NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Chitose-kun wa Ramune Bin no Naka (Chiramune) Volume 7 Chapter 3

Chapter 3

Tempat Kita Berada


Senin di awal minggu.

Begitu wali kelas mengakhiri jam pelajaran terakhir, para teman sekelas mulai sibuk menurunkan kursi mereka. Tampaknya persiapan drama festival budaya sudah mulai bergerak serius.

Aku menepuk bahu Nazuna yang sedang sibuk memberikan berbagai instruksi di tengah kerumunan itu.

"Maaf mengganggu di saat sibuk, ada yang bisa kubantu?"

Karena kami sudah berlatih mati-matian pada hari Sabtu dan Minggu, hari ini latihan tim pemandu sorak aku liburkan. Terutama Yuua, Asuka-nee, dan Kenta—ketiganya terlihat sangat lelah. Lagipula, kami sudah mencapai progres yang awalnya kukira butuh waktu seminggu lebih, jadi libur sehari bukan masalah besar.

Nazuna menangkupkan kedua tangan dengan suara penuh sesak.

"Naskahnya agak buntu nih, jadi kami belum bisa mulai latihan."

"Ah, tidak apa-apa," jawabku sambil menggeleng pelan. "Justru berkat saranmu kemarin, latihan tim pemandu sorak jadi sangat lancar. Aku sangat terbantu."

Nazuna tersenyum lega.

"Syukurlah kalau begitu. Ah, hei, hei! Tolong bawa itu ke arah meja guru!"

"Okeee!" sahut siswa yang dipanggil dengan nada riang.

Nazuna, yang sempat memberi instruksi di tengah pembicaraan, kembali menatapku.

"Maaf, maaf, agak sibuk sedikit."

Aku membalasnya dengan tawa ringan.

"Kamu bisa diandalkan, ya."

Kenyataannya, Nazuna memang memimpin dan menyatukan kelas dengan sangat baik. Awalnya aku khawatir beban ini terlalu berat untuknya, tapi ternyata dia jauh lebih cakap dari dugaanku.

Nazuna tersenyum jahil.

"Kamu berpikir 'tumben banget', kan?"

Aku membalas candaannya.

"Yah, soalnya dari penampilanmu, kamu tipe karakter yang bakal bilang 'Festival budaya? Malesin banget gak sih?' begitu."

"Jahat banget?!"

"Terus kamu bikin suasana kelas jadi buruk dan memicu konflik. Pas lagi emosi, kamu nggak sengaja merobek kostum sambil teriak, 'Ngapain sih serius banget sama hal ginian!', lalu lari keluar kelas. Tapi akhirnya kamu menyesal dan balik bantu lagi... itu kan peran standar di festival budaya."

"Ini tiba-tiba bahas apa, sih?! Lagipula sifatku nggak seburuk itu, tahu!"

Kami berdua saling berpandangan dan tertawa lepas. Setelah tawa mereda, Nazuna melanjutkan.

"Aku cuma nggak mau menonjol kalau ada orang lain yang bisa melakukannya. Tapi aku memang menantikan festival ini, dan rasanya nggak enak kalau cuma melempar semua tanggung jawab padamu dan yang lain."

Aku tersenyum tipis.

"Terima kasih, Nazuna."

Nazuna memiringkan kepalanya dengan sengaja sambil menatapku dari bawah.

"Wah, apa barusan kamu merasa terenyuh?"

Aku menyeringai.

"Iya, aku hampir saja jatuh hati."

"Aha!" Nazuna tertawa. "Tenang saja, aku nggak se-'berat' Yuko atau Yuzuki, kok."

"Mereka bakal marah kalau dengar itu."

"Nggak, mereka pasti malah merasa tersindir."

"Jadi mereka mengakuinya?"

Sekali lagi kami saling pandang dan tertawa kecil.

"Tapi soal naskah," kata Nazuna kembali serius. "Begitu mulai dikerjakan, ternyata mengaransemen Putri Salju itu lebih susah dari dugaanku."

Aku berpikir sejenak.

"Yah, kalau dipikir-pikir, tokoh utamanya kan tidur terus di tengah cerita."

"Benar! Tapi bagian apel beracunnya kan nggak mungkin dihilangkan?"

"Memang, kalau bicara Putri Salju, yang ikonik itu cermin ajaib dan apel beracunnya."

Nazuna mengangkat bahu dengan bingung.

"Jadi, untuk sementara kalian fokus saja dulu ke tim pemandu sorak. Kalau kamu atau Nanase punya ide bagus, kabari aku ya."

"Oke, nanti kusampaikan pada Nanase dan yang lain."

"Sip, nanti aku infokan juga di grup LINE."

Aku mengedarkan pandangan ke ruang kelas yang ramai dan meriah itu.

"Apa aku perlu bantu angkut-angkut barang atau kerja fisik?"

Mendengar tawaran itu, Nazuna menghela napas jengah.

"Nggak usah, biarkan saja Azumu dan yang lain yang melakukan itu. Kalian itu 'pajangan utama' kelas kita, jadi istirahatlah selagi bisa."

"Begitu ya. Oke deh, nanti aku pamit dulu pada mereka sebelum pulang."

"Iya, sampai besok ya, Chitose-kun!"

Aku mengangkat tangan membalas Nazuna, dan tepat saat itu Azumu masuk ke kelas sambil memikul papan besar.

"Yo, rajin banget kelihatannya."

Saat aku mendekat dan menyapanya, ia menatapku dengan wajah tidak senang.

"Cih, si bawel itu berisik banget."

Tatapan Azumu tertuju pada Nazuna. Aku tertawa kecut.

"Ternyata kamu tipe yang takut istri, ya."

"M-mampus kau, ya!!!!!!"

Karena Azumu tidak bisa bergerak bebas sambil memikul papan, aku terus menggodanya.

"Kalau pakai kata-kata kasar, nanti kaporin ke Nazuna-chan lho."

"Mati saja sana."

"Woi, bahaya?!"

Jangan ayunkan papan itu di tempat begini, dong. Apalagi dia sempat memastikan keadaan sekitar sebelum mengincarku sendirian.

"Ada yang bisa kubantu?" tanyaku mengalihkan topik.

"Hah? Siapa juga yang butuh bantuanmu."

"Sudahlah, jangan galak begitu."

"Kalau lu luang, mending pulang sana terus latihan ayunkan pemukul bisbolmu."

"Waduh, jangan mendadak baik begitu dong, nanti Saku-kun jadi baper lho."

"Ngehadapin lu itu jauh lebih capek, tahu!!!"

Yah, kalau dia bisa bicara begitu, berarti dia baik-baik saja.

"Oke deh, maaf sudah mengganggu."

Tepat saat aku hendak pergi...

"Woi."

Azumu memanggilku.

"Gimana progres tim pemandu sorak?"

Aku tersenyum kecut mendengar pertanyaan tak terduga itu.

"Nantikan saja. Akan kutunjukkan performa yang paling keren."

Azumu mendengus kecil.

"Awas saja kalau hasilnya membosankan."

"Hei, apa kamu memang nggak bisa tenang kalau nggak menutup pembicaraan dengan gaya dere?"

Wusss.

Aku berkelit menghindari papan yang diayunkan tanpa ampun itu, lalu bergegas keluar dari kelas.

◆◇◆

Saat berjalan melewati koridor menuju loker sepatu, seisi sekolah terasa sedang dilanda euforia.

Semua orang terlihat berbeda; ada yang membuka satu atau dua kancing kemeja lebih banyak dari biasanya, rok yang terasa sedikit lebih pendek, hiasan rambut yang lebih berwarna, atau mereka yang langsung pamer memakai kaus kelas yang sudah jadi...

Setiap sudut sekolah diwarnai oleh aura pesta.

Papan pengumuman yang masih setengah jadi, bau cat dan cat air, aroma manis panekuk yang tercium dari salah satu kelas, hingga grup beranggotakan lima orang yang sedang berlatih akapela di jembatan penghubung gedung.

Dari jendela, aku melihat persiapan panggung di tempat parkir juga berjalan lancar.

Suara musik dari klub musik tiup yang terdengar dari lantai atas kini berubah total—dari musik klasik menjadi lagu-lagu hit yang populer. Aku jadi penasaran, apakah Yuua bisa meniup saksofonnya dengan benar? Mengingat kondisinya, aku ragu dia bahkan bisa mengangkat lengannya.

Tiba-tiba, aku teringat klub musik tiup saat SMP yang datang menyemangati tim bisbolku. Saat sudah mencapai babak empat besar, mereka akan memainkan musik penyemangat saat kami menyerang.

Setiap pemain punya lagu tema berbeda, dan saat giliranku memukul, lagunya adalah Natsumatsuri dari Whiteberry.

Rasanya sangat membahagiakan, seperti menonton pertandingan di Koshien atau liga profesional di televisi.

Sambil tenggelam dalam nostalgia, aku mengganti sepatu di loker. Tanpa kusadari, sekarang aku sudah bisa mengenang masa-masa bisbol dengan perasaan jujur.

Tahun lalu semuanya terasa hambar, tapi sebenarnya, masa persiapan festival sekolah memang seharusnya seperti ini. Dunia tidak biasa yang mencampurkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Malam festival yang terasa panjang sekaligus singkat.

Orang bilang merencanakan perjalanan adalah bagian yang paling menyenangkan, dan itu juga berlaku untuk festival sekolah. Festival luar sekolah, festival olahraga, festival budaya.

Menghabiskan waktu hampir dua bulan hanya demi acara tiga hari. Semua orang berlarian ke sana kemari demi hal ini. Begitu hari H tiba, semuanya pasti akan berlalu dalam sekejap.

──Karena itulah, sepuluh tahun lagi, hal-hal seperti inilah yang akan kita kenang.

Kita mungkin tidak akan ingat detail festival sekolah atau festival olahraga itu sendiri, tapi kenangan tentang waktu yang kita habiskan bersama teman-temanlah yang akan muncul.

Bukan soal seberapa keren performa kita hari itu, seberapa antusias penontonnya, atau seberapa tinggi nilai yang kita dapatkan.

Tapi soal...

Kita pernah menginap di rumah Yuko, masakan Ucchi enak sekali, taman di malam hari sangat gelap, piyama semua orang yang masih kuingat, atau keesokan harinya Chitose dan Kureha nggak bangun-bangun, dan lengan yang nggak bisa diangkat karena pegal-pegal.

Lalu, lagu apa ya yang diputar waktu itu?

Yah, semacam itulah.

Aku mengetuk-ngetukkan ujung sepatu Stan Smith-ku ke lantai, lalu mendongak.

Aku akan menjaga momen ini sebaik mungkin. Supaya momen yang bisa terlewat begitu saja ini bisa tertangkap, layaknya mengumpulkan stok foto di setiap perhentian.

Saat aku keluar dari area loker sambil memikirkan hal itu...

"Senpai!"

Kureha, yang tadinya bersandar di pilar, berlari menghampiriku.

"Lho, apa klub atletik sedang libur?" tanyaku sedikit terkejut.

Sambil memegang tali ranselnya, Kureha menjawab dengan semangat.

"Iya!"

Sepertinya ini bukan sekadar kebetulan.

"Jangan-jangan, kamu menungguku?"

"Benar sekali!"

Aku tertawa kecut melihat jawaban singkat juniorku ini.

"Eto, kenapa...?"

Tanpa rasa malu, Kureha menjawab jujur.

"Kalau Kakak tidak keberatan, aku ingin melatih pair dance kita sekali lagi sebelum latihan gabungan."

"Oh..."

Akhirnya aku mengerti. Memang benar semua orang sudah hafal koreografinya, tapi untuk pair dance, biasanya kami yang harus memberikan contoh. Meski tarian Kureha sudah hampir sempurna, sepertinya dia masih merasa belum tenang.

"Kalau begitu, ayo mampir ke taman di jalan pulang."

"Iya! Mohon bantuannya!"

◆◇◆

Kami berjalan berdampingan menyusuri bantaran sungai seperti biasa. Karena hari ini tim pemandu sorak libur, kami berdua tidak membawa sepeda. Kebetulan rumah kami searah.

Saat sampai di dekat pintu air, Kureha tiba-tiba berkata seolah baru terpikir sesuatu.

"Kak, bagaimana kalau kita latihan di sana?"

Ia menunjuk ke tempat yang biasa menjadi posisi tetapku saat mengobrol dengan Asuka-nee. Sebelum aku sempat menjawab, Kureha melanjutkan.

"Kakak dan Kak Asuka sering mengobrol di sana, kan? Kelihatannya sangat estetik dan keren sekali, aku selalu mengaguminya dari dulu."

Dipikir-pikir, kalau Kureha menjadikan jalan ini sebagai rute sekolahnya, wajar saja kalau dia pernah melihat kami.

Aku menggaruk pipi dengan bingung.

"Tapi di sana kan sempit. Nggak lucu kalau kita terpeleset dan jatuh ke sungai."

Mungkin aku terlalu banyak berpikir, tapi mengingat hari-hari yang kuhabiskan bersama Asuka-nee, aku merasa ragu. Kecuali saat Yuua mengejarku waktu senja itu, aku belum pernah duduk di tempat itu dengan orang lain selain Asuka-nee.

Sepertinya Kureha menyadari apa yang kupikirkan dari ekspresiku, suaranya langsung mengecil.

"......Ah, maaf."

Sambil memegang lengan kemejanya, ia melanjutkan dengan rasa bersalah.

"Tadinya aku pikir kalau menunggu di sini, mungkin aku juga bisa bertemu Kak Asuka."

Kureha mendongak dan mencoba bersikap ceria dengan paksa.

"Kalau begitu ayo cari taman saja, Kak!"

Waduh, aku jadi merasa nggak enak. Aku malah membuat juniorku ini merasa sungkan lagi. Selain itu, ucapan Kureha ada benarnya. Kalau kami berlatih di sini, mungkin aku bisa bertemu Asuka-nee, dan jika aku menganggap ini sebagai cara menunggunya, aku bisa lebih merelakan tempat ini digunakan.

Kebetulan aku juga khawatir kalau-kalau Asuka-nee mengalami cedera karena gerakan tubuh yang tidak biasa kemarin.

"Oke," kataku memantapkan hati. "Mari kita berlatih sambil menunggu Asuka-nee."

Wajah Kureha langsung cerah dan matanya menyipit bahagia.

"Iya!"

Kami turun ke bagian tengah tanggul sungai.

Masih terlalu dini untuk disebut senja, tapi matahari sudah mulai condong. Angin yang berhembus di permukaan air terasa semakin sejuk dari hari ke hari, benar-benar membawa aroma musim gugur yang kian dekat. Kami meletakkan ransel masing-masing di pinggir, dan Kureha mulai memutar musik melalui pengeras suara ponselnya.

Plung.

Suara air terdengar di suatu tempat, dan suasana mendadak menjadi hening. Kendaraan, orang-orang, kucing, gagak—semua aliran seolah terhenti bersamaan, menciptakan kekosongan di celah musim.

"Hei, Kakak?"

Kureha menyodorkan tangannya, tersenyum dengan ekspresi yang terlihat dewasa hingga membuatku bergidik.

"Mari kita mulai dari sini."

Aku menyadari bahwa aku sempat terpana dan menahan napas sejenak. Untuk memastikan waktu telah berputar kembali, aku mengalihkan pandangan ke arah seorang siswa dari sekolah kami yang sedang berjalan di sepanjang bantaran sungai.

"Dilihat orang sebanyak ini bikin malu juga, ya."

Seolah ingin memutus candaanku, Kureha dengan inisiatif sendiri menggenggam tanganku. Dengan mata yang tampak berkaca-kaca, ia membisikkan kata-kata yang membelai telingaku.

"Tunjukkan saja pada mereka, apa susahnya?"

Lalu, seolah sedang menggoda, ia melangkah maju dan merapatkan tubuhnya padaku.

◆◇◆

Aku, Nishino Asuka, sedang berdiri di depan loker sepatu dengan tubuh yang terasa berat namun hati yang ringan.

Sudah berapa lama ya aku tidak merasakan pegal otot yang sejelas ini? Saat terbangun tadi, rasanya sulit sekali bahkan hanya untuk bangkit berdiri. Aku merasa lucu pada diriku sendiri sampai-sampai tertawa sendirian.

Aku merasa sedikit kesepian karena hari ini libur latihan. Mungkin Saku-kun mengkhawatirkan kondisiku, Yuua-san, dan Yamazaki-kun, tapi sebenarnya aku tidak keberatan jika harus berlatih lagi.

Sambil memikirkan hal itu, aku mengulurkan tangan ke loker sepatuku yang berada di posisi paling atas...

"──!"

Aku memekik tanpa suara.

...Eto, maaf, barusan itu bohong.

"Aduh, aduh," aku mengurut lengan kananku pelan. Dengan kondisi begini, aku memang tidak akan bisa berlatih dengan benar.

Kira-kira, apa Saku-kun tetap latihan mengayunkan pemukul setelah pulang kemarin? Anak klub olahraga memang hebat ya, pikirku sambil tersenyum kecut. Kali ini aku mengambil sepatu dengan sangat hati-hati dan perlahan, memakainya, lalu keluar dari sekolah.

Sampai kemarin aku masih bersama semua orang, tapi hari ini aku sendirian. Namun mulai besok, aku bisa kembali ke lingkaran itu lagi.

Fufu... Aku menutup mulut dengan tangan. Pipiku mendadak hangat setiap kali teringat perkemahan dua hari yang singkat namun panjang itu. Tentu saja karena aku bisa bersamamu, tapi aku juga sangat bahagia bisa berbagi waktu yang tak ternilai dengan Aomi-san, Yuua-san, dan yang lainnya.

Akhirnya, namaku bisa bersanding di dalam cerita kalian.

Lalu, aku menatap langit. Aku jadi mengerti kenapa Saku-kun tidak bisa memutuskan perasaannya dengan mudah. Kalian semua saling peduli, sangat menghargai tempat kalian sendiri maupun tempat orang lain.

Ada satu hal yang kusadari saat mengobrol dengan Yuua-san. Gadis itu seharusnya juga menjadikan bantaran sungai ini sebagai rute perjalanannya, setidaknya selama satu tahun terakhir. Namun selama aku dan kamu mengobrol di sana, ia tidak pernah sekali pun menyapa atau mengganggu kita.

Tentu saja ada kemungkinan dia merasa sungkan. Tapi setelah bicara langsung dengan Yuua-san, aku tahu. Gadis lembut itu pasti sangat menghargai tempat dan waktu kita.

Pemikiran yang pernah melintasi kepalaku kini muncul kembali dengan bentuk yang sedikit berbeda. Semakin aku mengenal kalian, semakin aku menginginkannya.

Misalnya, bisakah kita tetap menjadi 'kita semua' seperti ini saja?

Apakah kita harus memberikan jawaban sebagai 'laki-laki' dan 'perempuan'?

Aku tahu itu hanyalah penundaan sementara. Aku tahu itu hanyalah sikap manja karena takut terluka. Sesakit apa pun itu, hari untuk mengambil keputusan pasti akan tiba. Dalam kasusku, aku harus membuat pilihan dalam setengah tahun ke depan.

Tapi, tolong beri aku waktu sedikit lagi. Setidaknya sampai festival sekolah ini berakhir.

Aku ingin menjadi bagian dari kalian sedikit lebih lama.

Saat sedang memikirkan hal itu, aku sampai di bantaran sungai yang biasa. Entah kenapa, aku menyimpan harapan yang rapuh.

──Mungkin hari ini aku bisa bertemu denganmu.

Saku-nii itu orangnya sangat perhatian. Dia pasti mengkhawatirkan aku yang tidak terlalu pandai berolahraga ini. Tapi karena dia juga orang yang tidak jujur, dia mungkin akan bertanya dengan nada bercanda seperti "Sudah bisa ganti baju sendiri?" atau "Nggak kesulitan lewat gerbang tiket, kan?".

Aku bisa saja merajuk seperti biasanya, tapi... bagaimana kalau sekali-kali aku bersikap jujur seperti hari musim panas saat kita masih kecil dulu? Jika aku mengandalkannya, mungkin kamu akan...

"Eh...?"

Menemaniku... berlatih... pair dance...

Bruk. Suara tas yang jatuh terdengar.

Lututku mendadak lemas, dan aku terpaksa berpegangan pada pagar pembatas jembatan.

Deg.

Tidak mungkin. Kenapa? Aku tidak bisa menerima pemandangan di depanku, mataku berkali-kali mengerjap.

Deg, deg, deg, deg.

Pikiranku sangat jernih, tapi jantungku tidak mau berhenti berdegup kencang. Napasku menjadi dangkal, aku sulit bernapas, dan semakin aku menyadarinya, jantungku semakin berpacu.

Kenapa... di sana?

Kenapa di tempat kita berada, kamu menari bersama Nozomi-san?

Kalian berdua menyatu layaknya bayangan rembulan, terhubung, dan saling merapat────.

Apakah kamu sedang menginjak-injak tempat kita berada?

Siapa wanita yang ada di sana? Aku meremas dadaku sendiri. Dari sini aku tidak bisa melihat wajahmu. Tapi yang menggenggam tanganmu itu jelas-jelas bukanlah junior polos yang kukenal. Ekspresi itu, tatapan itu, tubuh itu.

──Itu adalah seorang wanita yang memancarkan aura dewasa yang begitu memikat.

Entah kenapa, saat itu juga, aku berteriak dalam hati seolah sedang berdoa.

"Jangan bawa dia pergi!"

Sebab aku merasa, di tempat yang tidak kami ketahui dan tanpa kami sadari, gadis itu sedang menggoda dan membawamu menuju tempat yang tidak bisa kami jangkau.

Saku-Nozo.

Sambil memandangi mereka berdua yang terus menari dengan anggun, tiba-tiba nama itu menusuk dadaku. Seolah berputar layaknya fase bulan yang silih berganti.

Waktu yang telah dihabiskan, kata-kata yang telah dipertukarkan, bahkan air mata yang pernah tumpah, semuanya seolah terkumpul menjadi satu dan membengkak.

Tiba-tiba, Nozomi-san yang menyadari keberadaanku menghentikan tariannya dan melambaikan tangan lebar-lebar.

"Asuka-saaan!"

Aura dewasa yang membuat bulu kuduk berdiri tadi lenyap bagaikan ilusi. Ia kembali menjadi sosok junior polos yang menghabiskan waktu dua hari ini bersamaku.

Benar, aku saja yang terlalu banyak pikiran. Ini bahkan belum memasuki waktu Oumagatoki.

Mungkin rasa lelahku memang belum hilang sepenuhnya. Aku memungut tasku, lalu turun menghampiri mereka berdua sambil melambaikan tangan kecil.

Deg-deg, deg, deg-deg, deg-deg.

Nozomi-san tertawa riang dengan nada jenaka.

"Tadi aku dan Senpai memang sengaja menunggu Kak Asuka di sini, lho!"

Ternyata memang begitu. Apa yang kulakukan, panik dan memasang wajah serius sendirian.

Kamu pun memasang wajah yang sedikit malu.

"Kureha bilang ingin melatih pair dance sedikit lagi. Kupikir kalau latihan di sini, kami bisa bertemu Asuka-nee."

Iya, aku juga merasa hari ini kita bisa bertemu. Kalau kamu juga berpikir begitu, aku senang.

Deg-deg-deg-deg-deg-deg────.

Nozomi-san berkata dengan penuh antusias.

"Tempat ini suasananya enak banget, ya!"

Sambil menginjak tanah di tempat ini tanpa dosa, ia melangkah mendekat dan melanjutkan.

"Hei, Kak Asuka? Mulai sekarang, boleh tidak kalau aku ikut bergabung di sini juga!?"

"……Hen... tikan."

Tanpa tahu dari mulut siapa kata-kata itu meluncur,

"HENTIKANNNNN!!!!!!!!"

Sadar-sadar, aku sudah berteriak dengan suara yang nyaris pecah sambil mengepalkan tangan sekuat tenaga.

"Eh……?"

Wajah bingungmu dan Nozomi-san terpantul di mataku.

"Ah……"

Apa yang... baru saja kulakukan? Wajah Saku-kun dan Nozomi-san seketika tertunduk lesu.

Bukan, tunggu, aku tidak bermaksud mengatakan itu... Saku-kun menggigit bibir dengan wajah seperti anak kecil yang baru saja dimarahi.

"Maaf, Asuka-nee. Anu, maksudku……"

Seolah memutus kalimat itu, Nozomi-san menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia berbicara dengan nada sopan, berusaha mati-matian menekan keguncangan hatinya.

"Kak Asuka, saya benar-benar minta maaf karena sudah lancang. Padahal saya tahu kalau tempat ini adalah tempat yang spesial bagi kalian berdua."

Tolong, jangan minta maaf seperti itu. Yang barusan itu aku yang...

Sambil tetap menunduk, Nozomi-san melanjutkan.

"Tapi, ini bukan salah Senpai. Aku yang memaksanya, jadi dia terpaksa menemaniku. Kalau mau menyalahkan seseorang, tolong salahkan aku saja."

Sesak. Aku tidak bisa bernapas dengan benar. Jantungku tidak mau berhenti berpacu.

Bagaimana biasanya aku bernapas? Justru di saat seperti inilah aku harus merangkai kata-kata.

Meminta maaf atas kesalahanku, mencairkan suasana dengan candaan seperti yang biasa kamu lakukan, lalu... Saku-kun memeras suaranya yang terdengar seperti akan menangis.

"Bukan begitu, bukannya aku tidak memikirkan perasaanmu, Asuka-nee……"

Melihat wajah sedihmu, aku sudah tidak tahan lagi.

"Maafkan aku!"

Aku memotong kalimat itu di tengah jalan.

"Besok, aku pasti akan minta maaf pada kalian berdua. Jadi tolong, lupakan saja kejadian hari ini!"

Setelah menundukkan kepala dengan kasar, aku langsung berlari sekuat tenaga.

"Asuka-nee!"

"Kak Asuka!"

Ah, betapa malangnya aku. Sambil menolak suara mereka yang memanggil punggungku, aku berpikir.

Padahal tadi aku bersikap manja dengan bertanya-tanya apakah kita benar-benar harus memberi jawaban sebagai laki-laki dan perempuan. Padahal tadi aku bersikap pengecut dengan ingin tetap seperti ini sedikit lebih lama.

Air mata yang terus mengalir deras tidak bisa kuhentikan, dan aku terus berlari seolah ingin membuang semuanya.




Aku pun ternyata hanyalah seorang wanita biasa yang bisa jatuh cinta dengan begitu parahnya.

Merasa cemburu dengan memalukan pada junior yang polos, bahkan sampai melukainya; aku benar-benar gagal sebagai kakak kelas.

Tempat itu bukanlah tempat istimewa milikku dan dia. Itu hanyalah bantaran sungai biasa di mana siapa pun bisa duduk dan beristirahat dengan tenang.

Entah kesalahpahaman apa yang selama ini kupelihara. Padahal hal yang pasti itu tidak ada, kursi khusus untukku pun tidak pernah ada di mana pun.

Geho, eho.

Aku terbatuk-batuk mencari oksigen seolah hendak muntah. Rasanya perih, menyesakkan, sedih, dan menyebalkan—aku bahkan merasa lebih baik menghilang saja sebagai ilusi.

Aku selalu, pasti, selama ini dan selamanya.

──Padahal aku hanya ingin tetap menjadi Asuka-nee bagimu.

◆◇◆

Aku, Nanase Yuzuki, sedang menelepon Chitose pada Senin malam di awal minggu. Aku berniat melakukan sedikit penyelarasan mengenai latihan gabungan tim pemandu sorak yang akan dimulai besok. Nada sambung berbunyi lebih lama dari biasanya sebelum akhirnya dia mengangkatnya.

"Halo."

"……Ah, iya."

Hanya dari satu patah kata itu, aku sadar ada sesuatu yang aneh. Responsnya lebih lambat dari biasanya, dan suaranya terdengar sangat muram.

"Kamu kenapa?"

Chitose terdiam sejenak, lalu menjawab dengan nada kosong.

"……Enggak, maaf, bukan apa-apa."

"Sudahlah, ceritakan saja."

Mendengar kata-kataku, keheningan singkat kembali mengalir. Chitose menggumam pelan seolah sedang ragu.

"Aku melakukan hal yang gegabah."

"Kalau soal cetek, sih, kamu memang dari dulu begitu."

Akhirnya nada percakapan kami kembali normal, dan helaan napas yang menyerupai senyum samar terdengar dari seberang. Seolah menyerah, Chitose akhirnya angkat bicara.

"Aku membuat Asuka-nee marah."

"Eh……?"

Aku terpaku mendengar kalimat yang sama sekali tidak kuduga itu. Melihat gelagat Chitose, sepertinya ini bukan sekadar masalah merajuk biasa. Sulit membayangkan Senior Nishino yang tenang dan intelektual itu memperlihatkan emosinya secara terang-terangan, tapi……

"Chitose, anu, aku cuma mau memastikan, apa kamu memulainya dengan ciuman yang lembut?"

"Kenapa kamu bicara hal begitu dengan nada seserius itu, sih?"

Fuuu. Sepertinya Chitose akhirnya bisa sedikit rileks.

"Terima kasih, Nanase. Berkat kamu, perasaanku sedikit lebih tenang."

"Aku diajari seseorang kalau masalah yang serius itu harus direndahkan jadi lelucon konyol."

"Begitu ya, nanti aku akan berterima kasih juga pada orang itu."

"Jadi," lanjutku. "Apa yang terjadi?"

"Ceritanya memalukan, sih……"

Chitose menceritakan perlahan apa yang terjadi sepulang sekolah tadi. Bisa dibilang aku memahami argumen keduanya, yang justru membuat situasi ini terasa menyesakkan. Baik Kureha maupun Chitose, mereka benar-benar memikirkan Senior Nishino, tapi rasanya seperti lubang kancing yang sedikit bergeser saat dipasangkan……

Setelah mendengarkan semuanya, aku pun angkat bicara.

"Bukannya mau sok tahu, tapi ini cuma kesalahpahaman di mana tidak ada orang jahatnya."

Aku paham perasaan Senior Nishino yang tiba-tiba meledak. Mungkin dia merasa seolah tempatnya direbut, sama seperti yang kurasakan saat melihat pair dance Chitose dan Kureha. Meskipun itu adalah junior yang polos—tidak, justru karena junior itu polos──.

Kurasa dia merasa takut untuk sesaat. Takut kalau kepolosan itu akan digunakan untuk mengacaukan keselarasan kami. Takut kalau tindakan lancang yang tidak tahu etika tersirat itu akan menghancurkan kedamaian sesaat kami.

Haaah. Aku menghela napas untuk diriku sendiri. Rasanya menyebalkan menyadari betapa aku bisa sangat berempati pada hal itu.

"Mungkin saat ini dia sedang mendinginkan kepala dan merasa menyesal."

"Harusnya aku yang merasa menyesal……"

Memang benar Kureha sangat menempel pada Chitose. Tapi dia juga bersikap sama pada kami, bahkan dia terlihat lebih tegang saat mengobrol dengan Mizushino. Karena sudah terlalu sering terekspos, aku cukup sensitif terhadap tatapan yang mengandung perasaan cinta.

Bagi aku yang seperti itu pun, sikap Kureha pada Chitose—meski bukannya tanpa hal yang mencurigakan—masih terasa dalam batasan seorang junior yang manja. Lagipula, aku menghela napas pendek.

Laki-laki yang sangat mirip denganku ini tidak mungkin sebodoh itu soal perasaan. Bahkan saat mengusulkan hubungan pacar palsu saja, dia memasang pagar pelindung berlapis-lapis yang merepotkan.

Kalau dia diberi tatapan yang penuh godaan, dia pasti sudah menarik garis sejak lama. Justru karena bukan seperti itu, Chitose jadi tidak bisa bersikap terlalu kasar pada Kureha.

"Besok pasti Senior Nishino akan datang minta maaf duluan. Lalu kamu dan Kureha juga minta maaf, dan selesai. Jangan terlalu dipikirkan."

"Tadinya aku mau menghubungi dan minta maaf duluan, tapi……"

"Jangan, itu malah bakal membuat dia semakin merasa terpojok. Lebih baik jangan dilakukan."

Kalau aku jadi dia, aku pasti akan semakin depresi karena membuat orang lain minta maaf padahal aku yang salah.

"……Begitu ya."

"Memang begitu."

Setelah itu, kami mendiskusikan rencana untuk besok secara singkat. Di akhir pembicaraan, Chitose berkata dengan nada yang sedikit lega.

"Terima kasih, Nanase."

"Selamat tidur, Chitose."

Tidak apa-apa, bulan September kita belum berakhir.

◆◇◆

Keesokan harinya sepulang sekolah, semua kegiatan klub diliburkan untuk persiapan festival sekolah.

Aku, Chitose Saku, bersama seluruh anggota tim pemandu sorak Biru berkumpul di GOR kedua. Ini pertama kalinya semua anggota dari kelas satu sampai tiga berkumpul lengkap sejak pertemuan pertama.

Aku sempat merasa takut bertemu Asuka-nee, tapi ternyata persis seperti kata Nanase. Begitu masuk ke GOR, dia langsung berlari ke arahku dan Kureha.

"Kemarin aku benar-benar minta maaf! ……Aku sepertinya sedang tidak sadar."

Dia menundukkan kepala pada kami. Aku dan Kureha pun buru-buru merangkai kata maaf, dan kami bertiga akhirnya saling membungkuk berulang kali dalam lingkaran kecil. Syukurlah suasananya tidak menjadi canggung.

Bukannya merasa senang karena masalah selesai, tapi melihat Asuka-nee mengobrol seru dengan Kureha membuatku bisa bernapas lega.

Lalu, kami para siswa kelas dua, Asuka-nee, dan Kureha memberikan contoh tarian secara penuh. Begitu tarian pasangan selesai, siswa kelas satu dan tiga langsung bersorak heboh. Suara pujian terdengar dari sana-sini diiringi tepuk tangan.

"Keren banget!"

"Wah, kakak kelas jago banget tarinya!"

"Curang banget sih Kureha bisa berpasangan sama Kak Chitose?!"

"Kelihatannya susah dihafal, tapi kalau sudah jadi, kita pasti juara!"

Aku dan Nanase saling pandang lalu tersenyum tipis. Sepertinya semua orang menyukainya.

Setelah itu, kami menjelaskan poin-poin gerakan secara keseluruhan, lalu membagi tim menjadi beberapa kelompok untuk latihan mandiri. Karena anak kelas dua, Asuka-nee, dan Kureha semuanya bisa menjadi instruktur, prosesnya jadi jauh lebih mudah.

Aku kembali berpikir bahwa memang benar keputusan untuk mengadakan kamp latihan kemarin sangat tepat. Kalau begini terus, semua orang pasti sudah siap saat hari-H nanti.

Kami berlatih sampai sebelum matahari terbenam, lalu membubarkan latihan lebih awal untuk hari ini. Saat yang lain mulai keluar dari GOR, Haru mendekat dan berkata.

"Hei Chitose, mau mampir ke Taman Timur sebentar?"

"Boleh saja, ada apa?"

"Ayo main lempar tangkap bola, sudah lama kan kita tidak melakukannya."

"Ah, benar juga. Hari ini aku sibuk mengajar terus."

Karena tidak ada kegiatan klub, sepertinya dia merasa kurang gerak dan ingin menyalurkan energinya. Haru menoleh ke arah partnernya.

"Yuzuki juga ikut, kan? Habis itu kita makan katsudon terus pulang."

Nanase langsung setuju dengan ajakan itu.

"Oke."

Tiba-tiba, Haru melirik ke arah junior kami yang sedari tadi mendengarkan percakapan itu dengan penuh semangat.

"Kalau masih punya tenaga, Kureha mau ikut juga?"

Wajah Kureha langsung berbinar ceria.

"Boleh?!"

Haru membusungkan dada dengan bangga.

"Fufun, biar Kak Haru ajarkan inti dari lempar tangkap bola padamu."

"Kamu juga masih pemula, tahu," timpalku sambil tersenyum tipis. Aku sempat khawatir karena insiden dengan Asuka-nee, tapi ternyata semua orang tetap menerima Kureha sebagai junior mereka.

◆◇◆

Hubungan seperti ini sudah cukup untuk saat ini, pikirku, Aomi Haru. Partner, junior, dan juga dirimu yang kucintai. Kami berempat mengayuh sepeda berdampingan di jalanan sore hari.

Sama seperti Yuzuki yang punya dunianya sendiri, Senior Nishino yang punya dunianya, dan semua orang yang punya tempat berharga masing-masing, aku pun punya musim panas yang kucapai bersama dia.

Meskipun musim telah berlalu, panasnya masih tersisa di dada ini. Padahal urusan bisbol Chitose sudah selesai, tapi alasanku sesekali mengajaknya main lempar tangkap adalah karena aku ingin memastikan sesuatu.

Memastikan bahwa di sinilah tempatku berada. Bahwa setidaknya, hanya akulah yang bisa terhubung denganmu dalam bentuk seperti ini.

Setelah bersepeda beberapa lama, kami sampai di Taman Timur. Aku teringat sesuatu dan berkata pada partnerku.

"Nana, omong-omong Mai bilang dia bakal datang ke latihan lusa."

Yuzuki mengerutkan dahi dengan heran.

"Mau ngapain?"

"……Entahlah? Main mungkin?"

"Kalian ini menganggap markas kita itu apa, sih?"

Aku menanggapi kata-katanya dengan tawa sambil mengenakan gliv. Awalnya sarung tangan ini sangat keras, tapi belakangan ini sudah menjadi jauh lebih lemas dan penurut. Rasanya seperti hubungan aku dan dia, aku hampir saja keceplosan tersenyum sendiri.

Yuzuki dan Kureha duduk di bangku taman terdekat. Inilah poinnya, pikirku sambil melirik partnerku. Meski sudah ada beberapa kesempatan serupa, Yuzuki tidak pernah sekalipun mencoba ikut bergabung dalam lempar tangkap kami.

Kemampuan atletiknya tidak perlu diragukan, dan sebagai sesama anak klub olahraga, dia tipe yang lebih terampil dan cakap dariku.

Dia pasti akan cepat jago kalau mulai mencoba. Hanya menonton itu pasti membosankan, dan tidak mungkin dia tidak ingin menyentuh dunia Chitose. Meski begitu, aku menggenggam bola.

Yuzuki tidak pernah melangkahi garis pembatas itu. Mungkin karena dia menganggap ini adalah bagianku.

Sama seperti aku yang tidak ikut-ikutan saat Yuzuki sering berkunjung ke rumah Chitose; kami seolah menjaga peran posisi masing-masing. Di antara cinta dan persahabatan, semua orang menjaga keseimbangan dengan sangat baik.

"Aku lempar, ya!"

Aku berkata begitu sambil melempar bola. Meskipun masih berbentuk parabola, kontrolku sudah lumayan membaik.

Pas.

Bola mendarat dengan pas di sarung tangan Chitose.

"Nice ball."

Ucapnya sambil membalas lemparan dengan cepat. Belakangan ini bolanya terasa sedikit lebih cepat, dan itu membuatku senang seolah dipuji bahwa aku sudah semakin jago.

Aku bersiap dengan semangat dan menyodorkan sarung tangan, tapi sepertinya aku terlalu terburu-buru sampai bola mengenai bagian jempol dan terpental. Bola yang menggelinding itu dipungut dan dibawakan oleh Kureha yang berlari kecil.

"Ini, Kak Haru."

"Terima kasih, Kureha."

Chitose menatapku dan berkata.

"Kamu masih mencoba mengejar bolanya. Bayangkan kamu bersiap di jalur bolanya dan tunggu bolanya masuk ke sana."

"Dimengerti."

Hyuu, pas.

Pyu, pachin.

Kegiatan lempar tangkap yang awalnya kumulai untuk menyemangati Chitose, tanpa sadar telah menjadi waktu yang sangat berharga bagiku juga.

Waktu hari upacara pembukaan, aku sempat kesal soal 'rahasia' Yuzuki, tapi biarkan saja. Hal ini tidak bisa dilakukan olehmu, Yuko, Ucchi, maupun Senior Nishino.

Ini adalah rahasia yang hanya dimiliki oleh aku dan dia.

Saat suasana hatinya sedang bagus, dia akan sok jago melempar bola lengkung atau bola lambung yang tinggi. Saat dia sedang kesal, bolanya pun terasa agak berantakan. Saat dia sedang menatapku, sebuah bola yang terasa hangat akan mendarat tepat di dadaku.

Sosok dia yang hanya aku saja yang tahu, yang tidak diketahui oleh gadis-gadis lain. Ternyata saat ini, itu saja sudah cukup memuaskan bagiku.

Setelah beberapa lama bermain lempar tangkap, aku tiba-tiba teringat akan keberadaan si junior. Waduh, aku tidak sengaja menelantarkannya bersama Yuzuki. Aku melambai-lambaikan tangan sambil berteriak.

"Kurehaaa!"

"Iya!"

Kureha berlari mendekat dengan gembira. Aku melepas sarung tangan dan berkata.

"Kalau mau, kamu mau coba sedikit?"

"Boleh?!"

Kalau gadis biasa, aku tidak akan membiarkannya karena berbahaya. Tapi dari yang kulihat saat kamp latihan, dia tipe yang terampil dan punya kemampuan atletik bagus seperti Yuzuki. Chitose pasti akan menyesuaikan kekuatannya, jadi tidak akan ada masalah.

Kureha mengenakan sarung tangan dengan wajah bersemangat. Ia menaruh bola keras di telapak tangannya, lalu menggulingkannya dengan penuh rasa penasaran. Aku teringat akan diriku yang dulu dan mulai berbicara.

"Dengarkan ya, Kureha-kun. Ini pola yang sering terjadi pada perempuan, tapi berbeda dengan tolak peluru, bola itu tidak dilempar dengan cara didorong. Kamu harus memutar tubuhmu seperti ini, lalu tarik tangan yang satunya saat saat melempar!"

Kureha mendongak dan tersenyum seolah sudah tidak sabar lagi.

"Iya, kan! Saya mengerti!"

Chitose yang berada di kejauhan menimpali dengan nada jengah.

"Penjelasannya pernah kudengar di suatu tempat, nih."

Kami bertiga tertawa kecil, lalu Kureha memasang posisi.

Eh, posisi……?

Ia bersiap layaknya seorang pitcher, mengangkat kaki tinggi-tinggi, membuka tubuhnya lebar-lebar seperti kipas, melenturkan lengannya seperti busur, lalu melepaskan bola layaknya anak panah.

Bishuuu.

SPAAANN!

Sarung tangan Chitose berbunyi nyaring dan tajam.

"Eh……?"

Aku mengeluarkan suara bodoh karena tidak bisa menerima kenyataan yang baru saja terjadi di depan mataku. Sepertinya Chitose juga sama.

"Nggak mungkin……"

Ia terpaku melihat bola yang sudah bersarang di sarung tangannya. Bentuk tubuh Kureha, dan bola yang ia lempar—meskipun bukannya sebanding dengan pemain klub bisbol sungguhan—sudah sangat mahir untuk ukuran lempar tangkap pemanasan.

Deg.

Deg, deg, deg, deg.

Tiba-tiba, debar di dada kiriku mulai berpacu. Sambil memainkan bola di tangannya, Chitose berkata.

"Wah, Kureha, ternyata kamu sudah berpengalaman, ya?"

Kureha buru-buru melambaikan kedua tangannya.

"Mana mungkin. Kakak laki-laki saya dulu ikut bisbol remaja, jadi saya sering diminta jadi teman lempar tangkap atau jadi batting pitcher."

……Apa-apaan itu, curang banget, kan.

"Heh? Hebat juga padahal tidak pernah menerima pelatihan resmi."

Jangan puji dia, jangan puji dia seperti itu.

"Kakak saya orangnya suka mengajar, dan karena saya suka olahraga, saya jadi cepat paham."

Pasti begitu, wong dia saja hafal gerakan tarian lebih cepat dariku. Chitose berkata dengan nada yang seolah sedang bersemangat.

"Jadi, ini pertama kalinya kamu pakai bola keras?"

"Iya," jawab Kureha dengan ragu. "Ternyata lebih keras dari yang kubayangkan, agak takut juga. Kak Haru hebat sekali ya bisa melakukannya."

Aku tidak butuh belas kasihan seperti itu. Aku jadi terlihat seperti orang bodoh karena sudah sok memberikan nasihat tadi. Chitose menyeringai tipis, lalu berkata.

"Kalau begitu, kita mulai dari yang pelan saja dulu."

Ia melemparkan bola kembali pada Kureha.

Pyu.

Padahal tadi katanya pelan, tapi kenapa, kamu……

Deg, deg, deg.

Melemparkan bola yang kekuatannya sama dengan yang kamu berikan padaku tadi.

Pachin.

Kureha menangkapnya dengan mudah lalu berkata.

"Kalau cuma segini, aku masih baik-baik saja, kok!"

Cuma segini, aku menggigit bibirku.

Kureha tidak lagi memasang posisi berlebihan, ia melemparkannya kembali dengan gerakan yang tajam dan ringan. Bola itu mendarat dengan bunyi klik di sarung tangan, dan Chitose tertawa jahil.

"Boleh kutambah kecepatannya sedikit?"

"Iya! Dengan senang hati!"

Chitose melempar bola yang lebih cepat dari sebelumnya seolah sedang menguji, dan...

Pishuuu, spaaan.

Kureha menangkapnya dengan indah, lalu langsung melemparnya balik dengan mulus.

Bishuuu, SPAAANN.

Chitose menyeringai lebar.

"Masih bisa nambah, kan?"

"Ayo kita teruskan sampai batas maksimal!"

Ini sungguh keterlaluan, pikirku.

──Sun, pat.

──Bishu, spaan.

Chitose berkata dengan wajah yang terlihat sangat bahagia.

"Gimana kalau yang ini?"

"Ayo, siapa takut!"

──Bishu, spaan.

"Kontrolmu bagus juga ya, Kureha."

"Aku nggak akan membiarkan Kakak bosan, kok."

Ini bukan lagi sekadar permainan rumah-rumahan atau rahasia kecil. Ia menangkap bola yang dilempar Chitose dengan lembut, lalu melemparnya balik dengan gerakan yang mengalir mulus.

──Pit.

Mungkin karena terlalu bersemangat, lemparan Kureha melenceng jauh. Aku merasa diriku yang lain sedang menatap dengan tatapan dingin dari kejauhan, sementara bibirku menyeringai sinis.

Chitose melompat ke samping seolah hendak mendekap Kureha. Ia menangkap bola dengan ujung sarung tangannya, lalu berguling dan melemparnya balik sambil tetap berlutut. Kali ini giliran lemparan Chitose yang melenceng, dan Kureha pun melompat.

──Ini benar-benar seperti pesta dansa yang anggun hanya untuk mereka berdua.

Rok seragamnya berkibar ringan, memperlihatkan paha Kureha yang terlihat ranum. Tiba-tiba, entah kenapa, juniorku itu benar-benar terlihat seperti seorang wanita di mataku.

Bibir yang tampak lembut, dada yang membusung indah, lekuk pinggang yang ramping, serta bokong padat dengan kaki jenjang yang memanjang darinya. Sosoknya yang berhadapan dengan Chitose di bawah langit senja terlihat begitu serasi sampai rasanya aku ingin menangis.

Itu curang, tahu.

Tanpa sadar, aku mengepalkan tangan begitu kuat hingga kuku-kukuku menusuk telapak tangan. Kalau memang begitu, tolong jangan rebut satu-satunya kelebihanku.

Chitose menyeringai lebar seperti bocah pemain bisbol.

"Kalau begini, kamu benar-benar bisa jadi batting pitcher-ku."

Tolong, jangan tunjukkan wajah itu pada wanita lain.

"Kalau Kakak mau, aku siap menemani kapan saja!"

Kalau mau, tolong inginkan aku saja.

"Wah, boleh juga. Soalnya Azumu itu merepotkan banget kalau diajak."

Hei, aku kan ada di sini.

"Kalau begitu, biar aku yang menemanimu!"

Jadi, yang bisa menemanimu bukan cuma aku saja ya────.

Musim panas yang kita capai berdua mulai diwarnai oleh musim gugur. Seiring pepohonan yang perlahan memerah sebelum akhirnya gugur, musim kita pun mulai menjauh. Jangan pergi, jangan tinggalkan aku, lihatlah ke sini.

"……Kembalikan."

Tahu-tahu aku sudah merangsek mendekati Kureha.

"KEMBALIKAAAAAAN!!!!!!!!"

Aku merampas sarung tangan itu dari tangannya yang ramping.

"──!"

Hawa dingin dari mereka berdua yang menahan napas langsung terasa, dan aku pun tersentak sadar. Eh, barusan aku……

Kureha menatapku dengan mata yang ketakutan. Mungkin karena aku menarik sarung tangannya dengan kasar, tangannya terasa sakit. Ia mengelus tangan kirinya secara sembunyi-sembunyi agar tidak terlalu kentara.

Kepeduliannya padaku itu justru menusuk dadaku dengan rasa bersalah yang membuatku ingin melarikan diri, serta penyesalan yang membuatku mual.

──Deg, deg, deg, deg.

Kureha menundukkan matanya dengan sedih, lalu berkata dengan suara lemah yang terasa asing.

"Anu, Kak Haru... apa aku memakai sarung tangan pinjamannya dengan kasar?"

Bukan, bukan begitu. Kamu sama sekali tidak salah. Jadi, tolong jangan pasang wajah seperti itu.

──Deg, daku, deg.

Jantungku berpacu tak keruan, dadaku terasa sesak. Aku harus segera minta maaf, kalau bisa ubah jadi candaan. Semakin aku memikirkannya, kata-kata itu justru tidak mau keluar.

Sepertinya Chitose mencoba mencairkan suasana. Ia berkata dengan nada bicara yang sengaja dibuat santai.

"Apaan sih, Haru. Kamu cemburu ya karena Kureha ternyata lebih jago?"

Aku tahu maksudmu, Chitose. Kamu mencoba menganggapnya seperti itu, kan? Aku harusnya ikut tertawa, harusnya aku membalasnya dengan omelan seperti biasa. Tapi maaf, itu……

"BERISIKKKKK!!!!!!!!"

Itu memang benar kenyataannya.

Aku mendekap sarung tangan itu erat-erat, lalu berlari pergi seolah melarikan diri.

"Haru!"

"Kak Haru!"

Maaf, Chitose. Maaf, Kureha. Nanti kalau aku sudah tenang, aku pasti akan minta maaf.

Sekilas aku melihat wajah Yuzuki yang seolah ingin mengatakan sesuatu. Aku tahu, tanpa kamu marahi pun aku sudah paham.

Aku menyambar tas enamel-ku, menjejalkan sarung tangan itu ke dalamnya seolah sedang menyembunyikannya, lalu menaiki sepeda Gios-ku. Aku mengayuh pedal sekuat tenaga seakan ingin membuang pandanganku yang mulai kabur karena air mata.

Apa sih yang kulakukan? Aku sendiri yang mengajak Kureha. Aku meremehkannya, berpikir kalau gadis lain tidak akan bisa menandingi Chitose. Lalu aku malah tantrum saat dia ternyata lebih jago dariku, benar-benar payah.

Tapi, tapi, tapi……

Aku cuma tidak ingin memberikan tempat ini pada siapa pun!

Hik, hik. Sambil terengah-engah, aku akhirnya menyadari. Tidak ada hubungan yang tidak berubah. Cinta yang hanya bermodal perasaan saja tidak akan berhasil.

Tetap menggenggamnya dengan kedua tangan? Jangan bicara manis. Semuanya hanyalah kebetulan. Waktu itu, Juli itu, kebetulan saja aku yang berada di samping Chitose.

Seandainya Kureha seangkatan denganku, seandainya dia sekelas denganku……

"UWAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!"

──Padahal aku hanya ingin tetap menjadi satu-satunya partner bagimu.




◆◇◆

"Si bodoh itu."

Aku, Nanase Yuzuki, tanpa sadar mendecitkan lidah dan bangkit berdiri. Hampir bersamaan dengan Chitose, aku bergegas menghampiri Kureha. Aku menyentuh bahunya yang tampak gemetar menahan tangis.

"Jangan dimasukkan ke hati. Dia yang salah barusan."

Kureha menatapku dengan mata yang penuh kecemasan.

"Yuzuki-san, aku..."

"Nggak apa-apa. Nanti dia juga bakal mendinginkan kepala. Biar nanti aku yang menceramahinya."

Sambil menenangkan juniorku yang tertunduk lesu itu, aku memikirkan partnerku. Duh, nggak seharusnya begitu, kan.

Aku paham rasa cemasnya. Wajar jika hatinya sedikit goyah. Tapi waktu yang sudah kamu bangun bersama Chitose itu nggak serapuh itu sampai bisa hancur hanya karena kemampuan lempar tangkap bola, kan?

Meski begitu, aku mengangkat bahu sedikit. Setelah melewati bulan Agustus, aku pikir kita sudah kembali ke masa stagnasi yang tenang. Ternyata aku salah besar; hubungan kita ini berdiri di atas keseimbangan yang sangat rapuh.

Mulai dari Senior Nishino kemarin, lalu sekarang Haru. Kehadiran junior polos yang baru bergabung ini seolah sedang menelanjangi semua kerentanan itu. Aku menghela napas pendek lalu menatap Chitose.

"Chitose."

Saat kupanggil namanya, dia menoleh padaku dengan wajah canggung.

"Kamu juga, jangan terlalu dipikirkan."

Chitose menjawab dengan nada bingung.

"Apa aku terlalu berlebihan ya tadi...?"

"Bukan," jawabku sambil menggeleng pelan. "Kejadian tadi bukan salahmu maupun Kureha. Dia sendiri pasti sadar akan hal itu."

Lalu aku melanjutkan.

"Dia pasti bakal minta maaf sebentar lagi. Jadi, tolong jangan terima permintaan maafnya dengan terlalu serius. Maafkan dia dengan cara yang santai saja. Kureha, aku juga minta tolong padamu ya?"

Mereka berdua saling berpandangan lalu mengangguk kecil.

"……Aku mengerti."

"……Baik."

Benar-benar merepotkan, pikirku sambil mengerutkan dahi.

◆◇◆

Keesokan harinya sepulang sekolah.

Aku, Chitose Saku, sedang berjalan menuju loker sepatu bersama Yuua. Ngomong-ngomong, tadi pagi-pagi sekali Haru sudah minta maaf mati-matian padaku. Sesuai saran Nanase, aku tidak menanggapinya dengan terlalu serius.

"Kamu harus latihan keras biar nggak kalah sama Kureha, ya."

"Tentu saja!"

Kami hanya melakukan percakapan ringan seperti itu. Begitu jam istirahat makan siang tiba, Haru langsung melahap bekalnya dengan kecepatan kilat, merampas sarung tanganku, lalu menyerbu kelas Kureha.

Karena khawatir, aku mencoba mengikutinya. Haru menyeret juniorku yang kebingungan itu ke lapangan dan minta maaf dengan sangat tulus. Mungkin itu cara mereka berdamai. Setelah itu, mereka terus bermain lempar tangkap sampai jam istirahat berakhir.

Aku bisa bernapas lega melihat mereka berdua bisa berdamai secara sportif khas anak klub olahraga. Tapi Haru, cara memanggilmu tadi itu lebih mirip cara kakak kelas yang mau mengelabrak juniornya, tahu.

"Saku-kun, sedang melamun?" tanya Yuua yang berjalan di sampingku.

Aku menggeleng pelan.

"Nggak, semuanya sudah beres, kok."

Hari ini klub musik tiup Yuua dan tim pemandu sorak sedang libur, jadi kami sudah janji untuk belanja kebutuhan seperti biasa.

Begitu selesai mengganti sepatu dan keluar dari area loker, kami berpapasan dengan Nanase dan Kureha yang masing-masing sudah memakai baju latihan.

Mungkin Nanase sedang memberikan dukungan tambahan pada Kureha soal kejadian kemarin. Karena suasana kemarin tidak memungkinkan bagi kami bertiga untuk makan katsudon bersama, akhirnya kami langsung pulang dari Taman Timur.

Aku sempat khawatir karena setelah mengantar Kureha pulang atas permintaan Nanase, dia terlihat sangat terpukul setelah insiden Asuka-nee dan Haru yang berturut-turut.

Begitu Kureha menyadari keberadaan kami, dia berteriak dengan suara yang sudah kembali ceria.

"Senpaaai! Yuua-saaan!"

Saat kami mendekat, dia melanjutkan dengan gembira.

"Apa kalian berdua mau pergi ke suatu tempat?"

Yuua yang menjawab.

"Iya, kami mau belanja kebutuhan harian dan bahan makanan. Terus aku mau menyiapkan lauk yang bisa disimpan di rumah Saku-kun."

"Wah, asyiknya! Anu……"

Kureha hendak mengatakan sesuatu, tapi kemudian terdiam dengan canggung. Lalu, dengan senyum yang dipaksakan ceria, dia melambaikan kedua tangannya.

"Maaf, lupakan! Bukan apa-apa!"

Mungkin dia ingin bertanya apakah dia boleh ikut. Tapi dia menahan diri karena teringat insiden Asuka-nee dan Haru. Sebenarnya dia pernah bilang ingin berkunjung ke rumahku, dan aku ingin sekali mengajaknya, tapi aku sendiri merasa agak sulit untuk mengatakannya.

Di saat aku sedang berpikir begitu, Yuua yang berada di sampingku angkat bicara.

"Kalau Kureha-chan mau, kamu mau ikut juga?"

Kureha bertanya balik dengan ragu-ragu.

"Eto, anu, apa... benar-benar boleh?"

Yuua menatapku seolah hal itu bukan masalah besar.

"Boleh, kan, Saku-kun?"

Aku tersenyum tipis.

"Aku sih tidak masalah."

"Kalau begitu," mata Kureha menyipit senang. "Begitu klub selesai, aku langsung meluncur ke sana! Kakak, tolong kirimkan alamatnya, ya!"

Yuua mengangguk lembut dengan senyuman hangat.

"Aku akan menunggu sampai kamu datang untuk menyiapkan makan malam."

"Sip," Nanase yang sedari tadi menyimak dalam diam mengangkat tangannya. "Kalau begitu, aku boleh ikut juga?"

Aku dan Yuua saling pandang lalu menjawab serempak.

""Tentu saja.""

Benar-benar jawaban yang spontan.

◆◇◆

Setelah selesai belanja dan masuk ke rumah Saku-kun, aku, Uchida Yuua, merapikan sepatu yang kulepas dengan teliti.

Aku pulang, bisikku pelan di dalam hati.

Aku membawa tas belanja di kedua tangan menuju dapur. Melihat kursi kecil milikku yang diletakkan manis di sana, tanpa sadar sudut bibirku terangkat. Ini pertama kalinya sejak hari itu, dan kursi itu masih ada di sana.

Tempat yang disiapkan Saku-kun untukku. Meski belum merapikan bahan makanan, aku tidak tahan untuk segera duduk sebentar di sana. Kursi ini tidak terlalu empuk, aku pun belum terlalu terbiasa duduk di atasnya, tapi...

Hatiku terasa sangat hangat.

Hari ini masak apa ya? Untuk besok? Untuk lusa?

Aku suka waktu yang kuhabiskan untuk memikirkan menu di ruangan ini. Rasanya seolah aku sedang menuliskan jadwal di dalam kalender milik Saku-kun.

Misalnya saja, saat kamu berkencan dengan Yuko-chan, pergi ke kafe dengan Yuzuki-chan, latihan dengan Haru-chan, atau mengobrol dengan Senior Asuka. Saat kamu pulang ke sini dan menyantap makananku, kamu pasti akan sedikit mengingatku.

Meski aku ingin menjadi sosok yang spesial, aku tidak ingin melepaskan keseharian biasa tempatmu pulang. Apalagi jika semua orang juga mencintai bulan September ini dengan cara yang sama. Sampai tiba harinya aku harus menghadapi masa depanku suatu saat nanti, tolong biarkan seperti ini sedikit lebih lama.

──Hal seperti ini sudah cukup, hal seperti inilah yang kuinginkan.

Melihatku yang tidak segera mulai merapikan barang seperti biasanya, Saku-kun tertawa kecil.

"Mau minum teh gandum?"

Aku mendadak malu dan segera berdiri. Sambil mengipasi wajah dengan tangan, aku menjawab.

"Maaf, aku bisa sendiri, kok."

"Begitu ya. Kalau begitu aku baca buku dulu. Panggil saja kalau butuh bantuan."

Saku-kun memutar musik di Tivoli Audio lalu menuju sofa seperti biasa. Lagu Kazoku no Fuukei dari Hanaregumi mulai mengalun dari pengeras suara. Benar-benar pemandangan rumah yang sangat kukenal.

Entah kenapa aku merasa lega, lalu mulai merapikan bahan makanan. Mana yang dipakai hari ini, mana yang dibekukan, mana yang dibagi untuk rumahku dan rumah ini. Aku membereskannya dengan cekatan seperti biasa.

Tiba-tiba Saku-kun angkat bicara.

"Yuua, boleh aku tanya sesuatu?"

"Iya."

"Apa pendapatmu tentang Kureha?"

Tumben sekali, pikirku sambil memiringkan kepala. Biasanya dia tidak pernah berkonsultasi padaku soal urusan hubungan manusia. Karena dia adalah tipe orang yang memutuskan sendiri siapa yang ingin dia dekati dan siapa yang tidak.

Aku berpikir sejenak sebelum menjawab.

"Pendapatku ya... aku rasa dia gadis junior yang jujur dan manis, tapi...?"

"Benar juga ya," kata Saku-kun. "Maaf, tanya yang aneh-aneh."

Apa dia sedang memikirkan sesuatu? Kalau dipikir-pikir, Saku-kun yang biasanya pasti akan langsung mengundang Kureha-chan tanpa ragu. Tadi aku yang mengatakannya sebagai ganti, tapi memang terasa agak tidak alami.

Apa dia masih ragu untuk bersikap baik pada perempuan? Kalau benar begitu, aku rasa dia tidak perlu terlalu waspada pada junior seperti Kureha-chan. Tapi bagaimanapun juga, aku tersenyum kecut. Sifat seperti itu pun sangat khas Saku-kun.

──Ton, ton, ton.

Aku mengiris timun secara miring untuk dijadikan acar sambil berkata.

"Maaf ya, minta tolong sebentar. Saku-kun bisa tolong gulungkan lengan kemejaku?"

Ini adalah ritual rutin yang selalu kulupakan, atau mungkin tanpa sadar aku sengaja ingin melupakannya.

"Oke."

Tanpa terlihat keberatan, Saku-kun menggulungkan lenganku dari belakang. Tiba-tiba, aromamu menyentuh indra penciumanku. Rasanya geli, sampai bahuku sedikit bergetar.

Saku-kun berkata dengan santai tepat di dekat telingaku.

"Yuua, minta timunnya satu potong."

Tubuhku sedikit tersentak, tapi aku menjawab sambil berusaha menyembunyikannya.

"Belum ada rasanya, lho?"

"Kasih mayones sama bubuk cabai sedikit, terus kasih kecap asin setetes."

"Iya, iya."

Churu, ton, ton, pota. Aku menaruh mayones, bubuk cabai, dan setetes kecap asin di atas irisan timun.

"Ini."

Aku mengambil timun itu dengan tangan kanan, lalu menyodorkannya ke arah telinga kirinya tanpa menoleh ke belakang.

──Hap.

Saat Saku-kun memakannya, bibirnya yang basah sedikit menyentuh ujung jariku.

──Kriuk, kriuk.

Tanpa tahu keguncangan hatiku yang sudah menjadi rahasia umum ini, suara dia mengunyah timun dengan santai mulai menjauh. Benar-benar deh, orang ini.

Sambil tersenyum tipis secara sembunyi-sembunyi, aku kembali memegang pisau dapur.

Akhirnya, setelah menghabiskan waktu sekitar dua jam, lauk simpanan pun selesai. Biasanya dia akan menyadari saat aku hampir selesai lalu datang membantu mencuci piring, tapi...

Saat aku menoleh ke arah sofa, Saku-kun sudah tertidur miring dengan nyaman sambil menjepit buku saku yang sedang dibacanya dengan jari. Cahaya matahari senja yang hangat masuk dari jendela, menyelimutinya layaknya selimut.

Aku mendekat ke sofa, berlutut dengan tenang, lalu memandangi wajah tidurnya. Dengan jari kelingking, aku menyisihkan poni yang menutupi matanya secara perlahan.

"Nn..."

Bibir Saku-kun bergerak sedikit seolah merasa geli. Padahal laki-laki, tapi bulu matanya sangat lentik dan panjang, memberikan bayangan tipis di wajahnya.

Hanya pada saat seperti inilah, pikirku. Celah yang tiba-tiba kamu perlihatkan, kamu yang selalu berusaha tampil keren dan sempurna.

Ke mana pun Saku-kun pergi, dengan siapa, dan bagaimana pun kamu menghabiskan waktumu.

Setidaknya, biarkan waktu di mana kamu bisa tidur siang dengan tenang sambil mendengarkan suara pisau dan panciku ini menjadi keistimewaan yang hanya diberikan padaku.

◆◇◆

Beberapa saat setelah pukul tujuh malam, Yuzuki-chan dan Kureha-chan tiba. Sepertinya mereka janjian setelah kegiatan klub selesai.

Yuzuki-chan mengangkat satu tangan di depan wajahnya dan meminta maaf.

"Maaf ya, aku datang dengan tangan kosong."

Saku-kun yang duduk di sofa menjawab.

"Bahan makanan sudah beli, minuman juga ada, jadi nggak apa-apa."

Kureha-chan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dengan penuh rasa ingin tahu.

"Jadi ini rumah Senpai! Aku agak terharu, nih."

Yuzuki-chan meletakkan tas enamel-nya dengan gerakan terbiasa lalu duduk di sofa. Saku-kun berkata pada Kureha-chan.

"Duduk saja senyamannya. Kalau haus, ambil saja minum di kulkas sesukamu."

"Siap! Terima kasih banyak!"

Aku melihat mereka berdua sambil tersenyum.

"Kalau begitu, aku mulai siapkan makan malam, ya."

Saat aku hendak memakai celemek yang tadi sempat kulepas...

"Anu, soal itu..."

Kureha-chan yang sudah meletakkan ranselnya berkata dengan sungkan.

"Yuua-san, apa kamu tidak lelah karena sudah memasak terus dari tadi?"

Aku memiringkan kepala karena tidak menangkap maksud perkataannya.

"Ini sudah biasa, kok. Jadi nggak apa-apa?"

Kureha-chan memainkan jari-jarinya di depan perut dengan gelisah sebelum mulai bicara.

"Anu, waktu kamp latihan kan aku sudah sering disuguhi masakan enak oleh Yuua-san. Bukannya mau balas budi, tapi..."

Ia mendongak dengan mantap.

"Bolehkah makan malam hari ini aku yang menyiapkannya untuk kalian semua?!"

Ia menatapku dengan mata yang lurus. Aku akhirnya mengerti kenapa sikapnya tadi terlihat sangat gelisah. Baik saat kamp latihan maupun hari ini, aku secara otomatis berniat untuk memasak, dan Saku-kun serta Yuzuki-chan pasti juga berpikir begitu. Makanya dia pasti merasa sulit untuk mengatakannya.

Aku tersenyum kecil dan bertanya.

"Kureha-chan, kamu sering memasak?"

Kureha-chan menggaruk pipinya dengan malu.

"Nggak sampai tingkat bisa sombong di depan Yuua-san, sih, tapi cuma sekadar hobi saja."

"Kemarin aku janji mau menyuguhkan pasta yang lebih serius, jadi hari ini aku sudah beli bahan untuk membuat Pescatore, sih..."

"Kalau sambil melihat resep, kurasa aku bisa membuatnya!"

Begitu ya, pikirku. Di antara menu pasta, itu termasuk menu yang agak merepotkan. Ternyata dia memang sangat suka memasak. Aku merasa tidak enak jika saat kamp latihan kemarin sebenarnya dia ingin memasak tapi jadi merasa sungkan karena aku.

Sesekali mencoba menjadi pihak yang menunggu makan malam juga bukan ide buruk. Lagipula, kalau nanti dia kesulitan, aku tinggal membantunya saja.

Saat aku melirik ke arah sofa, Saku-kun hanya mengangkat bahu kecil seolah menyerahkan keputusan padaku, sementara Yuzuki-chan entah kenapa sedang menatap Kureha-chan seolah sedang memikirkan sesuatu dengan dalam.

"Oke," aku mengangguk.

"Mau pakai celemekku?"

"Iya! Aku pinjam ya!"

Begitu kuserahkan celemeknya, Kureha-chan langsung memakainya dengan gerakan yang sangat mahir. Ia mengambil ikat rambut dan mengikat rambutnya dengan natural.

"Kakak, Yuua-san, bolehkah aku pakai sayuran yang sisa?"

Kami menjawab serempak.

"Boleh."

"Pakai saja."

Meski begitu, aku melihat Kureha-chan yang langsung mengambil kubis dengan perasaan heran. Rasanya aneh berada di rumah ini tanpa berdiri di dapur. Aku bingung harus duduk saja di sofa atau meja makan, atau tetap bersiap di dekatnya agar bisa membantu. Rasanya gelisah dan tidak tenang.

Kalau dipikir-pikir, sejak Ibu tidak ada, aku hampir tidak pernah punya kesempatan untuk menunggu masakan seseorang tanpa berdiri di dapur.

Saku-kun mendekat seolah ingin melihat kemampuannya. Ia mengeluarkan candaan khasnya untuk menggoda juniorku itu.

"Hoo? Aku ini pemilih soal irisan kubis, lho."

Aku menepuk punggungnya dengan gemas.

"Duh, jangan bilang begitu pada Kureha-chan juga."

Yah, pada akhirnya aku sendiri pun sama saja karena terus mengawasinya begini. Pasti rasanya sulit ya kalau dilihat oleh dua kakak kelas dari belakang.

Tapi, Kureha-chan sendiri menjawab dengan nada yang sama sekali tidak tertekan.

"Siap! Saya mengerti!"

Ia memotong bagian bonggol kubis yang tersisa sekitar seperempat bagian, lalu membelahnya menjadi dua di bagian tengah.

Lho, pikirku.

Sama seperti aku dulu, saat mengiris kubis ukuran seperempat bagian, kalau langsung dilakukan maka tingginya akan terlalu merepotkan. Membelahnya menjadi dua adalah gerakan dari seseorang yang sudah sangat terbiasa di dapur.

Kureha-chan langsung bersiap dengan pisaunya, dan...

──Ton-ton-ton-ton-ton.

Suara irisan yang sangat merdu terdengar terus-menerus. Irisan kubis yang sangat tipis layaknya kembang gula mulai menumpuk.

""Eh……?""

Suara keheranan keluar dari mulutku dan Saku-kun secara bersamaan. Kureha-chan berkata dengan nada jahil.

"Kakak dan Kak Yuua pasti tidak menyangka, ya?!"

Tanpa menunggu reaksi kami, dia melanjutkan.

"Di rumah, kedua orang tuaku bekerja dan pulangnya selalu malam. Jadi sejak dulu, aku yang paling sering bertugas menyiapkan makan malam."

Selesai mengiris kubis, Kureha-chan menoleh ke arah kami.

Ia mengulas senyum manis yang menggemaskan, lalu bertanya.

"Senpai,

Saku-kun menjawab seketika, seolah tidak perlu berpikir lagi.

"Aku menyerah. Seratus poin tanpa komplain."

──Jreg.

Entah kenapa, satu kalimat sepele itu menusuk hatiku begitu dalam. Sudah berapa kali aku mendapatkan nilai lulus dari Saku-kun?

Aku tahu membandingkan hal seperti itu tidak ada gunanya. Yuzuki-chan pun, meski butuh waktu berkali-kali lipat lebih lama, berhasil membuat Saku-kun puas pada percobaan kedua, dan saat itu aku tidak merasakan apa pun. Mungkin Kureha-chan kebetulan punya keluarga yang sangat suka irisan kubis.

Namun, seorang junior yang langsung memuaskan Saku-kun dalam sekali coba, dan aku yang butuh waktu lama. Meski aku tahu tidak ada gunanya bersaing soal keunggulan dalam hal sekecil ini, tetap saja.

──Deg.

Tiba-tiba, rasa takut yang tak terlukiskan membuncah. Selama ini, tidak ada gadis seusiaku yang lebih terbiasa memasak dibanding aku. Saku-kun memang bisa memasak sendiri, dan tentu saja aku tahu Yuzuki-chan punya dasar-dasarnya.

Tapi murni dari segi pengalaman, aku sudah memasak hampir setiap hari sejak SD. Bahan makanan dan menu yang pernah kutangani jauh lebih banyak. Masakan yang bisa dibuat cepat saat sibuk, trik mengurangi cucian piring, cara memanfaatkan bahan sisa...

Aku sempat mengira hanya akulah satu-satunya siswi SMA yang menguasai masakan yang begitu menyatu dengan kehidupan sehari-hari seperti itu.

Di depanku, Kureha-chan merendam kubis dalam air dan mulai merebus air di panci.

Meski begitu, aku tidak pernah membanggakannya di depan siapa pun. Lebih tepatnya, aku terpaksa mempelajarinya karena keadaan. Jika Ibuku masih ada, aku pasti tidak akan memasak sesering ini. Wajar saja jika aku lebih mahir dibanding anak-anak lain yang menjalani kehidupan sekolah normal. Lagipula, meski semua orang memuji, aku tidak pernah merasa diriku jenius dalam memasak.

Paling bagus disebut sederhana, paling buruk disebut membosankan. Yah, rasanya cuma seperti masakan rumah biasa.

Jadi, bukan "pintar", melainkan "terbiasa".

Hanya satu titik itulah yang membuatku bisa bangga pada diriku sendiri. Karena justru dengan masakan seperti inilah, tanpa perlu bersiap-siap atau bergaya, aku bisa secara alami mendampingi dan menopang kehidupanmu.

──Tapi, bagaimana jika itu bukan hanya aku?

Kureha-chan sepertinya sedang membuat sup konsome dengan sayuran seadanya. Karena pasta akan memakai dua tungku, dia berniat menyelesaikannya lebih dulu. Tanpa bertanya padaku, tanpa melihat resep, dia mengeluarkan udang, cumi, kerang asari yang sudah dibersihkan pasirnya, serta kerang hijau dari kulkas, lalu mulai melakukan pre-processing.

Membuang kotoran udang, mencabut serabut kerang, menyikatnya... Tiba-tiba dia menghentikan tangannya seolah baru menyadari sesuatu.

"Senpai, maaf. Bisa tolong gulungkan lengan kemejaku sebentar?"

Eh……?

Tunggu sebentar. Jangan. Berhenti. Biar aku saja yang melakukan itu.

Tanpa sadar, hatiku mulai menangis pedih. Karena itu adalah...

Saku-kun, yang selalu dimintai tolong hal serupa olehku, berdiri di belakang Kureha-chan tanpa ragu.

"Oke."

Lengan demi lengan digulungnya dengan gerakan mahir yang sangat terbiasa.

"Terima kasih!"

"Sama-sama."

Kureha-chan melanjutkan pekerjaannya tanpa terlihat malu sedikit pun.

Apakah barusan gadis junior itu merasakan aroma Saku-kun? Apakah punggungnya menyentuh kehangatan tubuhnya? Apakah telinganya dibelai oleh embusan napas yang menggelitik itu? Apakah suatu saat nanti, dia akan mulai mengingat momen-momen seperti itu kapan saja?

Jika di sisimu—aku terus berpikir. Jika selain aku, ada gadis lain yang juga terbiasa memasak?

Setelah selesai, Kureha-chan mencuci tangan lalu menghitung jumlah udang seolah baru mendapat ide. Ia mengangguk puas, lalu memanaskan wajan besi. Sambil menunggu wajan panas, ia mengupas kulit empat ekor udang dan membuang kepalanya.

Dalam mangkuk kecil, ia mencampur minyak zaitun, bawang putih pasta, sake, air lemon, garam, dan merica. Ia memasukkan udang ke sana dan mengaduknya dengan lincah. Begitu asap putih keluar dari wajan besi, ia menuangkan minyak zaitun dari mangkuk dan menggoyangnya ringan. Saat empat ekor udang itu dijajarkan, aroma yang menggugah selera langsung menyeruak.

Setelah didiamkan sebentar, ia membaliknya untuk mematangkan sisi satunya. Begitu matang sempurna, ia menaburkan peterseli kering sebagai penyelesaian.

"Karena udangnya agak banyak, ini camilan garlic shrimp bohongan! Sebenarnya bakal lebih enak kalau direndam lebih lama, sih."

Ia mengambil satu ekor udang yang sudah matang, lalu melambai kecil.

"Senpai, silakan dicoba satu."

Saku-kun mendekat begitu saja sesuai ajakan. Kureha-chan meniup-niup udang itu agar dingin, lalu...

"Aaan."

Ia menyodorkan udang itu layaknya hal yang wajar.

Saku-kun mengerutkan dahi dengan bingung.

"Nggak usah, aku bisa ambil sendiri. Kamu makan saja, Kureha."

Mendengar jawaban itu, ada bagian dari diriku yang merasa lega. Timun yang kusodorkan tadi dimakannya tanpa sungkan, tapi pada Kureha-chan berbeda. Aku mulai sedikit membenci diriku sendiri karena merasa tenang atas hal semacam itu.

Kureha-chan tidak menyerah.

"Nggak boleh. Aaan."

"Duh," Saku-kun menggaruk kepalanya. Entah karena menyerah atau menerima Kureha-chan, dia akhirnya melahap udang itu. Setelah mengunyah dan memastikan rasanya, dia bergumam pelan.

"Hmm, lumayan enak."

Gadis itu, pikirku.

──Apakah tadi dia menyentuh bibirnya?

Deg, deg, deg, deg.

Di tengah tubuh yang tidak bisa digerakkan seujung jari pun, hanya jantungku yang berdegup kencang. Kureha-chan berdiri di dapur. Memasak makanan rumah yang biasa untuk Saku-kun.

Pemandangan rumah ini yang terasa begitu asing di mataku.

Kureha-chan menaruh sisa udang di piring kecil lalu menghampiriku. Ia mengambil satu, dan menyodorkannya padaku persis seperti yang dilakukannya pada Saku-kun.

"Ini, Yuua-san juga, aaan."

Tanpa tahu apakah aku bisa tersenyum dengan benar atau tidak, aku memakan udang itu. Sambil mengunyah pelan, setiap kunyahan membuat hatiku semakin sesak. Masakan yang tidak butuh banyak tenaga, diselesaikan cepat dengan bahan dan bumbu yang ada di depan mata; rasa masakan rumah yang sederhana dan menenangkan.

Begitu ya. Sekarang, bukan hanya aku lagi.

"Iya, enak sekali ya."

Bahwa yang bisa memasakkan makanan seperti ini untukmu, bukan hanya aku...

Kureha-chan kemudian menghampiri Yuzuki-chan, dan terakhir memakan bagiannya sendiri sebelum mencuci wajan dengan cepat. Saku-kun angkat bicara dengan santai.

"Kamu cekatan juga ya. Aku saja payah sekali sampai diajari Yuua."

Jangan. Jangan katakan itu. Meski aku tahu kamu tidak bermaksud jahat, itu terdengar seolah Kureha-chan bisa menggantikan peranku. Aku tersadar bahwa entah diucapkan atau tidak, itu adalah sebuah kenyataan.

Kureha-chan menaruh panci pasta di wastafel dan menyalakan air dengan deras.

Syuuu— suara itu seolah sedang membilas masa lalu.

"Kalau begitu, saat Yuua-san sedang sibuk, biar aku saja yang memasak untukmu?"

Akhirnya, dia mengutarakan hal yang paling kutakutkan.

Deg, deg-deg-deg, jreg──.

"Mana mungkin aku meminta hal memalukan seperti itu pada junior. Begini-begini aku juga bisa masak sendiri, tahu."

Tidak apa-apa, Saku-kun menolaknya dengan benar.

"Yah, sayang sekali."

Tidak apa-apa, Kureha-chan juga langsung menyerah dengan santai.

Tidak apa-apa.

Namun, jantungku tidak mau berhenti berdegup kencang. Karena barusan itu bukanlah sebuah janji. Itu hanyalah obrolan singkat yang lewat dalam sekejap, yang tidak ada alasan untuk diprotes jika dilupakan atau dilanggar.

Apakah ini pertama dan terakhir kalinya Kureha-chan memasak di sini? Junior yang polos itu, gadis yang sangat menempel pada Saku-kun itu, bukankah dia akan mulai datang bermain tanpa sungkan dengan suasana seperti hari ini?

Jika ada aku, dia mungkin akan mengalah.

Tapi bagaimana jika mereka hanya berdua?

Jika dia lupa soal percakapan hari ini dan dengan semangat membawa bahan makanan untuk makan malam, Saku-kun pasti akan sulit menolak.

Bukan. Aku masih mencoba memalingkan wajah. Bukan "sulit menolak", tapi "tidak ada alasan untuk menolak".

Berharap agar dia hanya memakan masakanku dan jangan memakan masakan Kureha-chan adalah keegoisan yang paling menjijikkan.

Lagipula, percakapan tadi hanya menolak untuk datang memasak secara rutin, bukan berarti tidak boleh jika sesekali.

Dengan begitu, perlahan-lahan kamu akan────.

Mulai mengingat rasa masakan rumah dari orang lain selain aku?

Aku benci ini. Sambil menatap Kureha-chan yang menaruh panci pasta di atas api, aku meremas dadaku kuat-kuat.

Kamu akan mulai terbiasa dengan suara pisau dan ritme orang lain selain aku?

Saat memakan masakanku, apa kamu akan teringat pada masakannya?

Apakah suatu saat itu akan menjadi pemandangan sehari-hari?

Apakah itu akan menjadi waktu di mana kamu bisa tidur dengan tenang?

Apakah Kureha-chan akan menyadari kondisi Saku-kun yang seperti itu, lalu mendekat, berlutut, dan sambil menyisihkan poni secara perlahan, dia akan tersenyum menatap wajah tidurmu?

Aku tidak mau! Aku menggigit bibirku sampai rasanya hampir berdarah.

──Karena itu adalah keseharian biasa yang istimewa yang hanya diizinkan untukku.

Kureha-chan yang sedang memastikan kondisi sup memiringkan kepalanya sedikit. Mungkin sayurannya belum matang sempurna, dia sepertinya akan merebusnya sedikit lebih lama.

Sadar-sadar, semua persiapan lain sudah selesai. Kompor gas ada dua tungku, sekarang keduanya terpakai untuk sup dan panci pasta.

Kureha-chan mengedarkan pandangan ke sekeliling, lalu matanya terpaku pada satu titik. Di ujung pandangannya, ada kursi milikku yang dihadiahkan oleh Saku-kun. Kursi itu sangat pas untuk menunggu sup matang.

Dengan langkah ringan, Kureha-chan menghampirinya tanpa dosa.

──Deg, deg-deg-deg-deg-deg-deg.

Detak jantungku yang tidak beraturan semakin membesar.

"……Jangan."

Aku menggumamkan kata yang nyaris tak terdengar. Kureha-chan menyentuh kursi itu dan menariknya. Di sudut pandanganku yang buram, Saku-kun tampak panik dan hendak mengatakan sesuatu, tapi sebelum dia sempat...

"JANGAN DUDUK DI SITU!!!!!!!!"

Aku meneriakkan kata-kata itu dengan seluruh sisa tenagaku.

Keheningan yang pilu pun tercipta.

Seketika, butiran air mata besar jatuh dari mata Kureha-chan.

Waktu seolah berhenti.

Aku tidak bisa langsung menerima kenyataan atas apa yang baru saja kulakukan. Saku-kun menunduk dengan wajah penuh penyesalan. Yuzuki-chan yang berada di sofa pun tidak mengeluarkan suara. Hanya Kureha-chan seorang diri yang...

"Ba-bawang bombay yang kumasukkan ke sup tadi baru sekarang terasa perih di mata."

Ia memaksakan diri untuk tersenyum ceria sambil berpura-pura tegar.

Pada detik itu────.

Seluruh tubuhku seolah ditelan oleh rasa bersalah yang tak terlukiskan.

Kureha-chan mengusap air matanya dengan santai, namun tetap berbicara dengan suara yang riang.

"Jangan-jangan, tadi itu kursi milik Yuua-san? Kalau benar begitu, aku minta maaf sekali karena sudah lancang!"

Saku-kun tersentak, lalu secara harfiah berdiri di antara kami.

"Maaf, ini salahku! Karena aku berpikir hari ini tentu saja Yuua yang akan memasak, jadi..."

Kata-kata mereka berdua yang mati-matian mencemaskanku justru membuatku semakin terpojok. Perlahan, area mataku terasa hangat. Pandanganku mengabur, aku tidak bisa melihatmu, aku tidak bisa melihat kursiku.

Meski begitu, aku memejamkan mata erat-erat.

Menumpahkan air mata di sini, saat ini, adalah hal yang mutlak salah.

Aku membelakangi Saku-kun dan Kureha-chan, lalu mengucek mataku dengan kasar. Aku menyambar tasku dan berlari menuju pintu depan.

"Yuua!"

"Yuua-san!"

Jangan panggil aku, jangan tahan aku. Ini hanya aku yang terluka karena egoku sendiri. Aku memakai sepatu, menunduk dalam-dalam seolah memalingkan wajah dari semua orang, lalu...

"Maaf, hari ini aku pulang duluan. Kureha-chan, tolong siapkan makan malam Saku-kun dengan baik, ya."

Sambil berpura-pura meminta maaf meski kata-kata itu terdengar seperti sindiran tajam, aku pun berlari keluar dari rumah yang seharusnya sudah bisa kusebut sebagai tempatku pulang.

Aku menuruni tangga seolah sedang terjatuh, sambil mengusap air mata yang tumpah deras dengan kasar.

Kenapa, kenapa, padahal────.

Gubrak, gubrak, gubrak. Suara langkah kakiku terdengar kasar, seolah itu bukan milikku. Aku menghentak tangga seolah sedang membalas dendam.

Aku yang kotor. Aku yang menjijikkan.

Mungkin itulah sebabnya aku kualat. Ujung sepatuku tersangkut di anak tangga kedua dari bawah, dan aku pun terjatuh begitu saja. Lututku tergores tanah, telapak tanganku menghantam lantai dengan keras. Rasa sakit yang membara menjalar di sekujur tubuh.

Perih sekali, rasanya diriku sedang merembes keluar.

Tanpa sadar aku sudah menjadi sombong.

Padahal aku hanya bisa memasak masakan biasa, tapi aku merasa seolah hanya akulah yang bisa memasak untuk Saku-kun, aku berhalusinasi bahwa di sinilah tempatku berada.

Padahal semua itu goyah begitu mudah hanya karena kehadiran Kureha-chan.

"Hik... eho..."

Aku terisak berulang kali, mencari udara yang terus terbuang meski aku sudah menghirupnya dalam-dalam.




Aku terus memeluk tubuhku sendiri dengan kedua tangan yang gemetar.

Pada akhirnya, aku masih saja bergantung pada kata "biasa".

Jika keseharian yang tenang ini terus berlanjut, aku tidak akan menyakiti siapa pun, dan tidak akan disakiti oleh siapa pun.

Aku terlalu takut untuk menghadapi cinta, aku tidak bisa menjadi seperti sahabatku itu.

Meski aku tidak punya keberanian untuk melangkah maupun tekad untuk kehilangan, aku hanya terus menetap di sana sambil menerima kebaikanmu dengan seenaknya.

──Padahal hal "biasa" yang kuinginkan, tidak akan pernah kudapatkan kecuali aku menjadi sosok yang "istimewa" bagimu.

◆◇◆

Begitulah, keesokan harinya sepulang sekolah tiba.

Aku, Nanase Yuzuki, mengenakan seragam dan berjalan menuju loker sepatu.

Kemarin setelah kejadian itu, aku mengambil alih tugas memasak pasta menggantikan juniorku yang terguncang.

Kami bertiga makan dalam diam, lalu aku mengantar Kureha pulang ke rumahnya.

Tengah malam, pesan permintaan maaf yang sangat panjang masuk ke LINE-ku dari Ucchi.

Aku yakin dia menulis pesan yang jauh lebih panjang untuk Chitose dan Kureha. Bisa jadi Chitose bahkan langsung meneleponnya balik.

Di kelas tadi pagi, meski tidak bisa dibilang seolah tidak terjadi apa-apa, Ucchi tetap bersikap seperti biasa kepadaku maupun Chitose.

Lalu, sebagai tanda permintaan maaf, dia memberikan bekal buatan tangan kepada kami. Dia bilang, jika kami sudah membawa bekal sendiri, makanlah ini setelah kegiatan klub.

Porsi untuk Chitose, aku, dan juga Kureha.

Dia pasti bangun sangat pagi untuk menyiapkannya. Atau mungkin, dia tidak bisa tidur sama sekali.

Waktu makan siang tadi, sepertinya dia juga pergi ke kelas anak kelas satu untuk mengantarkannya.

Aku terkejut melihat Ucchi yang biasanya selalu tenang dan lembut bisa meledakkan emosinya seperti itu. Begitu besarnya dia menghargai tempat itu, rumah itu, sebagai miliknya.

Justru karena aku bisa memahami perasaannya sampai tahap yang menyakitkan, rasanya terasa sangat perih, menyedihkan, dan menyesakkan.

Meski begitu, pikirku. Meski sulit mengatakannya secara langsung karena aku bukan pasangannya, tetap saja Ucchi yang salah kemarin.

Kureha sudah meminta izin dengan sopan, dan Chitose juga sudah menyerahkan keputusan padanya.

Pata, pata, pata. Area loker sepatu semakin dekat.

Akhir-akhir ini, ada sesuatu yang tidak sinkron di antara kami semua. Rasanya seperti ada ketidakcocokan, seolah kami semua sedang mengembara di dalam mimpi di siang bolong.

Mungkin saja, pikirku. Mungkin September sedang menggoda kami.

Kami yang terhenti di antara musim panas dan musim gugur. Kami yang sedang berusaha menghadapi cinta secara perlahan.

Begitu melihat bayangan seseorang yang bersandar di rak sepatu seperti dugaanku, aku tersenyum tipis.

Dan di dalam bulan September kami, selalu saja...

"Ah, Yuzuki-san!"

Ada seorang gadis junior yang cantik di sana.

Kepada Kureha yang berlari menghampiri dengan wajah polos, aku berucap.

"Chitose sudah pulang, dia juga tidak akan pergi ke kafe di depan stasiun."

"Eh……?"

Tadi malam saat mengantar Kureha, aku mengucapkan satu kebohongan kecil. Bahwa hari ini, aku dan Chitose akan mengadakan rapat tim pemandu sorak di kafe depan stasiun.

Aku melakukannya karena merasa anak ini pasti akan muncul jika kubilang begitu. Tentu saja, sebenarnya tidak ada janji seperti itu.

Hari ini adalah hari di mana Todo bilang akan menunjukkan wajahnya, dan aku sudah memberi tahu Haru kalau aku mungkin akan sedikit terlambat, tapi setelah ini aku akan pergi ke klub.

Soal Chitose, aku sudah memintanya melakukan urusan sepele dan mengusirnya dari sekolah lebih awal. Kureha memasang senyum polos.

"Sayang sekali, padahal aku berniat ikut mengganggu kalian."

Sifat yang seperti inilah, pikirku. Chitose, dan semuanya pun pasti────.

"Kureha, ada yang ingin kubicarakan, bisa bicara sebentar?"

"Iya! Dengan senang hati!"

Lalu kami berbalik dan menaiki tangga gedung sekolah.

◆◇◆

Aku keluar ke atap sekolah menggunakan kunci yang sudah kupinjam sebelumnya dari Chitose. Langit di sekitar sini sangat biru dan jernih layaknya musim panas, namun di ufuk barat, awan gelap mulai menggantung mendung.

Mungkin hujan sore akan segera turun. Hujan yang akan mengubah musim. Sedikit demi sedikit, secara pasti, kita sedang menuju musim gugur. Namun sebelum itu, aku menyipitkan mata dengan penuh tekad.

──Kita perlu menyelesaikan urusan di bulan September ini.

Sambil memegang pagar pembatas, Kureha yang tampak menikmati pemandangan dengan santai membuka suara.

"Ternyata kita bisa keluar ke atap, ya."

Aku menjawab sambil berdiri di sampingnya.

"Chitose punya kunci cadangannya."

Aku berdiri membelakangi arah yang dilihat juniorku, menyandarkan punggung pada pagar.

"Apa Yuzuki-san dan yang lainnya sering ke sini?"

"Sesekali. Chitose atau Senior Nishino sepertinya sering ke sini."

"Begitu ya! Aku juga ingin makan di sini bersama semuanya."

"Kalau kamu, Chitose pasti akan meminjamkan kuncinya dengan biasa jika kamu minta."

"Bukan itu maksudku! Aku ingin makan bersama Kakak Senior dan semuanya."

Tanpa saling menatap, kami merangkai percakapan yang tidak berarti. Itu adalah pemandangan sepulang sekolah yang sangat tenang. Jika hanya mengambil bagian ini saja, ini adalah waktu rahasia antara senior dan junior. Satu halaman masa muda yang suatu saat akan diingat kembali.

Meski begitu, aku berucap layaknya menarik pedang dari sarungnya.

"──Sekarang giliran aku, begitu?"

Kureha menoleh ke arahku dan memiringkan kepalanya dengan bingung.

"Apa maksudnya?"

Meski itu adalah pertanyaan yang tiba-tiba, ekspresi dan nada suaranya tetap sangat tenang. Mungkin dia memang sudah memantapkan hatinya sejak lama. Aku melanjutkan pembicaraan sambil menjajaki sikap lawan bicara.

"Sayangnya, aku tidak akan merasa terluka hanya karena kamu membawa Kureha ke kafe kenangan kami."

Senior Nishino di pinggir sungai, Haru di Taman Timur. Awalnya aku pikir itu hanyalah kesalahpahaman yang malang.

Namun saat Kureha membuat janji untuk pergi ke rumah si bodoh itu di depanku, sedikit rasa curiga muncul dalam diriku. Alarm peringatan kecil berbunyi di kepalaku, dan aku pun menawarkan diri untuk ikut.

Hasilnya sesuai dugaan. Bahkan Ucchi pun berakhir terluka gara-gara gadis junior ini. Jika hal seperti ini terus berlanjut secara beruntun, wajar jika aku menaruh curiga.

Namun sejujurnya, sampai batas terakhir pun aku tidak bisa memastikannya. Sambil merasa bersalah kepada Chitose dan Ucchi, aku tidak mencoba masuk untuk menengahi, melainkan mengamati keadaan dengan tenang sebagai pengamat.

Tetap saja, bahkan aku, Nanase Yuzuki, tidak sanggup melihat niat asli Kureha. Bahkan jika mempertimbangkan fakta bahwa dia pergi berdua dengan Chitose saat fajar di kamp latihan, semuanya masih abu-abu dan tidak jelas.

Apakah dia benar-benar junior yang hanya polos, atau dia punya niat lain yang tersembunyi. Karena itulah aku menyebarkan kebohongan kecil ini. Sambil menetapkan hati, jika dia terpancing maka dia bersalah.

Aku menatap Kureha di depanku seolah sedang mengintimidasi. Jawaban dari pertanyaanku sudah ditemukan.

Anak ini dengan sengaja menginjak-injak tempat kami berada.

Aku melangkah maju mendekatinya dan berucap.

"──Kamu, sebenarnya apa yang kamu inginkan dari kami?"

Kureha menunjukkan sedikit keraguan di matanya selama sepersekian detik, lalu...

"Kami, ya?"

Ujung bibirnya terangkat dengan suara yang sangat dewasa sampai terasa mengerikan, seolah dia sudah tidak bisa menahannya lagi. Dia melangkah mundur menjauh sesuai jarak aku mendekat, lalu berbalik menghadapku.

"Fakta bahwa kamu tidak bisa menyebut 'Chitose' secara spesifik di sana, menurutku adalah bukti jarak antara Yuzuki-san dan yang lainnya dengan Yuko-san saat ini."

Ia menyipitkan mata dengan penuh pesona seolah sedang memprovokasiku.

──Jreg.

Entah kenapa, satu kalimat itu seolah menyayat tipis perutku. Padahal aku sudah memantapkan hati untuk menghadapinya secara langsung, tapi dengan mudahnya aku terkena tebasan pertama.

Tanpa memedulikan reaksiku, Kureha menautkan jari di belakang kepalanya.

"Aa-ah, ternyata Yuzuki-san ya yang menyadarinya pertama kali."

Lalu dia menatapku dengan senyum tipis.

"Tapi, ternyata kamu lebih dangkal dari dugaanku."

"Heh," balasku sambil mencoba menenangkan diri. "Jadi ini sifat aslimu?"

Kureha membelalakkan mata dengan kaget, lalu bahunya berguncang karena tertawa geli.

"Duh, jangan bilang hal yang kejam padahal kamu sendiri yang memulainya. Aku ini juga anak klub olahraga, lho. Tantangan yang sudah diberikan akan kuterima dengan hormat."

Yah, itu ada benarnya juga. Memang aku yang memulainya lebih dulu. Tidak ada alasan bagiku untuk mencari-cari kesalahannya hanya karena dia membalas perkataanku.

"Aku tanya sekali lagi ya," Kureha menatapku lurus-lurus. "Sebenarnya ini pembicaraan tentang apa?"

"Karena itulah kami..." ucapanku terhenti. Pembicaraan tentang apa ini sebenarnya?

Menyadari tidak ada jawaban, Kureha melanjutkan.

"Jika pertanyaan tadi adalah segalanya, maka akan kujawab. Aku sama sekali tidak berniat melakukan apa pun pada kalian semua."

Hal yang ingin kuketahui adalah apakah ada niat lain, dan jawaban itu sudah keluar. Setidaknya aku tahu dia bukan sekadar junior yang polos. Lalu setelah itu, kata-kata seperti apa yang ingin kurangkai?

Kureha berkata dengan nada yang terdengar sedikit bosan.

"Jika kamu bermaksud melarangku mendekati Chitose lebih jauh, aku mengerti arah pembicaraannya, terlepas dari apakah aku akan menerimanya atau tidak. Tapi, apa Yuzuki-san punya hak untuk itu?"

……Tidak, tidak ada.

Karena aku bukan keluarga Chitose, apalagi kekasihnya. Hal itu sudah sangat jelas sejak awal. Tidak perlu diperjelas oleh junior ini. Meski begitu, aku mengerutkan kening.

Jika Senior Nishino, Haru, dan Ucchi terluka, dia juga akan terluka. Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi begitu saja. Saat aku memelototi Kureha dan bersiap membalasnya...

"Jika kamu berniat memanfaatkan kebaikannya, aku tidak akan tinggal diam."

"Apa Yuzuki-san pantas mengatakan itu?"

Pedangku ditepis dengan mudah seolah aku adalah lawan yang ringan.

"Yuzuki-san, kamu kan meminta Kakak Senior berpura-pura menjadi kekasihmu karena diganggu orang yang merepotkan. Kamu melakukannya karena tahu dia tidak akan menolak jika dimintai tolong. Secara normal itu berbahaya, lho. Bagaimana jika kebencian penguntit itu malah berbalik mengarah ke Kakak Senior?"

Kureha menghela napas panjang seolah merasa jengah.

"Bukankah itu jauh lebih buruk daripada apa yang kulakukan?"

──Jreg.

Rasanya seperti ditebas secara diagonal tepat dari depan. Itu adalah kebenaran telak yang tidak bisa kuelakkan. Orang yang paling memanfaatkan kebaikannya adalah aku. Seolah ingin memberikan serangan penutup, Kureha melanjutkan.

"Senior Asukaze, Haru-san, bahkan Yuua-san. Di antara kalian semua, apakah ada orang yang tidak memanjakan diri dalam kebaikan Kakak Senior?"

Lalu ia menunjukkan senyuman manis yang memabukkan seolah ingin menyesatkanku.

"Jangan hanya mengucilkanku seorang diri, dong."

Apa yang dikatakan anak ini benar belaka. Terlepas dari seberapa banyak Kureha tahu, Senior Nishino yang ditemani saat pergi ke Tokyo, Haru yang didukung saat hubungan dengan rekan timnya memburuk, bahkan Ucchi pun aku tahu pasti pernah diselamatkan dalam bentuk tertentu di masa lalu.

Tentu saja, sama seperti diriku sendiri, pasti ada banyak momen lain yang tidak terlihat oleh orang-orang di sekitar. Kami semua telah bergantung pada kebaikan Chitose Saku.

Aku menggigit bibir bawahku sedikit, lalu menatap mata juniorku.

"Kenapa kamu mendekati Chitose?"

Kureha menjawab tanpa keraguan sedikit pun.

"Itu sudah jelas, karena aku sangat mencintai Kakak Senior!"

Ia tertawa lebar dengan ceria. Sudah kuduga, pikirku sambil mengernyitkan dahi. Aku sudah menduganya secara samar. Aku berucap seolah sedang memberikan tanda centang kasar pada lembar jawabanku.

"Sudah sejak sebelum masuk tim pemandu sorak, kan?"

"Hee?" Ekspresi Kureha akhirnya terlihat terkejut. "Kenapa kamu berpikir begitu?"

Aku menjawabnya seolah itu bukan hal penting.

"Sejak awal sudah ada kejanggalan. Kamu memanggil kami dengan imbuhan '-san', tapi hanya kepada Chitose kamu bersikeras memanggilnya 'Senpai'. Orang seperti itu tidak mungkin tidak spesial bagimu."

Aku menjeda kalimatku sejenak dan menghela napas pendek.

"Lagipula ada contoh terdekat, kan."

Kureha langsung mengerti dan bertepuk tangan pelan.

"Ah, Senior Asukaze……!"

Ia melanjutkan sambil menggoyangkan bahunya seolah merasa geli.

"Aku sadar kalau aku terlihat sangat kentara, tapi khusus untuk hal ini aku tidak mau mengalah. Lagipula..." Kureha membelai pipinya dengan tatapan menerawang.

"Bisa memanggil Kakak Senior dengan sebutan 'Senpai' adalah hak istimewa seorang junior, bukan?"

Melihat matanya yang sayu dan menggoda, aku yang sesama perempuan pun tanpa sadar terpesona. Kenapa aku tidak menyadarinya? Sosok di depanku bukanlah junior yang polos, melainkan seorang wanita yang sedang jatuh cinta dengan aura menggoda yang membuat bulu kuduk berdiri.

Aku menguatkan diriku dan bertanya.

"Boleh aku tanya sesuatu?"

Kureha tiba-tiba kembali ke ekspresi polosnya.

"Iya! Dengan senang hati!"

"Kenapa kamu bisa jatuh cinta pada Chitose?"

Mungkin itu hanyalah rasa penasaran murni. Jika di tempat yang tidak kami ketahui si bodoh itu pernah menjadi "Pahlawan" Chitose Saku bagi anak ini, aku merasa mungkin bisa sedikit memahami perasaan Kureha.

Namun gadis junior itu tersenyum licik dan menjilat bibirnya sedikit sebelum berkata...

"──Hanya cinta pada pandangan pertama, kok. Memangnya kenapa?"

Untuk ketiga kalinya, dia memotongku dengan telak. Tatapannya yang lurus membuatku nyaris merasa terintimidasi.

Dia kuat, pikirku, dan entah kenapa dadaku terasa sesak. Padahal dulu aku juga punya perasaan yang bisa kubanggakan sehebat itu. Sejak kapan panas itu berubah menjadi kehangatan yang tenang? Namun aku tidak bisa mundur.

"Kalau begitu, kenapa menggunakan cara yang begitu berputar-putar?"

Bahkan Chitose dan aku pun tidak menyadarinya. Kureha terus konsisten bersikap sebagai seorang junior. Padahal dengan melakukan hal itu, meski dia bisa menjadi akrab, dia tidak akan bisa membuat pria yang disukainya menyadarinya sebagai seorang wanita.

"Padahal sebenarnya kamu tahu, ternyata Yuzuki-san ini jahil juga ya."

Kureha mulai berjalan perlahan sambil menelusuri pagar pembatas atap.

"Yuko-san, Yuua-san, Yuzuki-san, Haru-san, dan Senior Asukaze. Siapa pun yang melihat pasti tahu kalau saat ini tidak ada ruang bagi gadis lain untuk masuk ke kehidupan Kakak Senior."

Ia menoleh ke arahku yang berdiri di sampingnya dan tersenyum manis.

"Justru karena itulah, pertama-tama aku perlu menjadi junior yang polos. Kalau begitu, Kakak Senior pasti akan mengizinkanku masuk ke dalam lingkarannya, kan?"

Begitu ya, pikirku sambil menggigit bibir.

"Jangan marahi Kakak Senior, ya. Saat ini dia masih menganggapku hanya sebagai junior saja. Makanya dia tidak bisa menarik garis pembatas yang biasanya dia lakukan kepada wanita lain."

"Jangan meremehkanku, aku sudah tahu sejauh itu."

Mengingat betapa rumitnya pria itu. Meski aku sendiri yang mengatakannya, memang benar jika ada orang lain selain kami yang mendekatinya saat ini, mereka pasti akan langsung ditolak mentah-mentah.

Namun untuk niat baik yang polos dari seorang junior yang tidak dia anggap sebagai wanita—dan juga tidak dianggap sebagai pria—Chitose Saku akan menerimanya tanpa syarat. Dalam artian itu, jika ingin mendekatinya saat ini, pilihan Kureha mungkin adalah jawaban yang paling mendekati kebenaran yang bisa terpikirkan.

Dia setingkat di atas kami, pikirku sambil melirik wajah juniorku dari samping. Sambil menahan diri agar tidak mendecitkan lidah, aku tidak bisa tinggal diam. Aku menyalurkan kemarahan dingin yang perlahan membuncah ke dalam kata-kata.

"Jadi dengan begitu, kamu berhasil menginjak-injak tempat kami dengan wajah polosmu itu."

Kureha menatapku dengan wajah heran, lalu mengeluarkan suara khas seorang junior.

"Tunggu dulu! Jangan bicara seolah aku ini orang jahat, dong!"

Ia menghentikan langkahnya dan menatapku dengan pandangan serius.

"Yuzuki-san, apakah aku melakukan sesuatu yang curang?"

"Itu……" aku kehilangan kata-kata.

"Mencalonkan diri menjadi partner Kakak Senior, latihan dansa berpasangan di pinggir sungai, bermain lempar tangkap bola yang menyenangkan di taman, memasak di rumahnya..."

Kureha menatap mataku dengan tajam dan mengulanginya sekali lagi.

"Apakah ada satu pun dari hal-hal itu yang kusebut sebagai kecurangan?"

……Tidak, tidak ada. Karena itulah aku juga tidak bisa menilainya sedari tadi. Bahkan jika dia mendekat dengan berpura-pura menjadi junior yang polos, itu sama sekali bukan hal yang salah. Karena tidak ada aturan yang melarang seseorang menyembunyikan perasaan cintanya.

"Hei, Yuzuki-san?" ucap Kureha dengan suara yang seolah bisa menembus hatiku.

"Kalian semua benar-benar baik dan sangat rukun ya," lanjutnya sambil terkekeh seolah sedang mengejek.

"Jika Yuzuki-san juga ingin berdansa dengan Kakak Senior, harusnya kamu bilang saja. Jika ingin duduk di pinggir sungai itu, duduk saja. Begitu juga dengan lempar tangkap bola, maupun memasak..."

Meski begitu, Kureha menyipitkan mata seolah sedang memberikan vonis.

"Tapi kalian tidak melakukannya, kan? Karena kalian orang baik, dan kalian sangat rukun."

──Jreg.

Tiba-tiba detak jantung di dada kiriku membesar. Rasanya dadaku sesak, seolah bagian vitalku baru saja ditikam dengan sangat tepat. Aku berusaha menutupinya dengan mengeluarkan suara yang kaku.

"Apa kamu mau bilang kalau hubungan kami ini lembek?"

Kureha menggeleng pelan.

"Mana mungkin. Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku rasa hubungan kalian sangat indah. Berkilauan, cantik, terasa hangat, dan sangat menyilaukan. Kalian mungkin tidak percaya, tapi kekagumanku pada kalian semua itu jujur. Selama ini aku hanya bisa melihat kalian dengan rasa iri dari luar. Aku tidak bermaksud menyakiti Senior Nishino, Haru-san, maupun Yuua-san dengan sengaja. Air mata yang tumpah itu asli. Aku merasa pedih dan sedih saat menyadari aku telah menginjak-injak tempat tinggal orang-orang yang kusayangi."

Secara mengejutkan, kata-katanya terdengar jujur tanpa ada maksud tersembunyi. Memang percuma menutup-nutupinya sekarang, tapi yang terpenting adalah ekspresi Kureha yang tampak benar-benar iri, menderita, dan sedih saat mengatakannya. Namun, juniorku itu kembali membuka mulut layaknya menghunuskan pedang.

"Tapi, itu kan cuma anggapan kalian sendiri saja, kan?"

Sesuai dugaanku, kata-kata selanjutnya adalah...

"──Padahal kalian bukan kekasihnya, tapi kalian merasa tempat itu adalah milik kalian."

Kata-kata itu menyayat dadaku dengan telak.

Deg, deg, deg, deg. Suara jantungku sangat berisik. Tenanglah, diamlah, tunduklah. Saat aku mengatur napas untuk menenangkan diri, kata-katanya berlanjut.

"Bahkan untuk Yuzuki-san, hal itu pun masih belum jelas."

Ah, Kureha akan mengatakan sesuatu yang fatal.

"Yuko-san adalah sosok yang pantas bersanding di samping Kakak Senior. Yuua-san punya makanan sehari-hari di rumah itu. Haru-san punya ikatan melalui olahraga. Dan Senior Asukaze, siapa pun bisa melihat kalau dia adalah orang yang dikagumi."

Seolah-olah dia sedang menelanjangi kelemahanku yang selama ini kucoba abaikan.

"Lalu, di mana tempat bagi Yuzuki-san?"

──JREG.

"Selain karena diselamatkan oleh Kakak Senior, ikatan seperti apa yang kamu miliki dengannya?"

“——”

Akhirnya keguncanganku tumpah dan tak terbendung lagi. Dia melihat tembus segalanya. Bahkan oleh junior yang baru mengenalku sebentar, aku bisa terbaca dengan semudah ini.

──Aku, yang hanya diselamatkan secara sepihak, tidak memiliki satu pun hal yang bisa kuberikan kembali kepada Chitose.

Sebenarnya aku pun sudah menyadarinya sejak lama. Aku menyembunyikannya dengan kata-kata "kita ini mirip", tapi hatiku menangis menanyakan "lalu kenapa?". Bahkan jika pemahaman itu benar pun. Apa artinya memilih orang yang benar-benar mirip dengan diri sendiri?

Bahwa tidak adanya ikatan spesial berarti kita bisa berada di sampingnya meski tanpa alasan spesial—itu hanyalah alasan yang sangat manja. Di antara kami semua, hanya aku yang memiliki cinta bertepuk sebelah tangan yang kosong dan searah.

Melihatku yang tidak bisa membantah sepatah kata pun, Kureha berkata seolah sudah tidak tertarik lagi.

"Yah, sudahlah."

Ia membuang semua konflik batin yang sudah kuulang-ulang sampai membuatku gila, lalu melanjutkan.

"Aku ulangi lagi ya. Karena kalian semua adalah orang baik dan sangat rukun. Kalian saling mengalah, dan berusaha untuk tidak mengganggu tempat berharga milik orang lain, kan?"

Kata-kata Kureha terasa menyakitkan di telingaku. Aku tidak akan duduk di pinggir sungai itu, aku tidak akan ikut campur dalam permainan lempar tangkap bola Haru dan Chitose, dan jika tidak ada alasan mendesak, aku tidak berniat berdiri di dapur rumah orang itu. Karena aku tidak ingin menjadi sosok Nanase Yuzuki yang seperti itu.

Iri pada tempat milik orang lain, menerobos masuk tanpa izin, lalu menginjak-injak kenangan mereka—hal seperti itu bertentangan dengan estetikaku. Namun Kureha tidak berhenti menghakimiku.

"Kalian terus bersikap seperti itu tanpa melangkah maju maupun mundur."

Tunggu sebentar. Jangan. Jangan teruskan kata-kata itu.

Kamu tidak tahu apa-apa tentang bulan April, Mei, Juni, Juli, bahkan Agustus yang telah kami lalui hingga sampai di sini.

Kamu tidak tahu tentang panggung kedamaian yang kami jaga dengan pura-pura tidak melihat kenyataan.

Jangan berani-berani masuk dan menginjak-injaknya dengan kaki kotormu, wahai pendatang baru.

Kureha melangkah mendekat. Seolah sedang mendeklarasikan perang, atau memberikan serangan pamungkas, dia bersikap seakan tidak peduli dengan tata krama sopan kami yang kaku.

"──Kalian sedang bergandengan tangan, membentuk lingkaran, dan menikmati stagnasi ini dengan rukun, ya."

Kalimat itu menghujam tepat di titik vitalku.

──Jreg.

Stagnasi. Aku menggigit bibirku kuat-kuat.

Aku memukul dadaku sendiri dengan kepalan tangan, mencoba menekan detak jantung yang tak mau berhenti berdegup kencang. Satu kata singkat itu adalah segalanya bagi kami saat ini.

"Pengakuan Yuko dan hasilnya, baik atau buruk, seharusnya mendorong kita ke dalam stagnasi sementara."

Bulan September yang persis seperti bayanganku.

Kami semua saling menepuk bahu satu sama lain, saling memuji dan memberi selamat atas kerja keras yang telah dilalui. Kami membiarkan diri terbuai dalam rasa puas sesaat.

Nanase Yuzuki bukanlah orang yang begitu picik sampai hati merusak suasana seperti itu.

Namun, Nozomi Kureha melanjutkan dengan nada menuntut.

"Karena aku tidak merasa cukup, maka aku menginginkannya."

Ia menurunkan sudut matanya dengan sedih, namun tetap bersikap seperti gadis yang sangat polos.

"Aku tidak suka jika ada tempat untuk gadis lain selain aku di dalam hati Kakak Senior. Aku ingin mewarnai semuanya dengan warnaku sendiri."

Ia mengutarakan keegoisan yang begitu jujur.

"Lagipula, bermanja-manja kepada Kakak Senior adalah kewajiban seorang junior, bukan?"

Indah. Entah kenapa, aku sampai terpesona melihatnya.

Gadis junior di depanku ini begitu gigih, sampai-sampai membuatku merasa iri. Dia adalah tipe yang sanggup membuang segalanya demi orang yang dicintai.

──Dia sedang jatuh cinta, dengan begitu tulus.

Aku merangkai kata-kata seolah sedang meraba luka yang sudah tercabik-cabik.

"Aku mengerti perasaanmu, Kureha."

"Iya! Aku senang mendengarnya!"

"Tapi jika dia tahu segalanya, Chitose pasti akan terluka."

"Mungkin saja, ya."

"Dengan cara serangan mendadak seperti ini, tidak aneh jika dia malah membencimu."

"Aku tidak peduli."

Sambil menepis argumen kekanak-kanakanku, Kureha menjawab dengan tegas seolah memutuskan segalanya.

"Aku tidak jatuh cinta tanpa persiapan untuk melukai."

Bukan terluka, melainkan melukai.

Aku benar-benar terintimidasi oleh tatapannya yang begitu lurus. Kurasa semua gadis yang jatuh cinta pasti punya setidaknya satu kesiapan untuk terluka, tapi berapa banyak orang yang punya kesiapan untuk melukai pria yang dicintainya?

……Aku takut.

Aku tidak keberatan jika dia melukaiku, tapi aku tidak ingin melukainya.

Lagi pula, Kureha melanjutkan.

"Daripada berakhir dengan ketidakpedulian, dibenci jauh lebih baik."

Matanya memancarkan tekad yang begitu indah sampai membuatku gemetar.

"Bukankah membahagiakan jika Kakak Senior yang baik hati itu bisa menyadari keberadaanku sampai ke tahap itu?"

Ia tersenyum tanpa dosa, "Hehe."

Aku benar-benar dipaksa menghadapi kenyataan. Kelemahanku, kenaifanku, kemiskinanku, dan keadaanku yang menyedihkan.

──Deg, deg, deg, deg.

"Tapi karena aku tidak mau berbohong, saat Yuko-san mengajakku berteman, atau saat Kakak Senior bilang aku adalah bagian dari kalian semua, aku tidak mengangguk."

"Aku ingin kalian mengizinkanku masuk ke dalam lingkaran, tapi aku tidak bisa menjadi teman, dan aku tidak akan masuk ke dalam rombongan itu."

"Karena saat keinginanku terkabul, itu adalah saat di mana aku akan melukai kalian semua."

Kureha bergumam sambil menatap telapak tangannya sendiri.

"Sebab jika kita bergandengan tangan, kita akan stagnan."

Lalu ia mendongak dan menatapku tajam.

"Jika kalian berharap waktu seperti ini terus berlanjut selamanya..."

Ujung pedangnya kini mengarah tepat ke arahku.

"──Menurutku, itu adalah cinta yang palsu."

"っっっっっっっ"

Guruh mulai bersahutan di langit barat. Langit biru perlahan-lahan tertutup oleh warna hitam.

"Kenapa... sampai sejauh itu..."

Aku berucap dengan suara lirih yang terputus-putus, seolah sedang terengah-engah.

"Kenapa kamu bisa... sekuat itu..." Pertanyaan itu tidak sempat menjadi suara.

Kureha memegang pagar pembatas, menatap awan gelap yang merayap mendekat.

"Pernahkah kamu berpikir, bagaimana jika urutan pertemuan kita berbeda?"

Aku tersentak dan menatap profil wajahnya yang tampak rapuh.

"Misalnya saja, jika aku juga berada di kelas yang sama sejak kelas satu, atau jika aku adalah teman masa kecilnya..."

Ia terus berbicara dengan datar seolah sedang berbicara pada diri sendiri.

"Saat aku jatuh cinta padanya, sudah ada gadis lain di hatinya. Aku pun berpikir, andai saja aku yang bertemu dengannya lebih dulu."

Aku berbohong jika bilang tidak pernah memikirkannya. Jika saja aku punya waktu yang telah dilalui Yuko, Ucchi, atau Senior Nishino, mungkin aku bisa menjadi lebih dekat dengannya.

Kureha mengalihkan pandangan lembutnya ke arahku. Tanpa menggertak, ia berucap dengan nada yang seolah hanya sedang merangkai fakta.

"Aku adalah gadis yang kecantikannya tidak kalah dari Yuzuki-san."

"Aku bisa memasak seperti Yuua-san, dan kemampuan olahragaku tidak kalah dari Haru-san."

"Jika aku mau, aku juga bisa menjadi tempat curhat seperti Senior Asukaze."

Tik, tik, tik-tik-tik-tik.

Hujan air mata mulai turun membasahi pipi kami.

"Tapi hanya karena alasan aku terlambat bertemu dengannya, aku malah dikucilkan. Mana mungkin aku bisa terima hal itu."

"Aku tetaplah diriku sendiri. Mana mungkin aku mau menyerah hanya karena masalah kebetulan saja. Karena itu..."

Guruh kembali menggelegar layaknya ringkikan kuda dari balik awan. Dengan latar belakang langit yang terbelah antara cerah dan hujan, Kureha berkata.

"Aku ingin memutar balik waktu ke musim semi."

Kilatan petir menyambar dengan terang.

"Nana-san, aku tidak akan kalah dari wanita yang bahkan tidak bisa bersikap serius."

Sambil menyisihkan rambutnya yang basah, matanya memancarkan aura anggun sekaligus mengerikan yang membuat bulu kuduk berdiri.

"──Melankolis Kakak Senior, biar aku yang akan menembaknya sampai hancur."

Gadis junior itu tertawa lebar dengan ceria.

Tetesan hujan merayap di pipiku.

……Tidak boleh.

Nanase Yuzuki yang sekarang, tidak akan menang, tidak akan sanggup menghadapinya.

Suatu saat nanti, Kureha pasti akan membawa Chitose pergi ke tempat yang jauh.

Dia akan membalikkan waktu yang telah kami lalui dengan begitu mudah.

Dia akan merampas tempat kami berada.

Dengan menjadikan keinginan kuatnya sebagai peluru,

──Dia akan menembak mati Yuzuki yang ada di dalam diriku.






Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close