Chapter 6
Sihir Pertama
Beberapa
waktu sejak perburuan Little Boar, aku terus menatap peta sembari menyusun
rencana untuk mengekstrak sirup pohon shirakaba. Kabar tentang lokasi tumbuhnya
sudah kudapat, tapi aku penasaran bagaimana dengan hak kepemilikan gunungnya.
"Kurasa
gunung tidak punya hak milik khusus, kan? Paling-paling itu tanah milik
penguasa wilayah?"
"Jadi,
tidak apa-apa kalau aku mengumpulkan getah di sana tanpa izin?"
"Bukankah
boleh saja? Tanah bukaan itu milik petani yang membukanya. Tentu saja, kamu
tetap harus membayar pajak kepada penguasa wilayah di sana."
"Jadi, kalau
aku mengambil getah di hutan itu, aku tetap harus membayar pajak, ya."
"……Yah,
kalau itu menghasilkan uang."
Hmm. Bagiku,
sebelum memikirkan soal bayar pajak atau tidak, yang terpenting adalah agar
Erik dan ayahnya tidak terlalu banyak berkonflik.
Masalah Erik yang
sering bertikai itu kemungkinan besar terjadi karena dia bergerak di bawah
perintah Marquis Farduras. Jika ini menjadi keuntungan, uangnya pun akan
mengalir ke sang Marquis.
Mengenai modal
usaha, aku meminta Scott menjual dua buah buku, dan hasilnya aku mendapatkan
uang tunai yang lumayan banyak.
Sama sekali tidak
sayang. Itu adalah buku-buku dengan teori yang sangat tidak masuk akal, jadi
aku malah senang buku itu bisa jadi duit.
Meski aku mencoba
meyakinkan diriku sendiri seperti itu, tetap saja ada rasa bersalah karena
menjual barang orang tua demi kepentingan pribadi.
Aku memesan
peralatan pengumpul getah ke pandai besi, lalu sisa uangnya kugunakan untuk
menyewa tukang kayu desa guna membangun pondok kecil di dekat hutan itu.
Begitu
ada uang, segalanya bergerak maju.
◇ ◇ ◇
Saat satu urusan
mulai berjalan lancar, hal-hal lain pun ikut membaik. Kabar baik datang
mengenai pelajaran sihirku. Ada instruksi dari keluarga Farduras agar aku
datang ke kastel untuk belajar.
Sepertinya,
berkat perburuan Little Boar sebelumnya, kapasitas mana milik Adric meningkat,
dan itu menjadi pemicu baginya untuk mulai berlatih sihir. Lalu muncul tawaran,
bagaimana kalau aku—yang belum menemukan guru—ikut sekalian? Begitulah alurnya.
"Adric.
Terima kasih sudah mengundangku."
"Tidak, aku
juga baru pertama kali, kok. Kalau kamu mau mulai bersamaku, itu malah
membuatku tenang. Tapi kali ini, Lumiera yang bilang agar aku mengajakmu."
"Lumiera?"
"Iya. Saat
aku bilang mau belajar sihir, dia tanya kenapa tidak mengajakmu juga. Kamu
belum menemukan guru sihir, kan?"
"Begitulah.
Sepertinya ayahku hanya menghubungi penyihir-penyihir yang punya nama besar,
dan itu malah membuat kami sulit menemukan guru."
"Begitu
ya. Memang sulit, sih."
Hmm. Tapi, kenapa
Lumiera?
Kabar itu cukup
mengejutkan bagiku. Aku
belum sering mengobrol dengannya. Dulu, saat tanganku lecet, dia pernah memberikan sihir penyembuhan padaku.
Mungkin saat itu aku sempat bilang kalau aku juga ingin menggunakan sihir.
Keluarga Farduras
aslinya memiliki korps penyihir pribadi bernama Exmagia. Rencananya,
seorang guru akan dipilih dari sana untuk mengajar kami.
Lumiera
sepertinya sudah mulai belajar sihir penyembuhan di sana sejak beberapa waktu
lalu.
Namun, meski
disebut sihir penyembuhan, atribut itu termasuk langka di antara para penyihir.
Terlebih lagi, pengguna sihir penyembuhan biasanya diprioritaskan untuk diambil
oleh Gereja, sehingga di Exmagia pun kabarnya tidak ada pengguna sihir
penyembuhan.
Biasanya penyihir
bisa menggunakan atribut yang berbeda dari miliknya sampai batas tertentu, tapi
ada juga tipe spesialis—seperti Saint—yang hanya bisa menggunakan sihir
penyembuhan.
Cara untuk
mengetahui atribut tersebut sebenarnya cukup primitif; cukup dengan mencoba
berbagai atribut sihir dan memastikan kekuatannya. Namun, sebagai orang yang
tahu cerita aslinya, aku sudah tahu atributku. Atribut Tanah.
Api, Air, Es,
Petir; sihir-sihir megah seperti itu digunakan secara berlebihan oleh sang
protagonis dan para pahlawan wanita di haremnya.
Dan, atribut yang didapatkan oleh karakter figuran
antagonis, Radcliff, adalah atribut Tanah. Begitulah kenyataannya.
◇
◇
◇
Tempat yang ditunjukkan Adric adalah sebuah area latihan
yang dikelilingi tembok batu tebal. Melihat sifat sihir, tembok itu pasti
dibangun untuk mencegah kastel terbakar jika terjadi kecelakaan saat
menggunakan sihir api.
Di lapangan latihan, seorang penyihir muda sedang berbincang
dengan Lumiera. Begitu menyadari kedatangan kami, Lumiera langsung tersenyum
cerah dan melambaikan tangan dengan riang.
"Kakak! Rad!"
Adric mengangguk kecil pada Lumiera, lalu menyapa penyihir
di sampingnya dan memperkenalkanku.
"Ya, mohon
bantuannya mulai hari ini. Ini Radcliff."
"Oh, Tuan
Adric, dan Tuan Radcliff. Nama saya Luke. Mohon bantuannya."
Begitu kami
sampai di lapangan, penyihir muda itu menunduk dengan sopan. Dia memperkenalkan
dirinya sebagai Luke. Karena posisinya adalah guruku, aku pun menyapanya dengan
sopan.
"Mohon
bantuannya. Nama saya Radcliff."
Luke
membelalakkan mata mendengar salamku. Kemudian dia menjawab dengan senyum
lembut.
"Baik. Mohon
bantuannya."
Lalu, kami
dipersilakan duduk di kursi yang ada di pinggir lapangan.
"Tuan
Radcliff, apakah Anda pernah belajar sihir sebelumnya?"
"Tidak. Tapi
dua tahun lalu saya terkena Penyakit Kehilangan Mana."
"Begitu ya….
Kalau begitu, potensi Anda seharusnya tidak masalah."
Setelah itu, Luke
mulai menjelaskan perlahan tentang sihir kepada kami.
"Pertama,
apakah kalian tahu mengapa anak yang pernah menderita Penyakit Kehilangan Mana
dikatakan cocok menjadi penyihir?"
"Setahuku,
itu karena setelah menghabiskan mana sekali, tubuh akan menyadari bahwa ia
butuh lebih banyak mana, sehingga kapasitas mananya meningkat."
"Benar, itu
juga penting. Tapi ada hal yang jauh lebih penting."
"Jauh lebih
penting?"
"Apakah Tuan
Adric tahu?"
"……Tidak."
"Penyakit
Kehilangan Mana terjadi karena mana yang mengamuk, tapi bagi orang biasa,
mustahil untuk memaksakan mana keluar sebanyak itu. Karena di tengah jalan,
gejala kekurangan mana pasti akan muncul."
Memang benar, aku
sampai muntah-muntah karena kekurangan mana. Aku sangat mengerti maksudnya.
Tapi bukankah itu sebabnya disebut mengamuk? Bukankah itu berarti mananya malah
sulit dikendalikan?
Melihat kami yang
kebingungan, Luke melanjutkan penjelasannya sambil tersenyum.
"Saluran
pelepasan untuk mengeluarkan mana milik kalian itu sangat lebar. Hal itu juga
akan berpengaruh pada kekuatan sihir yang bisa kalian gunakan."
"Saluran
pelepasan?"
Begitu ya. Memang
benar, sihir dikatakan sebagai tindakan mengeluarkan mana dalam jumlah besar
sekaligus untuk dimanfaatkan. Jadi Penyakit Kehilangan Mana juga memiliki
syarat seperti itu.
"Lalu, jika
saluran pelepasan mananya kecil, apakah seseorang tidak bisa menggunakan
sihir?"
"Jika
kontrol mananya bagus, dia bisa memadatkan mana dan mengeluarkannya dari
saluran yang kecil. Tapi itu cukup sulit. Lagi pula, itu adalah teknik yang
digunakan oleh orang yang sudah terbiasa menggunakan sihir untuk meningkatkan
kekuatan mereka. Jadi tetap saja, bagi orang dengan saluran kecil, ada
batasannya."
"Begitu
ya……."
Berarti aku
memang punya bakat sebagai penyihir. Baguslah.
Mendengar alasan
teknis mengapa aku punya bakat dari seorang guru sihir membuatku lebih yakin.
Lalu Adric bertanya dengan nada cemas.
"Aku tidak
pernah terkena Penyakit Kehilangan Mana, apakah aku bisa menggunakan
sihir?"
"Kurasa
tidak masalah. Karena anak dengan saluran besar pun jika bisa mengontrolnya
dengan baik tidak akan terkena penyakit tersebut. Lagipula, saudari kembar
Anda, Nona Lumiera, saja bisa menggunakannya, jadi Anda pasti baik-baik
saja."
"Begitu
ya……"
Aku mengerti
logika tentang kembaran itu, tapi kalau kembar laki-laki dan perempuan, berarti
mereka kembar fraternal. Menurut logika di Bumi, gen mereka berbeda, jadi
alasan 'karena kembaran pasti bisa' sebenarnya agak kurang tepat.
Yah, tapi di
novel pun dia bisa menggunakan sihir, jadi aku tidak akan protes soal itu.
"Kalau
begitu, mari saya jelaskan cara dasar menggunakan sihir……"
Maka dimulailah
kuliah sihir dari Luke. Entah mengapa, Lumiera yang sebenarnya sudah bisa
menggunakan sihir juga ikut duduk manis di sampingku dengan wajah riang untuk
mendengarkan.
"Pertama,
untuk membangkitkan sihir diperlukan tiga syarat. Satu, mana yang menjadi bahan
dasar sihir. Saya rasa kalian sudah paham ini. Syarat kedua adalah menyusun Image
di dalam otak. Dan yang ketiga adalah menjalin Image yang sudah disusun
melalui kata-kata dengan mana milik sendiri menjadi sebuah sihir."
Aku bisa memahami
syarat-syarat untuk menciptakan sihir. Memang benar, saat melihat penyihir yang
menggunakan sihir rantai pengikat dulu, aku melihat mana berkonsentrasi di
kepala dan area mulutnya.
Maka, latihan
sihir kami pun dimulai.
◇ ◇ ◇
Mantra yang
diucapkan oleh penyihir rantai itu, dan mantra yang diucapkan Lumiera.
Jawabannya adalah, sepertinya ada aturan namun sekaligus tidak ada aturan baku.
Hanya saja,
sepanjang sejarah panjang, manusia telah memikirkan cara agar bisa menyematkan
makna ke dalam sihir dengan kata-kata sesingkat mungkin, dan menggunakan
susunan kata tersebut sudah menjadi hal mendasar.
"Apakah
tidak bisa menggunakan sihir tanpa mantra (No-Cast)?"
Wajar saja jika
aku ingin bertanya begitu.
Situasi di mana
Erik menggunakan sihir tanpa mantra dan mengejutkan para penyihir di dunia ini
yang masih butuh mantra adalah pengaturan standar dalam light novel,
bukan cuma di novel ini saja.
Mengingat hal
itu, aku pun ingin bisa menggunakan sihir tanpa mantra.
"Heh, kamu
tahu banyak ya."
"Ah, iya. Saya membacanya di suatu buku……"
"Begitu ya.
Sebenarnya bisa saja tanpa mantra, tapi…… itu sangat sulit."
"Berarti
bisa, ya."
Sudah jelas bahwa
dalam pertarungan sungguhan, mereka yang tanpa mantra akan lebih kuat. Fakta
bahwa semua orang masih merapalkan mantra membuktikan betapa sulitnya hal itu.
Cara melakukan
sihir tanpa mantra sebenarnya sangat sederhana.
Prosedur sihir
biasa adalah memacu otak dengan mana, menyalin Image yang sudah terwujud
ke dalam mana, lalu mewujudkan mana yang membawa kata-kata tersebut menjadi
sihir di dunia nyata.
Sebaliknya, dalam
kasus tanpa mantra, seseorang harus memperkuat Image di dalam otak
dengan mana, lalu menyalin mana tersebut dan langsung menyesuaikannya dengan
mana dasar untuk diwujudkan.
Kedengarannya
mudah jika diucapkan, tapi melakukan segalanya hanya dengan Image di
otak kabarnya sangatlah sulit.
Luke mengangkat
jari telunjuknya agar kami bisa melihat. Dia memejamkan mata dan berkonsentrasi
sejenak, lalu tiba-tiba api kecil menyala di ujung jarinya.
"Ooh! Tanpa
mantra!"
"Benar, tapi
aku hanya bisa melakukan ini untuk cahaya kecil saja. Bahkan untuk level ini
pun, tidak banyak orang yang bisa melakukannya."
"Kalau untuk
sihir serangan, sulit ya?"
"Iya, kamu
harus mengumpulkan lebih banyak mana ke otak dibandingkan sihir biasa. Itu akan
membebani otak secara berlebihan, jadi sulit untuk menahannya. Lagipula, kurasa
tidak banyak orang yang bisa membiasakan otak mereka dengan mana sekental itu.
Lalu, jika kamu memusatkan kesadaran dan mana ke otak, muncul masalah lain
yaitu sulitnya mengontrol mana yang akan digunakan untuk sihir itu
sendiri."
"Begitu ya…… Ternyata berat juga."
Padahal Erik di novel melakukannya seperti hal biasa. Ini
pasti salah satu hak istimewa reinkarnator di novel aslinya, sama seperti
latihan peningkatan mana itu.
"Yah, daripada memikirkan itu, bagaimana kalau kalian
berdua mulai berlatih membuat Image sihir?"
Maka, kami pun
mulai mempraktikkannya. Luke
menjelaskan cara menyusun Image sihir kepadaku dan Adric. Tentu saja,
awalnya Adric yang diprioritaskan. Luke mendampingi Adric sepenuhnya untuk
menjelaskan cara penyusunan Image.
Sambil
memasang telinga mendengarkan penjelasan Luke pada Adric, aku mencoba
melakukannya sendiri. Tiba-tiba
Lumiera datang ke sampingku.
"Apa kamu
mengerti?"
"Eh?"
"Jika kamu
tidak keberatan, maukah aku ajarkan sedikit cara membuat Image-nya?"
Benar
juga. Luke sedang sibuk mengajar Adric. Dia pasti merasa tidak enak padaku.
"Boleh?"
"Iya. Aku
juga masih belum mahir, tapi kalau cuma cara membuat Image, aku
bisa."
Diajari oleh
orang yang sudah berpengalaman adalah sebuah keberuntungan. Aku menatap
Lumiera.
"Kalau
begitu, mohon bantuannya ya."
"Baiklah.
Pertama, apakah kamu bisa merasakan mana?"
"Mana? Ya,
kurasa aku bisa."
"Kalau
begitu, arahkan mana itu…… Misalnya untuk sihir api, bayangkan mana itu menjadi
api."
"Umm,
rasanya seperti menyulut api pada mana? Atau mana itu sendiri yang berubah
menjadi api?"
"Kurasa
lebih baik membayangkan mana itu sendiri yang terkonversi menjadi api."
"Begitu ya…… Oke."
Sambil menatap
Lumiera, aku berusaha keras membayangkan mana di otakku terkonversi menjadi
api. Awalnya aku ingin membayangkan mana seperti gas, tapi sepertinya salah.
Bayangkan mana
yang terkumpul langsung terbakar…… Hmm?
Entah kenapa
Lumiera menatapku dengan wajah yang tampak bingung.
"Anu……"
"Iya. Ada
apa?"
"Mungkin
akan lebih mudah membangun Image jika kamu memejamkan mata untuk
awalnya."
"Ah.
Benar juga……"
Memang
benar, sih. Rasanya aneh kalau membayangkan sesuatu sambil matanya terbuka.
Tapi, kalau di tengah pertarungan kan tidak mungkin memejamkan mata……
Meski
begitu, dasar tetaplah dasar. Aku memejamkan mata sesuai sarannya dan membayangkan api.
"Sambil
membayangkan, bisakah kamu mengumpulkan mana ke arah kepala?"
"Ya……"
Aku mengontrol
mana seperti yang diperintahkan untuk mengaktifkan otak. Di saat yang sama, Image
yang kugambarkan di kepala menjadi jauh lebih jelas dibandingkan sebelumnya……
Dilihat seperti
ini, perbedaannya benar-benar nyata……
"Saat mana
berkumpul di kepala, tidakkah kamu merasakan perubahan pada Image-nya?"
"……Benar.
Terasa lebih nyata……"
"Benar
sekali. Rasanya seperti menyalin Image yang sudah jadi itu ke dalam
mana……"
Begitu ya, lalu
untuk penyalinannya menggunakan mantra, kan.
"Ikuti
kata-kataku ya."
"Ikuti
kata-kataku ya."
"Bu-bukan
itu!"
Hanya bercanda
sedikit. Aku mengintip Lumiera yang wajahnya memerah karena sedikit kesal
melalui celah mataku. Ya, dia manis.
"Ja-jangan
buka mata dulu! Jangan biarkan Image yang sudah dibuat hancur, langsung
ucapkan mantranya. Lakukan dengan perasaan seolah menyematkan mana ke dalam
kata-kata."
"Okee."
Setelah aku
menjawab, Lumiera merapalkan mantra.
"……Wahai
manaku, jadilah mana api."
"Wahai
manaku, jadilah mana api."
Aku menyematkan Image
di otakku ke dalam kata-kata dan mengarahkannya ke mana yang terkumpul di
telapak tanganku.
Pada saat itu
juga.
Puff.
Tiba-tiba telapak
tanganku terasa hangat. Saat aku buru-buru membuka mata, api kecil sedang
bergoyang di sana.
"Sihir…… Ini sihir."
Tentu saja ini
dunia fantasi. Aku tahu sihir itu ada di mana-mana. Terlebih lagi, secara pengaturan, aku adalah
karakter yang akan menjadi penyihir. Sudah sewajarnya aku bisa menggunakannya.
……Tapi.
Menyaksikan
manaku sendiri berubah menjadi sihir untuk pertama kalinya membuat perasaan
haru yang tak terlukiskan meluap dalam hatiku.
"Benar!
Hebat sekali. Kamu bisa melakukannya di percobaan pertama……"
"Terima
kasih! Lumiera. Aku bisa menggunakan sihir!"
"I-iya!"
Aku pasti
terlihat sangat bersemangat sampai-sampai Adric, yang sedang berjuang keras
menangkap sensasi sihir di sisi lain, ikut menoleh.
"Rad, kamu
berhasil?"
"Iya! Apinya
keluar!"
"Begitu
ya. Sial. Aku juga tidak mau kalah!"
Setelah
mengatakan itu, Adric kembali memusatkan kesadarannya pada sihir.
Melihat sosoknya,
perasaanku yang menggebu-gebu mulai sedikit tenang.
"Terima
kasih banyak ya."
Saat aku kembali
mengucapkan terima kasih, Lumiera tersenyum malu-malu.
"Anu…… Sebenarnya, aku sendiri juga sangat berterima
kasih pada Rad."
"Eh?"
Rasanya wajah Lumiera tampak sedikit memerah. Dalam hati aku merenung apakah aku baru saja
melakukan kesalahan. Tapi, tidak ada yang terpikirkan.
Saat aku sedang
melongo, Lumiera berusaha keras merangkai kata-kata.
"Sejak saat itu…… Kakak juga jadi sering mengucapkan
terima kasih."
"Adric?"
"Iya. Lalu, para pelayan yang tadinya tidak
berekspresi, perlahan-lahan mulai menunjukkan ekspresi mereka, dan entah kenapa
suasana di dalam kastel terasa jadi lebih cerah…… Begitulah rasanya."
……Begitu
ya. Adric yang melakukannya.
Mendengar
perubahan Adric, hatiku terasa hangat dan terenyuh.
"Awalnya
Ayah sedikit tidak puas dengan Kakak yang seperti itu. Tapi, aku…… tidak
tahu apakah aku menyampaikannya dengan benar, tapi aku menceritakan apa yang
Rad katakan kepada Ayah."
"……Eh."
Marquis…… Marquis itu orang yang sangat sulit dihadapi.
Terlebih lagi, dia adalah pria yang secara paksa menghancurkan bangsawan musuh
sebagai pendukung Pangeran Pertama. Jika bukan karena Erik, sudah pasti raja negeri ini akan menjadi Pangeran
Pertama.
Aku sedikit cemas
kalau itu akan menjadi masalah, tapi melihat wajah Lumiera, sepertinya tidak
ada masalah apa-apa.
"Belakangan
ini, Ibu juga mulai melakukan hal yang sama, lho."
"A-ah…… Hebat ya."
Aku
merinding dalam hati melihat reaksi yang melampaui dugaanku. Padahal aku
benar-benar tidak mengatakan hal yang luar biasa……
Melihat Lumiera
yang bercerita dengan riang, aku pun menyadari sesuatu.
——Ini juga
merupakan kekuatan Lumiera.
Di dalam novel
memang muncul seorang Saint. Tentu saja dia salah satu anggota harem Erik. Tapi
aku merasa Lumiera pun memiliki potensi bakat sebagai seorang Saint.
Gadis yang
seperti perapian yang menghangatkan rumah keluarga Farduras yang membeku.
……Aku harus
melindunginya, apa pun yang terjadi.
Aku kembali bersumpah dalam hati.
◇
◇
◇
Dengan begitu, aku mulai pergi ke kastel seminggu sekali
untuk belajar sihir.
"Wahai
manaku, jadilah mana yang membeku……"
Meski kalimat
memalukan khas chuunibyou seperti ini, kalau dilakukan bersama-sama,
lama-lama aku jadi terbiasa juga tanpa sadar.
Mantra
"Wahai manaku, jadilah mana [Elemen]" adalah dasar yang digunakan di
wilayah ini. Struktur sihirnya adalah dengan menambah jumlah baris puisi,
kekuatan sihirnya pun akan meningkat.
《 Wahai manaku》 《 Jadilah mana yang membeku》. Dengan dua baris ini, butiran es bisa tercipta. Kebanyakan apa yang
disebut sihir sehari-hari hanya menggunakan dua baris ini.
Lalu tambahkan
barisnya. 《 Wahai manaku》 《 Jadilah mana yang membeku》 《 Asahlah pedang keheningan》, maka sihir itu akan menjadi sihir
serangan yang disebut Ice Cutter.
Namun, ini
hanyalah templat. Jika imajinasinya cocok, kata-kata yang berbeda total seperti
《 Manaku》 《 Berevolusilah menjadi sihir es》 《 Jadilah pedang dan tebaslah musuh》 pun akan menghasilkan sihir yang serupa.
Lalu, bukan
berarti kata-kata itu sendiri yang langsung menjadi sihir. Kata-kata hanyalah
alat bantu untuk membangun Image di dalam otak, dan dasar dari sihir
adalah memperkuat Image yang sudah disusun di otak dengan kata-kata yang
mengandung mana.
◇ ◇ ◇
Hari ini, aku dan
Adric yang sudah mulai mahir menggunakan sihir sedang mencari tahu atribut
sihir yang cocok bagi kami. Pencarian bakat dilakukan dengan mencoba
mengaktifkan sihir dasar dua baris dari berbagai atribut. Atribut yang cocok
akan terlihat dari kemudahan penyusunan Image dan kekuatan mananya yang
menonjol.
Sebenarnya aku
sudah tahu hasil atribut utamaku, tapi atribut sub yang kuat selain atribut
Tanahku tidak disebutkan di dalam novel.
Karena ingin tahu
soal itu, aku pun mengerjakannya dengan cukup serius.
Menurut informasi
awal, pemilik atribut Tanah biasanya memiliki kecocokan yang cukup tinggi
dengan elemen seperti Petir.
……Hmm? Saat aku
sedang berpikir, Adric di sampingku mencoba atribut Petir.
"Wahai
manaku, jadilah mana kilat."
Crackle
crackle!
Jelas sekali
kilatan listrik yang kuat terpancar. Tingkat kekuatannya sangat berbeda jauh
dengan sihir api yang kami lakukan saat latihan selama ini. Luke yang
melihatnya dan Lumiera pun terbelalak.
"Ooh, Tuan
Adric. Ternyata Petir. Ini sudah tidak diragukan lagi."
"Kakak! Hebat sekali!"
"Wah, Adric. Petir ya? Keren sekali!"
Yah, aku sudah tahu sih, tapi bereaksi kaget adalah pilihan
yang tepat. Di dunia ini, penyihir yang mahir sihir api adalah yang paling
banyak, diikuti air, lalu tanah. Sedangkan penyihir yang mahir sihir es atau
petir sebagai keahlian utama mereka jumlahnya tergolong sedikit.
Oleh karena itu, mereka cukup diunggulkan sebagai penyihir
langka.
Karena aku juga mengincar sihir petir sebagai atribut sub,
melihat ini tentu saja membuatku iri.
"Wahai
manaku, jadilah mana kilat."
Zap……
Hmm. Sepertinya
bisa digunakan sedikit, tapi memang terasa payah jika dibandingkan milik Adric.
"Apa bakat
Rad sudah ketahuan?"
"Mungkin,
yang ini."
Sambil berkata
begitu, aku menunjukkan sihir tanah.
"Wahai
manaku, jadilah mana batu cadas."
……Lalu sebuah
batu tercipta di atas tanganku.
"Atribut
Tanah ya……"
"Iya, kalau
sihir serangan mungkin seperti Stone Bullet."
"Benar
juga. Begitu ya, Tanah……"
Memang
benar dugaanku. Adric pun menunjukkan gelagat sedikit kecewa. Padahal dia tadi
mengatakannya dua kali.
Kemungkinan
besar, Adric sudah membayangkan kami akan membentuk party bersama.
Bukannya atribut Tanah itu lemah, tapi karena sihir Tanah pada dasarnya
berhubungan dengan melempar batu, maka itu terhitung serangan fisik. Meski
praktis karena bisa menciptakan benda padat, ada kecenderungan orang mencari
serangan selain fisik dari seorang penyihir.
Bisa
dibilang, serangannya tidak berbeda dengan lemparan batu biasa.
Itulah
alasan mengapa atribut Tanah saat ini tidak populer, tapi pikiranku sedikit
berbeda.
Soalnya,
atribut Tanah itu punya tingkat kebebasan yang terlalu tinggi. Jangkauannya pun
luas. Ada tanah, ada batu, bahkan logam pun di dunia ini diperlakukan sebagai
sihir atribut Tanah. Karena itu, aku menduga di dalam atribut Tanah pun masih
ada pembagian atribut yang lebih mendetail.
Jika
dipikirkan seperti itu, wajar saja jika penyihir yang benar-benar bisa
menguasai atribut Tanah menjadi sedikit karena atributnya tidak pas secara
mendetail.
Penyihir
yang ikut dalam perburuan Little Boar tempo hari pun menciptakan rantai dengan
atribut Tanah. Bisa menciptakan rantai selevel itu untuk melumpuhkan Red Boar
menurutku adalah keahlian yang sangat hebat, tapi aku menduga kekuatan Stone
Bullet-nya pasti akan turun.
Pasalnya,
Radcliff di dalam novel, meski menjadi penanggung jawab sihir di party
Adric, kekuatan Stone Bullet-nya tidak seberapa. Namun, aku ingat
pertahanannya sangat kuat saat dia menggunakan Iron Shield ketika
bertarung melawan Erik dan kawan-kawan.
Mungkin
penulis ingin memberikan kesan bahwa karakter figuran antagonis hanya mahir
dalam melarikan diri atau bertahan, tapi……
Pasti aku
lebih cocok ke arah tipe logam di dalam atribut Tanah.
◇ ◇ ◇
Latihan
sihir hari ini pun berakhir.
Adric
tampak sangat senang karena atributnya ternyata sihir petir. Dia mengobrol seru
mengenai sihir petir bersama Lumiera dan Luke.
…….
Aku
diam-diam mengangkat tanganku ke depan dada.
"Wahai
manaku, jadilah mana baja……"
……Ya, tidak salah
lagi.
Atribut Tanah
memang tetap atribut Tanah, itu terlihat dari ukuran batu yang bisa kubuat.
Namun, berat yang terasa mantap di telapak tanganku saat ini bukan dari batu
biasa.
Sesuai dugaanku,
sihir Logam adalah atribut asliku yang sebenarnya.
Mungkin bukan
yang terkuat, tapi bagi aku yang datang dari Jepang modern, kurasa atribut
logam punya kecocokan yang sangat baik.
Bagaimanapun
juga, aku datang dari masyarakat yang memiliki benda-benda seperti senjata api.
Aku pun
tersenyum kecil di dalam hati.
Setelah latihan
selesai, seperti saat latihan pedang, kami menyantap makanan di teras yang
biasa.
Saat sampai di
kursi teras, Seva yang tadinya melatih pedang sudah datang lebih dulu. Aku baru
menyadari bahwa alasan Lumiera bergabung di waktu istirahat saat kami latihan
pedang dulu adalah karena waktu latihan sihir Lumiera memang berbarengan dengan
jam tersebut.
Adric tampaknya
hanya berlatih sihir seminggu sekali. Di hari-hari biasa, dia melakukan latihan
khusus bersama Seva di lapangan latihan pedang.
Aku
sendiri datang ke kastel menyesuaikan dengan jadwal latihan sihir Adric
tersebut.
Seva tidak
memiliki bakat sihir. Karena itulah, hanya dia satu-satunya yang tidak
berpartisipasi dalam latihan sihir, dan dia tampak sedikit kesepian.
Yah, Seva adalah
tipe orang yang sudah puas asal bisa melatih otot. Kurasa dia hampir tidak
peduli soal fakta bahwa dirinya tidak bisa menggunakan sihir.
Hanya saja,
menurutku bagian yang membuat Seva merasa kesal adalah fakta bahwa kami
berlatih sihir bersama Lumiera.
Meski begitu,
kami tetap bisa makan bersama seperti ini setelah latihan. Lagipula, mereka
pasti tetap makan bersama di hari-hari biasa saat aku tidak datang.
……Tapi, kenapa
juga aku harus merasa bersaing dengan Seva?
Terlepas dari
itu, Seva sedang bercerita dengan sangat antusias mengenai perburuan Little
Boar tempo hari.
Di sela cerita
itu, Lumiera tampak iri mendengar kisah kami yang pergi jauh menunggang kuda
dan menginap semalam di dalam tenda di tengah gunung.
Sama sepertiku,
sepertinya Adric dan Lumiera sering pergi ke gereja di kota, namun mereka
jarang bisa keluar wilayah dengan bebas. Di dunia ini ada monster, bahkan ada
juga bandit.
Kastel itu
sendiri berada di dalam Kota Falcrest, jadi area pergerakan mereka terbatas
hanya di dalam tembok kota.
"Heh, jadi
Lumiera belum pernah keluar dari kota?"
"P-pernah, sih…… Tapi itu saat aku masih sangat
kecil."
Katanya, dia pernah dibawa ke rumah keluarga ibunya sesaat
setelah lahir untuk bertemu kakek dan nenek dari pihak ibu.
Kalau dipikir-pikir, kehidupan bangsawan ternyata cukup kaku
dan mengekang juga ya.
"Ta-tapi
lusa depan, aku akan ikut pergi ke rumah keluarga Ibu."
"Heh, Adric
tidak ikut?"
Saat aku
bertanya, Adric yang menjawab.
"Ya, tepat
di waktu yang sama akan ada pesta yang diadakan oleh Raja di Ibukota. Aku dan
Ayah dijadwalkan untuk pergi ke sana."
"Ooh,
Ibukota. Enak ya."
Yah, aku, Adric,
maupun Seva toh akan masuk ke Akademi Kerajaan, jadi beberapa tahun lagi kami
juga akan pergi ke Ibukota.
Namun, pesta yang
diadakan Raja, ya? Skalanya pasti jauh lebih besar daripada pesta Tempor Solis
tempo hari.
Aku iri. Pasti
suasananya jauh lebih megah daripada yang kubayangkan.
Sambil memikirkan
hal itu, aku bertanya kepada Lumiera.
"Heh, jadi
di mana rumah keluarga Ibumu?"
"Di daerah
Chippolini. Kamu tahu tempatnya?"
Deg.
"A-ah…… Umm, Italca?"
"Ah! Italca itu tetangganya. Kamu tahu banyak ya. Rumah
keluarga Ibu ada di Pireno."
"Oh……"
Deg.
"Rad?
Ada apa?"
"Eh? Tidak. ……Bukan apa-apa."
—Jadi di
sini.
Begitu
rupanya. Kepingan-kepingan di dalam kepalaku mulai saling terhubung.
—Apa yang harus
kulakukan……?
Persiapanku
sendiri masih belum matang.
Aku mulai merasa panik.



Post a Comment