NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Danjjo Yuujo ga Seiritsu (Iya Shinai?) Volume 12 Epilogue

 Penerjemah: Nobu

Proffreader: Nobu


Epilogue

Senyum Bunga

♣♣♣

     Pertengahan April.

     Di sebuah universitas di Tokyo.

     Aku masih belum terbiasa melihat pemandangan para senior yang asyik bersenda gurau dengan pakaian bebas di dalam kampus. Semuanya tampak lebih dewasa dariku, dan aku bahkan tidak bisa membedakan mana yang sesama mahasiswa baru. Hebatnya lagi, ada mahasiswa baru yang sudah bisa membaur di lingkaran pertemanan itu. Kemampuan komunikasinya luar biasa...

     Di sebuah kafe di dalam kampus, aku duduk sambil memegangi kepala di depan lembar silabus.

     "Kurikulumnya tidak kunjung beres..."

     Seingatku, aku sudah menyimak baik-baik penjelasan saat orientasi mahasiswa baru, tapi tetap saja ada yang terasa kurang masuk ke kepalaku.

     Menentukan jadwal sekarang—mulai dari "mata kuliah ini wajib untuk kelulusan", "yang ini bisa diambil nanti di tahun kedua", sampai "tapi kalau mau ambil kelas itu, harus ambil kelas ini dulu sebagai prasyarat"—benar-benar seperti teka-teki yang rumit. Ini praktis sama saja dengan disuruh menyusun rencana hidup untuk empat tahun ke depan.

     Saat aku sedang mengerang sendirian, seseorang tiba-tiba duduk dengan kasar di kursi depanku.

     "Natsu. Masih belum memutuskan kurikulumnya, ya?"

     "Makishima..."

     Si pemuda kuil yang kini bebas dari pengawasan orang tuanya itu memancarkan aura yang jauh lebih modis dan percaya diri.

     Tidak, bukannya dia berubah drastis atau bagaimana. Justru fakta bahwa dia sama sekali tidak terlihat canggung meski baru mulai merantau dan hidup mandiri di Tokyo, membuatnya tampak sangat keren. Berbeda jauh denganku yang selama seminggu ini selalu merasa waswas hanya untuk memilih pakaian yang akan kukenakan setiap harinya...

     "Ngomong-ngomong, Makishima, kamu sendiri sudah selesai?"

     "Sudah kukumpulkan sejak tadi. Sayang sekali kalau waktu kuliahmu terbuang percuma hanya untuk mengurusi hal seperti ini."

     "Berisik, tahu. Ada orang yang memang sulit menentukan pilihan!"

     ...Kalau begitu, kira-kira jadinya seperti ini?

     Setidaknya aku berhasil mengosongkan dua hari dalam sepekan. Kalau aku memangkas jadwal lebih dari ini, sepertinya masa depanku bisa dalam bahaya. Tapi bukankah ini sudah lumayan bagus?

     Saat aku sedang merasa puas dengan hasilnya, Makishima menunjuk salah satu mata kuliah di sana.

     "Natsu. Ambil yang ini."

     "Eh? Kenapa?"

     "Apa kamu tidak menyimak saat orientasi? Kalau kamu tidak mengambil mata kuliah ini di semester satu tahun pertama, kamu tidak akan bisa mengambilnya lagi nanti."

     "Serius? Tapi kalau begitu, bukannya aku jadi tidak bisa lulus...?"

     "Memang itu yang kukatakan. Kalau kamu melewatkannya, kamu harus mengulang tahun depan. Secara praktis itu sama saja dengan dikeluarkan dari kampus ini."

     Justru hal-hal seperti ini yang membuatku kesal!

     Sumpah, dunia perkuliahan ini penuh dengan jebakan. Yah, aku paham karena kami sudah dianggap dewasa, jadi kami harus mengurus semuanya sendiri. Tapi sekarang aku baru sadar betapa beratnya tugas Sasaki-sensei dulu saat menyusun kurikulum untuk murid-muridnya...

     "Tapi kalau slot ini terisi, waktu liburku jadi hilang..."

     "Kan masih ada hari Sabtu dan Minggu. Apa masalahnya kalau harimu tersita satu hari saja?"

     "Tapi aku butuh waktu untuk merawat bunga juga..."

     "Ini hanya soal menghadiri satu mata kuliah saja, kan? Waktunya paling-paling cuma sepanjang waktu yang kamu habiskan kalau pergi belanja ke Aeon."

     "Benar juga... Kalau dipikir-pikir memang begitu."

     Tapi, kalau memang harus datang ke kampus, lebih baik sekalian ada urusan lain juga, kan?

     Eh? Tapi kalau kuliahnya ditiadakan, berarti hari itu malah jadi libur total, dong? Kalau aku punya urusan lain di hari yang sama, itu artinya aku harus tetap datang ke kampus hanya demi urusan tersebut. ...Duh, manajemen jadwal kuliah ternyata rumit sekali.

     Saat aku sedang mengerang lebih dalam lagi, Makishima berujar sambil tertawa.

     "Selama ini kamu selalu menyerahkan rencana semacam ini kepada Himari-chan, kan? Sekarang kamu harus membayar harganya. Selamat berjuang."

     "Cukup, jangan diteruskan."

     Sangat tepat sasaran sampai aku tidak bisa membantah sepatah kata pun....

     Ya sudahlah. Kalau begitu, untuk sementara begini saja keputusannya.

     "Hah. Minggu depan kuliah sudah dimulai, ya. Rasanya masih belum nyata."

     "Habisnya, kamu sendiri hanya mengurusi bunga meski sudah masuk universitas."

     "Biarpun kamu bilang begitu, aku kan ingin segera menyiapkan lingkungan yang pas untuk membuat aksesori..."

     "Laki-laki yang membosankan. Memangnya kamu bisa mengasah kepekaanmu kalau hanya melakukan itu terus?"

     "Ugh..."

     Kemarin, Tenma-kun juga mengatakan hal yang sama kepadaku.

     Memang benar, seminggu setelah kuliah dimulai, apa yang kulakukan tidak ada bedanya dengan masa SMA. Aku memang sudah pergi ke beberapa wawancara kerja paruh waktu, tapi benar-benar selain itu, tidak ada yang berubah.

     Makishima mengeluarkan kipas lipat dari saku dadanya, lalu mengipasi poni rambutku dengan gerakan ringan.

     "Nah, bagaimana kalau malam ini? Mau ikut denganku ke pesta penyambutan mahasiswa baru?"

     "Tidak mau. Unit kegiatan mahasiswa yang kamu perkenalkan padaku waktu itu kan isinya cuma orang-orang yang mau main-main saja. Lagipula, hari ini aku ada urusan dengan Tenma-kun."

     "Kamu ini masih saja tidak berubah. Ini bukan klub kegiatan sekolah di SMA, tahu. Apa salahnya mencari teman untuk bersenang-senang?"

     "Tempat-tempat ramai seperti itu tidak cocok denganku. Lagi pula, gara-gara waktu itu kamu mengirim Instagram aneh ke Rion, aku kena semprot habis-habisan olehnya."

     "Nahaha! Padahal kalau diingat-ingat, kamu cukup populer di kalangan kakak kelas perempuan, lho. Kamu bahkan sempat bertukar kontak dengan mereka, kan?"

     "I-itu karena mereka bilang tertarik dengan aksesoris bunga buatanku. Serius, jangan samakan aku denganmu!"

     "Tapi dalam prosesnya, kamu malah berhasil membuat janji dengan mereka untuk menjadi model karya terbarumu. Menggunakan dalih 'belajar' untuk bisa dekat dengan perempuan, kamu benar-benar sosok kreator teladan, ya?"

     "Gugugu...!"

     Serius, aku tidak punya niat terselubung seperti itu!

     Makanya, berhenti membisikkan hal-hal aneh kepada Enomoto-san! Kalau aku tidak memberinya kabar selama dua hari saja, dia bisa terus-menerus meneleponku seperti orang kesurupan! Padahal kami baru terpisah sekitar dua minggu, lho!

     "Nahaha. Yah, kalau kamu merasa kesepian, hubungi saja aku. Bukankah sesekali kamu perlu merasakan pengalaman pulang pagi?"

     "Tidak akan pernah. Itu hanya akan merepotkan Tenma-kun."

     "Memangnya kenapa kalau kalian tinggal satu apartemen? Mana mungkin dia merasa direpotkan hanya karena hal sepele begitu. Yah, sepertinya kepribadian seseorang memang tidak akan berubah begitu saja hanya karena sudah jadi mahasiswa."

     Setelah berkata demikian, Makishima bangkit berdiri.

     "Kalau begitu, sampai jumpa minggu depan."

     "Ya. Jangan sampai kamu mati ditusuk orang sebelum itu."

     "Nahaha. Kalau yang itu, aku tidak bisa menjamin."

     "Eh, tolong jamin saja..."

     Dia benar-benar seperti ikan yang akhirnya menemukan air. Sepertinya akuarium bernama 'SMA' itu memang terlalu sempit untuknya...

     Setelah Makishima pergi, aku pun beranjak meninggalkan kafe. Aku mampir ke gedung kemahasiswaan di samping gerbang kampus untuk mengumpulkan lembar kurikulum. Dengan ini, aku seharusnya sudah bisa mengikuti perkuliahan mulai minggu depan.

     Kemudian aku berbalik arah, kali ini menuju gedung unit kegiatan mahasiswa.

     Sesuai namanya, di gedung inilah markas berbagai klub mahasiswa berada. Bangunan ini terkesan jauh lebih tua dibanding gedung lainnya. Aku naik ke lantai tiga, lalu mengetuk pintu salah satu ruangan.

     'Bireiken'

     Terdengar sahutan dari dalam, maka aku pun membuka pintunya dengan ragu.

     Bagian dalam ruangan itu tertata dengan rapi, sangat serasi dengan nama klubnya. Di sana... tepat di meja bagian depan, duduk seorang sosok rupawan dengan rambut panjang yang indah.

     Begitu dia menoleh, dia menyisir rambutnya ke belakang dengan gerakan yang anggun. Pada saat itu, aku seolah melihat sekelebat cahaya misterius yang berpendar di sekelilingnya.

     "Hai, si anak baru Natsume. Sudah memutuskan kurikulummu?"

     "S-selamat siang, Todo-senpai. Baru saja aku kumpulkan."

     ​'Bireiken'—sebuah kelompok yang mengutamakan pencarian dan penelitian terhadap segala sesuatu yang indah.

     Meskipun dijelaskan sesingkat itu, aku tetap saja tidak paham apa maksud tujuannya. Tapi sepertinya, tempat ini merupakan basis bagi orang-orang yang ingin mengeksplorasi apa pun yang mereka anggap indah di dalam kampus. Setelah diberi penjelasan tambahan, aku malah semakin bingung, tapi intinya ini adalah unit kegiatan mahasiswa serbabisa yang menyambut para "orang aneh" dengan tangan terbuka.

     Todo-senpai, ketua dari kelompok misterius tersebut, menyesap cangkir teh di atas mejanya.

     "Syukurlah kalau begitu. Kureha-san sempat berpesan padaku untuk mengawasimu."

     "Haha... soalnya, tidak mungkin kan aku sudah tersandung bahkan sebelum perkuliahan dimulai."

     ...Sebenarnya, begini masalahnya.

     Sama seperti Himari, orang ini juga merupakan model yang bernaung di bawah agensi Kureha-san. Karena koneksi itulah aku diberitahu tentang tempat ini, hingga akhirnya aku bisa bergabung di sini. Omong-omong, tidak ada acara penyambutan anggota baru atau semacamnya. Lagi pula, kabarnya delapan puluh persen anggotanya adalah anggota siluman yang jarang muncul.

     (Astaga, kakinya panjang sekali…)

     Aku tidak begitu paham soal proporsi tubuh, tapi kurasa dia bukan lagi memiliki proporsi satu banding delapan, melainkan satu banding sembilan. Saat pertama kali menyapanya dulu, aku benar-benar mengira ada manekin berbusana indah yang sedang berdiri di sana.

     Ketika aku terpaku mengagumi sosoknya, tiba-tiba ponsel Todo-senpai berdering.

     "Sudah waktunya bekerja, ya. Bisa kutitipkan kuncinya padamu?"

     "Ah, iya. Kalau tidak ada orang lain yang datang, aku kembalikan ke gedung kemahasiswaan, kan?"

     "Ehm. Kalau begitu, semangat ya."

     Todo-senpai melangkah pergi dengan anggun di atas kaki jenjangnya.

     ...Tokyo benar-benar tempat berkumpulnya berbagai macam orang.

     (Waduh, gawat. Malah bengong. Padahal aku sudah susah payah menemukan tempat untuk bekerja. Lagi pula, sore nanti aku harus pergi bersama Tenma-kun)

     Aku duduk di kursi meja tersebut, lalu mengeluarkan tablet dari dalam tas.

     Ini adalah barang yang dibelikan Saku-neesan sebagai hadiah kelulusan kuliahku. Hibari-san bahkan memasangkan perangkat lunak yang cocok untuk desain perhiasan di dalamnya. Berkat benda ini, aku bisa mendesain aksesori di mana saja. Dulu aku harus membawa-bawa buku catatan tebal, jadi sekarang rasanya jauh lebih praktis.

     ...Yah, aku memang belum terbiasa mendesain secara digital, jadi aku masih sering melakukan kesalahan dan harus terus-menerus menggambar ulang. Tapi kalau sudah mahir nanti, kurasa aku bisa mendesain jauh lebih cepat daripada sebelumnya.

     Saat aku membuka jendela, angin musim semi yang hangat berembus masuk ke dalam ruangan.

     Cuaca yang bagus.

     Hari seperti ini sangat cocok untuk menghabiskan waktu bersama bunga-bunga.

     Perlahan, aku menggerakkan pena tablet dan mulai larut dalam desainku. Ngomong-ngomong, bunga apa yang harus kupakai kali ini, ya? Mulai musim semi sampai musim panas nanti, aku ingin menanam sesuatu yang sedapat mungkin terlihat semarak.

     Yah, sebenarnya aku belum bisa bicara banyak karena lingkungan untuk menanam bunganya saja belum ada... tapi tetap saja, aku ingin selalu memikirkan soal bunga.

     Karena sekarang aku tinggal bersama Tenma-kun, sepertinya sulit kalau harus menanam bunga di rumah. Berarti aku butuh tempat khusus. Karena ini Tokyo, mencari lahan sewaan pasti tidak akan sulit. Masalahnya tinggal di biaya sewa. Aku tidak bisa menerima suntikan dana dari Kureha-san, jadi aku harus segera menemukan pekerjaan paruh waktu.

     Gawat, aku harus konsen—lho, kenapa bentuk aksesorinya malah jadi mirip lambang '$' begini? Apa saking banyaknya pikiran sampai terbawa ke gambar???

     (Aksesori untuk musim panas. Aku ingin membuat sesuatu yang terasa segar)

     Bayangan tentang Himari muncul saat aku memikirkan citra yang segar.

     Kira-kira, sedang apa dia sekarang? Aku yakin dia pasti sedang berjuang keras sebagai model. Dia mungkin sedang mengikuti Kureha-san, pergi ke berbagai lokasi pemotretan. Bisa jadi dia sudah mulai mendapatkan pekerjaannya sendiri. Bukan tidak mungkin dalam sebulan ke depan dia akan menjadi topik pembicaraan hangat di internet. Kalau itu dia, segalanya mungkin saja terjadi.

     Aku mengeluarkan sebuah aksesori bunga dari dalam tas.

     (Choker bunga anemon...)

     Bukti bahwa aku dan Himari adalah mitra takdir.

     ...Bukan, bukti bahwa kami pernah menjadi mitra takdir.

     Suatu hari nanti, aku akan menciptakan mahakarya yang melampaui ini, dan aku akan──...

     "Wah. Sepertinya bakal jadi cantik, ya~♪"

     "...!?"

     Suara yang tiba-tiba terdengar di dekat telingaku itu membuatku terlonjak kaget dan langsung menoleh ke belakang.

     Di sana, seolah hal itu adalah sesuatu yang wajar, sudah ada Himari yang melingkarkan kedua tangannya di leherku sambil mengintip ke arah tablet. Gadis populer nan imut yang kini telah menyandang status mahasiswi itu memancarkan aura yang semakin kuat, seolah-olah sanggup menghanguskan orang kuper (kurang pergaulan) sepertiku. Duh, kenapa duniaku jadi terasa seperti sedang menghadapi Malaikat Maut, senjata pemusnah massal yang diciptakan khusus untuk membasmi kaum kuper begini....

     Pokoknya, Himari-san yang kadar keimutannya semakin terasah setelah jadi mahasiswi itu tampak sangat riang sambil menepuk-nepuk pundakku.

     "...... Himari. Kamu, datang ke sini hari ini?"

     "O-ho, ada apa ini? Apa kedatanganku mengganggu kesenanganmu, ya? Jangan-jangan kamu habis bermesraan dengan ketua yang cantik itu, ya? Kalau mau begitu, ajak-ajak aku juga, dong!"

     "Bodoh! Itu tuduhan tidak berdasar! Dan jangan cekik leherku!"

     Aku buru-buru menepuk tangannya yang melingkar di leherku.

     Setelah akhirnya melepaskan diri, Himari duduk di kursi sebelah meja. Lalu, seperti biasanya, dia mulai menggodaku sambil menusuk-nusuk pipiku dengan jari telunjuknya.

     "Yuu, biarpun sudah jadi mahasiswa, sepertinya kamu tetap hanya setia pada bunga, ya?"

     "Memang begitu. Kehidupan kampus yang berwarna-warni rasanya masih jauh dariku."

     "Yang penting itu curi start, tahu~. Lebih seringlah menampakkan diri di pesta penyambutan mahasiswa baru~."

     "Makishima juga mengajakku tadi. Kalian berdua benar-benar kompak, ya..."

     Himari langsung menjulurkan lidahnya sambil memasang tampang jijik yang dibuat-buat.

     Mereka berdua masih saja tidak berubah meski sudah jadi mahasiswa. Yah, setidaknya sejauh ini mereka sudah berhenti saling mencampuri urusan satu sama lain, jadi suasana terasa cukup damai.

     "Yuu, hari ini ada acara?"

     "Tadi baru saja mengumpulkan kurikulum semester ganjil, lalu siang nanti aku ada janji temu dengan Tenma-kun. Kalau kamu?"

     "Aku mau pergi main dengan teman-teman perempuan yang kukenal di pesta penyambutan mahasiswa baru. Yuu mau ikut juga?"

     "Tidak, terima kasih. Harus pasang muka seperti apa aku kalau muncul di sana?"

     "Nfufu~. Seorang pemuda baik-baik yang sedang menjalani hubungan jarak jauh, dilemparkan ke tengah sekumpulan gadis yang haus akan pertemuan baru... tidak mungkin tidak terjadi apa-apa, kan?"

     "Tidak akan kubiarkan terjadi apa-apa! Berhenti bicara begitu, itu sama sekali tidak lucu!"

     Aku menghela napas, lalu mulai menjelaskan rencanaku untuk siang nanti.

     "Hari ini aku mau menemui kenalan Tenma-kun. Katanya orangnya agak sulit dihadapi, tapi kalau aku bisa membuatnya terkesan, dia bakal jadi sekutu yang sangat hebat."

     "Hmm..."

     Dia bukan orang dari agensi Kureha-san, tapi katanya dia punya kemampuan luar biasa dalam bidang penjualan dan produksi.

     Tenma-kun sendiri bilang dia pun belum benar-benar diakui oleh orang itu. Jadi, fakta bahwa dia bersedia menemui kami kali ini adalah kesempatan yang sangat langka.

     (...Aduh, aku jadi gugup)

     Saat aku mulai merasa lemas membayangkan pertemuan itu, tiba-tiba Himari mendekatkan wajahnya.

     "Mau kutemani ke sana?"

     "Eh?"

     Aku menatap langsung ke dalam mata biru laut milik Himari.

     Sepasang matanya itu seolah menyiratkan suatu harapan.

     Selama ini kami selalu bersama. Dalam setiap acara baru seperti ini, kami pasti datang berdua. Jika mengacu pada kebiasaan itu, sudah sewajarnya kali ini pun kami melakukannya bersama-sama. Memang benar, keberadaan orang dengan kemampuan komunikasi tinggi seperti Himari akan sangat membantu.

     Namun....

     "Tidak, tidak perlu. Ini adalah sesuatu yang harus kuselesaikan sendiri."

     "............"

     Himari membelalakkan matanya karena terkejut—lalu dia menyeringai lebar.

     Senyuman itu tampak sedikit lega... sebuah tatapan yang penuh dengan kasih sayang seorang sahabat.

     "Puhhaaa~! Ternyata kamu tidak terpancing, ya~♪"

     "Ya iyalah. Lagi pula, kamu sendiri sudah ada janji, kan? Memangnya tidak apa-apa kalau tidak pergi sekarang?"

     "Benar juga, sepertinya aku memang harus berangkat sekarang. Aku belum begitu hafal jalanan di sini, bisa gawat kalau aku tersesat!"

     Himari bangkit berdiri, lalu setelah berpamitan singkat, "Dah!", dia melangkah terburu-buru keluar dari ruang klub.

     ...Ruangan seketika menjadi sunyi, dan aku kembali ke waktuku sendiri.

     Aku menghela napas lega, lalu melangkah ke tepi jendela.

     Sejujurnya, tadi aku sedikit... hanya sedikit, merasa ragu. Hubungan hangat yang terjalin di antara kami sejak SMP terasa sangat nyaman jika diingat kembali, sampai-sampai dalam sekejap saja, aku merasa ingin kembali ke masa-masa itu.

     Namun, setiap kali perasaan itu muncul, aku akan menutup pintunya rapat-rapat, sesering apa pun itu.

     Meski terasa ada yang kurang, meski terasa sepi, kami sudah memutuskan untuk melangkah di jalan masing-masing.

     Di sini, sudah tidak ada lagi taman rahasia tempat kami bernaung.

     Persahabatan hangat yang begitu kami cintai, telah kami tinggalkan di dalam kenangan.

     "...Eh?"

     Dari ketinggian, aku melihat sosok Himari yang sedang berjalan di bawah sana.

     Dia melambaikan tangan saat bertemu dengan gadis-gadis yang tidak kukenal, lalu berjalan lurus menuju gerbang utama. Di tengah jalan, dia mendongak dan menatap ke arah sini... setelah sempat terkejut karena mata kami bertemu, dia pun tersenyum lebar. Dia mengeluarkan sekotak jus Yogurppe dari sakunya, lalu menusukkan sedotan ke kotak itu dengan wajah bangga yang menyebalkan.

     (...Jangan-jangan, dia menimbun stok sebanyak gunung di apartemennya?)

     Sambil merasa lega karena ada bagian dari dirinya yang tidak berubah meski jalan kami telah bercabang, aku kembali menekuni desain aksesorisku.

     Meski jika kami tidak akan selalu bersama untuk waktu yang sangat, sangat lama.

     ──Aku yakin, suatu hari nanti kami akan kembali bertaut tangan di ujung jalan ini.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close