NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Eroge no Hakushaku Reijo V2 Chapter 8

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 8

Putra Keluarga Penjahat yang Merebut Sang Putri Kekaisaran dari Tangan Tokoh Utama Asli


Aku menitipkan kedua orang tua Elise pada seorang pria Akkasen—kaum pedagang yang berbisnis di dalam Kekaisaran Oiran—sambil tetap mengumpulkan informasi tentang Nirvana melalui 【Mata Iblis】 yang sudah kusebarkan sebelumnya.


Ini kesempatan besar bagi Elise untuk akhirnya bertemu kembali dengan kedua orang tuanya.


Saat orang tuanya sudah turun dari punggung Kururu, Elise saja yang tidak mau turun.


"Turun."


"Aku nggak mau."


Sudah kuduga kau akan bilang begitu...


"Aku akan pergi menuju medan maut sekarang. Kalau kau mati, jangan salahkan aku."


"Aku sudah memutuskan kalau aku mati, itu harus bersama dengan Nord-sama."


Aku menghembuskan napas panjang mendengar kata-katanya.


Kalau mati bersama… itu namanya bunuh diri berdua, kan…?


Pikiran buruk itu menembus kepala, tapi sebentar lagi aku harus menjemput satu anak lagi yang juga menyusahkan kalau ingin menghindari death flag.


Menurut informasi dari 【Mata Iblis】, Nirvana dibawa ke panti asuhan tempat dia dulu pernah mengunjungi untuk memberi sumbangan. Kenyataan bahwa Cain menangkap sinyal darurat yang pernah kuajarkan ke Nirvana memang tak terduga, tapi justru itu jadi memudahkan.


"Ayah, Ibu, aku berangkat!"


"Baiklah, datanglah untuk memperlihatkan wajah cucu kami nanti."


"Apa-apaan yang kau bilang itu, Colin!"


Mama Elise... bagus, reaksinya cepat!


"Kalau aku hamil, aku akan pulang ke rumah untuk mengasuh anaknya."


"......"


Lebih parah dari ayahnya... mukaku sampai jadi datar. Aku harus benar-benar berhati-hati agar Elise tidak menancapkan fakta yang tidak bisa dibantah itu pada hidupku.


"Kururu, pergi!"


──── Kyu-rururuuun♪


Kururu mengepakkan sayap dan terbang. Elise terus melambaikan tangan sampai kedua orang tuanya tak terlihat lagi.


Terbang dengan kecepatan supersonik membuat kami tiba di atas panti asuhan dalam sekejap.


Hah? Nirvana tidak menembakkan alkimia ke Cain?


Cain sedang bertarung dengan para prajurit faksi selir, tapi Nirvana malah menjaga jarak darinya, bersembunyi di balik batu, dan mengeluarkan alkimia dari tongkat alkimianya.


Ya sudahlah. Kalau Cain sibuk menahan mereka, kebetulan sekali.


"Nirvanaaa───!!"


"Nord!?"


Seakan memahami niatku, Kururu merapatkan sayapnya ke tubuh, lalu menjatuhkan badannya menuju tanah. Tak lama kemudian, tubuh kami tertarik gravitasi dan menghasilkan G force yang luar biasa kuat.


Ugh! Kururu menggunakan sayapnya dengan lincah untuk memperlambat laju, menggulung tubuhnya ke kanan sambil menekuk sayapnya. 


Kami terbang sangat rendah, hampir menyentuh tanah. Aku mengunci leher Kururu dengan kakiku, lalu mengulurkan tangan kanan. 


Saat mendekati batu tempat Nirvana bersembunyi, dia langsung meraih tanganku dengan kedua tangannya.


Saat kutarik, tubuhnya jauh lebih ringan dari dugaanku.


Dengan tubuh serapuh ini dia bertarung di dunia istana yang penuh intrik...?


Kururu menstabilkan tubuhnya dengan manuver bagaikan ace pilot, lalu segera meninggalkan area panti asuhan. Orang-orang di bawah sana pasti tidak paham apa yang baru saja terjadi. Kecuali satu orang...


"Norddd!! Kau lagi-lagi merebut Fana-chan dariku─────!!"


Teriakan Cain yang terdengar seperti lolongan anjing kalah menggema sampai ke langit.


Aku menatap Nirvana yang duduk di hadapanku.


"Maaf membuatmu menunggu."


"K-kau telat! Gara-gara itu aku hampir dibawa pergi oleh anak laki-laki aneh itu..."


Cain... bahkan namamu saja Nirvana tidak ingat...


Sungguh mustahil Nirvana akan jatuh cinta padanya.


Tapi Nirvana, memangnya kau harus duduk menghadapku begitu?


Dia duduk di Kururu menghadap langsung padaku...


"Hei, entah kau ini putri kekaisaran atau perempuan gila, jangan terlalu akrab dengan tuanku."


"Kau sendiri yang aneh. Aku hanya ingin menghangatkan kembali hubunganku dengan Nord, teman masa kecilku."


Dua perempuan ini mulai berdebat dengan aku di tengah-tengah mereka. Tidak tahan dengan suasananya, aku menepuk sisik Kururu dan berbisik:


"Kururu... bisakah kau menurunkan mereka berdua di tempat aman, lalu kita berdua saja pergi ke perbatasan?"


"Tidak boleh!"


"Tentu tidak boleh!"


Iya sih... sudah kuduga...


──── Kururuuu...


Apa ini...


Setibanya kami di bukit Kannenberg, banyak prajurit tergeletak dalam keadaan mengenaskan—terbelah-belah, kepala dan badan terpisah-pisah berserakan seperti suku cadang.


Di tengah semua itu ada Balbera dan kakak beradik Kurchatov. 


Dengan 【Dark Ear】 kupusatkan pendengaran ke suara mereka.


"Yuri!"


"Irina... kau lari saja..."


"Nggak mau! Ayo kita bantai saja orang ini dan pulang!"


"Kalian berdua lari. Biar aku yang menahan... bawa Noct ke sini... dia saja yang bisa..."


Mereka bertiga terus bertarung mati-matian melawan Siegfried yang telah "terbangun"… atau lebih tepatnya raja serangga, Marakaitar.


Kepala Siegfried sudah tidak ada entah ke mana. Hanya kain seragam putih yang tersisa di sekitar dada dan pinggang yang membuatnya masih bisa dikenali. Dari bagian belakang, sesuatu berwarna hijau—entah ekor atau tubuh serangga—menjulur keluar.


Selain itu, dari sisi pinggul kanan-kiri dan bagian yang dulu merupakan kakinya, tumbuh kaki-kaki serangga. Sangat jelas dia bukan manusia lagi.


"Elise, obati ketiga orang itu dengan 【Heal】. Nirvana, bawa kemari orang tua Elise."


"Baik, Nord-sama!"


"Aku tidak tahu siapa orang tua Elise..."


"Jangan khawatir. Kururu tahu tempat dan wajah mereka. Kau hanya perlu menggantikan Kururu untuk menyampaikan bahwa ada banyak korban luka."


"O-oke! Tapi, gimana denganmu Nord?"


"Jelas saja… aku akan membuat sampah yang menikmati menyiksa orang lemah itu mengerti tempatnya!"


"Jangan mati, Nord!"


"Ya, dan... jadi kau memang sadar, ya."


"Maaf aku tidak bilang apa-apa…"


"Kau tidak perlu khawatir. Lakukan saja tugasmu."


"Baik."


Aku melompat turun dari punggung Kururu.


Melompat tanpa parasut tapi tetap tidak mati—benar-benar khas dunia lain!


Begitu aku mulai turun, Elise juga menyusul. Kururu yang membawa Nirvana berbalik arah dan menuju gedung dagang tempat orang tua Elise berada.


Sepertinya Siegfried sudah dikuasai oleh Raja Iblis Serangga, Marakaitar.


Wajahnya segitiga seperti belalang sembah, tapi tubuhnya mirip jenderal berempat lengan yang muncul di Perang Luar Angkasa. Selain itu, dia menggenggam pedang cahaya berwarna merah, biru, hijau, dan ungu.


Kalau itu glowstick, aku yakin dia bisa tampilkan penampilan yang luar biasa.


"Dark Elf itu cukup tangguh, tapi sepertinya seratus tahun terlalu cepat untuk menantangku. Jika kau bereinkarnasi sebagai serangga lain kali, akan kujadikan kau bawahanku. Selamat tinggal."


Lengan Balbera sepertinya patah, sampai-sampai dia bahkan tidak bisa mengambil posisi untuk menahan tebasan pedang cahaya itu.


Seharusnya aku turun perlahan memakai [Float], seperti malaikat yang turun ke tanah!


Brukk!!


Tapi aku malah menancap langsung ke wajah Marakaitar. Tubuhku terpental karena hentakan itu, tapi aku berputar di udara dan mendarat di samping Balbera.


"Menunggu lama ya."


"Ka-kau terlambat! Padahal aku Dark Elf, tapi aku yang duluan ‘pergi’… lain kali aku ingin melihat muka ‘pergimu’, bersiaplah…"


"Kalau kau masih bisa bercanda begitu… oh—"


Balbera terhuyung dan menjatuhkan tubuh montoknya kepadaku. Melihatnya, aku sadar kalau dia benar-benar memaksakan diri dan bertarung sampai tubuhnya hancur.


"Elise, maaf merepotkan, tapi tolong urus dia. Lalu… kalian bertiga juga sudah bekerja dengan baik. Sekarang istirahatlah."


"Jangan panggil kami tiga anak kecil! Bilang lagi, kubunuh kau!"


Aku menunjuk Yuri dan yang lainnya, tapi sapaan dalam bahasa Nord ini memang kejam.


Ya wajar mereka marah…


"Yuri, kau bahkan sudah tidak punya tenaga! Noct, aku masih bisa bertarung!"


"Irina, kau juga istirahat. Mulai dari sini, ini pertarunganku."


"Nggak mau, setelah lihat itu… bahkan Noct pun nggak bakal bisa menang…"


"Kau kira aku siapa! Aku ini Nord Vilance!"


Kenapa aku malah blakblakan ngomong begitu!!


Ya sudahlah… Nirvana dan lainnya juga sudah tahu, hidupku tamat.


"Eeh? Noct… apa yang kau— kyaaaa— a-aku tidak dikasih tahu kalau Noct itu benar-benar sang Pahlawan Hitam!? Kenapa tidak bilang!?"


"Jaga rahasia ini dari yang lain. Mengerti?"


"U-um… mengerti. Tapi sebagai imbalannya, aku mau kencan."


"Lakukan sesukamu."


Sungguh, ini bukan waktunya. Aku menjawab asal ke Irina, tapi dia terlihat puas dan langsung menarik tangan Yuri yang hampir tumbang.


"Ayo, Yuri! Kita mengungsi!"


"A-aku bisa jalan sendiri!"


Yuri mungkin tidak mau terlihat lemah di depanku, tapi akhirnya dia tetap bersandar pada Irina dan menuju ke Elise.


Suara sendi berderak keras terdengar.


"Serangan mendadak itu curang."


Marakaitar menoleh kanan kiri, lalu menghadapku lagi, seolah ingin memulai ronde baru.


"Benar-benar lucu kau ini. Inangmu itu pengecut dan licik. Tapi kau… kau akan bertarung dengan adil, kan?"


"Tentu saja. Aku tidak akan melakukan hal curang pada yang lemah."


Ah, jadi begitu ya. Tipe percaya diri yang yakin dirinya tidak pernah gagal!


"Aku maju!"


Marakaitar melesat ke arahku, keempat pedang cahayanya mengarah padaku.


Dia cukup kuat untuk menyingkirkan Balbera yang baru saja bangkit kekuatannya dan dua bersaudara Kurchatov sekaligus. Sama sekali bukan lawan yang boleh diremehkan.


Nord sudah keburu membuka identitasnya, jadi sekarang aku bisa pakai mereka tanpa ragu.


"Bangun kalian!"


Aku menarik pedang suci dan pedang ular dari [Ruang Penyimpanan Harta].


"Hah? Nord!?"


Roh Pedang Suci, X, panik karena baru bangun langsung dipaksa ikut perang, sampai suaranya keluar dari bentuk pedang.


"Kalau kau tidak mau patah di tengah dan mengakhiri hidup sebagai pedang, bekerjalah dengan benar, pedang tidak berguna!"


"Harus lawan makhluk menjijikkan kayak gitu!? Oh tolong jangan! Nord selalu bawa masalah tiap saat ya!"


"Jangan salah sasaran. Musuhmu itu, yang mirip belalang sembah itu."


Wajah belalang sembah tapi tidak ada sabitnya—benar-benar iklan palsu. 


"Ho… pakai dua pedang rupanya. Menarik. Tapi empat lawan dua itu tetap putus asa."


"Fufufu, aku putus asa? Ingatlah baik-baik dengan otakmu yang lebih kecil daripada biji gandum itu—Aku ini bukan pihak yang putus asa, tapi pihak yang membuat orang lain putus asa."


Aku menghindari terjangannya sembari menepis pedangnya, tapi Marakaitar menebasku ke samping dengan dua lengan atas, seperti pukulan backhand.


Aku menahan pedang cahaya merah dan biru dengan pedang suci dan pedang ular. Luar biasa… seni dua pedang 【Dark Twin】benar-benar hebat!


"Hooh, apa kau bisa menahan ini!"


Marakaitar yang bergaya seperti pendekar itu saling menekan dua pedangnya dengan punyaku sambil terlihat terkesan padaku. Wajar saja kalau dia sampai terkesan.


Pedang cahaya itu bisa dibilang skill curang yang membunuh lawan hanya dengan sekali lihat pertama.


Para prajurit yang tadi ditebas, mencoba menahan tebasannya dengan senjata sihir, tapi senjatanya ikut terbelah dua begitu saja.


Pedang cahaya yang tak boleh ditahan dengan senjata biasa, ditambah empat pedang sekaligus… semuanya itu merupakan jalur konsentrasi elemen sihir dengan kepadatan tinggi yang bisa membelah logam setebal baja dengan mudah.


Tapi pedang suci memiliki perlindungan bawaan, dan pedang ular menggunakan sihirku untuk membentuk jalur konsentrasi elemen sihir sendiri.


Cara mengalahkan Marakaitar hanya dua: terus menghindar sambil menunggu dia lelah, atau menyerang dari jauh dengan sihir.


Tapi sihir itu juga tak bisa diandalkan. Dia punya pertahanan sihir yang sangat tinggi, dan juga punya [Penghindaran Luka Fatal] dari berkah iblis. Sihir kuat sekalipun akan turun efektivitasnya jadi selevel [Fire Ball].


Singkatnya, satu-satunya cara adalah terus berlari menghindar sambil menembakkan sihir kecil-kecilan dari jauh seperti pemanah pengecut. 


Dan meski aku tahu cara mengalahkannya, tetap saja saat lengah sedikit aku diseruduk dan mati berkali-kali saat memainkan Cain dulu.


Tapi kali ini aku punya strategi rahasia.


"Barusan si wanita memanggilmu sebagai Pahlawan Hitam."


"Kalau begitu kenapa?"


"Kaulah yang mengalahkan Kamerad Azrael ya?"


"Bukan, salah orang. Yang mengalahkan raja iblis itu Cain…"


"Omong kosong! Tekanan, aura, ketegangan yang hanya dirasakan saat saling berhadapan… Azrael memang yang terlemah di antara para raja iblis… tapi tak mungkin kalah melawan spesies rendah seperti manusia!"


Aku ingin dia memutuskan: mau memuji atau menghina, jangan dua-duanya.


【Akselerasi】


"Kukuku, kecepatan tebasanku kini dua kali lipat. Bisa mengejarku?"


"Licik sekali!"


Akan bagus kalau aku bisa menangkis pedang cahayanya, tapi setiap aku menebas, bilahnya menempel seperti lengket, dan dua pedang lain mencoba menusuk tubuhku dari sela itu, membuat kecepatan akselerasi tak bisa kupakai maksimal.


Bertarung di depan Marakaitar jelas bunuh diri. Dengan empat pedang, aku akan dicincang. Aku harus selalu bergerak ke sisi tubuhnya, membatasi pedang yang harus kuhindari hanya dua. Dua pedang lainnya akan sedikit terlambat karena struktur sendi tubuhnya.


Tapi tetap saja…


Aahh! Astaga! Menghindarnya benar-benar menyulitkan banget!


"Berisik hanya di awal saja rupanya, Pahlawan Hitam! Dengan kemampuan seperti itu kau berani menyebut dirimu pahlawan? Sungguh konyol!"


Ya iyalah! 


Dari badan Siegfried saja sampai tumbuh lengan dari pinggangnya!!


Dengan bunyi yang mengiris udara, pedangnya lewat tepat di atas kepalaku, lalu sapuan kaki datang dan aku melompat menghindar.


Rasanya benar-benar seperti bangun telat dan sadar waktu keberangkatan tinggal lima menit lagi, lalu panik menyiapkan semuanya! Kalau telatnya dua jam sekalian, aku sudah pasrah dan santai…


Dengan hiruk-pikuk yang mirip game musik dansa di arcade, aku terus menahan pedang cahaya Marakaital.


"Ayo ayo ayo! Kalau hanya lari terus begini membosankan!"


Marakaitar mengayunkan tebasan vertikal, horizontal, dan diagonal seperti orang gila.


Kalau aku sampai terpikir "wah hampir kena!", pasti akan hancur fokusku dan aku akan jadi dadu daging.


Pedang suci dan pedang cahaya ungu bertabrakan.


"…Hmm!?"


Namun pedang biru yang harusnya turun dari atas tidak jatuh. Rasanya sekitar 0,05 detik ritme tebasan Marakaitar melambat.


Perbedaan kecil, tapi dia menyadarinya.


"Ada apa? Raja iblis. Apa kemampuan pedangmu sudah berkarat? Aku menunggu sampai bosan, sampai-sampai mau menguap."


Aku sedang memakai [Racun Pedang]. Setiap kali pedangku bersentuhan dengannya, berat pedangnya bertambah.


"Kukuku, sekarang giliranku. Pertunjukanmu berakhir di sini. [Tombak Es]!"


"Ini… apa!?"


Di tengah pertarungan pedang, tanpa mantra, aku mengaktifkan sihir sehingga tombak-tombak es muncul di atas kepalaku dan berjatuhan miring seperti hujan ke arah Marakaitar.


"Cih! Dengan sihir tak berguna seperti ini kau kira bisa mengalahkanku?"


Marakaitar menebas tombak es dengan pedang cahaya, membuatnya berubah menjadi uap dan menghilang, tapi ribuan tombak lain yang tak sempat dia tebas menghantam tubuhnya dan menggores daging Siegfried.


"Semuanya sudah kutebas!"


"Kalau seorang raja iblis sudah sampai harus membual begitu, jujur saja aku kecewa!"


Barusan aku mencobanya—meski [Tombak Es] tak memberi kerusakan berarti, aku memastikan dia gagal menebas sekitar dua ribu dari sepuluh ribu tombak yang jatuh.


"Kau bilang empat lawan dua, kan? Itu salah. Karena pedangku bukan cuma dua."


【Ice-Piercing Sword】


Seperti raja berzirah emas dari suatu tempat, pedang-pedang tak terhitung muncul di atas kepalaku. Semuanya pedang tikam dari es, cukup untuk mengalihkan perhatian Marakaital.


"Kukukukuku! Kelihatannya berat sekali. Mau kubantu?"


"Jangan main-main────"


Begitu aku melempar candaan pada Marakaitar yang sedang kesulitan menangani pedang tikamnya, tercipta sebuah celah.


Bagian depannya terbuka lebar, jadi aku melompat sambil menebas leher Marakaitar yang seperti belalang sembah, lalu mendarat di belakangnya sambil berputar satu kali di udara.


"Karena Nord, aku jadi menebas hal menjijikkan."


Padahal aku sudah memasang pose chuunibyou terbaik yang kupikirkan—bertumpu pada satu lutut dan menyilangkan kedua lengan di depan dada—tapi X menghancurkannya begitu saja.


Tak ada pilihan lain, jadi aku tetap mempertahankan sikap waspada sambil mengibaskan darah dengan gaya.


Saat pertarungan berakhir, Nirvana, yang sedang menunggang Kururu, melambaikan tangan.


"Nord────!"


Begitu Kururu mendarat, dia langsung melupakan soal kedua orangtua Elise dan berlari ke arahku.


"Pertarungan belum selesai! Jangan lengah!"


"Eh!?"


Kekhawatiranku menjadi kenyataan. Nirvana yang sudah mendekat tiba-tiba ditangkap tubuhnya oleh Marakaitar yang kembali bergerak.


Kepala yang kutebas tadi berayun seperti sedang mengejekku.


"Di mana letak pertarungan yang jujur? Menjadikan sandera—benar-benar hina."


"Tutup mulutmu! Sejarah hanya boleh diceritakan oleh pihak yang menang… kehinaan pihak yang kalah akan dikisahkan oleh sang pemenang dan diwariskan selamanya! Cepat buang senjatamu, manusia!"


"Begitu ya. Kalau begitu, perbuatan biadab dan pengecutmu akan kuceritakan pada anak-cucu, jadi tenang saja saat mati."


"Apa!?"


"Fana! Ingat satu-satunya sihir yang bisa kau gunakan. Lakukan seperti remedial yang kita ulangi bersama."


"A… aku ingat! 【Inventory】"


───────────────────────

Selamat.

【Inventory】 berevolusi menjadi 【Sanctuary】.

Berkat efek skill, tubuh pengguna dilindungi dari apapun.

───────────────────────


Tubuh Nirvana tertutup kain putih dan berubah menjadi sebuah kuil kecil yang hanya bisa memuat dirinya seorang. 


Warnanya terpancar seperti platina, dan bahkan aku hampir merasa mataku akan rusak seperti Hans-senpai jika menatapnya langsung.


"Tingkah yang menyebalkan! Tempat seperti ini akan kupotong habis!"


Pedang cahaya berusaha menebas 【Sanctuary】 Nirvana, tetapi—


Spann!


"Hahahaha! Kekasihmu terbelah dua. Sayang sekali!"


"Apa yang kau katakan? Lihat baik-baik."


───────────────────────

Serangan berniat jahat dipantulkan oleh efek refleksi 

【Sanctuary】.

───────────────────────


Di samping kuil itu, muncul hologram lain, dan pedang cahaya hijau milik Marakaitar terpental bersama lengan bawahnya, menancap di tanah.


"A… apa!? Apa itu barusan…"


Kepala Marakaitar menatap lengannya yang terbang, terpaku heran.


"Apa? Bahkan kaupun kau tak tahu? Raja iblis zaman sekarang sungguh tak berpendidikan ya… ketahuan bagaimana kau dibesarkan. Tapi aku dermawan. Sebagai hadiah terakhir untukmu yang akan mati, kuberitahu—sihir yang Nirvana gunakan adalah karya Dewi Hikikomori."


Dia bukan tidak berguna. Hanya saja dia tipe perkembangan lambat dibanding para heroine lain. Latihan yang tampak tak berarti pun sebenarnya mempercepat kebangkitannya.


"Kalau sudah paham, cepat hilanglah."


"A—!"


Aku menusukkan pedang suci ke kepala Marakaitar yang tinggal sendiri, lalu mulai menuntaskan sisa tubuhnya.


"Merentanglah! 【Pedang Ular】"


Pedang ular memanjang, melilit tubuh Marakaitar dan menghentikan gerakannya.


"Ke tanganku! 【Pedang Ular】"


Dengan memanfaatkan tarikan balik dari bilah rantai yang kembali, tubuh Marakaitar terhempas jauh.


Enam anggota tubuhnya tercerabut, menyisakan batang tubuh saja. Saat itu, yang terlintas di benakku adalah CG saat Nirvana dipotong empat anggota tubuhnya di rumah pelacuran.


Lenyaplah! Raja iblis!


【Ruang Gelap yang Mengembalikan Segalanya ke Ketiadaan】!!


Lubang hitam kecil itu menelan seluruh tubuh Marakaitar dan menghapusnya.


Aku menutupi mata dengan satu tangan seperti pelindung dan berlari menuju 【Sanctuary】 yang memancarkan cahaya kuat.


"Nirvana!"


Aku sempat cemas—bagaimana kalau dia tidak keluar seperti cerita Amaterasu? Tapi begitu aku memanggil, kuil itu terbuka seperti kerang, dan Nirvana keluar.


"Nggak telanjang ya."


"Dasar Nord…"


Saat aku menyapanya dengan harapan dia muncul layaknya Venus de Milo, dia malah memarahi dengan manja. Dia melingkarkan tangan ke leherku, memeluk dan menciumku.


"Aku sangat takut. Tapi waktu aku percaya pada Nord, aku berhasil untuk pertama kalinya. Aku sadar kalau Nord memang orang takdirku."


Tanpa perlu bilang begitu. Dia memang takdirku.


Hanya saja… takdir yang penuh flag kematian.


"Ke-ke-kenapa kau melakukan itu!? Jangan kotori Nord-sama dengan ciumanmu!"


Elise, yang menyerahkan urusan penyembuhan orang tuanya sepenuhnya pada Yuri, langsung menyelip di antara aku dan Nirvana.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close