Chapter Tambahan
Buku Harian Riset Kuliner Gagal
Namaku
Ganei. Aku adalah penyintas dari peradaban sihir kuno yang pernah berjaya di
masa lalu. Yah, menyebut diriku yang sudah menjadi undead ini sebagai
"penyintas" mungkin terdengar agak aneh.
Aku telah
meneliti Chimera terkuat demi sebuah tujuan tertentu. Dan saat kupikir aku
akhirnya berhasil menciptakan Chimera terkuat... makhluk itu malah dikalahkan
dengan begitu mudahnya.
"Haaah,
karena Bencana Putih itu sudah tidak ada lagi, mungkin sebaiknya aku berhenti
meneliti saja, ya."
Mahakarya
yang kubangun dengan seluruh jiwaku tumbang tanpa perlawanan berarti, ditambah
lagi aku baru tahu kalau target utamaku, sang Bencana Putih, sudah lenyap.
Di dunia
yang seperti ini, apa gunanya melanjutkan penelitian lebih jauh lagi?
『Gyuu!!』
Namun
tiba-tiba, bayangan sesosok monster putih terlintas di benakku.
"Tidak,
makhluk itu jelas-jelas berhubungan dengan sang Bencana Putih. Kalau begitu,
aku tidak bisa membiarkannya begitu saja."
Saat ini
dia masih kecil, dan karena bocah itu terus mengawasinya, dia masih bersikap
penurut.
Tapi
begitu dia tumbuh dewasa, dia mungkin akan mengamuk seperti Bencana Putih di
masa lalu. Tidak, dia pasti akan mengamuk.
"Ternyata
aku tidak bisa menyerah begitu saja!"
Meski
hampir kehilangan harapan, harga diriku yang telah memupuk penelitian ini
hingga sekarang—dan yang terpenting, rasa tanggung jawabku untuk membalaskan
dendam rekan-rekanku yang telah gugur—tidak membiarkanku berhenti di sini.
"Baiklah,
aku akan memulai ulang penelitianku dari awal!"
Dengan
tekad baru, aku menetapkan monster putih dan si bocah itu sebagai targetku.
"Meskipun
masih dalam tahap larva, makhluk itu punya kekuatan yang merepotkan. Dan selama
bocah itu ada di sana, dia pasti akan menghalangiku saat aku mencoba
mengalahkan monster itu."
Kalau
begitu, strategi selanjutnya sudah jelas.
"Daya
serang itu penting, tapi pertahanan juga harus diperkuat, kalau tidak,
Chimera-ku akan hancur oleh sihir bocah itu."
Belajar dari
kekalahan sebelumnya, aku memutuskan untuk mementingkan aspek pertahanan.
Namun, mengingat kemampuan bocah itu, pertahanan setengah-setengah tidak akan
ada gunanya.
"Kalau begitu... Benar! Aku akan memberinya kemampuan
regenerasi yang kuat!"
Ini adalah pemikiran terbalik. Jika pertahanan bisa
ditembus, aku hanya perlu memberinya kemampuan Ultra Recovery yang sanggup
memulihkan luka dalam sekejap mata, tak peduli seberapa banyak dia diserang.
"Oh, tunggu, ada risiko dia akan dibakar habis
sekaligus dengan sihir tingkat tinggi. Kalau begitu, aku akan menjadikannya
monster berukuran super raksasa yang tidak bisa ditumbangkan hanya dengan satu
serangan."
Berdasarkan kekalahan sebelumnya, aku mulai menyusun rencana
dengan arah yang jelas.
"Hmm, tapi
membesarkannya butuh waktu lama. Aku harus mencari cara agar dia bisa tumbuh
lebih cepat."
Berpikir
demikian, aku memutuskan untuk menggunakan Orc yang memiliki tingkat reproduksi
tinggi sebagai inti dari Chimera-ku.
"Tapi kalau
begitu, masalahnya adalah rasanya yang jadi terlalu enak."
Rasa itu penting.
Bagaimanapun juga, daging Orc itu memang lumayan lezat. Apalagi monster putih
itu sempat mendapatkan peningkatan kekuatan setelah melahap Chimera yang
kukembangkan.
"Aku harus
membuatnya terasa semuak mungkin agar monster itu tidak berniat
memakannya."
Namun, hal itu
terbukti sangat sulit. Karena ternyata, Chimera yang kukembangkan malah menjadi
sangat lezat saat dimasak.
Ada lelucon di
kalangan petualang bahwa "semakin kuat monsternya, semakin lezat
dagingnya," dan secara mengejutkan, tampaknya itu benar.
Semakin aku
memperdalam penelitian, Chimera ciptaanku justru terasa semakin nikmat.
Ini gawat.
Bisa-bisa monster putih itu malah menyerang dengan kekuatan penuh hanya demi
menyantap Chimera-ku dengan lahap.
Idealku adalah
membuat rasanya sangat menjijikkan hingga dia kehilangan motivasi bertarung,
memberiku keuntungan di medan laga.
"Kalau
begitu, bagaimana kalau aku menyilangkannya dengan monster yang tidak cocok
dimakan? Untuk kemampuan regenerasi, aku akan merujuk pada monster tipe
tumbuhan keras seperti Elder Plant. Lalu, aku akan mencampurkannya dengan
monster tipe ubur-ubur yang berair."
Selanjutnya, aku
terus mendorong evolusi dengan mengombinasikan Chimera kuat dengan Chimera
menjijikkan yang berhasil kubuat.
"Sial,
rasanya malah jadi lebih enak dari sebelumnya! Aku harus mencampurnya dengan
Chimera yang lebih hambar lagi!"
Tapi saat aku
memprioritaskan rasa, kali ini dia malah jadi lemah. Benar-benar keseimbangan
yang sulit!
Ah, Chimera yang
ini malah punya rasa yang sangat cocok jika dimasak dengan bumbu jahe (shogayaki)!
Kalau yang ini, rasanya sangat segar dan nikmat jika dikukus.
"Tunggu,
tidak boleh, tidak boleh! Kalau begini, dia bakal disantap dengan nikmat oleh
monster putih itu!"
Aku terus
mengulangi kegagalan dan keberhasilan berkali-kali.
"Kuh! Yang
satu ini rasanya sangat cocok untuk teman minum bir!"
Sudah berapa kali
aku mengulanginya?
Sudah berapa kali
aku memasaknya untuk memastikan rasanya?
Aku
sendiri sudah tidak ingat lagi. Mungkin konsep "Chimera yang kuat tapi
rasanya menjijikkan" hanyalah sebuah fantasi belaka.
"Tapi
aku tidak boleh menyerah! Nyam, yang ini sangat cocok dengan sake dari
Negeri Timur."
Dan
akhirnya, Chimera yang memuaskan lahir juga.
"Sip,
ini rasa menjijikkan yang ideal!"
Hanya
dengan satu gigitan, rasa mual yang luar biasa menyebar di dalam mulut.
Tak
peduli bagaimana pun cara memasaknya, rasanya tidak akan pernah enak.
Inilah
kebusukan yang ideal! Dan meski begitu, kekuatannya tidak berkurang sedikit
pun!
"Fuhahahaha!
Akhirnya selesai juga! Chimera terkuat yang menjijikkan sekaligus
perkasa!!"
"Volcano
Lake!"
Chimera terkuat
hasil kembanganku tenggelam ke dalam lautan lava dalam sekejap mata.
"UGYAAAAAAAAAAAAAA!!"
Begitulah,
kristal hasil jerih payahku sekali lagi dikalahkan dengan begitu mudahnya.
Aku benci bocah
itu!!
Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan
Buah yang Menyegarkan
Setelah masalah
Orc Chimera terselesaikan, kota Togai dilanda demam daging Orc yang belum
pernah terjadi sebelumnya.
Pasalnya, jumlah
daging Orc yang didapatkan dari hasil perburuan terlalu banyak, sampai-sampai
kami bingung harus diapakan.
Itulah sebabnya
diputuskan untuk menyajikan masakan daging Orc dalam jumlah besar dengan harga
murah guna menarik orang-orang dari luar kota dan mempercepat konsumsinya.
"Tapi ya,
kalau makan hal yang sama terus-menerus rasanya berat juga, ya."
Tiba-tiba Jairo
mengeluh kalau dia sudah bosan dengan masakan Orc.
"Kalau
begitu, bagaimana kalau mencoba makanan dari kedai lain?"
Untungnya,
restoran dan kedai di seluruh kota ikut serta dalam festival daging Orc, jadi
ada berbagai macam masakan Orc yang dibuat.
"Biarpun
masakannya beda, tetap saja daging Orc, kan? Mulutku sudah terasa berminyak, aku ingin makan
sesuatu yang lain. Stok ikan dan cumi-cumi cuma sedikit, jadi sudah habis
dimakan semua orang."
Begitu
ya, dia mulai merasa enek dengan lemak daging. Yah, wajar saja karena sejak
tadi yang dimakan hanya daging terus.
Dan
sepertinya variasi daging Orc yang unik pun sudah ludes dimakan oleh
orang-orang yang berpikiran sama dengannya.
Masakan
yang segar dan tidak berminyak, ya... Ah, benar juga.
"Kalau
begitu, bagaimana kalau shabu-shabu daging Orc?"
"Shabu-shabu?"
"Masakan
di mana daging yang diiris tipis dicelupkan sebentar ke air mendidih. Lemaknya
akan luntur sambil mematangkan dagingnya, lalu dimakan dengan saus yang
segar."
"Heh,
kedengarannya boleh juga."
Segera
saja kami pindah ke sudut area festival dan mengeluarkan panci. Aku menggunakan
sihir tanah untuk menyusun gundukan tanah menjadi tungku sederhana.
Setelah
meletakkan panci di sana, aku mengisinya dengan air hasil sihir air, lalu
menyalakan api menggunakan kayu bakar Trap Plant yang kukeluarkan dari tas
sihir. Persiapan selesai.
Sisanya,
aku segera menyiapkan irisan tipis daging Orc dan mulai meracik sausnya.
Ada
banyak jenis saus, tapi karena kali ini tujuannya ingin yang segar, aku akan
membuat saus ponzu menggunakan buah-buahan sitrus.
"Nah,
silakan dicoba."
"Selamat
makan!"
Jairo segera
mencelupkan daging Orc ke air panas, lalu memakannya setelah dicelupkan ke saus
ponzu.
"Oh, ini
enak! Mulutku tidak terasa lengket oleh minyak, jadi aku bisa makan sebanyak
apa pun!"
"Wah,
sepertinya kalian sedang makan sesuatu yang lezat, ya."
"Boleh aku
minta juga? Terus-menerus
makan yang berminyak itu agak berat rasanya."
Melihat
Jairo makan dengan lahap, Riliera-san dan yang lainnya berkumpul karena ingin
ikut mencicipi.
"Wah, ini
enak."
"Hmm, rasa
asamnya terasa pas sekali."
"Oho, kalian
makan sesuatu yang kelihatannya enak, ya. Jual juga dong ke kami."
Lalu, para
petualang yang jeli melihat kami sedang makan mulai berdatangan.
"Ah, maaf.
Ini bukan sesuatu yang dibuat untuk dijual."
"Jangan
kaku begitu dong. Kami bakal bayar kok."
"Benar,
benar, kelihatannya enak sekali."
"Baiklah,
tapi cuma sedikit ya."
Lagipula membuat shabu-shabu
itu cuma perlu mencelupkan daging, repotnya hanya saat membuat saus.
Sambil mengiris
daging Orc dengan cepat, aku menyerahkan tugas memberikan instruksi cara makan
kepada Jairo dan yang lain, sementara aku membuat saus tambahan.
"Oh, ini
mantap! Cocok sekali jadi teman minum!"
Para petualang
yang langsung mengeluarkan botol minuman keras mulai berpesta sambil memuji
rasanya.
Melihat itu,
orang-orang kota pun mulai berdatangan karena penasaran.
Ah, aku
punya firasat buruk soal ini...
""""Beri
kami juga!""""
Benar saja,
orang-orang kota pun ikut meminta, dan suasananya menjadi sulit untuk ditolak.
Terpaksa aku menyerahkan tugas mengiris daging kepada Riliera-san dan yang
lain, sementara untuk pembuatan saus, aku dibantu oleh Mina-san dan Meguri-san.
"Dengar ya,
tidak berlebihan jika dikatakan kunci dari masakan ini ada pada sausnya. Saus ponzu
dibuat dengan mencampurkan bahan-bahan ini."
Aku meletakkan
buah-buahan yang akan digunakan untuk saus ponzu di atas meja sederhana
buatan sihir tanah.
"Lho? Buah
yang dipakai untuk ponzu ini, sepertinya tidak pernah kulihat di sekitar
sini ya."
"Iya, ini
ditemukan secara tidak sengaja saat perburuan kemarin. Rasanya ternyata sangat
cocok untuk membuat ponzu."
"Heh, boleh
aku cicipi sedikit?"
"Silakan."
Aku memotong buah
itu dan menyodorkannya kepada Mina-san dan Meguri-san.
"Wah, enak
sekali ya."
"Iya, buah
ini saja sudah bisa jadi barang dagangan. Aku mau lagi."
Mina-san dan
Meguri-san meminta tambah, jadi sambil tersenyum kecut aku memberikan potongan
tambahan.
"Tapi, ini
dijual di mana?"
"Tidak, ini
saya temukan di hutan."
"Benda ini
tumbuh di hutan!? Aku harus memanennya dalam jumlah banyak dan
menjualnya!"
Meguri-san yang
memiliki intuisi tajam terhadap buah langka merasa bersemangat dan ingin
memanennya secara massal untuk dijual.
"Sayangnya,
memanennya lagi sudah tidak mungkin. Pohonnya sudah mati, jadi tidak akan
berbuah lagi."
""Mati?""
Keduanya
memiringkan kepala dengan heran.
"Iya, ini
adalah buah yang tumbuh pada Orc Tumbuhan."
Benar, ini adalah
hasil panen dari salah satu Orc Chimera ciptaan Ganei-san, yaitu Chimera
Tumbuhan.
""... Ha?""
"Benda ini..."
"Dari Orc?"
"Iya. Kelezatannya sampai membuat kita tidak percaya
kalau ini dipanen dari Orc, kan?"
""...""
Memang hebat Orc ciptaan Ganei-san itu. Siapa sangka bisa menghasilkan buah selezat ini.
"Oh? Ada apa
dengan kalian, sedang makan sesuatu yang enak ya! Beri aku juga!"
Jairo yang baru
kembali setelah selesai memberikan tutorial cara makan shabu-shabu
menghampiri kami.
"Jairo mau
makan juga?"
"Kalau
begitu, aku minta ya! Nyam, nyam,
enak banget ini!"
Sepertinya
Jairo juga menyukai buah dari Orc Tumbuhan itu.
"Jairo,
makan punyaku juga boleh kok."
Tiba-tiba
Mina-san dan Meguri-san menyodorkan bagian buah mereka kepada Jairo.
"Serius!?"
"Iya, kami
sudah cukup makan kok."
"Terima
kasih!"
Dan entah kenapa,
kedua gadis itu hanya menatap Jairo yang sedang memakan buah tersebut dengan
lahap menggunakan tatapan mata yang hangat sekaligus kasihan.
Kata Penutup
Penulis: "Volume 9 Dua Kali Reinkarnasi
rilis, woiiiii!! Sudah lama tidak jumpa, ini saya, Penulis."
Aug: "Dan aku Aug, bintang tamu
kali ini! Kalian semua masih
ingat padaku, kan?"
Mofumofu: "Dan aku Mofumofu, tokoh utama dari Dua
Kali Reinkarnasi, woiiiii! Kalian tidak lupa siapa tokoh utamanya gara-gara
sudah lama tidak muncul, kan?"
Penulis: "Jangan menyebar kebohongan dengan
wajah polos begitu."
Mofumofu: "Kalau spin-off aku jadi
tokoh utama rilis, itu bukan bohong lagi namanya!"
Penulis: "Bukannya 'namanya'! Malah Jairo
yang lebih punya potensi jadi tokoh utama daripada kamu."
Aug: "Yah, ada banyak kesibukan kerja dan
lainnya yang membuat penerbitannya tertunda, tapi yang penting Volume 9
akhirnya rilis dengan selamat!"
Penulis: "Terima kasih untuk semuanya yang
sudah sabar menunggu—!"
Mofumofu: "Ngomong-ngomong soal Volume 9...
bukannya Orc-nya terlalu banyak?"
Penulis: "Banyak banget ya."
Mofumofu: "Sesi diskusi rutin kita sampai macet
gara-gara penuh sama Orc."
Penulis: "Ya-yah, setidaknya penampilan luar
mereka kan berbeda-beda tiap individu..."
Mofumofu: "Tetap saja tulisan 'Orc'-nya bikin
macet...!"
Penulis: "Jadi, bagian paling sulit
sebenarnya adalah memikirkan variasi para Orc itu."
Mofumofu: "Jangan diselesaikan dengan
penjelasan asal-asalan begitu."
Penulis: "Di Volume 9, Rex dan kawan-kawan
kembali ke kota awal sebagai bentuk 'kembali ke titik mula', tapi..."
Mofumofu: "Kenapa orang-orang yang jadi korban
akal sehat Rex ikut-ikutan kembali ke titik mula juga. Aug ini sudah sepenuhnya masuk
kategori korban, kan?"
Aug: "Benar, benar!"
Penulis: "Eh, tunggu dulu. Bukannya
kamu itu orang yang sangat beruntung? Dapat senjata super kuat, dapat reputasi
pahlawan, bahkan bertunangan dengan Nona Muda bangsawan. Bukannya itu 'pemenang
hidup' mutlak?"
Aug: "Om-om umur 30-an tunangan
sama gadis umur belasan itu tekanan sosialnya berat banget tahu...!"
Mofumofu: "...Sabar ya."
Aug: "Terus lagi, banyak yang
bilang nama 'Aug' sama 'Orc' itu bikin bingung. Jangan-jangan ini
disengaja?"
Penulis: "...Sabar ya. (Sebenarnya
nggak kepikiran sampai ke sana)."
Aug: "Lakukan sesuatu dong soal ituuuuu!"
Mofumofu: "Wah, dia sampai nangis darah..."
Penulis: "Tapi serius, di dunia ini perbedaan
usia tidak terlalu dipermasalahkan. Dalam kasus Aug, kamu itu mantan Rank A
yang direkrut langsung oleh penguasa wilayah jadi ksatria (bangsawan rendah),
itu saja sudah dibilang sukses besar. Ditambah lagi cerita heroikmu yang
sekarat demi melindungi bawahan, dan secara logika berhasil memukul mundur monster
raksasa dengan pasukan kecil. Kamu itu sudah jadi pahlawan."
Mofumofu: "Apalagi senjata yang kamu pegang itu
pedang sihir kelas pusaka negara. Poinnya jadi berkali-kali lipat."
Penulis: "Intinya, kamu sudah berevolusi jadi
'aset properti' yang sangat berharga sampai bisa menutupi perbedaan usia. Belum
lagi Nona Muda itu menembakkan 'sinar cinta' padamu, jadi di mata orang awam,
ini tidak lain adalah kisah cinta ksatria dan putri dari dongeng
kepahlawanan."
Mofumofu: "Suit-suiiit! Aug-san keren banget—!
Oh iya, selamat belajar tata krama bangsawan sampai mati ya."
Aug: "Itu bagian yang paling menyiksa..."
Penulis / Mofumofu: ""Sabar ya.""
Mofumofu: "Ngomong-ngomong, bagaimana nasib
laki-laki itu?"
Penulis: "Laki-laki?"
Mofumofu: "Itu lho, kepala pelayan yang jadi
penyebab Aug salah paham (dikira Rex)."
Penulis: "Oh, John. Dia tetap jadi kepala
pelayan di keluarga Viscount. Biar begitu, dia memang sangat kompeten. Hanya
saja, gara-gara kasus Aug dia kehilangan sedikit kepercayaan, jadi sekarang dia
punya bawahan yang bertugas mengecek ulang kebenaran laporannya."
Mofumofu: "Nggak dipercaya dong—"
Aug: "Tapi dipikir-pikir, kalau waktu itu
John-san tidak salah mengira aku sebagai Rex, mungkin si Rex yang bakal jadi
tunangan Nona Muda itu ya."
Penulis: "Oh, itu tidak mungkin
terjadi."
Aug: "Eh?"
Mofumofu: "Masa sih?"
Penulis: "Ya. Meskipun orang yang dibawa itu
salah, bukan berarti Nona Muda yang dipingit itu bakal langsung suka sama om-om
berantakan (Rex/Aug). Jawabannya tetap 'no' kalau orangnya sembarangan."
Aug: "Yah, itu benar sih... tapi
kenapa?"
Mofumofu: "Jangan-jangan..."
Penulis: "Nona Muda itu memang suka tipe
om-om (pria matang)."
Mofumofu: "Masa depan keluarga Viscount sudah
berakhir dari awal—!!"
Penulis: "Tenang saja. Pewarisnya sudah lahir
kok."
Aug: "Jadi, maksudnya siapa saja boleh
asal om-om?"
Penulis: "Nggak juga. Kalau cuma om-om biasa
pasti ditolak. Tapi sosok mantan petualang Rank A yang ahli sampai direkrut
ayahnya, punya tubuh atletis yang terlatih, dan punya aura 'bapak-bapak nakal'
(cool/rugged), itulah yang tepat mengenai selera Nona Muda. Tipe yang tidak ada
di sekitarnya selama ini."
Mofumofu: "Berarti kalaupun Rex yang menerima
tugas pengawalan keluarga Viscount..."
Penulis: "Dia tetap akan di-lock-on
oleh Nona Muda."
Mofumofu: "Jadi bagaimanapun caranya,
takdirnya tidak akan berubah ya..."
Penulis: "Baiklah, sudah saatnya berpisah.
Apakah kalian menikmati kata penutup kali ini?"
Mofumofu: "Kalian boleh lho mengirim surat
penggemar ke penerbit untuk meminta spin-off aku jadi tokoh utama!"
Penulis: "Jujur saja, sepertinya cerita
dengan Aug sebagai tokoh utama bakal lebih menarik."
Aug: "Tolong hentikan! Aku tidak
mau dinilai terlalu tinggi (overrated) lebih dari ini—!"
Mofumofu: "Padahal petualang biasa
biasanya ingin sekali dianggap lebih hebat dari aslinya."
Penulis: "Ibaratnya seperti senang
kalau menang lotre, tapi kalau menang hadiah utama terus-menerus jadi takut
bakal ada sial yang datang sebagai balasannya. Tapi berjuanglah. Takdirmu sudah
ditentukan sejak kamu mengajukan diri jadi penguji ujian Rex."
Mofumofu: "Mari kita nikmati akhir
dari pria yang hidupnya ditentukan hanya dalam dua bab ini. Sampai jumpa di Volume 10!"
Penulis: "Sampai jumpa di bab
berikutnya—!"
Previous Chapter | ToC | Next Chapter



Post a Comment