NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 8 Chapter 16

Chapter 153

Titik Pusat dan Racun Shomadoku


Rex

"Sepertinya di sini titik pusat Tanah Pembusukan."

Aku dan Kak Liliera telah sampai di bagian terdalam dari Tanah Pembusukan.

"Di sini... pusat dari Tanah Pembusukan?"

"Iya, karena konsentrasi toksin di sini paling pekat. Tidak salah lagi, ini adalah titik pusatnya."

"Bentuknya... agak aneh ya."

Seperti yang Kak Liliera katakan, pusat dari Tanah Pembusukan ini memiliki bentuk yang misterius. Jika dilihat dari langit, pusatnya berupa bukit kecil berbentuk oval memanjang, dan dari sana ada tujuh barisan perbukitan memanjang yang terhubung ke tujuh arah berbeda.

Lalu, hanya ada satu barisan bukit yang menjulang jauh lebih tinggi daripada yang lainnya.

"Bentuknya tidak terlihat seperti bentukan alami."

Meski begitu, jika ditanya apakah ada seseorang yang sengaja membentuknya seperti ini, aku tetap tidak bisa membaca tujuannya.

"Hmm, sebenarnya ini apa ya... Hm?"

Saat itulah, aku menemukan keberadaan sesuatu di atas bukit kecil tersebut.

"Itu... bangunan?"

Benar, itu pasti bangunan buatan manusia. Mungkinkah itu penyebab dari munculnya Tanah Pembusukan?

"Ayo kita periksa, Kak Liliera."

"E-eh, iya..."

Kami pun terbang turun menuju bangunan yang berdiri di bukit kecil itu. Namun, pada saat itulah—

"Geho! Geho!"

"Kak Liliera!?"

Tiba-tiba Kak Liliera mengerang kesakitan sambil memuntahkan darah dari mulutnya. Aku segera menangkap Kak Liliera yang hampir jatuh karena kehilangan kendali atas sihir terbangnya, lalu memeriksa gejalanya.

Kak Liliera tidak hanya muntah darah; wajahnya berubah pucat pasi seperti warna tanah, dan tubuhnya gemetar karena kejang-kejang kecil.

"Ini... mungkinkah gejala Shomadoku!?"

Begitu mengetahui penyebab memburuknya kondisi Kak Liliera, aku segera merapalkan sihir penawar.

"Grand Antidote!"

Cahaya sihir penawar menyelimuti tubuh Kak Liliera. Seketika kejang di tubuhnya mereda, dan rona merah kembali ke wajahnya yang tadi pucat.

"Syukurlah, sepertinya sihirnya bekerja dengan baik."

"...Ugh, aku... sebenarnya kenapa?"

Gejalanya hilang dan kesadaran Kak Liliera pun kembali.

"Kakak tidak apa-apa? Kakak tadi terkena gejala racun Shomadoku."

"Sho... madoku?"

"Iya, secara harfiah Shomadoku adalah racun yang membuat tubuh kejang-kejang hebat seperti baru saja menerima hantaman keras. Awalnya dimulai dengan muntah darah dan kejang ringan, tapi tak lama kemudian intensitas kejangnya akan meningkat sampai tubuh seolah melonjak-lonjak. Lalu, dampak dari kejang hebat itu akan mematahkan tulang di seluruh tubuh, memutus saraf serta pembuluh darah, dan akhirnya tubuh akan terkoyak berkeping-keping. Itu racun yang mengerikan."

"Menakutkan sekali!? Racun gila macam apa itu!?"

"Maaf, jujur saja aku tadi lengah. Shomadoku adalah racun yang berasal dari monster tertentu, jadi aku tidak menyangka akan bertemu racun berbahaya seperti ini di tempat seperti ini."

"Berasal dari monster... jadi ini racun monster?"

"Iya. Sepertinya selama ini racunnya menyebar dan melemah karena kita berada jauh dari pusatnya. Itu sebabnya aku telat menyadarinya. Benar-benar maaf ya, Kak Liliera."

"Ti-tidak apa-apa, kan kamu yang menolongku. Justru akulah yang harus berterima kasih. Terima kasih, Rex."

Padahal dia terkena racun karena kecerobohanku, tapi bukannya marah, Kak Liliera malah berterima kasih. Aku benar-benar merasa bersalah karena telah membiarkan orang sebaik ini berada dalam bahaya.

"Tapi kalau begitu, kita tidak bisa turun sembarangan. Meskipun bisa diobati dengan sihir penawarmu, kalau harus berkali-kali diobati, nyawa sebanyak apa pun tidak akan cukup."

"Ah, kalau itu tidak perlu khawatir. Grand Antidote yang tadi tidak hanya menetralkan racun, tapi juga memiliki efek untuk membatalkan efek racun selama beberapa waktu."

"Begitu ya, jadi tetap si-—tunggu, eh? Membatalkan?"

"Iya, selama beberapa jam ke depan akan aman."

"..."

Setelah aku menjawab, entah kenapa Kak Liliera terdiam tanpa kata.

"Eh? Ada apa, Kak Liliera?"

Apa dia masih merasa tidak enak badan? Kalau begitu, mungkin lebih baik aku merapalkan sihir penawar sekali lagi.

"Tunggu, tunggu sebentar. Rex, dengan sihir tadi kamu menetralkan racun mematikan yang hampir membunuhku, kan? Tapi sihir itu tidak hanya mengobati gejalanya, bahkan bisa sampai membatalkan racunnya juga!?"

"Iya, bisa kok. Meski ada batasan waktunya."

"Tunggu, tunggu, tunggu!? Bukankah itu aneh!? Menetralkan racun mematikan dan membatalkan efek racun itu bukannya sihir yang berbeda!? Kenapa kamu bisa melakukannya sekaligus seolah itu hal sepele!?"

"Yah, soalnya kalau harus menetralkan racun lagi nanti kan merepotkan. Jadi kupikir akan lebih praktis jika aku membuat sihir yang menganalisis racunnya saat penetralan, lalu memberikan efek antibodi sementara."

"Itu sama sekali tidak praktis! Penyihir biasa tidak bisa membuat sihir luar biasa hanya dengan alasan 'aku ingin sedikit malas-malasan' seperti itu!"

"Tapi kalau cuma menetralkan, kita bakal terus-terusan terkena racun lagi, kan? Jika memikirkan efisiensi, bukankah lebih baik jika bisa membatalkannya?"

"I-itu memang benar sih, tapi..."

"Singkatnya memang begitu. Tidak hanya menyelesaikan masalah, tapi menyiapkan langkah pencegahan agar tidak tersandung pada masalah yang sama di masa depan adalah cara menggunakan teknik yang efisien."

"Hmm, be... gitu... ya?"

Iya, iya, syukurlah kalau Kak Liliera bisa mengerti. Sebenarnya aku ingin membuat efek pembatalan racunnya permanen, tapi karena ini adalah sihir, mau bagaimana lagi kalau efeknya bisa habis.

Lagi pula, itulah alasan mengapa Magic Item diciptakan.

Baiklah, setelah pulang nanti aku harus membuat Magic Item penawar yang bisa menangkal Shomadoku. Dengan material yang bisa dikumpulkan di sini, aku pasti bisa membuatnya.

"Oke, kalau begitu kali ini ayo kita benar-benar pergi ke bangunan itu!"

"O-ooh...?"



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close