Chapter 3
Mesum Bernasib Sial ~Unlucky Pervert~
1
"Haaai
semuanya, kita sudah sampai di penginapan~!"
Bus berhenti
tepat di depan penginapan, dibarengi suara Michiru-san yang menggema saking
berisiknya. Aku... apa aku juga pernah ke sini?
Pada akhirnya,
ingatan tentang gadis yang hampir muncul di pantai tadi tidak kunjung kembali
lebih jauh dari itu. Jadwal perjalanan masih tersisa dua hari.
Kuharap dalam
prosesnya nanti aku bisa mengingat sesuatu... Selain itu, aku juga harus
memikirkan misi.
Di email saat di
laut tadi, targetnya sudah ditentukan secara spesifik harus
"perempuan", yang membuat pencapaian misi ini terasa makin jauh
saja... Duh, jadi
berat begini ya.
"Waaa,
besaaar banget!"
"Luar
biasa!"
"...Memang,
penginapan ini lumayan juga."
Suara mereka
bertiga menarikku kembali ke realitas. Sesuai reaksi mereka, penginapan ini
memiliki arsitektur yang sangat megah dan berwibawa, sampai-sampai aku merasa
agak sungkan bisa menginap di sini secara cuma-cuma.
Menurut
pamfletnya, pemandian air panas terbuka (rotenburo) adalah salah satu
daya tarik utamanya.
Berlama-lama
memikirkannya juga tidak akan menyelesaikan masalah... Lebih baik aku berendam
saja untuk ganti suasana.
◆◇◆
Saat menaruh
barang di kamar dan dalam perjalanan menuju pemandian,
"Oh, Amakusa-chaaan~"
Michiru-san muncul. Gaya bicaranya barusan mirip kemunculan
monster di game RPG, tapi untuk orang ini, kurasa sebutan itu tidak salah-salah
amat... Kalau bisa sih, aku tidak ingin melakukan encounter dengannya.
"Sini, sini
sebentar, Anak Muda."
Michiru-san
melambai padaku dengan senyum yang agak mencurigakan.
"Aku punya
informasi menarik, nih."
"Menarik?"
"Iya, iya... Ssh, tidak ada orang kan?"
Michiru-san mulai celingak-celinguk ke sekeliling. Apa ini
rahasia yang tidak boleh didengar orang lain?
"Ibu pemilik penginapan di sini... katanya belakangan
ini pendengarannya agak berkurang."
"Nggak
penting banget, woi!"
Bukannya
informasi menarik, itu cuma informasi tentang telinga (mimi)!
"Ahaha,
bercanda, bercanda. Ini benar-benar info menarik, kok."
Michiru-san
sengaja menjeda kalimatnya agar terdengar dramatis, lalu berbisik.
"Sebenarnya
di sini... tidak ada pemandian campur (konyoku)."
"...Terus?"
Situasinya
benar-benar membuatku ingin bilang "Terus hubungannya sama aku apa?".
"Yah,
soalnya kalau Amakusa-chan berharap 'Wah, kalau onsen pasti ada pemandian
campurnya nih, hehehe...' terus ternyata tidak ada, kan kasihan kalau kena
syok. Jadi mending kuberitahu duluan~"
"Memangnya
kamu pikir aku ini orang macam apa, sih?!"
"Gumpalan
nafsu."
"Kejam
banget!"
"Tapi, tapi,
bukan cuma Amakusa-chan saja, kan? Bukannya semua anak cowok SMA memang
begitu?"
"Enggak, itu
namanya generalisasi yang berlebihan..."
"Isi kepala
cowok SMA itu cuma ada telanjang perempuan sama adegan mandinya Yumi Kaoru,
kan?" (T/N: Aktris Jepang yang terkenal dengan adegan mandinya yang
ikonik dalam drama Mito Komon.)
"Referensi
jadulmu itu nggak nahan!"
Capek... Ngeladenin orang ini benar-benar bikin capek.
"Ya pokoknya, karena di sini bukan pemandian campur,
berarti kalau mau melihat perempuan telanjang, pilihannya cuma mengintip,
kan?"
Orang ini ngomong apa, sih...
"Nah, karena itu, aku berikan ini untuk
Amakusa-chan~"
Yang dikeluarkan Michiru-san dari balik pakaiannya adalah—
"I-Ini kan..."
"10 Metode Mengintip Pemandian Perempuan ~Dengan Ini
Kamu Akan Menjadi Raja Mesum~"
...Kenapa sampai di tempat wisata pun benda semacam ini
harus muncul?
"Eh?
Kenapa?"
"Enggak,
bukan apa-apa..."
Melihat sifat
orang ini, biarpun aku menolak, dia pasti akan memaksaku membacanya. Sambil
menghela napas, seperti biasa, aku langsung membaca halaman ringkasan poin-poin
utamanya.
《①
Nob*ta-san Mesum!》
Langsung begini, ya... Meski adegan ini sudah jadi rahasia
umum seluruh rakyat, tapi ini sama sekali bukan metode mengintip.
[Penjelasan:
Sebenarnya, aku cuma pengen menulis kalimat ini saja, tapi sisa sembilannya
lagi gimana ya?]
Mana GUA tahu
KAMPRET! Ini mah namanya garing di awal!
《② Mengintip dengan Terang-terangan》
Nggak, nggak, nggak... Ngomong apa sih, yang ada malah
ditangkap polisi!
[Penjelasan:
Kalau ketahuan, bilang saja, 'Kamu kan juga sudah lihat "pusaka"-ku,
jadi kita impas!']
Jadi kamu
ngintipnya sambil telanjang bulat, hah?!
《③ Memanjat Dinding Pemandian Laki-laki untuk Mengintip》
Ah, ini
gaya klasik yang sering ada di manga. Terus ketahuan sama ceweknya, lalu
dilempar ember kayu. Benar-benar klise.
[Penjelasan:
Kalau mau mencoba ini, hati-hati dengan bagian belakangmu, jangan sampai
"digali".]
Kenapa harus ada
asumsi ada homo di belakang, sih?!
《④ Mengintip dengan Berpura-pura Tidak Sengaja》
Bisa
dibilang, ini usaha sengaja untuk memicu kejadian Lucky Sukebe.
[Penjelasan:
'Ma-Ma-Maaf! Aku tidak menyangka kalau kamu yang perempuan bakal masuk ke
pemandian perempuan! Aku tidak sengaja!']
Itu
namanya sengaja banget, woi!
《⑤ Mengintip Menggunakan Obat Menjadi Manusia Transparan》
Makin ngawur saja... Kalau sudah pakai cara begini, semua
juga bisa dilakukan.
[Penjelasan: Tapi, obat ini tidak bisa menghilangkan bulu
kemaluan, jadi bakal jadi masalah besar.]
SIAPA JUGA YANG
MAU PAKAI!
《⑥ Mengintip Menggunakan Obat Menjadi Manusia Transparan (Ver. Modifikasi)》
Kuharap bulu
kemaluannya benar-benar hilang kali ini...
[Penjelasan:
Tapi, obat ini HANYA bisa menghilangkan bulu kemaluan saja, jadi bakal jadi
masalah besar.]
Itu namanya cuma
orang yang baru cukuran, tahu!
《⑦ Mengintip Menggunakan Obat Menjadi Manusia Transparan (Ver. Sejati)》
Pakai ada (Modifikasi) lah, (Sejati) lah, benar-benar tidak
paham lagi...
[Penjelasan:
Kalau pakai obat ini, kamu bakal jadi penderita Phimosis (kulup tidak
bisa ditarik).]
NGGAK ADA
HUBUNGANNYA SAMA JADI TRANSPARAN, WOI!
《⑧ Mengintip Menggunakan Obat Menjadi Manusia Transparan (Ver. Mandiri)》
Mandiri maksudnya apa?
[Penjelasan: Pakai obat ini bukan tubuhmu yang hilang,
tapi keberadaanmu yang tidak dianggap, alias jadi jomblo ngenes.]
SUDAH KUBILANG SIAPA YANG MAU PAKAI!
[Catatan: Eh, kamu kan tidak butuh obat ini lagi ya,
sudah otomatis.]
MAU NGAJAK RIBUT LU, HAH?!
《⑨ Mengintip
Menggunakan Obat Menjadi Manusia Transparan (Ver. Final)》
Akhirnya yang terakhir...
[Penjelasan: Yang satu ini bisa menghilangkan seluruh
tubuh secara sempurna.]
Oh, sesuai namanya yang "Final", hebat juga.
[Catatan:
Tapi, ada kelemahan soal "pusaka"-mu. Obat ini hanya bisa
menghilangkan barangmu saat kondisi rileks, jadi begitu dia menegang, bagian
itu akan berhenti jadi transparan.]
NGGAK ADA
GUNANYA, WOI!
《⑩ Sun*o-san Mesum!》
Balik
lagi ke lelucon yang sama dengan yang pertama... Tapi kenapa harus Sun*o?
[Oleh:
Gi*nt] (T/N:refrensi doraemon)
BERHENTI WOIIIIII!
"Gimana?"
"Enggak, sama sekali tidak berguna... Lagipula aku
tidak ada niat untuk mengintip, kok."
Dengan perasaan
muak, aku mengembalikan bukunya pada Michiru-san.
"Ehh,
kenapa? Amakusa-chan tidak tertarik sama tubuh telanjang perempuan?"
"Yah,
bukan berarti tidak tertarik sama sekali, tapi itu masalah yang berbeda,
kan."
"Jadi
maksudmu, Amakusa-chan itu homo?"
"Dengerin
dulu kalau orang ngomong!"
"Lebih suka
perempuan, kan?"
"Ya
iyalah!"
"Iya juga
ya~"
Lalu Michiru-san
memasang wajah yang penuh arti.
"Ya
sudahlah, ngomong-ngomong pemandian terbuka di sini rasanya enak banget, jadi
cepatlah sana masuk."
"Yah...
memang dari tadi niatku begitu."
Kalau
Michiru-san tidak menggangguku tadi, aku pasti sudah berendam dari tadi.
"Begitu
ya, begitu ya. Kalau begitu, selamat menikmati ya~... mufufu."
Dia
memasang senyum yang mencurigakan lagi.
"Dah-dah~
bye-bye!"
Michiru-san
melambaikan tangannya dengan santai dan pergi begitu saja.
"Benar-benar...
ada apa sih dengan orang itu?"
Wajahnya
tadi terlihat seperti sedang merencanakan sesuatu yang tidak beres... Apa itu cuma perasaanku saja?
2
Aku tiba di depan
pemandian, lalu melewati tirai noren bertuliskan "Pemandian
Laki-laki". Mungkin karena masih sore, sepertinya belum ada pengunjung
lain di dalam. Setelah membersihkan diri di ruang pancuran, aku membuka pintu
menuju area luar.
"Ooh..."
Sesuai dengan apa
yang mereka banggakan, ini benar-benar pemandian terbuka (rotenburo)
yang luar biasa. Pemandangan kota yang membentang di bawah sana juga sangat
spektakuler. Aku segera menenggelamkan tubuhku ke dalam kolam air panas.
"Haaa~"
Suara seperti
bapak-bapak keluar dari mulutku tanpa sadar. Duh, ini benar-benar nikmat. Rasanya ingin
sekali bersenandung. Inilah yang namanya kenikmatan tiada du—
"————"
Tiba-tiba,
aku mendengar suara sayup-sayup orang bicara. Sepertinya ada yang baru masuk.
Mungkin salah satu peserta tur bus. Yah, rasanya sayang kalau menikmati
pemandangan sebagus ini sendirian, mungkin aku bisa mengobrol se—
"Waaah,
luas banget!"
"Luar
biasa!"
"...Sudah
kubilang tadi, kalian berdua jangan terlalu heboh."
"............ Eh?"
...Kok rasanya barusan aku mendengar suara yang... sangat
familiar, ya?
"Eeeh, Furanocchi sendiri bawa pistol air, kan?"
"I-Itu
kan..."
"Kalau
seluas ini, sepertinya aman kalau kita bermain air!"
.........................
KENAPA?!
Tidak salah lagi.
Ini pasti suara Chocolat, Ouka, dan Furano. Aneh... benar-benar aneh. Aku yakin
sekali tadi melewati tirai bertuliskan "Pemandian Laki-laki". Saat
itulah, senyum mencurigakan Michiru-san tadi terlintas di pikiranku.
'Begitu ya,
begitu ya. Kalau begitu, selamat menikmati ya~... mufufu.'
Jangan-jangan...
jangan-jangan orang itu... menukar tirainya?! Kalau memang begitu, berarti tempatku berada
sekarang adalah............ Pemandian Perempuan? Seketika wajahku pucat pasi.
Ga-gawat, ini gawat banget!
"Eh, apa ada
orang lain di sini?"
Ouka yang
sepertinya menyadari keberadaanku mulai bertanya-tanya.
"Ti-Tidak ada siapa-siapa... Eh, ngomong apa sih
aku!"
"...Aku?"
WADUH! Malah
keceplosan pakai suara asliku!!
"Rasanya...
aku pernah dengar suara itu, deh."
GA-GAWAT!
"...Jangan-jangan... Kanade-chi?"
Sambil
mencipratkan air, Ouka mulai mendekat ke arahku. Te-te-te-tenang! Jangan panik!
Masih ada waktu. Kita kuat. Tanizawa sama sekali belum berkembang! [T/N:
Referensi Slam Dunk]. Saking kacau kepalaku, berbagai pikiran aneh mulai
berputar. Sementara itu, Ouka terus mendekat. Gawat, ini benar-benar gawat!
Kalau tidak melakukan sesuatu, aku bakal jadi penjahat kelamin—
PILIH:
① Berubah jadi perempuan demi
melewati situasi ini (Kembali normal dalam 30 menit)
② Berubah jadi banci demi melewati
situasi ini (Sepertinya kembali normal dalam 30 menit)
③ Berubah jadi air panas itu
sendiri demi melewati situasi ini (Mungkin kembali normal dalam 30 menit)
A... pa-apaan ini. Dia sedang ngeledek ya... Pasti sedang
ngeledek, kan?!
"Guuugh!"
Sakit kepala hebat langsung menyerangku.
"Hmmmm...
benar kan, itu suara Kanade-chi."
Ouka makin dekat.
Wa-Waktunya sudah habis! Dengan perasaan berat, aku memilih nomor ①.
Sesaat kemudian... tubuhku berubah menjadi tubuh seorang gadis.
"..."
Aku
menyentuh rambutku yang sekarang sebahu. Menyentuh kulitku yang luar biasa halus. Menyentuh "gunung
kembar" yang sangat menonjol.
"............"
Menjijikkan... Sensasinya terasa enak tapi ini
menjijikkan... Uuuh. Tidak apa-apa. Ini baru ketiga kalinya aku berubah jadi
perempuan seumur hidupku. Manusia kalau hidup pasti sesekali bakal... NGGAK
PERNAH, WOI!
"Eh? Ternyata seorang gadis."
"Hiiik!"
Mendengar suara Ouka, aku memejamkan mata tepat pada
waktunya.
Ba-bahaya... Biarpun aku berubah jadi perempuan, bukan
berarti aku boleh melihat tubuh polos Ouka dan yang lainnya.
Aku harus segera
menuju pintu keluar dalam keadaan mata terpejam begini.
"Hei, hei,
tadi apa ada laki-laki di sini?"
"Ti-Tidak... Aku... maksudku, cuma sa-saya sendiri yang
a-ada di sini."
"Aneh, ya."
"Mungkin itu cuma salah dengar saja, Yuouji-san."
Suara Furano
mendekat.
"Amakusa-kun
mana mungkin punya nyali sebesar itu."
"Iya sih, Kanade-chi
nggak mungkin melakukan hal seperti itu... tapi aku yakin tadi dengar
suara?"
"Paling-paling
dia sekarang sedang di kamar menonton kanal berbayar sambil 'tegang
maksimal'."
"JANGAN
SEMBARANGAN MENILAI ORANG!"
""Eh?""
Furano dan Ouka berseru heran secara bersamaan. S-Sial!
Tanpa sadar aku malah refleks membalas omongannya!
"M-Maksud
saya bukan apa-apa, ohohoho...!"
"".........""
Gawat... aku bisa
merasakan atmosfir kecurigaan yang sangat kental dari mereka.
"Ngomong-ngomong...
kenapa kamu terus memejamkan mata?"
Pertanyaan yang sangat wajar.
"Uuh... a-anu... itu..."
Aku berusaha
mencari alasan mati-matian, tapi tidak ada yang muncul. Akhirnya, otakku yang
terdesak mengeluarkan kesimpulan—
"Malam
ini... aku hanya ingin merasakan kedalaman jurang dunia dalam pelukan kegelapan
abadi."
"...Begitu
ya... Jadi kamu sedang sakit (jiwa) ya."
"Ooh,
kedengarannya keren!"
Sepertinya Ouka
tidak mengerti, tapi pilihanku cuma bertahan dengan karakter chuunibyou
ini. Lalu, suara Chocolat yang polos ikut menimpung.
"Eh?"
Du-duh,
perasaanku nggak enak...
"Ah,
Kana—"
"KYAAAAA!
UWAAAAA! WAAAA! GYAAAA!"
Aku berteriak
sekencang mungkin untuk menenggelamkan perkataannya.
"".........""
Ga-gawat... Ouka dan Furano makin curiga padaku.
"A-Ahahaha... S-SUPER WAGYAN LAND! WAAAA! GYAAAA!"
...Aku sendiri merasa cara pengalihan isuku barusan
benar-benar tidak masuk akal.
"".........""
Setelah
hening sejenak, Furano angkat bicara.
"Kamu
ini... orang yang cukup menyedihkan ya."
DEG...
Serangan mental yang luar biasa. Kalau Furano sampai bilang begitu... artinya
aku sudah tamat sebagai manusia.
"...Entah
kenapa, aku merasakan aura kalau kamu sedang memikirkan hal yang sangat kurang
ajar."
Furano menatapku
dengan mata sinis (aku bisa merasakannya dari atmosfer sekitar).
"Eh?"
Lalu, terdengar
suara heran Ouka dari samping.
"Eh? Kamu...
kayaknya aku pernah lihat kamu di mana gitu..."
GA-GAWAT!
Ka-Kalau
dipikir-pikir, waktu di Aqua Galaxy dulu, aku pernah berurusan dengan Ouka yang
sedang jadi bayi saat aku sedang dalam wujud perempuan.
Harusnya ingatan
itu tidak ada pada Ouka... tapi melihatku dari jarak sedekat ini mungkin memicu
ingatannya kembali.
"M-Mungkin
cuma perasaan Anda saja..."
"Benarkah?
Padahal aku biasanya tidak pernah lupa wajah orang yang sudah kulihat
sekali."
"A-Anu... Saya... sepertinya sudah mulai pusing karena
terlalu lama berendam, jadi saya permisi dulu..."
Saat aku memutar
tubuh dan hendak menuju pintu keluar,
"Kyaa!"
Dadaku menabrak
tubuh seseorang, membuatku sempoyongan.
"...Kamu."
Entah kenapa,
terdengar suara yang sangat dingin. Gawat... yang kutabrak barusan itu Furano
ya.
"A-Ah,
ma-maafkan sa—"
"Kamu...
punya 'gunung kembar' yang sangat kurang ajar ya."
"Hah?"
"Eh?
Tu-tunggu..."
Detik
berikutnya, tangan Furano sudah mencengkeram dadaku.
"He-hentikan...
ah..."
Tanpa ragu
sedikit pun, Furano meremas dadaku.
"Lagipula sensitivitasnya bagus... Benar-benar gunung
kembar yang kurang ajar."
"He-hentikan..."
Meski aku bisa
merasakan kebencian yang kuat melalui kulitku, tapi cara dia memegangnya sangat
lembut... Aduh, rasanya enak.
"Ah,
kelihatannya seru! Aku juga mau ikutan!"
"Eh,
tu-tunggu..."
Sekarang Ouka
mulai meremas sisi yang satunya.
"Mufufu... nih, nih!"
"A... ha... nnh..."
Berbeda
dengan cara meremas Furano yang teknikal, Ouka memegangnya dengan sangat kasar.
"A... ugh... jangan terlalu keras..."
Tapi,
anehnya itu tidak terasa tidak enak. Bisa dibilang seperti sedang diremas oleh
anak kecil... sebuah sensasi yang sangat aneh menyerangku.
"Ahaha,
reaksinya lucu banget!"
Jangan-jangan...
inikah yang namanya insting keibuan? EH, MIKIR APA SIH AKU?!
Ga-gawat! Kalau
diteruskan, aku bakal melangkah ke area di mana aku tidak akan bisa kembali
lagi sebagai laki-laki!
"He-hentikan!"
Aku meronta-ronta
sambil menggerakkan tanganku untuk menjauhkan mereka berdua, tapi—
Fyon. Petan.
Telapak tangan
kiri dan kananku merasakan sensasi yang berbeda. I-ini kan...
"Oyo?"
"...Ara."
Tanpa salah
lagi... itu adalah oppai mereka.
"MA-MA-MA-MA-MAAFFKAN
SAAAAAYAAAAA!"
Sambil tetap
memejamkan mata, aku langsung menenggelamkan seluruh tubuhku ke dalam air dalam
posisi bersujud (dogeza). Me-meskipun itu karena faktor
ketidaksengajaan, aku sudah melakukan hal yang luar biasa fatal.
"Hm? Kenapa
kamu minta maaf segitunya?"
"...Benar
juga. Dadamu yang besar itu memang sebuah dosa, tapi tidak perlu sampai
bersujud begitu, kok."
Ouka dan
Furano terdengar sangat bingung dengan tingkahku.
"I-Iya sih,
tapi itu—UWOH?!"
Tiba-tiba aku
merasa tubuhku terangkat.
"Hup...
sret..."
...Chocolat?
Entah kenapa, tiba-tiba Chocolat menggendongku di punggungnya.
"Chocolat-chi,
ada apa?"
"...Orang
ini sudah pusing karena kepanasan, jadi aku akan membawanya keluar
sebentar."
"Benar juga,
wajahnya sudah merah padam... Apa kita terlalu berlebihan mengerjainya
ya?"
Sambil membelah
air, Chocolat membawaku menuju pintu keluar.
"Ha-haaaa... Selamat."
Sambil
digendong oleh Chocolat, aku menghela napas lega.
"Te-Terima
kasih ya, Chocolat. Tapi kalau bisa, harusnya kamu menolongku sedikit lebih
cepat tadi."
"... Oppai tidak boleh."
"Hah?"
"Awalnya, saat melihat Kanade-san diremas dadanya oleh
Furano-san dan Ouka-san, aku sedang asyik berfantasi. Aku membayangkan jenis
kelaminmu dibalik, lalu Kanade-san menjadi mainan Natsuhiko-san yang
mempermainkan putingmu dengan liar."
"KAMU LAGI
NGAPAIN, WOI?!"
"Tapi...
tidak boleh."
"Apa yang
tidak boleh?"
"Kanade-san
meremas dada Ouka-san dan Furano-san... itu tidak boleh."
"Me-Meremas
katamu... itu kan kecelakaan, aku cuma menyentuh sedikit saja dan—"
"Tetap saja
tidak boleh."
Chocolat
menggembungkan pipinya, mengeluarkan suara merajuk.
"Kalau mau
meremas, silakan ke dadaku saja."
"BUFF! ...A-Apa yang kamu katakan, hah?!"
"Yang boleh Kanade-san remas hanyalah dadaku, dan yang
boleh meremas dada Kanade-san hanyalah Natsuhiko-san."
"SEBENARNYA APA MAUMU, HAH?!"
"...Tadi aku cuma bercanda sedikit, tapi aku
serius."
Tiba-tiba, tangan Chocolat yang menggendongku memberikan
pelukan yang lebih erat.
"Chocolat?"
"Aku...
meskipun tahu ini tidak boleh, aku tetap saja merasa cemburu... Karena
bagaimanapun juga... aku sangat mencintai Kanade-san..."
"Chocolat..."
Melalui kontak
kulit kami, aku bisa merasakan betapa kuatnya perasaan itu tersampaikan.
Tapi... tapi tetap saja untuk saat ini, aku tidak bisa membalas perasaan
tersebut.
3
"A-Aku
pikir aku bakal mati..."
Setelah
entah bagaimana berhasil meloloskan diri dari pemandian perempuan, aku keluar
dari ruang ganti dengan kondisi lemas tak berdaya.
Entah
kenapa, yukata yang kulepas tadi sudah berubah menjadi pakaian perempuan, jadi
penampilanku sekarang adalah memakai rok super mini... Rasanya ingin menangis.
Aku
segera mengendap-endap menuju toilet pria agar tidak terlihat orang lain. Aku
menunggu di dalam bilik selama beberapa menit.
"Ugh..."
Tiba-tiba
kesadaranku menjauh sesaat, dan—
"Su-Sudah...
kembali."
Tubuhku
sudah berhasil kembali menjadi laki-laki dengan selamat. Aku keluar dari bilik
dan memastikan penampilanku di cermin. Pakaianku pun sudah kembali ke yukata
semula yang kukenakan.
"Ha-Haaaaaaaaa..."
Helaan napas yang
bercampur antara rasa lega dan kelelahan pun lolos.
"Kenapa aku
harus mengalami nasib sial seperti ini..."
Dengan perasaan
dongkol, aku keluar dari toilet.
"Ah,
Amakusa-chan, yuhuu~"
Biang keroknya
muncul tepat di depan mataku.
"Jangan
'yuhuu' padaku! Apa yang ada di pikiranmu, hah?!"
"Memikirkan
bos mana yang paling keren di setiap part JoJo."
"NGGAK PENTING BANGET! ...Eh, tunggu, itu sebenarnya
lumayan penting sih."
Aku juga pernah
memikirkannya beberapa kali.
"Kan, kan?
Semuanya punya nilai plus minus sendiri-sendiri, sampai-sampai memikirkannya
saja membuatku tidak bisa tidur malam—"
Mungkin setelah
ini akan muncul nama-nama spesifik, jadi bagi yang belum baca dan tidak mau
kena spoiler, lebih baik jangan dengar... Eh, aku ngomong sama siapa
sih.
"Yah, memang
semuanya punya daya tarik masing-masing, sih."
"Benar
banget, kan~"
Michiru-san
mengangguk puas dan mulai menghitung dengan jarinya.
"Dio, Kars,
DIO, Kira, Diavolo, Pendeta Pucci, lalu Obama."
"KOK
ADA YANG BEDA SENDIRI DI AKHIR?!"
"Yah,
soal masalah ini sepertinya butuh waktu lebih lama untuk merenungkannya."
Lalu, Michiru-san
menyeringai tipis.
"Jadi,
Amakusa-chan hanya memikirkan tentang dadanya Ouji-chan dan yang lainnya,
ya."
"Aku nggak
ngeremas, tahu! ...Hah?!"
"Kamu
meremasnya?"
Sudut bibir
Michiru-san terangkat naik.
"Hooo... Hooo
hooo hooo... Bukankah ini yang biasa disebut dengan 'bunuh diri'?"
"Ugh..."
Sial, ceroboh sekali aku. Tanpa sadar aku malah keceplosan
hal yang tidak perlu.
"Wah, Amakusa-chan ternyata berani juga ya~ Padahal
kupikir kamu cuma sanggup sampai level melihat saja, ternyata malah lanjut
sampai pai-touch segala."
"Ti-Tidak,
yang tadi itu salah bicara, aku tidak benar-benar menyentuh—"
"Jadi,
punya siapa yang rasanya paling enak?"
"Kenapa jadi
kayak aku mengisapnya, sih?!"
"Nyahaha,
bercanda, bercanda."
"Ugh...
Lagipula, aku sedang marah sekarang! Michiru-san, kenapa kamu melakukan hal
konyol seperti tadi!"
"Habisnya
aku gemas."
"Hah?"
"Soalnya,
padahal sudah sejelas itu, tapi Amakusa-chan sama sekali tidak
menyadarinya."
"Jelas? Bicara soal apa sih?"
"Uwah, uwah. Kasihan sekali. Ketiganya kasihan sekali. Uwah. Uwah."
"Makanya,
maksudmu kasihan itu kenapa?"
Michiru-san
menghela napas panjang dengan gaya yang berlebihan, seolah merasa lelah
menghadapiku.
"Peka, kamu
terlalu tidak peka, Amakusa-chan. Ada apa denganmu? Padahal saat dengan 'gadis
itu' tiga tahun lalu—"
"Gadis
itu?"
"...Ah."
Michiru-san
langsung memasang wajah "gawat" dan menutup mulutnya dengan tangan.
"Siapa gadis
yang kamu maksud?"
Pasti itu adalah
gadis yang terlintas di ingatanku saat di laut tadi.
"N-Nggak
tahuuu~"
...Matanya
jelas-jelas melirik ke sana kemari menghindari tatapanku.
"Michiru-san, beri tahu aku soal gadis itu!"
Aku spontan mencengkeram kedua bahu Michiru-san dengan kuat.
"Kumohon, Michiru-san."
Aku melangkah maju satu langkah, mendesaknya.
"A-Amakusa-chan,
sakit tahu..."
"Ah...
ma-maaf."
Sepertinya aku
terlalu bersemangat sampai tenagaku berlebihan. Aku melepaskan tangan dari
bahunya.
"Karena ini
pertama kalinya buatku... tolong lembutlah padaku."
"KAMU
NGOMONG APA SIH?!"
"Tidak
apa-apa, Amakusa-chan. Sekecil apa pun milikmu, aku tidak akan keberatan."
"MAKANYA
LAGI NGOMONGIN APA SIH?!"
"Tidak
apa-apa, meskipun selesai dalam sepuluh detik, aku tidak akan keberatan."
"TIDAK
SECEPAT ITU JUGA KALI!"
Ugh...
"Michiru-san... aku sedang bertanya dengan
serius."
"Ara ara, maaf, maaf. Kalau begitu, aku juga akan
memberikan jawaban serius (maziresu), ya."
Ekspresi wajah Michiru-san berubah total.
"Amakusa-chan... Di dunia ini, ada hal-hal yang
justru lebih membahagiakan jika tidak diingat kembali, lho."
"Eh?"
"Dah-dah, bye-bye-bee~"
"Ah, tunggu sebentar—"
Dalam sekejap, Michiru-san kembali ke sifat konyolnya yang
biasa dan berjalan pergi begitu saja tanpa sempat kuhentikan.
"Lebih membahagiakan... jika tidak diingat...
kembali?"
Melihat reaksi penolakan dari tubuhku sendiri dan sikap
Michiru-san tadi, sudah tidak salah lagi kalau antara aku dan gadis itu...
pernah terjadi sesuatu yang buruk.
Memang benar seperti kata Michiru-san, mungkin lebih baik
jika aku tidak mengingat apa pun.
Jika itu adalah
ingatan yang sangat menyakitkan, mungkin melupakannya selamanya adalah pilihan
terbaik.
Tapi... tapi aku—
PILIH:
① Memakan kotoran hidung sendiri di depan umum
② Meminum air ingus sendiri di
depan umum
③ Memuja bulu hidung sendiri di
depan umum
...Bisa tidak, jangan merusak suasana seriusnya?!
Interlude 3
Sebuah Kisah Tiga Tahun Lalu — Bagian 3
Tempat menginap
di hari pertama adalah sebuah penginapan tua yang memancarkan atmosfer long-established
yang sangat kental. Aku sudah berganti pakaian menjadi yukata dan sedang
melangkah menuju pemandian terbuka (rotenburo) yang konon menjadi
andalan tempat ini.
"Ah,
Kanade-kun."
"Oh, ada
Amakusa-chan juga."
Di sana, aku
bertemu dengan Sora-san dan Michiru-san yang sepertinya juga hendak menuju
pemandian dengan mengenakan yukata.
"Gimana,
gimana? Apa kamu tidak merasa bersemangat melihat kakak perempuan mengenakan
yukata yang agak terbuka begini?"
Michiru-san
sengaja menonjolkan bagian dadanya sambil meliuk-liukkan tubuhnya. Orang ini,
padahal wajahnya cantik sekali, tapi kenapa kelakuannya begini ya...
"Tidak...
saya tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu."
Bukannya
tidak tertarik sama sekali sih, tapi entah kenapa, di depan Sora-san aku tidak
ingin menunjukkan sikap kegirangan pada perempuan lain.
"Wah, dengar itu, Amagami-chan? Katanya Amakusa-chan itu homo, lho."
"KENAPA
JADINYA BEGITU?!"
"Habisnya,
untuk ukuran umur Amakusa-chan, mana mungkin tidak tertarik pada perempuan. Benar
kan, Amagami-chan?"
"Ahaha... aku no comment saja, deh."
Sora-san tersenyum getir. Ah, wajahnya saat sedang bingung
begitu juga imut sekali.
"Hoho... Begitu rupanya."
Melihat
tingkahku, Michiru-san kemudian menoleh ke arah Sora-san.
"Ngomong-ngomong, Amagami-chan."
"Iya, ada apa?"
Tiba-tiba, Michiru-san memasang senyum mesum.
"Neng,
pantatmu mantap juga ya."
"Hyauu?!"
Dan tanpa
aba-aba, dia mulai mengelus-elus pantat Sora-san.
"A-Apa yang
Anda lakukan...?"
"Habisnya,
Amakusa-chan tadi pasang tampang seolah ingin menyentuh pantatmu, jadi aku
ikut-ikutan deh."
"JA-JANGAN
BICARA SEMBARANGAN!"
"Oyo? Jadi
kamu tidak mau menyentuh pantat Amagami-chan?"
"Ya-Yah,
kalau ditanya mau atau tidak, ya pasti ma— APA YANG ANDA SURUH AKU KATAKAN,
SIH?!"
Perempuan ini benar-benar... Aku memelototi Michiru-san
dengan tajam.
"Hiii! Aku mau diperkosa!"
"SIAPA JUGA YANG MAU MEMPERKOSA!"
"Hiii! Aku mau dibunuh!"
"SIAPA JUGA YANG MAU MEMBUNUH!"
Michiru-san menutup mulut dengan kedua tangannya sambil
berpose ketakutan.
"Waduh...
apa penghasilan tahunanku terlalu rendah...?"
"MANA SAYA
TAHU!"
Ugh...
"Mufufu,
kalau begitu, si pengganggu ini sebaiknya undur diri dulu ya~"
Sesaat setelah
mengatakannya, Michiru-san berjalan pergi sendirian dengan gerakan tubuh yang
centil.
"Benar-benar
orang itu..."
"Michiru-san orang yang lucu, ya."
"Tapi
aku tidak ingin terlalu sering berurusan dengannya..."
Di kelas biasanya
memang ada satu orang seperti itu. Wajahnya cakep tapi kelakuannya aneh,
sampai-sampai membuat lawan jenis merasa ilfil. Yah, meskipun itu bukan
urusanku.
...Bukan waktunya
memikirkan itu. Aku harus memberi penjelasan pada Sora-san.
"A-Anu..."
"Ada
apa?"
"Ya-Yang
tadi itu bohong, lho."
"Yang
tadi?"
"Itu... soal
aku ingin menyentuh pantat Sora-san..."
Sora-san tidak
menjawab perkataanku, melainkan tersenyum dengan sangat lembut.
"Hei, hei,
Kanade-kun."
"I-Iya?"
"Mau
masuk pemandian bareng?"
"BUFF!"
Aku
langsung tersedak mendengarnya.
"A-A-Apa yang Anda—"
"Fufu,
bercanda, kok."
Sora-san
tersenyum manis padaku.
"Soalnya
Kanade-kun sangat jujur, jadi mengerjaimu itu menyenangkan."
"Muuu..."
Lalu dengan
riang, dia mengelus kepalaku.
"Anak
pintar, anak pintar."
"...Tolong
jangan perlakukan aku seperti anak kecil."
"Fufu...
tapi sungguh, aku merasa senang saat bersamamu. Kamu sangat enak diajak bicara.
Kanade-kun pasti populer di kalangan perempuan, ya."
"...Populer... ya."
"Ada
apa?"
...Mungkin ini
kesempatan yang bagus untuk bertanya.
"Anu,
Sora-san."
"Apa
itu?"
"Boleh aku
tanya hal yang agak aneh?"
"Iya, tentu.
Apa itu?"
"...Apa Anda
pernah ditembak (menyatakan cinta) oleh seseorang?"
"Ditembak?
Kenapa tiba-tiba tanya begitu?"
"Sebenarnya...
ini bukan bermaksud sombong, tapi aku lumayan sering ditembak oleh
perempuan."
"Ah, dugaanku benar."
"...Tapi... meski aku merasa bersalah, aku menolak
mereka semua."
"Begitukah? Kenapa?"
"Aku... sejujurnya tidak paham soal perasaan 'suka'
atau semacam itu... Rasanya tidak sopan kalau aku menerimanya dalam keadaan
seperti itu..."
"Begitu ya. Yah, katanya soal perasaan begitu memang
perempuan lebih cepat berkembang... Untuk anak laki-laki kelas 2 SMP, mungkin
wajar kalau ada yang belum paham."
Perempuan lebih cepat berkembang... ya.
"Lalu, kalau
Sora-san... apa Sora-san pernah menyukai seseorang?"
Tiba-tiba,
Sora-san memasang senyum yang entah kenapa terlihat sedikit kesepian, lalu
menjawab.
"Tidak pernah."
Begitu ya... Mendengar kata-kata itu, entah kenapa ada
bagian dari diriku yang merasa lega.
"Tapi tahu tidak... aku sangat mendambakan yang namanya
cinta."
Sora-san melanjutkan ceritanya dengan ekspresi wajah yang
masih terlihat sepi.
"Cinta itu indah, ya. Laki-laki dan perempuan yang
saling mencintai, mengobrol bersama, bermain bersama, tinggal bersama,
membesarkan anak bersama, hingga menua bersama. Aku juga ingin... mengalaminya
suatu saat nanti."
Wajah Sora-san dari samping terlihat jauh lebih dewasa
daripada sebelumnya.
"Ah... a-aku
malah mengatakan hal yang memalukan ya. Lu-Lupakan yang tadi, haha..."
Sadar kalau aku
sedang menatapnya lekat-lekat, wajah Sora-san sedikit memerah.
"Waduh,
rasanya badanku jadi panas. Maaf ya, aku masuk ke pemandian dulu."
Mengatakan itu,
Sora-san hendak berlari pergi, namun dia berhenti sejenak seolah teringat
sesuatu dan menoleh padaku.
"Kanade-kun
juga, semoga cepat menemukan orang yang bisa kamu cintai, ya."
"——!"
Saat melihat
senyuman itu, sekali lagi, perasaan asing itu bergejolak di dalam dadaku.
"Sampai
nanti, Kanade-kun!"
"..."
Sambil memandangi
punggung Sora-san yang menjauh... otakku perlahan mulai memahami jati diri dari
perasaan tersebut.
'Amakusa-kun...
setiap kali memikirkanmu, kepalaku jadi pening, jantungku berdebar-debar,
rasanya sesak, dan aku jadi tidak bisa tidur malam... ah, sudah deh, aku tidak
bisa menjelaskannya dengan baik... Anu... aku menyukaimu, tolong jadilah
pacarku.'
Kata-kata dari
gadis yang pernah menembakku dulu terngiang kembali. Saat itu aku sama sekali
tidak paham, tapi sekarang, aku mengerti apa yang dia maksud.
Begitu ya... jadi
ini rasanya.
Aku——sedang jatuh
cinta pada Sora-san.



Post a Comment