NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Naze ka S-kyuu Bijotachi no Wadai ni Ore ga Agaru Ken V1 Chapter 4

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 4

Himekawa Sara

Beberapa hari telah berlalu sejak diputuskan bahwa mereka akan pergi ke rumah orang tua Sara.


Kini, Haruya dan Sara sedang menuju rumah keluarga Sara dengan menaiki kereta yang bergoyang pelan mengikuti rel. Anehya, Haruya sama sekali tidak merasakan ketegangan. Sebaliknya, Sara terlihat gelisah dan sulit tenang.


“……Aku sangat gugup.”


Menanggapi suara Sara, Haruya hanya mengangguk seadanya. Bukan rasa tegang yang memenuhi pikirannya, melainkan rasa penasaran—seperti apa sebenarnya rumah keluarga yang begitu ketat dan kolot itu.


(Seperti apa ya rumah keluarga Himekawa-san…)


Kalau dibayangkan dari kesan yang ada, mungkin itu bangunan yang mengingatkan pada kediaman bangsawan yang mewah.


Saat ia sedang membiarkan imajinasinya melayang bebas, Sara yang duduk di sebelahnya tiba-tiba membuka mulut pelan di dalam kereta.


“Umm……”


“Hm? Ada apa?”


“Sekarang baru kepikiran, tapi… kenapa kamu sampai berbuat sebaik ini padaku?”


“Pertanyaannya tiba-tiba sekali……”


“Maaf, tapi aku jadi penasaran.”


Setelah jeda sejenak, Sara menatap Haruya dengan sorot mata yang serius.


“Masalah serumit ini…… apalagi menyangkut urusan keluarga orang lain, biasanya tidak ada yang mau ikut campur.”


“Ada orang yang kesulitan tepat di depan mataku, jadi aku ingin menolongnya. Itu saja.”


Begitu mengatakan itu, tatapan tajam langsung diarahkan padanya dari samping.


“Kalau dari Akasaki-san, rasanya itu sedikit berbeda…… bisakah menjawabnya dengan jujur?”


Seolah tak menerima alasan apa pun, Sara menanyainya dengan tegas. Haruya tersenyum pahit. 


Meski Sara punya sisi polos, ternyata sisi tajamnya juga sama kuatnya. Ia memang sudah berusaha sejauh ini demi mendapatkan jaminan agar identitas aslinya tidak terbongkar, tapi tentu saja hal itu tak mungkin ia ucapkan. 


Meski setengah pasrah, Haruya akhirnya melemparkan satu alasan lain yang selama ini tertidur di lubuk hatinya.


“Karena… menghadapi keluarga itu adalah hal yang sangat penting.”


Kali ini Sara tidak menyela. Mungkin ia sedang menunggu kelanjutannya.


“……Aku juga, dalam arti tertentu, sama dengan Himekawa-san. Hubunganku dengan keluarga agak renggang……”


Dengan nada seperti mengejek diri sendiri, Haruya berkata sambil mengangkat bahu.


Ia sebenarnya tak ingin mengingat masa SMP-nya, tapi karena suatu alasan, kini ia hidup sendirian. Tanpa menjelaskan detailnya, Haruya melanjutkan.


“……Aku sendiri mungkin belum bisa melangkah maju. Tapi aku ingin Himekawa-san—yang memikul masalah keluarga yang sama—bisa melangkah ke depan.”


Setelah itu, Sara menggoyangkan rambutnya pelan dan bertanya dengan nada lembut.


“Kalau begitu, itu juga berkaitan dengan alasan Akasaki-san membiarkan rambutmu sepanjang itu… dan caramu bersikap di kelas, ya?”


Mendengar pernyataan Sara yang penuh keyakinan, Haruya merasa tak nyaman, namun ia tetap mengangguk diam-diam.


Mungkin menyadari bahwa Haruya tidak ingin membicarakannya lebih jauh, Sara pun tidak melanjutkan pertanyaan itu.


──Gatan, goton, gatan, goton.


Beberapa detik berlalu dalam keheningan, lalu Sara bergumam pelan.


“Kalau begitu, aku…… harus berusaha keras. Demi Akasaki-san juga, supaya suatu hari nanti bisa melangkah maju.”


Sara tersenyum lebar hingga memperlihatkan giginya.


……Meski entah kenapa, tubuhnya tampak sedikit gemetar. Mungkin ia sadar bahwa kegugupannya telah terbaca, Sara pun buru-buru melanjutkan seolah menutupinya.


“Sebetulnya aku tahu. Apa yang akan kulakukan ini adalah keegoisanku sendiri…… dan orang yang akan diperkenalkan lewat perjodohan itu pasti orang baik.”


“……Tapi, meski begitu, isi hatimu sebenarnya berbeda, kan?”


“Iya. Jadi aku…… akan berusaha. Terima kasih sudah mau mendengarkan ceritaku.”


Setelah memastikan Sara menundukkan kepala dengan sopan, Haruya mengalihkan pandangan dari mata Sara yang jujur dan polos itu, lalu menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya dengan kasar.


***


Setelah sekitar tiga puluh menit diguncang oleh kereta, Haruya dan Sara akhirnya tiba di rumah keluarga Sara.


Sebuah kediaman bergaya Jepang berdiri di hadapan mereka, dengan gerbang megah yang menjulang gagah dan berwibawa. Penampilannya benar-benar kokoh dan berkesan kuat.


Saat Haruya masih terpaku, terkesima oleh tampilan luar rumah keluarga Sara, Sara justru melangkah lebih dulu menuju pintu masuk dan menekan bel interkom.


Tak lama kemudian, seseorang yang tampak seperti pelayan menyambut mereka dengan sopan, mengenakan kimono rapi.


“Sara-sama, sudah lama tidak bertemu…… selamat datang kembali.”


Setelah membungkuk hormat kepada Sara, orang itu mengernyitkan dahi dan menatap Haruya.


“……Ah, begitu rupanya.”


Setelah mengangguk seolah paham, ia menatap Haruya dengan senyum lembut.


(Eh, maksudnya apa…?)


Saat Haruya kebingungan, Sara berkata kepada orang yang tampak seperti pelayan itu.


“Hari ini kami datang karena ada keperluan dengan Ayah.”


“Saya mengerti…… kalau begitu, akan saya sampaikan agar Tuan bersiap.”


“……Tolong.”


Begitu Sara mengatakan itu, orang tersebut segera kembali masuk ke dalam rumah.


“……Tadi itu pelayan, ya?” 


“Iya, beliau adalah salah satu pelayan. Sudah bertahun-tahun bekerja di keluarga Himekawa.” 


Haruya masih tercengang mendengarnya, ketika tiba-tiba suara singkat terdengar dari interkom.


『Persiapan sudah selesai, silakan masuk.』


Itu suara pelayan tadi.


Sara dan Haruya saling bertatapan, lalu mengangguk satu sama lain.


“……Kalau begitu, mari kita masuk.”


“I-iya.”


Di sampingnya, Sara menarik napas dalam-dalam beberapa kali.


Dari sikapnya, jelas terlihat bahwa ia sangat tegang.


Begitu pintu dibuka dan mereka masuk, hal pertama yang membuat Haruya terkejut adalah luasnya rumah keluarga Sara.


(Ini sudah mirip penginapan saja…… main petak umpet juga pasti bisa dengan mudah.)


Sambil melirik ke sana kemari, Haruya mengikuti Sara, hingga tiba-tiba Sara berhenti di depan sebuah pintu geser besar.


“D-di sini……” kata Sara dengan suara yang terdengar tegang.


Haruya mengangguk pelan. Sara pun, dengan ragu-ragu, memanggil ke arah pintu geser itu.


“A-aku sudah pulang…… Ayah.”


“Sara, ya…… silakan masuk.”


Dari balik pintu terdengar suara penuh wibawa. Hanya dari suaranya saja sudah terasa tekanan yang kuat, membuat Haruya tanpa sadar menahan napas.


Sara membuka pintu geser perlahan dan masuk ke dalam sambil menunduk, menghindari kontak mata dengan ayahnya. Haruya menyusul masuk dan menutup pintu geser itu dengan hati-hati.

Seseorang yang jelas merupakan orang paling berkuasa di rumah ini duduk di tengah ruangan tatami dengan tangan terlipat.


Kalau boleh jujur, dari penampilannya saja sudah terlihat aura orang yang sangat berwibawa—seorang pria berwajah sangar, pikir Haruya dalam hati. Tatapan tajam ayah Sara pertama-tama tertuju pada Sara, lalu bergeser begitu saja ke arah Haruya. Sambil mengernyitkan dahi, ayah Sara bertanya,


“……Siapakah orang di sana itu?”


Meski cara bertanyanya sopan, wajahnya yang menyeramkan secara alami membuat Haruya tegang. Tanpa sadar wajah Haruya menegang dan napasnya tertahan.


Saat Sara hendak menjelaskan siapa Haruya, Haruya justru lebih dulu membuka mulut.


“Aku adalah teman Himekawa-san. Namaku Akasaki Haruya……”


Mata Sara membelalak, namun ayahnya hanya bergumam, “Begitu……” tanpa menunjukkan keterkejutan.


Dengan tatapan tetap tajam ke arah mereka berdua, ayah Sara melanjutkan pertanyaannya kepada Haruya.


“Kalau begitu, untuk urusan apa seorang teman Sara sampai repot-repot datang menemuiku?”


Tatapan seakan menembus segalanya diarahkan ke Haruya.


Haruya menegakkan punggungnya, lalu menghela napas kecil sebelum menjawab.


“Aku datang untuk membicarakan cerita Himekawa-san…… tidak, untuk membicarakan soal perjodohan.”


Begitu mendengar itu, ayah Sara menghela napas dalam sambil menekan keningnya.


“Kukira begitu…… Akasaki-kun, kau datang kemari karena memahami perasaan Sara, bukan? Namun ini adalah masalah keluarga Himekawa. Sama sekali tidak ada hubungannya denganmu. Jadi, aku minta kau pergi.”


Wajah ayah Sara mengeras, menatap Haruya dengan tajam.


Haruya hampir saja ciut, namun ia berpura-pura tenang dan menatap lurus ke arah mata lawannya.


“Ini bukan tidak ada hubungannya. Aku melihat sendiri bagaimana Himekawa-san menderita. Jadi, ini ada hubungannya.”


Mendengar jawaban itu, ayah Sara menghela napas kecil.


“Sebagai teman, wajar jika kau merasa khawatir. Namun, Akasaki-kun, menuntun anak ke jalan yang benar adalah tanggung jawab orang tua. Misalnya aku membatalkan perjodohan ini—lalu bagaimana? Siapa yang menjamin Sara tidak akan terjerat pria buruk? Apa Sara bisa membedakan pria baik dan buruk? Tidak. Ia pasti akan tertipu oleh orang dewasa yang licik. Namun jika pasangan itu kupilih sendiri, hal itu tidak akan terjadi. Aku hanya akan mempertemukannya dengan orang yang bisa dipercaya. Bisakah kau menjamin bahwa Sara—yang bahkan tidak mampu berpikir dan berbicara dengan baik—tidak akan terjebak pria buruk?”


Ucapan ayah Sara membuat Haruya terdiam sesaat.


Karena memang benar, Sara memiliki sisi yang sangat polos dalam hal cinta, dan Haruya sendiri mengetahuinya dengan baik. Jadi, penilaian ayahnya terasa masuk akal.


Saat Haruya terdiam, tiba-tiba ujung bajunya ditarik pelan.


“(Sudah…… tidak apa-apa. Mouu)” 


Bisik Sara sambil menggeleng kecil, dengan wajah pasrah.


Melihat ekspresi itu, ayah Sara melanjutkan,


“Itulah kenyataannya. Seorang anak yang tak bisa menyuarakan pendapatnya sendiri, tak bisa mengambil keputusan yang benar, dan sepenuhnya kehilangan daya tarik—itulah Sara. Menuntun anak ke jalan yang benar adalah kewajiban orang tua.”


Namun sebelum sadar, Haruya sudah menatap ayah Sara dengan pandangan tajam, seolah menegurnya.


“Oh? Apa maksud sikapmu itu, Akasaki-kun?”


“Tadi Anda bilang… bahwa dia sepenuhnya kehilangan daya tarik, bukan?”


“Ya. Dia hanyalah anak kecil yang tidak bisa membuat keputusan sendiri. Daya tarik? Tidak ada. Faktanya, aku hampir tidak pernah melihat Sara memiliki teman.”


Mendengar itu, Haruya tanpa ragu berdiri berseberangan dengan ayah Sara.


“Memang benar Himekawa-san punya sisi ceroboh dan kurang pengalaman. Aku paham kenapa Anda khawatir soal cinta. ……Tapi ucapan Anda barusan, aku sama sekali tidak bisa menerimanya.”


“……Apa katamu?”


Wajah ayah Sara sedikit berubah, menampilkan ekspresi curiga.


Menatap lurus tanpa gentar, Haruya menjawab dengan tegas,


“Anak tanpa daya tarik? Itu tidak masuk akal!”


Suara kerasnya bergema berat di dalam ruangan.


……Haruya sendiri tak tahu pasti kenapa. Tapi entah mengapa, mendengar Sara direndahkan seperti itu membuatnya sangat tidak nyaman.


Dengan tegas, Haruya melanjutkan.


“Himekawa-san itu orang yang sangat peka terhadap sekelilingnya dan tahu bagaimana bersikap penuh perhatian. Dia punya hati yang ingin memikirkan perasaan orang lain. Tapi meski begitu…… sebagai orang tua, Anda sama sekali tidak pantas mengatakan bahwa dia adalah anak yang kehilangan daya tarik!”


Mungkin tanpa disadari, ucapan Haruya itu juga dipengaruhi oleh latar belakang keluarganya sendiri.


Sara tertegun melihat Haruya yang jarang sekali berbicara dengan emosi sekuat itu, sementara ayahnya pun tampak tercengang.


Beberapa saat kemudian, ayah Sara berdeham sebelum akhirnya membuka mulut.


“Begitu…… rupanya Akasaki-kun benar-benar memikirkan Sara dari lubuk hatinya. Memang benar, perkataanku tadi—bahwa dia kehilangan daya tarik—adalah kesalahanku. Sara…… maafkan aku untuk itu.”


Dengan suara yang lembut, ayah Sara sedikit menundukkan kepala. Namun—


“──Meski begitu, kenyataannya Sara masih tetap anak yang tidak bisa menyuarakan pendapatnya sendiri. Itu fakta, bukan?”


“A-aku rasa itu tidak sepenuhnya benar……”


“Kalau begitu, mengapa selama ini Sara hampir tidak pernah berbicara? Lagipula, dari sudut pandangku, dia justru menyerahkan segalanya pada Akasaki-kun……”


“……!”


Haruya menyadari bahwa sekeras apa pun ia berbicara, selama Sara sendiri tidak mengungkapkan perasaannya—akan sangat sulit untuk meyakinkan ayahnya. Namun, ia tak bisa menyerah di sini.


Dengan pelan, Haruya meletakkan tangannya di punggung Sara, memilih untuk mempercayainya.


Sara terkejut, lalu menengadah dan menatap mata Haruya.


(……Tidak apa-apa. Kamu bisa.)


Tatapan hangat penuh kepercayaan itu Haruya arahkan padanya, sepenuhnya mempercayai Sara.


***


───Harus kukatakan, ──harus kukatakan.


Sara mengepalkan tinjunya erat-erat sambil terus mengatakan itu pada dirinya sendiri. Karena selama ini ia hampir tak pernah ikut campur atau membantah ayahnya, tubuhnya tanpa sadar menjadi kaku. Ia merasa tak akan mampu mengeluarkan suara dari mulutnya seperti yang ia inginkan. Ucapan ayahnya maupun ucapan Haruya sama sekali tak masuk ke telinganya.


Dalam sekejap, udara terasa berat dan menyesakkan, jantungnya berdetak dengan beban yang berat pula.


(────Aku tak bisa mengatakan apa yang ingin kukatakan)


Mana mungkin, batin Sara tercengang. Ia benar-benar dipaksa menyadari betapa lemahnya dirinya. Dalam perasaannya, waktu mengalir pelan… sangat pelan.


(……Sepertinya aku memang… tidak berguna)


Sejak awal, setiap kali berhadapan dengan ayahnya, dirinya selalu seperti ini.


Orang yang menyelamatkan Sara—yang kehilangan kedua orang tuanya dan tak punya tempat untuk pulang—tak lain adalah ayah angkat yang kini berdiri di hadapannya.


Sejak hari ia “dipungut”, Sara telah memutuskan untuk hidup demi keluarga Himekawa. Karena itu, seburuk apa pun perasaannya, Sara berusaha untuk selalu menuruti kata-kata ayahnya.


Memberontak? Itu tak pernah terpikirkan.


Tanpa pernah membantah, Sara tumbuh besar di keluarga Himekawa.


Sara takut dianggap tidak tahu berterima kasih pada keluarga Himekawa ini—keluarga yang telah memungut dan menyelamatkannya.


(───Sudahlah, lebih baik aku menyerah. Menyerah dan menerima perjodohan ini… tak ada pilihan lain)


Seperti sebelumnya, aku juga sudah bertahan dan melewati hal-hal yang tidak kusukai, pikir Sara sambil menghela napas, berusaha meyakinkan dirinya untuk menyerah.


──Namun. Tiba-tiba, ia teringat saat pertama kali bertemu dengan Haruya. Sejak hari itu, “dunia Sara” mulai dipenuhi warna. Perasaan yang tak pernah ia kenal, perasaan yang selama ini ia sembunyikan—meski ia berharap semua itu tak muncul ke permukaan, tetap saja meluap keluar.


Itu adalah perasaan jatuh cinta. Karena telah mengenal cinta yang terasa begitu takdiriah, rasa manis-asam dari sebuah asmara, Sara pun menderita dalam kepahitan.


(Aku ini milik keluarga Himekawa…)


Saat ia memejamkan mata dan menunduk, kata-kata Haruya tiba-tiba terlintas di benaknya.


『…Tapi itu bukan perasaanmu yang sebenarnya, kan?』

『Ayo kita hadapi bersama.』

『Bukan karena kamu putri keluarga Himekawa, tapi karena kamu adalah Himekawa-san—itulah yang menurutku luar biasa.』


Semua itu adalah kata-kata Haruya yang hangat sampai ke lubuk hati.


(───Ah, kamu ini… kenapa selalu semudah itu menghapus semua kegelisahanku……)


Padahal ia sudah berniat menyerah, namun suara itu tak mengizinkannya. Sara merasa ia harus menjawab suara Haruya itu. Sekarang ia tidak sendirian lagi. Haruya ada di sisinya.


Seolah menegaskan hal itu, sebuah tangan besar dan hangat diletakkan dengan lembut di punggungnya.


(……Tidak apa-apa, tidak apa-apa)


Seakan-akan ia sedang menyemangatinya. Dan tatapan Haruya yang lembut tertuju padanya.


Ia harus membalasnya, pikir Sara.


"…………Tidak mau."


Meski suaranya lemah, keberadaan Haruya membuat kata-kata itu keluar dengan sendirinya.


Menatap lurus mata ayah angkatnya tanpa mengalihkan pandangan, Sara melanjutkan. Begitu ia berhasil memecahkan cangkangnya, Sara tak lagi bisa berhenti.


"……Ayah, selama ini aku berpikir aku tidak boleh melawan apa pun yang Ayah katakan. Karena itu, aku selalu menuruti pendapat dan usulan Ayah tanpa pernah menolak. ……Tapi Ayah, maafkan aku. Padahal Ayah mengatakan ini demi kebahagiaanku, soal perjodohan itu…… Namun aku… aku───"


Ia berhenti sejenak, lalu mekar sebuah senyum yang jauh lebih memikat di wajahnya.


"───Sebenarnya, aku ingin menikmati cinta yang paling ditakdirkan… lebih dari siapa pun."


Senyum itu adalah senyum paling memikat dan paling manusiawi yang pernah Haruya lihat.


***


Menerima senyum menawan dan kata-kata Sara, ayah Sara pun tertegun. Haruya juga ikut membeku, namun tak lama kemudian ayah Sara perlahan melonggarkan sudut bibirnya. Raut wajahnya tenang, seolah-olah ia sebenarnya memang mengharapkan hal ini terjadi sejak awal.


"Begitu ya…… akhirnya kamu menyampaikan pendapatmu sendiri……"


Sambil menundukkan pandangan seakan memastikan sesuatu, ayah angkat Sara melanjutkan.


"Meski tahu akan ditolak…… meski tahu akan merepotkanku…… tetap saja kamu berani menyampaikan pendapatmu sendiri…… begitu ya."


Berkali-kali, ayah Sara mengangguk dengan ekspresi puas.


"……Kalau sampai sejauh itu, mau bagaimana lagi. Memperkenalkan Sara dalam keadaan seperti ini justru akan mencoreng nama baik keluarga Himekawa."


Dengan senyum lembut, ayah Sara menatap Sara dengan pandangan penuh kekaguman.


"Lakukan sesukamu, hiduplah dengan bebas. Jika memang itu yang Sara inginkan."


"I, iya!"


Mendengar ucapan ayah angkatnya, dada Sara berdebar kencang, namun ia menjawab dengan senyum yang merekah sepenuh wajah.


Nah, ketika tampaknya seluruh masalah kali ini telah terselesaikan dan tanda-tanda Haruya akan pulang ke rumahnya mulai terlihat—

perhatian ayah Sara kini justru beralih kepadanya.


"Akasaki-kun, sebelum pulang memang masih agak awal, tapi bagaimana kalau makan dulu di sini?"


"……Eh, ah tidak, sungguh tak enak rasanya."


"Tidak perlu sungkan. Kamu sampai datang ke sini naik kereta, bukan? Setidaknya kami harus menjamumu……"


Kemudian, Sara pun ikut memohon kepada Haruya.


"Aku juga mohon…… aku akan ikut membantu memasak."


Sulit menolak permintaan dari mereka berdua, Haruya pun berkata,


"Kalau begitu, aku terima dengan senang hati."


Dengan demikian, keluarga Himekawa dan Haruya pun akhirnya makan bersama.


***


Setelah Sara pergi bersama para pelayan untuk menyiapkan makanan, Haruya dan ayah Sara berdua menunggu sampai hidangan siap di sebuah ruang tatami yang luas.


Suasana canggung dan berat menguasai ruangan itu.


(Gawat… kalau kulihat baik-baik, orang ini memang wajahnya serem juga…)


Tadi Haruya sempat terbawa emosi dan menyampaikan pendapatnya dengan lantang kepada orang di hadapannya, namun sekarang setelah agak tenang, keringat dingin pun mengalir di dalam hatinya….


(Aku tadi sampai mengeluarkan suara yang hampir seperti teriakan… makin canggung saja jadinya)


Saat Haruya duduk dengan punggung refleks ditegakkan kaku, ayah Sara tiba-tiba melontarkan pertanyaan aneh kepadanya.


"Ngomong-ngomong, Akasaki-kun, apakah kamu menaruh perasaan pada Sara?"


Haruya hampir saja menyemburkan napasnya, namun ia menahannya. Lalu, sambil menatap mata lawan bicaranya, ia menjawab,


"……Teman, mungkin?"


Jawabannya berubah menjadi kalimat tanya karena Haruya sendiri tak menemukan kata yang mudah untuk menjelaskan hubungannya dengan Sara.


"……Begitu ya. Kalau sulit diucapkan, tak apa."


Ayah Sara berkata demikian sambil tetap memasang senyum lembut.

Barangkali ia menafsirkan ucapan Haruya sebagai rasa malu dalam konteks percintaan.


Haruya sempat memiringkan kepalanya dengan heran, namun ayah Sara melanjutkan,


"Kalau bisa, aku ingin kamu tetap berada di sisi Sara dan mendukungnya…… Aku belum pernah melihat senyum Sara seperti tadi."


"Begitu ya……"


"Ya. Pasti karena kamu ada di sana, Sara bisa berubah. Dan aku juga menyadari bahwa aku memang ayah yang tidak becus…… aku tak percaya bahwa saat itu Sara mampu menyampaikan pendapatnya sendiri."


Seolah menoleh ke masa lalu, dengan nada mengejek dirinya sendiri, ayah Sara berkata,


"Karena kami mengangkat Sara sebagai anak, mungkin tekadnya untuk hidup demi keluarga Himekawa jadi jauh lebih kuat dari orang lain. Itulah sebabnya selama ini ia memenuhi semua tuntutanku tanpa mengeluh atau membantah sedikit pun. Namun aku malah menilainya sebagai anak yang tak bisa menyatakan pendapatnya sendiri…… lalu berusaha memaksanya menjalani perjodohan agar ia tidak tertipu pria yang buruk…… padahal Sara telah tumbuh menjadi gadis yang luar biasa."


Tampaknya ia menyesali telah memperlakukan Sara seperti anak kecil.


"Meski begitu, aku rasa Himekawa-san pasti tidak akan menyalahkan Ayahnya. Aku beberapa kali mendengar cerita soal keluarganya dari Himekawa-san, dan tak satu pun yang berisi kata-kata menyalahkan Ayah."


(Meski kalau aku sih, mungkin sudah langsung memberontak)


Pikiran yang sama sekali tidak bisa dibanggakan itu terlintas di benak Haruya, namun—


"Tapi, aku yakin Anda masih bisa berubah mulai sekarang."


"Benar juga. Mulai sekarang, aku harus berubah."


Saat mereka saling bertatapan, ayah Sara menampilkan senyum yang lembut.


"Ngomong-ngomong, Akasaki-kun. Tadi, senyum Sara itu…… menurutmu tidak lucu?"


Melihat ekspresi ayah Sara yang tampak begitu senang saat bertanya demikian—


(Ah, sekarang orang ini sama sekali tidak kelihatan menakutkan. Cuma ayah yang sangat menyayangi putrinya saja.)


Bayangan awalnya pun runtuh, sampai Haruya hampir tertawa kecil.


Sebagai catatan tambahan, Haruya memang menganggap senyum Sara tadi sangat menawan. Namun karena merasa hal itu bisa berujung merepotkan, ia pun memilih mengelak dengan jawaban samar.


***


Setelah kira-kira satu jam berlalu, hidangan mulai tersaji di atas meja makan. Seakan tertarik oleh aroma yang menggugah selera, Haruya dan ayah angkat Sara pun berpindah dari ruang tatami yang luas ke meja makan.


Setelah semua masakan selesai dibuat, Sara duduk di kursinya tepat berhadapan dengan Haruya.


"Selamat makan"


Ucap Haruya sebagai salam sebelum makan, lalu ia mulai menyuapkan nasi ke mulutnya.


Ayah angkat Sara, para pelayan, Sara, dan Haruya—empat orang—mengelilingi meja makan. Sungguh kombinasi yang terasa agak aneh.


Semua hidangan yang tersaji adalah masakan khas Jepang, sangat serasi dengan suasana kediaman itu. Rasanya tentu saja kaya dan mendalam; setiap hidangan benar-benar memanjakan lidah. Di antara sekian banyak masakan, Haruya terutama merasa bahwa agedashi tofu-lah yang paling lezat.


Melihat reaksi Haruya terhadap makanan itu, ayah Sara tampaknya menyadarinya dan berkata,


"Agedashi tofu ini buatan tangan Sara. Dia sering membuatnya."


Dengan senyum lembut, ia menatap Haruya dengan saksama.


"Oh, begitu ya. Tapi agedashi tofu ini benar-benar enak sekali."


"Hehe… mau sekalian kami tanamkan ajaran keluarga Himekawa kepadamu, Akasaki-san?"


Kali ini, salah satu pelayan menatap Haruya dengan senyum yang entah kenapa terasa aneh.


Saat Haruya tersenyum kecut, ayah angkat Sara mengangguk pelan sambil berkata,


"Hmm, itu mungkin ide yang bagus…"


"Betul, Tuan."


Jawab pelayan itu sambil tersenyum lebar menatap tuannya, lalu kembali mengalihkan pandangan ke arah Haruya.


"E-eh, tidak… rasanya itu agak berlebihan…"


Saat Haruya melirik Sara yang duduk di seberangnya, gadis itu—


"…H-hey, apa-apaan sih yang kalian bicarakan!? Astaga…"


Wajahnya memerah padam, meski jelas ia tidak sepenuhnya keberatan. Melihat sikap Sara seperti itu, Haruya pun tanpa sadar menghela napas.


***


Lalu, setelah mereka selesai menikmati hidangan. Meski tampak enggan berpisah, karena keesokan harinya masih ada sekolah seperti biasa, Haruya pun memutuskan untuk pamit.


Sara juga tampaknya akan kembali ke apartemennya, karena jika menginap di rumah orang tuanya, ia harus bangun sangat pagi.


“Hari ini aku senang bisa benar-benar berbincang dengan Ayah. Kalau begitu, aku akan pulang bersama Akasaki-san…”


“Terima kasih banyak atas jamuannya. Makanannya sangat enak.”


Diantar oleh ayah Sara dan para pelayan, Sara dan Haruya pun mulai menapaki jalan pulang. Saat itulah—


“Kalian boleh pulang ke sini kapan saja. Tentu saja Sara, tapi Akasaki-kun juga, anggap saja seperti rumah sendiri.”


(Enggak, terima kasih. Cukup sekali saja.)


Itulah isi hati Haruya yang sebenarnya, namun tentu saja ia tak mungkin mengatakannya dan hanya mengangguk saja.


──Setelah itu, Haruya dan Sara pulang dengan menaiki kereta yang sama. 



Di dalam kereta, keduanya terdiam. Haruya dan Sara bersandar di dekat dinding gerbong. Mungkin karena jam pulang kerja, kereta saat ini jauh lebih padat dibanding saat berangkat, sehingga mereka tidak kebagian tempat duduk.


────Gatan, goton, gatan, goton.


Terombang-ambing oleh gerak kereta, baik Sara maupun Haruya sama-sama merasa kikuk. Alasannya sederhana: Haruya memposisikan tubuhnya sehingga Sara terdesak ke dinding, dengan tangannya bertumpu di sisi wajahnya.


“…………”

“…………”


Posisi itu sebenarnya dimaksudkan untuk berjaga-jaga dari pelecehan, demi melindungi Sara. Namun jarak mereka terlalu dekat, sampai-sampai Haruya tak sanggup menatap wajahnya secara langsung.


(…Ini benar-benar memalukan.)


Berkali-kali Haruya mengulang pikiran itu dalam benaknya. Sementara itu, Sara justru menatap Haruya dengan pandangan kosong namun terasa panas.


Duk, duk.


Ia menyadari dadanya terasa sesak sekaligus tubuhnya menghangat.


(Aku… dilindungi oleh Akasaki-san…)


Saat menyadari situasi itu sepenuhnya, senyum kekanak-kanakan tanpa sadar terbit di dalam hatinya.


(Ya ampun… seberapa besar sebenarnya rasa terima kasih yang harus kuberikan pada Akasaki-san…)


Mengingat semua yang telah terjadi, pipi Sara pun mengendur dalam senyum lembut.


(Aku harus menyampaikan rasa terima kasih ini…)


Namun, dengan kata-kata saja rasanya tak cukup untuk menyampaikan ketulusan. Sara pun terus memutar otak di dalam kereta, memikirkan bagaimana caranya mengungkapkan rasa terima kasih itu.


Di sisi lain, Haruya, karena rasa kikuknya—


(Kapan ya aku harus memastikan janji darinya untuk tidak membocorkan jati diriku…)


Ia pun mengulang tujuan aslinya di dalam benak, agar Sara tidak merasa aneh.


“Wah… keretanya padat sekali ya. Maaf, tadi posisiku jadi seperti itu terus.”


“……T-tidak apa-apa.”


Saat turun di stasiun terdekat, Haruya menyapa Sara.


“Kakimu tidak apa-apa? Kalau mau istirahat sebentar, aku tidak keberatan menemani.”


“Terima kasih atas perhatiannya… tapi aku baik-baik saja. Dan soal tadi, terima kasih sudah menolongku.”


“Barusan” tentu saja merujuk pada saat Haruya melindunginya dari kemungkinan pelecehan.


Sambil tersenyum lembut, Sara dalam hati bergumam, “……terima kasih atas suguhannya.”


“Ah, e-eh… kalau begitu kita pulang saja.”


“I-iya…!”


Menjawab dengan suara yang sedikit melengking, Sara menatap punggung Haruya yang berjalan di depannya. Panas yang bersemayam di dadanya ini, rasanya tak akan mudah mereda—akan hal itu, Sara yakin sepenuhnya.


“Ehm, Himekawa-san.”


Di jalan pulang dari stasiun, di sepanjang jalur tepi sungai, Haruya memberanikan diri memanggil Sara yang berjalan di sampingnya.


“Y-ya…?”


Sara refleks menegakkan punggungnya. Dengan wajah agak bersalah, Haruya merapatkan kedua tangannya, memohon.


“Himekawa-san, aku punya permintaan. Boleh?”


Tujuan yang selama ini Haruya simpan di dalam hati. Memikirkan bahwa akhirnya ia akan mencapainya, semangat Haruya pun naik.


(Masalah keluarganya sudah beres—itu berarti aku punya jasa besar. Kalau sekarang dia berjanji dengan kata-katanya sendiri untuk tidak membocorkan jati diriku, risiko ketahuan di kelas hampir nol.)


Dengan pikiran itu, Haruya pun bertanya—


“Apa pun akan aku dengarkan, silakan!”


Wajahnya masih memerah, namun Sara mendorongnya dengan penuh semangat.


Melihat itu, Haruya tersenyum kecut sambil berpikir, “Sampai segininya ya efek menjual budi…”, lalu berkata,


“Aku… di kelas itu, maksudku… aku tidak ingin menonjol. Jadi, bisakah kamu tidak membocorkan jati diriku?”


Begitu ia mengatakannya, mata Sara terbelalak dan ia terdiam membeku. Lalu dengan tatapan bingung—ia membuka mulut.


“Bukankah… sebelumnya juga sudah mengatakan hal yang sama…?”


“Iya, benar. Tapi… aku ingin kamu menegaskannya lagi sekarang.”


Sara sempat memiringkan kepalanya, namun kemudian mengangkat tangan sekali lagi, seolah bersumpah.


“……Baik. Aku mengerti. Aku bersumpah.”


“…Terima kasih.”


Haruya terkekeh kecil dalam hati.


Dengan sifat Sara yang begitu lurus dan patuh, ia yakin gadis itu hampir pasti tidak akan membocorkan jati dirinya.


“E-eh… m-maaf, Akasaki-san… ada debu di bahumu, bolehkah Kamu sedikit menunduk?”


Dengan wajah merah padam, Sara mengajukan permintaan itu.


Mungkin karena Haruya sedang diliputi kegembiraan karena tujuannya telah tercapai sepenuhnya, ia tidak menaruh curiga sedikit pun pada permintaan yang tiba-tiba dan janggal itu.


“Eh? Oh… iya.”


Saat ia menurunkan tubuhnya—seketika, ada sentuhan lembut yang menyentuh pipinya.


Haruya membeku, kepalanya kosong tak mengerti apa yang baru saja terjadi.


“…I-ini… sebagai ucapan terima kasih atas semua yang sudah kamu lakukan.”


Dengan wajah memerah, sambil berkata, “…k-kalau begitu,” Sara pun berlari pergi dengan langkah ringan.


Tertinggal sendirian di tempat itu, Haruya hanya bisa tertegun untuk beberapa saat.


Saat ia perlahan menyentuh pipi kanannya—tempat sentuhan lembut itu masih terasa—ia pun menundukkan kepala.


(A-apa… apa barusan itu sebenarnya…)


Menghadapi sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya… tanpa sadar wajah Haruya pun terasa panas. 


Alasan mengapa Sara lebih banyak diam di dalam kereta—bahkan sepanjang perjalanan pulang—sebenarnya ada di sekitar sini.


(…Ciuman penuh ketulusan di pipi ya… ah, tapi kenapa harus di momen itu!?)


Sepanjang perjalanan pulang, terutama di dalam kereta, Sara terus memikirkan hal itu.


***


Keesokan harinya.


Hari ini tak ada satu pun awan di langit—jernih sekaligus terang benderang, cuacanya sungguh cerah luar biasa.


Saat Haruya akhirnya tiba di sekolah dengan perasaan yang jauh lebih ringan dan duduk di bangkunya, percakapan para S-Class Beauty pun terdengar di telinganya.


“…Sarachi, hari ini kamu kelihatan semangat banget, kenapa!?”


“Iya ya, auranya beda banget dari biasanya…”


Dengan ekspresi cerah dan alami, Sara mengobrol bersama Rin dan Yuna. Wajahnya tampak segar, dan ekspresinya benar-benar bersinar. Melihat Sara seperti itu, Rin bertanya dengan nada setengah bercanda,


“Ah… jangan-jangan kamu sudah tahu rasa cinta?”


Biasanya, pada titik ini Sara akan menyangkal dengan lemah. Namun—


“Iya… aku jatuh cinta…”


Sara tersenyum—lebih menawan dari siapa pun. Yuna dan Rin tertegun, tapi kemudian Rin mendekat sambil berkata, “Detailnya.”


Beberapa murid lain pun menahan napas, diam-diam memperhatikan.


“Fufu… rahasia. Aku malu soalnya.”


Sambil berkata begitu, Sara mengedipkan mata ke arah Haruya yang sedang berpura-pura tidur di bangkunya.


“…………”


Haruya berkeringat dingin sambil berpura-pura tak tahu apa-apa, sementara sebagian murid membeku sejenak, lalu heboh melihat kedipan mata Sara.


“Eh, barusan… Himekawa-san ngedip ke aku, kan…?”


“Bukan, ke aku juga!”


“Kalian nggak paham, jelas-jelas ke aku dong!”


Entah kenapa para murid laki-laki saling bersaing dengan penuh percaya diri.


Di tengah itu, Kazamiya—murid laki-laki yang duduk di bangku belakang—menepuk bahu Haruya.


Haruya mengangkat tubuhnya yang terasa berat dan menoleh ke arahnya.


“Hm? Ada apa lagi?”


“Hei hei, Akasaki… menurutmu perubahan Himekawa-san gimana?”


“Mau gimana lagi… senyumnya sih memang menarik.”


“Dulu kelihatan murung banget, sekarang seperti bohong rasanya. Menurutku sih, laki-laki yang bikin Himekawa-san jatuh cinta itu pasti luar biasa.”


“L-luar biasa?”


Sambil menahan rasa kikuk, Haruya bertanya balik.


“Iya dong. Dari sudut pandangku aja kelihatan kok kalau Himekawa-san lagi galau soal masalah perjodohan. Laki-laki yang bisa menyelesaikan itu? Pasti bukan orang sembarangan.”


Menanggapi ucapan Kazamiya, Haruya menjawab dengan tatapan serius,


“Itu salah. Yang mengatasinya… adalah Himekawa-san sendiri.”


“…!”


Kazamiya menegang.


“Akasaki… kamu bisa bikin ekspresi kayak gitu juga ya…”


Ternyata sudut bibir Haruya tanpa sadar melengkung. Ia segera mengalihkan pandangan karena malu, namun Kazamiya tetap mendesaknya.


“…Eh, tapi kenapa kamu pasang ekspresi begitu…?”


“…Berisik. Itu cuma karena matamu aja yang kurang peka.”


“Eh—jahat kali!?”


Haruya mengibas-ngibaskan tangan dengan kesal ke arah Kazamiya yang bertingkah berlebihan.


──Dan tepat saat itu.


Percakapan para S-Class Beauty sampai ke telinga Haruya.


“—Hmm, tapi laki-laki yang bisa mengubah Sarachi sampai segininya tetap bikin penasaran ya!”


“Iya, aku juga jadi penasaran…”


“Benar! Yunarin, ayo kita urutkan pelan-pelan. Kalau nggak salah ciri-cirinya… dia nolongin dari laki-laki yang ngegoda—”


──Rin mulai membahas Haruya sambil mengulas kejadian-kejadian sebelumnya bersama Yuna.


(Tunggu tunggu… eh, ini ujung-ujungnya aku jadi bahan obrolan mereka, kan!?)


Kenapaaaa—


Haruya menjerit putus asa di dalam hati.


***


Aku tidak pernah menyangka, dalam hidupku… aku akan mengenal yang namanya “cinta”.


Sejak dulu, meski aku punya teman, anak-anak di sekitarku selalu membicarakan kisah cinta. Aku tidak pernah merasa iri, tapi tetap saja… aku merasa berbeda dari mereka, seolah hanya aku yang tertinggal sendirian, dan itu membuatku kesepian.


Sejak kecil aku diajari bahwa aku istimewa dan berbeda dari anak-anak lain. Saat aku tumbuh lebih besar, karena dibesarkan di keluarga yang berkecukupan, aku diberi lingkungan yang memungkinkan diriku untuk berusaha sebaik mungkin.


Hasilnya, dalam bidang akademik, olahraga, bela diri, dan musik, aku mencurahkan seluruh tenagaku—dan berhasil menorehkan prestasi yang membanggakan. Dalam proses itu tentu ada banyak hal berat, namun aku dipenuhi rasa syukur pada ayah angkatku.


Hidup demi keluarga Himekawa.


Itulah prinsip yang kupegang, hidup tanpa membangkang pada ayah angkatku. Namun, saat aku menjadi siswi SMA… titik balik itu datang begitu cepat. Yaitu—aku bertemu dengan Akasaki Haruya.


Karena pertemuan kami yang terasa seperti takdir, sejak saat itu tanpa kusadari aku mulai memikirkannya. Lalu, seiring aku semakin sering berinteraksi dengannya… perlahan aku menyadari perasaanku padanya. Namun, aku telah melupakan sesuatu. Atau lebih tepatnya, aku memilih untuk tidak memikirkannya dengan mudah. Bahwa aku adalah putri keluarga Himekawa. Dan bahwa aku adalah seseorang yang hidup demi keluarga Himekawa.


Mungkin hanya karena pertemuan yang terasa takdiriah itu perasaanku jadi bergejolak—hanya emosi sesaat. Kalau aku mencoba hal-hal yang mirip dengan cinta biasa, perasaan ini pasti akan mereda.

Aku meyakinkan diriku sendiri seperti itu.


──Iya. Ini yang terakhir.


Dengan pikiran itu, aku berniat mengucapkan perpisahan pada Akasaki-san. Namun, cerita justru berjalan ke arah yang mengkhianati harapanku. Akasaki-san bukan hanya memberiku kata-kata yang kuinginkan—dia bahkan menyelesaikan kegelisahanku.


(…Sejujurnya, aku kesal.)


Karena keberadaannya, aku sampai bisa mengutarakan pendapat pada ayah itu….namun, mau tak mau, perasaan “suka” padanya meluap di dalam diriku. Aku ingin, sebisa mungkin… terus mempertahankan hubunganku dengannya. Dan perasaan itu pun semakin membesar di dalam hatiku.


“Akasaki-san…”


Di kamar yang kosong, sambil berbaring di tempat tidur, Sara menyebut nama itu.


Seperti saat Haruya menolongku. Seperti saat Haruya menemukan diriku yang sebenarnya. Kali ini, akulah yang ingin menolong Haruya.


Yang terlintas di benakku adalah sosok Haruya di sekolah—bagian gelap yang ia sembunyikan.


“…Aku menyukai Akasaki-san.”


Sara membisikkan kata-kata itu ke bantal.


──Namun, ia tak punya keberanian untuk mengatakannya langsung pada Haruya. Di sisi lain, perasaan panas yang hampir meluap ini juga tak mungkin bisa terus ia pendam di dadanya.


(Kalau begitu… tidak apa-apa kan kalau aku menceritakan perasaanku pada Yuna-san dan Rin-san…?)


Di sekolah, Haruya selalu menelungkupkan wajahnya di meja, sehingga Sara tahu bahwa ia tidak akan mendengar ceritanya. Karena itulah, Sara bisa berbicara dengan Yuna dan Rin tanpa rasa sungkan.


Mungkin ini seperti pengakuan tidak langsung, namun membicarakan cinta membuat hatinya secara alami dipenuhi rasa berdebar.


──Suatu hari nanti, ketika masalah Haruya terselesaikan, dan tiba saatnya aku bisa menyampaikan perasaanku.


“Saat itu nanti, aku akan mengatakan ‘aku suka’ dengan jujur, sambil menatapnya langsung.”


Jadi, sampai saat itu tiba—di kelas, aku tidak akan menyebut nama Akasaki-san. Biarkan aku menikmati obrolan cinta bersama teman-temanku. Dengan wajah merah padam, namun senyum yang begitu cerah, Sara pun tersenyum.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close