NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 6 Chapter 5

Chapter 5

Meskipun Aku Menjadi Diri yang Berbeda


Malam itu, Hayato merayap ke tempat tidur lebih awal tetapi tidak bisa memejamkan mata.

Meskipun sekujur tubuh dan pikirannya terasa lelah akibat kejadian hari itu, sebuah kegelisahan aneh membuat matanya tetap terbuka lebar.

"…Haa."

Ia membalikkan badan entah untuk yang ke berapa kalinya, mengembuskan napas panjang ke arah langit-langit kamar yang gelap.

Sambil memiringkan kepala, ia melirik jam alarm di atas meja belajarnya—waktu baru saja menunjukkan lewat tengah malam.

Ia memperhatikan jarum detik bergerak membentuk separuh lingkaran, namun alih-alih rasa mengantuk, pikirannya justru semakin tajam.

Akhirnya, dengan ekspresi pasrah, Hayato bangkit duduk, menggaruk kepalanya dengan kasar, menyambar ponselnya, dan melangkah keluar ke arah balkon.

Dari kejauhan, kelap-kelip lampu bangunan memburamkan batas antara kota dan langit malam, membuatnya tampak samar dan tak bertepi.

"…Nggak ada apa-apanya dibanding Tsukinose," gumamnya, menyuarakan sebuah kebenaran yang jelas namun dibalut dengan emosi yang rumit.

Alasan di balik insomnia yang menyerangnya sudah sangat jelas.

Pandangannya tertuju pada ponselnya, di mana ia membuka sebuah gambar tertentu.

Gambar itu memperlihatkan Haruki sedang bernyanyi berdampingan dengan MOMO.

Semangat membara dari para penonton di momen itu masih menyala di dalam dadanya, membara secara diam-diam.

Tidak ada yang bisa menyangkal bahwa MOMO adalah bintang utama di atas panggung tersebut.

Pesonanya yang begitu natural, cara ia menguasai suasana dengan karismanya, serta kehadirannya yang memukau—tidak heran jika Himeko dan gadis-gadis muda begitu terpikat dibuatnya.

Dan sosok yang menyokong penampilan spontan itu dengan sempurna adalah Haruki.

Suaranya dijaga agar tetap lembut untuk memastikan MOMO bisa bersinar, berpadu selaras tanpa cela, lengkap dengan harmoni serta vokal latar yang ditempatkan pada waktu yang tepat. Gerakannya melengkapi energi bebas MOMO, semakin memperkuat daya tarik sang bintang utama.

Jika MOMO adalah matahari yang memancarkan cahaya terang, maka Haruki adalah bulannya, memantulkan cahaya tersebut dan menampilkan berbagai macam pesona yang tersembunyi. Sungguh memukau, hampir seperti sebuah sihir.

Itulah sebabnya Hayato, seperti banyak orang lainnya, mengangkat kamera ponselnya, mati-matian ingin mengabadikan momen singkat yang terpampang di layar.

"…Dia terlihat cantik, ya?"

Menatap lekat-lekat gambar Haruki di layar, ia tak sengaja melontarkan sebuah kalimat yang tak terduga.

Matanya membelalak tak percaya, lalu ia menggelengkan kepalanya seolah ingin mengusir perasaan yang tidak pantas dan tidak murni itu.

Disertai desahan mencemooh diri sendiri, ia kembali menatap ponselnya.

Sosok Haruki di dalam foto itu tidak berdandan secara berlebihan, namun ia memancarkan pesona yang begitu beragam dan memikat—dan Hayato menyadari bahwa mata gadis itu sama sekali tidak memantulkan bayangan siapa pun.

Sensasi dingin merayap menuruni tulang punggungnya.

"Sayapku diciptakan untuk mempertontonkan diri di hadapan orang asing yang tak bernama dan tak berwajah."

Ia teringat kembali ucapan yang sempat dilontarkan Haruki saat masih di Tsukinose.

Sebuah ketakutan, hampir seperti rasa ngeri, mencengkeram hatinya—ketakutan bahwa Haruki suatu hari nanti akan pergi jauh melampaui jangkauannya.

Fakta bahwa Sakurajima, seorang produser yang lihai, telah melirik bakat gadis itu seolah memperkuat kekhawatirannya.

Kecemasan yang tak dapat dijelaskan bergolak di dalam dadanya.

Dan Hayato tahu ada hal-hal di dunia ini yang bahkan usahanya sendiri tidak akan pernah bisa mengubahnya.

"Nama asli MOMO adalah Kaido Momoka. Dia adalah kakak perempuanku."

Perkataan Kazuki berputar-putar di dalam kepalanya.

Tiba-tiba, ia merasa seolah-olah dunia mereka berada di tempat yang sangat jauh dan mustahil untuk digapai.

"Sialan!"

Menolak untuk menerima kenyataan itu, ia menggaruk kepalanya dengan ganas lalu mengulurkan tangan ke arah langit sebelah barat.

Ia mencoba menggapai bayangan bulan sabit yang tampak samar, meredup tertelan cahaya terang kota, namun bayangan itu terlepas begitu saja dari sela-sela jarinya.

Kepalan tangannya tergantung sia-sia di udara malam yang kosong.

"…Apa yang sebenarnya sedang kulakukan?"

Sebuah dorongan gelisah bergolak hebat di dalam dirinya. Dengan terburu-buru memunggungi sang bulan, ia melangkah kembali masuk ke dalam kamarnya.

Keesokan paginya, ia mendapati dirinya kurang tidur.

Pikirannya terasa tumpul, namun kebiasaan yang sudah mendarah daging mendorongnya untuk tetap menyiapkan sarapan. Pintu ruang keluarga terbuka dengan suara klik, menampakkan Himeko, dengan wajah yang menyuarakan kepenatan akibat kurang tidur yang sama persis seperti dirinya.

Namun rambutnya tertata rapi, dan ia sudah mengenakan seragam sekolahnya.

Biasanya, Hayato mungkin akan menggoda adiknya mengenai pemandangan langka ini—bercanda tentang salju atau tombak yang turun dari langit, atau berharap adiknya bisa selalu berpenampilan rapi seperti ini. Namun pagi ini, ia cukup mengerti kondisi adiknya, sehingga ia hanya mengerutkan kening dalam diam.

Himeko meliriknya, membuka mulut seolah ingin mengatakan sesuatu, ragu-ragu sejenak, dan akhirnya memilih untuk tetap bungkam seraya duduk di meja makan. Sangat jelas bagi Hayato bahwa adiknya sedang kesulitan merangkai kata.

Ia merasakan hal yang sama, sama sekali tidak tahu harus berkata apa.

Ketika sarapan siap, kakak beradik Kirishima itu makan dalam keheningan, kepala sedikit menunduk, secara mekanis menyuapkan makanan ke dalam mulut mereka.

"…"

"…"

Suasana meja makan terasa sangat sunyi tidak seperti biasanya, dan mereka meninggalkan rumah sedikit lebih cepat dari waktu normal.

Di tempat janjian, Haruki dan Saki sudah menunggu lebih dulu.

"Ah."

"…Hei."

Saki mengeluarkan suara kecil saat menyadari kedatangan mereka, sementara wajah Haruki menunjukkan secercah keraguan, ekspresinya sulit dibaca saat ia mengangkat tangan sebagai bentuk sapaan. Melihatnya, jantung Hayato berdegup kencang tatkala kejadian kemarin berkelebat di benaknya, namun ia segera menggelengkan kepala dan membalas lambaian tangan itu sambil bergumam, "Yo."

Ketegangan yang canggung menggantung di udara saat mereka mulai melangkah berjalan.

Langit biru cerah diselimuti lembut oleh gumpalan awan tipis, dan angin musim gugur yang sejuk membelai pipi mereka. Sesekali, sepeda dan skuter melesat cepat menuju stasiun.

Haruki memecah keheningan dengan nada ragu-ragu.

"…Adiknya Kaido, ya? Itu beneran bikin kaget."

"Iya. Tapi kalau dipikir-pikir, masuk akal juga sih."

"Banget, aku setuju."

"Kalau buat aku, bukan cuma itu saja, tapi soal Sato Airi juga..."

"Aku sempat mikir kenapa Hayato bisa kenal sama seorang model, ternyata lewat jalur Kaido ya?"

"…Kurang lebih begitu."

Sato Airi. Mantan pacar Kazuki.

Kazuki sempat mengatakan bahwa hubungan mereka tidak lebih dari sekadar permukaan, namun sikap Airi mengisyaratkan hal sebaliknya, menciptakan ketidaksesuaian yang halus di antara mereka.

Dan berkat ketepatan berpikir gadis itulah kekacauan kemarin berhasil diredam. Apapun niat di balik tindakan Airi, Hayato merasa memiliki utang budi yang cukup besar padanya. Memikirkan hal itu membuat kerutan di antara alisnya semakin dalam.

Percakapan itu perlahan meredup, mengembalikan kecanggungan di antara mereka.

Di sebuah persimpangan jalan, Hayato, yang merasa mungkin pertanyaannya tidak pada tempatnya namun terdorong untuk mengucapkannya, bergumam, "Kira-kira bagaimana ya festivalnya nanti. Tapi, aku jadi tidak sabar..."

Begitu mereka mendekati area sekolah, semakin banyak siswa berseragam senada yang bermunculan, saling bertukar sapa dan menciptakan suasana yang hidup.

Melirik sekilas ke arah lapangan olahraga, Hayato memastikan tim sepak bola tidak sedang berlatih pagi ini sebelum akhirnya menyelinap masuk melalui pintu gerbang.

"…Ah."

"…Yo."

"…Um."

"…Ya."

Secara kebetulan, mereka berpapasan dengan Iori dan Ema di sana—sebuah momen pertemuan yang langka.

Jelas sekali bahwa mereka berdua juga terpengaruh oleh kejadian kemarin, membuat ucapan mereka terbata-bata.

Saat keempat orang itu berdiri dalam keheningan yang canggung, sebuah suara ragu-ragu "Ah" memecah keheningan. Kazuki baru saja tiba di tempat itu.

Rasa gelisahnya begitu nyata terlihat. Ia mencoba memaksakan senyuman khasnya, namun senyuman itu terlihat begitu kaku hingga terasa menyakitkan untuk dilihat.

Hayato tidak jauh lebih baik, ia berhasil memasang senyuman tegang saat memanggil, "Yo, Kazuki. Pagi—"

"!"

Namun seolah-olah teriakan itu adalah sebuah aba-aba, Kazuki langsung berlari kencang bagaikan kelinci yang terkejut, menghilang dalam sekejap mata sebelum siapa pun sempat menghentikannya.

Kelompok yang tersisa saling bertukar senyuman kecut, embusan napas mereka diiringi rasa lega yang tipis.

Hari itu, Kazuki sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya saat jam istirahat maupun jam makan siang.

"Dia nggak datang, ya?"

"Iya."

Ketika waktu di mana pemuda itu biasanya muncul telah lewat dan ia masih belum terlihat, Hayato, Haruki, Iori, dan Ema saling mengangguk lalu memutuskan untuk mendatangi kelas Kazuki.

Sesuai dugaan, pemuda itu tidak ada di sana.

"Kaido-kun? Entahlah, dia langsung pergi begitu jam istirahat dimulai," jawab salah satu teman sekelasnya saat ditanya.

Mereka sempat memeriksa kantin sekadar berjaga-jaga, namun tidak ada tanda-tanda kehadirannya di sana.

Sudah sangat jelas bahwa pemuda itu sedang menghindari mereka.

Selagi berada di sana, mereka memutuskan untuk membeli makan siang.

"Kekacauan macam apa ini..."

"Terus kita harus bagaimana sekarang?"

"Aku mau ke klub berkebun."

"Oke."

Hayato dan Haruki lantas berjalan menuju area petak bunga di belakang sekolah.

Tempat itu sesunyi biasanya, suara kebisingan dari jam istirahat terasa begitu jauh. Selain petak bunga milik klub berkebun, hanya ada tempat pembuangan sampah di sana, membuat sangat jarang orang yang mengunjungi area ini pada jam-jam seperti ini.

Berharap bisa menemukan teman sekelas mereka yang berpostur mungil di sana, Hayato justru dikejutkan oleh pemandangan tak terduga, membuatnya mengeluarkan suara dungu.

"—Ah."

Di bawah naungan pohon dekat petak bunga, Minamo dan Kazuki sedang berdiri saling berhadapan dan berbicara. Pasangan yang tak biasa itu membuat Hayato mengerjap kaget.

Menyadari kehadiran mereka, Kazuki memasang ekspresi malu-malu dan bersiap untuk segera pergi.

Minamo melirik bergantian antara pemuda itu dan para pendatang baru dengan panik, hingga Haruki mendekat dan bertanya, "Minamo-chan, apa yang kalian berdua bicarakan tadi?"

"Um, anu, aku nggak tahu detailnya sih, tapi... dia nanya gimana caranya bersikap kalau seseorang nggak sengaja tahu soal urusan keluarga yang susah buat diceritain..."

"Dia nanya hal itu ke kamu? …Kaido!"

"Haruki!" "Haruki-san!"

"!?"

Ekspresi wajah Haruki langsung mengeras seketika, dan ia melesat maju bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya, menutup jarak dengan Kazuki dalam sekejap mata.

Pemuda itu terlonjak kaget, melangkah mundur saat Haruki mencengkeram lengannya dengan tatapan tajam menusuk. Wajah Kazuki berubah kusut antara bingung dan ragu.

Haruki mendelik tajam, nyaris melotot, mengambil napas dalam-dalam, lalu melirik sekilas ke arah Hayato dan Minamo sebelum kembali menatap pemuda itu.

"Dengar ya, kamu bukan satu-satunya orang yang punya masalah keluarga yang nggak bisa diceritain ke orang lain. Hayato punya, Minamo-chan punya, aku juga punya... Jadi jangan berlagak seolah-olah cuma kamu sendirian yang merasakannya!"

Ia melontarkan kata-kata itu dengan ketus, lalu melepaskan cengkeraman di lengan Kazuki seolah sedang menepis sesuatu yang kotor.

Setelah itu, ia dengan cepat menyambar tangan Hayato dan Minamo, menarik mereka melangkah menuju petak bunga.

"Ayo pergi, Hayato, Minamo-chan!"

"Hei, tunggu sebentar!"

"Uh, anu..."

"…!"

Hayato dan Minamo saling bertukar pandang penuh kebingungan, memiringkan kepala mereka serempak.

Menghadapi kemarahan Haruki yang tak ditutup-tutupi itu, mereka kehilangan kata-kata.

◇◇◇

Begitu bel tanda berakhirnya jam pelajaran sekolah berbunyi, Haruki langsung bangkit berdiri dengan suara hantakan yang cukup keras, lalu mencengkeram lengan Hayato.

"Ayo pergi, Hayato."

"Wah, tunggu, mau ke mana!?"

"Ikut saja pokoknya!"

"…Ampun deh."

Topeng gadis baik-baik yang biasa ia kenakan sama sekali tidak terlihat. Perilaku yang tidak biasa ini kontan menarik perhatian dan tatapan dari teman-teman sekelas mereka.

Namun Haruki sama sekali tidak peduli, menyeret pemuda itu dengan paksa.

Hayato menyambar tasnya dengan terburu-buru, mengembuskan napas panjang sembari mengikuti langkah kaki gadis itu yang bergerak cepat menyusuri koridor dan pintu masuk. Bel baru saja berbunyi, jadi koridor masih cukup sepi—sedikit keberuntungan baginya.

Ia tahu Haruki tidak akan mau mendengarkan saat sedang dikuasai emosi seperti ini, jadi ia pasrah saja ditarik ke mana pun.

Mereka berjalan setengah berlari melewati kawasan perumahan hingga akhirnya tiba di depan rumah Haruki.

Masih menggenggam tangannya, gadis itu membuka kunci pintu, menaiki tangga dengan langkah bergemeretak, dan berhenti tepat di depan kamar tidurnya.

Saat tangannya meraih gagang pintu, ia tiba-tiba berseru, "Ah!"

"Tunggu sebentar di sini ya!"

"…Terserah."

Pintu kamar terbanting menutup, dan suara gemerisik kain terdengar dari dalam ruangan.

Apa sebenarnya yang sedang ia lakukan?

Hayato memutar otaknya namun tetap tidak bisa menebak apa pun.

Diseret ke sana ke mari menuruti kehendak egois gadis itu bukanlah hal baru—ia sudah sering mengalaminya saat masih di Tsukinose.

Memutuskan bahwa memikirkannya secara berlebihan adalah hal yang sia-sia, ia menggelengkan kepala lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Kalau dipikir-pikir lagi, sejak mereka mulai rutin makan malam di rumah keluarga Kirishima dan Saki pindah ke kota, ia sudah lama tidak berkunjung ke sini. Dari arah lorong, tidak ada satupun yang tampak berubah. Rumah ini masih terasa asing dan steril, hampir seperti tidak berpenghuni.

(…Dia tinggal sendirian di rumah sebesar ini, ya?)

Pikiran itu membuat kerutan kembali terbentuk di dahinya.

Pergolakan emosi yang tak dapat dijelaskan bercampur dengan aroma samar beraroma manis—berbeda dari aroma rumahnya sendiri—yang membuatnya merasa sedikit pusing.

Aroma itu kemungkinan besar adalah wangi tubuh Haruki. Wajar saja, mengingat gadis itu tinggal seorang diri. Namun entah kenapa, hal itu semakin memperkuat kesadarannya bahwa ia sedang berdua saja di dalam rumah bersama gadis itu.

Ia pernah berkunjung ke rumah ini sebelumnya. Berduaan saja dengannya bukanlah hal yang langka.

Sekarang, atau... bahkan di masa lalu.

Namun suara gemerisik kain tipis yang terdengar samar dari balik pintu kamar itu berhasil mengaduk-aduk imajinasinya, membuatnya merasa gelisah.

"…Sialan!"

Sambil meringis masam, ia menggaruk kepalanya tepat saat pintu kamar terbuka dengan bunyi klik.

"Maaf ya sudah menunggu lama! Bagaimana menurutmu!?"

"Hah?"

Suara aneh lolos begitu saja dari mulutnya.

Haruki memasang pose dramatis, dan entah kenapa, rambutnya kini berwarna pirang.

Rambutnya yang mengembang diikat menjadi dua bagian (twin tails), seragam sekolahnya yang biasanya rapi tampak sedikit berantakan, dan roknya terlihat jauh lebih pendek dari biasanya.

Sebuah kalung berkilauan melingkar di lehernya, lengkap dengan riasan wajah yang mencolok.

Kesan yang dipancarkannya begitu gemerlap—benar-benar menyerupai seorang gyaru seutuhnya, sangat bertolak belakang dari penampilannya sehari-hari.

"Haruki…?"

"Yup, ini aku!"

"Rambutmu… jadi pirang…"

"Oh, yang ini? Ini cuma wig kok."

"Begitu ya…?"

Responsnya meluncur keluar dalam bentuk kalimat tanya, saking tidak dikenalnya lagi sosok gadis di hadapannya itu.

Merasa bingung dengan tujuan sebenarnya, ia membeku, mengerjap-ngerjapkan matanya dengan cepat, sementara Haruki menyeringai usil.

Di satu tangan ia memegang sebuah botol semprotan; sementara tangan yang satunya memberi gestur menyuruh Hayato mendekat.

"Sekarang giliranmu, Hayato."

"Aku?"

"Duduk saja diam di situ."

"Uh, oke… Memangnya itu apa?"

"Semprotan warna rambut. Tenang saja, nanti bisa dicuci kok. Mungkin."

"Mungkin?"

"Ini juga pertama kalinya aku pakai!"

Sejak kapan gadis itu sempat-sempatnya membeli wig dan semprotan rambut seperti itu?

Gadis itu mendudukkannya di lantai lorong, mengikat rambut Hayato yang sedikit memanjang menggunakan karet gelang, menyemprotkan busa dari dalam botol kaleng, lalu menyisirnya perlahan.

Beberapa saat kemudian, ia selesai dengan senyuman penuh kemenangan, lalu menyodorkan sebuah cermin kecil genggam.

"…Wah."

Suara aneh kembali meluncur keluar.

Bayangan di dalam cermin memantulkan sosok pria berpenampilan urakan dengan highlight rambut berwarna merah—sama sekali bukan dirinya.

Saat ia mengerjap kaget, Haruki melonggarkan dasinya, membuka beberapa kancing atas kemejanya, dan menarik keluar ujung kemeja dari celana, menyulap penampilannya menjadi mirip berandalan playboy yang biasa nongkrong bersama para gyaru.

Perbedaan drastis dan rasa malu yang melanda membuat tubuhnya menggeliat tidak nyaman.

"Nah, kelihatannya sudah pas kan!"

"…Sebenarnya ada apa ini?"

Ketika ia melirik tajam penuh tanda tanya, Haruki menyeringai lebar, mengedipkan sebelah mata sambil mengacungkan jempol.

"Ayo kita pergi jalan-jalan ke kota dengan dandanan begini!"

"Hah?"

Kembali diseret oleh Haruki, mereka menaiki kereta menuju distrik pusat perbelanjaan kota yang ramai.

Bahkan di dalam kereta pun, mereka menarik perhatian lebih banyak orang dari biasanya.

Haruki, yang aslinya sudah mencolok, kini tampil dengan busana menyala yang sengaja mengundang atensi publik—bukan hal yang aneh jika orang-orang menatap mereka.

Bagi Hayato, penampilan baru gadis di sampingnya ini terasa sangat luar biasa, namun fitur wajah dan proporsi tubuhnya yang sempurna membuktikan bahwa kecantikan memang bisa mengenakan gaya apa saja dan tetap terlihat memukau.

Dan perhatian orang-orang itu tidak hanya tertuju pada Haruki, melainkan juga padanya yang berdiri tepat di sebelah gadis itu.

Berbeda dari rasa percaya diri yang dipancarkan Haruki, ia justru bertanya-tanya apakah dirinya tampak gugup atau terlihat salah tempat.

Apakah penampilannya terlihat aneh? Lebih dari sekadar mengenakan pakaian yang berbeda, ia merasa seperti sedang mengenakan kostum teater, membuatnya tidak bisa bersantai sama sekali.

Sekilas ia melirik bayangan pantulan dirinya pada kaca jendela kereta.

…Tanpa disangka, penampilannya tidak terlihat buruk. Setidaknya itulah yang ia harapkan.

Mereka tiba di sebuah gedung tertentu.

"Kita sudah sampai!"

"…Pusat permainan arcade?"

"Yup, dan tempat itu adalah tujuan kita!"

"Itu kan…"

Ia sedikit mengerutkan keningnya.

Haruki menunjuk ke arah bilik mesin foto box yang bisa mengubah hasil jepretan menjadi stiker dekoratif—sebuah fasilitas yang sangat digemari para gadis namun terasa asing bagi para cowok, terutama bagi mereka yang datang dari pedesaan Tsukinose. Ini adalah pengalaman pertama Hayato melihatnya secara langsung.

"Hari ini, aku pikir kita harus melakukan sesuatu yang cocok dengan dandanan kita ini."

"Oh ya?"

Apakah pakaian ini sengaja dipakai demi menyesuaikan suasana?

Ia mengikuti langkah Haruki yang langsung menyerbu masuk ke dalam bilik mesin foto tersebut.

"'Pasang pose'? Apa maksudnya? Kayak begini!? Sini Hayato, kamu juga ikutan!"




“Whoa… Tunggu, aku memang berpose, tapi bukankah pose ini berasal dari acara pahlawan super lama yang kita tonton waktu kecil!?”

“Hehe, aku tahu kamu pasti bakal ikut-ikutan!”

“Ampun deh.”

“Berikutnya… Wah, pilihannya banyak banget! Pfft! Hayato, mata bersinar terang banget gitu!”

“Haha, apaan nih!? Coba pose ini… Eh, mataku jadi besar banget!?”

“Hahaha, ada-ada saja! Oh, kita juga bisa nambahkan hidung dan telinga hewan lho!”

“Hei, waktunya mau habis!”

“Wha—oh tidak, kita harus bagaimana!?”

“Bikin keliatan keren aja, cepat!”

“Baiklah!”

Baik Hayato maupun Haruki belum pernah menggunakan bilik foto sebelumnya, jadi mereka meraba-raba pengoperasiannya dengan canggung.

Begitu waktu habis, stiker hasil cetakan tersebut berubah menjadi konyol kekanak-kanakan.

Hasil yang absurd itu membuat mereka tertawa terbahak-bahak, bingung harus berbuat apa dengan stiker tersebut.

Berikutnya, mereka mengunjungi kedai es krim lembut pop-up yang terkenal dengan sajian estetisnya untuk media sosial.

Merasa kewalahan oleh kerumunan gadis-gadis bersemangat di sekitar mereka, Hayato menahan godaan Haruki saat ia melongo menatap es krim lembut di tangannya.

“…Ini besar banget.”

“…Iya, dan warna-warni banget.”

Ditumpuk dengan berbagai rasa seperti ramune, matcha, stroberi, rare cheesecake, cokelat, vanila, ubi ungu, dan sakura latte, es krim lembut delapan lapis itu tampak sangat meriah.

Tidak heran jika camilan ini menjadi viral di media sosial. Namun Hayato mengerutkan kening.

“…Apa kita bisa menghabiskan semua ini dan masih punya ruang di perut untuk makan malam?”

“Ugh, Hayato, jangan jadi perusak suasana deh. Hari ini kan hari spesial, jadi tidak apa-apa!”

“Ada benarnya juga. Hei, Haruki, kamu tidak mau foto-foto dulu?”

“Oh… Iya, mungkin saja…”

Mengedarkan pandangan ke sekeliling, mereka melihat pengunjung lain sedang berfoto, berpose dengan berbagai ekspresi dan sudut pengambilan gambar agar es krim tersebut tampak menonjol.

Haruki berdendang kecil, mencoba berbagai pose dan gestur, jelas-jelas sedang merencanakan jepretan terbaiknya.

Hayato, yang tidak tertarik dengan hal semacam itu, hanya memandangi es krimnya lalu mengambil foto sederhana. Warna-warna cerah di layar ponselnya sepertinya akan menjadi bahan cerita yang bagus. Ia terkekeh, membayangkan Himeko berteriak, “Curang banget!”

“Hei, Hayato. Suasana warna-warni ini tidak mengingatkanmu pada tongkat sihir gadis penyihir?”

“Lumayan mirip, ya?”

Sambil tersenyum licin, Haruki berputar, memasang pose layaknya gadis penyihir di acara televisi Minggu pagi.

“‘Dengan kelembutan yang kreami, luluhkan hati mereka, Cu—’ Eh!?”

“!?”

Namun saat ia memutar es krim lembut itu bagaikan tongkat baton, camilan tersebut bergoyang dan nyaris jatuh ke tanah. Ia berhasil menangkapnya tepat waktu, menyelamatkannya agar tidak berantakan tetapi membuat tangannya belepotan krim lengket. Meringis menatap kekacauan di tangannya, ia tampak kesal.

“Kamu tidak apa-apa, Haruki?”

“Tanganku jadi korban, tapi sisanya selamat. Ugh, gagal deh momen fotonya.”

“Soal itu… Um, nih…”

Hayato memperlihatkan layar ponselnya dengan ekspresi bersalah.

Layar tersebut mengabadikan momen ketika Haruki dengan panik mencoba meraih es krim yang hampir jatuh—sebuah momen memalukan yang tampak sangat kocak. Gadis itu langsung tertawa terbahak-bahak.

“Maaf ya, aku tadi mau bantu tapi tanganku penuh, jadi tidak sengaja memotretnya.”

“Haha, mau bagaimana lagi. Dimaafkan deh. Nanti kirim fotonya ke aku ya?”

Sambil menjilat krim yang menempel di jarinya, ia tersenyum usil.

Hayato tertawa, mengangguk setuju dengan ucapan “Baiklah” lalu menjilat es krim miliknya sendiri.

Setelah selesai dan mencuci tangannya di toilet sebuah gedung, mereka menuju gedung pencakar langit terkenal, mengincar dek observasi di lantai paling atas.

Mereka sering melihatnya dari bawah namun belum pernah berkunjung ke sana. Rasa penasaran mendorong pilihan tersebut.

“…Wah.”

“…Luar biasa.”

Melangkah keluar dari lift ekspres, mereka terkesiap melihat pemandangan di hadapan mereka.

Bentang kota membentang tanpa batas di bawah sana, bangunan-bangunan dengan berbagai bentuk tampak bagaikan mainan yang direkatkan ke tanah, semuanya terlihat begitu kecil.

Jika bangunan-bangunan saja tampak sekecil itu, betapa mungilnya ukuran manusia?

“…Di mana lingkungan rumah kita ya?”

“…Mungkin di sebelah sana?”

“Haha, ukurannya terlalu kecil untuk dikenali.”

Tata letak kota yang rumit, di mana tidak ada satupun area yang sama persis, menyerupai sebuah labirin raksasa.

Namun di sinilah tempat mereka tinggal, menjalani kehidupan sehari-hari.

Mereka berdiri terpaku, terpesona menikmati panorama tersebut.

Langit di sebelah barat mulai diwarnai semburat merah.

Hari masih sore, namun hari-hari di musim gugur berlalu dengan cepat—kegelapan akan segera tiba.

Momen ini menandai berakhirnya hari ini.

“Rumah kita lumayan besar juga, ya?”

“Aku baru sadar sekarang kalau aku benar-benar tinggal di kota.”

“Di Tsukinose, pemandangan tertinggi itu dari atas gunung, melihat ke arah air bendungan, kan?”

“Iya, tidak ada apa-apanya dibanding tempat ini.”

“…Kurang tahu kenapa, tapi aku jadi mengerti kenapa kamu mau punya skuter, Hayato.”

“Hm?”

“Karena kalau kamu mau, kamu bisa pergi ke mana saja yang bisa kamu lihat dari sini. Rasanya… bebas, ya?”

“…Haha, benar juga, kan?”

Hayato mengangguk malu-malu, ucapannya tepat mengenai sasaran.

Haruki, dengan pipinya yang merona karena pantulan matahari terbenam, tersenyum malu-malu ke arahnya.

Bagai anak-anak yang berbagi rahasia atau merencanakan kenakalan, atmosfer yang menggelitik hati tercipta di antara mereka saat memandangi pemandangan kota.

Mereka turun dari kereta dan melewati gerbang stasiun.

Saat mereka kembali ke lingkungan tempat tinggal mereka, langit barat telah berubah menjadi merah tua.

Sambil meregangkan badan diiringi menguap kecil karena lelah, pandangan Hayato bertemu dengan Haruki yang juga sedang meregangkan otot-ototnya.

“Nn, lumayan pegal juga.”

“Sama. Sudah tidak punya tenaga buat masak makan malam nanti.”

“Haha. Jadi, bagaimana hari ini?”

“Coba kulihat… Semuanya serba baru, dan jujur saja, cukup menyenangkan.”

“Aku juga. Padahal cuma jalan-jalan karena keisengan sesaat.”

“Yah, terseret dalam keisenganmu kan bukan hal baru lagi buatku.”

“Hehe, benar juga. Mau bagaimanapun juga, kita tetaplah kita, kan?”

“Iya—eh?”

“Ponsel? Dari siapa itu?”

Ponselnya berdering menandakan panggilan masuk dari Himeko.

Meminta izin sebentar kepada Haruki, ia mengetuk layar untuk mengangkat panggilan tersebut.

“Himeko—”

“Onii, kamu di mana!? Masak apa buat malam ini? Haru-chan di mana? Perutku lapar banget! Saki-chan sudah datang lho! Katanya dia bisa bantu siapin kalau diperlukan!”

Omelan bernada kesal dan bertubi-tubi langsung menyerbu keluar dari speaker ponsel.

Ia menjauhkan ponsel dari telinganya, meringis pelan. Omelan adiknya terus berlanjut tanpa henti.

Memang benar, saat ini sudah waktunya makan malam, tapi jika harus mulai memasak sekarang, prosesnya akan memakan waktu lama.

Melihat Haruki berambut pirang yang sedang mengangkat bahu di sampingnya, sebuah ide mendadak muncul di kepala Hayato.

“Kita pesan pizza saja malam ini.”

“Pizza!? Tunggu maksudnya, pizza delivery gitu!?”

“Iya, tempat di dekat stasiun ada promo—beli satu gratis satu kalau diambil sendiri. Hauki juga lagi bareng aku kok.”

“Yess! Oh Onii, cola! Aku mau cola! Jangan sampai lupa!”

“Iya, iya, paham.”

“Saki-chaaaan, dengar! Pizza! Pertama kalinya buat kita! Kita mau makan pizza! Mereka yang ambil ke sana sih, tapi tetap saja!”

“…Ampun deh.”

Suasana hati Himeko langsung berubah 180 derajat seketika mendengar kata pizza, sebuah hal baru yang jarang mereka temui di Tsukinose.

Hayato tersenyum kecut melihat adiknya yang mudah sekali dibujuk, menutup panggilan telepon, lalu menoleh ke arah Haruki.

“Jadi, malam ini kita makan pizza. Satu lagi pengalaman pertama.”

“Sama di sini juga. Porsinya terlalu banyak buat dimakan sendirian, jadi aku belum pernah pesan sebelumnya.”

Dengan langkah ringan, mereka berjalan menuju gerai pizza.

Meroketkan kembali ingatannya ke sepanjang hari tadi, Hayato menyadari bahwa bahkan ketika ia menjadi orang lain, melakukan hal-hal yang tidak biasa, dan mencoba memesan pizza untuk makan malam, hal itu sama sekali tidak mengubah esensi dasar diri mereka.

Memastikan hal itu di dalam hatinya, ia menyuarakan perasaan tulus yang bersemayam di dadanya.

“Aku jadi tidak sabar menunggu festival musim gugur besok.”

Mata Haruki membelalak lebar, napasnya tertahan sejenak.

“Iya, aku juga!”

Gadis itu tersenyum cerah dengan seulas senyuman yang datang langsung dari lubuk hatinya.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close