NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Chitose-kun wa Ramune Bin no Naka (Chiramune) Volume 7 Chapter 4

Chapter 4

Kesungguhanku


Ah, aku bisa gila.

Rasanya dadaku mau meledak karena marah. Di sinilah aku, Yuzuki Nanase, basah kuyup tersiram hujan.

Bahkan setelah Kureha pergi dari atap, aku hanya berdiri mematung di sana. Seolah-olah aku sedang mencoba membasuh air mata yang terus mengalir.

Frustrasi, payah, memalukan.

Aku yang memulai pertarungan ini dan kalah telak, lalu sekarang aku di sini, menangis dalam kehinaan.

"Hiks... hiks..."

Seolah-olah aku kaku memegang prinsip bahwa jika aku mengeluarkan semuanya, aku akan merasa lebih baik. Tapi isak tangis ini tidak membantu sama sekali.

Jantungku tidak mau berhenti berdegup kencang.

Deg. Deg. Deg.

Aku tidak bisa membalas sepatah kata pun pada juniorku itu.

Aku terpana oleh kekuatan dan kecantikan gadis yang memiliki perasaan begitu lurus terhadap pria yang dia sukai.

Aku merasa sangat kecil dan tak berarti. Mencoba bersikap seperti senior yang serbatahu dan mencampuri urusan cinta orang lain.

Persis seperti yang Kureha katakan.

"Lagipula, apa rencana besarmu sampai mengusik kami?"

Memangnya aku ini siapa?

"Jika Senpai terus mencoba memanfaatkan kebaikannya, aku tidak akan tinggal diam dan membiarkan Senpai lolos begitu saja, tahu!"

Dia bahkan bukan pacarku. Jadi, apa yang memberiku hak untuk bersikap begitu sok berkuasa?

Sebenarnya, itu pun mungkin hanya alasan yang rapuh. Mungkin aku merasa takut tanpa menyadarinya.

Takut akan kehadiran seorang gadis yang mungkin bisa mengubah hubungan kami.

Takut akan berakhirnya kondisi stagnasi yang nyaman ini, di mana tidak ada seorang pun yang terluka. Jika memang begitu...

Siapa gadis payah ini? Apakah ini benar-benar Yuzuki Nanase?

Di antara semua gadis, bukankah aku yang berada di posisi terbaik untuk mendekatinya dengan cara yang seimbang? Bukankah kami semakin sering melewatkan momen manis bersama? Jauh lebih banyak daripada saat kami masih menjadi pasangan palsu?

Kenapa aku hanya duduk diam dan merasa puas dengan keadaan sekarang?

Jika emosiku begitu suam-suam kuku, tidak mungkin aku bisa bersaing melawan Kureha dan tekad bajanya.

Kurasa aku... kurasa kami semua...

Di suatu tempat jauh di dalam lubuk hati kami... Kami semua percaya bahwa perasaan kami adalah yang paling spesial.

Kami semua merasa bahwa hanya kamilah satu-satunya yang bisa mengukir tempat istimewa di hati Chitose.

Tapi kenyataannya adalah...

...kami kebetulan saja berada di lingkup pertemanannya. Kami kebetulan saja diselamatkan olehnya. Kami kebetulan saja jatuh cinta padanya.

Bukan hal aneh jika ada orang lain di luar sana. Dan sama sekali tidak mengejutkan jika orang seperti itu muncul di masa depan.

"Saat ini, kurasa ada lima gadis di hati Chitose."

Mengingat ide naifku itu saja sudah membuatku sangat malu sampai-sampai aku ingin mencekik leherku sendiri.

Aku ingin status quo ini tetap stabil, jadi aku mencoba menyerang gadis yang memiliki perasaan tulus padanya. Gadis yang hanya mencoba mengejar ketertinggalan dari keuntungan yang kami semua miliki.

Payah sekali, kan?

Aku yakin Kureha sangat cepat menyadari perasaannya sebagai cinta, dan dia langsung berlari kencang.

Tapi bagaimana denganku?

Aku hanya menonton dengan takjub saat Yuuko menyatakan perasaannya pada Chitose, sementara aku sendiri berdoa meminta sedikit waktu lagi.

Apakah aku akan membiarkan hal yang sama terjadi lagi? Bukankah ini cerita cintaku?

Bukankah seharusnya aku membidik bulan?

Ugh, aku benar-benar bisa gila.

"Sialan!!!"

Aku sangat marah pada gadis bernama Yuzuki Nanase ini.

◆◇◆

Aku, Haru Aomi, baru saja memulai latihan tim.

Mai datang sesuai jadwal dan melakukan rutinitas pemanasan yang sama dengan kami. Aku melirik jam dan melihat sekitar setengah jam telah berlalu. Apa yang sebenarnya dilakukan Nana?

Dia bilang mungkin akan terlambat, dan aku sudah menjelaskan itu pada Misaki-sensei, tapi dia tidak pernah selambat ini sebelumnya.

Dia tipe orang yang benci membuang-buang waktu orang lain. Aku masih memikirkan hal itu sambil melakukan latihan menembak bola dengan ringan.

Sret.

Pintu geser terbuka.

Aku berdiri bersama Mai di dekat ring, lalu berseru. "Hei, dari mana saja kamu...?"

Aku baru saja hendak memarahinya, saat tiba-tiba kata-kataku tertahan di tenggorokan.

"Hah...?"

Rambutnya basah kuyup, tapi bukan itu masalahnya.

Partnerku berdiri di sana dengan kepala tertunduk, dan aura di sekelilingnya membuat tengkukku merinding.

Ekspresinya sebagian besar tertutup oleh rambut yang menjuntai, tapi ada sesuatu yang benar-benar aneh.

Dengan ragu, aku bertanya:

"Nana, apa yang terjadi...?"

"Todo..."

Nana mengabaikanku.

"Maukah kamu melakukan one-on-one denganku?"

"Kamu datang terlambat, dan sekarang malah—!"

Mai segera merentangkan tangannya untuk mendiamkanku.

Dia tampak hampir geli saat menjawab:

"Aku tidak terlalu tertarik dengan gaya bermainmu yang ceroboh itu."

Aku merasa mendengar suara gigi yang bergemeletuk.

Perlahan, Nana mengangkat kepalanya.

"Tidak apa-apa. Aku akan memastikan kamu tetap terhibur."

Dia menyisir rambut basahnya dari pipi, membuka matanya, dan menatap lurus ke arah Mai.

Pada saat itu...

Zing.

Seluruh tubuhku merinding hebat.

Bahuku berkedut.

Dia menyeramkan.

Itulah pikiran yang langsung terlintas di benakku.

Mata Nana seperti pedang Jepang yang baru saja dicabut dari sarungnya. Cukup dingin untuk membuatmu menggigil, sekaligus cukup panas untuk membakar.

Seolah-olah api biru sedang meletup dari seluruh tubuhnya. Ini pertama kalinya aku melihat partnerku seperti ini.

Aku mundur selangkah, merasa terintimidasi. Emosi apa yang ada di matanya?

Kegembiraan, kesedihan, kegembiraan, antisipasi, kecemasan, rasa ingin tahu, rasa takut, keraguan, tekad? Ataukah itu hanya kemarahan murni?

Mai pun sepertinya menyadari ada yang tidak beres. "Wah, wajahmu sudah siap bertempur, ya?"

Nana menjilat bibirnya dengan anggun.

"Sebut saja ini frustrasi yang muncul akibat mabuk cinta."

Mai menyipitkan matanya, dan aku bisa tahu dia sangat menyukai apa yang dia lihat. "Kamu ingin pelukan dariku, Yuzuki?"

"Maaf, tapi," kata Nana dengan tatapan yang memikat. "Aku lebih suka melampiaskannya padamu sebagai gantinya."

"Hati-hati kalau menantang seperti itu. Kamu bisa menyesal nanti." Aku melirik ke arah Misaki-sensei, menunggu apa yang akan dikatakannya.

Secara pribadi, aku ingin melihatnya—pertarungan one-on-one antara Nana dan Mai. Aku ingin melihat bagaimana partnerku bertarung melawannya.

Misaki-sensei menatap Nana sejenak, lalu...

"Baiklah, Ibu izinkan. Semuanya, mari kita perhatikan dan jadikan ini sebagai pengalaman belajar."

Beliau tersenyum, matanya bersinar penuh ekspektasi.

Mai menyeringai, seperti anak kecil yang baru saja diberi mainan baru.

"Sampai poin dua puluh, pakai tembakan tiga angka? Kalau sisi penyerang kehilangan bola, mereka ganti jadi bertahan."

Pertama kali aku bermain one-on-one dengan Mai, kami memutuskan bermain sampai sepuluh poin, di mana setiap masuk dihitung satu poin dari mana pun posisi menembaknya. Itu adalah bentuk keringanan untukku karena aku tidak punya tembakan tiga angka.

Tapi untuk Nana dan Mai, tentu saja tembakan tiga angka diperbolehkan.

Dalam hal ini, tembakan biasa bernilai dua poin, yang berarti mereka bermain sampai poin dua puluh, bukan sepuluh.

Kami juga sering memakai aturan ini saat Nana dan aku bermain bersama. Tetap butuh sepuluh kali masuk untuk menang, kecuali jika kamu mempersingkatnya dengan tembakan tiga angka.

"Itu tidak cukup."

Partnerku mengatakannya tanpa rasa takut.

"Dua puluh poin akan berakhir terlalu cepat. Mari bermain sampai tiga puluh."

Mai sepertinya menganggap hal itu sangat lucu.

"Oke, tapi apa maksudmu kamu tidak percaya diri bisa mengejar kalau kita cuma main sampai dua puluh?"

"Kamu terbalik."

Nana menyibakkan poni rambutnya yang basah.

"Aku akan mengakhiri permainan ini hanya dalam tujuh tembakan."

Rasanya seolah dia baru saja menghunuskan dan mengayunkan sebilah pedang.

"Jika kamu sehebat yang kamu katakan, seharusnya kamu menantangku bertanding sebelum ini."

Mai tersenyum, persis seperti saat dia dan aku bertarung. "Kamu akan menyadari kalau aku lebih tajam dari yang kamu kira."

Nana memungut bola yang tergeletak di dekatnya. "Kamu menembak duluan."

"Baiklah. Ayo kita mulai."

Kemudian mereka berdua saling berhadapan di garis tengah. "Maaf soal ini, Todo."

"Simpan permintaan maafmu sampai setelah kamu kalah, Yuzuki."

Mereka berdua tersenyum tipis, lalu Nana mengoper bola padanya. Mai menyipitkan mata saat menerimanya.

Dia merendahkan pinggulnya, menekuk lutut.

Ketegangan di udara semakin menebal.

Mai berjingkat dengan ujung kakinya, seolah menunggu momen yang tepat. Huruf putih yang terukir di kaus hitam tim SMA Ashi miliknya mulai bergelombang liar.

Kilatan petir menyambar.

Langit tiba-tiba menjadi terang benderang.

Sret.

Mai melompat, melesat maju seperti kilat hitam.

...Dia cepat.

"Jangan remehkan aku."

Wush.

"Hah?"

Sebelum ada yang menyadari apa yang terjadi... "Cuma segini kemampuanmu?"

...bola sudah berada di tangan Nana. Tim kami bersorak riuh.

Mai menatap tangannya dengan tidak percaya. "Wah."

Apa yang baru saja terjadi? Aku menelan ludah. Nana bahkan nyaris tidak melangkah.

Itu bukan sekadar steal; itu adalah perampokan.

Rasanya seolah dia hanya menggerakkan tangannya ke jalur alami bola itu.

Dia menyambarnya dengan gerakan minimal, bahkan nyaris tidak menggerakkan lengannya. Seolah dia bisa melihat lintasan bola dari awal dan tinggal menunggu bola itu datang.

Kedengarannya mudah saat diucapkan, tapi yang dia lawan di sini adalah Mai Todo dari SMA Ashi.

Nana dengan santai mengembalikan bola padanya.

Seolah dia ingin berkata, "Ini bukan masalah besar bagiku." Mai menangkapnya dan berbicara dengan nada terpikat. "Hebat, Yuzuki. Kamu bisa membuat seorang gadis jatuh hati."

...

Entah kenapa, kalimat pendek itu menyengatku.

Kamu tergila-gila padaku sampai sekarang, jadi jangan berikan semua perhatianmu padanya.

Untuk sesaat, kejadian memalukan yang kulakukan di Taman Higashi terlintas kembali.

Dia, yang dengan polosnya menikmati permainan lempar tangkap dengan Kureha.

Semua orang selalu bosan padaku dan...

Namun sebelum aku sempat berdiri melamun, Nana angkat bicara.

"Sayangnya, ada satu pria yang hatinya harus kutembak jatuh dan kujadikan milikku."

Luar biasa, partnerku menyatakannya secara terbuka di lapangan. Apa yang sebenarnya terjadi sepulang sekolah tadi?

"Jadi," kata Nana penuh tantangan. "Aku akan memulainya darimu." Mai bersiul.

"Yah, hati-hati. Aku bukan sekadar lawan pemanasan."

Sambil bicara, dia mengoper bola ke Nana lalu merendahkan pinggulnya tepat di depan garis tiga angka.

"Siap?"

Wup.

"Aku bukan Umi, lho, tapi..."

Swip.

""Hah...?""

Bola masuk dengan tenang ke dalam jaring. Baik Mai maupun aku mengerang terkejut. Semuanya berakhir dalam hitungan detik.

Keheningan singkat terjadi sebelum rekan setim kami bersorak kencang.

Kamu pasti bercanda, pikirku sambil tersenyum kecut. Aku nyaris tidak percaya pada mataku sendiri.

Nana mengambil ancang-ancang lari yang sangat pendek dari posisi awalnya di sekitar garis tengah, lalu melepaskan tembakan tepat sebelum garis tiga angka. Dan dia memasukkan tembakan pertamanya.

Tidak mungkin Mai sekalipun bisa menanganinya—atau setidaknya, tidak mungkin dia bisa mengantisipasinya.

Kami terkadang melakukan ini saat istirahat latihan, hanya main-main saja, tapi ini benar-benar sebuah pertaruhan.

Dia memang tidak menembak dari luar garis tengah, tapi tetap saja, mencetak poin dari sana itu gila. Partnerku benar-benar hebat.

Biasanya Nana hanya menembak dari posisi yang pasti masuk. Apa yang merasukinya?

Atau, aku berpikir...

...kenapa kamu begitu percaya diri bisa melakukannya?

Nana mengambil bola dan bicara.

"Sudah kubilang, aku hanya melampiaskan kemarahanku padamu." Mai menyeringai.

"Dan sudah kubilang, bersiaplah untuk dihancurkan."

Dia merebut bola dari Nana di garis tengah dan mulai menggiringnya dengan lembut.

Tung, tung, tung.

Rasanya seperti suhu di ruangan itu turun beberapa derajat.

Mai sama sekali tidak menahan diri, tapi jelas terlihat dia suka bersenang-senang.

Aku tidak akan mengatakan dia meremehkan kemampuan Nana, tapi dia jelas menganggap Nana bukan ancaman besar.

Mai baru menjadi benar-benar menakutkan setelah dia mengakui kehebatan lawannya.

Lalu api hitam seolah meletup dari seluruh tubuhnya.

Tung, tung, tung.

Dia datang.

Sret.

Mai mengambil langkah maju yang sudah terlatih. Nana segera memasang posisi bertahan. Berkelit masuk dan keluar, Mai terus menyerang.

Nana menjaga pusat gravitasinya tetap stabil dan dengan tenang menjaga jarak dekat.

Sret.

Mai mencoba melewatinya dari sisi kiri, tapi...

Dug.

...dia memindahkan bola ke tangan kanannya, menggiring bola di antara kedua kakinya. Melihat reaksi cepat Nana, dia...

Dug.

Kali ini, dia menggiring bola ke tangannya yang lain di belakang punggung lalu terus melaju maju dari sisi kiri.

Dia bergerak dengan kecepatan yang memikat.

Seberapa kuat otot intinya sampai bisa menjaga pusat gravitasinya tetap stabil seperti itu, bahkan saat dia mengubah arah berkali-kali?

Nana pun sempat terkecoh, tapi dia segera pulih dan mengejar kembali Mai.

Sekarang Mai sudah dekat dengan garis tiga angka.

Masih ada waktu.

Mai masuk untuk melakukan layup, dan Nana melompat untuk memblokir. Tepat saat itu...

Plak.

...Mai melakukan tembakan underhand untuk melambungkan bola tinggi-tinggi.

Wush.

Bola dengan mudah melewati tangan Nana dan seolah-olah tersedot ke dalam jaring.

Sebuah scoop shot.

Itu adalah teknik yang memungkinkan pemain bertubuh kecil sepertiku untuk melewati pemain bertahan yang lebih besar, tapi aku terkejut melihat Mai menggunakannya melawan seseorang yang tingginya sama.

Kami sudah sering berlatih bersama, dan aku sudah terbiasa dengan gaya bermainnya sampai batas tertentu, tapi saat melihatnya dari pinggir lapangan seperti ini—dia benar-benar iblis lapangan.

Dia tidak menduduki peringkat teratas di wilayah Hokuriku tanpa alasan. Mai mengambil bola dan menyeringai.

"Ayo, mari kita berdansa."

Nana mengikat rambutnya dengan karet rambut, bersiap menghadapi tantangan itu secara langsung.

"Maaf, aku sudah punya partner dansa yang lambat dalam pikiranku."

Tembakan tiga angka tadi pasti membuatnya waspada.

Begitu Mai memegang bola, Nana langsung menutup jarak. Nana sebenarnya bukan tipe yang bersaing di area dalam.

Karena dia adalah seorang point guard, gaya bermainnya melibatkan cara melewati orang lain dan menembak dari luar setiap kali ada kesempatan.

Itulah sebabnya, saat dia bermain melawanku (dan aku hebat di area dalam), hasilnya biasanya persaingan yang sengit.

Akan menarik melihat bagaimana dia bisa menciptakan celah melawan Mai, yang bisa melakukan keduanya.

"Hah...?"

Nana langsung menuju ring.

Dia berkelit dari dalam ke luar pada setiap langkah dan pantulan bola.

Dia mulai menarik keluar dari kiri, lalu memindahkan bola di antara kakinya ke kanan, lalu melakukan perubahan halus di belakang punggung ke kiri lagi.

Dia mendorong lawannya mundur selangkah demi selangkah saat menuju ring.

Nana melakukan tembakan. Mai langsung melompat memblokir. Pop.

Wush. Tunggu, itu...

Benar, dia pasti menyadari hal yang sama. Mai tampak sangat gembira.

"Ratu Jahat di dalam cermin, ya?" Itu adalah gerakan yang sama persis.

Melawan pemain nomor satu.

"Hi-hi," Nana terkekeh, tersenyum manis. "Siapa yang paling hebat di antara semuanya?"

Deg, deg, deg.

Hal itu membuat perasaan yang sama bergejolak di dalam diriku seperti saat aku melihat Kureha bermain dengannya.

Aku ingin memalingkan wajah, tapi tidak bisa. Nana benar-benar mendominasi Mai.

Aku menggigit bibirku. Kenapa?

Kupikir suatu hari nanti akulah yang akan menumbangkan Mai. Tentu saja, aku tidak meremehkan kemampuan Nana.

Dia adalah partnerku. Aku memercayainya sepenuh hati. Tapi tetap saja, jauh di dalam lubuk hatiku...

...aku ingin posisi puncak dalam basket itu menjadi milikku.

Hei, Nana... Apakah ini dirimu yang sebenarnya?

Apakah ini sosok Yuzuki Nanase saat dia mulai serius?

Entah bagaimana, aku merasa urusan basket dan asmara jadi bercampur aduk menjadi satu.

Hentikan. Tunggu. Jangan pergi ke dunia yang hanya milik kalian berdua saja. Semua orang selalu meninggalkanku...

Jangan tinggalkan aku sendirian di sini!

◆◇◆

Suara hujan. Aroma aspal basah. Aliran udara. Langit biru yang mengintip dari kejauhan. Keringat yang mengalir di leherku. Ritme napas. Detak jantung yang melambat.

Wajah rekan setim yang memperhatikan. Senyum tipis Misaki-sensei. Mata partnerku yang cemas. Langkah kaki Todo. Garis pandangku. Pusat gravitasi. Jarak ke ring, hingga sensasi bola di ujung jariku.

Semuanya berada dalam jangkauanku tanpa aku harus berusaha keras. Dunia biru yang jernih, hanya untukku.

Tak peduli dari mana aku menembak atau dalam posisi apa pun, aku merasa tidak akan meleset. Ada sesuatu yang sudah lama sekali kututup mata darinya.

...Sebuah ruangan terkunci, yang tersembunyi jauh di dalam diri Yuzuki Nanase.

Sejak kecil, aku menjalani hidup dengan berusaha tidak menunjukkan kelemahan apa pun yang bisa dimanfaatkan orang lain.

Aku mengerahkan usaha yang diperlukan, mendapatkan hasilnya, dan melakukannya lagi berulang kali.

Upaya-upaya ini membuahkan hasil yang stabil. Begitulah cara aku menjadi diriku yang sekarang. Basket, belajar, perawatan diri, fesyen, dan cinta.

Aku tidak berniat setengah-setengah dalam hal apa pun.

Namun terkadang aku merasa tidak tenang.

Seolah-olah aku sedang menyembunyikan apel beracun di balik jubahku tanpa aku sendiri menyadarinya.

Apakah ada bagian dari diriku yang gelap, bagian yang tidak ingin kupijaki?

Malam setelah kami kembali dari Kanazawa, setelah melihat Yuuko masuk ke mobil ibunya dan pulang, aku teringat apa yang Nazuna katakan padaku.

"Apakah itu benar-benar dirimu yang sesungguhnya?"

"Apakah itu dirimu yang serius, Yuzuki Nanase? Baik dalam basket maupun cinta? Hei, aku sedang bertanya padamu sekarang."

Benarkah?

Apakah aku sudah memberikan segalanya?

"Aku pribadi berpikir bahwa Yuzuki Nanase yang lepas kendali bisa dengan mudah mengalahkan Aomi maupun Mai Todo."

Apakah itu benar? Apakah Yuzuki Nanase benar-benar lebih hebat dari Umi? Dari Mai Todo?

"Dan hal yang sama juga berlaku dalam urusan asmara, kan?"

"Jika kamu benar-benar menginginkannya, kamu mungkin bisa menembak jatuh bulan."

Mudah saja berspekulasi begitu, pikirku saat itu, tapi sebagian dari diriku juga tidak ingin membantahnya.

...Ada sebuah ruangan di dalam diriku yang masih terkunci rapat.

Kurasa itu karena aku tidak ingin ada orang yang melihat kelemahanku. Itu karena aku tidak ingin melihat potensi asliku yang sebenarnya.

Jika aku memberikan segalanya namun tetap gagal, aku takut aku tidak akan menjadi Yuzuki Nanase lagi.

Jadi aku menyegelnya sebagai pilihan terakhir—sebagai sumber penghiburan. Bahwa aku masih belum benar-benar serius. Terus berpegang pada alasan-alasan murahanku.

Aku pernah membicarakan hal ini dengan Haru sekali.

"Mungkin ini tentang rasa takut. Takut untuk menganggapnya terlalu serius."

"Tentu saja, tapi tetap saja, jika kamu menganggap sesuatu dengan serius, maka ada kemungkinan kamu akan mencapai batasmu pada suatu titik. Kamu mungkin muntah karena berlatih terlalu keras, atau kamu mungkin dikalahkan dengan mudah padahal sudah bermain sepenuh hati... Mungkin ada seseorang yang datang dan merenggut impian yang tidak pernah bisa kamu capai meski sudah berusaha keras. Dan mungkin mereka tidak ingin melihat diri mereka gagal seperti itu."

"Jika sejak awal kamu sudah menarik garis di atas pasir dan berkata, 'Memang begitulah adanya,' maka kamu tidak akan terluka, bahkan setelah memberikan segalanya."

Oh, begitu rupanya.

Hatiku menjerit pada saat itu.

Aku terkunci di dalam kamar, sendirian, memeluk lutut, menggigil, dan mati-matian memanggil bantuan.

...Yuzuki Nanase yang asli ada di sini.

Tolong segera datang dan jemput aku. Maafkan aku, Yuzuki. Maafkan aku, diriku.

Kupikir aku sedang mengambil satu langkah mundur dari cinta, dari basket, dari banyak hal—memandangnya dari jarak yang aman. Padahal aku hanya melarikan diri, takut terluka.

Dia bukan tipe pria yang bisa kamu menangkan semudah itu.

Jika kamu ingin menembak jatuh bulan, kamu harus mengerahkan usaha lebih dari itu. Tiba-tiba, aku teringat apa yang Haru katakan saat itu.

"Tapi jika kamu tidak serius menjalaninya, kamu tidak akan tahu batasmu sendiri. Tidak akan pernah melihat melampaui batas itu, batas yang bahkan mungkin bisa kamu lalui."

Kamu benar, partner.

Jadi aku akan mencoba menghadapi segalanya. Menghadapi diriku yang mulai serius.

Meski itu berarti tanganku akan kotor dan aku akan terlihat payah. Mungkin aku tetap tidak akan sampai ke sana. Mungkin aku akan gagal dan menangis.

Tapi aku harus membuka kunci pintunya, lalu pergi mencari Yuzuki Nanase yang asli.

...Wup.

Tembakan tiga angkaku masuk ke dalam jaring hampir tanpa suara. Skor sekarang 27 berbanding 24.

Aku tahu Todo tidak akan mudah dikalahkan, tapi dia tetap belum bisa mengejarku setelah tembakan tiga angka yang pertama tadi.

Namun tubuhku terasa ringan, pandanganku luas, dan aku merasa seolah terlahir kembali. Ada gerakan-gerakan yang kini benar-benar bisa kulakukan.

Ada tembakan-tembakan yang kini benar-benar bisa kumasukkan.

Saat aku memperhatikan Umi, ada saat-saat di mana aku berpikir aku bisa mencetak angka jika itu adalah aku.

Dan ada saat-saat ketika memperhatikan Todo, aku berpikir bahwa aku bisa menggagalkannya jika itu adalah aku.

Aku benar-benar bisa mengalahkan lawan ini, pikirku.

Sosok diriku yang kubayangkan seolah menyatu sempurna dengan diriku yang sekarang. Benar. Aku Yuzuki Nanase. Tentu saja aku bisa melakukan ini.

Tanpa sepatah kata pun, kuberikan bola itu kepada Todo.

Terima kasih. Aku senang kamu datang hari ini.

Jika itu Haru, kurasa aku tidak akan bisa keluar dari cangkangku.

Area dalam adalah wilayah Haru, jadi aku tidak melewati garis itu. Aku tahu basket adalah medan tempur utama Haru. Status quo selalu terjaga.

Jadi aku senang ada pemain nomor satu di wilayah ini di hadapanku hari ini. Jika aku bisa menghancurkan Mai Todo, maka itu akan membuktikan bahwa aku akhirnya sudah mulai serius.

Mai Todo menunjukkan ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya, bahkan di pertandingan resmi sekalipun.

Aku tidak akan memberikan posisiku.

Aku menolak mengakui ada orang yang lebih baik dariku.

Terutama bukan seseorang yang baru muncul tiba-tiba di saat-saat terakhir.

Aku tahu, aku tahu. Selama ini aku memang tidak jelas dan tidak berkomitmen, menolak memberikan segalanya.

Masuk akal jika orang berpikir, kenapa bukan Umi saja kalau begitu?

Tak diragukan lagi partnerku sendiri pun bertanya-tanya kenapa harus kamu.

Tapi maaf saja.

Ini adalah Yuzuki Nanase.

Gigi Todo yang bergemeletuk, tatapan matanya yang ingin membunuh, harga dirinya yang berharga... Oh, dia tidak bisa kalah, bahkan dalam permainan persahabatan sekalipun.

Sret.

Plak.

Aku bisa membaca setiap langkahnya, setiap gerakannya.

Aku memutar bola yang kucuri itu di antara ujung jariku sebelum mengoperkannya kembali pada Todo. Aku berdiri di garis tengah dan menarik napas dalam.

Aku mencintaimu.

Oke, jadi aku kebetulan menemukan basket terlebih dahulu. Lalu aku kebetulan jatuh cinta padamu.

Kamu belum mengetahuinya, tapi akulah yang akan mengubah takdirmu.

...Dan aku masih belum paham kenapa harus pendatang baru kecil itu yang menyadarkanku akan semua ini.

Tapi...

Todo mengoper bola kembali padaku.

Dug.

Aku mengambil langkah pertama.

Berlari menembus hujan, berlari menembus senja, berlari menembus masa kini, berlari menembus sosok yang kupikir adalah diriku.

Ah, aku bisa gila.

"Jadi sampai hari di mana kamu memberi nama pada perasaan ini..."

Suatu hari nanti, suatu hari nanti, suatu hari nanti. Jadi kapan itu akan terjadi? Jika kamu tidak bisa mengucapkannya keras-keras, maka tulislah.

"...aku hanya ingin waktu palsu ini terus berlanjut dan berlanjut..."

Aku tidak ingin kepalsuan. Berikan aku yang asli.

"Nana, aku tidak akan kalah dari gadis yang bahkan tidak bisa bersikap serius."

Kenyataan bahwa Kureha menantangku menggunakan nama lapanganku berarti dia sungguh-sungguh.

Tembakanku, yang diambil dari jauh di belakang garis tiga angka, membentuk busur yang indah.

Seperti emosi yang kunamai hari itu, seperti bulan abadi yang kudambakan hari itu.

Yakin bahwa bola itu akan masuk, aku berbalik membelakangi ring.

Ah, aku bisa gila.

Hei, Haru. Hei, Todo. Hei, Kureha. Dan hei, Saku.

Wush.

Akan kutunjukkan pada kalian semua.

Aku sudah gila. Aku benar-benar jatuh cinta.

Dan namaku adalah Yuzuki Nanase.







Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close