NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Danjjo Yuujo ga Seiritsu (Iya Shinai?) Volume 12 Chapter 6

 Penerjemah: Nobu

Proffreader: Nobu


Chapter 6

“Memancarkan Cahaya”

♣♣♣

     Hari Pertarungan Tiba.

     Sejak pagi buta—bahkan sebelum matahari terbit—kami sudah disibukkan dengan berbagai persiapan.

     Lokasinya adalah sekolah.

     Di gedung ruang kelas khusus yang kebetulan sedang kosong karena akhir pekan dan tidak ada kegiatan klub, kami mulai menata aksesori. Sasaki-sensei yang telah menyiapkan tempat bagi kami, mengeluh dengan wajah mengantuk.

     “Kalian, tidak adakah tempat lain?”

     Hibari-san dan Kureha-san yang membujuknya agar mau membukakan pintu. Rupanya, masalah ini akan diselesaikan dengan dalih ada alumni yang datang berkunjung.

     “Maafkan kami. Entah mengapa, Kureha-san bilang rumah Himari ‘tidak cocok’ dan menolak mentah-mentah…”

     “Iya, ya. Benar juga. Aku yang salah karena menanyakan hal yang sudah jelas.”

     Tingkat pemahaman Sasaki-sensei tentang Kureha-san—atau lebih tepatnya, para kakakku—terlalu tinggi, dan itu membuatku jengah...

     “Yah, tidak apa-apa. Dua jam lagi latihan klub akan dimulai. Sampai saat itu, aku akan mengerjakan tumpukan pekerjaanku di ruang guru.”

     Sasaki-sensei mengintip isi kotak kardus yang sedang kubersihkan, lalu mengamati satu per satu preserved flower (bunga awetan) yang sudah dikemas.

     “Wah, sungguh indah. Ini benar-benar, apa namanya itu?”

     “Oh, bunga segar?”

     “Ya, itu. Apakah ini bukan bunga segar?”

     “Semua ini adalah preserved flower yang sudah melalui proses. Apakah dia masih bisa disebut bunga segar atau tidak, itu perkara yang sulit diputuskan.”

     Mendengar penjelasanku, dia bergumam, “Ooh,” tampak takjub.

     “Akhir-akhir ini aku juga sering melihat bunga di tempat Araki, tapi aku tidak bisa membedakannya. Kamu membuat sesuatu yang luar biasa.”

     “Iya, begitulah. Ahaha…”

     Eh?

     Jangan-jangan, dia sedang memujiku? Aku sempat mengira dia akan mengatakan sesuatu seperti, “Sungguh sia-sia keindahan ini berada di tanganmu.”

     Aku bingung dengan reaksi yang begitu tidak biasa itu, dan Sasaki-sensei menjawab dengan senyum lembut seorang dewasa.

     “Kamu bukan lagi muridku, kan? Lagipula, kamu sudah berjuang keras demi tujuanmu sendiri dan berhasil lolos ke universitas yang bagus. Aku tidak punya alasan untuk mencela lulusan yang berprestasi.”

     “S-Sensei…”

     Aku merasakan kehangatan yang menyentuh hati.

     Mengingat ke belakang, sejak insiden pengembalian aksesori di tahun kedua, dia selalu membantuku. Meskipun selama masa sekolah aku sering dicap bodoh, Sasaki-sensei selalu menjadi pendukungku.

     Tepat ketika aku mulai merasa ingin mengatakan, “Mari kita minum sake bersama setelah aku genap berusia dua puluh tahun,” dia tiba-tiba berbisik pelan.

     “Jadi, begini. Bahkan setelah kamu pergi nanti, aku mohon bantu terus hubunganku dengan Araki, ya? Atau lebih baik, tolong selesaikan sebelum kamu pergi…”

     “Sensei…”

     Rusak sudah momen haru ini.

     Tidak bisakah dia mengakhirinya dengan sedikit nuansa cerita indah? Serius, laju percintaan orang ini lebih lambat daripada Saku-neesan, lho. Jangan-jangan, saat pensiun nanti, dia masih mengucapkan hal yang sama?

     Saat kami sedang berbincang, sebuah suara ceria melompat masuk setelah pintu ruang kelas kosong itu terbuka.

     “Yuu-senpai! Selamat pagi!”

     “Ah, Shiroyama-san. Kamu benar-benar datang untuk membantu?”

     “Ya! Kebetulan ini hari libur sekolah, jadi aku senggang!”

     “Terima kasih. Pekerjaan kita hari ini banyak, jadi bantuanmu sangat berarti.”

     Lalu, aku melongok ke belakangnya.

     “Rupanya Mera-san memang tidak datang hari ini, ya.”

     “Kaako-senpai ditelepon terus-menerus oleh Chief dan dipaksa bekerja di minimarket! Katanya untuk mengisi kekosongan karena Yuu-senpai tidak ada!”

     “Oh, astaga. Maafkan aku.”

     Benar-benar salah sasaran, ya.

     Karena merasa agak bersalah kali ini, mungkin aku harus membelikan makanan ringan enak di rumah Enomoto-san nanti...

     “Tapi, bunga-bunga yang kamu siapkan bersama Mera-san memang bagus semua, lho. Mereka ‘patuh’ saat diproses, dan itu menyenangkan sekali.”

     “Ahaha. Itu pasti karena sifat Kaako-senpai!”

     “Ehm. Kalau soal itu…”

     Rasanya kekanak-kanakan sekali kalau aku tidak mau mengakui hal itu.

     Saat kami sedang berbicara, Sasaki-sensei menyerahkan kunci sambil berkata. 

     “Kalau begitu, kerjakanlah dengan tenang agar tidak mengganggu kegiatan klub lain. Meskipun, selama ada Kureha, sepertinya itu mustahil…”

     “K-kami akan berusaha semaksimal mungkin…”

     Aku sepenuhnya setuju dengan ucapannya.

     Setelah Sasaki-sensei keluar, tak lama kemudian Kirishima-san masuk, menggantikannya.

     ​“Guru yang tadi itu, Guru Olahraga?”

     “Bukan, dia guru Matematika.”

     Wajar saja kalau yang baru melihatnya berpikir begitu.

     Kirishima-san bergumam, “Oh,” dengan nada tidak tertarik, lalu dia teringat sesuatu.

     “Kureha-san memanggilmu. Fotografer kita untuk acara ini sudah datang.”

     “Oh, mengerti.”

     Pemotretan kali ini akan dilaksanakan di ruang sains, tempat yang dulu kami gunakan untuk kegiatan klub hortikultura.

     Aku berjalan menuju ruang sains—sambil berpikir, tempat ini sudah terasa asing—dan mendapati dua wanita muda sedang berbicara dengan Kureha-san.

     Salah satunya adalah wanita berkuncir kuda yang tampak sangat lelah dengan lingkaran hitam pekat di bawah matanya.

     Yang lain adalah wanita bermata sipit yang mengenakan topi rajut.

     Kemudian, wanita berkuncir kuda itu diperkenalkan kepada kami.

     “Yuu-chan. Ini adalah Tadano-san, yang akan bertanggung jawab atas pemotretan kali ini~☆”

     “Saya Tadano. Mohon kerja samanya.”

     Aku menerima kartu namanya.

     …Ooh. Entah mengapa, aku merasa diperlakukan sebagai orang dewasa.

     Kalau tidak salah, dia adalah direktur di tempat kerja Himari yang sempat gagal saat liburan musim panas, ya.

     “S-selamat siang. Saya Natsume Yuu. Mohon kerja samanya hari ini.”

     Sementara itu, wanita bertopi rajut menyapa sambil memasang tirai tebal berwarna hitam di jendela.

     “Halo halo~ Saya Yaguchi, stylist~ Sebenarnya, cuma Tadano-chan yang diundang~ tapi saya memaksa ikut dan dibawa ke sini, lho~ Wah, tempat ini enak sekali, ya, suasananya santai~ Saya juga suka pekerjaan saya yang sekarang~ tapi kan pasti terpikir soal masa depan~ Pindah ke tempat seperti ini dan membuka salon dengan konsep yang tenang sepertinya ide yang bagus~ Eh! Apa ada ruko kosong yang bagus di sini~? Kalau ada, tolong beri tahu saya, ya~”

     “B-baik. Saya akan coba tanyakan pada Kakak saya…”

     Dia banyak sekali bicara~.

     Seperti yang Himari katakan, dia tersenyum ceria sambil bicara tanpa henti. Yah, tidak apa-apa juga, sih. Sejujurnya, di daerah sini banyak sekali ruko kosong, jadi aku bisa merekomendasikan sebanyak yang dia mau. Walaupun aku tidak tahu apakah bisnisnya akan menguntungkan.

     Namun…

     “Ada mesin-mesin yang luar biasa, ya…”

     Di atas meja terdapat beberapa alat yang belum pernah kulihat.

     Entah apa itu. Ada yang tampak seperti mikroskop versi besar, ada juga yang ukurannya dua kali lipat lebih besar dari printer. Selain itu, ada banyak perkakas kecil lainnya yang berjajar.

     Tadano-san menjelaskan dengan hati-hati.

     “Semua ini digunakan untuk mencetak film negatif. Yang ini digunakan untuk memperbesar film negatif, dan yang ini adalah mesin pengembang (developer). Meskipun ini sudah termasuk yang berukuran kecil…”

     “Anda repot-repot membawanya ke sini?”

     “Ini adalah permintaan dari Kureha-san. Kami sudah melakukan pengiriman, jadi jangan khawatir.”

     Kureha-san berbangga diri seraya membusungkan dada, seolah benda-benda itu miliknya sendiri.

     “Ufufu. Jarang lho ada individu yang memilikinya secara pribadi~”

     “Tidak, kok. Saya hanya hobi mengumpulkan benda-benda seperti ini…. Ngomong-ngomong, Kureha-san. Anda yakin dengan cara ini? Di sekitar sini pasti ada studio foto, dan mereka bisa mencetak hasilnya dengan lebih baik, lho?”

     “Kalau begitu, tidak akan selesai dalam sehari~ Untuk kali ini, ini adalah pilihan yang terbaik~”

     “Oh, begitu. Baiklah, kalau memang begitu maunya…”

     Pantas saja. Itu sebabnya Yaguchi-san sejak tadi memasang tirai untuk membuat ruang gelap.

     Namun, jika memikirkan kepribadian Kureha-san, ini memang terasa aneh. Seharusnya dia akan menginginkan hasil cetakan yang sempurna, seperti yang dikatakan Tadano-san.

     Ketika aku sedang merenung, pintu terbuka dan Himari serta yang lain masuk.

     “Tadano-san, Yaguchi-san! Lama tidak bertemu!”

     “Oh~ Himari-chan, lama tidak bertemu~ Syukurlah kamu sudah terlihat ceria kembali~”

     ​“Ih! Yaguchi-san, jangan bilang begitu, dong!”

     “Kufufu. Bukan, kok, aku memujimu~♪”

     Mereka akrab sekali.

     Yah, orang seperti Yaguchi-san memang sepertinya cocok dengan Himari. Sebaliknya, Murakami-kun… ah, ya. Dia terlihat sedikit menjaga jarak.

     Setelah semua peserta ujian masuk berkumpul, Kureha-san menjelaskan alur acara hari ini.

     “Nah, seperti yang sudah kujelaskan sebelumnya, kita akan bergiliran melakukan pemotretan dengan Tadano-chan, lalu dilanjutkan dengan proses pencetakan, dan penilaian foto yang sudah jadi. Kita akan mengulanginya tiga kali, dan siapa pun yang unggul dua poin duluan, dialah pemenangnya~☆”

     “Baik. Kami mengerti.”

     Rupanya, siapa pun yang selesai bersiap lebih dulu harus menghubungi Kureha-san untuk memulai sesi pemotretan.

     Saat kembali ke ruang tunggu masing-masing, aku berhadapan dengan Murakami-kun.

     “Murakami-kun. Mohon kerja samanya.”

     ​“Ya. Sama-sama.”

     Balasan darinya tenang, tetapi dipenuhi tekad yang kuat.

     “Aku akan bertanding dengan niat untuk menang.”

     “Aku juga.”

     Mataku sempat bertemu dengan Himari, tetapi…

     “Ah, Himari… eh?”

     Dia buru-buru pergi.

     …Yah, kalau aku di posisinya, aku juga akan merasa tegang.

     Aku kembali ke ruang tunggu bersama Kirishima-san. Shiroyama-san sudah menyiapkan aksesori yang akan digunakan untuk sesi pertama.

     “Ah, Yuu-senpai! Aksesori yang ada di daftar sudah aku keluarkan!”

     ​“Terima kasih. Kamu banyak membantu.”

     Kalau begini, sepertinya kami bisa masuk sesi pemotretan lebih dulu.

     “Ngomong-ngomong, Shiroyama-san, apa kamu tidak apa-apa tidak membantu Himari di sana?”

     “Ah, ya! Tadi aku sempat menengok, tapi sepertinya tidak ada yang bisa aku bantu di pihak mereka!”

     “? Begitu, ya?”

     Aku tidak mengerti maksudnya, tapi… yah, bagaimanapun juga, Murakami-kun yang bertugas menyiapkan aksesori. Mungkin lebih baik tidak ikut campur.

     (…Fuh. Ini dia saatnya)

     Persiapan sudah selesai.

     Fokus.

     Benamkan dirimu hanya pada karya di hadapanmu.

     Lawanku adalah Murakami-kun.

     Meskipun aku sudah menyiapkan strategi, tetap saja dia adalah lawan yang memiliki perbedaan besar dalam hal kualitas dan pengalaman. Ini bukan lawan yang bisa dihadapi sambil memikirkan hal-hal yang tidak perlu.

     “Baik, Kirishima-san. Mohon kerja samanya.”

     “Ya. Mohon kerja samanya juga.”

     Aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.

     —Aku harus menang.

♣♣♣

     Empat jam kemudian.

     Tepat ketika matahari berada di puncaknya.

     Aku menerima kontak dari Kureha-san dan segera menuju ruang serbaguna.

     Itu adalah ruang kelas kosong yang berada tepat di seberang ruang sains, tempat pemotretan dan pencetakan dilakukan. Aku ingat, kami pernah menggunakan ruangan ini untuk toko aksesori saat festival sekolah tahun kedua. Betapa repotnya waktu itu…

     Persiapan di dalam ruangan sudah selesai.

     Menggunakan meja dan kursi cadangan yang ada di ruang kelas kosong itu, telah disiapkan meja juri darurat.

     Ada tiga kursi—untuk Tenma-kun, Sanae-san, dan Akinashi-san. Astaga, Tenma-kun dan yang lain duduk di sekolah tempat kami dulu menuntut ilmu, rasanya benar-benar tidak nyata… Eh?

     Akinashi-san terlihat sangat ketakutan sambil mengamati sekeliling.

     “Ah, Akinashi-san? Ada apa?”

     “He-Hehe… Aku… tidak pernah bersekolah di SMA… jadi ini… bukankah tindakan kriminal…?”

     ​“Tidak, sepertinya tidak apa-apa…”

     Sanae-san hanya mengangkat bahu.

     Rupanya, Akinashi-san terus bersikap seperti itu sepanjang hari ini.

     Tenma-kun tersenyum masam, tetapi kemudian menatapku dengan sorot mata yang menantang.

     “Yuu-kun. Seberapa yakin dirimu?”

     “Yah, aku sudah melakukan yang terbaik.”

     Masalahnya adalah apakah strategiku akan berhasil atau tidak. Untuk hal ini, aku hanya bisa berdoa. Tapi anehnya, aku merasakan firasat yang bagus.

     Saat kami sedang mengobrol, Himari dan yang lain pun tiba.

     “Yahho. Yuu, Tenten… lho?”

     Himari mengamati ruangan, lalu menyebut-nyebut satu orang lagi yang seharusnya hadir.

     ​“Yuu, di mana Yumechin?”

     Saat itu, Tenma-kun juga menyadari sesuatu.

     “Yuu-kun. Ngomong-ngomong, di mana Kirishima-san?”

     “Ehm… Kirishima-san sedang menyiapkan diri bersama Shiroyama-san di ruang tunggu.”

     Ketika aku menjawab demikian, keduanya memiringkan kepala dengan bingung.

     Tepat pada saat itu, Kureha-san masuk ke ruang persiapan sambil bertepuk tangan.

     “Baik! Mari kita mulai dengan foto pertama, ya~♪”

     Acara ini dimulai dengan suasana yang terasa santai…

     Kureha-san melihat ke arahku dan Murakami-kun secara bergantian, lalu terkekeh pelan.

     “Kalau begitu, kita nilai yang mana dulu, ya~?”

     ​“Aku yang maju duluan.”

     Di luar dugaan, Murakami-kun mengambil giliran pertama.

     Dia menuju ruang tunggu mereka dan membawa keluar karya yang sudah dipotret.

     Karya itu ditutupi dengan kain hitam tebal. Setelah dia memasangnya pada easel besar di depan papan tulis, dia dan Himari melepaskan kain penutupnya bersama-sama.

     —Foto seorang gadis yang tampak sedih, diselimuti oleh bunga-bunga yang seolah meluap dari bingkai.

     Bintang utamanya adalah Winter Cosmos.

     Bunga dari keluarga Asteraceae yang mekar di musim dingin.

     Bunga ini sebenarnya spesies yang berbeda dari Cosmos yang mekar di musim semi hingga musim panas, dan jika dibandingkan, ekspresi bunganya juga sangat berbeda.

     Namun, yang harus diperhatikan di sini adalah fakta bahwa bunga ini merupakan salah satu bunga yang melambangkan alam semesta 'COSMO' yang berasal dari bahasa Latin.

     Dengan Winter Cosmos sebagai fokus utama, Himari diselimuti oleh berbagai jenis bunga, berpose dengan tatapan kosong seolah sedang memandang rendah sesuatu. Karya ini adalah representasi paling khas dari karya fotografi Murakami-kun.

     Aku berpikir, karya ini sungguh sempurna.

     Selain teknik fotografi Tadano-san yang mumpuni, ada nuansa nyata yang membuat model seolah-olah akan muncul dari dalam foto. Ini menunjukkan bahwa keahlian Murakami-kun dalam mengolah bunga begitu luar biasa, hingga bunga-bunga itu tidak kehilangan kesegarannya meski melalui filter foto.

     Aku bisa merasakan napas, bukan hanya Himari, tetapi juga bunga-bunga itu.

     Terutama Sanae-san di kursi juri, dia menghela napas kagum. Memang benar, Sanae-san pasti menyukai karya seperti ini.

     Berdiri di samping foto itu, Murakami-kun menjelaskan.

     “Judul foto pertamaku adalah, ‘Surat dari Gadis Surgawi’.”

     Karya ini menggambarkan seorang wanita yang memandang ke bawah dari alam semesta, menatap sosok kekasihnya yang berada di bumi.

     Ini adalah karya yang mengekspresikan keindahan melankolis yang terakumulasi dari perasaan dua insan yang terkoyak dan takkan pernah bisa bersentuhan.

     “Dengan Winter Cosmos yang melambangkan alam semesta sebagai fokus utama, aku mengekspresikan bintang-bintang menggunakan bunga-bunga lainnya. Menurutku, untuk mengekspresikan ‘alam semesta’ di musim ini, hanya bunga inilah yang cocok.”

     Meskipun kata-katanya sederhana, niatnya tersampaikan dengan jelas.

     Tema untuk sesi pertama adalah 'Alam Semesta'.

     Jika temanya demikian, sudah pasti akan ada bunga yang menyandang nama Cosmos yang tumpang tindih.

     Meskipun terdapat jenis bunga yang tak terhitung jumlahnya, bunga yang benar-benar terkait dengan alam semesta sebenarnya tidak terlalu banyak.

     Bila dipaksakan, ada Iris yang disamakan dengan 'Nebula Iris', atau Zinnia dan Mini Mawar yang konon pernah ditanam secara eksperimental di luar angkasa. Namun, semua itu kalah jelas dibandingkan Cosmos ini. …Meskipun bahasa bunga jamur Eringi adalah 'alam semesta', sayangnya jamur Eringi tidak berbunga, jadi aku pun tidak bisa menggunakannya.

     Kureha-san, yang menyadari maksud Murakami-kun sama sepertiku, tersenyum menantang.

     “Huumm? Kamu mengambil giliran pertama karena menduga bunga yang sesuai dengan tema pertama akan sama dengan pilihan Yuu-chan, ya~ Dampak kesan pertama pasti lebih kuat kalau menggunakan bunga yang sama~”

     “Ya. Natsume-san sering menggunakan pendekatan logis dengan menyesuaikan bahasa bunga, jadi aku pikir dia akan memilih Winter Cosmos untuk tema ini. Apakah ini dianggap curang?”

     “Tidak. Tidak masalah, kok~ Dunia ini adalah yang kuat memangsa yang lemah, dan cara bertarung seperti itu juga penting, kan~☆”

     Kureha-san melirik ke arahku.

     Rupanya dia secara implisit bertanya, "Kamu tidak punya keluhan, kan~?" …Tidak, memang benar. Aku juga tidak menyangka Murakami-kun akan menggunakan taktik seperti ini.

     Namun, ini masih dalam batas aturan.

     Mengingat ujian masuk ini menekankan kemampuan praktis, mengambil giliran pertama di sana adalah langkah yang tepat. Kenyataan juga tidak selalu menyediakan situasi di mana aku bisa mengeluarkan seratus persen kemampuanku.

     “Kalau begitu, Yuu-chan juga silakan~♪”

     “Baik.”

     Aku pun meninggalkan ruang serbaguna untuk membawa masuk karyaku.

     Saat itu, sejenak mataku bertemu dengan Himari yang tampak cemas. Dia pasti mengetahui strategi Murakami-kun, dan mungkin merasa tidak enak hati.

     (Himari, tidak apa-apa)

     Aku menyuarakan kata-kata itu dalam hati, lalu membuka pintu ruang tunggu.

     Setelah memastikan karya pertama kami, aku memanggil Kirishima-san yang telah bersiap.

     “Ini giliran kita.”

     ​“Lama sekali. Apakah Murakami-kun yang maju duluan?”

     “Ya. Ada hal yang sedikit tak terduga…”

     “Tak terduga?”

     “Murakami-kun menggunakan Winter Cosmos sebagai bunga utamanya.”

     “Apa!? Kamu yakin tidak apa-apa!?”

     “Mungkin tidak. Winter Cosmos memang tak terduga, tapi karyanya sudah sesuai perkiraan…”

     Kami membawa karya kami.

     Ukurannya sedikit lebih kecil daripada milik Murakami-kun, sehingga kurang menarik perhatian, tetapi ukuran ini memiliki tujuan tersendiri.

     Shiroyama-san, yang membantu kami dalam persiapan, mengepalkan kedua tangan dan memberiku semangat.

     “Yuu-senpai! Semangat!”

     ​“Ya. Shiroyama-san, tolong siapkan juga aksesoris berikutnya.”

     Aku membawa kereta dorong yang kupinjam dari Sasaki-sensei—alat yang biasa digunakan untuk mengangkut barang. Setelah membentangkan lipatannya, aku kembali menuju ruang serbaguna.

     Lalu, di koridor, aku membentangkan kereta dorong itu, memasang easel di atasnya, dan menutupi seluruh karya foto beserta easel dengan kain penutup hitam besar.

     Setelah selesai bersiap, aku mendorong kereta dorong itu perlahan-lahan dan masuk ke ruang serbaguna.

     Melihat pertunjukan itu, semua orang membelalakkan mata.

     Himari bertanya, dengan banyak tanda tanya melayang di atas kepalanya.

     “…Yuu, apa itu?”

     “Ah. Ini easel yang agak spesial.”

     Namun, hanya Kureha-san yang tersenyum simpul, seolah-olah dia sudah menyadari sesuatu.

     …Sudah kuduga dia tahu. Tentu saja. Tidak mungkin dia tidak menyadari identitas benda ini. Selain itu, Sanae-san juga tampak sedikit menduga-duga.

     Aku mengunci roda kereta dorong agar tidak bergerak.

     Kemudian, kami secara perlahan menyingkap kain penutup dari kedua sisi.

     Melihat karya yang tersingkap, semua orang terkesiap.

     Itu adalah seorang wanita yang sedang menjunjung sebuah foto besar dengan kedua tangannya.

     Wanita itu—yaitu Kirishima-san—berdiri tegak sambil memegang foto di depan wajahnya, menyembunyikan parasnya sendiri. 'Easel' yang kubilang spesial tadi merujuk pada postur Kirishima-san yang berdiri ini.

     Perhatian pasti akan tertuju pada keanehan ini terlebih dahulu, bukan pada karyanya. Sebagian besar orang bereaksi seperti itu, tetapi Tenma-kun, yang paling cepat memfokuskan perhatian pada foto, mengernyitkan dahi.

     “Lho? Bunga di dalam foto itu, belum mekar…?”

     Sanae-san dan Akinashi-san pun menyadari fakta tersebut.

     —Foto Kirishima-san yang tertutup bunga, sedang menunduk dengan ekspresi sedih, dipotret dari depan.

     Bunga utamanya adalah Winter Cosmos.

     Ini benar-benar sesuai dengan dugaan Murakami-kun; aku juga memilih bunga ini. Mengaitkan alam semesta dengan Cosmos sangat mudah dipahami. Kemungkinan besar dugaannya bahwa aku cenderung memilih bunga yang sesuai dengan tema memang tinggi, tetapi tidak ada gunanya jika aku menyimpang terlalu jauh dan membuat karyanya sendiri sulit tersampaikan.

     Namun, ada satu poin yang tidak diperkirakan oleh Murakami-kun.

     Semua bunga di dalam foto ini berada dalam kondisi kuncup.

     Aksesori bunga yang sengaja dibuat dari bunga-bunga yang belum mekar.

     Semua itu dijadikan anting, bando, dan lain-lain, yang membingkai ekspresi murung Kirishima-san. Pewarnaannya pun sengaja dibuat gelap, seperti biru tua atau ungu. Ini kontras dengan Murakami-kun yang menyesuaikan karyanya ke warna yang cenderung cerah.

     Meski kontras, sebagai sebuah foto, karya ini jelas kurang memiliki dampak. Ditambah dengan ekspresi murung Kirishima-san sebagai model, kesan keseluruhan karya ini menjadi gelap.

     Sekilas, ini terlihat seperti kenakalan yang menggunakan Kirishima-san.

     Terutama Akinashi-san, dia jelas mengernyitkan dahi.

     (Tapi, karya ini baru dimulai dari sini)

     Tepat ketika semua orang mengamati foto itu dengan saksama, Kirishima-san, yang berperan sebagai easel dengan memajang foto, mulai bergerak.

     Dia perlahan menurunkan foto itu… dan memperlihatkan wajahnya sendiri.

     “““...!!”””

     Ketiga juri menahan napas.

     Kirishima-san sendiri dihiasi oleh beberapa aksesori bunga.

     Bunga-bunga itu adalah bunga-bunga cerah yang didominasi oleh Winter Cosmos. Bunga-bunga yang tadinya masih berupa kuncup di dalam foto, kini diproses dalam keadaan mekar penuh.

     Bersamaan dengan itu, Kirishima-san sendiri menampilkan senyum yang memancarkan vitalitas kuat, kontras dengan yang ada di foto. Dikelilingi oleh preserved flower yang diwarnai cerah, dia bersinar semakin terang.

     Tenma-kun menyipitkan mata dan bertanya padaku.

     “...Apakah ini melambangkan berlalunya waktu?”

     Itu benar sekali.

     Aku pun mulai menjelaskan karya ini.

     ​“Judul karya kami adalah ‘Penciptaan Alam Semesta’. Dengan memanfaatkan nuansa monokrom pada foto dan keanggunan Kirishima-san sendiri, kami menggambarkan momen ketika alam semesta lahir.”

     Atau, bisa juga diartikan sebagai momen ketika sang dewi, yang kehilangan alam semesta lamanya dan berada dalam kesedihan mendalam, merasakan sukacita yang mekar seiring lahirnya alam semesta yang baru.

     Hal itulah yang diekspresikan di dalam ruangan kecil ini.

     Dan orang yang paling terkejut dengan karya ini adalah—tak lain dan tak bukan—Murakami-kun sendiri.

     Sebab, cara mengekspresikan bunga dan model sebagai satu kesatuan seperti ini…

     —Adalah metode khas Flower Artist, Murakami Jun.

     Anehnya, dalam pertarungan sesi pertama ini,

     Aku dan Murakami-kun sama-sama menggunakan gaya penyajian karya dengan mengadopsi metode khas lawan masing-masing.

     Di tengah kebingungan, Akinashi-san mengangkat tangan. Dengan ragu, dia meminta konfirmasi kepada Kureha-san.

     “A-Anu… apakah ini… diperbolehkan…?”

     Tantangan kali ini adalah 'Ciptakan sebuah karya fotografi'.

     Tentu saja, karya yang menggunakan elemen di luar foto seperti ini akan dipertanyakan keabsahannya, tetapi…

     “Ufufu. Tentu saja, BOLEH, dong~☆”

     Mendengar jawaban cepat Kureha-san, aku mengepalkan tangan kuat-kuat.

     …Kalau dipikir-pikir, sejak awal, ada sesuatu yang mengganjal dari tema kali ini.

     Rasanya terlalu lugas dan mengecewakan untuk ujian masuk yang diselenggarakan oleh Kureha-san. Bukan berarti aku mau mengomentari pribadinya, tapi, yah, karena dia Kureha-san…

     Awalnya aku mengira elemen 'tidak biasa' itu adalah 'perombakan pasangan antara aku dan Himari', tetapi kurasa itu juga kurang tepat.

     Sebab, jika benar-benar bekerja secara profesional, model yang berbeda dari biasanya adalah hal yang lumrah terjadi sehari-hari. Kemampuan untuk menonjolkan pesona model dalam setiap situasi justru merupakan kriteria penilaian yang lurus.

     …Berdasarkan premis itu, hal berikutnya yang mengganjal adalah susunan katanya.

     Ungkapan Kureha-san, 'Ciptakan sebuah karya fotografi', terdengar bertele-tele.

     Jika hanya sekadar mengambil foto, seperti yang sudah berulang kali kami pikirkan, cukup mengirimkan data fotonya saja. Apabila teknik fotografer yang mengambil foto itu sama, tidak perlu sampai menyewa ruang kelas kosong di sekolah untuk mengadakan sesi penilaian seperti ini.

     Namun, bagaimana jika dalam penilaian karya ini, elemen di luar bingkai foto juga dianggap sebagai bagian dari karya?

     Jika penetapan Murakami-kun sebagai lawan sudah merupakan petunjuknya, maka ketidakefisienan yang tidak seperti Kureha-san ini menjadi masuk akal.

     Bukan "Ambil foto terbaik".

     Melainkan "Ciptakan karya terbaik yang menggunakan foto".

     Saat itulah Kureha-san bertepuk tangan.

     “Kedua pihak sudah menampilkan karyanya~ Kalau begitu, mari kita mulai penilaiannya~♪”

     Juri kali ini terdiri dari tiga orang.

     Jika salah satu pihak memperoleh dua suara atau lebih, itu berarti kemenangan di sesi pertama.

     “Ah. Kalau aku… memilih Natsume-kun… hehe…”

     Keputusan Akinashi-san sangat cepat.

     Tampaknya dia memang tipe yang memutuskan berdasarkan insting, tanpa perlu berpikir keras.

     Sebaliknya, Sanae-san tersenyum dengan raut wajah yang sedikit bingung.

     “Umm. Ide Natsume-kun untuk menyatukan model dan foto itu bagus, dan tingkat kesempurnaan foto serta aksesorisnya juga tanpa cela, tapi… bisakah ‘itu’ diperbaiki?”

     Dia menunjuk sesuatu saat mengucapkannya.

     …Yaitu kereta dorong yang dinaiki Kirishima-san.

     “Jika elemen di luar bingkai juga dianggap sebagai bagian dari karya, maka landasannya sangat penting, lho~”

     “Ugh…”

     Memang benar, kesenjangan antara tema karya yang megah dengan realitas kereta dorong ini sangatlah mencolok.

     Sebenarnya aku sempat mempertimbangkan Kirishima-san berjalan kaki sendiri, tapi inti dari karya kali ini adalah 'memperlihatkan wajah Kirishima-san setelah foto diturunkan', jadi itu sulit dilakukan. Tidak ada benda lain dengan ukuran yang pas dan bisa mengangkut Kirishima-san.

     Saat aku mulai berkeringat dingin, Sanae-san tersenyum masam.

     “Yah, meskipun begitu, sepertinya kali ini Natsume-kun lebih unggul satu langkah. Aku juga memberikan satu suara untuk Natsume-kun.”

     “…!”

     Dengan ini, sudah dua suara.

     Itu berarti, tema pertama, 'Alam Semesta', dimenangkan olehku.

     …Namun, aku masih penasaran dengan penilaian Tenma-kun.

     “Um, bagaimana dengan Tenma-kun?”

     “…………”

     Tenma-kun menatapku dengan sorot mata tajam yang intens, tetapi tak lama kemudian dia tersenyum tipis.

     “Memang, aku juga mengkhawatirkan poin yang Sanae-san tunjukkan, tapi kualitas dan konsep karyanya tidak bisa dicela. Aku juga memilih Yuu-kun.”

     ​“Berhasil!”

     Dengan ini, aku memperoleh tiga suara.

     Pertarungan pertama berakhir dengan hasil yang paling maksimal.

     …Seketika aku buru-buru mencari Murakami-kun.

     “Ah, Murakami-ku…”

     Dia sudah pergi…

     Murakami-kun segera meninggalkan ruang serbaguna, mungkin untuk mempersiapkan sesi berikutnya. Himari juga berada di pihak sana, jadi dia sempat melirikku sekilas lalu buru-buru mengikutinya.

     Kirishima-san, yang sudah keluar dari mode model, mendekatiku.

     “Kita juga harus cepat-cepat menyiapkan yang berikutnya.”

     “…Apa Murakami-kun marah, ya?”

     ​“Astaga!”

     Kirishima-san menendang bokongku.

     “A-apa yang kamu lakukan!?”

     “Murakami-kun itu profesional. Bahkan tanpa kamu khawatirkan, dia pasti mengerti aturan mainnya.”

     “B-begitu, ya.”

     “Bisa jadi dia justru semakin bersemangat, lho. Jangan-jangan kamu sudah menginjak ekor harimau, ya?”

     “Itu tidak lucu…”

     Ya, ini baru satu kemenangan.

     Satu kemenangan lagi dan aku akan lulus ujian, tapi… kali ini hanya kejutan yang berhasil. Jika karya Murakami-kun berikutnya sama dengan yang tadi, kemungkinanku untuk menang memang tinggi…

     (Tapi tidak akan semudah itu…)

     Aku membulatkan tekad, lalu kembali ke ruang tunggu bersama Kirishima-san.

♢♢♢

     Setibanya kami di ruang tunggu, Murakami-kun sudah duduk sambil memegang kepalanya.

     “Aduh… aku benar-benar dikalahkan…”

     “…………”

     Wah.

     Dia pasti terpukul sekali.

     Yah, wajar saja. Karya Yuu tadi jelas-jelas mengadopsi gaya Murakami-kun. Dalam rapat kami, bentuk karya yang menyatukan model dan foto seperti itu bahkan tidak pernah dibahas.

     (Tapi, tidak kusangka Yuu berani mengambil risiko sebesar itu…)

     Jujur saja, aku sendiri tidak menyangka Yuu akan menyerang dengan interpretasi yang begitu memaksa. Atau mungkin, berdasarkan perkataan Kureha-san, kemampuan untuk menyadari poin itu adalah salah satu kunci utama.

     Di sisi lain, kami hanya mengasumsikan karya fotografi yang sangat lugas.

     Mungkin ini bukan karena kami gagal memahami maksud Kureha-san, melainkan kesadaran bahwa lawan adalah Yuu yang menghalangi. Karya-karya Yuu selama ini selalu berkesan ortodoks, sehingga hal itu mempersempit pandangan kami.

     Bagaimanapun juga, Murakami-kun, yang terpukul di pertarungan pertama, menundukkan kepala dalam-dalam kepadaku.

     “Inuzuka-san, maafkan aku. Kelalaianku adalah penyebab kekalahan ini…”

     “Ah! E-enggak, aku tidak terlalu memikirkannya, kok! Tidak apa-apa!”

     Semua karya untuk ujian masuk kali ini diputuskan oleh Murakami-kun.

     Sebab, aku berniat untuk memberi jalan bagi Yuu kali ini. Wajar jika aku menghormati harapan Murakami-kun yang ingin bertarung sungguh-sungguh melawan Yuu.

     (Lagipula, jika Yuu menang, itu malah menguntungkan bagiku, atau begitulah…)

     Aku sendiri merasa niat ini tidak murni.

     Namun, bagiku, masa depan Yuu lebih penting daripada kemenanganku sendiri.

     “Murakami-kun. Sementara ini, ayo kita siapkan karya kedua. Yang berikutnya, ‘Gadis di Bumi’, kan?”

     Semua karya Murakami-kun terdiri dari tiga bagian yang saling terhubung.

     Karya pertama adalah ‘Surat dari Gadis di Surga’.

     Karya kedua adalah ‘Gadis di Bumi’.

     Karya ketiga adalah ‘Anak Masa Depan’.

     Menerima surat dari Gadis di Surga, kemakmuran datang melalui Gadis di Bumi, dan dunia dipercayakan pada kehidupan baru.

     Bagian kedua dari trilogi itu adalah foto seorang wanita yang mengulurkan tangan ke bunga-bunga yang berjatuhan ke Bumi.

     Aku juga harus berganti pakaian sesuai yang telah ditentukan dan mengenakan banyak aksesori bunga untuk pemotretan, tapi…

     “Murakami-kun?”

     “…………”

     Murakami-kun menatap tangannya lekat-lekat.

     Setelah melakukan gerakan mencengkeram kekosongan dengan tangan yang seharusnya tidak memegang apa-apa, dia bergumam pelan, “Sepertinya tidak bisa.”

     ​“Inuzuka-san. Aku harus mengubah rencana karya kedua.”

     “Eh…!”

     Aku terperanjat mendengar usulan mendadak di saat-saat terakhir ini.

     “Mengubahnya, bagaimana?”

     “Jika tetap pada rencana awal, kita akan kalah saat Natsume-san menampilkan penyajian yang menyatukan model seperti pada karya pertama.”

     Sambil berkata begitu, dia mengangkat kardus berisi aksesori yang sudah dipilah ke atas meja. Dia menatap bunga-bunga untuk karya kedua dan ketiga dengan ekspresi serius, lalu berkata.

     “Sama seperti Natsume-san, di karya kedua ini aku akan meminta Inuzuka-san tampil dengan mengenakan bunga. Karena ini gayaku yang asli, pemulihannya tidak akan sulit.”

     “Eh? Tapi kalau begitu…”

     Tentu saja, Murakami-kun mengetahui masalah yang hendak kusampaikan. Dia menggertakkan gigi dengan ekspresi penuh penyesalan, lalu menjawab.

     “Tapi, ini satu-satunya cara. Aku tidak bisa kalah begitu saja…”

     ​“…………”

     Tidak diragukan lagi, ini adalah situasi yang merugikan bagi kami.

     Meskipun begitu, entah mengapa.

     —Mata Murakami-kun bersinar lebih terang dari sebelumnya.

     Aku sudah melihatnya berkali-kali.

     Orang-orang yang benar-benar berusaha keras untuk membuka jalan mereka sendiri, pasti tidak memikirkan untung rugi kalah-menang, atau anggapan bahwa kemenangan mereka tidak berarti.

     Mereka hanya merasa gembira dengan kehadiran lawan yang bisa mereka hadapi dengan segenap kemampuan, lalu mereka pun melangkah naik ke tingkat yang lebih tinggi.

     Aku tidak memiliki gairah seperti itu.

     Aku tidak berpikir untuk mengepakkan sayap meskipun harus menjatuhkan Yuu.

     Saat liburan musim panas, aku merasa menyesal karena gagal dalam pekerjaan pertamaku.

     Aku menangis sungguh-sungguh.

     Namun, itu hanya karena aku ingin membantu Yuu agar bisa bersinar.

     Dalam pertarungan yang mempertaruhkan masa depan Yuu ini, aku sama sekali tidak merasa harus menang.

     Bahkan jika jalan menuju dunia di mana aku bisa bersinar akan tertutup…

     Sebab, aku—masih belum bisa membayangkan diriku di masa depan yang bersinar seperti orang-orang ini.

♣♣♣

     Tiga jam setelah penilaian karya pertama selesai—

     Penilaian karya kedua dimulai.

     Dengan situasi yang sama seperti sebelumnya, Kureha-san mengumumkan,

     “Kalau begitu, siapa yang akan dinilai duluan~?”

     “Aku mohon untuk yang pertama.”

     Kali ini, aku mengambil giliran pertama.

     Bersama Kirishima-san, aku hanya mengajukan foto saja.

     Judul karya kedua adalah ‘Memanggil Musim Semi’.

     Foto itu menampilkan Kirishima-san yang tertidur lelap sambil memegang setangkai bunga musim semi, di tengah balutan banyak bunga musim dingin. Ini adalah kisah tentang peri yang hanya bisa hidup di musim dingin yang singkat, dan perannya berakhir saat musim semi yang hangat tiba.

     Untuk karya kedua, aku memilih gaya karya fotografi yang paling dasar, tanpa menjadikan Kirishima-san sebagai easel.

     Alasan aku memilih gaya itu ada dua.

     Yang pertama, untuk mencegah ‘kebiasaan’ para juri.

     Mengulangi penyajian spektakuler yang sama seperti karya pertama dapat menimbulkan kesan bahwa aku mengabaikan kualitas aksesori, sehingga justru akan menjadi kontraproduktif.

     Dan yang kedua adalah—

     “Nah, giliran Murakami-kun dan Himari-chan sekarang~☆”

     Bersamaan dengan perkataan Kureha-san, Murakami-kun mengajukan karyanya.

     Sebuah karya integrasi model, di mana Himari, yang berbalut banyak bunga, menjunjung sebuah foto besar.

     Di dalam foto itu, Himari yang mengenakan berbagai macam bunga mengulurkan tangan ke arah langit.

     Pada saat yang sama, Himari yang memeluk foto itu seperti harta karun juga diselimuti oleh bunga yang tak terhitung jumlahnya.

     Judulnya adalah ‘Gadis di Bumi’.

     Kemungkinan besar, kontennya terkait dengan karya pertama, 'Surat dari Gadis di Surga'. Terlihat jelas bunga-bunga yang turun dari alam semesta sedang mewarnai bumi yang kering.

     (Ini terasa seperti keahlian terbaik Murakami-kun...)

     Penyajian yang mencolok seperti ini memang lebih dikuasai oleh Murakami-kun. Tidak ada kelemahan yang merusak suasana seperti kereta dorong yang menjadi kritik pada karya kami sebelumnya.

     ...Justru karena itulah, kami kembali ke gaya yang mendasar untuk karya kedua.

     “Kalau begitu, penilaian dimulai♪”

     Sesuai isyarat Kureha-san, para juri memberikan suara secara bergiliran, sama seperti pada karya pertama.

     Menggabungkan kriteria dari para juri sebelumnya, seharusnya Murakami-kun menang telak.

     ...Namun.

     “Umm... Kalau aku pilih Murakami-kun...”

     Akinashi-san memberikan suaranya kepada Murakami-kun, sesuai prediksi.

     Namun, Sanae-san berikutnya malah…

     “Hmm. Aku memilih Natsume-kun.”

     Mendengar kata-kata itu, Murakami-kun terbelalak.

     “K-kenapa begitu?”

     Menanggapi pertanyaan itu, Sanae-san menjawab dengan santai.

     “Bukan apa-apa. Aku pikir ini adalah karya yang luar biasa, tapi di arena kompetisi ini, sensasi 'pengulangan' sulit untuk dihilangkan…”

     “…!?”

     Itu dia.

     Masalah struktural dari tiga babak kompetisi ini.

     Karena sifat penilaian yang dilakukan satu per satu secara berurutan, suasana ‘siapa cepat dia dapat’ pasti akan terasa. Bahkan jika Murakami-kun adalah pelopor gaya ini dan unggul dalam volume bunga, dia tidak bisa lepas dari nasib tersebut.

     Kemudian Tenma-kun, yang dipercaya untuk memberikan keputusan terakhir, menyampaikan dengan ekspresi serius.

     “Aku memilih Murakami-kun. Meskipun apa yang dikatakan Sanae-san benar, menurutku tingkat kemahiran dalam penyajiannya jauh lebih tinggi. Teknik pengolahan bunga dan fotonya juga luar biasa.”

     Setelah mendapatkan suara kedua, Murakami-kun menghela napas lega.

     Dengan demikian, tema kedua, ‘Bumi’, dimenangkan oleh Murakami-kun.

     Dan mereka kembali bersiap untuk pertarungan terakhir.

     Aku dan Kirishima-san juga kembali ke ruang tunggu.

     Aku menyampaikan hasil karya kedua kepada Shiroyama-san, yang sudah menyiapkan persiapan berikutnya. Meskipun sedikit kecewa, dia menyemangatiku dengan ceria.

     “T-tidak apa-apa! Cukup menang di babak berikutnya saja!”

     “…Ya. Terima kasih.”

     Aku menjawab seperti itu, namun ada sedikit rasa bersalah yang kurasakan.

     Alasan tersebut.

     Kirishima-san menyeringai dengan senyum jahat.

     “Yah, ini sesuai dugaan kita.”

     “Benar. …Meskipun rasanya agak terlalu kebetulan.”

     Mendengar perkataan kami, Shiroyama-san tampak kebingungan.

     “Maksudnya bagaimana?”

     Jalannya cerita hingga karya kedua ini.

     Meskipun ada sedikit perbedaan, ini masih berada dalam batas asumsi yang telah kami perkirakan.

     “Ini hanya prediksi kami, sih, tapi…”

     Aku kembali memikirkan karya kedua Murakami-kun.

     Sesuai dugaan… tidak, bahkan lebih banyak dari yang diperkirakan.

     “Mungkin, stok bunga Murakami-kun dan yang lainnya sudah habis.”

     Alasan kedua mengapa kami memilih karya foto bergaya dasar untuk sesi kedua. Itu berkaitan dengan aturan terakhir dalam kompetisi ini.

     ‘Bunga yang digunakan untuk pemotretan tidak boleh digunakan untuk kedua kalinya.’

     Awalnya aku mengira ini adalah cara untuk mengukur kemampuan produksi sebagai seorang profesional, tetapi sepertinya bukan hanya itu.

     Ini mungkin adalah pesan Kureha-san untukku.

     Aku merasakan deja vu seperti saat pertama kali Kureha-san memberiku tugas di liburan musim panas tahun kedua SMA.

     Aturan ini mungkin menguji ‘kemampuan pemulihan terhadap situasi tak terduga’ yang penting dalam berkarier sebagai profesional.

     Jika dipikir demikian, sistem yang tidak efisien, yaitu ‘memotret dan menilai tiga karya satu per satu’ ini, menjadi masuk akal.

     Apakah kami bisa merefleksikannya pada karya berikutnya, dengan mempertimbangkan tidak hanya arah yang telah diputuskan di awal, tetapi juga karya lawan dan reaksi para juri. Ini bisa disebut sebagai ujian kemampuan bertahan (survival skill) dalam menciptakan karya.

     Oleh karena itu, aku sengaja memanfaatkan maksud tersembunyi tersebut.

     Mendengar akan berhadapan denganku, Murakami-kun mungkin mengira pertarungan ini akan menjadi duel foto yang mendasar. Bahkan jika aku berada di posisi sebaliknya, aku tidak akan menyangka dia akan melancarkan serangan kejutan seperti yang kulakukan.

     Ide integrasi model dan foto pada dasarnya tidak bisa dikonfirmasi kepada Kureha-san sebelumnya. Ada kemungkinan Kureha-san akan berkata, “Hal seperti itu tidak boleh~☆”

     Strategi itu hanya akan berhasil jika dilancarkan pada lawan yang mengenalku. Oleh karena itu, Himari pun tidak akan bisa memikirkannya sebelumnya.

     Aku telah menciptakan narasi di mana penggunaan aksesori bunga dalam jumlah besar menjadi penting di babak pertama.

     Dalam posisi Murakami-kun, dia pasti khawatir akan kalah lagi karena sensasi pengulangan jika menampilkan penyajian yang mencolok di babak kedua. Penempatan Akinashi-san, yang tidak familiar dengan pembuatan aksesori, sebagai juri juga menguntungkan bagiku.

     Oleh karena itu, Murakami-kun terpaksa beralih ke gaya aslinya yang lebih mencolok di babak kedua, sama sepertiku.

     Dan setelah menggunakan aksesori melebihi perkiraan, tibalah pertarungan babak ketiga.

     Penyajian yang mencolok seperti pada babak kedua tidak bisa lagi dilakukan.

     Baik aku maupun Murakami-kun akan mengajukan karya foto bergaya mendasar, di mana teknik pemrosesan bunga akan menjadi penentu kemenangan atau kekalahan.

     ​—Serangan mendadak di babak pertama, semuanya demi membawa pertarungan babak ketiga ke dalam duel murni kualitas aksesori.

     Menjelang persiapan terakhir, aku menghela napas panjang.

     Aku menatap Kirishima-san, sang model, dan juga aksesori-aksesori bunga.

     Aku merasa bisa mendengar suara bunga-bunga itu.

     Dipenuhi dengan suara nyanyian yang gembira dan penuh sukacita. Emosi bunga-bunga itu mendorongku. Dalam ketegangan yang mencekam, perasaanku ikut meluap.

     Inilah saatnya, setelah dibantu oleh banyak orang, aku akhirnya meraih impianku. Sekaranglah saatnya aku membuktikan bahwa waktu yang kuhabiskan untuk berbicara dengan bunga-bunga selama ini tidaklah sia-sia.

     —Fokus. Aku harus menang.

♢♢♢

     Di ruang tunggu.

     Murakami-kun tampak tertunduk lesu.

     “Ini semua ada di telapak tangan Natsume-san…”

     “…………”

     Untuk tema kedua, ‘Bumi’.

     Kami berasumsi Yuu dan timnya akan mengajukan karya integrasi model dan foto, sama seperti karya pertama. Oleh karena itu, kami mengubah rencana menjadi karya integrasi model yang mencolok juga.

     Namun, hasilnya, Yuu dan timnya justru mengajukan karya foto bergaya dasar.

     Murakami-kun memang berhasil meraih kemenangan tipis, tetapi harga yang harus dibayar karena mengerahkan kekuatan berlebihan sangatlah besar.

     “Bunga yang tersisa hanya dua jenis ini, ya…”

     Aku memegang sisa bunga yang ada, sambil bergumam kebingungan.

     Setangkai bougainvillea dan karangan bunga narcissus.

     Keputusan di saat-saat terakhir itu adalah upaya untuk menciptakan kesan feminin dengan memanfaatkan kontras antara bougainvillea ungu yang mencolok dan karangan bunga narcissus yang lembut…

     Tapi ini terasa sangat rapuh.

     Perbedaannya sangat mencolok, mengingat suasana sebelumnya adalah pertarungan volume bunga.

     “Di karya kedua, bukankah seharusnya kita mengurangi bunganya?”

     “Itu tidak boleh. Itu namanya menuruti strategi mereka…”

     Yah, memang begitu, sih.

     Karya kedua.

     Jumlah aksesori yang digunakan Murakami-kun tidak sebanding dengan karya pertama Yuu dan timnya. Kalau bicara volume saja, kurasa jumlahnya lebih dari dua kali lipat.

     Meskipun begitu, dia masih dibilang Miko-chan, “Terasa sekali sensasi pengulangan.” Itu berarti, meskipun dia menyerang dengan volume yang luar biasa, dia kalah dalam hal dampak.

     Faktanya, hasil perolehan suara di babak kedua adalah ‘2-1’.

     Kriteria penilaian Miko-chan memang jelas, dan rasanya kemenangan itu murni tergantung pada penilaian Tenten, sehingga bisa dibilang kemenangan ini hanya faktor keberuntungan.

     Semua orang tahu gaya berkarya Murakami-kun.

     Meskipun begitu, hanya karena urutan informasi dan faktor kejutan bahwa Yuu yang melakukannya, suasana arena sepenuhnya beralih ke pihak lawan.

     (Aku terkejut Yuu bisa menjadi ahli strategi sampai sejauh ini—)

     Awalnya aku mengira itu adalah ide dari Yumechin.

     Tapi itu pasti. Itu adalah ide Yuu. Entah kenapa, aku tahu. Yuu berhasil mempermainkan Murakami-kun, yang memiliki rekam jejak level dunia, hanya dengan kekuatannya sendiri.

     Satu pertarungan ini mengubah Yuu menjadi sosok yang tidak kukenal.

     Fakta itu membuatku terkejut, takut… dan sedikit sedih.

     Padahal, seharusnya aku selalu melihatnya.

     Namun, aku rasa Yuu yang seperti ini tidak akan terlahir jika dia hanya berjalan sebagai mitra takdir bersamaku.

     Aku tahu aku tidak punya hak untuk merasa cemburu terhadap fakta itu saat ini.

     (Sialan. Ganti suasana, diriku. Sekarang sedang jam kerja)

     Aku menampar pipiku berkali-kali di dalam hati.

     Yah, aku hanya melakukannya dalam hati, karena jika kulakukan sungguhan, itu akan memengaruhi foto.

     “Murakami-kun. Karya ketiga, bagaimana rencanamu?”

     “…………”

     Secara praktis, kami harus segera menyiapkan karya berikutnya.

     Dan kami tidak punya banyak waktu luang.

     “…Sulit.”

     Benar juga, sih.

     Rencana awalnya, kami akan menggunakan aksesori bunga dalam jumlah besar untuk menyajikan sesuatu yang spektakuler dengan tema seperti ‘Kelahiran Nyawa Baru’.

     Namun, hampir semuanya sudah habis digunakan di babak kedua demi menghiasiku.

     Dua tangkai bunga yang tersisa ini pun dipilih secara tergesa-gesa saat waktu hampir habis. Tidak salah lagi, situasinya memang benar-benar putus asa.

     Hmm. Suasana ini tidak bagus.

     Baiklah! Sepertinya ini saatnya aku, gadis cantik paling imut, menggunakan kekuatanku untuk mengusir atmosfer suram ini!

     “Tapi Murakami-kun kan kreator yang hebat. Siapa tahu kalau dicoba, kita bisa menang berkat kualitas bunganya, kan?”

     “…………”

     Murakami-kun menatapku dengan mata setengah tertutup.

     “Kamu serius bicara begitu?”

     ​“……Maaf.”

     Ya, aku pun memikirkan hal yang sama.

     Bagaimanapun, bunga buatan Yuu memang berada di level yang berbeda. Setelah melihatnya sebagai musuh seperti ini, aku kembali merasakannya. Aku tidak mengerti soal teknik atau semacamnya, tapi tetap saja, vitalitas yang terpancar dari karyanya terasa sangat berbeda.

     Bukan berarti karya Murakami-kun hanya sekadar teknik belaka. Dia pun mencintai bunga, dan itulah yang membawanya sejauh ini.

     Tapi tetap saja… aku lebih menyukai bunga milik Yuu.

     Justru karena itulah, seharusnya aku menyambut baik suasana yang seolah memihak kemenangan Yuu ini, tapi…

     Saat itulah, ponselku berbunyi.

     “……Hm? Ah, dari Kureha-san.”

     Umm… sepertinya pemotretan Yuu dan timnya sudah selesai. Dia bilang waktu sudah hampir habis, jadi kami disuruh cepat datang.

     Sepertinya dia sudah tahu betul situasi yang kami alami.

     ​“Murakami-kun. Kureha-san menyuruh kita segera melakukan pemotretan.”

     “……Aku tahu. Untuk sementara, aku akan mencoba mengekspresikan tema terakhir, 'Manusia', dengan dua jenis bunga ini.”

     Pada akhirnya, kami tidak punya pilihan selain mengandalkan dua jenis bunga ini.

     Sambil membawa bunga-bunga itu, kami menuju ruang sains tempat Tadano-san dan yang lainnya menunggu.

     ……Di tengah perjalanan.

     Dari ujung lorong, Yuu dan Yumechin berjalan ke arah kami. Sepertinya mereka baru saja selesai memotret; Yumechin tampak begitu menawan dihiasi bunga-bunga yang indah.

     (……Tetap saja, ini mustahil)

     Instingku langsung menyadarinya.

     Aksesori buatan Yuu…… Dibandingkan dengan bunga yang digunakan untuk tema ‘Alam Semesta’ dan ‘Bumi’, entah kenapa napas dari bunga-bunga kali ini terasa berbeda. Mungkin dia menyimpan semua karya terbaiknya untuk babak ketiga. Dia telah menyusun strategi matang-matang untuk menghantamkan kekuatan terbesarnya di akhir.

     (Yuu, dia benar-benar serius……)

     Dia benar-benar berniat untuk menang.

     Sesuai deklarasinya, meskipun harus menggunakan siasat yang tidak biasa, bahkan meski harus menjatuhkanku, dia bertekad merebut investasi dari Kureha-san.

     Aku belum pernah melihat Yuu yang seperti ini.

     Aku yang memulainya dengan perasaan seolah sedang bermain-main, tidak mungkin bisa menang melawannya.

     ……Begitu pikirku, namun aku segera menggelengkan kepala kuat-kuat.

     Apa-apaan aku ini?

     Bagiku, selama Yuu bisa menggapai masa depannya, itu sudah lebih dari cukup. Lagipula, alasanku menjadi model adalah demi aksesoris milik Yuu.

     Jadi, situasi sekarang ini—meskipun aku merasa bersalah pada Murakami-kun—tapi masa depan di mana kami kalah adalah hasil yang terbaik.

     "Ah. Himari, Murakami-kun."

     Mendengar perkataan Yumechin, Yuu pun menoleh ke arah kami.

     ​“Ah, Himari….”

     “…Yuu.”

     Lalu Yumechin memandangi kami berdua dengan tatapan penuh minat.

     “He~m. Kalian berdua benar-benar tidak punya sisa aksesori lagi, ya.”

     “…Jadi kamu memang sengaja mengincar ini, ya?”

     Mendengar keluhan pahit Murakami-kun, Yumechin hanya tersenyum bangga.

     “Mau bagaimana lagi, masa depan Natsume Yuu menjadi taruhannya kali ini. Kureha-san juga sudah memberi izin, jadi ini masih dalam batas aturan, kan?”

     “Aku mengerti. Kali ini aku benar-benar dikalahkan. Tapi lain kali, aku tidak akan kalah.”

     Lain kali, ya….

     Tampaknya di dalam hatinya, Murakami-kun pun sudah menyerah. Menyadari hal itu, aku merasa sedikit lega… sekaligus merasakan denyut perih di dadaku.

     Tanpa menyadari kegundahanku, Yumechin membusungkan dada dengan bangga.

     "Himari. Kali ini pun kemenanganku, ya."

     "......Iya. Sepertinya begitu."

     Mendengar jawabanku yang setengah hati, Yumechin memiringkan kepalanya.

     Ah, gawat.

     Mungkin perasaanku terbaca di wajah.

     Tenang, harus tenang.

     Aku pun memasang senyum andalanku dan mencoba menceriakan suasana.

     "A-Ahaha. Memang hebat, ya. Langsung memakai trik seperti itu, rasanya level pengalaman Yuu dan Yumechin sudah naik drastis. Wah, aku benar-benar tidak bisa menang, nih!"

     "......?"

     Lho? Padahal aku merasa sudah menutupinya dengan baik, tapi kenapa Yumechin menatapku dengan ekspresi seolah sedang melihat sesuatu yang menjijikkan?

     “Kamu… apa kamu habis makan sesuatu yang aneh?”

     “T-tentu saja tidak!?”

     “Meskipun kue di toko Enomoto Rion itu enak, jangan makan yang sudah jatuh ke lantai, ya?”

     “Memangnya citraku seperti itu di matamu!?”

     Kurang ajar sekali!

     Begini-begini aku juga masih siswi SMA biasa, tahu!? Ah, kalau diingat-ingat aku baru saja lulus, jadi mungkin aku bukan siswi SMA lagi!?

     “Iih! Yumechin jahat sekali, mentang-mentang mau menang. Ayo, Murakami-kun! Kita sudah tidak punya waktu lagi, cepat!”

     Aku menarik tangan Murakami-kun lalu berjalan melewati Yuu dan yang lainnya.

     Dengan begini, semua beres.

     Setidaknya, aku harus tetap menjadi gadis cantik periang seperti biasanya.

     Tanpa berani menatap wajah Yuu, aku mencoba menjauh dengan langkah cepat.

     Namun....

     “Himari.”

     Suara Yuu menghentikan langkahku.

     “Apa kamu benar-benar tidak keberatan?”

     “…………”

     Aku berbalik perlahan.

     Dengan senyum cerah yang tampak sengaja kupaksakan di wajah, aku memiringkan kepala ke arah Yuu. Aku tidak menyangka latihan dari Kureha-san akan berguna di saat-saat seperti ini.

     “Apanya yang tidak keberatan?”

     “…………”

     Yuu sempat ragu sejenak untuk berucap... namun dia tetap menatap mataku dan mengatakannya dengan lugas.

     “Apa kamu benar-benar tidak keberatan kehilangan pekerjaan dari Kureha-san?”

     Mendengar itu, Yumechin dan Murakami-kun bereaksi seketika. Keduanya membelalak lebar dan mendesak Yuu untuk menjelaskan.

     “T-tunggu dulu, Natsume Yuu! Apa maksudmu!?”

     “Natsume-san!? Apa itu sungguhan!?”

     Aduh....

     Padahal aku sudah susah payah merahasiakannya. Lagipula, Yuu bodoh juga, ya. Kalau dia mengatakannya sekarang, dia sendiri yang akan terlihat seperti tokoh jahat.

     Aku menghela napas panjang, lalu berkata dengan nada jengah.

     “Tentu saja tidak apa-apa. Alasan terakhirku menjadi model adalah demi menjual aksesoris milik Yuu, kan? Lagipula, bukannya aku sengaja mengalah, tahu? Ini hanya karena kali ini Yuu memang lebih unggul, itu saja, kan?”

     ​“…………”

     Yuu tampak ingin mengatakan sesuatu. Sudut bibirnya sedikit—hanya sedikit—bergetar, namun dia segera memalingkan wajah.

     “Begitu ya. Aku mengerti.”

     Hanya itu yang dia ucapkan sebelum melangkah cepat kembali ke ruang tunggu.

     Yumechin bergegas menyusulnya... dan setelah sosok mereka menghilang dari pandangan, aku kembali melangkah menuju ruang sains.

     Murakami-kun tampak merasa sangat bersalah setelah mengetahui persoalanku, tapi tidak ada alasan baginya untuk merasa terbebani. Justru sebaliknya, aku malah merasa bangga karena Yuu sanggup mengakali seseorang sehebat Murakami-kun.

     (Begini sudah benar)

     Sambil mengingat kembali ekspresi wajah Yuu tadi, aku menggigit bibirku kuat-kuat.

     (Jadi Yuu, seharusnya kamu terlihat lebih senang sedikit...)

     Kenapa?

     Bukankah Yuu ingin menang?

     Bukankah dia ingin mendapatkan investasi dari Kureha-san agar bisa menimba banyak pengalaman di universitas?

     Demi hal itu, dia sudah belajar mati-matian untuk ujian masuk, menyiapkan aksesori, bahkan memikirkan strategi untuk mengecoh Murakami-kun... dan sekarang, semuanya berjalan dengan sangat lancar.

     Lalu, kenapa dia harus memasang wajah penuh rasa bersalah seperti itu?

     Rasanya sungguh menyesakkan, tapi... sekarang bukan saat yang tepat.

     Sampai pertarungan ini berakhir, aku harus tetap menjadi gadis yang ceria.

     Jika tidak, bukan hanya Yuu, tapi Yumechin dan Murakami-kun pun akan merasa terbebani. Aku cukup hidup seperti biasanya saja, sebagai gadis cantik liar yang santai. Lagi pula, kalaupun aku tidak lulus ujian masuk ini, aku masih punya jalur cadangan dengan menumpang hidup pada Onii-chan.

     Aku pun membuka pintu ruang sains dengan penuh semangat.

     "Mohon bantuannya, ya!"

     Di dalam ruang sains yang sudah familier itu, kain hitam terpasang di keempat sisi ruangan—berbeda dari biasanya. Seperti pada dua pemotretan sebelumnya, Tadano-san yang bertugas sebagai fotografer dan Yaguchi-san sebagai penata rias sudah menunggu di sana.

     Di depan area yang disekat khusus untuk pemotretan, terdapat sebuah meja rias kecil. Yaguchi-san melambaikan tangan dengan senyum penuh arti yang tersungging di wajahnya.

     “Ya—! Kalau begitu, mari kita mulai riasan terakhirnya~”

     Di depan cermin, riasanku dipoles dengan cekatan.

     Meski begitu, sebenarnya hanya perbaikan kecil di sana-sini. Sambil menggerakkan tangannya dengan terampil, Yaguchi-san melontarkan pertanyaan dengan nada santai.

     “Himari-chan. Apa kali ini kira-kira kalian bisa menang~?”

     “…………”

     Rasanya dadaku sedikit sesak untuk sesaat... namun aku segera menahannya sekuat tenaga.

     Kemudian, dengan senyum andalanku yang paling menawan, aku menatap Yaguchi-san melalui pantulan cermin.

     “Iih~ Yaguchi-san, kamu sebenarnya sudah tahu, kan~? Kali ini strategi Yuu dan yang lainnya berhasil telak, kami benar-benar sudah tidak punya kartu as lagi, tahu~”

     “Begitu ya~ Yah, memang benar kalau Yume-chan tadi kelihatan sangat bersemangat juga, sih~”

     ​"Iya, kan~?" jawabku sambil tertawa, berusaha melanjutkan obrolan dengan nada sewajarnya.

     "Yaguchi-san, jangan menanyakan hal yang aneh-aneh, dong~"

     "Kufufu. Maaf ya~ Habisnya, selama menjalani pekerjaan ini, aku bertemu dengan banyak model, tahu? Karena itulah, aku jadi bertanya-tanya... kenapa Himari-chan harus berbohong~?"

     Jantungku berdegup kencang mendengar kata-katanya.

     Yaguchi-san berpura-pura tidak menyadari reaksiku sambil mulai merapikan peralatan riasnya.

     "Soalnya bagiku, Himari-chan tidak terlihat seperti orang yang sudah menyerah dan menganggap situasi ini wajar-wajar saja~"

     "…………"

     Seolah terdorong oleh tangan yang diletakkan dengan lembut di bahuku, aku menatap tajam ke arah cermin di depanku.

     —Kenapa aku terus-terusan memasang senyum bodoh seperti ini?

     Padahal Yuu sudah berjuang mati-matian selama setahun ini.

     Dia belajar mati-matian untuk ujian, membuat aksesori, dan memeras otak demi memenangkan ujian masuk ini.

     Lalu, bagaimana dengan aku?

     Apa aku tidak berjuang?

     Aku pun sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi kenapa aku menyerah begitu saja tanpa ragu?

     Bukankah saat liburan musim panas lalu, aku merasa sangat kesal?

     Saat itu, Gou-san yang mengambil foto menatapku dengan tatapan dingin, pekerjaanku direbut oleh Yumechin, dan aku hampir saja dicap tidak punya harapan oleh Kureha-san....

     Meski begitu, kenapa sekarang aku malah bertingkah konyol lagi?

     Padahal aku benar-benar menangis saat itu.

     Aku benar-benar merasa sakit hati.

     Namun, ternyata tidak ada yang berubah sedikit pun dariku.

     Kalau begini terus, aku tidak akan pernah berubah.

     Apa aku akan menjalani hidup ini sebagai pecundang selamanya?

     Saat pikiran itu melintas, bayanganku di cermin tampak layu dan hancur.

     Yaguchi-san membuka kembali kantong peralatan rias yang sempat dia rapikan, lalu memasukkan tangannya perlahan ke dalam.

     "Kamu tahu kenapa aku bekerja di studio Gou-san~?"

     Ketika aku menggeleng, dia menatapku dalam-dalam melalui pantulan cermin.

     "Aku juga sama~ Aku ini sejenis dengan Gou-san~"

     "……?"

     Sejenis?

     Apa maksudnya? Kalau dipikir-pikir, saat pekerjaan liburan musim panas lalu, Kureha-san sempat mengatakan sesuatu tentang Gou-san di dalam taksi saat perjalanan pulang. Apa ya? Aku tidak ingat jelas, tapi....

     Selagi aku tenggelam dalam lamunan, Yaguchi-san mengeluarkan sebatang stick blush dari dalam kantong riasnya. Gerakan tangannya itu pun terasa tidak asing bagiku.

     "Aku akan mengubah sedikit riasannya, ya~"

     Dia membubuhkan sedikit rona merah tipis di area sekitar mataku.

     Hanya itu.

     Hanya itu saja yang dia lakukan.

     Namun tiba-tiba, aku dan sosok diriku di dalam cermin saling menatap tajam satu sama lain.

     "............"

     Aku bangkit berdiri perlahan, lalu melangkah ke area pemotretan yang dikelilingi kain hitam.

     Hanya ada dua jenis bunga yang diserahkan oleh Murakami-kun kepadaku.

     Satu tangkai bougainvillea yang besar, dan sebuah mahkota bunga narcissus yang mungil.

     Aku mengenakan mahkota bunga narsis di kepala, lalu menaruh bunga bougainvillea di depan bibir.

     Lihatlah, sesosok gadis paling jelita telah tercipta. Level kecantikan dewi yang sanggup membuat siapa pun terpana. Begitu foto diambil, maka seluruh pekerjaan hari ini selesai.

     Yah, walau aku akan kalah, sih.

     Aku tahu hal itu. Penampilanku sekarang tak akan bisa menandingi Yumechin yang tadi. Terlebih lagi, dia punya bakat akting alami yang bahkan diakui oleh Kureha-san. Ya, ya, selesai sudah. Rasanya ingin segera mengucap, "Terima kasih atas kerja kerasnya~".

     Kemudian, Tadano-san menyiapkan kameranya.

     Aku pun mengambil pose yang telah direncanakan sebelumnya.

     Judul foto ketiga ini adalah 'Anak Masa Depan'.

     Setelah menerima berkat dari gadis surgawi dan kemakmuran yang dibawa oleh gadis bumi, dunia pun dipercayakan kepada kehidupan yang baru.

     Aku meresapi peran sebagai keturunan dari dunia baru tersebut, lalu bersiap mencium bunga itu seolah tengah mengasihinya dengan tulus.

     ……Seharusnya begitu.

     Aku menatap lekat-lekat setangkai bunga itu.

     Tadano-san yang sudah menyiagakan kameranya, memiringkan kepala dengan penuh keheranan.

     “……Himari-san?”

     Aku tetap bergeming, terus menatap bunga itu.

     Saling berbagi berkat.

     Saling berbagi bunga yang tersisa sedikit.

     Lalu, saling berbagi masa depan.

     Apakah kebahagiaanku benar-benar ada di ujung jalan itu?

     Tanpa sempat bertarung, di dalam masa depan yang kuberikan begitu saja kepada orang lain, mampukah aku tetap tertawa?

     ──Aku tidak ingin ini direbut.

     Aku tahu ini egois.

     Aku tahu seharusnya Yuu-lah yang menang.

     Namun tetap saja──keinginanku saat itu untuk menjadi "seseorang", benar-benar bukan sekadar dorongan impulsif yang dangkal.

     Aku mengagumi mata Yuu yang berkilau sewarna pelangi.

     Aku hanyalah orang biasa yang cuma modal serbabisa, aku masih berlari jauh di belakang, dan aku bahkan tidak tahu apakah jalan menjadi model ini adalah pilihan yang benar.

     Tentu saja, aku tetap ingin menjadi "seseorang".

     Punya bakat atau tidak, itu tak ada hubungannya.

     Benar atau tidaknya jalan ini pun, bukan masalah.

     Sebab, akulah yang akan menjadikan jalan ini benar.

     Akulah yang akan menjadikan masa depan ini sebagai sesuatu yang tepat.

     Jika aku menginginkan masa depan itu, maka aku harus terus meronta meski dalam kondisiku yang serba kurang ini.

     Tubuhku bergerak dengan sendirinya.

     Aku bisa merasakan semua orang yang ada di sana menahan napas melihat apa yang kulakukan.

     ──Suara rana terakhir itu, rasanya akan terus terngiang di telingaku untuk selamanya.

♣♣♣

     Tiga jam kemudian.

     Di luar jendela, matahari sudah benar-benar condong ke barat.

     Kami sedang menunggu hasil foto di ruang serbaguna, tempat penilaian terakhir akan dilakukan.

     ……Tetap saja, aku merasa tegang. Meskipun Tenma-kun mencoba mencairkan suasana dengan mengobrol santai bersama yang lain, kata-katanya tidak benar-benar sampai ke telingaku.

     Murakami-kun melangkah masuk.

     Begitu melihatku, dia menundukkan kepalanya perlahan.

     "Natsume-san. Terima kasih untuk hari ini. Berkatmu, aku menyadari bahwa aku masih belum ada apa-apanya. Aku akan terus mengasah diri setelah ini."

     "Ah, tidak. Aku juga..."

     Padahal masih ada penilaian terakhir... pikirku, namun percakapan dengan Murakami-kun berakhir di sana. Seperti biasa, dia terlalu kaku dalam hal-hal seperti ini.

     (Ngomong-ngomong, di mana Himari...?)

     Sosoknya sedari tadi tidak terlihat.

     "Murakami-kun. Di mana Himari?"

     "Eh? Ah, Inuzuka-san tadi..."

     Tepat saat dia hendak menjawab.

     Kureha-san melangkah masuk ke dalam ruangan.

     Di belakangnya, Tadano-san dan Yaguchi-san datang menyusul sambil membawa dua buah foto yang tertutup kain penutup.

     "Hai—! Kalau begitu, mari kita mulai penilaian terakhirnya~☆"

     Kedua foto tersebut diletakkan di atas dua buah penyangga lukisan.

     Kami pun menghentikan percakapan dan mengalihkan pandangan ke sana.

     "Untuk babak terakhir, keduanya adalah karya foto yang simpel~ Oke, akan kita buka dalam hitungan ketiga, ya~☆"

     Begitu dia berucap, Kureha-san bertepuk tangan dengan nyaring.

     Tadano-san dan Yaguchi-san menyingkap kain penutupnya perlahan.

     Tampaklah sosok sang santa dengan mahkota besar bunga kubis hias yang berwarna lembut di kepalanya, sementara seluruh tubuhnya terselubung oleh hamparan bunga.

     Judul foto ketiga milik kami adalah ‘Kasih yang Agung’.

     Dalam mengekspresikan tema ‘Manusia’, aku memilih ‘Kasih’ sebagai tajuk utamanya.

     Makna dari bunga kubis hias adalah—‘Pemberkatan’ dan ‘Dekapan Kasih’.

     Kirishima-san memancarkan tatapan penuh kasih sayang, seolah dia adalah perwujudan dari makna bunga tersebut.

     Lalu, bunga-bunga di sekelilingnya tampak bermekaran dengan indahnya, tumbuh subur berkat limpahan kasih itu.

     Sebuah karya yang menyiratkan kemungkinan tak terbatas yang lahir dari satu bentuk kasih sayang.

     Sebuah kenangan tentang taman miniatur yang dulu pernah menjadi obsesi kami.

     Kenangan itulah yang telah membawaku sampai ke titik ini.

     Dan hari ini, aku akan melangkah meninggalkan taman miniatur tersebut.

     Karya ini menunjukkan penerimaanku terhadap masa lalu sekaligus harapan untuk masa depan.

     Aku merasa percaya diri.

     Tanpa ragu, aku telah mencurahkan seluruh kemampuan terbaikku ke dalam foto ini untuk menciptakan bunga-bunga terindah yang bisa kubuat saat ini.

     Dan keindahan itu seolah bernapas dengan kuat di dalam foto yang telah dicetak tersebut.

     Tidak apa-apa.

     Aku bisa menang.

     Aku mengepalkan tinjuku kuat-kuat.

     Bersamaan dengan keyakinan yang membuncah, aku perlahan mengalihkan pandangan ke arah Tenma-kun dan jajaran juri lainnya di kursi penilaian.

     ​──Tenma-kun dan yang lainnya sama sekali tidak melihat ke arah bungaku.

     Serta-merta, aku mengikuti arah pandangan mereka.

     Tatapan mereka tertuju pada karya yang berada tepat di samping foto milikku.

     Karya milik Himari dan Murakami-kun.

     (Ini....)

     Mataku membelalak lebar.

     ──Sebuah foto yang menampilkan seorang gadis jelita dengan mahkota bunga narsis di kepalanya, tengah mengoyak dan mengunyah bunga bougainvillea di mulutnya.

     Kekuatan yang terpancar dari foto itu membuatku tanpa sadar menahan napas.

     Sama sekali tidak terlihat sedikit pun aura kemolekan serupa peri yang biasanya menjadi daya tarik utama Himari.

     Sebaliknya, barisan giginya yang tajam terlihat mengintip, seolah menunjukkan insting bertarung yang terlepas liar tanpa penutup.

     Sepasang mata biru laut itu memancarkan kilauan yang begitu intens, hampir menyerupai amarah yang liar.

     Judul karya milik Himari dan yang lainnya—bukan, judul karya Himari—adalah 'Seleksi Alam'.

     Sebuah foto yang menguliti esensi 'Manusia' hingga ke akarnya, mengekspresikan emosi yang mengamuk hebat bak kobaran api.

     Berkat yang diturunkan dari gadis surgawi telah memenuhi bumi....

     Namun, yang menanti di sana bukanlah ketenangan abadi, melainkan kompetisi untuk bertahan hidup yang begitu kejam.

     Hukum alam yang menetapkan bahwa bunga yang lemah akan musnah, dan hanya bunga yang kuatlah yang berhak bertahan.

     Melihat sosoknya yang menginjak-injak bunga itu... perasaan yang membuncah di dalam dadaku sama sekali bukan rasa muak.

     Selagi aku terpaku, Akinashi-san yang duduk di kursi juri mengangkat tangannya dengan ragu-ragu.

     "Aku... pilih milik Himari-san..."

     Ucapnya sembari menyunggingkan senyum lebar yang khas.

     ​"Rasanya foto ini... seperti sedang melihat Nagisa-san... aku suka... hehe...."

     ...Memang benar.

     Rona merah di sekitar mata membuat binar matanya semakin menonjol. Ini adalah potret yang sanggup menyampaikan suhu tubuh hingga deru napas sang model bahkan melalui selembar foto. Hal ini mirip dengan akting Yonekawa Nagisa yang mampu menyampaikan aroma melalui layar kaca.

     Menyusul setelahnya, Sanae-san angkat bicara.

     "Aku memberikan satu suara untuk Natsume-kun."

     Dia menatap kedua foto tersebut secara bergantian, lalu menyatakan alasannya dengan tegas.

     "Memang benar karya Himari-san jauh lebih memikat mata, namun kriteria penilaian kali ini adalah 'karya yang diciptakan melalui kesatuan antara kreator dan model'. Jika dipikirkan berdasarkan kriteria tersebut, ego sang model terlalu kuat dalam foto ini. Dari segi kepatuhan terhadap aturan, menurutku karya Natsume-kun jauh lebih unggul."

     Tatapan matanya kini beralih kepada Tenma-kun yang duduk di sebelahnya.

     "Nah, Tenma-kun. Bagaimana menurutmu?"

     Mendapat desakan itu, Tenma-kun menjawab dengan ekspresi yang tampak getir.

     ​"……Sanae-san. Apa kamu bermaksud menggunakan kesempatan ini untuk mengujiku juga?"

     "Fufu. Entahlah, aku tidak tahu apa maksudmu."

     Tenma-kun menghela napas panjang.

     Dia bangkit dari kursinya perlahan, lalu melangkah ke hadapan kedua foto tersebut.

     ……Untuk waktu yang cukup lama, Tenma-kun tenggelam dalam pemikiran yang dalam.

     Aku bisa merasakan apa yang dia rasakan, seolah-olah itu adalah perasaanku sendiri.

     Jika aku berada di posisinya, pasti aku akan memikirkan hal yang sama.

     Apakah tidak ada sesuatu?

     Tidakkah ada alasan kuat untuk membalikkan keadaan?

     Jika dia meneliti setiap sudutnya, mungkin saja ia akan menemukan sesuatu.

     Karya foto ini terasa kasar, seolah-olah emosi sang model meluap begitu saja tanpa kendali.

     Tentu ada banyak celah untuk melontarkan kritik sesuka hati.

     ……Namun, apakah keputusan seperti itu bisa diterima oleh akal sehat?

     Dapatkah dia membanggakan pilihan itu kepada dirinya sendiri di masa depan nanti?

     Jawabannya sudah sangat jelas.

     Sebab jika aku berada di posisinya pun, aku pasti akan mengambil keputusan yang sama.

     Tenma-kun bergumam pelan.

     "……Sepertinya memang tidak bisa, ya."

     Saat dia berbalik, dia mengangkat bahu seolah mengakui kekalahannya.

     Aku pun membalasnya dengan senyum getir, berusaha menyampaikan lewat tatapan mata bahwa dia tak perlu merasa bersalah.

     Benar.

     Aku benar-benar menyerah.

     Namun, kenapa harus sekarang?

     Padahal sedikit lagi, masa depan itu seharusnya sudah berada dalam jangkauanku.

     Jika diingat kembali, sejak duduk di bangku SD, aku telah terpesona oleh keindahan bunga. Aku terus mengejarnya meski harus mengorbankan hal-hal lainnya.

     Lalu aku bertemu Himari, duniaku pun meluas.... Memang benar ada banyak kenangan pahit, tetapi aku yakin telah melangkah maju perlahan-lahan.

     Seharusnya, ini menjadi momen di mana segala perjuanganku terbayar lunas.

     (……Tetapi sebenarnya, aku sudah lama menantikan hal ini)

     Selama ini, dia selalu berkata bahwa semua yang dilakukannya adalah demi aku. Dia tampak seolah-olah terus membunuh perasaannya sendiri.

     Hal itu membuatku merasa bersalah, meninggalkan rasa sesak yang terus menghantuiku.

     Bahkan mengenai ujian masuk kali ini pun, di mataku dia tampak sangat memaksakan diri.

     Dia sudah berjuang mati-matian saat liburan musim panas, lalu menangis tersedu-sedu karena kalah, bukan?

     Lalu, bagaimana mungkin dia bisa menerima begitu saja keputusan untuk membuang masa depannya dengan alasan semudah "demi aku"?

     Mustahil itu benar. Mana mungkin aku tidak menyadari hal tersebut.

     Namun, akhirnya Himari menunjukkan jawabannya kepadaku.

     Segala perasaan yang selama ini mengganjal di dalam dadaku... rasanya lenyap seketika, tertelan oleh arus emosi yang meluap begitu hebatnya.

     Begini saja sudah cukup.

     Aku mengepalkan tinjuku kuat-kuat, dengan perasaan yang berbeda dari sebelumnya.

     Kini kami tidak perlu lagi saling membelenggu satu sama lain.

     Sekarang, kami bisa melangkah di jalan masing-masing.

     Kami yang dulu menganggap bahwa persahabatan hanyalah tentang terus bersama, kini sudah tidak ada lagi di sini.

     Dengan begini, kami akhirnya bisa menjalin ikatan yang sesungguhnya.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close