NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Te ni Ireta Saimin Appli de Yume no Harem Seikatsu o Okuritai Volume 4 Chapter 1

Chapter 1

Hari-hari Penuh Rasa Syukur pada Partnerku, Bro!


"Haa... Benar-benar surga."

Siapa pun manusianya, saat momen hati terasa tenang tiba, mereka pasti akan mengendurkan pipi dan menjadi sangat rileks sepertiku sekarang.

Saat ini, mungkin jika kiamat sudah di depan mata pun aku tidak akan langsung lari, melainkan tetap menenggelamkan diri dalam kenikmatan ini... yah, mungkin itu sedikit berlebihan, tapi aku memang sedang berada di surga yang setingkat itu!

"Kai-kun♪"

"Apa rasanya enak?"

"Senpai, bagaimana menurutmu?"

"Uhyoooo~~!! Ini yang terbaik!!"

Ya, begitulah.

Hari ini pun, aku memanfaatkan waktu istirahat siang untuk memanggil mereka melalui Reservation Hypnosis dan bermanja-manja sepuasnya.

Aisaka Matsuri, perwujudan gadis gyaru yang baik hati pada otaku.

Agatsuma Saika, mantan gadis suram yang ternyata menyembunyikan paras cantik rupawan.

Honma Emu, gadis cantik tipe cool yang ternyata seorang masokis tersembunyi.

"...Ngomong-ngomong, sudah berapa kali aku memperkenalkan mereka seperti ini?"

"Kamu bicara apa?"

"Ah, bukan apa-apa."

Aku menjawab Matsuri sambil membenamkan wajahku ke dadanya yang berada tepat di depanku. Seperti biasa, payudara besar Matsuri yang empuk menyambut dan menyelimuti wajahku dengan lembut.

"Kai-kun benar-benar suka payudara ya."

"Saking sukanya sampai aku tidak mau lepas..."

Tak peduli seberapa sering aku menikmatinya, aku tidak pernah bosan. Bukti nyatanya adalah meskipun sudah cukup lama aku melakukan hal seperti ini bersama mereka, aku masih terus melakukannya sampai sekarang.

"Hangat, baunya harum, bikin tenang, dan perasaanku jadi enak... Dada Matsuri adalah sumber kekuatanku."

"Nikmati saja sepuasnya ya♪"

Tanpa disuruh pun bakal kunikmati habis-habisan!

Saat aku mencoba membenamkan wajah lebih dalam ke belahan dadanya, tiba-tiba tubuhku ditarik dengan tenaga yang cukup kuat. Yang menarikku adalah Saika, yang kini sedang menggembungkan pipinya.

"Tidak boleh bermanja-manja pada Matsuri-san saja."

"Tidak, tidak, tentu saja aku juga akan melakukan hal yang sama pada Saika dan Emu—"

"Hup."

"Mugah!?"

Sebelum sempat selesai bicara, aku ditarik dengan sedikit kasar ke arah dada Saika. Dada Matsuri memang besar, tapi dada Saika yang lebih 'meledak' lagi... tetap saja terasa luar biasa.

"Muhaa."

"...Hari ini, kamu harus menghabiskan waktu di dalam dadaku."

"Aku pun kalau bisa tinggal di situ, pasti mau..."

"...Aku ingin membuat Kai-kun jadi seukuran telapak tangan, lalu membiarkannya tinggal di dalam dadaku selamanya."

"Itu... tawaran terbaik."

Situasi macam apa yang seperti mimpi itu?

"Kalau sampai itu terjadi, aku akan menetap selamanya."

"Silakan."

Serius!? Kalau benar bisa begitu, aku pasti akan mengambil hak izin tinggal tetap di sana.

Sambil membayangkan situasi saat tubuhku mengecil dan menikmati dada Saika sepuasnya, gendang telingaku digetarkan oleh suara yang terdengar kesal namun manis.

"Kai-senpai... tolong manjakan aku juga."

Itu suara Emu. Tentu saja aku tidak berniat membiarkan Emu sendirian, jadi aku mengalihkan target dari Saika ke Emu. Namun, Saika menangkapku saat aku hendak menjauh.

Kepalaku dipeluk dengan kuat, lalu dibenamkan kembali ke dada Saika. Namun posisinya bukan membenamkan wajah secara total, melainkan menempelkan pipi ke dadanya seolah menjadikannya bantal.

"Saika-senpai..."

"Maaf ya, Emu-chan. Kai-kun sudah menetap di dadaku."

"...Muu!"

Aku bisa dengan mudah membayangkan wajah Saika yang tampak bangga. Emu menatapku dengan wajah tidak puas, tapi dia terlihat sedikit senang, mungkin karena merasa sedang 'digantung'.

"...Tidak! Hari ini aku mau sedikit egois! Akhir-akhir ini, daripada neglect play atau teasing play, aku ingin segera bermanja-manja dengan Kai-senpai!"

"Ahaha♪ Emu-chan juga sudah mulai kecanduan Kai-kun ya!"

Matsuri-san, kata 'kecanduan' itu terdengar agak berbahaya. Melihat Emu yang merajuk dengan sangat imut dan Matsuri yang mengelus kepala Emu, aku hanya bisa berpikir bahwa mereka benar-benar sudah hampir tidak ada bedanya dengan kondisi sadar mereka.

"Maaf, Saika. Aku mau menghibur Emu dulu."

"...Yah, mau bagaimana lagi."

Meskipun bilang mau bagaimana lagi, dia sama sekali tidak mengendurkan kekuatannya... Oke, akhirnya lepas.

"Melepaskan hak menetap..."

"Jangan dilepaskan, ya?"

Sambil bertukar kata seperti itu, aku berdiri di depan Emu dan memeluk tubuhnya dengan erat.

"Fuwaa...♪"

"Hmm... Akhir-akhir ini, memeluk Emu begini memang yang terbaik."

Terjun ke dada montok milik Matsuri atau Saika memang sulit dilewatkan. Tapi justru karena tubuh Emu lebih mungil dibanding mereka berdua, perasaan saat memeluknya seperti ini terasa sangat nyaman.

"Emu itu... memang punya sifat adik perempuan ya."

"Benarkah? Kalau jadi adik Kai-senpai, aku mau sekali... lagipula."

"Lagipula?"

"Disiksa oleh kakak juga sepertinya akan terasa sangat nikmat♪"

Ah, iya... Emu pasti bakal bilang begitu. Karena Emu yang tidak pernah goyah sedikit pun, bukan hanya aku, tapi Matsuri dan Saika juga ikut tertawa kecil. Ini adalah bukti bahwa penyimpangan Emu pun sudah dianggap sebagai bagian dari keimutannya.

"Senpai... aku suka kamu."

Emu menempelkan tubuhnya seolah ingin menggosokkan sensasi fisik dan aromanya padaku. Dan sementara aku melakukan ini dengan Emu, Matsuri dan Saika yang mengawasi sepertinya sudah tidak tahan lagi. Mereka berdua menarik tanganku dan menuntunnya ke dada masing-masing.

"Sepertinya waktu buat Emu-chan terlalu lama ya."

"Pedulikan kami juga."

"Tentu saja!"

Aku meremas sedikit gundukan yang terasa di telapak tanganku dengan tenaga yang cukup kuat. Selain kelembutan yang berubah bentuk mengikuti gerakan jari, reaksi Matsuri dan yang lainnya yang tubuhnya gemetar sedikit itu terasa sangat mesum.

Yah, setelah melakukan semua itu, waktu istirahat siang tinggal sepuluh menit lagi. Menggunakan kekuatan Rekan pada tiga orang sekaligus tetap saja sangat menguras tenaga, dan sisa baterai tinggal sedikit... Sial, aku selalu berpikir betapa bagusnya jika ini bisa digunakan tanpa batas.

"Kai-kun."

"Hmm?"

Setelah sesi pelukan berakhir, Matsuri berdiri di depanku.

"Hari ini, berikan ciuman juga, ya."

"A-Ah...!"

Dan akhirnya tiba juga desakan untuk ciuman!!

Kenangan saat bermain ke tempat hiburan bersama Matsuri dan yang lainnya masih segar di ingatan, tapi yang lebih terukir kuat adalah ciuman dengan mereka. Sejak ciuman waktu itu, setiap kali kami berpisah setelah diberikan hipnosis, kami pasti akan berciuman sebelum berpisah.

"Ka-Kalau begitu... aku mulai!"

"Iya♪"

Seolah mengikuti momentum, aku mendekatkan wajahku ke bibir Matsuri.

"---..."

"Nnh... cup."

Hanya sekadar menempelkan bibir saja. Padahal hanya begitu, tapi kenapa tindakan bernama ciuman ini bisa sangat menyenangkan hati... Rasa bersalah saat melakukannya pertama kali pun sudah benar-benar sirna karena mereka sendirilah yang memintanya.

"Kai-kun, lakukan denganku juga."

"Aku juga, tolong."

Setelah Matsuri, aku bertukar ciuman dengan Saika dan Emu. Saika bahkan mencoba memasukkan lidahnya sekuat tenaga, tapi tentu saja bagiku yang masih perjaka ini, itu sudah terlalu berbahaya. Logikaku bekerja keras dan aku mati-matian mengatupkan mulut untuk bertahan.

"Ih... kenapa tidak boleh?"

"Tidak, maksudku... kalau sampai melibatkan lidah, bukankah itu... terlalu mesum?"

"Bukankah sudah terlambat untuk bilang begitu?"

"………………"

Tidak... tidak, tidak! Bukannya aku tidak mau melakukannya, tahu!? Deep kiss yang melibatkan lidah... aku ingin melakukannya. Tentu saja aku ingin mencoba pengalaman itu! Tapi... tapi! Bagaimanapun juga, untuk itu... aku masih kekurangan keberanian untuk melangkah maju.

"Pengecut."

"Ugh!?"

Mendapat serangan telak dari tatapan dingin Saika, aku memegang dadaku dan berlutut. Padahal dalam kondisi terhipnosis pun kekuatan tatapan dinginnya sudah meningkat, tapi kata-kata yang dilepaskan dalam kondisi itu benar-benar tajam dan menusuk...

"Tidak, yah... aku memang sudah melakukan sesuka hati pada dada kalian dan juga berciuman, tapi tolong mengertilah bagian itu!"

"Tidak mau."

"Saikaaa..."

Hari ini Saika lebih galak dari biasanya... Tapi, Saika yang seperti ini juga tidak buruk, atau lebih tepatnya, aku diam-diam merasa sedikit senang saat meladeninya.

"Sudah-sudah, jangan terlalu menyulitkan Kai-kun."

"Benar, Saika-senpai."

"Kalian berdua tidak mau? Deep kiss dengan Kai-kun."

Menerima pertanyaan Saika, Matsuri dan Emu menatapku dalam-diam. Pada akhirnya, sebelum mereka sempat menjawab, bel tanda masuk berbunyi, sehingga aku terburu-buru menyuruh mereka kembali ke kelas.

Setelah mereka bertiga pergi, aku mengembuskan napas lega karena merasa terselamatkan, namun di sisi lain aku juga merasa sedikit menyesal. Aku tersenyum getir pada diri sendiri karena merasa payah.

"Gimana ya... rasanya ada yang kurang."

Dalam situasi begini, kalau aku bicara begitu mungkin aku akan kena kutukan. Tapi ada alasan kenapa aku bilang begitu... Memang benar aku sangat puas dengan situasi sekarang di mana aku bisa berciuman dengan mereka, dan aku juga puas dengan interaksi sebelumnya.

Lalu, apa yang kurang?

"...Aku ingin mencoba melakukan hal seperti ini dengan Matsuri yang dalam kondisi biasa."

Ya... akhir-akhir ini aku mulai berpikir bahwa aku ingin mencoba melakukan hal-hal seperti ini dengan Matsuri dan yang lainnya saat mereka tidak sedang terhipnosis.

"Kalau bisa melakukannya dalam kondisi biasa, itu sih sudah level... berpacaran atau semacamnya. Apa karena aku pakai kekuatan Rekan, indraku jadi sedikit mati rasa ya?"

Tapi... aku tahu kalau hubungan kami lebih akrab dari sekadar teman biasa, dan aku menyadarinya... Aku bisa bilang dengan yakin bahwa aku dan mereka memiliki hubungan yang dekat.

"Untuk sekarang... begini saja sudah cukup, kan?"

Untuk saat ini, aku sama sekali tidak ingin merusak hubungan ini. Jadi aku meyakinkan diri sendiri bahwa ini sudah cukup baik, lalu kembali ke kelas... yah, meskipun aku cemas apakah bisa fokus pada pelajaran setelah ini.

Dan firasat itu terbukti benar. Meskipun aku tahu itu tidak boleh, seluruh isi pelajaran hanyalah lewat begitu saja karena pikiranku dipenuhi oleh sensasi fisik dan ciuman dengan Matsuri dan yang lainnya. Aku sama sekali tidak bisa fokus dari awal sampai akhir.

"Kamu, sejak siang tadi sepertinya melamun terus ya?"

"Bukannya... sedang mengantuk, kan?"

Sampai-sampai dua sahabatku pun berkata begitu. Di dalam kepalaku penuh dengan dada Matsuri dan kawan-kawan... Penuh dengan dada, dada memenuhi kepala... Ah, sudah lah, aku jadi bingung sendiri.

Sambil membiarkan kepalaku terasa 'meleleh' seperti itu, akhirnya waktu pulang sekolah tiba.

"...?"

"Ah, Kai-kun akhirnya datang."

"Matsuri?"

Matsuri yang seharusnya sudah keluar kelas lebih dulu ternyata ada di rak sepatu. Dari nada bicaranya, sepertinya dia menungguku, lalu kami keluar sekolah bersama dan berjalan pulang. Bukannya aku merasa tegang, tapi karena aku teringat kejadian siang tadi, jantungku berdegup kencang.

"Hei, Kai-kun."

"Hmm?"

"Pelajaran siang tadi... kamu sama sekali tidak fokus ya?"

"...Eh, apa terlihat?"

"Iya."

Serius!? Ternyata Matsuri juga menyadarinya dengan jelas.

"Yah, tadi agak sedikit mengantuk sih."

"Benarkah? Bagiku, kamu tidak terlihat mengantuk, tapi justru seperti sedang memikirkan sesuatu selain pelajaran, tahu?"

Iya. Aku sedang memikirkan dadamu dan ciuman kita.

"Ayo, coba katakan padaku saja."

Sambil melompat kecil, Matsuri berdiri di depanku. Ekspresinya seolah berkata "bicarakan saja apa pun", memancarkan kelembutan yang seakan mau menerima apa pun yang kuucapkan. Tanpa sengaja, aku pun berbicara dengan jujur.

"Aku... sedang memikirkan Matsuri."

...Hah!?

Begitu mengucapkannya, pipiku langsung terasa panas karena menyadari apa yang baru saja kukatakan.

Meskipun yang kukatakan tidak salah, tapi mengucapkannya langsung di depan orangnya membuat Matsuri jadi bengong!

".................."

".................."

Kami berdua terdiam, suasana hening yang canggung menyelimuti kami. Namun, Matsurilah yang pertama kali memecah keheningan itu.

"...Ehehe♪ Aku senang sekali mendengarnya♪"

Matsuri berkata begitu sambil mencolek-colek dadaku dengan jari telunjuknya.

Apa-apaan... apa-apaan interaksi yang terlalu asam manis ini! Aku pun ikut tertawa melihat tingkah Matsuri yang terlalu imut, tapi aku hanya bisa berdoa semoga ekspresi tertawaku sekarang tidak terlihat menjijikkan.

"Sebenarnya aku juga sedang memikirkan Kai-kun. Makanya saat pelajaran tadi, meskipun tidak sering, aku sempat mencuri-curi pandang padamu."

"Anu... Matsuri-san? Kalau kamu bicara lebih dari itu, aku bisa jadi besar kepala... jadi tolong cukup sampai di sini saja."

"Ehh? Tidak apa-apa kok kalau mau besar kepala. Malah sebenarnya aku mengharapkan hal itu, lho?"

Matsuri pindah dari depan ke sampingku, lalu menyenggol bahuku pelan. Sambil tetap memasang wajah yang menggodaku, sebagai serangan tambahan dia bahkan menggenggam tanganku sambil menautkan jari-jarinya. Aku merasa sudah hampir meledak karena panas.

"...Eh, sepertinya malah aku yang jadi besar kepala ya."

Padahal Matsuri sendiri yang memulainya, tapi tiba-tiba dia melepaskan tangan dengan pipi yang memerah malu. Tingkahnya itu benar-benar terlalu 'centil' dan sengaja. Sengaja... sengaja tapi imut.

Sambil menatap Matsuri dan memikirkan hal yang sudah jelas itu, tiba-tiba Matsuri menepukkan tangannya seolah teringat sesuatu.

"Ada apa?"

"Anu, sebenarnya aku punya sedikit permintaan pada Kai-kun."

"Permintaan?"

Matsuri mengangguk, lalu melanjutkan bicaranya.

"Minggu depan sudah mulai libur musim panas, kan?"

"Iya."

"Libur musim panas... sebenarnya tidak terlalu berhubungan sih, tapi ada satu hari di mana hanya ada aku sendirian di rumah."

"Iya."

Seperti yang dikatakan Matsuri, minggu depan sudah mulai libur musim panas.

Karena liburannya panjang, aku belum memikirkan akan menghabiskannya seperti apa, tapi aku yakin hampir pasti aku akan menghabiskan banyak waktu bersama Matsuri dan yang lainnya.

Malah mereka sendiri yang bilang ingin begitu, dan aku pun kalau bisa bersama mereka... rasanya bakal "guhehe"!!

"...Ehem!"

Oke, mari kita sudahi khayalan ini. Aku tahu kalau orang tua Matsuri tidak ada di rumah, lalu... mungkinkah dia ingin aku datang menginap... tidak, tidak mungkinlah!

"Lalu, ada apa dengan itu?"

"Iya—kalau boleh... maukah kamu datang menginap untuk menemaniku?"

"...Eh?"

Firasatku tepat... eh, APAAAAAAAAA!?

"Anu... aku masih merasa sedikit cemas kalau sendirian... bukannya penakut sih, tapi kalau ada Kai-kun di sampingku, aku akan merasa sangat tenang."

"………………"

Mendapat ajakan menginap itu, aku hanya bisa terdiam mematung untuk beberapa saat.




Illustrasi | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close