NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

TRPG Player ga Isekai de Saikyou Build wo Mezasu Volume 3 Interlude

Henderson Scale 1.0 Versi 0.3




Henderson Scale 1.0 — Sebuah penyimpangan yang cukup signifikan, hingga menghalangi anggota kelompok mencapai akhir yang mereka dambakan.

Beberapa hal berubah seiring dengan tugas yang diemban; namun, beberapa hal lainnya tidak akan pernah berubah sama sekali.

◆◇◆

"Guru!"

Pintu kantor kecil yang tertata rapi itu terbuka dengan paksa, lebih dahsyat daripada penggerebekan narkoba yang disponsori pemerintah. Teriakan seorang gadis muda menggema di dalam ruangan.

Mata gadis itu yang berbentuk almond dipenuhi semangat gigih, sementara rambut pirangnya yang sewarna gandum diikat ke belakang dengan ikat kepala sederhana. Dia tampak baru berusia sekitar sepuluh tahun, namun dialeknya yang sangat sopan menunjukkan latar belakang pendidikan yang menyeluruh.

Cahaya mistis bersinar menembus celah pintu, menyinari deretan buku-buku yang dijilid indah. Namun, sang pemilik ruangan tidak ditemukan di mana pun.

Hanya ada surat yang baru setengah ditulis, risalah yang belum tuntas, dan beberapa catatan beranotasi yang sulit terbaca. Semua barang berharga itu tetap berada di tempatnya; hanya tuannya yang telah menghilang.

Tidak, itu tidak sepenuhnya benar. Di perapian kuno yang membelah rak buku, pedang antik yang biasanya tergantung di sana pun ikut lenyap.

Sebagai gantinya, sebuah tongkat panjang nan indah yang dihiasi permata disandarkan di dekat perapian. Tongkat itu tampak kesepian di sana, seolah-olah ia bisa berbisik, "Maaf, ini terjadi lagi seperti biasa."

Pedang itu sudah lama tersarungkan, dan hanya ada satu alasan mengapa ia tidak ada di tempatnya. Mengetahui dengan pasti apa alasannya, sang pengunjung muda menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan udara di perutnya... sebelum melemparkan tongkat sihirnya dan berteriak sekuat tenaga.

"Petualangan lagi?! Dasar profesor pecundang!"

Beberapa menit kemudian, siswi berjubah itu mengambil kembali tongkat sihirnya. Dia mendengus kesal sembari melangkah menuju lift yang mengarah ke pintu masuk kastil.

"Lihat siapa ini. Apa yang membuatmu begitu marah? Sayang sekali jika wajah mungil yang imut itu harus cemberut."

"Eh? Oh, Profesor Sponheim!"

Gadis itu menoleh dan melihat sosok yang tampak seperti spesimen hidup yang diambil langsung dari museum kecantikan pria. Sosok profesor yang anggun dan senyumnya yang lembut begitu memikat, memberikan kesan misterius yang membingungkan.

Rambut hitam legam yang bergelombang membingkai mata kuning kelereng yang besar dan penuh kehangatan. Sementara pangkal hidungnya memiliki ketegasan maskulin, bibirnya yang berkilauan justru terlihat seperti milik seorang gadis. Suara kontralto miliknya cukup menawan untuk membuat siapa pun tersipu malu.

Sang Magus ini sebenarnya lebih cocok berada di ruang dansa mewah daripada berjalan-jalan mengenakan jubah kusam dengan berbagai katalis mistis yang tergantung di tubuhnya. Bahkan, dia memiliki julukan "Profesor Tersayang" di seluruh Kolese, meski sebagian besar julukan itu lahir dari rasa cemburu.

Mika von Sponheim adalah seorang jenius yang meraih gelar profesor pada usia dua puluh empat tahun dan dikenal sebagai pakar perencanaan kota. Ras Tivisco adalah warga baru di Kekaisaran, dan Sponheim merupakan Magus pertama dari jenis mereka.

Kepopulerannya sangat tinggi, terutama di kalangan faksi terbesar dalam School of First Light. Meski masih berusia dua puluhan, ia secara rutin diundang ke pertemuan para petinggi. Para calon Magia memandangnya dengan penuh rasa hormat, dan banyak yang merasa terpesona hanya dengan sepatah kata darinya.

"Ingat, jangan sampai menendang jubahmu saat berjalan," Sponheim memperingatkan. "Kastil ini penuh dengan tukang gosip."

Dimarahi oleh profesor yang cantik, sang penyihir magang itu dengan malu-malu merapikan ujung jubahnya. Jubah adalah lambang dari Magia elit, namun ukurannya begitu panjang hingga pemakaian yang ceroboh akan meninggalkan jejak lumpur hanya dalam beberapa langkah.

Mampu mengenakan simbol status tersebut tanpa membiarkannya ternoda adalah bukti kedudukan seseorang. Pemikiran tentang seorang Magus yang terlalu ceroboh hingga tidak bisa melindungi pakaiannya sendiri dianggap sangat memalukan, sampai-sampai kalimat "Jubahmu ternoda" menjadi hinaan stereotip di dalam Krahenschanze.

Namun, kemarahan gadis itu begitu meluap-luap hingga ia melupakan aturan perilaku yang penting ini. Sang Tivisco memperhatikannya yang sedang membetulkan pakaian dengan malu-malu, lalu memberikan senyuman manis layaknya bunga yang mekar.

"Dia lagi?"

"Benar sekali!" seru gadis itu. "Profesor Leibniz memanggilnya, tapi guruku yang bodoh itu lebih sulit ditangkap daripada layang-layang putus! Padahal dia sudah berjanji akan mengajariku hari ini!"

Murid itu menghentakkan kakinya sambil mengeluhkan sang guru, Tuan Vagabond—atau begitulah julukannya.

Erich von Dalberg adalah ahli Polemurge nomor satu di School of Daybreak dan pakar hebat dalam penelitian hantu. Dia juga dikenal sebagai salah satu pembuat onar terbesar di kelompoknya.

Ia mewarisi reputasi buruk dari mentor langsungnya, Agrippina du Stahl yang terkenal kejam. Agrippina sendiri baru dianugerahi gelar profesor sepuluh tahun yang lalu, meski ia tampak sangat tidak senang selama upacara berlangsung.

Lebih jauh lagi, sifat Erich yang mudah marah jika menyangkut saudara perempuannya, Elisa von Romhild, sering memicu insiden. Terkadang, ia menganggap rayuan atau pendekatan orang lain terhadap adiknya sebagai tindakan yang "tidak sopan."

Pernah seorang Magus meminta Romhild untuk bekerja sama dalam penelitian tentang Changeling, namun Erich justru menginterogasi orang malang itu habis-habisan. Dan tentu saja, orang bodoh yang menghina mereka dengan sebutan "darah campuran kotor" tidak akan pernah lolos tanpa luka.

Setiap penyebutan nama saudarinya bisa menurunkan titik didih profesor yang biasanya berpikiran terbuka itu ke titik nol mutlak. Seketika itu juga, sarung tangan tantangan akan melayang ke wajah si pelanggar lebih cepat dari anak panah yang bersiul.

Rekor duel Dalberg yang mencengangkan telah membuat banyak pria tak berdaya. Akhir-akhir ini, orang-orang mulai menantangnya hanya untuk memamerkan kekuatan di depan umum.

Seorang Magus biasa mungkin akan menegur tindakan bodoh seperti itu, tapi si "orang gila" ini selalu menerima tantangan dengan senyuman. Menurutnya, menyenangkan melihat anak muda yang begitu bersemangat.

Selain itu, ia adalah kebalikan dari penyendiri yang mengurung diri seperti mentornya. Hasratnya untuk berkelana bukan sekadar hobi; jika tidak, rekan-rekan sesama Magia tidak akan mencemoohnya dengan sebutan Tuan Vagabond.

Ketika entitas hantu baru ditemukan di barat, ia akan terbang dari kantornya untuk membuat sketsa. Ketika ada berita tentang reruntuhan kuno di utara, ia akan menghilang untuk mengamankan artefak sejarah.

Bahkan jika ada labirin Ichor Labyrinth baru muncul di timur, ia akan melakukan Teleport tanpa penundaan. Profesor ini bukan sekadar gesit; ia praktis adalah seorang Adventurer.

Adalah sebuah prestasi jika ia bisa menghabiskan waktu total dua bulan saja dalam setahun di Berylin. Ia menghadiri kuliah wajib melalui penglihatan jarak jauh dan mengendalikan semua fasilitas dengan transfer pikiran serta papan tulis telekinetik.

Pihak Kolese tidak bisa memecatnya karena ia memenuhi semua tanggung jawabnya, namun para Magia dari berbagai sekte tetap bertanya-tanya mengapa ia tidak berhenti saja dan menjadi petualang penuh waktu.

Lebih buruk lagi, koneksinya di jajaran pimpinan membuatnya mustahil untuk disingkirkan secara politik. Meski jarang ikut campur dalam permainan kekuasaan, ia dikenal sanggup menyingkirkan siapa pun yang menentangnya.

Bahkan, jika ia menyukai Magus lain—baik profesor maupun murid—ia cenderung menyeret mereka dalam petualangan panjangnya secara impulsif. Hal ini jelas membuat atasan dan rekan peneliti mereka meradang.

Meskipun memiliki banyak kewajiban profesional, Profesor Sponheim adalah salah satu korban (yang sukarela) dari kebiasaan ini. Anehnya, orang-orang yang dia bawa pergi selalu tampak bersemangat, yang justru membuat situasi semakin sulit bagi mereka yang ditinggalkan.

Lalu, mengapa para profesor yang tidak puas ini tidak bersekongkol untuk menjatuhkan perlindungan politiknya? Sayangnya, kontribusi Dalberg pada bidang sihir sangatlah besar; mengeluarkannya akan menimbulkan masalah akademis yang serius.

Lalu mengapa tidak membunuhnya saja? Seperti yang disebutkan sebelumnya, pecandu pertempuran itu tidak pernah kalah dalam catatannya. Dia dianggap sebagai pejuang terkuat dari Daybreak, sehingga membunuhnya adalah hal yang hampir mustahil.

Erich pernah dikirim sebagai garda depan saat menumpas pemberontakan sebuah negara kecil. Ia berdiri tepat di depan ibu kota musuh dan menggunakan mantra buatannya sendiri untuk mengubah area itu menjadi gurun kaca.

Setelah itu, dia hanya berkata, "Berikan kepala pemimpinmu atau ibu kota ini akan menjadi sasaran berikutnya," dan pemberontakan pun berakhir seketika. Ia menerima medali langsung dari Kaisar, dan mereka yang menyaksikan kehebatannya menjulukinya sebagai Ashbringer dengan rasa takut dan kagum.

Dalberg tidak pernah kalah dalam pertarungan jujur dan sanggup menghancurkan sebuah negara sendirian. Lebih menyebalkan lagi, ia menguasai sihir manipulasi ruang yang terlupakan untuk berpindah tempat sesuka hati dan menciptakan perisai yang tak tertembus.

Akibatnya, Erich von Dalberg menjadi salah satu sosok yang "tidak tersentuh" di Imperial College of Magic. Orang-orang membicarakannya layaknya membicarakan seorang Alf, memperingatkan orang lain agar tidak menarik perhatiannya agar tidak "diculik" olehnya—meskipun itu mungkin hanya sindiran karena adik perempuannya yang juga seorang profesor selalu mengikutinya ke mana-mana.

"Ah..." kata Sponheim. "Baiklah, jangan khawatir. Aku yakin kali ini dia akan segera pulang. Nona Romhild sedang mengadakan kuliah pembukaannya hari ini. Jika dia melarikan diri dari Nona Leibniz, dia pasti akan kembali dalam waktu sebulan."

"Kenapa dia harus lari dari dekan kita sendiri? Beliau kan sangat baik! Profesor Leibniz bahkan memberiku pakaian cantik. Aku tidak mengerti!"

Mika von Sponheim yang jenius itu pun bingung harus menjawab apa. Menjelaskan bahwa seorang pria yang mendekati usia tiga puluh lebih memilih meninggalkan muridnya daripada dijadikan boneka pakaian oleh dekannya adalah hal yang mudah, namun ia tidak ingin menghancurkan imaji guru-murid di mata gadis kecil itu.


[Tips] Jabatan Profesor adalah pangkat tertinggi yang dapat dicapai seorang Magus. Seseorang harus membuktikan kemampuannya melalui publikasi dan eksperimen sebelum dipertimbangkan. Setelah dewan profesor senior meninjau prestasi tersebut, mereka yang terpilih akan diberi gelar bangsawan yang sangat prestisius.

◆◇◆

Berada di atas kereta reyot sambil memegang pedang yang jarang kugunakan selalu membuatku bersemangat: inilah sensasi berpetualang.

"Terima kasih banyak, Tuan. Perjalanan kami terasa jauh lebih aman dengan adanya seorang Profesor di sisi kami!"

"Tidak, tidak, justru aku yang berterima kasih," kataku. "Kau tidak tahu betapa bersyukurnya aku karena kau memberiku tumpangan dalam waktu sesingkat itu."

Tuan rumahku adalah seorang Dvergar botak dengan janggut tebal. Ia adalah pemimpin karavan kecil, dan aku mencegatnya tepat saat mereka akan meninggalkan ibu kota. Karena tidak ada penyihir lain yang menemani mereka, ia sangat gembira saat aku menawarkan diri untuk ikut.

"Saya minta maaf atas akomodasi yang seadanya ini," katanya. "Silakan bersantai dan nikmati pemandangan langit."

"Akan kuterima tawaranmu," jawabku. "Tapi jika sihirku yang sederhana ini bisa berguna, jangan ragu untuk memanggilku."

Aku berguling telentang, memperhatikan cuaca yang indah. Akan sangat sia-sia jika aku mengurung diri di kampus pada hari secerah ini. Bermain model fesyen dengan orang mesum itu hanya akan menghancurkan mentalku.

Lagi pula, aku ini pria dewasa yang hampir berusia tiga puluh—tidak ada bagian dariku yang seharusnya masuk dalam "zona serangnya"...

Aku mengesampingkan pikiran itu dan meregangkan tubuh, menikmati sensasi kebebasan yang luar biasa. Hidupku belakangan ini sangat sibuk. Aku sempat berpikir untuk mulai berpetualang setelah memiliki posisi stabil di masyarakat, tapi aku tidak menyangka pekerjaan ini akan begitu menyebalkan.

Rasanya aku ingin kembali ke masa lalu dan memperingatkan diriku sendiri: "Lihatlah betapa kerasnya gurumu yang pintar itu menolak promosi jabatan."

Baru-baru ini, aku menghabiskan dua minggu menggeledah gudang buku terlarang atas permintaan mentorku, melawan monster sastra literal dan kutukan mengerikan yang merayap keluar dari buku-buku jahat.

Begitu selesai, adik perempuanku yang antisosial datang sambil menangis dan berkata, "Kakak, bantu aku bersiap untuk kuliah! Aku tidak mau berdiri di depan ratusan orang!" Butuh tiga hari penuh untuk menyiapkan segala keperluannya.

Tepat saat aku pikir semuanya sudah selesai, Mika datang dan berkata, "Aku akan menghadiri perjamuan sebagai seorang wanita, apa kau bersedia menjadi pendampingku?" Tentu saja, dia tidak bilang kalau acara penelitian itu berlangsung selama lima hari penuh.

Sorotan lampu seperti itu sama sekali tidak cocok untukku. Apa asyiknya mengubah sesi minum bersama rekan menjadi medan perang kata-kata manis yang berbisa?

Aku tahu pesta gala adalah peluang emas untuk mendapatkan dana penelitian, tapi citraku terlalu mencolok dalam pertempuran. Akibatnya, para calon sponsor hanya tertarik mendanai eksperimen-eksperimen berbahaya.

Sejujurnya, aku mengerti Mika sudah lelah mengusir para pelamar, tapi aku akan sangat menghargai jika dibebaskan dari tugas sebagai perisainya.

Masalahnya, dia kembali menjadi Agender di tengah acara, jadi aku bingung bagaimana bersikap saat dia terus memainkan peran feminin sepanjang pesta.

Tetap saja, aku tidak keberatan membantu sahabatku; menyelamatkan adikku juga sudah menjadi kewajibanku. Aku pun rela menuruti perintah Master Agrippina sesekali.

Tapi melayani Nona Leibniz? Sama sekali tidak.

Perjuanganku belakangan ini sudah cukup untuk mengisi beberapa kampanye panjang.

Menyerahkan diri kepada hantu berusia dua ratus tahun dengan hobi mendandani orang adalah hal yang mustahil bagi mentalku.

Tentu saja aku harus lari. Jiwaku bisa hancur jika aku tetap tinggal. Wanita gila itu semakin menjadi-jadi seiring berjalannya waktu, dan jujur saja, dia membuatku takut.

"Promosi jabatan ternyata tidak seindah yang dibayangkan..." gumamku lesu.

"Apa ada sesuatu, Tuan?"

"Tidak, maaf. Jangan hiraukan aku."

Mereka membayar gaji seribu lima ratus drachmae setahun, mengangkatku menjadi bangsawan, dan memberiku gelar-gelar mewah, tapi inilah kenyataan pahit yang kuhadapi.

Seandainya aku tahu bahwa Imperial College hanyalah sarang orang-orang aneh yang tidak terkendali—di mana profesor bijaksana sepertiku diperlakukan layaknya pesuruh—aku akan memilih tetap menjadi peneliti biasa.

"Bayangkan betapa luar biasanya menjadi profesor di usia dua puluh empat tahun!" kata Mika saat itu. "Mari kita lakukan yang terbaik bersama-sama!" lanjutnya. Seharusnya aku tidak pernah menyerahkan tesis itu...

Aku tidak menyangka petualangan sederhana kini menjadi begitu sulit dilakukan. Sekarang, aku bahkan memiliki murid sendiri, yang membuatku semakin sulit untuk sekadar pergi mencari hiburan. Lagipula, dia masih terlalu hijau untuk diajak ke medan yang serius.

Lamunanku terbuyar oleh kupu-kupu kertas yang berkibar keluar dari celah ruang. Aku telah mencuri teknik Master Agrippina untuk mengirim surat ke kampung halamanku. Tentu saja, pesan itu ditujukan kepada...

"Bagus, Margit sedang senggang. Menginap di penginapan sumber air panas sendirian pasti membosankan."

Untungnya, musim berburu belum dimulai, jadi jadwal teman masa kecilku itu kosong.

Aku pernah memperkenalkannya pada keluarga bangsawan yang kemudian menugaskannya mengelola lahan-lahan bergengsi, yang membuatnya sangat sibuk. Aku berharap ini bisa menjadi cara sempurna baginya untuk bersantai.

Oh, aku punya ide. Begitu aku tiba di penginapan dan menandai Waypoint, aku akan membawa seluruh keluargaku untuk menikmati pemandian air panas. Keluargaku akan segera menyelesaikan tugas-tugas mereka, jadi kurasa tidak sulit mencari waktu luang bagi mereka.

Rencananya sempurna: aku meninggalkan kampus dengan alasan mengunjungi dan merawat keluarga yang sakit. Ayahku, katakanlah, sedang mengalami nyeri punggung bawah yang parah, dan ibuku mengalami... masalah saraf, agar terdengar lebih meyakinkan. Berendam di air panas adalah obat yang tepat, dan siapa yang bisa menyalahkan seorang anak yang bergegas mendampingi orang tuanya yang sakit?

Selagi di sana, Margit dan aku bisa mampir ke Serikat Petualang setempat untuk mencari pekerjaan. Jika mereka memiliki misi sulit yang menumpuk, kami bisa membereskannya dan aku akan mencatat perjalanan ini sebagai "penelitian lapangan". Mika mungkin sudah bebas saat kami selesai, jadi aku bisa memanggilnya juga.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku berkesempatan menikmati pekerjaanku yang sebenarnya.

Master Agrippina mungkin akan memarahi aku saat pulang, belum lagi keluhan Nona Leibniz, tapi aku akan mengabaikan semuanya.

Aku tidak punya waktu untuk mereka; aku harus mengurus pendidikan muridku.

Ngomong-ngomong, aku harus meminta maaf padanya sebelum lupa—dan kenapa tidak menyeretnya ke penginapan saja sekalian?

Melihat pemandangan baru, mengalami hal-hal baru, dan belajar untuk menjadi ingin tahu di usia muda adalah kunci menjadi dewasa yang bijaksana.

Selain itu, aku tidak ingin dia kaget saat mencicipi masakan borjuis di kemudian hari; aku harus membiasakannya dengan hidangan berkelas sejak sekarang. Semua itu demi pendidikan, tentu saja.

Aku mengayunkan bahu dengan gembira, menikmati ringannya beban di pundakku, dan mulai merencanakan petualangan kami.


[Tips] Dosen perguruan tinggi diperbolehkan menduduki jabatan lain, namun tanggung jawab mereka yang tak terhitung banyaknya membuat pekerjaan sampingan sangat sulit dipertahankan.

◆◇◆

Tuan Vagabond adalah seorang perfeksionis yang mengoleksi sampel makhluk gaib secara pribadi, bahkan menggunakannya sebagai alat peraga taksidermi. Hasilnya, kuliahnya sangat dihargai oleh para ahli di bidangnya dengan tingkat kehadiran yang mengesankan.

Gadis itu adalah salah satu mahasiswanya. Dia punya nama, tapi dia tidak menyukainya.

Sebagai anak bungsu, jelas terlihat bahwa namanya diberikan tanpa pertimbangan matang, sama menjijikkannya dengan nama keluarga dari orang tuanya yang tidak peduli.

Meski begitu, dia juga tidak suka ketika gurunya dengan bercanda memanggilnya "gadis kecilku". Itu memalukan, padahal dia hanya butuh dua tahun lagi untuk dianggap dewasa!

Mengolok-olok wanita yang hampir dewasa dengan sebutan "gadis kecil" adalah tindakan yang tidak sopan, pikirnya.

Dengan perasaan kesal, gadis itu menghela napas dan duduk di meja kerja yang menurutnya terlalu mewah untuk dirinya sendiri.

Sebenarnya, hal yang sama berlaku untuk segala sesuatu di sekitarnya. Tempat tinggal murid ini lebih cocok untuk seorang permaisuri.

Tidak peduli berapa kali gadis itu menolak, Nona Leibniz terus mengiriminya pakaian-pakaian indah hingga lemari pakaiannya sesak.

Rambutnya terlalu kusam untuk disebut pirang keemasan; wajahnya dipenuhi bintik-bintik; matanya yang gelap lebih menyerupai warna hitam daripada biru berkilau; tubuhnya ramping tanpa lekukan.

Fitur wajahnya sama sekali tidak mendekati apa yang dia anggap sebagai kata "imut".

Sambil menatap meja yang telah dipersiapkan dengan penuh semangat untuk pelajaran hari ini, ia mulai bertanya-tanya mengapa sang guru memilihnya.

Pikirannya melayang kembali ke kenangan pada suatu hari yang dingin...

Meskipun menyandang gelar bangsawan, rumah gadis itu sangat miskin. Sedemikian miskinnya hingga seorang saudagar kaya pun bisa melampaui mereka dalam segala hal.

Tiga generasi lalu, sang kepala keluarga mempertaruhkan segalanya pada bisnis yang gagal. Dua generasi lalu, mereka diusir dari lingkaran aristokrat.

Pemimpin generasi terakhir mencoba memulihkan kejayaan melalui penaklukan timur, namun ia tewas terkena panah nyasar.

Akhirnya, kepemimpinan jatuh ke tangan paman pria itu—ayah si gadis—yang tidak kompeten dalam urusan politik.

Suatu hari, gadis itu diajak ke perjamuan bangsawan untuk memulai debutnya.

Namun ayahnya sama sekali tidak tertarik pada anak bungsu yang tidak direncanakan ini.

Pakaian gadis itu tampak murahan, dan ayahnya menghilang setelah memperkenalkannya secara setengah hati kepada beberapa tamu.

Ayahnya justru tanpa malu-malu mengemis pinjaman untuk merenovasi rumah mereka.

Gaun murah gadis itu terlalu tipis untuk menahan cuaca dingin, dan rasa sedih yang mendalam muncul saat dia berdiri terabaikan.

Tidak ada yang mengajaknya bicara. Mereka bisa melihat bahwa dia adalah putri yang tidak dicintai dari keluarga yang hancur.

Sebagian besar perilaku bangsawan didasarkan pada perhitungan untung-rugi, dan tidak ada yang mau membuang waktu dengan seseorang yang tidak memberikan keuntungan apa pun.

Bahkan tuan rumah pun hanya memberinya senyum palsu dan berkata, "Lain kali saja." Gadis itu tahu waktu itu tidak akan pernah datang.

Meski tahu ayahnya tidak mencintainya, dia tetaplah ayahnya. Dia tidak tega melihat ayahnya mengemis dengan putus asa. Terabaikan dan tidak diinginkan, hati gadis itu dipenuhi rasa malu dan keinginan untuk segera pulang.

Lebih buruk lagi, gadis itu sering menderita nyeri dada akhir-akhir ini.

Meskipun dia tidak tahu apakah itu penyakit atau efek suhu dingin, dia tahu rasa panas di hatinya akan diikuti oleh sakit kepala menyengat. Dia menghabiskan banyak malam dengan menangis, berdoa agar rasa sakit itu berhenti—walau itu sia-sia.

Rasa sakit itu muncul lagi di malam perjamuan. Detak jantungnya mulai berpacu cepat, dan ia mulai sesak napas. Ia tahu dalam dua jam sakit kepala hebat akan menyerang.

Namun, ia hanya bisa diam dan menderita karena keluarganya tidak punya biaya untuk pengobatan.

Gadis itu tidak menginginkan apa pun selain pulang... sampai selembar kertas muncul di hadapannya.

Terpaku oleh kemunculan yang tiba-tiba, gadis itu berkedip bingung saat melihat perkamen itu mulai melipat dirinya sendiri.

Melalui proses yang rumit, lembaran datar itu berubah menjadi bunga mawar seputih salju.

"Wah!"

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, gadis itu tersenyum. Bunga itu begitu indah hingga ia sulit memercayai itu terbuat dari kertas.

Matanya yang berkilau terpaku pada mawar kertas itu dan tangan penuh kapalan yang menopangnya. Ia bahkan tidak melihat siapa pemilik tangan itu sampai pria itu berbicara...

"Apakah kau menyukainya?"

...dan pria itu sangat tampan. Rambut pirangnya dikepang ke belakang layaknya mahkota emas.

Ibunya menyimpan batu safir berharga di lemari perhiasan, tapi kilau batu itu tidak sebanding dengan mata biru kucing milik pria ini.

Meskipun wajahnya terlihat halus, ada pancaran kepercayaan diri yang kuat yang tidak pernah dimiliki ayahnya. Senyumnya memberikan kehangatan yang lembut.

"Anggap saja ini hadiah untuk wanita cantik."

"Terima kasih... Terima kasih banyak."

Sudah berapa lama sejak terakhir kali seseorang memanggilnya cantik dengan tulus? Dia menerima hadiah itu tanpa pikir panjang, lalu mulai memperhatikan sang pria lebih saksama.

Jubahnya yang dijahit rapi dan tongkat panjang yang indah adalah tanda seorang Magus tingkat tinggi. Gadis itu bisa melihat bahwa pakaiannya dibuat dari benang mahal yang diimpor dari timur. Jelas, dia adalah orang besar.

"Maafkan aku," kata pria itu. "Aku lupa memperkenalkan diri. Aku Erich von Dalberg. Aku mengabdi di Imperial College of Magic, di mana mereka menghargai kemampuanku yang rendah ini dengan gelar profesor."

Erich membungkuk dengan anggun. Gadis itu heran mengapa orang seperti Erich memperlakukannya dengan rasa hormat selayaknya bangsawan tinggi. Butuh beberapa saat baginya untuk tersadar dan membalas perkenalan tersebut.

"Maaf," lanjut Erich. "Aku tahu tidak sopan menyapamu tanpa bicara pada orang tuamu dulu, tapi kau terlihat sangat bosan sendirian di sini."

"Oh, um, itu sama sekali bukan masalah, Tuan Dalberg."

"Panggil 'Erich' saja sudah cukup, Nona."

Erich tersenyum riang dan menepuk kepalanya dengan lembut. Gadis itu menikmati sensasi asing dari tangan di kepalanya sampai pria itu tiba-tiba bergumam lirih.

"...Sudah kuduga."

Bingung, gadis itu mengikuti arah pandangan Erich dan melihat mawar kertas itu. Ia terkejut mendapati kertas yang tadinya putih kini berubah warna menjadi biru tua.

"Apakah kau sering menderita sakit kepala, Nona?"

Meskipun bertanya dengan nada santai, ada sesuatu dalam suaranya yang menegaskan bahwa ia tidak akan menerima kebohongan. Gadis itu pun menjawab dengan jujur, bahkan membocorkan detail kesulitan finansial keluarganya meskipun dilarang.

Akhirnya, sang Magus terdiam sambil memegang dagu. Ia berpikir sejenak, lalu berlutut agar matanya sejajar dengan mata si gadis. Tatapan birunya begitu dalam hingga seolah bisa menelan siapa pun.

"Apakah kau mau menjadi murid magang di bawah bimbinganku, Nona?"

Tiba-tiba, gadis itu tersentak kembali ke masa kini. Ada sesuatu yang menggelitiknya. Saat memfokuskan pandangan, ia melihat kupu-kupu kertas—pembawa pesan kesayangan gurunya—hinggap di hidungnya.

"Apa—hei! Minggir!"

Penyihir muda itu merasa malu karena terlalu asyik melamun hingga tidak menyadari pesan di depan matanya. Ia menepis surat hidup itu sambil berteriak untuk menutupi kecanggungannya.

Namun, kupu-kupu itu mewarisi kelincahan penciptanya dan dengan mudah menghindari tangannya. Kertas itu kemudian membuka lipatannya tanpa suara.

Surat itu ditulis dengan tulisan tangan gurunya yang sempurna, tanpa basa-basi aristokrat yang membosankan. Erich meminta maaf atas ketidakhadirannya dan mengajaknya untuk pergi bertamasya singkat.

Jika dia punya rencana lain, dia harus meremas kertas itu. Jika tidak, Erich akan menjemputnya dalam dua jam.

"Astaga! Guru tidak pernah memberitahuku sebelumnya!"

Di balik kemarahannya, gadis itu bergerak cepat dengan senyum di wajahnya sembari mulai mengemasi tas.


[Tips] Kebanyakan penyihir mendapatkan kekuatan mereka setelah mencapai jumlah Mana tertentu. Namun, kelebihan Mana yang ekstrem dapat menyebabkan gangguan pada proses pertumbuhan standar.

◆◇◆

Kekaisaran Trialist adalah rumah bagi beberapa spa penyembuhan. Seperti yang bisa ditebak, orang yang mengebor gunung berapi dan mengubahnya menjadi sumber air panas adalah Kaisar Penciptaan yang mendirikan Rhine.

Beliau menyatakan bahwa mandi baik untuk tubuh, dan air alami jauh lebih baik lagi. Saat ini, tempat-tempat tersebut populer di kalangan semua kasta.

Kami tiba di sebuah resor di selatan yang terkenal dengan mata air penyembuhnya. Tempat itu cukup terjangkau bagi rakyat biasa yang mampu. Setelah membayar biaya masuk, aku menyiapkan perlengkapan mandi di lobi yang menuju ruang ganti.

"Ya ampun, undanganmu selalu mendadak." Meskipun awalnya terdengar kesal, Margit duduk di sampingku sambil menyeringai. Dia membawa sabunnya sendiri dan tampak siap menikmati mandi—dan tentu saja, area pemandiannya terpisah.

"Maaf," kataku. "Kupikir kau butuh istirahat."

"Oh, aku memang butuh. Erich, posisi yang kau berikan memang bergaji tinggi, tapi melelahkan. Aku harus menjaga populasi rubah tetap stabil, lalu mengumpulkan serigala untuk acara berburu berikutnya. Pekerjaannya seolah tidak ada habisnya."

Margit mengangkat bahu, tapi aku tahu dia menikmati pekerjaannya. Majikannya sangat menghargainya dan bangga memperkenalkannya sebagai "penjaga hutan kepercayaan".

"Dan di atas semua itu..." Dia menatapku dengan desahan penuh arti. "Semua orang di sekitarku mulai cerewet soal kapan aku akan mencari suami dan penerus."

Dengar, aku tahu—aku sangat tahu. Tapi sebagai pembelaan diri, aku tidak membiarkan Margit menunggu begitu saja. Bahkan, aku selalu menjemputnya setiap kali pulang.

Tapi saat aku melamarnya di Konigstuhl, dia menolak dengan berkata, "Oh, menjadi istri bangsawan akan sangat membosankan. Aku tidak akan sanggup."

Jadi, meskipun dia setuju untuk ikut berpetualang denganku, kami tetap menjalani hidup "nyaman" ini hingga akhir usia dua puluhan. Belum ada yang berani mengejek kami karena karier kami yang cemerlang, tapi tekanan sosial mulai terasa.

Namun, aku tidak bisa memaksanya ke posisi yang tidak dia sukai, jadi aku juga merasa bersalah.

"Tentu saja, semua itu bukan masalah jika aku punya cara untuk membungkam mereka..." Margit mencondongkan tubuh ke arah meja sambil tersenyum lebar.

"Wah, kalian berdua tampaknya sedang bersenang-senang." Tiba-tiba, Mika muncul di antara kami.

"Oh, Mika," sapaku. "Akhirnya sampai juga?"

"Sudah lama tidak bertemu, von Sponheim," sahut Margit.

"Berkat Spatial Portal milikmu, Erich," kata Mika padaku. "Dan Margit, bisakah kau panggil aku Mika saja selagi di sini? Tempat peristirahatan seperti ini adalah kesempatan langka bagiku untuk melepas formalitas yang membosankan."

Mika duduk santai di antara kami. Ia mengenakan gaun sederhana sebagai ganti jubah resminya. Sejak beberapa tahun lalu, ia mulai mengenakan pakaian pria atau wanita sesuai dengan jenis kelamin yang ia ambil saat itu—tapi aura kelas atasnya tetap tidak bisa disembunyikan.

Mereka berdua terkadang terlihat akrab, namun terkadang juga canggung. Aku pernah mencoba bertanya soal hubungan mereka saat sedang minum, tapi Margit hanya menjawab, "Tidak semua hal cocok untuk telinga pria sejati, tahu?"

Sejak malam itu, aku memutuskan ada beberapa pertanyaan yang tidak perlu diajukan oleh pria, terutama jika menyangkut dua wanita.

Margit tidak pernah berkomentar ketika Mika dan aku bertingkah konyol layaknya dua pria bodoh, jadi aku rasa ini adalah aturan tak tertulis untuk menjaga keharmonisan pertemanan kami.

"Tempat ini benar-benar bagus," ujar Mika. "Ada yang menjual minuman di depan. Apa rasanya enak?"

"Kami baru saja mencicipinya," jawab Margit. "Rasanya agak asin. Kudengar penginapan ini menyajikannya dengan kue-kue manis."

"Wah! Kedengarannya enak. Akhir-akhir ini aku ingin makan sesuatu yang sederhana. Aku benci tren hidangan penutup mewah yang terlalu banyak gula; ini pasti cocok untuk lidahku."

Lihat? Obrolan khas mereka sudah dimulai. Sinergi kelompok kami sudah sempurna, jadi aku tidak keberatan jika sesekali diabaikan.

Ngomong-ngomong, sudah waktunya membuka portal lain. Muridku pasti akan segera datang. Margit dan Mika sangat suka memanjakannya, dan dia pasti akan belajar banyak hal penting bagi seorang Magus: pertarungan jarak dekat, deteksi pengejar, mengenali racun, dan pertolongan pertama.

Seorang Magus kelas satu akan memiliki banyak musuh seiring naiknya status sosial mereka. Ada yang ingin mencuri sampel berharga, membungkam publikasi, atau mencuri kejayaan.

Aku ingin muridku menghabiskan masa mudanya dengan bersenang-senang sambil mempelajari hal-hal penting tersebut—persis seperti yang kulakukan dulu.

"Oh, sepertinya muridmu sudah datang," kata Mika. "Baiklah, ayo kita mandi. Mau aku bantu keramas, Erich?"

"Dan apa yang membuatmu berpikir kau bisa masuk ke pemandian yang sama dengannya?" potong Margit. "Kurasa gadis yang berpakaian rapi ini sebaiknya ikut denganku ke kamar mandi wanita."

"Aku memilih pakaian ini hanya karena suasana hati. Aku sedang tidak punya gairah seks sekarang, tahu?" jawab Mika santai.

"Hentikan itu. Kau akan menakuti para pria di sana."




Aku bisa mendengar suara langkah kaki muridku yang tergesa-gesa semakin dekat, sementara teman-temanku masih asyik saling melempar candaan.

Keluargaku pun akan segera berangkat setelah mereka menuntaskan semua urusan rumah tangga. Malam ini pastilah akan menjadi malam yang sangat menyenangkan.


[Tips] Meskipun hanya memiliki sedikit wilayah pegunungan berapi, Kekaisaran memiliki banyak sekali resor pemandian yang tersebar di berbagai penjuru.










Previous Chapter | ToC | End V3

0

Post a Comment

close