Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Chapter 7
Menginjak-injak Pangeran Mahkota Sialan
Kejadian ini terjadi pada hari berikutnya setelah tanpa sengaja aku tidur satu ranjang dengan Balbera.
Dengan suara pan! yang keras, Siegfried melemparkan sarung tangan putihnya ke arah kakiku.
"Ambil itu!"
"Aku sedang sibuk. Kau saja yang ambil."
Aku sedang kewalahan mengisi logistik, sampai-sampai mau meminjam tangan kucing atau bahkan tangan golem pun tak masalah—tapi tidak ada yang bisa kupinjam. Meski begitu, bodoh di depanku ini malah menantang duel.
"Dasar pengecut yang tak mau menerima duelnya sendiri! Malu dong!"
"Kita akan segera bertarung melawan kaum iblis, dan kau malah mau mengurangi kekuatan tempur? Betapa bodohnya mendahulukan emosi pribadi."
"Takut kalah, ya? Memang aku ini pangeran mahkota, tak mungkin kalah dari rakyat jelata sepertimu. Baiklah, aku akan melatihmu. Dengan begitu pengecut pun pasti mau melawanku."
Kenapa dia seganas ini, sih?
Kalau aku biarkan sedikit lagi, dia mungkin malah memohon agar aku mau bertarung dengannya.
"Seperti yang kubilang, aku sibuk. Kalau mau bertarung, tunggu sampai tugasku selesai saat senja. Kita duel di bukit itu. Tunggulah."
Aku menendang sarung tangannya dengan ujung sepatu lalu melempar balik. Tepat mengenai wajahnya.
"Ugh! Berani-beraninya mempermainkanku… Aku akan membalas semuanya di arena duel! Jangan harap bisa pulang utuh!"
Aku pun dipanggil oleh Siegfried ke bukit kecil di pinggiran kota yang dijadikan tempat duel. Saat aku tiba, dia sudah menunggu dengan marah.
"Tidak datang tepat waktu di duel itu tak bisa dimaafkan! Dasar pengecut!"
"Aku sudah bilang setelah tugasku selesai, bukan? Kau saja yang memaksakan aturan seenaknya. Menyalahkanku itu yang aneh."
Selain itu, aturan Siegfried berubah-ubah sesuai mood. Benar-benar contoh atasan sampah tipe perintah pagi diubah sore.
Saat aku melirik sekeliling, aku sadar sudah dikepung sempurna.
"Penontonmu banyak juga. Jangan sampai mereka ikut terseret."
"Hahaha! Mereka ini saksi sekaligus bawahanku. Kau akan kalah di depan mereka semua. Tapi aku murah hati. Kalau kau meminta maaf, menangis sambil menjilat sepatuku, mungkin aku maafkan."
"Aku? Minta maaf? Kepadamu?"
Aku menunjuk diriku, memastikan lagi.
"Betul!"
Dia menjawab dengan tangan di pinggang dan muka sombong tingkat dewa.
"Sudahlah, jangan bercanda. Aku bekerja demi Oiran. Dan satu-satunya orang yang kuhormati di negara ini hanya Nirvana. Mana mungkin aku menghormati orang bodoh yang puas mengeroyok satu orang dengan banyak orang?"
"Mau mati rupanya. Baiklah, akan kuhapus keberadaanmu sampai tak bersisa! Dengan tongkat pedangku, Eksachs!"
Siegfried mencabut pedangnya.
Entah tongkat atau pedang, aku tidak mau repot menilai. Yang jelas, Eksachs itu pedang yang bisa menembakkan alkimia, mirip pedang sihir.
Para perwira tinggi yang mengepungku pun mengangkat tongkat mesin mereka. Bentuknya berbeda-beda, pasti khusus dibuat untuk masing-masing.
Aku juga mengangkat tongkat mesinku yang kusematkan di punggung.
"Hahaha! Senjata menyedihkan apa itu!? Tertawakan dia!"
────Hahahahahahahahaha!
Perwira tinggi itu ikut menertawakan senjata terbaik negara mereka sendiri.
"Sungguh kumpulan orang bodoh. Kalian benar-benar pemimpin? Aku sampai tak bisa berkata-kata."
"A—apa maksudmu!?"
Mereka menertawakan tongkat mesin serbaguna, Metrix.
Padahal itu diciptakan oleh para pendahulu mereka dengan segalanya untuk melawan kaum iblis.
Benar, mungkin tak sekuat sihir para bangsawan Akkasen.
Tapi…Fakta bahwa rakyat biasa bisa menggunakannya hanya dengan sedikit pelatihan adalah keuntungan yang tak ternilai.
"Kau sebagai pangeran mahkota bahkan tak bisa menilai senjata kebanggaan negara sendiri… Serahkan hak suksesi pada Nirvana, Carla, atau Rinne. Kalau tidak, negara ini hancur bahkan sebelum kaum iblis menyerang."
Kalau bangsawan Akkasen dan tentara rakyat Oiran bersatu… kaum iblis bisa dimusnahkan. Apa yang Wald dan Nirvana coba lakukan itu benar.
Hanya saja Wald melakukannya demi ambisi pribadi, sedangkan Nirvana terlalu mengorbankan diri sampai menyakitkan untuk dilihat.
"Tutup mulutmu! Hanya karena rakyat jelata bisa naik pangkat, bukan berarti bisa bicara seenaknya pada pangeran! Semuanya, beri dia hukuman!"
"Terharu banget aku. Kalian ini benar-benar ingin memberiku prestasi besar, ya?"
"A—apa maksudmu!?"
"Nggak paham ya? Kalian yang lemah dan bodoh ini akan kalah dariku. Nirvana saja tak seburuk itu, dasar pengecut kelas tiga."
"Apa!?"
"Kalian akan kuhajar di sini, jadi kalian tak bisa turun ke medan perang. Mulai sekarang ini giliranku terus!"
"Beraninya kau!"
Saat Siegfried marah besar dan hendak menyerang, seseorang menghentikannya.
Hans. Ya, Hans sang penjilat dari penjilat.
"Tunggu! Jangan terpancing. Itu provokasinya. Serang dari jauh. Jangan mendekat, dia ahli pertarungan jarak dekat. Pelajari itu."
"Ah… iya, benar juga."
Siegfried akhirnya agak tenang setelah marah-marah. Para perwira pun memuji Hans.
────Seperti yang diharapkan dari Hans…
Aku juga harus mengakui, meski memuakkan, dia berguna.
"Kalau begitu Hans, kau maju duluan. Hadiahnya akan kuberi sebanyak yang kau mau."
"Eh, tidak… ini duel Anda, Yang Mulia. Saya tidak bisa—"
"Apa!? Berani melawan!? Kau diturunkan dua pangkat!"
"Apa!?"
"Dasar pengecut! Menyingkir! Aku sendiri yang akan menghukum dia!"
Ya, Hans tetap Hans. Karena mereka lemah terhadap sihir, satu jurus Boneka Kayu saja cukup menyelesaikan semuanya… tapi aku tidak boleh ketahuan.
Saat aku sedang memikirkan caranya, Siegfried tanpa aba-aba mengayunkan Eksachs.
"Mati kau, rakyat jelata!"
Dia mengisi Hijau, menghasilkan bilah angin yang meluncur ke arahku. Cuma dengan ayunan kosong sudah bisa keluar seperti itu.
Tapi… Untuk serangan mendadak, ayunannya terlalu besar, dan bilah anginnya pelan sekali, cuma secepat kereta lokal.
Aku membungkuk, dan syuun! bilah angin lewat seperti kereta ekspres.
"Du—Duel dimulai!"
Para perwira tinggi yang bertugas menjadi saksi duel itu, karena pelanggaran mendadak dari Siegfried—padahal seharusnya duel dimulai saat sapu tangan yang dilempar jatuh ke tanah—malah tidak melempar sapu tangan dan begitu saja meletakkannya di tanah.
Dari awal mereka memang tidak berniat bertarung secara adil.
"Uwahaha! Itu! Itu! Itu! Hanya kabur terus itu membosankan, tahu, prajurit medis!"
Bunyi bun, bun dari alur pedang Eksachs memotong angin dan menyebarkan bilah-bilah angin…
────S-Siegfried-samaaa! Gyaa!
────Ugh!? Tangankuu… sakit sekaliii!!
Tanpa mengenai aku sekali pun, serangan itu justru mengenai para perwira tinggi yang berdiri di belakang satu per satu.
"Sebagai Pangeran Mahkota dari negara besar Oiran, kau cukup hebat juga menyapu musuh di depan."
"Berani sekali mengejekku! Tapi hanya berlari-lari itu tidak menarik! Ayo, tunjukkan taringmu padaku!"
"Begitu ya? Kalau begitu aku akan menurut."
"Apa!?"
Begitu Siegfried membelalakkan matanya, bilah anginnya tepat mengenai tubuhku.
Fushhhhh♪
Siegfried sangat senang melihat serangannya mengenai sasaran, lalu tertawa sambil menatapku dari atas.
"Hahahahahaha!"
Padahal barusan saja dia panik karena tak ada satupun serangannya yang kena.
Tapi karena sama sekali tidak terasa, terpaksa aku menirukan efek suara luka dengan beatbox. Ternyata lumayan berhasil, dan itu membuatku agak senang.
Sambil berpikir kalau Siegfried mungkin akan terjun ke kegelapan kalau dia sadar serangannya tidak berefek, aku mengambil sesuatu dari inventory.
"Jangan kira kau bisa bertahan hanya dengan ini! Sini! Sini! Sini! Sini! Sini! Sini! Sini!"
Tipe orang seperti dia akan langsung besar kepala begitu melihat sedikit kelemahan… Benar-benar ahli dalam menyiksa yang lemah.
[Potion] [Potion] [Potion] [Potion] [Potion] [Potion]
[Potion] [Potion] [Potion] [Potion] [Potion] [Potion]
Setiap kali bilah angin Siegfried menerpa tubuhku, aku minum Potion. Kena—minum Potion. Kena lagi—minum lagi. Begitu seterusnya.
Setiap kali terkena serangan, Potion kembali berkurang, dan aku maju selangkah demi selangkah mendekati Siegfried.
Saat jarakku tinggal beberapa langkah darinya, akhirnya dia menyadari.
Terlambat sekali sadar.
"Ta—taktik macam apa ini! Sungguh bodohhhh!"
"Tidak seperti kau, aku tidak melakukan satu pun pelanggaran. Dan aku tidak kabur—aku berjalan lurus ke arahmu. Apa yang tak kau sukai? Coba katakan."
Saat Siegfried mundur ketakutan, aku mengangkat tongkat mesinku dan menghentakkan kaki.
"Checkmate!"
"Hii!? Guhuh!?"
Seperti prajurit barbar yang mengayunkan gada, aku memukul Siegfried dengan tongkat mesin. Eksachs, yang tak mampu menahan pukulan, terlempar dan berguling di tanah.
"Ini untuk Nirvana. Bagaimana rasanya? Sakit, ya?"
"Fuhi!?"
Tulang rawan hidung Siegfried yang mancung itu berubah bentuk, dan dia memuntahkan darah dengan deras.
"A-Aku yang salah. T-tolong, ampuni aku…"
Uwah… ternyata wajah tampan itu kalau hidungnya penyok malah lebih jelek dari orang jelek.
Dia memohon ampun sambil mengatupkan tangan, tapi matanya bergerak kiri–kanan dengan gelagat mencurigakan.
Sunyi…
"Sepertinya sisa wibawamu yang sedikit itu juga sudah hilang."
Dia pasti mencoba memberi perintah pada bawahannya untuk membunuhku selagi dia berpura-pura memohon ampun. Namun tak ada satupun bawahan yang menanggapinya.
"A… ada yang mau membunuh orang bodoh ini!? Imbalannya berapa pun! Perempuan juga ada! Atau… tidak perlu gelar kebangsawanan? Aku bisa beri hidup yang lebih baik—"
Para perwira tinggi bawahan Siegfried hanya menggeleng. Tidak ada yang mau memenuhi panggilannya.
Aku segera menangkap lengan Siegfried, memutarnya, dan menempelkan pisau ke lehernya.
"Kalau aku menggorok lehermu di sini, bagaimana?"
"B-Berhenti… Apa maumu? Uang? Kehormatan? Wanita? I-Ingat, kau ini rakyat jelata, kan? Kalau begitu aku bisa mengangkatmu jadi bangsawan! Jadi ksatria! Bagaimana?"
"Diangkat ke pangkat bangsawan terendah, ya…"
Aku berbisik, dan Siegfried langsung mengubah ucapannya.
"T-tidak! Baron! Aku akan jadikanmu baron! Jadi tolong turunkan benda berbahaya itu…"
Kata-katanya selalu kecil dan menyedihkan. Aku hampir muntah melihat cara dia mulai menjilat dengan sangat jelas.
"Jangan pernah lagi menyentuh Nirvana. Kalau terjadi apa-apa lagi, aku pisahkan kepalamu dari tubuhmu dan memberinya pada kecoak hantu."
"A-Aku mengerti…"
"Dan ketika memanggil Nirvana, panggil dia 'Onee-chan'."
"M-Mengerti…"
"Dan sebut dirimu sebagai 'bawahan Nirvana-sama'."
"Itu… tidak mungkin aku akui!"
"Kalau begitu, mau kuraih langsung jakunmu sekarang?"
"Mengerti, mengerti! Akan kukatakan…"
Aku menurunkan pisau dan memasukkannya kembali ke sarungnya. Saat aku mendorong punggungnya, darah terus mengalir deras dari hidungnya dan tidak mau berhenti.
"T-Tolong… b-beri aku Potion…"
Aku mengobrak-abrik Inventory.
"Hm? Masih ada satu tersisa. Ya sudah, kuberikan. Aku ini prajurit medis yang lebih kuat darimu."
"Hah… hah…aku hidup….."
Kalau menurut hitunganku, Potion terakhir seharusnya sudah kupakai untuk diriku… Tapi ya sudahlah, kalau masih ada, bagus.
Siegfried langsung menenggak cairan emas itu seperti minuman energi.
"Uggh… apa ini!? After taste-nya…!?"
Ah. Aku lupa. Potion itu… air suci Nirvana.
Tapi….yah, dia sudah meminumnya…
Saat aku menatap Siegfried yang berdarah-darah menuruni bukit seperti anjing kalah, tiba-tiba—
【Mau kekuatan?】
Apa!?
Aku terbelalak. Suara itu… aku mengenalnya. Suara penuh kutukan… sama seperti yang muncul saat Nord, yang diberi benih iblis, terbangun sebagai Raja Iblis.
Tapi aku tidak merasakan apa pun.
Setelah menyadari itu, aku refleks melihat ke arah Siegfried…
"Bo…bbb…"
Dia, yang sebelumnya ditopang Hans dan para bawahan, tiba-tiba mengangkat tangan seolah meraih sesuatu. Saat gerakannya mencurigakan, Balbera datang berlari dengan wajah pucat.
"Nord, gawat! Nirvana-sama tidak ada di mana pun. Dia tidak ke arah sini, kan?"
"Ah, tidak. Tidak kulihat sih. Bagaimana bisa dia hilang saat kau ada di sebelahnya…"
Jangan-jangan, dia diculik?
Saat aku mulai panik—
【Kekuatan apa yang kau inginkan?】
"A-Aku ingin kekuatan untuk membunuh bodoh yang ada di sanaaaa!!"
"S-Siegfried-sama, apa yang—"
"Ber… berhenti— Gyaaa!!"
Siegfried mengaum bagaikan binatang buas, menyingkirkan para perwira tinggi yang menopangnya, dan menebas mereka dengan Eksachs.
"Darah… darah… DARAHHHH──!!"
Saat dia menjilat darah di pedang Eksachs, warna biru matanya berubah… menjadi merah, menyala dengan cahaya ganas.
────【Dari sudut pandang Nirvana】
────Di bukit sebelah sana!
────Benarkah itu Siegfried-sama!?
────Duel melawan prajurit medis yang baru naik pangkat itu!?
Di luar terdengar suara gaduh dan kukira itu serangan iblis, tapi rupanya Nord dan Siegfried akan berduel.
Ahh, Nord…… Sudah pasti dia bertengkar dengan Siegfried karena aku.
Kenapa dia selalu mengkhawatirkanku? Dia begitu perhatian, tapi kalau aku ingin berterima kasih dia selalu menolak. Tapi saat dia menolak… aku malah ingin memberikan segalanya padanya……
Kalau ditanya apakah aku malu saat tubuhku pernah dilihat Nord, tentu saja malu, tapi aku tidak membencinya. Padahal wajahnya terlihat seperti orang jahat yang suka membuat banyak gadis menangis, tapi dia sangat kesatria sekali… itu curang sekali……
Aku jadi semakin menyukainya.
"Apa Anda mengkhawatirkannya?"
Saat aku menatap ke arah bukit, Balbera berbicara padaku.
"Ya……"
"Mau pergi melihatnya?"
"Eh!?"
Ucapan Balbera begitu tak terduga sampai aku sempat terpaku. Biasanya dia pasti mencegahku……
Bersama para prajurit yang menuju bukit, kami berjalan mengikuti jalur yang sama.
Aku tahu Nord itu kuat, tapi menantang Siegfried, salah satu yang terkuat di negara ini, itu benar-benar nekat.
Melihat Nord terluka demi aku itu menyakitkan.
Aku harus menghentikan duel itu bagaimanapun caranya, pikirku… tapi sudah terlambat.
Yang terlihat oleh mataku adalah detik ketika bilah angin yang dilepaskan Siegfried mengenai Nord.
"Nord! Tidak, tidak, tidak aaah!"
"Nirvana-sama! Berbahaya!"
Aku hampir kehilangan akal.
Nord tidak menghindari bilah angin itu dan menerimanya dari depan, lalu sambil terluka dia tetap maju selangkah demi selangkah.
Dia ingin menunjukkan pada Siegfried dengan kekuatan nyata agar posisiku tidak diganggu.
Tapi itu semua tidak penting. Aku tidak mau Nord terluka… dan menghilang dari sisiku!
Saat aku berusaha mendorong para perwira tinggi yang mengelilinginya untuk maju ke depan……
────Guwah!?
"Eh!?"
Bilah angin mengenai perwira di sebelah kananku dan tubuh bagian atasnya terbelah.
Hanya kakinya yang tersisa berdiri di tanah.
"Anda mengerti, kan. Nirvana-sama, berdirilah di belakangku."
"Y-ya……"
Padahal ini bukan pertempuran melawan iblis, tapi Siegfried mengayunkan senjata tanpa memikirkan korban sendiri.
Rasanya mengkhawatirkan mempercayakan negara ini padanya, tapi aku hanya bisa dilanda rasa tidak berdaya.
Meski begitu, Nord menerima bilah angin mematikan itu dan tetap bertahan hanya dengan Potion……
"Checkmate!"
"Hii!? Gobuh!?"
Nord yang terus maju sambil menahan bilah angin akhirnya menangkap Siegfried.
Dia menang……
Melawan Siegfried itu……
Orang terkuat kedua setelah Ayah, bahkan Balbera yang menduduki kursi ketiga pun tak bisa menghadapinya.
Hampir semua orang di sini tidak tahu, tapi Nord mengalahkan Siegfried hanya dengan alkimia gaya Kekaisaran, tanpa sihir.
Dengan perbedaan kekuatan seperti dia hendak mengatakan "akulah calon kaisar berikutnya"……
Berarti ini…… lamaran kan!?
Nord tidak mau aku menikahi Raja John, dan ingin mengatakan "jangan pergi ke laki-laki itu… kaburlah bersamaku". Itu sebabnya Nord menolak semua bentuk kenyamanan dariku.
Dia akan merebutku secara sah dari Raja John setelah menunjukkan kekuatannya…… Sungguh cara yang gagah berani.
T-tidak…… Nord…… kalau kau melamarku se-penuh perasaan itu, aku… aku bisa jadi aneh!
"Nirvana-sama? Nirvana-sama? Fana-samaaa!?"
"Hyaa!? J-jangan mengejutkanku."
"Maafkan saya…… Anda memerah, jadi saya khawatir."
Aku yang sedang tenggelam dalam cinta Nord diseret kembali ke kenyataan oleh Balbera. Kalau boleh, aku ingin tenggelam sedikit lebih lama……
────Dengan sengaja menerima bilah angin begitu, anak baru itu melindungi kita?
────Sejak dia kena bilah angin, tidak ada yang mati. Siegfried itu memang sampah!
Setelah duel usai, para prajurit yang menonton mulai berbisik.
Siegfried ditinggalkan bukan hanya oleh prajurit di tempat itu, tapi juga oleh para perwira tingginya, dan hanya ditemani sedikit pengikut saat menuruni bukit.
Saat itu sesuatu yang aneh terjadi.
"Aku ingin punya kekuatan untuk membantai orang bodoh di sanaaa! Darah, darah, daraaah───!"
Siegfried tiba-tiba mengamuk dan menebas para prajurit di sekitarnya tanpa pandang bulu.
Walaupun dia Siegfried, dia tidak mungkin melakukan itu dalam keadaan normal.
Apa dia kehilangan akal?
"Nirvana-sama!"
"Balbera!"
Saat aku bingung, para prajurit panik dan berusaha lari menuruni bukit. Aku terseret dalam kerumunan dan terpisah dari Balbera.
"Ke sini, Nirvana-sama."
"Kamu!?"
Dalam kekacauan itu, orang yang menggenggam tanganku dan membawaku ke tempat aman di balik batu besar adalah biarawati yang pernah kutemui di panti asuhan saat kunjungan penghiburan.
────【Sudut pandang Elise】 (sebelum penculikan Nirvana)
Tempat yang aku datangi adalah kota benteng bernama Kannenberg di Kekaisaran Oiran. Aku diundang ke sebuah rumah besar yang tampaknya milik tuan wilayah, dan diminta menunggu sebentar.
Saat aku memasukkan gula madu yang diberikan Nord-sama ke dalam teh yang disajikan, rasa lelah perjalanan panjangku langsung hilang.
Setelah tenang…… kenapa aku sampai dibawa ke negara tetangga? aku berpikir begitu ketika pintu ruang tamu terbuka.
"Elise, terima kasih sudah datang. Aku senang bisa bertemu lagi."
"Maaf selalu merepotkan kalian."
Aku berdiri dari sofa dan memeluk kedua orang tuaku yang masuk. Ayah tampak agak kurus, Ibu tampak memiliki sedikit kerutan baru……
"Ayah, Ibu, jangan terlalu khawatir. Aku baik-baik saja, seperti yang kutulis dalam surat."
Saat aku tersenyum, mereka terkejut sampai membuka mata lebar-lebar.
"Tidak mungkin…… bukankah surat itu kau tulis di bawah pemeriksaan Nord?"
"Tapi tulisan tangannya jelas tulisanmu……"
Sepertinya orang tuaku termakan rumor buruk yang disebarkan oleh mereka yang iri terhadap kesuksesan Nord-sama. Aku langsung membantahnya.
"Nord-sama tidak pernah melakukan hal seperti itu! Ayah, Ibu telah salah paham tentang beliau."
Namun reaksi mereka bukan seperti yang kuharapkan.
"Tidak apa, ini bukan rumah Vilance."
"Benar sayang, kamu boleh jujur pada kami. Kau pasti bukan hanya disakiti Nord, tapi juga Marianne dan Meina, kan?"
Marianne-sama dan Meina-san… menyakitiku?
Padahal Marianne-sama itu cerdas meski lebih muda, dan Meina-san itu sangat lembut……
Hanya dengan memikirkan mereka, mataku berkaca-kaca……
"Uuuu……"
Orang tuaku… tidak memahami mereka.
"Kenapa? Elise! Kenapa kau menangis tiba-tiba……"
"Pasti kau sudah melalui hal yang sangat berat. Tidak apa-apa sekarang, kemarilah."
Ayah membuka kedua tangannya, tetapi aku menggeleng ke kiri dan kanan sambil berkata:
"Bukan begitu! Aku… aku tidak pernah menyangka Ayah dan Ibu bisa sebegitu keras kepalanya! Nord-sama berkata padaku ‘kau tidak perlu menjadi maid, aku akan menyiapkan uang bekal, kau boleh pulang kapan pun ke orang tuamu’. Bukan hanya itu, Marianne-sama selalu mendengarkan keluhanku… dan Meina-san mengajariku pekerjaan dengan lembut tanpa memarahiku meskipun aku sering gagal. Tapi… tapi… kenapa kalian tidak mau mengerti…… padahal kalian itu orang tuaku……"
Perasaanku memuncak dan aku memohon pada kedua orang tuaku, yang selama ini tidak pernah aku bantah. Mereka mengernyit bingung dan bertanya:
"Benarkah Nord itu tidak pernah memperlakukanmu kasar atau menindasmu?"
"Kau tidak melakukan sesuatu yang membuat keluarga calon suamimu menolakmu, kan?"
Ugh! Kalau aku yang justru pernah menyelinap ke kamar Nord-sama di malam hari…… mana bisa kukatakan itu di depan orang tua.
Calon tempatku menikah sudah kupilih sendiri, Ibu……
"Ada apa, Elise? Jawablah dengan benar."
"Sepertinya keluarga Vilance harus ditumbangkan……"
"Latihan sebagai maid di keluarga Duke Vilance akan menjadi nilai tinggi… j-jadi, aku rasa itu tidak mungkin terjadi……"
Pasti mataku terlihat gelisah di hadapan mereka.
Dalam situasi seperti ini, aku harus mengalihkan… tidak, mengganti topik.
"Di mana Onii-sama?"
Kedua orang tuaku saling berpandangan, lalu Ayah berbicara.
"Lotus tidak akan datang."
"Mengapa bukan Onii-sama? Bukankah mantan kapten ksatria pengawal seperti dia lebih bisa membantu?"
"Itu permintaan dari pihak yang bersangkutan. Mereka bersikeras ingin meminta bantuanmu, Elise."
Aku pernah mendengar keluarga Mandadaria bisa dipulihkan, tapi tidak tahu siapa yang ingin membantu kedua orang tuaku.
"Siapa yang… membantu Ayah dan Ibu…"
Saat aku hendak bertanya, tiba-tiba aku merasa sesuatu menyentuh bahuku. Aku terkejut dan melompat mundur—ada seseorang di sana.
"Tidak apa-apa, Elise. Ini pekerjaan sederhana yang pasti bisa dilakukan oleh Earl Magadaria dan dirimu."
Sejak kapan dia ada?
Tanpa jejak langkah atau perubahan udara, seorang biarawati dengan wimple muncul. Mulutnya tertutup kain, tapi matanya sepertinya pernah kulihat… entah di mana.
Karena emosiku masih tersisa setelah bertemu orang tua, aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas.
"Silakan duduk kalian semua."
Mulutnya tertutup, tapi kain yang menempel di kulit itu memperlihatkan lekukan senyumnya. Senyumnya tampak lembut, tapi aku mendengar Ayah menelan napas, seolah sangat tegang.
"Langsung saja kami bertanya. Uskup, pekerjaan apa yang diberikan pada kami?"
"Aduh, jangan terlalu tegang begitu, Earl Mandadaria. Ini bukan pekerjaan sulit."
Perempuan yang disebut Uskup itu terus berusaha menenangkan Ayah.
"Ada seorang gadis bernama Nirvana yang tinggal di panti asuhan terpencil. Kami ingin kalian membawanya kemari."
Nirvana……? Seingatku, ada juga seorang putri kekaisaran Oiran yang bernama seperti itu.
Setelah mendengar kata-katanya, Ayah menenggak habis tehnya dalam satu kali minum.
"Boleh minta secangkir teh lagi? Teh di sini enak."
"Benar sekali."
Kedua orang tuaku saling tersenyum. Padahal teh ini menggunakan daun teh impor dari Akkasen, yang setelah beberapa hari menjadi asam karena fermentasi… seharusnya tidak enak.
"Uskup, permisi. Boleh aku pergi memetik bunga?"
"Tentu, silakan."
Saat aku berdiri, kedua orang tuaku memberi isyarat dengan mata. Benar, cangkir kedua teh itu adalah tanda.
Begitu keluar ruangan dan menutup pintu, aku langsung menempelkan telingaku ke pintu.
『Ini hanyalah tugas sederhana: menjemput seseorang. Bagaimana? Setelah selesai, kursi pemimpin Aliansi Suci Akkasen akan kembali pada Anda.』
『Uskup… itu bukan tawaran buruk.』
『Benar, bukan? Benar, bukan?,』
『Namun aku menolak! Meski kami jatuh miskin, aku ingin tetap menjadi ayah yang bisa dibanggakan oleh putriku. Keluarga Mandadaria mungkin sudah runtuh, namun kami adalah keturunan yang pernah melahirkan seorang Saint dan Holy Knight! Aku tidak akan menjadi kaki tangan dalam penculikan putri negara lain!』
『Seperti yang kuharapkan dari Colin. Aku memang memilih pria yang tepat.』
Ayah… Ibu……
『Kalian benar-benar tak berguna… padahal aku ingin memulihkan status keluarga bangsawan kalian. Masukkan mereka ke penjara bawah tanah. Dan begitu Elise kembali, tangkap dia juga.』
Mereka memberikan tanda agar aku bisa melarikan diri. Setelah mendengar kata-kata Uskup itu, aku pura-pura hendak memetik bunga dan kabur dari rumah itu.
Ayah, Ibu… tunggu aku!
Aku akan kembali untuk menyelamatkan kalian! Mohon tetap selamat sampai saat itu tiba!
────【Sudut pandang Siegfried】
Ahh, rasa berkuasa yang menyelimuti seluruh tubuhku luar biasa.
Aku sempat lengah dan dipermalukan oleh seorang rendahan yang naik pangkat, tapi setelah mendengarkan suara misterius itu dan melakukan kontrak, semua rasa sakit lenyap.
Bukan hanya itu. Sirkuit sihirku bangkit, dan energi magis mengalir ke seluruh tubuhku. Sensasi segar seperti ini belum pernah kurasakan seumur hidup.
Aku merasa tidak akan kalah dari siapapun. Tidak dari rakyat jelata itu, tidak dari Pahlawan Hitam Akkasen… dengan ini, aku pasti bisa merebutnya kembali!
Aku punya perempuan yang kusukai.
Elise Madadaria……
Aku pernah mendengar rumor tentang seorang gadis luar biasa cantik di Akkasen, dipuji sebagai calon Saint berikutnya.
Awalnya kupikir itu hanya kabar kosong. Namun pada saat aku melihatnya untuk pertama kali, aku langsung terpikat. Seolah-olah Tuhan menghabiskan waktu tak terhingga untuk menciptakan karya seni paling sempurna.
Rambut peraknya memancarkan kilau indah tiap kali terkena cahaya, dan mata birunya sejernih laut selatan. Bentuk wajahnya sangat bagus, garis rahangnya tajam, dan bibir merah mudanya lembut berkilau……
Semuanya sesuai seleraku.
Berbeda dengan kakak tiriku yang tak berguna tapi hanya cantik, Nirvana, Elise adalah calon Saint yang konon memiliki sihir penyembuhan tingkat tinggi. Kunjungan pertamaku hanya melihatnya dari jauh, tapi hatiku sudah puas.
Namun, kunjungan kedua adalah bencana. Saat aku mendatangi keluarga Mandadaria untuk meminta izin lamaran, rumah mereka sudah dijual, Elise dan bahkan sang Earl pun menghilang.
Tidak terpikir ada orang bodoh yang berani menolak pertunangan dengan calon Kaisar Oiran. Itu kesalahan besar dalam perhitunganku.
Patah hati, aku pergi ke Akademi Pahlawan tempat bangsawan muda Akkasen berkumpul—setara dengan Akademi Pahlawan militer di negara kami.
Saat mengintai dari balik gerbang, kulihat seorang pria bermata tajam berjalan berdekatan dengan seorang gadis cantik.
Elise!
『Nord-sama!』
『Jangan terlalu menempel padaku.』
『Tidak mau. Mengabdi di sisi tuanku adalah tugas seorang maid.』
Ketika para bawahanku menyelidiki, ternyata gadis idealku sudah—betapa tidak sopannya dunia ini—dibuat rumahnya hancur oleh seorang pria bernama Nord Vilance, lalu dipaksa jatuh menjadi seorang pelayan.
Menjadikan calon Saint yang belum ternoda sebagai pelampiasan nafsu adalah dosa besar yang tak terampuni!
Aku bahkan sempat mempertimbangkan menebasnya saat itu juga, namun aku tidak sebodoh itu untuk bertindak gegabah di wilayah musuh bernama Akkasen. Jadi aku mengambil keputusan pahit dan kembali ke Oiran… sambil bersumpah untuk membalas dendam pada Nord Vilance.
Dengan kekuatan yang membuncah ini, merebut Elise dari tangan Nord Vilance sungguh perkara mudah.
【Wind Slash】
Namun sebelum itu, aku harus menyingkirkan orang bodoh di depanku. Begitu kupikirkan itu dan mengangkat tanganku, sihir yang tidak dapat dibandingkan dengan alkimia dari "Hijau" pun terpancar.
Sialnya, si petugas medis yang naik pangkat itu menghindari sihirku sambil berguling-guling memalukan di tanah.
Sepertinya dia bergabung dengan Balbera dan sedang berbicara sesuatu.
Ketika aku memasang telinga, entah bagaimana suara mereka dari jauh terdengar jelas. Ini kekuatan kebangkitanku!
"Nord, biarkan aku menangani ini. Kau pergi cari Nirvana-sama."
"Tidak, untuk pencarian, kau yang lebih paham wilayah…"
"Sihirku terlalu fokus untuk menyerang. Tidak cocok untuk mencari."
Balbera berkata pada petugas medis itu, tapi aku tak melewatkannya.
"Nord, kau bilang!? Jadi kaulah yang mencemari Elise!!"
Tak heran cara bicaranya yang sombong setengah mati, garis hidungnya, bentuk mulutnya—semua cocok dengan Nord.
"Karena kau, calon pendamping masa depanku ternoda! Tebus dengan kematian!"
"Ku-ku-ku, jangan membuatku tertawa. Gadis itu sendiri yang memutuskan jadi maid-ku. Jangan salah paham sebegitunya…"
Aku melancarkan satu tebasan yang berniat memotong poni yang dia gunakan untuk menyembunyikan identitas, tapi Eksachs terpental dari sudut yang sama sekali tak kuduga.
Balbera meluncurkan sikuan ke atas, memantulkan tebasanku.
"Hei, pangeran yang jatuh ke kegelapan. Arahmu salah. Lawanmu itu aku!"
"Berani-beraninya kau, sekadar bawahan iblis, menentang manusia sepertiku! Dark elf!"
"Apa yang kau bicarakan? Wujudmu sekarang itu benar-benar iblis! Lihat baik-baik!"
Balbera mengambil cermin kecil dari kotaknya dan melemparkannya padaku.
Aku menangkapnya dan melihat diriku sendiri.
"Uwaa!? Apa-apaan ini!? Ini aku!?"
Wajahku yang tampak di cermin berubah jadi hijau pekat. Aku melepas sarung tangan, dan kulit tanganku yang semula berwarna kulit manusia kini berubah menjadi hijau.
"Nord, jangan hiraukan aku! Pergi! Bawa pulang Nirvana-sama dengan selamat…"
"Jangan mati, Balbera! Kalau kau hidup, masih banyak yang harus kuceritakan padamu."
"Semoga begitu."
Sementara aku terbelalak bingung, Nord berlari menuruni bukit seperti anjing yang kalah.
Jadi itu saatnya… saat di Tobirus, ketika aku bertarung dan tak sengaja terkena cairan racun dari iblis yang menyebut dirinya Raja Serangga.
"Kalau sudah begini, tak ada pilihan lain. Balbera! Kau yang pertama akan kukirim ke pesta darah!"
Akan kuperkosa, kucabik, kuhinakan, dan meskipun kau memohon hidup… aku akan membunuhmu tanpa ampun!
────【Sudut Pandang Nord】
Tidak diragukan lagi.
Itu fenomena yang sama seperti ketika aku terbangun sebagai raja iblis. Siegfried memiliki faktor iblis yang ditanamkan. Kesadarannya masih kuat sehingga butuh waktu sampai ia sepenuhnya bangkit.
Kalau sampai dia bangkit sepenuhnya, bahkan Balbera yang kini sudah kembali pada kekuatan asli dark elf tidak akan mungkin menang. Aku sudah memberi Balbera 【Mata Iblis】, meski dia ragu… itu asuransi.
Aku harus menemukan Nirvana sebelum kebangkitannya selesai!
Kalau Nirvana sampai dipotong tangan dan kakinya, bendera kematianku pasti muncul. Sembari menyebarkan 【Mata Iblis】, aku berlari menuruni bukit, dan ketika tinggal sedikit lagi mencapai tembok luar benteng—
Ada seorang gadis bangsawan berlari dari depan dengan wajah panik.
Elise!? Kenapa dia di sini!?
Saat aku terkejut, dia melambai ke arahku.
"Nord-sama───!?"
Dan dia langsung tahu aku!? Elise meledak dalam emosi, mengulurkan tangan ke depan, dan melompat kuat ke dadaku. Akibatnya kami berdua jatuh berguling di atas rumput.
Elise menindihku dari atas, meneteskan air mata besar karena tersentuh bisa bertemu kembali.
"Mengapa kau di sini? Jelaskan."
"Itu… sebenarnya aku ingin meminta sesuatu dari Nord-sama… tapi, tidak mungkin aku bisa meminta…"
"Cepat katakan."
"Tapi… nanti aku malah merepotkan…"
Kalau dia tidak bilang, aku makin penasaran.
"Keberadaanmu di bawahku saja sudah merepotkan."
"Eh?"
Niatku mau bicara lembut, tapi yang keluar malah bahasa Nord versi kejam. Wajah Elise langsung mendung seperti gerimis yang jadi badai.
Aaaah! Padahal gadis ini lagi butuh bantuan, kenapa yang keluar malah bahasa Nord!?
"Kalau bertambah satu atau dua masalah, aku tidak akan peduli. Cepat selesaikan urusanmu. Percaya atau tidak, aku sudah punya banyak orang merepotkan lainnya juga."
"Nord-sama! Terima kasih!"
Setelah mendengar penjelasan Elise, aku tahu bahwa kedua orang tuanya kini ditahan oleh faksi selir kerajaan yang bekerja sama dengan Gereja Elon.
Elise kuat. Tapi kekuatan itu hanya bekerja melawan iblis.
Terhadap manusia, naluri sucinya sebagai calon Saint muncul—dia tidak bisa menyakiti, apalagi membunuh. Kecuali aku yang memang musuh alaminya…
Yang harus kuselamatkan adalah orang tua Elise, atau Nirvana… pilihan pahit. Tapi aku langsung mendapat jawabannya.
Tentu saja, keduanya harus kuselamatkan.
Rising Hero yang merupakan game sampah itu sudah jelas: tidak menyelamatkan satu pihak berarti bencana. Jika Elise, yang sangat menghormati orang tuanya, kehilangan mereka, dia akan jatuh ke kegelapan. Lalu kekuatan koreksi akan memaksaku masuk jalur Elise dan akhirnya aku dibunuh olehnya.
Dengan menyelamatkan heroine dalam bahaya, aku terbebas dari death flag dan bisa hidup damai.
Nirvana sudah diajari cheat skill berdasarkan pengetahuan game dariku. Kalau dia mempraktekkan apa yang kupelajari saat di Akademi Pahlawan, dia pasti mampu bertahan sedikit waktu.
Setelah memantapkan hati, satu hal mengusik pikiranku, jadi aku bertanya pada Elise.
"Namun… bagaimana kau bisa tahu kalau itu aku hanya dengan lewat begitu saja?"
"Itu mudah. Sekali mencium aroma Nord-sama yang menggoda para wanita, tak mungkin bisa dilupakan!"
…Hahaha.
Tawa kering meletup di dalam hatiku.
Aku teringat ketika selesai kelas dan akan kembali ke kamarku. Aku sempat ragu memutar gagang pintu karena merasa ada seseorang di dalam.
Saat mengintip lewat lubang kunci… Elise sedang menenggelamkan wajahnya di bantal tidurku dan sedang produksi listrik mandiri dengan antusias.
Aku pura-pura tidak melihat apa pun dan kembali berlatih. Ketika kembali, kamarku sudah rapi seperti biasa. Sarung bantal dan seprai semuanya diganti baru.
Kalau aku menggeledah kamar Elise, mungkin aku akan menemukan sarung dan seprai bekas pakaianku…
Saat kami membicarakan itu, sesuatu berkilau di langit.
"Nord-sama, itu mungkin…"
"Ya, sepertinya dia datang."
Terbang tinggi di udara, Kururu si wyvern mengepakkan sayapnya perlahan dan turun dari ketinggian.
"Kau bekerja keras ya."
────Kyururuun♪
Saat kusapa, Kururu menggesekkan kepala panjangnya padaku, meminta dielus.
Setelah mengikat kontrak dengan Kururu, aku memintanya terbang di atas awan agar tak terlihat manusia dari Kekaisaran Oiran.
Saat aku mengelus dahi bersisiknya, Elise ikut menunjukkan perhatian.
"Kururu-chan, terima kasih ya. 【Refreshing Wind】"
────Kyui-kyui♪
Melihat Kururu yang menggerak-gerakkan mulutnya naik turun dengan gembira, aku dan Elise saling berpandangan. Elise menampilkan senyum penuh kebahagiaan. Saking bersinarnya, aku sampai merasa Elise mungkin adalah makhluk yang memancarkan aura kesucian.
"Aku juga ingin menjadi Kururu-chan…"
"Kau bilang apa?"
"T-tidak, bukan apa-apa."
"Kalau begitu, naiklah!"
"Baik!"
Aku yang sudah naik ke punggung Kururu mengulurkan tangan pada Elise.
Eh? Tanpa sadar tanganku terulur begitu saja. Elise pun meraih tanganku tanpa ragu dan naik ke Kururu.
Kalau ini dilihat oleh Cain, bukankah dia akan mengamuk lagi?
"Nord-sama, tempatnya…"
"Kediaman bangsawan di wilayah Kannenberg, kan? Hal semacam itu sudah bisa kubaca."
"Seperti yang diharapkan dari Nord-sama. Anda bahkan sudah menyelidikinya!"
Bukan berarti aku menyelidikinya. Aku hanya kebetulan tahu dari ingatan kehidupan sebelumnya.
"Aku akan terbangkan Kururu. Pegangan yang kuat ya."
"Baik!"
【Peningkatan Kekuatan】, 【Akselerasi】
Aku memberikan buff sihir bantuan pada Kururu.
Pernah suatu kali aku mencoba menguji seberapa cepat Kururu bisa melaju, dan dia dengan mudah melewati kecepatan suara. Akibatnya aku terlempar dari punggungnya.
Sejak itu, kalau aku memberikan buff pada Kururu, aku selalu memakai 【Wind Barrier】 sebagai tambahan.
Elise melingkarkan tangan di pinggangku dan berpegangan. Pada saat yang sama, dadanya yang besar menekan punggungku. Dengan sensasi lembut dan hangat itu, aku hampir berubah jadi bayi…
Kururu langsung tiba di kediaman penguasa Kannenberg dalam waktu singkat. Karena ia turun di atap segitiga berlapis batu tulis, aku merasa seperti pencuri atau ninja.
Kururu terlalu mencolok, jadi untuk sementara aku menyuruhnya menunggu di udara.
────Kyururun♪
Saat berpisah, Kururu mengulurkan ujung sayapnya.
"Semoga beruntung! Sial… dasar wyvern, melakukan hal semanis ini."
Aku dan Elise menyentuh ujung sayap Kururu. Saat dia terbang pergi, aku dan Elise menempel pada jendela kecil menuju loteng seperti partner yang benar-benar padu.
────【Sudut Pandang Nirvana】
Biarawati itu membawa aku ke tempat yang dulu pernah kukunjungi—panti asuhan. Namun penampilannya jauh berbeda.
Dindingnya rapuh, atapnya berlubang, balok dan tiangnya dimakan rayap, seakan akan runtuh kapan saja… Tidak kusangka bisa menjadi rusak dalam beberapa tahun saja.
Dulu ada sekitar dua puluh anak kecil yang lebih muda dariku. Sekarang tidak ada siapa pun. Apakah mereka sudah mandiri? Atau diambil sebagai anak angkat?
Aku benar-benar tak bisa mengabaikannya.
"Hei, mereka? Di mana semua orang?"
Ketika melihat biarawati itu menatap panti asuhan yang hampir roboh dengan mata kosong, aku merasakan sesuatu yang mengancam. Aku mengguncang kedua bahunya dan bertanya dengan nada histeris.
"Anak-anak… maksud Anda? Mereka semua sudah mati."
"Bohong…"
"Itu bukan bohong. Mereka semua selalu menaruh harapan pada Anda, Nirvana-sama. Anda adalah sosok yang seharusnya menjadi penyelamat bagi kami yang miskin. Tapi Anda mengkhianati kami dan mencoba melarikan diri ke Akkasen! Saat itu aku putus asa. Lalu pihak pendukung selir kerajaanlah yang mengulurkan tangan pada kami."
Aku terdiam mendengar kata-kata yang keluar dari mulut biarawati itu. Aku menutupi mulutku dengan kedua tangan.
Kaum bangsawan, rohaniwan, pedagang, dan para anggota kelas atas yang mendukung Antonia… Kelompok pendukung selir kerajaan. Awalnya organisasi kecil, tapi mereka kini semakin besar setelah bersekutu dengan para pengikut fanatik Gereja Elon.
"Bukan begitu! Aku tidak berniat melarikan diri. Kalau begini terus, kita akan kehabisan orang yang bisa memakai sihir sebelum kita bisa menghasilkan keturunan kuat!"
"Mengandalkan negeri tetangga seperti itu! Seperti kata Antonia-sama, berhentilah menaruh harapan pada Nirvana-sama. Kami akan memperbaiki negeri ini dengan cara kami sendiri."
Ketika biarawati itu mengangkat tangannya, sekelompok orang keluar beramai-ramai dari dalam panti asuhan yang telah menjadi reruntuhan.
Para pengikut Gereja Elon.
Ketika mereka mengepungku, aku mengambil staff gun dari 【Penyimpanan】.
"Nirvana-sama, apa Anda pikir Anda bisa menang melawan mereka? Berhentilah melakukan perlawanan sia-sia. Atau… apakah Anda ingin tubuh suci Anda diperlakukan sama seperti dark elf bawahan Anda itu? Namanya… Balbera, ya? Anda ingin diperlakukan seperti dia oleh orang-orang ini?"
"K-kalian yang melakukan itu pada Balbera!?"
"Fufu, itu terjadi sebelum aku bergabung, jadi marah padaku pun percuma. Justru akulah yang ingin marah! Kau mendekati kami untuk menawarkan bantuan, tapi ketika saatnya tiba, kau malah pergi! Kalian para bangsawan memang begitu. Tapi Antonia-sama, yang berasal dari rakyat biasa, akan menyelamatkan kami."
"Kau tidak mengerti apapun tentang Antonia. Dia tidak punya belas kasih, tidak punya keadilan, tidak punya cinta, tidak punya pengendalian diri… tidak punya apa pun!"
"Itu masih lebih baik daripada Anda yang tidak punya apa-apa!"
Padahal aku merasa sudah berusaha. Tapi ketika kenyataan ditunjukkan tepat di wajahku, kakiku hampir goyah.
Saat berusaha menolong rakyat yang menderita, aku kehilangan pengaruh di istana, bahkan posisiku sebagai putri pun terancam.
Kenapa, ketika bangsa iblis menginvasi, manusia justru saling berebut kekuasaan dan saling bermusuhan?
‘Karena kau lemah, mereka berani menginjakmu!’
Nord pasti akan mengatakan sesuatu seperti itu…
Aku memang lemah… Selalu saja ada seseorang yang datang menolongku. Kalau begitu, hanya ada satu hal yang bisa kulakukan. Aku menarik pelatuk staff gun.
Dari staff gun yang berisi peluru 【Merah】, percikan api terbang ke langit. Lalu naik tinggi sebelum meledak dengan suara duar! dan membuka kelopak merah seperti bunga spider lily.
"Kau menembak ke mana? Ah… jadi kau hendak memanggil seseorang? Tapi di tempat terpencil seperti ini, tak ada yang akan datang…"
Nord—yang memakai nama samaran Noct—pernah mengatakan, kalau ada sesuatu, tembakkan saja ke atas.
Tapi tidak mungkin Nord benar-benar datang menyelamatkanku…
Dan saat itu terjadi.
────Siapa itu!? Hyaah!?
────Kelompok rakyat biasa!?
Gerbang panti asuhan mendadak ribut. Benarkah seseorang datang karena sinyal yang kutembakkan? Kalau begitu… hanya ada satu orang yang mungkin.
Aku hendak berteriak memanggilnya.
"Nor─── eh? Kamu…"
"Fana-chan, tenang saja. Aku, sang pahlawan yang mengalahkan Raja Iblis, datang menyelamatkanmu."
Dia berkata begitu, tapi aku justru dipenuhi rasa tidak nyaman.
Yang datang bukan Nord, melainkan anak laki-laki menjijikkan dari Akademi Pahlawan yang selalu menguntitku.
Namanya… aku bahkan tidak mau mengingatnya.
────【Sudut Pandang Cain】
Aku dibawa jauh-jauh sampai ke Kekaisaran Oiran. Padahal aku ini seorang pahlawan, tapi tetap saja mereka menyuruhku naik di bagian belakang gerobak berpenutup, dan pantatku terasa seperti mau terbelah jadi empat saking sakitnya.
Tapi… kalau aku bisa bertemu lagi dengan Fana-chan yang imut, semua itu tidak masalah!
Aku menjulurkan kepala dari bak gerobak dan bertanya pada paman yang memegang kendali kuda.
"Kita benaran, benaran, benaran bakal ketemu Fana-chan kan? Dan bisa kencan juga kan?"
"Ya, tentu saja, Cain-sama."
"Soalnya lihat saja, aku ini pahlawan yang mengalahkan raja iblis, dan aku bahkan pulang kampung pun tidak, tapi tetap mendengarkan permintaan kalian. Jadi kalau tidak ada imbalan yang sepadan, mana mau aku lakukan."
"Ah, soal itu jangan khawatir. Jika Anda menyelamatkan Nirvana dan mengalahkan Antonia yang keji serta Putra Mahkota Siegfried yang menguasai negeri ini, kami akan mengatur agar Anda dapat menghabiskan satu malam istimewa bersama Nirvana-sama!"
Hah? Kok syaratnya beda dari yang mereka bilang sebelumnya?
Tapi ada satu hal yang jauh lebih menggangguku…
"Benaran? Eh, Nirvana itu siapa? Aku ingin jadi pasangan Fana-chan, tahu."
"Tak perlu cemas, Cain-sama ‘Fana’ adalah panggilan untuk Nirvana-sama. Beliau adalah putri kekaisaran Kekaisaran Oiran."
"Eh? Nama asli Fana-chan itu Nirvana, dan dia putri kekaisaran!?"
"Ya, benar sekali."
Hebat! Kalau begitu kalau aku menikah dengan Fana-chan, hidupku bakal jadi super mewah! Aku bahkan bisa jauh mengungguli Nord nanti.
Tapi tetap saja, aku tak mengerti kenapa Fana-chan datang ke Akademi Pahlawan.
"Kalau begitu kenapa dia dikirim ke Akademi Pahlawan? Sekolah payah yang bahkan tidak menghargai pahlawan sepertiku yang sudah mengalahkan raja iblis, dan malah menjadikan Nord sebagai profesor?"
"Itu kami tidak tahu… mungkin beliau memiliki seseorang yang ia sukai di sana."
"O-orang yang ia sukaiii!? Itu pasti aku 'kan!? Iya!? Iya kan!? Paman juga pasti begitu pikir 'kan!?"
Saat aku mengguncang bahu paman, suara orang-orang yang ikut dalam bak gerobak terdengar.
───Beneran deh, dia semudah itu dipancing seperti yang infonya bilang.
───Iya, rupanya pepatah ‘puji pahlawan maka ia akan membunuh raja iblis’ benar adanya.
───Kudengar Nord Vilance itu mesum, tapi yang ini lebih tak punya rem.
───Sst, nanti dia dengar.
Fufu! Mereka semua membicarakan aku.
Kuat, baik, tampan. Selain itu jago menghitung dan punya banyak pengikut. Pahlawan sempurna tanpa celah… itu aku!
Nord jelas levelnya jauh di bawahku.
Setelah cukup lama naik gerobak dan mulai terlihat kota benteng besar di kejauhan…
───Ada api!
───Dari arah panti asuhan tua!
Paman menghentikan gerobak dan berbicara dengan para anggota kelompok.
"Hah… hah… Nirvana-sama ada di panti asuhan."
Orang yang mereka suruh mengintai kembali dan melapor. Mendengar nama Fana-chan, aku berdiri dan menyatakan dengan lantang.
"Aku ini pahlawan. Kalau ada orang yang dalam kesusahan, aku harus menolongnya!"
Tunggu aku, Fana-chan! Aku akan datang menolongmu sekarang. Aku akan tunjukkan betapa kerennya aku, sampai Nord tidak kebagian panggung sama sekali!
────【Sudut pandang Nord】
"Guuh!"
Untung aku sempat belajar teknik pukulan dari Mao.
Para fanatik ini, seperti yang kuduga, pertahanan sihir mereka sangat tinggi. Kalau aku pakai 【Sleep】 dengan kekuatan penuh, memang bisa dengan mudah membuat mereka terlelap, tapi efeknya bisa mencapai area di luar bangunan juga…
Setelah menjatuhkan penjaga dengan pukulan keras ke ulu hati, aku memberi tanda tangan ke Elise yang bersembunyi di sudut, dan dia langsung berlari ke posisiku secepat pasukan khusus yang terlatih.
Dengan seragam maid. Dan di tangan dominannya, dia memegang pisau terbalik. Kalau saja aku tidak punya trauma mendalam dari game, aku pasti akan bilang "maid bersenjata itu keren", tapi sejujurnya ini menakutkan.
Kami menyingkirkan penjaga satu per satu, dan akhirnya tiba di ruang bawah tanah tempat pasangan Count Mandadaria dikurung. Saat memastikan tidak ada orang di sekitar, Elise berbisik pelan.
"Nord-sama… sepertinya ini bukan pertama kali Anda masuk rumah ini…"
"Sudah jelas… aku sudah melakukan survei."
Waktu masih di kehidupan sebelumnya… aku menghafal seluruh denah rumah ini ketika Balbera tertangkap oleh faksi selir saat ia melindungi Cain. Begitu memasuki bawah tanah, tingkat ketidaknyamanan meningkat drastis. Alih-alih sejuk, udara lembap dan pengap.
"Nnnh…"
Elise mengeluarkan suara menggoda, lalu menyeka keringat di belahan dadanya dengan saputangan.
"Nord-sama? Mau saya bersihkan?"
"Ke-keringatmu itu, urus sendiri!"
Saat aku bertatapan dengan Elise, dia tersenyum lembut, dan aku hampir menjawab "baik, dengan senang hati".
Ketika aku berhati-hati agar tidak terpancing oleh godaannya, aku melihat pasangan Count Mandadaria di balik jeruji besi.
"Elise!"
"Ayah! Ibu!"
Melihat Elise, mereka meraih jeruji dan saling bersuka cita atas keselamatan masing-masing.
Mataku terasa panas, dan aku menyeka sudut mataku dengan saputangan.
Saat itulah—
"Kenapa putra Duke Vilance ada di sini…"
"Elise, jelaskan kepada kami."
Rambut depannya tersingkap, dan kedua orang tuanya melihat jelas wajahnya. Mereka langsung tahu aku adalah Nord.
"Kalau ini perintah Duke Vilance, kami menolak!"
Aduh… Elise-papa benar-benar merepotkan…
Elise Papa ini, sumpah merepotkan banget……
Dasarnya dia itu orang baik, ramah, tidak suka bertengkar, memperlakukan semua orang tanpa memandang status. Tapi dia sangat membenci Wald, dan mereka saling pura-pura tidak saling kenal.
"Ayah!"
"Kalau Colin tidak keluar, aku juga akan begitu."
"Ibu juga bicara begitu……"
"Dasar bodoh! Sekarang bukan waktunya bicara hal remeh seperti itu. Kalau mau mengeluh tentang aku atau keluarga kita, lakukan setelah kita keluar dari sini. Jangan lakukan apa pun yang bisa membuat putrimu bersedih!"
"Ini soal harga diri. Meski keluarga Mandadaria sudah jatuh, kami tidak berniat menerima belas kasihan keluarga Vilance."
Ughhh, keras kepala banget!
Saat kami sedang adu mulut, tiba-tiba terdengar suara besar, langit-langit penjara bawah tanah terbuka, dan air dalam jumlah banyak mengalir masuk. Tidak hanya sel tempat orang tuanya Elise berada, tapi juga sel-sel lainnya.
"Melakukan trik pengecut seperti ini!"
"Sepertinya mereka tidak berniat membiarkan kita hidup."
"Kelihatannya kita sengaja dibuat ‘berenang’ ya."
"Cocok dengan istilah ‘serangan air’, ya?"
Bagus juga. Aku sampai ingin kasih Elise satu chop kepala, tapi sekarang bukan waktunya santai. Kalau dibiarkan, pasangan Count Mandadaria akan mati tenggelam.
"Aduh—serangan air rupanya."
"Kyaa, bagaimana ini, kita bisa tenggelam."
Aku dan Elise saling memberi isyarat, lalu membaca dialog dengan nada datar, dan Elise mengikutiku.
【Freeze】
Aku menembakkan sihir es ke saluran air dan membekukannya, memaksa aliran air berhenti.
"Jadi ini kekuatan Pahlawan Hitam……"
"Bukan saatnya terpukau sambil mandi. Cepat keluar dari sini. Kalau kau bilang tidak mau keluar, aku akan meledakkan dinding beserta kalian dan menyeret kalian keluar dengan paksa."
"Baiklah…… sepertinya kami tidak bisa melawanmu."
"Colin……"
Elise Mama meletakkan tangannya di bahu Elise Papa. Aku melelehkan jeruji besi sel itu dengan sihir api dan kami berempat keluar dari bawah tanah.
"Elise, maafkan aku."
"Seperti yang sudah kau bilang."
"Ayah, ibu…… asalkan kalian mengerti, itu sudah cukup."
Elise dan kedua orang tuanya berbisik satu sama lain sambil saling merangkul.
"Ngomong-ngomong, Elise, bagaimana kalau kita bahas soal menerima Nord sebagai menantu masuk keluarga…… dengan begitu kita bisa mengurangi kekuatan Wald."
"Aduh, Colin! Ide bagus sekali."
"Ayah, ibu…… mohon bantuannya."
Aku tidak mendengar jelas, tapi rasanya aku baru saja dapat death flag lain dan bulu kudukku merinding. Aku ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini. Setelah menyelamatkan keduanya, tidak ada lagi urusan di sini.
【Explosion】
Aku membuka lubang di dinding dan keluar begitu saja seolah itu pintu depan.
"Kemari, Kururu!"
────Kyurururun♪
Kururu menghancurkan pemanah yang mengincar kami dari menara dengan mencakar menaranya sekaligus, menggagalkan serangan.
Kenapa ya anak ini…… apa cuma perasaanku, atau dia makin pintar setiap kali aku bertemu?
"Sedikit berat, tapi tolong tahan ya."
────Kyururu!
Aku meminta maaf karena kami berempat naik di punggungnya, tapi Kururu menggeleng pelan dan menepuk dadanya dengan sayap. Sepertinya dia ingin bilang empat orang pun tidak masalah.
"Aku mau tanya satu hal. Bolehkan aku menghabisi mereka?"
"Eh? Nord-kun?"
【Explosion– Finale】
Sementara Elise Papa masih bingung, aku menembakkan sihir ledakan dari udara dan melakukan pemboman pada rumah bangsawan Kannenberg, sarang kejahatan itu.



Post a Comment