Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan
Bintang Milik Sayaka
Sayaka,
Papa sudah jadi bintang di langit malam.
Papa sudah
jadi salah satu dari sekian banyak bintang yang terapung di langit malam.
Kalau kamu
merasa sedih, coba tengadah dan tataplah langit.
Papa akan
selalu menjagamu dari atas sana.
Tiba-tiba, Sayaka
teringat sebait kalimat dari buku cerita yang pernah ia baca di suatu tempat,
lalu mengganti subjeknya dengan namanya sendiri.
—Tidak mungkin
Ayah mengatakan hal seperti itu.
Semuanya hanya
khayalan. Sebab, Sayaka tidak pernah bertemu dengan ayahnya. Karena sang ayah
sudah lama meninggal dunia.
Di dalam
keremangan yang pekat, Sayaka perlahan terbangun. Kamar Sayaka yang saat itu
berusia sembilan tahun, singkatnya, memiliki lingkungan yang buruk. Itu adalah
ruangan paling suram di kediaman keluarga Yamanashi, tempat yang paling jarang
tersentuh sinar matahari.
Ia melirik jam
beker. Waktu menunjukkan pukul tiga pagi lewat sedikit. Tenggorokannya terasa
sangat kering. Ia ingin minum air. Namun, rasanya enggan pergi sendirian ke
bangunan utama tempat dapur berada. Yang terpenting, ia takut bertemu dengan orang-orang di rumah ini.
Setelah beberapa
saat, matanya mulai terbiasa dengan kegelapan. Hanya ada sedikit furnitur di
kamar itu. Untuk ukuran kamar putri sulung keluarga Yamanashi yang merupakan
klan terpandang di daerah tersebut, kamar ini terlalu sederhana. Ada semacam
maksud tertentu yang tersirat di sana.
Tentu saja, bukan
maksud yang baik. Ada niat jahat, penghinaan, dan kebencian yang nyata.
Meski baru
menginjak usia sembilan tahun, Sayaka paham bahwa seluruh anggota
keluarga—termasuk ibu kandungnya—sangat membenci keberadaannya. Alasannya hanya
satu. Terletak pada asal-usulnya.
Adiknya lahir
dari orang tua yang sama-sama orang Jepang. Sedangkan dirinya sendiri lahir
dari seorang pria berkebangsaan asing yang entah siapa dan di mana
keberadaannya.
Penampilan
Sayaka yang tidak terlihat seperti orang Jepang memang tidak bisa dihindari.
Namun, klan itu tidak mau menerimanya.
Keluarga
Yamanashi yang secara turun-temurun menjabat sebagai pendeta di kuil
bersejarah, tidak mungkin mengakui keberadaan dirinya. Pewaris kepala keluarga
berikutnya sekaligus Sang Gadis Suci (Miko) sudah diputuskan jatuh kepada
adiknya.
Begitu
adiknya lahir, eksistensi Sayaka yang memang sudah tipis pun menjadi
benar-benar transparan. Aku adalah anak yang tidak dibutuhkan di rumah ini.
Sayaka
bangkit dari tempat tidur dan menyalakan lampu meja belajar. Di atas meja itu,
piagam-piagam penghargaan dari kompetisi melukis hingga piano tergeletak
menggulung berantakan.
Semua itu
menunjukkan kemampuan luar biasa Sayaka, seperti kemenangan di tingkat
nasional. Di antara tumpukan itu, terselip lembar jawaban ujiannya. Prestasi
akademik Sayaka benar-benar sangat unggul. Mendapat nilai sempurna adalah hal
biasa baginya.
Namun, tidak ada
satu pun orang di rumah ini yang memuji atau merasa senang atas pencapaiannya
itu. Sayaka merasa sangat kesepian.
—Apa yang akan
terjadi padaku setelah ini?
Di sekolah, ia
memiliki tempat untuk bernaung. Sayaka adalah gadis yang ceria dan populer di
antara teman-sekebatannya. Ia punya banyak teman. Mungkin karena label
mentereng sebagai keluarga terpandang di daerah itu, tidak ada orang di sekolah
yang berani merundung Sayaka.
Hanya saja,
begitu ia pulang ke rumah, ia hanyalah seorang manusia transparan. Ibu
kandungnya, kakek, maupun neneknya, sama sekali tidak mau bicara dengannya.
Mereka memang
memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal. Namun, kasih sayang keluarga yang
dicari Sayaka tidak ada di sana. Belakangan ini, makanan pun dibawakan ke
kamarnya oleh pelayan.
Ini adalah
paviliun terpisah. Pada dasarnya, Sayaka tinggal di sini sendirian. Hal itulah
yang perlahan mulai menghancurkan hati Sayaka.
"Pada
akhirnya, apakah semuanya akan terus begini selamanya?"
Ia mengerti bahwa
keluarganya adalah salah satu orang terkaya di daerah itu. Setelah lulus
sekolah nanti, apa yang akan terjadi padanya?
Ia tidak akan
bisa tinggal di rumah ini. Disuruh tinggal pun ia pasti menolak mentah-mentah.
Ia tidak mau ada di sini. Rasanya menyakitkan. Jika begitu, satu-satunya yang
terpikirkan adalah pernikahan.
"Hmm."
Ia tidak bisa
membayangkannya dengan baik. Sayaka hampir tidak pernah melihat sosok pria
secara dekat.
Adiknya adalah
satu-satunya orang di rumah ini yang mau mengajaknya bicara. Namun, dalam satu
sisi, Sayaka paling membenci adiknya ini. Sebab, sang adik memandangnya sebagai
sosok yang malang.
Setiap kali
Sayaka mendapat perlakuan buruk dari ibu atau kakek-neneknya, sang adik pasti
akan bersikap lembut padanya. Benar-benar seperti sosok anak baik di dalam buku dongeng. Hal itu
justru terasa seperti sedang dikasihani, dan membuat Sayaka merasa jauh lebih
menyedihkan.
Suatu saat nanti,
ia ingin pergi dari keluarganya, pergi dari rumah ini. Namun ia tidak tahu
caranya.
—Kesepian.
Tiba-tiba, Sayaka
teringat tentang kelompok Juru Selamat yang ia dengar saat pelajaran di
sekolah. Para anggota yang kembali setelah mengalahkan Raja Iblis tampak begitu
bersinar. Bahkan ada teman sekelasnya yang secara terang-terangan bermimpi
untuk menjadi istri mereka.
Namun, hanya ada
satu sosok yang benar-benar menarik perhatian Sayaka. Sang Pahlawan yang telah
menjadi bintang di langit, sosok bernama Sakazaki Ryuto.
Dunia memujanya
dengan anggapan bahwa ia telah menjadi pahlawan yang gugur. Sayaka merasakan
ada kemiripan antara dirinya dengan pria itu. Hal itu terasa sangat, sangat
menyedihkan baginya.
Karena itu, ia
memutuskan untuk berdoa. Demi sang pahlawan yang bernasib malang.
Ia
membuka jendela dan menatap ke luar. Angin awal musim dingin yang menusuk mulai
terasa. Di langit malam musim dingin yang jernih, bintang-bintang bertaburan
dan berkilauan lebih terang dari biasanya.
—Mungkin,
tidak apa-apa jika semuanya hanyalah cerita bohong belaka.
Sayaka
berdoa. Ia berdoa pada bintang ayahnya. Berdoa agar pria itu baik-baik saja di
sana.
Beberapa tahun
kemudian, doa itu pun terbukti di hadapan seluruh dunia. Langit telah mendengar dan
mengabulkan permohonan tulus dari sang Miko yang suci.
Previous Chapter | ToC | End V1



1 comment