Penerjemah: Nobu
Proffreader: Nobu
Chapter 5
“Mohon doakan aku”
♣♣♣
Upacara Kelulusan.
Kami akan meninggalkan gedung sekolah yang penuh dengan kenangan tiga tahun ini—
…Aku mencoba untuk hanyut dalam nostalgia semacam itu, tapi sejujurnya aku sangat mengantuk. Setelah ujian masuk universitas usai, aku langsung sibuk menumpuk prototipe aksesori.
Aksesori kali ini lebih sulit dari yang mana pun sebelumnya.
Kuncinya terletak pada paduan warna.
Bunga preserved adalah bunga yang warnanya telah dihilangkan lalu diwarnai secara artifisial. Terutama kali ini, ini bukanlah ujian untuk menilai aksesori itu sendiri. Ini adalah kompetisi untuk menilai kualitas foto dari aksesori tersebut.
Dengan kata lain, yang diminta bukanlah kualitas karya, melainkan pembuatan aksesori yang lebih fotogenik.
Banyak hal yang harus dicoba sebelumnya, seperti pilihan warna dan gradasi, atau arah dan intensitas cahaya saat pemotretan. Bahkan ada pilihan untuk sengaja memilih foto monokrom. Semua itu harus aku coba dalam waktu sebulan ini.
Dulu, aku pernah mengunggah foto untuk penjualan daring, jadi ini bukan pengalaman baru. Meskipun begitu, ini adalah pekerjaan yang baru dalam arti sarana dan tujuan menjadi terbalik. Aksesoris yang dibuat demi terlihat bagus di foto… sungguh pekerjaan yang diam-diam sulit, ya. Selama ini, foto itu dibuat demi memperlihatkan aksesori.
…Maka dari itu. Aku menghabiskan upacara kelulusan SMA yang hanya sekali seumur hidup itu dengan terus-menerus mengangguk-angguk kecil menahan kantuk.
Kata-kata bijak dari Kepala Sekolah hanya lewat begitu saja di telingaku, dan pidato perwakilan siswa pun kusimak secara acuh tak acuh. Penyerahan ijazah hanya kulihat saat perwakilan menerimanya (entah kenapa yang maju si Makishima...), dan sungguh tidak ada yang perlu kulakukan. Aku sempat terlambat berdiri saat ada aba-aba untuk serentak berdiri, tapi kurasa itu tidak masalah. …Meskipun setiap kali itu terjadi, aku merasakan aura kemarahan dari kursi wali murid, dari Saku-neesan, tapi yah, seharusnya itu tidak masalah.
Setelah upacara kelulusan selesai, kami mengikuti jam pelajaran terakhir untuk wali kelas, namun…
“Uwooh…! Kalian semua! Hidup terus berjalan meskipun kalian sudah lulus! Mungkin akan ada masa-masa sulit, tapi berjuanglah sekuat tenagaaa…!”
““…………””
Kami semua terperangah melihat Sasaki-sensei yang, entah kenapa, menangis tersedu-sedu sendirian.
Hah. Orang ini menangis separah ini…
Sepertinya dia tiba-tiba terharu di tengah-tengah pelajaran wali kelas. Apa yang kami bicarakan sesaat sebelumnya, ya? Kalau tidak salah, dia sedang membicarakan tiga hal penting dalam hidup. Apakah dia mampu mengatur kekuatan emosinya sesuka hati?
Aku sempat berpikir Sasaki-sensei adalah tipe yang akan tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Aku lega akhirnya tidak perlu mengurus kalian lagi!” saat upacara kelulusan. Melihat sisi tak terduga ini, aku sedikit terkejut… tidak, tetap saja aku dong-kol (jijik).
Sasaki-sensei yang entah mengapa tempo-nya terus naik, mulai mengitari meja satu per satu. Dia memberikan kata-kata hangat kepada kami masing-masing. Event macam apa ini? Apakah ini semacam adegan yang wajib ditonton untuk melanjutkan alur cerita?
Begitu dia berhenti di depanku, Sasaki-sensei langsung mencengkeram bahuku dengan kedua tangannya. Dengan perlakuan yang terasa lebih intensif daripada murid lain, aku merasakan adanya ancaman bahaya.
“Nyantaro!”
“Ah, Sasaki-sensei. Terima kasih banyak atas bimbingannya.”
Selain itu, bahuku sungguh lumayan sakit…
Ketika aku memasang senyum ramah, kekuatan di tangannya semakin mencengkeram erat.
“Kamu! Kamu ini! Di angkatan ini, kamu sungguh merepotkan…! Kamu menimbulkan masalah setiap tiga bulan sekali sejak naik ke kelas dua, dan entah sudah berapa kali aku kena omel dan diceramahi dengan pahit oleh Wakil Kepala Sekolah! Berbeda dengan kakakmu, Sakura, sifatmu yang sekilas tampak kalem justru yang merepotkan, dasar bocah sialan!”
“M-mohon maafkan saya…”
Eh? Aku kok sedikit berbeda dari yang lain?
Apa Sensei tidak bisa memberiku kenangan manis seperti murid lain, misalnya, “Kamu selalu membantu teman-temanmu belajar, ya. Kebaikan seperti itu akan berguna saat kamu dewasa nanti”?
Seolah membaca kebingunganku, Sasaki-sensei tersenyum lembut.
“Namun, berkat masalah yang kamu timbulkan yang membuat kondisi perutku memburuk, aku akhirnya bertekad untuk berhenti merokok. Terima kasih, ya.”
“Saya senang kalau bisa bermanfaat…”
Bukan begitu maksudku, lho…!
Itu namanya terpaksa karena sudah di ambang bahaya. Sungguh, tolong jangan memaksakan diri mengenang hal itu sambil meneteskan air mata berkilauan…
Akhirnya, pelajaran wali kelas yang terasa seperti neraka itu berakhir, dan kami dibubarkan.
(Emm. Apa yang harus kulakukan, ya?)
Aku mencari Himari… dan melihatnya dikelilingi oleh teman-teman sekelasnya.
Hmm. Ini sepertinya akan memakan waktu. Mereka semua sangat antusias dengan calon supermodel (sementara) yang akan pindah ke Tokyo setelah lulus. Pasti sekitar lima tahun lagi, mereka akan pamer ke orang-orang, “Inuzuka Himari itu teman SMA-ku, lho~.”
Nah, Himari sepertinya masih ada urusan. Dia bilang harus menyapa para guru karena keluarganya menyumbang ke sekolah.
(Rion bilang dia mau mampir sebentar ke klub musik tiup, jadi tinggal aku yang tidak punya kegiatan…)
Biasanya, di saat seperti ini, aku akan mengurus bunga atau membuat aksesori… tapi peralatan yang berhubungan dengan aksesori di ruang sains sudah kuberikan. Sebenarnya boleh saja aku langsung pulang, tapi entah kenapa rasanya sayang. Fufufu, ternyata aku masih punya perasaan menyayangkan kehidupan sekolah ini. …Kenapa juga aku bicara seperti karakter antagonis yang sudah sedikit saling memahami?
Aku memutuskan untuk keluar kelas, berpikir, Aku juga harus menyapa seseorang, ah…, dan kebetulan langsung menemukan orang yang kucari. Atau lebih tepatnya, mereka sedang berjalan ke arahku.
“Natsume-kun~”
“Yaho~”
Itu adalah Inoue Mao dan Yokoyama Azumi.
Mereka adalah duo top-tier si paling populer di angkatanku, dan aku lumayan banyak berutang budi pada mereka. Kadang lelucon mereka kelewatan hingga membuatku kesulitan, tapi mereka adalah gadis-gadis baik yang berinteraksi denganku sebagai teman sejati.
…Saat aku berpikir begitu, tiba-tiba kedua gadis itu mengulurkan tangan ke arahku. Lebih spesifiknya, gerakan tangan yang membentuk pistol. Gerakan itu sempat populer saat kami masih SD, ya.
Lalu, keduanya berseru dengan nada ceria.
“Jangan bergerak! Kami Pemburu Kancing Kedua!”
“Ayo, angkat tanganmu!”
Eh, apa itu? Seram sekali.
Aku tiba-tiba dijadikan target buruan. Tapi, Pemburu Kancing Kedua itu apa, sih? …Yang bisa kulakukan hanyalah mengangkat kedua tangan, gemetar seperti domba kecil yang malang.
“Kalian kenapa tiba-tiba…?”
Inoue-san menyeringai sambil menjelaskan.
“Fufufu. Kami adalah pemburu hadiah yang mengincar kancing kemejamu yang kedua, Natsume-kun! Dengan semangat yang tidak terpatahkan, kami tidak akan membiarkan mangsa incaran kami kabur!”
“B-begitulah!”
Partnernya, Yokoyama-san, berbicara gagap dengan wajah memerah.
Rupanya, aku dipaksa berpartisipasi dalam sebuah event lucu sebagai kenang-kenangan kelulusan. Tidak, sebagai laki-laki, aku tidak keberatan dengan hal semacam ini. Bahkan, ajakan dari para gal ini bisa jadi kenangan seumur hidup.
Maka dari itu, aku pun mencoba mendalami peranku, seolah-olah sedang berakting seperti yang pernah kulihat pada pertunjukan Tenma-kun dan yang lain di Tokyo. Seolah-olah buronan yang terdesak, aku bertanya kembali sambil menggertakkan gigi.
“B-bagaimana caranya agar kalian mau melepaskanku…?”
“Tujuan kami hanya satu! Serahkan kancing kemejamu yang kedua itu!”
“T-tapi ini adalah kenang-kenangan dari adik perempuanku yang terpisah!”
“Jangan banyak alasan, serahkan! Apa kamu tidak peduli apa yang akan terjadi pada nyawa wanita ini!?”
Sambil berkata begitu, entah mengapa Inoue-san malah menangkap Yokoyama-san, lalu menodongkan jari telunjuk ke pelipisnya.
Lho? Bukankah dia itu partnernya?
Dan Yokoyama-san, yang tiba-tiba berganti profesi dengan anggun dari partner menjadi sandera, terlihat bingung dan menatapku serta Inoue-san secara bergantian.
“M-Mao!?”
“Sandera diam saja!”
“B-bukan itu, tapi… semua orang melihat kita, lho!?”
Nah, situasinya mulai menarik, nih.
Ini mungkin kesempatan bagiku, sebagai seorang kreator, untuk melangkah ke tingkat yang lebih tinggi. Aku harus melihat situasi ini secara menyeluruh dan menemukan solusi yang paling optimal.
“Cih. Aku tidak menyangka akan bertemu lagi dengan adikku yang kukira sudah meninggal, dalam situasi seperti ini…”
“Natsume-kun juga ikut-ikutan!?”
Saat aku menunjukkan sikap seolah-olah, Aku terpaksa harus memenuhi tuntutan mereka…, Inoue-san mengulurkan gunting kecil khusus menjahit—wah, persiapannya matang sekali. Dia benar-benar datang hanya untuk mengambil kancing kedua, ya.
“Ayo, gunting sendiri dan serahkan!”
“M-mau bagaimana lagi…”
Aku merasa nilai kebaikan dan kejahatan sudah tertukar, tapi sudahlah. Nilai baik dan buruk memang bisa berubah tergantung posisi seseorang. Dengan begini, drama kemanusiaan ini semakin mendalam.
Aku memotong benang kancing kedua dan menyerahkannya.
Padahal, kancing keduaku ini—silakan ambil saja sebanyak apa pun yang mereka mau. …Ngomong-ngomong, ternyata gadis-gadis zaman sekarang pun masih mengumpulkan kancing kedua, ya.
“Yess. Misi berhasil!”
“Mao, kamu berlebihan! Natsume-kun pasti berpikir kita aneh!”
“Mau bagaimana lagi. Kalau kita minta baik-baik, dia pasti bilang kancing kedua sudah di-klaim sama Himari-san atau Enomoto-san~”
“T-tapi ini terlalu serius dan dramatis…”
“Padahal sebentar lagi mau lulus, kenapa anak ini ragu-ragu, ya~”
Tolong jangan rapat evaluasi di depanku…
(Tapi kalau dibandingkan saat SMP, hal ini tak terbayangkan)
Sampai SMP, aku merasa canggung dengan tipe-tipe gadis seperti mereka, tapi setelah berinteraksi dengan keduanya, kurasa aku sudah jauh lebih terbiasa. Jangan-jangan, aku bisa berinteraksi dengan Kirishima-san secara normal saat pertemuan pertama itu berkat mereka berdua, ya?
Saat aku sedang memikirkan hal itu, Inoue-san berkata.
“Natsume-kun, kamu belum pulang?”
“Ya. Himari dan Rion sepertinya masih ada urusan. Cuma menunggu saja juga aneh, jadi aku tadinya mau menyapa kalian berdua.”
“Serius!? Kita sefrekuensi banget, dong!”
Inoue-san menyeringai sambil menyikut Yokoyama-san di sebelahnya.
“Azu~? Jangan-jangan ini komunikasi batin, ya~?”
“J-jangan begitu, Mao!”
…Godaan seperti ini akhirnya terus berlanjut sampai kami lulus, ya.
Jujur saja, aku sangat kesulitan memberikan reaksi. Mereka memang tidak mengatakannya di depan Enomoto-san, tapi Himari terkadang juga menggodaku.
“Terima kasih untuk semuanya, ya. Aku senang kalian ikut mempromosikan aksesorisku.”
“Ih, tidak, tidak! Justru karena kami, situasinya jadi merepotkan! Seharusnya kami yang minta maaf!”
“Tidak begitu. Meskipun hasilnya jadi begitu, aku tahu kalian menyukai aksesorisku. Lagipula, itu jadi pengalaman yang bagus juga, kok.”
“Senang mendengarnya kalau kamu berkata begitu~. Tapi kami masih merasa kurang puas, sih~”
Inoue-san tersenyum kecut, lalu seolah mendapat ide, dia berkata.
“Kalau begitu, kalau ada anak di universitas nanti yang kira-kira suka aksesorismu, aku akan promosikan, ya! Kali ini aku janji akan melakukannya dengan baik, serahkan padaku!”
“Ahaha. Terima kasih…”
Kalau begitu, aku juga harus bersiap-siap agar tidak menimbulkan masalah lagi.
(Ngomong-ngomong, aku belum pernah membicarakan rencana setelah lulus dengan mereka berdua)
Berarti, Inoue-san akan melanjutkan ke universitas, ya.
“Inoue-san, kamu masuk universitas mana?”
“Aku ke Fukuoka~. Mau ke tempat yang sama dengan pacarku~”
“Ah, begitu rupanya.”
Dia senpai yang lulus tahun lalu, yang orangnya besar seperti Beruang itu.
Waktu kelas dua, aku pernah membuat aksesori berpasangan dengan Inoue-san, ya. Kalau tidak salah, itu kalung menggunakan bunga sansyu (cornelian cherry). Syukurlah mereka tetap harmonis meski sekarang LDR.
Aku bertanya pada Yokoyama-san yang tersenyum lebar di samping Inoue-san.
“Kalau Yokoyama-san?”
“Aku berencana bekerja di daerah sini.”
“Ah, begitu? Jadi tidak ikut dengan Inoue-san, ya.”
“Ahaha. Tentu saja tidak sampai kuliah bareng~. Tidak seperti Mao, aku tidak jago belajar, dan aku juga tidak punya hal yang ingin kulakukan sampai harus keluar kota.”
“Tidak, itu bagus, kok. Salah satu juniorku juga semangat sekali ingin langsung bekerja di daerah sini.”
Aku merujuk pada Mera-san.
Ngomong-ngomong, anak itu dengan entengnya malah mendapat kenaikan gaji di awal tahun baru, mendahuluiku. Yah, aku memang tidak berniat mewarisi minimarket itu, jadi sebenarnya tidak masalah. Meskipun begitu, rasanya sedikit rumit. Padahal aku percaya kami adalah sesama rekan budak Saku-neesan…
Ah, lupakan soal Mera-san sekarang. Lagipula, sekolah kami bukanlah sekolah unggulan, dan faktanya, lebih banyak siswa yang memilih langsung bekerja setelah lulus.
“Kalau begitu, tempat kerjanya sudah diputuskan?”
“Ah, iya. Ada tempat yang mau menerimaku sebagai pegawai tetap di minimarket. Suasana wawancaranya juga bagus, jadi aku putuskan di sana.”
“Minimarket? Wah, tidak biasa, ya.”
“Sasaki-sensei yang mengenalkanku ke kenalannya.”
“Oh, begitu. Orang itu, meskipun penampilannya begitu, ternyata dia sangat perhatian ya.”
Mendengar perkataanku, kedua gadis itu tertawa terkekeh-kekheh.
(Tapi minimarket, ya. Minimarket juga sudah sangat menjamur di daerah kami, dan sepertinya mereka semua kekurangan tenaga kerja)
Aku jujur terkejut.
Zaman sekarang, minimarket, bahkan yang franchise sekalipun, kebanyakan dijalankan oleh pekerja paruh waktu, jadi ternyata ada juga yang mampu mempekerjakan pegawai tetap. Kalau Saku-neesan tahu hal ini, dia bisa-bisa langsung menyerbu toko itu, jadi aku harus diam seribu bahasa.
“Rumahku juga punya minimarket, lho.”
“Eh, benarkah!? Kebetulan sekali, ya. Keren juga.”
“Toko seperti apa itu? Soalnya bekerja di minimarket itu sulit, lho. Katanya lingkungannya sudah lebih baik dari dulu, tapi sepertinya masih ada tempat yang berat…”
“Tidak apa-apa, kok! Mereka sangat ketat soal libur dua hari seminggu, dan pelatihan untuk karyawan baru juga ditangani dengan baik. Katanya, aku juga akan dapat cuti berbayar dan bonus setiap enam bulan, dan Sasaki-sensei bilang itu properti unggulan yang tersembunyi!”
Hah, serius?
Jauh sekali bedanya dengan tokoku. Yah, meski harus kuakui, mungkin ini karena aku terlalu dimanjakan oleh Shiroyama-san dan Mera-san yang cukup agresif mengambil shift.
Yokoyama-san terlihat bahagia. Pasti dia senang mendapatkan tempat kerja yang bagus. Aku pun jadi ikut tersenyum.
“Lagipula, kepala tokonya adalah wanita dewasa yang keren, aku agak mengaguminya~”
“Wanita keren, ya. Orang seperti apa?”
“Bisa dibilang tipe cool, ya? Dia terlihat sedikit malas, tapi ada semacam ketegasan pada dirinya. Katanya, ada seseorang yang sekarang sedang magang, namanya Gutti-san? Orang itu akan pergi, jadi mereka sangat ingin aku bergabung. Apakah dia orang asing yang pulang ke negaranya?”
“…Eh?”
Barusan, bukankah ada informasi yang disisipkan begitu saja dan tidak bisa diabaikan?
Minimarket yang memiliki wanita cantik yang terlihat malas dan pekerja paruh waktu bernama Gutti, ya…
Tidak, mana mungkin. Itu tidak mungkin terjadi. Tunggu? Bukankah tadi dia bilang minimarket itu diperkenalkan oleh Sasaki-sensei?
“O-oh. Seperti apa lagi di sana?”
“Emm, begini. Meskipun dibilang minimarket, itu tidak seperti toko chain yang biasa kita lihat. Mereka menjual kotak bekal dan juga banyak sekali menjual minuman keras lokal… Ah! Lalu di freezer-nya, mereka menjual daging rusa dan babi hutan. Rasanya lebih seperti supermarket kecil daripada minimarket.”
“…………”
Di hadapan Yokoyama-san yang bercerita dengan gembira, aku menutup wajahku dengan kedua tangan dan merintih.
(Itu toko keluargaku…!)
Ini pasti minimarketku. Lagipula, tidak mungkin ada dua minimarket di kota ini yang memanggil pekerja paruh waktu mereka sebagai adik bodoh.
Bagaimana hal ini bisa terjadi? Kedatangan Mera-san untuk melamar sebagai pekerja paruh waktu saja sudah ajaib (dalam artian buruk), kenapa sekarang ada orang kedua yang merupakan kenalan sekolah ikut bergabung?
Selain itu, tanpa terkecuali, dia mendapat perlakuan yang lebih baik daripadaku. Justru itu yang lebih mengejutkan. Aku memang sering membuat masalah, tapi seharusnya aku juga sudah berkontribusi, kan???
Saat aku hanyut dalam suasana hati yang suram sendirian, Yokoyama-san memiringkan kepala dengan bingung. Ah, dia tidak tahu kalau itu toko keluargaku. Sebisanya aku tidak ingin dia tahu, tapi pada akhirnya pasti akan terbongkar juga…
(Tapi aneh juga, ya. Apakah toko kami membutuhkan penambahan tenaga sekuat itu?)
Meskipun aku akan pindah ke Tokyo, setahun terakhir ini aku hampir sepenuhnya dibebaskan dari shift demi persiapan ujian masuk.
Meskipun begitu, shift seharusnya tetap berjalan lancar berkat Shiroyama-san dan Mera-san. Ah, jangan-jangan ini untuk mengurangi beban mereka berdua? Itu mungkin saja. Saku-neesan itu manja pada gadis cantik, kalau soal aku sih dia biasa saja. Tidak, Mera-san juga… kalau hanya penampilannya sih… Hmm, intinya, dia manja pada gadis cantik seperti Shiroyama-san!
Namun, jawaban yang diberikan oleh Yokoyama-san jauh melampaui dugaanku.
“Katanya mereka akan membuka toko kedua sekitar tahun depan, dan aku akan menjadi staf opening? Aku sangat diharapkan, jadi aku akan berusaha keras~”
…Aku tidak dengar apa-apa soal ini???
Eh, toko kedua itu benar-benar baru kudengar! Serius, ini benar-benar toko minimarket keluargaku, kan? Aku tidak mendengar apa-apa dari Ayah atau Saku-neesan, lho? Meskipun aku akan pindah ke Tokyo dan tidak akan berhubungan lagi, apakah mereka tidak memberitahuku hal sepenting ini?
(Jadi ini alasan kenapa Mera-san naik gaji~~!)
Saat aku meratap sendirian, Yokoyama-san sedikit menjauh dengan canggung.
“Natsume-kun, kamu aneh dari tadi, lho…?”
“Ah, tidak. Bukan apa-apa. Sungguh, bukan apa-apa!”
Aku tidak mungkin membiarkannya tahu bahwa aku hampir diasingkan dari bisnis keluarga, jadi aku hanya bisa menutupi jawabanku…
“Emm, Yokoyama-san. Semoga sukses, ya.”
“Ya!”
“Sungguh, semoga sukses…!”
“I-iya? Kenapa kamu mengatakannya dengan wajah penuh harap seperti itu…?”
Ah, gawat.
Kebiasaan lamaku kumat; tiba-tiba saja radar penghindar bahaya Saku-neesan muncul. Pada dasarnya dia baik pada perempuan, jadi seharusnya tidak masalah selama bukan aku yang bekerja di sana.
“Kalau begitu, terima kasih banyak ya, kalian berdua. Aku juga akan berusaha keras di universitas.”
“Ya. Jangan lupa sesekali kirim kabar, ya!”
Hmm. Kata-kata seperti ini bisa keluar begitu saja dari Inoue-san, benar-benar menunjukkan dia adalah ahli komunikasi alami.
Setelah itu, Yokoyama-san terlihat sedikit malu-malu dan tersipu dengan raut tegang. Di tangannya, kancing keduaku yang baru saja kuberikan digenggam dengan hati-hati.
“A-anu, aku, mungkin kita tidak akan bertemu lagi, tapi aku akan melihat ini dan mengingat Natsume-kun…”
“Ya. Begitu, ya…”
Padahal kurasa kami akan segera bertemu…
Lebih tepatnya, saat musim mudik libur Golden Week atau libur Obon. Yah, mungkin Yokoyama-san akan segera tahu juga. Jangan-jangan, kami bahkan bisa bertemu muka sebelum aku berangkat ke Tokyo…
Sambil berdoa agar momen ini tidak menjadi sejarah kelam bagi Yokoyama-san, aku melambaikan tangan kepada mereka berdua.
“…………”
Dan ketika aku berdiri mematung dalam diam…
“Yo, Natsu. Sampai saat-saat terakhir pun, kamu ini benar-benar pria yang penuh dosa, ya?”
“GYAAAAAAAHHH!?”
Aku hampir mati terkejut karena tiba-tiba bahuku ditepuk dari belakang.
Saat aku menoleh, Makishima sudah berdiri di sana. Sejak kapan dia melihat? Ketika aku menyuarakan kecurigaanku, dia mengembangkan kipas lipatnya dan menyipitkan mata sambil menyeringai.
“Tugasmu di universitas nanti adalah belajar cara menghadapi gadis yang tidak kamu sukai. Dengan dirimu yang sekarang, kamu bisa saja ditikam suatu hari nanti, lho?”
“B-berisik kamu. Yokoyama-san juga tidak seserius itu, kok.”
“Kamu menggunakan alasan yang sama persis seperti saat dengan Rin-chan, ya. Aksesorismu boleh maju, tapi aku tidak bisa menerima fakta bahwa kamu sama sekali tidak becus dalam urusan asmara. Yah, serahkan saja urusan itu padaku. Nantikan saja bimbinganku.”
“Sungguh, tolong aku tolak saja tawaranmu…”
Lagipula, kalau kamu yang terlibat, tidak akan ada hal baik yang terjadi…
“Tapi, kancingmu benar-benar habis tak bersisa, ya…”
Bukan hanya kancing depan jas Makishima, tetapi kancing di lengan baju dan kancing kemeja dalamnya pun hilang tak berbekas. Jika saja ini bukan dia, ada kemungkinan dia bisa dilaporkan atas tindakan mempertontonkan ketelanjangan.
“Nahaha. Yah, inilah yang namanya pria paling diminati sejati. Hasil sebanyak ini, mungkin hanya bisa kamu lihat di komik shoujo masa kini, ya.”
Jangan bangga diri begitu.
Dia memang seperti ini sampai lulus. Sungguh ajaib dia tidak sampai ditikam perempuan.
(Emm, Himari…)
Aku mengintip ke dalam kelas.
Himari… sepertinya masih lama. Belum ada pesan juga dari Enomoto-san. Kalau begitu, aku punya waktu luang sebentar lagi.
“Makishima. Mau minum sesuatu?”
“Hmm…”
Makishima melipat kipasnya, lalu menyeringai.
“Baiklah, boleh saja.”
♣♣♣
Kami membeli minuman di mesin penjual otomatis masing-masing, lalu duduk di bangku di halaman tengah.
Hmm. Taman bunga ini juga sudah benar-benar sepi, ya. Yah, sejak awal ini adalah area yang kami pinjam atas nama klub hortikultura, jadi setelah lulus, wajar jika jadi begini.
Shiroyama-san juga bilang dia akan keluar dari klub hortikultura setelah kami lulus. Sepertinya dia sudah punya teman di kelasnya, dan aku justru akan lebih senang kalau dia memprioritaskan mereka.
Para lulusan berjalan di sepanjang jalur menuju tempat parkir sepeda. Setelah ini mereka akan pulang, lalu berkumpul lagi bersama kelompok teman mereka, ya. Kami juga berencana mengadakan pesta kelulusan di rumah Himari.
“Makishima, setelah ini kamu ke mana?”
“Pesta perpisahan dengan anak-anak klub tenis. Meskipun mungkin kami tidak akan bertemu lagi setelah ini, mereka anak-anak yang baik, jadi setidaknya kami akan bersenang-senang untuk yang terakhir kalinya.”
“Jarang sekali kamu membuat kenangan hanya dengan laki-laki.”
“Aku tidak bilang tidak ada perempuan, kan?”
“…Kamu, hati-hati di jalanan gelap saat di universitas nanti, ya.”
Yah, mengingat Makishima, kurasa aku tidak perlu khawatir.
Makishima tertawa sambil menyesap caffè latte-nya.
“Manis, ya. Aku selalu berusaha tidak meminum minuman seperti ini karena bisa menambah berat badan. Tapi, ternyata tidak seburuk yang kukira.”
“Ngomong-ngomong, kamu akan melanjutkan tenis di universitas?”
“Tidak. Sudah tidak ada keharusan untuk melakukannya lagi.”
Dia mengatakannya dengan enteng, padahal dia begitu bersemangat dengan tenis.
Namun, ekspresi Makishima terlihat cerah.
Mungkin dia telah melepaskan beban dengan caranya sendiri.
“Hmm… Jadi, apa ada hal lain yang ingin kamu lakukan?”
“Belum ada yang pasti, sih… lagipula, aku memang berencana meninggalkan rumah suatu saat nanti, kok. Kakakku sudah diputuskan menjadi penerus, dan kehadiranku hanya akan merepotkan. Karena itu, aku berpikir untuk mencoba pergi ke kota besar, jadi aku mendaftar ke universitas yang sama denganmu. Bukankah lebih praktis kalau ada kenalan dari kampung halaman?”
Ah, begitu rupanya…
Akhir dari kisah dia dan Kureha-san juga merupakan sebagian kesalahanku. Aku tidak menyesali tindakanku saat itu, tapi aku agak khawatir karena dia menjauhi tenis setelah kejadian itu.
Lalu, Makishima berkata, seolah teringat sesuatu.
“Oh, ya. Ngomong-ngomong, aku ditawari oleh Pegasus untuk bergabung dengan kelompok teater saat masuk universitas nanti.”
“Eh, serius!?”
Aku sedikit condong ke depan karena pernyataan yang cukup mengejutkan itu.
“Eh? Kenapa? Bagaimana bisa?”
“Katanya, tingkahku sehari-hari yang lebay dan penuh drama itu menyentuh hati sanubarinya. Dia bilang mentalitasku kuat dan sepertinya tidak akan canggung di atas panggung.”
“Ah, soal itu memang benar…”
Setelah kubayangkan, ternyata itu cukup cocok untuknya.
Dia cerdas, dan dalam hal memanipulasi emosi orang, dia adalah yang terbaik. Sungguh, aku tidak ingin merasakan hal itu selama masa SMA ini…
“Kamu, jangan sampai membuat masalah dengan urusan wanita di sana, ya…”
“Nahaha. Bukankah itu salah satu kesenangan dari kelompok teater?”
“Kesenangan macam apa itu. Sungguh, minta maaf pada Tenma-kun dan yang lainnya.”
Gawat, kalau dia bergabung, kelompok teater itu bisa hancur dari dalam.
Padahal itu kelompok teater yang sudah bersusah payah didirikan oleh Yonekawa Nagisa yang terpandang… Tunggu? Apakah kelompok teater semacam itu memiliki sejarah? Aku membayangkan perputaran anggotanya sangat cepat, jadi aku kurang mengerti.
Bagaimanapun, aku harus mengawasinya dengan ketat. Tidak, mustahil bagiku yang biasa-biasa saja ini untuk mengendalikan tindakannya.
“Ngomong-ngomong, bagaimana dengan dirimu?”
“Eh? …Ah, maksudmu ujian masuk Kureha-san?”
“Benar. Aku dengar dari Rin-chan, isinya lagi-lagi sangat kejam, bukan?”
“Kejam… yah, mungkin begitu.”
Dari cara bicaranya, dia pasti tahu bahwa nasib Himari mungkin bergantung pada hasil ujian itu.
“Bagaimanapun, aku tidak tahu apa niat Kureha-san, tapi aku akan berusaha sekuat tenaga. Kalau aku terus memikirkan hal-hal yang tidak perlu, aku tidak akan bisa membuat karya yang mampu meyakinkan Tenma-kun dan yang lainnya.”
“…………”
Makishima menatap wajahku sejenak.
Lalu, seolah telah memahami sesuatu, dia terkekeh pelan.
“Kalau kamu merengek dan kebingungan seperti biasanya, aku tadinya berniat memberimu nasihat… tapi sepertinya kekhawatiranku tidak perlu.”
“A-apa maksudmu? Apa aku terlihat selemah itu di matamu?”
“Kamu memang tidak diragukan lagi lemah. Kata-katamu barusan bahkan sempat terlihat seperti lelucon bagiku.”
“Ugh…”
Saat itu, teman-teman Makishima dari klub tenis memanggilnya dari kejauhan. Makishima melambaikan tangan ke arah mereka sebagai balasan, lalu berdiri dari bangku.
“Aku harus pergi sekarang. Aku doakan kau berhasil.”
“Ah, ya. Terima kasih.”
Sambil memperhatikan punggungnya, aku kembali berpikir.
“…Dia benar-benar sudah lebih kalem, ya.”
Tak kusangka Makishima berniat memberiku nasihat.
Aku tersenyum kecut sambil sekali lagi membulatkan tekadku untuk ujian masuk tersebut.
♣♣♣
—Sebulan kemudian.
Sehari sebelum ujian masukku.
Di rumah Himari, aku menghadapi meeting terakhir dengan Kirishima-san.
Sementara itu, Himari dan Murakami-kun juga sedang mengadakan meeting serupa di ruangan terpisah. Enomoto-san sepertinya sedang membantu Ikuyo-san menyiapkan makan siang di dapur.
Formasi ini telah menjadi sangat familier selama dua bulan terakhir.
Kami pun meminjam ruang tamu seperti biasa, duduk berhadapan di meja. Di depan kami, tersusun foto-foto prototipe yang diambil pagi harinya.
Mengambil salah satu foto itu, aku bergumam.
“Paduan warna aksesorisnya lebih gelap dari yang kukira…”
“Ya, benar. Bisakah ini diatasi dengan meningkatkan kecerahan pada fotonya?”
“Mungkin saja, tapi bukankah kecerahan Kirishima-san sendiri juga akan menjadi aneh?”
“Kalau data, kita bisa memproses (edit) hanya bagian tertentu saja setelahnya.”
“Serius? Yah, tapi…”
Meningkatkan kecerahan hanya pada aksesori itu sendiri.
Mungkin itu bisa dilakukan tergantung dari cara pencahayaan-nya… tetapi karena kondisi peralatan pada hari-H masih belum jelas, memperhitungkan hal itu akan merugikan.
Kalau begitu…
“Aku harus ganti aksesoris utamanya.”
“Kamu yakin? Apa ada yang cocok dengan temanya?”
Jumlah bunga yang sudah kubahas dengan Kirishima-san sebelumnya tidak banyak.
Namun…
“Sebenarnya, ada aksesori yang belum kuberitahukan pada Kirishima-san.”
Aku mengambil kotak kardus yang tertumpuk di sudut ruang tamu dan membukanya di atas meja. Kirishima-san mencondongkan badan untuk melihat dan berseru kaget.
“Apa ini!? Kapan kamu menyiapkan aksesoris bunga sebanyak ini!?”
Di dalamnya, berjejer rapat prototipe aksesoris.
“Jangan-jangan ini barang yang dijual di pasaran?”
“Bukan. Karena syarat ujian masuk kali ini adalah menggunakan aksesorisku.”
Asal usul dari sejumlah besar aksesori bunga ini.
Tentu saja…
“Sebenarnya, di awal tahun aku mendapatkan banyak sekali bibit bunga dari seorang guru kenalan.”
Itu adalah otoshidama (hadiah tahun baru) dari Araki-sensei.
Sejujurnya, aku tidak menyangka ini akan selesai tepat waktu untuk ujian masuk kali ini… tapi anehnya, semuanya sudah terkumpul. Karena sudah siap, aku memikirkan rencana tertentu. Semua ini berkat bantuan Shiroyama-san dan Mera-san.
Kirishima-san mengambil aksesoris satu per satu sambil berkata dengan nada tak percaya.
“Meskipun begitu, bagaimana kamu bisa membuat aksesoris sebanyak ini? Bukankah kamu baru saja selesai ujian masuk?”
“Haha. Selama setahun terakhir aku tidak bisa membuat aksesoris karena sibuk belajar. Setelah aku asyik membuat desain yang sudah kupikirkan selama ini, tahu-tahu jadi sebanyak ini…”
Menurut Saku-neesan, kondisiku lumayan parah.
Aku begitu tenggelam sampai lupa makan, dan ketika sadar, aku sudah terkapar di ruang keluarga. Aku tidak tahu kenapa di ruang keluarga, tapi mungkin naluri bertahan hidup mengarahkan tubuhku ke sumber makanan. Ngomong-ngomong, setelah itu, selama beberapa hari para waliku berdiskusi, “Apakah dia benar-benar bisa hidup sendiri?” Aku benar-benar menyesal…
“Lalu, bunga mana yang akan dijadikan bunga utama?”
“Kita akan memotret aksesoris ini dan menilainya dari hasil cetakannya.”
“Ini sudah hampir siang, apa kita akan sempat?”
“Kita hanya perlu memotretnya bersama Kirishima-san dengan pencahayaan yang sesuai, tanpa perlu memikirkan pose. Kalau kita kerjakan segera, kita pasti bisa…”
“Tapi, bagaimana dengan temanya? Itu mungkin tidak cocok dengan struktur trilogi kita kali ini.”
Memang, itu adalah masalah besar.
Namun, aku punya sebuah gagasan mengenai hal itu.
“Pertarungan kali ini, temanya ambigu. Kurasa tidak akan ada masalah kalau kita memasukkannya ke dalam bentuk interpretasi yang diperluas.”
Ketiga tema tersebut adalah ‘Luar Angkasa’, ‘Bumi’, dan ‘Manusia’.
Jujur saja, ini bukanlah tema yang memiliki jawaban mutlak.
Akan tetapi, ujian masuk kali ini adalah kolaborasi antara kreator dan model. Ini tidak akan berjalan tanpa persetujuan Kirishima-san, yang akan mengekspresikan temanya. Aku sempat berpikir dia akan menolak… tapi Kirishima-san, yang mendengarkan penjelasanku dengan wajah serius, akhirnya menyeringai.
“Baiklah. Kalau begitu, mari kita pikirkan lagi strukturnya dari awal.”
“Kamu serius!?”
“Tentu saja. Lagipula, kenapa kamu yang terkejut, sih?”
Aku tersenyum kecut mendengar teguran yang masuk akal itu.
“Tentu saja, karena tadi aku menganggapnya coba-coba. Maaf, padahal besok sudah hari-H.”
Ketika aku meminta maaf, Kirishima-san menyisir rambutnya dengan wajah bangga.
“Kamu pikir aku ini siapa? Perubahan sekecil ini, aku bisa mengatasinya dengan mudah, bahkan satu jam sebelum pemotretan.”
Keyakinannya sungguh menyegarkan.
Tapi itu sama sekali bukan kesombongan atau pura-pura. Kirishima-san memiliki beragam kemampuan akting yang cukup untuk mewujudkan hal itu. Karena itulah, aku bisa mengejar kesempurnaan karya foto ini sampai batas akhir.
(Sejujurnya, ini menyenangkan)
Pasti di luar sana banyak model yang memiliki senjata besar seperti Kirishima-san.
Jika aku berhasil lulus ujian masuk kali ini, aku pasti akan mendapatkan kesempatan untuk bekerja dengan model-model seperti itu. Selain aspek peningkatan skill-ku, fakta itu saja sudah membuat dadaku berdebar.
(Bagaimanapun, sepertinya masalah aksesori bisa teratasi…)
Hal berikutnya yang harus aku konfirmasi adalah…
Sebuah buku catatan terbentang di antara kami. Di situ tertulis isi dari ujian masuk kali ini:
‘Fotografi’
Kreator dan model berpasangan untuk membuat tiga karya foto.
Foto-foto tersebut akan diambil satu per satu oleh fotografer yang disiapkan oleh Kureha-san, dicetak di tempat, dan langsung dinilai.
Karena formatnya adalah pertarungan tiga babak, pasangan yang lebih dulu meraih dua poin dinyatakan menang.
Aturan ini sudah kami ketahui, tetapi ada satu hal yang terus mengganggu pikiranku.
Aku ingin mendapatkan jawaban atas hal itu sebelum pertarungan besok. Masalahnya, kami tidak bisa menyepakati ini sebelumnya karena mentalku tertekan gara-gara ujian.
Aku dan Kirishima-san sama-sama menyilangkan tangan dan bergumam.
“Kalau dilihat dari aturannya saja, ini cukup sederhana, ya.”
“Ya, benar. Tapi ini terasa mencurigakan.”
Dilihat dari luarnya saja, ini hanyalah proses menampilkan karya foto secara berurutan.
Hal yang paling mengganjal adalah kenyataan bahwa ‘hal itu justru tidak efisien’.
“Kirishima-san. Apa kamu paham tentang fotografi?”
“Tentu saja, aku seorang model, dan aku sering mengambil foto diriku sendiri… tapi kali ini kan hasil cetak fisik dengan proses pencetakan? Aku tidak tahu cara mencetaknya.”
Jujur, aku juga tidak terlalu paham.
Setelah mencari sedikit informasi, sepertinya, bahkan di era modern di mana ponsel dan kamera digital sudah maju, mencetak foto masih membutuhkan waktu. Toko foto di dalam mal saja, butuh waktu minimal satu jam untuk mencetak data yang dibawa.
Apalagi kali ini, fotografer yang disiapkan Kureha-san akan mencetak sendiri. Aku tidak tahu seberapa canggih peralatannya, tetapi setidaknya itu tidak akan lebih cepat daripada toko foto.
Jika begitu, satu lembar foto bisa memakan waktu beberapa jam.
Jika itu dilakukan secara berurutan untuk tiga lembar foto, lalu dilanjutkan ke penilaian…
“Kecurigaan itu memang ada di sini…”
“Ya, benar…”
Pendapatku dan Kirishima-san sama.
“Meskipun kita bertanding dengan tiga foto, tidak ada keharusan untuk mencetaknya satu per satu secara berurutan. Seharusnya cukup dengan mencetak ketiga foto sekaligus, lalu menyerahkannya secara berurutan.”
“Itu dia. Mencetak dan menilai satu per satu secara berurutan, entah berapa banyak waktu yang dibutuhkan. Kalau dimulai pagi hari, selesainya bisa malam hari. Selain itu, selama proses pencetakan, kita hanya akan menunggu tanpa melakukan apa-apa, kan?”
“Hmm, ini terlalu tidak efisien. Rasanya tidak seperti Kureha-san, yang sudah memantapkan diri sebagai model profesional…”
“Yah, mengingat kepribadian Kureha-san, kemungkinan dia melakukannya hanya karena ‘merasa menyenangkan’ juga tidak bisa dikesampingkan…”
Itu dia.
Karena kami tahu betul seperti apa Kureha-san, kami terjebak dalam jebakan pemikiran yang berputar-putar.
Apakah Himari atau Murakami-kun menyadari kejanggalan ini? Atau, jika kami bertanya pada Tenma-kun, mungkin dia akan memberikan jawaban yang mengejutkan… tidak, tentu saja tidak boleh bertanya pada juri.
Kirishima-san menghela napas sambil berkata.
“Yah, bagaimanapun juga, meskipun kita ingin menyusun strategi, aturan ini membuat kita tidak bisa berbuat apa-apa, ya. Ini seperti bermain janken (suit) secara berurutan.”
“...Janken, ya.”
Memang benar.
Karena kita tidak tahu karya macam apa yang akan dikeluarkan lawan, tidak ada cara untuk membuat tindakan balasan. Lagipula, kriteria penilaian para juri pun masih misteri.
Aku hanya tahu Tenma-kun dan Sanae-san akan berpartisipasi, dan menyesuaikan diri dengan selera mereka juga akan sia-sia. Kedua orang itu pasti sudah melatih mata estetika mereka di bawah bimbingan Kureha-san dan Yataro-san.
(...Biasanya, kesimpulannya akan seperti itu)
Aku menarik napas perlahan, lalu mengungkapkan pemikiran yang sudah kupikirkan selama sebulan ini kepada Kirishima-san.
“Kirishima-san. Untuk pertarungan kali ini… bolehkah aku yang menyusun strateginya?”
Kirishima-san memiringkan kepala dengan bingung.
“Yah, tentu saja boleh. Ini kan ujian masukmu. Tapi bukankah tadi kita baru saja sepakat bahwa tidak ada strategi yang bisa disusun?”
“Memang begitu. Tapi sebenarnya ada satu hal yang terpikir olehku…”
Aku menjelaskan ‘strategi’ itu.
“...Begitulah kira-kira.”
“…………”
Kirishima-san berpikir keras dengan ekspresi serius.
…Apakah ini tidak akan berhasil, ya?
Ini cukup terasa seperti trik curang yang memanfaatkan celah dalam aturan. Aku sempat berpikir Kirishima-san yang berprinsip menjunjung tinggi kehormatan mungkin tidak akan suka.
Namun, di luar dugaanku, Kirishima-san mengangguk.
“Kurasa tidak masalah.”
“Serius!?”
Kirishima-san menatapku dengan tatapan agak jengkel.
“Kamu bukannya percaya diri?”
“Tidak, yah. Aku hanya berpikir kamu mungkin akan menolaknya…”
“Memang. Setidaknya ini bukan cara yang gentle. Tapi ini masih dalam batas aturan, dan malah ada kemungkinan mereka menguji apakah kita akan menyadari celah dalam aturan itu atau tidak…”
Benar.
Ketika aku memikirkan strategi ini, aku menyadari hal yang sama dengan Kirishima-san. Salah satu kejanggalan yang kurasakan saat aturan ujian masuk ini diumumkan—poin ‘mengapa mereka repot-repot mengumpulkan juri dan menilai karya yang sudah dicetak, alih-alih mengirim data foto saja’—menjadi masuk akal.
“Selain itu…”
Kirishima-san menyeringai pada strategiku.
“Kalau lawan kita adalah Murakami-kun, ini pasti akan mengenainya.”
Ugh. Kirishima-san, kamu memasang senyum jahat sekali, ya…
Yah, aku yang memikirkannya, jadi aku tidak bisa menyalahkan orang lain. Tapi memang anak ini sangat cocok berteman dengan Himari.
“Tapi apa ini aman? Kamu ingat dengan benar aturan terakhir ujian masuk ini?”
“Ah, soal itu tidak masalah. Aksesori tambahan tadi memang untuk hal ini.”
Persiapan awal adalah kunci dari strategi ini.
Aku yakin Murakami-kun tidak akan menyangka aku akan datang dengan strategi seperti ini.
“Tapi, bagaimana kalau Murakami-kun memikirkan hal yang sama?”
“Entahlah. Kalau itu terjadi, bagaimanapun juga aku yang akan rugi, dan aku hanya harus pasrah. Malahan, kalau dia datang dengan strategi yang sama, kita masih punya potensi untuk mengambil keuntungan dengan keunggulan Kirishima-san.”
Kirishima-san menyisir rambutnya dengan bangga.
“Tentu saja! Aku tidak akan kalah dari Himari!”
“K-kamu bisa diandalkan, ya…”
Meskipun aku merasa sedikit rumit…
“Tapi, apakah strategi itu bisa diterapkan pada ketiga tema? Bukankah tadi kamu bilang akan mengganti aksesori utama menggunakan bunga tambahan?”
“Ah, itu. Emm…”
Karena aku sudah menyiapkan beberapa draf sebelumnya, aku memperlihatkannya pada Kirishima-san.
“Mana yang bagus?”
“Hmm. Aku tidak paham tentang bunga, jadi sulit bagiku kalau hanya ditunjukkan informasinya saja.”
“Ah, benar juga. Itu memang masuk akal…”
Kalau begitu, aku harus memilih berdasarkan seleraku sendiri.
Model kali ini adalah Kirishima-san. Sejujurnya, kami tidak terlalu akrab, dan aku tidak tahu apakah aku bisa memaksimalkan keunggulannya sebagai model…
(Tidak, ini justru kesempatan untuk membuktikan semua yang sudah kuraih selama ini, kan?)
Aku kembali mengamati Kirishima-san.
“…Benar juga. Keunggulan Kirishima-san memang luasnya rentang akting yang bisa kamu lakukan. Aku juga merasakannya saat pertunjukan liburan musim panas lalu, Kirishima-san sepertinya bisa memerankan apa saja, mulai dari tipe imut hingga tipe elegan. Ditambah kemampuan aktingnya yang mumpuni, sejak awal materi dasarnya sudah berlevel tinggi. Terus terang, sebagai model, kamu tak terkalahkan, bukan? Foto majalah saat liburan musim panas itu juga sangat imut, dan rasa percaya diri bahwa Kirishima-san akan cocok dengan apa pun itu luar biasa. Di sisi lain, hal itu juga memunculkan tantangan bagi kreator, yaitu apakah kreator bisa memanfaatkan Kirishima-san, model terbaik yang sudah ‘sempurna’ ini. Bagiku, ini adalah tantangan yang membakar semangat, tapi justru memasukkan ide baru pada Kirishima-san yang sudah memiliki keindahan yang matang…”
…Eh?
Entah mengapa wajah Kirishima-san di depanku menjadi sangat merah. Dia tampak sangat canggung dan terus-menerus membuang pandangan. Ada apa, ya… Ah!
Karena terlalu asyik menganalisis Kirishima-san, aku tanpa sadar mendekatkan wajahku hingga jaraknya sangat dekat. Ini yang disebut Makishima sebagai protagonis love-comedy…
Tepat saat aku berpikir harus segera menjauh, aku sadar Kirishima-san sedang memegang ponsel. Dan jika dilihat lebih dekat, layar chat Line-nya terbuka.
Apa ini? Lawannya Enomoto-san… “Tolong urus pacarmu!!”… katanya?
Bersamaan dengan kesadaranku akan kesalahanku sendiri, bagian belakang kepalaku langsung dicengkeram.
Kenapa, ya? Sentuhan ini, justru terasa sangat menenangkan. Benar-benar seperti Iron Claw yang lebih sering kulihat daripada wajah orang tuaku.
…Saat aku merasakan kehangatan itu sendirian, cengkeraman di ujung jari itu tiba-tiba menguat.
“Hukuman.”
“GYAAAAAAAAAAAAAAHHHH!?”
Kenapa!
Apa aku melakukan sesuatu yang pantas dihukum surga!?
Enomoto-san, yang muncul entah sejak kapan, menggerak-gerakkan jari tangan kanannya sambil matanya bersinar.
“Saat Festival Budaya tahun kedua, aku sudah bilang: Satu Rayuan Berarti Satu Hukuman, kan?”
“Aturan itu masih berlaku!?”
Lagipula, aku hanya menganalisis untuk menentukan arah karya…!
“Anu, Kirishima-san. Alangkah baiknya kalau kamu memberiku peringatan terlebih dahulu sebelum memanggil Rion…”
“Y-ya, benar. Aku salah…”
Dan kali ini, kami menyelaraskan arah karya di bawah pengawasan Enomoto-san.
Jarak, penting. Jarak, harus hati-hati.
“…Oke. Kita ambil arah seperti ini, ya.”
“Menurutku bagus.”
Kemudian aku menoleh ke arah Enomoto-san.
Aku merendahkan diri sebisa mungkin, meminta persetujuan dari pacarku yang memiliki daya serang luar biasa itu.
“Anu, bagaimana kalau yang ini?”
“Menurutku bagus.”
“Terima kasih!”
Mengapa aku harus melalui sensor rayuan hanya untuk membuat karya foto…? Saat aku menangis tersedu-sedu merasakan ketidakadilan yang mutlak ini, Kirishima-san berkata dengan nada kasihan.
“Kamu juga repot, ya.”
“Padahal penyebabnya adalah Kirishima-san yang membunyikan alarm anti-kejahatan…”
Tepat pada saat meeting mencapai jeda di sana.
Bel rumah Inuzuka berbunyi, dan terdengar suara Ikuyo-san yang membukakan pintu. Suara-suara riuh disertai langkah kaki mendekat.
(Ah, suara ini…)
Wajah Enomoto-san terlihat sangat tidak suka, sebaliknya, Kirishima-san tersenyum gembira.
Ketika pintu geser ruang tamu terbuka, orang yang sudah kuduga muncul.
“Yaho~☆ Yuu-chan, apa aku membuatmu menunggu lama~?”
Itu adalah Kureha-san.
Oh, ya. Dia bilang akan datang dengan kereta api setelah tengah hari. Sudah jam segitu, ya.
“Terima kasih atas kedatanganmu. Terima kasih untuk kali ini.”
“Sama-sama~♪ Ah, Rion juga sehat~?”
Namun, Enomoto-san memalingkan wajah dengan cemberut. Aku kagum dia tetap konsisten dengan perannya sebagai pembenci kakak perempuannya. Ah, aku terlanjur menyebutnya peran.
Lalu, Kirishima-san berlari menghampiri Kureha-san sambil tersenyum.
“Kureha-san!”
“Himari-chan dan Murakami-kun ada di ruangan sebelah, ya~?”
“Mengabaikanku separah itu bukannya keterlaluan~!?”
Dia tetap saja suka menggoda, ya.
Yah, aku mengerti perasaannya… Saat kami sedang merasa canggung, Tenma-kun dan Sanae-san muncul dari belakang Kureha-san.
“Yuu-kun!”
“Ah, Tenma-kun!”
Kami bertukar sapa dengan senyum.
Aku pernah merasakannya sebelumnya, tapi tetap saja, melihat anggota dari Tokyo di tempat ini terasa sangat janggal… Tidak menyadari perasaanku, Tenma-kun melihat sekeliling ruangan.
“Wah, jadi ini rumah keluarga Himari-san. Aku sudah mendengarnya, tapi ini benar-benar rumah yang megah, ya.”
“Ya, benar. Awalnya aku juga merasa agak takut.”
Sanae-san juga melihat sekeliling ruangan sambil bertukar sapa dengan kami.
“Natsume-kun. Bagaimana kabarmu?”
“Baik. Meeting baru saja selesai, jadi aku berencana mengambil aksesori dan memulai penyesuaian akhir.”
Dia mengangguk-angguk, lalu menyapa Enomoto-san.
“Rion-san, lama tidak bertemu, ya.”
“Sanae-chan, selamat siang.”
“Apakah Natsume-kun tidak sedang merayu gadis lain hari ini?”
“Tadi Kirishima-san yang menjadi target.”
“Wah. Dia memang merepotkan, ya.”
Kenapa, sih?
Aku tadi sedang mendiskusikan arah karya! Tolong berhenti menganggapku sebagai Makishima secara natural!
(Tenma-kun dan Sanae-san juga beroperasi normal, ya. Memang anggota dari universitas…)
Mereka berdua adalah juri besok.
Katanya akan ada satu orang lagi yang datang… Saat itulah, aku menyadari ada seorang wanita berambut acak-acakan dan membungkuk yang tampak bersembunyi di belakang Sanae-san.
(Eh? Orang ini…)
Saat aku kebingungan, Kirishima-san bereaksi.
“Oh? Rikka datang?”
“……!”
Wanita yang membungkuk itu… entah kenapa dia memakai pakaian rumahan yang benar-benar biasa. Jangan-jangan dia datang bersama Tenma-kun dan yang lainnya dengan pakaian ini? Tulisan ‘Biriyani’ yang tercetak di dadanya… Mungkinkah itu Biriyani yang itu? Kenapa? Apakah ini semacam kode yang hanya dipahami oleh teman-temannya?
Saat aku sedang bingung, Kirishima-san menghela napas dan mulai menyentuh rambut acak-acakan wanita itu.
“Kamu pasti datang langsung dalam kondisi baru bangun tidur, kan? Lagipula, pakaian rumah yang mencolok itu apa-apaan. Jangan-jangan, kamu naik pesawat dengan pakaian itu? Apa pakaian yang kuberikan untuk bepergian tidak muat?”
“T-tidak, bukan begitu…”
“Lalu kenapa?”
“Soalnya, pakaian yang dipilih Yume-san terlalu imut untukku…”
“Wajahmu kan sudah bagus, kalau kamu berdandan dengan benar pasti cocok. Tapi apa jadinya kalau seorang penata rias yang tidak peduli dengan penampilannya sendiri? Kepercayaan itu hal yang utama, lho?”
“A-ah, tidak… penampilanku tidak penting…”
“Kubilang, kalau penampilanmu lusuh, reputasi Yonekawa Nagisa juga akan turun, tahu!”
“A-ah, ugh…”
Entah mengapa, aku merasa familiar dengan dialog itu.
Aku juga pernah diperingatkan dan ‘dikoreksi’ oleh Himari dengan kata-kata serupa saat SMP dulu. Kenangan yang indah.
“...Hm?”
Wanita itu menatapku dengan sorot mata yang sangat ketakutan.
Begitu mata kami bertemu, dia buru-buru memalingkan wajah, dan sudut bibirnya berkedut gugup. Dari alur pembicaraannya dengan Kirishima-san, dia pasti juri terakhir…
“S-selamat siang…”
“A-ah, iya… heh…”
Setidaknya dia membalas sapaanku.
Siapa dia, ya?
Setidaknya aku belum pernah bertemu dengannya. Maksudku, dia ada di sini berarti dia adalah anggota yang didanai oleh Kureha-san, kan? Karena anggota sebelumnya semuanya adalah hantu komunikasi, aku merasa bisa masuk angin karena perbedaan suhu yang ekstrem ini. Lalu, dia seorang penata rias… Ah!
Aku berbisik pada Tenma-kun untuk memastikan.
“Tenma-kun. Jangan-jangan dia adalah Akinashi Rikka-san?”
“Ya, benar. Dia adalah juri terakhir kali ini.”
Aktris nasional, Yonekawa Nagisa-san.
Dikatakan bahwa Akinashi Rikka-san inilah yang bekerja sebagai penata rias profesional untuknya. Himari pernah bercerita bahwa dia dipertemukan dengannya saat studi tour sekolah kami di kelas dua SMA.
…Meskipun aku sudah mendengarnya, aku merasakan dinding yang cukup tebal. Sebaiknya aku berkomunikasi dengan hati-hati.
“K-kali ini, mohon bantuannya.”
“A-ah, iya… heh…”
Matanya tidak mau bertemu…
Selain itu, dia sedikit gemetar.
“Fufu. Akinashi-san, kalau berhadapan dengan wanita, dia masih bisa bersikap normal meskipun baru pertama bertemu. Tapi dia tipe yang butuh waktu untuk merasa nyaman dengan pria. Ah, jangan khawatir, dia sama sekali tidak membencimu.”
“B-begitu, ya…”
“Selain itu, coba lihat, hari ini dia bersama Tenma-kun.”
“Ah…”
Aku ingat, saat bertemu Yonekawa-san di liburan musim panas, dia mengatakan tidak nyaman dengan Tenma-kun karena aura kilauannya itu. Jadi, dia bersembunyi di belakang Sanae-san juga karena alasan itu, ya.
Tenma-kun menjelaskan sambil tertawa tanpa merasa terganggu.
“Sebenarnya, Shishou yang seharusnya menjadi juri, tapi karena anggota juri terlalu memihak Yuu-kun, Kureha-san menunjuknya sebagai teman Himari-san.”
“O-oh, begitu…”
Akinashi menghela napas dengan raut wajah lelah.
“K-kenapa harus aku… padahal aku tidak mengerti aksesoris…”
Aku ingat, menurut cerita Himari, dia adalah tipe yang sangat suka di dalam ruangan. Katanya, dia hanya keluar rumah saat ada pekerjaan Yonekawa-san.
Sanae-san berusaha menenangkan Akinashi-san.
“Hmm. Justru karena kamu tidak mengerti aksesoris, makanya kamu dipilih. Kalau semua anggotanya terlalu logis, itu akan mengurangi objektivitas, kan. Kemampuan untuk memilih berdasarkan intuisi adalah keunggulan Rikka-san.”
“Ugh… Tapi hari ini… ada pekerjaan Nagisa-san…”
“Itu hanya wawancara untuk promosi drama berikutnya, kan? Nagisa-san sendiri bilang itu tidak memerlukan campur tangan Rikka-san.”
“T-tapi… Nagisa-san disentuh oleh tangan orang lain selain aku… aku tidak tahan…!”
Dia benar-benar penggemar garis keras…
Awalnya aku berpikir dia orang yang penakut, tetapi dia adalah tipe yang sangat tegas dalam mengekspresikan dirinya... aku tidak membencinya.
Dan anggota hari ini... Ah, ini sudah semua, ya. Kupikir Yataro-san juga akan datang, tapi dia tidak terlihat. Mungkin dia melarikan diri karena takut ditangkap oleh Saku-neesan.
“Ngomong-ngomong, siapa fotografer yang akan membantu kita kali ini?”
“Oh. Tadano-san akan datang besok pagi sekali. Dia bilang akan menginap dua malam di sini sebelum pulang.”
“Tadano-san?”
“Dia adalah direktur studio tempat Himari-san menerima pekerjaan saat liburan musim panas. Katanya dia juga berkecimpung di dunia fotografi, jadi Kureha-san mengajaknya sebagai staf pemotretan kali ini. Penata rias Yaguchi-san juga bilang akan ikut. Mereka berdua memang akrab.”
“Begitu…”
Saat kami sedang berbicara, terdengar langkah kaki riang dari ujung koridor.
Dan yang masuk, tentu saja, adalah Himari.
“Wah~! Semuanya, selamat datang!”
“Ah, Himari-san. Maaf merepotkan, ya~”
Setelah menyapa sebentar, mata Himari menangkap sosok Akinashi-san.
“Eh!? Rikkachin datang!? Wah, ini langka sekali!”
“A-ah, Himari-chan… Halo… heh…”
“Waah~, aku tidak menyangka Rikkachin datang, hebat… Eh? Kamu datang dengan pakaian rumah itu? Jangan-jangan naik pesawat juga? Bohong, kan???”
“Aduh!?”
Akinashi-san langsung terguncang mendengar teguran yang sama persis dengan Kirishima-san.
…Yah, aku kan orang yang menjunjung sopan santun, jadi aku tidak akan menunjuk hal seperti itu.
(Bagaimanapun, dengan ini, semua persiapan sudah selesai)
Akhirnya tiba waktunya.
Pertarungan besar yang menentukan nasibku.
Jika aku menang, aku akan mendapatkan dukungan dan koneksi dari Kureha-san. Tak diragukan lagi, kemungkinan masa depanku akan meluas.
Ketika aku menggenggam tinju erat-erat, Kureha-san menyipitkan mata.
“Yuu-chan. Apa kamu sudah siap secara mental?”
“Ya.”
Kureha-san mengangguk puas mendengar jawabanku.
♣♣♣
Setelah itu, kami menyiapkan sampel foto, dan akhirnya tema serta arah karya berhasil diputuskan.
Kami mencetak foto-foto itu di toko foto digital, tetapi tetap memakan waktu beberapa jam. Hasil ini kembali menyoroti betapa tidak efisiennya pertarungan kali ini… tapi mengenai hal ini, Kirishima-san pun tidak tahu alasannya.
Bagaimanapun, meeting terakhirku dengan Kirishima-san telah usai.
Karena Himari dan yang lainnya juga menyelesaikan meeting terakhir mereka pada waktu yang hampir bersamaan, kami meninggalkan rumah keluarga Inuzuka dan pergi makan malam bersama.
Kami pergi ke Kandagawa.
Di daerah ini, tempat itu bisa dibilang sudah menjadi tujuan wajib. Makanan laut yang segar, ditambah hidangan daerah seperti ayam kampung dan chicken nanban. Tenma-kun dan yang lainnya juga terlihat senang.
Lalu, kami bubar lebih awal untuk bersiap menghadapi hari esok. Tenma-kun dan yang lainnya kembali ke hotel dengan taksi. Himari juga berpisah dengan menaiki mobil Hibari-san.
Aku berjalan berdua dengan Enomoto-san di sepanjang Jalan Raya Nomor 10 untuk mengantarnya pulang.
“Rion, kamu tidak pulang bersama Kureha-san?”
“Onee-chan, dia pasti akan ke hotel.”
“Benar juga…”
Yah, hubungan kedua orang ini memang sudah lama seperti itu.
Aku berjalan di samping Enomoto-san sambil tersenyum kecut. Jam ini adalah waktu di mana Jalan Raya Nomor 10 sedang ramai-ramainya. Setiap lampu merah, banyak mobil berbaris.
Pemandangan yang biasa saja.
Aneh rasanya jika kupikirkan, pemandangan ini tidak akan bisa kulihat lagi sebulan dari sekarang. Aku akan meninggalkan kota tempat aku tinggal selama delapan belas tahun.
Hmm. Aku belum merasakannya…
“Yuu-kun.”
“Hm?”
Ketika aku sedang merenung sendirian, Enomoto-san menatapku dengan ekspresi tenang.
“Sebentar lagi, ya.”
“……Ya.”
Aku langsung mengerti makna perkataan itu.
Satu tahun.
Hasil dari satu tahun ini akan diketahui besok.
Seberapa besar nilaiku sekarang? Apakah aku cukup baik di mata Kureha-san, ataukah aku akan mengecewakan harapannya.
Persiapan aksesori sudah lengkap.
Meskipun sempat khawatir dengan persiapan bunga akibat sibuk belajar untuk ujian, Shiroyama-san dan Mera-san telah menumbuhkannya dengan sempurna. Proses pembuatan aksesori yang kuselesaikan dalam sebulan terakhir juga berjalan lancar. Terlihat jelas bahwa mereka berdua telah mencurahkan segenap usaha dan kasih sayang.
Kirishima-san juga aktif memberikan ide selama meeting, dan aku bisa memilih paduan warna bunga yang cocok untuk fotografi. Meskipun masih belum tahu apakah strategi yang sudah kupikirkan sebelumnya akan berhasil atau tidak… kini tinggal menunggu hari-H besok.
(Akhirnya besok…)
Seolah melihat ketegangan di hatiku, Enomoto-san tersenyum lembut.
“Semangat, ya.”
“Ya.”
“Tendang saja Hii-chan dan menangkan pertarungan ini.”
“Tentu saja.”
Meskipun kami saling melempar candaan seperti itu, ketegangan di hatiku tetap tidak hilang.
Perasaan ragu bahwa masih ada yang kurang terasa lebih besar daripada rasa pencapaian bahwa aku sudah melakukan segalanya.
(Tidak, tapi aku sudah melakukan semua yang bisa kulakukan…)
Tepat ketika aku sedang bergumam sendirian.
Tiba-tiba, aku dicium di pipi.
“……!?”
Saat aku membalikkan badan dengan mata terbelalak… Enomoto-san, yang seharusnya menjadi pelaku serangan mendadak itu, malah tersipu dan tertawa kecil, “Ehe.”
“Mantra agar kamu tidak tegang lagi.”
“T-terima kasih…”
Wajah sampingnya yang tersinari lampu mobil yang melintas terlihat sangat menggemaskan.
Gawat. Syukurlah tidak ada orang lain di sini. Sejujurnya, kalau sampai dilihat oleh Tenma-kun atau yang lain, aku bisa mati karena malu.
(Tapi, berkat ini, aku mungkin merasa sedikit lebih lega…)
Aku memompa semangat ke dalam hatiku yang tadinya kurang fokus.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu tersenyum kepada Enomoto-san.
“Besok, aku akan menang.”
Mendengar deklarasiku, Enomoto-san mengacungkan jempol.
“Aku akan siapkan kue perayaan, ya.”
Waduh, itu namanya pertanda buruk (flag)…
Aku tersenyum kecut sambil memusatkan pikiranku pada ujian masuk besok.





Post a Comment