hingga bekerja paruh waktu sepulang
sekolah.
Berbelanja di
berbagai kota, dan festival musim gugur hari ini.
Begitu ceria dan
mengikuti tren, ia selalu memancarkan senyuman kepada orang-orang di
sekitarnya.
Dan ia
tidak pernah memandang Kazuki dengan tatapan spesial.
Bahkan
hari ini, ia mengatakan bahwa kakaknya adalah kakaknya dan Kazuki adalah
dirinya sendiri, meniup pergi segala kegelisahan tipis di dalam hati pemuda
itu.
Keceriaan
Himeko yang memancar bagaikan matahari sangat cocok dengan senyumannya yang
menyilaukan.
Itulah
sebabnya ekspresinya yang jarang tanpa senyum justru tertanam kuat di dalam
ingatannya, menolak untuk pudar.
Seperti
saat ia menggumamkan tentang seseorang yang disukainya di kolam renang.
Atau saat
ia dengan tenang mengaku menyembunyikan sesuatu dari kakak dan sahabat baiknya.
Di balik
senyuman konstannya, ia pasti memikul luka yang begitu mendalam.
Sama
seperti Kazuki. Atau bahkan mungkin lebih dari itu.
Karena
itulah Kazuki sangat tidak ingin melihat gadis itu memasang ekspresi
menyedihkan seperti tadi.
Dan
kemudian, mengingat kembali kebahagiaan ketika Himeko menyambut uluran
tangannya tadi sambil berkata ingin berteman—dadanya berdegup kencang. Terasa
ngilu yang begitu tajam.
Ia
meremas yukatanya dengan tangan yang tadi ia tatap, meloloskan desisan
tertahan, "Ugh," sambil mengerutkan keningnya.
"Hei, Kaido,
lukamu sakit ya!?"
"Bukan
lukanya, tapi rasanya sakit. Dadaku, sakit banget... Oh, begitu rupanya—"
"Apa yang
kamu..."
Jantungnya
berdegup dengan kecepatan yang tidak wajar.
Untuk memastikan
emosi baru yang tengah bertunas di dalam dadanya ini, ia menimbang berbagai hal
di dalam sanubarinya.
Kakak dari
seorang sahabat yang sangat ia percayai.
Seorang gadis
yang baru saja ia ajak berteman.
Dan gadis itu
masih menyimpan perasaan untuk orang lain.
Namun seberapa
banyak pun ia menumpuk hal itu, emosi yang kian membuncah ini tetap tak mau
seimbang.
Wajahnya semakin
lama semakin mengernyit.
Tatapan cemas
Haruki bertemu dengannya. Ekspresinya pasti terlihat sangat buruk saat ini.
Tepat pada saat
itu, sebuah kembang api meledak di langit.
Disinari oleh
bunga api yang mekar di kegelapan malam, wajah Kazuki tampak seperti anak
hilang yang hampir menangis.
Rasa sakit yang
pernah ia rasakan dulu.
Ketakutan akan
mengubah status quo yang ada.
Kendati demikian,
ia tahu ia tidak boleh berpaling dari emosi ini—dan ia merangkainya menjadi
sebuah kalimat.
"Aku baru
saja jatuh cinta pada seseorang secara sungguh-sungguh, untuk pertama
kalinya..."
◇◇◇
"—Ha?"
Mata Haruki
melebar, ia menarik napas terkesiap seolah tidak mampu mempercayainya.
Hal itu sungguh
di luar dugaan.
Namun, itu adalah
sebuah kepastian.
Kata-kata Kazuki
menyebar bagaikan api liar, membakar dada Haruki.
Napasnya
tertahan. Kakinya terasa goyah. Jantungnya tak mau berhenti berdegup kencang.
Sempat
menyelidiki suasana hati Kazuki yang aneh sebelumnya, ia kini memahami
perubahan di dalam hati pemuda itu dengan sangat jelas.
Itu
adalah curahan dari emosi yang membara. Panas intens yang hanya bisa
dipancarkan oleh sesuatu yang tulus.
Dan
secara naluriah, ia tahu bahwa inilah hal yang berada di balik dinding yang tak
mampu ia gapai ketika mencoba menelusuri perasaan Saki tadi.
—Sungguh
emosi yang begitu masif.
Tanpa
sadar, ia meremas dadanya yang terasa sesak.
Bahkan
Kazuki sendiri tampak terkejut dengan kata-kata yang baru saja meluncur dari
bibirnya.
Tangannya
bergetar, dan ia menatap Haruki dengan mata memohon.
Haruki tidak tahu
bagaimana harus memproses semua ini.
Ia mengira Kazuki
mirip dengannya—seseorang yang hanya mengikuti arus bersama orang lain. Hal itu
membuat situasinya terasa semakin mengejutkan.
"Ada
ap—"
"Kazuki-saaaan,
obatnya sudah dapat!"
Tepat saat Haruki
hendak bertanya, Himeko dan yang lainnya kembali sambil berlari kecil.
Kazuki
tersentak kaget, matanya bergerak liar karena gugup.
Namun
Himeko tidak menyadari keadaannya, ia terlalu fokus ingin mengobatinya dan
langsung meraih tangan pemuda itu.
"Kita juga
dapat antiseptik, jadi tunjukkan lukanya."
"!? Eh,
nggak usah, Himeko-chan, aku bisa mengurusnya sendiri."
"Jangan
begitu dong! Tangan dominanmu yang terluka, kan? Memangnya kamu bisa merawatnya
sendiri dengan benar? Biar aku saja, ayo!"
"T-Tapi,
eh..."
"Ah."
Dalam
pergulatan kecil soal pengobatan itu, Kazuki tak sengaja menyenggol botol obat
dari tangan Himeko.
Ia
memasang ekspresi canggung.
Himeko
menggembungkan pipinya, membungkuk untuk memungut obat yang terjatuh.
Kazuki
jelas-jelas terlihat terguncang oleh emosinya sendiri.
Dan tidak
heran lagi—tetap tenang saat dilalap oleh kobaran api sebesar itu adalah hal
yang hampir mustahil.
Untung
saja ekspresinya tersamar oleh temaram cahaya dari orang-orang di sekitar.
"Ampun
deh! Berhenti bersikap sok kuat begitu dan biarkan aku mengobatimu!"
"…Baiklah."
Kazuki
merosot pasrah, membiarkan Himeko mengambil alih. Hayato terkekeh kecil dengan
bahu yang bergetar. Itu adalah usaha konyol untuk mencairkan ketegangan sesaat.
"Bikin
kacau saja ya, Kazuki?"
"…Haha,
bener juga sih."
"Sudah
beres! Eh, kembang apinya sudah mulai!"
"Maaf lama
menunggu ya!"
"Yo, sori
ya, agak lama tadi."
"Ema-san,
pacarmu tuh! Kembang apinya sudah mulai, ayo kita tonton!"
Ema dan Iori
kembali dari kantor kuil. Dipicu oleh seruan Himeko, bukan hanya mereka berdua
saja, tetapi Hayato dan Saki juga mulai bergerak.
"Tunggu,
Himeko-chan!"
Sadar dari
linglungnya usai diobati, Kazuki berlari mengejar Himeko yang kini mengalihkan
perhatiannya ke kembang api.
"S-Soal sapu
tangan ini, ada darahku, kotor banget, jadi nanti aku cuci lalu kembalikan
ya..."
"Huh? Nggak
apa-apa kok, aku nggak masalah sama hal semacam itu."
"Tapi aku
yang masalah!"
"Kalau kamu
bersikeras..."
Dengan itu,
Kazuki dengan agak memaksa mengambil sapu tangan berlumuran darah tersebut dari
tangan Himeko. Hilangnya ketenangan yang tidak biasa pada dirinya terlihat
begitu jelas.
Haruki tidak bisa
menahan rasa khawatirnya kalau-kalau pemuda itu memancing kecurigaan.
"Haruki?"
"!? Eh,
a-apaan? Ada apa?"
Hayato tiba-tiba
berbicara kepadanya, membuat wajah dan tubuhnya menegang, sementara jantungnya
berdetak dengan kecepatan aneh.
Pemuda itu
menatap reaksi berlebihannya dengan pandangan bingung.
"Bukannya
'ada apa'... Kamu nggak mau ikut?"
"Y-Ya, aku
ikut kok!"
"Hei,
tunggu—”
Entah kenapa
tidak sanggup menatap langsung ke mata pemuda itu, ia buru-buru menyusul yang
lain.
Ledakan kembang
api di depan sana melukis wajah orang-orang dengan warna-warni yang vibran.
Letupan beruntun
yang menggema di langit malam terasa seirama dengan rapuhnya hatinya sendiri.
Dadanya, yang
baru saja dihantam oleh panas membara dari Kazuki, sama sekali tidak
menunjukkan tanda-tanda mereda.
Rasanya
seolah-olah sesuatu yang selama ini tanpa sadar ia segel telah robek terbuka
begitu saja.
Emosi itu—
Matanya
bersiborok dengan pandangan Kazuki.
Senyuman pemuda
itu yang tampak malu-malu dan gelisah, entah kenapa, terasa begitu menyilaukan.
Persis seperti senyuman Saki.
Wajahnya
mengernyit sedih.
Ia tahu betul
bahwa tidak ada hal di dunia ini yang abadi tanpa berubah.
Bahwa beberapa
harapan, sebesar apa pun keinginannya, tidak akan pernah menjadi kenyataan.
Ia sempat mengira
Kazuki adalah orang yang mirip dengannya.
Namun pertanyaan
kenapa terus menghujam kepalanya tanpa henti.
Pemuda itu pasti
telah bergelut hebat dengan dirinya sendiri di momen itu.
Bahkan sedari
tadi, ia telah melakukan hal yang sangat tidak biasa ia lakukan.
Meski begitu,
Kazuki tetap memilih untuk mengikuti kobaran api yang membakar itu, menggeser
penimbang di dalam hatinya secara mutlak.
—Sekalipun hal
itu berarti mereka tidak akan pernah bisa berinteraksi dengan cara yang sama
lagi.
Kata Penutup
Halo semuanya!
Aku Hibariyu! Atau lebih tepatnya, kucing maskot dari Hibariyu, sebuah
pemandian umum di suatu kota! Meow!
Ini adalah
pertemuan keenam kita di sini, melampaui jumlah jari pada satu tangan. Ini
pencapaian yang cukup luar biasa, bukan? Jika dipikir-pikir kembali, aku sadar
kalau aku sudah menulis Tenbin sebagai seorang pengarang selama dua setengah
tahun berturut-turut. Aku terkejut karena ternyata waktu berlalu begitu cepat!
Namun, cerita ini
baru berjalan separuhnya saja, jadi aku bertekad untuk terus mengencangkan
ikatan dan membuatnya menjadi semakin seru untuk kalian semua!
Jadi, bagaimana
pendapat kalian tentang kisah di volume ini? Ceritanya berpusat di sekitar
Kazuki sekaligus menandai titik balik utama bagi keseluruhan narasi, kurasa.
Akhir cerita kali
ini adalah salah satu adegan yang sudah ingin kutulis sejak lama sekali. Aku
sangat bersemangat untuk merancangnya dengan pas, tetapi astaga, itu
benar-benar perjuangan yang berat.
Ketika aku
akhirnya mulai menuangkan pena ke atas kertas, rasanya sama sekali tidak klop.
Aku menghabiskan
waktu hampir sebulan untuk menguliti dan membentuk ulang bagian itu, menulis
draf berkali-kali, mengirimkannya ke editor, dan mendapatkan masukan seperti,
"Rasanya masih kurang pas," secara terus-menerus.
Pada akhirnya,
saran dan masukan dari editor memicu sebuah pencerahan, dan kami berhasil
membentuknya menjadi sesuatu yang benar-benar memuaskan, sangat selaras dengan
nuansa khas Tenbin! Aku sangat berterima kasih kepada mereka!
Untuk volume
selanjutnya, aku berencana untuk mengguncang keadaan dengan event klasik
sekolah—yaitu festival budaya—sekaligus menyoroti seorang gadis tertentu yang
akhir-akhir ini jarang mendapatkan jatah tampil.
Aku juga sangat
bersemangat untuk merajut adegan-adegan yang sudah lama ingin kutulis serta
beberapa bayangan petunjuk (foreshadowing) yang telah aku siapkan. Pasti
bakal seru banget!
Di luar hal itu,
aku adalah seorang penduduk yang tinggal di prefektur tanpa akses laut, jadi
aku punya kerinduan yang begitu besar terhadap hidangan hasil laut segar.
Didorong oleh
keinginan untuk keluar kota, aku mengemudi selama tiga jam ke Kota Arida di
Prefektur Wakayama, sebuah kota pelabuhan nelayan!
Tujuanku adalah
sebuah toko baru yang dikelola oleh koperasi perikanan lokal—bayangkan
tempatnya mirip seperti roadside station (michinoeki). Semangkuk
nasi seafood yang kukus di sana? Benar-benar sangat lezat!
Rasanya begitu
enak sampai-sampai aku memesan porsi kedua. Pada kunjungan berikutnya, aku
memesan semangkuk nasi shirasu, yang ditumpuk begitu tinggi dengan ikan teri
kecil sampai membuatku tertawa. Aku benar-benar ketagihan dengan tempat itu
sekarang.
Rupanya, mereka
juga rutin mengadakan pertunjukan memotong ikan tuna. Aku sedang merencanakan
waktu untuk perjalanan berikutnya agar bisa menikmati semangkuk penuh daging
tuna (haha).
Sedikit
cerita tentang kucing di rumah, meow.
Pernahkah
kalian mendengar tentang FIP, atau peritonitis infeksius feline?
Kucing
kami didiagnosis menderita penyakit itu.
Itu
adalah penyakit yang sebagian besar menyerang anak kucing, berkembang dengan
cepat, dan memiliki tingkat kematian mendekati 100%.
Belum ada
pengobatan yang mapan, dan satu-satunya harapan adalah obat tidak resmi yang
baru-baru ini dikembangkan di luar negeri.
Situasinya
benar-benar kacau. Tentu saja obat tersebut tidak ditanggung oleh asuransi
hewan peliharaan, dan harganya begitu mahal hingga menguras habis tabunganku.
Tapi nyawa jauh lebih berharga dari segalanya.
Setelah
hampir tiga bulan menjalani perawatan, sekarang kami berada dalam tahap
pemantauan masa remisi. Si kucing sudah bisa berlari kesana-kemari dengan penuh
tenaga, jadi untuk saat ini, aku bisa bernapas lega.
Ruangan kita
sudah hampir habis di sini.
Saat ini, dua
volume dari adaptasi manga karya Kina Oyama-sensei sudah terbit. Silakan dibaca
ya!
Kepada editor-ku,
K-san, terima kasih atas segala diskusi dan sarannya—terutama kali ini, kamu
benar-benar penyelamat!
Kepada
Shiso-sama, terima kasih atas ilustrasinya yang memukau.
Kepada semua
orang yang telah mendukungku dan seluruh pembaca yang telah mengikuti cerita
ini sejauh ini, rasa terima kasihku yang tulus. Aku akan sangat senang jika
kalian terus memberiku dukungan.
Dan surat
penggemar? Pesan-pesan itu selalu menjadi dorongan besar bagiku saat sedang
menulis.
Kemungkinan besar
jauh lebih besar daripada yang disadari oleh para pengirimnya.
Jadi, kumohon
kirimkan dengan santai saja—bahkan, silakan kirim secara nekat!
Bingung mau menulis apa? Cukup ketik satu kata "Meow" saja sudah lebih dari cukup!
Meow!
Desember
2022 Hibariyu



Post a Comment