NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Danjjo Yuujo ga Seiritsu (Iya Shinai?) Volume 12 Chapter 4

 Penerjemah: Nobu

Proffreader: Nobu


Chapter 4

Turning Point

“Silau”

♣♣♣

     Sepuluh hari setelah ujian masuk universitas.

     Lewat tengah hari.

     Aku duduk di sofa ruang tengah rumahku, merasa gelisah dan tidak tenang. Bagi orang luar, mungkin aku terlihat sangat aneh, tetapi tidak bisa disalahkan jika hari ini aku tidak bisa bersikap kalem. Bahkan Daifuku, kucingku, yang biasanya akan mendekat dan menggodaku, kini menghindar, bersembunyi di balik tirai karena menganggapku menyeramkan.

     Saat itu, bel pintu berdering dan pintu depan terbuka.

     Kakak perempuanku, Saku-neesan, yang pergi ke minimarket sudah kembali… Tidak, jika dia yang kembali, dia tidak akan membunyikan bel. Sambil bertanya-tanya siapa gerangan, aku mendengar dua pasang langkah kaki bersemangat yang berlarian.

     Yang pertama muncul, sudah kuduga, adalah Himari.

     “Yuu! Kamu masih hidup?”

     Dan begitu melihatku, dia nyaris saja tersentak kaget.

     “Astaga! Wajahmu pucat sekali! Apa kamu tidur nyenyak!?”

     “...Entahlah.”

     ​“Sepertinya aku sudah tidur, sih.”

     Namun, entah mengapa semalam kesadaranku terus terasa jelas, rasanya seperti di antara bangun dan tidur—sebuah sensasi yang kabur. Aku yakin aku tidak tidur nyenyak.

     “Yuu, mentalmu memang lemah kalau dalam situasi seperti ini, ya.”

     “Berisik, ah. Kamu yang lulus lewat jalur rekomendasi diam saja.”

     Setelah itu, Enomoto-san muncul dari belakang Himari.

     Di tangannya, dia menjinjing sebuah kotak kertas besar dari toko kue barat milik keluarga Enomoto-san. Ukuran sebesar itu, bukankah itu kotak untuk menaruh satu loyang kue utuh?

     “Yuu-kun. Aku bawakan kue.”

     “Serius? Terima kasih bany—tunggu? Kenapa ada dua?”

     Ternyata kotak kertas itu ada dua buah. Terlalu banyak untuk sekadar bingkisan.

     Lalu, Enomoto-san menjawab dengan dada membusung penuh rasa bangga.

     ​“Ada dua, satu bertuliskan, ‘Selamat Atas Kelulusannya,’ dan yang satu lagi, ‘Semangat untuk Ujian Tahap Kedua!’”

     “Hiyuuu. Jadi, bisa mengatasi dua kemungkinan, ya!”

     Sungguh, calon manajer masa depan, dia benar-benar teliti dan tidak ceroboh!

     ...Ah, tetapi berkat komentar konyol tadi, aku merasa sedikit lebih tenang. Jika ini adalah cara untuk memusatkan pikiran, entah harus berkata apa. Sepertinya penderitaan masa sekolahku dapat terlihat jelas dari hal ini....

     Aku menghela napas panjang.

     ...Hari ini, surat pemberitahuan kelulusan ujian masuk universitas dijadwalkan akan tiba.

     Sambil menyimpan kue pemberian Enomoto-san di kulkas... Sungguh, semoga saja aku tidak perlu membuka kotak yang bertuliskan, ‘Semangat untuk Ujian Tahap Kedua!’

     “Yuu. Kapan biasanya waktu pengiriman surat di daerah sini?”

     “Seharusnya sudah bisa datang sekarang, sih...”

     Aku merasa biasanya surat sudah tiba sejak tadi.

     Meskipun begitu, mengapa pengiriman harus terlambat di hari ini? Tidak, aku tahu pasti banyak siswa SMA lain yang juga menunggu hasil ujian, jadi wajar jika terjadi penundaan.

     Saat kami sedang membicarakan hal itu, terdengar suara motor berhenti di luar rumah. Kemudian, terdengar bunyi surat yang dimasukkan ke dalam kotak pos.

     “Datang!”

     ““...!!””

     Kami bergegas keluar dari ruang tengah, lalu mengintip ke kotak pos di dekat pintu masuk.

     “Yuu, ada?”

     “Sebentar. Ini surat penagihan, yang ini paket langganan rutin dari perusahaan makanan kesehatan untuk Ibu, yang ini koran...”

     Setelah memeriksa semuanya, kami saling berpandang-pandangan.

     “...Lho?”

     “...Sepertinya belum datang, ya?”

     Surat pemberitahuan kelulusan ujian masuk universitas belum tiba.

     Aneh. Seharusnya, sesuai jadwal, hari ini adalah tanggalnya....

     “Ah. Karena kita di Kyushu, mungkin pengirimannya tertunda satu hari.”

     “Itu dia, ya. Masuk akal…”

     Aku harus setuju dengan perkataan Himari. Kalau berbelanja lewat daring pun, kami memang harus memperhitungkan waktu tambahan satu hari.

     Kami kembali ke ruang tengah dan duduk di sofa. Ugh, sungguh menjengkelkan....

     “Bagaimana ini? Besok lagi?”

     “Sepertinya begitu. Aku minta maaf karena sudah membuat kalian berdua datang ke sini…”

     Namun, jujur saja, penundaan ini membuatku sangat tersiksa.

     Aku juga merasa malam ini aku tidak akan bisa tidur lagi....

     Saat suasana mulai merambat ke pertanyaan, “Bagaimana dengan kuenya, ya?” tiba-tiba Enomoto-san tersadar.

     “Ngomong-ngomong, bukankah kita bisa mengecek hasilnya di situs web resmi universitas?”

     “Ah, benar juga.”

     Kenapa aku tidak memikirkan cara itu?

     Di era masyarakat internet ini, justru aneh jika layanan seperti itu tidak tersedia. Malahan, fakta bahwa aku benar-benar tidak menyadari kemungkinan itu menunjukkan betapa tertekannya diriku saat ini.

     “Tapi, begini, bagaimana ya cara menjelaskannya…”

     Ketika aku mengungkapkan perasaan kebingungan yang kurasakan, Himari mengangguk setuju.

     “Aku mengerti, kok. Aku juga merasa lebih bersemangat saat melihatnya di surat pemberitahuan, tahu.”

     “Memang, ya. Tapi, kalian berdua sudah jauh-jauh datang ke sini…”

     “Hahaha. Kami, sih, sudah punya kepastian masa depan, jadi kami memang sedang luang, kok.”

     Saat aku sedang ragu-ragu dan bimbang seperti itu.

     Terdengar pintu depan terbuka dan langkah kaki mendekat.

     Itu adalah Saku-neesan, yang sejak pagi tadi berada di minimarket. Tadi Ayah sudah berangkat ke toko, jadi mungkin dia kembali untuk beristirahat.

     Saku-neesan mengintip ke ruang tengah, lalu tersenyum ramah pada Himari dan yang lain.

     “Wah, Himari-chan, Rion-chan. Terima kasih banyak sudah menemani adikku yang bodoh ini.”

     Seperti biasa, dia selalu bersikap manis pada anak perempuan....

     Baiklah, lupakan saja. Hari ini bukan waktunya memikirkan Saku-neesan. Sejujurnya, apa yang harus kulakukan? Seharusnya aku segera mengecek situs web resmi universitas, tetapi perasaanku benar-benar ingin memastikannya melalui surat pemberitahuan.

     Ketika aku sedang bergumul sendirian, Saku-neesan berkata.

     “Oh, Adik Bodoh. Kamu lulus, lho, dari universitas.”

     “““...!!”””

     Karena saking mendadaknya serangan itu, kami semua terdiam kaku.

     (K-kenapa Saku-neesan tahu!?)

     Masa dia berbohong...? Tidak mungkin, ya. Sekalipun dia Saku-neesan, dia tidak mungkin melontarkan lelucon seburuk itu. Mungkin. Pasti. Barangkali.

     Tapi, kenapa dia tahu lebih dulu dariku?

     Jangan-jangan dia mengecek situs web resmi duluan? Mungkin saja. Orang ini adalah tipe yang tidak akan tenang jika tidak mengambil inisiatif lebih dulu.

     “S-Saku-neesan? Jangan-jangan, kamu sudah mengecek di situs web resmi universitas…?”

     Mendengar itu, Saku-neesan menghela napas, tampak jengkel.

     “Kamu menulis alamat minimarket di formulir pendaftaran, kan? Kamu sudah terlalu gugup bahkan sebelum dimulai.”

     “...!!”

     Eeeh!?

     Mustahil. Tidak mungkin itu... Ah.

     Tiba-tiba, ingatanku saat mengisi formulir pendaftaran muncul dengan jelas. Aku mengisinya dengan sangat tegang... Fokusku sepenuhnya hanya pada apakah tulisanku sudah rapi, dan sepertinya aku hanya menulis alamat yang biasa kuketik, tanpa memikirkan informasi pentingnya.

     (Oh, ya. Aku memang selalu mengirimkan aksesori yang terjual secara daring dari alamat minimarket itu....)

     Bahkan, alamat itu jauh lebih sering kutulis dibandingkan alamat rumah utama ini.

     Aku langsung terjatuh lemas dan berlutut di tempat.

     Sungguh... Hasil ujian masuk universitas yang hanya terjadi sekali seumur hidupku... malah harus kuketahui melalui perantara Saku-neesan....

     Saat aku dilanda rasa shock yang aneh, Himari dan Enomoto-san bergegas berusaha menyemangatiku.

     “Ya, sudahlah, tak apalah. Yuu, selamat!”

     “Yuu-kun. Mari kita tenangkan diri, dan makan kue kelulusan itu?”

     Hiburan mereka yang setengah senang dan setengah heran terasa sangat menusuk... 

     Ya, begitulah. Yang terpenting adalah aku lulus. Dengan begini, aku bisa memusatkan seluruh perhatianku pada ujian masuk Kureha-san bulan depan!

     Tunggu? Tapi, kalau dipikir-pikir...

     “Saku-neesan. Surat pemberitahuan itu...?”

     “Ayah dan Ibu sedang di sana, tenggelam dalam keharuan sambil melihat surat kelulusanmu. Anggap saja itu sebagai bakti anak, biarkan mereka sejenak.”

     “...Begitu, ya.”

     Benar juga, dulu aku pernah bilang ingin lulus SMP lalu langsung bekerja membuka toko aksesori.

     Ayah dan Ibu memang sangat mengkhawatirkanku, dan permintaan agar aku menjadi pegawai negeri sipil adalah wujud nyata kekhawatiran mereka terhadap masa depanku. Mengingat universitas yang kumasuki kali ini memiliki standar nilai yang cukup tinggi, tingkah Ayah dan Ibu yang begitu gembira jadi bisa dimengerti.

     “Puhaha. Padahal Yuu pernah mengumpulkan lembar jawaban ujian tengah semester dalam keadaan kosong melompong, kan?”

     “Oh, ya, benar juga…”

     Itu terjadi saat Himari mengatakan dia akan pergi ke Tokyo, saat semester pertama di kelas dua SMA.

     Ketika kupikirkan kembali, ternyata aku ini memang anak yang sangat mengkhawatirkan dalam hal pelajaran. Sebelum berangkat ke Tokyo, aku harus melakukan sesuatu sebagai rasa terima kasih kepada Ayah dan Ibu....

     “Kalau begitu, Adik Bodoh. Jangan terlalu larut dalam kesenangan, ya.”

     “A-aku mengerti. Saku-neesan, terima kasih.”

     Saku-neesan kembali ke kamarnya di lantai dua sambil tersenyum kecut. ...Setelah itu, aku merebahkan diri di sofa.

     “Syukurlah...!”

     Akhirnya, beban yang selama ini kupanggul terasa terangkat.

     Jika aku tidak lulus universitas, ujian masuk Kureha-san tidak akan berarti apa-apa.

     “Yuu, kamu akhirnya bisa merasa tenang sekarang.”

     “Ya. Terima kasih juga, Himari.”

     “Aku, sih, tidak melakukan apa-apa. Ini semua buah dari usahamu, kan?”

     ​“Entahlah, kurasa tidak begitu...”

     Aku juga banyak diajari belajar oleh Himari dan Enomoto-san. Mustahil aku bisa melakukannya sendirian. Ah, aku juga harus memberitahukan kabar kelulusan ini kepada Hibari-san dan Sasaki-sensei.

     Enomoto-san mengeluarkan kue dari kulkas dan bersiap untuk pesta perayaan. Sambil mengeluarkan peralatan makan, aku juga menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan belajar yang telah dia berikan.

     “Terima kasih juga, Rion.”

     “Ya. Syukurlah kamu lulus.”

     Namun, sesaat, terlihat sedikit emosi rumit bergejolak di matanya.

     “Meskipun aku sedih karena tidak bisa bersama Yuu-kun, mau bagaimana lagi, ya.”

     “............”

     Benar.

     Terlepas dari hasil ujian masuk Kureha-san, kepergianku ke Tokyo kini sudah dipastikan. Dua bulan lagi, aku mungkin sudah tinggal di sana.

     Enomoto-san akan tetap tinggal di sini, dan waktu kami untuk bersama pasti akan jauh berkurang dari sekarang. Belum lagi, sering terdengar kisah bahwa hubungan jarak jauh jarang berhasil.

     Secara naluriah, aku hampir mengulurkan tangan ke bahunya...

     “Oh, oh, oh~! Kalian berdua, mesra sekali, ya~?”

     “Berisik! Kamu diam dan duduk saja!”

     Kepada perusak suasana yang tiba-tiba menyembul dari tengah-tengah kami, Enomoto-san menunjukkan tangan kanannya sambil mengepalkannya. ...Merasa terancam tanpa kata, Himari perlahan kembali duduk di sofa.

     Kami menghela napas dan mulai memotong kue.

     Sekalian saja kami membuka kantong keripik yang dibawa dari minimarket. Ini adalah waktu untuk berpesta merayakan kebebasan kami dari urusan belajar.

     Himari tertawa sambil mencicipi keripik kentang.

     “Aduh~! Aku cuma bercanda, kok! Masa, sih? Masa depan Yuu sudah terbuka, izinkan aku bersenang-senang sebentar, dong~!”

     “Kalau diizinkan sekali, kamu pasti akan bertingkah lagi.”

     Enomoto-san benar-benar memahami Himari, ya....

     Aku pun segera mencicipi kuenya. ...Uhm. Kue lezat dari toko Enomoto-san ini meresap ke dalam tubuhku yang kurang tidur ...Apakah aku seperti paman-paman yang kelelahan setelah bekerja?

     “Tapi, ‘masa depan terbuka’ itu berlebihan, kan. Masih ada ujian masuk Kureha-san.”

     “Ah, soal itu, ya...”

     Entah mengapa Himari menggaruk pipinya dengan ekspresi canggung.

     Sikapnya seperti anak kecil yang ketahuan berbuat iseng... Tunggu, dia memang selalu berbuat iseng, tetapi dia tidak pernah bersikap khidmat seperti ini. Ada apa?

     Ketika aku dan Enomoto-san saling berpandangan dengan bingung, Himari sengaja mengeluarkan suara yang ceria.

     “Mungkin Yuu merasa tidak senang, sih!”

     “O-oh. Soal apa?”

     “Ehm, itu...”

     Kata-katanya perlahan menghilang, mengecil hingga tak terdengar.

     Yang menyadari gelagat ini adalah Enomoto-san.

     “Ujian masuk Kakakku, kamu memutuskan untuk mengalah?”

     “Eh?”

     Mendengar itu, seolah merasa tepat sasaran, Himari pun terperanjat kaget.

     “Bukan berarti aku akan berleha-leha, sih. Lagipula, dengan levelku, mana mungkin aku bisa mengontrol kemampuan sebegitu rupa? Hanya saja, itu... aku merasa tidak yakin bisa menang.”

     “............”

     Sejujurnya.

     Aku tidak mengatakan bahwa aku tidak pernah memikirkan kemungkinan Himari akan mengambil pilihan itu.

     Kami sudah melakukannya bersama selama empat tahun. Memang akhir-akhir ini Himari sering bepergian sendiri karena sibuk dengan pelatihan model, tetapi aku merasa mengenalnya dengan baik.

     Oleh karena itu, aku tidak terkejut sama sekali ketika Himari memilih untuk memprioritaskanku di saat genting.

     (Tetapi, ujian masuk kali ini…)

     Jika perkiraan Tenma-kun benar, Himari juga sedang diuji dalam ujian masuk ini.

     Dan jika dia kalah... setidaknya Kureha-san kemungkinan besar akan meninggalkannya.

     “............”

     Himari tampaknya menafsirkan wajahku yang diam dan terlihat sulit sebagai “aku sedang marah”. Dia pasti mengira aku sedang memikirkan soal mengalah dalam sebuah pertarungan.

     Himari pun buru-buru melambaikan kedua tangannya dan membuat pembelaan.

     “I-itu karena masa depan Yuu yang dipertaruhkan, kan! Tentu saja aku merasa bersalah karena mengacaukan kesempatan langka buat bisa bersaing langsung dengan Murakami-kun yang selama ini aku kagumi? Tapi kali ini saja, tidak boleh! Lagipula, kalau aku kalah, tidak ada penalti apa-apa, kok…”

     “Tidak, ada.”

     Mendengar kata-kata yang spontan keluar dari mulutku, Himari langsung terdiam.

     ​“M-maksudnya bagaimana?”

     “............”

     Sejujurnya, aku ragu apakah aku harus menyampaikan perkiraan Tenma-kun atau tidak.

     Tetapi, setelah mengetahui Himari akan mengambil sikap seperti ini, terasa tidak enak jika aku tetap diam.

     “Aku dengar dari Tenma-kun. Kemungkinan besar kali ini, Kureha-san sedang menguji Himari bersamaan denganku. Dan... dia bilang, jika Himari kalah, kemungkinan besar dia akan terus menerus tidak diberi pekerjaan lagi di masa depan.”

     “...Eh, ehm...”

     Seolah sedang mencerna kata-kataku dengan lambat, Himari tampak berpikir keras.

     Lalu, sambil bibirnya bergetar, dia memastikan perkataanku seolah ingin meyakinkan diri.

     “Itu, bukan lelucon ala Ten-Ten, kan...?”

     “Setidaknya, bagiku, Tenma-kun bukan tipe orang yang melontarkan lelucon seburuk itu.”

     ​“Y-ya, kan. Aku juga berpikir begitu, sih...”

     Melihat kami terdiam, Enomoto-san menghela napas.

     “Yah, kalau Kakakku, itu bukan hal yang mustahil. Malahan, aneh kalau dia sengaja membuat Yuu-kun dan Hii-chan berpasangan berbeda, tapi tidak ada maksud apa-apa.”

     Setelah mendapat persetujuan dari adik kandungnya, perkiraan Tenma-kun semakin memiliki kredibilitas tinggi.

     Dalam suasana ruang tengah yang tiba-tiba menjadi berat, aku kembali meminta jawaban dari Himari.

     “Himari, kamu masih berencana mengalah demi aku?”

     “............”

     Himari terlihat jelas sedang panik.

     Sambil menggerakkan pandangannya dengan gelisah, dia buru-buru mengeluarkan suara ceria.

     “A-ahaha. Astaga, kalian berdua terlalu serius, tahu! Kureha-san, kan, tidak mengatakannya dengan jelas, jadi mari kita rayakan kelulusan Yūu dulu? Ya?”

     Sambil berkata begitu, dia menyuapkan kue ke mulutnya menggunakan garpu.

     “Ngh! Enak sekali! Memang Enocchi yang terbaik! Ini, kan, kue yang penuh cinta untuk Yuu! Ayo, Yuu, makan juga! Cepat, cepat!”

     “A, ya...”

     Aku juga tidak tahan dengan suasana itu dan buru-buru memakan kue... Tunggu, hentikan doronganmu yang memasukkan kue ke mulutku dengan paksa. Aku jadi susah makan, tahu!

     (...Aku juga berharap perkiraan Tenma-kun itu salah, sih)

     Tentu saja kuenya enak.

     Namun, aku merasa bersalah karena harus memaksakan kue yang terasa sulit ditelan itu dengan bantuan jus.


♢♢♢

     Malam itu.

     Angin musim dingin yang dingin membelai diriku yang duduk di teras rumah.

     Malam ini adalah malam bulan purnama.

     Udara terasa jernih, dan cahaya yang menyilaukan itu dicurahkan tanpa pelit ke permukaan bumi.

     Aku menyipitkan mata, menatap kilauan bulan itu sendirian.

     Menyilaukan.

     Terlalu menyilaukan, hingga aku tak sanggup menatapnya langsung.

     “...Aku sudah memutuskan untuk menjadi model terbaik di dunia, demi Yuu, kan?”

     Aku berpikir, sungguh menyilaukan.

     Yuu, kamu tidak bodoh, kan?

     Padahal kalau diam saja, dia pasti bisa menang dengan mudah, mengapa dia harus mengatakan hal seperti itu, ya? Sisi terlalu jujur itu, terutama saat menyangkut aksesori, kurasa akan merugikannya jika dia ingin berkarier sebagai seorang profesional.

     (...Yah, mungkin hati seperti itulah yang membuat aksesori Yuu bersinar)

     Sungguh menyilaukan.

     Aku sendiri tidak mungkin bisa menirunya. Sebab, jika berada di posisi sebaliknya, aku pasti tidak akan mengatakan hal itu. Karena aku ini penuh tipu daya, makanya aku mengagumi keberadaan yang menyilaukan seperti Yuu.

     Saat aku menghela napas sendirian, Kakakku berjalan dari seberang teras. Karena dia baru saja bekerja di ruang kerjanya, sebentar lagi pasti akan menonton anime.

     “Himari, ada apa? Malam hari di musim ini masih dingin, lho. Kalau kamu sakit, itu akan mengganggu ujian masuk Yuu-kun, kan?”

     “Onii-chan…”

     Aku menepuk-nepuk tempat di sebelahku, dan Kakakku pun duduk di sana sambil memiringkan kepala.

     “...Dengar, Onii-chan,”

     Kata-kata itu keluar dari mulutku dengan cukup lancar.

     ​“Ujian masuk Yuu yang akan datang... Aku tadinya berencana sengaja kalah.”

     “...Begitu. Memang, kalau kamu memprioritaskan Yuu-kun, aku mengerti kenapa kamu mengambil keputusan itu.”

     Aku sedikit mengira akan dimarahi.

     Kakakku selalu serius dalam hal pertarungan semacam ini. Tidak aneh jika dia akan marah besar karena aku memikirkan hal curang seperti itu. Aku membayangkan masa depan di mana dia akan membuatku berlutut sambil melingkarkan aura kemarahan hitam pekat dan berteriak, “Hiiiiimmaaaarrriiiiii!?” Jadi, tanpa sadar aku mengambil posisi bersiap.

     ...Namun, Kakakku hanya tersenyum lembut.

     “Onii-chan?”

     “Ada apa? Lanjutkan ceritamu.”

     “A, ehm... Kamu tidak marah?”

     “Kenapa harus marah?”

     “Soalnya, akan ada cacat pada aksesori Yuu—begitu, lho...”

     Kakakku tertawa, tampak terhibur.

     “Himari. Kamu sudah berhasil menjadi orang yang jujur, kan?”

     “...Mungkin.”

     Aku ingat saat kelas dua SMA, aku pernah dimarahi habis-habisan oleh Kakakku.

     Saat itu aku berjanji ‘tidak akan membohongi Yūu lagi’. Seharusnya aku terus merasa cemas, tapi entah sejak kapan aku justru melupakan janji itu sendiri.

     Ketika aku sedang bergumam, “Mmm, mmm...” Kakakku berkata.

     “Kamu bertanya padaku begini berarti kamu ragu untuk sengaja kalah, kan?”

     “...Yah, ya. Mungkin begitu.”

     Dia tahu segalanya, ya.

     Wajar saja, dia sudah menjadi Kakakku selama delapan belas tahun. Aku pun dengan jujur menyampaikan prediksi Ten-Ten yang diberitahukan oleh Yuu.

     ​“Pertarungan kali ini, katanya kalau aku kalah, aku mungkin akan ditinggalkan oleh Kureha-san.”

     “...Begitu.”

     Kakakku tidak berkata “mungkin saja” atau “tidak mungkin terjadi”.

     Sikapnya itu seolah menunjukkan bahwa dia memang paling mengerti Kureha-san.

     “Apa yang kamu inginkan, Himari?”

     “............”

     Ketika ditanya secara terbuka, aku menyampaikan apa yang sudah kupikirkan berulang kali sejak siang tadi.

     “Aku ingin Yuu menang. Aku tahu dia sudah berusaha sangat keras selama ini…”

     “Ya.”

     Kepada Kakakku yang mendengarkan dengan penuh kelembutan, aku pun menyampaikan dengan ragu.

     ​“...Tapi, ada perasaan mengganjal juga.”

     Mengapa ada perasaan tidak puas seperti ini?

     Padahal, hal yang selama ini kuimpikan kini sudah ada di depan mata....

     “Apa aku memang punya sifat yang buruk, ya?”

     “............”

     Kakakku terdiam sejenak.

     Dia tampak seperti sedang mengenang sesuatu. Aku tidak tahu apa itu, tetapi sisi wajahnya terlihat sedikit sedih.

     Akhirnya, Kakakku tersenyum tipis.

     “Tentu saja, bukankah kamu adikku?”

     “Ih, apa-apaan! Onii-chan, jangan bercanda seperti itu di saat seperti ini!”

     ​“Hahaha. Aku selalu serius, lho.”

     Mooo~....

     Sungguh, Kakakku ini... Tunggu? Kalau itu bukan candaan, bukankah ini berbahaya?

     “Himari. Aku mengatakan ini juga sebagai pengingat untuk diriku sendiri…”

     Sambil meletakkan tangannya di bahuku, Kakakku berkata.

     “Tidak ada jalan yang benar sejak awal. Sama seperti ketika seseorang pertama kali melintasi pegunungan yang terjal, di situlah sebuah jalan akan terbentuk.”

     “...?”

     Aku memiringkan kepala mendengar perkataan itu...

     “Maksudnya?”

     “Fufu. Sepertinya, ini masih terlalu cepat untuk kamu pahami, Himari.”

     Mengatakan sesuatu yang terkesan mengelak, Kakakku berdiri.

     “Tidak ada lagi yang bisa kukatakan. Sisanya, putuskan sendiri.”

     “Ah! Tunggu…!”

     ...Dia pergi.

     Aku membusungkan pipi sambil menggembungkan napas, lalu mengayunkan kaki.

     “...Aku bingung, makanya aku tidak bisa memutuskannya sendiri!”

     Menghela napas panjang, aku kembali menatap bulan.

     Alangkah baiknya jika semua hal yang kuraih bisa disentuh dengan mudah.

     Sambil memikirkan hal itu, aku pun berguling dan berbaring.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close