NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ore no Nounai Sentakushi ga - Gakuen Rabukome o Zenryoku de Jama Shite Iru (NouCome) Volume 4 Interlude 4

Interlude

Kisah Tentang Sebuah Kemungkinan — Bagian 4


"Woi, tunggu sebentar!"

"Ada apa, Kanade Amakusa?"

"Jangan bilang 'ada apa' dong!"

"Berisik sekali ya, diamlah sebentar."

Chocolat menjawab dengan nada dingin seperti biasanya, sama sekali tidak memedulikan kemarahanku.


Saksikan celana dalam Konagi Yawakaze saat sedang dikenakan. Batas waktu: Sabtu, 11 Mei.


Segera setelah misi ini diturunkan, Chocolat langsung menyeret aku ke depan Konagi, lalu tiba-tiba saja dia mengangkat rok gadis itu.

Celana dalam Konagi terlihat jelas sepenuhnya... Saking malunya, dia pun langsung lari terbirit-birit. Aku sudah berusaha mengejarnya dan sujud minta maaf (dogeza) sampai akhirnya dia bisa sedikit tenang, tapi... aku benar-benar sudah melakukan hal yang sangat jahat padanya.

"Gimana aku bisa diam?! Kamu sadar tidak apa yang sudah kamu lakukan?!"

"Hanya mengangkat rok saja, kan. Kanade Amakusa, buanglah emosi yang tidak perlu itu. Jika tidak pilih-pilih cara, tidak ada misi yang lebih mudah dari ini."

"Kamu...!"

Aku benar-benar marah. Kalau dia mau menghinaku atau melakukan apa pun padaku, aku tidak peduli. Tapi melakukan hal memalukan seperti itu kepada seorang gadis dan tetap bersikap tenang, itu tidak bisa dimaafkan.

"......"

"......"

Aku dan Chocolat saling adu pandang dalam keheningan. Setelah beberapa menit berlalu dalam ketegangan yang rasanya abadi—

"......Baiklah. Sepertinya kali ini aku melakukan hal yang berlebihan. Nanti kita pergi minta maaf kepada Konagi Yawakaze."

Akhirnya Chocolat mengalah. Meski nada bicaranya yang kaku seperti orang kantoran itu terasa tidak tulus, tapi karena dia sudah mengucapkan kata maaf, aku tidak bisa menyudutkannya lebih jauh lagi.

"Kanade Amakusa."

"Ya?"

Chocolat memanggilku dengan nada seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

"Tadinya aku berpikir jika melihat pakaian dalam gadis cantik, kamu akan jatuh cinta dengan mudah. Tapi sepertinya kamu tidak sesederhana itu ya... Aku memutuskan bahwa terus mengikuti permainan Tuhan ini sangat tidak efisien. Mari kita beralih ke strategi yang lebih 'langsung'."

Chocolat bergumam seolah bicara pada dirinya sendiri. Lebih langsung itu maksudnya bagaimana?

"Akan kukatakan dengan jelas. Menyelesaikan misi-misi itu sama sekali tidak ada artinya."

"Hah?"

Tiba-tiba bicara apa sih? Padahal aku sudah bersusah payah menjalankan misi gila ini karena katanya bisa menghapuskan Absolute Multiple Choice...

"Misi bukanlah tujuan, melainkan hanyalah sarana. Sarana untuk menumbuhkan suatu emosi tertentu dalam dirimu selama prosesnya."

"Suatu emosi?"

"Kanade Amakusa, saat kamu memiliki perasaan cinta kepada seseorang, pada saat itulah 'kutukan' ini akan terhapus."

"......Hah?"

Aku sama sekali tidak paham apa yang dibicarakan Chocolat. Jika aku menyukai seseorang, maka Absolute Multiple Choice akan menghilang? Apa hubungan sebab-akibat antara kedua hal itu?

Kalaupun syarat itu memang benar, tetap ada poin yang janggal.

"Tunggu dulu. Aku kan tidak bisa jatuh cinta justru GARA-GARA si Absolute Multiple Choice ini."

Urutannya jelas terbalik. Kalau saja kutukan ini menghilang, aku pasti bisa langsung jatuh cin—

"Ugh!"

Pada saat itu, rasa sakit yang hebat menjalar di kepalaku. Ini berbeda dengan sakit saat mengabaikan Absolute Multiple Choice... apa ini?

"Guuuh!"

Sekali lagi, derau (noise) tajam menusuk jauh ke dalam otakku, mengguncang ingatanku. Rasanya seperti... ada sesuatu yang sangat penting yang telah kulupakan—

"Hm?"

Pemikiran itu terputus oleh sensasi lembut yang menyentuh tubuhku.

"W-Woi, apa yang kamu lakukan?!"

"Seperti yang kamu lihat, aku sedang menempelkan dadaku padamu."

Tiba-tiba saja Chocolat memeluk lenganku dan menempelkan tubuhnya dengan erat.

"Nah, silakan remas dadaku atau lucuti pakaianku, lakukan apa pun yang kamu suka padaku."

"K-Kamu... sebenarnya kenapa sih?"

"Aku memahami bahwa pria di dunia ini akan merasa bergairah saat melihat wanita yang biasanya bersikap galak mendadak menunjukkan sisi patuh... bukankah begitu?"

Tidak, menurutku itu sih masalah selera masing-masing... lagipula perkembangannya terlalu cepat, woi!

"Ayo, kamu boleh melakukan apa saja, jadi cepatlah jatuh cinta kepadaku."

Chocolat semakin menempelkan tubuhnya sampai batas maksimal.

"T-Tunggu, tunggu sebentar! Mana mungkin aku bisa jatuh cinta kalau dibilang dengan cara sekasar itu!"

Aku melepaskan tangannya dan bergegas menjauh dari Chocolat.

"Padahal nafsu seksual dan rasa kasih sayang seharusnya terikat erat... Ternyata sulit juga ya."

"N-Nafsu seksual apanya sih... Aku tidak begitu paham apa maumu, tapi tolong lebih hargai dirimu sendiri."

"Menghargai diri sendiri? Melakukan hal itu sama sekali tidak ada artinya."

"Kenapa?!"

Atas pertanyaanku, Chocolat menjawab dengan nada seolah sedang membicarakan orang lain.

"Karena begitu kamu memiliki perasaan cinta pada seseorang, aku akan menghilang dan lenyap dari dunia ini."

 

Bersambung To Be Continued...




Previous Chapter | ToC | End V4

Post a Comment

Post a Comment

close