Chapter 8
Selamatkan Lumiera
Sudah kupikirkan
masak-masak, dan akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan surat. Lebih baik
dimarahi setelah kejadian daripada dihentikan sebelum berangkat. Begitulah
logikaku.
Kutaruh surat itu
di atas meja kamar ayahku, lalu aku segera menuju kandang kuda. Para pemburu
bayaran kabarnya sudah berkumpul di Guild Petualang kota.
Saat kami keluar
dari mansion, seekor kuda berlari kencang ke arah kami. Kuda itu berhenti
mendadak begitu melihat sosok kami. Sepertinya Scott mengenali penunggangnya.
"Hmm? Ada
apa, Felt? Bukannya kita harus kumpul di Guild?"
"Gawat,
paman. Ada kabar kalau kereta kuda Istri Marquis sudah berangkat empat hari
yang lalu. Kalian yakin mau tetap pergi?"
"……Hah?"
Apa? Empat hari
yang lalu? Bagaimana mungkin?
"Oi, Rad. Apa maksudnya ini?"
"Eh?
Ti-tidak tahu. Bukannya Adric dan yang lain baru berangkat hari ini……"
Melihat
kebingunganku, petualang muda bernama Felt itu menjawab.
"Memang
rombongan Marquis berangkat hari ini, tapi aku dengar kereta Istri Marquis
sudah jalan duluan empat hari lalu."
"Bohong…… Ini gawat. Tapi, mereka pakai kereta kuda, kan? Kalau kita pakai kuda, harusnya masih
bisa terkejar?"
"Jangan
tanya aku, mana aku tahu. Tujuannya Gunung Riul, kan…… Yah, tergantung
situasi juga sih."
"Ti-tidak mungkin……"
"Pokoknya kita ke Guild dulu."
Di perjalanan,
Scott memperkenalkanku pada Felt. Scott bilang dengan nada agak tertekan kalau
dia adalah keponakannya, Felt Morgan.
Mendapatkan
dua orang Morgan di saat seperti ini benar-benar bantuan besar. Mungkin Scott memanggilnya karena merasa
misi ini berbahaya.
Tapi, saat ini
perasaanku terlalu kacau untuk bisa merasa senang.
Para pemburu
bayaran yang menunggu di Guild benar-benar terlihat seperti berandal kasar.
"Hah?
Berangkat empat hari lalu? Itu sih artinya kita harus memacu kuda gila-gilaan
kalau mau sampai tepat waktu."
"Benar.
Karena itu ayo segera berangkat."
"Aku
mundur. Ogah aku harus lari semalaman terus langsung bertarung melawan kelompok
itu. Gila apa."
"Yah,
aku juga mundur."
"Ta-tapi,
lebih baik kalau banyak orang……"
"Itu
kata-kata yang pantas diucapkan oleh orang yang tidak salah jadwal
keberangkatan."
"Ugh……"
Kalau sudah
dikatakan begitu, aku tidak bisa membalas apa pun. Aku hanya bisa terdiam
melihat para pemburu bayaran itu pergi satu per satu.
"Fiuh…… Segitu inginnya kamu menyelamatkan dia,
ya?"
"……Eh?"
Kira seluruh pemburu bayaran sudah pergi, tapi ada tiga
orang pria yang tampak seperti satu kelompok sedang menatapku dengan wajah
ragu.
"I-iya.
Lumiera adalah teman kami."
"Lumiera-sama?
Aku dengar beliau orang yang sangat baik, seperti orang suci……"
"Be-benar!
Dia benar-benar anak yang baik!"
Melihat wajahku
yang putus asa, pria yang sepertinya pemimpin mereka menghela napas sambil
bergumam.
"Yah, mau
bagaimana lagi. Jumlah kita berkurang, jadi kalau situasinya gawat, kami akan
lari, ya?"
"Eh? Kalian
mau ikut?"
"Aku bilang,
kalau gawat kami akan lari. Paham?"
"I-iya."
Akhirnya jumlah
personil berkurang drastis dari rencana awal, tapi setidaknya tiga orang itu
mau ikut. Lawan kami adalah penyamun gunung. Aku butuh bantuan sebanyak
mungkin. Aku pun membungkuk dalam-dalam dengan perasaan sangat bersyukur.
Namun, mereka
hanya melambaikan tangan dan bilang, "Ini cuma bisnis," agar aku
tidak merasa sungkan. Mereka
orang-orang yang sangat baik.
Kami
langsung bergegas menuju rumah Seva. Rencananya aku ingin Seva membantu menyusun alibi. Setidaknya aku harus
membohongi orang tuaku sampai aku kembali.
"Ogah, aku
ikut!"
"Eh?
Tidak, tidak. Bukan begitu maksudku."
"Lumiera
dalam bahaya, kan?"
"I-iya,
tapi…… Tidak apa-apa, aku
bisa urus!"
"Aku
ikut. Tunggu sebentar, aku ambil perlengkapan pelindung dulu."
"Ta-tapi
perjalanannya bisa memakan waktu seminggu……"
"Aku tetap
ikut!"
"O-oke……"
Aku gagal. Kalau
dipikir-pikir, mana mungkin Seva yang berotot otak itu mau tinggal diam setelah
mendengar kabar ini. Sial. Sekarang aku tidak punya waktu untuk berdebat
dengannya.
……Terpaksa kubawa
juga.
Aku meminta Felt untuk membonceng Seva di kudanya.
Dan akhirnya,
kami bertujuh berangkat meninggalkan kota untuk mengejar Lumiera.
Berdasarkan
simulasi awal, rombongan Lumiera harusnya sampai di kaki Gunung Riul dalam
sepuluh hari perjalanan. Karena mereka sudah jalan empat hari, berarti sisa
enam hari lagi. Kami harus menyusul sebelum itu.
Biasanya
kecepatan kuda bisa dua kali lipat kereta kuda. Untuk stamina kuda, di dunia
ini ada pakan yang berefek seperti obat pemulih, jadi kuda bisa dipacu lari
seharian penuh.
Tapi, masalahnya
adalah manusia yang menungganginya.
Obat pemulih
untuk manusia sangat mahal, setara dengan Potion, dan biasanya digunakan
untuk menyembuhkan luka. Aku tidak menyiapkan hal semacam itu dalam jumlah
banyak.
Kata-kata pemburu
bayaran yang pergi tadi memang benar. Bertarung melawan penyamun dalam kondisi
stamina terkuras habis karena perjalanan adalah risiko yang terlalu besar.
Sambil terus
memacu kuda, aku berdiskusi dengan Scott mengenai batas kemampuan kami.
Malam itu, di
tengah persiapan kemah, aku menyapa Seva.
"Seva, kamu
tidak apa-apa?"
"Hah? Tidak
masalah. Kita harus buru-buru, kan? Cuma segini sih enteng."
"Begitu
ya. Ah, benar juga, tolong minum ini."
"Hmm? Apa ini?"
Di samping Scott dan yang lain yang sedang menyiapkan kemah,
aku merebus air dan menyeduh teh. Aku tidak tahu cara menyeduh yang benar, jadi
hanya merebus daun teh begitu saja…… Seva meminumnya sampai habis meski bilang
rasanya tidak terlalu enak.
"Aku cuma berpikir kamu mungkin ingin minum sesuatu
yang hangat."
"Oh, benar juga. Rasanya lumayan."
Meskipun
makanannya hanya ransum kering yang hambar, teh hangat ini sepertinya bisa
sedikit menenangkan perasaan. Saat aku menyuguhkan teh ke Scott dan yang lain,
mereka semua tampak senang.
Malam itu kami
menyerahkan tugas jaga malam kepada para orang dewasa, sementara kami
beristirahat dengan sungguh-sungguh.
Hari berikutnya,
dan hari berikutnya lagi, kami terus memacu kuda di jalanan. Sambil mengecek
informasi di desa-desa yang kami lalui, aku merasa jarak kami dengan rombongan
Lumiera semakin dekat.
Paka-pak.
Paka-pak. Paka-pak. Paka-pak.
Suara
derap langkah kuda yang teratur terus bergema. Hari ini adalah hari keenam. Kalau tidak segera
menyusul, situasinya akan sangat berbahaya. Kegelisahanku memuncak, tapi aku
menahannya dan terus menatap lurus ke depan.
Wilayah ini
sedikit lebih rendah elevasinya dibanding wilayah Farduras. Namun, karena kami
bergerak ke arah utara, iklimnya mungkin tidak jauh berbeda.
Jalan
raya ini membentang menghubungkan dataran rendah di antara pegunungan. Ada
bagian yang menyisir sungai besar, tapi sekarang jalanan ini diapit oleh
perbukitan rendah di kedua sisinya.
"Apa
ada yang tahu yang mana Gunung Riul?"
"Tidak,
aku tidak tahu sampai sedetail itu."
"Begitu
ya. Apa gunungnya sangat tinggi?"
"Kurasa
tidak. Itu gunung tempat para petani kabur dan menetap. Mungkin di kaki gunung
atau semacam itu?"
"Begitu
ya……"
……Hmm?
"Turunkan
kecepatan!"
Begitu aku
memanggil Scott, kuda-kuda mulai melambat. Di pinggir jalan ada area yang agak
terbuka, dan di sana terdapat bekas api unggun yang masih baru.
"Scott,
itu……"
"Ya,
kelihatannya masih baru. Ada bekas roda kereta juga. Kita hampir menyusul
mereka."
Saat kuda kembali
dipercepat, aku merasa ada sesuatu yang aneh pada jejak kaki tersebut.
"Scott…… Tapi, jejak kaki kudanya bukannya terlalu
banyak?"
"Hmm? ……Benar, jejaknya bercampur."
Firasat buruk menghantuiku.
"Scott, cepat!"
"O-oke!"
Tepat saat itu.
Dari arah hutan di depan, terdengar suara ledakan "Dooom!" yang
menggetarkan tanah.
"Apa…… Sihir?"
"Suara tadi
itu sihir?"
"Entahlah…… Apa
mereka membawa Ex-Magia sebagai pengawal?"
"Mana aku
tahu!"
Sial. Pertempuran
sudah dimulai. Sihir siapa itu?
Ini pengawalan
Istri Marquis, tidak heran jika bukan hanya Ex-Guard, tapi Ex-Magia
juga ikut serta. Baru saja aku berpikir begitu, suara ledakan yang lebih besar
kembali menggema……
──Adu sihir?
Entahlah. Tapi
yang pasti, situasinya sangat berbahaya. Aku segera berteriak ke arah Felt yang
mengikuti di belakang.
"Felt!
Tolong jaga Seva!"
"……Kamu
yakin?"
Aku tahu maksud
Felt. Mengapa harus menggunakan petarung sehebat Felt hanya untuk menjaga Seva?
Bagiku, Lumiera itu penting, tapi Seva juga
teman yang sangat berharga.
Mendengar
kata-kataku, Seva menunjukkan raut wajah tidak puas.
"Oi, Rad!
Apa yang kamu pikirkan!"
"Seva,
diamlah. Para penyihir mungkin sedang bertarung di sana."
"Hah?"
Mendengar
kata-kataku, wajah tiga orang di belakang kami langsung berubah pucat.
Hmm?
Begitu ya. Kalau begitu……
"Felt,
serahkan Seva ke Domane dan yang lain!"
"Setuju……"
"O-oi!"
Aku tidak menerima protes dari Seva kali ini.
Trio itu…… Domane, Modon, dan Edmon. Selama perjalanan, aku merasa mereka adalah
orang-orang yang sangat baik. Tapi sebagai petualang, mereka hanya peringkat C.
Mereka berdalih
tidak bisa naik ke peringkat B karena tidak bisa menulis, tapi sepertinya
peringkat C memang batas kemampuan mereka.
Jelas Felt
sendirian jauh lebih kuat daripada mereka bertiga digabung.
Sejujurnya, kalau
ada penyihir lawan, trio ini akan kesulitan. Prajurit yang tidak bisa sihir pun
punya trik tersendiri untuk melawan penyihir. Itu adalah teknik yang sangat
menentukan perbedaan kemampuan saat menghadapi monster sebagai petualang.
Dengan kata lain,
ada jurang perbedaan kemampuan adaptasi terhadap sihir antara petualang
peringkat B dan peringkat C.
"Kalian bertiga, tolong jaga Seva! Pantau situasi dari pinggiran!"
"Lalu Tuan
Muda bagaimana!"
"Aku bisa
pakai sihir! Aku akan ikut bertarung!"
"Bocah
bicara apa kamu! Tidak mungkin. Kamu ikut kami saja──"
"Cepat!"
Tanpa sadar aku
memasukkan mana ke dalam suaraku. Hanya dengan itu, kata-kataku tersampaikan
dengan sangat kuat kepada Domane dan kawan-kawan.
Mendengar
itu, Domane menyerah dan mulai memperlambat kudanya. Seva berteriak
marah dalam dekapan Domane…… tapi aku terus menatap lurus ke depan.
"Ayo maju
sekaligus!"
"Sialan,
lawan penyihir ya. Bayarannya harus mahal!"
"Kalau kita
menyelamatkan Istri Marquis, hadiahnya pasti luar biasa!"
"Hahaha.
Lagi-lagi mengandalkan keberuntungan, ya!"
Scott sepertinya sudah membulatkan tekad. Dia menghentakkan sanggurdi. Di saat yang sama,
kuda kami melesat semakin kencang.
Membelah angin,
dua ekor kuda memacu kencang di jalan raya.
Sudah pasti
Lumiera sedang diserang. Di sepanjang jalan, mayat-mayat yang terlihat seperti
penyamun bergelimpangan.
Saat aku merasa
lega karena tidak melihat sosok pengawal di antara mayat-mayat itu, aku melihat
seorang pria dengan zirah mewah terkapar, di sampingnya seekor kuda dengan kaki
patah sedang sekarat.
──Apa yang harus
kulakukan?
Untungnya, pria
itu sepertinya masih selamat. Mendengar suara derap kuda kami, dia mencoba bangkit dan menghunus
pedang. Melihat itu, aku berdiri di atas kuda di depan Scott.
"Aku
Radcliffe Prosper, pengikut keluarga Farduras. Apakah Lumiera-sama selamat!"
Suara yang
bermuatan mana itu terdengar jelas di telinga sang prajurit. Dia membelalakkan
mata dan menunjuk ke ujung jalan.
"Felt, bisa
angkut dia?"
"Pria dewasa
ya…… Yah, bisalah."
Aku mengangguk
pada Felt lalu kembali berseru pada prajurit itu.
"Kalau kamu
masih bisa bertarung, lompatlah ke kuda di belakang!"
Itu sudah cukup.
Felt sedikit melambat, dan pria itu melompat ke atas kudanya.
"Radcliffe-sama,
mengapa Anda bisa di sini……"
"Aku dengar
daerah ini sedang bahaya, jadi aku mengkhawatirkan Lumiera."
"Terima
kasih banyak!"
Prajurit itu
sepertinya terluka di bahu karena jatuh dari kuda, tapi tangan utamanya masih
bisa bergerak. Daripada tidak bisa melakukan apa pun, dia pasti lebih senang
diterjunkan ke medan tempur. Aku memutuskan hal itu secara sepihak.
Di depan sana,
aku bisa melihat kepulan asap di ujung jalan.
"Lumiera……"
Aku mengepalkan
tinjuku erat-erat.
Tak lama
kemudian, pemandangan di depan benar-benar kacau.
Mungkin karena
serangan sihir, kereta kuda yang rodanya lepas dan tidak bisa bergerak itu
sedang diserbu oleh para penyamun.
Setidaknya, masih
ada harapan karena cahaya dari sihir Lumiera terpancar dari dalam kereta.
"Scott, Lumiera masih berjuang…… Hmm? Scott?"
Melihat Scott yang terdiam, aku menyadari wajahnya tampak
tegang saat menatap seorang pria yang berdiri di belakang para penyamun.
"Sial,
situasi terburuk……"
"Eh?"
Felt
menyambung gumaman Scott.
"Itu kan Cerbelo…… Kenapa orang semacam dia ada di
sini."
Cerbelo? Mungkin maksudnya pria yang terlihat seperti
penyihir itu. Aku sama sekali tidak mengenalnya, tapi sekarang bukan waktunya
untuk bertanya.
Aku
berdiri di atas punggung kuda yang sedang berlari, mendekati kereta sambil
menghimpun mana.
Cerbelo
menghadap ke arah kereta dan mengangkat tongkatnya. Aliran mananya menunjukkan dia sudah siap
melepaskan sihir. Mana terkumpul di kepala dan mulutnya.
Sial. Aku tidak
akan membiarkan itu terjadi.
"Wahai manaku…… jadilah mana peluru timah……"
Pria bernama Cerbelo itu tiba-tiba melirik ke arahku. Apa dia menyadari rapalan mantraku?
Cerbelo menghentikan rapalannya dan menoleh ke arahku.
Dia memang
terlihat berbahaya. Saat mata kami bertemu, rasa dingin menjalar di punggungku.
Tapi rapalan mantraku hampir selesai. Aku segera menyempurnakan sihirku.
"Tembak!"
Aku menembakkan Mana
Bullet langsung ke arah penyihir itu.
……Di saat yang
bersamaan.
Cerbelo yang tadi
membatalkan sihirnya kembali menunjukkan pergerakan mana.
──Sudah
terlambat!
Sihirku bisa
dibilang seperti tembakan pistol. Di saat ditembakkan, peluru itu langsung
mengenai lawan. Aku merasa sudah menang saat melepaskannya, tapi……
"Apa……"
Tiba-tiba
bongkahan batu muncul di depan sang penyihir. Peluruku menghantam bongkahan
batu itu dan terpental. Aku terperangah melihat kecepatan aktivasinya.
Scott
berbisik di dekat telingaku.
"Tidak salah lagi. Dia Cerbelo. 'The Grill'…… Begitu
dia dipanggil."
"Umm…… Se-sepertinya dia berbahaya ya."
"The Grill". Nama itu ada dalam ingatan
samar-samarku.
Benar, dia adalah penyihir yang ada dalam kelompok penyamun
yang datang ke wilayah Stoltz bersama Basso. Dia dikalahkan oleh Eric, tapi dia
adalah penyihir yang cukup merepotkan Eric dan kawan-kawan di dalam novel.
Melihat reaksi Scott, tidak salah lagi.
Keringat dingin mengalir di punggungku…… Apa aku yang
sekarang bisa menghadapinya?
"……Mau lari?"
"Tidak…… Terus maju."
"Dimengerti."
Aku tidak
bisa lari hanya karena lawan terlihat berbahaya. Di cerita aslinya, Lumiera dan
seluruh pengawalnya tewas. Aku sudah tahu kalau akan ada musuh yang kuat.
Dari
rangkaian gerakan tadi, aku paham satu hal. Dalam pertarungan antar penyihir,
penguatan penglihatan sangatlah krusial. Karena karakteristik sihir di dunia
ini, meski tidak bisa mendengar rapalan mantra, aku bisa memprediksi sihir
lawan sampai batas tertentu melalui aliran mananya.
Aku meminta Scott
menurunkanku sedikit jauh dari lokasi. Adu sihir dengan posisi membelakangi
kereta kuda itu berbahaya. Sepertinya Cerbelo menjadikan aku yang sesama
penyihir sebagai target. Itu justru menguntungkan karena dia tidak akan
menyerang kuda atau Scott secara langsung.
Sebenarnya aku
ingin memberitahu Lumiera kalau aku datang untuk memberinya semangat…… tapi di
depan pria ini, aku tidak punya waktu luang untuk itu.
"Bocah, apa
urusanmu di tempat seperti ini?"
"……"
Sambil bicara,
mana bergejolak di tubuh Cerbelo. Sepertinya dia penyihir yang cukup
ternama. Berbeda denganku yang harus menarik mana dari kantong mana setiap kali
akan menggunakan sihir.
……Begitu ya.
Sambil memperhatikannya, aku juga mengalirkan mana dari
kantong mana ke seluruh tubuh, mengatur agar aku bisa menembakkan sihir secepat
mungkin. Cerbelo juga mengamatiku dengan saksama. Aku mungkin ketahuan
menirunya, tapi aku tidak peduli.
"Wahai
manaku, jadilah mana batu karang, dan tembuslah musuh."
Sambil
mendadak berlari, aku menembakkan Stone Bullet.
"Wahai
mana batu……"
Sebaliknya,
rapalan Cerbelo hanya satu baris. Dalam sekejap, batu yang sama seperti
sebelumnya tercipta di depannya dan menangkis Stone Bullet milikku.
Aku
terperangah. Hanya satu baris! Aku terus berlari sambil kebingungan mencari
alasannya. Dari semua sihir
yang kupelajari, tidak pernah ada sihir satu baris.
"Ke-kenapa……"
"Kenapa?
He-he-he. Terlalu dini untuk bocah sepertimu, ya?"
Seolah mendengar
gumamanku, Cerbelo tertawa meremehkan. Sial.
Saat aku melirik
ke arah kereta kuda, situasinya terlihat parah. Di sekitarnya banyak mayat yang
hangus terbakar…… Sepertinya penyihir Ex-Magia sudah tewas. Tapi dari
cahaya sihir suci itu, aku tahu Lumiera masih hidup.
Dan musuhnya
bukan hanya Cerbelo. Banyak penyamun menyerang dari segala arah. Mungkin
penyihirnya hanya Cerbelo, tapi sepertinya ada pendekar pedang yang ahli juga
di sana.
Kuserahkan bagian
itu pada prajurit pengawal dan Scott, sementara aku fokus pada Cerbelo.
Lagipula, kalau tidak fokus, aku tidak akan bisa bertahan.
Tidak apa-apa.
Selama aku bisa menahan orang ini…… Para pengawal masih bisa bertahan. Ini
pasti berkat sihir Lumiera. Meski begitu, mana Lumiera ada batasnya. Aku harus
cepat.
Scott, Felt, dan
ksatria yang kami jemput tadi sudah terjun ke tengah pertempuran yang kacau.
Saat aku
hendak merapal sihir lagi, kali ini Cerbelo bergerak duluan.
"Wahai mana
api, bakarlah dia."
Sial,
benar-benar ganas. Kali ini Cerbelo menembakkan Fireball dengan mantra
dua baris. Dan ukurannya besar! Aku terpaksa berlari ke samping sekuat tenaga
untuk menghindar. Meski menghindar, hawa panas yang menyambar di dekatku
benar-benar meneror mental.
Aku tidak
tahu bagaimana mekanismenya, tapi bertarung melawan musuh yang rapalannya lebih
pendek satu baris itu sangat menyulitkan. Sambil bertarung, aku kembali
menyadari betapa mengejutkannya kemampuan No-Cast yang ditunjukkan Eric.
Meski begitu, aku
hanya bisa melakukan apa yang aku bisa sekarang…… Aku mengatupkan gigi
rapat-rapat, mengalirkan mana ke kaki, dan sambil menghindari sihir Cerbelo,
aku menyusun rapalan mantra sekuat tenaga.
"Wahai
manaku, jadilah mana batu karang, dan tembuslah musuh."
Instingku
bilang jangan dulu mengeluarkan kartu as. Sihir lawan bukan hanya menyerang
dengan dua baris, tapi pertahanannya pun cukup dengan satu baris.
Rasa
tidak adilnya benar-benar luar biasa.
Aku masih bisa
menyerang hanya karena aku punya kelincahan kaki. Aku tidak menggunakan sihir
pertahanan, melainkan menghindar dengan kaki dan menggunakan seluruh mana untuk
menyerang. Hanya itu cara agar aku bisa bertahan.
"……Mana
sihir cepat yang tadi?"
"……"
Ternyata dia
mengincar sihir itu, ya.
Tentu dia
penasaran. Sihir pistol yang kutunjukkan pertama kali tadi punya kecepatan yang
jauh berbeda dibanding Stone Bullet yang kutembakkan berkali-kali ini.
Wajar jika
Cerbelo waspada.
Aku tidak
menjawab pertanyaannya yang memancing itu dan terus menembakkan Stone Bullet.
Selama itu juga, aku berusaha keras mencari tahu rahasia sihir ringkas milik
Cerbelo.
"Sepertinya
sihir empat baris tadi memang butuh persiapan lama di atas kuda, ya."
Cerbelo
sepertinya menyimpulkan bahwa sihir pistolku adalah sihir setara empat baris
yang kubangun pelan-pelan di atas kuda tadi.
"Yah, sudahlah. Sudah cukup main-mainnya, kan?"
Ekspresi
Cerbelo mendingin.
……Sesuatu
yang besar akan datang.
Aku bisa
merasakannya.
……Mungkin,
rapalannya akan bertambah satu baris lagi. Itu pasti sihir setara empat baris.
Aku memutuskan untuk membalas sihir Cerbelo dengan sihir pistolku sebagai
serangan balik (Counter).
Aku menghentikan
langkah, memfokuskan seluruh kesadaran ke arah Cerbelo.
Tepat saat itu.
"Rad! Kamu
ini! Jangan bercanda ya!"
"Glek!
Jangan ke sini, Seva!"
Seva yang
seharusnya kutinggalkan di belakang, berlari ke arahku dengan wajah merah padam
karena marah.
"Wahai mana
neraka api……"
Cerbelo sudah
mulai merapal mantra. Sial. Kalau begini Seva akan ikut kena. Terlebih lagi,
niat membunuh Cerbelo jelas sudah berpindah dari aku ke Seva.
"Jadilah
bola Hell Fire……"
Brengsek.
Curang sekali…… Dia tahu kalau aku tidak bisa membiarkan Seva. Senyum
kepuasan muncul di wajah Cerbelo.
Tidak ada pilihan selain menahannya. Kulihat Seva memegang Shield dengan
erat di tangan kirinya. Bagus. Perisai itu mengandung mithril. Meski
kandungannya tidak terlalu tinggi, itu adalah perisai dengan segel emas
keluarga Prosper yang asli.
"Beraninya
kamu menganggapku bocah──"
"Seva!
Perisai! Ada sihir datang!"
"Hah?"
Seva yang
tadi kehilangan akal karena marah akhirnya menyadari keberadaan Cerbelo.
Di saat yang
sama, sihir Cerbelo selesai.
"Bakar
semuanya sampai tak bersisa!"
Hawa panas yang
berbeda dari sebelumnya meledak dari tongkat Cerbelo.
"Uwooooh.
Serius?!"
Ini bukan
sekadar Fireball biasa. Ini adalah bola api raksasa yang dikelilingi
pusaran mana hitam yang mengerikan. Seva yang panik segera menjulurkan
perisainya ke depan.
Di mataku yang
sudah mengumpulkan mana, terlihat perbedaan kekuatan mana yang sangat jauh.
"Seva!
Jangan cuma pasang kuda-kuda! Alirkan mana lebih banyak!"
Aku berteriak,
tapi mana Seva belum sebesar itu. Kendali mananya juga masih terasa kaku.
Sial. Ini
tidak akan cukup. Aku segera berlari dan memeluk Seva dari belakang,
menumpangkan tanganku di atas tangan Seva yang memegang perisai.
"Hiaaaah!"
Aku sudah
tidak peduli lagi. Mana yang tadinya kusimpan untuk sihir pistol, kualirkan
sekaligus ke arah perisai dengan teknik Fa Jin. Semua tergantung pada seberapa kuat perisai yang
diberikan ayah kepada Seva.
Fooooooon!
Perisai yang
dialiri manaku dalam jumlah besar itu menerimanya dengan pasti. Seketika
perisai itu bersinar redup dan membentuk lapisan mana di permukaannya. Tepat
waktu.
Di saat itulah,
bola api Cerbelo menghantam dengan raungan keras.
Gooooooooon!
Sihir yang
menghantam itu kehilangan momentum majunya dan meledak di tempat. Perisai yang
menahannya berderit seolah-olah akan patah ke dalam.
Efek ledakannya
seharusnya menyebar ke sekeliling, tapi lapisan mana yang menyelimuti perisai
melebar seperti kanopi dan mengalihkan sisa ledakan itu ke samping.
Setelah
kontak singkat itu, perisai tersebut berhasil melindungi kami dengan sempurna.
……Seva?
Seva yang
memegang perisai jatuh tersungkur begitu saja. Sejenak kesadaranku teralih padanya, tapi
sekarang... ini adalah giliran menyerang. Segera kutajamkan fokusku kembali
pada Cerbelo.
Hanya ini
satu-satunya kesempatan.
Aku
melangkah maju sambil merapal mantra. Aku tidak boleh membiarkan Seva ikut
terjebak dalam jangkauan sihir ini.
"Wahai
manaku... jadilah mana bagi butiran bola besi yang tak terhitung
jumlahnya..."
Setelah
mengonsumsi mana dalam jumlah besar untuk teknik Fa Jin tadi, aku bisa
merasakan dasar dari kolam manaku. Aku harus berhasil dalam satu serangan ini.
Sambil
menghirup mana dari atmosfer, aku memosisikan kedua tanganku membentuk
lingkaran seolah sedang melakukan teknik Zhan Zhuang, dengan ujung jari
yang hampir bersentuhan.
Punggung
tanganku kuhadapkan ke arah Cerbelo berada. Di sekelilingnya, kulihat beberapa
penyamun yang bereaksi terhadap gerakan Seva mulai berlari merangsek ke arahku.
Aku
memastikan sekali lagi bahwa dalam sudut serangan ini, tidak ada kawan seperti
ksatria pengawal yang akan terkena.
"Bocah
sialan..."
Pandangan
Cerbelo sempat tertutup sesaat oleh debu akibat ledakan tadi, membuatnya
terlambat menyadari sihirku. Entah karena kesal sihir kebanggaannya gagal
total, dia merapal mantra pertahanan dengan ekspresi tidak senang, persis
seperti sebelumnya.
"Mau mencoba
berapa kali pun hasilnya akan sama..."
Kewaspadaan
Cerbelo yang mengendur itu adalah situasi yang sengaja kuciptakan dengan susah
payah. Tanpa sadar, sudut bibirku menyeringai tipis.
◇◇◇
Saat memikirkan
cara menghadapi musuh dalam jumlah banyak sekaligus, yang pertama terlintas di
benakku adalah senapan mesin seperti Machine Gun. Namun, seperti yang
sudah kukatakan berkali-kali, itu sulit karena akan menguras mana dalam jumlah
besar secara terus-menerus. Karena itulah aku memikirkan senapan sebar atau Shotgun.
Masalahnya, jika
aku menembak dengan imajinasi Shotgun, sudut penyebarannya cenderung
sempit dan hanya menyerang satu orang secara merata. Paling maksimal hanya bisa mengenai dua orang
yang berdiri berdampingan. Jika
begitu, lebih baik aku menembakkan sihir pistol berkali-kali.
Di tengah
kebingungan itu, aku terus memeras otak mencari ide lain.
Imajinasi sihir
akan lebih mudah berhasil jika bentuknya sederhana. Sesuatu yang lebih simpel,
namun dengan jangkauan serangan yang lebih luas... Aku merenungkannya selama
berhari-hari.
Lalu, terpikir
olehku bahwa senjatanya tidak harus berupa senjata api genggam.
"M18
Claymore Antipersonnel Mine"
Dengan Efek
Misznay-Schardin, ledakan yang diarahkan ke depan akan melontarkan 700 butir
bola baja ke arah musuh. Karena saking ganasnya sebagai ranjau, senjata ini
dilarang oleh konvensi internasional.
Senjata ini
menyelinap di antara celah aturan dengan menggunakan remot kontrol untuk
menghilangkan sifat "indiskriminasi" atau serangan membabi buta.
Ini terasa
seperti serangan tipe sebar yang paling optimal untuk jangkauan luas.
Tentu saja,
memanggil bola besi dalam jumlah banyak akan menguras mana yang luar biasa.
Namun, setelah mempelajari cara bernapas untuk menyerap mana dan membatasi
jumlah bola besinya, aku akhirnya mendapatkan titik terang untuk menggunakannya
dalam pertempuran sungguhan.
◇◇◇
Aku telah
melewati banyak percobaan dan kegagalan.
Tidak berlebihan
jika kukatakan aku menghabiskan waktu dua bulan hanya demi satu serangan ini.
Begitu menyelesaikan bagian awal mantra, aku memasukkan imajinasi yang sudah
terpatri kuat di otakku ke dalam gumpalan mana. Ini adalah sihir hibrida yang
terus kulatih. Aku tidak akan melakukan kesalahan.
"Meledaklah,
Claymore!"
Tiba-tiba, rasa
sakit yang kuat menghantam punggung tanganku yang menghadap ke lawan. Gelombang
ledakan akibat Efek Misznay-Schardin menyebarkan peluru sebar terarah ke depan.
Para penyamun
yang dihantam butiran besi itu seketika tumbang dengan tubuh penuh lubang.
...Hal yang sama
terjadi pada Cerbelo, yang mencoba menangkis seranganku hanya dengan
menciptakan batu di jalur antara aku dan dia. Baginya, serangan sepertiku cukup
ditahan dengan sihir penciptaan batu. Sekali lagi, itu adalah kecerobohannya.
Cerbelo hanya
berhasil melindungi tubuh bagian atasnya dengan batu. Kakinya tertembus butiran
besi dalam jumlah banyak, membuatnya berlutut dengan mengerang kesakitan.
Aku menatapnya
dari atas.
"A-apa itu
tadi... Terlebih lagi, kamu bahkan menggunakan Abbreviated Cast..."
"Abbreviated
Cast?"
Mungkin itu
adalah kata-kata terakhir karena rasa sesalnya, tapi aku langsung bereaksi
mendengar gumaman Cerbelo.
"Sial...
bisa-bisanya aku... agkh."
"Jangan-jangan,
alasan mantramu sangat pendek itu karena apa yang kamu sebut Abbreviated
Cast?"
"……"
"Apa kamu
mencampurkan teknik No-Cast ke dalam sihir bermantera?"
Aku yang mendadak
bersemangat mendengar istilah "Abbreviated Cast" mencoba
menggali informasi lebih lanjut, namun dari mulut Cerbelo, rapalan mantra
berikutnya dimulai.
"Wahai mana
neraka api..."
"Eh? Hei, tunggu—"
"Api
Hell Fire—"
Pada akhirnya dia tidak mau memberitahuku, ya. Cerbelo mungkin punya peluang jika dia memilih sihir dua baris yang mengutamakan kecepatan, tapi dalam situasi ini, dia sepertinya sudah tidak bisa mengambil keputusan dengan tenang.
Sayangnya, dalam
jarak sedekat ini, pedang jauh lebih cepat daripada sihir yang membutuhkan
rapalan. Tapi, sepertinya aku tidak perlu bergerak. Nyatanya, Cerbelo tidak
pernah sempat menyelesaikan mantranya sampai akhir.
Di depan mataku,
sebuah garis merah muncul di lehernya, lalu kepalanya pun berpisah dari
tubuhnya. Suara benda berat yang jatuh ke tanah—gedebuk—menandai
berakhirnya riwayat hidup Cerbelo.
"Dasar
bodoh..."
"Iya. Terima
kasih."
Itu Scott.
Scott mengayunkan
pedangnya dengan wajah tidak senang untuk membersihkan sisa darah yang
menempel.
"Yah, tapi
ini hasil yang lebih dari cukup, kan? Dia itu 'The Grill', lho."
Sambil
berkata begitu, Scott mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Aku pun ikut
menoleh, dan kulihat para penyamun langsung jatuh ke dalam keadaan panik masal
begitu melihat Cerbelo tewas.
Benar
juga!
Aku
segera berbalik dan memeriksa kondisi Seva.
Sip. Dia
tidak apa-apa. Sepertinya aliran mana dalam jumlah besar dari teknik Fa Jin-ku
tadi mengalir ke tubuh Seva dan membuatnya syok sesaat. Sekarang dia malah
sedang tidur nyenyak sambil mendengkur.
Fufufu.
Yah, kali ini biarkan Seva ikut berbagi jasa denganku.
Aku
berusaha payah memapah tubuh Seva yang berat dan berjalan menuju kereta kuda
tempat Lumiera berada.
Meski
begitu, tumpukan mayat di pihak penyamun jauh lebih banyak.
Tentu
saja, meski kalah jumlah, kemampuan individu prajurit resmi jauh lebih tinggi.
Masalah utamanya tadi memang keberadaan Cerbelo. Banyak ksatria yang tumbang
dengan luka bakar hebat; mungkin mereka ditebas saat sedang dikelilingi api.
Tapi, entah
bagaimana, mereka berhasil bertahan.
Jika mengingat
tragedi di cerita aslinya bisa dihentikan, ini seharusnya adalah kesuksesan
besar. Namun, aku tidak bisa menghilangkan rasa sesal... andai saja aku
memastikan tanggal keberangkatan dengan benar, mungkin pengorbanan sebanyak ini
tidak perlu terjadi.
Aku mendekati
kereta kuda perlahan dan mengetuk pintunya.
"……Iya."
Suara seorang
wanita yang bukan Lumiera terdengar dari dalam. Kupikir itu sang Istri Marquis,
tapi suaranya terdengar agak lebih muda.
"Umm, nama
saya Rad, Radcliffe Prosper."
"Eh!"
Kali ini,
terdengar teriakan terkejut dari Lumiera, disusul suara gaduh dari dalam
kereta.
"Lu-Lumiera-sama!"
Sepertinya di
dalam cukup penuh sesak. Tebakanku, para pelayan yang tidak bisa bertarung
diungsikan ke dalam kereta kuda.
Tak lama
kemudian, pintu terbuka. Tiga orang pelayan wanita langsung berhamburan keluar
seolah bendungan yang pecah, disusul oleh Lumiera yang melongokkan kepalanya.
Begitu melihat wajahku, dia langsung melompat turun dari kereta.
"Rad! Eh?
Seva? Dia tidak apa-apa?!"
"Ah, Seva
aman. Dia cuma
pingsan sebentar."
"Syukurlah……"
Lumiera
tampak sangat lega sambil mengamati wajah Seva dari dekat.
"Syukurlah……
benar-benar syukurlah……"
Lalu, dia
mengalihkan pandangannya ke sekeliling. Aku bisa melihat dia sangat terguncang
melihat banyaknya kematian di depan matanya. Dia menatap pemandangan itu seolah
sedang menahan sesuatu yang menyesakkan di dada.
Aku
mencoba menenangkannya dengan lembut.
"Berkat
Lumiera, semuanya bisa terus bertarung……"
"Tidak.
Kalau kami tidak ada di sini, mereka tidak akan diserang."
"Itu juga
salah. Mereka akan menyerang siapa saja demi uang."
"Tapi……"
"Berkat
sihir Lumiera, para prajurit bisa bertarung dengan bangga sampai akhir.
Daripada menyalahkan diri sendiri, lebih baik kita memuji rekan-rekan yang
sudah berjuang bersama."
"……Rekan?"
"Aku dan
Seva tahu betul kekuatan sihir Lumiera. Sihir itu benar-benar memberikan
keberanian dan kekuatan lebih dari biasanya. Bahkan di saat-saat yang paling
sulit sekalipun."
"Rad……"
"Lihat,
berkat sihir Lumiera juga, ada prajurit yang berhasil bertahan hidup."
"……Rad,
kamu hebat ya."
"Tidak
juga. Aku cuma ingin berpikir positif saja, mungkin?"
"Iya……
Terima kasih."
Di mata Lumiera
tidak terpancar kemarahan atau kebencian sedikit pun. Anak ini sepertinya
bahkan menaruh rasa iba pada mayat para penyamun. Dia merasakan kesedihan atas
setiap nyawa yang hilang.
Karena itulah,
dia memiliki bakat sebagai Orang Suci……
Aku yang
berlumuran lumpur tidak punya apa pun untuk menyeka air mata yang mengalir di
pipi Lumiera. Aku
hanya bisa berdiri diam di samping gadis suci ini.
Lokasi
ini sudah cukup jauh dari wilayah Farduras, dan hanya butuh beberapa hari lagi
untuk sampai ke kediaman orang tua Istri Marquis. Kami memutuskan untuk terus
menuju Pireno.
Para
prajurit segera mengganti roda kereta dengan cadangan, memakamkan rekan mereka
yang gugur, lalu berangkat. Seva juga segera bangun dan dengan jujur merasa
senang melihat keselamatan Lumiera.
Aku
bersama Scott dan Felt mendampingi kereta kuda seolah mengisi kekosongan posisi
pengawal yang tewas. Sesuai janji awal, Domane dan kawan-kawan menemukan mayat
penyamun yang memiliki harga kepala dan memasukkannya ke dalam kantong kain.
Mereka akan ikut bersama kami dan mencairkan uang hadiah di Guild desa
berikutnya.
"Maaf ya
Tuan Muda, kami membiarkan Tuan Muda Seva kabur dari pengawasan."
"Mau
bagaimana lagi. Seva juga sudah menaikkan levelnya. Meskipun kecil, dia itu
lincah."
"Jangan
panggil aku kecil! Rad kan lebih kecil dariku!"
"Hahaha.
Tapi berkat perisai Seva, semuanya berjalan lancar. Jadi tidak masalah."
"O-oh……"
Meskipun
begitu, aku menyukai trio ini. Bagiku yang hanya memiliki Scott sebagai bidak,
mereka adalah sumber daya manusia yang ingin kupastikan tetap berada di
pihakku. Untuk rencana panen sirup pohon birch putih yang sedang kusiapkan, aku
butuh lebih banyak tenaga kerja.
"Kalau
kalian tidak keberatan, ada satu hal lagi yang ingin kuminta bantuannya. Tentu
saja, aku akan membayar."
"Bantuan?
Apa itu? Tentu, kami akan lakukan apa saja."
"Tidak
sekarang. Musim semi nanti…… ya, saat salju mulai mencair, ada yang ingin kuminta kalian lakukan.
Pastikan kalian ada di kota Falcrest saat itu, ya."
"Boleh saja,
tapi musim semi? Masih lama, kan? Memangnya mau melakukan apa?"
"Itu…… fufufu. Masih rahasia."
Aku menyeringai
puas karena berhasil menemukan tenaga kerja baru. Merasakan sebuah tatapan, aku
mendongak dan melihat Scott sedang menatapku dengan wajah yang seolah berkata
"Yare yare".
Terlepas dari
itu, kami yang terus mengawal rombongan hingga ke kota Pireno disambut meriah
sebagai pahlawan muda oleh orang tua Istri Marquis.
Dan akhirnya, aku
bersama Seva menikmati liburan musim panas yang menyenangkan di Pireno.



Post a Comment