Chapter 5
Jalan Penjelajah yang Akan Segera Dimulai
"Halo
semuanya, sudah lama tidak berjumpa! Kembali lagi di siaran langsung
penjelajahan dungeon bersama Haruka, si petualang pemula yang agak
ceroboh. Iya, ini beneran sudah lama banget, ya. Aku sempat cedera parah dan
merepotkan banyak orang, mulai dari kalian para pendengar sampai pihak Asosiasi
juga. Tapi sekarang, aku mau kembali ke titik awal dan berjuang lagi. Ou!
Haruka sudah semangat membara, jadi mohon bantuannya, ya!"
Di dalam gua yang
remang-remang, Haruka menyalakan ponsel barunya dan mulai menyapa penonton
dengan senyum ceria.
: Oh, Haru-chin
sudah bangkit kembali!
: Sudah
kutunggu-tunggu!
:
Syukurlah~
: Ooo, prok
prok prok!
: Kami
semua khawatir tahu.
"Aduh,
maaf banget ya sudah bikin khawatir. Ah, kejadian kemarin itu benar-benar pengalaman antara hidup dan mati, ya?
Tapi biarpun begini, nilai Luck aku itu tinggi lho. Ehehe."
: Semangat!
: Jangan
dipaksakan ya.
: Keberuntungan
itu juga bagian dari kemampuan.
"Keberuntungan
itu memang penting ya. Terima kasih! Oke kalau begitu, mari kita mulai siaran
penjelajahan dungeon-nya. Kali ini, aku ingin menantang ujian kenaikan
peringkat petualang!"
: Ooh!
: Akhirnya, ya.
: Semangat!
"Tehehee.
Um, bagi kalian para pendengar setia siaran labirin pasti sudah tahu kalau
peringkatku di Asosiasi masih yang paling bawah, yaitu Rank E. Untuk naik ke
Rank D, setidaknya aku harus mengalahkan lima monster Rank D secara solo.
Sekarang aku
berada di lantai tiga dari atas. Monster Rank D yang biasa muncul di sekitar
sini adalah Horn Bat, Mud Slime, dan Snake Cancer.
Umu-mumu,
semuanya lawan yang tidak boleh diremehkan. Sejujurnya cukup berat untuk
mengalahkan mereka sendirian, tapi kali ini aku akan berusaha semampuku, jadi
mohon dukungannya!"
: Hajar saja!
: Jangan paksakan
diri, ya!
: Utamakan nyawa!
: Lakukan yang
terbaik sebisa mungkin!
"Benar.
Utamakan nyawa. Aku mengerti kok. Tapi, aku juga bisa serius kalau keadaan
menuntut. Nah, kali ini aku sudah menyiapkan perlengkapan dengan lebih teliti
dari biasanya. Karena masih dekat dengan pintu masuk, aku cek dulu ya apakah
ada barang yang tertinggal. Haruka berencana untuk bertahan setidaknya tiga
hari kali ini."
Haruka menata
barang-barang yang dikeluarkan dari tas ranselnya di atas tanah untuk
mengeceknya kembali. Meski sudah dikurangi sampai batas minimal, karena solo
dan tidak ada teman untuk berbagi beban, jumlahnya tetap lumayan banyak.
"Dan ini isi
tas ranselku. Jajaaan! Akan kuperkenalkan. Pertama, makanan darurat. Aku sudah
menyiapkan cadangan untuk dua belas porsi supaya aman. Isinya terutama roti.
Aku suka nasi, tapi nasi itu berat.
Lalu telur, ini
sangat membantu karena bisa tahan cukup lama di suhu ruangan!
Ah, lalu makanan
kaleng, ini ternyata lumayan berat, tapi aku tetap butuh kalorinya.
Meski beratnya
menyiksa, aku ini kan punya job Warrior, jadi soal itu akan kututupi
dengan tekad!"
Haruka menumpuk
roti dan makanan kaleng agar terlihat jelas oleh para penonton.
: Wah,
kelihatannya berat banget.
: Jadi petualang
itu keras ya.
: Aku jadi kagum.
"Terima
kasih! Lalu, air. Ini yang paling penting. Di lokasi penjelajahan kali ini ada
sekitar tiga titik sumber air, tapi belum tentu bisa digunakan. Jadi untuk
sementara aku bawa dua puluh liter. Ini saja sudah dua puluh kilo! Ahahaha.
Tapi air kan bakal berkurang kalau diminum. Wadahnya pakai ini! Tipe botol
lunak polietilen. Kalau sudah kosong bisa dilipat jadi ringkas."
Botol
lunak tersebut terbuat dari plastik tebal yang bisa dilipat dan disimpan dengan
praktis di dalam ransel setelah airnya habis.
"Um,
botol plastik biasa juga berguna sih, tapi... ehem. Biarpun kehilangan makanan,
selama ada air kita masih bisa bertahan selama seminggu. Lalu, kantong tidur. Ini buatan Patagonian yang
kalian semua tahu bisa tahan sampai suhu minus tiga puluh derajat. Bagus, kan?
Barang-barang
petualang bisa pakai perlengkapan naik gunung, jadi banyak yang bisa ditemukan
di toko peralatan outdoor.
Mahasiswa miskin
sepertiku sangat terbantu. Perlengkapan spesialis petualang itu kuat tapi
harganya mahal sekali. Guru juga bilang untuk lantai atas pakai ini saja sudah
cukup. Yap."
Karena tidak
mungkin bergerak tanpa tidur, istirahat adalah faktor yang krusial. Meski suhu
di dalam dungeon tidak sampai minus, ada beberapa area yang suhunya bisa
turun drastis, jadi pilihan Haruka ini sudah mendapat nilai lulus.
"Lalu,
perlengkapan kebersihan. Ada perban, disinfektan, obat gigitan serangga, salep,
dan tentu saja Potion! Potion itu penting sekali. Kali ini aku
beli lima buah. Yatta! Aku sudah berusaha keras! Ini namanya sedia payung
sebelum hujan. Terus, terus... camilan! Sesuatu yang manis sebagai hadiah
penjelajahan. Makan yang manis-manis bikin otak jadi segar kembali. Aku mau
masuk dengan perasaan segar. Oh iya, penjelajahan kali ini juga disiarkan, tapi
fokus utamanya adalah pertempuran, jadi kemungkinan siarannya bakal
terputus-putus, aku beri tahu dulu ya di awal."
: Tidak apa-apa,
kok.
: Fokus saja ke
ujian kenaikan Rank D!
: Kami akan
mengawasimu~
"Iya, terima
kasih dukungannya. Lalu, kali ini ada 'Burung Hantu Dungeon' dari Asosiasi
Petualang yang diam-diam mengikuti di belakang sebagai saksi sekaligus penguji.
Aku percaya dia akan memberi nilai yang adil. Tapi kalau diberi bonus sedikit,
aku senang sih. Baiklah, mari kita coba ujian kenaikan Rank D!"
Haruka menjilat
bibirnya yang kering dengan lidah, lalu menyimpan ponselnya ke dalam saku dada.
Itu kebiasaan yang kurang baik. Ibu angkatnya, Ichihime, sering
mengingatkannya, tapi pada akhirnya dia tidak bisa menghilangkannya.
Jika rasa
gugupnya mencapai puncak, dia akan melakukannya secara alami. Dia tahu itu
kurang sopan, tapi tidak bisa berhenti.
Kali ini dia
tidak menggunakan tongkat swafoto untuk siarannya. Biasanya ada Kyoka dan Rion
yang membantu, tapi khusus kali ini, seekor familiar Asosiasi berbentuk
Burung Hantu Dungeon mengawasi setiap gerak-gerik Haruka dari belakang dengan
tenang.
Membawa anggota party
saat ujian kenaikan peringkat sebenarnya bukan pelanggaran aturan, tapi kali
ini Haruka bersikeras membujuk kedua temannya yang khawatir agar dia bisa pergi
sendirian.
Asal-usul
Haruka memang spesial. Ibu kandungnya adalah Rinka, sang Sage dari party
pahlawan, dan ibu angkatnya adalah Ichihime Genma. Memiliki dua ibu yang hebat
ini, Haruka justru dianugerahi job Warrior, seorang petarung yang secara
atribut tidak punya hubungan dengan sihir. Karena itulah dia sering dipandang
sebelah mata dan dianggap hanya mengandalkan nama besar orang tuanya. Untuk
ujian kali ini, dia ingin menghadapinya sendirian.
Standar
kelulusan ujian ini adalah mengalahkan lima monster Rank D. Ini cara yang
paling cepat.
Sebenarnya,
kenaikan peringkat bisa dicapai jika sekelompok orang meraih prestasi tertentu
di dalam dungeon, namun Haruka memilih jalur pertempuran solo yang
paling jelas menunjukkan kemampuan individu.
Alasannya sudah
pasti. Ada janji dengan Ryuto. Biarpun dibilang egois, dia ingin memenuhi janji
itu dengan kekuatannya sendiri.
Jika tidak,
impiannya untuk mencari ibunya yang hilang di suatu tempat di dalam labirin
bawah tanah ini akan berakhir hanya sebagai mimpi belaka.
Semakin dia masuk
ke dalam, aroma khas labirin semakin menyengat. Kegelapan pekat yang menolak
segala cahaya menghalangi jalan Haruka.
Dia menyalakan
lampu yang terpasang di kalung lehernya. Cahaya seribu lumen membelah
kegelapan. Seketika, ruang dengan tonjolan dinding yang kasar—pemandangan yang
sudah biasa di labirin—terbentang di depannya. Dia mengeluarkan ponsel dari
saku dada dan membaca komentar.
"Yap. Masih dungeon yang seperti biasanya,
ya."
: Seperti
biasanya katanya...
: Haru-chin,
santai saja!
: Jangan
lengah ya.
"Siap,
aku tidak akan lengah. Sepertinya setelah ini waktu yang membosankan bakal
berlanjut agak lama, jadi bagi kalian yang ada urusan, silakan diselesaikan
dulu ya."
Sambil
melontarkan gurauan, Haruka sebenarnya gemetar karena semangat.
Ingatan
saat dikejar-kejar Minotaur tempo hari masih sangat segar.
Namun anehnya,
dia sama sekali tidak berpikir untuk melarikan diri dari sini.
Ada sedikit rasa
tegang, tapi pandangannya tetap jernih.
Biasanya dia
butuh waktu cukup lama untuk terbiasa dengan suasana dungeon, tapi kali
ini dia tetap tenang meskipun sendirian. Dia bahkan bisa melihat jelas tonjolan
batu dan cekungan kecil di sudut-sudut labirin bawah tanah tersebut.
Meski kakinya
menapak di tanah, rasanya ada sosok dirinya yang lain yang sedang mengawasi
dari tempat tinggi. Bukan karena lengah, bukan pula karena terlalu tegang,
rasanya benar-benar pas.
"Datang
juga."
Tak lama
kemudian, "itu" muncul.
Haruka mencabut
belati dari pinggangnya dengan gesit lalu bersiap.
Yang muncul di hadapannya adalah monster bernama Snake
Cancer.
Itu
adalah monster kepiting raksasa sebesar anak sapi.
Kepiting
yang tersorot lampu Haruka itu terlihat aneh dan sangat menyedihkan.
Sesuai
dengan nama "Snake", di bagian perut bawah kepiting monster ini
tumbuh ekor yang memiliki kepala ular.
: Muncul!
: Itu Snake Cancer!
: Apalagi ada dua ekor!
: Hati-hati Haru-chin!
Permukaan Snake Cancer berwarna abu-abu kusam dengan
tonjolan-tonjolan aneh yang tak terhitung jumlahnya. Melihat kepiting monster
ini, Haruka teringat dengan prakarya yang pernah dia buat saat jam kesenian di
SD dulu.
Kalau tidak salah, itu adalah koran yang direndam air sampai
lunak untuk diubah bentuknya, lalu ditempeli tanah liat putih di atasnya.
Dia lupa apa yang
dia buat saat itu. Pasti sesuatu yang tidak penting sampai-sampai tidak
membekas di ingatan.
Lagipula, Haruka
memang lemah dalam bidang menggambar atau seni rupa.
Selain
belajar, dia hanya unggul di bidang olahraga dan musik.
Secara refleks
dia memasukkan kembali ponselnya ke saku dada.
Mulai sekarang
tidak ada waktu untuk bersantai menatap layar.
Snake
Cancer tersebut mendekat perlahan sambil mengeluarkan suara erangan seperti
orang mabuk. Seolah sedang mengancam, sesekali ekor kepala ularnya dijulurkan
ke depan dan ditarik kembali.
Saat ekor
ular Snake Cancer menggores tanah dan menimbulkan suara aneh, Haruka merasa
perasaannya menjadi sangat datar.
Dulu, dia pasti
akan merasa takut menghadapi monster selevel ini, tapi entah kenapa sekarang
dia tidak merasakan apa-apa. Apakah mentalnya menjadi lebih kuat setelah hampir
terbunuh oleh Minotaur?
Haruka memang
belum menguasai job Warrior sepenuhnya, namun dia sudah mempelajari
beberapa Skill.
Atas bimbingan
Sage Agung Sirius, para petualang yang mendapatkan kekuatan manusia super bisa
mengeluarkan tenaga yang tidak mungkin ada di permukaan bumi saat berada di
bawah tanah.
Dia berhadapan
dengan kepiting di lorong sempit selebar lima meter. Snake Cancer memiliki
kelemahan fatal, yaitu mereka harus berbalik miring dulu jika ingin bergerak.
——Yang harus
diwaspadai adalah capit dan ekor itu.
Haruka
merendahkan tubuhnya, lalu berlari menerjang sambil menjulurkan belatinya.
Dia mengaktifkan Skill
kelas Warrior, Sweep.
Untuk menghadang
Haruka yang menyerang lurus, Snake Cancer melepaskan ekor terpanjangnya
terlebih dahulu. Ekor tersebut memiliki kepala ular, dan taring berbisanya
berkilat tajam.
Taring ular itu
memang tidak cukup kuat untuk membunuh manusia dalam sekali gigit, tapi
mengandung racun hemoragik. Jika paha tergigit, dia akan sangat menderita dan
sulit untuk melarikan diri. Kemungkinan besar kematian menantinya.
Haruka menebas
kepala ular yang menjulur itu dengan gerakan yang sangat tenang, bahkan bagi
dirinya sendiri. Dan itu dilakukan dua kali.
Snake Cancer yang
kebingungan langsung menghantamkan capit raksasanya.
Namun, serangan
itu terlalu lamban.
Haruka
memiringkan tubuhnya sedikit dan menghindari serangan capit tersebut.
Tanpa membuang
waktu, dia menebas Snake Cancer tepat dari depan.
Meski ada
cangkang kitin yang keras, tebasan Haruka jauh lebih unggul.
Bilah senjatanya
membentuk setengah lingkaran di udara.
Snake
Cancer itu terbelah tepat dari depan, mengeluarkan busa, dan mati seketika.
Skill Warrior bernama Heavy Strike telah
aktif.
Masih ada satu
lagi yang tersisa.
Snake Cancer yang
kedua memiringkan tubuhnya dan mendekati Haruka dengan gerakan jalan kepiting.
Serangan capit datang. Capit kiri. Capit itu sangat besar.
Kabarnya beratnya sekitar sepuluh kilogram.
Panjang bilah pedang pendek Haruka sekitar empat puluh
sentimeter. Jika menerima serangan itu mentah-mentah, senjatanya bisa hancur. Maka, satu-satunya pilihan yang tersisa
adalah menghindar.
Dia memiringkan
tubuh dan menghindari hantaman capit. Dia sedang dalam kondisi prima. Padahal ini
situasi yang genting, tapi entah karena endorfin yang mengalir di otaknya, dia
merasa ini sangat menyenangkan.
"Hah!"
Sambil
merelakan beberapa helai poni rambutnya terkena sapuan serangan Snake Cancer,
Haruka kembali mengaktifkan Skill tebasan Sweep. Pedang
pendeknya berdenging aneh saat membelah tubuh Snake Cancer secara diagonal.
Pertempuran
itu berlangsung singkat, namun napasnya terasa sesak. Perasaannya sedang
melambung tinggi.
Snake
Cancer sudah pasti monster Rank D.
Dulu,
saat bekerja sama dengan Kyoka dan Rion untuk mengalahkan Blood Skeleton Rank
D, dia benar-benar babak belur setelah pertempuran. Meski tidak ada luka dalam,
dia tidak bisa bergerak dari tempatnya selama satu jam.
Tapi
Haruka yang sekarang, meskipun napasnya sedikit terengah, masih punya banyak
sisa tenaga. Dia teringat kata-kata gurunya di sekolah petualang. Bahwa waktu
"Kebangkitan" sejati bagi seorang petualang itu berbeda-beda bagi
setiap individu, namun pasti akan mendatangi siapa pun.
"Ya,
berhasil...!"
Dia merasa sangat
senang. Burung Hantu Dungeon yang menjadi penguji dari Asosiasi terbang di
tempat yang agak jauh sambil mengeluarkan suara kicauan pendek.
Tinggal tiga ekor
lagi. Jika dia bisa mengalahkan sebanyak itu, dia bisa dengan bangga melapor
kepada Ryuto, Kyoka, dan juga ibu angkatnya, Ichihime, bahwa dia telah naik ke
Rank D.
Ayo, datanglah. Datanglah apa saja. Haruka mengusap keringat
di lehernya dengan telapak tangan lalu mengembuskan napas panjang.
Setelah itu dia menurunkan ransel yang digendongnya,
mengambil botol air, dan meminumnya dengan rakus. Dia minum banyak sekali. Air
yang tumpah mengalir dari dadanya hingga membasahi sela-sela payudaranya.
Merasa segar kembali, dia menyiram pedang pendeknya dengan
air dan mengusapnya dengan kain untuk menghilangkan cairan tubuh kepiting yang
menempel. Rasanya dia ingin menari waltz saking senangnya.
Haruka tiba di tempat yang agak terbuka, lalu menyandarkan
punggungnya di dinding batu dan memutuskan untuk menjadikannya tempat bermalam.
Setelah mengalahkan dua Snake Cancer tadi, dia sudah
berkeliling dengan teliti namun hanya bertemu dengan Slime Rank E atau Rubah
Tanah, dan hasil buruannya terhenti di sana.
"Yap, tapi bisa mengalahkan dua kepiting di hari
pertama saja sudah lebih dari cukup, kan?"
Dia mengeluarkan
kursi lipat sederhana dari ransel, merakitnya, lalu duduk dan mulai menyiapkan
makan malam. Dia menjatuhkan dua butir telur ke wajan aluminium di atas api
kompor portabel. Kemudian, di atas talenan tipis, dia memotong ham bulat cukup
tebal dan mencicipinya.
"Um,
enak."
: Oh, akhirnya
waktunya makan, ya.
: Makan saat
penjelajahan itu penting!
: Makan
yang banyak dan isi ulang energimu.
: Ini namanya teror makanan (food terror).
: Omong-omong, apa menunya?
"Um, karena hari ini capek, mungkin cuma sandwich
seadanya sama ramen? Ahahaha, maaf
ya menunya malas-malasan."
: Tidak apa-apa,
yang penting makan.
: Lagipula, baru
hari pertama sudah bisa mengalahkan dua monster Rank D, kan?
: Itu pencapaian
hebat, Haru-chin.
: Bukannya
kenaikan peringkat sudah di depan mata?
"Aha, kalau
benar begitu aku senang sekali. Untuk sementara, malam ini... eh sudah boleh
dibilang malam, kan? Yap, kalau jam di permukaan sekarang sudah jam sebelas
malam. Karena di dungeon tidak ada matahari, perasaan jadi kacau. Waktu
aktivitasku hari ini sudah lebih dari empat belas jam, jadi habis makan ini aku
mau istirahat. Ah, telur-pannya sudah matang belum ya. Eh, kalau dipikir-pikir
harusnya goreng hamnya dulu. Ahh, aku beneran capek ya ternyata. Yah, ham kan
bisa dimakan tanpa digoreng juga, jadi tidak apa-apa."
Haruka mengambil
roti gandum, memotongnya dengan pisau, menaruh ham yang sudah diiris tipis,
lalu meletakkan telur mata sapi di atasnya.
Cup Noodle yang sudah diseduh air panas dari ketel juga
sudah terlihat matang. Haruka memasang ponselnya di atas meja kecil, lalu
melahap sandwich ham telur mata sapi itu dengan mulut besar.
"Selamat
makan. Amu, nyam. Enak bangeet."
Telur mata sapi
yang ditaburi garam dan lada dengan pas, berpadu di dalam mulut dengan roti
gandum yang memiliki aroma dan rasa asam yang unik. Kuning telur setengah
matang meleleh di mulut, bercampur dengan gurihnya ham, meresap ke dalam
tubuhnya yang kelelahan. Sebagai pengganti sup, Haruka memegang Cup Noodle lalu
menyeruput kuahnya dengan suara zuzooo.
"Aaah,
karena capek, rasanya jadi jauh lebih enak dari biasanya."
Pertempuran
dengan monster, ditambah membawa ransel seberat lebih dari lima puluh kilo
sambil berkeliling selama setengah hari lebih, membuat tubuhnya yang kelelahan
sangat mendambakan garam.
Seorang petualang
menggunakan tenaga secara ekstrem saat beraksi, jadi konsumsi kalori dalam
sehari bukanlah jumlah yang main-main.
Terutama waktu
berjalan kakinya yang sangat lama. Karena membawa beban penuh berisi makanan
berharga, senjata, dan kebutuhan hidup, berat badan bisa turun sepuluh kilo
hanya dengan mendekam di dungeon selama sepuluh hari.
Apalagi ditambah
kelelahan fisik saat melawan monster, waktu yang bisa dihabiskan untuk beraksi
solo sangatlah terbatas. Setelah menghabiskan sandwich dan Cup Noodle, Haruka
mulai melahap kacang-kacangan dan cokelat sebagai hidangan penutup.
"Kalau di
dalam dungeon, makan camilan sebanyak apa pun tidak akan merasa
bersalah, ya."
: Setujuuu!
: Penjelajahan dungeon
itu tidak butuh gym lagi!
: Itu hak
istimewa yang cuma dimiliki anak muda...
: Camilan yang
dimakan sambil nonton layanan streaming di permukaan juga enak tahu.
: Tapi bonusnya
jadi babi.
: Buhii!
: Aku juga waktu
masih jadi petualang kurus banget lho.
: Sekarang sih
sudah tidak ada sisa-sisanya lagi. Yap, setuju.
: Aku berhenti
jadi petualang dan beratku naik sepuluh kilo. Buhi.
: Buhi buhi.
: Tahaha. Susah
banget ngurangin porsi makan biarpun sudah berhenti jadi petualang.
"Umm.
Olahraga itu penting, jadi mungkin semuanya sebaiknya coba jalan santai
sedikit."
Bohong. Haruka
berbohong. Bukannya berjalan tanpa tujuan, dia merasa daripada hanya menonton
lewat ponsel, lebih baik mereka semua masuk ke dungeon saja.
Sudah hampir
seharian penuh dia tidak mengobrol dengan siapa pun. Membaca komentar yang
mengalir dan membalasnya bukanlah sebuah percakapan. Di saat yang sama, dia
mendengar suara yang memarahinya. Seseorang dengan nada bicara kuat menyuruhnya
untuk tetap tegar.
Haruka
mengucapkan selamat malam kepada para pendengar, lalu segera masuk ke dalam
kantong tidur.
Di sekeliling
tempat tidurnya sudah dipasang penghalang sederhana, sehingga jika ada monster
yang mendekat, suara peringatan keras akan berbunyi. Suara yang saking kerasnya
bahkan bisa membuat orang mati melompat keluar dari liang kubur.
Di dalam dungeon
sangat remang-remang. Hanya ada lentera sederhana yang memancarkan cahaya
redup. Kesepian, pikirnya.
Namun,
ini adalah kesepian yang dibuat-buat. Tempat ini adalah lantai atas yang dekat
dengan permukaan, dan jika dia meminta bantuan, seseorang dari Asosiasi akan
segera datang. Begitulah sistemnya.
Namun,
Ryuto selama dua puluh tahun, tidak bertemu siapa pun, tidak bertukar kata, dan
terus bertarung sendirian. Benar-benar sebuah disiplin diri, keberanian, dan
nyali yang luar biasa.
Dia tidak
akan sanggup. Tidak, orang lain pun pasti tidak akan sanggup. Berpikir
macam-macam hanya akan membuatnya tidak bisa tidur.
Baru saja
Haruka berpikir ingin menghitung domba, dia sudah tergelincir ke dasar tidur
yang lelap.
Akan
kutaburkan bubuk kantuk.
Seseorang
berkata. Suaranya sangat
lembut.
Dia tidak bisa
mengingat siapa yang mengatakannya, tapi...
——Tidak terjadi
apa-apa.
Bukannya dia
tidak punya pengalaman masuk ke dungeon sendirian, tapi dia sudah
beberapa kali diserang saat sedang tidur.
Sangat sulit
untuk mengistirahatkan tubuh sambil tetap waspada. Manusia tidak mungkin bisa
tidur nyenyak di bawah ancaman maut.
Maka dari itu,
sejak awal Haruka sudah memutuskan bahwa dia tidak akan tidur saat
beristirahat; cukup dengan berbaring saja sudah cukup untuk mengurangi
kelelahan fisik.
Meski ikatannya
dilonggarkan saat tidur, dia tetap memakai sepatu botnya. Di dalam dungeon
itu gelap, dengan banyak batu dan tonjolan yang tak terhitung jumlahnya.
Jika pertempuran
terjadi saat baru bangun tidur, ada kemungkinan kakinya terluka jika tidak
memakai sepatu. Itu saja bisa menjadi luka fatal.
"Uun.
Selamat pagi."
Dia merangkak
keluar dari kantong tidur dan memijat kakinya perlahan.
Meski sudah
berjalan sejauh itu, karena dia masih muda, kelelahan di ototnya tidak terlalu
menumpuk.
Hari pertama
sepertinya dia terlalu bersemangat dan berjalan terlalu jauh.
Hari ini adalah
hari kedua.
Haruka membuka
peta untuk mencari tempat-tempat yang kemungkinan besar dihuni oleh mangsa Rank
D.
Di lantai-lantai
dangkal dekat permukaan, dia masih bisa menikmati manfaat alat elektronik
sampai batas tertentu, tapi itu tidak mutlak.
Jika sudah
begitu, yang bisa diandalkan adalah peta kertas yang kuno. Haruka merasa indra
arahnya cukup bagus. Tidak peduli seberapa jauh dia bergerak, dia punya indra
spesial yang membuatnya mengerti di posisi mana dia berada.
Itu bukan
Skill spesial, tapi dia lebih unggul dari orang biasa. Orang yang punya
banyak detail kecil seperti inilah yang cocok jadi petualang, begitulah kata
gurunya di sekolah dulu.
Dulu dia
pikir itu hanya sekadar hiburan karena dia tidak punya sesuatu yang menonjol,
tapi sepertinya itu bukan sekadar hiburan.
: Pagi~
:
Sekarang sudah siang lho~
:
Bagaimana kondisinya?
"Iya,
selamat pagi semuanya. Ini penjelajahan hari kedua. Hari ini juga aku mau
berburu dengan penuh semangat."
: Lho, baru
bangun tidur?
: Waktu siang dan
malam di dungeon memang jadi terbalik, ya.
: Sekarang sudah
jam sepuluh pagi, ya.
: Haruka-chan
semangat!
"Siaaap, aku
akan semangat!"
Interaksi dengan
penonton hanya melalui suara. Haruka belum punya nyali untuk memperlihatkan
wajahnya yang baru bangun tidur.
Setelah
menyelesaikan persiapan pagi dengan kecepatan tinggi, dia menghabiskan sarapan
sederhananya dengan roti dan kopi. Dia mengambil tablet vitamin dari botolnya.
Sayuran segar
tidak bisa dibawa ke dalam dungeon. Mustahil dari segi pengawetan. Maka
dari itu, suplemen vitamin sangatlah penting.
Di dekat sana ada
tempat sumber air yang ditentukan oleh Asosiasi.
Bahkan di lantai
dangkal, ada beberapa pipa air yang terpasang, meskipun jumlahnya sedikit.
Dia terkejut saat
pertama kali mendengarnya, tapi karena jarak ke markas pusat Asosiasi hanya
puluhan kilometer, hal itu bukan tidak mungkin dilakukan.
Setelah selesai
menyikat gigi, dia memeriksa penampilannya sebentar, menyelesaikan pengepakan
barang, lalu berangkat.
Setelah
berkeliling selama tiga jam, monster-monster di bawah Rank E seperti Slime atau
Rubah Bawah Tanah yang bisa dianggap sebagai kecoak mulai bermunculan.
"Maaf ya,
aku tidak punya waktu untuk meladeni kalian. Bye-bye."
Selama dia tidak
menyerang secara aktif, mereka tidak akan mengejar kecuali jika sedang sangat
lapar.
Dia berjalan lagi
selama empat jam.
Dia tidak
berputar-putar di tempat yang sama. Dia sempat bertemu dengan party
petualang lain dan bertukar informasi. Mereka terdiri dari empat orang, dengan
pengalaman yang setara atau di bawah Haruka.
Sepertinya
mereka belum siap mengikuti ujian kenaikan peringkat dan memberinya semangat,
"Berjuanglah, ya!" Yap, aku akan berjuang.
Harapan.
Segalanya butuh harapan. Setelah mencari titik kemunculan yang menjanjikan
selama satu setengah jam lagi, akhirnya dia bertemu dengan monster yang dia
cari.
Blood
Skeleton. Diterangi oleh cahaya redup lumut gua yang tumbuh di labirin, monster
aneh itu sedang berkeliaran di sekitar sana sambil memegang pedang dan perisai.
——Apa yang harus
kulakukan?
Namun, Haruka
sempat ragu sejenak.
Berdasarkan
ensiklopedia yang diterbitkan Asosiasi, Blood Skeleton diklasifikasikan sebagai
Rank D+. Dengan kata lain, dia adalah lawan yang cukup tangguh.
Dulu monster ini
dikategorikan sebagai Rank C, sehingga satu ekor saja bernilai 1,5 poin.
Karena kemarin
dia sudah mengalahkan dua Snake Cancer, mengalahkan Blood Skeleton ini akan
membawanya jauh lebih dekat menuju promosi.
Haruka
memicingkan mata dan menyadari bahwa ksatria tulang berwarna merah darah itu
sepertinya sedang menjaga sebuah peti harta. Meski ini hanya lantai tiga,
hampir bisa dipastikan bahwa isi peti di lantai atas rata-rata berupa item
senilai seratus ribu yen.
—Oke, mari kita
lakukan.
Setelah
membulatkan tekad, Haruka menyembunyikan hawa keberadaannya sebisa mungkin dan
mendekati Blood Skeleton sambil bersembunyi di balik bayang-bayang.
Menemukan musuh
lebih dulu sebelum pertempuran dimulai memberikan keuntungan besar.
Bagi pemilik job
Mage atau pengguna senjata jarak jauh, ini berarti peluang tinggi untuk
mendaratkan serangan kejutan, sementara bagi Warrior atau Knight yang ahli
dalam jarak dekat, ini jauh lebih menguntungkan daripada harus berhadapan
mendadak atau menerima serangan tiba-tiba.
Setelah jaraknya
cukup dekat, Haruka menerjang Blood Skeleton tanpa suara.
Ini adalah
pertarungan nyata.
Dalam serangan
kejutan, teriakan pemberi tahu tidaklah diperlukan.
Tebasan pedang
pendek Haruka berhasil mendaratkan kerusakan telak pada punggung Blood Skeleton
yang tanpa pertahanan.
Suara
tulang yang berderak keras terdengar saat Blood Skeleton terlempar ke arah
dinding.
"Hiat!"
Haruka
menendang sekuat tenaga perisai yang terlepas dari tangan Blood Skeleton.
Berhasil.
Dengan ini, musuh kehilangan sebagian besar pertahanan yang menjadi andalannya.
Monster tipe mayat hidup biasanya memiliki Toughness yang tinggi dan
sangat ulet.
Blood
Skeleton yang sempat berantakan itu segera menyatu kembali ke bentuk semula
berkat kekuatan sihir dan berbalik menghadap Haruka, namun gerakannya tampak
tidak fokus. Jelas sekali dia kebingungan akibat serangan kejutan tadi.
Haruka
memanfaatkan keunggulan itu dengan gesit memainkan pedang pendeknya yang
ringan. Senjata milik Blood Skeleton adalah longsword yang panjangnya
lebih dari satu meter.
Haruka
akan kesulitan jika musuh menjaga jarak dan menggunakan perisai secara efektif,
namun karena memegang inisiatif serangan, Haruka benar-benar menekannya.
—Terlihat.
Gerakan musuh... terasa lambat.
Melanjutkan
momentum kemarin, hari ini pun kondisinya sangat prima. Haruka seketika
memasuki kondisi zone dan menghindari tebasan Blood Skeleton dengan
gerakan sway back.
Dari
posisi rendah, dia mengaktifkan Skill Sweep dengan pedang
pendeknya.
Bilah
pedang berdenting keras saat menghantam tulang pinggul Blood Skeleton.
Berhasil. Haruka merasakan sensasi mantap dari tangannya sendiri.
Terbukti,
Blood Skeleton itu terhuyung seperti orang mabuk; dia mengangkat pedangnya ke
posisi atas namun tidak kunjung mengayunkannya turun.
"Rasakan
ini!"
Haruka memekik
tajam. Api kecil yang menyala di dasar rongga mata hitam pekat Blood Skeleton
tampak bergoyang.
Haruka melihat
rasa takut yang nyata dari mayat hidup yang tak bernyawa itu.
—Saat musuh ragu
adalah kesempatan emas.
Saran dari Ryuto
terlintas di benaknya. Dia menggertakkan gigi geraham dan memperkuat
cengkeraman pada gagang pedangnya. Dengan langkah lebar, dia menghantamkan
pedangnya. Lintasan bilah pedang terlihat jelas dalam kegelapan. Sebuah tebasan diagonal yang
sempurna berhasil mendarat.
"Ber...
berhasil. Aku menang."
Blood
Skeleton yang telah kehilangan jiwanya itu hancur berantakan dengan suara
gemeretak. Tulang-tulang yang tadinya berwarna merah mengerikan itu berubah
menjadi pasir halus dalam sekejap dan tersebar di lantai. Pedang panjang yang
menjadi senjatanya terjatuh, berkarat seketika, dan berubah menjadi rongsokan.
Haruka
mengatur napasnya yang memburu. Tetap dalam posisi siaga, dia waspada melihat
ke sekeliling. Banyak petualang kehilangan nyawa karena lengah setelah
mengalahkan satu musuh, lalu diserang dari belakang.
"Fuuuh.
Sepertinya... sudah tidak ada lagi."
Rasa
lelah langsung merayap hebat. Haruka refleks berjongkok. Saat bertarung tadi
dia tidak sadar, tapi di sekujur tubuhnya terdapat beberapa luka sayat. Berkat
pelindung tubuh yang kokoh, tidak ada luka dalam yang menghambat gerakannya,
namun luka di bahu kanannya terasa cukup dalam.
Mungkin karena
hormon adrenalin sudah habis, rasa sakit mulai menyerang bertubi-tubi. Sambil
berjongkok, Haruka menyobek bagian bahu kemejanya dan memeriksa luka
menggunakan cermin kecil. Karena bukan ahli, dia tidak terlalu paham, tapi
sepertinya tidak sedalam itu sampai harus dijahit.
"A-aduh,
perih."
Haruka membuka
tutup Potion pemulihan. Isinya adalah cairan berwarna biru muda. Saat
dicicipi, rasa manis yang samar menyebar di mulutnya. Haruka meminum sekitar
tujuh persepuluh bagian, lalu menyiramkan sisanya ke luka. Ini adalah item luar
biasa dengan efek sterilisasi dan penyembuhan tinggi; biasanya dalam tiga puluh
menit pendarahan akan berhenti dan lapisan kulit tipis akan terbentuk.
Kyoka, rekannya,
sangat ahli dalam farmasi dan membuatkan Potion pemulihan ini secara
khusus, namun biaya bahannya tetap mahal. Satu botol sekitar lima ribu yen.
Jika membeli produk komersial, harganya bisa melebihi sepuluh ribu yen. Haruka
tidak bisa menggunakannya sembarangan, namun demi hari esok, dia memutuskan untuk
memakainya.
: Hebat
banget, Haru-chin!
: Itu
tadi Blood Skeleton, kan?
:
Kelihatannya seperti sedang kesurupan dewa.
: Ada apa
dengan Haru-chin? Jangan-jangan ini orang yang berbeda?
"Ini beneran
aku, tahu!"
: Selamat!
: Selamat, ya!
: Dengan ini,
selangkah lebih dekat menuju promosi!
: Yatta!
: Aku bangga
padamu (sebagai penonton sejak awal).
"Ahaha.
Semuanya, terima kasih dukungannya. Aku sendiri merasa sedang beruntung."
—Dua Snake Cancer dan satu Blood Skeleton berarti poinnya
sudah 3,5. Dengan ini, sisa kuotanya tinggal dua ekor lagi. Tidak, kalau bisa mengalahkan Rank D+, tinggal
satu ekor lagi. Promosi sudah di depan mata!
Kondisinya
sedang sangat bagus hingga terasa menakutkan bagi dirinya sendiri. Mantan
petualang Rank A di sekolah dulu sering bilang, jika keberuntungan sedang
berpihak, maka hajar terus sampai habis.
"Ah,
daripada itu, peti harta. Anu, apa aman ya?"
Peti harta di
dalam dungeon sering kali berisi item yang berguna untuk penjelajahan
atau logam mulia yang berharga.
Meski begitu, ada
kemungkinan peti itu dipasangi jebakan yang sangat jahat. Seperti jarum beracun
yang melesat, pisau yang ditembakkan, atau gas beracun yang mematikan.
Untungnya, ada
teori umum bahwa kejadian seperti itu jarang terjadi di lantai atas yang
tingkat risikonya rendah, namun kewaspadaan tetap yang utama. Bukan tidak
mungkin juga isinya kosong melompati.
Glek.
Setelah memeriksa
jebakan dengan hati-hati menurut caranya sendiri, Haruka membuka peti harta
itu.
Di
dalamnya terdapat sebuah gulungan sepanjang lima belas sentimeter.
"Ini... Scroll,
ya? Baru pertama kali aku melihatnya."
Bahkan Haruka pun
tahu bahwa di antara item umum di dungeon, ada sesuatu bernama Scroll
yang menyimpan efek sihir di dalamnya. Di bagian tengah segel lilinnya, terdapat
stempel simbol berbentuk batu. Dia berpikir, ini pastilah gulungan yang berisi
sihir elemen tanah.
: Ooh, Scroll!
:
Syukurlah bukan jebakan.
: Itu Scroll
batu ya. Sihir tipe serangan.
: Hoho, penonton
di sini berwawasan luas juga ya.
"Hee! Apa
efeknya?"
: Itu menembakkan
batu dengan cepat, harganya mahal lho. Cukup langka.
: Omong-omong,
harganya berapa?
: Hmm, harga
jualnya sekitar lima puluh ribu yen kalau tidak salah...?
"Eeeh! Lima
puluh ribu yen!? Hebat
banget!"
:
Haru-chin yang polos imut sekali.
: Tapi apa tidak
kemahalan lima puluh ribu cuma buat nembak batu?
: Tergantung cara
pakainya, itu efektif banget lho.
: Benar. Terutama
buat job yang tidak punya sarana serangan jarak jauh, bawa ini bikin
tenang.
: Kalau menemukan
musuh lebih dulu, satu serangan ini bisa mengurangi kekuatan tempur mereka
secara signifikan.
"Hmm.
Semuanya pintar-pintar ya. Kalau begitu, aku simpan saja dulu daripada
dijual."
: Scroll
sebaiknya jangan sayang-sayang buat dipakai. Itu sangat berguna kalau kepepet.
: Yang tipe
pemulihan bukannya lebih mahal lagi?
: Iya. Harganya
bervariasi, tapi sekitar ratusan ribu sampai jutaan.
: Benar. Kalau
tidak salah, tipe Resurrection ada yang sampai puluhan juta yen.
"Hiii."
: Kalau nyawa
bisa dibeli dengan uang, itu murah kan?
: Benar juga.
: Setuju.
: Yah, cuma orang
kaya yang bisa punya Scroll seperti itu.
: Kalau aku dapat
drop tipe Resurrection, bakal kujual dalam sekejap. Terus pensiun.
: Tapi tipe Resurrection
hampir tidak pernah terlihat di pasar, sih.
: Scroll Resurrection
dengan persentase rendah memang sesekali muncul, tapi harganya jutaan.
: Bisa
buat beli mobil.
"Hun-hun.
Aku jadi belajar banyak."
Haruka
mengalihkan pandangan dari kolom komentar dan menatap tajam Scroll di
tangannya. Benda ini saja sudah bisa menutupi uang sewa apartemennya.
Sebelumnya,
saat beraksi dalam party, harta yang jatuh paling-paling hanya Potion
biasa atau sedikit koin emas kuno yang nilainya tidak pernah menembus sepuluh
ribu yen.
—Memang dungeon
itu luar biasa, ya. Sekalinya dapat langsung besar.
Bulan ini
sepertinya dia bisa mengurangi jadwal kerja paruh waktunya. Ditambah lagi, jika
berhasil promosi ke Rank D, dia akan mendapatkan uang insentif sebesar tiga
ratus ribu yen, yang merupakan berkah luar biasa bagi Haruka.
—Aku
harus terus berjuang.
Setelah
tidur singkat selama lima jam, Haruka kembali memulai aktivitasnya.
Meski
begitu, dia hanya berjalan berputar-putar di dalam dungeon yang
remang-remang. Dalam penjelajahan dungeon, kelelahan akibat aktivitas
biasanya mencapai puncak pada hari ketiga. Jika berhasil melewati itu, tubuh
akan terbiasa dengan rasa sakit dan berat di persendian, sehingga rasa malas
pun sirna.
Haruka menenggak
tiga gelas kopi pekat. Kemudian dia memasukkan lima batang cokelat yang sangat
manis ke dalam perutnya, lalu mencari mangsa dengan mata yang berkilat.
Lama-kelamaan dia
merasa dirinya lebih menyerupai binatang daripada manusia. Di hari ketiga, dia
menyerah setelah berjalan sekitar enam belas jam dan masuk ke dalam kantong
tidur.
Hari keempat dan
kelima pun serupa. Selama itu, dia bertemu dengan sekitar lima petualang, namun
tidak mendapatkan informasi mengenai monster Rank D yang dia incar.
: Hei, kenapa
Haru-chin bersikeras sekali melakukan ini secara solo?
: Memangnya tidak
boleh bekerja sama dengan rekan-rekanmu yang biasanya?
Komentar seperti
itu muncul di siaran.
"A-ahaha.
Kenapa ya. Aku sendiri juga tidak tahu, tapi aku ingin menantang diriku
sendiri."
Dia bisa
mengatakannya dengan jujur.
Ada bagian dari
dirinya yang berpikir "apa tidak sebaiknya menyerah saja", namun ada
bagian lain yang berbisik "berjuanglah sedikit lagi". Untungnya air
masih ada. Meski tinggal satu botol plastik dua liter, itu seharusnya cukup
untuk satu hari lagi.
Saat Haruka yang
sudah lunglai hendak menurunkan ranselnya untuk beristirahat, rasa merinding
yang hebat menjalar di punggungnya.
Dia merasakannya.
Hawa keberadaan musuh. Dan
itu berada di tempat yang tidak jauh. Pasti.
Haruka
sangat mempercayai instingnya sendiri.
Ini tidak
salah lagi, hawa sihir ini jauh lebih kuat daripada monster mana pun yang dia
temui sejak mulai masuk kali ini.
Setelah
ragu selama beberapa detik, dia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan barang
bawaannya di tempat ini.
Senjatanya
hanya pedang pendek dan Scroll yang dia dapatkan untuk berjaga-jaga.
Haruka
memejamkan mata dan berlari ke arah hawa tidak mengenakkan yang membuat ujung
rambutnya terasa geli. Di depannya membentang tiga terowongan sempit.
Lubang-lubang
itu memiliki ketinggian dan lebar yang tidak menyenangkan, seolah tidak bisa
dilewati tanpa sedikit membungkuk.
Haruka
memutuskan bahwa merangkak akan lebih cepat dan mulai bergerak dengan empat
kaki.
Waktu
yang dihabiskan untuk merangkak di lubang itu cukup singkat.
Paling-paling
hanya sepuluh menit.
"Puu-hah."
Rasanya seperti
menjadi tikus tanah. Meski begitu, bagi orang-orang di permukaan, para
penjelajah dungeon ini memang tidak jauh berbeda dengan tikus tanah.
Belum sempat melangkah jauh, terdengar jeritan panjang yang memilukan.
Seseorang seolah
mencengkeram kerah bajunya dan melarangnya pergi. Keringat dingin mengalir di belakang telinga
Haruka.
Tanpa
sadar dia sudah bergerak. Lokasinya tepat di depan.
Dia
refleks bersembunyi di pintu masuk. Di sebuah ruangan yang agak luas, seorang
ksatria dengan baju zirah perak yang menunggangi kuda transparan sedang
membantai empat orang petualang.
Ghost
Knight. Monster yang menunggangi kuda hantu sambil membawa tombak panjang (lance)
ini, sejauh yang Haruka tahu, diklasifikasikan sebagai Rank B.
Empat
petualang yang telah kehilangan semangat bertarung itu adalah gadis-gadis yang
sempat bertukar informasi dengan Haruka di hari kedua. Dia memeriksa lencana
peringkat mereka. Benar, mereka semua berada di Rank E yang sama dengan Haruka.
Jika
demikian, hampir mustahil bagi mereka yang pemula untuk menang melawan Ghost
Knight.
Seolah
menyadari keberadaan Haruka, sebuah Wisp—api hantu yang melayang di sekitar
Ghost Knight—langsung melesat ke arahnya. Burung Hantu Dungeon yang menempel
untuk ujian promosi menyadari bahaya dan melarikan diri dengan kecepatan luar
biasa.
Apa yang
harus dilakukan. Wisp itu sendiri tidak terlalu tangguh. Jika hanya beberapa ekor, dia bisa melarikan diri.
"Tapi mana
mungkin aku lari."
Dia merasa jika
dia lari di sini, dia tidak akan pernah bisa bertemu ibunya lagi.
Minotaur yang
dulu hampir membunuhnya juga memiliki kekuatan Rank B.
Jika dipikir
secara dingin, tidak akan ada yang menyalahkan Haruka jika dia meninggalkan
empat orang yang tidak dikenalnya ini. Tidak, ada satu orang. Dirinya sendiri.
Dia menyimpan
ponselnya.
Mulai sekarang
dia ingin berkonsentrasi penuh pada pertempuran.
Haruka melompat
dari samping saat Ghost Knight sedang mengarahkan tombaknya untuk menusuk mati
para petualang yang terpojok itu.
Haruka membidik
rusuk kanan Ghost Knight yang tanpa perlindungan dan menyiapkan pedang
pendeknya.
Ghost Knight
segera menyadari bahaya dan berputar untuk mengarahkan kaki kuda hantunya ke
arah Haruka.
——Itulah
tujuannya.
"Te-yaaa!"
Dia mengayunkan
pedangnya dengan penuh tenaga.
Skill Warrior Sweep pun aktif.
Kuda hantu yang mengangkat kaki depannya adalah celah yang
fatal. Sambil berguling di tanah, Haruka menebas kedua kaki belakang kuda hantu
itu sekaligus. Kuda hantu itu meringkik keras karena kesakitan.
Kekuatan Ghost Knight yang berbalut zirah perak sebagian
besar berasal dari daya hantam saat melakukan charge menggunakan
kecepatan kuda hantu.
——Tapi, tombaknya sudah aku kunci.
Kini, tebasan Haruka telah merebut kuda yang menjadi sumber
kekuatan Ghost Knight.
Kuda hantu itu
jatuh terguling dan menggetarkan tanah.
Ghost Knight
berhasil mendarat di tanah, namun dia tampak bingung.
Saat Ghost Knight
mencoba membetulkan posisi tombaknya dan mengarahkan ujungnya ke arahnya,
Haruka melihat keseimbangan musuh goyah dan dia memutuskan untuk bertaruh.
Seketika,
Haruka menubruk Ghost Knight dengan bahunya. Sebuah serangan nekad. Tanpa
meleset, pedang pendek Haruka terhujam ke sela-sela baju zirah Ghost Knight.
Pedang pendek Haruka menusuk pinggang Ghost Knight dari kiri ke kanan.
"Taaaaah!"
Sambil
berteriak dan memusatkan seluruh konsentrasi, dia kembali mengaktifkan Skill
Sweep. Mengeluarkan kekuatan yang melampaui kemampuan manusia, bilah
pedang itu bersinar putih bersih dan membelah pinggang Ghost Knight menjadi
dua. Bagian pinggang ke atas dan ke bawah terpisah, dan Ghost Knight pun
terlempar.
Namun,
Ghost Knight tidak berakhir begitu saja. Di saat terpotong, tangan kanannya mencabut pisau di pinggang dan
menusukkannya ke bahu kanan Haruka.
Haruka menjerit
keras dan berguling. Hampir seluruh bagian pisau terbenam di bahu kanannya.
Awalnya terasa dingin seperti ditusuk es, namun detik berikutnya rasa sakit
yang membakar menyerang.
Dia
berguling-guling di tanah. Ghost Knight yang tinggal separuh badan merangkak
mendekat menggunakan kedua tangannya. Tidak ada celah untuk lari. Mata yang
mengintip dari balik helm berkilat hitam karena amarah yang membara.
Sambil
duduk, Haruka menendang Ghost Knight yang merayap mendekat. Dia menendang,
menendang, dan terus menendangnya. Itu tidak terlihat seperti pertarungan
melawan monster. Itu lebih mirip perlawanan seorang wanita terhadap pencabul
atau pemerkosa.
Pergelangan kaki
kanannya dicengkeram. Tanpa jeda, kaki itu dipelintir. Rasa sakit yang luar
biasa menjalar.
Sambil
melontarkan makian yang belum pernah dia ucapkan seumur hidup, Haruka
menggunakan tangan kirinya untuk mencabut pisau yang tertancap di bahunya dan
menghujamkannya ke lengan kiri Ghost Knight.
Bilahnya
tertancap dengan pas di sela zirah dan menghentikan gerakan lengan kiri itu.
Kemudian Haruka
menarik Scroll yang terselip di tas pinggangnya, lalu menarik putus tali
segelnya menggunakan gigi dengan cekatan.
"Rasakan
ini!"
Kekuatan sihir
dilepaskan dari gulungan yang terbuka.
Suara dengingan
unik menggema.
Sekelilingnya
diterangi cahaya putih bersih seperti siang hari.
"L-lho?"
Namun, tidak ada
peluru batu yang melesat dari gulungan itu seperti yang diharapkan Haruka.
Apakah ini hanya gertakan? Tinju Ghost Knight mendarat. Meski dia memutar
wajahnya untuk menghindar, Haruka terkena pukulan telak di bagian dahi.
—Mungkin, aku
sudah tamat.
Namun, sesaat
sebelum Haruka merasa putus asa terhadap dunia, sihir itu menjalankan tugasnya
dengan benar.
Tanah di bawah
Ghost Knight yang merayap tiba-tiba melonjak naik dengan tajam menjadi tonjolan
batu runcing, menusuk sebagian besar tubuh bagian atas Ghost Knight dan
mendorongnya hingga dekat langit-langit.
Ujung batu yang
runcing itu memberikan serangan pemungkas. Hampir seluruh tubuh bagian atas
Ghost Knight hancur, sementara kepala dan lengannya terlepas dan jatuh ke
tanah.
"Ber...
berhasil."
Kesadarannya
mulai kabur. Kepalanya terhantam keras. Dia mencoba memfokuskan pandangan.
Ghost Knight yang merupakan Rank B itu mengeluarkan asap putih dari seluruh
tubuhnya dan perlahan menghilang menjadi kabut.
Dia bisa melihat
empat petualang yang tadi mengawasi pertempuran berlari ke arahnya. Semua gadis
itu menangis karena lega dan gembira.
—Aku... berhasil,
ya.
Dia
bergumam dalam hati dan perlahan memejamkan mata.
Itulah saat di
mana Haruka Shimomura naik pangkat menjadi Petualang Rank D.
◆◇◆
Sayaka terbangun
dan mendadak panik saat menyadari Ryuto tidak ada di tempat tidur yang sama.
Sejak hari pertama, hanya pada hari-hari di mana Ryuto sulit tidur, mereka akan
berbagi ranjang.
Meski begitu,
mereka berdua tidak pernah melampaui batas. Ryuto jelas memiliki ketertarikan
seksual pada Sayaka.
Namun, pria itu
masih dalam masa rehabilitasi mental. Sayaka berpikir sebaiknya tidak
terburu-buru agar tidak dibenci. Saat Ryuto memeluk lutut Sayaka seperti anak
kecil, dia akan tertidur dengan sangat lelap dan memperlihatkan sosok yang
tanpa pertahanan.
Melihat sang
pahlawan legendaris yang menyelamatkan dunia tidur dengan tenang dalam
pelukannya berkali-kali, muncul rasa puas di hati Sayaka bahwa dia "dalam
arti tertentu menguasai pria ini", dan di saat yang sama, naluri
keibuannya yang dia pikir tidak ada pun mulai membuncah.
Tapi Ryuto tidak
ada di sana. Menyadari ketakutan hebat dalam dirinya, Sayaka segera memeriksa
ponselnya.
Dia telah
menanamkan beberapa cip mikro di rambut Ryuto yang berfungsi sebagai GPS.
Sebenarnya, Sayaka mengira Ryuto menyadari keberadaan cip ini. Namun, pria itu
sengaja tidak membuangnya.
Mungkin itu
adalah bentuk kasih sayang atau kepercayaan kecil terhadap Sayaka. Sayaka
menginterpretasikannya seperti itu, dan faktanya dia tidak salah.
Bagaimanapun,
berkat cip mikro ini, Sayaka bisa mengetahui keberadaan Ryuto seketika. Bagi
pasangan suami istri atau kekasih biasa, ini adalah tindakan yang mengerikan,
namun Ryuto yang berjiwa besar tidak terlalu mementingkan hal semacam itu.
—Syukurlah.
Ryuto-sama ada di ruang tamu.
Dia merasa sangat
lega. Mungkin saja Ryuto yang makannya banyak itu merasa lapar. Mungkin jatah
makan malamnya kurang, sehingga dia makan sesuatu secara sembunyi-sembunyi.
—Ryuto-sama. Jika
itu masalahnya, Anda bisa mengatakannya padaku dan aku akan memasakkannya kapan
saja.
Sayaka juga
merasakan dirinya menjadi rileks saat bersama Ryuto. Ini adalah perasaan yang
belum pernah dia rasakan bahkan terhadap orang tua kandung atau adik
perempuannya sendiri.
Sambil
bersenandung kecil, Sayaka menuju ruang tamu, dan di sana dia melihat sosok
Ryuto yang sedang menggunakan laptop di tengah pencahayaan yang redup.
—Ja-jangan-jangan
beliau sedang menonton video dewasa. Ryuto-sama, menggemaskan sekali. Fufu.
Dia
berpikir untuk mendekat diam-diam dan mengejutkannya. Dan bagaimana jika dia menawarkan bantuan untuk
tindakan "menggemaskan" Ryuto itu? Sambil menahan napas, Sayaka
berdiri di titik buta yang mustahil terlihat oleh Ryuto, namun...
"Hei,
Sayaka. Bisa ke sini sebentar?"
"Fuh!"
Tiba-tiba
dipanggil membuat tubuhnya tersentak kaget. Sayaka merapikan poninya yang
berantakan dengan jari, lalu mencoba memasang ekspresi manis dengan suara
manja, namun seketika dia membeku.
Di sana, duduklah
seorang pria yang sedang bertopang dagu di meja dengan ekspresi yang sangat
kaku, tidak seperti biasanya.
"Internet
itu memang praktis, ya. Hal-hal seperti ini sudah ada sejak dulu, tapi melihat
semuanya dirangkum dengan sangat mendetail, jadi sangat mudah dimengerti."
"Ryuto-sama."
Ryuto menunjukkan
layar laptopnya kepada Sayaka. Di sana terangkum rincian mengenai nasib salah
satu anggota party penyelamat dunia yang menghilang setelah kejadian
tersebut.
"Informasi di internet itu campur aduk antara kebenaran dan kebohongan. Karena itu, aku ingin bertanya pada Sayaka yang pasti tahu kebenarannya. Mengenai dua orang yang ada di sini... Rinka Hoshioka Malmsteen dan Haruka Shimomura."



Post a Comment