Chapter 1
September Kita
"Kita
berada di sisi yang sama, tapi aku tak bisa menyentuhmu," ucap Musim
Gugur. "Itu karena September yang kesepian sedang
berbuat jahil," sahut Musim Panas sambil tertawa.
Bukan, bukan itu.
──Aku sedang mencoba memutar balik waktu ke Musim
Semi, sebelum Musim Dingin memberikan jawabannya.
Saat melintasi ambang batas bulan September, semua
orang akan merasa sedikit tersesat. Sembari mengenakan seragam sekolah yang
sudah lama tidak kupakai, tiba-tiba pikiran seperti itu terlintas di benakku.
Musim panas telah berakhir bagaikan lampion kertas yang kempis dan terjatuh
setelah berkali-kali diterbangkan oleh telapak tangan mungil, namun musim gugur
tidak langsung dimulai semudah memungut dan meniupnya kembali. Rasanya seperti
jungkat-jungkit yang sendirian, pikirku.
Agustus dan Oktober; di atas satu papan kayu yang
terombang-ambing tanpa kepastian di antara keduanya, semua orang diam-diam
merentangkan tangan. Entah untuk mencoba menjadi jembatan penghubung, atau
berusaha bertahan agar tidak memihak ke salah satu sisi; sebuah jeda singkat
untuk mencari posisi yang pas agar bisa berkompromi dengan keadaan. Momen
tanpa warna seperti itu terasa pas untukku yang sekarang.
Bagaikan mengeluarkan berbagai warna cat yang cerah ke
atas palet, lalu merasa bersemangat sekaligus ragu tentang warna mana yang
harus disentuh oleh kuas terlebih dahulu. Di tengah musim yang terus berubah
tanpa bisa dihentikan, tidak ada salahnya memiliki waktu untuk berhenti sejenak
dan menarik napas dalam-dalam.
Gittan, bakkon. Gittan, bakkon.
Namun di suatu tempat, suara yang seharusnya ditahan agar
tidak berbunyi itu tetap terdengar. Pasti ada seseorang yang belum ingin
mengakhiri segalanya, atau belum ingin diwarnai oleh apa pun.
──Demi sebuah reuni yang samar.
◆◇◆
Permukaan air tampak berkilau sejuk, namun terkadang
masih menyisakan sisa panas musim panas yang menyengat. Sembari memandangnya
layaknya sebuah album foto, kemeja-kemeja lengan pendek tampak berkibar lembut
di sepanjang jalan setapak tepi sungai.
Tanaman yang masih hijau royo-royo, sinar matahari yang
terasa akan membuatmu berkeringat tipis meski masih pagi, serta suara tonggeret
yang gigih. Pemandangan ini seolah menipu bahwa upacara penutupan sekolah bulan
Juli baru terjadi kemarin.
Hanya langit yang terasa sedikit lebih menjauh dan derap
langkah ringan para junior yang berjalan dengan loafer yang sudah
terbiasa di kaki mereka, yang menjadi buku harian visual untuk memastikan bahwa
waktu memang telah berlalu tanpa ragu. Sembari
berjalan santai, aku menutup mulut dengan tangan dan menguap lebar.
"Pagi, Saku-kun." Bahuku ditepuk pelan dari
belakang.
Aku tidak perlu bersusah payah berbalik untuk
memastikan siapa itu, cukup membuka mulut ke arah bahu kananku sendiri.
"Pagi, Yua."
Profil wajah Yua yang tenang kini sejajar di
sampingku, seolah menerima salam itu dengan kedua tangannya dengan lembut.
"Menguap lebar begitu, apa kamu kurang tidur di hari pertama?"
"Tidak, aku tidur sangat nyenyak. Tapi
sepertinya tubuhku masih dalam suasana liburan musim panas."
"Pekerjaan rumahmu sudah selesai?"
"Tentu saja. Cuaca di buku harian gambar pun sudah
kucari tahu dan kuisi semua."
"Bagian itu sama sekali tidak berubah, ya."
Sembari bertukar obrolan yang terasa seperti pemanasan
untuk semester kedua, aku mulai merasa gemas. Sejak tadi, di sudut mataku
terlihat Yua yang terus-menerus memainkan rambutnya.
"Tidak perlu khawatir begitu, rambutmu tidak
berantakan kok." Begitu aku melontarkan candaan, dia akhirnya menoleh ke
arahku dengan pipi yang menggembung kesal.
"Tentu saja tidak. Aku kan sudah bercermin
dengan benar sebelum keluar rumah."
Pasti kami berdua menyadari adanya sedikit kegilaan
atau kecanggungan yang mengalir di antara kami.
Rasanya aneh dan malu untuk saling bertatap mata,
atau menjadi lebih banyak bicara karena terlalu sadar untuk bersikap seperti
biasanya.
Padahal, isi pembicaraan kami terasa hambar seperti
bulu kapas yang akan terbang jika ditiup, dan jeda percakapan kami pun terasa
sedikit terburu-buru... Jika bicara soal penyebabnya, aku punya alasan yang
lebih dari cukup.
Yua yang sudah sedikit menguasai keadaan melanjutkan
pembicaraan seolah tidak terjadi apa-apa. "Kamu sudah sarapan dengan
benar?"
Namun, pikirku. "Aku memanggang ikan kering yang
kamu pilihkan di pasar waktu itu."
"Eh,
be-begitu ya. Apa enak?" Meski merasa bersalah karena kata-kata
Yua kembali tersendat, aku menjawabnya dengan penuh kesadaran.
"Ya, berkat itu sepertinya belakangan ini aku jadi
sedikit lebih menyukai ikan." Sebab aku tidak ingin bersikap seolah tidak
sadar.
Aku tidak bisa berpura-pura lupa akan waktu yang telah
diberikan oleh gadis di depanku ini. Demi bisa menghadapi perasaan seseorang,
dan juga perasaanku sendiri dengan benar.
Yua mengatupkan bibir seolah tersipu, lalu menyipitkan
matanya dengan senyum yang lembut.
"Sepertinya sebentar lagi kita harus pergi belanja
lagi, ya."
"Benar, selanjutnya tolong perbanyak menu
daging."
"Ya ampun, baru saja dipuji sudah bicara
begitu..."
Aku senang bisa berjalan di jalan ini lagi seperti ini.
Ucapan terima kasih yang tak terungkapkan lewat kata-kata kusampaikan dalam
hati kepada tetanggaku ini.
Sambil menyelaraskan langkah kami perlahan, aku merasa
seolah mendengar melodi saksofon yang lembut menggema di suatu tempat yang
jauh.
◆◇◆
Tepat setelah melewati gerbang sekolah, mataku menangkap
sosok tiga orang yang sedang berkumpul di depan loker sepatu. Aku dan Yua
saling bertukar pandang lalu mendekat. Sepertinya mereka juga menyadari
kehadiran kami, dan Kaito langsung berteriak keras.
"Wuuuuiss!" Kazuki yang berada di sampingnya
memberi salam lewat tatapan mata, sementara Kenta membuka mulut dengan santai.
"Kami, Uchida-san, pagi." Yua membalas saat
kami bergabung ke dalam lingkaran mereka.
"Asano-kun, Mizushino-kun, Yamazaki-kun, selamat
pagi." Aku juga mengangkat tangan sedikit dan mengikuti.
"Yo, ada apa ini kalian tumben barengan? Apa kalian
berangkat sekolah kelompok?"
"Mana mungkin, bodoh!"
Sambil berkata begitu, Kaito merangkul bahuku dengan
kasar. "Tadi di jalan aku lihat Kazuki dan Kenta lagi jalan, jadi aku
panggil saja."
"Itu kebetulan yang sama sekali tidak membuatku
senang."
"Apa-apaan, Saku, kau cemburu ya?"
"Jangan katakan hal yang membuat merinding meski
itu cuma bercanda." Sambil menepis lengannya yang terasa gerah, aku
tersenyum kecut dalam hati. Aku tahu ini adalah cara Kaito untuk mencairkan
suasana dengan caranya sendiri.
Setelah kejadian saling pukul waktu itu, keramaian
seperti ini mungkin terasa pas untuk memulai kembali segalanya. Kazuki yang
memperhatikan dari samping menunjukkan senyum yang provokatif.
"Kalian berdua ini, pagi-pagi sudah pamer kemesraan
saja padahal kemarin baru ada kejadian seperti itu." Sebelum aku sempat
membalas, Yua sudah lebih dulu tersenyum manis dan membuka suara.
"Ada apa ya? Mizushino-kun?" Suaranya yang
kering dan dingin itu sukses membuat Kazuki yang sombong pun berjengit. Dia
memalingkan wajah sambil menggaruk pipi dengan canggung.
"Eh, anu, maksudku bagi kami para cowok yang
berangkat bareng ini, kalian itu terlihat bikin iri. Benar
kan, Kenta?"
"Sialan, jangan oper bomnya ke sini dong."
Mendengar reaksi dingin Kenta, semua orang langsung
tertawa. Sambil memegangi perutnya, Kaito berkata.
"Baru awal semester kau sudah cari mati,
Kazuki." Kenta
juga menyambung dengan wajah lelah.
"Jangan
begitu, Mizushino. Uchida-san kalau marah itu menakutkan, tahu." Kini
giliran Yua yang mengerjapkan matanya dengan bingung.
"...Eh, Yamazaki-kun. Apa kamu menganggapku seperti
itu?" Dengan panik Kenta melambaikan tangan dan membela
diri dengan cepat.
"Eh, anu, itu, maaf bukan maksudku begitu! Maksudku,
meski biasanya selalu tenang dan baik, tapi Uchida-san itu tipe yang bahkan
Kami pun tidak berkutik di depannya. Aku pikir kamu tipe yang kalau sudah tegas
ya tegas sekali..."
"Aduh! Itu sama sekali bukan pembelaan!"
Aku tak tahan untuk tidak tersenyum melihat interaksi
yang langka itu. "Benar itu Kenta. Kalau membuat Yua marah..."
"Saku-kun?"
"...Kamu bakal ditekan seperti ini, jadi hati-hati
ya?"
"Bwahaha!" Sekali lagi semua orang meledak
dalam tawa. Itu adalah pemandangan yang sangat akrab, namun terasa segar di
saat yang sama.
◆◇◆
Kami pun berjalan bersama-sama menuju ruang kelas. Pintu
yang kulewati seolah ingin melarikan diri dari semua orang pada hari senja itu,
kini kutatap dengan perasaan nostalgia.
『Sampai jumpa semuanya, sampai ketemu
lagi di semester kedua.』
Kata-kata yang kutinggalkan di sini karena kupikir tak
akan pernah bisa ditarik kembali...
『──Sampai jumpa Saku, sampai ketemu lagi
di semester kedua, ya.』
...Telah dipungut oleh Yuuko dan dikembalikan ke tanganku
sebelum liburan musim panas berakhir. Jika dia tidak menimpanya dengan warna
yang hangat seperti itu, langkahku saat memasuki kelas ini pasti akan dipenuhi
oleh perasaan yang jauh lebih rumit.
"Selamat pagi—" Sembari berharap sedikit bahwa
dia mungkin sudah datang, aku mengucapkan salam.
"Ah— Chitose-kun. Yahho—!"
Namun suara yang menyahut berbeda dari bayanganku.
Nazuna yang berada di tengah kelas melambaikan tangan
dengan riang.
"Semuanya, pagi—"
Meskipun ini pertemuan pertama kami sejak semester
satu, karena baru saja melakukan panggilan video tempo hari, rasanya tidak
terlalu lama tidak bertemu. Yua dan yang lainnya membalas salam singkat lalu
menuju bangku masing-masing. Aku menghentikan langkah dan menyapanya kembali.
"...Oh, pagi."
Nazuna yang mendekat memiringkan kepalanya dengan
tatapan jahil.
"Ara? Chitose-kun, jangan-jangan tadi kamu mengira
aku itu Yuuko ya?"
"Kenapa jadi begitu?"
"Wah, reaksimu cepat sekali, malah jadi terlihat
mencurigakan."
"Kubilang bukan, ya bukan."
"Eeh— kalau gitu reaksimu biasa saja, aku jadi sedih
nih—"
"Iya, iya, Saku-kun senang sekali bisa bertemu
Nazuna-chan lagi."
"Kok setelah liburan musim panas caramu
memperlakukanku jadi kasar begini sih?!" Ya mau bagaimana lagi, aku
tersenyum kecut.
Nazuna sudah membantu latihan bisbol bersama yang lain,
dan dia juga datang menonton pertandingan. Dan yang terpenting, dia sudah bisa
tertawa bersama Yuuko dan Nanase seperti itu. Sekarang aku tidak bisa lagi
menganggapnya hanya sebagai teman sekelas biasa.
Setelah puas bicara, Nazuna yang tampak ingin mengakhiri
obrolan tiba-tiba menyipitkan mata seolah teringat sesuatu.
"Kalau Yuuko, sepertinya hari ini dia akan datang
sedikit lebih lambat."
"Kan aku tidak tanya."
Mendengar ucapanku, dia menggoyangkan bahunya sambil
tertawa pendek lalu pergi dengan puas. Sambil melihat punggung rampingnya
menjauh, aku menyapa punggung kokoh yang tampak bosan di tempat tujuan Nazuna.
"Yo, Atomu."
"...Yo."
Dasar kau, setidaknya lihatlah ke sini sebentar. Atomu hanya mengangkat tangan tanpa berbalik, dan aku hanya bisa
mengangkat bahu. Yah, dia mau membalas saja sudah bagus.
Sambil menggantungkan tas Gregory-ku di samping
meja... "Pagi—!"
"Pagi—"
Dua suara yang sangat kukenal melompat masuk ke
telingaku. Kuncir kuda pendek yang berjalan di depan bergoyang-goyang.
"Yo, Suami!" Aku teringat beberapa hari
lalu, entah kenapa Todo Mai meneleponku menggunakan ponsel Haru. Teleponnya
langsung dimatikan di tengah jalan, dan setelah itu tidak ada kabar lagi.
"Jadi, apa kalian menang melawan tim
alumni?"
"Tidak, kami kalah telak!"
Ekspresi Haru yang mengatakannya dengan lantang
tampak sangat segar, seolah beban di hatinya telah hilang. "Begitu
ya," sahutku, lalu dia menyambung dengan tawa yang penuh percaya diri.
"Tapi, aku jadi lebih kuat." Saat bicara di
telepon waktu itu aku sempat khawatir karena sikapnya yang tidak seperti
biasanya, tapi sepertinya dia sudah menemukan sesuatu.
Dia terus melangkah maju begitu cepat, ya. Aku merasa
sedikit tidak sabar dengan diriku sendiri. "Ngomong-ngomong, setelah itu
ada pesan masuk dari Todo."
Saat aku mengatakannya karena tiba-tiba teringat, Haru
yang sepertinya baru pertama kali mendengar hal itu langsung membelalakkan
matanya.
"Hah?! Kenapa?!"
"Aku juga ingin tahu..."
Melihat reaksi ini, sepertinya Todo menghafal nomorku dan
menghubungi secara sepihak. Haru merengut kesal.
"Lalu?"
Karena isinya bukan sesuatu yang perlu dirahasiakan, aku
membacakan pesan dari Todo.
『Pria yang kau inginkan, dekaplah erat. Jika dia tidak
menoleh, tembak jatuh saja dia♡』
Sebelum aku selesai bicara, alis Haru sudah naik-turun
dengan cepat.
"Baiklaah, Haru-chan mau pergi ke SMA Ashi sebentar
ya sekarang juga♡"
"Aku tidak mengerti maksudmu, tapi tenanglah
dulu."
"Hmm—? Apa Chitose-kun mau membela Mai yang
cantik dan langsing itu?"
"Oi,
jangan libatkan aku."
Saat
kami sedang beradu argumen seperti itu... "Kalian bicara terlalu
lama!"
Nanase yang berada di belakang menarik pelan kuncir
kuda pendek Haru. Haru berbalik dan memprotes.
"Lagipula, gara-gara Natsuki asyik liburan ke
Kanazawa, Mai jadi bertingkah semaunya di markas kita!"
"Masa kegagalan ace tim malah disalahkan
kepadaku?"
"Berisik! Di bagian akhir kami memberikan
perlawanan yang bagus kok!"
"Biarlah kekalahan itu cukup di basket saja,
jangan sampai di aspek lain juga, ya?"
"He-ho-ha-fuun! Sebelum Mai, aku akan selesaikan
urusanku denganmu dulu, dasar kau!!"
"Nah, setelah ritual rutin selesai..."
Nanase tertawa seolah baru saja mengurus anak kecil lalu
menoleh ke arahku.
"Ya."
"Yo."
Aku teringat kejadian saat panggilan video ketika dia
sedang berwisata dengan Nazuna dan Yuuko.
Saat Nanase menanyakan pendapatku tentang kimononya, aku
malah melontarkan candaan dan membuatnya marah. Rasanya
mengatur takaran yang pas untuk hal ini memang masih sulit.
Aku tidak lupa bagaimana aku diomeli oleh Yua dan Yuuko
pada malam festival musim panas.
『Pasti Saku-kun berpikir seperti ini.
Kalau aku memuji seorang gadis dengan santai, bisa-bisa dia salah paham dan
jatuh cinta padaku.』
『Hanya karena dipuji sedikit lalu
dianggap bakal salah paham, kamu meremehkan perempuan sekali!』
『Aku
benar-benar ingin kalian semua akur dan cepat-cepat memantapkan hati!』
Secara logika, aku merasa sudah memahaminya.
Jika aku tidak menunjukkan jati diriku yang sebenarnya
dan menghadapinya, sampai kapan pun aku tidak akan bisa memberi nama pada
perasaan ini.
Saat aku tersenyum pahit karena rasa malu yang meluap,
Nanase mengintip ke arahku dengan nada menggoda.
"Jangan-jangan, kamu sedang membayangkan
penampilanku saat memakai kimono?"
"……Yah, begitulah."
Aku menjawab dengan jujur karena tidak ingin melakukan
kesalahan bodoh yang sama untuk kedua kalinya.
Nanase membelalakkan matanya seolah merasa heran.
Lalu ia melanjutkan dengan nada bicara yang
dilebih-lebihkan seperti sedang berakting.
"Hmph, sudah terlambat kalau kamu baru mau bertobat
sekarang. Kalau kamu ingin menebus kesalahan, bukankah seharusnya ada tata
krama yang lebih sopan?"
"Aku mengerti, aku akan menyelesaikannya dengan
benar."
"Bagus kalau begitu. Jadi, kapan 'barang' itu
akan siap?"
"Jangan terburu-buru, segala sesuatu ada
urutannya. Sama seperti berdoa dan membuat tanda salib sebelum
menarik pelatuk."
"Dan mencintainya seperti saat jari menempel pada
pelatuk."
Setelah itu, kami saling bertatapan dan spontan tertawa
terbahak-bahak.
Sejujurnya, aku sendiri tidak terlalu paham apa yang kami
bicarakan di bagian akhir tadi.
Rasanya sudah lama sekali kami tidak mengobrol seperti
ini.
Saat aku membuatnya marah karena insiden kimono itu, aku
berjanji akan "membuatkan masakan yang belum pernah dia makan
sebelumnya", jadi kurasa itulah yang dimaksud oleh Nanase.
Haru, yang sedari tadi mendengarkan dalam diam di samping
kami, meringis dan menatap kami dengan wajah jijik.
"Percakapan kalian berdua itu benar-benar membuatku
merinding."
"Hentikan interupsi tidak berkelasmu itu."
Nanase tetap bersikap provokatif.
"Ini kan rahasia, jadi sengaja dibuat agar orang
tertentu tidak mengerti, tahu?"
Haru yang terpancing langsung mencengkeram kerah
bajuku dengan senyum yang dipaksakan untuk menahan amarah.
"Hei, Chitose? Ayo bicara rahasia juga dengan
Haru-chan ♡"
"Mana mungkin aku bisa bicara kalau dipaksa
begitu."
Aku merasa geli sekaligus gemas melihat mereka berdua
bercanda—dua orang yang biasanya terlihat sangat keren saat sedang bertanding.
◆◇◆
Sambil berkumpul kembali dengan yang lain dan
mengobrol seru, aku melirik ke arah jam.
Waktu yang tersisa sebelum wali kelas memulai
pelajaran tinggal sepuluh menit lagi.
Lama sekali, batinku. Tanpa sadar kesadaranku terus
tertuju ke arah pintu masuk.
Pintu yang ditutup rapat oleh seseorang yang sangat
disiplin itu masih terjaga dalam keheningan sejak tadi.
Selama satu setengah tahun ini, dia selalu tiba di kelas
lebih awal dariku dan menyambutku dengan suara ceria.
Aku sendiri terkejut betapa gelisahnya aku saat senyuman
yang biasanya mekar seperti bunga warna-warni di tengah lingkaran pertemanan
itu menghilang.
Rasanya ada sesuatu yang mengganjal, seperti gumpalan
kertas ujian dengan nilai merah yang diremas-remas.
Aku tanpa sadar menelan ludah.
Musim panas ini, aku tidak bisa menerima perasaan yang
diulurkan oleh teman yang sangat berharga bagiku itu.
Sambil menenggelamkan diri di dasar botol dan memalingkan
wajah dari langit malam, aku merasa tidak pantas mendapatkan hal itu.
Namun, aku tahu bahwa gadis itu menyatakan perasaannya
bukan untuk memulai sesuatu, melainkan untuk mengakhiri segalanya.
Dia melakukannya bukan untuk dirinya sendiri, melainkan
demi kami semua.
Lalu, ada satu lagi teman yang sudah seperti keluarga,
yang menemukan kami berdua yang mencoba untuk menyendiri dan menautkan tangan
kami kembali.
Karena itulah, sekali lagi saja. Kali ini pasti—tidak,
sekaranglah saatnya.
──Masing-masing dari kami, akan menghadapi cinta demi
diri sendiri.
Tangan yang saling bertumpu itu memiliki kehangatan yang
sama.
Saat Nazuna yang berada di Kanazawa melakukan panggilan
video, bohong jika aku bilang tidak goyah saat melihat wajahnya di layar
ponsel.
Namun, percakapan singkat setelahnya yang bahkan sulit
disebut sebagai dialog.
Itu adalah interaksi yang sangat sederhana, bersahaja,
bahkan mungkin terlihat kaku dan kikuk jika dibandingkan dengan kami yang dulu.
Bagiku, itu terasa sangat nyaman.
Waktu yang telah terkumpul kelak akan membungkus masa
kini layaknya sweter rajutan tangan.
Aku merasa seolah-olah ingin segera mengganti pakaian
meski musimnya belum tiba.
Justru karena itulah, aku merasa cemas di dalam kelas
pada pagi hari yang terasa kurang lengkap ini.
Jangan-jangan, hanya aku yang menganggap bahwa kami telah
melakukan awal baru yang damai?
Apakah akhir hanya akan tetap menjadi sebuah akhir?
『Aku tidak ingin menganggapnya seolah tidak pernah terjadi』
Padahal aku sudah bersumpah dengan jelas pada diriku
sendiri.
Saat aku tengah memikirkan hal-hal menyedihkan itu,
──Krarara.
Suara pintu yang terbuka terdengar menggema layaknya
sebuah nyanyian.
"Pagi semuanya!!"
Tanpa membuang waktu satu detik pun, aku menoleh ke arah
suara yang telah dinantikan oleh hatiku itu.
““““““““……””””””””
Aku—bukan, seluruh kelas tanpa sadar menahan napas dan
keheningan yang tidak alami pun menyelimuti ruangan.
Yua, Nanase, Haru, Kazuki, Kaito, bahkan Kenta.
Semuanya membelalakkan mata dan ternganga dengan
bodohnya.
Di sudut penglihatanku, hanya Nazuna yang melihat ke arah
sini sambil bahunya gemetar menahan tawa.
"……Lho? Selamat pagi?"
Suara keheranan yang menyusul kemudian akhirnya membuat
waktu kembali berputar.
““““““““EEEEEHHHHHHHHHHHHHH!?!?!?!?!?””””””””
Keguncangan dan keterkejutan semua orang meledak seperti
balon air yang pecah.
Tampaknya belum ada yang bisa mencerna situasi ini.
Semua orang saling bertukar pandang dengan orang di
dekatnya, lalu menatap ke arah pintu lagi dengan mata yang kebingungan.
Tentu saja, aku adalah salah satunya.
Karena, pemandangan seperti ini, bagaimana pun juga tidak
bisa diterima begitu saja dengan mudah.
Sosok yang baru saja aku bayangkan, bayang-bayang yang
seharusnya sudah sangat kukenal────.
Yuko telah memotong rambut panjang yang menjadi
kebanggaannya.
Begitu ya, batinku saat secercah rasa sedih yang aneh
melintas.
Aku tahu bahwa rambut panjang adalah ciri khasnya, aku
tahu dia sangat suka menatanya, dan aku tahu dia merawatnya lebih lama daripada
siapa pun.
Tiba-tiba, percakapan santai yang pernah kami lakukan
muncul di benakku.
『Hei hei, Saku suka rambut panjang?』
『Kurasa itu cocok dengan Yuko yang sekarang』
『Ehehe, begitu ya! Kalau begitu, aku akan tetap seperti
ini saja』
Saat itu, Yuko tidak tampak senang hanya karena aku
memujinya, melainkan dia benar-benar bahagia karena rambut yang dia banggakan
dipuji.
Itulah sebabnya, pasti tidak ada yang menyangka hari
seperti ini akan datang.
Di tengah suasana yang masih kacau, Yuko mendekat ke arah
kami.
"Selamat pagi semuanya! Mohon bantuannya ya di
semester kedua ini!"
Saling bertukar pandang, orang pertama yang membuka suara
dengan ragu-ragu adalah Nanase.
"Anu, pagi. Itu, soal rambutmu itu……"
Sesuatu yang jarang terjadi melihat Nanase bicara
terbata-bata, namun dia mendapat jawaban yang ceria.
"Iya, aku mencoba menjadi diriku yang baru!"
Saat Yuko menggelengkan kepalanya pelan seolah sedang
memamerkan penampilannya, rambutnya yang menjadi ringan mengembang lembut, lalu
mengalir seperti gemericik air.
Aku sampai terpana melihatnya, merasa itu sangat indah
seperti salju pertama di tengah malam.
Nanase menatapnya dengan pandangan yang mirip seperti
rasa kagum.
"……Luar biasa."
Nanase menggelengkan kepalanya sedikit lalu tertawa
pendek.
Yua yang tampaknya sudah kembali tenang saat
memperhatikan interaksi mereka berdua, mengangguk dengan lembut.
"Yuko-chan, kamu cantik sekali."
"Terima kasih, Ucchi!"
Haru juga mengangkat satu tangannya dan menyahut.
"Keren banget, lho! Aku mungkin malah lebih suka
yang versi ini."
"Benarkah!?"
"Yeah!" seru Yuko sambil mengangkat tangannya
dan mereka berdua melakukan high-five.
"UOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!!!!!!!"
Tentu saja yang berteriak karena sudah tidak tahan lagi
adalah Kaito.
"Dulu aku sempat yakin bahwa tidak ada Yuko tanpa
rambut panjang. Tapi, tapi kawan-kawan sekalian! Mana ada pria yang tidak
berdebar melihat penampilan ini, TIDAK ADAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!"
Melihat Kaito yang berpidato seolah-olah ditujukan untuk
seluruh kelas, Yuko tertawa kecil.
"Duh, Kaito selalu saja berlebihan."
Dia menjeda kalimatnya sejenak, menghela napas dengan
wajah heran, lalu melanjutkan.
"Tapi aku senang."
Dia menyipitkan matanya sambil tersenyum malu-malu.
"O-oh."
Kaito tiba-tiba menjadi salah tingkah, dia memalingkan
wajahnya sambil menutupinya dengan lengan.
Melihat tingkah itu, Kazuki mengangkat bahu dan membuka
suara.
"Aku tidak benci gaya seperti itu kok, Yuko."
"Eee, seram sekali melihat Kazuki jadi jujur
begini."
Kenta juga memantapkan hatinya dan berkata.
"Yuko, itu, itu panas!"
"Kesan macam apa itu 'panas'!?"
Tidak ada satu pun yang bertanya, "Kenapa?".
Mereka memang tipe teman yang seperti itu, pikirku.
Setelah menyelesaikan serangkaian interaksi itu, Yuko
berbalik dan berdiri di depanku.
──Deg.
Hanya dengan itu saja, hatiku tiba-tiba menjadi
bergejolak.
Apakah ini rasa tegang? Tanpa sadar aku mengeraskan
tubuhku.
Apakah ini rasa malu karena sudah lama tidak bicara
berhadapan, rasa cemas dan takut akan hubungan yang belum memiliki bentuk
pasti, ataukah, sesuatu yang lain……
Bulu mata panjang Yuko yang tadi menunduk tertutup,
perlahan mulai terangkat dalam waktu sekitar lima kali kedipan, dan matanya
yang sedikit bergetar itu akhirnya menatapku lurus.
Dia sedikit memiringkan kepalanya, memasang senyum tipis
yang halus seperti kerajinan mizuhiki, dan berkata.
"Selamat pagi, Saku."
Dengan tenang dan anggun, dia hanya mengucapkan itu.
Misalnya dalam saat seperti ini, di hadapan Yuko yang
seperti ini────.
Reaksi seperti apa yang seharusnya aku berikan?
Jika kami masih seperti dulu, Yuko pasti akan
mendesakku dengan wajah yang mencampurkan rasa cemas dan harap sambil bertanya
"Bagaimana? Bagaimana?", dan aku akan memberikan pujian
berlebihan untuk menutupi rasa maluku.
Jadi, aku bisa saja mencairkan suasana dengan candaan,
atau demi agar tidak canggung satu sama lain, aku bisa berpura-pura tidak
menyadari apa pun, atau sengaja mengejeknya untuk dijadikan bahan bercanda.
……Tapi, semua itu terasa terlalu tidak peka.
Aku menertawakan diriku sendiri dalam hati, lalu.
"Selamat pagi, Yuko."
Aku hanya menjawabnya dengan alami.
Ada sesuatu yang kurasakan saat berbicara dengan Yuko
melalui layar tempo hari.
Pasti, kata-kata sudah tidak terlalu dibutuhkan lagi.
Meski kurasa butuh catatan bahwa ini hanyalah untuk
sementara waktu, entah kenapa aku merasa tahu apa yang ingin kutanyakan tanpa
harus bertanya, dan aku merasa tidak perlu tahu apa yang ingin kuketahui.
Hal yang ingin kusampaikan pun pasti sudah tersampaikan
sebelum aku mengucapkannya, pikirku sambil menyipitkan mata dengan tenang.
Alih-alih kata maaf, aku menyertakan perasaan terima
kasih di dalamnya.
"Kurasa itu cocok dengan Yuko yang
sekarang."
Kalimat yang ingin kuperbarui itu akhirnya keluar dari
mulutku.
Yuko, seolah-olah sudah melihat menembus bahwa aku akan
mengatakan hal itu sejak awal.
"──Kalau begitu, teruslah melihat diriku yang
seperti ini, ya."
Dia tersenyum lebar ke arahku.
◆◇◆
"……Ah, terakhir. Untuk festival SMA Fuji bulan
depan, kita perlu mulai menentukan pertunjukan kelas dan semacamnya. Aku akan
mengambil waktu wali kelas dalam waktu dekat, jadi masing-masing dari kalian
silakan pikirkan apa yang ingin dilakukan."
Setelah Kura-sen menyelesaikan cerita konyolnya yang
penuh semangat, kecemburuan khasnya terhadap masa muda anak SMA setelah
liburan, dan pengumuman administratif yang membosankan, hari pertama masuk
sekolah di semester kedua pun berakhir.
Sudah saatnya ya, pikirku sambil merapikan meja.
Festival SMA Fuji adalah festival sekolah yang diadakan
selama tiga hari di bulan Oktober.
Hari pertama adalah "Festival Luar Sekolah" di
mana klub budaya tampil di aula besar fasilitas komersial dekat sekolah. Hari
kedua adalah "Festival Olahraga", dan hari ketiga adalah
"Festival Budaya".
Tahun lalu, tepat setelah aku berhenti bermain bisbol,
aku tidak dalam suasana hati untuk menikmati festival sekolah, jadi aku hampir
tidak ingat bagaimana aku melewati masa persiapan saat seluruh sekolah sedang
bersemangat, atau bagaimana aku melewatkan hari H-nya.
Sambil memikirkan hal itu, aku menyampirkan tas punggung
Gregory-ku.
"Oi Saku, mau ke Tako-kyu tidak?"
Kaito memanggilku.
Kalau dipikir-pikir, aku belum menunjukkan wajahku pada
Bibi sejak upacara penutupan semester pertama.
Sepertinya aku akan mendapat satu atau dua omelan,
pikirku sambil tersenyum pahit.
"Boleh saja, tapi apa yang lain tidak apa-apa?"
Haru menjawab pertanyaanku.
"Klub basket putri sedang hari latihan mandiri, jadi
kalau cuma waktu makan sih ada kok~"
Kazuki menyusul setelahnya.
"Aku juga sama. Mumpung kita berkumpul, bagaimana
kalau kita diskusikan soal festival sekolah?"
Maksud dari 'diskusi' itu mungkin soal pertunjukan Kelas
2-5, atau apakah kelompok kami ini akan melakukan sesuatu yang lain secara
terpisah.
Terlepas dari Festival Luar Sekolah yang pada dasarnya
menjadi tempat unjuk gigi klub budaya, untuk Festival Olahraga dan Festival
Budaya, kita bisa berpartisipasi dalam berbagai bentuk jika memang ingin
terlibat aktif.
"Jarang-jarang nih si langka ini bilang sesuatu
yang langka."
Saat aku menanggapi dengan nada mengejek, Kazuki
mengangkat bahu dengan wajah kesal.
"Tahun lalu kan kita semua tidak enak hati pada seseorang,
makanya tidak ada yang mengatakannya."
"……Yah, maaf deh."
Nanase yang mendekat menggoyangkan bahunya, tampak
geli.
"Mizushino,
kamu tipe yang agresif soal begituan ya? Agak mengejutkan."
Kazuki
sedikit menyipitkan matanya, memandang ke luar jendela.
"Sama
seperti festival kembang api. Kita tidak tahu apakah tahun depan masih bisa
bersenang-senang seperti ini lagi."
Mendengar
kata-kata itu, Kenta, Yua, dan Yuko yang sudah selesai bersiap pulang dan
berkumpul di sana, saling berpandangan dan mengangguk pelan.
◆◇◆
Begitu
membuka pintu Takokyu, suara teguran langsung menyambar.
"Dasar
anak-anak tidak tahu diri, begitu liburan musim panas tiba, tidak ada satu pun
yang menampakkan batang hidungnya."
Sudah
kuduga. Sambil menenangkan Bibi pemilik kedai, kami memesan yakisoba, takoyaki,
dan karaage satu per satu sebagai permintaan maaf kecil-kecilan.
Setelah pesanan terkumpul, Kazuki segera membuka
pembicaraan.
"Jadi, mau melakukan sesuatu untuk festival
budaya?"
Padahal niatnya minta maaf, Kaito tetap melahap yakisoba
bumbu yang porsinya diubah menjadi jumbo sebagai layanan servis oleh si Bibi.
"Bukankah kegiatan kelas ditentukan saat wali kelas
atau semacamnya? Maksudmu di luar itu?"
Kazuki mengangguk mantap dan melanjutkan.
"Iya. Entah itu panitia pelaksana atau slot
partisipasi bebas festival budaya."
Aku tidak tahu bagaimana di SMA lain, tapi di festival
SMA Fujishi, seluruh murid dialokasikan ke dalam komite atau organisasi
tertentu.
Panitia
pelaksana festival olahraga dan festival budaya adalah contoh utamanya.
Sepertinya
banyak orang yang ingin menikmati festival SMA Fujishi sepuasnya, sehingga
setiap tahun persaingannya cukup tinggi.
Sebaliknya,
bagi murid yang tidak aktif, ada pilihan yang tidak terlalu memakan waktu
seperti komite kebersihan atau komite dokumentasi.
Lalu
ada juga kegiatan per kelas di festival budaya yang disebutkan Kaito tadi.
Jenisnya
beragam, mulai dari stan makanan, rumah hantu, hingga pertunjukan panggung
seperti drama atau komedi tunggal.
Sisanya
adalah slot partisipasi bebas festival budaya yang bisa didaftarkan secara
individu atau bersama teman.
Penampilan
band atau kontes akapela biasanya menjadi primadona di sini.
Singkatnya,
jika ingin melakukan sesuatu dengan anggota ini selain kegiatan kelas,
pilihannya adalah masuk ke komite yang sama atau slot bebas tersebut.
Nanase mengambil kentang goreng dan berbicara santai.
"Tampil dengan band di festival budaya, aku
sempat ingin mencobanya sekali seumur hidup."
Aku menghentikan tangan yang hendak menyuap takoyaki,
lalu menanggapinya.
"Heh, tak disangka ya."
"Benarkah? Bukannya aku paham musik, tapi
bukankah itu keren?"
"Karena sejak kecil aku tipe atletis, bidang
pertunjukan panggung seperti band atau klub tiup terasa mewah dan membuatku
kagum."
Aku rasa aku bisa memahami perasaan Nanase.
Tentu saja, baseball atau basket pun akan kedatangan
banyak penonton jika sampai ke tingkat nasional.
Ada kemiripan dalam hal menunjukkan hasil latihan di
depan mereka.
Namun, kami yang bukan profesional ini tidak bermain
untuk memukau seseorang.
Kami hanya bersaing menang-kalah dengan lawan, dan
hasilnya penonton pun ikut bersemangat.
Dalam hal itu, penampilan band atau konser klub tiup
memiliki premis dasar untuk bermain bagi para penonton.
Pasti rasanya menyenangkan saat reaksi terhadap
penampilan kita kembali langsung dari orang-orang di depan mata.
Aku benar-benar pernah membayangkan hal itu.
Setelah berpikir sejenak, aku angkat bicara.
"Kalau Nanase, entah itu gitar atau bass, sepertinya
kamu akan cepat bisa memainkan lagu sederhana jika berlatih."
Bukan hal langka jika teman-teman pemula membentuk band
untuk festival budaya.
Lagipula, dia punya ketangkasan untuk melakukan apa pun
dengan baik.
Kecuali jika harus menjual tiket di live house,
kalau hanya panggung festival budaya, sedikit amatir pun pasti sudah cukup
meriah.
Nanase melambaikan tangannya ringan di depan wajah.
"Tidak, aku tidak serius mengatakannya."
"Kalau satu lagu mungkin masih bisa, tapi
berlatih beberapa lagu sambil menyiapkan festival dan kegiatan klub itu rasanya
sulit."
"Yah, benar juga sih."
Haru berkata dengan nada yang terdengar agak
menyesal.
"Tim basket putri juga punya kualifikasi Winter
Cup bulan depan."
"Aku ingin menikmati festival, tapi kalau mau
melakukan sesuatu, mungkin lebih baik digabung ke kelas atau komite saja."
Nanase juga menggaruk pipinya dengan perasaan
bersalah.
"Benar, maaf ya semuanya."
Karena SMA Fujishi sangat fokus pada festival
sekolah, biasanya kegiatan klub di seluruh sekolah akan diliburkan menjelang
hari-H.
Namun, jika bertepatan dengan periode turnamen
seperti Haru, mereka tidak bisa menelantarkan latihan.
Kazuki berbicara seolah sudah menduga reaksi
tersebut.
"Yah, itu sudah sewajarnya. Jadi untuk
sementara, slot bebas festival budaya kita tiadakan."
"Minimal kegiatan kelas saja sudah cukup, tapi apa
ada komite yang ingin kalian coba?"
"Saya, saya, sayaaa!"
Yang mengangkat tangan dengan semangat adalah Yuko.
"Anu, bagaimana kalau tim pemandu sorak festival
olahraga!?"
"Ah……!"
Suaraku, Kazuki, Kaito, Nanase, dan Haru saling tumpang
tindih.
Yua dan Kenta yang sepertinya tidak langsung paham,
menatap Yuko dengan bingung.
Pada dasarnya, festival olahraga di sekolah kami
dibagi menjadi lima warna: tim merah, biru, kuning, hijau, dan hitam.
Ini adalah kompetisi antar warna yang umum untuk
mengejar gelar juara melalui estafet atau tarik tambang.
Omong-omong, kelas kami sepertinya masuk ke tim biru.
Namun, selain perlombaan standar tersebut, ada acara
utama yang disebut prakarya raksasa dan tim pemandu sorak.
Prakarya raksasa merujuk pada objek raksasa yang
disesuaikan dengan warna tim masing-masing.
Misalnya, tim merah membuat Lupin, atau tim hijau
membuat Yoshi setinggi lima meter dari kerangka kayu.
Pada saat sesi pertunjukan, biasanya diadakan juga
semacam drama singkat.
Tim pemandu sorak, sesuai namanya, bertugas mendukung tim
mereka sendiri.
Selama perlombaan, mereka memimpin teriakan penyemangat,
mengibarkan bendera, atau menyanyikan lagu dukungan.
Namun, panggung utama mereka adalah saat sesi pertunjukan
seni.
Mereka mengenakan kostum buatan tangan dan menampilkan
tarian kreatif yang dibuat dari nol sesuai musik di lapangan.
Prakarya raksasa dan tim pemandu sorak akan dinilai dan
memberikan poin besar, sehingga bisa dibilang inilah primadona festival
olahraga.
Yang pertama bereaksi adalah Haru.
"Boleh juga! Kalau soal menggerakkan tubuh, aku
jagonya."
Aku menyahut dengan nada mengejek.
"Haru, memangnya kamu bisa menari?"
"Tsk, tsk, tsk."
Haru menggoyangkan jari telunjuknya di depan wajah.
"Jangan remehkan aku, Tuan. Pemain basket yang hebat
itu biasanya punya rasa ritme yang bagus, itu teoriku."
"Oh, terdengar meyakinkan. Berarti Kaito juga tidak
masalah?"
Mendengar itu, Kaito memamerkan otot lengannya.
"Tentu saja! Aku tidak tahu apa ritme basket bisa
dipakai menari, tapi kalau soal gerak tubuh daripada otak, serahkan
padaku!"
Dia memiliki daya persuasi yang aneh, membuatku tertawa
getir.
Aku menoleh ke arah Kazuki dan Nanase. Yah, mereka berdua
pasti bisa mengatasinya.
Kazuki menyunggingkan senyum tipis.
"Jika sama-sama pemula, tidak ada alasan bagiku
untuk kalah dari Kaito."
Nanase juga mengangkat kedua sudut bibirnya dengan nada
menggoda.
"Aku setuju denganmu, tapi lawanku adalah
Haru."
"Jahat sekali?!"
"Apa katamu barusan?!"
Yah, aku tidak khawatir soal anak-anak klub olahraga ini
sejak awal.
Masalahnya adalah—aku menatap dua orang yang belum ikut
bicara.
Benar saja, Yua mengangkat tangannya dengan wajah yang
tampak agak cemas.
"A-aku mungkin merasa sedikit khawatir."
Yuko langsung menanggapi dengan cepat.
"Ehh, Ucchi kan sudah main musik sejak kecil, pasti
bisa!"
"Bukan begitu, tapi, maksudku, itu agak
memalukan……"
"Tapi Ucchi akan tampil di panggung klub tiup saat
festival luar sekolah kan? Bukankah itu sama saja?"
"Yah, kalau dibilang begitu sih memang benar……"
"Tenang saja! Aku tidak akan tertawa kalau tangan
kanan dan kaki kananmu bergerak bersamaan!"
"Ih! Aku tidak seburuk itu dalam olahraga!"
Melihat mereka berdua bercanda, aku tersenyum lega karena
Yua tampaknya akan baik-baik saja.
Lalu secara alami, pandangan semua orang tertuju pada
satu titik.
"Mustahil
mustahil mustahil, benar-benar mustahil!!!!!"
Kenta
berdiri sambil melambaikan kedua tangannya dengan panik.
"Kalian
mau menyeret ikan laut dalam ke pantai di tengah musim panas dan menyuruhnya
menari samba?! Dasar tidak punya perasaan!"
"Kalian
pikir mantan otaku pengurung diri sepertiku bisa membaur dengan kerumunan ikan
tropis yang ceria di tim pemandu sorak itu?!"
"Te-tenanglah Kenta. Ikan tropis juga tidak menari
samba di pantai."
Meski berkata begitu, aku bisa memahaminya.
Hal semacam itu memang membagi orang menjadi dua: yang
sangat ingin melakukannya dan yang benar-benar tidak sanggap.
Karena itulah, meski menjadi primadona, biasanya posisi
tersebut akan langsung diberikan jika ada yang sukarela tanpa perdebatan.
Ini kembali lagi ke kepribadian masing-masing dan tidak
bisa dipaksakan.
Meski begitu, tidak mungkin membiarkan Kenta jadi
satu-satunya yang dikucilkan seperti ini.
Saat aku berpikir untuk mempertimbangkan komite lain,
Kazuki berdiri.
"Kenta, bisa bicara sebentar?"
Sebelum Kazuki bicara apa pun, Kenta sudah menunjukkan
reaksi penolakan.
"Tidak, tidak! Mau dibujuk seperti apa pun aku
tetap tidak bisa! Aku akan masuk komite yang santai saja, pemandu soraknya
kalian saja……"
Kazuki meletakkan tangan di bahu Kenta sambil
menggeleng kecil.
"Sudah diam dan dengarkan, Kenta."
"Menari itu benar-benar mustahil sampai mati
pun!"
Akan sangat melelahkan membujuk Kenta kalau sudah begini.
Aku ingin tahu bagaimana cara Kazuki menanganinya.
"Kenta, kamu suka anime kan?"
"Apa sih tiba-tiba. Biar kuberi tahu ya, festival
sekolah di anime itu cuma fiksi tahu."
Padahal mengaku otaku, tapi bicaranya blak-blakan sekali.
Kazuki melanjutkan dengan suara tenang.
"Bicara soal menari, di anime biasanya karakter
menari di lagu pembuka atau penutup kan? Menurutmu siapa yang ingin menonton
hal seperti itu?"
Kenta menjawab dengan tatapan mata yang sangat kering.
"Hah?
Bagi fans, itu adalah anugerah! Meniru gerakannya secara sempurna adalah
kewajiban!"
Sambil
sedikit menyunggingkan sudut bibir, Kazuki berucap datar.
"Ngomong-ngomong,
di konser pengisi suara biasanya ada yang melakukan wotagei (tarian
otaku) kan?"
Kenta menghela napas panjang.
"Aduh, aduh. Inilah repotnya menghadapi orang sok
keren yang pura-pura paham otaku."
"Zaman sekarang hal seperti itu tidak dilakukan lagi
karena mengganggu orang yang ingin menonton konser."
"Lagipula aku bukan fans pengisi suara! Kalau mau
bicara, belajar dulu sana!"
Hebat sekali Kazuki bisa menerima wajah menyebalkan itu
dengan tenang. Kalau aku, pasti sudah mendaratkan satu sentilan di dahinya.
"Jadi, maksudmu kamu tidak bisa melakukan satu pun
gerakan wotagei?"
"Hah? Aku bisa, memangnya kenapa?"
"Tadi katanya zaman sekarang sudah tidak tren?"
"Ah, kamu tidak mengerti, Mizushino. Kalau di venue memang mengganggu, tapi kalau di kamar sendiri kan
bebas."
"Aku bahkan menari dengan sepenuh jiwa saat
menonton video konser tahu! Berkat latihan dari God, sekarang aku sedang
dalam masa puncak!"
Jika diperhatikan baik-baik, bahu Kazuki sedikit
gemetar karena menahan tawa.
Sampai di sini, aku pun sudah bisa membaca rencana
Kazuki.
"Heh? Aku jadi sedikit tertarik, tapi pasti kamu
malu kalau melakukannya di depan orang kan?"
Kenta membusungkan dada dengan bangga.
"Hmph, God pernah berkata: 'Cukup bangga
pada diri sendiri'. Tidak ada alasan untuk malu menyukai sesuatu."
Oi, jangan mengutip kata-kataku untuk hal memalukan
seperti ini.
Kazuki menutup pembicaraan.
"Kalau begitu, cobalah menari nanti. Lebih baik
tarian baru daripada yang sudah kamu hafal."
"Tantangan diterima!"
"Mengingat masa latihan, pertunjukannya mungkin
bulan depan. Tempatnya di lapangan sekolah."
"Kalau diberi waktu selama itu, aku akan tunjukkan
tiga atau empat tarian sekaligus!"
"Karena sudah niat, mari kita perhatikan detailnya,
sampai pembuatan kostum."
"Heh, ini pertama kalinya aku cosplay, tapi aku
tidak keberatan."
"Jadi, kesimpulannya," Kazuki menatap semua
orang dengan senyum mencurigakan.
"Kenta juga akan ikut tim pemandu sorak."
"──Areeeeeeeeeeeee?????????"
Kami yang sudah mencapai batas kesabaran akhirnya meledak
tertawa melihat interaksi mereka berdua.
"Apa-apaan Kenta, ternyata kamu yang paling
berpengalaman di antara kita!" Kaito memegang perutnya sambil tertawa
geli.
Haru menyeka matanya yang berair karena tertawa.
"Yamazaki, aku menantikan tarian energikmu!"
Nanase memberi dukungan dengan santai. "Tenang
saja, karena menari bersama banyak orang, kamu tidak akan terlihat terlalu
mencolok."
Yuko berdiri dengan wajah cerah. "Kentacchi,
mari buat banyak kenangan!"
Yua tersenyum lembut menatap Kenta. "Semangat ya,
Yamazaki-kun."
Terakhir, aku pun angkat bicara. "Yah,
begitulah. Mari kita nikmati masa muda bersama-sama."
Kenta bergumam lirih dengan wajah linglung. "……Aku
merasa dijebak."
Sambil tertawa bersama sekali lagi, aku merenung.
Musim panas usia tujuh belas tahun yang takkan pernah
kembali.
Melewati terowongan biru itu, sesuatu memang telah
berubah.
Mengakhiri musim panas tahun lalu bersama Haru, dan
menyambut musim panas yang baru.
Yuko yang mau menghadapiku, dan Yua yang mau menghadapi
aku serta Yuko.
Sebenarnya, berkat Nanase dan Asu-senpai, semuanya sudah
mulai berubah sejak lama.
Fakta bahwa Kazuki dan Kaito tetap menjadi diri mereka
sendiri, dan Kenta yang akhirnya menjadi Kenta.
──Fakta bahwa kami semua telah mengakhiri musim panas
tahun ini bersama-sama.
Aku tidak berniat menganggap semua itu tidak pernah
terjadi.
Namun, tetap saja. Keseharian kecil yang bisa kupulangi
seperti ini terasa sangat berharga bagiku.
◆◇◆
Aku berjalan menyusuri jalan pinggir sungai yang sama
seperti pagi tadi, namun ke arah sebaliknya.
Kami berpisah di Takokyu.
Nanase, Haru, Kaito, dan Kazuki langsung menuju kegiatan
klub.
Yuko dan Yua akan berbelanja di depan stasiun, dan Kenta
yang ada keperluan di Animate ikut menemani mereka.
Aku yang tidak punya rencana apa pun memilih pulang,
berjalan santai sambil memandang pemandangan sekitar.
Ini adalah sore yang menyenangkan, di mana aku merasa
bebas untuk melakukan apa pun atau tidak melakukan apa-apa.
Lonceng angin yang sudah menyelesaikan tugasnya di bulan
Agustus berdenting pelan, seolah sedang lembur.
Bau manis tercium dari suatu tempat, mungkin seseorang
sedang terburu-buru merebus jagung yang tersisa.
Tak lama kemudian, aku melihat sesosok bayangan duduk di
dekat pintu air kecil.
Aku mempercepat langkahku yang tanpa sadar menjadi lebih
tenang, menuruni jalan sempit di tanggul sungai.
Aku berharap wajah gadis yang sedang merengut itu bisa
sedikit lebih cerah.
Sambil berharap suaraku terdengar seperti musik festival
yang meriah, aku memanggilnya.
"Asu-senpai!"
Asu-senpai mengangkat wajah dari buku saku yang
dipegangnya.
Ada kilas kelegaan di wajahnya, seperti seorang ayah yang
berlari ke kelas karena terlambat menghadiri pertemuan sekolah.
Lalu, dia memalingkan wajahnya dengan angkuh.
"Kira hari ini kita tidak akan bertemu lagi."
Aku tertawa getir dalam hati sambil duduk di
sampingnya.
"Maaf, maaf. Tadi aku makan bersama
teman-teman."
Aku melirik sampul buku sakunya, judulnya Aku, dan
Musim Panas Kami.
Aku belum pernah membacanya, tapi mungkin dia juga merasa
rindu pada musim yang telah berlalu ini.
Asu-senpai menggoyangkan bahunya seolah merasa geli.
"Hanya bercanda kok. Sore ini terlalu indah
kalau langsung pulang ke rumah."
"Tapi, tidak bohong juga kalau aku berpikir
apakah kita bisa bertemu."
Ternyata kami memikirkan hal yang sama. Hal kecil itu
membuatku sedikit senang.
Saat kami pergi meninjau URALA bersama, aku sempat
khawatir telah menyakitinya dengan cara yang tidak diinginkan.
Namun sepertinya dia sudah pulih sepenuhnya.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
"Asu-senpai warna apa?"
Melihat tatapan bingungnya, aku sadar kata-kataku kurang
jelas.
"Maaf, maksudku pembagian kelompok di festival
olahraga."
Sepertinya dia paham maksudku, tapi reaksinya masih
tampak linglung.
"Sepertinya aku belum dengar, memangnya
kenapa?"
"Tadi kami baru saja bicara soal bergabung dalam
tim pemandu sorak."
Pembagian warna di festival olahraga biasanya
dilakukan secara vertikal antar tingkatan kelas.
Ini adalah salah satu kesempatan langka untuk
beraktivitas dengan Senpai kelas selain di kegiatan klub.
Seolah menyadari harapan manis yang keluar tanpa sadar
dari diriku, Asu-senpai memalingkan wajah dengan malu.
"Kalau kamu sendiri?"
"Aku di tim biru."
"Begitu ya, tim pemandu sorak……"
Melihat wajahnya yang tampak ragu, aku segera
menyambung.
"Yah, Asu-senpai sepertinya bukan tipe orang
yang menari di depan banyak orang dengan kostum warna-warni ya."
Niatnya hanya bercanda untuk mencairkan suasana, tapi
Asu-senpai malah mengerucutkan bibirnya kesal.
"Tunggu, apa maksudnya itu?"
Reaksinya yang menarik membuatku ingin menggodanya
lebih jauh.
"Maksudku, Asu-senpai lebih cocok memakai gaun
putih sambil membaca buku."
Pipinya semakin menggembung saat dia bicara.
"Kamu ini, kamu pikir aku tidak bisa menari
ya?"
"……Jujur saja, aku hanya bisa melihat masa depan di
mana Senpai berteriak 'Tunggu! Jangan tinggalkan aku!' seperti waktu itu."
"Memang aku tidak terlalu hebat dalam olahraga, tapi
bukan berarti aku payah kok."
"Masalahnya adalah Senpai cenderung menjadi ceroboh
saat menghadapi hal yang asing."
"……Sekarang aku tahu betul apa pendapatmu
tentangku!"
Aku tertawa kecil melihatnya memunggungiku dengan kesal.
"Hanya bercanda. Aku cuma ingin bilang Senpai tidak
perlu memaksakan diri untuk menyesuaikan diri."
Asu-senpai menghela napas pendek dan bahunya merosot.
"Aku tahu kok, itu memang bukan sifatku."
"Lagi pula Senpai tidak pernah mau menyanyi saat
karaoke kan?"
"Ah, kamu mulai lagi bahas itu."
"Yah,
memang sudah sifatku begini."
Asu-senpai
menoleh ke arahku dengan wajah lelah.
Ekspresinya
tampak lebih sedih dari yang kubayangkan, dan lebih rapuh dari yang kuharapkan.
Asu-senpai
hendak mengatakan sesuatu, lalu terdiam, dan akhirnya bergumam lirih.
"Ini akan jadi festival sekolah terakhirku
ya……"
Kesedihan yang tak menentu itu tiba-tiba menular padaku,
dan aku menjawab dengan haru.
"Setidaknya, kuharap kita bisa berada di tim warna
yang sama."
"Iya, warna biru yang sama denganmu."
Lalu kami berdua terdiam menatap langit biru, sambil
melihat sepeda merah yang terparkir di pinggir jalan.
Kami melihat kaos kuning yang bergoyang di balkon,
pepohonan hijau yang tertiup angin, dan burung gagak hitam yang terbang bebas.
◆◇◆
──Saph.
Tembakan tiga angka dua tangan masuk ke ring untuk
keseratus kalinya.
Aku, Haru Aomi, akhirnya bisa menghela napas lega dan
melemaskan bahu.
Latihan mandiri yang kumulai setelah berpisah di
Takokyu ternyata sudah berlangsung hingga jam tujuh malam.
Sen, Yo, dan para junior—tak ada satu pun yang
menunjukkan tanda-tanda ingin pulang.
Mereka semua berlatih dengan penuh semangat sampai
aku lupa menyuruh mereka berhenti.
Mereka benar-benar sudah berubah, pikirku bangga
melihat pemandangan itu.
Aku menyeka keringat dengan ujung kaos dan bicara
pada rekanku yang membantu memberikan operan.
"Makasih ya, cukup sampai di sini untuk hari
ini."
Nana tampak tenang meski dia sendiri sudah memasukkan
seratus bola.
"Persentase masukmu meningkat pesat saat latihan
ya."
"Bicara apa sih."
Meski aku tidak menghitungnya dengan pasti, Nana pasti
hanya butuh sekitar seratus dua puluh atau seratus tiga puluh tembakan untuk
memasukkan seratus bola.
Sedangkan aku, jumlah tembakanku pasti sudah lewat dua
ratus, bahkan mungkin hampir tiga ratus.
Seolah menyadari aku sedang melamun, Nana tersenyum kecil
lalu memunggungiku untuk memberi instruksi beres-beres pada yang lain.
Sebenarnya, saat aku mengaku soal latihan tembakan tiga
angka yang kulakukan diam-diam, aku dimarahi habis-habis olehnya.
"Kenapa tidak konsultasi padaku dulu?!" katanya
waktu itu.
"Bukannya apa-apa, aku cuma berpikir kalau tidak
dimulai dari dasar, kalian bakal bingung. Aku juga tidak mau membuang-buang
waktu kalian buat menemani latihan yang sia-sia."
"Kamu waras? Sama seperti tembakan lain, tembakan
tiga angka atau Three-Point Shot itu cuma bisa dikuasai dengan banyak
menembak dalam situasi simulasi tanding! Di latihan bisa masuk delapan puluh
persen pun, saat pertandingan dapat empat puluh persen saja sudah syukur.
Apalagi latihan cuma berdiri diam tanpa ada yang mengoper, itu lebih baik
daripada tidak sama sekali, tapi sangat tidak efisien!"
"……Iya, maaf."
Kenyataannya, begitu aku menerima operan acak dari Nana
lalu menembak, persentase keberhasilanku langsung merosot drastis. Tak perlu
dibayangkan lagi bagaimana jadinya jika itu operan dalam pertandingan sungguhan
dengan penjagaan lawan.
Aku sering mendesak Nana dengan kalimat seperti,
"Kenapa tadi tidak ambil Three-Point Shot?!" Meski aku tidak
merasa diriku sepenuhnya salah, baru sekarang aku benar-benar menyadari betapa
hebatnya partnerku ini karena bisa menembak dengan tenang dan akurat dalam
pertandingan.
Namun, aku mendekap bola itu erat-erat.
Dia sudah jadi lebih kuat.
Kata-kataku padanya bukan bohong. Sejak pertandingan
melawan Aki-senpai dan Kei-senpai, performanya meningkat luar biasa. Bagi orang
yang sudah lama bergelut di dunia olahraga, hal seperti ini terkadang terjadi.
Menurutku, pertumbuhan itu bukanlah kurva yang landai.
Memang benar teknik dan fisik meningkat perlahan setiap hari, tapi pasti akan
tiba masanya kita merasa jalan di tempat, seolah tertahan di bordes tangga.
Meski kualitas dan kuantitas latihan sudah diperas sampai
batas maksimal, bayangan permainan ideal selalu berlari lebih jauh di depan,
sementara tubuh dan insting tidak bisa mengejar.
Namun, suatu hari nanti. Seolah atapnya tiba-tiba jebol,
kita akan melompati dua atau tiga anak tangga sekaligus.
Tubuh terasa ringan seolah-olah baru saja menanggalkan
diri yang kemarin. Permainan yang sebelumnya hanya ada dalam imajinasi kini
terkejar, dan akhirnya selaras sempurna.
Memecahkan cangkang, melompati tembok, atau menemukan
pencerahan—momen seperti itu memang ada. Bagiku, momen itu terjadi pada
pertandingan kemarin, atau lebih tepatnya, saat pembicaraan tentang
Misaki-chan.
"—Kalian bukan prajurit, kalian adalah wanita yang
bertarung."
Kalimat pendek itu menerbangkan semua keraguanku.
Tiba-tiba, janji yang kami buat di Takokyu melintas di pikiran.
Aku ikut tim pemandu sorak di festival olahraga? Aku
tersenyum kecut sendiri. Ada banyak cara untuk terlibat dalam festival sekolah,
tapi kegiatan yang satu ini jelas termasuk lima besar yang paling menyita
tenaga dan waktu.
Bagaimanapun juga, tarian saat pertunjukan seni
dimulai dari pemilihan tema, kostum, musik, hingga koreografi—semuanya harus
dipikirkan, dipilih, dibuat, dihafal, dan dipentaskan sendiri.
Jika aku adalah diriku yang tahun lalu, aku pasti
tidak akan meliriknya karena alasan akan mengganggu basket. Aku pasti akan
bilang, "Daripada membuang waktu untuk itu, lebih baik aku latihan."
Tapi, aku memikirkan pria yang kucintai.
Semakin aku mencurahkan gairahku pada basket, semakin aku
merindukannya. Semakin aku mendambakannya, permainan basketku semakin terasah.
Oleh karena itu, aku memilih tanpa ragu. Meski alasan
untuk menemani latihan baseball sudah hilang, meski alasan liburan musim panas
sudah tidak berlaku lagi, asalkan aku masih bisa berada di sampingmu.
Cerita apa yang bisa kita bicarakan, waktu seperti apa
yang bisa kita lalui, kenangan seperti apa yang akan tercipta? Aku akan
merangkul semuanya dan menjadikannya kekuatan.
Mungkin, aku berpikir. Sebenarnya aku tidak perlu
mendengar jawabannya. Aku tidak perlu menantangnya dalam pertarungan yang
serius.
Pasti saat ini aku adalah orang yang paling bahagia
dibandingkan siapa pun. Jika hanya dengan memikirkannya saja aku sudah merasa
sepuas ini, perlukah aku mengharapkan lebih?
Karena sebenarnya aku sadar. Aku telah menghubungkan
basket dan dirimu dengan cara yang tidak bisa dipisahkan lagi.
Karena itulah aku tahu aku bisa menjadi kuat, dan karena
itulah aku mengenal rasa takut. Karena keduanya adalah dua sisi dari keping
uang yang sama, terkadang aku tak sengaja memikirkannya.
Seandainya cinta ini berakhir, apakah aku masih bisa
berdiri di lapangan? Apakah aku masih bisa menatap ring dengan tatapan yang
sama seperti sekarang?
……Pasti tidak bisa.
Entah aku akan merelakannya dan kembali fokus sepenuhnya
pada basket, atau kehilangan semangat bertarung dan tidak pernah bisa kembali
ke tempat ini lagi, aku tidak tahu.
Hanya satu hal yang pasti. Jika
cinta ini berakhir, maka diriku yang sekarang pun akan berakhir.
Kalau begitu, aku tak sengaja memegang dadaku. Kalau
begitu, aku tidak akan menuntut sesuatu yang mewah seperti "tolong hanya
lihat aku".
Asalkan aku hanya melihat dirimu saja, itu sudah
cukup bagiku. Daripada kehilangan keduanya, lebih baik aku tetap mendekap
keduanya di tangan ini.
—Kuharap hubungan dan waktu seperti ini bisa terus
berlanjut selamanya.
◆◇◆
Aku, Yua Uchida, sedang menyiapkan makan malam
seperti biasanya. Menu utama hari ini adalah ikan tenggiri gulung
ume-shiso.
Ayah dan adik laki-lakiku, sama seperti seseorang,
tidak terlalu suka hidangan ikan. Tapi yang satu ini adalah menu andalan karena
mungkin rasa asam plumnya cocok dengan nasi, sehingga mereka berdua sangat
menyukainya.
Pertama, aku memotong ikan tenggiri yang sudah dicairkan
di kulkas menjadi seukuran satu suapan, menaburkan sedikit garam, lalu
mendiamkannya sebentar. Selama itu, aku mengambil beberapa buah ume-boshi
besar, membuang bijinya, dan mencincangnya dengan pisau sampai menjadi pasta.
Aku menyiapkan daun shiso yang kubeli dalam jumlah
banyak saat diskon dan kusimpan dalam wadah berisi sedikit air di bagian
bawahnya. Kemudian, aku mengoleskan pasta plum di atas potongan ikan,
menggulungnya dengan daun shiso, dan menaburkan sedikit tepung tapioka
sebagai persiapan terakhir.
Sebelum mulai memanggang, aku memeriksa panci yang ada di
atas api. Isinya adalah kentang dan bawang bombay yang sedang direbus untuk sup
miso standar. Karena ini hari kerja, aku menggunakan kaldu instan tipe butiran.
Setelah memastikan kentangnya matang, aku mematikan api
dan melarutkan miso. Terakhir, aku memasukkan rumput laut kering, dan sup pun
selesai.
Selanjutnya, aku menyalakan api pada wajan. Di rumah
kami, kami menggunakan minyak bekatul sebagai pengganti minyak kelapa sawit.
Aku mulai memanggang setengah dari ikan tenggiri yang sudah disiapkan tadi.
Setelah matang merata, aku menatanya di piring, lalu
menaruh sisa ikan di wajan. Bagiku, rasa garam dan plum saja sudah sangat enak,
tapi demi adikku yang suka rasa kuat, aku selalu membuat setengah bagian
lainnya dengan rasa berbeda menggunakan tsuyu.
Kebetulan hari ini ada ishiru dashi (kaldu kecap
ikan) yang dibelikan Yuko-chan sebagai oleh-oleh dari Kanazawa, jadi aku
menuangkannya sedikit.
Jiuu, aroma sedap kecap ikan menyeruak
naik, dan tiba-tiba kejadian pagi tadi melintas di kepalaku.
—Musim panas berakhir, dan sahabat perempuanku memotong
rambutnya.
Jika diucapkan, itu hanyalah kejadian yang sederhana. Tapi aku tidak pernah menyangka hari seperti ini akan datang.
Aku tahu dia merawat rambutnya dengan sangat
hati-hati. Aku ingat betapa senangnya dia setiap kali menemukan gaya tata
rambut baru yang memanfaatkan panjang rambutnya itu.
Lagi pula, rasanya tidak ada gaya lain yang lebih
cocok. Dia adalah gadis yang sangat serasi dengan rambut panjang.
Sejak hari ibu pergi sampai aku masuk SMA, aku selalu
mempertahankan potongan rambut pendek yang biasa saja. Aku tidak pernah berniat
membuat model rambut modis, tidak juga ingin dianggap imut oleh siapa pun. Aku
hanya ingin membaur dengan sekitar tanpa terlihat menonjol……
Namun setelah bertemu Yuko-chan dan dirimu, aku ingin
menjadi seperti anak perempuan untuk pertama kalinya.
Rambut panjang teman baruku itu akan bergoyang-goyang
saat dia tertawa, melompat-lompat saat dia marah, dan meninggalkan jejak
seperti kerudung pengantin saat dia berlari mendekat. Dia terlihat seperti
perwujudan gadis imut dalam imajinasiku.
Pasti pada saat itu, rasa tertarikku pada Yuko-chan
sama besarnya dengan rasa tertarikku pada laki-laki yang sangat kubenci. Itulah
sebabnya, meski aku terlalu malu untuk mengatakannya, sebenarnya sejak tahun
lalu aku selalu mengaguminya.
Aku ingin menjadi seperti gadis itu.
Rambut yang kupanjangkan seolah sedang memanjatkan
doa kini sudah menjadi sangat panjang.
—Baru saja aku merasa sudah sedikit mendekat, ternyata
jaraknya menjauh lagi ya.
Terdengar suara letupan minyak, aku segera memutar wajan
dan membalik ikan dengan sumpit panjang. Aku tersenyum sendiri melihat
tingkahku.
Yuko-chan memang hebat. Bahkan aku yang sangat buta soal
asmara sampai masuk SMA pun bisa memahaminya.
Memotong rambut setelah kejadian seperti itu berarti ada
sesuatu yang terjadi, tapi pada Yuko-chan sama sekali tidak terlihat rasa duka
atau penyesalan. Padahal dia memotong rambut panjang yang berkali-kali
membuatku terpaku karena terlihat seperti sayap malaikat, tapi entah kenapa……
Begitu kakinya menghentak tanah, dia terlihat begitu
ringan seolah-olah bisa terbang keluar dari jendela saat itu juga.
Bahkan saat kami berbelanja bersama di depan stasiun
sepulang sekolah tadi. Tepat setelah aku merasa Yuko-chan yang biasa telah
kembali, sesosok Yuko-chan yang tidak kukenal tiba-tiba muncul.
Suasananya sulit digambarkan dengan hal lain—terasa agak
dewasa, rapuh seolah akan menghilang jika disentuh, namun hatinya benar-benar
ada di sini. Bagiku itu terasa sedikit kesepian, namun juga menyilaukan.
Aku mematikan api, memindahkan ikan ke piring, dan
menghela napas lega dalam hati. Aku benar-benar bersyukur kami tidak
mengakhirinya begitu saja dan bisa kembali berpegangan tangan.
Tapi, aku menatap kursi tinggi di dapur sambil
berpikir.
"Sampai suatu hari nanti, saat aku menghadapi cinta
demi diriku sendiri."
Sore itu, yang kuucapkan adalah perdamaian dengan batas
waktu. Setidaknya, aku tahu dengan jelas bahwa "suatu hari nanti"
bagi Saku-kun dan Yuko-chan bukanlah sekarang.
Itu adalah kata-kata yang kurangkai demi mereka berdua
yang berharga bagiku. Kalau begitu, kali ini aku mencoba bertanya pada diriku
sendiri.
Kapan "suatu hari nanti" bagiku akan tiba?
Yuko-chan terus melangkah maju dengan gayanya sendiri,
dan Saku-kun menerima semua perkataanku lalu menciptakan tempat di rumah itu
agar mereka bisa saling berhadapan. Padahal begitu, tapi aku.
Meskipun aku sadar ingin menjadi orang yang spesial,
meskipun aku sudah memutuskan untuk menjadi sedikit lebih egois, di suatu
tempat aku masih mencoba untuk terus bergantung.
Menghadapi cinta demi diri sendiri bukan berarti
semuanya akan hancur. Tapi aku, di musim panas ini. Seolah melihat menembus
hati Saku-kun dan Yuko-chan.
Air mata yang tumpah tak henti-hentinya, rasa sakit yang
membuat ingin mencabik dada, penderitaan yang membuat kehilangan jati diri,
kesedihan yang seolah menenggelamkan, dan penyesalan yang membuat ingin
menghapus seluruh kenangan────.
Karena aku telah mengetahui akhir dari sebuah cinta.
Karena Yuko-chan di hari itu adalah aku.
Bedanya hanyalah apakah perasaan itu diungkapkan atau
tetap dipendam. Jika yang menyatakan cinta di ruang kelas sore itu adalah aku,
aku pasti akan ditolak dengan kata-kata yang persis sama.
Meskipun ada tempat untukku di hatimu, di sampingmu sudah
ada gadis lain. Tanpa memiliki keberanian atau tekad untuk melangkah, aku sudah
menerima hasilnya terlebih dahulu.
Tanpa terluka dalam, aku malah terluka dangkal. Karena
itulah, di permukaan aku merasa saat ini yang tidak berakhir sangatlah
memuaskan, dan aku ingin terus berendam dalam kebahagiaan ini.
Bisa pergi jalan-jalan berdua lagi dengan Yuko-chan,
membuat janji belanja seperti biasa dengan Saku-kun, dan meskipun sempat
bingung soal tim pemandu sorak, festival SMA Fujishi pasti akan menjadi waktu
yang tak terlupakan.
Jika boleh berharap, aku punya ekspektasi yang tipis.
Bukan hanya aku, tapi semuanya. Mari mencintai bulan September ini yang
berhasil kita capai setelah melewati Agustus itu. Biarlah "suatu hari
nanti" tetap menjadi "suatu hari nanti".
—Kuharap aku bisa terus menyerahkan diri dalam waktu yang
biasa seperti ini selamanya.
◆◇◆
"Asu-senpai warna apa?"
Kamu benar-benar seperti tukang pos di pulau terpencil.
Datang tiba-tiba saat hampir dilupakan, dan mengantarkan surat yang
membahagiakan.
Sambil menertawakan diri sendiri yang tidak juga terbiasa
meski hal ini berulang kali terjadi, aku tetap saja menunggu-nunggu apakah hari
ini kamu akan datang, atau besok.
Sambil berulang kali berdoa agar bisa pura-pura tidak
sadar atau tidak melihat, sebenarnya aku selalu berpikir.
Benar-benar musim panas di mana aku merasa ditinggalkan
di luar. Musim panas di mana aku berjalan sendirian dengan tenang.
Kencan denganmu terasa seperti kelanjutan dari tujuh hari
masa kecil yang singkat. Saat kita menghabiskan waktu bersama untuk belajar di
musim panas, aku merasa seolah-olah kita menjadi teman sekelas meski hanya
sesaat.
Di saat aku terbuai, bersenang-senang, dan jatuh cinta
pada momen kecil itu—tanpa sepengetahuanku, kamu terluka hebat di tempat yang
tidak kujangkau. Aku yang hanya orang luar bahkan tidak bisa menyeka air matamu
yang pasti mengalir saat itu.
Meski begitu, setidaknya aku ingin tetap menjadi Senpai
kelasmu. Aku mengajakmu ke rumah nenek yang penuh kenangan, mencoba menghadapi
hatimu, tapi aku tidak tahu seberapa besar aku bisa membantumu.
Hingga
akhirnya malam festival itu tiba. Aku sudah tidak terkejut lagi saat kamu
kembali setelah menjalin hubungan lagi dengan mereka.
Karena sejak kamu meneleponku sehari sebelumnya, aku
sudah tahu itu akan terjadi. Karena aku tahu gadis baik hati itulah yang
membuatkanmu nasi omelet saat kamu menangis, dan dia selalu berada di sisimu.
Pasti di musim panas ini. Untuk柊-san,
Uchida-san, Nanase-san, Aomi-san, Mizushino-kun, Asano-kun, Yamazaki-kun, dan
tentu saja untukmu.
Ada kegalauan, penderitaan, dan rasa sakit yang kalian
bagi bersama, sebuah kisah yang tak tergantikan, dan sebanyak apa pun aku
membalik halaman, tidak ada namaku di sana.
Aku sudah menyerah dan berpikir bahwa mulai sekarang pun
akan tetap begitu, karena itulah.
—Kalimat santaimu itu membuatku sangat senang sampai
rasanya ingin menangis.
Kalau dipikir-pikir aku jadi berharap, jadi aku berusaha
untuk tidak memikirkannya. Karena itu, aku tidak bisa langsung menangkap makna
sebenarnya.
Jika kita bisa berada di komite yang sama di festival SMA
Fujishi, jika kita bisa berada di tim warna yang sama di festival olahraga……
Pasti jauh sebelum kamu memikirkannya, aku sudah
membayangkan kemungkinan itu.
Tiba-tiba aku sadar, dari radio retro yang kutaruh di
ujung meja, terdengar lagu Stage of the Ground dari BUMP OF CHICKEN.
Tim pemandu sorak di festival olahraga ya, aku tak
sengaja tersenyum. Rasanya itu sangat mirip dengan kalian.
Kalian pasti akan bersenang-senang bersama, tapi
mengerjakannya dengan sangat serius. Kalian akan menampilkan pertunjukan yang
panas sampai membuat malu, dan membuat orang yang menonton merasa antusias.
Seandainya aku bisa masuk ke lingkaran itu…… Meskipun aku
tetap tidak bisa membayangkan diriku berteriak keras memberi dukungan atau
menari memakai kostum, mungkin tidak buruk juga untuk mencoba berpetualang.
Karena kamu selalu membawaku ke tempat yang tidak
kuketahui. Atau mungkin, aku berpikir. Sebenarnya waktu seperti itulah yang
kucari saat ini.
Bukan waktumu, tapi waktu kalian. Aku ingin namaku
tertulis berjajar dalam kisah kalian.
Aku rasa ada hal-hal yang tidak kusadari karena posisi
kita sebagai Senpai kelas dan adik kelas. Dan hal
itu pasti tidak hanya berisi hal-hal yang indah.
Selama ini aku hanya mendengar cerita tentang
hubungan kalian lewat filter lembut darimu.
Tapi sekarang, kedalaman ikatan itu, tatapan yang
kalian berikan pada seseorang, gerak-gerik yang kalian lakukan saat tak sengaja
berinteraksi, ekspresi yang tidak kukenal yang meluap dari kalian────.
Aku pasti akan melihatnya langsung, lalu terluka,
bingung, dan merasa sesak. Tapi, aku bahkan iri pada rasa sakit itu.
"Setidaknya, kuharap kita bisa berada di tim
warna yang sama."
"Iya, warna biru yang sama denganmu."
Kuharap aku bisa terwarnai, pikirku. Akhir-akhir ini, ada hal yang sering kupikirkan.
Apakah cintaku benar-benar akan berakhir saat aku
pergi ke Tokyo nanti?
Aku memang sudah menyiapkan tekad itu. Jika aku
meninggalkan kota ini untuk mengejar mimpi, maka tidak ada lagi momen
menunggumu yang sudah kelas tiga di pinggir sungai seperti biasa, tidak ada
lagi mengajakmu kencan secara tiba-tiba, dan aku tidak akan menjadi
pengantinmu.
Karena itulah aku mencoba menghadapi waktu yang
tersisa dengan sekuat tenaga, tapi tetap saja terkadang aku tergoda oleh jalan
keluar yang manis.
Aku mencoba mengingat kembali satu tahun sejak kita
bertemu lagi. Sejak awal hubungan kita memang bukan tipe yang bertemu setiap
hari. Sampai baru-baru ini pun kita tidak saling telepon, LINE, apalagi membuat
satu janji pun.
Misalnya, apakah kita tidak bisa tetap menjadi kita yang
seperti itu?
Jika aku bekerja paruh waktu dengan giat di sana, mungkin
aku bisa pulang sebulan sekali. Tanpa memberitahumu, aku akan duduk di pinggir
sungai sambil membaca buku saat jam sekolahmu berakhir.
Setelah puas menikmati wajah terkejutmu, aku bisa
mengajakmu kencan. Mungkin sedikit kuno, tapi aku bisa mendengarkan konsultasi
masa depanmu lewat telepon.
Dengan panggilan video, aku bahkan bisa mengajakmu
berjalan menyusuri kota Tokyo di hari libur. Apakah itu ada bedanya dengan satu
tahun yang berlalu dalam sekejap ini?
Pada hari kunjungan tempat kerja, saat kita makan malam
berdua. Sebelum kamu kembali ke festival musim panas itu, pembicaraan apa yang
kamu lakukan dengan柊-san dan Uchida-san, dan bagaimana akhirnya?
Mungkin kamu hanya menceritakan bagian yang pantas
kudengar dengan sangat hati-hati. Itu adalah kisah yang sangat indah sampai
membuatku ingin menangis, dan bagiku itu adalah kisah yang sangat kejam sampai
membuatku ingin melarikan diri……
Tapi, seberkas cahaya bulan menyinari. Cintamu masih
belum dimulai.
Mungkin, aku berpikir. Mengingat kamu yang tulus pada
siapa pun tapi sangat rumit pada dirimu sendiri. Kamu
tidak akan bisa memilih satu orang dengan mudah, kan?
Mulai sekarang kamu akan menghadapi gadis-gadis yang
ada di hatimu satu per satu.
Aku berharap bisa berada di pojok hatimu itu, tapi
bagaimanapun kamu akan menggunakan banyak waktu, seolah sedang menulis novel,
seolah sedang memungut kata satu per satu, perlahan-lahan memberi nama pada
perasaanmu sendiri.
Bisa jadi, sementara itu. Bisakah jarak satu tahun di
antara kita terisi? Misalnya jika kamu mulai mempertimbangkan untuk kuliah di
Tokyo juga……
Jika sudah menjadi mahasiswa, perbedaan angkatan itu
rasanya seperti tidak ada. Yah, aku tahu itu terlalu muluk dan hanya mengikuti
keinginanku saja. Tapi jika boleh berharap, bahkan setelah aku lulus nanti pun.
—Kuharap jarak dan waktu seperti ini bisa terus berlanjut
selamanya.
◆◇◆
──Chapon. Bunyi tetesan air membuatku, Yuzuki
Nanase, membuka mata perlahan. Tak peduli musim apa pun, aku sangat suka
menghabiskan waktu dengan berendam lama di bak mandi seperti ini.
Aku mematikan lampu kamar mandi dan menyalakan lilin
aroma sebagai gantinya. Terkadang aku hanya menatap api yang bergoyang-goyang
dengan linglung, terkadang aku menyandarkan kepala di pinggiran bak mandi
sambil memikirkan sesuatu.
Tentang basket, tentang partnerku, tentang
teman-temanku, tentang laki-laki yang kusukai. Hari ini aku memikirkan tentang
bulan September. Lebih tepatnya, tentang kami setelah melewati musim panas dan
sebelum sampai di musim gugur.
Aku memikirkan Chitose.
"—Tetap saja di dalam hatiku ada gadis
lain."
Katanya dia mengucapkan itu lagi dengan wajah yang
tampak menderita. Setelah memberi pengantar bahwa Yuko ada di dalam hatinya.
Seperti biasa dia laki-laki yang sangat kaku, pikirku
sambil tertawa kecil. Dia benar-benar tidak bisa hanya mengucapkan satu kalimat
seperti "Tolong tunggu sebentar lagi untuk jawabannya".
Aku tahu siapa gadis yang dimaksud Chitose itu. Yuko,
Ucchi, Haru, Nishino-senpai.
—Dan juga, aku.
Mungkin ini terdengar agak tidak tahu diri, tapi aku
bukan orang yang begitu polos atau penakut sampai tidak menyertakan diriku
sendiri di sini.
Kurasa, saat ini ada lima gadis yang menempati hati
Chitose.
Jika memang begitu, harusnya aku punya sisi imut yang
bisa merasa senang, tapi aku tidak bisa bersuka ria sepenuhnya karena aku
memahami kegalauan laki-laki itu.
Tak diragukan lagi, dia memiliki perasaan yang berbeda
terhadap kami dibandingkan teman sekelas lainnya.
Namun perasaan itu bisa berupa rasa pertemanan, partner,
kekaguman, atau hal lainnya....
Setidaknya, bentuknya masih belum bisa disebut cinta.
Karena selama ini, kami sudah terlalu sering dipermainkan oleh ilusi dan
kekecewaan.
Cinta adalah nama yang boleh diberikan paling terakhir
saja.
Sampai aku menyentuh jati diri Chitose yang sebenarnya,
aku sungguh berpikir begitu.
Misalnya orang yang paling sering diajak bicara di
sekolah, misalnya orang yang bisa menghabiskan waktu layaknya keluarga,
misalnya orang yang berlari di sampingnya dengan semangat yang sama, atau
misalnya orang yang pertama kali mengakui jati dirinya apa adanya.
Aku sudah melihat banyak orang yang menempelkan stiker
bernama "cinta" pada alasan-alasan sepele semacam itu, lalu terbang
melayang tinggi hanya untuk mencabutnya kembali dengan semena-mena.
Cinta adalah sebuah surat pengampunan yang digunakan
untuk melukai seseorang secara tidak bertanggung jawab.
Diriku yang dulu, maupun dirimu yang sekarang. Pasti
berpikir seperti itu. Justru karena memikirkan orang-orang berharga yang tidak
ingin dilukai, perasaan itu semakin kuat.
"Aku tidak tahu perasaan mana yang harus kunamai
cinta."
Singkatnya, aku menyendok air hangat itu tanpa tujuan.
Sambil melihat pantulan Yuzuki Nanase yang terapung goyah di telapak tangan,
aku berpikir.
Tidak aneh jika perasaan yang Chitose berikan padaku
nantinya diberi nama seperti "dua orang yang mirip". Benar-benar
menyebalkan, pikirku sambil tertawa getir dan menghela napas.
Aku memikirkan Nishino-senpai. Jujur saja, sampai
sekarang aku masih belum terlalu memahaminya.
Rasanya menyebalkan karena aku bisa merasakan dengan
jelas bahwa dia adalah sosok yang dikagumi Chitose. Begitu pula fakta bahwa
Chitose adalah keberadaan yang spesial bagi Nishino-senpai.
Sejak perjalanan ke Tokyo saat aku mendorong punggungnya,
sisi misterius di antara mereka berdua memang tampak memudar, tapi aku justru
merasa mereka sedang merajut waktu yang semakin sulit disentuh oleh orang lain.
Terlebih lagi, Nishino-senpai akan pergi jauh dalam waktu
dekat. Apakah salah satu dari mereka akan memberikan jawaban sebelum saat itu
tiba?
Aku memikirkan Haru. Aku sadar partnerku itu sedang
merasa sesak sejak pertandingan melawan SMA Ashi di bulan Juli lalu.
Entah kenapa, perasaannya seolah terus berputar di
tempat. Meski begitu, karena dia tidak melalaikan latihan atau kehilangan
tujuan, aku merasa frustrasi karena tidak bisa memberikan bantuan konkret
selain terus mengawasinya.
Namun, pada hari dia bertanding melawan Aki-senpai dan Suzu-senpai—senior
yang juga kukagumi—Umi sepertinya benar-benar telah menemukan sesuatu.
Aku kaget saat tahu dia latihan Three-Point Shot
diam-diam di belakangku, tapi tak diragukan lagi dia akan menjadi pemain yang
semakin merepotkan jika sudah menguasainya. Baik bagi lawan, maupun bagiku.
Kemungkinan besar, keterpurukan Umi ada hubungannya
dengan perasaan cintanya pada Chitose. Fakta bahwa dia sudah keluar dari sana
berarti dia sudah bisa berdamai dengan dirinya sendiri.
Dia adalah kawan yang sangat bisa diandalkan, tapi jika
menjadi musuh, jarang ada rival yang sekuat dirinya.
Aku memikirkan Ucchi. Saat memikirkan Ucchi, dadaku
terasa sesak.
"Aku ingin menjadi orang yang paling memahaminya
dibanding siapa pun."
Padahal aku sangat mengharapkan hal itu. Namun, aku tidak
bisa menemukan hati Chitose yang tersembunyi.
Sebab yang paling memahami laki-laki itu bukanlah aku,
melainkan dirinya. Gadis yang memiliki kekuatan untuk berlari tanpa ragu demi
orang paling berharga, sekaligus kelembutan untuk menghubungkan semua orang
itu, apa yang sedang dia pikirkan sekarang?
Lalu, aku memikirkan Yuko. Aku malas mengakuinya, tapi
sejujurnya, saat ini....
Kurasa yang berdiri di pusat hati Chitose adalah Ucchi
atau Yuko. Ini bukan soal cerita klise seperti "begitu
ditembak, dia jadi terbayang-bayang terus".
Musim panas ini, Yuko menjadi cantik luar biasa
sampai membuatku pangling.
Aku merasakannya saat perjalanan ke Kanazawa, dan pagi
ini, aku kembali terpukul oleh kenyataan itu. Aku tidak tahu kata-kata apa yang
tepat untuk menggambarkan perubahan yang dialaminya.
Menjadi dewasa, jiwanya bertumbuh, menjadi lebih
bersahaja.... Rasanya semuanya mendekati benar, tapi tetap tidak
tepat sasaran.
Misalnya pada tatapan matanya yang tenang saat tak
sengaja terlihat. Misalnya pada senyum lembutnya yang diarahkan pada Chitose.
Misalnya pada suaranya yang terdengar penuh kasih saat memanggil nama itu.
Aku sampai terpesona melihatnya. Karena itu, laki-laki
itu pun pasti....
Terakhir, aku memikirkan diriku sendiri. Aku mencoba
memandang diriku dengan tenang seolah menjadi penonton.
Aku tidak menghadapi perpisahan yang sudah dekat
seperti Nishino-senpai, tidak terikat kuat melalui olahraga seperti Haru, dan
tidak saling mengutarakan isi hati yang terdalam seperti Ucchi atau Yuko.
Namun justru karena itu, sebagai seorang gadis, aku
seharusnya bisa memperpendek jarak hati dengan keseimbangan yang lebih baik
dibanding siapa pun.
Momen-momen yang terasa lebih seperti kekasih
sungguhan dibanding saat masih menjadi kekasih palsu dulu, perlahan-lahan mulai
bertambah. Aku bertanya-tanya apakah ini sudah benar, atau mungkin memang
beginilah seharusnya.
Tidak adanya ikatan yang istimewa, di sisi lain
berarti aku bisa tetap berada di sisinya tanpa perlu alasan yang istimewa pula.
Bagaimanapun juga, aku keluar dari bak mandi dan
melihat ke cermin. Banyak hal yang terjadi di musim panas ini, tapi setidaknya
semuanya sudah tenang di tempat yang seharusnya, dan aku bersyukur bisa
menyambut bulan September seperti ini.
Pernyataan cinta Yuko beserta hasilnya, baik atau
buruk, pasti akan membuat kami terjebak dalam stagnasi sementara.
Aku sudah memberitahu Haru tentang garis besar
kejadiannya setelah mendapat izin dari Yuko, dan Nishino-senpai pasti sudah
mendengarnya dari Chitose.
Setelah mendengar itu, kurasa tidak ada orang yang
berani berpikir, "Meski Yuko gagal, kalau aku yang melakukannya pasti
jawabannya akan berbeda."
Kurasa kami perlu meluangkan sedikit waktu lagi untuk
menghadapi cinta ini. Aku tahu belum ada yang berakhir, tapi setidaknya untuk
saat ini saja.
Sambil menyerahkan diri pada suara musik festival
berikutnya yang terdengar dari kejauhan, mungkin tidak apa-apa jika aku
menikmati hari-hari yang bisa kuhabiskan bersama semuanya. Karena
itu, sampai suatu hari nanti saat kamu memberikan sebuah nama.
Kuharap waktu palsu seperti ini bisa terus berlanjut
selamanya.
◆◇◆
Beberapa hari setelah upacara pembukaan semester.
Di kelas 2-5, kami menggunakan jam pelajaran ketujuh
untuk mengadakan jam wali kelas guna menentukan komite seluruh rangkaian
festival sekolah—termasuk festival luar sekolah, festival olahraga, dan
festival budaya—serta menentukan kegiatan kelas untuk festival budaya.
Aku, Chitose Saku, yang menjabat sebagai ketua kelas
berdiri di podium sebagai moderator, sementara wakil ketua kelas, Yuko,
bertugas sebagai notulen di papan tulis belakang.
Untuk penentuan komite festival sekolah, kami mengambil
kebijakan: siapa yang berminat silakan angkat tangan, dan jika jumlahnya
melebihi kuota, akan diputuskan lewat diskusi atau suit.
Sesuai kesepakatan sebelumnya, agar orang lain tidak
merasa sungkan jika kami semua langsung angkat tangan untuk tim pemandu sorak,
kami menunggu sebentar untuk melihat situasi. Namun, karena tidak ada orang
lain yang berminat, seluruh anggota Tim Chitose berhasil masuk ke tim pemandu
sorak tanpa hambatan.
Ngomong-ngomong, total delapan orang laki-laki dan
perempuan itu memang melebihi kuota, tapi sepertinya tidak ada satu pun murid
dari kelas IPA yang satu tim Biru dengan kami yang berminat masuk tim pemandu
sorak. Jadi, tidak masalah jika personelnya diambil dari kelas kami.
Aku sudah mengonfirmasi hal ini pada Kura-sen sebelumnya,
dan karena hal seperti ini sering terjadi setiap tahun, aku tidak terlalu
khawatir.
Sebenarnya masih ada sisa kuota untuk satu laki-laki dan
satu perempuan lagi, dan aku sempat mengajak Nazuna serta Atumu. Tapi tanpa
perlu kubilang siapa orangnya, salah satu dari mereka menunjukkan sikap
"sampai mati pun ogah", jadi mereka berdua memilih komite yang konon
pekerjaannya paling sedikit.
Begitulah, urusan komite selesai dengan cepat, dan
sekarang kami sedang merundingkan kegiatan kelas untuk festival budaya. Untuk
urusan ini, sepertinya semua orang sangat bersemangat, berbagai ide sudah
bersahutan sejak tadi.
"Kita tidak mau jualan makanan saja? Yakisoba! Takoyaki!
Frankfurters!"
"Manis-manis
seperti crepes atau pancake juga oke lho—"
"Rumah hantu gimana!?"
"Bikin video parodi juga seru kan?"
Katsu, katsu, kakkatsu, tsukkakkatsu.
Yuko menuliskan ide-ide yang muncul di papan tulis dengan
tulisan tangan yang bulat dan imut.
"Yak! Yak yak yaaak!"
Melihat laki-laki yang berdiri dengan semangat yang
sia-sia itu, aku berkata:
"Ya, Kaito."
"Kafe Pelayan Kucing Meow-Meow!!!!!!!!!!"
"Eeeeeeeeeee——"
"Kenapa pada protes?!"
Yang menyuarakan penolakan terutama adalah para siswi.
Haru berkata dengan wajah kesal.
"Kamu ini kebanyakan nonton anime gara-gara pengaruh
Yamazaki ya?"
Kaito sepertinya tidak mau menyerah begitu saja.
"Kenapa sih, pasti bakal ramai! Aku ingin dengar
Yuko atau Ucchi bilang, 'Selamat datang kembali, Tuan, Meow', ya kan
Kenta!?"
Kenta yang diajak bicara menaruh jarinya di batang
kacamata dan berkata dengan suara yang sangat datar.
"Asano, fiksi adalah fiksi."
"Kurang ajar, kamu mau mengkhianatiku, Kenta!?"
"Sudahlah, jadilah dewasa."
"Ke mana perginya hari-hari saat kita bicara soal
cosplay dengan penuh gairah!?!?!?!?"
Percakapan itu membuat seisi kelas meledak dalam tawa.
Melihat gelagat ide Kaito bakal ditolak, para siswa tampak kecewa diam-diam.
Pasti ada beberapa dari mereka yang membayangkan Yuko dan
yang lainnya memakai kostum pelayan. Tentu saja, aku pun sama.
Lalu, Kura-sen yang sejak tadi diam mengawasi dari pojok
kelas tiba-tiba membuka mulut.
"Oi, Yamazaki."
Mendengar nada bicaranya yang serius, Kenta sedikit
waspada.
"I-iya...."
Kura-sen menghela napas panjang yang dibuat-buat dan
berkata dengan wajah serius.
"—Barusan Asano yang benar. Kamu juga jangan jadi
orang dewasa yang membosankan."
Kenta sepertinya tidak langsung paham maksud ucapan itu
dan kehilangan kata-kata.
"Eh...?"
Dengan ekspresi yang sok galau, Kura-sen bergumam
pelan.
"Aku juga ingin dipanggil 'Selamat datang
kembali, Tuan, Meow'."
"Itu sih dasar guru mesum!!!!!!!"
Tawa pecah di mana-mana. Kenta juga seharusnya sudah
sadar kalau Kura-sen memang tipe orang dewasa yang seperti itu.
Saat aku memikirkan hal itu, Kazuki mengangkat bahunya
dengan pasrah.
"Kamu ketinggalan zaman, Kaito."
Kaito menjawab dengan tidak terima.
"Terus, Kazuki punya ide yang lebih bagus?"
Kazuki mengangkat sudut bibirnya dengan gaya sok
keren.
"Bagaimana kalau Kafe Butler yang Agresif?"
Kaito memiringkan kepala dengan wajah tidak paham.
"Maksudmu para siswi yang berpakaian laki-laki?
Siapa yang mau lihat itu?"
Kazuki melanjutkan dengan senyum penuh arti.
"Misalnya, apa kamu tidak ingin melihat Yuzuki
memakai baju pelayan pria, melakukan kabedon, lalu mengangkat
dagumu?"
"—Kamu benar-benar jenius!!!!!!!!"
Kazuki ini, dengan wajah sok kalemnya bisa-bisanya
mencetuskan ide luar biasa. Teman-teman sekelas yang melihat interaksi itu pun
ikut terkikik.
Nanase yang menjadi bahan pembicaraan malah terpaku
dengan wajah melongo yang jarang terlihat. Yah, mungkin dia bingung harus
bereaksi bagaimana karena tidak terbiasa digoda dengan cara dipuji seperti itu
oleh Kazuki.
Sejujurnya aku juga kaget dia memberikan contoh Nanase.
Dia juga sepertinya mengalami perubahan suasana hati.
"Yak yak!"
Kali ini Nazuna yang berdiri.
"Di kelas kita kan banyak anak laki-laki yang
wajahnya ganteng, kebalikannya gimana kalau Kafe Cosplay Laki-laki Jadi
Perempuan!?"
"Boleh tuh!"
"Gak sudi!!"
Kali ini reaksi para siswa dan siswi terbagi dua dengan
tajam. Nazuna menaruh jari telunjuk di bibir bawahnya, terus menggoda seolah
menikmati reaksi kami.
"Mari kita lihat, pertama-tama Chitose-kun pakai
baju pelayan yang rumbai-rumbai kan?"
"Oi, jangan sembarangan."
"Mizushino-kun pakai make-up ala gyaru dan
seragam siswi ya."
"Ampun deh."
"Asano-kun, mmm, anak TK mungkin?"
"Dengan badan sebesar ini?!"
Lalu, Nazuna mengarahkan pandangannya ke satu titik di
kelas.
"Atumu pakai baju kelinci."
"Bakal kuhajar kamu!!!!!!"
Seisi kelas kembali meledak tertawa karena interaksi itu.
Setelah tawa mereda, Nazuna menatapku.
"Bercandanya cukup sampai di sini, bagaimana kalau
drama?"
"Oh, itu memang standar sih."
Kegiatan kelas tidak terbatas hanya di dalam ruangan
kelas saja. Dari ide-ide tadi, misalnya kafe atau rumah hantu, memang akan
dilakukan di sini. Tapi untuk yakisoba atau crepes, kami akan membuka stan di
tempat parkir luar.
Mungkin perlu koordinasi waktu dengan kelas lain, tapi
jika mau, kami juga bisa menggunakan panggung. Nazuna melanjutkan bicaranya.
"Tergantung apa yang dipentaskan, drama itu dalam
artian tertentu juga punya elemen cosplay laki-laki dan perempuan kan. Terus
pembagian tugasnya juga gampang berdasarkan keahlian masing-masing."
"Maksudnya?"
"Yang tidak keberatan tampil di panggung bisa jadi
aktor. Yang tidak suka tampil bisa jadi penulis naskah, bagian artistik,
properti, tata cahaya, atau kostum. Mereka bisa fokus di balik layar."
"Benar juga ya."
Menjalankan komite festival sekolah dan kegiatan kelas
secara paralel itu butuh kerja keras yang lumayan. Apa pun kegiatannya pasti
persiapannya berat dan butuh pembagian tugas, tapi memang benar kalau jenis
pekerjaannya banyak, pembagian tugasnya jadi lebih mudah.
"Oke, Yuko, tolong tuliskan itu juga ya?"
"Siap!"
Karena jawaban itu bukan yang biasa kudengar, aku menoleh
dan melihat Yuko sedang menulis "Drama" di papan tulis. Entah kenapa,
melihat itu membuatku merasa sangat lega.
◆◇◆
Akhirnya, kami melakukan pemungutan suara kelas, termasuk
untuk ide-ide parodi seperti "Kafe Pelayan Kucing Meow-Meow",
"Kafe Butler yang Agresif", dan "Kafe Cosplay Laki-laki Jadi
Perempuan".
Kami menggunakan sistem anonim dengan menuliskan pilihan
di kertas lalu memasukkannya ke dalam kotak. Aku dan Yuko merekapnya dengan
cepat. Sambil melihat hasilnya, aku membuka suara.
"Oke, aku bakal umumin dari peringkat ketiga
ya."
Aku menjeda kalimatku sebentar, berdehem, lalu
melanjutkan.
"Peringkat ketiga, Kafe Pelayan Kucing
Meow-Meow!"
"Eeeeeeeeeee——"
Kali ini suara siswi dan siswa bercampur jadi satu. Para
siswi mungkin bermaksud "siapa sih yang pilih ini", sedangkan para
siswa kecewa karena "kenapa bukan peringkat pertama". Memanfaatkan
sistem anonim, sepertinya banyak siswa yang memilih ini.
Ngomong-ngomong, aku merasa ada tatapan dingin dari para
siswi Tim Chitose, tapi aku tidak berani menoleh karena takut. Bukan cuma aku
lho yang pilih?
Setelah menenangkan diri, aku melihat kertas hasil rekap
lagi.
"Oke oke, harap tenang—"
Aku memastikan sekali lagi apakah urutannya sudah benar,
lalu bicara.
"……Peringkat kedua, Kafe Cosplay Laki-laki Jadi
Perempuan."
"Eeeeeeeeeee——!?!?!?!"
Kali ini terdengar teriakan dari siswa dan siswi yang
maknanya berkebalikan dari sebelumnya. Bahaya banget, siapa sih yang pilih ini.
Aku melirik para siswi Tim Chitose, tapi tidak ada satu
pun yang mau menatapku. Sialan kalian. Tapi ya sudahlah, kalau peringkat dua
dan tiganya begini, berarti seri antara siswa dan siswi.
Sebagai informasi, "Kafe Butler yang Agresif"
usulan Kazuki ada di peringkat keempat. Mungkin karena idenya terlalu spesifik
dan suaranya terpecah dengan peringkat ketiga di kalangan siswa.
"Jadi," aku menatap wajah teman-teman sekelasku
dan mengumumkan.
"Peringkat pertama jatuh pada drama! Ayo tepuk
tangan—"
"Oooooooooooooo!!!!!!"
Akhirnya sorak-sorai dan tepuk tangan yang tulus
terdengar dari siswa maupun siswi. Syukurlah, semuanya berakhir di tempat yang
tepat. Kata-kata Nazuna tadi lumayan punya daya tarik.
Sambil mengawasi kebisingan kelas, aku melirik jam
dinding. Komite festival sekolah dan kegiatan kelas ternyata sudah diputuskan
lebih cepat dari dugaan, sehingga waktu wali kelas masih tersisa.
Saat aku menoleh ke arah Yuko, dia tersenyum manis
dan mengangguk pelan seolah berkata, "Iya kan?".
Benar juga, kataku kemudian.
"Tidak harus diputuskan hari ini, tapi mari kita
rundingkan sedikit mau drama apa. Kita kesampingkan dulu siapa yang bakal jadi
aktor, apa ada cerita yang ingin kalian tonton atau coba dipentaskan?"
Mendengar kata-kataku, semuanya mulai berdiskusi
dengan ramai.
"Banyak cowok yang atletis di sini, gimana kalau
genre aksi?"
"Bikin adaptasi dari manga yang lagi tren pasti
laku!"
"Yang gaya 2.5 dimensi gitu?"
"Bikin ala musikal juga keren sih."
"Tapi beban aktornya bakal berat banget nggak
sih?"
"Bagusnya sih yang cowok dan cewek sama-sama punya
peran."
Di tengah berbagai pendapat yang bersahutan, Nazuna
mengangkat tangan.
"Gimana kalau kita bikin naskah orisinal saja?"
Aku menjawab sambil menggaruk pipi.
"Waktunya tinggal kurang dari dua bulan lho.
Ngomong-ngomong, apa ada yang bisa nulis naskah orisinal, atau yang belum
berpengalaman tapi mau mencoba nulis?"
Aku bertanya begitu saja, tapi seperti dugaan, tidak
ada yang angkat tangan. Kalau ada anak klub sastra mungkin bisa, tapi sepertinya
sulit. Nazuna yang melihat situasi itu pun langsung mundur.
"Iya juga ya. Kalau begitu, kita ambil dari manga
atau film yang lagi tren saja, atau mungkin aransemen ulang dari cerita
klasik?"
Mendengar itu, Kaito langsung menyambar.
"Kalau ngomongin drama festival sekolah, pasti
Romeo dan Juliet dong!?"
Nazuna bertepuk tangan sekali.
"Aha, itu klasik banget ya! Kayaknya semua orang
sudah tahu ceritanya, jadi kalau dibikin versi modern dengan latar Fukui pasti
seru."
"Keren banget nggak sih!? Semua tokohnya pakai
bahasa daerah Fukui!"
"Lucu tuh!"
Lalu Kura-sen yang mengawasi diskusi itu menyela.
"Ah, tahun lalu juga ada yang mementaskan Romeo dan
Juliet. Beberapa tahun lalu aku juga pernah lihat versi bahasa Fukui. Tidak
masalah sih kalau mau samaan, tapi aku cuma memberi tahu saja."
Nazuna mengangkat bahunya dengan kecewa.
"Yah, kalau sudah dengar begitu jadi pengin yang
lain ya."
Aku menengahi sebagai moderator.
"Entah mau dibikin komedi atau serius, kurasa
arah untuk mengaransemen ulang cerita klasik itu lumayan bagus, kan?"
Aku melihat ke sekeliling kelas, dan semuanya
mengangguk setuju. Nazuna menaruh tangannya di mulut sambil berpikir keras.
"Jadi, masalahnya sekarang adalah menentukan
sumber ceritanya, kan?"
Meski agak kurang sopan jika mengatakannya, tapi
keaktifan Nazuna dalam diskusi ini mungkin karena pendapatnya baru saja
diterima. Dia tampak berusaha keras memberikan ide, sekecil apa pun
itu.
Seolah buntu dalam pemikirannya sendiri, Nazuna
melemparkan umpan pembicaraan.
"Yuzuki, ada ide?"
Nanase sepertinya tidak menyangka giliran bicara akan
jatuh kepadanya. Setelah matanya sedikit membelalak, dia terdiam sejenak untuk
berpikir.
"Putri Salju... mungkin?"
Dia menggumam pelan.
Nadanya yang tidak biasa itu terdengar begitu lembut dan
bulat, seolah-olah perasaan jujurnya baru saja meluncur jatuh begitu saja.
"Ah, boleh juga!"
Nazuna berdiri dan mengedarkan pandangannya ke seluruh
kelas.
"Kurasa itu pilihan yang sangat pas. Untuk festival budaya SMA,
ceritanya tidak sepasaran Romeo dan Juliet. Dan ini
murni opiniku sih, tapi bukankah Putri Salju terasa lebih modis daripada
Cinderella?"
Pernyataan blak-blakan itu sontak membuat seisi kelas
tertawa kecil.
Mendengar kata 'Putri Salju' keluar dari mulut Nanase
memang sedikit mengejutkan, tapi aku setuju kalau itu adalah pilihan yang jitu.
Hampir mustahil ada orang yang belum pernah mendengarnya, justru karena itulah
ceritanya jadi mudah untuk dimodifikasi.
"Ah!"
Nazuna membelalakkan matanya seolah baru saja memikirkan
sesuatu, lalu menoleh ke arahku.
"Maaf, Chitose-kun. Boleh aku ambil alih
sebentar?"
"Oh, tentu saja."
Begitu aku menjawab, dia melangkah mantap ke arahku.
Aku mundur selangkah untuk berdiri di samping Yuko,
merelakan posisi di depan meja guru kepadanya.
Nazuna berkata sambil mengangkat tangan kanannya
ringan.
"Jujur saja ya, berapa banyak dari kalian yang
mau jadi aktor?"
Seketika, kelas menjadi sunyi senyap.
Semua orang menunduk canggung atau saling lirik satu sama
lain. Aku sedikit bingung menilai apakah mereka memang benar-benar tidak mau,
atau hanya malu untuk mengangkat tangan.
Baru saja aku hendak memberi penjelasan tambahan, Nazuna
sudah lanjut bicara.
"Kalau begitu sebaliknya, siapa yang kalau bisa
tidak ingin jadi aktor? Itu hal yang wajar kok, jadi lebih baik beri tahu aku
dengan jelas tanpa sungkan."
Aku mengembuskan napas pendek, merasa tidak perlu ikut
campur.
Yang pertama kali merespons dengan malas tanpa ragu
adalah Atumu.
Dipicu oleh hal itu, satu per satu mulai mengikuti,
hingga akhirnya hampir seluruh teman sekelas mengangkat tangan mereka.
Hanya anggota Tim Chitose yang tetap mengamati situasi
dengan senyum getir, mungkin karena mereka masih mempertimbangkan perasaan
kami.
"Oke, kalau begitu aku punya usul."
Nazuna berkata dengan nada santai, seolah sudah
memprediksi situasi ini.
"Tokoh utama di Putri Salju itu ada Putri Salju,
Ratu, Penyihir (samaran sang Ratu), Pangeran, dan tujuh kurcaci. Totalnya
sebelas orang, kan? Bagaimana kalau peran-peran itu diserahkan saja ke
Chitose-kun dan anak-anak pemandu sorak lainnya?"
Begitu ya. Saat aku sedang membatin, Nazuna berbalik dan
menangkupkan kedua tangan di depan dada.
"Maaf ya kalau urutannya terbalik, tapi bagaimana
menurut kalian, Chitose-kun? Masalahnya, persiapan untuk tim pemandu sorak kan
sangat berat. Jadi kupikir kalau aktornya dikumpulkan dari anggota yang sama,
akan lebih mudah bagi kalian untuk mengatur waktu latihan bersama."
Aku mengangguk kecil mendengar penjelasan yang sesuai
dengan dugaanku itu.
Kupikir itu usul yang tidak buruk karena dia juga
memikirkan kenyamanan kami.
Yua dan Kenta mungkin akan sedikit merasa keberatan, tapi
toh mereka memang harus menari di depan umum sebagai pemandu sorak. Urusan itu
bisa diselesaikan di Takokyu nanti.
Nazuna membuka mulutnya lagi, seolah menambahkan sesuatu.
"Kalau kalian jadi bagian artistik atau kru belakang
layar, waktu yang tersita untuk bolak-balik ke kelas malah akan bertambah.
Sebagai gantinya—bukan berarti aku mau lepas tangan ya—kalau kalian mau
menerima ini, aku yang akan jadi perwakilan kelas, jadi kalian bisa serahkan
urusan tetek-bengek lainnya padaku."
Memang benar, menyeimbangkan tugas pemandu sorak dan
persiapan kelas akan cukup melelahkan.
Meski hanya nama, aku tetaplah ketua kelas, jadi aku
merasa tidak enak jika tidak berpartisipasi sama sekali.
Aku membuka mulut sambil menatap wajah teman-teman yang
lain.
"Secara pribadi, kurasa itu ide yang
bagus."
Yuko yang berdiri di sampingku menimpali.
"Aku juga setuju!"
Nanase juga berkata sambil menggaruk pipinya.
"Kalau aktor, banyak bagian yang bisa dikejar
dengan latihan mandiri, dan dialognya bisa dilatih sekalian saat kumpul pemandu
sorak. Mempertimbangkan kegiatan klub, itu mungkin akan sangat membantu."
Haru mengangkat tangannya dengan penuh semangat.
"Sama!"
Kazuki menatapku dan mengangguk pelan, sementara
Kaito mengacungkan jempolnya dengan mantap.
Yua yang tadinya kukhawatirkan, akhirnya membuka
mulut dengan rona malu-malu.
"Ka-kalau peran kurcaci yang dialognya
sedikit..."
Kenta mengangguk-angguk dengan kuat.
"Setuju sepenuhnya."
"Terima kasih!" Nazuna tersenyum lebar dan
menatap teman-teman sekelas lainnya.
"Jadi, boleh ya kalau peran aktornya kita serahkan
pada Chitose-kun dan kawan-kawan?"
"Oooooooooooooooh!!!!!!"
Tepuk tangan tanda setuju bergemuruh dengan meriah.
Kurasa kami benar-benar terbantu oleh Nazuna. Hal seperti
ini memang sulit jika kami sendiri yang mengusulkannya.
Ngomong-ngomong, sebuah pikiran melintas di benakku dan
aku pun angkat bicara.
"Kurasa peran Penyihir bisa dirangkap oleh pemeran
Ratu, tapi bukankah kita masih kekurangan dua orang?"
Meski Cermin Ajaib hanya berupa suara dan bisa dirangkap
oleh siapa saja, tetap ada Putri Salju, Ratu, Pangeran, dan tujuh kurcaci.
Minimal butuh sepuluh orang, sementara kami hanya
berdelapan.
Nazuna menjawabnya dengan tenang.
"Tenang saja, untuk saat ini kita suruh Atumu jadi
kurcaci pendiam, kan?"
Sebelum aku sempat memprotes bahwa itu agak
keterlaluan,
"Jangan bercanda! Mana sudi aku melakukan
itu!!!"
Tentu saja, suara Atumu menggema di seluruh kelas.
"Ahaha!" Nazuna tertawa.
"Tidak apa-apa, kamu pasti cocok pakai topi
kurcaci."
"Kau ini, berhentilah bersikap seenaknya!"
Melihat interaksi mereka, bahuku berguncang karena tawa
yang tertahan.
Mungkin hanya Nazuna yang bisa memperlakukan Atumu
seperti itu.
"Kalau begitu, aku yang akan jadi kurcaci, dan kamu
yang mengurus perlengkapan dan properti. Kamu kan anak klub pulang-ke-rumah,
setidaknya bantulah sebanyak itu."
Terdengar decakan lidah singkat dari Atumu.
"...Baiklah."
Dia menjawab dengan sangat terpaksa. Sepertinya dia sadar
kalau terus membantah Nazuna hanya akan menambah kerepotannya saja.
Aku merasa sedikit paham seperti apa hubungan mereka
sehari-hari.
Nazuna yang memasang wajah penuh kemenangan menoleh ke
arahku.
"Lalu, untuk satu orang sisanya, kurangi saja lewat
modifikasi naskah, bagaimana?"
Aku mengangguk mantap dan menjawab.
"Yah, tidak perlu terlalu kaku juga soal
jumlahnya."
Nazuna bertepuk tangan sekali.
"Mumpung suasananya lagi pas, ayo tentukan
sekalian pemeran Putri Salju, Ratu dan Penyihir, serta Pangerannya."
Aku melirik jam sebelum menjawab.
"Itu mungkin akan mempermudah pembuatan
naskahnya."
"Benar kan?" Nazuna kemudian menatap Nanase.
"Yuzuki, bagaimana kalau kamu jadi Putri
Salju?"
"Ooooh!?"
Teman-teman sekelas tiba-tiba menjadi heboh.
Yah, selain karena dia yang mengusulkan, kemampuan dan
kehadirannya sebagai tokoh utama memang luar biasa. Namun, yang bersangkutan
justru menggelengkan kepala dengan canggung.
"Aku bukan tipe yang cocok jadi Putri Salju."
"Heh," Alisku terangkat tanpa sadar.
Jarang sekali melihat Nanase bersikap rendah hati
seperti ini. Aku sempat mengira dia akan menerimanya begitu saja dengan senyum
percaya diri yang biasa.
Nazuna juga tampak sedikit terkejut.
Seolah menyadari reaksi di sekitarnya, Nanase buru-buru
menambahkan.
"Ah, kalau peran Ratu dan Penyihir, aku mau
menerimanya."
"Memang benar sih," Nazuna menarik sudut
bibirnya dengan gaya menantang.
"Itu sepertinya lebih cocok untukmu."
"Hmm? Apa maksudnya itu, Ayase-san?"
"Ahaha, coba tanya saja pada cerminmu."
Aku hanya bisa tersenyum getir melihat betapa kompaknya
mereka berdua sekarang.
Kemungkinan besar, perjalanan ke Kanazawa kemarin adalah
pemicunya. Aku melirik profil wajah Yuko yang sedang
memperhatikan interaksi mereka dengan senyum manis.
Dia mengajak keduanya seolah itu hal biasa, lalu
diam-diam mendamaikan mereka. Yah, aku sudah tidak terkejut lagi.
Kurasa Yuko memang tipe gadis yang seperti itu.
"Ngomong-ngomong,"
Nanase memotong pembicaraan.
"Bagaimana kalau Yuko saja yang jadi Putri
Salju?"
"Ooooh!?"
Sekali lagi teman-teman sekelas bersorak heboh.
Yuko menunjuk dirinya sendiri dengan wajah polos.
"Eh? Aku?"
Nazuna tertawa seolah merasa lucu.
"Yah, kurasa hanya Yuko yang bisa bersaing dengan
Penyihir itu di atas panggung nanti."
Nanase segera menyela.
"Maksudmu sang Ratu, kan?"
Yuko menjawab sambil tertawa kecil hingga rambutnya
bergoyang.
"Aku tidak terlalu percaya diri dengan aktingku, apa
tidak apa-apa?"
Nanase mengangguk mantap.
"Tidak masalah, kalau dialogmu lupa, aku yang akan
membantumu."
"Kalau begitu..."
Yuko menjeda kalimatnya sejenak, lalu berdiri di samping
Nazuna.
"Siap laksanakan~!"
Dia mengangkat tangannya dengan penuh semangat.
"Uooooooooooooooooh!!!!!!"
Seluruh kelas, baik laki-laki maupun perempuan, langsung
bersorak meriah.
Yuko sebagai Putri Salju dan Nanase sebagai sang Ratu.
Tentu saja ekspektasi semua orang langsung melambung tinggi.
Seketika, imajinasi liar mulai bermunculan di sana-sini.
"Ayo kita buatkan gaun yang sangat imut untuk
Hiiragi-san!"
"Untuk Nanase-san yang seksi!"
"Bagaimana dengan naskahnya!?"
"Wah, aku
ingin mereka berdua bahagia."
"—Tunggu dulu, Pangerannya siapa!?"
Begitu suara seseorang menggema dengan keras, Nazuna
menoleh ke arahku dengan seringai jahil.
"Kalau itu sih, sudah jelas kan...?"
Kazuki mengangkat kedua telapak tangannya ke arah
langit sambil mengedikkan bahu dengan berlebihan.
"Saku, kan?"
Kaito menatapku dengan wajah masam seolah-olah baru
saja menginjak paku payung.
"Kali ini kuserahkan padamu."
Kenta membenarkan letak kacamatanya dengan jari tengah.
"Meledaklah sana."
Haru yang sedang menopang dagu di atas meja mengangkat
sudut bibirnya.
"Tuan, kau pasti ahli dalam mengucapkan dialog
yang sok keren, kan?"
Yua tersenyum manis, tapi entah kenapa suaranya
terdengar sangat datar dan kering.
"Tidak apa-apa, Saku-kun kan memang
tampan."
Aku menggaruk pipiku yang tidak gatal.
"...Maksudku, tidak mungkin hanya aku yang
menolak sementara aku akan melakukannya juga, tapi bukankah tekanannya terlalu
kuat?"
Begitu aku mengatakannya, kelas menjadi semakin riuh.
Satu demi satu ejekan mulai berterbangan.
"Oi Chitose, beraninya kau tidak memilih
Nanase-san!"
"Mana kutahu, protes sana pada orang yang buat
naskahnya!"
"Membawa pergi Hiiragi-san yang sedang tertidur,
dasar penculik!"
"Bukan aku, tapi pangeran di cerita aslinya!"
"Pangeran playboy ini!!"
"Apa katamu, mau kuhukum pancung karena tidak sopan,
hah!?"
Siapa pun mereka, semuanya sedang tenggelam dalam euforia
festival yang akan datang.
Daripada memeluk lutut sendirian sementara dunia di
sekitar terus berputar, lebih baik ikut menari bersama.
Dia, dia, kamu, anda, aku, dan diriku.
Suara seruling melengking, bunyi gendang
bertalu-talu. Tangan melambai ringan, berputar dalam lingkaran.
Nazuna memberi isyarat memanggil, dan Nanase
melangkah anggun naik ke atas panggung darurat di depan meja guru.
Sang Ratu dan Putri Salju menatap sang Pangeran baru
yang tampak tidak meyakinkan.
Nanase membasahi bibirnya dengan ujung lidah, lalu
berkata dengan nada suara yang menggoda.
"Apakah kau suka apel beracun?"
Yuko menyipitkan matanya, seolah-olah dia adalah butiran
salju yang akan lenyap jika disentuh.
"Bawa aku pergi ya, Pangeran."
Seandainya, aku membatin.
Seandainya ada Cermin Ajaib di suatu tempat.
Pasti saat ini, cermin itu akan memantulkan wajah pria
paling menyedihkan di dunia.
Akan lebih baik jika sang Ratu tetaplah sang Ratu.
Akan lebih baik jika sang Pangeran hanya bertemu
dengan sang Putri Salju.
—Dan mereka berdua pun saling berpegangan tangan, dan
hidup bahagia selamanya.
Cerita memang selalu berakhir dengan indah seperti
itu.
Namun, hati yang tidak bisa menjadi "mereka
berdua", yang tertinggal sendirian di atas kertas putih yang
kosong—bagaimana caranya ia harus melanjutkan baris-baris ceritanya?
Mungkin saja, kami sedang berusaha menghabiskan
setiap lembar halaman hingga yang terakhir, agar tidak ada seorang pun yang
tersesat dalam kesendirian.
Meski tahu itu tidak akan terkabul, aku tetap
berharap di suatu tempat.
Sambil menundukkan kepala di atas panggung yang
tirainya ditutup dengan air mata suatu saat nanti.
—Semoga kita semua bisa bertepuk tangan bersama, dan
berkata: hidup bahagia selamanya.



Post a Comment